KETERAMPILAN WIRAUSAHA SABLON
(STUDI ANALISIS DESKRIPTIFDI KOMUNITAS TASAWUF UNDERGROUND CIPUTAT TANGERANG SELATAN)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial
(S.Sos)
Oleh IMAM FAUZI NIM 11150540000028
PROGRAM STUDI
PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH
DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Imam Fauzi NIM : 11150540000028
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi berjudul Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Keterampilan Wirausaha Sablon (Studi Analisis Deskriptif Di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan) adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunannya. Adapun kutipan yang ada dalam penyusunan karya ini telah saya cantumkan sumber kutipannya dalam skripsi. Saya bersedia melakukan proses yang semestinya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku jika ternyata skripsi ini sebagian atau keseluruhan merupakan plagiat dari karya orang lain.
Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya Jakarta, 26 Juli 2021
Imam Fauzi NIM 11150540000028
ANALISIS DESKRIPTIF DI KOMUNITAS TASAWUF UNDERGROUND CIPUTAT TANGERANG SELATAN)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
(S.Sos) Oleh Imam Fauzi NIM 11150540000028
Pembimbing Skripsi
Nurul Hidayati, S.Ag, M.Pd NIP. 196903221996032001
PROGRAM STUDI
PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA 1442 H/2021 M
Penguji 2
WG. Pramita Ratnasari, S.Ant, M.Si NIP. 197610022003122002
Penguji 1
Dr. Tantan Hermansah, M.Si NIP. 197606172005011006
Keterampilan Wirausaha Sablon (Studi Analisis Deskriptif Di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan)” telah di uji dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 5 Agustus 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam.
Jakarta, 10 Agustus 2021 Sidang Munaqasyah Ketua Sidang Dr. Muhtadi, M.Si NIP. 197506012014111001 Sekretaris Sidang Dr. Wahyunengsih, M.Pd NIP. 198505202020122009 Pembimbing
Nurul Hidayati, S.Ag, M.Pd NIP. 196903221996032001
i ABSTRAK Imam Fauzi
Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Keterampilan Wirausaha Sablon (Studi Analisis Deskriptif Di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan)
Situasi krisis ekonomi dan urbanisasi yang dialami Indonesia, menyebabkan begitu banyak masalah sosial yang membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Salah satu permasalahan sosial yang dihadapi, adalah kaum marginal, sehingga membutuhkan penanganan yang lebih komprehensif. Kemudian formulasi yang tepat agar dapat menyelesaikan masalah tersebut salah satunya dengan metode pemberdayaan kaum marginal, layaknya yang dilakukan oleh Komunitas Tasawuf Underground. Salah satu fungsi Komunitas Tasawuf Underground adalah membina dan memberikan wadah pengembangan skill dalam bingkai pemberdayaan.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pemberdayaan yang dilakukan Komunitas Tasawuf Underground, mengetahui proses dan hasil yang didapat dalam pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan.
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu: observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Komunitas Tasawuf Underground berperan sangat signifikan dalam peningkatan kualitas skill kaum marginal melalui program pemberdayaannya, karena tahapan dan proses pemberdayaan yang dilakukan Komunitas Tasawuf Underground sangat berpengaruh terhadap perubahan signifikan yang dialami kaum marginal yang dibina di Komunitas Tasawuf Underground. Bertambahnya wawasan dan pengetahuan secara kognitif, konatif, afektif dan psikomotorik sehingga mampu meciptakan hal-hal baru dengan keterampilannya dan memiliki rencana hidup yang lebih baik kedepannya. Menandakan tercapainya tujuan pemberdayaan.
Kata kunci: Tahap, Proses, Komunitas Tasawuf Underground, Pemberdayaan, kaum marginal.
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat, karunia, dan kemudahan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Keterampilan Wirausaha Sablon (Studi Analisis Deskriptif Di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan”. Shalawat beriring salam semoga selalu terlimpahkan kepada baginda alam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabat, dan para pengikutnya. Semoga kelak kita sebagai umatnya mendapatkan syafaatnya. Aamiiin.
Dalam proses penulisan skrispsi ini penulis merasa mengalami banyak hambatan dan menyadari kekurangan yang penulis miliki, namun atas izin Allah SWT serta berkat suport, motivasi, doa, dan arahan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikannya. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada:
1. Suparto, M.Ed., Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Siti Napsiyah, BSW MSW, sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik, Dr. Sihabudin Noor, M.Ag., sebagai Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum serta Cecep Castrawijaya, M.A, sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan.
2. Dr. Muhtadi, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan
iii
Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. WG Pramitha Ratnasari, S.Ant, M.Si sebagai Sekretaris Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Nurul Hidayati, S.Ag, M.Pd, sebagai Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan ide-ide, arahan, dan memberikan kritik yang membangun kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh civitas akademika Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat kepada penulis selama menempuh pendidikan di kampus.
6. Seluruh staf Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi dan staf Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam menggunakan buku-buku yang diperlukan selama masa perkuliahan serta selama penulisan skripsi serta staf bagian Tata Usaha yang telah membantu dalam administrasi.
7. Bapak Ustadz Halim Ambiya, selaku pemilik Komunitas Tasawuf Underground dan pengurus, yang telah banyak membantu untuk melengkapi kebutuhan penulis dan
iv
memberikan support, bantuan dan doa’nya untuk kelancaran dalam penyusunan skripsi ini.
8. Seluruh Abang-abang anak binaan Komunitas Tasawuf Underground yang telah meluangkan waktunya untuk bersedia di wawancara.
9. Ayahanda Alm. Jaenal Solihin bin Arta, adinda persembahkan skripsi ini untukmu, meskipun engkau telah tiada, terimakasih banyak atas segala pengorbananmu dalam mendidik anakmu ini, serta selalu mengarahkan dan mendoakan anakmu semasa hidupmu hingga saat ini bisa menyelesaikan skripsi dan menjadi sarjana. Doaku selalu menyertai disetiap langkahmu menuju Sidrotul Muntaha menghadap Allah SWT.
10. Kepada Ibuku tercinta, Dra Wawat Ruswiati, tak ada kata yang bisa terucap kecuali kata maafku padamu dan permohonan ridhomu di setiap langkahku. Terimakasih selalu mendoakan, mengarahkan dan memberikan motivasi juga materi yang tak terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dan menjadi sarjana.
11. Seluruh keluarga yang senantiasa mendoakan dan memberikan masukan serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah dan skripsi ini. Serta terimakasih kepada keluarga besar SD Islam Katulistiwa yang selalu memberikan suport dan masukan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
v
12. Teman seperjuangan program studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) angkatan 2015, yang telah banyak memberikan semangat, dukungan, masukan, dan motivasi selama dalam perkuliahan maupun dalam penulisan skripsi.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada siapapun yang membacanya.
