BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Permintaan jagung di Indonesia akhir-akhir ini dirasakan sangat meningkat yang tidak dapat diimbangi dengan produksi di dalam negeri. Sekitar tahun 1997 impor jagung di Indonesia sangat banyak. Peningkatan produksi pertanian di Indonesia termasuk jagung, dilakukan melalui usaha intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Dalam usaha ekstensifikasi, penggunaan lahan-lahan pertanian akan bergeser dari lahan yang subur ke lahan-lahan marginal. Lahan marginal di Indonesia terdiri atas lahan pasang surut, lahan salin, gambut dan lahan-lahan yang berada di dekat areal pertambangan. Penanaman galur jagung yang toleran di lahan salin, merupakan salah satu alternatif dalam pengembangan dan peningkatan budaya dan pertanaman jagung. Untuk keperluan tersebut perlu dilakukan penelitian tentang respon fisiologis yang dapat digunakan sebagai penanda untuk tanaman yang toleran terhadap salinitas dengan konsentrasi NaCl tinggi.
Salinitas didefinisikan sebagai adanya garam terlarut dalam konsentrasi yang berlebihan dalam larutan tanah. Satuan pengukuran salinitas adalah konduktivitas elektrik yang dilambangkan dengan dicisiemens/m pada suhu 25°C. Pengaruh utama salinitas adalah berkurangnya pertumbuhan daun yang langsung mengakibatkan berkurangnya fotosintesis tanaman. Salinitas mengurangi pertumbuhan dan hasil tanaman pertanian penting dan pada kondisi terburuk dapat menyebabkan terjadinya gagal panen. Pada kondisi salin, pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat karena akumulasi berlebihan Na+ dan Cl- dalam sitoplasma, menyebabkan perubahan
metabolisme di dalam sel. Aktivitas enzim terhambat oleh garam. Kondisi tersebut juga mengakibatkan dehidrasi parsial sel dan hilangnya turgor sel karena berkurangnya potensial air di dalam sel. Berlebihnya Na+ dan Cl
langsung menghambat penyerapan nitrat (NO3) yang merupakan ion penting
untuk pertumbuhan tanaman.
Studi mengenai respon tanaman terhadap salinitas penting dalam usaha teknik penapisan (screening) tanaman yang efektif. Salinitas mempengaruhi proses fisiologis yang berbeda-beda. Pada tanaman pertanian seperti kacang merah, kacang polong, tomat dan bunga matahari, pertumbuhan dan berat kering mengalami penurunan jika tanaman ditumbuhkan dalam media salin. Pada kacang merah, pelebaran daun terhambat oleh cekaman salinitas karena berkurangnya tekanan turgor sel. Berkurangnya pelebaran daun dapat berakibat berkurangnya fotosintesis maupun produktivitas.
Beberapa tanaman mengembangkan mekanisme untuk mengatasi cekaman tersebut di samping ada pula yang menjadi teradaptasi. Mayoritas tanaman budidaya rentan dan tidak dapat bertahan pada kondisi salinitas tinggi, atau sekalipun dapat bertahan tetapi dengan hasil panen yang berkurang. Tanaman yang toleran terhadap cekaman garam Na disebut tanaman natrofilik, sedangkan yang tidak toleran disebut tanaman natrofobik. Beberapa proses fisiologis dan biokimia terlibat dalam mekanisme toleransi dan adaptasi tanaman terhadap salinitas. Sebagai contoh cekaman garam menginduksi akumulasi senyawa organik spesifik di dalam sitosol sel yang dapat bertindak sebagai osmoregulator; tanaman juga dapat mencegah akumulasi Na dan Cl dalam sitoplasma melalui eksklusi Na dan Cl ke lingkungan eksternal (media tumbuh), dan kompartementasi ke dalam vakuola atau mentranslokasi Na dan Cl ke jaringan-jaringan lain.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah pada karya ilmiah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan tanaman jagung? 2. Bagaimana pengaruh air terhadap pertumbuhan tanaman jagung?
3. Bagaimana nutrisi yang baik agar tanaman jagung dapat tumbuh optimal?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan karya ilmiah ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan tanaman jagung. 2. Mengetahui pengaruh pemberian air terhadap pertumbuhan tanaman
jagung.
3. Mengetahui nutrisi yang baik agar tanaman jagung dapat tumbuh optimal.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis antara lain sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis penelitian ini adalah pengembangan ilmu pengetahuan umum, khususnya untuk menambah pengetahuan mengenai pengaruh salinitas, penggunaan air, dan nutrisi tanaman yang baik terhadap pertumbuhan tanaman jagung yang saling berhubungan satu sama lain. Jadi, bisa lebih mengetahui manfaat-manfaat yang terkandung pada penelitian ini sehingga bisa memanfaatkannya dengan optimal dan seefektif mungkin dalam kehidupan sehari-hari.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian ini antara lain sebagai berikut:
langsung. Dan mendalami lebih lanjut tentang penelitian ini. Selain itu, peneliti dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan peneliti dalam melaksanakan proses penelitian tersebut.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Natrium Klorida (NaCl)
Natrium klorida disebut juga dengan garam dapur. Menurut Anonim A (2014) menyatakan:
“Natrium klorida, juga dikenal dengan garam dapur, atau halit, adalah senyawa kimia dengan rumus molekul NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling memengaruhi salinitas laut dan cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai komponen utama pada garam dapur, natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan.
Rumus molekul garam dapur adalah NaCl, massa molar garam dapur adalah 58,44 g/mol, penampilan dari garam dapur adalah tidak bewarna/berbentuk kristal putih. Densitas dari NaCl adalah 2,16 g/cm3, titik lebur NaCl adalah 801°C
dan titik didihnya adalah 1465 °C.
Sodium Chlorida atau Natrium Chlorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Zat ini pada proses perlakuan penyimpanan benih recalsitran berkedudukan sebagai medium inhibitor yang fungsinya menghambat proses metabolisme benih sehingga perkecambahan pada benih recalsitran dapat terhambat. Dengan kemampuan tingkat osmotik yang tinggi ini maka apabila NaCl terlarut di dalam air maka air tersebut akan mempunyai nilai atau tingkat konsentrasi yang tinggi yang dapat mengimbibisi kandungan air (konsentrasi rendah)/low concentrate yang terdapat di dalam tubuh benih sehingga akan diperoleh keseimbangan kadar air pada benih tersebut. Hal ini dapat terjadi karena H2O akan berpindah dari
Dapat disimpulkan bahwa NaCl atau yang disebut dengan garam dapur. Senyawa ini adalah garam yang paling mempengaruhi salinitas laut dan cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai komponen utama pada garam dapur, natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan. Sodium Chlorida atau Natrium Chlorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Zat ini pada proses perlakuan penyimpanan benih recalsitran berkedudukan sebagai medium inhibitor yang fungsinya menghambat proses metabolisme benih sehingga perkecambahan pada benih recalsitran dapat terhambat.
2.2 Jagung
Jagung merupakan tanaman monokotil artinya memiliki biji monokotil berkeping satu. Menurut Anonim B (2014) menyatakan:
“Jagung (Zea mays ssp. mays) adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia, selain gandum danpadi. Bagi penduduk Amerika Tengah dan Selatan, bulir jagung adalah pangan pokok, sebagaimana bagi sebagian penduduk Afrika dan beberapa daerah di Indonesia. Di masa kini, jagung juga sudah menjadi komponen penting pakan ternak. Penggunaan lainnya adalah sebagai sumber minyak pangan dan bahan dasar tepung maizena. Berbagai produk turunan hasil jagung menjadi bahan baku berbagai produk industri. Beberapa di antaranya adalah bioenergi, industri kimia, kosmetika, dan farmasi.
Dari sisi botani dan agronomi, jagung merupakan tanaman model yang menarik, khususnya di bidang genetika, fisiologi, danpemupukan. Sejak awal abad ke-20, tanaman ini menjadi objek penelitian genetika yang intensif. Secara fisiologi, tanaman ini tergolongtanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari. Sebagian jagung juga merupakan tanaman hari pendek yang pembungaannya terjadi jika mendapat penyinaran di bawah panjang penyinaran matahari tertentu, biasanya 12,5 jam.”
