7 BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Teori
2.1.1Persepsi
Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakann hubungan dengan lingkungannya.
Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium Slameto (2010:102).
Persepsi di pengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adalah factor internal dan faktor ekternal. Faktor internal berkaitan dengan kebutuhan psikologis, latar belakang, alat indra syaraf atau pusat susunan syaraf, keperibadian dan pengalaman penerimaan diri serta keadaan pada waktu tertentu. sedangkan faktor ekternal;
bedasarkan pada, intensitas perangsangan, lingkungan, kekuatan rangsangan yang turut menentukan di dasari dan tidaknya rangsangan tersebut (Walgito, 2007: 22). Jadi persepsi tidak terbentuk begitu saja, melainkan di pengaruhi oleh faktor-faktor yang mendasarinya.. seperti pengalaman yang di alami oleh individu, dari pengalaman tersebut, seorang individu mampu mempersepsi suatu objek.
8
Sugihartono, dkk (2007: 8) mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.
Menurut Robbins (2002:14), bentuk persepsi terbagi menjadi dua, yaitu persepsi positif, dan persepsi negatif. Persepsi positif merupakan penilaian individu terhadap suatu objek atau informasi dengan pandangan yang positif atau sesuai dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada. Sedangkan persepsi negatif merupakan perserpsi individu terhadap objek atau informasi tertentu dengan pandangan yang negatif, berlawanan dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari suatu aturan yang ada.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya
2.1.2 Syarat Terjadinya Persepsi
Syarat Terjadinya Persepsi Menurut Sunaryo (2004: 98) syarat-syarat terjadinya persepsi adalah sebagai berikut:
2.1.2.1 Adanya objek yang dipersepsi
2.1.2.2 Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi.
2.1.2.3 Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.
9
2.1.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Miftah Toha (2003: 154), faktor- faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut:
2.1.2.4.1 Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.
2.1.2.4.1 Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu objek. Menurut Bimo Walgito (2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:
2.1.2.4.1.1 Objek yang dipersepsi Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.
Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.
2.1.2.4.1.1.2 Alat indera, syaraf dan susunan syaraf Alat indera atau
10
reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.
2.1.2.4.1.1.3 Perhatian Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi.
Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu sekumpulan objek. Faktor- faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu sama lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsi suatu objek, stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-
perbedaan individu,
11
perbedaanperbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi. Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya
2.1.2.5. Proses Persepsi
Menurut Miftah Toha (2003: 145), proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa tahapan, yaitu:
2.1.2.5.1 Stimulus atau Rangsangan
Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungannya.
2.1.2.5.2 Registrasi
Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut
2.1.2.5.2 Interpretasi
Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya.
Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi, dan kepribadian seseorang.
2.1.2 Politik Uang
2.1.2.1 Pengertian Politik Uang
12
Salah satu tantangan dalam pemilu adalah maraknya praktek politik uang (money politic) yang berlangsung hampir di seluruh tingkatan pemilihan umum. “Politik uang dapat diartikan sebagai seni untuk memenangkan posisi yang menguntungkan bersaranakan uang dalam rangka upaya merebutkan kekuasaan dalam kehidupan bernegara”.
(Sumartini, 2004: 123). Ari Dwipayana (2009:31) menyebutkan bahwa “politik uang adalah salah satu faktor penyebab demokrasi berbiaya tinggi”. Sejauh mana politik uang mempengaruhi perilaku politik tidak dapat diukur secara pasti. Perilaku politik masyarakat dapat berubah-ubah sesuai dengan prefensi yang melatarinya. Kejadian itu sangat memungkinkan karena setiap manusia dan masyarakat hidup dalam suatu ruang yang bergerak. Leo Agustino (2009:45) menyebutkan berbagai perubahan perilaku politik masyarakat, khususnya dalam konteks partisipasi politik, banyak ditunjukan oleh mereka diantaranya disebabkan oleh perubahan system politik, tumbuhnya kesadaran kelas, termasuk orang yang berpengaruH pada suatu partai politik, berkurangnya tingkat ketergantungan seseorang, program yang ditawarkan pasangan calon, dan masih banyak lagi.
