Demikian disampaikan. Atas perhatian dan kerja samanya, diucapkan terima kasih.

Teks penuh

(1)

Nomor

:

ND-218/UN2.F16.02/ OTL.01.01/2020

7 November 2020

Lampiran

: 1 (satu) berkas

Perihal

: Permohonan Sebagai Reviewer

Kepada Yth.

Dr. Drs. Stefanus Murti Sri Sadana, M.Si.

di tempat

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya kegiatan The 4

th

Student Colloquium yang

merupakan program kolaborasi dari 3 (tiga) klaster riset Guru Besar Departemen Ilmu

Administrasi Niaga FIA UI, yaitu klaster Riset Center of Innovation and Governance (CIGO),

Institusi Keuangan (Inskeu), serta Competitiveness and Governance of Corporation (CGC) yang

akan berlangsung pada tanggal 9 – 10 November 2020, bersama ini kami mohon perkenan dan

kesediaan Ibu/Bapak untuk menjadi reviewer makalah/paper dari peserta kegiatan Student

Colloquium tersebut. Hasil review Ibu/Bapak mohon perkenan sudah dikirimkan ke kami paling

lambat tanggal 8 November 2020 melalui alamat email

studentcolloquiumfiaui@gmail.com

.

Untuk berkas makalah mahasiswa peserta Student Colloquium dan formulir masukan/review

terlampir.

Demikian disampaikan. Atas perhatian dan kerja samanya, diucapkan terima kasih.

Departemen Ilmu Administrasi Niaga

Sekretaris,

Dra. Eva Andayani, M.Si.

NIP196709191992032001

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS HUBUNGAN ORGANIZATION CAPITAL DAN CASH HOLDING

PERUSAHAAN NON KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2009-2019

MAKALAH PENELITIAN STUDENT COLLOQUIUM

JAIANRA MILLENIO SIANTURI

1706055531

PEMBIMBING: DR. UMANTO, S.SOS., M.SI.

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NIAGA

DEPOK

(3)

2 Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Dalam hal mencapai tujuan meningkatkan nilai perusahaan, Manajemen Perusahaan perlu memperhatikan Kondisi dan Pengelolaan Keuangan. Salah satu bentuk pengelolaan keuangan perusahaan adalah penentuan atau kebijakan Cash Holding Perusahaan. Cash Holding merupakan kas yang dipegang oleh perusahaan sebagai kas yang sedang dipegang dan tersedia untuk investasi dalam aset fisik dan mendistribusikannya kepada investor. Kas merupakan aset yang paling lancar (liquid) dari jenis aset lancar lainnya. (Gill and Shah, 2012). Kas merupakan satu hal yang penting bagi Perusahaan dalam menjalankan aktivitas operasional Perusahaan sehingga ada ungkapan yang mengatakan bahwa “Cash is the king”. Dalam beroperasi, Perusahaan membutuhkan sumber daya seperti bahan baku, tenaga kerja, tanah, infrastuktur sebagai faktor produksi dan beban-beban operasional yang harus dibayar sehingga perusahaan membutuhkan kas.

Sejalan dengan pentingnya Cash Holding bagi Perusahaan, data Cash Holding Perusahaan di Amerika serikat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun belakangan. Bates et al. (2009) menyatakan selama periode 1980-2006, rasio kas rata-rata meningkat 0,46% per tahun, sampai pada titik dimana rasio kas pada tahun 2006 adalah dua kali lipat rasio kas pada tahun 1980. Setelah krisis tahun 2008, Perusahaan belajar dan semakin giat meningkatkan likuiditas dengan peningkatan aset lancar . Seiring dengan bertambahnya Cash Holding secara signifikan dari tahun ke tahun di Amerika, Banyak negara berkembang juga mengikuti tren ini utamanya pada tahun-tahun setelah resesi global yang menyebabkan Perusahaan mencadangkan Kas yang lebih. Didukung juga dengan fakta dimana Perusahaan yang memiliki akumulasi kas yang besar cenderung dapat bertahan menghadapi resesi dibandingkan dengan perusahaan dengan akumulasi kas yang sedikit (Kalinin, 2012). Perusahaan - Perusahaan di Asia meningkatkan Kepemilikan kas hampir 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir sejak 2009 disebabkan motivasi perusahaan untuk berjaga-jaga dan terhindar dari dampak krisis. (Lee dan Song 2009). Serupa dengan Indonesia, Kepemilikan Kas Perusahaan di Indonesia lebih meningkat pada tahun 2007-2014 utamanya ketika terjadi krisis keuangan global. Tren Kepemilikan Kas per tahun dimana pada tahun 2008 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, namun kemudian mengalami penurunan kembali di tahun 2009 dan Kembali meningkat setahun setelahnya. (Sutrisno & Gumanti, 2016). Rachmansyah (2017) juga menjelaskan bahwa pada tahun 2011-2016 Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia memiliki tingkat kas yang bervariasi, mulai dari 0,0004% hingga 125,27% dari total aset artinya bahwa kas merupakan hal yang penting pada Perusahaan di Indonesia mengingat Perusahaan Manufaktur merupakan Sektor dengan Perusahaan terbanyak di Indonesia sehingga dapat mempresentasikan Perusahaan di Bursa Efek Indonesia.

Beberapa Perusahaan di Bursa Efek Indonesia mencatatkan kenaikan persentase kas yang signifikan merespon pada pentingnya kepemilikan kas bagi Perusahaan. Misalnya PT Indotambang Raya Megah yang bergerak dalam sektor Pertambangan Batu Bara mencatatkan kenaikan pada posisi kas dari tahun 2009 – 2018 sebesar 32,3% walaupun terkadang ada tahun dimana kas perusahaan menurun namun secara keseluruhan menyiratkan tren kenaikan. Tren kenaikan yang sama juga terjadi pada PT Adaro Energy yang juga bergerak dalam sektor Pertambangan Batu Bara juga mencatatkan kenaikan yang signifikan pada posisi kas dari tahun 2009 – 2019 yaitu sebesar 94,3%. PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk yang bergerak dalam sektor Consumer Goods mencatatkan kenaikan posisi kas juga sangat signifikan dari tahun 2009 – 2019 yaitu sebesar 1.944%.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi cash holding Perusahaan ditinjau dari beberapa penelitian terdahulu. Contohnya, motif keagenan dari cash holding yang menyiratkan bahwa manajer mempunyai ketertarikan untuk menyimpan kas lebih demi kepentingan mereka sendiri dengan mengorbankan Para Pemegang Saham. (Hope & Thomas, 2008; Jensen, 1986; Richardsom, 2006). Adanya “conflict of interest” membuat manajer tidak lagi mementingkan

shareholder dengan meningkatkan nilai Perusahaan. Dittmarr et al (2003) menyimpulkan bahwa perusahaan dengan

masalah keagenan akan sulit dalam menghimpun pembiayaan eksternal dan ini akan menuntut manajer Kembali untuk memiliki saldo kas lebih.

Sejalan dengan motif berjaga-jaga dari kepemilikan kas, hal ini juga menjelaskan bahwa perusahaan memegang kepemilikan kas lebih untuk menghindari kehilangan peluang investasi yang menguntungkan ketika mereka mengalami kekurangan arus kas internal atau ketika akses ke pembiayaan eksternal sulit dan mahal (Bates et al., 2009; Opler et al., 1999). Motif ini menyiratkan bahwa kendala pembiayaan dan volatilitas arus kas perusahaan mempengaruhi kebijakan Kepemilikan kas Perusahaan. Penelitian lainnya mengemukakan bahwa growth opportunity, firm size, cash flow, and

profitability juga mempengaruhi Kepemilikan Kas (Limanta, 2017).

Penelitian terdahulu banyak membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepemilikan kas Perusahaan yang berkaitan dengan teori keagenan dan teori motif berjaga-jaga. Namun ada sebuah konsep yang berkembang yang dapat dihubungkan terhadap Kepemilikan kas perusahaan yaitu organization capital yang merupakan bagian daripada

Intagible Capital. Organization Capital diartikan sebagai aglomerasi praktik bisnis, proses, desain, dan budaya yang

memungkinkan perusahaan menggabungkan keterampilan manusia dan modal fisik secara konsisten dan efisien ke dalam sistem untuk produksi yang efisien (Marwick, Hasan & Luo, 2020).

Studi terbaru menunjukkan bahwa organization capital adalah bagian terbesar dari aset tidak berwujud di Amerika yang memberikan Perusahaan keunggulan kompetitif berkelanjutan sehingga mengarah kepada kinerja yang unggul (Corrado, Hulten, & Sichel, 2009; Eisfeldt & Papanikolaou, 2013 ; Hasan & Cheung, 2018; Li, Qiu, & Shen, 2018). Data menunjukkan pertumbuhan organization capital di Amerika dari tahun 1985 – 2015 sebesar 85%. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan yang menyiratkan pentingnya organization capital pada Perusahaan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif.

