• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAMPIRAN. Hasil Uji Turnitin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAMPIRAN. Hasil Uji Turnitin"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

(2)

Daftar Pertanyaan Utama Wawancara Partisipan

1. Bagaimana pembagian pekerjaan domestik sebelum dan selama pandemi

Covid-19/ bekerja dari rumah?

2. Bagaimana pengalaman pekerjaan domestik sebelum dan selama pandemi

Covid-19/ bekerja dari rumah?

3. Apa saja jenis-jenis pekerjaan domestik yang dilakukan/tidak dilakukan dan

mengapa?

4. Bagaimana tanggapan atau pemikiran yang dimiliki oleh lingkungan terdekat

dan sekitar mengenai keterlibatan suami dalam ranah domestik?

(3)

TRANSKRIP WAWANCARA 1

Tema Penelitian : Pemaknaan Keterlibatan Laki-Laki dalam Pekerjaan Domestik (Studi Fenomenologi Pandemi Covid-19)

Fasilitator : Fabiola Devina Wingardi Nama Informan : Alex

Hari, tanggal : Minggu, 09 Mei 2021

Media : Zoom Meeting

*Keterangan F: Fasilitator A: Informan

F : Halo..

A : Hai.. iya sebentar ya. F : Hai Ko Alex

A : Panggilannya siapa nih enaknya?

F : Febi aja gapapa Ko. Gimana kabarnya nih? A : Baik-baik..

F : Oh iya Happy Sunday juga ya, Ko.

A : Oh iya-iya, makasih ya, Happy Sunday juga. F : Syukurlah. Kita langsung mulai aja kali ya ko.. A : Iya ya, boleh boleh

(4)

penelitian yang aku ambil adalah fenomenologi, jadi penelitian yang memang ingin mengetahui pengalaman orang-orang terkait dengan fenomena tertentu, nah fenomena yang aku ambil ini adalah kontribusi suami di pekerjaan rumah tangga selama pandemi covid-19, seperti Ko Alex nih.

A : Ooo iya iya, oke

F : Mungkin pertanyaan pertama nih ko, boleh gak diceritakan gimana pengalaman atau perbedaan yang dirasakan selama kebijakan WFH di pandemi ini?

A : Ya, sebetulnya kalau bicara soal perbedaan sih pasti banyak ya. Jadi lebih banyak di rumah itu pasti lah ya wong WFH. Sebenarnya ya, ya kalo mau kita bandingkan, lebih enak kerja dari rumah sih. Karena mau sambil ngemil yo tinggal ngemil, kan. Disiapin makan terus sama Ce Ika. Terus bisa lebih banyak waktu di rumah sama keluarga juga, cuma ya kalau bicara soal hambatan ya ada, karena kalau saya kan bekerja di PT X sebagai Support ya, jadi yang sulit itu kita ga bisa menggunakan atau checking alat-alat atau mesin yang hanya tersedia di kantor, begitu.

F : Oh gitu. Nah, kalau pengalaman bantu istri di pekerjaan rumah nih, Ko. Itu boleh diceritakan juga?

A : Oh iya, kalau bantu istri sih bantu. Cuma kalau ditanya soal banyak-banyakan (porsinya) mana, ya tetep Ce Ika, karena kan dia udah gak kerja dari 2015 tuh, berarti kurang lebih sudah enam tahun ya. Dan kalau urus anak juga gak pakai

babysitter jadi memang fokus nya lebih ke Ce Ika.

F : Nah, kalau begitu berarti sekarang pembagian kerja untuk urusan rumah tangga sendiri gimana nih ko?

A : Ya sebenernya sih saling bantu aja. Kalo saya tetep kesibukannya ya paling banyak dihabiskan dengan bekerja

F : Kalau menurut Ko Alex, pembagian pekerjaan rumah tangga yang ideal itu seperti apa sih?

(5)

F : Pandemi covid 19 ini porsi kok Alex membantu Ci Ika dalam pekerjaan domestik jadi lebih banyak atau sama aja, Ko?

A : Ya paling itu sih ya anak-anak jadi lebih dekat kan biasanya kan di kantor ya, sekarang anak-anak Ketika saya pekerjaan anak biasa ada di sampingnya dia mainan, jadi ya sebetulnya boleh dibilang jadi bantu urus anak sih, gitu. kalau ada pekerjaan seperti cuci piring gitu-gitu memang sudah biasa.

F : "gitu-gitu" yang seperti apa aja tuh, Ko?

A : Ya misalkan kayak nyapu atau ngepel pas rumah lagi kurang bersih. Sampai bersihkan itu juga, kandang peliharaan, ganti galon. Sama kalau anak lagi harus ganti popok, ya saya gantikan.

F : Menanggapi statement kesetaraan gender gitu, Ko Alex mendeskripsikannya seperti apa?

A : Kesetaraan gender ya. Ya, antara suami dan istri sama ya posisinya. Gak ada yang lebih tinggi, nggak ada yang lebih rendah, ya sama posisinya.

F : Nah, kalau misalkan dari keluarga Ko Alex atau Ci Ika gitu pemikirannya (terkait pembagian tugas suami dan istri) gitu gimana, Ko?

A : Kalau saya nggak ada sih, ya. Sama, karena suami istri bekerja kan. Dulu ayah ibu saya juga bekerja, jadi saya kebanyakan malah di rumah dengan Mba. F : kalau Ci Ika sendiri memutuskan untuk gak kerja lagi kenapa tuh, ko?

A : Oh, itu sudah dari 2015 an ya, karena lahiran anak kedua, Istri sendiri dulu bekerja berapa lama setelah menikah Sampai lahir anak kedua sih, semakin susah kan bagi waktunya. Gitu sih.

F : Oh iya berarti sekarang anak-anak juga sekolah dari rumah ya, Ko?

(6)

(di Jogja). Jadi kalau soal urusan anak Ci Ika itu tipe yang perfeksionis gitu sepertinya ya, jadi lebih nyaman dan lebih apa ya, lebih puas, kalau urus sendiri. Nah, sebenarnya kalau diceritakan, dari awal pernikahan juga sudah diskusi sama Ci Ika, kalau ini kan rumah bersama, anak bersama, jadi kalau sempat bantu-bantu, ya pasti bantu. Kalau serba sendiri-sendiri ya, apa ya, susah dan ga kuat gitu. Kalau selama pandemi ini. Apalagi kan kalau dalam rumah tangga itu memang beda-beda ya, tapi kalau saya sih mikirnya ya itu tadi, saling bantu saja kita jalani sama-sama gitu termasuk jangan Enaknya aja gitu susah nya juga kita jalani samaan gitu. Ya puji tuhan sampai sekarang sih berjalan ya lancar sih.

F : Nah, kalau dari pandangan Ko Alex sendiri nih, kalau sedari dulu kan sudah ada semacam stereotip mengenai peranan laki-laki dan perempuan yang digambarkan cukup kontras gitu ya, seperti misalkan seluruh tugas rumah itu tugasnya perempuan, dan tugas mencari nafkah (bekerja) itu tugas laki-laki. Kalau Ko Alex sendiri menanggapi hal tersebut seperti apa?

A : Ya sebenarnya kan sekarang sudah banyak perempuan atau istri yang juga bekerja ya, kalau menurut saya si pembagian-pembagian seperti itu kita kembalikan lagi pada tiap-tiap rumah tangga, nyamannya (pembagian tugas) seperti apa. Kalau seperti cuci piring, nyapu, dan mengepel itu kan sebenarnya cukup sederhana ya, jadi ketika waktu luang dan memang harus dilakukan, saya pasti bantu menyelesaikan. Kalau pekerjaan di rumah itu kan sebenarnya jauh lebih berat ya, lebih banyak. Walaupun tidak mendapatkan uang atau di gaji gitu, tapi tetap lebih berat, di tambah harus bantu awasi pendidikan anak juga gitu kan. Kalau saya juga sebenarnya sih fleksibel dan simple aja gitu. Ya puji tuhan sampai sekarang sih berjalan ya lancar sih maksudnya pembagian dari hal apapun ya baik-baik aja. F : Oh iya-iya betul. Kalau Ci Ika sendiri dulu kenapa akhirnya memutuskan untuk

berhenti kerja, Ko?

(7)

urus pekerjaan sekaligus urus anak. Jadi double juga. Apalagi kalau misalnya di rumah hal-hal simple ya pekerjaan rumah, misal nih yang gampang, baju sudah disetrika kan harus dimasukin ke lemari, nah kebetulan sewaktu kita berdua pulang kerja kan harus ada yang diurus, misalnya Ci Ika mandiin dan nyuapin anak, nah saya suka lupa taro baju itu ke lemari. kadang-kadang kan kalau kita kurang komunikasi dan gak mau terbuka kadang bisa jadi konflik kan, cuma sejauh ini ya kita bicarakan itu. Setelah itu ya pembagian selesai jadi kita ada yang harus di catet. Jadi fleksibel. Apa yang bisa kita bantu ya dibantu. Nah, setelah hadir anak kedua, akhirnya Ci Ika berhenti, biar fokus sama keluarga dan anak-anak.