Dengan demikian politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya denga cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pemberian bisa dilakukan menggunakan uang atau barang. Politik uang umumnya dilakukan untuk menarik simpati para pemilih dalam menentukan hak suaranya tiap pemilihan umum. Berdasarkan pemikiran tersebut dapat dikatakan bahwa politik uang yang digunakan bisa berupa uang ataupun barang dengan tujuan untuk menarik simpati para pemilih. Dengan adanya beberapa
13
klasifikasi pemilih sehingga diperlukan untuk menentukan sasaran khalayak yang kiranya sangat mudah untuk dipengaruhi agar calon kandidat bisa memenangkan kampanyenya untuk mengambil kekuasaan tersebut. Sasaran khalayak disini yaitu pemilih pemula dikarenakan pemilih pemula merupakan kalangan muda yang baru pertama kali akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum (pemilu).
Selain itu, pemilih pemula belum memiliki pengalaman memilih dalam pemilihan umum (pemilu). Sehingga, pemikiran politik pemilih pemula dianggap cenderung labil.
Padahal keberadaan mereka sangat potensial untuk menentukan pemimpin yang akan terpilih. Oleh karena itu, menurut para tim kampanye dianggap lebih mudah untuk mempengaruhi sasaran khalayak demi kesuksesan kampanyenya dalam pemilihan umum (pemilu).
Dari beberapa penjelasan diatas dapat dilihat fenomena politik uang dalam derajat tertentu dapat dianggap suatu pilihan rasional, baik dari kalkulasi para caleg maupun rakyat pemilih. Hanya saja, akibat bagi proses demokratisasi perlu dicermati. Salah satu yang paling menonjol adalah politik seakan seperti sebuah usaha. Uang dikeluarkan agar terpilih ini dapat disamakan sebagai investasi. Kapan pengembaliannya, yakni pada saat setelah seorang politisi terpilih. Jika ini terjadi, dipastikan upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme akan mengalami kesulitan besar dan ekonomi biaya tinggi akan terus berlangsung di negeri ini. Fenomena politik uang mungkin dapat diminimalkan jika tidak terjadi ketimpangan sosial - ekonomi dalam masyarakat sehingga suara pemilih tidak dapat dibeli.
14
2.1.2.2 Bentuk-Bentuk Money Politic
Menurut Ahmad Khoirul Umam (2006:24) dijelaskan tentang bentuk-bentuk Money Politic, sebagai berikut:
2.1.2.2.1 Berbentuk Uang (Cash Money)
Dalam masyarakat, tidak terkecuali masyarakat religius, uang memang diakui sebagai senjata politik ampuh yang sangat strategis untuk menaklukkan kekuasaan. Karena, pada dasarnya uang merupakan saudara kembar kekuasaan. Uang merupakan faktor penting yang berguna untuk mendongkrak personal seseorang, sekaligus untuk mengendalikan wacana strategis terkait dengan sebuah kepentingan politik dan kekuasaan. Dimana, seseorang leluasa mempengaruhi dan memaksakan kepentingan pribadi dan kelompoknya pada pihak lain melalui berbagai sarana, termasuk uang. Dalam pemilihan Presiden, uang sangat berperan penting.
Modus Money Politic yang terjadi dan sering dilakukan, antara lain:
2.1.2.2.1.1 Sarana Kampanye. Caranya dengan meminta dukungan dari masyarakat melalui penyebaran brosur, stiker dan kaos.
Setelah selesai acarapun, para pendukung diberi pengganti uang transport dengan harga yang beragam.
2.1.2.2.1.2 Dalam Pemilu ada beberapa praktik tindakan Money Politic misalnya:
distribusi sumbangan, baik berupa barang atau uang kepada para kaderpartai, penggembira, golongan atau kelompok
15
tertentu. Bantuan Langsung (Sembako Politik). Yaitu pemberian dari calon tertentu untuk komunitas atau kelompok tertentu.
Caranya, dengan mengirimkan proposal tertentu dengan menyebutkan jenis bantuan dan besaran yang diminta, jika proposal tersebut dikabulkan maka secara otomatis calon pemilih harus siap memberikan suaranya. Contoh nyata dari Sembako Politik adalah dengan mengirimkan kebutuhan sehari-hari, berupa: beras, mie, minyak, gula ataupun bahanbahan sembako lainnya. Bentuk ini biasanya sangat efektif karena sasarannya tepat yaitu masyarakat yang ekonominya rendah.
2.1.2.2.1.3 Berbentuk fasilitas umum Politik pencitraan dan tebar pesona lazim dilakukan oleh para calon untuk menarik simpati masyarakat didaerah pemilihannya. Hal ini tidak saja menguntungkan rakyat secara personal, namun fasilitas dan sarana umum juga kebagian “berkah”. Politik pencitraan dan tebar pesona melalui “jariyah politis” ini tidak hanya dilakukan oleh calon-calon yang baru, tetapi juga oleh para calon yang berniat maju kembali di daerah pemilihannya.