Jakarta, 26 Juli 2021
vi DAFTAR ISI ABSTRAK ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... vi DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Batasan Masalah... 5 C. Rumusan Masalah ... 6
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
E. Metodologi Penelitian ... 7 F. Tinjauan Pustaka ... 15 G. Sistematika Penulisan ... 17 BAB II ... 19 TINJAUAN TEORITIS ... 19 A. Pemberdayaan ... 19 1. Definisi Pemberdayaan ... 19 2. Tahapan Pemberdayaan ... 21 3. Proses Pemberdayaan ... 23 4. Tujuan Pemberdayaan ... 26 B. Kaum Marginal ... 27
1. Definisi Kaum Marginal ... 27
2. Kelompok-kelompok Marginal... 28
3. Faktor Penyebab Kaum Marginal ... 30
vii
C. Keterampilan ... 34
1. Definisi Keterampilan ... 34
2. Jenis dan Kategori Keterampilan ... 35
D. Wirausaha ... 36
1. Definisi Wirausaha ... 36
2. Karakteristik Seorang Wirausaha ... 38
E. Kerangka Berfikir... 40
BAB III ... 43
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN ... 43
A. Gambaran Umum Komunitas Tasawuf Underground ... 43
1. Sejarah dan Profil Berdirinya Komunitas Tasawuf Underground ... 43
2. Visi dan Misi Komunitas Tasawuf Underground ... 46
3. Struktur Pengurus Komunitas Tasawuf Underground 47 B. Letak Geografis dan Batas Wilayah ... 47
1. Letak Geografis ... 47
2. Batas Wilayah ... 48
C. Program-program Pemberdayaan Komunitas Tasawuf Underground ... 49
BAB IV ... 50
DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 50
A. Pemberdayaan Kaum Marginal Yang Dilakukan Komunitas Tasawuf Underground ... 50
1. Pendekatan Humanis Kepada Kaum Marginal ... 50
2. Peningkatan Spiritualitas Anggota Binaan ... 53
3. Transformasi Anggota Binaan Tasawuf Underground. 55 4. Peningkatan Intelektualitas Anggota Binaan ... 57
B. Program Pemberdayaan di Tasawuf Underground ... 57
viii
2. Punk Resik Loundry ... 59
3. Pemberdayaan budidaya Ikan hias dan Konsumsi ... 60
4. Pemberdayaan keterampilan wirausaha sablon ... 61
C. Proses Pemberdayaan Melalui Keterampilan Wirausaha Sablon Di Tasawuf Underground ... 63
1. Proses Edukasi Keterampilan Sablon ... 64
2. Pelatihan Dan Praktek Pembuatan Desain ... 66
3. Proses Pendampingan Pelatihan Dan Pemberian Motivasi ... 69
4. Workshop Kiat-Kiat Menjadi Wirausahawan ... 70
D. Sumber Dana Tasawuf Underground ... 70
BAB V ... 73
ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 73
A. Analisis Tahap “Prakondisi” Pemberdayaan Di Komunitas Tasawuf Underground ... 73
B. Analisis Proses Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Keterampilan Wirausaha Sablon ... 80
C. Hasil Pemberdayaan Yang dilakukan Komunitas Tasawuf Underground ... 85
D. Faktor Pendukung Dan Faktor Penghambat ... 90
E. Deskripsi Kondisi Kegiatan di Komunitas Tasawuf Underground Pada Masa Pandemi Covid 19... 90
BAB VI ... 92 PENUTUP ... 92 A. Kesimpulan ... 92 B. Saran ... 94 DAFTAR PUSTAKA ... 95 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 97
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1 1 Kerangka Informan ... 9
Tabel 2 1 Pendekatan Dalam Penanganan Kaum Marginal ... 33
Tabel 3 1 Anggota Kaum Marginal binaan Komunitas Tasawuf
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2 1 Skema Penelitian ... 42
Gambar 3 1 Struktur Pengurus Komunitas Tasawuf Underground ... 47
Gambar 3 2 lokasi Kantor Tasawuf Underground ... 48
Gambar 4 1Pendekatan kepada Kaum Marginal ... 52
Gambar 4 2 Gerobak Angkringan Sinau ... 59
Gambar 4 3 Ruangan Unit Usaha Punk Resik Loundry ... 60
Gambar 4 4 kolam budidaya ikan hias dan konsumsi di Kantor Tasawuf Underground ... 61
Gambar 4 5Alat Sablon Tasawuf Underground ... 63
Gambar 4 6 Hasil Karya Anggota binaan ... 65
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Situasi krisis ekonomi dan urbanisasi yang dialami Indonesia, menyebabkan begitu banyak persoalan masalah sosial yang membutuhkan perhatian dan penanganan secepatnya. Salah satu permasalahan sosial yang dihadapi, yaitu jumlah kaum marginal yang meningkat setiap tahun, sehingga membutuhkan perhatian serius sehingga dapat ditemukan formulasi penanganan yang komprehensif.
Fenomena kaum marginal atau orang terpinggirkan dalamhal ini anak jalanan merupakan salah satu masalah sosial yang paling kompleks bagi kota-kota besar di Indonesia. Jika diperhatikan dengan seksama, kaum marginal sangat mudah ditemui di kota-kota besar. Lampu merah, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, persimpangan jalan hingga mall, merupakan tempat anak jalanan beraktivitas. Tidak bisa dipungkiri mereka biasanya dikoordinir oleh kelompok yang rapi dan profesional, yang sering disebut dengan komunitas anak jalanan. Setiap anggota kelompok memiliki tugas masing-masing. Ada yang melakukan pemetaan di setiap gang di jalan, ada yang mengatur angkutan dan lain-lain. Dalam hal ini, terjadi eksploitasi terhadap kaum marginal, menjadikannya ladang bisnis. Sangat kejam, hal ini terjadi justru atas persetujuan orang tuanya sendiri, yang juga kerap berperan sebagai bagian dari mafia anak jalanan.
Terlahir sebagai anak jalanan dari keluarga kaum marginal tentu bukan pilihan hidup yang diinginkan semua orang, juga bukan pilihan yang menyenangkan, terutama dari segi keselamatan. Anak jalanan atau kaum marginal selalu dianggap sebagai sumber masalah
bagi banyak pihak, sering disebut sebagai 'sampah masyarakat'. Sudah banyak regulasi yang dibuat untuk mengatasi fenomena ini, namun belum ada satupun yang membuahkan hasil.
Salah satu dari sekian banyak penyebab meningkatnya anak jalanan atau kaum marginal dipicu oleh krisis ekonomi Indonesia yang terjadi pada tahun 1998. Pada era itu, selain masyarakat mengalami perubahan ekonomi, juga merupakan masa transisi pemerintahan yang menyebabkan begitu banyak masalah sosial muncul. Dampak langsung dari krisis ekonomi ini erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah anak jalanan atau kamu marginal di beberapa Kota besar di Indonesia. Hal ini pada akhirnya memberikan ide-ide menyimpang kepada lingkungan sosial anak untuk dimanfaatkan secara ekonomi, salah satunya dengan melakukan aktivitas di jalanan.
Tak sedikit permasalahan kaum marginal atau anak jalanan ini muncul akibat dari masalah internal keluarga, baik antar orang tua dan anak atau terdapat masalah antara orang tua dengan orang tua, dalam beberapa kasus alasan anak melakukan aktivitas jalanan karena mereka merasa rumah sudah tidak nyaman menjadi tempat bernaung. Hal ini dapat dilihat dari beberapa literatur terkait munculnya anak jalanan atau kaum marginal, salah satunya, Abu Huraerah dalam bukunya
menyebutkan beberapa penyebab munculnya anak jalanan, antara lain: (Abu Huraerah 2018, 89)
1. Dorongan orang tua agar anaknya bekerja, guna membantu ekonomi keluarga.
2. Meningkatnya kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak oleh orang tua yang dipertontonkan sehingga anak lari ke jalanan.
3. Orang tua tidak mampu membayar uang sekolah anak, menyebabkan anak putus sekolah.
4. Biaya kontrak rumah mahal atau meningkat, menyebabkan anak memutuskan ke jalan.
5. Timbulnya persaingan dengan pekerja dewasa di jalanan, sehingga anak terpuruk melakukan pekerjaan berisiko tinggi terhadap keselamatannya dan eksploitasi anak oleh orang dewasa di jalanan.
6. Lamanya anak tinggal dijalanan sehingga memunculkan masalah baru.
7. Pemerasan, dan eksploitasi seksual terhadap anak jalanan perempuan membuat anak jalanan sering menjadi korban.
Data Dinas Sosial Provinsi Banten, mencatat Jumlah keberadaan anak jalanan berdasarkan rekapitulasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Provinsi Banten dapat dikatakan menurun dan meningkat, hal tersebut dapat dilihat pada akhir tahun 2011 sebesar 1.628 anak jalanan, tapi angka tersebut turun signifikan pada akhir tahun 2012 sebesar 754 anak jalanan, hal tersebut di dorong dengan adanya usaha yang maksimal dari seluruh komponen, namun angka tersebut naik kembali pada akhir tahun 2013 sebesar 1.076 dikarenakan adanya faktor x dimana anak jalanan yang dimaksud adalah anak jalanan yang tergolong baru, dan hal tersebut di dominasi akibat faktor lain seperti adanya faktor kemiskinan dikarenakan angka fakir miskin pada data PMKS tidak menunjukan penurunan atau kenaikan yang dimana angka tersebut stagnan pada angka 129.992. (Data Dinas Sosial Provinsi Banten, diakses 11 Desember 2019 pukul 11.01)
Data Dinas Sosial provinsi DKI Jakarta mencatat tahun 2016, sebanyak 14.808 anak jalanan diamankan di jembatan penyeberangan orang (JPO), mal-mal, hingga tempat ibadah. Sedangkan tahun 2017 terdapat 8.143 anak jalanan. Dilihat dari angka terdapat penurunan jumlah anak jalanan yang di amankan. (Data Dinas Sosial DKI Jakarta, diakses 11 Desember 2019 pukul 11.06)
Persoalan-persoalan diatas memberikan gambaran bahwa terdapat banyak penyebab-penyebab anak jalanan yang tergolong kaum marginal timbul atau muncul, yang jika diidentifikasi maka masalahnya adalah: ketidakadilan sosial, kesulitan keluarga atau tekanan, ketidakharmonisan dalam keluarga, ketidakmampuan orang tua dalam ekonomi dan masalah khusus menyangkut hubungan orang tua dan anak.
