21 BAB II
KERANGKA TEORITIK, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Kerangka Teoritik
1. Pengertian Anak
Anak dalam keluarga merupakan pembawa bahagia, karena anak memberikan arti bagi orang tuanya. Arti disini mengandung maksud memberikan isi, nilai, kepuasan, kebanggaan, dan rasa penyempurnaan diri yang disebabkan oleh keberhasilan orang tuanya yang telah memiliki keturunan, yang akan melanjutkan semua cita-cita harapan dan eksistensi hidupnya.
Pengertian anak secara umum dipahami masyarakat adalah keturunan kedua setelah ayah dan ibu1. Mengenai definisi anak, ada banyak pengertian dan definisi. Secara awam, anak dapat diartikan sebagai seseorang yang dilahirkan akibat hubungan antara pria dan wanita ini jika terikat dalam suatu ikatan perkawinan. Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0 - 1 tahun) usia bermain (1 - 2,5 tahun),
pra sekolah (
2,5 - 5),
usia sekolah (5 - 11 tahun) hingga remaja (11 - 18 tahun). Rentang ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang anak berbeda.
1 WJS. Poerdarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1992, h. 38-39.
22
2. Undang-Undang yang mengatur tentang perlindungan anak
a. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Dalam Pasal 1 ayat (1) dan (2) yang mengatur tentang perlindungan anak “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” dan
“Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.” Menurut pasal di atas, anak adalah siapa saja yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun dan termasuk anak yang masih di dalam kandungan, yang berarti segala kepentingan akan pengupayaan perlindungan terhadap anak sudah dimulai sejak anak tersebut berada di dalam kandungan hingga berusia 18 (delapan belas) tahun. Dalam hal menjamin seorang anak agar kehidupannya bisa berjalan dengan normal, maka negara telah memberikan payung hukum yakni Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sedangkan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak mengatakan bahwa “Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak- Hak Anak meliputi :
a. Non diskriminasi;
23
b. Kepentingan yang terbaik bagi anak;
c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan d. Penghargaan terhadap pendapat anak “
Selanjutnya dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga mengatakan bahwa “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.”
b. Menurut Pasal 1 Undang - Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
Kesejahteraan Anak adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial.
Usaha Kesejahteraan anak adalah usaha kesejahteraan sosial yang ditujukan untuk menjamin terwujudnya Kesejahteraan Anak terutama terpenuhinya kebutuhan pokok anak.
Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.
24
Yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.
Salah satu hak anak yang harus diupayakan adalah kesejahteraan, karena anak merupakan tunas bangsa dan potensi serta penerus cita- cita perjuangan bangsa yang rentang terhadap perkembangan zaman dan perubahan lingkungan dimana hal tersebut bisa mempengaruhi kondisi jiwa dan psiklologisnya. Pelaksanaan pengadaan kesejahteraan bergantung pada partisipasi yang baik antara obyek dan subyek dalam usaha pengadaan kesejahteraan anak tersebut, yang maksudnya adalah bahwa setiap peserta bertanggungjawab atas pengadaan kesejahteraan anak.2
c. Menurut Undang - Undang Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 1 ayat (5) tentang Hak Asasi Manusia.
Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.
3. Ketentuan Hukum Perlindungan Anak
Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 mengatakan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, dan berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai
2 Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak, Akademia Pressindo, Jakarta, 2001, h. 213.
25
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan anak dapat juga diartikan sebagai segala upaya yang bertujuan mencegah, rehabilitasi, dan memberdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah (child abused), eksploitasi, dan penelantaran, agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar baik fisik, mental, dan sosialnya3. Negara sebagai tempat berlindung bagi warganya harus menjamin dan memberikan regulasi jaminan perlindungan bagi anak4.
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia telah mencantumkan tentang hak anak serta pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara dalam hal memberikan perlindungan hukum terhadap anak. Meskipun demikian, dipandang masih sangat diperlukan suatu undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai perlindungan anak sebagai landasan yuridis bagi pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab tersebut5. Selanjutnya perlindungan hak anak di Indonesia dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang bersamaan dengan penetapan tahun 1979 sebagai “Tahun Anak Internasional”.
Selanjutnya Indonesia aktif terlibat dalam pembahasan konvensi hak
3 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Anak Di
Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2008, h. 34.
4 Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk Dihukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, h. 1.
5 Ahmad Kamil, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak Di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, h. 1.
26
anak tahun 1989 yang kemudian diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 19906.
Mendapatkan perlindungan merupakan hak dari setiap anak, dan diwujudkannya perlindungan bagi anak berarti terwujudnya keadilan dalam suatu masyarakat. Asumsi ini diperkuat dengan pendapat Age, yang telah mengemukakan dengan tepat bahwa “melindungi anak pada hakekatnya melindungi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara di masa depan” 7. Dari ungkapan tersebut nampak betapa pentingnya upaya perlindungan anak demi kelangsungan masa depan sebuah komunitas, baik komunitas yang terkecil yaitu keluarga, maupun komunitas yang terbesar yaitu negara. Artinya, dengan mengupayakan perlindungan bagi anak komunitas-komunitas tersebut tidak hanya telah menegakkan hak- hak anak, tapi juga sekaligus menanam investasi untuk kehidupan mereka di masa yang akan datang. Di sini, dapat dikatakan telah terjadi simbiosis mutualisme antara keduanya. Perlindungan anak adalah suatu usaha yang mengadakan situasi dan kondisi yang memungkinkan pelaksanaan hak dan kewajiban anak secara manusiawi positif. Ini berarti dilindunginya anak untuk memperoleh dan mempertahankan haknya untuk hidup, mempunyai kelangsungan hidup, bertumbuh kembang dan perlindungan dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya sendiri atau bersama para pelindungnya 8. Dalam menyiapkan generasi penerus bangsa anak merupakan aset utama. Tumbuh kembang anak
6 Nasir Djamil,Op.cit. h. 28.
7 Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak, Akademia Pressindo, Jakarta, 2001, h. 213.
8 Ibid.
27
sejak dini adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat dan negara.
Namun dalam proses tumbuh kembang anak banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik biologis, psikis, sosial, ekonomi maupun kultural yang menyebabkan tidak terpenuhinya hak–hak anak. Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi anak telah disahkan Undang - Undang Perlindungan Anak yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak–hak anak agar anak dapat hidup, tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas berakhlak mulia dan sejahtera.
Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menyepakati merubah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Perubahan ini dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014. Namun dalam sudut pandang permasalahan pada penelitian ini berdasar pada putusan Mahkamah Konsitusi Nomor 30- 74/PUU-XII/2014 sehingga masih menggunakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002. Menurut Pasal 1 Nomor 2 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak disebutkan bahwa:“Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Selanjutnya dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor
28
23 Tahun 2002 disebutkan pula bahwa setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak sebaya, bermain, berekreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri. Anak adalah pemimpin masa depan siapapun yang berbicara tentang masa yang akan datang, harus berbicara tentang anak-anak. Perihal yang terbaik bagi anak harus didahulukan. Dalam hal ini yang dimaksud hak-hak anak adalah berbagai kebutuhan dasar yang seharusnya diperoleh anak untuk menjamin kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindungan dari segala bentuk perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran terhadap anak, baik yang mencakup hak sipil, ekonomi, sosial dan budaya.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak disebutkan 9:
1) Pasal 4 “Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
2) Pasal 8 “Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial”.
3) Pasal 8 ayat (1) “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”.
9 Ibid.
29
Kepentingan terbaik bagi anak. Prinsip ini diletakkan sebagai pertimbangan utama dalam semua tindakan untuk anak, baik oleh institusi kesejahteraan sosial pada sektor publik ataupun privat, pengadilan, otoritas administratif, ataupun badan legislatif, negara dan pemerintah serta badan–badan publik dan privat memastikan dampak terhadap anak-anak atas semua tindakan mereka yang tentunya menjamin bahwa prinsip kepentingan terbaik bagi anak menjadi pertimbangkan utama, memberikan prioritas yang lebih baik bagi anak- anak dan membangun masyarakat yang ramah.
Dengan demikian, kepentingan kesejahteraan anak adalah tujuan dan penikmat utama dalam setiap tindakan, kebijakan, dan atau hukum yang dibuat oleh lembaga berwenang. Guna menjalankan kepentingan terbaik bagi anak bahwa negara menjamin perlindungan anak dan memberikan kepedulian pada anak. Negara mengambil peran untuk memungkinkan orang tua bertanggungjawab terhadap anaknya, demikian pula lembaga-lembaga hukum lainnya.
4. Hak-hak Anak
Hak anak adalah bagian dari Hak Asasi Manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. Adapun undang-undang yang mengatur tentang hak anak seperti Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahterahan Anak, Pasal 4 sampai Pasal 18 Undang-Undang Nomor 23
30
Tahun 2002 Jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Secara garis besar hak anak sebagai berikut :
a. Hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan.
Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. Dimaksud dengan asuhan, adalah berbagai upaya yang dilakukan kepada anak yang tidak mempunyai orang tua dan terlantar, anak terlantar dan anak yang mengalami masalah kelainan yang bersifat sementara sebagai pengganti orang tua atau keluarga agar dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial (Pasal 1 angka 32 PP Nomor 2 Tahun 1988 tentang Usaha Kesejahterahan Anak Bagi Anak Yang Mempunyai Masalah).
b. Hak atas pelayanan
Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna (Pasal 2 ayat 2 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahterahan Anak). Hak atas pemeliharaan dan perlindungan nnak berhak atas pemeliharaan
31
dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan (Pasal 2 ayat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahterahan Anak).
c. Hak memperoleh asuhan
Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara, atau orang, atau badan lain (Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahterahan Anak). Dengan demikian anak yang tidak mempunyai orang tua itu dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani maupun sosial.
d. Hak memperoleh bantuan
Anak yang tidak mampu berhak memperoleh bantuan, agar dalam lingkungan keluarganya dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar (Pasal 5 ayat 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahterahan Anak). Menurut Pasal 1 ayat (4) PP Nomor 2 Tahun 1988 tentang Usaha Kesejahterahan Anak Bagi Anak Yang Mempunyai Masalah, bantuan itu bersifat tidak tetap dan diberikan dalam jangka waktu tertentu kepada anak yang tidak mampu.
Pada prinsipnya, negara melakukan upaya agar anak berada dalam pengasuhan orangtuanya sendiri, dan tidak dipisahkan dari orang tua secara bertentangan dengan keinginan anak. Jika anak dan orang tua berada dalam negara yang lain, maka anak
32
berhak untuk bersatu kembali (family reunification) secara cepat dan manusiawi. Ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang pada prinsipnya memuat norma hukum yang melarang pemisahan anak dari orangtuanya. Ditegaskan bahwa anak berhak untuk tidak dipisahkan dari orangtuanya secara bertentangan dengan kehendak anak, kecuali apabila pemisahan dimaksud mempunyai alasan hukum yang sah, dan dilakukan demi kepentingan terbaik anak.
5. Hukum Perkawinan Indonesia
Dalam pengertian Hukum Perkawinan Indonesia, anak yang belum mencapai usia 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya. Selama mereka tidak dicabut dari kekuasaan10. Di Indonesia masalah perkawinan diatur dalam Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang mulai diundangkan pada tanggal 2 januari 1974. Undang-undang tersebut dibuat dengan mempertimbangkan bahwa falsafah Negara Republik Indonesia adalah Pancasila maka perlu dibuat Undang-Undang perkawinan yang berlaku bagi semua warga negara .
Untuk kelancaran pelaksanaan Undang-Undang perkawinan tersebut pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang
10 Pasal 47, Undang-Undang Nomor .1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
33
Perkawinan. Peraturan pemerintah tersebut terdiri atas 10 bab dan 49 Pasal yang ditetapkan di Jakarta pada April 1975. Dengan adanya Undang- Undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan, diharapkan masalah-masalah yang berhubungan dengan perkawinan di Indonesia akan dapat teratasi.
Hukum negara yang mengatur mengenai masalah perkawinan adalah Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Di lain pihak hukum adat yang mengatur mengenai perkawinan dari dulu hingga sekarang tidak berubah, yaitu hukum adat yang telah ada sejak jaman nenek moyang hingga sekarang ini yang merupakan hukum yang tidak tertulis.
Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, memberikan devinisi perkawinan sebagai berikut: “Perkawinan adalah Ikatan lahir bathin antara seorang Pria dan seorang wanita sebagai Suami-Isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa”.
Perkawinan ialah suatu pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan perempuan untuk waktu yang lama. Undang-undang memandang perkawinan hanya dari hubungan keperdataan, demikian Pasal 26 Burgerlijk Wetboek.
