• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian ESTIMASI CADANGAN KARBO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hasil Penelitian ESTIMASI CADANGAN KARBO"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

ESTIMASI CADANGAN KARBON TINGKAT POHON PADA AREAL BEKAS TEBANGAN IUPHHK-HA PT. INDEXIM UTAMA KALIMANTAN TENGAH

OLEH :

OSJERLIM SARAGIH CCA 110 001

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN KEHUTANAN

(2)

3.5. Alur Penelitian

Gambar 4. Bagan Alur Penelitian di Hutan Produksi IUPHHK-HA PT. Indexim Utama Pengelolaan Hutan oleh IUPHHK-HA PT. Indexim Utama

Analisis Vegetasi

ABT (2006, 2010, 2014)

Perbandingan Estimasi Karbon LHC dan LHP (2006, 2010, 2014)

(3)

Penelitian yang dilakukan tentang Estimasi Cadangan Karbon Tingkat

Pohon pada Areal Bekas Tebangan ini dilaksanakan di areal IUPHHK-HA

PT. Indexim Utama Kalimantan Tengah dimana bagan alur penelitian yang

dilakukan seperti pada Gambar 4. Objek yang diteliti di lokasi penelitian Hutan

Tropis pada areal hutan produksi ini adalah Areal Bekas Tebangan (ABT) dan

Hutan Primer (Laporan Hasil Cruising).

Areal bekas tebangan yang akan diteliti mencakup areal bekas tebangan

tahun 2006, tahun 2010, dan tahun 2014. Penentuan lokasi ABT ini ditentukan

berdasarkan hasil penetapan dari data LHC dan LHP (Laporan Hasil Produksi).

Analisis vegetasi pada ABT tahun 2006, tahun 2010, dan tahun 2014 mencakup

struktur dan komposisi yang akan dianlisis dengan indeks nilai penting (INP).

Pertumbuhan vegetasi tingkat pohon ini selanjutnya akan diteliti atau diduga

estimasi biomassanya di atas dan di bawah permukaan tanah dengan

menggunakan metode non destruktif atau metode tidak langsung. Hasil data

pendugaan biomassa vegetasi tingkat pohon akan digunakan dalam menganalisis

pendugaan cadangan karbonnya.

Pendugaan cadangan biomassa di atas dan di bawah permukaan tanah juga

dilakukan perhitungan yang mengacu pada hasil dari data LHC dan LHP dengan

metode non-destruktif atau metode tidak langsung. Selanjutnya hasil data

biomassa tersebut akan dilakukan perhitungan pendugaan cadangan karbonnya.

Setelah semua hasil data biomassa dan karbon pada ABT, dan LHC dan LHP

telah diperoleh, selanjutnya akan dibuat perbandingan estimasi biomassa dan

(4)

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Letak dan Luas

Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA)

PT. Indexim Utama secara geografis areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan

Kayu PT. Indexim Utara terletak pada 115°54’00”-116°00’00” Bujur Timur dan

0°46’00” - 0°56’00” Lintang Selatan. Batas-batas areal IUPHHK-HA

PT. Indexim Utama antara lain :

 Utara : Kawasan KPP dan HPH PT. Austral Byna

 Timur : HPH PT. Alas Kusuma

 Selatan : Hutan Lindung Lampeong

 Barat : HPH PT. Sindo Lumber

Areal IUPHHK-HA PT. Indexim Utama secara administrasi Kehutanan

terletak di Kelompok Hutan Sungai Mea-Sungai Kecamatan Gunung Purei,

Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 806/Kpts-VI/1999

tanggal 30 September 1999 PT. Indexim Utama adalah suatu perusahaan dengan

Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dari Hutan Alam (IUPHHK-HA)

memilik luas areal ± 52.480 ha.

4.2. Sejarah Pengelolaan Hutan

PT. Indexim Utama adalah suatu perusahaan swasta nasional, dibidang

pengelolaan hutan, yang telah diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk

mengelola areal hutan dalam bentuk Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu

(5)

Areal IUPHHK-HA PT. Indexim Utama terletak di Kabupaten Barito

Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, kegiatan usahanya dimulai pada tahun 1977

berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 630/Kpts/Um/10/1977 Tanggal:

29 Oktober 1977 dengan luas 73.000 Ha.

Seiring dengan berakhirnya masa izin konsesi pertama makan pada tahun

1999 PT. Indexim Utama mendapatkan izin perpanjangan pengusahaan hutan

melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 806/Kpts-VI/1999 tanggal

30 September 1999 dengan luas areal 52.480 ha, selama 55 tahun dan akan

berakhir pada tanggal 28 Oktober 2052. Kegiatan pengelolaan hutan dilakukan

sejak tahun 1977 sampai sekarang dengan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia

(TPTI).

4.3. Kondisi Fisik 4.3.1. Iklim

Data hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi Beringin Muara Teweh

Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2009, curah hujan bulanan rata-rata

25,3 mm dengan hujan rata-rata bulanan 16 hari, temperatur udara rata-rata

bulanan maksimum ±26,4°C dengan kelembaban udara rata-rata bulanan 84%

dengan kecepatan angin rata-rata bulanan 4,5 knot.

4.3.2. Topografi

Data hasil pelaksanaan Inventarisasi Hutan Menyuruh Berkala (IHMB)

menunjukkan bahwa pada titik plot contoh di lapangan terdapat kelas lereng E,

namun demikian lokasi tersebut masih dalam bentuk spot-spot dan tidak kompak.

(6)

Bentuk skala 1:50.000. Berdasarkan acuan tersebut, topografi pada areal PT.

Indexim Utama bervariasi dari datar sampai curam, dengan ketinggian antara

50-650 m diatas permukaan laut.

4.3.3. Tanah

Data RKUPHHK-HA PT. Indexim Utama (2008) yang didasarkan pada

Peta Jenis Tanah Provinsi Kalimantan Tengah Skala 1:750.000 yang telah ditinjau

kembali berdasarkan Hasil Survei Lapang Intensitas 1% (2003): dan diverifikasi

ulang dengan Peta Land System and Land Suitablity skala 1:250.000 yang

diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaaan Nasional, areal kerja

PT. Indexim Utama terdiri dari 2 (dua) kelompok tanah sebagaimana disajikan

pada Tabel 1.

Tabel 1. Sebaran Tanah Areal IUPHHK-HA PT. Indexim Utama

No. Jenis Tanah (USDA,1990/PPT,1993)

Luas

Ha %

1 Podsolik Merah Kuning (PMK) 21.642 41,00

2 Terinklusi Latosol (Tla) 31.018 59,00

Jumlah 52.480 100

Sumber : PT. Indexim Utama 2001 4.4. Flora dan Fauna

4.4.1. Kondisi Vegetasi

Fungsi hutan areal kerja PT. Indexim Utama berdasarkan Lampiran Surat

Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 806/Kpts-VI/1999 tanggal

30 September 1999 terdiri atas Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan

Produksi Tetap (HPT). Adapun luasan areal berdasarkan fungsinya disajikan pada

(7)

Kondisi penutupan lahan berdasarkan Peta Citra Landsat 5 TM Path 117

Row 61 liputan tanggal 2 Maret 2011. Kondisi tutupan lahan didominasi areal

berhutan berupa fungsi hutan di areal IUPHHK-HA PT. Indexim Utama disajikan

pada Tabel 2.

Sumber : PT. Indexim Utama 2001.

