PENGARUH LINGKUNGAN, PERILAKU DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP ANGKA KEJADIAN DEMAM BERDARAH
DENGUE DI KABUPATEN GOWA TAHUN 2011
The Influence of Environment, Attitude, and Knowledge Toward the Number of Dengue Haemoragic Fever in Gowa Regency 2011
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran
KHAIRUNNISA 10542 0028 08
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2012
SKRIPSI PENGARUH LINGKUNGAN, PERILAKU, DAN PENGTAHUAN MASYARAKAT TERHADAP ANGKA KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN GOWA TAHUN 2011
KHAIRUNNISA 10542 0028 08
SKRIPSI PENGARUH LINGKUNGAN, PERILAKU, DAN PENGTAHUAN MASYARAKAT TERHADAP ANGKA KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN GOWA TAHUN 2011
KHAIRUNNISA 10542 0028 08
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
TELAH DISETUJUI UNTUK DICETAK DAN DIPERBANYAK
Judul Skripsi :
“PENGARUH LINGKUNGAN, PERILAKU, DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP ANGKA KEJADIAN DEMAM BERDARAH
DENGUE DI KABUPATEN GOWA TAHUN 2011”
MAKASSAR, MARET 2012
Pembimbing,
LEMBAR PERSETUJUAN
Proposal Penelitian dengan Judul :
“PENGARUH LINGKUNGAN DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP ANGKA KEJADIAN
DEMAM BERDARAH DENGUE ”
Oleh Nama : KHAIRUNNISA Stambuk : 10542 0028 08
Telah disetujui untuk dibacakan pada Seminar Proposal di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar Pada :
Hari / Tanggal : Sabtu, 19 November 2011 Waktu : ………….. Wita
Tempat : Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar
Makassar , 19 November 2011 Mengetahui, Pembimbing
LEMBAR PERSETUJUAN
Proposal Penelitian dengan Judul :
“………..”
Oleh Nama : ……….
Stambuk : ……….
Telah dibacakan pada Seminar Proposal di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar Pada :
Hari / Tanggal : Jum’at , 18 November 2011
Waktu : ………….. Wita
Tempat : Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar
Makassar , 18 November 2011
Mengetahui,
Pembimbing
dr. Suryani
PANITIA SIDANG UJIAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Skripsi dengan judul “PENGARUH LINGKUNGAN, PERILAKU, DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP ANGKA KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN GOWA TAHUN 2011”. telah diperiksa, disetujui, serta di pertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar pada :
Hari/Tanggal : Kamis, 01 Maret 2012 Waktu : 11.30 – 12.00 WITA
Tempat : Ruang Rapat FK Unismuh Gedung F Lantai 3
Ketua Tim Penguji :
(dr. Irwin Aras, M.Epid)
Anggota Tim Penguji :
Anggota I Anggota II
RIWAYAT HIDUP
Nama : Khairunnisa
Tempat/tanggal lahir : Limbung, 19 Agustus 1989 No Stambuk : 10542 0028 08
Agama : Islam
Alamat : Jl.Teduh Bersinar,
Griya Kisel Damai, Blok C.3, Makassar
Tlp/Hp : 085299428954 Riwayat Pendidikan : - SDN Bontomaero I (1996 - 2001) - Mts. PP Sultan Hasanuddin (2001 - 2004) - SMAN I Bajeng (2004 - 2007) - Unismuh Makassar (2008 – 2012) Judul Skripsi :
Pengaruh Lingkungan, Perilaku, dan Pengetahuan Masyarakat Terhadap Angka Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kab.Gowa tahun 2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas ssegala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini,, Tulisan ini digoreskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang akhirnya menjadi paragraph-paragraf dan akhirnya rampung menjadi sebuah karya tulis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) di Program studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar. Salam dan Shalawat senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang pembelajar sejati, …
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-sebarnya kepada kedua Orang Tua ku (ayahanda Irwan Akib, dan Ibunda tercinta Najmah Ma’ruf) yang selalu memberikan dorongan, do’a dan restu sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini. Adik-adikku: Muh. Husnul Khuluq, Muh. Ikramurrasyid, Husnul Khatimah, dan Alimul Hakim, yang selalu membantu, mendukung, mendo’akan penulis sehingga tulisan ini bisa selesai.
Dan tidak kalah pentingnya ucapan terimakasih kepada dr. Irwin Aras, M.Epid selaku Dosen Pembimbing dan Ketua Tim Penguji yang dengan tulus meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, pengarahan, koreksi, dan motivasi serta semangat sampai karya tulis ini dapat diselesaikan.
Selanjutnya penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. dr. Budu, Pd.D, Sp.M-KVR, Ketua Pertama PSPD Unismuh Makassar yang menyambut kedatangan kami di Unismuh dengan semangat dan memotivasi kami untuk terus belajar dan belajar.
2. dr. Machmud Gasnawi Sp PA (K) selaku Dekan Program studi Pendidikan dokter Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. dr. A.Alfian Zainuddin, M.KM dan dr. Hasan Nyambe, selaku anggota Tim Penguji I dan II yang telah memberikan petunjuk-petunjuk dan nasihat-nasihat dalam penyempurnaan karya tulis ini
4. Dosen-dosen PSPD Unismuh Makassar, terimakasih telah meluangkan waktunya buat kami, dan maafkan kami atas tingkah dan sikap kami yang kadang keras kepala..
5. Pemerintah Kecamatan Bajeng, khususnya bapak kepala Desa Panciro yang telah memberika izin penulis untuk meneliti di wilayah kerjanya. 6. Dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang tidak
sempat ditulis namanya yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini.
Penulis menyadari penelitian ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu dengan berbesar hati penulis akan senang menerima kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan karya tulis ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca secara umum dan penulis secara khususnya.
SKRIPSI FACULTY OF MEDICINE MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF MAKASSAR March, 2012 KHAIRUNNISA (10542002808)
IRWIN ARAS
“THE INFLUENCE OF ENVIRONMENT, ATTITUDE, AND
KNOWLEDGE TOWARD THE NUMBER OF DENGUE
HAEMORRAGIC FEVER IN GOWA REGENCY 2011” (xiii + 61 pages, 6 attachmaents)
Background: Dengue haemorragic fever is a disease caused by dengue virus and
spread by Aedes aegepty. In Gowa regency, the number of DBD in 2007 is noted as an outstanding event.
Objective: This research aims at recognizing the influence of the environment
and the people attitude toward the number of DBD in Gowa.
Methods: This research is a cross sectional research, with 95 people as samples
obtained by probability technique sampling. The data was obtained by completing the questionnaire. Afterward, the data obtained are analyzed univariat analysis and bivariat analysis using SPSS.
Result: The data obtained are: the existence of fresh water container, second
handed container, waste water drainage canal, and dustbins are not significantly influencing the number of DBD, with p score in order: p = 0.720 (p > 0.05), p = 0.185 (p > 0.05), p = 0.632 (p > 0.05), p = 0.483 (p > 0.05). Applying 3M, using abate, the habit of using mosquito essence, and fogging are not significantly influencing the DBD with the following p score: p = 0.526 (p > 0.05), p = 0.849 (p > 0.05), p = 0.599 (p > 0.05).
Conclusion: Generally, in this research environment, attitude, and knowledge not
significantly influencing the number of DBD
Keyword: Environment, Attitude, Knowledge, DBD Bibliography: 23 (1995 – 2010)
SKRIPSI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Maret, 2012 KHAIRUNNISA (10542002808)
IRWIN ARAS
“PENGARUH LINGKUNGAN, PERILAKU, DAN PENGETAHUAN TERHADAP ANGKA KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN GOWA TAHUN 2011”
(xiii + 61 halaman, 6 Lampiran)
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty. Di Kabupaten Gowa, penyakit demam berdarah degue pada tahun 2007 tercatat sebagai kejadian luar biasa.
Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lingkungan dan perilaku
masyarakat terhadap angka kejadian demam berdarah dengue di Kab. Gowa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan jumlah
sampel 95 orang yang diperoleh dari teknik probability sampling. data diperoleh dari pengisian kuisioner, kemudian data yang diperoleh diolah dan dianalisa dengan program SPSS dan anilisis univariat dan bivariat.
Hasil: Keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air
limbah dan tempat sampah secara statistik tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD. Dengan masing-masing nilai p sebagai berikut: p = 0,720 (p > 0,05), p = 0,185 (p > 0,05), p = 0,632 (p > 0,05), p = 0,483 (p > 0,05). kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan pelaksaanaan fogging juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD. Dengan masing-masing nilai p sebagai berikut: p = 0,526( p > 0,05), p = 0,849 (p > 0,05), p = 0,599 (p > 0,05).
Kesimpulan: Secara umum pada studi ini, faktor lingkungan, perilaku, dan pengetahuan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap angka kejadian Demam Berdarah Dengue. Kata Kunci: Lingkungan, Perilaku, Pengtahuan, DBD
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.4. Manfaat penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1. Demam Berdarah Dengue ... 6
2.1.1 Definisi Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 6
2.1.2 Etiologi Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 6
2.1.3 Vektor Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 7
2.1.4 Patogenesis Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 8
2.1.5 Tanda dan Gejala Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 9
2.1.6 Cara Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 12
2.1.7 Tatalaksana Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 12
2.1.8 Cara-cara Pencegahan dan Penanggulangan ... 13
2.1.9 Faktor Penularan Penyakit DBD ... 16
2.1.10 Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian DBD ... 18
v
2.2.1 Lingkungan ... 19
2.2.2 Perilaku ... 21
BAB III. KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 22 3.1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian ... 22
3.2 Kerangka Konsep ... 23
3.3. Variabel Penelitian ... 24
3.4 Definisi Operasional... 24
3.5 Hipotesis ... 28
BAB IV METODE PENELITIAN ... 30
4.1. Desain Penelitian ... 30
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 30
4.3 Populasi dan Sampel ... 31
4.3.1 Populasi ... 31
4.3.2 Sampel ... 31
4.3.3 Besar Sampel dan Rumus Sampel ... 31
4.3.4 Teknik Sampling ... 32
4.4 Kriteria Seleksi ... 32
4.4.1 Kriteria inklusi ... 32
4.4.2 Kriteria Eksklusi ... 33
4.5 Jenis Data dan Intrumen Penelitian ... 33
4.5.1 Jenis Data ... 33
4.5.2 Instrumen Penelitian ... 33
4.6 Manajemen Data ... 33
4.7 Analisis data ... 34
4.8 Etika Penelitian ... 35
BAB V HASIL PENELITIAN ... 36
5.1 Responden Penelitian ... 36
5.2 Analisis Univariat ... 36
vi
BAB VI PEMBAHASAN ... 42
6.1 Analisis Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD ... 42
6.1.1 Kontainer Air Bersih ... 42
6.1.2 Wadah Bekas ... 44
6.1.3 SPAL ... 45
6.1.4 Tempat Sampah ... 45
6.2 Analisis Hubungan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD ... 47
6.2.1 Kegiatan 3M ... 47
6.2.2 Penggunaan Abate ... 48
6.2.3 Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk ... 48
6.2.4 Pelaksanaan Fogging ... 49
6.3 Analisis Hubungan Faktor Pengetahuan dengan Kejadian DBD ... 50
6.4 Keterbatasan Penelitian ... 51
BAB VII KAJIAN AL-QURAN ... 52
7.1 Kisah Nyamuk dalam Al-Quran ... 52
7.2 Lingkungan dan perilaku ... 55
BAB VIII PENUTUP ... 58
8.1 Kesimpulan ... 58
8.2 Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 60 LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jumlah kasus DBD di Puskesmas Kabupaten Gowa tahun 2007 ... 4
Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden ... 37
Tabel 5.2 Distribusi riwayat kejadian DBD dalam keluarga ... 37
Tabel 5.3 Distribusi keadaan lingkungan responden ... 38
Tabel 5.4 Distribusi perilaku responden berkaitan dengan pencegahan DBD ... 39
Tabel 5.5 Distribusi pengetahuan pengetahuan responden tentang DBD ... 39
Tabel 5.6 Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD... 40
Tabel 5.7 Hubungan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD ... 40
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Konsep Status Kesehatan menurut H.L Blum ... 19 Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Variabel yang Diteliti ... 23
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Informed Consent Lampiran 2 Kuisioner Penelitian
Lampiran 3 Rekomendasi Penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Pemprov. Sul- Sel
Lampiran 4 Rekomendasi Penelitian dari Badan Kesatuan Bangsa, Politik & Linmas Pemkab. Gowa
Lampiran 5 Rekomendasi Penelitian dari Pemerintah Kecamatan Bajeng Lampiran 6 Riwayat Hidup
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa.
Di Indonesia Demam Berdarah Dengue pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta. Pada tahun 2009, terdapat 158.912 kasus dengan jumlah kematian 1.420 orang. Dengan demikian, IR DBD pada tahun 2009 adalah 68,22 per 100.000 penduduk dan CFR sebesar 0,89%. Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan IR sebesar 59,02 per 100.000 penduduk dan CFR sebesar 0,86%.1
Di Sulawesi Selatan, menurut laporan dari Subdin P2&PL tahun 2003, jumlah kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada 26 kab./kota sebanyak 2.636 penderita dengan kematian 39 orang (CFR= 1,48 %), disamping itu pula jumlah kejadian luar biasa (KLB) sebanyak 82 kejadian dengan jumlah kasus sebanyak 495 penderita dan kematian 19 orang (CFR=3,84%). Bila dibandingkan dengan kejadian KLB Demam Berdarah Dengue Tahun 2002 maka jumlah kejadian mengalami peningkatan sebesar 1,60 kali, jumlah penderita meningkat sebesar 4,21 kali dan jumlah kematian meningkat 1,97%. 2,3
Sedangkan untuk tahun 2004, telah dilaporkan kejadian penyakit Demam Berdarah sebanyak 2.598 penderita (termasuk data Sulawesi Barat) dengan
2
kematian 19 orang (CFR=0,7%). Dari kejadian tersebut telah dilakukan penanggulangan fokus berupa pengasapan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) termasuk abatisasi. Pola kejadian tersebut berlangsung antara Januari – April, Juni, Oktober dan Desember (memasuki musim penghujan). Jumlah kasus tertinggi terjadi di Kota Makassar, Kab. Gowa dan Barru.2,3
Untuk tahun 2005, tercatat jumlah penderita DBD sebanyak 2.975 dengan kematian 57 orang (CFR=1,92%). Sementara untuk tahun 2006, kasus DBD dapat ditekan dari 3.164 kasus tahun 2005 menjadi 2.426 kasus (22,6%) pada tahun 2006, demikian pula angka kematian (CFR) dari 1,92% turun menjadi 0,7% pada tahun 2006, dengan kelompok penduduk yang terbanyak terserang adalah pada kelompok usia anak sekolah (5-14 tahun) sebesar 55%, kemudian pada kelompok usia produktif (15-44 tahun) sebesar 25%, kelompok usia anak balita (1-4 tahun) sebesar 16% dan usia diiatas 45 tahun serta usia dibawah 1 tahun masing-masing sebesar 2%.2,3
Pada tahun 2007 kasus DBD kembali meningkat dengan jumlah kasus sebanyak 5.333 kasus dan jumlah kasus yang terbesar berada di kab.Bone (1030) kasus, menyusul Kota Makassar (452) kasus, Kab. Bulukumba (376) kasus, Kab.Pangkep (358) kasus.2,3
Kasus DBD di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 kategori tinggi pada Kab. Bone, Bulukumba, Pinrang, Makassar dan Gowa 217-668 kasus, sedangkan kabupaten/ kota yang tidak terdapat kasus DBD yaitu Kab. Luwu Utara, Tator, Enrekang,Maros, Jeneponto dan Selayar.2
3