Instrument yang dijadikan alat untuk menarik simpati masyarakat dengan menyediakan semen, pasir, besi, batu dan sebagainya. Fasilitas dan sarana umum yang biasa dijadikan Jariyah Politis, yaitu:
Pembangunan Masjid, Mushalla, Madrasah,
16
jalan-jalan kecil (gang-gang), dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk dari bentuk politik uang penelitian ini adalah berupa uang dengan nominal tertentu dan berupa barang seperti sembako, dalam bentuk lain bisa juga berupa perbaikan terhadap fasilitas umum, seperti Pembangunan Masjid, Mushalla, Madrasah, jalan-jalan kecil (gang-gang), dan sebagainya.
2.1.2.3 Strategi Politik Uang
Dalam hal ini, menurut Dedi Irawan (2015:3) terdapat beberapa strategi-strategi Politik Uang, sebagai berikut:
2.1.2.3.1Serangan fajar istilah yang digunakan untuk menyebut bentuk politik uang dalam rangka membeli suara yang dilakukan oleh satu atau beberapa orang untuk memenangkan calon yang bakal menduduki posisi sebagai pemimpin politik. Serangan fajar umumnya menyasar kelompok masyarakat menengah ke bawah dan kerap terjadi menjelang pelaksanaan pemilihan umum.
2.1.2.3.2.Mobilisasi massa biasa terjadi pada saat kampanye yang melibatkan penggalangan massa dengan iming-imingan sejumlah uang untuk meramaikan kampanye yang diadakan oleh partai politik. Penggunaan uang biasanya untuk biaya transportasi, uang lelah serta uang makan, dengan harapan massa yang datang pada saat kampanye akan memilihnya kelak. Dalam hal inilah biasanya terjadi fenomena pembelian pengaruh, dengan instrumen para tokoh masyarakat yang dijadikan vote getter untuk mempengaruhi pemilih sesuai dengan pesanan kandidat. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat saat ini mau mengikuti kampanye dengan cuma-cuma. Sebagian
17
masyarakat meminta uang makan dan bayaran untuk mengikuti kampanye akbar dan sebagainya. Bahwasanya Undang-Undang Nomor 10 tahun 2012 yaitu dalam hal pelaksana kampanye tidak diperkenakan menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada peserta kampanye secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam hal ini, baik strategi melalui serangan fajar ataupun mobilisasi massa yang dilakukan oleh para tim kampanye untuk menarik simpati para pemilih bisa diberikan sebelum masa kampanye, saat masa kampanye, pada masa tenang, ataupun malam hari menjelang esoknya datang ke TPS serta bisa juga dengan cara meramaikan kampanye akbar berupa jalan sehat, panggung hiburan, patrol, dll
2.1.2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Politik Uang Jika dilihat dari masyarakatnya, ada beberapa faktor mengapa banyak rakyat yang terlibat dalam politik uang, antara lain (Hasunacha, 2016) :
2.1.2.4.1 Kemiskinan Sebagaimana kita ketahui, angka kemiskinan di Indonesia cukup tinggi.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjan. Kondisi miskin tersebut seperti memaksa dan menekan sebagian masyarakat untuk segera mendapat uang. Money politic pun menjadi ajang para masyarakat untuk berebut uang.
Mereka yang menerima uang terkadang tidak memikirkan konsekuensi yang akan diterima yaitu,
18
tindakan suap dan jual beli suara yang jelas melanggar hukum. Yang terpenting adalah mereka mendapat uang dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
2.1.2.4.2.Rendahnya Pengetahuan Masyarakat Tentang Politik Tidak semua orang tahu apa itu politik, bagaimana bentuknya, serta apa yang ditimbulkan dari politik. Itu semua bisa disebabkan karena tidak ada pembelajaran tentang politik di sekolah-sekolah ataupun masyarakatnya sendiri yang memang acuh terhadap politik di Indonesia.
Sehingga ketika ada pesta politik, seperti pemilu, masyarakat tersebut akan bersikap acuh dengan pemilu. Tidak mengenal partai, tidak masalah.
Tidak tahu calon anggota legislatif, tidak masalah.