Berdasarkan laporan pelaksanaan IHMB di areal IUPHHK-HA

PT. Indexim Utama, jumlah jenis pohon yang berhasil di identifikasi pada saat

pelaksanaan IHMB adalah 102 jenis pohon dengan rincian sebagai berikut :

a) Jenis meranti dipterocarpaceae sebanyak 10 jenis pohon dan jenis meranti

non dipterocarpaceae sebanyak 5 jenis pohon,

b) Jenis rimba campuran sebanyak 76 jenis pohon,

c) Jenis kayu indah sebanyak 5 jenis pohon, dan

d) Jenis kayu dilindungi sebanyak 6 jenis pohon. Sedangkan jenis pohon yang

dimanfaatkan oleh PT. Indexim Utama sebanyak 18 jenis pohon.

Jenis-jenis yang dominan di areal PT. Indexim Utama antara lain meranti

(Shorea spp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Biwan, Bangkirai (Shorea teysmani),

(8)

4.4.2. Identifikasi Satwa Liar

Aspek pengelolaan dalam lingkungan unit manajemen PT. Indexim Utama

telah menetapkan beberapa areal sebagai kawasn lindung (Kawasan Pelestarian

Plasma Nuftah (KPPN), Sempadan sungai, dll). Dalam rangka perlindungan

terhadap fauna/satwa liar dilindungi telah dilakukan kegiatan inventarisasi atau

pendataan yang lokasi kegiatannya dilaksanakan di areal blok RKT 2012 (virgin

forest) dan blok RKT 2009 (Logged Over Area/LOA). Seperti yang kita ketahui

bersama bahwa makhluk hidup tidak selalu mempunyai kerapatan (density) yang

sama dalam ruang dan waktu. Ada jenis yang pada suatu saat tersebar keraptan

yang tinggi, tetapi pada saat yang lain menciut dan sulit dijumpai. Adanya

fenomena ini membuat makhluk hidup bersifat endemik (tersebar jarang) dan

menjadi relik (tersisa).

Jenis satwa yang termasuk status dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun

1999 adalah sebanyak 19 jenis, sedangkan berdasarkan status kelangkaan IUCN

Red List ditemukan sebanyak 5 jenis dengan kategori rentan VU (Vurnerable),

4 jenis kategori terancam punah CR (Critycally Risk endangered), sebanyak

5 jenis Resiko Rendah LR (Lower Risk). Beberapa jenis ada yang belum

terindetifikasi karena kekurangan data DD (Data defecient) sebanyka 9 jenis.

Erdasarkan IUCN ada 5 jenis Apendiks 1, 25 jenis Apendiks II dan 2 jenis

termasuk Apendiks III. Pada areal blok RKT 2012 (virgin forest) populasi

fauna/satwa berjumlah 795 ekor jumlahnya lebih banyak bila dibandingkan di

(9)

4.5. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya 4.5.1. Kependudukan

Data dari BPS tahun 2010, Kecamatan Gunung Purei berada dalam

wilayah Kabupaten Barito Utara. Kecamatan ini memiliki luas sebesar 1.468 ha

dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 2.693 jiwa, laki-laki 1.399 jiwa dan

perempuan 1.294 jiwa.

4.5.2. Mata Pencaharian

Data statistik Kabupaten Barito Utara dalam Angka (2010) menunjukkan

bahwa sebagian besar penduduk di Kabupaten Barito Utara yag berusia 15 tahun

ketas bekerja di sektor pertanian dan sebagian kecil di sektor industri.

4.5.3. Agama dan Kepercayaan

Kebiasaan kehidupan sosial gotong royong masih berlaku dengan baik

seperti pembuatan taman, tempat ibadah, upacara pengantin, upacara kematian,

tanam padi dan sebagainya. Seni tradisional yang masih dipelihara adalah

tai giring-giring dan mandailing.

Agama yang dipeluk di Kabupaten Barito Utara adalah mayoritas Agama

Islam. Desa binaan Agama Islam banyak dianut oleh masyarakat

Desa Lampeong II, Agama Kristen banyak oleh masyarakat desa Payang dan

Berong, sedangkan Agama Hindu Kharingan banyak dianut oleh warga

(10)

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Komposisi dan Struktur Vegetasi

Komposisi dinyatakan sebagai kekayaan floristik hutan. Kekayaan floristik

hutan tropika erat hubungan dengan kondisi lingkungan seperti iklim, tanah dan

cahaya, dimana faktor-faktor tersebut membentuk suatu tegakan klimaks

(Mueller-Dombois dan Elenberg (1974) dalam Junaedi, 2007). Struktur vegetasi

merupakan susunan bentuk dari suatu vegetasi yang merupakan karakteristik

vegetasi kompleks yang dapat digunakan dalam penentuan struktur vertikal dan

horizontal (Richard, 1966).

5.1.1. Komposisi Vegetasi

Komposisi vegetasi penyusun tegakan hutan dalam penelitian ini meliputi

jumlah jenis, kerapatan tegakan dan kondisi dominansi dari suatu jenis yang

dinyatakan dalam Indeks Nilai Penting (INP).

Jumlah jenis tegakan tinggal tingkat pohon yang diidentifikasi di lapangan

dengan luasan masing-masing 1 ha pada Areal Bekas Tebangan (ABT) berkisar

23-28 jenis. Data jumlah jenis yang ditemukan di lokasi penelitian dapat dilihat

pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah Jenis Tingkat Pohon yang Diidentifikasi di Lokasi Penelitian pada Areal Bekas Tebangan

(11)

Tabel 3 diketahui bahwa jumlah jenis yang ditemukan pada lokasi

penelitian pada ABT tahun 2006, 2010 dan 2014 tidak jauh berbeda. Areal bekas

tebangan tahun 2006 jumlah jenis pohon yang ditemukan berbeda 1 jenis pohon

dengan ABT tahun 2010 dan berbeda 4 jenis pohon dengan ABT tahun 2014.

Teknik RIL (Reduce Impact Logging) yang diterapkan pada ABT tahun 2010 dan

tahun 2014 berpengaruh besar terhadap tingkat kerapatan pohonnya dibandingkan

dengan ABT tahun 2006 yang masih menerapkan teknik konvensional. Perbedaan

ini dikareankan pada ABT tahun 2006 yang menerapkan teknik konvensional

keterbukaan areal bekas tebangan, jalan sarad, dan penebangan yang dilakukan

sangat besar. Hal inilah yang mempengaruhi suksesi pertumbuhan pohon pada

lokasi penelitian berbeda.

Lokasi penelitian masih dalam wilayah dan areal hutan yang kondisinya

relatif sama, sehingga jenis tingkat pohon ditemukan pada lokasi ABT tidak jauh

berbeda. Kerapatan vegetasi pada tingkat pohon di lokasi penelitian yang

dilakukan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kerapatan Vegetasi Tingkat Pohon yang Ditemukan di Lokasi Penelitian

Lokasi Kerapatan (N/ha)

ABT 2006 154

ABT 2010 203

ABT 2014 140

Kerapatan vegetasi tingkat pohon pada areal bekas tebangan tahun 2006,

tahun 2010, dan tahun 2014 memliki jumlah yang bervariasi. Jumlah vegetasi

tingkat pohon tertinggi pada ABT tahun 2010. Tingginya jumlah vegetasi pada

ABT tahun 2010 dipengaruhi oleh tingginya jumlah vegetasi setelah penebangan

(12)

tegakan tinggal yang berdiameter dibawah 50 cm. Sistem silvikultur dengan

teknik RIL yang diterapkan pada ABT tahun 2010 salah satu faktor peningkatan

pertumbuhan pada tegakan tinggal yang ada. Lokasi ABT tahun 2006 yang masih

dalam tahap percobaan dilakukannya teknik RIL sehingga ada pengaruh terhadap

perbedaan kerapatan.

