10 BAB II
KAJIAN TEORI 2.1 Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti tercapainya sesuatu yang telah ditetapkan. Kata efektivitas merupakan istilah yang berasal dari bahasa inggris yaitu effective yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Lebih lanjut Hodge menjelaskan tentang efektivitas yang menyatakan, efektivitas sebagai ukuran suksesnya organisasi didefinisikan sebagai kemampuan organisasi untuk mencapai segala keperluannya (Darmawan, 2019).
Disisi lain dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, efektif berarti ada efeknya, akibatnya, pengaruhnya, kesannya. Sedangkan efektivitas adalah keadaan berpengaruh, hal berkesan (Balai Pustaka, 2005). Sejalan dengan itu, pengertian dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan efektif yaitu mempunyai efek, pengaruh, atau akibat, memberikan hasil yang memuaskan (Bedudu, Sutan 2001)
Dari berbagai pengertian dan penjelasan dari beberapa ahli mengenai pengertian efektivitas dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah unsur pokok yang terdapat efeknya, akibatnya, pengaruhnya, kesannya untuk mencapai sasaran maupun tujuan yang telah ditetapkan, ataupun program, sasaran seperti yang telah ditentukan oleh setiap organisasi.
2.1.1 Efektivitas Pesan Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses yang penting dalam menjalani kehidupan. Setiap kegiatan yang dilakukan pasti melibatkan komunikasi di dalamnya, baik itu komunikasi interpersonal maupun intrapersonal, komunikasi kelompok, maupun komunikasi massa.
Melihat pentingnya komunikasi dalam setiap kegiatannya maka diharapkan keefektifan pada setiap proses komunikasi itu sendiri. Jika komunikasi tersebut berjalan efektif, maka tidak akan ada salah pengertian dalam komunikasi, sehingga tidak terjadi konflik.
Komunikasi dapat didefinisikan sebagai pertukaran ide-ide, komunikasi merupakan transmisi informasi yang dihasilkan oleh pengiriman stimulus dari suatu sumber yang direspons penerima. Selain itu komunikasi adalah sistem yang mengatur pengiriman pesan untuk ditanggapi oleh penerima, karena itu proses transmisi dari sebagian informasi atau pesan yang berasal dari sumber itu harus dirancang menarik, sehingga dapat mencapai tujuan
11 aktif (Alo Liliweri, 2011). Paradigma Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk memenuhi komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan : Who says What in Which Channel To Whom With What Effect?. Pertanyaan ini mengandung lima unsur dalam komunikasi, yaitu :
1. Siapa mengatakan? (komunikator, pengirim atau sumber) 2. Apa (Message : pesan, ide, gagasan)
3. Dengan Saluran mana? (Media, channel dan sarana) 4. Kepada Siapa? (komunikan, penerima, atau alamat)
5. Dengan Hasil / Dampak apa? (Effect,hasil komunikasi) (Siahaan, 2000).
Komunikasi dikatakan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh komunikan dan menghasilkan efek yang benar-benar diharapkan oleh komunikator (Lim, 2011). Namun komunikasi dapat dikatakan efektif jika telah melampaui ukuran-ukuran yang telah ditetapkan.
Keefektifan komunikasi dapat diukur oleh beberapa hal, diantaranya penerima/pemakai (receiver or user), isi pesan (content), ketepatan waktu (timing), saluran komunikasi (media), format (format), dan sumber pesan (source) (Hardjana, 2000).
Ada lima hal yang menjadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif menurut pernyataan Tubbs dan Moss, yaitu: pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.
1) Pemahaman Arti pokok pemahaman adalah penerimaan yang cermat atas kandungan stimuli seperti yang dimaksud oleh pengirim pesan (komunikator), dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikan.
2) Kesenangan Komunikasi tidak semua ditujukan untuk menyampai kan maksud tertentu, adakalanya komunikasi hanya sekadar untuk bertegur sapa dan menimbulkan kebahagian bersama.
3) Mempengaruhi sikap Tindakan mempengaruhi orang lain dan berusaha agar orang lain memahami ucapan kita adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Pada waktu menentukan tingkat keberhasilan berkomunikasi ternyata kegagalan dalam mengubah sikap orang lain belum tentu karena orang lain tersebut tidak memahami apa yang
12 dimaksud. Dapat dikatakan bahwa kegagalan dalam mengubah pandangan seseorang jangan disamakan dengan kegagalan dalam meningkatkan pemahaman, karena memahami dan menyetujui adalah dua hal yang sama sekali berlainan.
4) Memperbaiki hubungan komunikasi yang dilakukan dalam suasana psikologis yang positif dan penuh kepercayaan akan sangat membantu terciptanya komunikasi yang efektif. Apabila hubungan manusia dibayang bayangi oleh ketidakpercayaan, maka pesan yang disampaikan oleh komunikator yang paling kompeten pun bisa saja mengubah makna.