(4)

3

Van Rens (2004) mengungkapkan Organization Capital berasal dari karyawan yang melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan produksi di masa depan. Selain itu aspek lainnya dalam organization capital dapat diwujudkan dalam nilai, struktur dan proses bisnis perusahaan (Lev et al,. 2009). Sebagai salah satu bukti bahwa pentingnya organization

capital untuk ditelusuri di Indonesia misalnya seperti pelatihan karyawan yang diadakan setiap bulannya oleh PT

Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) untuk memastikan pertumbuhan kinerja dan pengetahuan karyawan ataupun moto PT Unilever Indonesia dalam sistem operationalnya yaitu “excellent with no compromise on quality” yang menjamin kualitas produk selalu dalam keadaan baik.

Organization Capital yang menjadi bagian terbesar dari Intangible capital menunjukkan pengaruh dalam

peningkatan kinerja Perusahaan Organization capital memampukan perusahaan menciptakan kinerja operasi yang unggul, investasi, dan kinerja inovasi (Lev et al, 2009). Namun disamping bukti empiris mengenai hubungan antara

Intangible capital yang dalam hal ini diwakilkan oleh Organization Capital yang meningkatkan kinerja Perusahaan,

bukti mengenai hubungannya dengan cash holding perusahaan itu sendiri masih dapat dikatakan minim.

Dari beberapa penelitian tersebut, terdapat research gap yang menyatakan hubungan antara Organization

Capital dan Cash Holding. Yang pertama adanya hubungan positif antara Organization Capital dan Cash Holding.

Berdasarkan motif berjaga-jaga dari cash holding, Marwick, Hasan dan Luo (2020) menunjukkan bahwa perusahaan dengan lebih banyak Organization Capital cenderung mengumpulkan lebih banyak uang untuk menghindari pembiayaan eksternal yang mahal, baik untuk mengatasi potensi kekurangan investasi atau untuk menjaga likuiditas yang cukup. Selain itu, Organization Capital yang diinvestasikan melalui pelatihan karyawan yang kemudian akan meningkatkan pengetahuan dan skill akan lebih beresiko ketika terjadi hilangnya pengetahuan dan skill tersebut dan rahasia bisnis perusahaan, yang menyiratkan peningkatan guncangan arus kas yang merugikan yang berasal dari kerugian tersebut (He,2018). Ini akan menyiratkan bahwa Organization Capital meningkatkan volatilitas arus kas masa depan perusahaan, yang akan membutuhkan perusahaan-perusahaan ini untuk memiliki lebih banyak kas, untuk menjaga stabilitas keuangan masa depan dan posisi kompetitif di pasar tenaga kerja. Selanjutnya, peluang pertumbuhan tingkat tinggi bagi perusahaan yang berinvestasi dalam modal organisasi dapat mendorong mereka untuk menyimpan lebih banyak kas untuk menghindari peluang investasi yang menguntungkan sebelumnya.

Berbanding terbalik dengan argumen sebelumya, Marwick, Hasan dan Luo (2020) juga memberikan argumen bahwa adanya hubungan negatif antara Organization Capital dan Cash Holding. Artinya ketika Perusahaan cenderung berinvestasi pada Organization Capital, maka perusahaan akan mengurangi kas nya. Organization Capital memungkinkan perusahaan untuk mencapai produksi yang efisien, operasi dan transaksi bisnis yang stabil, dan kinerja perusahaan yang lebih baik (Lev et al., 2009; Lev & Radhakrishnan, 2005). Kinerja yang stabil dan lebih baik ini mengurangi ketidakpastian arus kas masa depan dan mengurangi insentif untuk menimbun kas dalam jumlah besar di perusahaan dengan tingkat Organization Capital yang tinggi. Selain itu, peningkatan kinerja organisasi dan profitabilitas masa depan juga dapat mengurangi biaya pinjaman yang tinggi dan mengurangi ketidak sempurnaan pasar modal (Attig & Cleary, 2014). Pengurangan kendala keuangan yang dihasilkan dari peningkatan kinerja organisasi dan profitabilitas mengurangi sensitivitas investasi terhadap arus kas internal. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengakses pinjaman bank dengan mudah, menyiratkan bahwa perusahaan perlu menahan lebih sedikit kas.

Penelitian ini berangkat dari bukti bahwa Cash Holding di Amerika dan Indonesia memiliki tren kenaikan yang sama. Kenaikan ini utamanya pada saat Resesi dimana perusahaan mencadangkan lebih banyak kas untuk menghindari krisis. Penelitian mengenai Cash Holding ini menjadi relevan di Indonesia dihubungkan dengan organization capital jika dilihat dari pentingnya organization capital pada perusahaan Indonesia yang dilihat dari berbagai aspek yang telah dijelaskan di atas. Walaupun belum ada penelitian yang secara langsung mengungkapkan mengenai Organization Capital di Indonesia, dapat dikatakan Perusahaan di Indonesia memiliki peluang untuk memaksimalkan Organization Capital melalui sumber daya manusia dalam Perusahaan.

Dengan berdasarkan pada tren kenaikan kas serta prediksi peran penting investasi pada Organization Capital di Indonesia hubungan yang berbeda pada penelitian sebelumnya, Penelitian ini mengambil judul Analisis Hubungan

Organization Capital dan Cash Holding Perusahaan Non Keuangan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2019.

2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan

2. Bagaimana hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan pada perusahaan yang memiliki kendala keuangan

3. Bagaimana hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan pada perusahaan yang memiliki volatilitas arus kas yang tinggi

4. Bagaimana hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan pada perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi

3. Tujuan Penelitian

1. Menganalisis hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan

2. Menganalisis hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan pada perusahaan yang memiliki kendala keuangan

(5)

4

3. Menganalisis hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan pada perusahaan yang memiliki volatilitas arus kas yang tinggi

4. Menganalisis hubungan organization capital terhadap cash holding perusahaan pada perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi

4. Signifikansi Penelitian 1. Signifikansi Akademis:

Penelitian ini dapat bermanfaat di bidang akademis karena penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan

Organization Capital dan pengaruhnya terhadap Cash Holding Perusahaan. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat

menjadi rujukan di penelitian-penelitian yang akan datang baik mengenai variabel organization capital maupun variabel cash holding Perusahaan

2. Signifikansi Praktis

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada Perusahaan dalam membuat kebijakan cash

holding Perusahaan dengan memperhatikan pula organization capital. Selain itu, Hasil Penelitian ini diharapkan

dapat memberikan manfaat kepada investor mengenai posisi organization capital dalam Perusahaan dan pengaruhnya terhadap cash holding Perusahaan sehingga investor dapat melakukan pertimbangan dalam berinvestasi.

5. Teori

a. Organization Capital

Organization capital adalah pengelompokan praktik bisnis, proses, desain dan budaya yang memampukan

perusahaan untuk mengkombinasikan antara kemampuan manusia (Human Skill) dan Modal Fisik (Physical Capital) yang secara konsisten dan efisien berada dalam sebuah sistem produksi. (Luo, Hasan & Marwick,2020). Modal organisasi terdiri dari proses bisnis dan sistem yang memungkinkan sumber daya berwujud dan tidak berwujud menjadi produktif. Dilihat dari definisinya, organization capital merupakan sebuah konsep pengabungan seluruh modal perusahaan, baik aset fisik maupun non fisik, yang menggerakkan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan keunggulan kompetitif. Lev et al., 2009, menjelaskan berbagai aspek yang ada dalam organization capital antara lain

1. Human Capital (Karyawan)

Prescott dan Visscher (1980) menganggap bahwa perusahaan merupakan sekumpulan karyawan yang memiliki pengetahuan akan informasi yang ada di dalam organisasi yang kemudian disebut sebagai

organization capital.

2. Komitmen terhadap Nilai dan Norma

Tomer (1998) menganggap organization capital sebagai kesesuaian antara nilai dan norma perusahaan dengan karyawan serta komitmen untuk melanjutkan dan mematuhi nilai dan norma tersebut. Nilai dan norma perusahaan terwujud dalam Budaya Perusahaan. Jovanovic dan Rousseau (2001) menganggap

organization capital termasuk visi, nilai, komitmen pendiri terhadap nilai dan aset tidak berwujud ataupun

aset fisik.

3. Pengetahuan spesifik Perusahaan

Atkeson dan Kehoe (2005) mendefinisikan bahwa organization capital merupakan akumulasi dari pengetahuan spesifik perusahaan. Smenganggap organization capital merupakan komponen dari

intellectual capital dan berbeda dari human capital dan social capital. Modal organisasi merupakan

pengetahuan yang dikodifikasikan, yaitu pengetahuan yang dihasilkan dalam perusahaan melalui proses integrasi pengetahuan yang kemudian digunakan karyawan dalam organisasi.

