2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Futsal
Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang masing- masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Menurut Dendy Sugono (401)
“futsal adalah olahraga permainan sepakbola, dengan lapangan dan gawang lebih kecil, biasanya dimainkan di dalam ruangan besar, masing-masing tim terdiri atas lima orang”. Menurut Justinus Lhaksana (7), futsal adalah permainan yang sangat cepat dan dinamis. Dari segi lapangan yang relatif kecil, hampir tidak ada ruang untuk membuat kesalahan. Futsal adalah olahraga beregu, kolektivitas tinggi akan mengangkat prestasi. Menurut Javier Lozano dalam Justinus Lhaksana (57), futsal bukan hanya suatu permainan bagi pemain yang merasa lebih nyaman di lapangan sempit, namun yang berkembang dalam futsal adalah kecepatan dan kualitas untuk membuat suatu keputusan.
Gambar 2.1 Pertandingan Piala Dunia Futsal Sumber: http://www.google.com/images
Futsal adalah permainan yang hampir sama dengan sepakbola dimana dua tim memainkan dan memperebutkan bola di antara para pemain dengan tujuan dapat memasukkan bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawang dari kemasukan bola. Pemenang adalah tim (regu) yang memasukkan bola ke gawang lawan lebih banyak dari kemasukan bola di gawang sendiri. Menurut Justin Lhaksana (l9)
“menyatakan sebelum berkembang menjadi cabang olahraga yang kedudukannya sejajar dengan sepakbola rumput, futsal ditekuni sebagai sarana pengarahan dan pembentukan para pemain muda yang ingin berkarir dalam bidang futsal”. Dengan demikian yang dimaksud dengan futsal adalah permainan sepakbola indoor yang dimainkan lima orang dan membutuhkan tingkat kompetensi teknik yang tinggi karena dimainkan dengan waktu yang cepat.
2.1.1. Sejarah Futsal
Kata Futsal berasal dari bahasa Spanyol, yaitu Futbol (sepak bola) dan Sala (ruangan), dan jika digabung artinya menjadi ”Sepak Bola dalam Ruangan”.
Menurut FIFA, asal mula Futsal dimulai pada tahun 1930 di Montevideo, Uruguay dan pertama kali diperkenalkan oleh Juan Carlos Ceriani. Ia adalah seorang pelatih sepak bola yang berasal dari Argentina. Berawal dari rasa kesal Ceriani terhadap hujan yang terus mengguyur kota Montevideo yang mengakibatkan lapangan tergenang air sehingga program latihan yang telah disusun menjadi berantakan.
Dengan kondisi demikian, ia lantas memindahkan kegiatan latihan ke dalam ruangan.
Pada mulanya kegiatan latihan bisa berlangsung dengan lancar karena memang tujuan awal dari pemindahan ini adalah agar tehindar dari hujan, banjir dan becek sehingga program latihan bisa dilakukan. Permasalahan justru baru terlihat pada saat akan dilakukan latihan tanding, dimana ruangan dianggap terlalu sempit bila harus tetap menerapkan aturan baku sepak bola dengan jumlah pemain 11 orang. Melihat hal tersebut, Ceriani kemudian memutuskan untuk mengurangi jumlah pemain menjadi lima orang untuk setiap tim dan melakukan sedikit perubahan pada aturan permainan. Perubahan yang sudah dilakukan oleh Juan Carlos Ceriani dengan memindahkan tempat bermain ke dalam ruangan dengan melakukan sedikit perubahan pada aturan permainan malah mendapat apresiasi dari masyarakat Montevideo. Permainan sepak bola dalam ruangan ini menjadi digemari oleh masyarakat Montevideo karena dirasa menarik dan memberikan tantangan baru dalam bermain sepak bola.
Versi lain mengatakan bahwa sebenarnya pada tahun 1954 permainan sejenis sudah dilakukan di Kanada. Selain itu Brasil juga mengklaim bahwa permainan seperti itu sudah mereka lakukan bersamaan dengan cerita mengenai Ceriani.
Hanya saja bedanya adalah mereka tidak bermain dalam sebuah ruangan melainkan di jalanan dan tidak menggunakan aturan yang jelas. Terlepas dari kerancuan akan asal 8 mula Futsal, pada tahun 1954 peraturan dibakukan dan sejak saat itu Futsal menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Futsal berkembang sangat pesat di Brazil, lalu pada tahun 1936 dibuatlah kesepakatan dan penetapan aturan main futsal. Pada masa itu, peraturan futsal juga tidak banyak bedanya dengan peraturan futsal saat ini. Dengan adanya peraturan ini, futsal semakin berkembang dan digemari di Amerika Latin, bahkan ke seluruh dunia.
