• Tidak ada hasil yang ditemukan

CUT FINOLA / IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "CUT FINOLA / IKM"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEIKUTSERTAAN SUAMI DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI METODE OPERASI PRIA

(MOP) DI KECAMATAN BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN 2015

TESIS

Oleh CUT FINOLA 137032254 / IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(2)

ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEIKUTSERTAAN SUAMI DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI METODE OPERASI PRIA

(MOP) DI KECAMATAN BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN 2015

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh CUT FINOLA 137032254 / IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(3)
(4)

Telah Diuji

Pada Tanggal : 7 Januari 2016

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Drs. Heru Santosa, M.S, Ph.D Anggota : 1. Dra. Rabiatun Adawiyah, MPHR 2. Drs. Abdul Jalil AA, M.Kes 3. Drs. Tukiman, M.K.M

(5)

PERNYATAAN

ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEIKUTSERTAAN SUAMI DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI METODE OPERASI PRIA

(MOP) DI KECAMATAN BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN 2015

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Maret 2016 Penulis,

Cut Finola 137032254/IKM

(6)

ABSTRAK

Indonesia adalah negara yang banyak memiliki masalah kependudukan yang hingga saat ini belum bisa diatasi. Fakta menunjukkan bahwa pada tahun pogram kesetaraan gender dalam pelaksaan Keluarga Berencana (KB) antara pria dan perempuan memiliki kesenjangan yang tinggi. Berdasarkan datahasil pencapaian peserta KB aktif Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Kota Lhokseumawe Tahun 2014 pemakaian kontra sepsi vasektomi 7 peserta (1,4%), kondom 1314 peserta (12,1%). Sedangkan suami PUS yang tidak memakai kontrasepsi sebanyak 9575 suami. Berdasarkan data pencapaian peserta KB Banda Sakti tahun 2014 jumlah suami PUS 10896, pemakaian kontrasepsi vasektomi berjumlah 4 peserta (0,6%), kondom berjumlah 596 peserta (11,2%).

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku akseptor KB pria terhadap vasektomi di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe dengan jenis Penelitian Kualitatif dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Informan diambil dari semua jumlah peserta yang telah menjadi akseptor KB Vasektomi di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anak, pendidikan, pengetahuan, sosial budaya, dukungan istri dan dukungan keluarga berpengaruh terhadap suami dalam memilih Vasektomi sebagai alat kontrasepsi pria di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe.

Diperlukan perhatian terhadap faktor yang mempengaruhi suami dalam memilih Vasektomi sebagai kontrasepsi di Kecamatan Banda Sakti tersebut sehingga dapat meningkatkan cakupan KB pria. Faktor personal, faktor sosial budaya, dan faktor situasional yang menjadi penyebab suami dalam memilih Vasektomi sebagai kontrasepsi pria di Kecamatan Banda Sakti diharapkan dapat disebarluaskan dan diberikan pemahaman ke masyarakat sehingga dapat meninggatkan cakupan KB pria di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe ini.

Kata Kunci : Vasektomi, Pasangan Usia Subur

(7)

ABSTRACT

Indonesia is a country which has various population problems that have not been solved so far. The fact indicates that in the gender equality program of the Family Planning has high discrepancy. Based on the data of the achievement in active Family Planning acceptors in Family Planning Field Worker at Lhokseumawe, in 2014, it was found that 7 acceptors (1.4%) used vasectomy contraception and 1,314 acceptors (12.1%) used condoms, while 9,575 husbands of Fertile Couple did not used contraception devices. Based on the data from Banda Sakti acceptors, it was found that of the 10,896 husbands of Fertile Couple in 2014, 4 of them (0.6%) used vasectomy contraception devices and 596 of them (11.2%) used condoms.

The objective of the research was to find out the behavior of male Family Planning acceptors toward vasectomy in Banda Sakti Subdistrict, Lhokseumawe. The research was qualitative, using observation and interview method. The informants were Family Planning acceptors who used vasectomy method in Banda Sakti Subdistrict, Lhokseumawe.

The result of the research showed that the number of children, education, knowledge, socio-culture, wives’ support, and family support had influence on husbands in choosing vasectomy as contraception devices in Banda Sakti Subdistrict, Lhokseumawe.

It is recommended that the factors which influence husband to used vasectomy as contraception devices in Banda Sakti Subdistrict should be heeded seriously in order that the coverage of male Family Planning acceptors can be achieved.

Personal, socio-cultural, and situational factors which influence men to use vasectomy contraception in Banda Sakti Subdistrict should be spread and socialized to the people so that male Family Planning acceptors in Banda Sakti Subdistrict, Lhokseumawe, can be increased.

Keywords: Vasectomy, Fertile Couple

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Pengaruh Faktor Personal, Sosial dan Situasional terhadap Keikutsertaan Suami dalam Memilih Alat Kontrasepsi Metode Operasi Pria (MOP) di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe Tahun 2015”

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan Akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Penulis dalam menyusun tesis ini mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.S selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat.

4. Drs. Heru Santosa, M.S, Ph.D selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Dra.

Rabiatun Adawiyah, MPHR selaku Anggota Komisi Pembimbing dengan penuh perhatian dan kesabaran dalam memberikan bimbingan sehingga tesis ini dapat terselesaikan.

(9)

5. Drs. Abdul Jalil AA, M.Kes dan Drs. Tukiman, M.K.M selaku penguji tesis yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis ini.

6. Terima kasih Kepada Ibu Ka. BKKBN Morina Wati, S.K.M, ibu PLKB Kota Lhokseumawe beserta jajaranya yang telah memberikan ijin dan dukungan moril kepada penulis.

7. Ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada keluarga besar Ayahhanda tercinta Alm. T. Banta Ali AS, SE.

8. Ucapan terima kasih kepada seseorang yang tersayang Rykky Hadynata, S.TP yang banyak memberikan motivasi dukungan moril dan materil selama penelitian berlangsung.

9. Rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan moril dan materil selama mengikuti pendidikan, penelitian dan penulisan tesis.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan dan diucapkan terima kasih.

Medan, Maret 2016 Penulis,

Cut Finola 137032254/IKM

(10)

RIWAYAT HIDUP

Cut Finola lahir di Kota Lhokseumawe tanggal 13 Juli 1985, beragama Islam, bertempat tinggal di Kota Lhokseumawe, anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Alm. T.Banta Ali As, SE dan Ibu Cut Nurlela. Penulis telah menikah dan dikaruniai 2 orang putri yang bernama Ashila Putroe dan Asyiqa Imanika. Pendidikan saya dimulai di Sekolah Dasar Negeri 1 Kota Lhokseumawe (1997), SMP Negeri 1 Kota Lhokseumawe (2000), SPK Kesdam Iskandar Muda Kota Lhokseumawe (2003), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Banda Aceh (2008).

Sejak tahun 2006 sampai dengan 2010 penulis bekerja sebagai Perawat di Pustu Hagu Teungoh Kota Lhokseumawe, tahun 2011 sampai 2012 bekerja sebagai salah satu tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Banda Sakti Kota Lhokseumawe, dan tahun 2013 sampai dengan saat ini saya adalah salah satu staf kepegawaian Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe.