34
Pada prinsip perkawinan atau nikah adalah suatu akad untuk menghalalkan hubungan serta membatasi hak dan kewajiban, tolong menolong antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muhrim. Apabila ditinjau dari segi hukum tampak jelas bahwa pernikahan adalah suatu akad suci dan luhur antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sahnya status sebagai suami istri dan di halalkannya hubungan seksual dengan tujuan mencapai keluarga sakinah, penuh kasih sayang dan kebajikan serta saling menyantuni antara keduanya.
Negara Republik Indonesia, sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, di mana sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan dianggap mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama atau kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mengandung unsur lahir atau jasmani, tetapi unsur batin atau rohani juga mempunyai peranan yang sangat penting 11. Para pakar hukum perkawinan Indonesia juga memberikan definisi tentang perkawinan antara lain menurut: Menurut Wirjono Prodjodikoro, perkawinan adalah Peraturan yang digunakan untuk mengatur perkawinan, inilah yang menimbulkan pengertian perkawinan 12. Menurut Sajuti Thalib, perkawinan adalah suatu perjanjian yang suci dan luas dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan membentuk keluarga yang kekal, santun menyantuni, kasih-
11 Rusli dan R. Tama. Perkawinan Antar Agama dan Masalahnya. Shantika Dharma, Bandung, 1984, h. 10.
12 Wirjono Prodjodikoro,Hukum Perkawinan Indonesia. Sumur, Bandung, 1974, h. 6.
35
mengasihi, tentram dan bahagia 13. Menurut Prof. Ibrahim Hosen, nikah menurut arti asli kata dapat juga berarti akad dengannya menjadi halal kelamin antara pria dan wanita, sedangkan menurut arti lain bersetubuh14.
a. Pengertian Perkawinan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KUH Perdata/BW
Dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 tentang Perkawinan dirumuskan pengertian perkawinan yang di dalamnya terkandung tujuan dan dasar perkawinan dengan rumusan: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa”15. “Perkawinan adalah hubungan hukum antara seorang pria dan seorang wanita untuk hidup bersama dengan kekal, yang diakui oleh Negara”16.
13 Mohammad Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996, h. 2.
14 Hosen Ibrahim, Fiqh Perbandingan dalam Masalah Nikah, Talak dan Rujuk, Ihya Ulumudin, Jakarta, 1971, h. 65.
15 Pasal 47 , Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
16 Prawiro Hamidjojo dan Safioedin, 1982, h. 31, dikutip dari Scholten, 1982.
36
b. Akibat Hukum Dari Perkawinan Terhadap Suami Istri Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KUH Perdata/BW17.
Pasal 30 sampai dengan 34 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, yang isinya:
1. Suami istri memikul kewajiban hukum untuk menegakan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat.
2. Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat- menghormati, setia dan memberi bantuan lahir-batin yang satu kepada yang lain.
3. kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama masyarakat.
4. Suami istri sama-sama berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
5. Suami adalah kepala rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan rumah tangga sesuai dengan kemampuannya dan istri wajib mengurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya.
17 Pasal 47 , Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
37
c. Akibat Lain Yang Timbul Dari Hubungan Suami Istri Yang Terdapat Dalam KUHPerdata/BW 18:
1. Suami istri wajib tinggal bersama dalam satu rumah. Istri harus tunduk patuh kepada suaminya, ia wajib mengikuti kemana suami memandang baik untuk bertempat tinggal.
2. Suami wajib menerima istrinya dalam satu rumah, yang ia diami.
3. Suami juga wajib melindungi istrinya dan memberi padanya segala apa yang perlu dan berpanutan dengan kedudukan dan kemampuannya.
4. Suami istri saling mengikatkan diri secara timbal balik untuk memelihara dan mendidik anak-anak.
Di Indonesia ketentuan yang berkenaan dengan perkawinan telah diatur dalam peraturan perundang-undangan negara yang khusus berlaku bagi warga negara Indonesia. Aturan perkawinan yang dimaksud adalah dalam bentuk undang- undang yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan. Undang-undang ini merupakan hukum materiil dari perkawinan, sedangkan hukum formalnya ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2006 perubahan dari Undang-Undang Nomor 7
18 Ibid.
38
Tahun 1980 tentang Peradilan Agama. Yang dimaksud dengan Undang- Undang Perkawinan adalah segala sesuatu dalam bentuk aturan yang dapat dan dijadikan petunjuk dalam hal perkawinan dan dijadikan pedoman hakim di lembaga Peradilan Agama dalam memeriksa dan memutuskan perkara perkawinan, baik secara resmi dinyatakan sebagai peraturan perundang-undangan negara atau tidak. Masalah perkawinan merupakan perbuatan suci yang mempunyai hubungan erat sekali dengan agama/kerohanian. Perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahiriah/jasmani tetapi juga unsur rohani yang mempunyai peranan penting.
Hal ini sesuai dengan undang-undang perkawinan “Tidak hanya sebagai ikatan perdata tetapi juga merupakan perikatan keagamaan”19 . Perkawinan adalah suatu proses yang sudah melembaga, yang mana laki-laki dan perempuan memulai dan memelihara hubungan timbal balik yang merupakan dasar bagi suatu keluarga. Hal ini akan menimbulkan hak dan kewajiban baik di antara laki-laki dan perempuan maupun dengan anak- anak yang kemudian dilahirkan 20.
Dampak Perkawinan Anak Pada Kesehatan Ibu dan Bayi
Bahwa Perkawinan Anak dengan Kehamilan dini (di bawah umur 18 (delapan belas ) sangat berisiko tinggi bagi si Ibu, karena si Ibu sedang dalam masa pertumbuhan yang masih memerlukan gizi, sementara janin yang dikandungnya juga memerlukan gizi sehingga ada persainga
19 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2007, h. 7.
20 I Ketut Atardi, Hukum Adat Bali dengan Aneka Masalahnya Dilengkapi Yurisprudensi, Cet. II, Setia Lawan, Denpasar, 1987, h. 169.
39
perebutan nutrisi dan gizi antara ibu dan janin; dengan resiko lainnya, adalah:
a. Potensi kelahiran premature;
b. Bayi lahir cacat;
c. Bayi lahir dengan berat badan rendah/kurang;
d. Ibu beresiko anemia (kurang darah);
e. Ibu mudah terjadi perdarahan pada proses persalinan;
f. Ibu mudah eklampsi (kejang pada perempuan hamil);
g. Meningkatnya angka kejadian depresi pada Ibu karena perkembangan psikologis belum stabil;
h. Meningkatkan Angka Kematian Ibu (AKI);
i. Study epidemiologi kanker serviks menunjukan resiko meningkat lebih dari 10x bila jumlah mitra sex 6/lebih atau bila berhubungan seks pertama dibawah usia 15 tahun;
j. Semakin muda perempuan memiliki anak pertama, semakin rentan terkena kanker serviks;
k. Resiko terkena penyakit menular seksual;
l. Organ reproduksi belum berkembang sempurna.