F : Ya lebih ringan tangan untuk satu sama lain ya, Ko.

A : Nah iya betul. Kalau ada apa-apa juga harus ngomong, kalau kita nggak ngomong di batin aja yo masing-masing juga kan nggak ngerti, istri pun gak ngerti. F : Iya, ya. Kuncinya berarti memang di keterbukaan ya Ko. Nah kalau suatu saat Ci

Ika mau kerja lagi, menurut Ko Alex gimana? Pekerjaan rumah kira-kira akan jadi seperti apa nih ko?

A : Iya-iya. Wah kalau soal itu sih lebih ga dikasih ijin sama anak yang kecil yah. karena udah terbiasa kan sedari kecil mamanya di rumah terus, dari lahir sampai sekarang. Jadi yang kalau mama nya mau keluar sebentar aja ya dia pasti tanya kan mau ke mana kalau kerja kita tinggal di atas 3/4/5 jam kan keberatan dari si anak, jadi ya sudah. Dan mungkin dia juga sudah ada mindset kan papa nya yang kerja cari uang, jadi mama ya di rumah temenin aku. Begitu.

F : Si bocil udah biasa kalau mama nya yang stay di rumah ya Ko. Nah, sekarang berarti Ci Ika merangkap jadi guru juga dong nih? Karena anak-anak juga belajar dari rumah ya?

A : Oh iya, betul. Kalau sekarang kan mama nya yang jadi sekolah lagi, tugas segala macamnya dikerjain sama mama nya.

F : Waduh, jadi belajar lagi ya ko.

(8)

sendiri mau kita bawa ke mana Jadi ada suatu ketika kondisi dimana kita harus keluar itu anak mama tidak boleh ikut sekali anak-anak. sedangkan anak-anak merengek minta ikut. Itu kan kadang kita yang bikin apa ya, yang terasa banget sih perubahan itu. Jadi kita merasa tidak bebas. Tapi ada untungnya karena Ci Ika memang sering di rumah, anak-anak tuh lumayan betah di rumah. Selagi ya itu disiapkan makanan, anak-anak kan yang penting ada makanan. Kalau misalkan ada yang perlu dibeli dan harus keluar ya pakai masker, pulang belum cuci tangan. Kalau dulu kan bebas aja. Penyesuaian itu aja tapi lama-lama terbiasa.

F : Betul banget Ko. Bahkan sekarang kalau keluar gak pakai masker malah aneh ya, rasanya. Memang luar biasa sih pandemi ini. Tapi sekeluarga sehat-sehat kan ko? Ya takutnya ya namanya arus mudik, bisa aja jadi tambah rame.

A : Sehat kok sehat, Puji Tuhan. Di sini juga kita tahan-tahan gak keluar kalau memang gak ada kepentingan.

F : Iya bener, kita kan gak tahu ya kondisi orang lain gimana. Kadang kita yang sudah ketat dengan protokol kalau sekitarnya juga gak aware, sama aja ya Ko.

A : Nah iya, itu dia.

F : Iya kan ya. Nah, sebenarnya untuk poin-poin wawancaranya sudah terjawab nih Ko. Thank you banget loh Ko Alex dan Ci Ika, sudah bersedia diganggu waktunya yang gak kerasa udah 45 menit lebih nih malah.

A : Sama-sama, Febi. Nanti kalau ada misalkan kurang-kurang apa, hubungi aja ya. Apa yang bisa kita bantu, pasti kita bantu kok.

F : Aduh thank you banget nih Ko. Ini dari tadi bener aku panggilnya "Ko" gapapa ya, soalnya kemarin sempet mikir, kan jatohnya Ci Ika Kuku nya Elin, yah.

(9)

F : Iya, soalnya pas aku tanya tahun kelahirannya juga ternyata Ko Alex sama Ci Ika masih seumur kakak ku. Kakak ku yang paling besar lahir tahun 83. Ko Alex 82 ya?

A : Iya betul, kalau Ci Ika 85 dia lahirnya.

F : Ho iya iya, masih pada hebring ya Ko. Kalau gitu terima kasih banyak Ko, supaya bisa menikmati sisa weekend nya. Semoga nanti kedepannya ada kesempatan kita bisa ketemu ya Ko, Ce.

(10)

TRANSKRIP WAWANCARA 2

Tema Penelitian : Pemaknaan Keterlibatan Laki-Laki dalam Pekerjaan Domestik (Studi Fenomenologi Pandemi Covid-19)

Fasilitator : Fabiola Devina Wingardi Nama Informan : Dedy

Hari, tanggal : Senin, 10 Mei 2021

Media : Zoom Meeting

*Keterangan F: Fasilitator D: Informan

F : Halo Om.

D : Halo Fabi, suara Om udah kedengeran kan.

F : Udah-udah Om, udah sip. Gimana kabarnya Om, sekarang balik lagi ya ke Bali? D : Iya nih, balik lagi soalnya pas kemarin itu memang belum selesai kan, jadi harus

ke sini lagi.

F : Oh iya -iya. Tapi sebelumnya terima kasih banyak loh, Om, sudah mau bersedia diganggu waktu nya untuk wawancaranya. by the way aku ijin record zoom

meeting nya yah Om, buat dokumentasi dan materi transkrip nanti.

D : Sama-sama, sama-sama. Oh iya dong, boleh.

(11)

rumah sama keluarga. Begitu. Nah mungkin untuk mengawali, boleh nih Om memperkenalkan diri dulu dan menceritakan sekarang kesibukannya apa?

D : Ya, perkenalkan diri ya, Oke. Nama Om Dedi Irawan Santoso. Kesibukannya, kantor pusatnya ada di Jakarta Pusat daerah Kramat Raya. Kemudian kalau selama WFH ini kebetulan membantu keluarga yang posisinya di Cirebon dan boleh dibilang WFH setengah WFO tapi di lapangan itu ada di Bali. Setengah WFH, membantu urusan rumah, rumahnya jadi di hotel.

F : Nah, Selama pandemi nih, selama WFH, Kira-kira kalau bisa diceritain nih, Gimana sih Om perbedaan yang terbesar yang paling dirasain dari sebelum sama sesudah pandemi?

D : Kalau sebelum kan aktifitas normal. Pagi biasa ngantor pulang sore, kemudian meeting sampai malam itu kan kadang Sabtu Minggu juga dipakai. Sebenarnya Kalau siklus nya Om Sendiri kan kebetulan Om pegang proyek yang juga di Bali atau di Batam. Kalau misalnya sebelum WFH datang dan cek-cek ketemu orang segala macam masuk kantor. Nah yang bingungnya ini setelah project ini saat ketemu orang meeting dan nyampeinnya susah kalau pakai handphone, terutama untuk bidang-bidang yang misalnya gini. Misalnya waktu pertama Om ketemu di Bali ini, mau ketemu orang kontraktor. Untuk menjelaskan sebuah bangunan mau dijelasin titiknya, itu gak mungkin kan via WFH. Mau gak mau harus turun lapangan dan kita kan harus ketemu orang itu. Jadi dibilang WFO itu memang betul, tapi kalau misalnya sudah posisinya di bidang tertentu kayak Om gini, kelihatannya untuk WFH tuh agak susah.

F : Hmm, karena harus mobile ya Om.

(12)

F : jadi memang mau tetap harus ada fase ketemu dan turun ke lapangan ya Om, ya kalau dari segi pekerjaan.

D : Iya, bener.

F : Nah kalau didengar dari pengalamannya nih Om, berarti memang dulu Kan kerjaannya memang mobile terus sebelum pandemi ya, jarang di rumah Gitu, keliling-liling ketemu orang. Selama setelah pandemi otomatis porsi di rumah jadi agak lebih banyak dan kegiatan di rumah jadi seperti apa sih Om? khususnya di tempat domisili nya ya.

D : Hm kalau di tempat domisili ya memang berubah total ya. Biasanya pagi Bangun jam -kantor sama tempat tinggal kan dekat. Jadi kantor sama tempat tinggal dekat itu bisa 30 menit nyampe lah. Kalau sekarang pagi bangun jam 7/8, terus siapin kerjaan di rumah, misalnya nyiapin si kecil makanlah, atau kalau nggak ngepel lah, jadi kan lain banget. Terus abis itu keluar ke pasar. Tapi di sela-sela itu ya memang karena resikonya WFH, sering banget terima telfon dan harus lihat data. mau beli handphone semuanya itu semua di google drive. Karena kalau resiko kerjaan mau Posisi lagi di kantor nggak di rumah ya mau gak mau ya. Gitu ya jadi pagi bangun, ngurus Anak kecil, ke pasar.

F : Jadi merangkap ya, Om?

D : Iya bener, jadi merangkap. bersih-bersih dan sebagainya.

F : Nah, kalau didenger kan lumayan padat ya Om, harus standby handphone untuk pekerjaan dan masih ada pekerjaan rumah yang harus Om bantu juga. Nah untuk mengatasi itu ada pembagian khusus atau ada trik sama Tante Stefa untuk pembagian kerja nya gitu.