2.2.1.Pertelaan Botani Jagung
“Jagung merupakan tanaman semusim. Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian 1 m sampai 3 m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6 m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun ada yang dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.
Sebagai anggota monokotil, jagung berakar serabut yang dapat mencapai kedalaman 80 cm meskipun sebagian besar berada pada kisaran 20 cm. Tanaman yang sudah cukup dewasa memunculkan akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana pada sorgum dan tebu. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batangnya beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung zat kayu (lignin).
Daun jagung merupakan daun sempurna, memiliki pelepah, tangkai, dan helai daun. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat lidah-lidah (ligula). Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stomapada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki Poaceae (suku rumput-rumputan). Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun. Jika tanaman mengalami kekeringan, sel-sel kipas akan mengerut, menutup lubang stomata, dan membuat daun melipat ke bawah sehingga mengurangi transpirasi.
kuning dan beraroma wangi yang khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tangkai tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.
Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif yang memiliki puluhan sampai ratusan bunga betina. Beberapa kultivar unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai jagung prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).”
2.2.2. Genetika Dan Keanekaragaman sebanding dengan perbedaan manusia dan chimpanze secara molekuler[11]. Jagung yang dibudidayakan memiliki sifat bulir/biji yang bermacam-macam. Terdapat enam kelompok kultivar jagung berdasarkan karakteristik endosperma indentata (Dent, "jagung gigi-kuda"), indurata (Flint, "mutiara"), Saccharata (Sweet, "manis"), Everta (Popcorn, "berondong"), Amylacea (Floury corn, "tepung"), Glutinosa (Sticky/glutinuous corn, "ketan"), Tunicata (Podcorn, "jagung bersisik", merupakan kelompok kultivar yang paling primitif dan anggota subspesies yang berbeda dari jagung budidaya lainnya).
Dengan perkembangan pemuliaan jagung, pada masa sekarang dikenal jagung minyak (dengan kandungan minyak lebih dari 10%) sertaQPM (Quality Protein Maize, jagung dengan protein tinggi). Jagung dengan kadar karotenoid tinggi juga telah dikembangkan.
Dipandang dari bagaimana suatu kultivar ("varietas") jagung dibuat, dikenal tipe kultivar:
1.galur murni, merupakan hasil seleksi terbaik dari galur-galur
terpilih
4.hibrida, merupakan keturunan langsung (F1) dari persilangan
Warna bulir jagung ditentukan oleh warna endosperma dan lapisan terluarnya (aleuron), mulai dari putih, kuning, jingga, merah cerah, merah darah, ungu, hingga ungu kehitaman. Satu tongkol jagung dapat memiliki bermacam-macam bulir dengan warna berbeda-beda, karena setiap bulir terbentuk dari penyerbukan oleh serbuk sari yang berbeda-beda.”
2.2.3. Budidaya
Menurut Anonim D (2014):
“Organisme pengganggu dalam budidaya jagung di daerah tropika dan non-tropika berbeda. Di kawasan Asia tropika, penyakit utama jagung adalah penyakit
bulai (maize downy mildew) karena
infeksi Peronosclerospora, karat daun jagung karena cendawan Puccinia (terutama P. polysora), busuk tongkol oleh cendawan Fusarium, Diplodia,
dan Gibberella, bercak daun jagung (Southern leaf blight)
karena cendawan Bipolaris
maydis (teleomorf: Cochliobolus heterostrophus), hawar
daun jagung (Northern leaf blight) karena cendawan Setosphaeria turcica (anamorf: Exserohilum turcicum), busuk pelepah (sheath blight) karena cendawan Rhizoctonia solani, busuk batang jagung karena bermacam-macam cendawan dan oomycetes, dan penyakit mosaik kerdil jagung karena infeksi Maize Dwarf Mosaic
Virus.
Hama utama jagung adalah penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis (Asia tropika) dan Ostrinia
nubilalis (daerah subtropika dan iklim empat musim) lalat
bibit Atherigona spp., uret, terutama Lepidiota
stigma (Jawa dan Sumatera), ulat tanah, seperti Agrotis,
ulat grayak Spodoptera, penggerek tongkol Helicoverpa
armigera belalang kembara Locusta migratoria, tikus
sawah Rattus argentiventer, kumbang gudang, terutama Sitophilus zeamais, dan ngengat gudang, seperti Sitotroga.”
2.2.4.Kandungan Gizi
Menurut Anonim E (2014), menyatakan:
dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa..
Kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah: Kalori : 355 Kalori
Dan bagian yang dapat dimakan 90 %. Untuk ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah, namum mempunyai kandungan protein yang lebih banyak. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
2.2.5.Pemanfaatan
Menurut Anonim F (2014) menyatakan:
“Sebagai bahan pangan, biji jagung direbus lalu dimakan langsung atau digiling kasar menjadi pangan sarapan serealia atau dihaluskan menjadi tepung maizena. Sebagai pakan, jagung kering diberikan langsung atau dipecah atau digiling.
Saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan.”
Sebagian jagung juga merupakan tanaman hari pendek yang pembungaannya terjadi jika mendapat penyinaran di bawah panjang penyinaran matahari tertentu, biasanya 12,5 jam.
Jagung dikelompokkan berdasarkan tipe bulir. Kiri atas adalah jagung gigi-kuda, di kiri latar depan adalah podcorn, sisanya adalah jagung tipe mutiara. Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin.
Jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, biji jagung direbus lalu dimakan langsung atau digiling kasar menjadi pangan sarapan serealia atau dihaluskan menjadi tepung maizena. Sebagai pakan, jagung kering diberikan langsung atau dipecah atau digiling.
2.3 Palawija
Menurut Anonim G (2014) menyatakan:
“Penanaman lobak di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Kondisi geografis dan temperatur udara yang dingin tidak memungkinkan daerah ini menanam padi
Kacang panjang Talas
Beberapa buku menyebutkan buah yang tumbuh menempel di atas tanah juga disebut palawija, seperti labu, blewah, dan semangka, meski dalam definisi pertanian modern mereka disebut dengan hortikultura.”
Dapat disimpulkan bahwa jagung termasuk tanaman palawija. Palawija (Sanskerta: phaladwija) secara harfiah berarti tanaman kedua. Berdasarkan makna dari bahasa Sanskerta, palawija bermakna hasil kedua, dan merupakan tanaman hasil panen kedua di samping padi. Istilah palawija berkembang di antara para petani di Pulau Jawa untuk menyebut jenis tanaman pertanian selain padi. Contoh lain dari palawija adalah kacang hujau, mentimun, kacang panjang, oyong, wortel, dan sebagainya.
2.4 Tanah
Menurut Anonim H (2014) menyatakan:
“Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik.
Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan haradan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah.” 2.4.1 Pembentukan Tanah
Menurut Anonim I (2014) menyatakan:
sebagai ''pedogenesis''. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Setiap horizon menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia, dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.
Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swiss yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklim, organisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkandinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.”
2.4.2 Karakteristik
Menurut Anonim J (2014) menyatakan:
“Tubuh tanah (solum) tidak lain adalah batuan yang melapuk dan mengalami proses pembentukan lanjutan. Usia tanah yang ditemukan saat ini tidak ada yang lebih tua daripada periode Tersier dan kebanyakan terbentuk dari masa Pleistosen.
Tubuh tanah terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Tanah non-organik atau tanah mineral terbentuk dari batuan sehingga ia mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik (organosol/humosol) terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi.
Tanah organik berwarna hitam dan merupakan pembentuk utama lahan gambut dan kelak dapat menjadi batu bara. Tanah organik cenderung memiliki
keasaman tinggi karena mengandung
beberapa asam organik (substansi humik) hasil dekomposisi berbagai bahan organik. Kelompok tanah ini biasanya miskin mineral, pasokan mineral berasal dari aliran air atau hasil dekomposisi jaringan makhluk hidup. Tanah organik dapat ditanami karena memiliki sifat fisik gembur (sarang) sehingga mampu menyimpan cukup air namun karena memiliki keasaman tinggi sebagian besar tanaman pangan akan memberikan hasil terbatas dan di bawah capaian optimum.
lempungan didominasi oleh lempung. Tanah dengan komposisi pasir, lanau, dan lempung yang seimbang dikenal sebagai geluh (loam).
