• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Sejarah Pengelolaan Hutan

Pengusahaan hutan atas nama PT. Sari Bumi Kusuma memperoleh izin konsesi pengusahaan hutan sejak tahun 1978 sejak dikeluarkannya Forest Agreemant (FA) No.

FA/N/016/III/1978 dan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 599/Kpts/Um/1978, tanggal 18 November 1978, tentang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan dengan luas 84.000 ha di Kelompok Hutan Sungai Jelai-Sungai Delang. Pada tahun 1979 PT. Sari Bumi Kusuma memperoleh tambahan luas menjadi 270.000 ha berdasarkan Addendum FA/N-AD/045/1979 tanggal 14 Juli 1979 dan Addendum Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 666/Kpts/Um/10/1979 tanggal 16 Oktober 1979 tentang penambahan luasan di Kelompok Hutan Sungai Seruyan Hulu seluas 186.000 ha.

Izin konsesi pengusahaan hutan tersebut telah dijalankan sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian selama 20 (dua puluh) tahun. Setelah masa pengusahaan hutan jangka waktu pertama (20 tahun) berakhir. PT. Sari Bumi Kusuma mengajukan perpanjangan kedua untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun, PT Sari Bumi Kusuma memperoleh perpanjangan kedua berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.

201/Kpts-II/1998 tanggal 27 Februari 1998, dengan sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ), berdasarkan pertimbangan para pakar yang menilai bahwa areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma dinilai sangat prospektif untuk melestarikan tanaman meranti, sehingga IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma ditetapkan sesuai Surat Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan No. SK.77/VI-BPHA/2005 tanggal 3 Mei 2005 tentang ditunjuknya PT. Sari Bumi Kusuma sebagai model penerapan sistim silvikultur TPTI Intensif yang menjadi rujukan dan peraga pembelajaran penerapan sistem silvikultur TPTI Intensif (Surat Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan No. S.88/VI-BPHA/2005 tanggal 23 Februari 2005).

Luas total areal hutan IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Unit Seruyan seluas 147.600 ha yang terdiri atas Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 134.153 ha dan Hutan Produksi yang dapat di Konversi (HPK) seluas 13.447 ha. Sehingga luas areal produktif untuk unit produksi setelah di kurangi areal tidak efektif (Kawasan pelestarian plasma nutfah/KPPN, Sempadan Sungai, Sarana dan Prasarana dan Areal Sumber

(2)

Daya Genetik/ASDG dan Areal Penggunaan Lain/APL) seluas 119.179 ha dengan jatah tebang tahunan (JTT) sebesar 3.405 ha/thn dengan prosuksi rata-rata dalam 5 tahun terakhir sebesar 270.295 m3/thn.

4.2. Letak dan Batas Areal Penelitian

Lokasi penelitian terletak di dalam areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.201/Kpts-II/1998 tanggal 27 Februari 1998 luas areal kerja Seluruhnya adalah 208.300 ha yang terdiri dari dua Unit yaitu Unit I terdapat di Kelompok Hutan Sungai Seruyan seluas 147.600 ha dan Unit II terdapat di Kelompok Hutan Sungai Delang seluas 60.700 ha. Unit I Kelompok Hutan Sungai Seruyan seluas 147.700 ha merupakan areal penelitian. Berdasarkan posisi geografis, areal PT. Sari Bumi Kusuma Unit I Kelompok Hutan Sungai Seruyan terletak pada posisi 00036’ - 01010’00” Lintang Selatan dan 111039’ - 112025’00” Bujur Timur.

Secara administrasi pemerintahan, areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma termasuk dalam wilayah Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan dan wilayah Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Batas areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma adalah sebagai berikut :

Æ Sebelah Utara : Hutan Lindung

Æ Sebelah Timur : Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Areal IUPHHK PT. Kayu Waja, IUPHHK PT. Meranti Mustika, IUPHHK PT. Kardas Trades dan IUPHHK PT. Firs Lamandau Æ Sebelah Selatan : IUPHHK PT. Meranti Mustika dan IUPHHK PT. Erna

Djuliawati, IUPHHK PT. Kayu Pesaguan dan Hutan Lindung

Æ Sebelah Barat : IUPHHK PT. Erna Djuliawati dan IUPHHK PT. Kayu Pesaguan

Berdasarkan letak administrasi Kehutanan areal kerja IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma termasuk dalam wilayah KPH Kotawaringin Timur, BKPH Sampit, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah dan berdasarkan kelompok hutannya terletak pada kelompok hutan Sungai Seruyan Hulu.