4. Struktur dan Proses

Evenson dan Westphalia (1995) mendefinisikan organization capital sebagai, “… .pengetahuan yang digunakan untuk menggabungkan keterampilan manusia dan modal fisik ke dalam sistem untuk memproduksi dan memberikan produk yang memuaskan keinginan. " Definisi ini luas karena mencakup pengetahuan terkumpul dan yang diperlukan untuk mengubah sumber daya menjadi produk atau layanan yang meningkatkan nilai. Teori ini menekankan lebih kepada aspek proses dalam organization capital. Selanjutnya, Teece et al. (1997) memperkenalkan pandangan berbasis sumber daya ke organization capital dengan menekankan kapabilitas perusahaan dalam hal struktur organisasi dan proses manajerial yang menopang aktivitas produktif.

b. Cash Holding

Cash Holding didefinisikan sebagai kas yang dimiliki perusahaan yang berada di “tangan” (on hand) atau tersedia

untuk investasi dalam aset fisik dan mendistribusikannya kepada investor. Kas dapat dikategorikan sebagai aset yang paling lancar dari seluruh aset perusahaan dan dapat dikatan sebagai ukuran perusahaan mampu atau tidaknya dalam membayar seluruh kewajiban persahaan (Gill dan Shah, 2012). Dalam literatur ekonomi dan keuangan dijelaskan ada empat hal yang menjadi motif perusahaan memegang kas antara lain:

1. Motif Transaksi

Berdasarkan motif ini, alasan perusahaan memegang kas adalah perusahaan membutuhkan aset likuid untuk melakukan transaksi perorangan maupun bisnis atau memenuhi pembayaran, seperti pembelian barang baku, upah pegawai, beban pajak, ataupun dividen.

(6)

5 2. Motif spekulatif

Motif spekulatif adalah kebutuhan untuk menyimpan uang tunai agar dapat mengambil keuntungan dari, tawar-menawar pembelian yang mungkin timbul, suku bunga yang menarik, dan fluktuasi nilai tukar yang menguntungkan.

3. Motif Berjaga-jaga

Motif berjaga-jaga dalam cash holding perusahaan bertujuan untuk bertahan jika ada adverse shock pada saat ada kendala saat akses pembiayaan eksternal. Menurut Bates (2009), perusahaan lebih banyak memegang kas dengan tujuan berjaga-jaga ketika ada suatu gangguan seperti akses terhadap pasar modal terbatas. Apabila akses ke pasar modal terbatas, maka perusahaan cenderung melakukan pembiayaan melalui kas internal perusahaan.

4. Motif Agensi

Motif agensi dalam memegang kas menyiratkan bahwa manajer yang mempunyai wewenang akan cenderung meningkatkan kas daripada meningkatkan pembayaran dividen kepada shareholders saat perusahaan mempunyai peluang investasi yang rendah (Jensen,1986).

c. Kendala Keuangan (Financing Contraint)

Kendala Keuangan (Financing Contraint) adalah keterbatasan perusahaan dalam menghimpun sumber-sumber dana yang tersedia untuk berinvestasi. Kendala Keuangan (Financing Contraint) terjadi apabila ada perbedaan antara sumber pembiyaan internal dengan pembiayaan eksternalnya. Dalam konsep ini, perusahaan dibagi menjadi Perusahaan Financial

Constraint (FC) dan Perusahaan Non Financial Constrain (NFC). Perusahaan NFC cenderung lebih memiliki sumber

pembiyaan yang berasal dari eksternal perusahaan dibanding Perusahaan FC sehingga dapat dikatakan Perusahaan FC adalah perusahaan yang memiliki kendala dalam menghimpun dana dari pembiayaan eksternal sehingga diasumsikan Perusahaan FC mengandalkan pembiyaan internal sebagai modal perusahaan.

Dalam mengukur Kendala Keuangan (Financing Contraint), penelitian ini menggunakan model Hidayat (2010), dimana untuk mengukur Kendala Keuangan (Financing Contraint) dengan melihat kebijakan dividen, posisi aliran kas, proksi kesempatan investasi (B/M ratio) serta hutang perusahaan. Perusahaan dikategorikan NFC apabila perusahaan membayar dividen, nilai kas yang tinggi, B/M ratio yang rendah dan hutang yang rendah. Perusahaan dikategorikan FC apabila perusahaan tidak membayar dividen, nilai kas yang rendah, B/M ratio yang tinggi dan hutang yang tinggi. 6. Hipotesis

H1: Adanya hubungan positif antara organization capital dan cash holding perusahaan

H2: Hubungan positif antara organization capital dan cash holding perusahaan lebih kuat pada perusahaan yang memiliki kendala keuangan

H3: Hubungan positif antara organization capital dan cash holding perusahaan lebih kuat pada perusahaan yang memiliki volatilitas arus kas yang tinggi

H4: Hubungan positif antara organization capital dan cash holding perusahaan lebih kuat pada perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi

Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Teori yang digunakan akan menganalisis suatu variabel. Penelitian ini dimulai dari membahas mengenai Organization Capital dan melihat bagaimana hubungannya dengan Cash Holding Perusahaan.

2. Jenis Penelitian

a. Berdasarkan tujuan penelitian, jenis penelitian ini termasuk dalam Penelitian Eksplanatif. Dalam penelitian ini bertujuan untuk meneliti mengenai hubungan antara organization capital dan cash holding berdasarkan teori motif berjaga-jaga dari cash holding

b. Berdasarkan manfaat penelitian, jenis penelitian ini termasuk dalam Penelitian Murni. c. Berdasarkan waktu penelitian, jenis penelitian ini termasuk dalam Penelitian cross sectional.

d. Teknik pengumpulan data, jenis penlitian ini termasuk dalam penelitian existing data statistic. Disebut penelitian

existing data statistic karena penelitian ini menggunakan laporan keuangan perusahaan dan laporan lain dalam

menganalisis data. 3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah Perusahaan Non Keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009 – 2019 yaitu ada sekitar 333 Perusahaan. Metode penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive samping dimana sampel dipilih berdasarkan kriteria yang ditentukan. Adapun Kriteria sampel yang digunakan pada peneltian ini adalah

1. Perusahaan Publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan bukan merupakan Perusahaan yang berada pada sektor Keuangan

(7)

6

2. Perusahaan Publik yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia selama periode 2009 – 2019

3. Perusahaan Publik yang mempunyai laporan keuangan tahunan (annual report) yang lengkap, diaudit dan telah dipublikasikan selama periode 2009 – 2019

4. Perusahaan yang tidak menghentikan aktivitasnya di pasar modal dan tidak mengehentikan operasi selama kurun waktu 2009 – 2019

4. Variabel Penelitian

a. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Berdasarkan penelitian terdahulu penelitian ini menggunakan rasio dari kas dan surat berharga terhadap total ases sebagai pengukuran utama dari variabel cash holding.

𝐶𝑎𝑠ℎ 𝐻𝑜𝑙𝑑𝑖𝑛𝑔 = 𝐶𝑎𝑠ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 b. Variabel Bebas (Independent Variable)

Pengukuran variabel organization capital menggunakan model Peters dan Taylor (2017), dimana untuk mengukur modal organisasi dilihat dari akumulasi sebagian kecil dari pengeluaran SG&A masa lalu dengan menggunakan metode persediaan perpetual sebagai berikut:

OCi,t = (1 – δ0 ) OCi,t-1 + (SG&Ai,t X θ0) Dimana:

OCi,t = Organization Capital Perusahaan i pada waktu t δ0 = Tingkat Depresiasi Organization Capital SG&Ai,t = Biaya SG&A Perusahaan i pada waktu t

θ0 = Persentase pengeluaran SG&A yang diinvestasikan ke modal organisasi

Teori dibalik pengukuran ini adalah bahwa Sebagian dari pengeluaran SG&A diinvestasikan ke dalam

organization capital melalui pelatihan karyawan, iklan atau pembayaran jasa konsultan. Eisfeldt dan

Papanikolaou, (2013) mengemukakan gagasan bahwa sebagian besar pengeluaran SG&A diinvestasikan ke dalam tenaga kerja dan teknologi informasi. Peters dan Taylor (2017) juga berpendapat bahwa pelatihan karyawan, yang bertujuan untuk untuk memperkuat modal manusia (human capital), dan iklan, yang bertujuan untuk membangun modal merek (brand capital), merupakan beban umum atau administrasi yang terkandung dalam SG&A.

Berdasarkan penelitian terdahulu, penelitian ini memasukkan Persentase pengeluaran SG&A yang diinvestasikan ke modal organisasi adalah sebesar 30%. Untuk nilai daripada tingkat depresiasi pengeluaran SG&A mengikuti nilai dari Peter dan Taylor (2017), yaitu sebesar 20%.

