BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Komunikasi Dakwah
2.1.1 Definisi Komunikasi Dakwah
Menurut Harrold D. Laswell, dalam (Muslimin, 2010) mengungkapkan gagasannya mengenai komunikasi dengan pertanyaan siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa (who says what in which channel to whom with what effect). Sedangkan menurut Weaver (dalam Amri Jahi, 1988) komunikasi adalah salah satu bentuk interaksi antar manusia, yang saling mempengaruhi baik sengaja maupun tidak sengaja, dan tidak terbatas hanya menggunakan bahasa lisan, tetapi juga mencakup ekspresi wajah, lukisan, seni, dan teknologi (Muslimin:2010).
Menurut Dedi mulyana (2005), komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seseorang (atau lembaga) kepada orang lain (atau sekelompok orang) baik secara langsung (tatap muka) atau melalui media seperti surat (selebaran), surat kabar, majalah, radio atau televisi. Pengertian lain mengenai komunikasi diungkapkan oleh Carl I. Hovland dalam Mulyana (2008:68), yang mengatakan bahwa komunikasi yaitu suatu proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya tanda verbal) untuk mengubah perilaku orang lain. Raymond S.
Ross mmberikan pemahaman tentang komunikasi dalam Mulyana (205:69), yaitu merupakan proses pemilahan, pemilihan dan pengiriman simbol untuk membantu pendengar menghasilkan makna atau tanggapan yang sesuai dengan maksud dari komunikatornya.
Berdasarkan pengertian diatas dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan sebuah proses penyampaian pesan dari sumber atau komunikator kepada penerima atau komunikan dengan menggunakan media tertentu untuk mencapai sebuah tujuan tertentu dan dengan effek tertentu bahkan adanya feed back. Dalam praktek kesehariaannya, komunikasi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.
Komunikasi akan berhasil apabila antara pengirim pesan dan penerima pesan memiliki kesamaan pemahaman atau dalam kata lain, apa yang diinginkan oleh komunikator tercapai dan diterima dengan baik oleh komunikan. Bahkan terdapat timbal balik dari komunikan, baik berupa perubahan perilaku maupun pemahaman.
Menurut Toha Yahya Omar (dalam Wahyu Ilahi, 2010:16), pengertian dakwah secara umum memuat metode dan pedoman bagaimana menarik perhatian orang untuk menerima suatu gagasan, pendapat, atau karya tertentu. Sedangkan definisi dakwah dalam islam yakni mengajak orang ke jalan yang benar dengan cara yang bijaksana menurut tuntunan agama demi kemaslahatan dan kebahagiaan umat manusia di dunia maupun akhirat. Sedangkan menurut Ali Mafudz (dalam Wahyu Ilahi, 2010:16), dakwah merupakan kegiatan memotivasi manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta mengajak mereka untuk berbuat ma’ruf dan menghindari mungkar agar memperoleh kebaikan di dunia maupun akhirat.
Menurut Wahyu Ilahi (2010:17), dakwah adalah ajakan atau kepada kebaikan dan hal yang lebih baik, serta mengandung pemikiran-pemikiran yang progresif, merupakan proses berkelanjutan menuju kebaikan dan hal yang lebih baik untuk mencapai tujuan dakwah. Dengan cara demikian, dakwah mengandung pemikiran yang dinamis, sesuatu yang terus berkembang sesuai dengan tuntunan ruang dan waktu. Dalam praktiknya, dakwah merupakan kegiatan mentransformasikan nilai- nilai agama, dimana nilai-nilai agama memiliki peran yang penting dan berperan langsung dalam membentuk pemahaman masyarakat terhadap berbagai nilai dalam kehidupan.
Menurut H. Endang S. Anshari dalam Tasmara (1987:31), dakwah dalam arti luas merupakan penjabaran, penterjemahan, dan pelasanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia (termasuk didalamnya politik, ekonomi, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, kekeluargaan, dan sebagainya).
Berdasarkan pengertian diatas, dapat dikatakan dakwah merupakan ajakan kepada umat manusia untuk mengikuti ajaran agama agar memiliki kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Dakwah disampaikan untuk memberikan motivasi kepada setiap umat agar senantiasa melakukan kebaikan di dalam kehidupannya.
Dakwah disampaikan kepada setiap umat manusia, oleh karenanya dakwah berisi cara maupun tuntunan bagaimana cara menarik perhatian audience agar mau mendengarkan bahkan mengikuti anjuran yang diberikan oleh pendakwah. Dakwah tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan dunia di sekitarnya untuk dapat mengikuti audiencenya.
Ahmad Mubarok dalam buku Psokologi Dakwah mengatakan kegiatan dakwah merupakan kegiatan komunikasi dimana didalamnya terdapat da’i atau penceramah dan juga audience, dimana da’i menyampaikan pesan dakwah kepada individu maupun kelompok (Wahyu Ilahi 2010:24).
Toto Tasmara dalam bukunya Komunikasi Dakwah (1987) juga mengatakan bahwa pada dasarnya pengertian dari dakwah itu adalah komunikasi. Hanya saja secara khas yang membedakan dari bentuk komunikasi lain adalah pada cara dan tujuan yang akan dicapai. perbedaan selanjutnya adalah pada metode pelaksanaan secara persuasive memiliki tujuan yaitu diharapkan adanya perubahan/pembentukan sikap dan perilaku sesuai dengan ajaran islam.Jika tujuan komunikasi adalah untuk melibatkan komunikan dalam pesan yang disampaikan oleh komunikator sehingga sikap dan perilaku yang diinginkan berubah, hal ini juga berlaku dalam dakwah.
Seorang Ustadz sebagai komunikator berharap adanya partisipasi dari komunikan dan berharap komunikannya dapat bertindak dan mengambil tindakan berdasarkan isi pesan yang disampaikan. Berdasarkan hal diatas, dapat dikatakan bahwa dakwah juga merupakan suatu komunikasi, tetapi tidak semua komunikasi adalah dakwah.
Komunikadi dahwah pada hakikatnya memiliki kesamaan dengan prinsip komunikasi pada umumnya, yang berbeda hanyalah pesan yang disampaikan. Jika ditinjau dari prosesnya, dakwah adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam prosesnya melibatkan komunikator atau da’i dan komunikan, yaitu proses penyampaian pesan dakwah kepada audience.