Besar kecilnya jumlah kerapatan pada lokasi penelitian ini dipengaruhi

oleh pertumbuhan vegetasi tingkat pohon yang ada. Cepat atau lambatnya

pertumbuhan vegetasi setelah penebangan menjadi penentu besarnya jumlah

vegetasi tingkat pohon. Diketahui bahwa setiap tumbuhan memiliki nilai toleransi

dan faktor pembatas terhadap lingkungan. Irwan (1992), menyatakan bahwa

faktor yang menghentikan pertumbuhan dan penyebaran dari organisme disebut

faktor pembatas. Untuk dapat bertahan hidup dalam keadaan tertentu, suatu

organisme harus memiliki bahan-bahan yang penting seperti nutrisi untuk

pertumbuhan dan berkembangbiak. Kehadiran dan keberhasilan organisme

tergantung kepada lengkapnya kebutuhan yang diperlukan, termasuk unsur-unsur

lingkungan yang kompleks (suhu, kelembaban, dan cahaya).

Dominansi dari suatu jenis di lokasi areal bekas tebangan disajikan dalam

bentuk Indeks Nilai Penting (INP) tingkat pohon pada Tabel 5. Soerianegara dan

Indrawan (2005), menyatakan bahwa jenis-jenis yang mempunyai peranan pada

suatu komunitas dicirikan oleh nilai penting yang tinggi karena merupakan jumlah

(13)

Tabel 5. Indeks Nilai Penting (INP) Lima Jenis Vegetasi Tingkat Pohon Dominan di Areal Bekas Tebangan PT. Indexim Utama

Lokasi Ranking Nama Jenis Nama Latin INP (%)

ABT 2006

1 Meranti Merah Shorea leprosula 51,56

2 Jambu-jambu Syzygium sp. 38,93

3 Laja Quercus sp. 34,83

4 Meranti Putih Shorea hopeifolia 25,79

5 Kelat Eugenia kuranda 17,35

ABT 2010

1 Meranti Merah Shorea leprosula 105,05

2 Wayan Elaterospermum tapos 38,25

3 Jambu-jambu Syzygium sp. 23,59

4 Nyatoh Palaquium sp. 20,36

5 Medang Litsea firma 13,20

ABT 2014

1 Jambu-jambu Syzygium sp. 34,54

2 Meranti Merah Shorea leprosula 31,44 3 Terap Arthocarpus elasticus 19,00 4 Jabon Anthopcephalus chinensis 17,93

5 Wayan Elaterospermum tapos 17,47

Data pada Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa pada Areal Bekas Tebangan (ABT) tahun 2006 petak 20-J dan ABT tahun 2010 petak 23-J jenis

pohon yang mendominasi adalah jenis Meranti Merah (Shorea leprosula) dengan INP menduduki ranking pertama yaitu sebesar 51,56% dan 105,05%. Sedangkan

pada ABT 2014 petak 25-M jenis pohon yang mendominasi adalah jenis

Jambu-jambu (Syzygium sp.) sebesar 34,54% dan Meranti Merah (Shorea leprosula) sebesar 31,44%. Masing-masing lokasi penelitian pada ABT didominansi jenis

Meranti Merah (Shorea leprosula), hal ini dapat disebabkan oleh keadaan tanah yang subur, curah hujan yang baik serta adanya jenis indukan tegakan tinggal

jenis Meranti Merah (Shorea leprosula) yang mendominansi pada areal tersebut. Sistem silvikultur TPTI yang diterapkan pada lokasi penelitian dengan limit

diameter pohon yang ditebang ≥ 50 cm mempengaruhi jumlah jenis Meranti

(14)

Jenis vegetasi tingkat pohon pada ABT banyak ditemukan jenis Meranti

Merah dan Jambu-jambuan dibandingkan jenis pohon lainnya. Jenis vegetasi

tingkat pohon yang berbeda pada setiap ABT di lokasi penelitian ini antara lain

jenis Amulalin (Shorea obscurata), Beringin (Ficus benjamina),

Kapol (Baccaurea sp. Lour), Kayu Raja (Endospermum sp.), Langsat (Aglaia

tomentosa), Papuan, Saliar, Semeah, Ulin (Eusyderoxylon zwageri). Perbedaan

jenis vegetasi yang ada pada setiap ABT disebabkan karena perbedaan indukan

yang tinggal dan unsur tanah yang dimiliki setiap areal. Pernyebaran benih oleh

hewan dan faktor penebangan bisa menjadi salah satu faktor penyebab perbedaan

jenis vegetasinya, begitu juga dengan kesamaan sebagian jenis yang ada dan

mendominansi.

Astuti (2009), menyatakan bahwa pertumbuhan selain dipengaruhi oleh

faktor genetik juga dipengaruhi oleh interaksinya dengan lingkungan. Pengaruh

lingkungan terdiri dari faktor tanah, iklim, mikroorganisme, kompetisi dengan

organisme lainnya. Lebih lanjut Daniel et al. (1992) menambahkan bahwa

pertumbuhan juga dipengaruhi oleh zat-zat organik yang tersedia, kelembaban,

sinar matahari, tersedianya air dalam tanah dan proses fisiologi tumbuhan

tersebut.

5.1.2. Struktur Vegetasi

Struktur vegetasi dalam penelitian ini terdiri dari struktur horizontal dan

vertikal. Struktur horizontal adalah distribusi spasial populasi jenis dan individu

(sebaran kelas diameter terhadap kerapatan vegetasi). Struktur vertikal adalah

(15)

kerapatan vegetasi). Struktur vegetasi berdasarkan sebaran kelas diameter di

lokasi penelitian disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Struktur Horizontal Tegakan Pohon Berdasarkan Sebaran Kelas Diameter Tingkat Pohon di Hutan Areal Bekas Tebangan (ABT)

Kelas Diameter

penelitian menyebar dalam setiap kelas diameter pada tingkat pohon. Vegetasi di

ABT tahun 2010 mendominasi hampir semua kelas diameter, hanya ada

persamaan jumlah dengan ABT tahun 2006 pada kelas diameter ≥ 60 cm. Hal ini

menunjukkan bahwa kerapatan vegetasi pada ABT tahun 2010 sangat tinggi,

selain itu faktor kesuburan tanah dan kekayaan jenis menjadi faktor utama tegakan

tinggal sangat tinggi dibandingkan dengan lokasi penelitian lainnya. Sedangkan

kerapatan vegetasi ABT tahun 2006 tidak jauh berbeda dengan kerapatan vegetasi

ABT tahun 2014. Perbedaan jumlah kerapatan vegetasi tingkat pohon pada kelas

diameter di lokasi penelitian ini dipengaruhi oleh lingkungan tempat tumbuhnya,

seperti kelembaban dan suhu, tidak mampu bersaing atau kalah berkompetisi

dalam perebutan unsur hara, sinar matahari dan ruang tumbuh dengan vegetasi

lainnya sangat mempengaruhi pertumbuhan dari diameter batang pohon.

Adanya dominansi pohon pada kelas diameter batang dibawah diameter 50 cm

(16)

Krebs (1985) menyatakan bahwa hutan pegunungan sangat dipengaruhi

oleh suhu, kelembaban tanah dan udara serta angin, dimana dengan naiknya

ketinggian temperatur menurun, curah hujan meningkat dan kecepatan angin juga

meningkat sangat mempengaruhi kelembaban udara.