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 11

1.3. Tujuan Penelitian ... 11

1.4. Manfaat Penelitian ... 12

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 13

2.1. Keluarga Berencana (KB) ... 13

2.2. Kontrasepsi ... 16

2.2.1. Definisi Kontrasepsi ... 16

2.2.2. Pemilihan Metode Kontrasepsi ... 17

2.2.3. Manfaat Alat Kontrasepsi ... 18

2.3. Metode Operasi Pria (MOP) ... 20

2.3.1. Definisi MOP ... 20

2.3.2. Syarat untuk Menjadi Akseptor MOP ... 21

2.3.3. Metode MOP ... 22

2.3.4. Kelebihan dan Keterbatasan MOP/Vasektomi ... 26

2.3.5. Indikasi dan Kontra Indikasi MOP/Vasektomi ... 27

2.3.6. Komplikasi MOP/Vasektomi ... 28

2.3.7. Perawatan Pasca Bedah Vasektomi ... 28

2.3.8. Reanatomosis atau Rekanalisasi (Pemulihan) Vasektomi ... 29

2.3.9. Efek Psikologis dari Vasektomi ... 30

2.4. Teori Difusi Inovasi ... 31

2.4.1. Definisi Inovasi ... 31

2.4.2. Difusi dan Perubahan Sosial ... 32

2.4.3. Proses Keputusan Inovasi ... 34

2.4.4. Paradigm Proses Keputusan Inovasi ... 35

2.5. Faktor-faktor yang Memengaruhi Adopsi Inovasi ... 38

(12)

2.5.1. Faktor Personal yang Memengaruhi Adopsi Inovasi .... 38

2.5.2. Faktor Sosial yang Memengaruhi Adopsi Inovasi ... 38

2.5.3. Faktor Situasional yang Memengaruhi Adopsi Inovasi 40 2.6. Landasan Teori ... 41

2.7. Kerangka Berpikir ... 43

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 44

3.1. Jenis Penelitian ... 44

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 44

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 44

3.2.2. Waktu Penelitian ... 45

3.3. Informan Penelitian ... 45

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 46

3.5. Instrumen Pengumpulan Data ... 47

3.6. Metode Analisis Data ... 47

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 48

4.1. Gambaran Kecamatan Banda akti ... 48

4.1.1. Letak Geografis ... 48

4.1.2. Data Demografi ... 49

4.2. Hasil Wawancara ... 49

4.2.1. Karakteristik Informan ... 49

4.2.2. Faktor Personal ... 50

4.2.3. Faktor Sosial ... 64

4.2.4. Faktor Situasional ... 70

BAB 5. PEMBAHASAN ... 76

5.1. Pengetahuan Informan tentang Vasektomi/MOP ... 76

5.2. Sikap tentang Vasektomi/MOP ... 79

5.3. Peranan Keluarga tentang Vasektomi/MOP ... 83

5.4. Budaya tentang Vasektomi/MOP ... 86

5.5. Sumber Informasi Vasektomi/MOP ... 89

5.6. Pelaksanaan Vasektomi/MOP ... 91

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 97

6.1. Kesimpulan ... 97

6.2. Saran ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 100

LAMPIRAN ... 103

(13)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

4.1. Distribusi Karakteristik Informan ... 49 Matriks 4.1. Jawaban Informan tentang KB Pria dan Jenisnya ... 50 Matriks 4.2. Jawaban Informan tentang Mekanisme/Metode Vasektomi/MOP 51 Matriks 4.3. Jawaban Informan tentang Kelebihan dan Kekurangan

Vasektomi ... 53 Matriks 4.4. Jawaban Informan tentang Pandangan Vasektomi dapat

Membuat Kejantanan Pria Berkurang ... 54 Matriks 4.5. Jawaban Informan tentang Vasektomi dapat di Pandang Rendah

oleh Orang Lain ... 56 Matriks 4.6. Jawaban Informan tentang Keikutsertaan Para Suami dalam KB

Vasektomi ... 57 Matriks 4.7. Jawaban Informan tentang KB Vasektomi terhadap Hubungan

Seksual ... 58 Matriks 4.8. Jawaban Informan tentang Pandangan Vasektomi dapat

Membuat Keperkasaan Pria Berkurang ... 59 Matriks 4.9 Jawaban Informan tentang Vasektomi dapat Dipandang Rendah

oleh Orang Lain ... 60 Matriks 4.10. Jawaban Informan tentang Suami yang Ikut KB Vasektomi tanpa

Dukungan Istri ... 61 Matriks 4.11. Jawaban Informan tentang Suami yang Ikut KB Vasektomi

Berarti di Kebiri ... 62 Matriks 4.12. Jawaban Informan tentang Ikut KB Vasektomi Berati tidak akan

Memiliki Keturunan ... 63 Matriks 4.13. Jawaban Informan tentang Sumber Informasi tentang KB

Vasektomi ... 64

(14)

Matriks 4.14. Jawaban Informan tentang Dukungan Istri/Keluarga terhadap KB Vasektomi ... 65 Matriks 4.15. Jawaban Informan tentang Dukungan Istri dalam Mendampingi

Suami saat Melakukan KB Vasektomi ... 66 Matriks 4.16. Jawaban Informan tentang Keluhan Istri dalam Berhubungan

Seksual setelah Suami Ikut Vasektomi ... 67 Matriks 4.17. Jawaban Informan tentang Larangan dalam Budaya Mengenai

Suami Ikut KB Vasektomi ... 68 Matriks 4.18. Jawaban Informan tentang Komentar Masyarakat Mengenai

Keikutsertaan KB Vasektomi ... 69 Matriks 4.19. Jawaban Informan Setelah Menjadi Aseptor KB Vasektomi

terhadap Hidup Bermasyarakat ... 70 Matriks 4.20. Jawaban Informan tentang Ada/Tidaknya Penyuluhan

Kontrasepsi/KB Vasektomi... 71 Matriks 4.21. Jawaban Informan Mengenai Penjelasan tentang Kontrasepsi

MOP/Vasektomi Lengkap dan Jelas ... 71 Matriks 4.22. Jawaban Informan dalam Mendapatkan Pelayanan KB

MOP/Vasektomi ... 72 Matriks 4.23. Jawaban Informan tentang Ada atau Tidaknya Pengeluaran Dana

Sewaktu Mengikuti KB MOP/Vasektomi... 73 Matriks 4.24. Jawaban Informan terhadap Waktu Menjadi Akseptor

MOP/Vasektomi ... 74 Matriks 4.25. Jawaban Informan terhadap Waktu Menjadi Akseptor

MOP/Vasektomi ... 75

(15)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1. Metode MOP/Vasektomi dengan Menggunakan Pisau ... 24 2.2. Metode MOP/Vasektomi Tanpa Pisau (VTP) ... 26 2.3. Kerangka Berpikir Penelitian ... 43

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden ... 103

2. Panduan Wawancara Mendalam (Indepth Interview)... 104

3. Dokumentasi Penelitian ... 108

4. Surat Izin Penelitian ... 110

5. Surat Selesai Penelitian ... 111

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masalah yang dihadapi beberapa negara berkembang dewasa ini adalah mengurangi jumlah kemiskinan dengan menggunakan berbagai cara baik melalui peningkatkan infrastruktur ekonomi seperti membangun jalan, jembatan, pasar, serta sarana lain, maupun membangun derajat dan partisipasi masyarakat melalui peningkatan pendidikan maupun kesehatan. Namun demikian kendala utama yang dihadapi hampir semuanya sama, yang umumnya bersumber pada permasalahan kependudukan. Mulai dari masih tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan, rendahnya kesadaran masyarakat tentang hak-hak reproduksi, serta masih cukup tingginya laju pertumbuhan penduduk (BKKBN, 2010).