Komunikasi dakwah adalah proses penyampaian informasi dari seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau sekelompok rang lain yang berasal dari Al- Quran dan Hadist melalui simbol verbal dan non verbal. Tujuannya adalah untuk mengubah sikap, pendapat masyarakat, atau perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung atau melalui media (Wahyu Ilahi 2010:24).
Menurut toto tasmara (1987:47-48), komunikasi dakwah memiliki komponen yakni Al-qur’an dan Sunnah yang dijadikan sebagi sumber, ulama dan setiap muslim dewasa sebagai komunikator, pesan yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, dengan menggunakan metode hikmah, kasih sayang, dan persuasif, memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan perilaku sesuai denga nisi pesan yang diasmpaikan.
Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa dakwah merupakan komunikasi, perbedaan yang ada terletak pada sumber-kmunikator-pesan-approach- dantujuannya. Harrold D Laswell mengungkapkan suatu pertanyaan untuk terpenuhinya suatu komunikasi, yaitu: “who says what to whom in what channel with what effect”.Dengan terpenuhinya kriteria komunikasi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dakwah merupakan proses komunikasi. Namun karna dakwah memiliki ciri yangkhas dan berbeda dengan komunikasi lainnya maka dalam tinjauan komunikasi dakwah disebut dengan satu istilah komunikasi dakwah. Maka Tato Tasmara menyimpulkan bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi dakwah yang khas dimana mubaligh (komunikator) menyampaikan pesan-pesan yang bersumber dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar komunikan dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan yang disampaikan. Komunikasi dakwah juga dapat diartikan sbagai upaya dari seorang ustadz atau penyampai pesan yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadist kepada umat (audience) agar dapat memahami, menghayati dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan pandangan hidupnya.
Julius (2017) dalam jurnal komunikasi dakwah di Era Cyber membagi komunikator dakwah menjadi dua, yakni secara umum adalah setiap Muslim atau muslimah yang dewasa, dan secara kusus adalah setiap orang yang mengambil keahlian khusus dalam bidang agama atau sering disebut ulama.
Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat dikatakan, komunikasi dakwah merupakan bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan dakwah dari komunikator dakwah (da’i, kyai, ustadz, tokoh agama) kepada komunikan atau audience dakwah baik secara langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (menggunakan media).
Pesan dalam komunikasi dakwah disini berisi ajakan, ajaran, sejarah dan pengetahuan mengenai kehidupan di dunia maupun akhirat yang sesuai dengan tuntunan agama dan bersumber dari Al-qur’an maupun hadis. Komunikasi dakwah dapat dikatakan berhasil apabila audience dakwah dan komunikator dakwah memiliki kesamaan pemahaman, serta adanya prubahan perilaku maupun pemahaman dari audence itu sendiri.
2.1.2 Fungsi Komunikasi Dakwah
Fungsi komunikasi dakwah tidak dapat terlepas dari fungsi komunikasi itu sendiri, karena pada hakikatnya komunikasi dakwah merupakan bentuk komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan pesan agama dari komunikan kepada komunikator. Menurut Carl I Hovland, pengaruh persusai didasarkan pada perubahan sikap, pendapat, persepsi, dan efek itu sendiri. Namun apakah seseorang mudah terpengaruh atau tidak bergantung pada individu itu sendiri (Ilahi, 2010:34).
Menurut Sean Mac Bride dan kawan-kawannya dalam Wahyu Ilahi (2010:35), fungsi komunikasi yaitu:
a. Informasi, merupakan pengumpulan, pemprosesan, penyimpanan, penebaran berita, data dan gambar, fakta pesan, opini dan komentar yang dibutuhkan agar dapat mengerti dan bereaksi secara jelas terhadap kondisi internasional, lingkungan, dan orang lain, dan agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
b. Sosialisasi, penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang efektif sehingga dapat aktif dalam lingkunganmasyarakatnya.
c. Motivasi, menjelaskan mengenai tujuan masyarakat jangka pendek dan panjang, mendorong orang untuk menentukan pilihan dan keinginannya, serta mendorong kegiatan individu dan kelompoj berdasarkan tujuan bersama.
d. Bahan diskusi, menyediakan dan saling menukar fata yang diperlukan untuk memungkinkan adanya persetujuan atau menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai masalah publik, menyediakan bukti-bukti yang yang relevan yang dibutuhkan untuk kepentingan umum dan agar masyarakat lebih melibatkan diri dalam masalah yang menyangkut kegiatan bersama di tingkat internasional, nasional, maupun lokal.
e. Pendidikan, pemberian ilmu pengetahuan untuk mendorong perkembangan intelektual, pembentukan karakter dan pendidikan keterampilan yang dibutuhkan di semua bidang kehidupan.
f. Memajukan kebudayaan, menyebarluaskan hasil kebudayaan dan seni dengan maksud untuk mewariskan dan mengembangkan kebudayaan dengan cara memperluas cakrawala, membangkitkan imajinasi, dan mendorong kreativitas dan kebutuhan estetika.
g. Hiburan, penyebarluasan kesenian untuk hiburan dan kesenangan kelompok dan individu.
h. Integrasi, memberi negara, kelompok dan individu peluang untuk memperoleh semua jenis informasi yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat saling memahami, mengerti dan menghormati kondisi, pendapat dan keinginan orang lain.
Dalam komunikasi dakwah, fungsi komunikasi tidak hanya berkisar pada
“how to communicates” saja, akan tetapi yang terpenting adalah “how to communicate” agar menjadi perubahan sikap (attitude), pandangan (opinion), dan perilaku (behavioral) pada sasaran komunikasi dakwah (audiencez), apakah audience tersebut seorang individu, kelompok, ataukan masyarakat keseluruhan (Wahyu Ilahi 2010:37).
Wahyu Ilahi dalam bukunya komunikasi dakwah juga mengatakan fungsi dakwah secara luas adalah untuk menegakkan ajaran Islam kepada setiap orang, sehingga dapat mendorong perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Sedangkan secara sederhana, fungsi komunikasi dakwah biasanya untuk mengubah perilaku sasaran dakwah agar menerima ajaran agama islam dan mengamalkannya pada tataran personal dalam kehidupan sehari-hari, baik terkait dengan individu, keluarga, maupun persoalan sosialdi komunitas agar mendapatkan berkah dunia akhirat (Ilahi, 2010:37- 38).