Selanjutnya, skala organization capital diukur berdasarkan: Organization Capital

Total Asset

c. Variabel Kontrol Variabel

Kontrol Definisi/Pengukuran

SIZE Natural Log dari nilai pasar perusahaan (PRCC_F * CSHO)

LN(MB)

Natural Log dari market-to-book value, diukur dari

Total Aset – Kas/Surat Berharga Total Ekuitas Biasa (Common Equity)

LEVERAGE

Leverage, diukur berdasarkan

Total Debt

Total Asset

R&D

Biaya Penelitian dan Pengembangan, dihitung berdasarkan: R&D Expense

Total Assets

CAPEX

Belanja Modal, dihitung berdasarkan

Capital Expenditure

Total Assets

(8)

7

Current Asset – Current Liabilities – Cash/Marketable Securities

Total Assets

DIVIDEND Variabel dummy diberi nilai 1 jika perusahaan membayar dividen pada tahun berjalan, 0 jika perusahaan tidak membayar.

CFO

Arus kas, dihitung berdasarkan:

Income before extraordinary items – common dividens Total Assets

CFO-VOL Volatilitas Arus kas, dihitung berdasarkan standar deviasi pergerakan arus kas lima tahun

5. Model Penelitian

Cashi,t = αo + β1OCi,t + β2Sizei,t + β3LN(MB)i,t + β4LEVERAGEi,t + β5R&Di,t + β6CAPEXi,t + β7NWCi,t +

β8DIVIDENDi,t + β9CFOi,t + β10CFO_VOLi,t + ɛi,t

Dimana:

Cashi,t = Kepemilikan Kas Perusahaan tahun t

αo = konstanta

OC = Organization Capital Tahun t Sizei,t = Ukuran Perusahaan Tahun t

LN(MB)i,t = Rasio Nilai Pasar terhadap Nilai Buku Perusahaan tahun t LEVERAGEi,t = Tingkat Leverage Perusahaan tahun t

R&Di,t = Rasio Beban R&D terhadap total assets perusahaan tahun t CAPEXi,t = Rasio capital expenditure terhadap total assets perusahaan tahun t NWCi,t = Modal kerja bersih perusahaan tahun t

CFOi,t = Tingkat arus kas perusahaan tahun t CFO_VOLi,t = volatilitas arus kas perusahaan tahun t ɛ = error term

6. Metode Analisis Data a. Analisis Deskriptif

Dalam penelitian ini disajikan tabel deskripsi data yang berisikan rata-rata, nilai tengah, nilai minimum, nilai maksimum, serta standar deviasi dari tiap variabel penelitian

b. Analisis Univariat

Analisis univariat dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan dalam nilai rata-rata dari variabel antara organization capital yang tinggi maupun organization capital yang rendah.

c. Analisis Korelasi

Analisis Korelasi merupakan analisis statistik yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan 2 variabel serta mengetahui bentuk hubungan diantaranya. Untuk melihat hubungan 2 variabel, dependen dan inpenden, dalam penelitian ini menggunakan koefisien korelasi Pearson. Dalam asumsi korelasi Pearson, data harus berdistribusi normal. Hubungan dapat bersifat searah (positif) atau berlawanan (negatif).

d. Regresi Data Panel

e. Pengujian Metode Penelitian:

Ada tiga uji untuk memilih teknik estimasi data panel. Pertama, uji statistik F digunakan untuk memilih antara metode Pooled Least Square (PLS) atau metode Fixed Effect (FE). Kedua, uji Hausman yang digunakan untuk memilih antara metode Fixed Effect (FE) atau metode Random Effect (RE). Ketiga, uji Lagrange Multiplier (LM) digunakan untuk memilih antara metode Pooled Least Square (PLS) atau metode Random Effect (RE). f. Uji Asumsi Klasik

Pada model regresi linear, kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) sering kali tidak dapat dipenuhi Untuk mengidentifikasi peremasalah-permasahan tersebut maka dilakukan serangkaian pengujian yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi, dan uji normalitas

g. Pengujian Hipotesis

Dalam melakukan pengujian hipotesis, penelitian ini menggunakan koefisien determinasi (R2), pengujian parsial (t-stat), dan pengujian global (F-stat)

(9)

8

DAFTAR PUSTAKA

Acharya, Almeida, dan Campello. (2007). Is cash negative debt? A hedging perspective on corporate financial policies. Journal of Financial Intermediation, 2007, vol. 16, issue 4, 515-554

Almeida H, Campello M, Weisbach. (2004). The cash flow sensitivity of cash. Journal of Finance, 59 (4) (2004), pp. 1777-1804

Ardiprawiro. (2015). Dasar Manajemen Keuangan, Jakarta : Universitas Gunadarma

Aruperes, Dinny (2018). Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Karyawan PT Indofoof CBP Sukses Makmur Tbk. Jurnal EMBA Vol.6 No.4 September 2018, Hal. 3088 – 3097 Atkeson, Andrew & Kehoe, Patrick. (2005). Modeling and Measuring Organization Capital. Journal of Political

Economy. 113. 1026-1053. 10.1086/431289. Cabello-Medina (2010)

Attig, N dan Cleary, S. (2014). Organizational capital and investment-cash flow sensitivity: The effect of management

quality practices. Financial Management, 43 (3) (2014), pp. 473-504

Bates, Kahle, dan Stulz. (2009). Why do U.S. firms hold so much more cash than they used to?. Journal of Finance, 64 (5) (2009), pp. 1985-2021

Bloom Nicholas dan Van John. (2007). Measuring and Explaining Management Practices Across Firms and Countries. The Quarterly Journal of Economics, Volume 122, Issue 4, November 2007, Pages 1351–1408,

Carlin Bruce, Chowdhry Bhagwan, dan Garmaise Mark. (2012). Investment in Organization Capital. Journal of Financial Intermediation, 2012, vol. 21, issue 2, 268-286.

Corrado, C., Hulten, C., & Sichel, D. (2009). Intangible capital and U.S. economic growth. Review of Income and Wealth, 55(3), 661–685.

Dittmar dan Mahrt-Smith. (2007). A. Dittmar, J. Mahrt-Smith, H. Servaes International corporate governance and

corporate cash holdings. Journal of Financial and Quantitative Analysis, 38 (1) (2003), pp. 111-133

Dittmar, A., Mahrt-Smith, J., & Servaes, H. (2003). International corporate governance and corporate cash holdings.

Journal of Financial and Quantitative Analysis, 38(1), 111–133.

Dittmar, A., Mahrt-Smith, J., & Servaes, H. (2003). International corporate governance and corporate cash holdings. Journal of Financial and Quantitative Analysis, 38(1), 111–133.

Dittmar, Servaes dan Smith. (2003). International corporate governance and corporate cash holding. Journal of Financial and Quantitative Analysis, 38 (1) (2003), pp. 111-133

Eisfeldt and Papanikolaou. (2013). Organization capital and the cross-section of expected returns. The Journal of Finance, 68 (4) (2013), pp. 1365-1406

Eisfeldt, A. L., & Papanikolaou, D. (2014). The value and ownership of intangible capital. American Economic Review,

104(5), 189–194.

Ferreira , Miguel dan Vilela, Antonio. (2004). Why Do Firms Hold Cash? Evidence from EMU Countries. European Financial Management, Vol. 10, No. 2, 2004, 295–319

Foley, Hartzell, Titman, dan Twite. (2007). Why do firms hold so much cash? A tax-based explanation. Journal of Financial Economics, 86 (3) (2007), pp. 579-607

Gao, H., Harford, J., & Li, K. (2013). Determinants of corporate cash policy: Insights from private firms. Journal of Financial Economics, 109(3), 623–639

Gill, A., & Shah, C. (2012). Determinants of corporate cash holdings: Evidence from Canada. International Journal of

Economics and Finance, 4(1), 70-79.

Gujarati,Damodar N dan Dawn C. Porter. (2012) . Dasar–dasar Ekonometrika. Jakarta: Salemba Empat.

Han and Qiu, (2007). Corporate precautionary cash holdings. Journal of Corporate Finance, 13 (1) (2007), pp. 43-57 Harford, Mansi, dan Maxwell. (2008). Corporate governance and firm cash holdings in the US. Journal of Financial

Economics, 87 (3) (2008), pp. 535-555

Harnelly, Effi. (2013). Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Cash Holding: Studi Empiris Perusahaan

(10)

9

Hasan, M. M., & Cheung, A. (2018). Organization capital and firm life cycle. Journal of Corporate Finance, 48(1), 556– 578.

He and Wintoki. (2016). The cost of innovation: R&D and high cash holdings in U.S. firms. Journal of Corporate Finance, 41 (2016), pp. 280-303

Hidayat, Riskin., Wahyudi Sugeng dan Muharam Harjun. (2018). Sensitivity of Liquidity, Investment Decision, and

Financial Constraints. Indonesian Capital Market Review 10 (2018) 37-48

Hope, O., & Thomas, W. B. (2008). Managerial empire building and firm disclosure. Journal of Accounting Research, 46(3), 591–626

Jensen, M. C. (1986). Agency costs of free cash flow, corporate finance, and takeovers. The American Economic Review, 76(2), 323–329

Jensen, M.C. (1986). Agency costs of free cash flow, corporate finance, and takeovers. The American Economic Review, 76 (2) (1986), pp. 323-329

Jensen, Michael C. & Meckling, William H. (1976). Theory of The Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and

Ownership Strucutre. Journal of Financial Economics 3 (1976) 305-360

Jinkar, Rebecca. (2012). Analisis Faktor-Faktor Penentu Kebijakan Cash Holding Perusahaan Manufaktur di Indonesia. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Journal of Financial Economics, 102(1), 183–198

Jovanovic Boyan dan Rousseau Peter. (2001). Vintage Organization Capital. No 8166, NBER Working Papers from National Bureau of Economic Research, Inc

Keynes, J.m. (1936). The general theory of employment, interest, and money. Macmillan Cambridge, New York (1936) Khabbani, Titi. (2013). Pengaruh Expected Return Terhadap Kebijakan Cash Holding. Fakultas Ekonomi Universitas

Indonesia.