Dengan kondisi seperti ini maka perkawinan anak akan mengancam hak hidup, hak mempertahankan hidup dan kehidupan dari anak - anak kita (Pasal 28A UUD 1945) hak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang [Pasal 28B ayat (1) dan (2) UUD 1945].
40 B. Hasil Penelitian
1. Kasus Posisi
Kasus ini berawal dari pengajuan pengujian Pasal 7 ayat (1) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan rumusan sepanjang frasa “umur 16 (enam belas) tahun”, Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan rumusan dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita, menggunakan batu uji atau dasar pengujian Pasal 1 ayat (3) “Negara Indonesia adalah negara hukum” Pasal 24 ayat (1) “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”
Pasal 28A “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”; Pasal 28B ayat (1) dan (2)
“Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah” dan “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” ; Pasal 28C ayat (1)
“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”; Pasal 28D ayat (1) “Setiap orang berhak atas pengakuan,
41
jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”; Pasal 28G ayat (1) “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”; Pasal 28H ayat (1) dan (2) “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan” dan “Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan” dan Pasal 28 I ayat (1) dan (2) “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun” dan “Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu” UUD 1945, yang diajukan oleh :
Perkara Nomor 30/PUU-XII/2014
Pemohon 1 1) Nama : Zumrotin
Pekerjaan : Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kesehatan Perempuan
42
Dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 10 Desember 2013 memberi kuasa kepada Rita Serena Kolibonso, S.H., LLM. Dan Tubagus Haryo Karbyanto, S.H. yang semuanya adalah Advokat yang berkedudukan hukum di kantor pemberi kuasa, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa;
Perkara Nomor 74/PUU-XII/2014
Pemohon I
2) Nama : Indry Oktaviani
Pekerjaan : Direktur Organisasi Semerlak Cerlang Nusantara (SCN) Pemohon II
3) Nama : Fr. Yohana Tantria W.
Pekerjaan : Koordinator Eksekutif Masyarakat untuk Keadilan Gender dan Antar Generasi (MAGENTA)
Pemohon III
4) Nama : Dini Anitasari Sa’baniah
Pekerjaan :Associate pada Organisasi SCN Pemohon IV
5) Nama : Hadiyatut Thoyyibah
Pekerjaan : Staf Sistem Manajemen Informasi pada Sekretariat Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI).
Pemohon V
6) Nama : Ramadhaniati
Pekerjaan : Staf pada Organisasi
43 Pemohon VI
7) Nama :Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA), yang dalam hal ini diwakili oleh Agus Hartono Pekerjaan : Ketua
Pemohon VII
8) Nama: Koalisi Perempuan Indonesia, yang dalam hal ini diwakili oleh Dian Kartika Sari
Pekerjaan : Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai kasus perkara Nomor 30 dan 74 dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini
Tabel 1. Kasus Perkara Nomor 30-74/ PUU-XII/2014
Unsur Kasus Perkara Nomor
30-74 /PUU-XII/2014
Pasal yang diuji
Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan menggunakan batu uji atau dasar pengujian Pasal 28A ; Pasal 28B ayat (1) dan (2) ; Pasal 28C ayat (1) ; Pasal 28D ayat (1) ; 28G ayat (1) ; 28H ayat (1) dan (2) ; 28I ayat (1) dan (2).
Dalil pemohon
Para pemohon mendalilkan Pasal 7 ayat (2) sepanjang kata “penyimpangan” dan frasa “pejabat lain” UU Perkawinan bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 24 ayat (1), dan Pasal 28B ayat (1).
Saksi pemohon Musri Munawaroh
Ahli
dr. Julianto Witjaksono, dr. Kartono Mohamad , Saparina Sadli, Roichatul Aswidah Rasyid, Yuniyanti Chuzaifah , Maria Ulfa Anshor, Muhadjir Darwin, Ninuk Pambudi.
Sumber : Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014, hal.11-21, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
44
Kepada Makhamah Konstitusi Republik Indonesia dimana dalam perkara pengujian terhadap Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dengan Hakim Konstitusi, yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Patrialis Akbar, Maria Farida Indrati, Aswanto, Suhartoyo, I Dewa Gede Palguna, dan Manahan M.P Sitompul, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Wiwik Budi Wasito sebagai Panitera Pengganti, dihadiri para Pemohondan/atau kuasanya, Presiden atau yang mewakili, Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili, serta Pihak Terkait dan/atau kuasanya. Terhadap putusan Mahkamah ini, Hakim Konstitusi Maria Farida Indrati memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion).
Munculnya Undang-Undang Nomo 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur tentang batas usia perkawinan dimana batas usia menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan bagi pria 19 tahun. Hal tersebut membuat lembaga LSM mengajukan pengujian kembali Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkwainan dimana batas usia perkawinan anak dinaikkan menjadi 18 tahun bagi perempuan dan 21 tahun bagi pria.
Namun Mahkamah Konstitusi menolak menaikkan batas usia perkawinan perempuan dari 16 menjadi 18 tahun yang dimohonkan Yayasan Kesehatan perempuan (YKP) dan Yayasan Pemantauan Hak Anak (YPHA).
45
2. Isi Gugatan Pemohon Perkara Nomor 30-74/PUU-XII/2014
Pengajuan pengujian Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menggunakan batu uji atau dasar pengujian Pasal 28A; Pasal 28B ayat (1) dan (2); Pasal 28C ayat (1); Pasal 28D ayat (1); Pasal 28G ayat (1); Pasal 28H ayat (1) dan (2) dan Pasal 28 I ayat (1) dan (2) UUD 1945. Adapun isi gugatan adalah sebagai berikut :
a. Bahwa Perkawinan Anak masih marak terjadi di Indonesia. Faktor ekonomi masih merupakan alasan utama orang tua menikahkan anaknya. Hal lain yang turut mempengaruhi antara lain alasan social budaya, seperti kebiasaan orang tua menjodohkan anaknya saat mereka masih kecil, dan penilaian masyarakat yang negatif (dianggap perawan tua) terhadap perempuan yang menikah di atas usia 18 tahun.
b. Bahwa berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan 22% perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun.
c. Bahwa di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama. Hasil penelitian UNICEF di Indonesia (2002), menemukan angka kejadian pernikahan anak berusia 15 tahun berkisar 11%.