Warna tanah merupakan ciri utama yang paling mudah diingat orang. Warna tanah sangat bervariasi, mulai dari hitam kelam, coklat, merah bata, jingga, kuning, karena pelapukan vegetasi maupun proses pengendapan di rawa-rawa. Warna gelap juga dapat disebabkan oleh kehadiran mangan, belerang, dan nitrogen. Warna tanah kemerahan atau kekuningan biasanya disebabkan kandungan besi teroksidasi yang tinggi; warna yang berbeda terjadi karena pengaruh kondisi proses kimia pembentukannya. Suasana aerobik/oksidatif menghasilkan warna yang seragam atau perubahan warna bertahap, sedangkan suasana anaerobik/reduktif membawa pada pola warna yang bertotol-totol atau warna yang terkonsentrasi[1].
Struktur tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi antara agregat (butir) tanah dan ruang antaragregat. Tanah tersusun dari tiga fase: fase padatan, fase cair, dan fase gas. Fasa cair dan gas mengisi ruang antaragregat. Struktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusun ini. Ruang antaragregat disebut sebagai porus (jamak pori). Struktur tanah baik bagi perakaran apabila pori berukuran besar (makropori) terisi udara dan pori berukuran kecil (mikropori) terisi air. Tanah yang gembur (sarang) memiliki agregat yang cukup besar dengan makropori dan mikropori yang seimbang. Tanah menjadi semakin liat apabila berlebihan lempung sehingga kekurangan makropori.”
2.4.3 Pencemaran Tanah
Menurut Anonim K (2014) menyatakan:
sampahserta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara sembarangan (illegal dumping).”
Dapat disimpulkan bahwa Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi
karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan
menyediakan haradan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai ''pedogenesis''. Tubuh tanah (solum) tidak lain adalah batuan yang melapuk dan mengalami proses pembentukan lanjutan. Usia tanah yang ditemukan saat ini tidak ada yang lebih tua daripada periode Tersier dan kebanyakan terbentuk dari masa Pleistosen. Pencemaran tanah terjadi akibat masuknya benda asing (misalnya senyawa kimia buatan manusia) ke tanah dan mengubah suasana/lingkungan asli tanah sehingga terjadi penurunan kualitas tanah.
2.5 Pertumbuhan Tanaman
Menurut Arghya Narendra (2012) menyatakan:
“Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis, sementara fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman (Kramer dan Kozlowski, 1979).
Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya, walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap. Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas.
Cahaya matahari adalah sumber energi utama bagi kehidupan seluruh makhluk hidup didunia. Bagi tumbuhan khususnya yang berklorofil, cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis. Fotosintesis adalah proses dasar pada tumbuhan untuk menghasilkan makanan. Makanan yang dihasilkan akan menentukan ketersediaan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Menurut cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis, sementara fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman.
Pengaruh cahaya juga berbeda pada setiap jenis tanaman. Tanaman C4, C3, dan CAM memiliki reaksi fisiologi yang berbeda terhadap pengaruh intensitas, kualitas, dan lama penyinaran oleh cahaya matahari (Onrizal, 2009). Selain itu, setiap jenis tanaman memiliki sifat yang berbeda dalam hal fotoperiodisme, yaitu lamanya penyinaran dalam satu hari yang diterima tanaman. Perbedaan respon tumbuhan terhadap lama penyinaran atau disebut juga fotoperiodisme, menjadikan tanaman dikelompokkan menjadi tanaman hari netral, tanaman hari panjang, dan tanaman hari pendek.
Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan, meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Selain itu, kekurangan cahaya saat perkembangan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi, dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat ( tidak hijau ). Gejala etiolasi tersebut disebabkan oleh kurangnya cahaya atau tanaman berada di tempat yang gelap. Cahaya juga dapat bersifat sebagai penghambat (inhibitor) pada proses pertumbuhan, hal ini terjadi karena dapat memacu difusi auksin ke bagian yang tidak terkena cahaya. Cahaya yang bersifat sebagai inhibitor tersebut disebabkan oleh tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk penunjang sel – sel tumbuhan sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh ditempat terang menyebabkan tumbuhan – tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan kondisi relative pendek, lebih lebar, lebih hijau, tampak lebih segar dan batang kecambah lebih kokoh.
akan dibahas lebih lanjut dan mendalam mengenai peranan dan pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan tanaman dari sudut pandang proses fisiologi, pertumbuhan vegetatif, dan pertumbuhan generatif tanaman.”
Dapat disimpulkan bahwa Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis, sementara fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman. Pengaruh cahaya juga berbeda pada setiap jenis tanaman. Tanaman C4, C3, dan CAM memiliki reaksi fisiologi yang berbeda terhadap pengaruh intensitas, kualitas, dan lama penyinaran oleh cahaya matahari. Selain itu, setiap jenis tanaman memiliki sifat yang berbeda dalam hal fotoperiodisme, yaitu lamanya penyinaran dalam satu hari yang diterima tanaman. Perbedaan respon tumbuhan terhadap lama penyinaran atau disebut juga fotoperiodisme, menjadikan tanaman dikelompokkan menjadi tanaman hari netral, tanaman hari panjang, dan tanaman hari pendek.
2.6 Membran Sel
Menurut Anonim L (2014) menyatakan:
“Membran sel (bahasa Inggris: cell membrane, plasma membrane, plasmalemma) adalah fitur universal yang dimiliki oleh semua jenis sel berupa lapisan antarmuka yang disebut membran plasma, yang memisahkan sel dengan lingkungan di luar sel, terutama untuk melindungi inti sel dan sistem kelangsungan hidup yang bekerja di dalamsitoplasma”
2.6.1 Membran Sel Eukariota
Menurut Anonim M (2014) menyatakan:
keluarnya zat-zat yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh sel.
Nilai permeabilitas air pada membran ganda dari berbagai komposisi lipid berkisar antara 2 hingga 1.000 × 10−5 cm2/dt. Angka tertinggi ditemukan pada membran
plasma pada sel epitelial ginjal, beberapa sel glia dan beberapa sel yang dipengaruhi oleh protein membran dari jenis akuaporin. Akuaporin-2 memungkinkan adanya transporter air yang peka terhadap vasopresin, sedang ekspresi akuaporin-4 ditemukan sangat tinggi pada beberapa sel glia dan ependimal. Singer dan Garth Nicholson mengemukakan model mosaik fluida yang disusun berdasarkan hukum-hukum termodinamika untuk menjelaskan struktur membran sel.[3] Pada model ini, protein penyusun
membran dijabarkan sebagai
sekelompok molekul globular heterogenus yang tersusun dalam strukturamfipatik, yaitu dengan gugus ionik dan polar menghadap ke fase akuatik, dan gugus non-polar menghadap ke dalam interior membran yang disebut matriks fosfolipid dan bersifat hidrofobik. Himpunan-himpunan molekul globular tersebut terbenam sebagian ke dalam matriks fosfolipid tersebut. Struktur membran teratur membentuk lapisan ganda fluida yang diskontinu, dan sebagian kecil dari matriks fosfolipid berinteraksi dengan molekul globular tersebut sehinggal struktur mosaik fluida merupakan analogi lipoproteinatau protein integral di dalam larutan membran ganda fosfolipid.
Lapisan ganda fosfolipid
berinteraksi dengan air maupun larutan fase akuatik, sedangkan bagian rantai akan berhimpit membentuk matriks fosfolipid yang disebut fase internal. Antara fase internal dan fase akuatik terjadi tegangan potensial antara 220-280 mV yang disebut tegangan potensial dipol, atau potensial membran.