Sistem silvikultur yang diterapkan sangat mempengaruhi tegakan tinggal

yang ada. Pelaksanaan sistem TPTI dengan mengacu pada pemanenan hutan

ramah lingkungan atau Reduce Impact Logging (RIL) di PT. Indexim Utama

menjadi faktor utama kerapatan tegakan tinggal yang ada, dimana pada kelas

diameter limit yang ditebang adalah ≥ 50 cm. Selain itu, hal yang perlu

diperhatikan juga yaitu faktor-faktor lain seperti penyaradan dan jalan sarad,

pembuatan sodetan setelah penyaradan selesai, kerusakan tegakan tinggal akibat

penebangan, penebangan yang benar dan hal lainnya. Whitmore (1984)

menyatakan bahwa kegiatan penebangan pohon yang intensif berpengaruh serius

terhadap struktur vegetasi hutan. Penerapan teknik RIL mempengaruhi kerapatan

pohon tinggal setelah penebangan. Penelitian yang dilakukan pada ABT tahun

2010 dan tahun 2014 yang telah menerapkan teknik RIL memilki kerapatan

tegakan tinggal yang cukup tinggi dibandingkan dengan teknik konvensial pada

ABT tahun 2006. Perbedaan ini terlihat jelas dari kerapatan yang dimiliki pada

masing-masing lokasi penelitian berdasarkan struktur vegetasi horizontal dan

vertikal. Semakin kecil kerusakan hutan akibat penebangan yang dilakukan maka

semakin besar kerapatan vegetasi tegakan tinggal yang ada. Penerapan teknik RIL

(17)

Gambar 5. Struktur Horizontal Tegakan Pohon pada ABT di Lokasi Penelitian

Gambar 5 di atas tampak jelas bahwa struktur tegakan pada setiap lokasi

penelitian tidak jauh berbeda, yaitu sama-sama berbentuk kurva huruf J-terbalik.

Perbedaanya hanya terletak pada tingkat kerapatan di setiap kelas diameternya.

Korelasi negatif terjadi antara kerapatan dengan kelas diameter, dimana semakin

besar diameter batang maka tingkat kerapatan semakin menurun.

Hal ini merupakan suatu karakteristik tegakan hutan alam yang tidak seumur

dimana kurva struktur dari tegakannya bersifat eksponensial negatif sehingga

(18)

Tabel 7 di atas dan Gambar 6 menunjukkan bahwa struktur vertikal

tegakan di lokasi penelitian pada berbagai areal bekas tebangan berdasarkan

hubungan antara jumlah pohon dengan kelas tinggi pohon bebas cabang,

didominasi oleh pohon dengan kelas tinggi 15-19 m (51-96 individu/ha).

Sedangkan untuk kelas tinggi 10-14 m (37-68 individu/ha), pada kelas tinggi

20-24 m (12-53 individu/ha) dan ≥ 25 m (2-8 individu/ha). Kegiatan penebangan

yang dilakukan secara intensif mempengaruhi tegakan tinggal dengan kelas tinggi

15-19 m masih mendominasi.

Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan tetumbuhan secara

vertikal di dalam suatu komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan. Dimana

stratifikasi diperoleh dari pengukuran tinggi pohon di lapangan. Dari ketiga lokasi

penelitian ini mempunyai lapisan atau stratifikasi yang menyusun adalah stratum

B dan stratum C, yaitu lapisan tajuk (kanopi) yang dibentuk oleh pepohonan yang

tingginya 20-30 cm dan 5-20 cm.

Perbedaan pada tegakan tinggal dengan kelas tinggi 5-9 m terdapat pada

Tabel 7 dan Gambar 6, dimana pada ABT tahun 2006 petak 20-J menjadi tegakan

pohon dengan kelas tinggi yang mendominasi dibandingkan dengan ABT 2010

dan ABT 2014 dengan jumlah pohon 27 individu/ha. Perbedaan ini kemungkinan

disebabkan oleh penerapan metode RIL yang berbeda, dimana diketahui bahwa

pada ABT 2006 belum sepenuhnya dilakukan RIL dalam proses kegiatan

pemanenannya atau masih tahap percobaan. Sehingga pertumbuhan vegetasi

(19)

jumlah tegakan tinggal dan indukan tegakan tinggal yang ada juga menjadi salah

satu faktornya.

Gambar 6. Diagram Struktur Vertikal Tegakan pada Hutan Areal Bekas Tebangan (ABT) Tahun 2006, 2010 dan 2014

Indrayanto (2006), menyatakan bahwa pada tipe ekosistem hutan hujan

tropis, stratifikasi itu terkenal dan lengkap. Stratifikasi terjadi karena hal penting

yang dimiliki atau dialami oleh tetumbuhan dalam persekutuan hidupnya dengan

tumbuhan lainnya, yaitu akibat persaingan antar tumbuhan. Umumnya didalam

suatu masyarakat hutan terjadi persaingan antar spesies pohon yang mampu

(20)

Keterbukaan areal hutan akibat penebangan akan mempengaruhi stratifikasi hutan.

Pengelolaan hutan lestari dengan penerapan metode RIL diharapkan memperkecil

keterbukaan areal hutan.

5.2. Biomassa Vegetasi di Atas dan di Bawah Permukaan Tanah 5.2.1. Biomassa Vegetasi pada Areal Bekas Tebangan

Pendugaan cadangan biomassa vegetasi di atas dan di bawah permukaan

tanah pada penelitian ini menggunakan pendekatan diameter pohon dan kerapatan

kayu. Data kerapatan kayu untuk setiap jenis pohon dapat dilihat pada

Lampiran 1.

Tabel 8. Potensi Biomassa di Atas dan di Bawah Permukaan Tanah pada Areal Bekas Tebangan (ABT)

Bap : Biomassa di atas permukaan tanah B-Total : Biomassa Total Bbp : Biomassa di bawah permukaan tanah

Cadangan biomassa di atas dan di bawah permukaan tanah paling tinggi

terdapat pada ABT tahun 2010 petak 23-J (732,94 ton/ha), kemudian ABT tahun

2006 petak 20-J (710,17 ton/ha) dan ABT tahun 2014 petak 25-M (510,21 ton/ha).

Tingginya biomassa pada vegetasi tingkat pohon dipengaruhi oleh besarnya

ukuran diameter dan tinggi pohon di masing-masing lokasi, dan kerapatan

vegetasi tingkat pohon yang mendominasi pada ABT tersebut. Selain itu adanya

penambahan diameter pohon dari tahun ketahun juga mempengaruhi cadangan

(21)

alami pohon yang hidup dan tumbuh atau biasa dikenal dengan istilah riap.

Perbedaan berat jenis (BJ) kayu pada setiap vegetasi tingkat pohon juga dapat

mempengaruhi potensi cadangan biomassa. Hairiah dan Rahayu (2007)

menyatakan perbedaan perolehan biomassa dipengaruhi oleh kerapatan vegetasi,

keragaman ukuran diameter dan sebaran berat jenis kayu vegetasinya, dimana

penggunaan lahan yang pohonnya mempunyai nilai kerapatan kayu tinggi,

biomassanya akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan lahan yang kerapatan

pohonnya rendah.

Cadangan biomassa pada ABT tahun 2010 (Tabel 8) tidak jauh berbeda

dibandingkan ABT tahun 2006. Hal ini dipengaruhi oleh faktor kerapatan vegetasi

berdasarkan kelas diameter dan kelas tinggi yang didominasi ABT tahun 2010.

Besarnya biomassa pada masing-masing petak ukur akan dipengaruhi oleh jenis

pohon, jumlah dan diameter (Rizon, 2005). Penerapan teknik RIL yang sudah

berjalan dengan baik pada ABT tahun 2010 menyebabkan tingkat kerapatan

vegetasi atau tegakan tinggal yang dimiliki cukup baik dibandingkan dengan masa

percobaan penerapan teknik RIL pada ABT tahun 2006 petak 20-J.