Kegiatan penanggulangan yang dilakukan antara lain pengasapan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), abatisasi dan penyuluhan. Beberapa faktor penyebab DBD diantaranya karena peningkatan kasus di daerah endemis, beberapa daerah yang selama ini sporadis terjadi KLB, kemungkinan ada kaitannya dengan pola musiman 3-5 tahunan, kemudian bila dilihat dari hasil PJB, angka bebas jentik (ABJ) dibeberapa daerah endemis masih dibawah 95% (tahun 2004 ABJ sebesar 92,0%), untuk tahun 2006, ABJ tercatat sebesar 68,48%. Sedangkan untuk tahun 2007 ABJ tercatat 65,21% dan untuk tahun 2008 ini ABJ mengalami peningkatan sebanyak 68,90 %.2,3
Di Kabupaten Gowa, penyakit demam berdarah degue pada tahun 2007 tercatat sebagai kejadian luar biasa. Menurut laporan Sudin BP3PL Dinkes Kabupaten Gowa Tahun 2007, kejadian luar biasa (KLB) tercatat sebanyak 226 penderita dengan 12 jenis penyakit. Dari 12 jenis penyakit tersebut demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit dengan frekuensi KLB dan jumlah kasus yang tinggi. 50 orang dari penderita tersebut menderita DBD dan 2 orang meninggal akibat penyakit ini. KLB DBD ini terjadi di 11 Kecamatan dan 14 Desa, yang mengancam 51.826 orang penduduk, dengan AR 0,10% dan CFR 4,00%.4
Upaya pemberatasan DBD di Kabupaten Gowa di titik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3M), juru pemantauan jentik (jumantik) untuk memantau angka bebas jentik (ABJ), serta pengenalan gejala DBD dan penangannya di rumah tangga.4
4
Berdasarkan laporan subdin BP3PL menunjukkan bahwa pasa tahun 2007 jumlah kasus demam berdarah dengue yang ditemukan di puskesmas sebanyak 750 kasus. 4
Tabel 1.1 Jumlah kasus DBD di Puskesmas Kabupaten Gowa tahun 2007
No Kecamatan Puskesmas Kasus
1. Somba Opu Somba Opu Samata
21 kasus 12 kasus 2. Tompobulu Tompobulu 0 kasus 3. Bontonompo selatan Bontonompo I 0 kasus 4. Bontonompo Bontonompo II 48 kasus 5. Pallangga Pallannga
Kampili
187 kasus 11 kasus
6. Bajeng Bajeng 60 kasus
7. Bajeng barat Gentungan 103 kasus 8. Tinggimoncong Tinggimoncong 1 kasus 9. Parigi
10. Parangloe Parangloe 2 kasus 11. Manuju
12. Bontomarannu Bontomarannu 121 kasus 13. Pattallassang Pattallassang 42 kasus 14. Bungaya Sapaya 0 kasus 15. Bontolempangan Bontolempangan 0 kasus 16. Biringbulu Tonrorita
Lauwa
- 0 kasus 17. Tombolopao Tamaona 0 kasus 18. Barombong Moncobalang
Kanjilo
90 kasus 49 kasus
Jumlah 750 kasus
Sumber: Profi kesehatan Kab.Gowa tahun 2007 4
Berdasarkan kondisi diatas sehingga peneliti berinisiatif untuk melakukan penelitian tentang penyakit DBD yang pernah menjadi KLB di Kabupaten Gowa, utamanya tentang pengaruh lingkungan dan perilaku masyarakat dengan kejadian DBD dan belum adanya penelitian yang sama di lokasi ini, utamanya di Kec. Bajeng.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh lingkungan, perilaku, dan pengetahuan masyarakat terhadap angka kejadian Demam Berdarah Dengue di Kec. Bajeng Kab. Gowa tahun 2011?
5 1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Diketauhinya pengaruh lingkungan, perilaku, dan pengetahuan masyarakat terhadap angka kejadian demam berdarah dengue di Kec. Bajeng Ka-b. Gowatahun 2011?
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap angka kejadian demam berdarah dengue di daerah tersebut diatas
b. Untuk mengetahui pengaruh perilaku terhadap angka kejadian demam berdarah dengue di daerah tersebut diatas
c. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap angka kejadian demam berdarah dengue di daerah tersebut diatas
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi:
a. Puskesmas atau sarana kesehatan terkait dalam wilayah kecamatan bajeng khususnya kab. Gowa pada umummnya untuk merumuskan suatu langkah strategis yang dapat dilakukan dalam menurunkan angka kejadian DBD dan angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit ini.
b. Masyarakat, sebagai informasi untuk lebih menggalakkan kegiatan yang dapat menurunkan angka kejadian DBD
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Demam Berdarah Dengue
2.1.1 Definisi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai leucopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diastesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.5
2.1.2 Etiologi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue termasuk dalam genus flavivirus, keluarga flaviviridiae yang menular kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti. Flaviviridae merupakan virus dengan diamneter 30 nm yang terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106. Virus dengue terdiri dari 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang keempat serotype ini dapat menyebabkan terjadinya penyakit DBD. DEN-3 merupakan serotype terbanyak yang ditemukan di Indonesia.5
Bila terjadi infeksi dari salah satu serotype diatas maka akan menimbulkan imunitas sepanjang hidup terhadap infeksi ulang dari serotype yang sama, tetapi hanya menjadi perlindungan sementara dan parsial terhadap serotype yang lain.6
7 2.1.3 Vektor Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegipty. Aedes aegypti merupakan vektor utama, namun Aedes albopictus, Aedes polynesiensis juga di anggap sebagai vektor sekunder.7
Aedes aegypti adalah spesies nyamuk tropis dan subtropis yang biasanya ditemukan di atas ketinggian 1000 m, namun di India telah dilaporkan nyamuk ini ditemukan di atas ketinggian 2121 m dan 2200 m di Kolombia, dengan suhu tahunan rata-rata 170C, dan pada ketinggian 2400 m di Eritrea. Aedes aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus (virus yang ditularkan melalui gigitan artropoda), karena nyamuk ini sangat antropilik dan hidup dekat manusia dan sering hidup di dalam rumah.6
Nyamuk Aedes aegypti telah lama diketahui sebagai vektor utama dalam penyebaran penyakit DBD, adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut: a). Badan kecil berwarna hitam dengan bintik-bintik putih. b). Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter. c). Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan. d). menghisap darah pada pagi hari sekitar pukul 08.00-12.00 dan sore hari pukul 15.00-17.00. e). Nyamuk betina menghisap darah unuk pematangan sel telur, sedangkan nyamuk jantan memakan sari-sari tumbuhan. f).Hidup di genangan air bersih bukan di got atau comberan. g). Di dalam rumah dapat hidup di bak mandi, tempayan, vas bunga, dan tempat air minum burung. h). Di luar rumah dapat hidup di tampungan air yang ada di dalam drum, dan ban bekas.8
8 2.1.4 Patogenesis Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Patogenesis penyakit DBD sampai saat ini masih diperdebatkan. Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti kuat bahwa mekanisme immunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue (DBD).4 Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Organ yang menjadi sasaran virus ini adalah hepar, nodus limfaticus, sumsum tulang serta paru-paru. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sel-sel monosit dan makrofag mempunyai peranan yang besar pada infeksi virus dengue. Dalam peredaran darah, virus tersebut aka difagosit oleh sel monosit perifer.8
Virus DEN mampu bertahan hidup dan mengadakan multiflikasi di dalam sel. Infeksi virus dengue dimulai saat virus tersebut menempelkan genomnya masuk ke dalam sel dengan bantuan organel-organel sel, maupun komponen struktural virus. Setelah komponen struktural terbentuk maka virus akan dilepaskan di dalam sel dan berkembang biak di sitoplasma sel.8
Setelah terjadi infeksi virus dengue dari salah satu serotipenya berdasarkan teori antigen antibodi maka akan terbentuk “virus-antibodi kompleks” (komples imun yang akan mengaktivasi komplemen dan menghasilkan mediator-mediator yang mempunyai efek farmakologis cepat dan pendek serta bersifat vasoaktif dan prokoagulant sehingga menimbulkan kebocoran plasma dan perdarahan.8