5) Tindakan Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan yang diinginkan merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam berkomunikasi. Lebih mudah mengusahakan agar pesan dapat dipahami orang lain daripada mengusahakan agar pesan tersebut disetujui, tindakan merupakan feed back komunikasi paling tinggi yang diharapkan pemberi pesan (Stewart L. Tubbs, 2000).
Efek berperan memberikan unsur penting dalam keseluruhan komunikasi. Sebab Efek merupakan tanggapan, reaksi serta respon dari komunikan ketika menerima pesan dari komunikator. Jadi efek merupakan akibat dari proses komunikasi. Dalam proses komunikasi kebersamaan diusahakan melalui tukar menukar pendapat, penyampaian pesan informasi, serta perubahan sikap dan perilaku. Pada hakikatnya setiap proses komunikasi terdapat unsur- unsur tersebut yaitu sumber pesan, saluran, dan penerima, di samping masih terdapat pula unsur pengaruh (effects) dan umpan balik (feedback).
Terdapat tiga faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi yaitu isi pesan, sandi pesan, dan perlakuan pesan. Oleh karena itu, terhadap suatu pesan yang ingin disampaikan, kita harus mempunyai kemampuan untuk meramalkan efek yang akan ditimbulkan pada komunikan. Wilbur Schramm menampilkan apa yang ia sebut The Condition of Success in Communication, yakni kondisi yang harus dipenuhi jika kita ingin agar suatu mutu membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki. Kondisi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
2. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama mengerti.
13 3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyerahkan beberapa cara untuk mendapatkan kebutuhan tersebut.
4. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digunakan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki (Effendy, 2003).
Yang penting dalam komunikasi adalah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu pada komunikan. Efek yang timbul pada komunikan bergantung kepada tujuan komunikasi yang dilakukan oleh komunikator. Apakah tujuannya agar komunikan hanya tau saja, atau agar komunikan berubah sikapnya dan pandangannya, atau agar komunikan berubah tingkah laku?. Efek atau dampak yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, yaitu :
1.Dampak Kognitif
Dampak kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Dengan kata lain, tujuan komunikator hanyalah pada upaya mengubah pikiran diri komunikan.
2. Dampak Afektif
Dampak ini lebih tinggi kadarnya dari pada dampak kognitif. Tujuan komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan tahu, tetapi tergerak hatinya, menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih gembira, marah, dsb.
3. Dampak Behavioral
Dampak ini adalah efek yang paling tinggi dari kedua dampak diatas yaitu dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan (Effendy, 2008) Efek pada aras kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan.
Pada aras afektif meliputi efek berhubungan dengan emosi, perasaan dan sikap, sedangkan efek pada aras konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu (Jahi, 1988).
2.2 Media Sosial
14 Media sosial telah banyak memberikan perubahan dunia. Memutarbalikkan banyak pemikiran dan teori yang dimiliki. Tingkatan atau level komunikasi terkumpul dalam satu wadah yang disebut jejaring sosial atau lebih populer dengan media sosial. Media sosial hadir dan merubah paradigma berkomunikasi di masyarakat saat ini. Komunikasi tak terbatas jarak, waktu, ruang. Media sosial hadir dan merubah paradigma berkomunikasi di masyarakat saat ini. Komunikasi tak terbatas jarak, waktu, ruang. Bisa terjadi dimana saja, kapan saja, tanpa harus tatap muka. Bahkan media sosial mampu meniadakan status sosial, yang sering kali sebagai penghambat komunikasi (Watie, 2016).
Media sosial didefinisikan sebagai media online partisipatif yang mempublikasikan berita, foto, video, dan podcast yang diumumkan melalui situs media sosial.Biasanya disertai dengan proses pemungutan suara untuk membuat media item menjadi populer. Media sosial dapat mengambil berbagai bentuk, termasuk forum internet, papan pesan, blog, wiki, podcast, gambar dan video (Giantika, 2018).
Kaplan dan Haenlein mendefinisikan Media Sosial adalah suatu grup aplikasi berbasis internet yang menggunakan ideologi dan teknologi Web 2.0, dimana pengguna dapat membuat atau bertukar informasi pada aplikasi tersebut
Menurut Mandiberg media sosial adalah media yang mewadahi kerjasama diantara pengguna yang menghasilkan konten (user generated content). Disisi lain Meike dan Young juga mengartikan kata media sosial sebagai konvergensi antara komunikasi personal dalam arti saling berbagi do antara individu (to be shared one-to-one) dan media publik untuk berbagi kepada siapa saja tanpa ada kekhususan individu (Nasrullah, 2015).
Konsep media pada dasarnya diciptakan karena adanya keterbatasan model media cetak dan penyiaran dengan kemampuan many to many conversation, kemampuan penerimaan, perubahan dan distribusi objek cultural, dislokasi tindakan komunikatif hingga pada akhirnya terciptalah kontak global secara instan dengan memasukkan subjek modern ke seperangkat mesin berjaringan (Herlina, 2017).