Kusmana (2005) menyatakan bahwa variasi besarnya biomassa dipengaruhi oleh

umur tegakan, sejarah perkembangan vegetasi, komposisi dan struktur tegakan,

selain itu faktor iklim (curah hujan dan suhu). Langi (2011) mengatakan biomassa

akan meningkat sampai umur tertentu (umur dinyatakan oleh perwakilan kelas

diameter) dan kemudian pertambahan akan semakin menurun sampai akhirnya

berhenti berproduktifitas (mati). Hasil penelitian Tresnawan dan Rosalina (2002)

(22)

yang disebabkan oleh kegiatan pemanenan hutan mengakibatkan pengurangan

biomassa dalam jumlah yang sangat besar, yaitu ±100 ton/ha di hutan alam

dataran rendah (lahan kering).

Komunitas tumbuhan hutan memiliki kemampuan untuk mengalami

perubahan, baik yang disebabkan oleh adanya aktivitas alam maupun manusia.

Aktivitas manusia yang berkaitan dengan upaya memanfaatkan hutan sebagai

salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan kondisi komunitas tumbuhan

yang ada didalamnya. Indrayanto (2006), menyatakan bahwa aktivitas manusia

dalam hutan yang bersifat merusak komunitas tumbuhan misalnya penebangan

pohon, pencurian hasil hutan, perladangan liar, pengembalaan liar, pembakaran

hutan, dan perambahan dalam kawasan hutan.

Lasco (2002) menyatakan bahwa aktifitas pemanenan kayu di hutan tropis

Asia akan menurunkan cadangan karbon antara 22-67%. Kegiatan pemanenan

kayu mengakibatkan terjadinya kerusakan tegakan tinggal. Perhitungan biomassa

kerusakan IUPHHK Pra-SFM menggunakan persentase kerusakan tegakan hasil

studi Elias (2002) dan potensi biomassa dari hasil pengukuran di lokasi penelitian.

Pendekatan persentase kerusakan tegakan IUPHHK Pra-SFM (Sustanaible Forest

Management) berdasarkan persentase kerusakan pada blok tebangan yang

melakukan pemanenan dengan metode konvensional (Fitri, 2013).

5.2.2. Biomassa Vegetasi Berdasarkan Laporan Hasil Cruising (LHC) dan Laporan Hasil Penebangan (LHP)

Potensi cadangan biomassa vegetasi tingkat pohon berdasarkan data LHC

disajikan pada Tabel 9. Data LHC menjadi pembanding dengan biomassa pada

(23)

Tabel 9. Potensi Cadangan Biomassa Vegetasi Tingkat Pohon Berdasarkan Data

Bap : Biomassa di atas permukaan tanah B-Total : Biomassa total Bbp : Biomassa di bawah permukaan tanah

Cadangan biomassa vegetasi tingkat pohon berdasarkan data LHC di atas

dan di bawah permukaan tanah berkisar 480,65-830,88 ton/ha.

Cadangan biomassa tingkat pohon berdasarkan data LHC berbeda disebabkan

jumlah vegetasi atau kerapatan vegetasi tigkat pohon dan besar atau kecilnya

tingkat pertumbuhan (kelas tinggi dan diameter) yang ada pada setiap lokasi.

Diketahui bahwa semakin tingginya jumlah jenis, ukuran diameter dan tinggi

pohon akan mempengaruhi potensi cadangan biomassanya.

Keadaan geografis dan struktur tanah juga dapat mempengaruhi

keanekaragaman jenis dan jumlah vegetasi tingkat pohon, sehingga potensi

cadangan biomassa yang dimliki berbeda pada setiap lokasi. Perbedaan berat jenis

(BJ) kayu pada setiap vegetasi tingkat pohon juga dapat mempengaruhi potensi

cadangan biomassa.

Hutan dataran rendah menyimpan sebagian besar karbon daratan.

Vegetasi hutan menyerap karbon dioksida melalui aktifitas fotosintesis dan

mampu menyimpan sekitar 76–78% karbon organik dari total karbon organik

daratan dalam bentuk biomassa (Kun and Dongsheng, 2008 dalam Suwardi et al.,

(24)

potensi biomassa tumbuhan sebesar 131,92 ton/ha (Bismark et al., 2008a),

hutan gambut Kalimantan Tengah memiliki biomassa sebesar 600 ton/ha (Ludang

dan Jaya, 2007), hutan primer di dusun Aro, Jambi memiliki biomassa sebesar

366,95 ton/ha. Penelitian ini cadangan biomassa yang dimiliki cukup tinggi

dibandingkan dengan hutan primer di Siberut (Sumatra Barat) dan dusun Aro

(Jambi).

Tabel 10. Potensi Cadangan Biomassa Vegetasi Tingkat Pohon Berdasarkan Data LHP Tahun 2006, 2010 dan 2014

Lokasi Biomassa (Ton/ha)

Bap : Biomassa di atas permukaan tanah B-Total : Biomassa total Bbp : Biomassa di bawah permukaan tanah

Potensi cadangan biomassa vegetasi tingkat pohon berdasarkan data LHP

tahun 2006, 2010, dan 2014 menunjukkan trend yang semankin meningkat.

Cadangan biomassa di atas dan di bawah permukaan tanah berdasarkan data LHP

ini berkisar 83,04-154,76 ton/ha. Penebangan pohon akan mempengaruhi

biomassa yang ada di dalam hutan. Tegakan pohon yang ditebang akan

mengurangi jumlah biomassa yang ada di dalam hutan sebelum penebangan

dilakukan.

Tabel 11. Potensi Cadangan Biomassa Vegetasi Tingkat Pohon Berdasarkan Pengurangan dari Data LHC-LHP Tahun 2006, 2010 dan 2014

Lokasi Perubahan Biomassa LHC-LHP (Ton/ha)

LHC LHP LHC-LHP

2006 830,88 83,04 747,84

2010 746,43 122,56 623,87

(25)

Cadangan biomassa total berdasarkan pengurangan data LHC dengan LHP

di atas permukaan tanah berkisar 480,65-830,88 ton/ha, sedangkan biomassa di

bawah permukaan tanah berkisar 83,04-154,76 ton/ha. Perubahan potensi

cadangan biomassa total di atas dan di bawah permukaan tanah berdasarkan data

LHC dikurangi dengan data LHP pada tahun 2006, 2010 dan 2014 masih cukup

tinggi berkisar 325,89-747,84 ton/ha. Biomassa total hasil pengurangan data LHC

dengan data LHP tersebut merupakan estimasi cadangan biomassa yang ada di

hutan.

Pohon merupakan vegetasi yang memberikan sumbangan terbesar

terhadap cadangan biomassa di atas permukaan tanah, baik di hutan primer

maupun di areal bekas tebangan. Penelitian ini menjadikan data LHC sebagai

hutan primer, karena data LHC merupakan hasil inventarisasi sebelum

penebangan atau dianggap sebagai hutan primer. Pembanding dari data LHC yaitu

data LHP. Data LHP diambil untuk menduga seberapa besar potensi biomassa

sesudah penebangan, sehingga dapat dilakukan perhitungan perubahan potensi

biomassa sebelum penebangan (LHC) dan setelah dilakukan penebangan (LHP).

Potensi cadangan biomassa sebelum dan sesudah penebangan berpengaruh

kepada besarnya jumlah pohon yang ditebang, kerusakan tegakan, pengelolaan

hutan yang dilakukan setelah penebangan, dan pelaksanaan teknik RIL yang tepat.