(13)

ada telfon urgent. Kan pasar rame ya, mau gak mau ya tunggu sebentar, Om lari ke mobil biar suaranya agak hening kan. Atau lari ke tempat yang jangan rame suara pasar, suara ayam gitu, lari dulu, telepon dulu, baru abis itu lanjut. Mau nggak mau bagi-bagi ya begitu caranya.

F : Berarti memang harus ada komunikasi yang jelas juga ya Om, antara om dan Tante ya, Maksudnya untuk kegiatan yang memang prioritasnya apa, harus diutamakan gitu ya Om ya.

D : Iya, dan kesusahannya adalah semuanya bisa insidentil, tiba-tiba. Karena kan WFH, jadi kapan pun harus siap. Yang paling susah adalah kalau bagi tugasnya jam siang ah lagi tidur, kita ditelepon. terus bangun.

F : Oke. Nah kalau dari sebelum pandemi nih Om, dari sudah sering pergi ke luar kota , sebenarnya Tante sudah Pro banget lah untuk handel semua urusan rumah tangga sendiri gitu, udah multitasking gitu, Nah setelah pandemi ini kenapa kira-kira Om akhirnya memutuskan untuk ikut berkontribusi lah sedikit banyak untuk bantu Tante, misal kayak tadi yang bilang pergi ke pasar atau membersihkan rumah itu, kenapa akhirnya memutuskan untuk itu, padahal mungkin Om bisa 100% fokus ke pekerjaan gitu, atau mengerjakan hal-hal yang lain yang bisa support pekerjaan Om.

D : kalau Om pikirannya sebenernya bukan karena fokus kerjaan atau Tante tidak bisa mengerjakan pekerjan itu, tapi justru Om pengen merasakan kerjaan yang Tante Stefa kerjakan. Contohnya gini, Pagi kalau anter sekolah nggak ya karena online, jadi misalkan pagi Tante ke pasar sendiri, Ah pengen ngerasaain ke pasar, sambil jalan-jalan sambil muter-muter, itu bisa pulang ke rumah jam satu jam dua siang. Berangkatnya Jam 7 pagi. ke pasar, ke sini ke situ segala macam muter-muter taunya jam 2. Nah Itu pengen ngerasain aktivitas seperti itu karena kan jarang. Pertama posisi kerja di Jakarta padahal domisili di Cirebon, kedua juga kan kapan lagi ada kesempatan libur panjang, istilahnya bisa dinikmati sama keluarga. F : Betul, jadi sekalian ngilangin bosen juga ya Om selama WFH kan cari

(14)

D : Sebenernya asik sih. Karena begini, kalau Om kan siklus kerjanya dari dulu selalu ke luar kota-kota, kemudian kerjaannya di posisi hotel, dan job description Om pasti tidurnya di hotelnya ya, karena ada posisinya memang dikasih untuk untuk harus di hotel, jadi buka pintu tuh udah langsung pekerjaan dan itu siklusnya adalah cukup suntuk, karena buka turun semua langsung kerjaan kanan-kiri. gitu-gitu aja kerjanya. Nah itu sudah dilakuin cukup lama, nah ketemu sekarang yang betul-betul rumah itu enak banget itu sepertinya. Jauh lebih enak. Boleh dibilang di dalam tempat kerja tidurnya.

F : jadi kayak tidur di kantor ya Om rasanya. Bangun-bangun langsung ruangan kerja. Nah kalau rekan-rekan Om satu profesi itu punya pengalaman yang sama gak sih Om, sering sharing gak?

D : Sama semua. Mereka tuh sampai sempet beberapa teman itu GM hotel yang pasti harus stay di hotel, mereka punya kos-kosan. Buka kamar untuk WFH, tapi jauh posisinya. Salah satunya di Santika Bogor dikasihin in-house di Amaris, itu sama Santika ditanya mau buka kamar nggak dikasih kamar di hotel di kasih kabar ke kosan supaya nggak penat kan. Temen-temen Om banyak sekali kok, banyak sekali. Jadi tetep ada kerinduan dari tempat kerja. Mungkin orang bilang aja sehari dua hari enak ya kalau di hotel, tapi ini kan iklim kerja bukan liburan, apalagi gak ada keluarga.

F : Nah kalau khususnya setelah pandemi nih, Om. Pernah sharing-sharing jugak gak sama rekan-rekan kerja tentang pengalaman yang sama, Jadi bantu istri nih gara-gara lebih baik di rumah atau lain sebagainya gitu. Pernah gak sih ada selingan pembicaraan kayak gitu?

D : Oh banyak banget. banyak banget malah. Nah kalau hotel itu kan ada yang namanya grooming, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pas meeting dan muncul di grup itu kaget juga ya. kalau jajaran Om kan gak betul-betul WFH, jadi dirumahkan, tapi gajinya setengah. Maksudnya setengah bulan masuk setengah bulan waktu di rumah. tapi waktu di rumah Om lihat sendiri ada yang bewokkan, suasananya terbawa suasana rumah kan, dan banyak yang akhirnya terbawa malas untuk balik lagi ke kantor.

(15)

D : Iya, karena posisinya walaupun dibilang enak di hotel, tapi ngiket gitu. Banyak Om Punya temen Posisi ada cukup tinggi jadi pada buka kursus stir mobil. banyak macam ada juga yang masih sekolah di segala macam ada yang hobinya motor akhirnya dia jual sepeda dia berhenti dari jabatan GM. Jadi dampaknya WFH lebih enak. kami orang berpikir lagi sendiri.

F : Nah kalau Om Dedy sendiri, milih mau tetap begini aja atau mau kembali ke rutinitas sebelumnya sebelum pandemi?

D : Om sih mau begini aja, bener deh. Gamau ngantor. Karena kalo ngantor tuh ini, satu pressure di kerjaan itu kan, dengan kondisi begini pressure nya tetap dan makin tinggi. Sekarang Om punya temen wah, banyak sekali yang mengundurkan diri dan nggak mau balik lagi.

F : Oke, berarti ini kurang lebih udah setahun ya Om D : Dari Maret tahun lalu, iya sudah setahun ya.

F : Iya, gak kerasa ya, padahal kayak baru tahun lalu. Nah, tapi kalau Om Dedi memilih begini terus nih gitu, kira-kira siap gak Om Kalau harus menjalani aktivitas kayak yang sekarang, sampai kedepannya mulai dari bantu Tante Stefa juga juga sampai urusan kerjaan, itu sekarang masih di tahap yang enjoy-enjoy aja atau udah terbiasa atau bahkan Kayak udah mulai gimana nih, Om?

D : Ngerasa gak nyaman sih enggak, kalau dibilang enjoy, ya enjoy, tapi memang harus survive karena kan kalau boleh dibilang kalau dulu bekerja kan dapet salary monthly kan. kalau sekarang harus mencari sesuatu yang baru ya harus survive. Tapi sebetulnya secara nyaman lebih nyaman, karena kalau posisi Om yang namanya pressure kerjaan itu kalau dulu waktu WFO yang nyari itu kan dari segala macam penjuru nyari gitu. Pemerintahan sampai bupati nyari, sampai supplier nyari, sampai orang lokal semua nyari gitu. Jadi boleh dibilang kalau pressure nya banyak banget. Dan itu yang nyari bukan hanya jam kerja, tapi bisa random waktunya.

(16)

segala pressure yang memang lumayan besar ini Om,Kan Om sekarang misalkan di rumah nih dan kedepannya mungkin akan masih seperti, ini kira-kira tuh Om dan Tante punya kayak pemikiran gitu kira-kira pembagian kerja apa sih yang yang ideal, pembagian kerja rumah tangga seperti apa yang menurut Om ideal supaya Om bisa tetap punya waktu untuk handle pekerjaan Om dengan dan segala pressure nya dengan baik dan begitu juga Tante Steva yang mungkin bisa tetap merasa teringankan gitu atau terbebani. kira-kira itu gimana om?

D : Kalo Om berarti, kalau misalnya begini terus gitu ya, karena Om yang mengikuti ritme nya Tante Steva, berarti om balik. Ritme nya dia apa yang bisa Om bantu, apa yang nggak sanggup. Karena nggak Boleh Om yang masuk duluan karena ini ritme nya Tante. Misalnya ritme nya ke pasar, pokoknya Om yang ikutin, supaya bisa jalan.

F : Jadi bisa dibilang supporting role, ya Om.

D : Nah, Iya misalnya pagi bangunin anak sekolah, abis itu urusin makan sekolah dulu si Harrel, habis itu waktu Sebentar istirahat. Baru lagi ke pasar, abis tu makan lagi. Nah itu kan ritme nya seperti apa. Jadi kita harus tahu.

F : Tahu timeline nya seperti apa nih gitu ya Om ya. Nah kalau dari keluarga Om Dedi sendiri itu banyak yang memang suaminya bekerja dan istrinya di rumah atau ada juga yang sama istrinya sama-sama kerja nih?