Komunitas Tasawuf Underground merupakan perkumpulan dari beberapa insan yang peduli terhadap kaum marginal. Komunitas ini berdiri sejak hampir 9 tahun lalu di media sosial facebook kemudian menjalankan program pengajian di kolong jalan layang daerah Tebet Jakarta Selatan, yang tepatnya sekarang memiliki Kantor yang beralamat di Kemanggisan Ciputat Tangerang Selatan. Beralaskan seadanya, komunitas yang di pelopori oleh Ustadz Halim Ambiya ini, terus istiqomah dalam membimbing dan menyadarkan anak-anak jalanan dengan menyerukan kepada kebaikan melalui sejumlah kegiatan diantaranya adalah: menghapus tato, mengenalkan huruf hijaiyah, mengaji, berziarah, keterampilan berwirausaha serta mengajarkan budi pekerti dan sopan santun kepada para anak jalanan. Komunitas ini adalah salah satu wujud kongkret kepedulian terhadap nasib anak jalanan atau kaum marginal. Melalui program-programnya yang diajarkan dan istiqomah, perlahan tapi pasti anak
jalanan yang sudah pernah mencoba dibimbing oleh komunitas ini, terus berangsur membaik secara spiritual dan memiliki keterampilan menyablon serta wirausaha. Secara subjektif komunitas serta program yang dimilikinya merupakan usaha sukarela perorangan untuk menekan angka anak jalanan yang tergolong kaum marginal.
Dengan demikian komunitas ini sangat menarik untuk diteliti dan ditelaah, terutama program keterampilan wirausaha sablon yang memiliki korelasi dengan pemberdayaan atau dengan program-program di Komunitas Tasawuf Underground.
Maka dengan fenomena tersebut, akhirnya peneliti merasa ingin membahas dan mengetahui mengenai program pemberdayaan yang dilakukan oleh Komunitas Tasawuf Underground dalam salah satu programnya yaitu program keterampilan wirausaha sablon. Kemudian peneliti ingin membuktikan apakah benar Komunitas Tasawuf Underground dapat mengurangi angka anak jalanan. Karena program komunitas ini merupakan salah satu usaha yang dapat menekan angka penurunan PMKS di wilayah Banten dan wilayah Jakarta Selatan. Untuk menjawab persoalan diatas tersebut, peneliti mengambil judul: “Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Keterampilan Wirausaha Sablon (Studi Analisis Deskriptif Di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan)”.
B. Batasan Masalah
Untuk memfokuskan permasalahan yang ada di dalam penelitian ini, agar pembahasan tidak melebar maka penulis membatasi masalah yang akan dibahas mengenai Pemberdayaan Kaum Marginal Melalui Keterampilan Wirausaha Sablon (Studi Analisis Deskriptif Di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan).
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana proses pemberdayaan kaum marginal yang dilakukan oleh Komunitas Tasawuf Underground?
b. Bagaimana hasil pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di Komunitas Tasawuf Underground?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
a. Untuk mengetahui proses pemberdayaan kaum marginal yang dilakukan Komunitas Tasawuf Underground.
b. Untuk mengetahui hasil pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di Komunitas Tasawuf Underground.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini secara teoritis yaitu untuk menambah khazanah ilmu dakwah, khususnya yang berhubungan dengan unsur-unsur masyarakat Islam. Adapun manfaat penelitian yang dapat diambil dari penulisan skripsi ini adalah:
a. Bagi Peneliti, dapat menambah dan memperluas khazanah ilmu pengetahuan, serta pengalaman di dalam praktik pemberdayaan masyarakat dalam bidang pemberdayaan melalui keterampilan wirausaha sablon, seperti yang dilakukan Komunitas Tasawuf Underground, dimana peneliti dapat menerapkan teori-teori yang diperoleh selama dalam proses perkuliahan.
b. Manfaat Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas dalam pemberdayaan masyarakat. c. Manfaat Akademik, hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi syarat dalam memperoleh gelar sarjana sosial (S1) serta menjadi dokumen perguruan tinggi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berguna untuk menjadi bahan rujukan bagi mahasiswa dalam dimensi penelitian bidang pemberdayaan masyarakat.
d. Manfaat bagi Komunitas Tasawuf Underground, dapat dijadikan sebagai catatan untuk memperhatikan dan meningkatkan kinerja yang sudah baik, sekaligus memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang ada.
E. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Penggunaan metode pada penelitian ini, menggunakan jenis penelitian kualitatif yang dimana dapat diartikan untuk mengetahui perkembangan suatu fasilitas tertentu atau jumlah terjadinya sesuatu aspek dari pada fenomena sosial, dan untuk menggambarkan fenomena yang sedang terjadi secara terperinci, Dimana, peneliti sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara Triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih fokus ke makna dari pada generalisasi. Metode penelitian kualitatif ini sering disebut metode penelitian naturalistik, karena penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah tanpa di setting (Suryana 2010, 15).
Peneliti disini menggambarkan pemberdayaan kaum marginal dalam hal ini anak jalanan yang telah dilakukan oleh Komunitas Tasawuf Underground. Dalam penelitian ini juga peneliti menggunakan pendekatan lapangan, dimana penelitian ini mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok dan masyarakat. Penelitian ini mempunyai ciri sifat yang mendalam tentang suatu unit sosial tertentu. Oleh karenanya dengan pendekatan ini, peneliti bisa mengetahui lebih dalam mengenai pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di Komunitas Tasawuf Underground.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian deskriptif, merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengklarifikasi suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variable yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti. Data yang dikumpulkan dalam penelitian deskripsi berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian ini berisi kutipan-kutipan untuk memberi gambaran dari penyajian laporan tersebut. Data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dan dokumen resmi lainnya. Agar penelitian ini dapat berjalan baik, peneliti melakukan pembagian waktu dalam menggali data di Komunitas Tasawuf Underground, menganalisis data dan menyajikan data.
3. Teknik Pemilihan Informan
Menurut (Sugiyono 2013, 218) dalam teknik pemilihan informan terdapat beberapa tipe non-probabilty sampling. Penelitian ini menggunakan tipe purposive sampling. Purposive sampling adalah digunakan dalam situasi dengan kemampuan untuk menentukan informan sesuai dengan tujuan. Jadi purposive sampling pada pemilihan informan didasarkan ciri-ciri yang dimiliki subjek yang dipilih. Berikut ini tabel subjek dan informan yang terpilih dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian.