Cadangan biomassa di dalam hutan tinggi setelah dilakukan penebangan menjadi

gambaran bahwa pengelolaan hutan sudah baik. Semakin tinggi potensi cadangan

(26)

Tabel 12. Perbandingan Potensi Cadangan Biomassa Total pada ABT dan

Data LHC-LHP pada tahun 2006 cadangan biomassa totalnya lebih tinggi

dibandingkan dengan cadangan biomassa total pada ABT. Tingginya cadangan

biomassa pada tahun 2006 berdasarkan data LHC-LHP disebabkan rendahnya

volume penebangan yang dilakukan pada tahun tersebut. Volume pohon yang

ditebang akan mempengaruhi jumlah cadangan biomassa yang ada dalam hutan,

semakin tinggi jumlah volume tebangan yang terbawa dari hutan maka cadangan

biomassa yang ada di dalam hutan akan berkurang. Cadangan biomassa

berdasarkan data LHC tahun 2006 lebih tinggi dari tahun lainnya, sedangkan

berdasarkan data LHP tahun 2006 lebih rendah dari tahun lainnya.

Hasil perhitungan ini didasarkan pada jumlah volume pohon yang diinventarisasi

dengan yang ditebang pada tahun tersebut. Berat jenis pohon juga berpengaruh

pada besar-kecilnya cadangan biomassa yang dimiliki pada pohon. Pohon yang

memliki berat jenis tinggi dan volumenya tinggi maka cadangan biomassa yang

dimiliki akan tinggi juga.

5.3. Karbon Vegetasi di Atas dan di Bawah Permukaan Tanah

5.3.1. Potensi Cadangan KarbonVegetasi pada Areal Bekas Tebangan

Model pendugaan cadangan karbon vegetasi tingkat pohon di atas dan

di bawah permukaan tanah pada areal bekas tebangan ini menggunakan

(27)

cadangan karbon pada vegetasi tingkat pohon di atas dan di bawah permukaan

tanah pada areal bekas tebangan disajikan pada Tabel 13.

Data Tabel 13 menunjukkan potensi cadangan karbon di atas dan di bawah

permukaan tanah pada ABT berkisar 239,80-344,48 ton C/ha. Potensi cadangan

biomassa tertinggi pada ABT tahun 2010 petak 23-J dan tidak jauh berbeda

dengan ABT tahun 2006 petak 20-J. Hal ini disebabkan tingginya komposisi dan

struktur vegetasi pada ABT 2010 dibandingkan dengan ABT lainnya, teknik RIL

yang telah diterapkan berpengaruh terhadap komposisi dan struktur vegetasinya.

Tabel 13. Potensi Cadangan Karbon Vegetasi Tingkat Pohon di Atas dan di Bawah Permukaan Tanah pada Areal Bekas Tebangan (ABT)

Cap : Karbon di atas permukaan tanah Cbp : Karbon di bawah permukaan tanah

C-Total : Karbon total di atas dan di bawah permukaan tanah

Brown (1997) mengasumsikan bahwa 50% dari biomassa hutan tersusun

atas karbon, sehingga cadangan karbon berkorelasi positif dengan besarnya

biomassa di atas permukaan tanah, maka cadangan karbon akan semakin tinggi.

Penelitian di beberapa hutan alam sekunder menyebutkan bahwa jumlah

pohon yang dipanen dalam satu hektar sangat menentukan kelestarian produksi

hutan (Bertault and Sist, 1997; Sistet et al., 1998; Sistet et al., 2003b), walaupun

telah dilakukan teknik pemanenan yang berdampak rendah atau RIL (Reduced

Impact Logging) yang dipercaya dapat mengurangi kerusakan tegakan tinggal

(28)

Kerusakan hutan akibat dari penebangan atau berkurangnya tegakan hutan dapat

mengurangi cadangan karbon vegetasi hutan karena setiap kayu memiliki

biomassa. Semakin banyak volume kayu ditebang maka cadangan biomassa dan

karbon yang hilang semakin besar pula (Rajagukguk, 2012).

Gambar 7. Diagram Cadangan Karbon di Atas, di Bawah Permukaan Tanah dan Cadangan Karbon Total di Areal Bekas Tebangan

Karbon tersimpan di daratan bumi dalam bentuk makhluk hidup

(tumbuhan dan hewan), bahan organik mati ataupun endapan seperti fosil

tumbuhan dan hewan. Sebagian besar jumlah karbon yang berasal dari makhluk

hidup bersumber dari hutan. Seiring terjadinya kerusakan hutan, maka pelepasan

karbon ke atmosfir juga terjadi sebanyak tingkat kerusakan hutan yang terjadi.

Proses eksploitasi atau pemanenan hutan, akan menyebabkan kematian pohon

yang ditebang maupun “logging damage” bagi pohon-pohon kecil di sekitarnya

akibat penebangan. Tanpa menerapkan pembalakan berdampak rendah atau RIL,

(29)

mortalitas yang tinggi. Secara otomatis pula, tingkat emisi akibat dekomposisi

menjadi lebih besar (Manuri, et. al., 2011 dalam Elfrinaldi, 2014).

Pemanenan kayu di hutan alam dapat mengakibatkan kerusakan pada

tegakan tinggal yang ada. Dalam kerangka kebijakan Pengelolaan Hutan Alam

Produksi Lestari (PHAPL), dipandang perlu mengurangi tingkat kerusakan

tegakan tinggal untuk menjamin terpeliharanya sumberdaya hutan pasca

pemanenan hasil hutan. Maka dalam upaya pemanfaatan sumberdaya hutan secara

optimal, Unit Manajemen PT. Indexim Utama telah menerapakan teknik

pemanenan huta yang ramah lingkungan atau RIL untuk meminimalkan

kerusakan tegakan tinggal. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh

PT. Indexim Utama, kegiatan pemanenan kayu menyebabkan bentuk kerusakan

seperti rusak tajuk, rusak kulit/batang, rusak banir, patah batang, pecah batang,

miring dan roboh. Persentase kerusakan ringan, kerusakan sedang dan kerusakan

berat masing-masing 30,80%, 19,60% dan 49,60% dari total kerusakan akibat

pemanenan. Kerusakan pada tegakan tinggal yang paling banyak terjadi adalah

pada kelas diameter 20-29 cm. Kegiatan pemanenan menyebabkan kerusakan

tegakan tinggal sebesar 15,39%, persentase kerusakan pohon akibat penebangan

sebesar 11,54% dan persentase pohon akibat penyaradan sebesar 3,85%.

Keterbukaan areal akibat penyaradan sebesar 547,99 m2/plot. Sedangkan luas

keterbukaan rata-rata secara keseluruahan petak tebangan sebesar 3,53 ha per

petak dengan persentase sebesar 4,52%. Analisis regresi menunjukkan bahwa

intensitas penebangan paling berpengaruh terhadap besarnya kerusakan tegakan

(30)

Tabel 14. Kandungan Karbon pada Beberapa Penutupan Lahan

Penutupan Lahan C-Stock (Ton/Ha) Sumber

Hutan Mangrove Primer 241 JICA & CERIndonesia, 2009

Hutan Rawa Primer 108 Istomo et al, 2006

Hutan Primer 232 JICA & CERIndonesia, 2009

Hutan Sekunder 115 Wasrin et al, 2006

Hutan Mangrove Sekunder 128 JICA & CERIndonesia, 2009

Hutan Rawa Sekunder 77 Istomo et al, 2006

Semak 20 JICA & CERIndonesia, 2009

Lahan Pertanian Kering 5 Murdiyarso & Wasrin, 1996

Pertanian dan Semak 79 Wasrin et al, 2006

Padi 4 Wasrin et al, 2006

Perkebunan 59 Wasrin et al, 2006

HTI umur 5 Tahun 51 JICA & CERIndonesia, 2009

Savana 3 Wasrin et al, 2006

Semak Rawa 21 JICA & CERIndonesia, 2009

Hutan Primer (Indonesia) 254-390 Lasco, 2002 Hutan Bekas Tebangan (Indonesia) 148,2-245 Lasco, 2002 Sumber: APHI, 2011

Hasil penelitian di lapangan pada hutan areal bekas tebangan di

PT. Indexim Utama sangat memenuhi batas ambang minimal yang ditetapkan

oleh APHI (2011) menurut Lasco (2002), dimana pada hutan bekas tebangan

(Indonesia) kandungan karbon berkisar 148,2 - 245 ton C/ha, pada hutan bekas

tebangan di PT. Indexim Utama berkisar 175,04-251,44 ton C/ha. Kandungan

karbon pada hutan primer Lasco (2002) berkisar 254-390 ton C/ha, dan

berdasarkan hasil perhitungan hutan primer (LHC) di PT. Indexim Utama berkisar

164,89 - 285,04 ton C/ha.