Lebih lanjut Nurudin menyatakan bahwa media sosial menggunakan teknologi berbasis web yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan member kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta berbagi informasi dalam waktu yang cepat dan tidak terbatas (Nurudin, 2012).
15 Inti dari media sosial adalah sebuah situs dimana setiap orang bisa membuat halaman webnya sendiri, sehingga dapat terhubung dengan orang lain untuk berbagi informasi dan komunikasi. Sebab pada dasarnya Media sosial didefinisikan sebagai alat elektronik yang tersedia untuk membantu mempercepat dan meningkatkan kemampuan kita dalam berhubungan, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan orang lain (Darmawan, 2019).
Ada beraneka ragam jenis dari media sosial yang mempunyai fungsi serta cara penggunaan yang berbeda-beda. Namun masih memiliki pokok tujuan yang sama yaitu untuk bertukar informasi dan mudah untuk diakses. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Instagram sebagai bahan penelitiannya. Menurut Kaplan dan Haenlein media sosial memiliki ciri sebagai berikut :
1. “Pesan yang disampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa kepada banyak orang.
2. Pesan yang disampaikan cenderung lebih cepat dibandingkan media lainnya 3. Pesan yang disampaikan bebas, tanpa harus melalui Gatekeeper.
4. Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi”.
Dengan mengetahui ciri-ciri media sosial dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami mengenai defenisi dan jenis media sosial tersebut. Dengan begitu kita dapat menggunakan media sosial tersebut semaksimal mungkin sesuai dengan jenis dan kegunaannya.
Menurut Evans ada beberapa jenis - jenis media sosial antara lain:
1. Social News Sites, Jenis media sosial ini memungkinkan pengguna untuk mengirimkan berita, informasi, artikel, video dan foto yang kemudian akan diberikan penilaian (vote,like atau dislike) atas informasi tersebut.
2. Social Networking, Jenis ini merupakan yang paling populer di Indonesia, dimulai dari era Friendster, dilanjutkan oleh Myspace.com dan sampai sekarang paling digemari adalah Facebook di Indonesia masih terbanyak dibandingkan jejaring sosial yang lain.
3. Social Sharing, Beberapa platform media sosial memfokuskan diri pada fitur berbagi konten, yang paling popular antara lain Youtube dan Flickr. Dengan fungsi yang ditonjolkan, pengguna bisa dengan cepat dikenal di dunia maya selama mereka memiliki konten unik dan disukai.
16 4. Blog, Jenis media sosial ini memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan dirinya
dalam bentuk artikel, ide, pemikiran dan informasi.
5. Microblogging, Twitter ialah contoh microblogging, keterbatasannya dalam menuliskan Forum,Forum menjadi tempat berdiskusi tentang segala hal di dalam dunia maya, kaskus adalah contoh yang sangat terkenal dalam kategori forum yang memiliki anggota komunitas terbesar saat ini (Darmawan, 2019).
2.2.1 Aplikasi Instagram
Nisrina mendefinisikan Instagram sebagai salah satu aplikasi yang digunakan untuk membagi- bagikan foto dan video. Nama Instagram berasal dari kata „Insta‟ yang artinya
„Instan‟ dan „gram‟ dari kata „telegram‟.1 Jadi Instagram merupakan gabungan dari kata Instan-Telegram (Ghazali, 2016). Dari penggunaan kata tersebut dapat diartikan sebagai aplikasi untuk mengirimkan informasi dengan cepat, baik dalam bentuk foto yang berupa mengelola foto, mengedit foto, dan berbagi (Share) ke jejaring sosial yang lainnya.
Makin populernya Instagram sebagai aplikasi yang digunakan untuk membagi foto membuat banyak pengguna yang memanfaatkan instagram sebagai media informasi, promosi dan campaign. Instagram merupakan salah satu media jejaring sosial yang dapat dimanfaatkan sebagai media informasi yang cepat dalam menjangkau khalayak. Melalui Instagram- lah segala bentuk informasi di sebarluaskan. Melalui fitur unggah foto atau video singkat beserta caption atau keterangan pesan instagram dengan cepat di terima oleh siapapun kapanpun dan dimanapun.
Instagram menjadi populer dikalangan masyarakat karena beberapa fitur menarik yang tersedia pada aplikasi. Instagram memiliki fitur-fitur yang berbeda dengan jejaring sosial lainnya, diantara sekian banyak fitur yang ada di Instagram, ada beberapa fitur yang digunakan oleh akun instagram @pejuang_jerawat dalam berbagi informasi guna melawan krisis kepercayaan diri, fitur tersebut adalah:
1. Followers (Pengikut)
Sistem sosial di dalam Instagram adalah dengan menjadi pengikut akun pengguna lainnya, atau memiliki pengikut Instagram. Dengan demikian komunikasi antara sesama pengguna Instagram sendiri dapat terjalin dengan memberikan tanda suka dan juga mengomentari foto- foto yang telah diunggah oleh pengguna lainnya. Pengikut juga menjadi salah satu unsur yang penting, dimana jumlah tanda suka dari para pengikut sangat mempengaruhi apakah foto
17 tersebut dapat menjadi sebuah foto yang populer atau tidak. Untuk menemukan teman-teman yang ada di dalam Instagram.