Secara tidak langsung seorang yang telah terinfeksi virus dengue untuk kedua kalinya dengan serotipe yang heterolog mempunyai resiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan
9
mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leukosit terutama makrofag. Sedangkan berdasakan hipotesis antibody dependent enhancment, suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue dalam sel mononuklear. Dari infeksi ini terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemungkinan menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga menyebabkan keadaan yang hipovolemia dan syok. 8
Pada proses kejadian penyakit DBD terjadi peningkatan permeabilitas vaskuler yang meningkatkan kehilangan plasma dari kompartemen vaskuler, sehingga dengan keadaan ini akan mengakibatkan hemokonsentrasi, tekanan, tekanan nadi rendah. Perubahan lain yang terjadi pada penyakit DBD adalah gangguan pada hemostasis yang terdiri dari perubahan vaskuler, trombositopenia, dan koagulopati.8
2.1.5 Tanda dan Gejala Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Tanda dan gejala penderita DBD tergantung pada umur penderita. Pada bayi dan anak biasanya hanya didapatkan demam dengan ruam makulopapur, sedangkan pada anak dan orang dewasa kemungkinan hanya didapatkan demam ringan, atau dengan gambarana klinis yang lebih lengkap antara lain: panas tinggi yang timbul mendadak, sakit kepala hebat, sakit bagian belakang kepala, nyeri otot dan sendi, dan ruam. Sering pula di temukan perdarahan kulit yang merupakan tanda terjadinya leukopeni ataupun trombositiopeni. Jika wabah DBD terjadi tidak jarang disertai dengan perdarahan yang hebat.
10
Menurut WHO 1997, kriteria untuk mendiagnosis DBD terdiri dari kriteria klinis dan kriteria laboratoris.
Kriteria klinis
a. Demam atau demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, antara 2-7 hari
b. Terdapat manifestarasi perdarahan:
1). Uji bendung atau uji tourniquet positif. 2).Peteki, ekimosis, atau purpura 3). Perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi), atau perdarahan dari tempat lain. 4). Hematemesis dan atau melena
c. Pembesaran hati
d. Syok, yang ditandai dengan nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan pasien tampak gelisah
Kriteria Laboratoris
a. Trombositopenia (jumlah trombosit ≤ 100.000/µl) b. Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat ≥ 20%) 2,1
Diagnosis klinis DBD dapat ditegakkan dengan adanya dua kriteria kilinis ditambah dengan kriteria laboratorium (trombositopenia dan hemokoksentrasi).
Adapun gejala utama dari DBD adalah demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi.
a. Demam
DBD didahului dengan demam yang mendadak tinggi, terus-menerus dan dapat berlangsung 2 – 7 hari, demam naik turun namun tidak lekas normal dengan
11
pemberian obat antipiretik. Bahkan suhu badan pederita DBD dapat mencapai 39 – 400
C dan dapat terjadi kejang demam. Pada fase demam mulai turun dan pasien seakan sembuh, seorang penderita DBD harus dipantau dengan seksama karena pada fase ini dapat merupakan tanda awal syok.
b. Perdarahan
Perdarahan pada pasien DBD dapat terjadi karena terjadi proses koagulopati, trobositopeni, gangguan fungsi trombosit, dan koagulopati intravaskuler yang menyeluruh. Perdarahan dapat berupa perdarahan kulit seperti uji bendung positif, peteki, purpura, ekimosis, dan perdarahan konjungtiva. Peteki merupakan tandak perdarahan yang tersering nampak pada penderiata DBD, yang dapat muncul pada hari-hari pertama demam.
Perdarahan lain yang dapat terjadi adalah keluarnya darah dari hidung (epistaksis), perdarahan saluran cerna (hematokesia).
c. Hepatomegali
Umumnya hepatomegali dapat ditemukan pada permulaan penyakit, bervairiasi hanya sekedar dapat diraba sampai 2 – 4 cm di bawah sela iga kanan. Proses terjadinya pembesaran hati mulai dari yang tidak dapat teraba sampai pembesaran dapat teraba dapat menunjukkan perjalanan penyakit DBD.
d. Syok
Semua tanda dan gejala klinis menghilang setelah demam turun daoat terjadi pada kasus yang ringan hingga sedang, namun pada kasus yang berat turunnya demam disertai dengan keluarnya keringat, perubahan denyut nasi dan tekanan darah, akral dingin, serta kongesti kulit menandakan adanya gangguan
12
sirkulasi sebagai akibat dari perembesan plasma baik yang bersifat ringan atau sementara. 9
2.1.6 Cara Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Dalam darah seorang penderita penyakit DBD mengandung virus dengue, apabila penderita tersebut tergigit oleh nyamuk Aedes aegipty maka virus dalam tubuh penderita tadi ikut masuk terhisap ke lambung nyamuk dan virus akan memperbanyak diri dalam tubuh nyamuk dan tersebar ke berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk pada kelenjar liur nyamuk. Nyamuk telah siap untuk menularkan kepada manusia 3 – 10 hari setelah menggigit atau mengisap darah penderita.
Penularan penyakit DBD terjadi karena jika nyamuk menggigit (menusuk) kulit manusia, maka proboscis atau alat tusuk nyamuk mencari kapiler darah. Setelah menemukan kapiler darah manusia, maka nyamuk mengeluarkan liurnya yang mengandung zat anti koagulan, agar darah dengan mudah dihisap oleh proboscis yang kecil dan sempit. Dengan liurnya maka virus dari nyamuk dipindahkan dari orang ke orang.
2.1.7 Tatalaksana Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Untuk tatalaksana penyakit DBD tidak ada terapi yang spesifik untuk demam berdarah dengue, prinsip utama adalah dengan pemberian terapi suportif dan didasarkan ada tidaknya perubahan fisiologis yang terjadi yakni perembesan plasma dan perdarahan. Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga <1%. Yang paling penting adalah dengan mempetahankan volume cairan sirkulasi dalam batas normal. Asupan cairan
13
harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral tidak mampu dipertahankan maka dibutuhkan supleman cairan melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan ganguan hemokonsentrasi yang bermakna. 5
Prinsip-prinsip pengobatan yang dapat diterapkan antara lain: pasien dengan demam tinggi harus diatasi dengan kompres dan pengggunaan antipiretik yang tepat; terapi dehidrasi oral harus diberikan pada awal tahap demam; pasien harus segera dirujuk bila ada bukti perdarahan; rujukan segera ke rumah sakit atau pusat kesehatan yang ada perlu untuk pemberian cairan intravena bila suhu badan turun, ektretremitas menjadi dingin atau pasien menjadi gelisah. Bila rujukan tidak memungkinkan, rehidrasi oral harus dilanjutkan sampai pasien mengalami keluaran urin normal dan kulit menjadi hangat. 6
2.1.8 Cara-cara Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD
Sampai saat ini vaksin untuk penyakit DBD belum ditemukan, sehingga untuk mencegah terjadinya penyakit ini satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan memutuskan rantai penularan DBD yakni dengan pengendalian dan pemberantasan vektor penyakit. Pemberantasan nyamuk dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida, namun jika jentik nyamuk masih hidup, maka akan timbul lagi nyamuk yang baru dan selanjutnya kembali menularkan penyakit ini.9
Atas dasar itu maka dalam pemberantasan penyakit DBD yang paling penting adalah upaya untuk membasmi jentik nyamuk Aedes aegity sebagai vektor penyakit dengan melakukan 3M, yaitu 1) Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalam bak atau tempat penampungan air, 2) Menutup tempat
14
penampungan air denganb rapat, 3) Mengubur/menyingkirkan barng-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti; kaleng-kaleng bekas, plastic, dll.