d. Plan Indonesia sebuah lembaga non pemerintah yang memberi perhatian pada upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak bekerja sama dengan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM membuat sebuah penelitian tentang Praktik Pernikahan
46
Dini di Indonesia di 8 wilayah: Indramayu, Grobogan, Rembang, Tabanan, Dompu, Sikka, Lembata, dan Timur Tengah Selatan (TTS).
e. Bahwa Menurut data UNICEF perempuan yang melahirkan pada usia 15-19 tahun beresiko mengalami kematian dua kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan yang melahirkan pada usia di atas 20 tahun
Dampak Perkawinan Anak Pada Psikologis Keluarga Muda
a. Di usia 16 tahun anak belum mampu berperan sebagai orang tua yang harus bertanggung jawab untuk mendidik anak, secara psikologis anak masih ingin bermain bersama teman sebayanya dan masih memerlukan pengembangan jiwa seusianya;
b. Dalam kondisi ini maka perkawinan anak akan mengancam hak tumbuh, dan berkembang, hak atas perlindungan dari kekerasan [Pasal 28B ayat (1)]; hak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, hak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia [Pasal 28C ayat (1)]; hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum (Pasal 28D);
hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
47
merupakan hak asasi (Pasal 28G); hak hidup sejahtera lahir dan batin [Pasal 28H ayat (1)];
3. Fakta-fakta dipersidangan dalam putusan Mahkamah Konstitusi dan pertimbangan Hakim dalam putusan Mahkamah konstitusi
Dalam putusan Mahkamah Konstitusi terdapat 1 pemohon dalam perkara Nomor 30/PUU-XII/2014 dan 7 pemohon pada perkara Nomor 74/PUU-XII/2014. Pada perkara pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga dihadiri oleh 8 orang saksi ahli antara lain dr. Julianto W., dr. Kartono Mohamad, Saparina Sadli, Roichatul Aswidah Rasyid, Yuniyanti C., Maria Ulfa A., Muhadjar Darwin, dan Ninuk Pambudi yang memberikan komentar sepuatar perkawinan anak di bawah umur dan batasan usia perkawinan anak. Dari alasan pengujian pemohon, Hakim Konstitusi telah mempertimbangakan bahwa batasan usia minimum merupakan kebijakan hukum terbuka (Open Legal Policy) yang sewaktu-waktu dapat diubah oleh pembentukan Undang-Undang sesuai dengan tuntutan kebutuhan perkembangan yang ada. Namun terdapat pandangan berbeda (Dissenting Opinion) dari Hakim Maria Farida I. yang mengatakan bahwa Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
48
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa” telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan melanggar hak-hak anak yang diatur dalam pasal 1 ayat (3), Pasal 28B ayat (2) dan Pasal 28C ayat (1) UUD 1945.
4. Dissenting Opinion
Menurut Hakim Konstitusi Maria Farida I. pada Disssenting Opinion bahwa frasa “umur 16 (enam belas) tahun” dalam Pasal 1 ayat (1) UU perkawinan telah menimbulkan ketidakpastian hokum dan melanggar hak-hak anak yang diatur dalam Pasal 1 ayat (3), Pasal 28B ayat (2) dan Pasal 28C ayat (1) UUD 1945. Selain itu dapat disimpulkan bahwa :
a. Perkawinan anak akan membahayakan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak dan menempatkan anak dalam situasi rawan kekerasan dan diskriminasi;
b. Perkawinan membutuhkan kesiapan fisik, psikis, social, ekonomi, intelektual, budaya, dan spiritual;
c. Perkawinan anak tidak dapat memenuhi syarat perkawinan yang diatur dalam pasal 6, yaitu adanya kemauan bebas dari calon mempelai oleh karena mereka belum dewasa. Dengan demikian melaksanakan perkawinan anak sebelum berusia (delapan belas) tahun adalah pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
49
Perlindungan Anak yang merupakan peraturan lebih lanjut dari Pasal 28 UUD 1945.
Ketentuan mengenai batas umur minimal dalam Pasal 7 ayat (1) UU No, 1 Tahun 1974 yang mengatakan bahwa, “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun”. Dari hal tersebut ditafsirkan bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkwawinan tidak mengehendaki pelaksanaan perkawinan di bawah umur. Pembatasan umur minimal untuk kawin bagi warga negara pada prinsipnya dimaksudkan agar orang yang akan menikah diharapkan sudah memiliki kematangan berpikir, kematangan jiwa dan kekuatan fisik yang memadai.
Kemungkinan keretakan rumah tangga yang berakhir dengan perceraian dapat dihindari, karena pasangan tersebut memiliki kesadaran dan pengertian yang lebih matang mengenai tujuan perkawinan yang menekankan pada aspek kebahagiaan lahir dan batin.
Pembatasan umur untuk melaksanakan perkawinan ini dimaksudkan sebagai pencegahan terhadap perkawinan yang masih dibawah umur. Selain itu juga dimaksudkan untuk menunjang keberhasilan Program Nasional dalam bidang Keluarga Berencana. Hal ini juga dikehendaki oleh masyarakat dengan adanya tendensi pengunduran usia kawin. Akan tetapi pada kenyataannya perkawinan yang masih dibawah umur itu masih sering terjadi ditengah-tengah masyarakat kita. Padahal kalau dipikirkan lebih jauh lagi, perkawinan yang masih dibawah umur itu akan menimbulkan berbagai akibat yang
50
kurang menguntungkan, seperti kurang dapatnya suami atau isteri dalam mengatasi masalah yang timbul dalam keluarga yang dibentuknya itu, disamping itu juga timbulnya angka fertilitas yang cukup tinggi dari wanita kawin usia muda yang menimbulkan masalah peledakan penduduk.
Pada tabel 2 berikut menunjukkan saksi-saksi, keterangan dari saksi, dan pertimbangan hakim pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014.