Tabel 1 1 Kerangka Informan No Informasi Yang di cari Metode Status Informan Nama Informan 1 Untuk mengetahui gambaran umum Komunitas Tasawuf Underground Wawancara, recording dan dokumentasi Pendiri Ustadz Halim Ambiya 2 Untuk mengetahui tahap dan proses pemberdayaan anak jalanan di Komunitas Tasawuf Underground Wawancara, recording dan dokumentasi
Pengurus Aan Sujana dan M Ridwan 3 Untuk mengetahui pemberdayaan anak jalanan yang dilakukan Komunitas Tasawuf Underground Wawancara, recording dan dokumentasi Pendiri Ustadz Halim Ambiya 4 Untuk mengetahui proses pemberdayaan yang dilakukan Komunitas Tasawuf Underground Wawancara, recording dan dokumentasi Anak/santri binaan Bang Trian, Bang Widy, Bang Rifqi, Bang Suhardi dan Bang Deni
No Informasi Yang di cari
Metode Status Nama
5 Untuk mengetahui hasil pemberdayaan yang diperoleh melalui keterampilan wirausaha sablon Wawancara, recording dan dokumentasi Anak/santri binaan Bang Trian, Bang Widy, Bang Rifqi, Bang Suhardi, dan Bang Deni Sumber: Berdasarkan data yang diperoleh peneliti
4. Macam dan Sumber Data
Sumber data yang akan ditelusuri untuk memperoleh data lapangan terdiri atas 2 sumber yaitu:
a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari narasumber yang akan diteliti dengan cara wawancara mendalam. Narasumber dalam penelitian ini yaitu Bapak Halim Ambiya selaku pendiri komunitas Tasawuf Underground dan sepuluh anak jalanan yang ikut dalam program keterampilan wirausaha sablon di Komunitas Tasawuf Underground.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang mendukung penelitian ini seperti buku-buku, catatan dan transkrip serta dokumen yang lainnya.
c. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah Komunitas Tasawuf Underground beserta seluruh elemen yang terlibat dalam kegiatan di komunitas Tasawuf Underground. Sedangkan yang dijadikan objek penelitian adalah pemberdayaan kaum
marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di Komunitas Tasawuf Underground.
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data ini, peneliti menggunakan beberapa tahap, yaitu:
a. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Menurut Suryana Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Salah satu observasi yang sesuai dengan penelitian kualitatif adalah observasi lapangan. (Suryana 2010, 226) Hasil temuan dari observasi akan peneliti lihat sebagai bahan perbandingan dengan hasil yang diperoleh dari wawancara.
b. Interview (Wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden atau narasumber yang lebih mendalam. Mengenai pembuatan wawancara disini, peneliti menggunakan wawancara terbuka dan dilakukan dengan cara sistematis artinya bahwa menggunakan unsur pertanyaan 5W+1H.
6. Teknik Analisis Data
Dalam teknik analisis data, peneliti menggunakan pendekatan analisis model Miles dan Huberman dalam bukunya (Emzir
2012, 129-133), yang di dalamnya membahas tentang: pertama, reduksi data ialah pengumpulan data, memfokuskan, serta memilah dan memilih data mana saja yang dibutuhkan. Kedua, model data yaitu suatu proses pengumpulan data yang tersusun sesuai kriterianya masing-masing. Ketiga, penarikan kesimpulan merupakan langkah akhir pada sebuah kegiatan penelitian, dimana isinya berisikan tentang ringkasan semua data yang diperoleh sehingga muncul sebuah manfaat dan saran untuk kedepannya.
7. Teknik Validasi Keabsahan Data
Teknik validasi keabsahan data ialah berfungsi untuk menjaga kebenaran dalam isi data yang telah didapat, dari sini peneliti menggunakan taktik triangulasi. Menurut Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman dalam bukunya Tjetjep (Tjetjep 1992, 436-437) menjelaskan bahwa taktik tersebut berupaya membandingkan indeks-indeks yang ada, masing-masing setiap indeks itu sendiri memiliki metode yang berbeda pula untuk mendapatkannya, sehingga mengarahkan kepada kesimpulan yang tepat.
Adapun terdapat 4 hal yang meliputi dalam triangulasi, yaitu:
a. Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berdeda. Biasa yang dikenal dalam penelitian kualitatif ialah menggunakan metode wawancara, observasi dan survei. Agar mendapat data informasi tertentu, peneliti bisa menggunakan cara wawancara bebas dan terstruktur. Akan tetapi peneliti condong kepada wawancara
terstruktur, manfaatnya ialah supaya lebih terarah dan lebih mengerucut atas pembahasan yang sedang diungkapkan.
b. Triangulasi antar-peneliti dilakukan dengan cara pengumpulan data yang menggunakan lebih dari satu orang untuk menganalisis maupun mengumupulkan data. Cara ini dapat menguntungkan dan merugikan peneliti, dilihat dari untungnya ialah memperoleh pengetahuan mengenai informasi yang sedang digali dengan banyak. Kerugiannya yaitu ketika peneliti salah berinteraksi dengan orang yang memang tidak memiliki pengalaman, mempunyai tujuan maksud atau adanya kepentingan sehingga memmunculkan bias yang baru.
c. Triangulasi sumber data adalah menggali kebenaran data yang didapat melewati banyak cara dan sumber perolehan data. Pada prakteknya, peneliti tidak hanya melakukan wawancara, dan observasi, peneliti bisa menggunakan dokumen tertulis, dokumen arsip, dokumen sejarah, catatan resmi, dan gambar. Manfaat dari triangulasi sumber data ialah memberikan sudut pandang yang berbeda, saat mendapatkan bukti atau data yang didapat itu tidak sama.
d. Triangulasi teori, merupakan hasil akhir penelitian kualitatif berkaitan dengan rumusan informasi. Teknik ini digunakan untuk membandingkan antara perspektif teori yang berhubungan dengan pembahasan yang sedang diangkat oleh peneliti, untuk menghindari bias pemahaman atas temuannya. Manfaat dari teknik ini yaitu
untuk meningkatkan kedalaman pemahaman peneliti dan mampu mencari pengetahuan teoritik secara mendalam dari hasil analisis data yang diperoleh.
8. Teknik Penulisan
Teknik penulisan skripsi ini berpedoman pada buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006” yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Serta SK Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2017), No 507 Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi), UIN Jakarta Press
9. Instrumen dan alat bantu penelitian
Menurut Moeleong (2006:9), Instrumen penelitian dalam tradisi penelitian kualitatif adalah manusia atau orang yakni peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu berupa catatan, tape recorder, dan kamera. Sebagaimana yang disampaikan oleh Moleong bahwa “Orang (peneliti) sebagai instrumen memiliki senjata yang secara luwes dapat digunakannya.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat bantu untuk memudahkan pencarian dan penggalian data yaitu, kamera handphone, aplikasi recorder handphone, pulpen dan buku catatan.
10. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Sekretariat Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan. Penetapan lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian didasarkan atas pertimbangan bahwa kondisi objektif wilayah penelitian yang merupakan salah satu lokasi strategis dari tempat kegiatan komunitas Tasawuf Underground. Alasan lain melakukan
penelitian di tempat tersebut, peneliti yakin bahwa komunitas tersebut memiliki data dan sumber yang cukup dalam penelitian ini. Kemudian dari sudut lokasi tempat penelitian berdekatan dengan kampus peneliti, sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan penggalian data. Masa waktu penelitian dilakukan selama ber bulan-bulan yang dimulai dari akhir Desember 2019 sampai dengan selesai.
F. Tinjauan Pustaka
Sebagai bahan perbandingan dan bahan tinjauan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis membaca beberapa skripsi sebagai bahan referensi. Di antaranya sebagai berikut:
Pertama, Muhammad Fahmi. Mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018, menulis skripsinya tentang Analisis Pemberdayaan anak jalanan melalui ekonomi kreatif di Republik Sablon Cireundeu Tangerang Selatan. Penelitian sebelumnya membahas pemberdayaan anak jalanan melalui ekonomi kreatif sedangkan penulis akan membahas tentang pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon. Kedua, Rosa Juni Andri. Mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017. Menulis skripsi tentang Pemberdayaan anak jalanan melalui bimbingan belajar dan keterampilan bermusik di Lembaga sahabat anak Cijantung Jakarta Timur, Penelitian terdahulu membahas Pemberdayaan anak jalanan melalui bimbingan belajar dan keterampilan bermusik sedangkan yang akan dteliti penulis adalah Pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon.
Ketiga, Mustofa Hamdi. Mahasiswa jurusan Pengembangan masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018. Menulis skripsi tentang Pemberdayaan anak jalanan “melalui keterampilan pembuatan souvenir” di panti asuhan mizan amanah perumnas, klender Jakarta Timur. Penelitian terdahulu membahas Pemberdayaan anak jalanan “melalui keterampilan pembuatan souvenir” sedangkan penulis akan meneliti tentang pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan.