Strategi program DBD, meliputi; 1) kewaspadaan dini terhadap penyakit DBD untuk mencegah dan membatasi terjadinya wabah atau kejadian luar biasa dengan kegiatan baksi gerakan 3M (penyuluhan intensif, kerja bakti, kunjungan rumah pemantauan jentik), (2). Pemberantasan vektor : a) penyemprotan (fogging) focus pada lokasi ditemui kasus. b) Penyuluhan gerakan masyarakat pada PNS DBD melalui penyuluhan dengan memanfaatkan berbagai jalur komunikasi dan informasi yang ada, melalui kerjasama lintas program dan sector serta dikoordinasikan oleh Kepala Daerah / Wilayah, c) Abatisasi selektif (sweeping jentik) diseluruh wilayah / kota, d) Kerja bakti melakukan kegiatan 3M.
Pencegahan DBD sangat ditentukan dengan pencegahan nyamuk aedes aegypty berkembang biak di dalam dan di sekitar rumah. Setiap penghuni rumah dapat melakukan pencegahan DBD dengan cara yang sangat sederhana. Pencegahan dilakukan, antara lain:
a. Menghindari gigitan nyamuk di sepanjang siang hari (pagi sampai sore) karena nyamuk aedes aegypty aktif di siang hari (bukan di malam hari). Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan menghindari berada di lokasi-lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD.
b. Apabila memang sangat perlu berada di tempat tersebut, kenakan pakaian yang lebih tertutup, celana panjang dan kemeja lengan panjang.
15
c. Gunakan cairan/krim anti nyamuk (mosquito replant) pada bagian badan yang tidak tertutup.
d. Awasi lingkungan di dalam dan di halaman rumah, buang dan timbun benda-benda yang tidak berguna yang dapat menampung air atau simpan sedemikian rupa sehingga tidak menampung air.
e. Tabur serbuk abate (dapat dibeli di apotik) pada bak mandi dan tempat penampungan air lainnya, pada parit/selokan di dalam dan di sekitar rumah terutama apabila selokan itu airnya tidak/kurang mengalir.
f. Kolam atau aquarium jangan dibiarkan kosong tanpa ikan, isilah dengan ikan pemakan jentik nyamuk.
g. Semprot sudut-sudut rumah dan halaman yang merupakantempat berkeliaran nyamuk denagn obat semprot nyamuk apbila tampak nyamuk berkeliaran dipagi/siang hari.
h. Apabila ada salah seorang penghuni rumah yang positif atau diduga menderita DBD, segra semprot seluruh bagian rumah dan halaman dengan obat semprot nyamuk di pagi, siang dan sore hari sekalian penderita tersebut susah dirawatdi rumah sakit.
i. Hubungi Puskesmas setempat untuk segera dilakukan fogging (pengasapan) di rumah-rumah di lingkungan setempat. 7
16 2.1.9 Faktor Penularan Penyakit DBD
Ada dua faktor yang menyebabkan penyebaran penularan penyakit DBD adalah :
1. Faktor Internal
Faktor internal meliputi ketahanan tubuh atau stamina seseorang. Jika kondisi badan tetap bugar kemungkinannya kecil untuk terkena penyakit DBD. Hal tersebut dikarenakan tubuh memiliki daya tahan cukup kuat dari infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri, parasit, atau virus seperti penyakit DBD. Oleh karena itu sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh pada musim hujan dan pancaroba. Pada musim itu terjadi perubahan cuaca yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan virus dengue penyebab DBD. Hal ini menjadi kesempatan jentik nyamuk berkembangbiak menjadi lebih banyak.10
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar tubuh manusia. Faktor ini tidak mudah dikontrol karena berhubungan dengan pengetahuan, lingkungan dan perilaku manusia baik di tempat tinggal, lingkungan sekolah, atau tempat bekerja.10
Semakin mudah nyamuk Aedes menularkan virusnya dari satu orang ke orang lainnya karena pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat meningkatkan kesempatan penyakit DBD menyebar, urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali, tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis, peningkatan sarana transportasi.10
17
Menurut penelitian Fathi, et al (2005) ada peranan factor lingkungan dan perilaku terhadap penularan DBD, antara lain:
1. Keberadaan jentik pada kontainer
Keberadaan jentik pada container dapat dilihat dari letak, macam, bahan, warna, bentuk volume dan penutup kontainer serta asal air yang tersimpan dalam kontainer sangat mempengaruhi nyamuk Aedes betina untuk menentukan pilihan tempat bertelurnya. Keberadaan container sangat berperan dalam kepadatan vektor nyamuk Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya KLB. Dengan demikian program pemerintah berupa penyuluhan kesehatan masyarakat dalam penanggulangan penyakit DBD antara lain dengan cara menguras, menutup, dan mengubur (3M) sangat tepat dan perlu dukungan luas dari masyarakat dalam pelaksanaannya.11
2. Kepadatan vektor
Kepadatan vektor nyamuk Aedes yang diukur dengan menggunakan parameter ABJ yang di peroleh dari dinas kesehatan kota. Hal ini nampak peran kepadatan vektor nyamuk Aedes terhadap daerah yang terjadi kasus KLB. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang menyatakan bahwa semakin tinggi angka kepadatan vektor akan meningkatkan risiko penularan.10
18
3. Tingkat pengetahuan DBD
Pengetahuan merupakan hasil proses keinginan untuk mengerti, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terutama indera pendengaran dan pengelihatan terhadap obyek tertentu yang menarik perhatian terhadap suatu objek.11
2.1.10 Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian DBD
Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), antara lain (1) Faktor host yaitu kerentanan (suscepebilty) dan respon immune, (2) Faktor lingkungan (environment) yaitu kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim), (3) Kondisi demografi (kepadatan , mobilitas, perilaku, adat istiadat, social ekonomi penduduk), (4) Jenis nyamuk sebagai vector juga ikut berpengaruh, (5) Faktor agent yaitu sifat virus dengue yang hingga saat ini telah diketahuai yaiti Dengue 1,2,3,dan 4.7
Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Makassar tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD, peneliti menyimpulkan bahwa kejadian DBD dipengaruhi oleh (1) Faktor keadaan lingkungan yang meliputi kondisi fasilitas TPA, kemudahan memperoleh air bersih, pengetahuan masyarakat, kualitas pemukiman dan pendapat keluarga. (2) Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian DBD adalah adanya kondisi fasilitas TPA yang baik yang disebabkan karena pengurasannya yang lebih dari satu minggu sekali, tidak ditutup rapat dan terdapatnya jentik pada fasilitas.12
19 2.2 Lingkungan dan Perilaku
Keempat factor pada gambar 1-2 saling berpengarh positif dan sangat berpengaruh terhadap status kesehatan seseorang. Status kesehatan akan tercapai optimal apabila keempat factor tersebut positif mempengaruhi secara optimal. Apabila salah satu factor tidak optimal, status kesehatan akan bergeser kea rah di bawah optimal.13
2.2.1 Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia termasuk benda mati, benda hidup, nyata, atau abstrak seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen tersebut, sehingga lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap derahat kesehatan.14
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpangaruh terhadap terjadinya suatu penyakit. Maka dari itu kesehatan lingkungan perlu untuk mendukung usaha manusia untuk hidup sehat.