Di Italia, futsal mulai dikenal pada tahun 1950an. Futsal di Italia diperkenalkan oleh pemain-pemain sepak bola impor dari Amerika Latin yang bermain di Seri A (Liga Italia). Di saat senggang, pemain-pemain itu bermain futsal.
Dan futsal semakin dekenal dan digemari di Italia.
Beda halnya dengan di Inggris. Di Inggris pemain-pemain sepak bola sering melakukan latih tanding enam lawan enam di lapangan rumput. Futsal juga terkenal di Inggris, hingga suatu saat diselenggarakan turnamen futsal yang disponsori oleh London Express, salah satu harian terkemuka di London.
Sedangkan di Spanyol, perkembangan futsal jauh lebih cepat. Hal ini bisa terjadi karena budaya dan gaya bermain bola di Spanyol sangat mirip dengan budaya Amerika Latin.
Pada 1965 kompetisi internasional Futsal digelar untuk pertama kalinya, dengan Paraguay menjadi juara pertama. Lalu pada tahun-tahun berikutnya hingga tahun 1979 Brazil merajai kompetisi ini. Brazil juga memenangi piala Pan Amerika untuk kali pertama di tahun 1980 dan 1984.
Di tahun 1974 diadakan pertemuan perwakilan futsal dari berbagai negara.
Pertemuan di Sao Paulo itu menggagas dibentuknya FIFUSA (The Federacao Internationale de Futebol de Salao / Federasi Futsal AS) sebagai organisasi resmi yang mewadahi futsal. FIFUSA saat itu menunjuk Joao Havelange sebagai ketua umum. Setelah eksisnya FIFUSA ini futsal semakin cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Kejuaraan dunia futsal pertama diselenggarakan oleh FIFUSA pada 1982 di Sao Paulo Brazil. Pada even edisi perdana ini Brazil keluar sebagai juara. Tiga
tahun berikutnya, even yang sama digelar di Spanyol. Ini adalah kali pertama even tiga tahunan ini dihelat di benua Eropa, dan lagi-lagi Brazil keluar sebagai juara.
Dan pada 1988 Brazil berhasil dikalahkan oleh Paraguay di Australia.
Setelah beberapa tahun eksis, Futsal semakin terorganisir, dan FIFA pun tertarik. Karena bagaimanapun juga futsal turut memajukan industri sepakbola internasional. Pada 1989 FIFA secara resmi memasukkan futsal sebagai salah satu bagian dari sepakbola, dan FIFA juga mengambil alih penyelenggaraan kejuaraan dunia futsal. Piala dunia futsal edisi FIFA yang pertama digelar di Belanda pada 1989 dan yang kedua digelar di Hong Kong di tahun 1992, dengan Brazil sebagai juara di kedua edisi ini. Dengan adanya beberapa pertimbangan, akhirnya FIFA mengubah jadwal piala dunia Futsal ini menjadi empat tahun sekali. (Murhananto, Dasar-Dasar Permainan Futsal)
Gambar 2.2 Suasana pertandingan futsal Sumber: http://www.google.com/images 2.1.2. Lapangan Futsal
Ukuran Lapangan lapangan harus berbentuk persegi. Panjang garis samping harus lebih panjang dari garis gawang. Semua garis lapangan harus selebar 8 cm.
Untuk pertandingan bukan internasional, ukuran seperti sebagai berikut:
Panjang : Minimum 25 m, Maksimum 42 m Lebar : Minimum 16 m, Maksimum 25 m
Untuk Pertandingan Internasional, ukuran seperti sebagai berikut:
Panjang : Minimum 38 m, Maksimum 42 m Lebar : Minimum 20 m, Maksimum 25 m
Gambar 2.3 Lapangan futsal international Sumber: http://www.futsalin.com
2.2. Tinjauan Stadion
Stadion merupakan bangunan yang antik yang biasanya berbentuk seperti bulat telur atau elips. Perencanaanya terhadap penataan kota harus memperhatikan lalu lintas, jalur kendaraan umum dan halte, juga parkiran. Selain itu stadion juga sebaiknya dirancang jauh dari daerah industri juga sumber asap dan bau karena kegunaannya sebagai tempat olah raga.