Keempat, Dani. Mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2019. Menulis skripsi tentang Dakwah Ustaz Halim Ambiya Terhadap Komunitas Anak Punk Kolong Jembatan Tebet Jakarta Selatan Penelitian terdahulu membahas dakwah Ustaz Halim Ambiya terhadap komunitas anak punk, sedangkan penulis akan meneliti tentang pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan.
Kelima, Istiqomah Aisyiyah. Mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2020. Menulis skripsi tentang Tindakan Sosial Komunitas Tasawuf Underground di Tebet Jakarta Selatan, sedangkan penulis akan meneliti tentang pemberdayaan kaum marginal melalui keterampilan wirausaha sablon di Komunitas Tasawuf Underground Ciputat Tangerang Selatan.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembahasan skripsi ini, secara sistematis penelitian kualitatif menurut pedoman terbaru, penyusunannya dibagi menjadi enam bab, yang masing-masing terdiri dari sub-sub bab. Adapun sistematika penyusunannya sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Merupakan bagian yang terdiri dari Pendahuluan, memuat tentang Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka, Sistematika Penulisan.
BAB II Kajian Pustaka
Landasan Teoritis yang meliputi, Definisi pemberdayaan, Definisi kaum marginal, teori keterampilan, teori wirausaha dan penjelasan konsep keberdayaan kaum marginal melalui program pemberdayaan. Kajian pustaka serta kerangka berfikir BAB III Gambaran Umum Obyek Penelitian
Membahas tentang profil Komunitas Tasawuf Underground mulai dari Sejarah Komunitas Tasawuf Underground, letak geografis, visi misi dan program-program pemberdayaan yang sudah dilakukan Komunitas Tasawuf Underground.
BAB IV Data Dan Temuan Penelitian
Menyajikan data temuan lapangan secara deskriptif mulai dari tahapan prakondisi hingga proses pemberdayaan anak jalanan di Komunitas Tasawuf Underground kemudian sajian temuan dokumen serta temuan proses wirausaha sablon.
BAB V Analisis Dan Pembahasan
Bagian ini berisi uraian yang mengaitkan latar belakang, rumusan teori, data dan temuan penelitian dan teori yang disajikan dalam penelitian hingga output dari program
BAB VI Penutup
Bagian penutup ini meliputi kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA
19 BAB II
TINJAUAN TEORITIS A. Pemberdayaan
1. Definisi Pemberdayaan
Secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang berarti kekuatan atau kemampuan. Dari pengertian tersebut, pemberdayaan dapat diartikan sebagai suatu proses menuju pemberdayaan atau proses pemberian daya atau kekuatan atau kemampuan kepada mereka yang tidak berdaya.. (Ambar 2017, 77) Menurut Khan, dikutip dari bukunya Maskuri Bakri, pemberdayaan adalah hubungan yang berkesinambungan antar individu untuk membangun kepercayaan antara masyarakat dengan pembuat kebijakan atau pemerintah.
Menurut Byars dan Rue, pemberdayaan adalah bentuk desentralisasi yang melibatkan pemberian tanggung jawab kepada bawahan dalam membuat keputusan. (Maskuri Bakri 2017, 18-19) Secara konseptual, pemberdayaan berasal dari kata power (kekuasaan/pemberdayaan). Dalam definisinya, pemberdayaan diartikan sebagai upaya memberikan daya (empowerment) atau penguatan (strengthening) kepada masyarakat. Oleh karena itu, pemberdayaan dapat disamakan dengan memperoleh kekuasaan dan akses terhadap sumber daya untuk mencari nafkah. (Totok dan Poerwoko 2012, 57)
Secara umum pengertian pemberdayaan sendiri memiliki rumusan yang berbeda-beda dalam berbagai konteks dan bidang kajian, hal tersebut dikarenakan belum ada definisi tegas mengenai konsep pemberdayaan. Pemberdayaan pada hakikatnya memiliki dua makna pokok, yakni:
a. Meningkatkan kemampuan masyarakat (to give ability or enable) melalui pelaksanaan berbagai kebijakan dan program pembangunan agar kondisi kehidupan masyarakat dapat mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan. b. Meningkatkan kemandirian masyarakat dengan
memberikan kewenangan yang proporsional kepada masyarakat dalam pengambilan keputusan (to give authority) dalam rangka membangun diri dan lingkungannya secara mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berarti masyarakat yang berdaya dan mandiri.
Pemberdayaan sebagai strategi dalam pembangunan berorientasi pada pemberian kesempatan kepada setiap anggota masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan dengan mendapatkan kesempatan yang sama dan dapat menikmati hasil pembangunan secara proporsional dan merata. Dengan demikian, konsep pemberdayaan tidak hanya terkait dengan masalah ekonomi tetapi merupakan konsep yang menyangkut semua aspek kehidupan. Seluruh aspek kehidupan harus diberdayakan secara simultan dan integratif. Dan pemberdayaan ekonomi juga harus dibarengi dengan pemberdayaan sosial budaya dan politik, begitu pula sebaliknya.
2. Tahapan Pemberdayaan
Pemberdayaan dalam setiap konsepnya memiliki karakteristik masing-masing sesuai dengan sumber daya manusia yang ingin diberdayakan dan para pelaku sebagai penggerak pemberdayaan itu sendiri. Kemudian diterapkan dengan tahapan-tahapan yang perlu dilaksanakan agar tercapainya tujuan dari pemberdayaan. Hal ini diterapkan oleh Komunitas Tasawuf Underground sebelum masuk kepada aksi pelaksanaan sebuah pemberdayaan, dimana subjeknya adalah para anak jalanan sebelum masuk pada tahap keberdayaan.
Tahapan pemberdayaan masyarakat yang sering digunakan oleh pengembang masyarakat menurut Ambar Teguh Sulistiyani, sebagai berikut:
a. Tahap Penyadaran
Merupakan sebuah tahapan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
b. Tahap Transformasi
Tahapan untuk menambah kemampuan seperti, wawasan pengetahuan, kecakapan serta keterampilan agar dapat mengambil peran di dalam pembangunan masyarakat.
c. Tahap Peningkatan Intelektualitas
Tahap peningkatan intelektualitas berupa kecakapan dan keterampilan sehingga terciptalah inisiatif serta feeling dan kemampuan inovatif untuk menghantarkan pada kemandirian. (Ambar 2017, 83)
Pada tahap pertama dilakukan pembentukan perilaku yang merupakan tahap persiapan dalam proses pemberdayaan
masyarakat. Pada tahap ini pihak yang melakukan pemberdayaan atau para pelaku pemberdayaan berusaha menciptakan prakondisi, agar dapat memfasilitasi berlangsungnya proses pemberdayaan yang efektif.
Tahap kedua adalah proses transformasi pengetahuan dan keterampilan secara efektif, jika tahap pertama telah dikondisikan, masyarakat akan menjalani proses pembelajaran tentang pengetahuan dan keterampilan yang memiliki relevansi dengan apa yang dituntut oleh kebutuhan tersebut. Keadaan ini akan merangsang keterbukaan wawasan dan penguasaan keterampilan serta keterampilan dasar yang mereka butuhkan, pada tahap ini masyarakat hanya dapat memberikan peran partisipatif pada tataran objek pembangunan, belum pada subjek penelitian.
Tahap ketiga adalah tahap pengayaan atau peningkatan kecerdasan dan keterampilan serta keterampilan yang dibutuhkan, sehingga dapat membentuk kemampuan. Kemandirian ini akan ditandai dengan kemampuan masyarakat membentuk prakarsa, melahirkan kreasi dan melahirkan inovasi di lingkungannya. Dalam konsep pembangunan masyarakat dalam kondisi seperti itu sering disebut sebagai subjek pembangunan atau aktor utama.
Ketiga tahapan diatas merupakan tahapan yang dilakukan dalam sebuah konsep pemberdayaan, yang dilakukan sebagai tahap prakondisi yang biasa dilakukan.
3. Proses Pemberdayaan
Sebagai proses pemberdayaan merujuk pada kemampuan, untuk berpartisipasi memperoleh kesempatan atau mengakses sumber daya dan layanan yang diperlukan guna memperbaiki mutu hidup (baik secara individual, kelompok, dan masyarakat dalam arti luas). Dengan pemahaman seperti ini pemberdayaan dapat diartikan sebagai proses terencana guna meningkatkan skala kualitas dari objek yang diberdayakan.