PELAYANAN KESEHATAN KETURUNAN PERILAKU LINGKUNGAN - FISIK - BIOLOGIS - SOSIAL STATUS KESEHATAN
20
Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap status kesehatan, pada gambar 2-1 dengan panah yang lebih besar disbanding factor lainnya. Factor lingkunagn terdiri dari 3 bagian besar ;
a. Lingkungan fisik, terdiri dari benda mati yang dapat dilihat, diraba, dirasakan, antara lain bangunan, jalan, jembatan, kendaraan ,gunung, air, tanah. Benda mati yang dapat dilhat dan dirasakan, tetapi tidak dapat diraba (api, asap, kabut dll). Benda mati yang tidak dapat di raba, tidak dapat dilihat, namun dapat dirasakan (udara, angin, gas, bau-bauan, bnyi-bunyian/ suara dll).
b. Lingkungan biologis, terdiri dari makluk hidup yang bergerak,, baik yang dapat dilihat maupun tidak (manusia, hewan, kehidupan akuatik, amoba,, virus plangton). Makhluk hidup tidak bergerak (tumbuhan, karang laut, bakteri, dll)
c. Lingkungan social, lingkungan social adalah bentuk lain selain fisik dan biologis diatas. Lingkungan social tidak brbentuk nyata, namun ada dalam kehidupan di bumi ini. Lingkungan social terdiri dari sosio-ekonomi, sosio-budaya, adat-istiadat, agama/ kepercayaan, organisasi kemasyarakatan, dll. Melalui lingkungan social manusia melakukan interaksi dalam bentuk pengelolaan hubungan denagn alam dan buatannya melalui pengembangan prangkat nilai, ideology, social, dan budaya, senigga dapat menentukan arah pengembangan lingkungan yang selaras dan sesuai daya dukung lingkungan yang sering disebut dengan etika lingkungan.13
21 2.2.2 Perilaku
Factor perilaku berhubungan dengan perilaku individu atau masyarakat, perilaku petugas kesehatan, dan perilaku para pejabat pengelola pemerintahan (pusat dan daerah) serta prilaku pelaksana bisnis. Perilaku individu atau masyarakat yang positif pada kehidupan sehari-hari misalnya membuang sampah/kotoran ecara baik, minum air masak, saluran limbah terpelihara, dan mandi setiap hari secara higienes. Perilaku petugas kesehatan dalam memberi pelayanan yang baik antara lain ramah, cepat tanggap, disiplin tinggi, terpi yang tepat sesuai diagnosis, tidak malpraktik, pemberian obat yang rasional, dan bekerja dengan penuh pengabdian. Perilaku pemerintah pusat dan daerah dalam menyikapi suatu permasalahan kesehatan masyarakat secara tanggap dan penuh kearifan. Misalnya cepat tanggap terhadap adanya penduduk yang giinya buruk, adanya wabah penyakit, serta menyediakan sarana dan prasarana kesehatan dan fasilitas umum (jalan, parit, TPA, penyedian air bersih, jalur hijau, pemukiman sehat) yang didukung dengan peraturan perundan-undngan yang berhubungan dengan kesehatan dan lingkungan hidup dan menerapkan sanksi hukum yang tegas bagi pelanggarnya.13
22 BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL
3.1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
Berdasarkan tinjauan kepustakaan serta maksud dan tujuan penelitian maka disusunlah variable pola pikir. Menurut kepustakaan, terdapat banyak faktor yang berpengaruh terhadap angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD), namun dalam penelitian ini kami hanya mengambil beberapa faktor yang kami bagi dalam dua kategori besar yaitu faktor lingkungan dan faktor perilaku. Adapun faktor lingkungan meliputi : Keberadaan Kontainer air bersih /Tempat Penampungan Air Bersih, keberadaan wadah bekas yang dapat menampung air, kualitas Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), keberadaan tempat terbuka. Faktor perilaku meliputi : kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur), kebiasaan penggunaan Abatesasi, pelaksanan fogging, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan bagaimana tingkat pengetahuan terhadap DBD. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya, serta faktor-faktor tersebut dianggap dapat mewakili faktor-faktor yang lain yang dapat mempengaruhi angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD).
23 3.2 Kerangka Konsep
Variable Independen Variabel Dependen
Gambar 3.1 Kerangka konseptual variable yang diteliti
Kebiasaan Penggunaan Abatesasi Keberadaan Wadah Bekas (Yang
Dapat Menampung Air )
Tempat Sampah
Kualitas Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Keberadaan Kontainer Air Bersih/ Tempat Penampungan Air Bersih
Kejadian DBD
Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk
Tingkat Pengetahuan Terhadap DBD Pelaksanaan fogging
Melakukan 3M ( Menguras, Menutup, Mengubur)
Faktor Prilaku Faktor Lingkungan
24 3.3. Variabel Penelitian
Dalam penelitian terdiri dari dua variable yaitu: 1. Variable Independen yaitu :
Keberadaan Kontainer air bersih/Tempat Penampungan Air Bersih, keberadaan wadah bekas yang dapat menampung air, kualitas Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), keberadaan tempat sampah, kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur), kebiasaan penggunaan Abatesasi, pelaksanan fogging, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan bagaimana tingkat pengetahuan terhadap DBD.
2. Variabel Dependen yaitu :
kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD)
3.4. Definisi Operasional
1. Keberadaan Kontainer air/Tempat Penampungan Air Bersih
Definisi : Kontainer air/Tempat Penampungan Air Bersih adalah tempat penampungan air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari (drum, bak mandi, gentong, ember).
Alat ukur : Kuesioner dan Lembar Observasi
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner dan dilanjutkan dengan observasi pada subjek
Hasil Ukur : 1. Ada 2. Tidak ada
25
2. Keberadaan wadah bekas (yang dapat menampung air).
Definisi : Wadah bekas yang dapat menampung air adalah tempat yang dapat menampung air sehingga tergenang, air yang bukan digunakan untuk keperluan sehari-hari (vas bunga, ban bekas, botol bekas, tempat minum burung).
Alat Ukur : Lembar Observasi
Cara ukur : Dinilai berdasarkan hasil observasi pada subjek. Hasil Ukur : 1. Ada
2. Tidak ada
3. Kualitas Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Definisi : Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah parit atau selokan yang berada di dalam dan disekitar rumah.
Alat Ukur : Lembar Observasi
Cara Ukur : Melakukan observasi pada lokasi yang menjadi subjek. Hasil ukur : 1. Baik
2. Tidak baik 4. Keberadaan Tempat Sampah
Definisi : Tempat sampah adalah tempat untuk menampung bahan-bahan bekas/wadah bekas yang berada di dapur dan yang berada sekitar/di luar rumah.