D : Kalau Om ya, adik Om yang pertama di Lombok dia punya usaha suami-isteri. Semua usahanya lain-lain yang suaminya jual selang gas, yang istrinya punya kursus musik di Lombok. Kalau yang kedua belum married, tapi kerja di Agensi periklanan.

(17)

mencukupi kebutuhan rumah tangga gitu. Nah menurut adanya perbedaan kedua jobdesk itu sampai sekarang masih relate gak sih, atau Om Dedi punya pandangan atau deskripsi sendiri mengenai dua pembagian kerja itu; antara laki-laki dan perempuan, dan kenapa?

D : Kalau menurut Om sih sebetulnya udah gak relate ya. Kalau Om memang kan lebih vokal di rumah, Tapi kalaupun misalnya Tante masak, bukan kerja di office kan, misalnya jualan masakan lah, jualan kue kering lah, Om sih gak ada masalah. Karena kalau Om pikirannya adalah kalau orang juga dikekang tidak boleh ini itu timbulnya suntuk. Kalau Om pikirannya lebih lagi kesitu, lebih modern lah gak kuno banget. Yang kedua kalau beres-beres rumah malah kalau Om sih orangnya Netral, di rumah tuh gini, misalnya mau ganti meja makan gitu kan, ada yang bagus nih gimana, terus Tante bilang cocok atau enggak, yaudah beli gitu. Terus misalnya beliin dong di Ikea bagus nih buat dekorasi, yaudah dibeli. Walaupun lama-lama tidak dipakai juga, tapi nggak papa yang penting ada kreasi dan kalau Om istilahnya support aja selama masuk di akal ya, lagi nih ada yang beli ini beli kaktus kaktus bilang hari ini di mana, sini bagus-bagus, ya Udah Oke kalau begitu. Om sih selalu support aja hal-hal begitu.

F : Oke, iya bener sih, soalnya iya mungkin sekarang kan emang pemikiran orang kan apa generasi muda ya zaman sekarang itu yang perempuan tuh udah banyak yang orientasinya mungkin lebih pengen kerja atau apa Jadi mungkin memang sekarang mau ga mau adaptasinya fleskibel ya om? Nah ngomong ngomong soal dia masih muda nih aku sempet baca juga jadi ini sebetulnya kalau aku alasan kenapa aku punya neliti ini juga. Kan ya yang Om tahu lah pasti udah banyak banget aktivis-aktivis muda. Apalagi yang membahas soal gender soal pekerja domestik dan lain-lain gitu. Nah kalau Om Dedi sendiri nih deskripsi kesetaraan gender itu apa sih?

(18)

Itu setara dalam hal pekerjaan, dalam hasil pekerjaan dan juga dalam hal apa ya, menghargai orang terhadap pekerjaannya itu. Ya kalau misalnya kita melihatnya sekarang adalah perempuan yang dilecehkan, sebetulnya laki-laki juga ada kesetaraannya, jarang kan ada posisi sekretaris yang perempuan. Kalau perawat kan masih ada ya. Kalau di hotel hampir enggak pernah ada yang namanya shift malam itu perempuan, adanya laki-laki. Enggak ada perempuan karena aturan dari DISNAKER tidak boleh lewat jam 23.0, melindungi perempuan kan. Walaupun kata perempuan Ya saya juga mau aman lah keluar malam-malam, tapi kalau dia berpikir mau kesetaraan ya samakanlah shift kerja malam. Misalkan gitu.

F : Berarti kalau mau setara, kita pukul rata nih dari sistem kerja, gitu ya Om ya kurang lebih. Nah Kalau sekarang kan mungkin tuh banyak orang-orang menilai kesetaraan gender itu kan dari banyaknya perempuan yang sudah berhasil berkontribusi di peran-peran instrumental gitu. Jadi udah banyak yang bisa bekerja berpendidikan dan lain sebagainya, tapi disatu sisi aku juga sempat baca nih satu artikel yang lumayan menarik itu bahwa kesetaraan gender itu tidak bisa dipenuhi kalau hanya Lihat dari sisi perempuan yang bisa achieve peran laki-laki gitu, kalau menurut Om sendiri nih, siap gak sih Om kalau misalkan (ini di andai-andai aja ya) siap gak kalau misalkan someday gitu Om harus switch role sama Tante, jadi yang bekerja Tante dan Om yang akhirnya mengurus pekerjaan domestik. Kalau menurut Om, gimana?

D : Kalau dibilang siap sih pasti siap. Tapi balik lagi pasti semuanya akan belajar dari nol. Kalau dari Tante pasti bisa karena yang dia akan masukin bidang yang pasti dia bisa, Bahkan sebetulnya bisa juga jadinya begini, bahwa pekerjaan domestik itu dikerjakannya bukan dengan kami berdua, tapi dengan pihak ketiga. Bisa GoFood atau Catering Lah kalau makan. Nah ini yang Om sama Tante lagi bahas untuk kedepannya, rencana gitu. Jadi tetep di posisi bekerja tapi Om Dedi ada kerjaan lain (side job) tapi gede juga gitu. Jadi namanya Om Dedi di sidejob nya, tapi Tante yang jalan, jadi kan dua-duanya yang jalan. Nanti yang yang di rumahnya itu yang lain. Nanti dipikirkan.

(19)

sepenuhnya gitu ini untuk misalkan orang-orang di luar sana gitu om, perspektif Om sendiri seperti apa om,

D : Kalau Om Dedy sendiri melihatnya bagus kok. Itu kan sama saja membantu Keluarga dan juga itu kan sama sebetulnya kan pekerjaan istri juga harus dibantu. Menurut Om sih bagus, jadi jangan berpikir bahwa suami ga boleh mengerjakan pekerjaan rumah.

F : Hmm betul, ini menarik sih ya om, soalnya Kebanyakan kan kasus yang kita temui sekarang nih banyak orang-orang atau laki-laki itu yang justru tingkat depresi nya tinggi banget selama pandemi karena dia merasa nggak fullfill enough gitu jadi laki-laki karena nggak punya pekerjaan, gitu. Nggak bisa memenuhi nafkah dan lain sebagainya gitu kan. Padahal kan mungkin ekspektasi yang ditaruh dalam dirinya itu juga juga batasan dalam dirinya gitu loh Om jadi dia nggak mau apa yang terkungkung di role itu.

D : Oh berarti maksudnya Fabi itu posisinya membantu pekerjaan domestik itu dia gak bekerja ya?.

F : Iya betul Om, jadi berandai-andai nya kurang lebih begitu.

D : Oh kalau switch role yang dimaksud misalkan Om yang gak bekerja dan Tante Stefa yang bekerja sih Om yang stress sih ya pasti. Karena sudah terbiasa sebelumnya. Tapi akhirnya berpikirnya adalah bagaimana cari kerja yang bisa dijalani secara online atau gak harus fulltime. Karena itu kan bentuk ekspresi diri Om, begitu. Kalau gak kerja pasti akan males dan bete banget. Soalnya sempet sih Om mengalami gak kerja dan Tante juga pas enggak. Akhirnya Om cari kerja lain yang kira-kira bisa online karena kalau di rumah aja suntuk juga, kan.

F : Iya sih Om.Tapi sejauh ini Tante pernah cerita nggak Om, kalau misalkan kayak di rumah terus nih jadi suntuk?

D : Engga tuh, karena jalan terus pokoknya job nya (PO kue dan masakan)

(20)

D : Menurut Om sih urgensinya gak besar, karena balik lagi tadi kan ini yang mayor ini kan dipegang Tante. Karena ini minor nya Om, jadi pasti Om yang membantu. Dan komunikasinya gak bisa kayak anak muda ya, kode-kode nya.

F : Nah Kalau boleh tahu, pekerjaan domestik apa yang udah dicicipin dan yang mana yang paling asik menurut Om.

D : Kalau yang udah dicicipin mah banyak, simpel aja misalnya malam tiba-tiba Aqua galon abis, mau gak mau harus beli dan cari. terus pagi-pagi bangun terus tiba-tiba Harel pengen, berapa dan isinya apa itu hal yang pasti Tante Stefa tahu banget. tapi setelah Om ikut di WFH ini akhirnya jadi tahu kan. hal-hal kecil, misalnya cuci mobil. Di tempat pencucian yang itu oh, oh gitu ya. Oh, ya ya. Justru Om Baru tahu itu yang itu jelek, itu bagus, karena Tante yang biasa bawa mobil. Kalau Om kan di Jakarta, nggak tahu di Cirebon kayak apa cucian mobilnya. Jadi dibilang asik sih semua juga bisa kita nikmatin. Kayak Om baru tahu tentang mobil. Padahal cucian mobil di Jakarta Om sering, tapi di Cirebon itu kan hampir nggak pernah.

F : Jadi so far ya enjoy-anjoy aja ya.

D : Iya, dan juga kan itu hal yang buat Om jadinya tuh sekunder kan, istilahnya kan yang paham Tante.

F : Nah kalau yang belum dicicipin Om masak-masak Om udah pernah nyoba masak belum?

D : Udah dong, masak dan bikin kue sampai jam 4 pagi. F : Iya si Tante baking terus yah.