Seperti yang dikutip oleh Adi (Isbandi Rukminto, 2013:58-60) menggambarkan proses pemberdayaan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus yang terdiri dari 5 (lima) tahapan utama, yaitu:
a. Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan dan (racall dopewering/empowring experience).
b. Mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan ketidakberdayaan (discuss reasons for doporwerment/ empowerment).
c. Mengendifikasikan suatu masalah ataupun projek (identify one problem or project).
d. Mengidentifikasikan basis daya yang bermakna (identify usefull power based).
e. Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikan (develop and implement action plan) Melihat pendapat Adi, bahwa pemberdayaan terjadi sebagai kedigdayaan yang harus dilakukan guna mengentaskan persoalan persoalan masyarakat menggunakan lima siklus. Hal ini sesuai dengan rencana dan proses yang di lakukan dengan subjek
penelitian yaitu Tasawuf Underground yang melakukan proses pemberdayaan yang panjang dengan siklus sesuai dengan apa yang dikemukakan Adi dan tentunya Halim Ambiya sebagai pelopor terus memperbaiki sistem dan kekurangan yang ada agar tercapainya keseimbangan dan keberlanjutan dari objek penelitian yaitu pemberdayaan anak jalanan melalui keterampilan wirausaha sablon di Tasawuf Underground.
Strategi dalam memberdayakan masyarakat dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu:
a) Pendekatan Direktif, yakni pendekatan yang berlandaskan asumsi bahwa community worker sangat dominan dalam menentukan upaya pemberdayaan masyarakat.
b) Pendekatan Non Direktif, yakni pendekatan yang berlandaskan bahwa masyarakat tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan dan apa yang baik untuk mereka. Pemeran utama dalam pendekatan ini adalah masyarakat itu sendiri, community worker hanya bersifat menggali dan mengembangkan potensi masyarakat. (Isbandi 2002, 28) Strategi utama pemberdayaan dalam praktek perubahan sosial ada tiga yaitu, tradisional, direct action (aksi langsung), dan transformasi, ketiga strategi tersebut dikemukakan oleh Mark G.Hanna dan Buddy Robinson dalam Strategies for community Empowerment: Direct Action and Transformative Approaches to Social Change Practice. Faktor-faktor determinan yang mempengaruhinya:
a) Strategi Tradisional menyarankan agar mengetahui dan memilih kepentingan terbaik secara bebas dalam berbagai keadaan.
b) Strategi direct-action membutuhkan dominasi kepentingan yang dihormati oleh semua pihak yang terlibat, dipandang dari sudut perubahan yang mungkin terjadi.
c) Strategi transformatif menunjukan bahwa pendidikan massa dalam jangka panjang dibutuhkan sebelum pengidentifikasian kepentingan diri sendiri.
Setiap strategi terdiri atas teori, konsep dan keahlian yang melekat erat pada masing-masing strategi yang kemudian dirinci ke dalam delapan teori khusus, sepuluh konsep, dan dua belas keahlian. Semua poin atau komponen itu memberikan informasi yang cukup untuk menjamin terciptanya hubungan yang harmonis antara satu dan lainnya. Penggunaan unsur tersebut akan memberikan klarifikasi terhadap bagian-bagian penting dalam praktek perubahan sosial bagi orang-orang yang terlibat. (Harry Hikmat 2013, 15)
Strategi pemberdayaan, hakikatnya merupakan gerakan dari, oleh dan untuk masyarakat. Menurut Suyono, gerakan masyarakat berbeda dengan membuat model (laboratorium). Suatu model cenderung harus membuat dulu sebuah model percontohan ideal, selanjutnya setelah teruji baru disebarluaskan. Berbeda dengan strategi gerakan masyarakat, bila ditempuh melalui jangkauan kepada masyarakat seluas-luasnya atau selayak layaknya. Benih pemberdayaan ditebar kepada berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat akhirnya akan beradaptasi, melakukan
penyempurnaan dan pembenahan yang disesuaikan dengan potensi, permasalahan dan kebutuhan, serta cara atau pendekatan mereka. Dengan demikian model atau strategi pemberdayaan akan beragam, menyesuaikan dengan kondisi masyarakat lokal. (Oos Anwas 2019, 89).
Strategi sebagai penopang dan planing sebuah proses pemberdayaan terus bertransformasi ke arah perubahan yang lebih baik dengan seiring perkembangan jaman dan dinamika persoalannya.
4. Tujuan Pemberdayaan
Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat agar menjadi mandiri. Menurut Ambar Teguh Sulistyani (Ambar 2017, 80) kemandirian masyarakat ditandai dengan kemampuan masyarakat untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dianggap tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif dengan mengarahkan sumber daya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut. Keempat kondisi tersebut hendaklah di arahkan untuk mencapai masyarakat yang lebih baik, seperti di jelaskan sebagai berikut :
a. Kondisi kognitif, pada hakekatnya merupakan kemampuan berfikir yang di landasi oleh pengetahuan dan wawasan seseorang atau masyarakat dalam mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi.
b. Kondisi konatif merupakan suatu sikap perilaku masyarakat yang terbentuk dan diarahkan pada perilaku yang sensitif terhadap nilai-nilai pembangunan dan pemberdayaan.
c. Kondisi afektif merupakan sifat yang dimiliki oleh masyarakat untuk dapat di intervensi demi mencapai keberdayaan sikap dan perilaku.
d. Kemampuan psikomotorik merupakan keterampilan yang dimiliki masyarakat dalam melakukan aktivitas pembangunan.
Kondisi di atas memerlukan sinergi dan pengembangan melalui intervensi dari suatu program pemberdayaan masyarakat. Hal ini bertujuan agar kompetensi masyarakat dapat terbangun dan keluar dari jaring kemiskinan.
B. Kaum Marginal
1. Definisi Kaum Marginal
Menurut Soedjiar, anak jalanan juga termasuk kaum marginal adalah anak usia 7 sampai dengan 17 tahun yang bekerja di jalan raya dan tempat umum lainnya yang dapat mengganggu ketentraman orang lain dan membahayakan bagi dirinya sendiri. (Soedijar 2013, 199)
Anak Jalanan, mereka adalah anak-anak yang tersisih, marginal, dan teralienasi dari perlakuan kasih sayang karena kebanyakan dalam usia yang relatif dini sudah harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras, dan bahkan sangat tidak bersahabat. (Bagong Suyanto 2019, 114)
Marginal, rentan, dan eksploitatif merupakan istilah-istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi dan kehidupan anak jalanan. Marginal, karena mereka melakukan jenis pekerjaan
yang tidak jelas jenjang kariernya, kurang dihargai, dan umumnya juga tidak menjanjikan prospek apapun di massa depan. Rentan karena resiko yang harus ditanggung akibat jam kerja yang sangat panjang benar-benar dari segi kesehatan maupun sosial sangat rawan. Adapun disebut eksploitatif karena mereka biasanya memiliki posisi tawar menawar (bergaining position) yang sangat lemah, tersubordinasi, dan cenderung menjadi objek perlakuan yang sewenang-wenang dari ulah preman atau oknum aparat yang tidak bertanggung jawab.
Anak jalanan atau tekyan, arek kere atau anak gelandangan atau kadang disebut juga secara eufemistik sebagai anak mandiri. Sesungguhnya mereka merupakan anak-anak yang tersisih, marginal, dan teralienasi dari perlakuan kasih sayang, karena kebanyakan dalam usia yang relatif dini sudah harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras, dan bahkan sangat tidak bersahabat. Di berbagai sudut kota, sering terjadi, anak jalanan harus bertahan hidup dengan cara-cara yang secara sosial kurang atau bahkan tidak dapat diterima masyarakat umum. Tidak jarang mereka juga dicap sebagai pengganggu ketertiban dan membuat kota menjadi kotor, sehingga yang namanya razia atau penggarukan bukan lagi hal yang mengagetkan mereka. (Bagong Suyanto 2019, 114-115)
2. Kelompok-kelompok Marginal
Sebagai bagian dari pekerja di jalanan, anak jalanan sendiri yang tergolong kaum marginal sebetulnya bukanlah kelompok yang homogen. Mereka cukup beragam, dan dapat dibedakan atas dasar pekerjaannya, hubungannya dengan orang tua atau orang
dewasa terdekat, waktu dan jenis kegiatannya di jalanan, serta jenis kelaminnya.