5.3.2. Potensi Cadangan Karbon Vegetasi pada Laporan Hasil Cruising (LHC) dan Laporan Hasil Penebangan (LHP)

Komponen utama penyusun cadangan karbon di atas permukaan tanah

adalah vegetasi tingkat pohon, baik di hutan primer maupun di hutan areal bekas

tebangan. Penelitian ini data LHC dijadikan sebagai acuan untuk data hutan

(31)

data LHC merupakan hasil inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP)

pada hutan alam. Sedangkan data LHP dijadikan sebagai data pembanding untuk

mengetahui perubahan karbon yang terjadi setelah dilakukan penebangan. Data

potensi cadangan karbon vegetasi tingkat pohon berdasarkan data LHC dan LHP

disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Potensi Cadangan Karbon Vegetasi Tingkat Pohon Berdasarkan Data LHC Tahun 2006, 2010 dan 2014

Lokasi Karbon (Ton C/ha)

Cap Cbp C-Total

2006 285,04 105,47 390,51

2010 245,78 90,94 336,72

2014 164,89 61,01 225,90

Keterangan :

Cap : Karbon di atas permukaan tanah Cbp : Karbon di bawah permukaan tanah

C-Total : Karbon total di atas dan di bawah permukaan tanah

Nilai cadangan karbon pada hutan primer (data LHC) di atas permukaan

tanah pada penelitian ini termasuk tinggi. Tertinggi pada tahun 2006 dan menurun

pada tahun 2010 hingga tahun 2014. Penurunan cadangan karbon yang dimiliki

pada hutan primer dapat disebabkan oleh tinggi atau rendahnya cadangan

biomassa pohon yang ada pada lokasi tersebut. Cadangan biomassa pada pohon

berpengaruh terhadap jumlah kerapatan vegetasi yang ada, besarnya limit

diameter pohon, dan berat jenis pohon. Besarnya cadangan biomassa pada pohon

akan berpengaruh terhadap cadangan karbon yang dimiliki pohon tersebut,

semakin tinggi cadangan biomassanya maka cadangan karbonnya akan tinggi.

(32)

Tabel 16. Potensi Cadangan Karbon Vegetasi Tingkat Pohon Berdasarkan Data

Hasil perhitungan potensi cadangan karbon vegetasi tingkat pohon

berdasarkan data LHC di atas permukaan dan di bawah permukaan tanah berkisar

39,03-72,73 ton C/ha. Peningkatan cadangan karbon ini disebabkan oleh jumlah

cadangan biomassanya juga meningkat.

Tabel 17. Potensi Cadangan Karbon Vegetasi Tingkat Pohon Berdasarkan Pengurangan dari Data LHC-LHP Tahun 2006, 2010 dan 2014

Lokasi Perubahan Karbon LHC-LHP (Ton C/ha)

LHC LHP C-Total

2006 390,51 39,03 351,48

2010 336,72 57,61 279,11

2014 225,90 72,73 153,17

Perubahan cadangan karbon sebelum penebangan dan setelah dilakukan

penebangan berdasarkan data LHC dan LHP, cadangan karbon di atas dan di

bawah permukaan tanah berkisar 153,17-351,48 ton C/ha.

Tabel 18. Perbandingan Potensi Cadangan Karbon Total pada Areal Bekas

(33)

Hasil perhitungan cadangan karbon total (di atas dan di bawah permukaan

tanah) pada Tabel 18 di atas menunujukkan bahawa berdasarkan data LHC-LHP

tahun 2006 cadangan karbon total yang dimiliki lebih tinggi dibandingkan dengan

data LHC-LHP dan ABT tahun lainnya. Perbedaan ini disebabkan jumlah

cadangan biomassa yang ada dilokasi berbeda-beda. Potensi cadangan biomassa

pada hutan berbanding lurus dengan potensi cadangan karbon yang ada dalam

hutan tersebut. Semakin tinggi cadangan biomassa yang dimilki maka cadangan

karbon hutan yang dimiliki juga akan tinggi.

Hasil perhitungan jumlah cadangan karbon total tahun 2006 (± 9 tahun

setelah penebangan) pada ABT termasuk tinggi, dimana cadangan karbon yang

dimiliki mencapai cadangan karbon pada hutan primer yang berkisar

254-390 ton C/ha (Lasco, 2012). Data LHC-LHP pada tahun yang sama juga

memliki cadangan karbon yang tinggi. Cadangan karbon pada ABT dan data

LHC-LHP tahun 2010 atau setelah lima tahun penebangan berkisar

279,11 ton C/ha dan 344,48 ton C/ha yang termasuk dalam kisaran standar

cadangan karbon di hutan primer. Hasil perhitungan pada ABT tahun 2014 atau

satu tahun setelah penebangan hampir mendekati kisaran cadangan karbon hutan

primer. Grafik cadangan karbon total pada lokasi penelitian di PT. Indexim Utama

disajikan pada Gambar 8. Berdasarkan grafik tersebut dapat terlihat secara jelas

perbandingan antara cadangan karbon total pada ABT dan data LHC-LHP.

Perbedaan muncul pada cadangan karbon total ABT tahun 2010, dimana

cadangan karbonnya lebih tinggi dibandingkan cadangan karbon total pada ABT

(34)

tertinggi justru terdapat pada tahun 2006. Perbedaan potensi cadangan karbon ini

dipengaruhi oleh cadangan biomassa tingkat pohon, kerapatan vegetasi,

keragaman ukuran diameter dan berat jenis kayunya.

Gambar 8. Grafik Cadangan Karbon Total pada Lokasi Penelitian Berdasarkan Hasil Perhitungan

Karbon yang tersimpan pada lokasi penelitian ini menjadi bahan informasi

dalam pengelolaan hutan yang lebih baik. Pengelolaan hutan yang baik

diharapkan hutan tetap terjaga kelestariannya sehingga dampak pembukaan

wilayah hutan dan produksi tidak berdampak pada penurunan penyerapan karbon

setelah dilakukan pemanenan. Perusahaan pemegang IUPHHK-HA diharapkan

mampu menjadi garda depan dalam meningkatkan penyerapan karbon yang

diharapkan dalam REDD+. Aktifitas penebangan yang baik dan terencana di

dalam hutan produksi ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan REDD+ kategori

(35)

pengelolaan hutan lestari/berkelanjutan,karena hutan merupakan penyerap karbon

terbaik dari bumi ini. Kelestarian hutan jika tidak terjaga dengan baik maka

banyak dampak yang terjadi di muka bumi ini, seperti perubahan ekosistem,

bentang alam dan bencana alam hingga pemanasan global yang terjadi sekarang

ini. Hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa cadangan karbon pada hutan

areal bekas tebangan dengan penerapan teknik RIL pada sistem silvikultur TPTI

memiliki cadangan karbon yang mendekati cadangan karbon di hutan primer.