D : Iya tuh bikin kue sampe jam 4 pagi, bersih-bersih dapur. Nah ini juga rencana pulang dari Bali mau bersihin atas, banyak lah.

(21)

D : Nah iya tuhm apalagi pas sampe rumah Air pompa nggak jalan di Cirebon. Ya biasalah namanya elektronik ya.

F : Berarti bisa di bilangnya itu lebih fleksibel yang penting kelar dan jadi kita saling bantu aja gitu ya satu sama lain ya.

D : Kalau Om sama Tante sih dari dulu di rumah fleksibel banget. Waktu aja ya Om Karena Om yang lebih baik di luar. Jadi mau siapa yang urus semuanya full dirumah Gitu ya, Tante. the matter of time aja.

F : Oh iya-iya. Nah sebetulnya sih dari pertanyaan secara teknis itu udah terjawab, Om. Karena pas sharing kemarin kok pas banget ditawarin untuk wawancara Om Dedy. Gitu. Ini jadi planning balik Cirebon setelah Juli eh Juni?

D : Setelah Mei akhir deh kayaknya.

F : Udah ada plan Om kota mana berikutnya yang akan digandrungi?

D : Abis itu ke Malang, kemungkinan sih Jakarta atau gak ya balik lagi. Tapi bisa jadi di Bali akan lebih lama.

F : Sekarang udah rame banget dong Om, tempat-tempat di sana?

D : Belum nih, malah sepi. Kalau pas Desember yang kalian pada kesini itu, iya tuh rame.

F : ya bagus lah ya Om, kalo misalkan rame kan kita juga yang serem ya. D : Iya bener, malah serem kan mau kemana-mana.

F : Oke deh Om, sebelum di akhiri, mau ucapin Terima kasih sekali lagi, sudah bersedia dibuang waktunya kurang lebih hampir sejam nih buat wawancara skripsi aku. Oh iya Om untuk pencantuman nama dan instansi, berkenan untuk disebutkan atau disembunyikan aja?

(22)

F : Oke deh, terima kasih banyak Om Dedy, sehat selalu Tuhan berkati keluarga semoga bisa ada waktu silaturahmi lagi rame-rame ya Om. Salam untuk Tante Stefa.

(23)

TRANSKRIP WAWANCARA 3

Tema Penelitian : Pemaknaan Keterlibatan Laki-Laki dalam Pekerjaan Domestik (Studi Fenomenologi Pandemi Covid-19)

Fasilitator : Fabiola Devina Wingardi Nama Informan : Niko

Hari, tanggal : Selasa, 18 Mei 2021

Media : Zoom Meeting

*Keterangan F: Fasilitator N: Informan

F : Halo kak Nik, udah kedengeran kan suara aku? N : Hai-hai, yes, sudah-sudak kok. Apa kabar nih dirimu?

F : Baik kak, syukur Puji Tuhan, Kak Niko gimana nih? Diliat-liat makin jadi aja badannya di Instagram.

N : Ya, maklum lah ya, kadang aku kalau nge gym ketagihannya udah kayak makanan. Apalagi semenjak WFH nih. Makin-makin.

F : Pantesan, udah rajin jadi tambah rajin ya. N : Yes, betul.

(24)

N : Ah I see, I see. Jadi pengen tahu aktivitas selama WFH ya.

F : Betul. Soalnya aku denger-denger dari Ci Gres, Kak Niko jadi sering bantu-bantu istri di rumah nih.

N : Correct, correct. Soalnya gimana ya, maklum anak udah 1 nih masih bocah banget lagi kan ya. Dirimu pasti tahu lah kayak apa ribetnya dulu si Cece ngurus Aiden juga, umur nya kan hampir-hampir sama tuh ya. Jadi ya selagi emang ada sesuatu yang harus dikerjakan dan bisa aku kerjakan ya pasti aku eksekusi. F : Iya sih betul, tapi sebelum ke sana aku pengen tahu dulu dong, Kak. Perbedaan

pembagian kerja nih, khususnya dalam urusan domestik ya, itu dulu sebelum pandemi dan sekarang setelah pandemi itu seperti apa sih?

N : Sebetulnya kalau dibahas perbedaannya, ya, Ya berbeda banget sih enggak. Cuma tetep aja kerasa tuh jetlag nya pas di rumah mulu ya kan. Misalnya kalau dulu aku kerja di perbankan kan memang strict ya, let’s say 9 to 5 gitu, dan di kantor. Full tuh, bangun pagi, siap-siap, langsung berangkat, dan malam jam 7 jam setengah 8 gitu biasa baru bener-bener sampai rumah kan di Bekasi, kadang ya telat-telat tipis nyambung gym sebentar kan, biasalah. Kalau sekarang itu lebih banyak di rumah kan. Bangun juga kerja pun tetep di rumah, 24 jam.

F : Gile, rajin banget ya kak masih sempet-sempet gym.

N : Nah iya, biasa lagi gila-gila nya kan. Nah ini tantangannya nih sewaktu awal banget corona di umumin ada, itu satu bulan kemudian aku langsung full wfh dan bener-bener gak keluar rumah loh. Karena concern ke anak aku juga kan masih kecil banget. Jadi, dari banyaknya waktu di rumah itu, awal-awal aku banyak spend waktu di olah raga. Karena gym tutup, jadi sebisanya dengan equipment yang ada di rumah. Setelah itu baru lanjut kerja. Kalau dalam ranah domestik yang dirimu itu sih, aku biasa bantu jaga anak sih pas dia perlu masak atau lain-lain.

F : Oh iya iya. Nah kalau spesifiknya di pembagian urusan rumah tangga sama istri sendiri, dulu dan sekarang seperti apa tuh kak?

(25)

kalau ditanya aku pribadi dulu seperti apa di ranah kerumahtanggaan, bisa dibilang aku sih supporting role nya istri ya. Dari dulu kalau sesederhana urusan cuci piring, nyapu, atau ngepel sekalipun itu aku juga lakukan, karena balik lagi, it is the matter

of time gitu. Karena istri yang lebih banyak di rumah, di rumah terus malah, jadi

ya bisa dibilang itu jadi porsi nya istri. Gitu.

F : Kalau sekarang, semenjak lebih banyak waktu di rumah, selain nge-gym yang makin intense nih, Kak, porsi pembagian kerjaan rumah tangga yang dulu sudah pernah dilakukan itu jadi berubah kah? Atau gimana?

N : Jadi lebih banyak bantu sih bisa dibilang iya ya. Kadang bukan urusan bersih-bersih aja, tapi yang paling kerasa itu waktu sama anak juga semakin banyak. Nah dari situ juga aku bisa dikatakan sembari mengurus anak-lah, menjaga dan nemenin main, ngeladenin kepo-kepo nya bocah umur segitu kan ya. Meanwhile istri lagi masak, atau ngurusin urusan dapur gitu.

F : Nah kalau misalkan di tuker tuh kak, pernah gak? Kayak misalkan Kak Niko yang jadi ngurusin urusan dapur terus istri yang sama anak gitu.

N : Oh jangan salah, pernah. Tapi kayaknya doi lebih percaya suaminya buat jaga anak kali ye, secara kalo urusan dapur justru Istri yang males ngajarin. Dia tau laki nya deh.

F : Ho iya yah? Wah menarik. Jadi khususnya selama pandemi, selain intense sama anak, apalagi nih Kak?

N : Nah, kalo di dapur kan emang jarang tuh, tapi kalau urusan bersih-bersih udah jago sih kayaknya. Soalnya aku memang dari sebelum nikah pun tinggal sama Mama, juga gitu. Bantu bersih-bersih.

F : Kalau dari segi keluarga besar kak Niko sendiri tuh kalo soal pembagian kerja gitu, gimana tuh?

(26)

say apa ya, perspektif ya, bahwa perempuan itu gila sih, hebat dan kuat banget.

Dari kecil sudah tertanam di benak bahwa aku gak mau nyusahin dan nambahin beban Mama, that’s why aku punya prinsip, hal sekecil apapun yang semestinya jadi tugas Mama dan bisa aku bantu selesaikan, pasti akan aku kerjakan. Salah satunya ya itu, skill bersih-bersih rumah dan bantu jaga adik-adik. Udah khatam deh pokoknya.

F : Waw, aku salut sih Kak.

N : Itu juga apa yang selalu aku sampaikan ke istri, kalau dalam keadaan se-sederhana apapun aku bisa bantu ringankan beban kamu, aku pasti akan lakukan. Tugas aku ya sebagai suami adalah ngejagain keluarga aku gitu kan ya. Tanggung jawab aku mencari nafkah keluarga. Gitu. Sebetulnya hal-hal itu juga yang akhirnya triggered aku buat coba-coba freelance jadi model tuh jaman “ABG”. Ya sekarang juga masih sih sebenenrya. Lumayan kan, pada waktu itu bisa nabung dikit-dikit, kalau pun gak cukup buat menghidupi sekeluarga, at-least aku gak nambah beban keluarga, bisa nyucukupin diri sendiri dulu aja, settled dulu.