Keprihatinan akan permasalahan kependudukan melahirkan sebuah konsep pembangunan berwawasan kependudukan atau konsep pembangunan yang bekelanjutan. Dari sini pula lahirlah kesadaran dunia untuk mengurangi masalah kemiskinan dan keterbelakangan melalui pendekatan kependudukan. Langkah pertama dan merupakan strategi yang monumental adalah kesadaran lebih dari 120 pemerintah/negara yang berjanji melalui konferensi internasional tentang pembangunan dan kependudukan (ICPD) di Cairo pada tahun 1994 untuk bersama- sama menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi bagi semua orang tanpa diskriminasi “Secepat mungkin paling lambat tahun 2015” (BKKBN – FE UI, 2004).

(18)

Kondisi kependudukan di Indonesia saat ini baik yang menyangkut jumlah, kualitas maupun persebarannya merupakan tantangan yang berat yang harus diatasi bagi tercapainya keberhasilan pembangunan bangsa Indonesia. Situasi dan kondisi kependudukan yang ada pada saat ini merupakan suatu fenomena yang memerlukan perhatian dan penanganan secara seksama, lebih sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

Salah satu upaya yang telah dan perlu terus dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat adalah dengan pengendalian jumlah penduduk dan peningkatan kualitasnya melalui Program Keluarga Berencana (BKKBN, 2001).

Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI, Badan Kependudukan dan KB Nasional Nomor 82/PER/B5/2011. Adapun bentuk perkembangan bentuk lembaga/organisasi BKKBN adalah sebagai berikut:

1. LKBN tugas cakupannya dua hal, 1) melembagakan KB, 2) mengelola segala jenis bantuan untuk KB. Bentuk organsasi terdiri atas badan pertimbangan KB nasional (BPKBN) sedang badan pelaksana KB yang untuk pusat terdiri dari Ketua umum I, II, III dan sekretaris umum.

2. BKKBN berdasarkan Keppres RI No 8 Tahun 1970, membentuk lembaga BKKBN menggantikan LKBN, program yang ditingkatkan dengan segala sumber yang ada dengan mengikut sertakan partisipasi aktif masyarakat. BKKBN langsung di bawah Presiden yang sehari hari di dampingi Musyawarah pertimbangan KB nasional.

3. BKKBN berdasarkan keppres RI No 33 Tahun 1972, BKKBN menjadi lembaga pemerintah Non departemen yang langsung di bawah Presiden. Dengan fungsi

(19)

membantu presiden dalam menetapkan kebijakan pemerintah di bidang program KB nasional dan meng koordinasikan pelaksanaan program KB nasional. Dalam tugas sehari harinya di dampingi oleh TIM Pertimbangan Pelaksanaan Program (TP3) yang anggota terdiri dari para sekretaris jenderal dari beberapa departemen.

4. BKKBN berdasarkan Keppres RI No 38 tahun 1978, seperti termaktub pada GBHN 1978. Tetap menjadi lemabaga nondeparteman, dibawah dan bertanggung jawab kepada presiden dengan tugas pokok mempersiapkan kebijakan umum dan menkoordinasikan pelaksanaan program KB nasional dan program kependudukan.

5. BKKBN berdasar Keppres RI No 64 tahun 1983 , seperti yang tercantum pada GBHN 1983. Dirumuskan program KB untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak,mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera dengan cara mengendalikan kelahiran untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk Indonesia. Semuanya tercantum dalam rumusan GBHN . Program KB nasional menjadi bagian integral pembangunan nasional. Dengan segala pemanfaatan sumber daya yang tersedia demi mempercepat penurunan angka kelahiran.

6. BKKBN berdasarkan Keppres RI No 109 tahun 1993. Berdasarkan Keppres ini diharapkan adanya percepatan terwujudnya keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera,di pandang perlu lebih meningkatkan peran serta semua pihak secara terkoordinasi, integrasi dan sinkronisasi dalam pelaksanaan gerakan KB nasional dam pembangunan keluarga sejahtera.Tugas pokok BKKBN melanjutkan dan

(20)

memantapkan kegiatan kegiatan program nasional, merumuskan kebijakan umum pengelolaan program dan mengkoordinasikan dengan institusi terkait.

7. BKKBN berdasarkan Keppres RI No 20 tahun 2000. Mempercepat terwujudnya keluarga berkualitas , maju, mandiri dan sejahtera. Dipandang perlu untuk meningkatkan peran semua pihak agar berkoordinasi,terintegrasi dan tersinkronisasi dalam program KB nasional dan pembangunan Keluarga sejahtera.

Pemberdayaan perempuan BKKBN yang mempunyai tugas merumuskan kebijakan pengelolaan dan koordinasi pelaksana program KB nasional dan program Keluarga sejahtera.

8. BKKBN berdasarkan Keppres RI No 166 tahun 2000. Dalam keppres ini sesuai ketentuan UU yang berlaku. BKKBN sebagai lembaga Nondepartemen berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan dipimpin oleh seorang kepala yang dijabat dan dikoordinasikan kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Keppres ini dikuti oleh keputusan menteri negara pemberdayaan perempuan/Kepala badan koordinasi keluarga berencana nasional tentang organisasi dan tata kerja BKKBN pusat Nomor 10/HK-0101/B5/2001 sesuai dengan persetujuan menteri negara pendayagunaan aparatur negara Nomor 04/M.PAN/1/2001 tanggal 8 januari 2008.

9. BKKBN berdasarkan Keppres RI No 103 Tahun 2001 dan diikuti Keppres RI No 110 tahun 2001. Menegaskan kembali posisi BKKBN sesuai UU yang berlaku sebagai lembaga Nondepartemen dan berada si bawah dan bertanggung jawab kepada presiden , Kepala BKKBN berkoordinasi dengan menteri kesehatan RI.

(21)

10. BKKBN berdasarkan Peraturan Presiden RI No 62 tahun 2010. BKKBN adalah lembaga nondepartemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan. BKKBN mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan penyelenggaraan KB.

11. BKKBN berdasarkan peraturan kepala BKKBN No 82/PER/B5/2011.

Menjelaskan tentang organisasi dan tata kerja perwakilan BKKBN provinsi.

Perwakilan BKKPN Provinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala BKKBN pusat. Perwakilan BKKBN provinsi di pimpin oleh seorang kepala.