Menurut Surbakti berdasarkan hasil kajian, secara garis besar anak jalanan atau kaum marginal dibedakan dalam tiga kelompok: a. Children on the street
Anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerjaan anak di jalanan, namun masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua mereka. Sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orangtuanya. Fungsi anak jalanan pada kategori ini yaitu untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung tidak dapat diselesaikan sendiri oleh kedua orang tuanya.
b. Children of the street
Anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu. Banyak di antara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab, biasanya kekerasan, lari atau pergi dari rumah. Berbagai penelitian menunjukan bahwa anak-anak pada kategori ini sangat rawan terhadap perlakuan salah, baik secara sosial emosional, fisik maupun seksual.
c. Children from families of the street
Anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Walaupun anak-anak ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang ambing dari satu tempat ketempat lain dengan segala resikonya. Salah satu
ciri penting dari kategori ini yaitu pemampangan kehidupan jalanan sejak anak masih bayi bahkan sejak masih dalam kandungan. Di Indonesia, kategori ini dengan mudah ditemui di berbagai kolong jembatan, rumah rumah liar sepanjang rel kereta api, dan sebagainya, meskipun secara penelitian kuantitatif belum di ketahui berapa jumlahnya. (Bagong Suyanto 2019, 114-116)
3. Faktor Penyebab Kaum Marginal
Sesungguhnya ada banyak faktor yang menyebabkan anak anak terjerumus dalam kehidupan jalanan, seperti kesulitan keuangan keluarga atau tekanan kemiskinan, ketidakharmonisan rumah tangga orang tua dan masalah khusus menyangkut hubungan anak dengan orang tua. Kombinasi dari faktor-faktor ini sering kali memaksa anak-anak mengambil inisiatif mencari nafkah atau hidup mandiri di jalanan. Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga ikut menentukan keputusan untuk hidup di jalanan. Studi yang dilakukan Depsos Pusat dan Unika Atma Jaya Jakarta tahun 1999 di Surabaya yang mewawancarai 889 anak jalanan di berbagai sudut kota menemukan bahwa faktor penyebab atau alasan anak memilih hidup di jalanan yaitu karena kurang biaya sekolah sebanyak 28,2 persen dan membantu pekerjaan orang tua sebanyak 28,6 persen. (Bagong Suyanto 2019, 122)
Pada batas batas tertentu, memang tekanan kemiskinan merupakan kondisi yang mendorong anak-anak hidup di jalanan. Namun bukan berarti kemiskinan merupakan satu satunya faktor determinan yang menyebabkan anak lari dari rumah dan terpaksa hidup di jalanan.
Menurut penjelasan Justika S. Baharsjah, kebanyakan anak bekerja di jalanan bukanlah atas kemauan mereka sendiri, melainkan sekitar 60 persen di antaranya karena dipaksa oleh orangtuanya. Biasanya, anak-anak yang memiliki keluarga, orang tua penjudi dan peminum alkohol, relatif lebih rawan untuk memperoleh perlakuan yang salah. Pada kasus-kasus semacam ini, ibu sering kali menjadi objek perasaan ganda yang membingungkan.
Kasus child abuse tidak selalu terjadi, tetapi sering kali di jumpai bahwa latar belakang anak-anak memilih hidup di jalanan karena tindakan yang salah pada anak-anak. Anak yang hidup dengan orang tua yang terbiasa dengan bahasa kekerasan seperti menampar anak karena kesalahan kecil, pemukulan terhadap anak sampai penganiyaan, pada kondisi ini anak lebih memilih atau cenderung akan keluar dari rumah dan hidup di jalanan. Bagi anak-anak jalanan sendiri, kultur kehidupan urban yang menawarkan kebebasan, kesetiaan dan dalam hal tertentu juga “perlindungan” kepada anak-anak yang minggat atau pergi dari rumah akibat perlakuan salah telah menjadi daya tarik luar biasa. 4. Pendekatan Dalam Penanganan Kaum Marginal
Penanganan masalah kaum marginal dalam hal ini anak jalanan harus diakui bukanlah hal yang mudah. Selama ini, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan, baik oleh LSM, pemerintah, organisasi profesi dan sosial maupun orang per orang untuk membantu anak jalanan keluar atau paling tidak sedikit mengurangi penderitaan mereka. Namun, karena semuanya dilakukan secara temporer, segmenter, dan terpisah-pisah, maka hasilnyapun menjadi kurang maksimal.
Selama ini, upaya yang telah dilakukan untuk menangani anak-anak jalanan biasanya yaitu dengan berusaha mengeluarkan mereka dari jalanan, memasukannya ke berbagai “rumah singgah”, tempat-tempat pelatihan, atau dengan cara menangkap mereka, memasukan ke tempat-tempat anak nakal, atau tindak kekerasan lain. Namun banyak bukti menunjukan, model penanganan dan pelaksanaan berbagai program yang bersifat karitatif dan punitif seperti di atas tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan anak jalanan secara tuntas.
Menurut Tata Sudrajat yang dikutip dari bukunya Bagong Suyanto, selama ini beberapa pendekatan yang biasa dilakukan oleh LSM dalam penanganan anak jalanan, yaitu:
a. Street based
Model penanganan anak jalanan di tempat anak jalanan itu berasal atau tinggal, kemudian para street educator datang kepada mereka: berdialog, mendampingi mereka bekerja, memahami dan menerima situasinya, serta menempatkan diri sebagai teman. Dalam beberapa jam, anak-anak diberikan materi pendidikan dan keterampilan, di samping itu anak jalanan juga memperoleh kehangatan hubungan dan perhatian yang bisa menumbuhkan kepercayaan satu sama lain, yang berguna bagi pencapaian tujuan intervensi, di sini prinsip pendekatan yang dipakai biasanya yaitu “asih, asah, dan asuh”. b. Centre based
Pendekatan dan penanganan anak jalanan di lembaga atau panti. Anak-anak yang masuk dalam program ini di tampung dan diberikan pelayanan di lembaga atau panti, seperti pada malam hari diberikan makanan dan perlindungan, serta
perlakuan yang hangat dan bersahabat dari pekerja sosial. Pada panti yang permanen, bahkan disediakan pelayanan pendidikan, keterampilan, kebutuhan dasar, kesehatan, kesenian, dan pekerjaan bagi anak-anak jalanan.
c. Community based
Model penanganan yang melibatkan seluruh potensi masyarakat, terutama keluarga atau orangtua anak jalanan. Pendekatan ini bersifat preventif, yakni mencegah anak agar tidak masuk dan terjerumus dalam kehidupan di jalanan. Keluarga di berikan kegiatan penyuluhan tentang pengasuhan anak dan upaya untuk meningkatkan taraf hidup, sementara anak-anak mereka diberi kesempatan memperoleh pendidikan formal maupun informal, pengisian waktu luang dan kegiatan lainnya yang bermanfaat. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat agar sanggup melindungi, mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya secara mandiri. (Bagong Suyanto 2019, 124-125)
Berikut tabel pendekatan dalam penanganan anak jalanan menurut Tata Sudrajat:
Tabel 2 1 Pendekatan Dalam Penanganan Anak Jalanan Sebagai Kaum Marginal Pengelompokan Anak Jalanan Pendekatan Program Strategi Fungsi Intervensi Anak yang masih
berhubungan atau tinggal dengan orangtua Community Based Preventif
Anak yang masih ada hubungan
dengan keluarga, tetapi jarang berhubungan atau tinggal dengan orang tua
Anak tersisih atau putus hubungan dengan orang keluarga atau orang tuanya.
Centre Based Rehabilitasi
Sumber:Buku Bagong Suyanto
C. Keterampilan
1. Definisi Keterampilan
Keterampilan adalah sebuah kemampuan seseorang dalam mengoperasikan pekerjaan itu secara lebih mudah serta tepat. Pendapat tentang keterampilan menurut Gordon ini lebih kearah pada aktivitas atau kegiatan yang memiliki sifat psikomotorik.