Penamaan dan sifat bagian kepala fosfolipid bergantung pada jenis gugus tambahan yang
dimilikinya, antara lain terdapat
sebutan fosfokolina (pc), fosfoetanolamina (pe), fosfoserina (ps), dan fosfoinositol (pi); dan masing-masing nama senyawa fosfolipid terkait yang terbentuk pada membran sel adalah fosfatidil kolina, fosfatidil etanolamina,fosfatidil serina, dan fosfatidil inositol. Membran juga dapat terbentuk dari senyawa lipid seperti sfingomielin, sardiolipin, atau ikatan dengan senyawa kolesterol, dan glikolipida.
Protein integral membran
Protein integral memiliki domain membentang di luar sel dan di sitoplasma. Protein intregral juga berfungsi untuk memasukkan zat-zat yang ukurannya lebih besar.
Protein transmembran
lain ialah molekul hidrofobik(CO2, O2), dan
molekul polar yang sangat kecil (air, etanol). Sementara itu, molekul lainnya seperti molekul polar dengan ukuran besar (glukosa), ion, dan substansi hidrofilik membutuhkan mekanisme khusus agar dapat masuk ke dalam sel.
Banyaknya molekul yang masuk dan keluar membran menyebabkan terciptanya lalu lintas membran. Lalu lintas membran digolongkan menjadi dua cara, yaitu dengan transpor pasif untuk molekul-molekul yang mampu melalui membran tanpa mekanisme khusus dan transpor aktif untuk molekul yang membutuhkan mekanisme khusus. Lalu lintas membran akan membuat perbedaan konsentrasi ion sebagai akibat dari dua proses yang berbeda yaitu difusi dan transpor aktif, yang dikenal sebagai gradien ion. Lebih lanjut, gradien ion tersebut membuat sel memiliki tegangan listrik seluler. Dalam keadaan istirahat, sitoplasma sel memiliki tegangan antara 30 hingga 100 mV lebih rendah daripadainterstitium.
1. Transpor pasif
Transpor pasif merupakan suatu perpindahan molekul menuruni gradien konsentrasinya.
Transpor pasif ini bersifat
spontan. Difusi, osmosis, dan difusi terfasilitasi merupakan contoh dari transpor pasif. Difusi terjadi akibat gerak termal yang meningkatkan entropi atau ketidakteraturan sehingga menyebabkan campuran yang lebih acak. Difusi akan berlanjut selama respirasi seluler yang mengonsumsi O2 masuk. Osmosis merupakan terlarut berpindah menurut gradien konsentrasinya.
Contoh molekul yang berpindah dengan transpor pasif ialah air dan glukosa. Transpor pasif air dilakukan lipid bilayer dan transpor pasif glukosa terfasilitasi transporter. Ion polar berdifusi dengan bantuan protein transpor.
2. Transpor aktif
yang menyebabkan perpindahan suatu substansi dari sebuah area yang mempunyaipotensial elektrokimiawi lebih rendah menuju ke tempat dengan potensial yang lebih tinggi.Proses tersebut dikatakan, memerlukan asupan energi dan suatu mekanisme kopling agar asupan energi dapat dari beberapa protein. Contoh protein yang terlibat dalam transpor aktif ialah channel protein dan carrier protein, serta ionofor. Ionofor merupakan antibiotik yang menginduksi transpor ion melalui membran sel maupun membran buatan.
Yang termasuk transpor aktif ialah coupled carriers, ATP driven pumps, dan light driven pumps. Dalam transpor menggunakan coupled carriers dikenal dua istilah, yaitu simporter dan antiporter. Simporter ialah suatu protein yang mentransportasikan kedua substrat searah, sedangkan antiporter mentransfer kedua substrat dengan arah berlawanan. ATP driven pump merupakan suatu siklus transpor Na+/K+ ATPase. Light driven pump umumnya
ditemukan pada sel bakteri. Mekanisme ini membutuhkan energi cahaya dan contohnya terjadi pada Bakteriorhodopsin.
Hormon tri-iodotironina yang dikenal sebagai aktivator enzim fosfatidil inositol-3
kinase dengan mekanisme dari
dalam sitoplasma dengan bantuan integrin alfavbeta3. Lintasan enzim fosfatidil inositol-3
kinase, lebih lanjut akan
memicu transkripsi genetik dari Na+ ATP sintase,
K+ ATP sintase, dll, beserta penyisipan ATP sintase
ketika gliserofosfolipid yang dijelaskan di atas berada di dalam lingkungan basah. Di dalam sistem basah, gugus polar lipid berjejer menuju polar, lingkungan basah, sedangkan ekor hidrofobik memperkecil hubungannya dengan air dan cenderung menggerombol bersama-sama, membentuk vesikel; bergantung pada konsentrasi lipid, interaksi biofisika ini dapat berujung pada pembentukan misel, liposom, atau dwilapis lipid. Penggerombolan lainnya juga diamati dan membentuk bagian dari polimorfisma perilaku amfifila (lipid). Polimorfisme lipid adalah cabang pengkajian di dalam biofisika dan merupakan mata pelajaran penelitian akademik saat ini. Bentuk dwilapis dan misel di dalam medium polar oleh proses yang dikenal sebagai efek hidrofobik. Ketika memecah zat lipofilik atau amfifilik di dalam lingkungan polar, molekul polar (yaitu, air di dalam larutan air) menjadi lebih teratur di sekitar zat lipofilik yang pecah, karena molekul polar tidak dapat membentuk ikatan hidrogen ke wilayah lipofilik daru amfifila. Jadi, di dalam lingkungan basah, molekul air membentuk kurungan "senyawa klatrat" tersusun di sekitar molekul lipofilik yang terpecah.
Pada teori mozaik fluida membran merupakan 2 lapisan lemak dalam bentuk fluida dengan molekul lipid yang dapat berpindah secara lateral di sepanjang lapisan membran. Protein membran tersusun secara tidak beraturan yang menembus lapisan lemak. Jadi dapat dikatakan membran sel sebagai struktur yang dinamis dimana komponen-komponennya bebas bergerak dan dapat terikat bersama dalam berbagai bentuk interaksi semipermanen komponen muchus membran sel semipermanen di lapisan membran
“Hingga saat ini terdapat tiga teori mengenai membran mitokondria. Teori pertama mengatakan bahwa mitokondria memiliki satu lapisan membran. Teori kedua mengatakan bahwa terdapat dua lapisan membran, yaitu membran sisi dalam dan membran sisi luar. Teori ketiga mengatakan bahwa mitokondria memiliki tiga lapisan, yaitu membran sisi dalam, membran sisi luar dan membran plasma.” Dapat disimpulkan bahwa Membran sel (bahasa Inggris: cell membrane, plasma membrane, plasmalemma) adalah fitur universal yang dimiliki oleh semua jenis sel berupa lapisan antarmuka yang disebut membran plasma, yang memisahkan sel dengan lingkungan di luar sel.
Pada sel eukariota, membran sel yang membungkus organel-organel di dalamnya, terbentuk dari dua macam senyawa yaitu lipid dan protein, umumnya berjenis fosfolipidseperti senyawa antara fosfatidil etanolamina dan kolesterol, yang membentuk struktur dengan dua lapisan dengan permeabilitas tertentu sehingga tidak semua molekuldapat melalui membran sel, namun di sela-sela molekul fosfolipid tersebut, terdapat transporter yang merupakan jalur masuk dan keluarnya zat-zat yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh sel.
Salah satu fungsi dari membran sel adalah sebagai lalu lintas molekul dan ion secara dua arah. Molekul yang dapat melewati membran sel antara lain ialah molekul hidrofobik(CO2, O2), dan
molekul polar yang sangat kecil (air, etanol). Sementara itu, molekul lainnya seperti molekul polar dengan ukuran besar (glukosa), ion, dan substansi hidrofilik membutuhkan mekanisme khusus agar dapat masuk ke dalam sel.
polimorfisma perilaku amfifila (lipid). Hingga saat ini terdapat tiga teori mengenai membran mitokondria. Teori pertama mengatakan bahwa mitokondria memiliki satu lapisan membran. Teori kedua mengatakan bahwa terdapat dua lapisan membran, yaitu membran sisi dalam dan membran sisi luar. Teori ketiga mengatakan bahwa mitokondria memiliki tiga lapisan, yaitu membran sisi dalam, membran sisi luar dan membran plasma.