Pada dasa warsa awal program Keluarga Berencana (KB) berjalan (1970- 1980) Indonesia telah dapat menekan laju pertumbuhan penduduk menjadi 2,34 % dari 2.8 % lebih pada dasa warsa sebelumnya, kemudian pada 10 tahun berikutnya (1980-1990) laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan lagi menjadi 1,98 % dan pada dekade berikutnya (2000-2010) tingkat pertumbuhannya menjadi 1,49 %. Kendati pertumbuhan penduduk kecenderungannya semakin turun, hal yang perlu diketahui adalah bahwa berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237.641.326 jiwa sehingga dapat diperkirakan angka pertumbuhan penduduk secara absolut kurang lebih 3 juta jiwa per tahun dan menempatkan Indonesia di posisi keempat setelah RRC, India dan AS (BPS, 2011).

Hal yang menarik dari perjalanan panjang Program Keluarga Berencana di Indonesia yang sudah menginjak tahun ke-35 dan kini menjadi persoalan baru ketika

(22)

telah diratifikasinya ICPD yang antara lain berisi tuntutan keadilan dan kesetaraan gender, ternyata tingkat kesertaan ber-KB secara umum didominasi oleh perempuan, sedangkan pada pria tingkat kepesertaannya masih sangat rendah (kurang dari 6%) dari jumlah total Peserta KB Aktif (PA) yang ada atau kalau dibandingkan secara proporsional persentase kepesertaan pria dan wanita sangat tidak proporsional.

Sumbangan terbesar yang mempunyai dampak sangat signifikan terhadap laju pertumbuhan penduduk (LPP) adalah pengguna alat kontrasepsi jangka panjang, salah satunya adalah Metode Operasi Pria (MOP) atau Vasektomi (BKKBN, 2006).

Berdasarkan Rakernas Program KB tahun 2011, yang mengamanatkan perlunya ditingkatkan peran pria dalam KB, ditindak lanjuti melalui Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN Nomor 10/HK- 010/B5/2001 tanggal 17 Januari 2001 Tentang Organisasi dan Tata Kerja BKKBN, dengan membentuk Direktorat Partisipasi Pria di Bawah Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi yang bertugas merumuskan kebijakan operasional Peningkatan Partisipasi pria, diputuskan perlunya intervensi khusus melalui program peningkatan partisipasi pria yang tujuan akhirnya ”Terwujudnya keluarga berkualitas melalui upaya peningkatan kualitas pelayanan, promosi KB dan kesehatan reproduksi yang berwawasan gender pada tahun 2015”. Salah satu sasaran programnya adalah meningkatkan pria/suami sebagai peserta KB, motivator dan kader, serta mendukung istri dalam KB dan kesehatan reproduksi, yang tolok ukurnya (1) Meningkatnya peserta KB Kondom dan vasektomi 10 %, dan (2) Meningkatnya motivator/kader pria 10 % (Rakernas BKKBN,2014).

(23)

Berdasarkan data kependudukan di Indonesia, Aceh merupakan salah satu provinsi yang memiliki jumlah penduduk yang sedikit yaitu hanya 4.494.410 orang dari 237.641.326 orang total jumlah penduduk di Indonesia (BPS, 2014). Laju pertumbuhan penduduk Aceh tidak diimbangi dengan keikutsertaan dalam hal ber- KB. Hal ini dapat dilihat dari data Pasangan Usia Subur (PUS) dan peserta KB aktif bahwa jumlah peserta KB aktif di Indonesia sebanyak 35.276.105 orang (75,88% dari jumlah PUS) dan Bengkulu menempati urutan teratas dengan jumlah peserta KB aktif 87,70% dari jumlah PUS, yang disusul oleh Bali (85,11%) dan Gorontalo (83,19%) sedangkan provinsi Aceh berada di urutan 32 dari 33 provinsi dengan jumlah peserta KB aktif 69,21% dari 1.454.090 PUS (BPS, 2014). Dari jumlah pasangan usia subur di Aceh yang berhasil dibina menjadi peserta KB dengan menggunakan MOP/vasektomi masih sangat rendah yaitu 1,05% sebagai alat kontrasepsi.

Berdasarkan hasil pencapaian peserta KB baru dan aktif di Aceh diketahui bahwa sampai bulan Desember 2014 dari 18 kabupaten/kota 5 kabupaten/kota yang tingkat pencapaian peserta KB metode MOP melebihi pencapaian provinsi (1,05%) sementara 14 kabupaten/kota lainnya tingkat pencapaiannya di bawah pencapaian provinsi (BKKBN, 2014).

Kota Lhokseumawe merupakan salah satu Kota di Aceh yang memiliki luas 181,06 km2 dengan jumlah penduduk 181.976 jiwa dengan LPP 1,21% (keadaan tahun 2014) dan tersebar di 4 kecamatan (BPS, 2014) dengan jumlah akseptor KB metode MOP sampai Desember 2014 sebanyak 11 akseptor (0,1% dari jumlah PUS).

Kecamatan Banda Sakti merupakan ibu kota Lhokseumawe dengan kepadatan

(24)

penduduk 945 jiwa/km2. Kecamatan Banda Sakti mempunyai sarana prasarana yang memadai sehingga memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai hal termasuk pelayanan KB dengan metode MOP. Jumlah akseptor MOP di Kota Lhokseumawe pada tahun 2014 sebanyak 11 akseptor dan 7 akseptor diantaranya berdomisili di Kecamatan Banda Sakti (BKKBN Kota Lhokseumawe,2014). Namun jumlah tersebut masih jauh jika dibandingkan dengan jumlah PUS yaitu 26.709 pasangan yang ada di Kecamatan Banda Sakti dan Kota Lhokseumawe.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh BKKBN Provinsi Aceh bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (PPAKB) Kota Lhokseumawe untuk meningkatkan partisipasi pria dalam MOP. Upaya yang telah dilakukan antara lain penyuluhan dan sosialisasi MOP melalui pembagian leaflet serta pemberian informasi yang dilakukan oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), namun hal tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan.

Penyebab rendahnya partisipasi pria dalam KB metode MOP dapat dikelompokkan dalam beberapa faktor. Dari faktor personal yang meliputi umur, jumlah anak, pendidikan, pengetahuan dan sikap. Umur merupakan faktor penentu seseorang dalam menggunakan kontrasepsi, semakin tua umur seseorang maka semakin rendah tujuan untuk memiliki anak, sehingga seseorang cenderung untuk menggunakan kontrasepsi yang sifatnya permanen, dalam hal ini MOP. Demikian juga dengan jumlah anak menjadi salah satu faktor penting seseorang untuk menjadi akseptor MOP. Semakin banyak jumlah anak, maka semakin besar kemungkinan seseorang untuk menjadi akseptor MOP (BKKBN, 2006).

(25)

Selain faktor umur dan jumlah anak, faktor personal lain yang juga berpengaruh dalam penggunaan kontrasepsi MOP adalah pendidikan. Hasil penelitian yang dilakukaan Penelitian Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) di wilayah Puskesmas Tembilan Kota Pekanbaru tahun 2008 diketahui bahwa pendidikan berhubungan dengan keikutsertaan pria dalam KB, semakin tinggi tingkat pendidikan suami, maka semakin mudah untuk menerima gagasan program KB. Selain itu pengetahuan dan pria yang baik tentang MOP akan membentuk tindakan yang positif terhadap keikutsertaan KB (BKKBN, 2010).