2.1.3 Media Komunikasi Dakwah
Dalam komunikasi dakwah, penyampaiannya dapat dilakukan dengan menggunakan media. Dalam perkembangannya komunikasi yang dilakukan menggunakan media dapat bersifat dua arah, sehngga komunikator mengetahui tanggapan dari komunikan/audiencenya. Terdapat banyak media dalam komunikasi dakwah, mulai dari media tradisional sampai dengan media yang modern. Bentuk- bentuk media dakwah yang digunakan diataranya media massa, dan media nirmassa.
Penggunaan media dalam komunkasi massa mengikuti setiap perkembangan yang ada, sehingga penyapaian pesan dapat disesuaikan dengan keadaan audience di masa tersebut. Komunikasi memanfaatkan media massa yang ada seperti radio, televisi, surat kabar, film, dan juga internet atau media sosial. Sedangkan media nirmassa yang
digunakan seperti surat, telepone, sms, telegrm faks, papan pengumuman, poster, kaet audio dan lain-lain (Ilahi, 2010:106).
Hamzah Ya’qub dalam buku komunikasi dakwa oleh Wahyu Ilahi (2010), membagi media komunikasi menjadi lima, yakni dalam bentuk lisan, tulisan, karya seni, audio visual dan akhlak. Dimana jika diuraikan, dalam bentuk lisan yakni berupa ucapan yang disampaikan misal melalui ceramah dll, tulisan berupa majalah berita, sepanduk dll, karya seni berupa karikatur, gambar atau lukisan dll, dalam bentuk audio visual yakni berupa suara, gambar atau keduanya seperti televise, internet, YouTube dan lain-lain, sedangkan akhlak merupakan perwujudan dari perilaku yang mencerminkan ajaran agama Islam.
Sedangkan jika dilihat dari segi penyampaian pesan, dakwah dibagi menjadi tiga golongan yaitu dalam bentuk ucapan (spoken words), bentuk tulisan (printed writing), dan dalam bentuk gambar hidup (audio Visual). Jika dijabarkan, dalam bentuk ucapan yakni setiap pesan yang berupa bunyi dan hanya dapat ditangkap oleh telinga, dalam bentuk tulisan yakni berupa barang, gambar, dan lukisan cetak, sedangkan audio visual merupakan pesan yang berupa penggabungan dari dua hal sebelumnya.
Di masa milenial yang sekarang ini, komunikasi dakwah memanfaatkan adanya media Internet. Seperti dalam buku ilmu dakwah karya Ali Aziz yang mengatakan tentang kelebihan internet diantaranya: memiliki jangkauan dakwah luas tidak terbatas budaya dan wilayah aytau geografis, dapat diakses oleh setiap orang, pesan dakwah tersampaikan ke audience dengan cepat,tidak hanya umat Islam yang dapat mengakses, ruang dan waktu yang tak terbatas, dan dakwah melalui media internet memungkinkan adanya kesepatan untuk melakukan dialog keagamaan secara langsung (Wahyu Ilahi, 2010:108).
Berdasarkan pemaparan diatas dapat dikatakan bahwa media yang digunakan dalam komunikasi dakwah ada berbagai macam sesuai dengan kebutuhan dan target audiencenya. Media komunikasi dakwah mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di dunia, sehingga dakwah dapat menyasar ke seluruh audience dakwah tanpa terbatas budaya, geografi, ruang dan waktu. Penyampaian komunikasi dakwah dapat dilakukan dengan menggunakan media lisan, tulisan, maupun audio visual, dari media yang digunakan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
2.1.4 Pesan Komunikasi Dakwah
Pesan adalah isi dari komunikasi yang dilakukan oleh pengirim pesan atau komunikator kepada penerima pesan atau komunikan, dalam hal ini berupa sekumpulan simbol verbal dan non verbal yang merepresentasikan perasaan, nilai, gagasan, dan maksud dari sumber pesan. Lambang yang sering dipakai dalam komunikasi dakwah yakni berupa gambar, bahasa, visual dan lain-lain. Pada praktek dalam keidupan sehari-harinya pesan yang disampaikan dapat terdiri dari kolaborasi lambang, misalnya seperti surat kabar, film, atau televisi. Karena pada dasarnya komunikasi dakwah mengacu pada komunikasi dimana pesan dakwah disampaikan kepada komunikan dari komunikator menggunakan bahasa atau simbol melalui media.Simbol yang banyak digunakan saat mengkomunikasikan pesan komunikasi dakwah adalah bahasa, karena hanya bahasa yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, fakta dan pendapat, hal-hal konkret dan abstrak, pengalaman masa lalu dan hal-hal yang akan datang, dll (Wahyu Ilahi, 2010:98).
Menurut Wahyu Ilahi (2010) dalam bukunya komunikasi dakwah, mengatakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan sebuah pesan, diantaranya:
1. Pesan dirancangkan dan disampaikan untuk dapat menarik perhatian audience yang dituju.
2. Pesan dirancang dengan menyampaikan pengalaman yang sama antara penyampai pesan dengan penerimanya sehingga terdapat kesepahaman.
3. Pesan harus dapat memunculkan kebutuhan peribadi komunikan dan dapat memberikan beberapa metode untuk mencapaiknya.
4. Pesan harus dapat memberikan saran kepada komunikan dalam memperoleh kebutuhannya dan sesuai dengan kondisi komunikan berada,
Ketika pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan komunikan (audience dakwah) maka kecil kemungkinan pesan dakwah yang disampaikan diserap bahkan didengarkan dengan baik oleh audience. Dalam hal ini, pengemasan pesan yang akan disampaikan menjadi hal yang sangat penting demi kelancaran komunikasi dakwah yang akan dijalankan.
Menurut Moh. Natsir dalam Tasmara (1987:43), pesan-pesan komunikasi dakwah adalah bentuk pernyataan ataupun pesan (risalah) Al-Qur’an dan Sunnah.