2.7 Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Ari Gunawan (2008) menyatakan:
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
“Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang berjalan sejajar dan berdampingan. Jadi proses pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Setiap makhluk hidup mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Misalnya yang terjadi pada diri kita, kalau diamati keadaan ketika bayi sangat berbeda dengan keadaan saat i
Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran yang tidak dapat kembali ke asal (irreversibel), yang meliputi pertambahan volume dam pertambahan massa. Selain disebabkan pertambahan ukuran sel, pertumbuhan juga terjadi karena pertambahan jumlah sel. Contohnya bayi yang baru lahir ukurannya + 45 cm dengan berat badan + 3 kg. Setelah mengalami pertumbuhan, tinggi badan dapat mencapai lebih dari 150 cm dan berat badan lebih dari 30 kg. Perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan. Pada tingkat seluler, perkembangan dapat berupa diferensiasi sel-sel yang baru membelah membentuk jaringan yang menyusun organ tertentu. Pada tumbuhan perkembangan ditandai dengan munculnya bunga atau buah. Sedang pada hewan dan manusia ditandai dengan kematangan organ reproduksi sehingga siap untuk menghasilkan keturunan. Perkembangan juga menyebabkan perkembangan psikis dari usia bayi, anak-anak, dan menjadi dewasa. Kalau kamu perhatikan, tinggi dan besar badanmu bisa jadi berbeda bila dibandingkan dengan teman-teman sekelasmu.
tinggi dan besar badan teman-teman sekelasmu bisa berbeda-beda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan danperkembangan dapat dibedakan menjadi faktor dari dalam dan faktor dari luar tubuh. Untuk mengetahuinya, pelajarilah uraian berikut ini dengan baik.
1. Faktor Dalam (Internal)
Faktor dalam yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berasal dari dalam tubuh makhluk hidup sendiri. Yang termasuk kategori ini adalah faktor gen dan keadaan hormonal.
a. Gen
Gen adalah substansi/materi pembawa sifat yang diturunkan dari induk. Gen mempengaruhi ciri dan sifat makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh, tinggi tubuh, warna kulit, warna bunga, warna bulu, rasa buah, dan sebagainya. Gen juga menentukan kemampuan metabolisme makhluk hidup, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Hewan, tumbuhan, dan manusia yang memiliki gen tumbuh yang baik akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sesuai dengan periode pertumbuhan dan perkembangannya.
Meskipun peranan gen sangat penting, faktor genetis bukan satu-satunya faktor yang menentukan pola pertumbuhan dan perkembangan, karena juga dipengaruhi oleh faktor lainnya. Misalnya tanaman yang mempunyai sifat unggul dalam pertumbuhan dan perkembangannya, hanya akan tumbuh dengan cepat, lekas berbuah, dan berbuah lebat jika ditanam di lahan subur dan kondisinya sesuai. Bila ditanam di lahan tandus dan kondisi lingkungannya tidak sesuai, pertumbuhan dan perkembangannya menjadi kurang baik. Demikian juga ternak unggul hanya akan berproduksi secara optimal bila diberi pakan yang baik dan dipelihara di lingkungan yang sesuai.
b. Hormon
Hormon merupakan zat yang berfungsi untuk mengendalikan berbagai fungsi di dalam tubuh. Meskipun kadarnya sedikit, hormon memberikan pengaruh yang nyata dalam pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup beragam jenisnya.
1) Hormon pada tumbuhan
antaranya adalah auksin, sitokinin, giberelin, etilen, dan asam absisat.
Auksin, berfungsi untuk memacu perpanjangan sel, merangsang pembentukan bunga, buah, dan mengaktifkan kambium untuk membentuk sel-pemanjangan batang, mempercepat penuaan buah, dan menyebabkan penuaan daun.
Tiroksin, mengendalikan pertumbuhan hewan. Pada katak hormon ini merangsang dimulainya proses metamorfosis
Somatomedin, mempengaruhi pertumbuhan tulang. atau kelenjar buntu, yaitu suatu kelenjar yang tidak mempunyai saluran. Beberapa hormon pertumbuhan pada manusia antara lain sebagai berikut.
Hormon tiroksin, dihasilkan oleh kelenjar gondok/ tiroid. Hormon ini memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan metabolisme karbohidrat dalam tubuh. Kekurangan hormon ini dapat mengakibatkan mixoedema yaitu kegemukan.
jika kekurangan hormon pertumbuhan. Pada masa pertumbuhan, kelebihan hormon ini akan mengakibatkan pertumbuhan raksasa (gigantisme), sebaliknya jika kekurangan akan menyebabkan kerdil (kretinisme). Jika kelebihan hormon terjadi setelah dewasa, akan menyebabkan membesarnya bagian tubuh tertentu, seperti pada hidung atau telinga. Kelainan ini disebut akromegali.
Hormon testosteron, mengatur perkembangan organ reproduksi dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder pada pria.
Hormon estrogen/progresteron, mengatur perkembangan organ reproduksi dan munculnya tandatanda kelamin sekunder pada wanita.
2. Faktor Luar (Eksternal)
Faktor luar yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup berasal dari faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup adalah sebagai berikut.
a. Makanan atau Nutrisi
Makanan merupakan bahan baku dan sumber energi dalam proses metabolisme tubuh. Kualitas dan kuantitas makanan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Karena sedang dalam masa pertumbuhan, kamu harus cukup makan makanan yang bergizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuhmu.
Zat gizi yang diperlukan manusia dan hewan adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Semua zat ini diperoleh dari makanan. Sedangkan bagi tumbuhan, nutrisi yang diperlukan berupa air dan zat hara yang terlarut dalam air. Melalui proses fotosintesis, air dan karbon dioksida (CO2) diubah menjadi zat makanan dengan bantuan sinar matahari. Meskipun tidak berperan langsung dalam fotosintesis, zat hara diperlukan agar tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Coba kamu amati, tanaman padi yang terlambat dipupuk, daunnya akan berwarna kekuningan. Setelah dipupuk, daun tanaman padi itu akan kembali berwarna hijau dan tumbuh dengan baik. Di dalam pupuk terkandung zat hara yang penting sebagai nutrisi tanaman.
b. Suhu
misalnya suhu tubuh manusia yang normal adalah sekitar 37°C. Pada suhu optimum, semua makhluk hidup dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hewan dan manusia memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam kisaran suhu lingkungan tertentu. Tumbuhan menunjukkan pengaruh yang lebih nyata terhadap suhu. Padi yang ditanam pada awal musim kemarau (suhu udara rata-rata tinggi) lebih cepat dipanen daripada padi yang ditanam pada musim penghujan (suhu udara rata-rata rendah). Jenis bunga mawar yang tumbuh dan berbunga dengan baik di pegunungan yang sejuk, ketika ditanam di daerah pantai yang panas pertumbuhannya menjadi lambat dan tidak menghasilkan bunga yang seindah sebelumnya. Hal ini disebabkan karena semua proses dalam pertumbuhan dan perkembangan seperti penyerapan air, fotosintesis, penguapan, dan pernapasan pada tumbuhan dipengaruhi oleh suhu. c. Cahaya
Cahaya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tumbuhan sangat membutuhkan cahaya matahari untuk fotosintesis. Namun keberadaan cahaya ternyata dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan karena cahaya dapat merusak hormon auksin yang terdapat pada ujung batang. Bila kamu menyimpan kecambah di tempat gelap selama beberapa hari, kecambah itu akan tumbuh lebih cepat (lebih tinggi) dari seharusnya, namun tampak lemah dan pucat/kekuning-kuningan karena kekurangan klorofil. Selain tumbuhan, manusia juga membutuhkan cahaya matahari untuk membantu pembentukan vitamin D.
d. Air dan Kelembapan
e. Tanah
Bagi tumbuhan, tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Tumbuhan akan tumbuh dan berkembang dengan optimal bila kondisi tanah tempat hidupnya sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan unsur hara. Kondisi tanah ditentukan oleh faktor lingkungan lain, misalnya suhu, kandungan mineral, dan air.”
B. Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan
“Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dimulai sejak perkecambahan biji. Kecambah kemudian berkembang menjadi tumbuhan kecil yang sempurna. Setelah tumbuh hingga mencapai ukuran dan usia tertentu, tumbuhan akan berkembang membentuk bunga dan buah atau biji sebagai alat perkembangbiakannya. Pertumbuhan pada tumbuhan terjadi di daerah meristematis (titik tumbuh), yaitu bagian yang mengandung jaringan meristem. Jaringan ini terletak di ujung batang, ujung akar, dan kambium. Aktivitas jaringan meristem yang terletak di ujung batang/akar menghasilkan pola pertumbuhan yang berbeda bila dibandingkan dengan jaringan meristem di kambium. Oleh karena itu pertumbuhan pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder.
1. Pertumbuhan Primer
Pertumbuhan primer adalah pertumbuhan yang terjadi akibat aktivitas jaringan meristem primer atau disebut juga meristem apikal. Titik tumbuh primer terbentuk sejak tumbuhan masih berupa embrio. Jaringan meristem ini dibedakan menjadi tiga, yaitu daerah pembelahan, daerah perpanjangan, dan daerah diferensiasi.
a. Daerah pembelahan
Daerah pembelahan terletak di bagian paling ujung. Di daerah ini sel-sel baru terus-menerus dihasilkan melalui proses pembelahan sel. Daerah inilah yang disebut daerah meristematis.
b. Daerah pemanjangan
Daerah pemanjangan terletak di belakang daerah pembelahan. Di daerah ini sel-sel hasil pembelahan akan tumbuh sehingga ukuran sel bertambah besar. Akibatnya di daerah inilah yang mengalami pemanjangan.
2. Pertumbuhan Sekunder
Pertumbuhan sekunder disebabkan oleh aktivitas jaringan meristem sekunder. Contoh jaringan meristem sekunder adalah jaringan kambium pada batang tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Sel-sel jaringan kambium senantiasa membelah. Pembelahan ke arah dalam membentuk xilem atau kayu sedangkan pembelahan ke luar membentuk floem atau kulit kayu. Akibat aktivitas jaringan meristem pada kambium, diameter batang dan akar bertambah besar. Tumbuhan monokotil tidak mempunyai kambium sehingga tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Bila kamu perhatikandiameter batang palem, bambu, tebu, dan kelapa hampir selalu sama dari kecil hingga dewasa. Berbeda dengan tumbuhan dikotil seperti mangga, jati, jambu, asam, cemara, dan pinus.
Bila kamu menjumpainya, coba perhatikan dengan seksama! Aktivitas pertumbuhan kambium tidak selalu sama antara musim penghujan dengan musim kemarau. Di musim penghujan, air dan zat hara terlarut tersedia dengan melimpah sehingga pembelahan sel lebih giat. Sebaliknya di musim kemarau, ketersediaan air berkurang sehingga aktivitas pembelahan sel berkurang. Aktivitas pembelahan yang berbeda ini tampak sebagai cincin-cincin konsentris pada batang yang disebut lingkaran tahun. Perkembangan pada tumbuhan merupakan diferensiasi atau spesialisasi sel atau bagian-bagian tumbuhan untuk melakukan fungsi khusus (menjadi dewasa). Perkembangan pada tingkat sel misalnya sel-sel hasil pembelahan jaringan meristem mengalami diferensiasi membentuk jaringan pengangkut.
Contoh perkembangan pada tingkat organ misalnya terbentuknya organ generatif yaitu munculnya bunga. Beberapa jenis tumbuhan memiliki umur yang berbedabeda untuk berkembang menjadi dewasa. Masa dewasa ditandai dengan kemampuan berkembang biak secara generatif. Jadi ketika suatu tumbuhan telah membentuk bunga berarti tumbuhan itu telah dewasa dan dapat bereproduksi secara generatif (menghasilkan biji). Biji merupakan calon individu yang dapat tumbuh dan berkembang jika menemukan kondisi lingkungan yang sesuai.”
karena pertambahan jumlah sel. Perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan. Pada tingkat seluler, perkembangan dapat berupa diferensiasi sel-sel yang baru membelah membentuk jaringan yang menyusun organ tertentu. Pada tumbuhan perkembangan ditandai dengan munculnya bunga atau buah. Sedang pada hewan dan manusia ditandai dengan kematangan organ reproduksi sehingga siap untuk menghasilkan keturunan. Perkembangan juga menyebabkan perkembangan psikis dari usia bayi, anak-anak, dan menjadi dewasa.
Ada 2 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam misalnya adalah gen dan hormon. Sedangkan faktor luarnya seperti suhu, cahaya, nutrisi dan lainnya.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Variabel Percobaan dan Perlakuan 3.1.1 Variabel Percobaan
Variabel adalah faktor – faktor yang berpengaruh yang memiliki nilai (ukuran tertentu) dan dapat berubah atau diubah. Variabel disebut juga peubah. Secara umum variabel ada 3, yaitu variabel bebas (manipulasi), variabel terikat, dan variabel kontrol.
Variabel bebas (manipulasi) adalah variabel yang bisa diubah sesuai keadaan atau keinginan peneliti. Adapun dalam penelitian ini, variabel bebas yang ditetapkan peneliti adalah kadar garam dapur (NaCl) sebagai nutrisi tanaman.
Variabel terikat adalah variabel yang terbentuk akibat adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikat yang ditetapkan peneliti adalah laju pertumbuhan tanaman dan kondisi tanaman apakah subur atau tidak.
Variabel kontrol adalah variabel yang dibuat atau dianggap sama untuk semua perlakuan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan media berupa tanah bakar dengan 1 kg per polybag, bibit jagung, polybag berdiameter 10 – 14 cm, dan kondisi lingkungan yang terkena cahaya matahari secara langsung namun berada di tempat teduh di mana semua variabel ini berlaku untuk semua perlakuan.
3.1.2 Perlakuan
disiram dengan air pada 2 minggu pertama dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh secara normal lalu disiram larutan NaCl 0,70625 M (25 gr NaCl dalam 600 ml air) pada 2 minggu berikutnya untuk melihat perubahan yang terjadi.
Perlakuan ketiga tanaman disiram dengan air pada 2 minggu pertama dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh secara normal lalu disiram larutan NaCl 1,4245 M (50 gr NaCl dalam 600 ml air) pada 2 minggu berikutnya untuk melihat perubahan yang terjadi.
3.2 Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan yang merupakan jawaban sementara. Hipotesis akan lebih baik apabila dilakukan sebelum penelitian. Dalam penelitian “Pengaruh Kadar Garam terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Jagung” peneliti merumuskan 2 hipotesis, yaitu hipotesis nihil (H0) dan
hipotesis alternatif (H1).
Hipotesis nihil (H0) adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada
hubungannya atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain. Pada penelitian ini hipotesis nihil yang dirumuskan peneliti adalah kadar garam (salinitas) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung.
Sementara itu, hipotesis alternatif (H1) adalah hipotesis yang menyatakan
adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain. Pada penelitian ini hipotesis alternatif yang dirumuskan peneliti adalah kadar garam (salinitas) berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung.
3.3 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: - Sekop tanaman (1 buah)
- Botol penyimpan larutan garam (2 botol) (lihat Gambar 3.1 hal. 63)
- Polybag berdiameter 10 – 14 cm (15 kantong) (lihat Gambar 3.2 hal. 63)
Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: - Biji jagung yang baik (15 biji) (lihat Gambar 3.3 hal. 63)
- Garam dapur 1 ons (2 bungkus) (lihat Gambar 3.4 hal. 63)
- Air untuk melarutkan garam (1200 ml)
- Tanah bakar 15 kg (1 karung)
3.4 Langkah Kerja
Dalam penelitian untuk melihat pengaruh kadar garam terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung, peneliti melakukan langkah – langkah sebagai berikut:
a. Alat dan bahan disiapkan termasuk di dalamnya larutan garam dapur. Dua buah larutan yang disiapkan antara lain: larutan 25 gr garam dalam 600 ml air (0,70625 M) dan larutan 50 gr garam dalam 600 ml air (1,4245 M) (lihat Gambar 3.1a dan 3.1b hal. 63).
b. Setiap polybag berjumlah 15 buah diisi dengan tanah bakar 1 kg per polybag (lihat Gambar 3.2 hal. 63).
c. Biji jagung dimasukkan di dalam sebuah wadah berisi air untuk memisahkan bibit jagung yang baik dan yang kurang baik. Bibit yang baik akan tenggelam jika direndam di dalam air.
d. Setiap polybag ditanam 1 buah bibit jagung yang baik sedalam 1 cm.
e. Setiap polybag diletakkan sejajar di tempat yang teduh namun tetap terkena sinar matahari langsung dan disiram setiap 2 hari sekali selama 2 minggu (lihat Gambar 3.2 hal. 63).
f. Untuk 5 tanaman jagung di urutan pertama disiram dengan air setiap 2 hari sekali selama 1 bulan dan perubahannya diamati.
h. Untuk 5 tanaman terakhir, yaitu dari urutan kesebelas sampai kelima belas tanaman disiram dengan larutan garam 1,4245 M selama 2 minggu terakhir dan perubahannya diamati.
3.5 Lokasi Penelitian
Penelitian untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kadar garam (salinitas) terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dilakukan di rumah Saudari Violetta Ardyan Putri yang berlokasi di Jalan Sungai Raya Dalam Kompleks Villa Gading Raya I nomor 10 F.
Alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan kondisi lingkungan yang bersih dan terpapar cahaya matahari langsung namun tetap teduh (di bawah atap) sehingga tidak terkena hujan jadi dari kondisi tersbut, penelitian diharapakan bisa mendapatkan hasil yang optimal. Luasnya lingkungan juga turut menjadi alasan lokasi tersebut dipilih (lihat Gambar 3.2 dan 3.5 hal. 63 dan 64).
3.6 Waktu Penelitian
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1 Tabel dan Grafik Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman
30 51 33 37 30,5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Object 3
Object 7
Object 11
Object 15
Object 20
Object 25
Object 30
Object 34
4.1.2 Tabel dan Grafik Hasil Pengamatan Jumlah Helai Daun
Hari ke-
Jumlah Daun Tanaman (helai)
A B C D E F G H I J K L M N O
26 5 3 2 3 0 5 0 5 0 3 5 0 0 0 0 27 5 3 2 3 0 5 0 5 0 3 5 0 0 0 0 28 5 3 2 3 0 5 0 5 0 3 5 0 0 0 0 29 5 3 2 3 0 5 0 5 0 3 5 0 0 0 0 30 5 3 2 3 0 5 0 5 0 3 5 0 0 0 0
Object 36
Object 40
Object 44
Object 48
Object 52
Object 56
Object 60
Object 64
4.2 Pembahasan
Dari percobaan yang telah dilakukan, terdapat 1 buah tanaman yang mati pada perlakuan pertama, yaitu tanaman E, 2 tanaman yang mati pada perlakuan kedua, yaitu tanaman G dan I, dan 4 tanaman yang mati pada perlakuan ketiga, yaitu tanaman L, M, N, dan O. Kematian ini bisa disebabkan karena bibit yang kurang baik, penanaman biji yang terlalu terbenam di dalam tanah sehingga sebelum daun pertama muncul di permukaan tanah, endosperma telah habis dan tanaman mati. Kematian 6 tanaman tersebut juga bisa disebabkan karena pemberian air yang terlalu banyak, suhu yang terlalu panas, dan adanya gangguan dari binatang kecil.
4.2.1 Pengaruh Salinitas terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung 4.2.1.1 Tinggi tanaman
Dalam 2 minggu berikutnya tanaman F sampai tanaman J yang diberi perlakuan kedua dan tanaman K sampai tanaman O yang diberi perlakuan ketiga terhambat pertumbuhan tingginya, layu, dan akhirnya mati (lihat Gambar 4.2 dan 4.3 hal. 65 - 67). Tanaman F sampai tanaman J yang diberi larutan garam 0,70625 M mulai layu dan mati pada hari ke-22. Tanaman K sampai tanaman O yang diberi larutan garam 1,4245 M mulai layu dan mati pada hari ke-18.
Dari hasil pengamatan peneliti tersebut, hipotesis yang menyatakan bahwa kadar garam (salinitas) dengan NaCl sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Menurut Ratna Yuniati (2004) menyatakan bahwa:
oleh tanaman K sampai O lebih tinggi daripada tanaman F sampai J sehingga plasmolisis juga berlangsung lebih cepat.
4.2.1.2 Helai Daun
Dari hasil pengamatan tersebut, untuk perlakuan pertama jumlah helai daun rata – rata tanaman adalah 3 helai. Untuk perlakuan kedua jumlah helai daun rata – rata tanaman adalah 4 helai dan untuk perlakuan ketiga jumlah helai daun rata – rata tanaman adalah 5 helai. Pada 2 minggu pertama, tanaman tumbuh sehat karena disiram air dan daun tampak berwarna hijau segar (lihat gambar 4.1 hal. 64 dan 65).
Namun, dalam 2 minggu berikutnya tanaman F sampai tanaman J yang diberi perlakuan kedua dan tanaman K sampai tanaman O yang diberi perlakuan ketiga terhambat pertumbuhan tingginya, daunnya layu, dan akhirnya mati (lihat Gambar 4.2 dan 4.3 hal. 65 - 67). Daun tanaman F sampai tanaman J yang diberi larutan garam 0,70625 M mulai layu, menguning, dan mati pada hari ke-22. Daun tanaman K sampai tanaman O yang diberi larutan garam 1,4245 M mulai layu, menguning, dan mati pada hari ke-18.
Dari hasil pengamatan peneliti tersebut, hipotesis yang menyatakan bahwa kadar garam (salinitas) dengan NaCl sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Menurut Itai (1981) hal ini disebabkan oleh “… pada konsentrasi NaCl tinggi mengakibatkan translokasi sitokinin dari akar ke daun terganggu,sehingga sintesis protein dalam daun pun ikut terganggu”.
Sel mengerut, menguning, dan pada akhirnya mati. Gugurnya tanaman K sampai O yang lebih cepat daripada tanaman F sampai J disebabkan karena konsentrasi garam yang diterima oleh tanaman K sampai O lebih tinggi daripada tanaman F sampai J sehingga plasmolisis juga berlangsung lebih cepat.
Walau peran Natrium dalam daun adalah untuk mempertahankan kadar air pada daun, dan klor yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Cl- mempunyai fungsi fisiologis yang
sangat penting dalam proses fotosintesis tanaman terutama pada fase terang, akan tetapi apbila berada dalam jumlah yang begitu banyak pada tumbuhan juga bisa menjadi racun bagi tumbuhan itu sendiri. Gas klor sendiri dikenal sebagai unsur yang memiliki sifat racun, jadi dalam konsentrasi yang begitu besar di dalam tumbuhan, gas klor ini bisa membahayakan tumbuhan tersebut. Konsentrasi NaCl yang berlebih pun bisa menghambat atau mengganggu translokasi hormon sitokinin yang berperan penting pada tumbuhan.
4.2.2 Pengaruh Air terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung 4.2.2.1 Tinggi Tanaman
Dari hasil pengamatan tersebut, untuk perlakuan pertama tinggi rata – rata tanaman adalah 38,875 cm. Untuk perlakuan kedua tinggi rata – rata tanaman sebelum disiram larutan garam adalah 37,1 cm. Sementara itu, untuk perlakuan ketiga tinggi rata – rata tanaman sebelum disiram dengan larutan garam adalah 38 cm. Pada 2 minggu pertama, tanaman tumbuh sehat karena disiram air.
tanaman O yang diberi larutan garam 1,4245 M mulai layu dan mati pada hari ke-18.