Faktor sosial atau lingkungan di sekitar akseptor yang meliputi peranan keluarga dan budaya juga mempengaruhi pria dalam MOP. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (Puslitbang KB dan KR) pada tahun 2009 di Yogyakarta dan Jakarta menyimpulkan bahwa rendahnya partisipasi pria dalam penggunaan kontrasepsi juga disebabkan oleh keluarga, dimana sebagian besar ibu/istri tidak mendukung dan merasa khawatir bila suaminya menjadi akseptor MOP. Demikian juga dengan hasil penelitian yang dilakukan di Jawa Barat dan Sumatera Selatan pada tahun 2000 diketahui bahwa penyebab rendahnya pria ber KB sebagian besar disebabkan oleh faktor keluarga, antara lain istri tidak mendukung (66,26%). Selain dukungan keluarga, budaya juga memengaruhi pria untuk menjadi akseptor KB.

Adanya anggapan bahwa KB hanya diperuntukkan untuk wanita karena pria tidak pernah hamil dan tersebut merupakan hal yang tidak penting untuk dilakukan (BKKBN, 2006).

(26)

Rumor dan fakta lain tentang vasektomi sama dengan kebiri, dapat membuat pria impotensi, dapat menurunkan libido, membuat pria tidak bisa ejakulasi, tindakan operasi yang menyeramkan, pria/suami dapat dengan mudah untuk selingkuh, dan beberapa pria cemas terhadap prosedur pelaksanaan MOP. Hal tersebut memengaruhi rendahnya keikutsertaan pria dalam melakukan MOP (Everett, 2008).

Faktor personal dan lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap keikutsertaan pria/suami dalam ber-KB. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Bantul bahwa partisipasi pria dalam ber-KB dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, persepsi tentang partisipasi pria dalam KB dan sikap istri (Budisantoso, 2008). Anggraeni (2007) juga menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi keikutsertaan pria dalam ber-KB adalah akses pengetahuan yang masih rendah tentang keluarga berencana, sosial ekonomi keluarga, stigma di masyarakat bahwa KB adalah urusan wanita, pilihan metode KB bagi pria yang masih terbatas, dan faktor pemahaman terhadap masalah kesetaraan gender dalam pembagian tugas dan tanggung jawab keluarga. Hal ini didukung dengan penelitian Wahyuni (2013) bahwa pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga memengaruhi partisipasi pria.

Selain faktor personal dan faktor sosial, faktor situasional yang meliputi sumber informasi merupakan faktor yang memengaruhi partisipasi pria dalam ber- KB. Hasil studi identifikasi partisipasi pria dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang dilakukan oleh Direktorat Partisipasi Pria (DITPRI) dengan Puslitbang KB dan KR Tahun 2001 diketahui

(27)

rendahnya partisipasi pria dalam vasektomi disebabkan karena kurangnya informasi kepada pria (BKKBN, 2001). Hal ini didukung dengan penelitian Ekarini (2008) yang menyimpulkan bahwa kualitas layanan KB dan akses layanan KB berpengaruh dengan partisipasi pria dalam vasektomi.

Berdasarkan data bahwa jumlah akseptor KB metode MOP di Kecamatan Banda Sakti sebanyak 7 orang dan merupakan jumlah tertinggi di Kota Lhokseumawe membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Faktor Personal, Sosial dan Situasional terhadap Keikutsertaan Dalam Memilih Alat Kontrasepsi Metode Operasi Pria (MOP) di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe”

1.2. Permasalahan

Adapun permasalahan pada penelitian ini adalah jumlah akseptor vasektomi di Kecamatan Banda Sakti tertinggi di Kota Lhokseumawe yaitu berjumlah 11 orang.

Namun jika dibandingkan dengan jumlah PUS yaitu 26.709 pasangan, jumlah akseptor tersebut masih rendah sehingga peneliti ingin menganalisis faktor yang mempengaruhi keikutsertaan suami dalam memilih alat kontrasepsi Metode Operasi Pria(MOP) di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi keikutsertaan suami dalam memilih alat kontrasepsi Metode Operasi Pria (MOP) di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe.

(28)

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :Sebagai masukan kepada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Provinsi Aceh, Pemberdayaan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana Kota Lhokseumawe dan Puskesmas di wilayah Kecamatan Banda Sakti dalam rangka pengambilan kebijakan untuk program peningkatan keikutsertaan suami dalam memilih alkon MOP.

1. Sebagai masukan kepada Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dalam merencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pria dalam MOP.

2. Sebagai masukan kepada keluarga khususnya istri untuk mendukung suami yang belum melakukan MOP agar mau berpatisipasi dalam MOP.

3. Penelitian ini dapat menambah khasana keilmuan di bidang promosi kesehatan dan kesehatan reproduksi khususnya dalam upaya peningkatan keikutsertaan suami dalam MOP.

4. Dapat dipergunakan sebagai pemahaman dan gambaran realitas bagi para PUS khususnya suami dalam menentukan keikutsertaan dalam KB MOP ini.

5. Bagi peneliti sendiri penelitian ini sangat bermanfaat dan menambah ilmu serta lebih peka terhadap masalah-masalah KB dimasyarakat, terutama tentang keikut sertaan para suami dalam memilih alkon MOP.

(29)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keluarga Berencana (KB)

Di Indonesia KB modern mulai dikenal pada tahun 1953. Pada waktu itu sekelompok ahli kesehatan, kebidanan dan tokoh masyarakat telah mulai membantu masyarakat, namun dengan sedikit mungkin publisitas, dengan obat yang ada tentang KB. Pada tanggal 23 Desember 1957, mereka mendirikan wadah dengan nama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) adalah pelopor pergerakan KB dan sampai sekarang masih aktif membantu program KB nasional yang dikoordinir oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (BKKBN, 2004).

Pada tahun 1970 berdiri BKKBN merupakan lembaga pemerintah yang bertanggung jawab mengenai pelaksanaan program KB di Indonesia. Fungsi BKKBN antara lain adalah sebagai pengkoordinasi, perencana, perumus kebijakan, pengawas, pelaksanaan dan evaluasi. Program KB adalah suatu program yang dimaksudkan untuk membantu para pasangan dan perorangan dalam mencapai tujuan reproduksi, mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi insidens kehamilan beresiko tinggi, kesakitan dan kematian, membuat pelayanan yang bermutu, terjangkau, diterima dan mudah diperoleh bagi semua orang yang membutuhkan, meningkatkan mutu nasehat komunikasi, edukasi, konseling dan pelayanan, meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab pria dalam praktik KB, dan

(30)

meningkatkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) untuk penjarangan kehamilan (BKKBN, 2006).