51
Tabel 1: Ahli, Keterangan Saksi, Pertimbangan Hakim
No Ahli Keterangan Saksi Pertimbangan Hakim
1 dr. Julianto Witjaksono
Wanita di bawah usia 20 tahun memiliki risiko tinggi untuk penyakit dan kematian ketika melakukan fungsi reproduksinya. Wanita memasuki usia 20 tahun secara medis, fisik, biologis, endokrin, hormonal, serta psikologis, dan emosional memiliki kematangan untuk dapat menjalankan hak reproduksinya secara aman, terutama dalam menjalankan fungsi reproduksinya, menghasilkan generasi bangsa Indonesia yang berkualitas. Pendewasaan usia pernikahan dari 16 ke 18 tahun berdampak pada berbagai macam hal-hal yang menguntungkan
Mahkamah Konstitusi telah mempertimbangkan bahwa batasan usia minimum merupakan kebijakan hukum terbuka (open legal policy) yang sewaktu-waktu dapat diubah oleh pembentuk Undang-Undang sesuai dengan tuntutan kebutuhan perkembangan yang ada. Hal tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan pembentuk Undang-Undang yang apapun pilihannya tidak dilarang dan selama tidak bertentangan dengan UUD 1945, dalam perkara a quo, UUD 1945 tidak mengatur secara jelas perihal batasan usia seseorang disebut sebagai
52
bagi kesejahteraan wanita khususnya dan pada bangsa Indonesia pada umumnya.
anak.
2 dr. Kartono Mohamad Kematian remaja usia 15 sampai 19 tahun akibat kehamilan dan melahirkan, merupakan penyebab utama dari kematian mereka. Kehamilan pada usia remaja, akan meningkatkanrisiko kematian bagi ibu dan janinnya, terutama di Negara berkembang. Bayi yang dilahirkan oleh ibu di bawah usia 20 tahun punya risiko 50% lebih tinggi untuk meninggal di saat lahir, juga mereka akan cenderung lahir dengan berat badan rendah dan risiko kesehatan lainnya yang berdampak panjang. Kehamilan remaja juga berpengaruh bagi ekonomi dan sosial remaja. Dari segi sosial jelas bahwa sekolah akan terputus, dari segi
Menurut Mahkamah Konstitusi beragam masalah yang dikhawatirkan para pemohon yang akan timbul akibat perkawinan usia anak merupkan masalah konkrit yang tidak murni disebabkan dari aspek usia semata, kalaupun memang dikehendaki adanya perubahan batas usia kawin untuk wanita, hal tersebut bisa dilakukan melalui proses legislatif review yang berada pada ranah pembentuk Undang-Undang untuk menetukan batas usia minimum ideal bagi wanita untuk kawin.
53
sosial bahwa keterampilan remaja yang menikah usia dini cenderung kurang karena tidak sempat mengalami pendidikan yang memadai, sehingga sulit mendapatkan pekerjaan dan ini akan berdampak secara nasional pada ekonomi dan produktivitas bangsa.
3 Saparina Sadli Dari aspek psikologis, mengizinkan perkawinan perempuan di bawah 18 tahun, berarti negara mengizinkan anak melahirkan anak, suatu keadaan yang bila dibiarkan terus telah diketahui berujung pada berbagai risiko negatif sampai dengan yang fatal bagi perempuan. Sehingga menaikkan usia batas perkawinan bagi perempuan menjadi 18 tahun, sebagaimana diajukan oleh Pemohon yang juga telah
Terhadap Para pemohon yang mendalilkan Pasal 7 ayat (2) sepanjang kata “penyimpangan”
UU Perkawinan harus dimaknai “penyimpangan dengan alasan kehamilan diluar perkawinan”.
Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa frasa “ penyimpangan” a quo merupaka bentuk pengecualian yang diperbolehkan oleh hukum dan ketentuan a quo memang diperlukan sebagai
“pintu darurat” apabila aterdapat hal-hal yang
54
diperkuat dengan masukan tentang berbagai risiko negatif bagi kehidupan perempuan yang bersangkutan harus menjadi pilihan dalam mewujudkan hak konstitusional setiap warga, khususnya warga negara yang berjenis kelamin perempuan.
bersifat memaksa atas permintaan orang tua dan/atau wali. Penyimpangan tersebut diperbolehkan berdasarkan dispensasi oleh pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk untuk itu. Berdasarkan pertimbangan hukum diatas, Pasal 7 ayat (2) sepanjang kata “penyimpangan”
dan frasa “pejabat lain” UU Perkawinan tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan dalil-dalil yang dimohonkan para pemohon a quo tidak beralasan menurut hukum, serta para pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo, dan menyatakan menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya
4 Roichatul Aswidah Rasyid Perkawinan dan membentuk keluarga adalah hak Mahkamah Konstitusi melihat bahwa terdapat
55
yang dijamin oleh konstitusi, serta berbagai undang-undangnasional kita bahwa hak atas perkawinan dan membentuk keluarga tersebut memiliki prasyarat, yaitu dicapainya usia perkawinan dan atas kehendak, dan persetujuan yang bebas dari para pihak yang hendak menikah. Bahwa dengan demikian hak atas perkawinan dan membentuk keluarga tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah mencapai usia perkawinan sehingga dapat menetapkan persetujuan yang bebas dan penuh.
Bahwa perkawinan tanpa dipenuhinya prasyarat tersebut telah kemudian menyebabkan terlanggarnya hak anak oleh karena anak yang menikah secara hukum kemudian dianggap
beberapa pengaturan yang berbeda tentang masalah usia perkawinan baik dalam masing- masing agama maupun perbedaan budaya, Kemudin MK juga melihat di beberapa negara lain yang masih belum menaikkan batas usia perkawinan anak perempuan.
56
dewasa dan kehilangan seluruh perlindungan yang menjadi haknya sebagaimana dijamin oleh konstitusi kita. Dengan demikian sekira ketentuan usia minimum perkawinan hendaknya dinaikkan menjadi 18 tahun.
5 Yuniyanti Chuzaifah Komite merekomendasikan agar Indonesia segera me-review Undang-Undang Perkawinan dalam rentang waktu yang jelas agar segala peraturan yang terkait kehidupan keluarga yang mendiskriminasi perempuan diubah sehingga undang-undang ini dapat sejalan dengan konvensi termasuk memastikanbahwa undang- undang perkawinan menetapkan batas usia minimum bagi perempuan dan laki-laki adalah 18 tahun. Dalam hal ini, Undang-Undang
57
Perkawinan telah mengatur batas usia minimum untuk melangsungkan perkawinan bagi anak laki-laki adalah 19 tahun, batasan usia yang lebih tinggi dari 18 tahun ini tidak perlu dikurangi.
Justru yang harus diubah adalah batas usia minimum bagi perempuan yang semula 16 tahun harus dinaikkan menjadi 18 tahun.