Karena Al-Qur’an dan Sunnah dianggap mencakup setiap tindakan kehidupan muslim, maka pesan dakwah juga mencakup semua bidang kehidupan itu sendiri(Tasmara, 1987:43). Berdasarkan hal di atas Toto Tasmara memberikan kesimulan mengenai pesan komunikasi dakwah yaitu semua pernyataan yang bersumberkan Al-Qur’an dan Sunnah baik secara tertulis maupun lisan dengan pesan- pesan tersebut.
Materi isi pesan dakwah dalam buku Komunikasi Dakwah(Wahyu Ilahi, 2010:101-102), terbagi menjadi tiga hal, yakni:
1. Pesan Akidah: Iman kepada Allah Swt, MalaikatNya, Kitab-kitabNya, RasulNya, Hari akhit, dan Qadha-Qodhar.
2. Pesan Syariah: Ibadah (thaharah, shola, puasa, zakat, dan haji), Muamalah (hukum perdata dan hukum publik).
3. Pesan Akhlak: Akhlak terhadap Allah Swt, Akhlak terhadap makhluk (terhadap manusia dan bukan manusia).
Menurut Jamaludin Kahfi (1997) dalam Nur Khakim (2016), Pesan dakwah adalah isi pesan komunikasi secara efektif terhadap penerima dakwah yang pada dasarnya materi dakwah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, yakni Al-Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hasits yang berisi aqidah, akhlak, dan syariah.
Jadi, pesan dakwah ialah isi dari dakwah yang disampaikan oleh penyampai pesan kepada audience bersumber dari ajaran agama Islam.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan mengenai pesan komunikasi dakwah yaitu materi dakwah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits berupa pesan akidah, syariah, dan akhlak. Pesan komunikasi dakwah banyak disampaikan dengan menggunakan lambang bahasa, karena bahasa dianggap mampu menyampaikan pikiran dan perasaan, fakta dan opini, hal yang konkrit dan abstrak, serta mampu menyampaikan pengalaman yang telah lewat. Dalam merancang pesan dakwang yang akan disampaikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya:
1. Pesan berisi feomena sosial yang dekat dengan audience secara umum.
2. Pesan mampu menarik perhatian audiens.
3. Pesan dibuat sesuai dengan kebutuhan dari audience dakwah.
4. Pesan harus dapat memunculkan kebutuhan audience serta memberikan cara untuk dapat memenuhinya.
5. Pesan berisikan tanda yang sesuai dengan pengalaman dari audience.
2.2 Media Sosial
2.2.1 Definisi Media Sosial
Media sosial terlahir dari teknologi yang semakin berkembang yang pada akhirnya melahirkan adanya Internet. Dengan kemunculan internet ini, maka era modern bergeser menuju ke era posmodern. Era modern berisi media massa yang berupa televisi, surat kabar, radio, dan majalah, dimana pada prakteknya, penyampaian pesan dilakukan secara serentak, produksi media massa memerlukan adanya tenaga kerja yang banyak, besarnya modal, fasilitas infrastruktur seperti kantor, gedung, dan perangkat perimputan lainnya. audience hanya dapat mengakses di tempat tertentu dalam artian tebatas ruang dan waktu, dan audiens tidak dapat memeberikan feedback secara lansung. Era postmodern muncul new media media sosial yang berupa twitter, blog, facebook, instagram, YouTube dan lain sebagainya, dimana dalam proses produksi atau penyampaian pesan tidak membutuhkan banyak pekerja bahkan bisa dilakukan secara individu, modal yang dibutuhkan tidak banyak, bisa menyampaikan konten sesuai dengan keinginan sendiri sehingga dapat mengasah kreatifitas, audiens dapat mengakses dimana saja dan kapan saja tidak terikat ruang dan waktu, dan audiens dapat memberikan feedback secara langsung.
Istilah media sosial menurut (Laughey, 2007; McQuail, 2003) dalam Mulawarman, Nurfitri (2017) terbagi menjadi “media” dan “sosial”. Media merupakan alat, sedangkan sosal merupakan peran setiap individu dalam memberikan kontribusi terhadap masyarakat. Menurut Nasrullah (2015) dalam Mulawarman dan Nurfitri (2017), adanya media sosial pada dasarnya merupakan bentuk yang tidak jauh berbeda dengan keberadaan dan pengoperasian komputer. Ketiga bentuk sosial tersebut yaitu identifikasi, komunikasi, dan kerjasama yang dapat disamakan dengan cara kerja computer, ketika ada sistem antara individu dengan masyarakat maka computer juga dapat membentuk suatu sistem.
Menurut tim pusat humas kemendag dalam buku Media Sosial (2014:26), secara garis besar, media sosial merupakan media online, di mana para pengguna dapat berbagi, berpartisipasi, dan membuat konten melalui aplikasi berbasis internet.
Bntuk-bentuk tersebut antara lain berupa blog, Wiki, forum, jejaring sosial, dan ruang dunia maya yang didukung oleh teknologi multimedia yang semakin kompleks.
Teknologi internet, media sosial, dan multimedia merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan dan mendorong hal-hal baru.
Dalam hal ini, maka dapat disimpulkan, media sosial merupakan produk dari new media dimana dalam pengoperasiannya berbasis online dan merupakan perkembangan mutakir dari teknologi-teknolgi web baru berbasis internet. Media sosial merupakan alat komunikasi yang memudahkan setiap pengguna untuk bersosialisasi, berbagi, memberikan partisipasi, dan membuat konten dalam bentuk blog, wiki, forum, jejaring sosial, dan ruang dunia maya, sehingga dapat membagikan konten sendiri.
2.2.2 Karakteristik Media Sosial
Perkembann teknologi yang semakin canggih, pada akhirnya mampu membuat media sosial untuk mengajak siap saja yang tertarik berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagikan informasi secara cepat dan tidak terbatas. Saat ini, untuk mengakses media sosial YouTube misalnya, orang dapat melakukan kapan saja dan dimana saja hanya dengan menggunakan mobile phone.Media sosial memungkinkan setiap orang untuk dapat mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya. dengan demikian media sosial memiliki beberapa karakteristik seperti:
Menurut Rizky (2015) dalam jurnal “Karakteristik Media Sosial Dalam Membentuk Budaya Populer Korean Pop di Kalangan Komitas Samarinda dan Balikpapan”, karakteristik media sosial terdiri dari:
1. Partisipasi, memberikan dorongan kontribusi dan umpan balik dari semua orang yang tertarik untuk menggunakannya, sehingga mengaburkan batas antara media dan penonton.