Sejak Konferensi Internasional tentang kependudukan dan pembangunan (International Confrency Populations Development/ICDP) di Kairo 1994, program KB nasional mengalami perubahan paradigma dan nuansa demografis ke nuansa kesehatan reproduksi yang di dalamnya terkandung pengertian bahwa KB adalah suatu program yang dimaksud untuk membantu pasangan mencapai tujuan reproduksinya. Amanat internasional ini tertuang dalam program aksi tentang hak- hak reproduksi dan kesehatan reproduksi paragraf 7.2. yang menyatakan bahwa hak- hak reproduksi adalah bagian dari Hak Azasi Manusia (HAM) yang bersifat universal yang meliputi hak perorangan dan suami istri untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab tanpa adanya unsur diskriminasi, paksaan dan kekerasan dalam menentukan jumlah, jarak dan waktu melahirkan, mendapatkan derajat kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual yang terbaik bagi dirinya dan atau pasangannya, memperoleh informasi dan pelayanan yang diperlukan untuk mewujudkan hak-hak tersebut yang tidak bertentangan dengan agama, norma budaya dan adat istiadat, hukum dan perundang-undangan yang berlaku (BKKBN, 2006).

Secara khusus ICDP paragraf 7.8. menyatakan: Program-program inovatif harus di kembangkan untuk membuat informasi, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi diakses remaja dan pria dewasa. Program-program tersebut harus baik mendidik dan memungkinkan orang untuk berbagi lebih sama dalam KB dan di dalam negeri dan membesarkan anak tanggung jawab dan menerima utama tanggung

(31)

jawab untuk mencegah Penyakit Menular Seksual (PMS). Program harus mencapaiorang di tempat kerja mereka, di rumah dan dimana mereka berkumpul untuk rekreasi. Anak laki-laki dan remaja, dengan dukungan dan bimbingan dari orang tua mereka, dan sejalan dengan Konveksi Hak Anak (KHA), juga harus dicapai melalui sekolah, organisasi pemuda dan dimanapun mereka berkumpul. Sukarela dan metode laki-laki yang tepat untuk kontrasepsi, serta untuk pencegahan penyakit PMS termasuk AIDS, harus di promosikan dan diakses dengan informasi yang memadai dan konseling (www.un.org/popin/icpd/.../poa.html).

Dalam BKKBN (2010) dikatakan bahwa amanat internasional ini telah diimplementasikan dalam bentuk Rencana Jangka Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 yang menetapkan keberhasilan program KB Nasional dalam pemerintahan periode 2010-2014 yang dibebankan kepada BKKBN, yaitu:

1. Laju pertumbuhan penduduk 1,0% pertahun 2. Total Fertility Rate (TFR) 2,1

3. Peserta aktif KB pria 4, 5%

4. Unmed Need 5%

5. Usia kawin pertama perempuan 21 tahun

Pentingnya pria terlibat dalam KB dan kesehatan reproduksi didasarkan bahwa :

1. Pria adalah mitra reproduksi dan seksual, sehingga sangat beralasan apabila pria dan wanita berbagai tanggung jawab dan peran secara seimbang untuk mencapai

(32)

kepuasan kehidupan seksual dan berbagai beban untuk mencegah penyakit serta komplikasi kesehatan reproduksi.

2. Pria bertanggung jawab secara sosial dan ekonomi termasuk untuk anak-anaknya, sehingga keterlibatan pria dalam keputusan reproduksinya akan membentuk ikatan yang lebih kuat di antara mereka dan keturunannya.

3. Pria secara nyata terlibat dalam fertilitas dan mereka mempunyai peranan yang penting dalam memutuskan kontrasepsi yang akan dipakainya atau digunakan istrinya, serta dukungan kepada pasangannya terhadap kehidupan reproduksinya seperti saat melahirkan.

2.2. Kontrasepsi

2.2.1. Definisi Kontrasepsi

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti

“melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan (Suratun, 2008).

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara maupun bersifat permanen, dan upaya ini dapat dilakukan

(33)

dengan cara, alat atau obat – obatan (Proverawati, 2010). Kontrasepsi adalah alat yang digunakan untuk menunda, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan kesuburan. Kontrasepsi berasal dari kata “kontra” dan “konsepsi”. Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma tersebut. Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi modern (metode efektif) (Pinem, 2009).

Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat. Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontrasepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma atau cup, cream, jelly atau tablet berbusa (vaginal tablet).

2.2.2. Pemilihan Metode Kontrasepsi

Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien karena masing-masing mempunyai kesesuaian dan kecocokan individu bagi setiap klien. Namun secara umum persyaratan metode kontrasepsi ideal adalah sebagai berikut:

1. Aman, artinya tidak akan menimbulkan komplikasi berat jika digunakan

2. Berdaya guna, dalam arti jika digunakan sesuai dengan aturan akan dapat mencegah kehamilan. Ada beberapa komponen dalam menentukan keefektifan

(34)

dari suatu metode kontrasepsi diantaranya adalah keefektifan teoritis, keefektifan praktis, dan keefektifan biaya. Keefektifan teoritis (theoritical effectiveness) yaitu kemampuan dari suatu cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, apabila cara tersebut digunakan terusmenerus dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan tanpa kelalaian. Sedangkan keefektifan praktis (use effectiveness) adalah keefektifan yang terlihat dalam kenyataan di lapangan setelah pemakaian jumlah besar, meliputi segala sesuatu yang mempengaruhi pemakaian seperti kesalahan, penghentian, kelalaian, dan lain-lain.

3. Dapat diterima, bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan budaya di masyarakat. Ada dua macam penerimaan terhadap kontrasepsi yakni penerimaan awal (initial acceptability) dan penerimaan lanjut (continued acceptability). Penerimaan awal tergantung pada bagaimana motivasi dan

persuasi yang diberikan oleh petugas KB. Penerimaan lanjut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti umur, motivasi, budaya, sosial ekonomi, agama, sifat yang ada pada KB, dan faktor daerah (desa/kota).

4. Terjangkau harganya oleh masyarakat.

5. Bila metode tersebut dihentikan penggunaannya, klien akan segera kembali kesuburannya, kecuali untuk kontrasepsi mantap (Meilani, 2010).

2.2.3. Manfaat Alat Kontrasepsi

Sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 dan 52 Tahun 2009 tentang kesehatan dan Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga pasal 1 menyebutkan bahwa KB adalah upaya mengatur

(35)

kelahiran anak, jarak dan usia melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuia dengan hak-hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Disebutkan pula suami dan isteri mempunyai kedudukan,hak dan kewajiban yang sama dalam melaksanakan KB dan bahwa dalam menentukan cara KB pemerintah wajib menyediakan bantuan pelayanan kontrasepsi bagi suami dan isteri.

Adapun tujuan dari gerakan KB Nasional menurut Meilani (2010) adalah : a. Menurunkan tingkat kelahiran dengan mengikut sertakan seluruh lapisan

masyarakat dan potensi yang ada.

b. Meningkatkan jumlah peserta KB dan tercapainya pemerataan serta kualitas peserta KB yang menggunakan alat. Kontrasepsi efektif dan mantap dengan pelayanan bermutu.

c. Mengembangkan usaha-usaha untuk membantu meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak, memperpanjang harapan hidup, menurunkan tingkat kematian bayi dan anak-anak dibawah usia lima tahun serta memperkecil kematian ibu karena resiko kehamilan dan persalinan.

d. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penerimaan, penghayatan dan pengamalan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sebagai cara hidup yang layak dan bertanggung jawab.

e. Meningkatkan peranan dan tanggung jawab wanita, pria dan generasi muda dalam pelaksanaan upaya-upaya penanggulangan masalah kependudukan.