Gambar 2.4 Stadion Allianz Arena di Jerman Sumber: http://www.google.com/images
2.2.1. Pencahayaan
Pencahayaan pada arena olahraga merupakan salah satu factor yang sangat penting untuk didesain karena pada tahapan awal sudah harus menentukan apakah akan menggunakan daylight atau tanpa penggunaan cahaya alami dimana keputusan ini akan sangat berdampak pada bentuk bangunan. Penggunaan artificial lighting yang ideal adalah dapat memenuhi kebutuhan cahaya baik di siang maupun malam hari. Kebutuhan cahaya untuk setiap jenis olahraga bergantung pada kecepatan permainan, ukuran bola dan standar-standar international. Sistem pencahayaan juga harus mencukupi kebutuhan visual para pemain dan penonton.
Aksi dan pergerakan setiap pemain harus terlihat jelas dan setiap pemain juga tidak terganggu oleh bayangan gelap ataupun cahaya yang menyilaukan. Kebutuhan cahaya pada penonton memiliki tingkatan yang berbeda, tergantung dari jarak pandang. Beberapa cahaya sebaiknya diarahkan ke ceiling atau atap dengan tujuan untuk mengurangi kontras cahaya dan glare. Finishing untuk lantai, dinding dan plafon sebaiknya menggunakan warna yang matt untuk menghindari pantulan cahaya dan sebaiknya tidak menggunakan pola-pola yang terlalu menonjol.
2.2.2. Faktor yang Mempengaruhi Kesuksesan
Untuk bisa berhasil pada masa kini, stadion harus bisa tampil dan diterima oleh berbagai pihak, tidak hanya pengunjung, pemain, dan penyelenggara event, tetapi juga penduduk sekitar, bisnis sponsor, iklan, media company, dan otoritas setempat. Semua dari mereka penting dan memerlukan bagian, namun ada 3 yang terpenting yaitu penonton, pemilik, dan pemain.
Penonton mengharapkan suasana yang menyenangkan. Mereka adalah bagian utama karena jika tidak ada mereka stadion akan bangkrut. Pemilik / penyelenggara event akan mencoba untuk mendapatkan keuntungan atas investasi mereka dengan berusaha merayu penonton sebanyak mungkin. Jika mereka tidak bisa mengatur fasilitas dan kualitas event maka stadion akan tutup. Tanpa pemain tidak akan ada kompetisi. Pemain mengharapkan standar kualitas dan keamanan dalam bertanding, juga idealnya dengan banyak penonton dan dalam situasi tertentu juga banyak media yang meliput.
2.2.3. Stadion dan Masa Depan
Stadion adalah bangunan yang luar biasa, karena dapat membantu memunculkan suatu ikon bangunan bagi suatu kota dan meningkatkan antusias masyarakat untuk bersatu di jaman yang serba modern ini. Stadion bisa menjadi sebuah bangunan yang mahal tetapi sesuai dengan berbagai venue olahraga yang akan terus berkembang dimasa yang akan datang dan menjadi bangunan paling penting yang harus dibangun oleh kota-kota modern di masa depan karena pengaruhnya yang sangat besar terhadap masyarakat perkotaan. Dalam 150 tahun terakhir, olahraga memiliki peningkatan populeritas yang sangat tinggi, sehingga stadion bisa menjadi sarana pemasaran bagi suatu kota atau bahkan Negara karena akan banyak dikunjungi oleh wisatawan. Dimasa depan stadion akan menjadi suatu bangunan sutainable yang mandiri, didalamnya mencangkup, residential, commercial, retail, office, dan servis lainnya serta infrastruktur transportasi.
2.3. Tinjauan Lobi
Lobi adalah ruang teras di dekat pintu masuk bangunan (bioskop, gedung perkantoran, dan lainnya) yang biasanya dilengkapi dengan berbagai perangkat meja dan kursi, yang berfungsi sebagai ruang duduk atau ruang tunggu.
Gambar 2.5 Ilustrasi interior lobby hotel Sumber: http://www.google.com/images
Kata lobi digunakan pada tahun 1640 yang berarti ruangan masuk yang besar dalam gedung umum. Dalam Arsitektur berarti ruang peralihan. Lobi umumnya menghubungkan pintu masuk gedung bioskop, hotel, atau apartemen, dengen ruang-ruang di dalamnya Fungsinya sebagai ruang tunggu atau tempat lalu-lalang.
Lobi bisa juga merupakan ruangan peralihan yang terbuka untuk umum, dengan fungsi menghubungkan tempat-tempat pertemuan didalam bangunan tersebut.