F : Nah, kalau istri sendiri sebenernya pernah kerja juga kan kak? Kalau boleh tahu, akhirnya memutuskan berhenti sesudah menikah atau sebelum?

N : Kalau istri itu udah gak kerja setelah melahirkan deh tepatnya. Karena waktu itu masa kehamilannya juga gak mudah ya, sering fatigue gitu. Serem juga kan kalau dipaksa terus dan takutnya kenapa-kenapa, jadi akhirnya setelah kompromi bareng-bareng, di bulan ke-4 hamil itu Istri akhirnya resign. Itu di 2018 awal deh kalau nggak salah.

F : Wah kalau memang jadi kecapekan bahaya juga sih kak.

N : Yes, correct. Sebenernya sih kalau memang kondisi dia gak seperti itu, aku mah gak masalah sama sekali kalo dia masih enjoy kerja. Cuma melihat kondisinya riskan banget, jadi mau gak mau di rumah aja istirahat.

(27)

N : Hm, bingung juga ya, kalo sekarang belom bisa dibayangin sih, paling jalan satu-satunya ya pakai ART kali ya, tapi bisa juga nanti bolak-balik dititipin ke Mama, tapi tetep harus ada yang bantu, pasti kewalahan kalau enggak. Tapi sepertinya sih dalam waktu dekat Istri aku juga belum ada omongan pengen balik kerja sih. Udah nyaman kali ya.

F : Udah terbiasa sih ya kak.

N : Iya, tapi ya gak menutup kemungkinan sih, cuma aku juga bilang ke istri kalau gak usah dipusingin balik kerja karena merasa gimana-gimana. Balik kerja karena kalau kamunya memang mau berkegiatan aja, jangan sampe jadi tekanan, karena aku juga istilahnya masih bisa ya Puji Tuhan mencukupi lah ya, rejekinya ada terus. Gitu.

F : Hmm iya iya. Kak ini kita berandai-andai aja ya, kalau misalkan nih, bayangin aja kalau Kak Niko sama istri harus switch role gitu, kayak gantian. Kak Niko yang di rumah, dan istri yang pergi keluar kerja gitu. Kira-kira gimana tuh menurut pendapat kakak?

N : Waduh, berat ya. Sebenernya sih bukan masalah yang besar banget, tapi itu big

deal buat aku dan Istri. Khususnya aku ya, aku sih mikirnya selama aku masih

sehat dan masih punya kesempatan untuk menyalurkan apa yang bisa aku salurkan dalam hal-hal yang positif, aku akan lanjut terus sih. Nah masalahnya kalau kita ngomongin soal pekerjaan domestik itu sepertinya bukan salah satu passion yang bisa fulfill diri aku gitu. Rasanya itu kan lebih ke kewajiban rumah tangga ya, jadi seandainya aku harus giliran di rumah sama Istri gitu misalnya, ya aku akan tetep kerja sih. Itu juga udah jadi bagian dari tanggung jawab yang harus aku penuhi buat keluarga juga.

F : Hm, jadi memang tetap butuh berekspresi diri lah ya Kak walaupun memang harus evenly share domestic works?

(28)

F : Pertimbangan yang matang, soal pembagian kerja di rumah ya?

N : Itu salah satunya, yang utama sih menurut aku supaya anak tetap ada waktu yang cukup sama orang tuanya juga, dan pastinya sama kesehatan dia juga kan. Karena kalau Papa nya udah bolak-balik ngantor lagi nih, terus Mama nya juga, and let’s

say anak jadi sama mamah terus atau sama ART gitu, rasanya kan kasihan. Gak

tega kan. Padahal orang tuanya sama-sama masih ada nih. Kita juga yang dikejer apa sih ya kan, in the end quality time sama keluarga itu sih yang mahal banget gitu.

F : Hm betul sih, anak tetep nomor 1 ya kak, kerja juga ujung-ujungnya buat anak kan ya. Kalau Kak Niko sendiri punya definisi sendiri ga sih gak mengenai pembagian kerja yang ideal menurut Kakak gitu?

N : Exactly. Ya balik lagi ya, tiap-tiap pasangan kan pasti punya pemikiran yang masing-masing, kalau kita bahas soal ideal gak ideal itu, bahkan yang menurut aku ideal belum tentu ideal juga di mata Istri aku, kan. Kalau dalam rumah tangga itu aku belajar banyak dari nasehat Mama sih, bahwa selama kita punya niat tulus dan komitmen buat rumah tangga ini works gitu, ya kita harus kerja sama dan setelah itu Tuhan pasti lancarkan. Kerja sama dalam arti kita harus saling isi nih, harus paham lah ibaratnya satu sama lain seperti apa. Kadang kalau kita hubung-hubungin sama kesetaraan yakamu bener juga bahas soal ini kan ya?

F : Iya betul kak, betul.

N :..Nah, oke, kalau kita ambil dari sisi kesetaraan gender gitu ya, menurutku kan definisi setara itu gak alih-alih the whole thing itu harus sama gitu. Maksudnya gini, equal itu harus fair kan, jadi kalau in my opinion sih itu lebih ke arah ‘kesempatan yang sama’ ya, jadi yang penting kita itu gak menutup opportunity orang regardless of their gender yah, untuk berkembang gitu. Contoh, lagi dan lagi seperti yang aku bilang tadi, aku gak menutup kemungkinan istri aku untuk bekerja lagi, tapi jangan jadikan itu sebagai sebuah tuntutan. Begitu kurang lebih. Eh aku gak keluar topik kan nih?

F : Enggak kok kak, santai aja, santai. Justru semakin detail semakin bagus nih.

(29)

N : Sama-sama, thank you juga loh. Terus apalagi nih kira-kira?

F : Hm, sebenernya sih secara teknis udah cukup banget nih jawaban Kak Niko, cuma aku masih penasaran. Kalau bisa dideskripsikan, jadi alasan Kakak untuk

contribute di pekerjaan domestik itu seperti apa? Gitu.

N : Komitmen sih. Bahwa di rumah tangga memang kita punya peran masing-masing ya, kalau semua mau sama rata kan repot juga. Harus saling isi. Terus menurutku bukan jamannya lagi suami kudu malu kalo bantu istri di rumah sih. Karena syukurnya aku juga hidup di lingkungan yang adem ayem ya. Udah gak jaman juga gak sih kayak tetangga pada ngomongin, atau orang kantor gitu.

F : Iya sih betul, syukurnya semakin banyak orang-orang open-minded di dunia ini ya kak.

N : Correct. Nah balik lagi tuh, selain komitmen ya aku juga merasa selama ada waktu, apa yang bisa aku bantu pasti aku bantu. basic-life theory sih, ya gak? Sama orang lain aja aku kadang gitu. Apalagi sama keluarga cuy.

F : Iya si betul kak. Jadi prinsip nya “saling-bantu” aja lah ya, nyetir kapalnya bareng-bareng gitu.

N : Exactly.

F : Nah terakhir nih kak, pertanyaan senilai 50 juta rupiah ya kak. Udah kayak kuis nih.

N : Aduh, aku masih bisa call a friend gak nih. Haha.

F : Bisa kak tenang aja, 50:50 juga masih ada. Haha. Nah, pertanyaannya nih ya, Gimana pendapat Kak Niko sama pembagian peran laki-laki dan perempuan di masyarakat. Percaya ga sih? Dan alasannya apa?

(30)

dalam peran itu. Ya pemikiran tentang ini pasti gak akan pernah bisa di universal-kan sih ya, karena Indonesia universal-kan kentel banget sama budaya-budaya yang secara spesifik tuh menjelaskan bagaimana laki-laki dan bagaimana perempuan. Menurutku budaya tetep budaya, tapi alangkah baiknya bahwa setiap kebudayaan itu harus dikondisikan aja sih ke masa yang seperti sekarang ini. Harus lebih

thoughtful lah istilahnya.

F : Hmm oke-oke aku paham. Betul sih kak. Karena Indonesia kan memang salah satu negara yang patriarkis ya, dan banyak orang yang akhirnya mentradisionalisasi peran gender itu atas nama melestarikan budaya.

N : Yes, kurang lebih menurutku sih begitu, Fab.

F : Wow, baiklah. Amazing sekali mendengar pemikiran-pemikiran baru yang super

insightful nih, Kak.

N : Heleh bisa aja. Gimana, masih ada lagi?

F : Well, sepertinya secara teknis ini sudah cukup banget sih. Yaampun thank you banget Kak Niko, once again. Udah bersedia dibuang waktunya, ujung-ujungnya beneran hampir sejam ya Kak.

N : Santai, Fab. Aku seneng bisa bantu mahasiswa semangat dan keren nih. Nanti kalo mau sidang dan lulus kabarin kali.

F : Aduh amin-amin ya Kak. Pasti, nanti dikabarin. Biar dikirimin hadiah graduation ya. Mohon didoakan nih adikmu ini, supaya lancar-lancar terus.

N : Pasti lancar lah. Amen, jangan lupa doa yah dirimu. Kalo usaha nya keren hasilnya juga keren.