Dari hasil pengamatan peneliti tersebut, hipotesis yang menyatakan bahwa air sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Dalam kadar air yang baik dan optimal, pertumbuhan tanaman jagung akan selalu progresif (mengalami peningkatan). Hal ini dikarenakan air sangat penting dalam proses metabolisme tumbuhan, antara lain: untuk proses pengangkutan sari makanan dan zat – zat makanan, air juga sangat penting untuk pergerakan sel, air juga mempertahankan keseimbangan osmotik sel dan turgor sel. Jadi, pemberian air sangat penting dan berpengaruh bagi pertumbuhan tumbuhan.
4.2.2.2 Helai Daun
Dari hasil pengamatan tersebut, untuk perlakuan pertama jumlah helai daun rata – rata tanaman adalah 3 helai. Untuk perlakuan kedua jumlah helai daun rata – rata tanaman adalah 4 helai dan untuk perlakuan ketiga jumlah helai daun rata – rata tanaman adalah 5 helai. Pada 2 minggu pertama, tanaman tumbuh sehat karena disiram air dan daun tampak berwarna hijau segar (lihat gambar 4.1 hal 64 dan 65).
Namun, dalam 2 minggu berikutnya tanaman F sampai tanaman J yang diberi perlakuan kedua dan tanaman K sampai tanaman O yang diberi perlakuan ketiga terhambat pertumbuhan tingginya, daunnya layu, dan akhirnya mati (lihat Gambar 4.2 da 4.3 hal. 65 - 67). Daun tanaman F sampai tanaman J yang diberi larutan garam 0,70625 M mulai layu, menguning, dan mati pada hari ke-22. Daun tanaman K sampai tanaman O yang diberi larutan garam 1,4245 M mulai layu, menguning, dan mati pada hari ke-18.
dan perkembangan tanaman jagung. Dalam kadar air yang baik dan optimal, pertumbuhan tanaman jagung akan selalu progresif (mengalami peningkatan). Hal ini dikarenakan air sangat penting dalam proses metabolisme tumbuhan, antara lain: untuk proses pengangkutan sari makanan dan zat – zat makanan, air juga sangat penting untuk pergerakan sel, air juga mempertahankan keseimbangan osmotik sel dan turgor sel. Jadi, pemberian air sangat penting dan berpengaruh bagi pertumbuhan tumbuhan.
4.2.3 Pengaruh Nutrisi yang Baik terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung
Dari hasil penelitian tersebut, dapat dilihat bahwa pengaruh air dan kadar garam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Tidak hanya air dan garam, masih banyak lagi mineral yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk tumbuh yang sebgain besar diperoleh di tanah, antara lain: Magnesium (Mg), Calsium (Ca), Kobalt (Co), Seng (Zn), dan lain sebagainya.
Seiap garam mineral dan air yang diserap tumbuhan tentu mempunyai manfaat bagi tumbuhan. Bila kekurangan salah satunya, metabolisme tumbuhan pasti akan terganggu sehingga mungkin bisa terjadi kelainan. Bila kelebihan salah satu unsur, tentunya memberikan masalah baru bagi pertumbuhan tumbuhan karena sesutau yang berlebih itu tidak baik malah justru bisa menjadi racun bagi tumbuhan tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kadar garam (salinitas) dengan NaCl berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung, baik tinggi tanamannya dan daunnya. Pada 2 minggu pertama, tanaman tumbuh sehat karena disiram air. Dalam 2 minggu berikutnya tanaman F sampai tanaman J yang diberi perlakuan kedua dan tanaman K sampai tanaman O yang diberi perlakuan ketiga terhambat pertumbuhan tingginya, daunnya layu, dan akhirnya mati. Tanaman F sampai tanaman J yang diberi larutan garam 0,70625 M mulai layu dan mati pada hari ke-22. Tanaman K sampai tanaman O yang diberi larutan garam 1,4245 M mulai layu dan mati pada hari ke-18.
Kematian ini disebabkan karena adanya perbedaan potensial osmotik sel yang cukup besar antara di dalam dan di luar sel tanaman tersebut. Oleh karena itu, plasmolisis pun terjadi. Sel – sel tumbuhan kehilangan air dan mengerut. Itulah sebabnya, tanaman tampak layu dan menguning.
Gugurnya tanaman K sampai O yang lebih cepat daripada tanaman F sampai J disebabkan karena konsentrasi garam yang diterima oleh tanaman K sampai O lebih tinggi daripada tanaman F sampai J sehingga plasmolisis juga berlangsung lebih cepat.
Melalui pembahasan sebelumnya juga dapat disimpulkan bahwa tumbuhan sangat memerlukan air, jadi air memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Pada 2 minggu pertama, tanaman tumbuh sehat karena disiram air.
pada hari ke-22. Tanaman K sampai tanaman O yang diberi larutan garam 1,4245 M mulai layu dan mati pada hari ke-18.
Air sangat penting perannya dalam menjaga kelangsungan metabolisme sel karena hampir 90% isi sel adalah air. Air juga sangat digunakan untuk menjaga keseimbangan osmotik sel. Jadi, kurangnya kadar air juga menjadi faktor penyebab kematian tanaman jagung tersebut.
Tidak hanya air yang dibutuhkan tanaman jagung, garam juga dibutuhkan, baik kandungan natriumnya maupun klornya. Akan tetapi, akan lebih baik bila berada di ambang atas gizi, jangan berlebih ataupun kurang karena tentu memberikan dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung tersebut.
Mineral – mineral lain, seperti Magnesium (Mg), Kobalt (Co), Besi (Fe) dan lain sebagainya juga dibutuhkan tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya namun, semua tetap ada takarannya, jangan berlebih atau kurang. Semua mineral lain yang dibutuhkan oleh tumbuhan diperoleh tanah atau media yang digunakan untuk menanam. Pemberian pupuk juga meruakan salah satu cara untuk memperoleh nutrisi-nutrisi di atas.
5.2 Saran
Setelah peneliti mengulas permasalahan di atas, peneliti ingin menyarankan kepada pembaca khususnya pelajar yang ingin melakukan penelitian ilmiah dalam bidang apapun untuk dilakukan dengan teliti agar hasil yang diperoleh jauh lebih sempurna dan lebih mendekati hasil perhitungan teoritis.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim A. 2012. ”Membran Sel” http://id.wikipedia.org/wiki/Membran_sel (diakses tanggal 15 November 2014)
Anonim B. 2012. ”Tanah” http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah (diakses tanggal 15 November 2014)
Anonim C. 2012. ”Palawija” http://id.wikipedia.org/wiki/ Palawija (diakses tanggal 15 November 2014)
Anonim D. 2012. ”Jagung” http://id.wikipedia.org/wiki/ Jagung (diakses tanggal 15 November 2014)
Anonim E. 2012. ”Tanah” http://id.wikipedia.org/wiki/ Natrium_klorida (diakses tanggal 15 November 2014)
Anonim F. 2012. ”Pengaruh Cahaya terhadap Tanaman” http://www.silvikultur.com/pengaruh_cahaya_terhadap_tanaman.ht ml (diakses tanggal 15 November 2014)
Dhevhy, Vivi. 2012. “Pengaruh Kadar Garam”
http://dhevhy4ever.blogspot.com/2012/04/pengaruh-kadar-garam-terhadap.html (diakses tanggal 15 November 2014)
Gunawan, Ary. 2012. ”Pertumbuhan dan Perkembangan” http://unitedscience.wordpress.com/ipa-2/bab-1-pertumbuhan-dan-perkembangan/ (diakses tanggal 15 November 2014)
Sabban, Indra Fauzi. 2014. “Pengaruh konsentrasi NaCl”
http://infosains48.blogspot.com/2014/02/pengaruh-konsentrasi-nacl-terhadap.html (diakses tanggal 15 November 2014)
LAMPIRAN
Gambar 3.1a Botol 25 gr NaCl Gambar 3.1b Botol 50 gr NaCl
Gambar 3.2 Polybag Gambar 3.3 Biji Jagung
Gambar 3.4 Garam DapurGambar 3.5