2. Keterbukaan, sebagian besar media sosial dapat menerima umpan balik dan berpartisipasi melalui saran voting, komentar, dan berbagi informasi.
3. Perbincangan, memungkinkan adanya komunikasi antar pengguna secara dua arah.
4. Komunitas, memungkinnkan terbentuk komunitas secara cepat dengan komunikasi yang efektif tentang berbagai macam isu.
5. Keterhubungan, kebanyakan media sosial mengalami oertumbuhan subur dikarenakan kemampuannya dalam melayani keterhubungan antar pengguna, melalui fasilitas berupa link ke website, sumber informasi, dan pengguna lain.
Septiawan Santana K (2005:137) menyebutkan, terdapat lima perbedaan utama antara media massa online dan media massa tradisional yang sekaligus menjadi karakteristik media massa online yaitu :
1. Internet memiliki kemampuan mengkombinasikan media.
2. Penulis tidak memiliki tirani pembaca
3. Prhatian yang diberikan oleh khalayak tidak dapat dikendalikan
4. Proses komunikasi yang dilakukan menggunakan internet berlangsung secara bersinambungan
5. Interaktifitas web 6. Kecepatannya
Menurut Sulianta (2015:7, dalam Yulianti, 2017), dalam bukunya menuliskan beberapa karakteristik yang dijumpai dalam media sosial modern:
1. Transparansi: informasi yang dibagikan memiliki keterbukaan untuk dikonsumsi secara public.
2. Dialog dan komunikasi: adanya jalinan dan komunikasi dengan menggunakan berbagai macam fitur yang tersedia.
3. Jejaring relasi: hubungan yang terjalin antar pengguna, dimana memungkinkan untuk mempengaruhi audiencenya.
4. Multi opini: setiap pengguna media sossial dapat dengan mudah mengungkapkan argument dan pendapatnya.
5. Multi form: penyampaian informasi dilakukan dengan berbagai macam konten dan channel,
6. Kekuatan promosi online: memberikan peluang pada setiap pengguna untuk mewujudkan visi dan misi organisasi.
Berdasarkan uraian diatas, karakteristik media sosial dalam penelitian ini diantaranya adalah:
1. Partisipasi: memberikan dorongan kontribusi dan umpan balik dari semua orang yang tertarik untuk menggunakannya, sehingga mengaburkan batas
antara media dan penonton.Keterbukaan: media sosial memberikan keterbukaan informasi kepada audience, umpan balik, komentar dan like.
2. Perbincangan: memungkinkan pengguna media dalam hal ini antara audiens dengan audiens maupun audiens dengan komunikator untuk saling berkomunikasi secara dua arah.
3. Keterhubungan: kemampuan melayani keterhubungan antara pengguna, melalui fasilitas tautan (links) ke website, sumber-sumber informasi, dan pengguna lainnya.
4. Mengkombinasikan sejumlah media: dalam hal ini media yang digunakan dapat terdiri lebih dari satu media.
5. Multi opini: setiap orang dapat dengan mudah berargumen dan mengutarakan pendapatnya.
6. Multi form: informasi disampaikan dengan berbagai macam konten dan chanel dalam bentuk social media release, video news release, portel web, dan elemen lainnya.
7. Kecepatan: media sosial merupakan media berbasis internet, sehingga informasi yang disampaikan dapat tersebar dengan cepat.
2.2.3 Macam-macam Media Sosial
Media sosial memiliki berbagai macam jenis, seperti yang dikatakan dalam artikel berjudul “User of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media,” dalam Majalah Business Horizons (2010) halaman 69-68, oleh Andreas M Kaplan, Kementerian Perdagangan RI26 dan Michael Haenlein, mereka mengkategorikan berbagai jenis media sosial yang ada sesuai dengan karakteristik penggunanya. Menurut mereka,media sosial pada dasarnya dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu:
1. Proyek kolaborasi situs web, memungkinkan pengguna untuk mengubah, menambah atau menghapus konten yang terdapat di situd, seperti Wikipedia.
2. Blog dan microblog, pengguna dapat dengan leluasa mengungkapkan hal-hal tertentu di blog. Seperti perasaan, pengalaman, pernyataan, atau kritik terhadap hal-hal tertentu, seperti twitter.
3. Konten atau isi, yaitu konten multimedia yang dibagikan oleh pengguna di situs web ini, seperti e-book, video, foto, gambar, dan konten lain, seperti YouTube.
4. Situs jejaring sosial, di mana pengguna dapat memperoleh izin koneksi dengan membuat informasi individu, grup atau sosial sehingga orang lain dapat saling terhubung atau mengunjungi, seperti Facebook.
5. Virtual game world, pengguna melalui aplikasi 3D dapat tampil dalam bentuk avatar sesuai kebutuhanm kemudian berinteraksi dengan orang lain dalam bentuk avatar dan di dunia nyata, seperti game online.
6. Virtual social world, sebuah aplikasi yang berbentuk dunia maya yang memberikan kesempatan kepada penggunanya untuk bertahan hidup dan hidup di dunia mayan untuk berinteraksi dengan sesame. Seperti second life.
Dalam ebook“Bijak Bersosmed” (2017:12), membagi jenis media sosial berdasarkan fitur dan kegunaannya menjadi 8 (delapan):
1. Relationship Networks: media sosial yang berisi halaman profil yang dapat digunakan untuk memposting foto, profil, dan informasi tentang pengguna, seperti facebook.
2. Online Reviews: adalah media sosial yang memungkinkan penggunak untuk membagikan informasi berdasarkan lokasi yang mereka tentukan beserta kontennya, seperti facebook.
3. Social Publishing Platforms: media sosial berbentuk blog dan microblog, memungkinkan pengguna untuk berbagi artikel tertulis secara real time. Contoh:
blog dan tumbl.
4. Internet-based Network: ini adala jenis media sosial yang mengumpulkan banyak orang dengan latar belakang berbeda ke dalam jaringan. Contoh: grup fabebook.
5. E-Commerce: merupakan jenis media yang memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi perdagangan, seperti tokopedia dan gojek.
6. Bookmarking Sites: adalah media sosial yang memungkinkan penggunanya mengumpulkan berbagai konten di akun pribadinya, serta memberikan kebebasan kepada pengguna untuk menyimpan ataupun membagikan kepada pengguna lain.