Gambar 2.6 Lobby Stadion Wembley di Inggris Sumber: http://www.wembleystadium.com/TheStadium
2.4. Tinjauan Galeri
2.4.1. Prinsip Perancangan Galeri
Beberapa hal yang harus diperhatikan saat mendesain galeri (Sari 19-24):
Desain ruang-lantai dan sirkulasi pengunjung
Ruang pamer pada galeri harus memiliki pemandangan visual yang tertata dan bersih sehingga pengunjung akan fokus pada karya yang dipajang.
Beberapa hal yang harus diperhatikan yang menjadi elemen perancangan galeri adalah luas ruangan, dinding, plafon, lantai, kusen, langit-langit, pintu, dan jendela. Pada umumnya, tinggi minimum dinding display pada museum/galeri seni adalah 3,7 meter, dan untuk kefleksibelan bagi pameran seni, tinggi yang dibutuhkan hingga plafon adalah mencapai 6 meter.
Penataan Display
a. Estetika Peletakan
b. Hubungan antar karya, mencari hubungan yang khas, seperti aliran, gaya, komposisi warna, tahun tercipta, dan konsep lainnya
c. Pencahayaan dari dalam lemari kaca dan ruangan dibuat gelap (Chiara) d. Penulisan teks dan peletakan label (labelisasi), keterangan karya, seperti
ukuran, judul, pencipta, tahun, dan lain lain.
e. Penataan ruang yang berukuran besar, yaitu mapping atau pemetaan.
Metode pemetaan bergantung pada fungsi untuk mengolah sirkulasi dan perjalanan pengunjung. Dalam ruang display galeri juga diperlukan fasilitas lain seperti panel (sketsel) atau dinding pembatas bongkar pasang (dinding temporary) agar tidak memunculkan ruang-ruang sisa.
Luas minimal dari pembagian dinding temporary adalah sekitar 12-15 meter. Dalam pertimbangan dan penekanan desain pola sirkulasi, dibutuhkan dua pintu keluar untuk semua ruang pameran.
Pencahayaan
Cahaya memegang peranan yang penting dalam suatu museum/galeri seni.
Pencahayaan yang menarik terhadap karya seni yang dipamerkan menjadi nilai lebih tersendiri sehingga dapat memberikan daya tarik yang lebih.
Cahaya yang dapat merusak karya yaitu sinar ultraviolet dan cahaya matahari yang terkena langsung pada karya dan berlangsung setiap hari.
Berikut beberapa pembagian karakter barang yang didisplay:
1. Koleksi sangat sensitif, yaitu tekstil, kertas, lukisan cat air, foto berwarna, Kekuatan terhadap cahaya adalah 50 lux untuk 3000 jam pameran / tahun atau 150 lux untuk 250 jam/tahun
2. Koleksi sensitif; yaitu koleksi cat minyak, foto hitam putih, tulang, kayu.
Kekuatan terhadap cahaya adalah 200 lux untuk 3000 jam pameran/tahun 3. Koleksi kurang sensitif; yaitu koleksi batu, logam, gelas, keramik.
Koleksi jenis ini tahan terhadap cahaya
2.4.2. Syarat-Syarat Area Pamer
Sebagai sebuah ruang untuk ruang pameran untuk karya seni dan ilmu pengetahuan memiliki berbagai syarat ruang, yaitu:
Mendapatkan cahaya yang terang merupakan bagian dari pameran yang baik
Terlindung dari gangguan, pencurian, kelembaban, kering, dan debu.
Gambar 2.7 Interior Juventus Museum, Italia Sumber: http://www.juventus.com
2.4.3. Persyaratan Koleksi
Pengertian koleksi adalah sekumpulan benda-benda bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan satu atau berbagai bidang atau cabang ilmu pengetahuan. (DPK 19) Adapun persyaratan koleksi, yaitu:
1. Mempunyai nilai sejarah dan ilmiah (termasuk nilai estetika).
2. Dapat diidentifikasikan wujudnya (morfologi), tipenya (tipologi), gayanya (style), fungsinya, maknanya, asalnya secara historis dan geografi, genusnya (dalam orde biologi) atau dalam geologi (khususnya untuk benda-benda sejarah alam dan teknologi).
3. Harus dapat dijadikan dokumen, dalam arti sebagai bukti kenyataan dan kehadirannya (realitas dan eksistensinya) bagi penelitian ilmiah.