2. Upload Foto (Mengunggah Foto)
Kegunaan utama dari Instagram adalah sebagai tempat untuk mengunggah dan berbagi foto- foto kepada pengguna lainnya. Foto yang hendak ingin diunggah dapat diperoleh melalui kamera iDevice ataupun foto-foto yang ada di album foto di iDevice tersebut.
3. Kamera Foto yang telah diambil melalui aplikasi
Instagram dapat disimpan di dalam iDevice tersebut. Penggunaan kamera melalui Instagram juga dapat langsung menggunakan efek-efek yang ada, untuk mengatur pewarnaan dari foto yang dikehendaki oleh pengguna. Ada juga efek kamera tilt-shift yang fungsinya adalah untuk memfokuskan sebuah foto pada satu titik tertentu. Foto-foto yang akan diunggah melalui Instagram tidak terbatas atas jumlah tertentu, melainkan Instagram memiliki keterbatasan ukuran untuk foto. Ukuran yang digunakan di dalam Instagram adalah dengan rasio 3 : 2 atau hanya sebatas berbentuk kotak saja.
4. Efek Foto
Pada versi awalnya, Instagram memiliki 15 efek- efek yang dapat digunakan oleh para pengguna pada saat mereka hendak menyunting sebuah foto. Efek tersebut terdiri dari: X-Pro II, Lomo-fi, Earlybird, Sutro, Toaster, Brannan, Inkwell, Walden, Hefe, Apollo, Poprocket, Nashville, Gotham, 1977, dan Lord Kelvin. Namun tepat pada tanggal 20 September 2018 Instagram telah menambahkan 4 buah efek terbaru yaitu; Valencia, Amaro, Rise, Hudson dan telah menghapus 3 efek, Apollo, Poprockeet, dan Gotham dari dalam fitur tersebut.
5. Judul Foto
Setelah foto tersebut disunting, maka foto akan dibawa ke halaman selanjutnya, dimana foto tersebut akan diunggah ke dalam Instagram sendiri ataupun ke jejaring sosial lainnya.
Dimana di dalamnya tidak hanya ada pilihan untuk mengunggah pada jejaring sosial atau tidak, tetapi juga untuk memasukkan judul foto, dan menambahkan lokasi foto tersebut.
6. Arroba
Seperti Twitter dan juga Facebook, Instagram juga memiliki fitur yang dimana para penggunanya dapat menyinggung pengguna lain yang juga, dengan menambahkan tanda
18 arroba (@) dan memasukkan akun Instagram dari pengguna tersebut. Para pengguna tidak hanya dapat menyinggung pengguna lainnya di dalam judul foto, melainkan juga pada bagian komentar foto. Para pengguna dapat menyinggung pengguna lainnya dengan memasukkan akun Instagram dari pengguna tersebut. Pada dasarnya dalam menyinggung pengguna yang lainnya, yang dimaksudkan adalah untuk berkomunikasi dengan pengguna yang telah disinggung tersebut.
7. Geotagging
Setelah memasukkan judul foto tersebut, bagian selanjutnya adalah bagian Geotag. Bagian ini akan muncul ketika para pengguna iDevice mengaktifkan GPS mereka di dalam iDevice mereka. Dengan demikian iDevice tersebut dapat mendeteksi lokasi para pengguna Instagram tersebut berada.
8. Jejaring Sosial
Dalam berbagi foto, para pengguna juga tidak hanya dapat membaginya di dalam Instagram saja, melainkan foto tersebut dapat dibagi juga melalui jejaring sosial lainnya seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Tumblr, dan Flickr yang tersedia di halaman Instagram untuk membagi foto tersebut.
9. Tanda suka (like)
Instagram juga memiliki sebuah fitur tanda suka yang fungsinya memiliki kesamaan dengan yang disediakan Facebook, yaitu sebagai penanda bahwa pengguna yang lain menyukai foto yang telah diunggah. Berdasarkan dengan durasi waktu dan jumlah suka pada sebuah foto di dalam Instagram, hal itulah yang menjadi faktor khusus yang mempengaruhi foto tersebut terkenal atau tidak.
10. Popular (Explore)
Bila sebuah foto masuk ke dalam halaman popular, yang merupakan tempat kumpulan dari foto-foto populer dari seluruh dunia pada saat itu. Secara tidak langsung foto tersebut akan menjadi suatu hal yang dikenal oleh masyarakat mancanegara, sehingga jumlah pengikut juga dapat bertambah lebih banyak (Mayasari & Indraswari, 2018).