Kata keterampilan dapat disamakan dengan kata kecekatan. Orang yang bisa dikatakan sebagai orang terampil adalah orang yang dalam mengerjakan atau juga dapat menyelesaikan pekerjaannya itu dengan secara cepat dan benar. Namun,apabila orang itu mengerjakan atau melesaikan pekerjaanya dengan cepat namun hasilnya itu tidak sesuai dalam artian salah. Maka orang itu belum bisa dikatakan sebagai orang yang terampil. Apabila orang itu dapat melakukan pekerjaan dengan benar serta sesuai apa yang diperintahkan, walau lambat didalam menyelesaikannya. Maka orang itu bisa disimpulkan ialah sebagai orang yang terampil. (Mozni Ramanto 1991, 2)
Keterampilan erat hubungannya dengan sumber daya manusia. The Liang Gie menegaskan pengertian keterampilan adalah
kegiatan menguasai sesuatu dengan tambahan bahwa memperdalam suatu keterampilan harus disertai dengan kegiatan praktik, berlatih, dan mengulang-ngulang suatu kegiatan atau keahlian. Seseorang yang memahami semua asas, metode pengetahuan dan teori serta mampu melaksanakan secara praktis adalah orang yang memiliki keterampilan. (Syarif Makmur 2008, 70)
Keterampilan berasal dari kata “terampil” yang artinya lihai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, mampu telaten. Sedangkan keterampilan mempunyai arti kecakapan menyelesaikan tugas. Maka keterampilan adalah bagaimana kemampuan untuk menyelesaikan tugas. (Departement Pendidikan Nasional, cet. Ke-4,.1180. diakses 25 Juli 2020 pukul 14.01)
Keterampilan dasar adalah keterampilan tahap permulaan yang harus dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. (Pedoman Penyelenggaraan Program Kecakapan, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemerintahan Departemen Pendidikan Nasional 2003, 5. Diakses 25 Juli 2020 pukul 14.05) 2. Jenis dan Kategori Keterampilan
Robbins menyatakan bahwa keterampilan dibedakan atas empat katergori, yakni sebagai berikut:
a. Basic Literacy Skill
Merupakan suatu keahlian dasar yang dimiliki oleh tiap-tiap orang, misalnya seperti menulis, membaca, mendengarkan, atau juga kemampuan dalam berhitung.
b. Technical Skill
Technical Skill adalah suatu keahlian yang didapat itu dengan melalui pembelajaran didalam bidang teknik, misalnya seperti
menggunakan komputer, memperbaiki handphone, serta lain sebagainya.
c. Interpersonal Skill
Interpersonal Skill adalah suatu keahlian tiap-tiap orang dalam melakukan komunikasi antar sesama, contohnya seperti mengemukakan pendapat serta bekerja bersama dalam kelompok. .
d. Problem Solving
Problem Solving adalah suatu keahlian seseorang di dalam memecahkan sebuah masalah dengan menggunakan logikanya. (seputarpengetahuan.co.id 2019 09, diakses 26 Juli 2020 10:34)
D. Wirausaha
1. Definisi Wirausaha
Wirausaha sama dengan wiraswasta, yaitu orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur mengatur permodalan operasinya. (KBBI, diakses dari seputarpengetahuan.id diakses 14 juli 2020 13:23)
Wirausaha menurut The Fortable MBA in entrepreneurship adalah “Entrepreneurship is the person who perceives an apportunity and creates an organization to pursue”, yang artinya bahwa seorang wirausaha adalah yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut. (Sudrajat 2014, 26)
Menurut J.B Say wirausaha adalah pengusaha yang mampu mengelola sumber-sumber daya yang dimiliki secara ekonomis (efekif dan efisien) dan tingkat produktivitas yang rendah menjadi lebih tinggi.
Menurut Reymond W.Y, wirausaha adalah orang yang mampu meretas gagasan menjadi kenyataan. Jadi, seorang wirausaha adalah orang yang kreatif dan inovatif serta mampu mewujudkannya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, kesejahteraan masyarakat dan lingkungannya. Maksud kreatif adalah bila seseorang mampu menciptakan yang baru atau mengadakan sesuatu yanag belum ada. (Sudrajat 2014, 28)
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wirausaha adalah orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan atau peluang-peluang bisnis. Peluang bisnis ini sebetulnya banyak di sekitar kehidupan ini. Hanya saja perlu adanya kejelian dengan pengamatan serta ketelitian dalam melihat suatu objek, bahwa objek tersebut merupakan peluang usaha. Objek tersebut bila di modifikasi bisa menjadi produk-produk yang laku di pasaran. Seperti eceng gondok yang di sulap menjadi kerajinan seperti, pot bunga, hiasan ruangan dan tas serta pernak pernik yang memiliki nilai ekonomi.
Beberapa pendapat di atas memuat bahwa seorang wirausaha memiliki kreativitas dan inovasi yaitu dengan melihat peluang sekitar lingkungan tempat tinggal yang sekiranya kurang bermanfaat di mata orang lain diubah menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah yang tinggi.
2. Karakteristik Seorang Wirausaha
Menurut Sudrajat, seorang wirausaha wajib memiliki sifat atau karakteristik secara pribadi, di antaranya sebagai berikut:
a. Percaya Diri
Kepercayaan diri merupakan sikap dan keyakinan yang harus dimiliki seorang wirausaha dalam menghadapi tugas dan pekerjaan. Di dalam sikap percaya diri terkandung nilai-nilai keyakinan, optimisme, individualisme dan ketidaktergantungan serta yakin akan kemampuannya untuk mencapai keberhasilan.
b. Berorientasi pada tugas dan hasil
Seorang wirausaha yang selalu mengutamakan tugas dan hasil adalah orang yang selalu mengedepankan nilai-nilai motif berprestasi, ketekunan, tekad, kerja keras, energik dan mempunyai dorongan kuat dalam meraih tujuan atau sasaran bisnis. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, seorang wirausaha harus berinisiatif, disiplin diri, berfikir kritis, tanggap, dan semangat berprestasi.
c. Berani ambil resiko
Keberanian dan kemampuan mengambil resiko merupakan nilai utama dala kewirausahaan. Tentu pengambilan resiko ini dilaksanakan setelah melalui pemikiran, analisis, perhitungan serta pertimbangan yang matang.
d. Kepemimpinan
Wirausahawan yang sukses tidak terlepas dari sifat kepemimpinannya, keteladanannya dalam mengendalikan usaha bisnisnya. Selain hal tersebut, pemimpin dalam
menjalankan usahanya secara transparan dan jujur dengan tujuan tidak hanya mencarai laba saja, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan para karyawan atau pekerjanya jika memiliki.
e. Berorientasi ke masa depan
Wajib memiliki wawasan yang berorientasi ke masa depan. Mempunyai visi ke depan, dan mengetahui kemana kegiatan bisnisnya tersebut dibawa, seperti memiliki strategi, planning dan target pencapaian.
f. Kreatif dan inovatif
Sifat kreatif, yaitu kemampuan menciptakan gagasan dan menemukan cara baru dalam melihat permasalahan dan peluang yang ada. Di samping itu juga, harus memiliki sifat inovatif, yaitu kemampuan mengaplikasikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan dan peluang yang ada untuk lebih memakmurkan kehidupan keluarga dan masyarakat. g. Sifat kemandirian
Sifat yang dimaksud kemandirian adalah bahwa selalu mengembalikan perbuatannya sebagai tanggung jawab pribadi. Keberhasilan dan kegagalan merupakan konsekuensi pribadi wirausaha. Dalam hal ini, dapat bertindak dapat mengambil keputusan dan memiliki berbagai kegiatan dalam mencapai tujuan.
h. Memiliki tanggung jawab
Ide, perilaku dan implementasi dari aktivitas yang dijalankan seorang wirausaha tidak terlepas dari tuntutan dan tanggung jawab. Oleh karena itu, komitmen sangat diperlukan dalam pekerjaan sehingga mampu melahirkan tanggung jawab.