Bahkan mungkin, tidak ikut pemilu pun tidak masalah. Kondisi seperti ini menyebabkan maraknya politik uang. Masyarakat yang acuh dengan pemilu dengan mudah menerima pemberian dari para peserta pemilu. Politik uang pun dianggap tidak masalah bagi mereka. Mereka tidak akan berpikir jauh ke depan bahwa uang yang diberikan itu suatu saat akan 'ditarik' kembali oleh para calon kandidat yang nantinya terpilih. Mereka tidak menyadari adanya permainan politik yang sebenarnya justru merugikan diri mereka sendiri.
2.1.2.4.3 Kebudayaan Saling memberi dan jika mendapat rejeki, tidak boleh ditolak. Begitulah ungkapan yang nampaknya telah melekat dalam diri bangsa Indonesia. Uang dan segala bentuk politik uang dari peserta pemilu dianggap sebagai rejeki bagi masyarakat yang tidak boleh ditolak. Dan
19
karena sudah diberi, secara otomatis masyarakat harus memberi sesuatu pula untuk peserta pemilu, yaitu dengan memilih, menjadi tim sukses, bahkan ikut menyukseskan politik uang demi memenangkan peserta pemilu tersebut. Hal itu semata-mata dilakukan sebagai ungkapan terimakasih dan rasa balas budi masyarakat terhadap si pemberi yang memberi uang.
2.1.3 Pemilu
2.1.3.1 Pengertian Pemilu
Pemilu adalah salah satu cara untuk menentukan arah perjalanan bangsa sekaligus menentukan siapa yang paling layak untuk menjalankan kekuasaan pemerintahan negara tersebut (Sardini 2011:298). “sejara universal Pemilihan Umum adalah instrument mewujudkan kedaulatan rakyat yang bermaksud membentuk pemerintahan yang abash serta sarana mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan rakyat” (Tricahyo, 2009:6) Dalam pelaksanaan pemilihan umum asas - asas yang digunakan diantaranya sebagai berikut :
2.1.3.1.1 Langsung berarti masyarakat sebagai pemilih memiliki hak untuk memilih secara langsung dalam pemilihan umum sesuai dengan keinginan diri sendiri tanpa ada perantara
2.1.3.1.2 Umum, berarti pemilihan umum berlaku untuk seluruh warga negara yang memenuhi persyaratan, tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, jenis kelamin, golongan, pekerjaan, kedaerahan, dan status sosial yang lain.
2.1.3.1.3 Bebas, berarti seluruh warga negara yang memenuhi persyaratan sebagai pemilih pada pemilihan umum, bebas menentukan siapa saja yang akan dicoblos
20
untuk membawa aspirasinya tanpa ada tekanan dan paksaan dari siapa pun.
2.1.3.1.4 Rahasia, berarti dalam menentukan pilihannya, pemilih dijamin kerahasiaan pilihannya. Pemilih memberikan suaranya pada surat suara dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain kepada siapa pun suaranya diberikan.
2.1.3.1.5 Jujur, berarti semua pihak yang terkait dengan pemilu harus bertindak dan juga bersikap jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.1.3.1.6 Adil, berarti dalam pelaksanaan pemilu, setiap pemilih dan peserta pemilihan umum mendapat perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan pihak manapun.
2.1.3.1 Tujuan dan Fungsi Pemilihan Umum 2.1.3.1.1 Tujuan Pemilu
Pemilihan Umum Menurut Prihatmoko (2003:19) pemilu dalam pelaksanaanya memiliki tiga tujuan yakni:
2.1.3.1.1.1 Sebagai mekanisme untuk menyeleksi para pemimpin pemerintahan dan alternatif kebijakan umum (public policy).
2.1.3.1.1.2 Pemilu sebagai pemindahan konflik kepentingan dari masyarakat kepada badan badan perwakilan rakyat melalui wakil wakil yang terpilihatau partai yang memenangkan kursi sehingga integrasi masyarakat tetap terjamin.