Alat Ukur : Kuesioner dan Lembar Observasi
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner dan dilanjutkan dengan observasi pada subjek
26
Hasil Ukur : 1. Ada 2. Tidak ada
5. Gerakan 3 M ( Menguras, Menutup, Mengubur)
Definisi : 3M yaitu (1). Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sekurang-kuranngya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya, (2). Menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan, (3). Mengubur / menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti : kaleng-kaleng bekas, plastic dll.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban responden dalam kuesioner. Hasil Ukur : 1. Terlaksana (jika mencapai ≥ 50 %)
2. Tidak terlaksana (jika < 50 %) 6. Kebiasaan penggunaan Abatesasi
Definisi : Abatesasi adalah pemberian larvasida atau pengendalian lokal nyamuk aedes aegypti untuk memberantas jentik nyamuk.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner. Hasil ukur : 1. Baik (jika nilai rata-rata ≥ 50%)
27
7. Penyemprotan/pengasapan (fogging)
Definisi : Pengasapan droplet-droplet kecil insektisida kedalam udara untuk membunuh nyamuk dewasa, peneyemprotan dilakukan II siklus dengan interval I minggu.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner. Hasil Ukur : 1. Terlaksana (jika mencapai ≥ 50 %)
2. Tidak terlaksana (jika < 50 %) 8. Kebiasaan menggunakan obat nyamuk
Definisi : Upaya untuk menghindari diri dari gigitan nyamuk, berupa cairan/krim antinyamuk ( mosquito replant) atau antinyamuk bakar.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek Hasil ukur : 1. Ya
2. Tidak
9. Pengetahun responden tentang DBD
Definisi : Pemahaman responden tentang demam berdarah yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, cara penularan, pemberantasan,vektor penular dan kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).
Alat ukur : Kueisioner
28
Hasil ukur : 1. Baik (jika nilai rata-rata ≥ 50%) 2. Kurang (jika nilai rata-rata < 50%) 12. Kejadian DBD
Definisi : Keadaan dimana responden/ anggota keluarga responden pernah terkena penyakit DBD yang didiagnosis oleh dokter, maksimal 1 tahun terakhir
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner Hasil ukur : 1. Ada
29 3.5 . Hipotesis
1. Keberadaan Kontainer air bersih /Tempat Penampungan Air Bersih mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng kab. Gowa
2. Keberadaan wadah bekas yang dapat menampung air mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
3. Keberadaan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
4. Keberadaan tempat sampah mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
5. Kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur) mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
6. Kebiasaan penggunaan Abatesasi mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
7. Pelaksanan fogging mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
8. Kebiasaan menggunakan obat nyamuk mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
9. Tingkat pengetahuan terhadap DBD mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
30 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah penelitian analitik observasional dengan menggunakan data primer berupa kuesioner dan lembar observasi. Desain penelitian yang akan digunakan adalah studi cross sectional, yaitu studi dimana pengukuran terhadap variabel pengaruh dan terpengaruh dilakukan pada titik dan waktu yang sama. Penelitian analitik observasional ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai peran faktor lingkungan dan prilaku terhadap angka kejadian kasus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kec. Bajeng Kab. Gowa Sehingga dengan demikian dapat ditentukan langkah-langkah perbaikan dalam hal ini pencegahan dan pengendalain faktor-faktor tersebut.
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian a) Tempat penelitian
Penelitian akan dilakukan di daerah Kec. Bajeng Kab. Gowa b) Waktu penelitian
31 4.3. Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
a) Populasi target : Kepala rumah tangga/Ibu rumah tangga atau orang dewasa lain yang berdomisili di daerah Kec. Bajeng Kab. Gowa
b) Populasi terjangkau : Kepala rumah tangga/Ibu rumah tangga atau orang dewasa lain yang berdomisili di daerah Kec. Bajeng Kab. Gowa dan memenuhi kriteria inklusi.
4.3.2 Sampel
Sebagian dari populasi terjangkau yang memenuhi kriteria seleksi.
4.3.3 Besar sampel dan Rumus Sampel
Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus
deskriptif –kategorik,
𝑛 =Zα
2 x P x Q
𝑑2
Zα2 = deviat baku alfa
P = Proporsi kategori varibel yang di teliti Q = 1- P
d = Presisi Zα2 = 1,960 P = 0,45
32 Q = 1- 0.45 = 0,553 d = 10 % 𝑛 = 1,96 2 x 0,45 x 0,553 0,12 𝑛 =3,841 x 0,2471 0,01 𝑛 = 94,95 𝑛 = 95 orang 4.3.4 Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan yaitu probability sampling khususnya two stage Cluster sampling. Probability sampling prinsipnya bahwa setiap subjek dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih dan untuk tidak terpilih sebagai sampel. Sedangkan Cluster sampling adalah proses penarikan sampel secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secarah alamiyah, misalnya berdasar wilayah (kodya, kecematan, kelurahan, dll).13
4.4. Kriteria Seleksi 4.4.1 Kriteria Inklusi
1. Kepala/Ibu rumah tangga atau anggota keluarga lain yang sudah berumur 16 tahun keatas yang bertempat tinggal dan tercatat sebagai penduduk di wilayah Kecematan Bajeng.
2. Kepala/Ibu rumah tangga atau anggota keluarga lain yang berdomosili minimal satu tahun keatas.
33
3. Dapat berkomunikasi dengan baik 4. Bersedia menjadi responden
4.4.2 Kriteria Eklusi
Kuesioner yang tidak terisi lengkap.
4.5. Jenis Data dan Instrumen Penelitian 4.5.1 Jenis data
1. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh responden yang berada di tempat penelitian.
2. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kab. Gowa dan data dari puskesmas yang ada di wilayah Kec. Bajeng.
4.5.2 Instrumen penelitian
1. Kuesioner yang disusun kemudian diisi sendiri oleh responden (self-rated quisioner)
2. Lembar Observasi
4.6 Manajemen Data (editing, coding, tabulating, transfering)
Data yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS). Tahap-tahap pengelolahan data adalah sebagai berikut:
a. Editing
Editing bertujuan untuk meneliti kembali jawaban menjadi lengkap. Editing dilakukan di lapangan sehingga bila terjadi kekurangan atau ketidaksengajaan
34
kesalahan pengisian dapat segera dilengkapi atau disempurnakan. Editing dilakukan dengan cara memeriksa kelengkapan data, memperjelas serta melakukan pengolahan terhadap data yang dikumpulkan.
b. Coding
Coding yaitu memberikan kode angka pada atribut variabel agar lebih mudah dalam analisa data. Coding dilakukan dengan cara menyederhanakan data yang terkumpul dengan cara memberi kode atau simbol tertentu.
c. Tabulating
Pada tahapan ini data dihitung, melakukan tabulasi untuk masing-masing variabel. Dari data mentah dilakukan penyesuaian data yang merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis.
d. Transfering
Tranfering data yaitu memindahkan data dalam media tertentu pada master tabel. data yang telah diolah disajikan dalam bentuk tabel dan dijelaskan bentuk narasi (uraian)
4.7 Analisis data
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel, baik variabel bebas, variabel terikat dan karakteristik responden.
35
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara masing-masing variable bebas dengan variabel terikat. Dasar pengambilan hipotesis penelitian berdasarkan pada tingkat signifikan (nilai p), yaitu:
1) Jika nilai p ≥ 0,05 maka hipotesis penelitian ditolak. 2) Jika nilai p < 0,05 maka hipotesis penelitian diterima
4.8. Etika Penelitian
1. Sebelum melakukan penelitian, maka peneliti akan mengajukan surat permohonan izin kepada insitusi yang terkait.
2. Meminta persetujuan kepada subjek dengan terlebih dahulu memberikan penjelasan lisan sebelum meminta persetujuan tertulis.
36
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Responden Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap 95 responden yang terdiri dari Ayah (Kepala Rumah Tangga), Ibu Rumah Tangga, Anak, atau Orang dewasa lain dalam Rumah tangga tersebut yang bermukim di Desa Panciro, Kec. Bajeng, Kab.Gowa.
Observasi lingkungan dan perilaku keluarga dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner terstruktur mengenai riwayat kejadian DBD dalam keluarga, pengetahuan tentang DBD, kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, pelaksanaan fogging/penyemprotan dan keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, serta dengan melakukan pengamatan langsung terhadap saluran pembuangan air limbah, dan tempat sampah.