2.2.2 Instagram Sebagai Media Informasi
19 Instagram dapat menjadi media yang paling efisien dan efektif dalam penyebaran informasi, konsep berbagi foto, video dan keterangan (caption) yang tak terbatas menjadikannya sebagai media sosial yang paling diminati dan digemari oleh seluruh masyarakat di dunia. Fitur-fitur terbaru yang diberikan juga sangat membantu bagi para pengguna untuk mencari atau mengakses informasi yang dibutuhkan. Tanpa harus berbelit- belit, seperti pada saat melakukan browsing menggunakan google dan alat pencari lainnya.
Para pengguna twitter dapat dengan bebas memilih dan menentukan akun mana yang bermanfaat bagi mereka, mana yang memberikan informasi terupdate, mana yang hanya memberikan postingan kurang penting. Kategori friend di Instagram terdapat dua kelompok pengguna, yaitu following dan follower. Following adalah group berisi orang-orang atau pengguna yang kita follow, artinya kita akan mendapatkan update informasi ketika orang- orang yang kita follow melakukan update status atau informasi. Bagi sebagian orang, mengikuti (following) orang-orang yang berpotensi dan menginspirasi menjadi salah satu pilihan karena dapat mempengaruhi diri sendiri, sama hal nya dengan mengikuti (following) portal- portal berita. Saat ini portal berita juga sangat memanfaatkan kehadiran dari Instagram, hanya dengan memposting judul berita tersebut kemudian mencantumkan link ke situs berita yang bersangkutan. Selain itu saat ini banyak beberapa portal berita justru menjadikan instagram sebagai sumber berita dari media mereka melalui postingan citizen journalism. Karena kecepatan dan kemudahannya menjadikan instagram banyak dipilih dalam menyebarkan informasi kepada seluruh pengguna.
Di awal kemunculannya Instagram dijadikan sebagai aplikasi jaringan komunikasi dengan berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Selain hal ini dilakukan karena melalui instagram setiap orang dapat dengan mudah terhubung dan saling berinteraksi satu sama lain. Seiring berkembangnya teknologi, semakin besar pula arus informasi, dan masyarakat semakin menyadari kebutuhan informasi. Pada perkembangannya instagram berubah fungsinya dari communication network menjadi information network. Salah satu yang mendukung perubahan fungsi Instagram tersebut adalah konsep following dan follower kedua konsep tersebut berperan penting dalam mengatur arus informasi dalam Instagram. Konsep following menentukan siapa yang dapat memberikan informasi kepada kita, sedangkan follower menentukan siapa yang akan mendapatkan informasi dari kita (Ikawati, 2008) .
20 Pada penelitian ini peneliti memilih akun @Pejuang_Jerawat sebagai objek penelitian, karena melalui akun ini segala informasi yang berhubungan dengan jerawat di posting oleh admin, tujuannya agar para follower dapat mengetahui informasi secara cepat dan mudah.
2.5 Krisis Kepercayaan Diri
Percaya diri adalah suatu keyakinan pada diri sendiri bahwa dirinya mempunyai kemampuan atau potensi. Faktor dari dalam diri individu (diri sendiri) sangat penting, karena sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan hidup. Kepercayaan pada diri sendiri dapat diamati melalui sikap percaya diri yang meliputi keberanian, hubungan sosial, tanggung jawab dan harga diri.
Pada hakikatnya manusia mempunyai rasa percaya diri, namun rasa percaya diri itu berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Ada yang memiliki rasa percaya diri kurang dan ada yang memiliki lebih, sehingga keduanya menampakkan perbedaan tingkah laku. Jika seseorang mempunyai rasa percaya diri kurang, ia akan menunjukkan perilaku yang berbeda dengan orang pada umumnya seperti tidak bisa berbuat banyak, selalu ragu dalam menjalankan sesuatu, tidak berani berbicara banyak jika tidak mendapat dukungan dan lain sebagainya kekurangan-kekurangan yang dirasakan. Seseorang yang mempunyai rasa percaya diri lebih, ia merasa yakin dengan kemampuannya sendiri sehingga dapat dilihat tingginya keberanian, hubungan sosial, tanggung jawab serta harga dirinya. Rasa percaya diri itu bisa dibangun dan dikembangkan secara positif dan objektif (Triningtyas, 2016)
Seorang yang kurang percaya diri akan cenderung sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi. Ada berbagai penyebab perasaan rendah diri seseorang berkembang lebih kuat dan ada pula yang kurang kuat berkembang. Ketidakmampuan fisik dapat menyebabkan rasa rendah diri yang jelas, sedangkan kebutuhan manusia yang paling penting adalah kebutuhan akan kepercayaan pada diri sendiri dan rasa superioritas. Selain itu isu body shaming di kalangan masyarakat menjadi penyebab utama munculnya krisis kepercayaan diri. Body Shaming merupakan sebuah komentar negatif terhadap fisik atau tubuh seseorang dan dinilai potensial menimbulkan dampak negatif berupa krisis percaya diri yang merugikan orang tersebut. Krisis kepercayaan diri adalah istilah untuk menggambarkan keadaan tidak aman hingga hilangnya rasa percaya diri yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, dan malu. Keinginan menutup diri, selain karena konsep diri yang negatif timbul dari kurangnya kepercayaan kepada kemampuan sendiri (Rakhmad, 2007). Mengingat betapa pentingnya
21 rasa percaya diri ini, maka setiap tempat dan suasana perlu dibangun secara optimal dan positif.