7. Forum Diskusi: adalah salah satu jenis pelopor media sosial pada awal perkembangan internet, seperti kaskus, stack, overflow, dan reddit.
8. Media Sharing Networks: adalah jenis media sosial yang memungkinkan setiap pengguna untuk dapat membagikan konten pribadi seperti foto dan video, pengguna dapat mengedit konten yang dibagikan menggunakan fitur yang telah disediakan. Contoh: YouTube, vimeo, snapchat, dan Instagram.
2.3 YouTube Sebagai Media Sosial 2.3.1 Pengertian YouTube
YouTube merupakan situs web video sharing (berbagi video) dimana pengguna dapat memuat, menonton, dan berbagi klip video secara gratis. Pada umumnya, video yang dibagikan di YouTube merupakan video klip film, TV, serta video buatan pengguna sendiri (Tjanatjantia. Widika, 2013). YouTube memfasilitasi setiap penggunanya untuk dapat mengupload video yang bisa diakses oleh pengguna YouTube di seluruh dunia secara gratis. Dapat dikatakan bahwa YouTube adalah database video yang paling populer, atau bahkan paling lengkap dan variatif di internet. YouTube merupakan salah satu situs dengan conten management system yang dapat mengelola masukan video, dan mempersilahkan pengguna untu memiliki serta mengeloka halaman video milik mereka.
Dalam jurnal “Penggunaan YouTube Sebagai Electronic Public Relation Untuk Meningkatkan Citra Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara” oleh Muh.
Siswa (2015), format yang digunakan pada video-video YouTube adalah .flv yang dapat diputar pada penjelajah web yang memiliki plugin flash player. Kemudahan akses internet mengakibatkan YouTube menjadi salah satu media sosial yang memiliki perkembangan pesat.
Dalam makalah non seminar dengan judul “YouTube Salah Satu Bentuk Platform Media Baru Dalam Dunia Periklanan di Indonesia” oleh Diptanta (2013), YouTube merupakan salah satu platform yang menggunakan konsep web 2.0, oleh karenanya YouTube bersifat many-to-many dalam konektivitasnya, dan bersifat produsage (bruns,2008) yang menjadikan pengguna sebagai pembuat konten.
Pengguna YouTube dapat terhubung atara satu dengan yang lainnya melalui fitur subcribe sehingga selalu terupdate ketika ada video yang baru diunggah oleh pengguna lainnya. dalam pengoperasiannya, YouTube merupakan media yang mudah untuk dioperasikan, dengan menggunakan fitur search, pengguna dapat mencari video yang diinginkan. YouTube juga menyediakan rekomendasi terkait video yang biasa ditonton sehingga memudahkan pengguna untuk mencari video lain yang setipe.
YouTube dalam Ambar Kusumanigrum (2015) adalah salah satu layanan google yang membantu pengguna mengunggah video, dan pengguna lain di seluruh dunia dapat mengaksesnya secara gratis. Dapat dikatakan YouTube merupakan
database video yang paling banyak diminati atau bahkan merupakan yang paling lengkap dan variatif (Bunga Indah Permata. Apriatni Endang Prihatini. Widiartanto, 2018) .
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa, YouTube merupakan hasil perkembangan teknologi yang menggunakan konsep Web 2.0, yang memungkinkan setiap orang untuk memiliki akun dan mengelola akun sendiri. YouTube merupakan media sosial yang digunakan untuk membagikan video-video, seperti video klip, film, tayangan TV, video yang dibuat oleh pemilik akun dan masih banyak lagi. YouTube memungkinkan setiap pengguna untuk dapat, memuat, menonton, berbagi klip video, dan bahkan memberikan umpan balik pada setiap video yang diunggah.
2.3.2 Karakteristik YouTube
Dalam jurnal dengan judul “PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN PERIKLANAN YOUTUBE TERHADAP LOYALITAS PENGGUNA BRAND WARDAH KOSMETIK DI KOTA SEMARANG” oleh Bunga Indah P, Apriatni Endang Prihatini dan Widiartanto (2018) menjelaskan karaktesistik YouTube yakni:
1. YouTube merupaka konten dimana terdapat pengguna yang menampilkan sebuah video editan mereka dan saluran televisi yang sudah diedit. Konten YouTube lebih bisa dimengerti sebagai sebuah cerita, dibandingkan sebagai analisis visual, media pembelajaran, videografi, dan lainnya (Pace dalam SookLee 2013).
2. Pada bagian dari beranda di YouTube didedikasikan untuk video iklan, dimana pengguna dapat memberikan penilaian, membagikan serta berdiskusi dengan pengguna lain (Stell dalam SookLee 2013).
3. Menurut Susarta dalam SookLee (2013) interaksi yang terjadi dalam YouTube serta banyaknya jenis yang terdapat didalamnya memungkinkan adanya pengaruh terhadap peran sosial dan interaksi sosial.
4. YouTube adalah contoh bagaimana media sosial bekerja dan berhubungan dengan orang-orang.
5. YouTube adalah media sosial tempat orang-orang diseluruh dunia mengunggah video dan memuji ide-ide adengan cara terbaik dan hemat biaya.
Sedangkan dalam jurnal “YOUTUBE SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI BAGI KOMUNITAS MAKASSARVIDGRAM” oleh Fatty Faiqah, Muh. Nadjib, dan
Andi Subhan Amir (2016), karakteristuk YouTube membuat banyak pengguna betah.
Berdasarkan pada hasil wawancara penelitian, peneliti membaginya menjadi 5 bagian:
1. Tidak ada aturan batas durasi video untuk diunggah. Hal tersebut yang membedakan YouTube dengan media sosial lain.
2. Memiliki sitem pengamanan yang semakin akurat. YouTube tidak mengijinkan pengunggahan video yang mengandung sara, illegal, dan aan memberikan pertanyaan konvirmasi sebelum pengunggahan dilakukan.
3. Berbayar. Pada saat ini YouTube memberikan penawaran kepada pengunggah konten yang memiliki minimal views 1000 akan mendapatkan bayaran.
4. System offline. Dengan sistem ini, pengguna dapat menonton video di YouTube pada saat sedang offline dengan cara mendownload video terlebih dahulu.