2.1.3.1.1.2 Pemilu sebagai sarana memobilisasi, menggerakan atau menggalang dukungan rakyat terhadap Negara dan pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses politik. Selanjutnya tujuan
21
pemilu dalam pelaksanaanya berdasarkan Undang- Undang Nomor 8 tahun 2012 pasal 3 yakni pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
2.1.3.1.2 Fungsi Pemilihan Umum
Menurut C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil (2014) Fungsi Pemilihan Umum sebagai alat demokrasi yang digunakan untuk :
2.1.3.1.2.1 Mempertahankan dan mengembangkan sendi-sendi demokrasi di Indonesia.
2.1.3.1.2.2 Mencapai suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).
2.1.3.1.2.3 Menjamin suksesnya perjuangan orde baru, yaitu tetap tegaknya Pancasila dan dipertahankannya UUD 1945.
2.1.4 Desa
2.1.4.1 Pengertian Desa
Menurut HAW Widjaja (2008), desa dalam pandangan politik adalah sebuah masyarakat demokrasi, sebuah masyarakat yang mendasarkan diri pada kedaulatan rakyat. Demokrasi desa itulah yang dianggap sebagai demokrasi “asli” yang bisa dijadikan orientasi dalam pengembangan demokrasi modern di tingkat nasional, dengan ciri-ciri seperti musyawarah, rembug desa dan pemilihan kepala desa oleh rakyat di desa, dari calon-calon yang mereka ajukan sendiri. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 1 Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
22
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengertian ini sangat menekankan adanya otonomi untuk membangun tata kehidupan desa bagi kepentingan penduduk. Dalam pengertian ini terdapat kesan yang kuat, bahwa kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa hanya bisa diketahui dan disediakan oleh masyarakat desa, dan bukan pihak lain. Pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, desa diberi pengertian baru sebagai: “Kesatuan wilayah masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten”.Pemerintahan desa berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 1 tentang desa menyebutkan bahwa Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa bahwa Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Desa memiliki wewenang sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yakni :
2.1.4.1.1 Kewenangan berdasarkan hak asal usul 2.1.4.1.2 Kewenangan lokal berskala Desa.
Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah
23
Kabupaten/Kota; dan kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 24 bahwa Penyelenggaraan Pemerintahan Desa berdasarkan asas:
2.1.4.1.2.1 Kepastian hukum.
2.1.4.1.2.2 Tertib penyelenggaraan pemerintahan.
2.1.4.1.2.3 Tertib kepentingan umum.
2.1.4.1.2.4 Keterbukaan.
2.1.4.1.2.5 Proporsionalitas.
2.1.4.1.2.6 Profesionalitas.
2.1.4.1.2.7 Akuntabilitas.
2.1.4.1.2.8 Efektivitas dan efisiensi.
2.1.4.1.2.9 Kearifan lokal.
2.1.4.1.2.10Keberagaman.
2.1.4.1.2.11 Partisipatif.
2.1.4.2 Ruang Lingkup Desa
Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup : 2.1.4.2.1. Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa.
2.1.4.2.2. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
kabupaten atau kota yang di serahkan pengaturannya kepada desa.
2.1.4.2.3. Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah Provinsi dan pemerintah Kabupaten atau Kota.
2.1.4.2.4.Urusan pemerintahan lainnya oleh peraturan perundang- undangan diserahkan kepada desa.
2.1.4.2.5. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa adalah urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Penyelenggaraan pemerintah desa terdiri dari pemerintah desa dan
24
BPD. Pemerintah desa terdiri dari kepala desa dan perangkat desa.
Perangkat desa terdiri dari, Sekertari Desa dan perangkat desa.
Perangkat desa lainnya terdiri atas : 2.1.4.2.5.1 Sekertaris Desa
2.1.4.2.5.2 Pelaksanaan Tekhnis Lapangan 2.1.4.2.5.3 Unsur Kewilayahan
2.1.4.2.5.4 Badan Pemursyawaratan Desa (BPD) berkedudukan sebagai Unsur penyelenggara pemerintahan desa. Anggota BPD terdiri dari ketua rukun warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh pemuka agama atau pemuka masyrakat lainnya. BPD berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Badan permusyawaratan desa (BPD) mempunyai wewenang:
2.1.4.2.5.4.1 Membahas Rancangan Peraturan Desa 2.1.4.2.5.4.2 Melaksanakan pengawasan terhadap
pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa
2.1.4.2.5.4.3 Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa
2.1.4.2.5.4.4 Membentuk panitia kepala desa
2.1.4.2.5.4.5 Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat menggali, menampung, menyusun tata tertib.