(3)

4.3. Jenis Tanah dan Geologi

Berdasarkan Peta Tanah Pulau Kalimatan skala 1 : 1.000.000 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPP) Bogor tahun 1993, areal kerja PT. Sari Bumi Kusuma Unit I Kelompok Hutan Sungai Seruyan didominasi oleh jenis tanah Kambisol Distrik, Podsolik Kandik dan Oksisol Haplik (44,74%). Namun berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/II/1980, seluruh areal Unit 1 Kelompok Hutan Sungai Seruyan semuanya Podsolik (100%) termasuk dalam klasifikasi peka erosi.

Menurut Peta Geologi Indonesia Lembar Kalimantan Tengah skala 1 : 1.000.000 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung pada tahun 1993, formasi geologi yang mendominasi di areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma adalah Lonalit, Granodiorit, Granit, sedikit diorit kuarsa, diorit granit (76,54%).

4.5. Iklim

Sesuai dengan klasifikasi yang dikeluarkan oleh Scmidt dan Ferguson (1951), areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma tergolong beriklim tipe A dengan rata-rata curah hujan 281, 8 mm/bulan dan rata-rata hari hujan 12,06 hari. Kondisi iklim di areal PT. Sari Bumi Kusuma/loaksi penelitian didekati berdasarkan data iklim yang tercatat di stasiun pengamatan terdekat, yaitu Stasiun Pengamat iklim Katingan Kuala/Pagatan- Kotawaringin Timur. Rekapitulasi data iklim di areal studi selama 10 tahun(1994-2005) disajikan pada Tabel 4.

(4)

Tabel 4.

Rekapitulasi Data Iklim Selama 10 Tahun (1994-2005) terakhir di Areal IUPHHK PT.

Sari Bumi Kusuma, Kabupaten Seruyan dan Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah

Bulan Curah Hujan (mm) Hari Hujan (hari) Suhu Udara (oC) Kelembaban Udara (%)

Januari 328 13,9 26,1 89

Pebruari 264 11,7 26,1 85

Maret 353 11,9 26,1 87

April 274 11,0 26,1 86

Mei 265 10,2 26,8 86

Juni 199 8,1 26,5 86

Juli 168 7,6 26,9 86

Agustus 177 7,8 26,2 83

September 253 8,8 26,3 83

Oktober 383 11,8 26,7 84

November 363 14,1 26,3 84

Desember 352 14,3 26,3 86

Jumlah 3379 127,2 - -

Rata-rata 281.58 12,06 26,4 85

Sumber : Stasiun Pengamat Cuaca Katingan Kuala/Pagatan-Kotawaringi Timur

4.6. Topografi dan Kelerengan

Kondisi areal penelitian seluruhnya merupakan lahan kering, dengan ketinggian tempat antara 100 – 1.552 m dpl, dengan ketinggian rata-rata 400 m dpl. Kondisi fisiografinya berkisar antara landai sampai curam. Secara umum, areal IUPHHK PT.

Sari Bumi Kusuma merupakan sisi selatan punggung lipatan utama (di perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Barat). Kondisi topografi areal kerja IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma secara rinci tersaji pada Tabel 5.

Tabel 5. Kelas Lereng Areal Kerja IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Unit I Sungai Seruyan

No. Kelas Lereng Luas (Ha) Persentasi (%)

1. Datar (0 – 8%) 34.982 23,7

2. Landari (8 – 15%) 35.843 24

3. Agak Curam (15 – 25%) 46.006 31,21

4. Curam (25 – 40%) 30.404 21

5. Sangat Curam (>40%) 305 0,20

Jumlah 147.600 100

Sumber : Dokumen Laporan RKUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma, 2006

(5)

4.7. Komponen Vegetasi

Berdasarkan Peta TGHK Provinsi Kallimantan Tengah (Lampiran 7a dan 7b) areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Unit I Sungai Seruyan seluas 147.600 ha yang terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 135.180 ha dan Hutan Produksi tetap (HP) seluas 12,420 ha. Kondisi penutupan vegetasi PT. Sari Bumi Kusuma berdasarkan Peta Citra Landsat Band 542 Path/Row 119/61 dan 120/61 liputan tahu 2005 skala 1 : 100.000, realisasi tebangan hingga RKT Tahun 2004 dan dokumen hasil survei potensi 2004 dengan intensitas sampling 1% adalah sebagai berikut 23.940 ha merupakan hutan primer (virgin forest) dan hutan Sekunder (log over area) seluas 109.603 ha.

Serta non hutan seluas 14.057 ha.

4.8. Satwaliar

Berdasarkan dokumen laporan Pembinaaan Hutan dan Lingkungan PT. Sari Bumi Kusuma tahun 2006 tentang keanekaragaman vegetasi dan satwaliar di kawasan hutan primer dan kawasan hutan sekunder, ditemukan jenis burung sebanyak 117 jenis.