4. Dapat dijadikan suatu monumen atau bakal menjadi monument dalam sejarah alam dan budaya.
5. Benda asli (realita), replika atau reproduksi yang sah menurut persyaratan museum. (DPK 20)
2.5. Tinjauan Merchandise Store
Merchandise artinya barang yang diperdagangkan. Merchandising merupakan salah satu bidang yang berperan dalam menentukan keunggulan bersaing dari retailer. Merchandising juga dapat didefinisikan sebagai seni atau ilmu pengelolaan merchandise, sehingga di dalam distribusi merchandise tercapai:
1. Produk yang tepat, 2. Waktu yang tepat, 3. Tempat yang tepat, 4. Harga yang tepat, 5. Kuantittas yang tepat, 6. Kualitas yang tepat, 7. Dijual dengan cara yang tepat.
2.5.1. Faktor dan Proses Merchandise
Beberapa faktor yang dapat dijadikan pertimbangan oleh retailer untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya dibandingkan retailer lain, yaitu:
1. Variasi kategori barang yang tersedia (breadth), 2. Kedalaman jenis barang yang tersedia per kategori (depth), 3. Keunikan barang, 4. Harga, 5. Mutu, 6. Jam buka dan jam tutup toko, 7. Fasilitas kredit, 8. Suasana toko dan rancangan interior, 9. Tata letak toko, 10. Rancangan exterior toko.
Gambar 2.8 Interior Real Madrid Official Store, Spanyol Sumber: http://www.google.com/images
2.5.2. Interior Display
Interior display merupakan suatu kebutuhan yang perlu diperhatikan, khususnya dalam merchandise store. Dengan adanya display untuk digunakan memajang barang-barang yang dijual, akan membantu dan memudahkan pengunjung dalam memilih barang-barang sesuai keinginan mereka. Contoh penataan display dalam sebuah merchandise store berdasarkan barang yang dijual sebagai berikut:
Gambar 2.9 Contoh penataan display Sumber: De Chiara, Panero, Zelnik, 192
Service dalam merchandise store dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan sevice store, yang dapt menjalin komunikasi antara pengunjung dengan pegawai. Di sini pengunjung tidak perlu repot mencari barang yang diinginkan.
Biasanya dilakukan pada exclusive shop yang hanya mendisplay barang contoh. Self service, yang biasanya dilakukan pada merchandise store yang besar. Ini dapat memberikan kebebasan pengunjung untuk memilih barang yang diinginkannya.
(De Chiara, Panero, Zelnik 192).
2.6. Tinjauan Café 2.6.1. Pengertian Café
Pada dasarnya Café mempunyai arti harafiah yaitu restoran kecil yang melayani atau menjual makanan ringan dan minuman, Café biasanya digunakan untuk rileks (Kamus Besar Bahasa Indonesia 432). Tempat yang biasanya dipakai untuk membuka Café adalah sebuah rumah yang didekorasi dan ditata dengan baik, dan terkadang shoping mall atau sebuah pusat belanja juga untuk sebuah Café.
Tempat seperti ini biasanya lebih ramai dibandingkan dengan restoran karena banyak tamu yang keluar masuk.
Gambar 2.10 Interior Moovina Plaza Indonesia, Jakarta Sumber: http://www.google.com/images
Sebuah Café juga mempunyai beberapa persyaratan ruang yang dilihat dari segi keamanan, keselamatan, kenikmatan, dan kesehatan. Suatu hal yang prinsip pada ruang Café yang menyangkut persyaratannya adalah persyaratan tentang kenikmatan manusia yang dititik beratkan pada kebutuhan ruang gerak atau individu.
Dengan adanya perkembangan jaman, Café ini semakin luas, artinya Café tidak saja menjadi tempat menikmati makanan dan minuman, tetapi juga menjadi tempat bersosialisasi dan mencari teman baru (Neufert 120).
Aktivitas dari kegiatan tamu dan karyawan menentukan dekorasi sebuah ruangan. Kita dapat mengamati bila seseorang tamu berada di restoran, aktivitas- aktivitas yang menonjol adalah duduk, memesan makanan/minuman, saat makan dan minum, mengambil makanan di meja bufet dan melakukan pembayaran melalui waiter/waitress atau langsung ke counter cashier. Sedangkan aktivitas waiter/waitress yang menonjol adalah melayani tamu, menyiapkan meja yang bersih untuk tamu, membersihkan meja setelah digunakan, menerima pembayaran
dari tamu, dan supervisor mengawasi jalannya operasional restoran (Sugiarto dan Sulartiningrum 84).
Dalam perancangan interior, desain mebel juga harus dipikirkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dimensi mebel pun bisa mempengaruhi pengunjung untuk berlama-lama duduk ataupun datang, duduk, makan, lalu pergi.