2.3 Media Informasi dan Sifat Informasi
Media berasal dari kata medium (media : jamak, medium : tunggal), artinya secara harfiah adalah perantara, penyampai, atau penyalur (Yusuf & Subekti, 2010). Media adalah sesuatu yang menjadi saluran atau perantara tersampaikannya pesan komunikasi. Media dalam komunikasi merupakan alat yang digunakan komunikator dalam menyampaikan atau mengirim simbol (Hamidi, 2010). Media merupakan salah satu unsur dari komunikasi, pesan tidak dapat tersampaikan apabila tidak ada media atau saluran. Mc Luhan menyebutkan bahwa “media adalah pesan” (the medium is the message).
Melalui ungkapan itu Mc Luhan ingin menyatakan bahwa pesan yang disampaikan media tidaklah lebih penting dari media atau saluran komunikasi yang digunakan pesan kepada penerimanya. Dengan kata lain, ia ingin menjelaskan bahwa media atau saluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruhnya kepada masyarakat, dan bukan isi pesannya (Morissan, 2013).
Media dalam proses komunikasi mempunyai peran mensukseskan pesan yang dikirim oleh komunikator kepada komunikan. Informasi adalah bahan pokok dalam komunikasi.
Informasi dibutuhkan manusia karena didorong oleh keinginannya mengembangkan kehidupannya menjadi lebih baik. Kebutuhan akan informasi tidak memandang status seseorang. Bisa menimpa siapa saja terlepas dari dia memanfaatkan atau tidak informasi yang diperolehnya. Karenanya komunikasi merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan manusia.
Menurut Gordon B. Davis mengatakan informasi adalah data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat itu atau untuk keputusan mendatang (Siahaan, 2000).
Sedangkan Rudy Bretz dalam bukunya A Taxonomy of Communication Media, menegaskan bahwa informasi adalah apa yang dipahami. 17 Samuel Eilon dalam bukunya Some Notes on Information Processing menjelaskan informasi itu pernyataan yang menjelaskan suatu peristiwa (obyek, konsep) untuk lebih mudah memahaminya (Siahaan, 2000).
Informasi dapat diartikan berita atau pesan yang mengandung maksud tertentu.
Manusia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang ingin dibagikan kepada orang lain.
22 Pengalaman atau pengetahuan yang dikomunikasikan kepada orang lain tersebut merupakan pesan atau informasi. Jadi informasi menuntut adanya kehadiran pihak lain (Y.Maryono dan B.Patmi Istiana, 2008).
Sifat dari informasi dapat dibedakan menjadi empat, yaitu sebagai berikut:
1. Informasi yang relevan dan tidak relevan Yang dimaksud dengan informasi yang relevan adalah informasi yang ada hubungannya atau ada kepentingan dengan komunikan, sedangkan informasi yang tidak relevan adalah informasi yang tidak ada atau sedikit sekali kepentingan bagi komunikan.
2. Informasi dapat berguna dan kurang berharga
3. Informasi dapat tepat waktunya dan dapat pula tidak tepat waktunya Informasi dapat tepat waktunya apabila dapat mencapai si penerima sebelum ia melakukan pengambilan keputusan, tetapi apabila informasi tersebut terlambat datangnya setelah keputusan diambil, maka informasi tersebut tidak tepat waktunya atau telah basi.
4. Informasi dapat valid dan dapat tidak valid.
Apabila informasi yang diberikan kepada seseorang merupakan informasi yang keliru, maka informasi tersebut merupakan informasi yang tidak valid, sebaliknya bila informasi itu benar maka informasi itu adalah valid. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa media adalah pembawa pesan atau penyimpanan pesan-pesan informasi, maka dengan sendirinya informasi dan media tidak bisa dipisahkan(Widjaya, 1993).
Kalau diibaratkan bahwa informasi adalah isinya maka media dalam wadahnya.
Dengan demikian, maka dalam banyak hal, pemanfaatan informasi berarti juga pemanfaatan media, sebab informasi banyak dibawakan atau disampaikan melalui media (Yusuf &
Subekti, 2010). Media informasi berarti suatu alat yang digunakan komunikator untuk menyampaikan pengalaman atau pengetahuan yang menjelaskan peristiwa (obyek, konsep) kemudian dikomunikasikan kepada orang lain dengan adanya maksud tertentu.
Berkembangnya media informasi dikarenakan adanya pengaruh pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat ditambah dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi. Masyarakat mulai berperan aktif dalam mendapatkan, mencari, dan menyebarkan informasi lewat media.