6 Maria Ulfa Anshor Pernikahan di bawah usia 18 tahun, maka harus diartikan tidak sah izin perkawinannya.
Karenanya jika dilaksanakan, maka perkawinannya pun menjadi tidak sah. Jika terjadi juga perkawinan tersebut, maka artinya terjadi pelanggaran terhadap hak-hak anak sebagaimana dijamin Undang-Undang Dasar
58
Tahun 1945 yang telah ditafsirkan ke dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Negara berkewajiban untuk melindungi (to protect), memenuhi (to fulfill), dan menghargai (to respect) terhadap seluruh hak anak sebagimana Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 28A, Pasal 28B ayat (1) dan (2), Pasal 28C ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28G, Pasal 28H ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), serta Pasal 28I ayat (1) dan (2). Jika negara tidak melakukan kewajibannya, maka kerugian yang langsung dialami oleh anak akibat perkawinan anak adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perkembangan anak sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (2) terganggu, khususnya
59
Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 8, 9, 10 dan 11, dan seterusnya sebagaimana disebutkan tadi terlanggar.
7 Muhadjir Darwin
Yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa kita perlu menghentikan perkawinan anak, stop child married, karena hanya dengan itu maka kemudian anak-anak bisa tumbuh kembang secara lebih baik dan hak untuk bertumbuh kembang itu dijamin di dalam konstitusi kita yang akan terhalang ketika mereka terpaksa harus kawin pada usia yang tidak siap, usia dini.
Dan karena itu alasan dari Yayasan Kesehatan Perempuan untuk mengajukan perubahan terhadap Pasal Undang-Undang Perkawinan yang mengatur mengenai batas usia anak untuk
60
kawin itu saya kira sangat tepat dan sangat penting untuk kemajuan perempuan Indonesia dan kemajuan masyarakat Indonesia.
8 Ninuk Pambudi Pernikahan sebelum usia 18 tahun di Indonesia umumnya terjadi pada perempuandaripada anak laki-laki dan terjadi di daerah perdesaan dibandingkan daerah perkotaan. Alasan ekonomi lebih dominan daripada alasan budaya walaupun beberapa mengatakan alasannya karena alasan budaya. Menikahkan anak segera mungkin adalah untuk mengurangi beban ekonomi keluarga. Hal yang menarik adalah bahwa terjadi tren untuk menikahkan dini karena pertumbuhan ekonomi kita yang ditopang oleh ekonomi konsumsi yang mendorong perilaku konsumtif
61
Sumber : Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014, hal.11-21, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
masyarakat menyebabkan enggan melanjutkan pendidikan. Perilaku konsumtif tersebut menyebabkan naiknya tekanan ekonomi keluarga yang pada ujungnya juga akan mendorong untuk segera menikahkan anak.
62 C. Analisis
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1
“Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Hal ini berarti bahwa perkawinan adalah sesuatu yang direncanakan dengan berbagai pertimbangan salah satu contohya adalah mempertimbangkan tentang batasan usia perkawinan dari pihak pria dan wanita. Di Indonesia terdapat undang-undang yang mengatur tentang batas usia perkawinan anak, namun undang-undang tersebut mendapat perhatian beberapa pihak setelah Mahkamah Konstitusi membacakan putusan.
Putusan tersebut dibacakan Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat setelah meninjau gugatan Yayasan Kesehatan Perempuan dalam perkara 30/PUU-XII/2014 dan Yayasan Pemantauan Hak Anak dalam perkara 74/PUU-XII/2014. Para pemohon mengajukan permohonan tentang pengujian kembali Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sepanjang kata “penyimpangan” dan frasa “pejabat lain” undang-undang perkawinan bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 24 ayat (1), Pasal 28B ayat (1), dan Pasal 28 D ayat (1). Menurut para pemohon, Pasal 7 ayat (2) sepanjang kata “penyimpangan” UU Perkawinan harus dimaknai “penyimpangan dengan alasan kehamilan diluar pernikahan”.
Menurut Mahkamah Konstitusi, ketentuan a quo tetap dibutuhkan karena juga dapat berfungsi sebagai pintu darurat apabila orang tua pihak
63
pria maupun pihak wanita dan / atau wali mereka mengalami kesulitan atau keterbatasan akses untuk menjangkau dan meminta dispensasi kepada Pengadilan. Bersadarkan pertimbangan hukum di atas, Pasal 7 ayat (2) sepanjang kata “penyimpangan” dan frasa “pejabat lain” UU Perkawinan tidak bertentangan dengan UUD 1945. Oleh karenanya, dalil paraa pemohon a quo tidak beralasan menurut hukum.
Namun dalam putusan tersebut terdapat pendapat yang berbeda (Dissenting Opinion) dari Hakim Maria Farida terkait putusan MK yang menolak uji ulang Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 yang berbunyi “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun”. Menurut Hakim Maria Farida perkawinan anak bagi bangsa Indonesia dalam praktiknya tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi, budaya, serta agama yang berkembang dalam masyarakat.
Kajian Yuridis, Sosiologis, dan Filosofis dalam Dissenting Opinion yang dikaitkan dengan Perlindungan Anak
a. Hak-hak anak
Dari kajian Yuridis
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 2 Tentang Perlindungan Anak dikatakan bahwa “Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi:
64 a) Nondiskriminasi;
b) Kepentingan yang terbaik bagi anak;
c) Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan d) Penghargaan terhadap pendapat anak.
Aspek yuridis melihat bahwa kaidah hukum harus merujuk pada kaidah hukum yang lebih tingkatannya. Pada Pasal 24 disebutkan “ Negara dan pemerintah menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak.”
Adanya Undang-Undang Perlindungan Anak diharapkan menjadi payung yang memmberikan perlindungan atas hak anak khususnya dalam masalah perkawinan. Menurut Hakim Farida dalam kasus putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74//PUU-XII/2014 yang mengemukakan pendapat berbeda (Dissenting Opinion) mengatakan bahwa Undang-Undang perkawinan Pasal 7 ayat (1) terlihat jelas bahwa batas usia wanita untuk menikah dalam Undang-Undang perkawinan sudah tidak sesuai lagi dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, terutama dalam rangka melindungi hak-hak anak, khususnya anak perempuan, karena frase
“umur 16 (anam belas) tahun” dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan melanggar hak- hak anak yang diatur dalam pasal 1 ayat (3), Pasal 28B ayat (2), dan pasal 28C ayat (1) UUD 1945. Saat ini, pemahaman bangsa indonesia tentang hak-hak asasi manusia juga sudah jauh lebih maju daripada Undang- Undang Perkawinan tersebut disahkan dan diundangkan. Hal itu terlihat dalam perubahan UUD 1945 yang secara tegas telah mencamtumkan
65
pasal-pasal tentang hak-hak asasi Manusia dalam Bab X mulai Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J, sehingga terdapat kewajiban negara antara lain untuk melindungi (to protect), memenuhi (to fullfill), dan menghargai (to respect) hak-hak anak sesuai UUD 1945. Selain itu Indonesia juga merupakan salah satu negara yang mengikatkan diri pada Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the elimination of all forms of discrimination against women), yang berkaitan erat dengan konvensi CEDAW.