Sebuah Café secara umum harus memiliki syarat kondisi (Neufert 120) sebagai berikut:
1. Menarik perhatian dan tidak membuat pengunjung cepat bosan 2. Penghawaan dan sirkulasi yang baik.
3. Pencahayaan dalam ruang yang sesuai, tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap.
2.6.2. Identitas Perusahaan dalam Interior Café
Wujud identitas perusahaan dapat dideteksi melalui desain interiornya sendiri yang merupakan salah satu dari elemen tangibles. Desain interior yang sukses didasarkan pada cara kerja yang efektif yang selanjutnya tergantung pada persepsi konsumen akan tempat tersebut. Desain bagian depan suatu Café mempengaruhi konsumen mulai dari pandangan pertamanya pada signage dan facade, sampai pada menu makanan. Alur ini dimulai dari eksterior, kemudian berpindah pada area masuk, area makan, bar atau lounge dan toilet. Sebuah organisasi ruang yang efektif dapat berfungsi untuk membantu menciptakan Café yang mudah diingat oleh konsumen.
Gambar 2.11 Ilustrasi café dengan desain kontemporer Sumber: http://www.google.com/images
Desain ruangan seharusnya dapat dirasakan dan diingat oleh sensori pengunjung, serta memperkuat keputusannya untuk kembali ke sana (Baraban dan Durocher 81). Rahasia untuk mencapai suatu kesesuaian mulai dengan konsep menu dan desain adalah dengan menghubungkan studi pemasaran yang baik dan teliti pada analisa menu sebelum memutuskan elemen desain yang baik pada interiornya. Studi pemasaran diklasifikasikan sebagai berikut (Baraban dan Durocher 16-17):
1. Type of restaurant
Jenis restoran dapat meliputi klasifikasi segmen pasar seperti restoran cepat saji, coffee shops, hotel dining, restoran keluarga, entertainment restaurant, dan corporate cafeteria.
2. The market
Dalam beberapa kasus, memilih lokasi berdekatan dengan pesaing adalah strategi yang baik. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan identitas yang unik untuk tiap restoran. Ada dua macam persaingan:
1. Primary competitors
Adalah restoran yang letaknya berdekatan dan menawarkan jenis makanan dan jenis pelayanan yang sama.
2. Secondary competitors
Adalah restoran dengan jenis berbeda namun lokasinya berdekatan.
3. Concept of development
Sebuah konsep dapat memberikan tema yang kemudian diidentifikasikan menjadi elemen visual. Sebuah tema memberikan perasaan yang kemudian meninggalkan sesuatu pada imajinasi para pengunjung.
4. Menu Penawaran
Menu mempengaruhi perilaku konsumen dan keputusan mereka untuk makan di sana atau tidak, atau mencari restoran lainnya.
5. General ambience
Tipe restoran yang berbeda menyebabkan perasaan yang berbeda. Hal ini bergantung pada bagaimana perusahaan mendefinisikan suasana apa yang ingin diberikan sebuah Café.
6. Management philosophy
Filosofi manajemen memberikan filosofi pada desain, seperti misalnya pada restoran waralaba, pada umumnya adalah untuk memaksimalkan keuntungan para franchisor.
7. Style of service and service system
Service system didefinisikan dengan bagaimana makanan disiapkan dan sampai pada konsumen. Jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan pertimbangan spesifik dalam rencana perancangan ruang.
8. Speed of service
Kecepatan pelayanan sangat berhubungan dengan rata-rata waktu pergantian. Jika menginginkan pergantian yang cepat, kursi dengan permukaan keras akan membuat pelanggan berpindah dari ruang makan secepat mungkin.
2.6.3. Sistem Penyajian Pada Café
Cara penyajian makanan dalam Café terdapat beberapa cara, yaitu (Lawson 58):
1. Self Service
Di mana pengunjung melakukan pelayanan bagi dirinya sendiri. Pengunjung datang, kemudian mengambil makanan dan minuman yang mereka inginkan, kemudian menuju ke kasir dan membayar makanan mereka lalu duduk di tempat yang disediakan. Cara ini terkesan familiar dan bersahabat.
2. Waiter or Waitress Service to Table
Pengunjung datang dan duduk pada kursi yang disediakan, kemudian pramusaji akan melayani mereka, mengantar menu dan makanan hingga membayar ke kasir, sehingga orang tidak perlu beranjak dari kursinya.