2.4 Teori Efektivitas Pesan menurut Wilbur Schramm
23 Teori Efektivitas Pesan menurut Wilbur Schramm 1973 adalah pesan dikatakan efektif apabila memiliki beberapa komponen, yaitu pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik komunikan; pesan harus menggambarkan lambang- lambang yang tertuju pada alamat yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga keduanya sama-sama mengerti; pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut; pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia disegerakan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki..
Kerangka acuan dari penelitian ini adalah menggunakan Teori Efektivitas Pesan yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm. Teori ini menjelaskan bahwa pesan dikatakan efektif apabila memiliki beberapa komponen, yaitu menarik perhatian, menimbulkan kebutuhan, simbol yang dipahami dan cara memperoleh. Artinya, teori ini menunjukan jika komunikasi diharapkan efektif dalam hal penyampaian pesan-pesannya, pesan tersebut perlu dikemas sedemikian rupa atau menarik perhatian khalayak luas sehingga sesuai merupakan sebuah kebutuhan bagi komunikannya. Simbol yang digunakan hendaknya mudah dipahami, meliputi istilah-istilah atau kata-kata atau kalimatnya sehingga khalayak mendapatkan kemudahan dalam memperoleh informasi yang disampaikan. Komunikasi dikatakan efektif apabila :
1. Pesan yang disampaikan dapat dipahami
2. Komunikan berperilaku seperti yang diinginkan komunikator 3. Ada kesesuaian antara setiap komponen.
Jika komunikator menganjurkan menggunakan sesuatu, maka hendaknya sesuatu itu mudah didapat dengan menggunakan cara tertentu, termasuk misalnya tentang tempatnya (Diana, 2016).
2.5 Teori Konformitas Sosial 2.5.1. Pengertian Konformitas
Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada (Robert A, 2005). Sedangkan menurut Kiesler dalam Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju norma kelompok sebagai akibat tekanan
24 kelompok yang real atau yang dibayangkan (Rakhmad, 1996). Konformitas yaitu bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Sementara menurut David O’Sears, Konformitas adalah bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena setiap orang lain menampilkan perilaku tersebut (David, 1985). Cialdini dan Gold Stein, mengungkapkan konformitas adalah tendensi untuk mengubah keyakinan atau perilaku seseorang agar sesuai dengan perilaku orang lain (Shely E, 2009). Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah sebuah perubahan perilaku dan sikap karena pengaruh sosial atau sebagai hasil dari tekanan kelompok baik nyata maupun yang dibayangkan.
2.5.2. Aspek-aspek Konformitas
Menurut Sears dan kawan-kawan, aspek-aspek yang terdapat pada konformitas adalah:
a. Kepercayaan terhadap kelompok
Semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok sebagai sumber informasi yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap kelompok.
b. Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian sendiri
Individu yang percaya terhadap penilaiannya sendiri akan menurunkan tingkat konformitas karena kemudian kelompok bukan merupakan sumber informasi yang unggul lagi.
c. Rasa takut terhadap celaan sosial
Alasan konformitas adlah demi memperoleh persetujuan atau menghindari celaan kelompok.
d. Rasa takut terhadap penyimpangan
Orang yang tidak mau mengikuti apa yang berlaku di dalam kelompok akan menanggung resiko mengalami akibat yang tidak menyenangkan.
2.5.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konformitas
Baron & Byrne yang dikutip dalam sebuah jurnal mengungkapkan ada 2 faktor yang mempengaruhi konformitas, antara lain :
a. Kohesivitas
25 Dapat didefinisikan sebagai derajat ketertarikan yang dirasa oleh individu terhadap suatu kelompok. Ketika individu memiliki ketertarikan yang besar terhadap suatu kelompok maka ia memiliki kohesivitas tinggi. Tingginya rasa suka dan kagum kepada kelompok orang-orang tertentu akan menimbulkan tekanan untuk melakukan konformitas semakin kuat.
b. Ukuran kelompok
Semakin banyak anggota yang tergabung dalam kelompok akan menambah kuat seseorang untuk melakukan konformitas. Dalam buku psikologi sosial Baron dan Byrne dijelaskan bahwa dari penelitian terkini Bond dan Smith menemukan konformitas cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya ukuran kelompok hingga delapan orang anggota tambahan atau lebih. Jadi jelas bahwa semakin besar kelompok tersebut maka semakin besar pula kecenderungan kita untuk ikut serta, bahkan meskipun itu berarti kita akan menerapkan tingkah laku yang berbeda dari yang sebenarnya kita lakukan.
2.5.4. Jenis-jenis konformitas Dalam Sarlito, ada dua jenis konformitas:
a. Menurut (compliance)
Konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju. jenis konformitas ini bertujuan agar individu diterima dalam kelompok atau menghindari penolakan dari kelompok. Misalnya, menyantap makanan yang disuguhkan oleh nyonya rumah walaupun tidak suka (Sarlito W, 1999). Dan menurut Chaplin, compliance adalah rela memberi, menyerah, mengalah, membuat suatu keinginan dengan harapan atau kemauan orang lain. atau lebih jelasnya compliance adalah sebuah perilaku yang di pengaruhi oleh permintaan langsung orang lain (Sarlito W, 2017). Menurut Myers yang dikutip dalam sebuah jurnal mengatakan bahwa compliance adalah jenis konformitas yang bersifat taat, dimana individu mengikuti perilaku kelompok meski ia tidak menyetujuinya (Nur Arofah, 2015).