F : Amin-amin, Kak. By the way salam untuk Istri dan si bocil ya Kak. Aku belom pernah ketemu, sekalinya ketemu cuma sekelibat doang tadi. Sehat-sehat terus Kak Niko dan keluarga. Tuhan berkati selalu.

(31)
(32)

TRANSKRIP WAWANCARA 4

Tema Penelitian : Pemaknaan Keterlibatan Laki-Laki dalam Pekerjaan Domestik (Studi Fenomenologi Pandemi Covid-19)

Fasilitator : Fabiola Devina Wingardi Nama Informan : Antony

Hari, tanggal : Senin, 24 Mei 2021

Media : Tatap muka

*Keterangan F: Fasilitator A: Informan

F : Oke Ko, ini start aku record jadi voice note yah. A : Oke siap.

F : Oke dimulai ya. Ko, boleh perkenalkan diri sama kesibukan dan kegiatannya sehari-hari sekarang gimana nih. Gapapa santai aja Ko.

A : Nama saya Antony, saya berusia 28 tahun, kesibukan sebagai terkenal personal trainer, terus, udah ya, itu. Oh iya dan 1 orang istri dan satu orang anak.

F : Oke, Nah kalau perbedaan semenjak pandemic sama sebelum padam itu apa aja sih Yang dirasain, Ko?

(33)

F : Oke, kalau waktu di rumah otomatis jadi lebih banyak dong ya, sekarang ya ini semenjak pandemi?

A : Iya, iya.

F : Nah, kalau perbedaan urusan rumah tangga nih, Kan sebelumnya sibuk, bolak-balik kantor, istri di rumah nggak pakai pembantu rumah tangga kan?

A : Iya gak pakai.

F : itu kan mungkin sebelumnya istri di rumah yang full kan di rumah. Sekarang tuh semenjak Ko Antony lebih sering di rumah, ada perbedaan gak dari pembagian urusan rumah tangga gitu?

A : Hm,Ya mungkin ada ya Kalau dulu kan dia kerja sendiri. Nah sekarang jadi ada saya ya dibagi lah pekerjaannya. Ya toh saya juga nggak banyak pekerjaan yang saya urusin ya bantu-bantu istri saya lah.

F : Kalau boleh tahu apa aja tuh, Ko? boleh diceritain nggak?

A : Ya ini ya. Paling bersih-bersih rumah mandiin anak, cuci piring. Ngepel enggak, bagian dia biasa nyapu dan ngepel. Begitu aja dibagi yang namanya rumah tangga. F : Tapi kalau boleh disebut gitu, jenis pekerjaan yang paling sering dilakuan dalam

pekerjaan domestik?

A : Ya, pergi beli sayur, beli galon, ya itu dari dulu, cuman kan sekarang lebih sering di rumah galon lebih cepat habis karena saya ikut minumin gitu kan. Jadi ya begitu lah.

F : Nah kalau misalkan kayak nyapu dan ngepel jadi bagian istri, ada alasan khusus atau memang kebetulan pembagiannya kayak gitu aja tuh, Ko?

A : Apa ya, ya kadang juga saya ngepel cuma lebih banyak istri saya. Mungkin apa ya, Ada orang yang lebih percaya "itu dikerjakan saya lebih baik", atau...

(34)

A : Nah, iya. kalau Istri saya kan wah nggak bisa lihat debu di ujung-ujung, kayak saya sekali lewat ada yang ketinggalan. Ya udahlah biarin besok juga lewat, gitu kan.

F : Kalu alasan utama akhirnya jadi bantuin itu, sebenenrya kenapa sih ko?

A : Ya, tahu diri lah. Udah, Maksudnya kerja udah nggak kerja, wfh di rumah ya. Kita kan juga sama-sama mikirin sih untuk untuk dapat uang untuk apa ya hari-hari depan. Ya harus bantu lah, masa istri jadi budak, kan nggak gitu juga. F : Nah kalau misalkan ditanya nih, Emang kalau menurut Ko Antony pembagian

kerja rumah tangga yang ideal itu seperti apa sih? Maksudnya bukan dalam pekerjaan rumah doang ya, Tapi dalam pernikahan. Maksudnya yang ideal seperti apa sih antara suami dan istri? boleh diceritain gak Ko?

A : Masing-masing rumah tangga beda ya, Soalnya ada istri yang merasa "Oh saya harus prepare segala sesuatu buat suami" ada istri "Oh lebih banyak dibantu suami saya lebih Baiklah karena saya udah ngurusin anak", ya macam-macam. Nah tergantung, tergantung masing-masing ininya apa orangnya gitu loh kalau buat saya Ya. Karena ya kalau saya kan ikut komunitas gereja juga, ya pada ngomong. Ada yang nyuciin piring begini begini ya. Saya ketawa aja, Saya tahu dari dulu awal nikah ya itu hal yang biasa buat kaya gitu ya. Kenapa sampai perlu diceritain, kayak kerja berat banget gitu. Iya sih jadinya beda-beda.

F : Nah Kalau tadi sempat mention, sempat gabung di lingkungan gereja, ibadah gitu, banyak yang sharing. Kalau dari cita-cita yang Ko Antony denger nih, jadi suami yang mau bantu cuci piring segala macam, mereka lebih kearah yang gimana sih, Ko?

(35)

F : Berarti dilingkungan ko Antony positif ya, Kalau Klau ngelihat cowok yang akhirnya bantu- bantu istrinya. Maksudnya kan dulu mungkin kalau zaman dulu banget, lingkungan sering ada yang kayak "apa sih laki kok nyapu/ngepel. A : kayaknya jamannya udah berubah sih. Kecuali kalau itu ya untuk beberapa

budaya, totok banget kan? Oh iya laki-laki harus kayak raja gitu dalam pembagian rumah tangga. Kalau keluarga saya pribadi apa ya, begitu aja. Yang seperti diceritain tadi, yang bisa saya kerjain, saya happy, ya udah. Saling ini aja, saling dengar, habis itu ya udah kalau istri belum bangun habis tidur agak malam karena anak sakit, ya pagi ada cucian ya cuci. Kadang saja juga masak healthy food buat sarapan. Begitu aja.

F : Berarti emang satu keluarga punya pemikiran yang sama lah ya. A : Mungkin inisiatif saya agak tinggi, lah.

F : Wuidih

A : Hehe jadi nyombong ya.

F : Boleh boleh, Ko gapapa. Tapi kalau boleh di deskripsiin gitu, di dirangkum gimana sih pengalaman setelah banyak berkontribusi dibilangnya, di jalan ranah domestik tuh gimana tuh?

A : Hm, Ya itu salah satu fungsi sih, menurut saya. Jadinya kerjakan apa yang ada di depan mata, jangan mengada-ngada dengan kok harusnya saya begini harusnya saya begini ujungnya jadi nggak bukan penerimaan diri. Jadinya Ya udah rumah tangga emang dikerjakan bersama aja, nggak pakai pembantu rumah tangga, jadi sejauh ini ya nyantai aja gitu.

(36)

nafkah. Nah menurut Ko Antony,konsepnya masih relate ga sih di zaman sekarang ini?.

A : Itu tergantung juga. Ada yang harus menjalani itu, ada juga yang nggak. Yang harus jalanin siapa misalnya ada temen-temen saya yang punya toko Habis itu tinggal sama orang tuanya mau nggak mau, Kan harus harus mengaplikasikan budaya dan Kebiasaan itu ya istri yang serve laki-laki, Ya udah pulang abis itu semuanya diberesin istri. Nah mungkin harus. Ya orang tua juga dengan keluarga kita baik. Kalau misalnya saya kan tinggal udah beda rumah dengan orang tua, Ya pastinya ya berubah gitu loh. Jadinya relate gak relate itu ya balik lagi, tergantung gitu. Jadinya tergantung kondisi dan situasi dan kebutuhannya apa kan. Kayak temen saya lainnya juga, ibunya udah tinggal sendiri, Dia yang harus temenin, ya pasti di rumah ya mungkin ibunya Kalau lihat tanpa tanpa pembantu rumah tangga, kalau ibunya lihat anak laki-lakinya yang segala macem beresin kan kena juga yang perempuan. Nah jadi mau nggak mau harus lebih aktif di perempuannya. Lebih ini prinsip tahu diri ya. Kalau gitu ya, balik lagi ya.

F : Menyesuaikan ya Ko?

A : Iya betul, menyesuaikan Lah. Iya menyesuaikan diri.

F : Tapi kalau Ko Antony sendiri itu gimana? Maksudnya kalau itu kan tadi ngelihat kaya tergantung keluarga prinsipnya gimana. Tapi kalau Ko Antony sendiri nih, suatu saat punya menantu sendiri gitu, itu mau menerapkan prinsip yang seperti apa ya?