3. Counter Service
Di mana terdapat area khusus yang terdapat display makanan yang ada, biasanya digunakan untuk pelayanan yang cepat dan service yang tidak formal.
4. Automatic Vending
Sistem ini menggunakan mesin otomatis. Pengunjung memasukkan koin lalu dari mesin keluar makanan yang dipilihnya
2.7. Tinjauan Elemen Pembentuk Ruang 2.7.1. Lantai
Lantai merupakan bagian bangunan yang berhubungan langsung dengan beban, baik beban mati, bergerak dan gesek. Karakter lantai harus mempunyai daya tahan yang kuat dalam mendukung beban-beban yang datang dari segala perabotan, aktivitas manusia dalam ruang dan lain-lain. Selain itu, lantai harus bersifat kaku dan tidak bergetar (Djoko Panuwun 6). Lantai mempunyai tugas untuk mendukung beban yang datang dari benda-benda, seperti perabot rumah tangga, manusia dengan segala aktivitasnya dan kerangka itu harus mampu dan kuat memikul beban mati atau hidup, lalu lintas manusia dan lain-lain yang menumpangi (Y.B. Mangun Wijaya 329).
Gambar 2.12 Ilustrasi desain lantai Sumber: http://www.google.com/images Persyaratan lantai:
1) Lantai harus kuat dan dapat menahan beban diatasnya.
2) Mudah dibersihkan 3) Kedap suara
4) Tahan terhadap kelembaban
5) Memberikan rasa hangat pada kaki dan sebagainya
Berdasarkan karakteristiknya lantai terbagi menjadi empat, yaitu:
1) Lantai lunak, terdiri dari semua tipe permadani dan karpet. Pemberian karpet pada lantai dapat menunjang penyerapan bunyi, sbb:
a) Jenis serat, praktis tidak mempunyai pengaruh pada penyerapan bunyi.
b) Pada kondisi yang sama tumpukan potongan (cut piles) memberikan penyerapan yang lebih banyak di bandingkan dengan tumpukan lembaran (loop piles).
c) Dengan bertambahnya berat dan tinggi tumpukan, dalam tumpukan akan bertambah.
d) Makin kedap lapisan penunjang (backing), makin tinggi penyerapan bunyi.
2) Lantai semi keras, terdiri dari pelapisan lantai seperti vinyl, aspal dan cor.
3) Lantai keras, terdiri dari semua jenis batuan dan logam yang dipakai sebagai bahan lantai.
4) Lantai Kayu (parquet), terdiri dari berbagai jenis dan motif bahan lantai yang terbuat dari kayu.
Dalam pameran lantai berperan untuk memberi petunjuk arus lalu lintas agar pengunjung tidak bingung dan dapat melihat seluruh stand partision ataupun barang-barang yang sedang dipamerkan. Pada ruang-ruang tertentu seperti dapur, pantry, kamar mandi, WC, dipilih jenis lantai yang kedap air serta warna pola yang serasi dengan fungsi dan perrawatannya. Pada dareah pertokoan lantai dipasang pada jalur lintas orang berjalan (hall) dengan motif yang berbeda-beda agar member kesan adanya perbedaan antar ruang-ruang yang ada di dalam kompleks tersebut.
Pada ruang-ruang rapat yang memerlukan konsentrasi hendaknya jangan digunakan lantai yang terlalu banyak motif dan warna karena dapat mengganggu. (Pamudji Suptandar 99).
2.7.2. Dinding
Dinding merupakan bidang nyata yang membatasi suatu ruang atau pembatas kegiatan yang mempunyai jenis berbeda. Dinding adalah penahan beban yang menyangga lantai dan atap, sehingga struktur kekuatan dinding sebagai penahan
beban harus diperhatikan (John F. Pile 222). Dinding merupakan unsur penting dalam pembentukan ruang, baik sebagai unsur penyekat/ pembagi ruang maupun sebagai unsur dekoratif. Dalam proses perancangan suatu ”ruang dalam” dinding mempunyai peranan yang cukup dominan dan memerlukan perhatian khusus, di samping unsur-unsur lain seperti tata letak, desain furniture serta peralatan- peralatan lain yang akan disusun bersama dalam suatu kesatuan dengan dinding.