Le, Duc Hoang., Tran, Phi Long. (2018). Determinants of corporate cash holding: Evidence from UK listed firms. Business and Economic Horizons Volume 14 Issue 3 2018,. pp.561-569

Lev, B., Radhakrishnan, S., & Zhang, W. (2009). Organization Capital. Abacus, 45(3), 275–298.

Lev, Radhakrishnan & Evans. (2016). Organization Capital: A CEO’s Guide to Measuring and Managing Enterprise

Intangibles. The Centre for Global Enterprise.

Liu, Y., & Mauer, D. C. (2011). Corporate cash holdings and CEO compensation incentives. Journal of Financial and Quantitative Analysis, 53 (4) (2018), pp. 1871-1909

Marwick, Hasan & Luo. (2020). Organization Capital and Corporate Cash Holdings. International Review of Financial Analysis 68 (2020)

Myers, S. and Majluf, N. (1984). ‘Corporate financing and investment decisions when firms have information that

investors do not have’, Journal of Financial Economics, Vol. 13, 1984, pp. 187–221.

Neuman, W. (2014) Social Research Methods Qualitative and Quantitative Approaches. Pearson, Essex, UK.Peters dan Taylor (2017)

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Brooks (2008

Opler, T., Pinkowitz, L., Stulz, R. M., & Williamson, R. (1999). The determinants and implications of corporate cash

holdings. Journal of Financial Economics, 52(1), 3–46.

Opler, T., Pinkowitz, L., Stulz, R. M., & Williamson, R. (1999). The determinants and implications of corporate cash

holdings. Journal of Financial Economics, 52(1), 3–46.

Organizational Capital and Investment-Cash Flow Sensitivity: The Effect of Management Quality Practices (2014)

Prescott Edward dan Visscher Michael. (1980). Organization Capital. Journal of Political Economy, 1980, vol. 88, issue 3, 446-61

Rens, Van. (2004). Organizational capital and employment fluctuations. Universitat Pompeu Fabra. Richardson, S. (2006). Over-Investment of free cash flow. Review of Accounting Studies, 11(2), 159–189.

(11)

10

Riddick dan Whited. (2009). The Corporate Propensity to Save. Journal of Finance, 2009, vol. 64, issue 4, 1729-1766 Saddour, K. (2006). The determinants and the value of cash holdings: Evidence from French firms. CEREG, 1-33. A. Ozkan, N. Ozkan. (2004). Corporate cash holdings: An empirical investigation of UK companies. Journal of Banking

and Finance, 28 (9) (2004), pp. 2103-2134Almeida et al., 2004; Minton & Schrand, 1999).

Sitompul, Arnold. (2015). Pengaruh Kepemilikan Keluarga dan Karakteristik Perusahaan Terhadap Kebijakan Cash

Holding Perusahaan Non-Keuangan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Song, K., & Lee, Y. (2012). Long-term effects of a financial crisis: Evidence from cash holdingss of East Asian firms. Journal of Financial and Quantitative Analysis, 47 (3), 617 - 641

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Administratif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sutrisno & Gumanti. (2016). Pengaruh Krisis Keuangan Global dan Karakteristik Perusahaan Terhadap Cash

Holding Perusahaan di Indonesia. Jurnal Siasat Bisnis, 20(2), 130-142.

Teece, D. J., Pisano, G., & Shuen, A. (1997). Dynamic Capabilities and strategic management. Strategic Management Journal, 509-533.

Tomer, John. (1998). Organizational Capital and Joining-up: Linking the Individual to the Organization and to Society. Journal of Human Relation Vol 51, Issue 6, 1998.

Van Rens, Thijs (2004), “Organizational Capital and Employment Fluctuations,” Universitat Pompeu Fabra - Economics Working Papers 944

Wang, Hui (2016). An Introduction on the Role of Organization Capital for the Enterprise’s Endogenous Growth. Journal of Service Science and Management, 9, 233-237

Wiragalih, Airlangga. 2016. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kepemilikan Kas (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2013 ). Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Universitas Diponegoro.

Wright, P. M., Dunford, B. B., & Snell, S. A. (2001). Human resources and the resource-based view of the firm. Journal of Management.

Youndt, M., Subramaniam, M., & Snell, S. (2004). Intellectual capital profiles: An examination of investments and

(12)

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PENGUNGKAPAN INFORMASI INTELLECTUAL CAPITAL

PADA PROSPEKTUS IPO TERHADAP UNDERPRICING SAHAM, STUDI

PADA PERUSAHAAN YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2015-2019

SKRIPSI

Disusun oleh:

PUTI ADILLA GHASSANI

1706079090

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NIAGA

DEPOK

(13)

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Sebagai entitas yang memiliki tujuan mencari keuntungan, suatu perusahaan akan melakukan berbagai hal untuk mengembangkan bisnis perusahaannya dan tumbuh menjadi perusahaan dengan nilai yang besar. Tentunya hal tersebut tidak terjadi dalam waktu yang singkat, berbagai cara perlu dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, seperti dengan melakukan ekspansi perusahaan. Untuk mewujudkan hal ini, perusahaan memerlukan modal tambahan yang dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui penerbitan sekuritas seperti penerbitan saham baru ke publik. Untuk menjadi perusahaan terbuka yang bisa mendapatkan modal dari publik melalui penerbitan saham, perusahaan perlu melakukan Initial Public Offering atau IPO terlebih dahulu. IPO atau yang dikenal juga sebagai penawaran umum perdana merupakan tindakan perusahaan (yang kemudian disebut emiten) untuk mendapatkan pendanaan dalam bentuk saham. Pendanaan ini dilakukan dengan menjual saham untuk pertama kalinya di bursa efek oleh emiten kepada publik atau masyarakat umum melalui proses go public. Perusahaan yang melakukan IPO dapat menerima modal tambahan untuk mengekspansi bisnisnya.

Ketika perusahaan melakukan IPO, terdapat fenomena yang mungkin terjadi pada pengembalian saham pada hari pertama di busa efek. Pengembalian saham pada IPO ini bisa jadi mengalami kondisi yang dikenal dengan underpricing dan overpricing. Underpricing adalah fenomena ketika harga penawaran di pasar perdana lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan hari pertama penjualan di pasar sekunder, dan kondisi sebaliknya ketika harga penawaran lebih tinggi dibandingkan dengan harga penutupannya di hari pertama penjualan disebut overpricing. Bagi emiten yang menjual sahamnya, konidisi underpricing menjadi merugikan karena ketika perusahaan mengalami underpricing, hal ini berarti penyerapan dana dari penjualan saham tidak maksimal. Perusahaan seharusnya bisa mendapatkan penerimaan modal lebih banyak dengan menjual saham pada harga yang lebih tinggi. Sebaliknya, bagi investor, kondisi underpricing ini menjadi menguntungkan karena hal ini berarti investor mendapatkan initial return yang lebih besar. Oleh karena itu, suatu emiten menginginkan agar terjadinya underpricing dapat diminimalisir, karena underpricing dapat mengakibatkan perpindahan kemakmuran dari pemili perusahaan kepada investor (Beatty, 1989).

Fenomena terjadinya underpricing bukanlah fenomena asing dalam penawaran saham perdana (Loughran, 1994). Dari teori-teori yang ada, teori mengenai informasi asimetris merupakan teori yang paling dikenal untuk mengidentifikasi fenomena underpricing (Lowry & Shu, 2002). Loughran & Ritter (2004) mengenai agency theory, mengindikasikan pada hasil penelitianya bahwa alasan yang mendasari terjadinya underpricing tersebut adalah karena adanya asimetri informasi. Asimetri informasi ini merupakan kondisi yang terjadi ketika ada pihak yang mempunyai informasi lebih dibandingkan dengan pihak yang lain, sehingga terjadilah kesenjangan informasi atau information gap. Kesenjangan informasi antara satu pihak dengan yang lainnya inilah yang dikenal sebagai asimetri informasi. Sejalan dengan teori informasi asimetri, Schrand dan Verrechia (2005) dengan penelitian mengenai pengungkapan informasi pada prospektus IPO menemukan bahwa pengungkapan informasi dapat mengurangi underpricing. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa informasi yang diungkapkan perlu menjadi informatif. Pengungkapan mengenai informasi keungan maupun non-keuangan melalui IPO dianggap berpotensi untuk mengurangi informasi asimetris. Hal ini dianggap efektif ketika pengungkapan informasi tambahan tersebut dapat berkontribusi pada information gap antara investor dan emiten.