5.2. Analisis Univariat
Responden yang diteliti adalah Ayah (Kepala Rumah Tangga), Ibu Rumah Tangga, Anak, atau Orang dewasa lain ibu rumah tangga dengan umur mulai dari 17 hingga 70 tahun, frekuensi terbanyak berada diantara 31 - 50 tahun. Kebanyakan responden adalah sebagai ibu rumah tangga. Tingkat pendidikan yang paling banyak adalah SMA sebanyak 50 orang. Karakteristik reponden ditampilkan pada tabel berikut ini, (tabel 5.1):
37
Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Responden
No Karakteristik Frekuensi Persentase
1. Umur a. 17 – 30 tahun b. 31 – 50 tahun c. 50 – 70 tahun 36 42 17 37,9 % 44,2 % 17,9 % 2. Jenis Kelamin a. Perempuan b. Laki-laki 66 29 69,5 % 30,5 % 3. Status dalam keluarga
a. Ayah (kepala rumah tangga) b. Ibu rumah tangga
c. Anak
d. Orang dewasa lain
23 47 21 4 24,2 % 49,5 % 22,1 % 4,2 % 4. Pekerjaan a. P N S b. Wiraswasta c. Petani d. I R T e. Tidak Bekerja 11 27 2 37 18 11,6 % 28,4 % 2,1 % 38,9 % 18,9 % 5. Pendidikan a. S1 b. D3 c. SMA d. SMP e. SD 19 1 50 13 12 20 % 1,1 % 52,6 % 13,7 % 12,6 % Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan riwayat kejadian demam berdarah dengue (DBD) dalam kurun waktu setahun terakhir. Riwayat kejadian DBD pada responden diperoleh data bahwa 10 orang dari 95 responden menyatakan ada anggota keluarnya yang pernah menderita DBD, berikut tabel disitribusinya, (tabel 5.2):
Tabel 5.2 Distribusi riwayat kejadian DBD dalam keluarga
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Ada Tidak Ada 10 85 10,5 % 89,5 % Sumber: Data primer 2012
38
Distribusi responden berdasarkan keadaan lingkungannya (keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat sampah). Di rumah tiap responden sebagian besar terdapat kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah baik diluar maupun didalam rumahnya, dan hanya sebagian kecil rumah yang tidak terdapat tempah sampah. Berikut tabel distribusinya, (tabel 5.3)
Tabel 5.3 Distribusi keadaan lingkungan responden
No Karakteristik Frekuensi Persentase
1. Kontainer Air Bersih a. Ada b. Tidak ada 82 13 86,3 % 13,7 % 2. Wadah Bekas a. Ada b. Tidak ada 30 65 31,6 % 68,4 % 3. SPAL a. Baik b. Tidak baik 70 25 73,7 % 26,3 % 4. Tempat Sampah a. Ada b. Tidak ada 91 4 95,8 % 4,2 % Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan perilaku terhadap penyakit demam berdarah dengue, yang meliputi kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan pelaksanaan fogging. Diantara 95 responden lebih dari 50% responden pernah menggunakan abate dan mempunyai kebiasaan menggunakan obat nyamuk, namun pelaksanaan kegiatan 3M dan pelaksanaan fogging kurang dari 50%. Berikut tabel distribusinnya, (tabel 5.4)
39
Tabel 5.4 Distribusi perilaku responden berkaitan dengan pencegahan DBD
No Karakteristik Frekuensi Persentase
1. Kegiatan 3M a. Terlaksana b. Tidak terlaksana 47 48 49,5 % 50,5 % 2. Penggunaan Abate a. Ya b. Tidak 69 26 72,6 % 26,4 % 3. Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk
a. Ya b. Tidak ada 87 8 91,6 % 8,4 % 4. Pelaksanaan Fogging a. Ya b. Tidak 31 64 32,6 % 67,4 %
Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan pengetahuannya tentang DBD, sebagain besar responden mempunyai pengetahuan yang baik tentang DBD, berikut tabel distribusi pengetahuan responden terhadap penyakit DBD, (tabel.5.5)
Tabel 5.5 Distribusi pengetahuan responden tentang DBD
No Karakteristik Frekuensi Persentase
1. Baik Kurang 90 5 94,7 % 5,3 % Sumber: Data primer 2012
5.4 Analisis Bivariat
Hubungan antara keberadaan komponen faktor lingkungan (kontainer air bersih, wadah bekas, SPAL, dan tempat sampah) pada penelitian ini, juga tidak menunjukkan hubungan yang siginifikan dengan kejadian DBD, berikut tabelnya (tabel. 5.6)
40
Tabel 5.6 Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD N
o Variabel
Kejadian DBD
Nilai-p OR 95 % CI Ada Tidak Ada
n % n % 1. Kontainer Air Bersih a. Ada b. Tidak Ada 9 1 11,0 7,7 73 12 89,0 92,3 0,720 1,479 0,172 - 12,756 2. Wadah Bekas a. Ada b. Tidak Ada 5 5 16,7 7,7 25 60 83,3 92,3 0,185 2,40 0,638 - 9,025 3. SPAL a. Baik b. Tidak baik 8 2 11,4 8,0 62 23 88,6 92,0 0,632 1,484 0,293 - 7,511 4. Tempat Sampah a. Ada b. Tidak Ada 10 0 11,0 0 81 4 89,0 100 0,483 tdd* tdd* * : tidak dapat dihitung
Sumber: Data primer 2012
Adapun hubungan antara faktor perilaku dalam hal ini: kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk dan pelaksanaan foggong pada penelitian ini, juga tidak menunjukkan hubungan yang siginifikan dengan kejadian DBD, berikut tabelnya (tabel. 5.7)
Tabel 5.7 Hubungangan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD N
o Variabel
Kejadian DBD
Nila-p OR 95 % CI Ada tidak ada
n % n % 1. Kegiatan 3M a. Terlaksana b. Tidak terlaksana 4 6 8,5 12,5 43 42 91,5 89,5 0,526 0,651 0,171 - 2,474 2. Penggunaan Abate a. Ya b. Tidak 5 5 7,2 19,2 64 21 92,8 80,8 0,090 0,328 0,086 - 1,246 3. KebiasaanMenggunakan Obat Nyamuk a. Ya b. Tidak ada 9 1 10,3 12,5 78 7 89,7 87,5 0,849 0,808 0,089 - 7,333 4. Pelaksanaan Fogging a. Terlaksana b. Tidak terlaksana 4 6 12,9 9,4 27 58 87,1 90,6 0,599 1,432 0,373-5,497 Sumber: Data primer 2012
41
Hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan angaka kejadian DBD pada penelitian ini, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, berikut tabel hubungannya., (tabel 5.8)
Tabel 5.8 Hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian DBD No Tingkat
pengetahuan
Kejadian DBD
Nilai- p
Ada Tidak ada
N % n %
1. Baik 10 11,1 80 88,9 0,431
2. Kurang 0 0 5 100
42
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Analisis Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia termasuk benda mati, benda hidup, nyata, atau abstrak seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen tersebut, sehingga lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap derajat kesehatan. Lingkungan dikatakan sehat apabila lingkungan tersebut tidak menimbulkan penyakit, tidak menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan. Serta lingkungan yang dapat menyehatkan badan, nyaman, dan aman.14
Sebagai salah satu faktor yang berpangaruh terhadap terjadinya suatu penyakit sehingga lingkungan juga dapat mempengaruhi kejiadian DBD, namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan dalam hal ini menyangkut: keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah dan tempat sampah tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD. Dengan masing-masing nilai p sebagai berikut: p = 0,720 (p > 0,05), p = 0,185 (p > 0,05), p = 0,632 (p > 0,05), p = 0,483 (p > 0,05).
6.1.1 Kontainer Air Bersih
Keberadaan kontainer sangat berperan dalam kepadatan vektor nyamuk Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat