• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM PENGEMASAN HASIL PERIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM PENGEMASAN HASIL PERIK"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM LIMBAH HASIL PERIKANAN

“PEMBUATAN TEPUNG TULANG IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp. ) ”

Oleh:

VEROSA LEGITA FIRDAUSY NIM. 141411131116

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Industri filet kakap merah dalam proses produksinya menghasilkan limbah dalam

jumlah cukup besar yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan

atau pakan serta produk turunan lainnya. Industri pengolahan filet ikan kakap menghasilkan

limbah sekitar 40% setiap ton bahan baku, yang terdiri atas kulit (35%), kepala (25%), jeroan

tekanan dimana tulang yang telah dimasak dengan tekanan kemudian diarangkan dalam

bejana tertutup sehingga didapatkan tulang dalam bentuk remah dan digiling menjadi tepung

(Nabil, 2005).

Pengolahan tepung ikan merupakan salah satu bentuk diversifikasi hasil olahan

perikanan dan termasuk produk olahan setengah jadi yang dapat ditambahkan pada

pembuatan suatu produk (Mervina dkk., 2012). Keunggulan tepung ikan yaitu mempunyai

masa simpan lebih lama, lebih praktis dalam proses distribusi dan lebih fleksibel

pemanfaatannya untuk diolah menjadi berbagai produk pangan yang digemari masyarakat

(Rauf dan Sarbini, 2015) dalam Listiana (2016).

2.1 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan tepung tulang ikan dan

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Ikan Kakap Merah Lutjanus spp

Klasifikasi Ikan kakap merah menurut Saanin (1984) dalam Setiawati (2009) adalah

(4)

2.2 Tepung ikan

Tepung ikan merupakan salah satu bentuk pemanfaatan hasil samping pengolahan

utama ikan maupun dari hasil tangkapan sampingan. Permasalahan yang sering dihadapi

adalah kualitas tepung ikan tidak seragam dan masih di bawah kualitas tepung impor. Salah

satu penyebabnya adalah bahan baku dan metode pengolahan tepung ikan yang

bervariasi. Peralatan yang digunakan oleh pengolah tepung ikan skala kecil masih

sederhana dan sebagian kualitas tepung ikan yang diproduksi belum memenuhi standar

SNI Nomor 2715:2013. Pemanfaatan tepung ikan adalah untuk bahan baku utama

pembuatan pakan ternak, baik pakan ternak ruminansia, ternak unggas maupun pelet

ikan (Adawiyah, 2007; Afrianti, 2008; Afrianto &Liviawaty, 1989). Tepung ikan masih

menjadi komponen utama sumber protein dalam formulasi pakan ternak. Hal ini

mengingat kandungan protein pada ikan yang cukup besar dan mencapai lebih dari

20% (Irianto & Soesilo, 2007) dalam Handoyo (2016). Tepung ikan sebagai sumber protein

hewani memiliki kedudukan penting yang sampai saat ini masih sulit digantikan

kedudukannya oleh bahan baku lain bila ditinjau dari kualitas maupun harganya.

Kandungan protein tepung ikan memang relatif tinggi. Protein tersebut disusun oleh asam

(5)

BAB III METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum limbah hasil perikanan ini dilakukan di Laboratorium Kering,

Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga.

3.2 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam pembuatan tepung tulang ikan adalah tulang ikan dan air, sedangkan alat yang digunakan adalah panci, kompor, baskom, saringan,

autoclaf, pisau, grinder, ayakan dan timbangan.

3. 3 Prosedur Kerja

Tahap ini dimulai dengan proses perebusan tulang ikan yang bertujuan untuk

menghilangkan darah dan kotoran yang masih terdapat pada tulang ikan, selanjutnya

darah dan kotoran tersebut dibersihkan dan dicuci. Tulang ikan yang telah dibersihkan

kemudian direbus kembali selama 30 menit selanjutnya dimasukkan ke dalam panic

presto dengan perbandingan air dengan ikan sebesar 3 : 1 selama 2 jam. Setelah itu

(6)
(7)

BAB IV

Analisis yang dilakukan terhadap surimi beku yang digunakan untuk larutan edible coating

pada fillet ikan kuniran yaitu uji pH dan uji organoleptik. Pada praktikum kali ini, Edible

coating dibuat dari larutan surimi dengan menggunakan berat 8 gr. Untuk menguji pengaruh

edible coating surimi terhadap fillet ikan kuniran, dilakukan perlakuan kontrol yaitu tanpa

perendaman larutan surimi, dan perendaman fillet ikan dalam larutan coating selama 1 jam, 2

jam dan 3 jam dan diujikan pH dan organoleptik setiap jam-nya.

Berdasarkan hasil uji pH dan organoleptik pada ikan nila yang ditunjukkan pada grafik

(8)

kenaikan derajad keasaman pada perlakuan kontrol dan perendaman dengan larutan coating

surimi pada penyimpanan jam ke-1 yaitu dari pH 6,99 ke pH 7,4. Penurunan terjadi pada saat

perendaman pada jam ke-1 dan ke-2 yaitu dari pH 7,4 ke pH 7, kemudian terjadi kenaikan

lagi pada perendaman pada jam ke-3. Kenaikan dan penurunan pH secara flukluatif,

disebabkan oleh faktor penyimpanan. Kenaikan pH pada saat penyimpanan diakibatkan oleh

degradasi protein dan derivatnya oleh bakteri yang menghasilkan sejumlah basa yang mudah

menguap seperti amoniak (Rostini, 2011). Peningkatan pH juga merupakan indikasi

terjadinya penurunan kualitas karena semakin tinggi pH maka kesempatan mikrob untuk

merusak akan semakin besar (Sicvia et al. 2014). Penurunan pH yang terjadi,

mengindikasikan bahwa fillet ikan nila yang dilapisi edible coating dengan waktu

perendaman 1-2 jam menunjukkan perubahan pH yang lebih lambat dibandingkan

penyimpanan pada suhu ruang selama 3 jam.

Jika dibandingkan dengan nilai pH ikan kuniran, terjadi kenaikan pH yang sangat

signifikan. Menurut Fardiaz (1993), pembusukan ikan laut lebih cepat daripada ikan air

tawar. Dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan kualitas, walaupun telah dilapisi oleh

edible coating surimi. Peningkatan ini disebabkan kerja enzim proteolitik dan aktivitas

bakteri lebih cepat, karena mengandung glikogen karena proses kematian serta menghasilkan

basa volatil (wibowo et al., 2014). Salah satu parameter utama untuk menentukan tingkat

kesegaran ikan adalah kenampakan daging, bau dan tekstur (Viji et al., 2014). Hasil

pengamatan organoleptik terhadap kenampakan fillet ikan kuniran dengan perlakuan

konsentrasi larutan surimi dan waktu penyimpanan pada suhu ruang. Nilai organoleptik pada

perlakuan kontrol ke perlakuan perendaman jam ke -1 yaitu memiliki nilai 7-7,4.Nilai rataan

penampakan fillet ikan nila sama-sama mimiliki nilai 7, begitu pula uji organoleptik pada

edible coating ikan air laut. Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi dan lama waktu

(9)

permukaan fillet lebih jernih, transparan, mengkilap, dan cerah. Menurut Krochta (1992)

dalam rostini (2011), edible coating mampu mereduksi laju kerusakan selama proses,

memperbaiki tekstur dan penampakan.

Uji bau antara fillet ikan air tawar dan fillet ikan air laut ditunjukkan dalam tabel 1

dan 2. Hasil rerata didapatkan nilai uji bau yaitu 6,2-6,8. Terjadi penurunan nilai bau yang

signifikan, sedangkan pada uji organoleptik fillet ikan kuniran, terjadi kenaikan dan

penurunan. Menurut (Rostini, 2011) edible coating surimi memiliki aroma netral sehingga

ketika diaplikasikan tidak menimbulkan aroma yang menyimpang. Untuk uji tekstur, pada

ikan air tawar, menunjukkan bahwa edible coating mampu membuat tekstur lebih bagus,

bila dibandingkan dengan edible coating pada ikan air laut , terjadi kenaikan dan penurunan

nilai organoleptik, hal ini menunjukkan bahwa edible coating mampu mempertahankan

(10)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Edible coating dapat dibentuk dari surimu yang dibuat dari daging ikan nila

dan kuniran. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa edible coating mampu memperbaiki

tekstur, mereduksi laju kerusakan serta dapat menurunkan nilai pH sehingga mutu

fillet terjaga.

5.2 Saran

Pengambilan sampel untuk uji pH dan organoleptik dilakukan pada waktu

yang sama, serta melakukan pembuatan surimi dengan baik dan sesuai denga

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Afriwanty MD. 2008. Mempelajari pengaruh penambahan tepung rumput laut (Kappaphycus alvarezii) terhadap karakteristik fisik surimi ikan nila (Oreochromis niloticus). [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

As, Y., Rodiana, N., Susi, L. 2015. Pemanfaatan Surimi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dengan Penambahan Tepung Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) sebagai Bahan Baku Pempek. FishTech-Jurnal Teknologi Hasil Perikanan, ISSN: 2302-6936, 4(2), Print (Online, Http ://ejournal.unsri.ac.id/index.php/fishTech : pp. 158

Boris. 2008. Desain Produk Fillet Ikan Kuniran Upeneus Sulphureus Cuvier Kering Tipis Garam. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Bogor.

Bourtoom, T. 2008. Review Article Edible films and coatings: characteristics and properties. International Food Research Journal 15(3): pp. 237

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2010. Potensi ekspor ikan nila. www.kkp.com.

Kasmiati., Metusalach., Rahmatang. 2012. Analisis Hubungan Antara Berbagai Faktor Dengan Kualitas Ikan Yang Ditangkap Menggunakan Purse Seine (Studi Kasus Di Perairan Kabupaten Barru Dan Bulukumba). Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.

Ningrum, Noor. 2012. Keragaan Pertumbuhan Ikan Nila Best (Oreochromis niloticus) Hasil Seleksi F3, F4, dan Nila Lokal. Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam, Universitas Sebelas Maret.

Munandar, Aris ., Nurjanah., Nurilmala , Mala. 2009. Kemunduran Mutu Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Pada Penyimpanan Suhu Rendah Dengan Perlakuan Cara Kematian Dan Penyiangan. Jurnal Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 12(2): pp. 88.

Rostini, Iis. 2011. Pengembangan Edible Coating Pada Udang Rebus Berbahan Dasar Surimi Limbah Filet Ikan Kakap Merah (Lutjanus Sp.). Tesis. Sekolah

Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Rostamzad, H., Paighambari, S.Y., Shabanpour, B. and Ojagh, S. M. 2015. Characteristics of a biodegradable protein based films from Silver carp (Hypophthalmichthys molitrix) and their application in Silver carp fillets. International Food Research Journal 22(6): pp. 2318

Safitri, H. 2012. Kebiasaan Makan Ikan Kuniran Upeneus Moluccensis (Bleeker, 1855) Hasil Tangkapan Di Perairan Selat Sunda. Skripsi. Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Institut Pertanian Bogor.

Shiku Y, Hamaguchi PY, Benjakul S, Visessanguan W, Tanaka M. 2004. Effect of surimi quality on properties of edible film based on Alaska pollack. J Food Chem. 86: 493-499.

(12)

Wijayanti, Ima., J. Santoso., Agus, M. Jacoeb. 2012. Pengaruh Frekuensi Pencucian Terhadap Karakteristik Gel Surimi Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus). Jurnal Saintek Perikanan, 8(1): pp. 32

(13)

LAMPIRAN

(14)
(15)

Pengamatan pH

Organoleptik Kelompok

10 Penampakan Bau Tekstur

Kontrol 7,06 6 5 3

Jam Ke-1 7,38 6 6 4

Jam Ke-2 7,28 7 6 5

(16)
(17)
(18)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memelajari daya hambat dari konsentrasi edible coating kitosan yang berbeda dan korelasi waktu perendaman terhadap kualitas fillet

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik fisik edible coating berbahan dasar surimi dari daging limbah filet ikan kakap merah, menguji efektivitas

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik fisik edible coating berbahan dasar surimi dari daging limbah filet ikan kakap merah, menguji efektivitas

Penelitian utama meliputi pembuatan surimi dari daging limbah filet ikan kakap merah, ekstraksi secang (Caesalpinia sappan L), pembuatan edible coating pada berbagai

3.1 ikan asap ikan segar yang mengalami perlakuan penyiangan, pencucian dengan atau tanpa perendaman dalam larutan garam, penirisan, dengan atau tanpa pemberian rempah dan

Respon makan benih ikan mas yang diberi perlakuan perendaman lebih cepat meningkat dibandingkan dengan respon makan benih ikan mas tanpa perendaman, kondisi ini diduga

Dari penelitian ini diketahui bahwa dengan penambahan minyak atsiri kunyit putih ( Kaempferia rotunda ) pada edible coating fillet ikan patin mempengaruhi kerusakan

Secara umum ikan bandeng dengan perendaman inhibitor dan ikan bandeng tanpa perendaman inhibitor (kontrol) mempunyai pola kemunduran mutu yang sama karena analisis organoleptik,