(36)

f. Mencapai kemantapan, kesadaran, tanggung jawab dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam pelaksanaan gerakan KB sehingga lebih mampu meningkatkan kemandiriannya di wilayah masing-masing.

g. Mengembangkan usaha-usaha peningkatan mutu sumber daya manusia untuk meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dalam mempercepat pelembagaan nilai-nilai.

h. Memeratakan penggarapan gerakan KB ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat perkotaan, pedesaan, kumuh, miskin dan daerah pantai.

i. Meningkatkan jumlah dan mutu tenaga dan atau pengelola gerakan KB yang mampu memberikan pelayanan KB yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok tanah air dengan kualitas yang tinggi dan kenyamanan yang memenuhi harapan.

2.3. Metode Operasi Pria (MOP) 2.3.1. Definisi MOP

Menurut BKKBN (2008), Metode Operas i Pria (MOP) / Vasektomi adalah pemotongan/pembuangan saluran sperma kiri dan kanan saja, agar cairan mani yang dikeluarkan pada saat ejakulasi tidak lagi mengandung sperma atau MOP merupakan suatu metode kontrasepsi dengan melakukan tindakan operasi kecil yang memerlukan waktu operasi yang singkat yaitu 10 sampai 15 menit dan tidak memerlukan anastesi (bius) umum, cukup dengan bius lokal, sehingga relatif lebih aman. Pada MOP buah zakar testis tidak dibuang, jadi tidak memproduksi hormone testosterone.

(37)

MOP/Vasektomi tidak akan menyebabkan laki-laki menjadi impoten, sebab saraf- saraf dan pembuluh darah yang berperan dalam proses terjadinya ereksi berada di batang penis. Sedangkan tindakan MOP/Vasektomi hanya dilakukan disekitar buah zakar (testis), jauh dari persarafan untuk ereksi.

MOP/Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vas deferens sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan ovum dengan sperma) tidak terjadi (Pinem, 2009). Vasektomi adalah pemotongan atau penyumbatan kedua saluran tersebut untuk mencegah jalannya sperma. Vas deferens dipotong tepat di atas testis. Vasektomi tidak mengganggu produksi cairan seminalis sehingga tidak akan bisa membedakan perbedaan jumlah cairan yang diproduksi saat ejakulasi cairan itu sendiri tidak mengandung sperma. Operasi dilakukan di bawah anestesi lokal dan dilakukan selama kurang dari setengah jam. Sayatan kecil dibuat pada kulit ditengah- tengah atau pada masing-masing sisi skrotum dan vas deferens yang berada tepat di bawah kulit kemudian dipotong atau disumbat. Kulit dapat ditutup dengan jahitan atau dibiarkan menutup sendiri (Glasier, 2006).

2.3.2. Syarat untuk Menjadi Akseptor MOP

Adapun persyaratan untuk menjadi akseptor MOP adalah : a. Harus secara sukarela

b. Artinya klien memutuskan pilihan atas keinginannya sendiri dengan mengisi dan menandatangani surat kesepakatan/ persetujuan klien atas upaya medis yang dilakukan oleh dokter terhadap klien tersebut (informed concent).

(38)

c. Mendapat persetujuan istri dalam melakukan MOP.

d. Jumlah anak yang cukup

Setiap suami dari suatu pasangan usia subur yang telah memiliki jumlah anak yang cukup minimal 2 orang dan yang paling kecil harus sudah berumur 4 tahun.

e. Mengetahui akibat-akibat MOP/Vasektomi

Calon akseptor vasektomi harus mengetahui akibat setelah melakukan vasektomi yaitu setelah melakukan vasektomi maka akseptor tidak bisa

lagi memiliki keturunan.

f. Umur calon akseptor tidak kurang dari 30 tahun (Suratun, 2008).

2.3.3. Metode MOP a) Prosedur Kontap Pria

Prosedur kontap pria meliputi beberapa langkah tindakan : 1. Identifikasi dan isolasi vas deferens

a. Kedua vas deferens merupakan struktur paling padat di daerah mid- scrotum, tidak berpulsasi (berbeda dengan pembuluh darah)

b. Kesukaran kadang-kadang terjadi dalam identifikasi dan isolasi vas deferens seperti pada keadaan-keadaan : 1. kulit scrotum tebal, 2. vas deferens yang sangat tipis spermatic cord yang tebal, 3. testis yang tidak turun, 4. otot cremaster berkontraksi dan menarik testis keatas.

c. Kedua vas deferens harus diidentifikasi sebelum meneruskan prosedur kontap.

(39)

d. Dilakukan immobilisasi vas deferens diantara ibu jari dan jari telunjuk atau dengan memakai klem (doek-klem atau klem lainnya)

e. Dilakukan penyuntikan anastesi lokal.

2. Insisi skrotum

a. vas deferens yang telah diimmobilisasi di depan skrotum hanya ditutupi oleh otot dartos dan kulit skrotum

b. Insisi horizontal atau vertical, dapat dilakukan secara : 1. tunggal digaris tengah (scrotal raphe), 2. dua insisi, satu insisi di atas masing-masing vas deferens

3. Memisahkan lapisan-lapisan superfisial dari jaringan-jaringan sehingga vas deferens dapat di isolasi.

4. Okulasi vas deferens

a. Umumnya dilakukan pemotongan/reseksi suatu segmen dari kedua vas deferens (1-3 cm), yang harus dilakukan jauh dari epididimis

b. Ujung-ujung vas deferens setelah dipotong dapat ditutup dengan :

1. Ligasi, dapat dilkukan dengan chromic catgut (ini yang paling sering dilakukan), dapat pula dengan benang yang tidak diserap (silk), tetapi kadang-kadang dapat menyebabkan iritasi jaringan atau granuloma, ligasi tidak boleh dilakukan terlalu kuat sampai memotong vas deferens, karena dapat menyebabkan spermatozoa merembes ke jaringan sekitarnya dan terjadi granuloma, untuk mencegah kedua ujung vas deferens agar tidak menyambung kembali (rekanalisasi),

(40)

ujung vas deferens dapat dilipat kebelakang lalu diikatkan/dijahitkan pada dirinya sendiri, atau vaskia dari vas deferens dapat ditutupkan di atas satu ujung sehingga terdapat suatu barier dari jaringan fascia; atau vas deferens ditanamkan ke dalam jaringan fascia;

2. Electro-koagulasi/thermo-koagulasi;

3. Clips : masih dalam fase experimental, keuntungan clips : lebih cepat dibandingkan ligasi, lebih mudah memperhitungkan tekanan yang diperlukan untuk aplikasi clips dibandingkan dengan ligasi, tantalum, bahan clips, tidak diserap dan biologis iner, potensi reversibilitas besar, umumnya dipasang dua sampai tiga clips pada masing-masing vas deferens.

5. Penutupan luka insisi

a. Dilakukan dengan catgut, yang kelak akan diserap

b. Pada insisi 1cm atau kurang, tidak diperlukan jahitan catgut, cukup ditutup dengan plester saja.