Gambar 2.13 Ilustrasi desain pada elemen dinding Sumber: http://www.google.com/images
Setelah fungsi dinding tercapai dan untuk menambah keindahan ruang, dinding dipergunakan sebagai ”point of interest” dari ruang dinding samping memberi atau menambah keindahan ruang. Dinding juga dapat merusak suasana ruang, yaitu apabila dalam perencanaannya sangat dipaksakan, terutama dikarenakan bahwa dinding tersebut telah ada sebelumnya. Ini terjadi pada renovasi rumah-rumah kuno, dimana dinding berfungsi struktural. (Pamudji Suptandar 147) Dinding pada suatu wadah kegiatan dapat sebagai struktur atau hanya sebagai pembatas ruang saja, tergantung dari sistem struktur yang dipakai dalam perencanaannya (Djoko Panuwun 56).
Fungsi dan bentuk dinding terbagi menjadi 2 bagian (Pamudji Suptandar 145):
1. Struktur, misalnya:
a) Bearing wall: dinding yang dibangun untuk menahan tepi dari tumpukan/ urugan tanah.
b) Load bearing wall: dinding untuk menyokong/ menopang balok, lantai, atap dan sebagainya.
c) Foundation wall: dinding yang dipakai di bawah lantai, tingkat dan untuk menopang balok-balok lantai pertama.
2. Non struktural, misalnya:
a) Party wall: dinding pemisah antara dua bangunan yang bersandar pada masing-masing bangunan.
b) Fire wall: dinding yang digunakan sebagai pelindung dari pancaran kobaran api.
c) Certain or Panels wall: dinding yang digunakan sebagai pengisi pada suatu konstruksi rangka baja atau beton.
d) Partition wall: dinding yang digunakan sebagai pemisah dan pembentuk ruang yang lebih kecil didalam ruang yang besar.
2.7.3. Langit-langit (Ceiling)
Pengertian istilah ceiling/langit-langit/plafond, berasal dari kata ”ceiling”, yang berarti melindungi dengan suatu bidang penyekat sehingga terbentuk suatu ruang. Secara umum dapat dikatakan: ceiling adalah sebuah bidang (permukaan) yang terletak di atas garis pandangan normal manusia, berfungsi sebagai pelindung (penutup) lantai atau atap dan sekaligus sebagai pembentuk ruang dengan bidang yang ada di bawahnya. Dengan jarak ketinggian tertentu dalam bangunan, ceiling sebagai elemen penutup utama pada bidang atas sebagai pembentuk atap bangunan.
(Pamudji Suptandar 161)
Gambar 2.14 Ilustrasi elemen dekoratif pada ceiling Sumber: http://www.google.com/images
Ceiling adalah pembentuk ruang yang merupakan penutup bagian atas. Kesan pertama adalah adanya tinggi rendah ruang, berfungsi sebagai bidang penempatan lampu, penempatan AC, sprinkler head, audio loudspeaker dan sebagai peredam suara atau akustik (John F. Pile 250).
Dasar pertimbangan dalam perencanaan langit-langit adalah (Djoko Panuwun 72):
1) Fungsi langit-langit
Fungsi dari langit-langit selain sebagai penutup ruang juga sebagai pengatur udara dan ventilasi.
2) Penentuan ketinggian
Penentuan ketinggian didasari oleh pertimbangan fungsi, proporsi ruang, kegiatan ruang, konstruksi dan permainan ceiling.
3) Bentuk penyelesaian
Bentuk dan penyelesaian dapat dilakukan berdasarkan fungsinya seperti melengkung, berpola, polos, memperlihatkan struktur, dan sebagainya.
Pada ruang rapat di mana diharapkan tercapainya suatu pendapat yang membutuhkan konsentrasi, diusahakan agar ceilingnya berbentuk sederhana, tidak menyolok karena akan mengganggu konsentrasi. Pada ruang pamer, agar menarik pengunjung, dibuat ceiling yang kontras, saling bersaing untuk dapat menonjolkan diri dan kesan yang mewah. Dengan melajunya kemajuan teknologi, dan penemuan-penemuan baru di bidang industri bahan bangunan tercipta berbagai material ceiling yang memungkinkan untuk memenuhi segala macam jenis fungsi ruang antara lain (Pamudji Suptandar 166):
a) Untuk mencapai kesan alamiah, kayu, anyaman bambu, rotan, dan lainlain b) Untuk gaya klasikal, plat-plat gibs bermotif
c) Untuk mencapai kesan glamour, kaca (antique glass ceiling), kain beludru d) Pada rumah-rumah sederhana, eternit polos (bermotif), tripleks (multipleks), dan berbagai jenis softboard/akustik tile
e) Pada bangunan-bangunan utilitas, beton exposed
f) Pada bangunan-bangunan umum, alumunium, fiber glass sebagai skylight, kaca timah pada gereja-gereja.