Salah satu pengunkapan informasi nonkeuangan yang dianggap dapat mengurangi informasi asimetris yang masih bisa dieksplor lebih jauh adalah pengungkapan intellectual capital. Intellectual capital (IC) dianggap sebagai sumber daya tak berwujud yang diyakini dapat memberikan tambahan nilai dan keunggulan kompetitif bagi perusahaan, khususnya pada era bisnis modern seperti saat ini (Bontis, 2000), sehingga intellectual capital mencakup berbagai elemen tidak berwujud yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Tidak semua sumber daya tidak berwujud diakui dalam laporan keuangan karena aturan akuntansi yang membatasi pengakuan aset pada neraca keuangan. Akan tetapi, keputusan yang tepat tidak dapat diambil oleh stakeholder apabila mereka tidak memiliki informasi tambahan mengenai perusahaan. Dengan demikian, pengungkapan informasi mengenai IC menjadi seharusnya diungkapkan pada saat perusahaan melakukan IPO melalui prospektus IPO, karena informasi mengenai IC tidak terungkap pada laporan keuangan dan informasi tersebut penting sebagai penilaian perusahaan yang dapat diandalkan (Alcaniz et al, 2016). Selain itu, Guo, Lev, & Zhou (2004) menyarankan untuk fokus pada jenis informasi ini untuk menjawab pertanyaan investor mengenai perusahaan dan membantu mereka menilai keunggulan kompetitif perusahaan dan penciptaan nilai perusahaan di masa depan.

Friedlan (1993) dalam penelitiannya juga menjelaskan bahwa underpricing akan berkurang ketika informasi yang ada pada prospektus lebih banyak. Jog dan McConomy (2003) mendukung teori ini melalui penelitiannya yang mana ditemukan bahwa jika manajemen secara sukarela mengungkapkan informasi dalam prospektus, rata-rata underpricing akan lebih rendah. Schrand dan Verrechia (2004) juga melakukan penelitian mengenai hubungan antara level pengungkapan pada periode sebelum IPO dengan underpricing, yang mana keduanya menunjukkan hubungan negatif. Berkaitan dengan teori mengenai informasi asimetris dan dari hasil penelitian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengungkapan informasi mengenai intellectual capital pada prospektus IPO juga menjadi penting untuk dipertimbangkan oleh perusahaan yang ingin melakukan IPO. Selain itu, informasi ini tidak diungkap dalam laporan keuangan, tetapi tetap menjadi informasi penting bagi investor sebagai penilaian perusahaan yang dapat diungkapkan pada prospektus IPO, yang merupakan dokumen mengenai data perusahaan go public untuk calon investor ketika investor ingin membeli saham perusahaan pemilik prospektus tersebut. Data perusahaan yang dicatat pada prospektus IPO ini tidak terbatas pada informasi finansial, tetapi terdapat juga informasi nonfinansial yang dapat membantu investor dalam memberi penilaian kepada perusahaan.

(14)

Mouritsen et al (2001) menjelaskan pengungkapan intellectual capital sebagai cara untuk mengungkapkan gambaran aktivitas perusahaan yang kredibel, kohesif, serta fair and true. Pengungkapan intellectual capital ini dianggap sebagai bentuk pengkomunikasian informasi untuk stakeholder, baik internal maupun eksternal. Pengungkapan ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap nilai perusahaan. Bukh et al (2005) menjelaskan mengenai intellectual capital dengan membaginya ke dalam tiga komponen, yaitu human capital, structure capital, dan relational capital. Selain itu, Bukh et al juga mengatakan bahwa laporan intellectual capital dalam prakteknya mengandung informasi finansial dan non-finansial seperti perputaran karyawan, kepuasan kerja, kepuasan pelanggan, dan lain-lain. Pengungkapan intellectual capital dianggap dapat mempengaruhi undepricing karena di dalamnya mencakup informasi yang dapat berguna bagi stakeholder dan tujuan dilakukannya adalah untuk penciptaan nilai perusahaan. Informasi yang disediakan ini dianggap dapat mengurangi asimetri informasi, yang mana asimetri informasi ini dapat mempengaruhih underpricing. Dengan demikian, pengungkapan informasi mengenai intellectual capital menjadi penting untuk dipertimbangkan karena dianggap dapat mengurangi terjadinya underpricing.

Penelitian lebih lanjut yang membahas pengaruh pengungkapan intellectual capital terhadap underpricing sebelumnya pernah dilakukan oleh Singh & Zahn (2007) yang melakukan penelitian terkait hubungan antara underpricing dan pengungkapan informasi intellectual capital pada perusahaan IPO di Singapura. Singh & Zahn berpendapat bahwa dalam bisnis modern yang berabsis pengetahuan, intellectual capital dianggap sebagai penentu dan pencipta nilai daya saing perusahaan, sehingga pengungkapan intellectual capital pada IPO sebagai determinan yang mengurangi asimetri informasi menjadi relevan. Hasil dari penelitian ini ternyata bertentangan dengan prediksi teoritis dan penelitian sebelumnya, yang mana menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara underpricing dan pengungkapan intellectual capital. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa masalah informasi asimetris yang berkaitan dengan intellectual capital bukan menjadi penentu underpricing pada IPO di Singapura. Namun, informasi intellectual capital dapat digunakan oleh issuer sebagai sinyal untuk potensi kekayaan perusahaan di masa depan atau sebagai alat yang digunakan sebagai pelengkap strategi underpricing. Akan tetapi, berbeda dengan Singh & Zahn, penelitian mengenai pengungkapan informasi intellectual capital dan undepricing pada IPO juga dilakukan oleh Too & Yusoff (2015) yang mana hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pengaruhnya rendah, apabila pengungkapan informasi intellectual capital lebih besar, maka kemungkinan berkurangnya level underpricing akan lebih besar.

Alcaniz, Gomez-Bezares, dan Ugarte pada tahun 2016 yang dilakukan pada 56 perusahaan di Spanyol. Penelitian ini menganalisis bagaimana efisiensi pasar ketika IPO dengan mempertimbangkan teori informasi asimetris, khususnya pengaruh pengungkapan informasi intellectual capital pada prospektus IPO terhadap underpricing. Berdasarkan penelitian ini, mengacu pada teori efisiensi pasar, informasi publik harus dimasukan pada saat penawaran harga penawaran, sehingga tidak berpengaruh pada pengembalian di hari pertama. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi pasar IPO di Spanyol pada periode penelitian adalah berbentuk semi-strong, yang berarti pengungkapan informasi mengenai intellectual capital yang tersedia pada prospektus IPO dapat mengurangi adanya informasi asimetris antara investor dan emiten, akan tetapi tida mempengaruhi undepricing karena informasi mengenai intellectual capital telah diungkapkan ketika harga penawaran telah ditetapkan. Terdapat variabel yang memiliki nilai signifikan ketika di teliti pengaruhnya terhadap underpricing, seperti human capital yang merupakan bagian dari intellectual capital dan reputasi ukuran perusahaan. Akan tetapi, faktor variabel yang sebenarnya mempengaruhi underpricing adalah ukuran perusahaan. Adanya perbedaan antara prediksi teoritis dan penelitian sebelumnya serta inkonsistensi hasil penelitian membuat topik mengenai pengaruh pengungkapan informasi intellectual capital pada prospektus IPO menjadi menarik untuk di eksplor lebih jauh.

Di Indonesia, intellectual capital atau modal intelektual mulai berkembang dengan munculnya PSAK Nomor 19 mengenai aset tak berwujud. Pengungkapan mengenai informasi intellectual capital pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat diakses oleh publik dengan melihat laporan perusahaan atau prospektus IPO yang disediakan oleh IDX. Selain itu, perusahaan yang melakukan IPO di Indonesia juga cenderung meningkat setiap tahunnya selama 3 tahun terakhir. Tercatat pada tahun 2017, sebanyak 35, tahun 2018 sebanyak 54, dan tahun 2019 sebanyak 55 perusahaan melakukan IPO di Busa Efek Indonesia dan hingga bulan September 2020, sebanyak 46 perusahaan telah melakukan IPO (IDX). Berdasarkan hasil penelitian Gumanti & Alkaf (2011), dan Widarjo dan Bandi (2018), level underpricing di Indonesia relatif tinggi dengan nilai 22 persen hingga 29 persen pada periode 2011-2014 apabila dibandingkan dengan negara lain di Asia Pasifik, Amerika Latin, dan Eropa. Banyaknya perusahaan yang melakukan IPO di Indonesia setiap tahunnya dengan level underpricing yang relatif tinggi ini menjadi alasan bagi penulis untuk meneliti lebih jauh mengenai apakah di Indonesia, underpricing yang terjadi memiliki hubungan dengan pengungkapan informasi intellectual capital pada prospektus IPO, dan bagaimana hubungan antara keduanya.

Salah satu perusahaan di Indonesia yang mengalami underpricing adalah PT Grand House Mulia Tbk yang melakukan penawaran umum perdana pada 10 September 2020. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang real estate dan penyediaan akomodasi ini membuka harga penawarannya dengan nilai Rp380 dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp59.850.000.000 pada hari penawaran perdana. Pada hari pertama penutupan, PT Grand House Mulia Tbk dengan nama emiten HOMI menutup saham dengan harga Rp474. Penutupan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga penawarannya di hari pertama menandakan bahwa perusahaan mengalami underpricing pada hari penawaran perdananya. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena underpricing terjadi pada perusahaan di Indonesia. Lebih jauh, penelitian ini akan melihat apakah IPO di Indonesia pada periode penelitian mengalami underpricing.

(15)

Mengacu pada penelitian oleh Alcaniz, Gomez-Bezares, dan Ugarte (2016) yang melakukan penelitian pada perusahaan IPO di Spanyol, penulis juga akan meneliti bagaimana efesiensi pasar pada saat IPO berdasarkan pengaruh pengungkapan intellectual capital pada prospektus IPO dengan underpricing. Di Indonesia, penelitian mengenai hal ini masih terbatas, sehingga penulis ingin meneliti lebih jauh mengenai hubungan pengungkapan informasi intellectual capital terhadap underpricing perusahaan yang melakukan IPO di Indonesia. Dengan demikian, melihat adanya hasil yang tidak konsisten mengenai permasalahan pengungkapan informasi intellectual capital pada prospektus IPO dengan underpricing pada IPO, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang “Bagaimana pengaruh pengungkapan informasi intellectual capital pada prospektus IPO terhadap underpricing” dengan melakukan studi pada emiten yang melakukan IPO dan tercatat di Busa Efek Indonesia pada periode 2015 hingga 2019.

1.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan sebelumnya, maka tujuan dilakukannya penelitian ini di antaranya adalah:

a. Menganalisis underpricing IPO di Indonesia pada periode 2015-2019

b. Menganalisis pengaruh pengungkapan informasi intellectual capital pada prospekus IPO terhadap underpricing pada hari pertama penjualan saham

1.3 Tinjauan Literatur 1.3.1 Kerangka Teori 1.3.1.1 Initial Public Offering

Jogiyanto (2013) menjelaskan mengenai initial public offering atau penawaran saham perdana sebagai penawaran saham yang dilakukan perusahaan untuk pertama kalinya. Penawaran ini dilakukan oleh perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan modal tambahan di masa depan dan untuk meningkatkan likuiditas pemegang saham.

1.3.1.2 Underpricing

Underpricing mengacu pada situasi dimana terdapat selisih positif antara harga saham di pasar sekunder dengan harga saham di pasar perdana atau ketika perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO). Perbedaan ini disebut pengembalian awal investor (initial return) atau pengembalian positif. Fenomena ini biasa terjadi di pasar modal saat melakukan IPO maupun pada kondisi umum (Yolana dan Martani, 2001).

1.3.1.2.1 Asimetri Informasi

Baron (1982) menjelaskan informasi asimetris sebagai disimilaritas antara informasi yang diketahui oleh semua aspek yang terlibat dalam IPO. . Ritter dan Welch (2002) percaya bahwa menurut prediksi teoritis mengenai underpricing berdasarkan asimetri informasi, terdapat korelasi positif antara underpricing dengan derajat asimetri informasi. Artinya semakin besar derajat asimetri informasi maka akan semakin besar derajat underpricing yang akan terjadi

1.3.1.3 Intellectual capital

Intellectual capital (IC) dianggap sebagai sumber daya tidak berwujud yang dapat menambah keunggulan kompetitif bagi perusahaan serta memberi nilai tambah, terutama di era bisnis modern saat ini (Bontis, 2000). Intellectual capital dibagi menjadi tiga komponen, yaitu:

1. Human Capital

Karena komponen ini adallah sumber inovasi dan perbaikan, sumber daya manusia (SDM) dianggap sebagai jalur kehidupan atau sumber kehidupan bagi IC. Selain itu, SDM juga menjadi sumber bagi keterampilan, kemampuan, serta pengetahuan perusahaan.

2. Structural Capital

Kemampuan organisasi atau perusahaan dalam menyelesaikan proses dan struktur rutin perusahaan, yang mendukung upaya karyawan untuk memperoleh kinerja terbaik

3. Relational Capital

Komponen ini merupakan hubungan yang harmunis (association network) antara perusahaan dengan mitrnya, mulai dari supplier, customer, hingga hubungan dengan pemerintah.

1.3.1.3.1 Pengungkapan Intellectual Capital

Pengungkapan modal intelektual dalam laporan keuangan dianggap sebagai laporan pengungkapan yang menggambarkan aktivitas perusahaan yang kredibel, kohesif, benar dan adil (Mouritsen et al., 2001).

1.3.1.3.2 Komponen Intellectual Capital

Bukh (2005) mengembangkan indeks yang digunakan untuk mengukur pengungkapan IC yang terdiri dari 78 item. Dari indeks yang dikembangkan oleh Bukh ini, peneliti lain seperti Singh et al (2007) menjadi 86 item dan oleh Alcaniz et al (2016) menjadi 86 item yang dibagi menjadi tiga komponen, yaitu human capital, structural capital, dan relational capital. Berikut ini 86 item pada tersebut:

Human Capital (29 items) 1. Karyawan berdasarkan umur 2. Karyawan berdasarkan senioritas 3. Karyawan berdasarkan gender

4. Karyawan berdasarkan area geografis 5. Karyawan berdasarkan departemen 6. Karyawan berdasarkan fungsi kerja 7. Karyawan berdasarkan tingkat pendidikan

(16)

8. Karyawan berdasarkan kategori profesional 9. Perputaran karyawan

10. Komentar mengenai perubahan jumlah karyawan

11. Kesehatan dan keamanan karyawan 12. Absensi atau presensi karyawan 13. Jumlah karyawan

14. Interview karyawan

15. Penyertaan kebijakan tentang pengembangan kompetensi

16. Deskripsi mengenai aktivtas dan program pengembangan kompetensi

17. Beban untuk pendidikan dan training 18. Beban untuk pendidikan dan training per

jumlah karyawan

19. Beban karyawan per jumlah karyawan 20. Kebijakan rekruitmen

21. Departemen SDM (divisi atau fungsinya) 22. Kesempatan perpuataran kerja atau jabatan 23. Pengalaman manajemen

24. Sistem remunerasi dan insentif 25. Pensiun

26. Kebijakan asuransi

27. Pernyataan tentang ketergantungan terhadap key personnel

28. Penghasilan per karyawan 29. Nilai tambah per karyawan

Structural Capital (34 items)

30. Deskripsi dan alasan berinvestasi dalam TI 31. Sistem TI

32. Asset software

33. Deskripsi mengenai fasilitas TI 34. Beban TI

35. Informasi dan komunikasi dalam perusahaan 36. Upaya yang berkaitan dengan lingkungan

kerja

37. Working from home

38. Pembagian pengetahuan dan informasi atau sharing knowledge secara internal

39. Ukuran kegagalan internal dan eksternal 40. Diskusi tentang tunjangan tambahan dan

program sosial perusahaan

41. Penerimaan lingkungan dan pernyataan atau kebijakannya

42. Pernyataan tentang kebijakan, strategi, dan tujuan aktivitas riset dan pengembangan 43. Beban R&D

44. Beban R&D per penjualan

45. Investasi riset dan pengembangan untuk riset pasar

46. Investasi riset dan pengembangan untuk desain atau pengembangan produk

47. Detail prospek masa depan mengenai R&D 48. Detail paten yang sudah dimiliki perusahaan 49. Jumlah paten, lisensi, dan lain-lain

50. Informasi mengenai paten yang masih pending

51. Aliensi strategik

52. Tujuan dan alasan aliansi strategik

53. Komentar terhadap dampak aliansi strategik 54. Struktur organisasi

55. Deskripsi tentag teknologi baru

56. Pernyataan tentang kualitas kinerja perusahaan

57. Pernyataan mengenai budaya perusahaan 58. Pernyaraan mengenai best practice

59. Pemanfaatan energi, bahan baku, dan bahan masukan lainnya

60. Deskripsi tentang kontrak karyawan atau isu kontrak

61. Produk di pasar

62. Produk di pengembangan 63. Jadwal pengembangan produk

Relational Capital (23 items)

64. Pembagian pengetahuan dan informasi atau sharing knowledge secara eksternal

65. Deskripsi jaringan supplier dan distributor 66. Pernyataan mengenai image dan brand 67. Penghargaan

68. Subsidi yang diterima 69. Investasi pada lingkungan

70. Deskripsi tentang keterlibatan komunitas 71. Informasi tentang tanggung jawab sosial

perusahaan (CSR) dan tujuan 72. Jumlah pelanggan

73. Penjualan berdasarkan kelompok pelanggan 74. Penjualan tahunan per segmen atau produk 75. Rata-rata pembelian per segmen atau produk 76. Ketergantungan pada pelanggan

77. Deskripsi tentang keterlibatan pelanggan 78. Deskripsi tentang hubungan dengan

pelanggan

79. Pendidikan atau pelatihan pelanggan 80. Rasio pelanggan per karyawan

81. Nilai tambah per pelanggan atau segmen 82. Market share absolut (%) dalam industri 83. Market share relatif perusahaan

84. Market share berdasarkan negara atau segmen atau produk

85. Pembelian kembali oleh pelanggan 86. Kepuasan pelanggan

1.3.2 Definisi Operasional Variabel

Tabel 1.3 Definisi Operasional Variabel

Variabel Keterangan Pengukuran

Dependen

Underpricing Kondisi ketika harga penawaran di pasar perdana lebih rendah dibandingkan

Selisih antara harga saham pada penerbitan awal atau penawaran perdana dan harga penutupannya di hari

(17)

dengan penutupan pada hari pertama di pasar sekunder.

pertama perdagangan yang dibandingkan dengan harga penawaran emiten

Independen Pengungkapan Intellectual Capital

Pengungkapan informasi pada laporan keuangan yang berkaitan dengan tiga elemen utama perusahaan.