2.1.4.2.5.5 BPD Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mempunyai hak:
2.1.4.2.5.5.1 Meminta keterangan kepada pemerintah desa
2.1.4.2.5.5.2 Menyatakan pendapatan
25 2.2 Kajian Empiris
2.2.1 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini pernah di lakukan oleh (Dendy,2016) dengan judul praktek politik uang dalam pemilu legislatif tahun 2014 (studi kasus di kabupaten blora). Isi dalam penelitian tersebut bahwasannya Politik uang merupakan praktek ilegal dalam pemilu namun seolah-olah mendapatkan legitimasi dari masyarakat yang kuat. Dalam penelitian ini terdapat beberapa hal yang dapat di simpulkan.
Dalam hal sikap masyarakat di kabupaten Blora lebih dipengaruhi pada pola-pola transaksional. Dalam hal ini masyarakat sangat pragmatis dalam menentukan pilihan-pilihan politisnya. Hal ini dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat Blora. Di samping itu pertimbangan yang di gunakan masyarakat Blora dalam memilih adalah pencitraan yang di sajikan oleh para caleg. Berkaitan dengan pengetahuan masyarakat mengenai politik uang.
Masyarakat sudah semakin pragmatis dalam menentukan pilihan mereka. Pemahaman dan penilaian materialis sudah mengakar didalam aspek kehidupan mereka khususnya di wilayah Kabupaten Blora. Intensitas praktek politik uang yang cenderung tinggi tersebut menunjukan adanya pengaruh dari modernisasi masyarakat yang pesat, sehingga akan berpengaruh pada cara pandang dan cara berfikir masyarakat. Meningkatnya kebutuhan menjadikan masyarakat berusaha mendapatkan penghasilan dan melakukan aktifitas diukur dari keuntungan yang mereka dapati.
Dan pola masyarakat yang seperti itu dimanfaatkan oleh elit-elit politik dari tingkat lokal smpai ke tingkat nasional untuk memobilisasi mereka. Penelitian tersebut sangat berkaitan dengan penelitian ini, yakni praktek politik uang yang menjadi sebuah daya Tarik masyarakat untuk menentukan calon pemimpin.
Penelitian terdahulu juga di lakukan oleh (Nisa Nabila, Paramita Prananingtyas, Muhamad Azhar 2020 ) mahasiswa
26
fakultas hukum Universitas Diponegoro yakni tentang Pengaruh Money Politic Dalam Pemilihan Anggota Legislatif Terhadap Keberlangsungan Demokrasi Di Indonesia. Isi penelitian tersebut yakni praktek politik uang terjadi karena beberapa faktor, salah satunya faktor sistem pemilu yang mana terbagi atas sistem distrik yaitu sistem pemilu yang didasarkan atas kesatuan geografis dan sistem proporsional yaitu sistem yang dalam pembagian kursi di lembaga perwakilan rakyat dibagikan kepada tiap-tiap parpol sesuai dengan presentase jumlah suara yang diperoleh tiap-tiap parpol. Selain faktor ada pula Akibat atas terjadinya politik uang terhadap keberlangsungan Demokrasi di Indonesia, yakni Politik Uang Merendahkan Martabat Rakyat, Politik Uang merupakan Jebakan buat Rakyat, Politik Uang Mematikan Kaderisasi Politik, Politik Uang akan Berujung pada Korupsi, Politik Uang Membunuh Transformasi Masyarakat.
Hasil penelitian Siswandi (2016) dengan judul Persepsi Masyarakat Terhadap Politik Uang Dalam Pemilihan Kepala Desa Cemaga Selatan Kecamatan Bunguran Selatan Kabupaten Natuna Tahun 2013. Tujuan penelitian ini Sebagai bahan pertimbangan dan masuk kepada pihak terkait seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) untuk menjaga, mengawasi, serta tegas dalam mengawal jalannya penyelenggaraan pemilihan umum, agar tidak merusak nilai-nilai Demokrasi dengan praktik politik uang yang sering tarjadi di Desa Cemaga Selatan Kecamatan Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna.