Gambar 2.1. Metode MOP/Vasektomi dengan Menggunakan Pisau

(41)

b) MOP/Vasektomi Tanpa Pisau (VTP)

Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa takut calon akseptor kontap-pria akan tindakan operasi (yang umumnya dihubungkan dengan pemakaian pisau operasi), dan juga untuk lebih menggalakkan penerimaan/pelaksanaan kontap- pria, di Indonesia sekarang telah diperkenalkan dan telah dilaksanakan metode vasektomi tanpa pisau (VTP).

1. Persiapan pre-operatif

a. Cukur rambut pubis, untuk lebih menjamin sterilitas b. Tidak perlu puasa sebelumnya

2. Mencari, mengenal dan fiksasi vas deferens kemudian dijepit dengan klem khusus yang ujungnya berbentuk tang catut, lalu disuntikan anastesi local 3. Dilakukan penusukan pada garis tengah skrotum dengan alat berujung

bengkok dan tajam untuk membuat luka kecil, yang kemudian dilebarkan sekitar 0,5 cm. Akan terlihat vas deferens yang liat dan keras seperti kawat baja. Selaput pembungkus vas deferens dibuka secara hati-hati. Setelah pembungkus vas deferens disisihkan ke tepi, akan tampak jelas saluran sperma (vas deferens) yang berwarna putih mengkilap bagai mutiara.

4. Selanjutnya dilakukan oklusi vas deferens dengan ligasi + re-seksi suatu segmen vas deferens

5. Penutupan luka operasi.

(42)

Gambar 2.2. Metode MOP/Vasektomi Tanpa Pisau (VTP) 2.3.4. Kelebihan dan Keterbatasan MOP/Vasektomi

Kelebihan vasektomi adalah :

1. Tidak akan mengganggu ereksi, potensi seksual dan produksi hormon, 2. Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi, dapat

digunakan seumur hidup.

3. Tidak mengganggu kehidupan seksual suami istri 4. Lebih aman (keluhan lebih sedikit),

5. Lebih Praktis (hanya memerlukan satu kali tindakan), 6. Lebih Efektif (Tingkat kegagalannya sangat kecil),

7. Lebih Ekonomis (hanya memerlukan biaya untuk sekali tindakan), 8. Tidak akan menakibatkan dampak kematian (mortalitas),

9. Pasien tidak perlu dirawat di Rumah Sakit,

(43)

10. Tidak ada resiko kesehatan,

11. Tidak harus diingat-ingat, tidak harus selalu ada persediaan sifatnya permanen.

Sedangkan kelemahan vasektomi adalah : 1. Harus ada tindakan pembedahan,

2. Tidak dilakukan pada suami yang masih ingin memiliki anak, 3. Kadang-kadang terasa nyeri, atau terjadi perdarahan setelah operasi,

4. Kadang-kadang timbul infeksi pada kulit skrotum, apabila operasinya tidak sesuai dengan prosedur (Meilani dkk, 2010).

2.3.5. Indikasi dan Kontra Indikasi MOP/Vasektomi

MOP/Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga (Arum, 2009).

Sedangkan kontra-indikasi adalah : a. Ketidakmampuan fisik yang serius;

b. Masalah urologi;

c. Masalah hubungan;

d. Tidak didukung oleh pasangan (Everett, 2008).

Adapun kontraindikasi yang lain menurut Meilani (2010), adalah : a. Penderita hernia;

b. Penderita kencing manis;

c. Penderita kelainan pembekuan darah;

d. Penderita penyakit kulit atau jamur di daerah kemaluan;

(44)

e. Tidak tetap pendiriannya;

f. Infeksi di daerah testis;

g. Varikokel (varises pada pembuluh darah balik buah zakar);

h. Buah zakar membesar karena tumor;

i. Hidrokel (penumpukan cairan pada kantong zakar);

j. Buah zakar tidak turun (kriptokismus);

k. Penyakit kelainan pembuluh darah.

2.3.6. Komplikasi MOP/Vasektomi

Komplikasi MOP/vasektomi sangat jarang terjadi. Adapun komplikasi yang mungkin timbul yaitu timbul segera memar, hematom, infeksi luka operasi (terjadi pada hampir 5% pria). Selain itu timbul granuloma sperma yaitu gumpalan kecil yang terbentuk di ujung-ujung vas deferens yang dipotong akibat respons peradangan lokal terhadap sperma yang bocor, rasa tidak nyaman dan nyeri intra skrotum kronik (sindrom pasca vasektomi). Tidak ada komplikasi jangka panjang yang bisa ditimbulkan oleh kontasepsi metode vasektomi (Hartanto, 2004).

2.3.7. Perawatan Pasca Bedah Vasektomi

Hal yang perlu diperhatikan setelah operasi adalah :

a. Usahakan bekas luka tetap kering dan jangan sampai basah sebelum sembuh karena akan mengakibatkan terjadinya infeksi,

b. Segera kembali apabila terjadi perdarahan,

c. Jangan lupa minum obat yang diberikan dokter sesuai dengan aturan, d. Jangan bekerja berat,

Gambar

Gambar 2.1. Metode MOP/Vasektomi dengan Menggunakan Pisau
Gambar 2.2. Metode MOP/Vasektomi Tanpa Pisau (VTP)  2.3.4.  Kelebihan dan Keterbatasan MOP/Vasektomi
Gambar 2.3. Kerangka Berpikir Penelitian Faktor Personal - Pendidikan - Pengetahuan - Sikap Faktor Sosial - Peranan Keluarga - Budaya Faktor Situasional - Sumber Informasi

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Model pembelajaran TAI mengajarkan untuk saling bertukar pikiran dalam memahami materi yang diajarkan diperoleh hasil 93.75% dikategorikan sangat baik, karena dengan

Dalam Penulisan Ilmiah ini, penulis membuat suatu produk grafis dengan cara memodifikasi foto yang dilakukan dalam beberapa tahap yaitu: pemilihan foto, pemotongan,

Didalam penulisan ini, juga dijumpai bagaimana delphi 6.0 juga memberikan kemudahan dalam membuat suatu laporan atau report dari transaksi transaksi yang ada dalam penulisan

Kegemaran membaca siswa kelas Sekolah Dasar tidak akan tumbuh secara optimis. Oleh karena itu minat baca siswa Sekolah Dasar harus ditanamkan, ditumbuhkan

Sedangkan dalam sisi lain, Yusril Ihza Mahendra mengatakan, bahwa pernyataan Natsir sebagai salah satu anggota Masyumi tentang maksud suatu negara akan bersifat Islam bukan berarti

Penangkapan ikan arwana Papua baik induk maupun anakannya di Distrik Kimaam menurut masyarakat setempat berada di daerah rawa-rawa yang lokasinya lebih jauh dari

Hasil dari pemeriksaan spirometri nilai FEV1, FVC maupun FEV1/FVC penderita asma terkontrol sebagian yang telah mendapatkan terapi kombinasi inhalasi kortikosteroid dan

Kerusakan sedikit hingga menengah pada bangunan yang dibangun dengan baik; kerusakan akan sangat terlihat di gedung yang tidak dengan baik. Orang-orang