(37)

F : Oke, oke. Nah ini kita berandai-andai aja ya, misalkan nih, kan tadi istri full di rumah nih gak kerja dan Ko Antony biasa yang bolak-balik kerja dan sekarang udah punya udah lebih sering mah terjun ke dunia domestik tuh. Kalau suatu saat ditukar deh perannya full, jadi mungkin istri yang nanti keluar kerja terus Ko Antony yang di rumah tuh, pendapat Ko Antony gimana?

A : Gimana ya. Hm, saya agak cerita ya, Ada kenalan saya juga, dia itu jual-beli mobil. Istrinya itu di jabatannya udah tinggi di satu perusahaan nasional yang gajinya sudah ratusan juta. Nah habis itu laki-laki itu kadang mikir juga, saya bisa melakukan apa juga kalau misalnya istri lebih kaya, lebih menghasilkan, gitu. Emang harus ada secara ego sih saya pasti kayak merasa apa ya, itu kayak enzim yang tidak bekerja dengan baik gitu. Jadi harga diri laki-laki itu kan pride nya ya itu. Melakukan sesuatu, berhasil berjalan itu adalah pride laki-laki. Jadi saya ngeliat temen saya itu pagi nge-gym olahraga, anaknya sekolah pulang, pulang dia makan dulu sama istrinya, Habis itu dia ke tempat temannya, jual beli mobil, ya range pendapatannya ya kurang lebih saya paham lah gitu susahnya mobil. Udah kita beli mobil bekas nggak ke jual-jual gitu kan itu bukan pekerjaan mudah gitu. Nah istrinya ini Kerjanya malah enak aja. Rapat ya pulang, pergi ke Bali, meeting. Meeting nya bawa keluarga 4 orang gitu.. Anak semua dapat fasilitas, sekolah dibayarin abudemen dibayarin, sekolahnya juga internasional yang bisa jadi lima besar di Jakarta. Menurut saya Itu ini ya apa.

F : Realistis kah ko?

(38)

terlalu ngurusin lingkungan sosial sih. Kan yang perlu diurusin nomor satu keluarga saya,

F : "dapur" keluarga sendiri lah ya.

A : Iya, bukan apa kata orang. Bodoh Amat apa kata orang yang penting rumah tangganya oke, berjalan baik itu aja.

F : Jadi ya pasti penuh pertimbangan juga ya. Nah tapi kalau ditanya sebelum sama sesudah pandemi itu gimana?.

A : Semua waktu itu ada bagiannya, ada chapternya. Jadinya sebelum pandemi itu hectic banget emang. Tapi ya emang pendapatannya mencukupi lah. Pas pandemi, itu pusing maksudnya Ya kita harus kuras tabungan segala macam, itu kan. Ya tapi ya itu cerita sedihnya adalah itu. Terus dia sekarang dibilang stabil banget dia juga nggak juga gitu. Dibilang enak apa enggak ya agak sulit. Pasti soalnya kalau saya pribadi, belajar dari tiap-tiap waktu. Ya maksudnya Oh ya Pak kalau begini sebelum pandemi sebelum ini saya orang yang seperti ini bekerjanya Begini. Nah setelah pandemi begini. Oh ternyata yang dulu-dulu itu pemikiran saya nggak 100% bener juga. Itu kan manusia selalu berpikir dan berkembang lah. Jadinya itu nggak ada enak-enakan gimana sih ya kan berjalan terus gitu.

F : Nah tapi kalau misal ditanya nih, ceritain hal-hal positif yang mungkin didapat setelah pandemi, itu apa aja ko?

(39)

F : Nah, pertanyaan terakhir deh. Nah ini sebenarnya pertanyaan yang umum banget sih . boleh diceritakan definisi kesetaraan gender menurut Ko Antony, apa dan gimana sih?

A : Kesetaraan gender ya, Hm. Saya juga enggak ngerti-ngerti amat tentang kesetaraan gender gitu ya.

F : Atau mungkin gini, percaya atau enggak sih ada kesetaraan gender, dan kenapa? A : Sebenernya semuanya itu harus dirasain. Jadinya tuh misalnya sebagai laki-laki

ada laki-laki harus begini (kerja), Secara gak langsung sombong dan merasa bahwa laki-laki harus melakukan sesuatu yang tanda kutip hal yang negatif ya. Iya sebenernya saya percaya salahnya itu di laki-laki karena enggak menjadi panutan yang baik. kalau di ajaran agama saya, yang salah itu ada apa Hawa. Yang ngasih buahnya itu kan Si Hawa, tapi kenapa si Adam nggak ngajarin si Hawa menurut perintah yang melibatkan Tuhan itu. Dia malah Oh iya ya, Oh ya udah oke deh. Kenapa dia nggak ngomong. Tapi kalau saya makan buah itu sama kamu, itu enggak enggak dibolehin loh. kenapa dia nggak gitu. Nah ini kan melepas aja. Nah jadi prinsip utamanya Harusnya laki-lakinya istilahnya menjadi teladan, tapi perempuannya ini menjadi pembantu untuk si laki-lakinya. Nah sifatnya kalau ini kesetaraan gender ya, kalau ngomong setara itu agak susah, berarti kan sama. Nah, tapi saya percaya itu peranan kalau pembantu itu berarti harusnya lebih kuat. Yang pertama tapi yang pertama itu juga harus menjadi pelindung buat yang perempuannya nih. Nah jadinya fungsinya udah masing-masing gitu loh. jadinya kalau kesetaraan gender,Ya sebenernya sama cuman peranannya berbeda.

F : Saling mengisi, kah, Ko?

(40)

sudah sangat setara daripada zaman dulu perempuan nggak boleh sekolah jamannya Belanda.

F : Kerja juga ya,

A : Ya kerja gak boleh boleh nya laki-laki yang kerja. Sekarang sudah oke, bahkan di beberapa bidang, perempuan lebih baik kok kinerjanya dari laki-laki. Itu sangat mudah dilihat di mana-mana. itu yang tadi saya cerita bahkan yang suaminya kerja tapi lebih tinggi gaji istrinya, ya Itu juga salah satu contohnya dan dia oke aja gitu.Ya malah enak laki nya. Setiap setiap bulan jalan-jalan ke Bali, kemana walaupun tugas ya. Ya dulu itu dia pengusaha, Habis itu dia drop gitu kan. Istrinya masuk kerja masuk, eh ternyata istrinya ini bagus kerjanya, diangkat sampai tugas di Hongkong 2 tahun. jadinya saya lihat ya emang biasa aja gitu. Teman saya juga ada satu lagi, ya sama kayak, saya suaminya trainer, istri jabatannya Manager, Udah mau ditarik ke Malaysia kemarin.

F : Istrinya?

A : Iya. Jadinya sekeluarga udah siap tuh mau pindah, tapi karena tiba-tiba pandemi akhirnya tahan lagi. Jadinya selama itu menghasilkan pasti ya happy happy aja. juga siap membantu lah kalau ada uangnya istri juga happy kan Suami ada penghasilan yang besar ya. Suami juga kalau istrinya dapat Chance untuk berkembang ya happy juga.

F : Oke, nah tadi sempet disebut juga tuh ko kalau ada pekerjaan dalam beberapa bidang di mana perempuan justru lebih baik. Kalau misalkan ditanya nih, percaya gak sih Ko kalau misalkan gender itu berpengaruh terhadap kinerja seseorang di bidang tertentu?

(41)

peka. Nah kekurangan ini yang bisa diisi dengan perempuan yang peka. Gitu. Kalau perempuan kan ada masa hormonal ya, jadi rata-rata gak stabil.

F : Hm Oke, menarik ya Ko. Kalau bisa disimpulkan ya lagi-lagi masing-masing ada pernanannya dan tugasnya saling isi gitu ya.

A : Ya begitulah, bener.

F : Baiklah, Ko. Sepertinya seluruh pengalamannya udah dibagikan lengkap banget nih. Thank you banget yah, Ko.

(42)
(43)
(44)

Referensi

Dokumen terkait

Keterangan apa yang anda baca di dalam label makanan (jawaban boleh lebih dari satu) a) Nama produk. Apakah anda pernah mengganti pilihan anda dan memilih produk lain karena

Selama pandemi ini untuk ngobrol ya jadi jarang karena dibatasi jarak selain itu juga takut mau deket-deket orang atau pedagang yang lain 3 4 gaada perubahan kalo keamanan

Setelah kompos jadi dengan ciri-ciri : tidak berbau, warna menjadi hitam, kemudian hasil pengomposan yang sudah jadi tersebut dikering anginkan , biarkan beberapa hari baru

Segiempat yang memiliki dua pasang sisi yang sama panjang, memiliki dua sudut yang sama besar, diagonalnya berpotongan tegak lurus, salah satu diagonalnya membagi diagonal

Berdasarkan hasil penelitian “Uji Kesukaan Hasil Jadi Colourful Steamed Cake Menggunakan Tepung Terigu dan Tepung Jagung”, peneliti dapat menarik kesimpulan yaitu,

Pembelajaran Tematik Berbasis Kesetaraan Gender dan Nilai Kebhinekaan di Sekolah Dasar Banyak pembaharuan yang dilakukan dalam bidang pendidikan, pembaharuan yang berasal dari hasil