Menggunakan 81 item mengenai intellectual capital kemudian memberikan nilai 1 ketika perusahaan menyebutkan item pada prospektus IPO, dan nilai 0 apabila tidak.

Kontrol

Underwriter Reputasi underwriter yang digunakan oleh perusahaan.

10 penjamin emisi teratas di antara 50 anggota BEI teraktif dalam total frekuensi transaksi yang ditetapkan oleh IDX, maka akan diberi nilai 1 dan untuk penjamin emisi yang berada di bawah peringkat 10 akan diberi nilai 0.

Usia Perusahaan Usia perusahaan mulai dari perusahaan dibangun hingga perusahaan melakukan IPO

Usia dihitung berdasarkan persentase dan logaritma natural, yaitu jumlah hari antara pendirian perusahaan hingga hari penawaran umum perdana.

Size of the Company

Ukuran perusahaan berdasarkan total aset dan penjualan

Dihitung dengan logaritma natural dan persentase pada total aset dan total penjualan secara terpisah Auditor Reputasi auditor yang digunakan oleh

perusahaan

Memberikan nilai 1 apabila auditor yang digunakan berasal dari perusahaan Big Four dan nilai 0 apabila bukan

Retained ownership

Pemilik saham sebelum saham IPO yang masih ada

Persentase dan logaritma natural berdasarkan jumlah pemilik saham sebelum perusahaan melakukan IPO yang masih memiliki saham ketika saham IPO. Sumber: Olahan Peneliti

1.4 Signifikansi Penelitian 1.4.1 Signifikansi Akademis

Penelitian ini dilakukan agar dapat memberikan hasil yang memberikan pengetahuan dan wawasan baru di bidang pasar modal dan keuangan. Salin itu, penulis juga berharap penelitian ini dapat memberikan temuan-temuan baru yang dapat melengkapi temuan-temuan empiris yang telah ada dan dapat diaplikasikan pada penelitian selanjutnya.

1.4.2 Signifikansi Praktis

Berdasarkan rumusan permasalahan yang tertera di atas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan manfaat untuk berbagai pihak, di antaranya adalah:

1. Perusahaan

Bagi perusahaan diharapkan dapat memberikan saran dan masukan untuk mempersiapkan perusahaan yang ingin melakukan IPO dan waspada akan kemungkinan-kemungkinan yang dapat mempengaruhi terjadinya underpricing pada perusahaan.

2. Investor

Bagi pihak investor, membantu untuk menjadi pertimbangan ketika memilih emiten yang melakukan IPO saat investor ingin melakukan investasi pada suatu perusahaan.

3. Pihak otoritas

Bagi pihak otoritas, dapat dijadikan evaluasi dan masukan mengenai regulasi pengungkapan informasi pada saat IPO, khususnya aset tak berwujud pada perusahaan

2. Model Penelitian 2.1 Pendekatan Penelitian

Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendeakatan kuantitatif merupakan pendekatan penelitian untuk mengukur data kuantitatif dan kemudian memeriksa hubungan antar variabel. Penelitian ini dapat disebut sebagai

(18)

penelitian kuantitatif karena penelitian ini diawali dengan teori yang menjadi kerangka dan di uji dalam penelitian (Creswell, 1994).

2.2 Teknik Pengambilan Data

Penelitian menggunakan teknik penarikan data sekunder yang didapatkan dari data yang dapat diakses oleh publik mengenai prospektus IPO selama tahun 2015 hingga 2019 dan data perusahaan sebagai data pendukung yang tersedia di Bursa Efek Indonesia yang dapat diakses secara publik. Penelitian dilakukan dengan melakukan content analysis, yaitu penulis akan membaca laporan perusahaan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Selain itu, studi kepustakaan juga dilakukan dengan mempelajari literatur terkait topik penelitian. Studi kepustakaan yang digunakan oleh peneliti berasal dari buku, hurnal internasional dan nasional, dan tesis

2.3 Sampel Penelitian

Populasi penelitian adalah emiten pada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melakukan initial public offering (IPO) selama periode tahun 2015 – 2019. Penarikan sampel dilakukan dengan metode non probability sampling dan purposive sampling, yaitu pertimbangan berdasarkan karakteristik tertentu (Sugiyono, 2011). Adapun pertimbangan atau kriteria tersebut di antaranya:

1. Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian.

2. Perusahaan melakukan penawaaran perdana atau Initial Public Offerings (IPO) di antara periode 1 Januari 2015 hingga 31 Desember 2019 atau selama periode event window penelitian.

3. Memiliki data prospektus IPO yang tersedia dan dapat diakses. 2.4 Model Analisis

Penelitian ini menggunakan model penelitian yang digunakan oleh Alcaniz et al (2016), yaitu: Model 1: Menguji hipotesis 1, yaitu melihat apakah di Indonesia terjadi underpricing

𝑈𝑃ᵢ = 𝐶𝑃ᵢ − 𝑂𝑃ᵢ 𝑂𝑃ᵢ Keterangan:

UPi = pengembalian saham pada emiten i

OPi = harga penawaran pada emiten i

CPi = harga penutupan setelah hari pertama penjualan perisahaan i

Model 2: Menguji hipotesis 2, yaitu melihat pengaruh antara pengungkapan intellectual capital terhadap

underpricing

UP − % = α + 𝛽₁ICD + 𝛽₂Und + 𝛽₃Age + β₄Assets + β₅Sales + β₆Aud + β₇Prev Sharehold. +ε (1) UP − Ln = α + 𝛽₁ICD + 𝛽₂Und + 𝛽₃ Age + β₄Assets + β₅Sales + β₆Aud + β₇Prev Sharehold. +ε (2)

Keterangan:

UP-% = underpricing dalam persentase

UP-Ln = underpricing dalam logaritma natural

α = konstanta

β = koefisien regresi

ICD = pengungkapan informasi intellectual capital

Und = reputasi penjamin emisi

Age = usia perusahaan

Assets = total asset perusahaan Sales = total penjualan perusahaan

Aud = reputasi auditor

Prev Sharehold = kepemilikan saham oleh pemegang saham sebelumnya

ε = residual atau kesalahan regresi

2.5 Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis pertanyaan penelitian dan menguji hipotesis penelitian, akan digunakan tahapan analisis uji statistik deskriptif dari model penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan uji signifikan dengan uji koefisien determinasi, uji f, dan uji statistik t kemudian uji asumsi klasik dengan uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas.

3. Daftar Pustaka

Alcaniz, Fernando Gomez-Bezares & Jose Vicente Ugarte (2016). Efficiency in Initial Public Offerings and Intellectual Capital Disclosure. The European Journal of Finance.

Beatty, R. P. (1989). Auditor Reputation and the Pricing of Initial Public Offerings. The Accounting Review LXIV (4): 693–709.

Baron, D. P. (1982). A Model of the Demand for Investment Banking Advising and Distribution Services of New Issues. The Journal of Finance, 27(4), 955–976.

Bontis, N. (2000). Intellectual Capital and Business Performance in Malaysian Industries. Journal of Intellectual Capital, 1(1), 85–100.

Bukh, P. N., Nielsen, C., Gormsen, P., & Mouritsen, J. (2005). Disclosure on information intellectual capital in Danish IPO prospectuses. Accounting, Auditing and Accountability Journal, 18(6), 713–732.

Figur

Tabel 1.3 Definisi Operasional Variabel

Tabel 1.3

Definisi Operasional Variabel p.16
Gambar 1. Model Analisis

Gambar 1.

Model Analisis p.31
Grafik Perbandingan Pendidikan Sumber Daya Manusia

Grafik Perbandingan

Pendidikan Sumber Daya Manusia p.46
Related subjects :