Konformitas compliance ini dapat dipengaruhi oleh : 1) Rasa takut terhadap penyimpangan
Rasa takut dianggap sebagai orang yang menyimpang, merupakan alasan utama terjadinya konformitas compliance. Rasa takut ini diperkuat oleh tanggapan kelompok terhadap perilaku menyimpang. Penyimpangan yang terjadi dalam
26 kelompok, dapat mengakibatkan seseorang menerima resiko yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan atau ditolak oleh kelompok.
2) Kekompakan kelompok
Semakin kuat ketertarikan individu terhadap kelompok, maka semakin kuat juga konformitas yang terjadi. Ketika anggota-anggota kelompok bekerja untuk satu tujuan yang sama mereka cenderung untuk conform dibandingkan mereka tidak berada dalam satu kesatuan. Dan ketika rasa suka anggota kelompok yang satu terhadap yang lain semakin besar, maka semakin besar pula harapan untuk memperoleh manfaat dari keanggotaan kelompok dan kelompok tersebut semakin kompak. Kekompakan yang semakin tinggi akan mempertinggi tingkat konformitas.
3) Kesepakatan kelompok
Anggota kelompok yang dihadapkan pada keputusan kelompok yang sudah bulat, akan merasa mendapat tekanan yang kuat untuk dapat menyesuaikan pendapat atau perilakunya. Namun bila ada satu orang saja yang tidak sependapat dengan anggota lainnya, tingkat konformitas dalam kelompok itu pun akan menurun. Hal ini dapat terjadi karena, pertama, pelanggaran kesepakatan yang terjadi dalam kelompok berarti ada kemungkinan terdapat perbedaan pendapat atau penilaian antar anggota. Kedua, anggota yang tidak setuju dengan pendapat kelompok akan menimbulkan penolakan. Ketiga, berkurangnya kesepakatan terhadap kelompok mengurangi keyakinan anggota kelompok terhadap kelompok itu sendiri.
b. Penerimaan (acceptance)
Konformitas yang disertai perilaku dan kepercayaan yang sesuai dengan tatanan sosial. Konformitas acceptance terjadi ketika individu percaya bahwa pendapat atau perilaku kelompok adalah benar. Misalnya, memenuhi ajakan teman-teman untuk membolos (Sarlito W, 1999). Konformitas ini terjadi karena pengaruh sosial yang bersifat informative. Bentuk konformitas ini dimana perilaku dan keyakinan individu sesuai dengan tekanan kelompok. Menurut Myers yang dikutip dalam sebuah jurnal mengatakan bahwa acceptance adalah jenis konformitas yang bersifat kompak, dimana individu mengikuti perilaku kelompok karena percaya dan setuju pada putusan kelompok(Nur Arofah, 2015). Acceptance didasarkan pada keinginan individu untuk memiliki persepsi yang tepat mengenai dunia sosial. Hal ini karena seseorang tidak mempunyai pengalaman dalam fenomena yang ada, maka individu tersebut akan melihat pada pengalaman, persepsi maupun pengetahuan yang dimiliki
27 oleh orang lain. digunakannya orang lain sebagai sumber informasi menciptakan suatu kesempatan bagi kelompok untuk mempengaruhi individu. Individu melakukan konformitas dikarenakan mereka berpikir bahwa orang lain dalam kelompok memiliki lebih banyak informasi yang diketahuinya(Arizka Harisa, 2010). Konformitas Acceptance ini dapat dipengaruhi oleh :
1) Kepercayaan terhadap kelompok
Masalah utamanya apakah individu mempercayai informasi yang dimiliki kelompok atau tidak. semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok sebagai sumber informasi yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan atau mengikuti kelompok. Dengan kata lain, jika individu yang selalu berpendapat bahwa kelompoknya selalu benar maka dia akan mengikuti apapun yang dilakukan kelompoknya tanpa mempedulikan pendapatnya sendiri.
Salah satu faktor penentu kepercayaan terhadap kelompok adalah keahlian dan kompetisi yang dimiliki oleh anggota kelompok lainnya. semakin tinggi tingkat keahlian dan kompetisi kelompok, maka kepercayaan penghargaan individu terhadap kelompok semakin besar.
2) Kepercayaan terhadap diri sendiri
Konformitas akan menurun jika individu mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap penilaian perilakunya sendiri. salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri adalah tingkat penilaian individu terhadap kemampuan yang dimilikinya. Faktor lain adalah kesulitan, semakin sulit hal yang harus dihadapi, maka semakin rendah rasa percaya diri yang dimiliki individu.