5. Tersedia editor sederhana. YouTube menyediakan menu untuk mengedit video yang akan di unggah, pengeditan yang dapat dilakukan berupa cut, filter warna, dan penambahan efek perpindahan video.
2.4 Konsep-konsep dan Teori Audience 2.4.1 Konsep dan Teori Audience Massa
Herbert Blummer (1939) dalam jurnal “Khalayak Media Baru” memberikan pemikiran eksplisit dimana audience dapat dicontohkan sebagai kondisi kehidupan masyarakat modern untuk memungkinkan bentuk kolektif baru. Ia menyebut penonton sebagai ‘massa’ dan membedakannya dari bentuk-bentuk sosial lama seperti kelompok, keramaian, dan public. Khalayak sangat besar, beragam, dan tersebar luas, dan setiap anggota bahkan mungkin tidak saling kenal.
Wilbur Lang Schramm menyampaikan pengertian awal dari audiens adalah bahwa audiens merupakan sekelompok penerima dan merupakan bagian dari model sederhana dari proses komunikasi massa (sumber, saluran, pesan, penerima, efek) (Schramm, 1955) dalam Ruth Mei (2011).
Dalam kajian media dan cultural studies, istilah khalayak merupakan orang- orang yang menghadiri pertunjukan tertentu, atau menonton sebuah film atau program televisi. Istilah khalayak juga digunakan untuk menjelaskan mengenai orang-orang yang diterpa oleh, atau yang menanggapi kebudayaan media (Jane Stokes, 2007:146).
Berdasarkan beberapa pemaparan diatas dapat dilihat bahwa audience menurut Herbert Blummer merupakan mass dan membedakannya dari bentuk-bentuk sosial lama seperti kelompok, keramaian, dan public. Sedangkan Wilbur Lang menyebutkan hal yang lebih sederhana mengenai khalayak, yakni merupakan kumpulan penerima dari model sederhana proses komunikasi. Berdasarkan kajian media dan cultural studies, khalayak lebih dikatakan sebagai orang-orang yang meghadiri atau menonton, serta orang-orang yang diterpa atau menanggapi media.
Konsep audience dapat dijelaskan melalui teori yang dikemukakan oleh Herbert Blummer dan Elihu Katz (1974), yakni Teori Uses and Gratifications dimana teori ini mengatakan bahwa pengguna media (Audience) memiliki peran aktif untuk menggunakan media tersebut, dengan kata lain pengguna media (Audience) merupakan pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Teori ini memberikan asumsi bahwa audience memiliki pilihan alternatif dalam memenuhi kebutuhannya. Teori ini, menekankan pada aspek kemanusiaan dimana audience memiliki otonomi untuk memperlakukan media dan audience aktif untuk memilih media yang dapat memuaskan kebutuhannya (Nurudin, 2014:181).
Katz (1974) menggambarkan logika dasar mengenai teori Uses and Gratification sebagai berikut: Kondisi sosial dan psikologis seseorang akan mengarah pada kebutuhan yang akan menimbulkan ekspektasi media massa atau sumber lain, yang mengarah pada pola penggunaan media yang berbeda, yang mengarah pada kepuasan kebutuhan dan konsekuensi lain, termasuk konsekuensi yang tidak diantisipasi sebelumnya. (Daryanto. Rahardjo, 2016:144,145). Dalam teori Uses and Gratification mengatakan bahwa Audience merupakan pengguna media yang aktif dalam menggunakan, memilih, memperlakukan media sesuai dengan kondisi sosial psikologis yang ada pada dirinya dalam pemenuhan kebutuhan.
Audiens dapat dijelaskan juga sebagai pasar, dimana pada komunikasi massa dengan menggunakan media massa, audiens juga dianggap sebagai sekumpulan calon konsumen dengan profil sosial ekonomi sasaran suatu medium atau pesan. Pada konsep audiens sebagai pasar ini, beranggapan bahwa produk media merupakan komoditas atau jasa yang ditawarkan untuk dijual kepada sekumpulan konsumen tertentu yang potensial, bersaing dengan produk media lain (Andi Fachruddin, 2019:198).
2.4.2 Karakteristik Audience
Karakteristik Audience Menurut Cangara (2008) dalam jurnal “Motivasi dan Perilaku Menonton Serta Kepuasan Ibu-Ibu Terhadap Program Cara Reportase Investigasi Trans TV” oleh Zelaviori (2013), audience disebut dengan istilah penerima, sasaran, pembaca, pendengar, pemirsa, audience decoder, atau komunikan.
Khalayak dianggapsebagai aktor dalam komunikasi, oleh karenanya unsur khalayak tidak dapat diabaikan karena merupakan penentu keberhasilan suatu proses komunikasi. Cangara (2008) membedakan khalayak menjadi individu, kelompok dan masyarakat. Terdapat tiga aspek yang perlu diketahui oleh penyampai pesan, diantaranya adalah aspek sosio demografik yakni berupa usia, jenis kelamin, lokasi, tingakt pendidikan, bahasa, agama, pekerjaan, ideology, dan pemilihan media massa;
aspek profil psikologis yakni, emosi, pendapat audience, keinginan audience yang perlu dipenuhi, dan adakah rasa dendam kecewa dan frustasi yang disimpan; aspek karakteristik perilaku khalayak yakni hobi, nilai dan norma, mobilitas sosial, dan perilaku kimunitas.
Menurut Hiebert dalam Nurudin, (2007:105-106) terdapat 5 karakteristik audiens dalam komunikasi massa, yakni: Audiens cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial diantara mereka.