Persepsi menurut Robbins terbagi dua Positif dan Negatif masyarakat cemaga selatan ini tergolong dalam persepsi positif, karna masyarakat memiliki pemikiran positif terhadap politik uang yang dibagikan calon jika calon tersebut ingin mendapatkan dukungan dari masyarakat, jika calon ingin menang uang merupakan faktor pertama mendukung kemenangan calon, masyarakat juga cendrung melakukan dukungan terhadap calon
27
atau tim sukses yang membagikan uang kepada masyarakat.dengan alasan jika calon tidak menggunakan uang untuk dibagikan kepada masyarakat maka calon tersebut tidak akan menang dalam pemilu
Hasil penelitian La Ode Suprianto (2016) dengan judul Persepsi Masyarakat Terhadap Politik Uang Pada Pilkada Serentak (Studi Di Desa Ronta Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat Desa Ronta menyatakan tidak setuju dengan adanya politik uang pada pemilihan kepala daerah serentak. Masyarakat menganggap bahwa dengan adanya politik uang akan membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan pembangunan Kabupaten Buton Utara khususnya Desa Bonegunu. Sedangkan bagi masyarakat yang menyatakan setuju dengan adanya politik uang dengan alasan ekonomi yaitu pemberian calon kepala daerah dalam bentuk uang sedikitnya dapat membantu beban kebutuhan sebagian warga. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap politik uang terdiri atas beberapa faktor yaitu:
(1) faktor internal berhubungan dengan sistem yaitu kesesuaian antara kebutuhan masyarakat dengan adanya politik uang, nilai yang berhubungan dengan kegunaan adanya politik uang terhadap kehidupan masyarakat Desa Ronta, tujuan berkaitan dengan pengetahuan masyarakat terhadap tujuan adanya politik uang tersebut, (2) faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan yang dipengaruhi oleh adanya praktik politik uang.
Amrin Wou (2018) melakukan penelitian dengan judul Persepsi Masyarakat Terhadap Politik Uang (Money Politic) Dalam Setiap Pesta Demokrasi Di Kampung Soryar Distrik Biak Timur Kabupaten Biak Numfor. Politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap politik uang di Kampung Soryar. Teknik
28
pengumpulan data yang digunakan seperti; observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat sudah mengetahui ada praktik politik uang di Kampung Soryar, dan masyarakat juga mengetahui tujuan pemberian uang tersebut adalah agar memilih calon tertentu dan masyarakat telah memahami bahwa politik uang adalah hal yang tidak benar karena melanggar aturan dalam pemilu.
Tabel 2.1
Hasil Penelitian yang Relevan
NO. Judul Hasil Penelitian Perbedaan Persamaan
1 Praktek politik uang dalam pemilu legislatif tahun 2014 di
Kabupaten Blora
Politik uang merupakan praktek ilegal dalam pemilu namun seolah-olah
mendapatkan legitimasi dari masyarakat yang kuat. . Dalam hal sikap masyarakat di kabupaten Blora lebih dipengaruhi pada pola-pola transaksional. Dalam hal ini masyarakat sangat pragmatis dalam menentukan pilihan- pilihan politisnya.
Pada penelitian ini, lebih terfokus pada lingkup yang lebih besar yaitu pemilu legislatif Kabupaten Blora
Objek penelitian sama-sama meneliti tentang politik uang
2 Pengaruh Money Politic Dalam Pemilihan Anggota Legislatif Terhadap Keberlangsu ngan Demokrasi Di Indonesia
Dapat mengetahui faktor dan akibat adanya praktek money politic, , salah satunya faktor sistem pemilu yang mana terbagi atas sistem distrik yaitu sistem pemilu yang didasarkan atas kesatuan geografis dan sistem proporsional yaitu sistem yang dalam pembagian kursi di lembaga perwakilan rakyat dibagikan kepada tiap-tiap parpol sesuai dengan
presentase jumlah suara yang diperoleh tiap-tiap parpol.
Selain faktor ada pula Akibat atas terjadinya politik uang terhadap keberlangsungan Demokrasi di Indonesia, yakni Politik Uang Merendahkan Martabat Rakyat, Politik Uang merupakan Jebakan buat Rakyat, Politik Uang
Penelitian ini terfokus pada penelitian yang menganalis is tentang faktor dan akibat dari Pengaruh Money Politic Dalam Pemilihan Anggota Legislatif Terhadap Keberlangs ungan Demokrasi Di