Peran pengelolaan hutan produksi alam dalam kontribusinya terhadap

pengurangan emisi karbon dapat memperlihatkan bahwa pengelolaan yang baik

tanpa harus mengurangi perannya sebagai fungsi produksi sebetulnya dapat secara

signifikan berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon. Peran ini dapat

dilakukan melalui perbaikan sistem, intervensi teknologi dan teknik-teknik terkait

pengelolaan hutan lestari misalnya penerapan pembalakan berdampak

rendah-karbon (Reduced Impact Logging Carbon/RIL-C) yang memerlukan dukungan

nyata dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta lembaga lainnya. Skema

insentif dari pemerintah dan lembaga lain sudah selayaknya diusahakan sebagai

pemicu para pengelola hutan produksi untuk berkontribusi dalam mitigasi

perubahan iklim, dan mendukung pemerintah dalam menyukseskan RAN-GRK

(Natural Resources Development Center, 2013). Penerapan sistem pembalakan

ramah lingkungan (RIL-C) merupakan salah satu dari perbaikan sistem

pengelolaan hutan produksi yang dapat berkontribusi pada upaya pengurangaan

(36)

Hasil penelitian The Nature Conservancy (TNC) di sembilan Izin Usaha

Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dari Hutan Alam (IUPHHK-HA) di Kalimantan

Timur menunjukkan bahwa penerapan teknik-teknik pembalakan ramah

lingkungan beremisi rendah karbon (RIL-C) dapat mengurangi kerusakan hutan

hampir 50%, dan mengurangi emisi karbon hampir 30% dibandingkan

konvensional logging (sebagai BAU) yang berjalan saat ini. Hasil penelitian

penting ini belum diadopsi dan belum dirumuskan dalam kebijakan pengelolaan

hutan produksi yang dapat mendorong IUPHHK untuk melaksanakannya. Dengan

memasukkan perhitungan karbon sebagai salah satu kriteria dan indikator

Pengelolan Hutan Produksi Lestari (PHPL) akan dapat mengukur kontribusi hutan

produksi dalam pengurangan emisi nasional dan akan membawa dampak

penilaian bahwa pemanenan hutan produksi itu bukan sebagai sumber emisi

semata tetapi juga dapat menurunkan target emisi sektor kehutanan.

Reduce Impact Logging Carbon (RIL-C) dapat dilaksanakan oleh Unit

Managemen (UM) tanpa harus mengubah sistem kerja secara mendasar dan hanya

memerlukan perencanaan yang benar dan pelaksanaan yang konsisten di

lapangan. Agar RIL-C dapat diimplementasikan di tingkat tapak, diperlukan

kondisi pemungkin (ketentuan, dan aturan pelaksana) serta peningkatan kapasitas

para starkeholder (regulator, pengambil keputusan, dan pelaksana) agar RIL-C

dapat dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan (Natural Resources

Development Center, 2013).

Mendorong implementasi RIL-C di tingkat tapak diperlukan insentif baik

(37)

kemudahan pelaporan) agar bisa mendorong lebih banyak UM melaksanakan

RIL-C pada konsesinya. Insentif lain dalam akses sum bersumber pendanaan

dalam skema REDD+ bagi UM yang melaksanakan perlu difasilitasi oleh

pemerintah agar implementasi REDD+ tidak menjadi beban biaya produksi log

yang akan memberatkan pemegang konsesi (Natural Resources Development

Center, 2013).

Dari sifat pengelolaannya, kandungan karbon di areal hutan produksi akan

mengalami turun naik karena ada aktivitas penebangan dan pertumbuhan tanaman

disitu. Dibandingkan dengan kandungan karbon pada saat hutan tersebut belum

dikelola, pasti mengalami penurunan. Namun, dengan penerapan pengelolaan

hutan lestari/berkelanjutan (SFM) penurunan stok karbon tersebut bisa ditekan

dan dijaga, sehingga kawasan hutan produksi tersebut akan tetap selalu produktif.

Carter (2012), menyebutkan kegiatan kehutanan yang dapat mengemisi

karbon (negative carbon) antara lain sistem tebang habis (clear cutting), tebang

kelompok (shelter cutting), kelebihan penebangan (overcutting), tebang

penjarangan (pre-comercial thinning), penamanan (plantation), penggunaan

herbisida, kerusakan tanah dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. Kegiatan

kehutanan yang menghasilkan karbon positif (positive carbon) antara lain tebang

pilih (selective cutting), peningkatan kerapatan (increased stocking), mengurangi

gangguan tanah, perpanjangan rotasi, pengelolaan tegakan tidak seumur, tidak

(38)

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

a. Komposisi dan struktur vegetasi tingkat pohon pada areal bekas tebangan di

PT. Indexim Utama di dominansi jenis Meranti Merah (Shorea leprosula) dan

Jambu-jambuan (Syzygium sp), serta INP tertinggi pada ABT tahun 2010.

b. Potensi biomassa tertinggi di atas dan di bawah permukaan tanah terdapat

pada ABT tahun 2010, sedangkan potensi biomassa tertinggi berdasarkan

perubahan biomassa terdapat pada data LHP tahun 2014, data LHC dan data

LHC-LHP tahun 2006.

c. Estimasi cadangan karbon tertinggi di atas dan di bawah permukaan tanah

terdapat pada ABT tahun 2010.

d. Estimasi cadangan karbon tertinggi di atas dan di bawah permukaan

berdasarkan data LHP tahun 2014, data LHC dan data LHC-LHP terdapat

pada tahun 2006.

6.2. Saran

Pengelolaan hutan lestari dengan menerapkan metode RIL (Reduce Impact

Logging) pada sistem Silvikultur TPTI memberikan dampak positf terhadap

tegakan tinggal dan tingkat potensi cadangan karbon hutan yang dimiliki.

Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mendukung hasil penelitian

yang telah dilakukan dengan menggunakan metode dan rumus yang berbeda agar

dapat menjadi pembanding dan evaluasi peneliti dan sistem pengelolaan hutan

Gambar

Gambar 4.  Bagan Alur Penelitian di Hutan Produksi IUPHHK-HA
Tabel 2. Kondisi Penutupan Vegetasi Areal Kerja PT. Indexim Utama
Tabel 3.   Jumlah Jenis Tingkat Pohon yang Diidentifikasi di Lokasi Penelitian  pada Areal Bekas Tebangan
Tabel 4. Kerapatan Vegetasi Tingkat Pohon yang Ditemukan di Lokasi Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Mempelajari struktur dan komposisi tegakan pada areal bekas tebangan dan kegiatan penjaluran dengan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) yang

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Estimasi Cadangan Karbon Pada Strata Pohon di Hutan Mangrove Teluk Grajagan Taman Nasional Alas

Demikian pula, dinamika potensi kandungan karbon memiliki kecenderungan yang sama dengan potensi biomassa (Gambar 4 dan Gambar 5)... Dinamika karbon pada hutan bekas tebangan

Demikian pula, dinamika potensi kandungan karbon memiliki kecenderungan yang sama dengan potensi biomassa (Gambar 4 dan Gambar 5)... Dinamika karbon pada hutan bekas tebangan

Potensi biomasa karbon pada hutan alam dan hutan bekas tebangan setelah 30 tahun di Hutan Penelitian Malinau, Kalimantan Timur.. Jurnal Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perubahan vegetasi dan kualitas tanah pada areal hutan bekas tebangan, areal TPTJ dan hutan primer, mengidentifikasi

Cadangan Karbon dari Biomassa Tumbuhan Bawah di Hutan Bukit Tangah Pulau Lokasi Biomassa Tumbuhan Bawah ton/ha Cadangan Karbon ton/ha Plot 1 0,061 0,029 Plot 2 0,070 0,033

Cadangan Karbon pada Hutan Rakyat Pola Agroforestry Manglid Hasil pengukuran menunjukkan bahwa karbon tersimpan pada hutan rakyat pola agroforestry berbasis manglid di lokasi