Menurut penulis disini bahwa persetujuan untuk tidak menaikkan pasal 7 ayat (1) undang-undang perkawinan oleh MK melanggar apa yang menjadi hak-hak dari anak,dimana di dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 Jo Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlidungan Anak bahwa anak mempunyai hak yaitu:
a. Setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 4).
b. Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya, apabila orang tua tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak atau anak tersebut terlantar maka anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh oleh orang lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan (Pasal 7).
66
c. Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial (Pasal 8).
d. Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran, dan anak cacat pun mempunayi hak yang sama dengan anak biasa dalam memperoleh pendidikan (Pasal 90).
e. Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan (Pasal 10).
f. Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi perkembangan diri (Pasal 11).
g. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya (Pasal 13).
h. Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri (Pasal 14).
Mengenai beberapa hak-hak anak yang telah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 diatas khusus mengenai hak-hak anak secara substantif norma hukum Pasal 7 ayat (1) bertentangan atau tidak konsisten (inskonsistensi)
67
dengan sistem norma hukum Pasal 28A;Pasal 28b ayat (1) dan 2;Pasal 28c ayat (1);Pasal 28d ayat (1);Pasal 28g ayt 1;Pasal 28h ayat 1 dan 2;serta Pasal 28i ayat 1 dan 2 UUD 1945 dengan demikian secara yuridis menimbulkan ketidakpastian, ketidakserasian, dan ketidakseimbangan hukum yang berpotensi menimbulkan ketidakadilan sesuai dengan apa yang sudah diatur di beberapa pasl dlam UUD 1945.
Dari kajian Filosofis
Hak anak menurut Pasal 4 sampai dengan Pasal 18 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, antara lain adalah hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasandan diskriminasi.
Aspek filosofis melihat bahwa sesuatu yang bisa dijadikan landasan filsafat atau pandangan yang menjadi dasar cita-cita, nilai-nilai yang hakiki dan luhur di tengah-tengah masyarakat, misalnya etika, adat, agama, dan lain-lain 21. Pada putusan MK Nomor 30 - 74 / PUU – XII / 2014 mengatakan bahwa tidak ada jaminan dengan meningkatkan batas perkawinan dapat mengurangi berbagai aspek yang menjadi landasan pengujian para pemohon. Hal ini bertentangan dengan hak-hak anak di atas, dikarenakan putusan MK tidak mempertimbangkan Pasal-Pasal yang menjadi batu uji para pemohon khususnya Pasal 28A; Pasal 28B ayat (1)
21 Zulfatun Ni’mah, Sosiologi Hukum Sebuah Pengantar, (Jakarta : Teras, 2012) hlm. 113
68
dan (2); Pasal 28C ayat (1) ; Pasal 28 D ayat (1); Pasal 28G ayat (1); Pasal 28H ayat (1) dan (2) dan Pasal 28I ayat (1) dan (2) UUD 1945 tentang Hak setiap orang.
Hakim Maria Farida Indrati mengatakan bahwa “Perkawinan anak memiliki dampak terhadap fisik, intelektual, psikologis, dan emosional yang mendalam termasuk dampak kesehatan terhadap terputusnya masa sekolah terutama bagi anak perempuan dan mengakibatkan program wajib belajar 12 tahun tidak terpenuhi.”. Hal ini akan menganggu bahkan merebut hak anak khususnya dalam hal pendidikan, kesehatan, pergaulan.
Penulis melihat bahwa seharusnya masyarakat menyadari bahwa di dalam suatu negara yang masyarakatnya sangat pluralistis seperti Indonesia ini perlu ada semacam konsensus atau kompromi nasional ketika kita (elit pemerintah baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif) sebelum melakukan berbagai macam tindakan yang berisi nilai-nilai di bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, dan budaya, yang akan dituangkan ke dalam peraturan perundang-undangan. Pada kasus putusan MK yang menolak uji materi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan belum memperhatikan masyarakat di Indoensia yang pluralisitis dimana terdiri dari beragam suku, budaya, agama, ras.
Dari kajian Sosiologis
Anak merupakan elemen penting dari masyarakat karena anak menjadi generasi penerus bangsa. Dari kajian sosiologis terhadap putusan MK tidak meninjau hak-hak anak, dimana MK seharusnya
69
mempertimbangkan berbagai dampak akibat dari perkawinan anak di bawah umur. Salah satu contoh akibat dari hak anak yang dilanggar yaitu Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
a. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
b. Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya dan;
c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.
Pada poin (a) (b) dan (c) salah satu dampaknya yang akan ditimbulkan jika dilanggar adalah dampak dari segi biologis Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak.
Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang anak.
Menurut Hakim Maria Farida I. resistensi terhadap pernikahan di bawah umur bersinergi dengan upaya perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia yaitu hak asasi anak, namun mencegah pernikahan dibawah umur dengan mengkriminalisasi pernikahan di bawah umur belum tepat karena beberapa alasan yaitu ; 1) belum ada kekhawatiran kolektif (massal) akibat buruk pernikahan dibawah umur; 2) akan menafikan norma agama; 3)
70
melawan beberapa budaya masyarakat Indonesia (seperti budaya masyarakat Karo, Sumut), dan bertentang dengan tradisi; 4) serta dapat bersifat resisten dengan perlindungan hak asasi manusia. Bahwa Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tentang Perkawinan menyatakan,
“Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun”;
Menurut penulis perkawinan anak menimbulkan berbagai pelanggaran terjadap hak-hak anak diataranya:
a. Hak atas pendidikan
b. Hak untuk terlindungi dari segala bentuk kekerasan fisik dan mental, termasuk kekerasan seksual, perkosaan dan exploitasi seksual
c. Hak untuk menikmati dan mendapatkan standar kesehatan tertinggi
d. Hak untuk istirahat dan menimati liburan, dan bebas berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya
e. Hak untuk tidak dipisahkan dari orang tuanya diluar keinginan anak
f. Hak untuk terlindungi dari segala bentuk elsploitasi yang mempengaruhi segala aspek kesejahteraan anak
Dengan demikian dapat terlihat jelas bahwa terdapat alasan-alasan yang kuat terhadap pelanggaran hak-hak anak khususnya anak perempuan.
Seharusnya dengan berbagai dampak yang dikhawatirkan akan timbul dari