Indonesia
Pengaruh Money Politic Dalam Pemilihan Anggota Legislatif Terhadap
Keberlangsungan Demokrasi Di Indonesia
29 Mematikan Kaderisasi Politik, Politik Uang akan Berujung pada Korupsi, Politik Uang Membunuh Transformasi Masyarakat.
3. Persepsi Masyarakat Terhadap Politik Uang Dalam Pemilihan Kepala Desa Cemaga Selatan Kecamatan Bunguran Selatan Kabupaten Natuna Tahun 2013
Hasil analisis menunjukkan bahwa Persepsi terbagi dua Positif dan Negatif
masyarakat cemaga selatan ini tergolong dalam persepsi positif, karna masyarakat memiliki pemikiran positif terhadap politik uang yang dibagikan calon jika calon tersebut ingin mendapatkan dukungan dari masyarakat, jika calon ingin menang uang merupakan faktor pertama mendukung kemenangan calon, masyarakat juga cendrung melakukan dukungan terhadap calon atau tim sukses yang membagikan uang kepada masyarakat.dengan alasan jika calon tidak
menggunakan uang untuk dibagikan kepada masyarakat maka calon tersebut tidak akan menang dalam pemilu
Perbedaan pada lokasi penelitian dan periode dalam pemilihan kepala desa
Sama-sama melakukana nalisis terhadap politik uang dalam pemilihan kepala desa.
4. Persepsi Masyarakat Terhadap Politik Uang Pada Pilkada Serentak (Studi Di Desa Ronta Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara)
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat Desa Ronta menyatakan tidak setuju dengan adanya politik uang pada pemilihan kepala daerah serentak. Masyarakat menganggap bahwa dengan adanya politik uang akan membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan pembangunan Kabupaten Buton Utara khususnya Desa Bonegunu
Ruang lingkup penelitian yaitu pada Pilkada Serentak Di Desa Ronta Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara
Ruang lingkup mengenai persepsi masyarakat terhadap politik uang
5. Persepsi Masyarakat Terhadap Politik Uang (Money Politic) Dalam Setiap Pesta
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat sudah mengetahui ada praktik politik uang di Kampung Soryar, dan masyarakat juga mengetahui tujuan pemberian uang tersebut adalah agar
Penelitian bersifat umum terkait dengan persepsi masyarakat tentang
Sama-sama melakukan kajian mengenai
persepsi masyarakat terhadap politik uang
30 Demokrasi
Di Kampung Soryar Distrik Biak Timur Kabupaten Biak Numfor
memilih calon tertentu dan masyarakat telah memahami bahwa politik uang adalah hal yang tidak benar karena melanggar aturan dalam pemilu
politik uang dalam setiap pesta demokrasi
2.3 Kerangka Pikir Penelitian
Kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan secara sistematis seperti berikut ini. Politik uang dapat diartikan sebagai seni untuk memenangkan posisi yang menguntungkan bersaranakan uang dalam rangka upaya merebutkan kekuasaan dalam kehidupan bernegara. Dengan demikian politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya denga cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pemberian bisa dilakukan menggunakan uang atau barang. Politik uang umumnya dilakukan untuk menarik simpati para pemilih dalam menentukan hak suaranya tiap pemilihan umum. Sasaran khalayak disini yaitu pemilih pemula dikarenakan pemilih pemula merupakan kalangan muda yang baru pertama kali akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum (pemilu). Selain itu, pemilih pemula belum memiliki pengalaman memilih dalam pemilihan umum (pemilu). Sehingga, pemikiran politik pemilih pemula dianggap cenderung labil. Padahal keberadaan mereka sangat potensial untuk menentukan pemimpin yang akan terpilih. Oleh karena itu, menurut para tim kampanye dianggap lebih mudah untuk mempengaruhi sasaran khalayak demi kesuksesan kampanyenya dalam pemilihan umum (pemilu). Dari beberapa penjelasan diatas dapat dilihat fenomena politik uang dalam derajat tertentu dapat dianggap suatu pilihan rasional, baik dari kalkulasi para caleg maupun rakyat pemilih. Hanya saja, akibat bagi proses demokratisasi perlu dicermati. Salah satu yang paling menonjol adalah politik seakan seperti sebuah usaha. Uang dikeluarkan agar terpilih ini dapat disamakan sebagai investasi. Kapan pengembaliannya, yakni pada saat setelah seorang politisi terpilih.
31 Bagan 2.1Kerangka Pikir Penelitian
PEMILIHAN KEPALA DESA KARANGLO KECAMATAN SUKOREJO KABUPATEN PASURUAN PERIODE 2019 - 2024
Teori:
1. Persepsi 2. Politik Uang 3. Pemilu 4. Desa
Persepsi masyarakat desa karanglo melihat praktik politik uang pada pilkades Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan
Faktor terjadinya politik uang di Desa Karanglo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan
PERSEPSI POLITIK UANG TERHADAP DAYA PILIH MASYARAKAT DALAM PEMILIHAN KEPALA DESA KARANGLO KECAMATAN
SUKOREJO KABUPATEN PASURUAN PERIODE 2019 - 2024
Hasil