1. Audiens cenderung besar. Dimana audience tersebar dalam berbagai wilayah dari jangkauan komunikasi massa.
2. Audiens cenderung heterogen. Yakni terdiri dari berbagai macam lapisan dan kategori sosial.
3. Audiens cenderung anonim, yaitu tidak mengenal antara satu sama lain.
4. Audiens secara fisik dipisahkan dari komunikator. Audiens dipisahkan oleh jarak, ruang dan waktu.
Sedangkan MC Quail (2006; dalam Whitney, 2009:127), menggambarkan karakteristik audience secara sosiologis (Santana, 2017: ), berada pada campuran:
1. Tempat: ketika menjadi khalayak media lokal.
2. Orang: ketika media dikarakteristikkan oleh kelompok umur, gender, keyakinan politik, atau katagori penghasilan.
3. Bagian dari medium atau saluran (kombinasi antara teknologi dan organisasi)
4. Isi Pesan: genre, subjek bahasan, gaya penyajian
5. Waktu: dalam ukuran khalayak “daytime” atau “primetime”
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat dilihat bahwa Cangara membagi karakteristik audience berdasarkan pada aspek sosiodemografik, profil psikologis, dan karakteristik khalayak. Hiebert membagi karakteristik audience dengan menjelaskan bahwa audience berisi individu-individu yang berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial, cenderung besar, heterogen, anonim, dan secara fisik dipisahkan dari komunikator. Sedangkan MC Quail menggambarkan karakteristik audience secara sosiologis yang berada pada campuran tempat, orang, isi pesan, waktu, dan bagian dari medium atau saluran.
2.4.3 Perilaku Menonton Audience
Pengertian perilaku menurut pandangan aliran kognitif merupakan respons dari stimulus, namun dalam diri individu memiliki kemampuan untuk mementukan perilaku yang diambil olehnya, (Bimo Walgianto, 1994:15). Dalam hal ini berarti bahwa individu memiliki peran yang aktif dalam menentukan perilakunya. Ada beberapa teori mengenai perilaku ini, salah satu diantaranya adalah teori atribusi.
Teori ini berusaha menjelaskan mengenai perilaku seseorang, apakah perilaku tersebut disebabkan oleh disposisi internal (seperti misalnya sikap, motif, dsb) ataukah disebabkan oleh keadaan eksternal seperti misalnya situasi, (Bimo walgianto, 1994:21).
Teori atribusi dikemukakan oleh Fritz Heider (Lih.Baron dan byrne, 1984), yang mengatakan bahwa perilaku manusia dapat disebabkan karena faktor internal atau atribusi internal dan faktor eksternal atau atribusi eksternal (Bimo Walgito, 1994:59). Terdapat dua teori yang menonjol dalam teoriatribusi ini, salah satu teorinya yakni teori yang dikemukakan oleh Jones dan Davis. Jones dan Davis (lih.
Baron dan Byrne, 1984), mengemukakan teori correspondent inference, dimana menurut teori ini untuk membuat kesimpulan mengenai perilaku sesorang dapat dilakukan dengan melihat pada, (1) perilaku yang dipilih oleh individu bersangkutan, (2) non-common effect atau perilaku yang menimbulkan keunikan, dan (3) perilaku yang sosial desirability-nya rendah atau perilaku yang social undersirable(Bimo Walgito,1994:60).
Perilaku Menonton adalah salah satu kegiatan melihat (memperhatikan) sesuatu dengan mata. Sebagai salah satu aspek memperhatikan, penonton berupaya untuk menggali informasi dari media yang sedang ditonton. Khaerul Muttaqin (2008), dalam jurnal “Hubungan Antara Perilaku Menonton Sinetron Percintaan dengan Perilaku Pacaran Pada Siswa-Siswi Yayasan Islamiyah di SMA Ethika Palembang”
oleh Zendrato, Muhajirin, & Setiawan (2016) menyebutkan aspek-aspek Perilaku menonton sinetron, yakni:
1. Aspek perhatian: merupakan konsentrasi daripenonton terhadap suatu objek, dengan dorongan psikologis dari dalam dan luar individu.
2. Aspek penghayatan: penghayatan terhadap yang sedang dibaca dan dilihat.
3. Aspek durasi dan aspek frekuensi: yaitu waktu yang dibutuhkan individu untuk melakukan perilaku yang menjadi target, setra banyaknya perilaku tersebut diulang.
Rosengren (1987, dalam Evita, 2007) dalam jurnal “Hubungan Antara Perilaku Menonton Film Kekerasan dengan Perilaku Agresi Remaja” oleh Nando dan Pandjaitan (2012), melihat perilaku penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan. Lowery dan De Fleur (1993) dalam Evita (2007) menyebutkan tiga hal yang dapat dijadikan sebagai alat ukur perilaku menonton yaitu total waktu menonton, frekuensi menonton, dan pilihan program acara yang ditonton.
Total waktu menonton adalah jumlah waktu yang dihabiskan seseorang untuk menonton film, sedangkan frekuensi menonton adalah berapa kali seseorang menonton film dalam jangka waktu tertentu. Pilihan program acara yang ditonton dapat dilihat dari pilihan jenis film yang dipilih untuk ditonton.
Khomsahrian (2016: 82-83), menentukan jadwal penyiaran radio berdasarkan perilaku audience yaitu terkait dengan: pertama, jumlah audience, yaitu jumlah audience lebih banyak pada pagi hari atau sore hari (drive time hours). Kedua, audience konstan, pada umumnya orang cenderung bertahan pada satu stasiun sampai menemukan satu program yang dianggap tidak menarik. Berdasarkan data yang diperoleh dari lembaga rating, mengatakan bahwa jumlah audience secara keseluruhan selalu konstan. Ketiga, aliran audience, yatu perpindahan yang terjadi setiap suatu program berakhir. Terbagi menjadi tiga yaitu: 1) aliran keluar, diamana
audience meninggalkan stasiun dan menuju stasiun lain, 2) aliran kedalam, masuknyaa audience dari stasiun lain, 3) aliran tetap, audiens tidak berpindah.
Keempat, tuning inerta, kecenderungan audience untuk memilih salah satu stasiun faforit. Kelima, pengaruh demografis, setiap rentan usia memiliki kecenderungan tersendiri untuk menyukai konten yang diberikan.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat dikatakan bahwa perilaku menonton menurut Kherul Muttaqin lebih kepada aspek perhatian, penghayatan, dan durasi.
Aspek penghayatan merupakan pemusatan energi psikis, penghayatan berupa pemahaman isi, serta durasi dan frekuensi yang berupa lamanya waktu yang digunakan untuk menonton dan banyaknya pengulangan. Sedangkan menurut Rosengren, lowery dan De Fleur perilaku meonton lebih kepada jumlah waktu menonton, frekuwensi menonton, pilihan program dan berbagai hubungan individu.
Menurut Komsahrian perilaku audience terdiri dari jumlah audience, audience tetap, aliran audience, kecenderungan audience memilih channel favorit dan faktor demografis.