Dari 117 jenis tersebut, 1 jenis burung dari family Enggang (Bucerotidae) merupakan jenis endemik dan 14 jenis burung. Sedangkan untuk kelompok jenis mamalia dan reptil ditemukan 27 jenis dan 18 family, dari jumlah tersebut terdapat 15 jenis yang dilindungi dan dua jenis mamalia endemik yaitu Kelampiau/Owa (Hylobates Muelleri) di areal kerja PT. Sari Bumi Kusuma.

4.9. Sistem Pengelolaan Hutan

Pengelolaan hutan alam produksi di Indonesia berjalan sejak tahun 1960-an dengan menerapkan regime silvikultur yang sesuai untuk dipakai di HPH/IUPHHK yang melakukan pembalakan di hutan Indonesia. Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan Nomor : 35/Kpts/DP/I/1972. dari SK tersebut dipilih tiga regime silvikultur yang dirancang untuk mengolah hutan Indonesia. Ketiga regime silvikultur tersebut adalah Tebang Pilih Indonesia (TPI), Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) dan Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB). Dari ketiga regime yang disrankan tersebut hanya TPI yang lebih banyak dipergunakan. Berdasarkan SK Direktur Jenderal No. 35 tersebut aturan yang harus diikuti pada TPI mencakup (a) Pertimbangan, (b) Dasar-dasar, (c) Pelaksanaan, dan (d) sangsi-sangsi. Pertimbangan TPI yang sangat strategis ini dalam praktek kurang dipertimbangkan, sehingga sangat mengecewakan. Dalam pertimbangan untuk

(6)

melaksanakan TPI, ada 4 hal pokok yang harus diikuti, yaitu , (1) Asas kelestarian, (2) Teknik Silvikultur, (3) Kelangsungan pengusahaan hutan, dan (4) Pengawasan yang efisien dan efektif. Soekotjo (2004), menambahkan sampai saat ini penerapan regime silvikultur di Indonesia adalah :

- Monocyclic, regime yang dipilih hanya tebang habis. Regime tebang habis ini untuk menampung jenis-jenis, ddimana semainya sejak semula untuk pertumbuhan yang optimal sangat membutuhkan cahayap penuh, seperti jati dan mahoni.

-

Polycyclic, regime yang dipilih adalah Tebang Pilih Indonesia, yang dalam praktek dikenal dengan dua versi yaitu Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) dan Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ)

Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) PT. Sari Bumi Kusuma melaksanakan sistem silvikultur Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan No. 220/KPTS/IV-BPHH/1997 tanggal 2 Oktober 1997 tentang penerapan sisten Tebang Pilih dan Tanam Jalur yang diterapkan pada areal bekas tebangan (log over area) dan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia pada hutan primer (virgin forest) untuk pohon yang diameter 60 cm ke atas dan 40 cm keatas pada areal bekas tebangan.

Sistem silvikutur di IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma terjadi perubahan sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan No. SK.221/VI- BPHA/2005 tanggal 18 Agustus 2005, bahwa PT. Sari Bumi Kusuma ditunjuk/ditetapkan sebagai salah satu pemegang IUPHHK dengan Model Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTI-Intensif), dengan diberlakukannya keputusan tersebut, PT.

Sari Bumi Kusuma melaksanakan sisten TPTI-Intensif sejak tahun 2006.

Pelaksanaan sistem silvikultur TPTI-Intensif secara teknis tidak berbeda jauh dengan pelaksanaan sistem silvikultur Tebang Pilih dan Tanam Jalur (TPTJ).

Perbedaan mendasar terletak pada areal efektif yang dikelola, jarak tanam dan jarak antar jalur tanaman. Sistem silvikultur TPTJ diharuskan pada areal bekas tebangan (Log Over area) dengan jarak tanam 5 meter dan jarak antar jalur tanaman 25 meter, sedangkan pada sistem silvikultur TPTI-Intensif diterapkan pada seluruh areal efektif yang dapat diusahakan dengan jarak tanam 2,5 meter dan jarak antar jalur tanaman 20 meter.

IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma dalam pelaksanaan dan penerapan di lapangan melakukan modifikasi dalam pembuatan jalur tanam. Pola tanam TPTI-Intensif yang

(7)

ditera beba poten kome konti pemb Bumi

Gam

Keteran 1.

2.

3.

apkan di ar as naungan/

nsi produks ersil terutam

nuitas prod binaan dan i Kusuma dis

bar 8. Pola Kus

ngan :

Lubang Tana Jalur antara l Diasumsikan

Jalur Antara 17 meter

real IUPHHK /bersih seba si hutan ba ma dari jeni duksi serta

pengawasa sajikan pada

Sistem Silv uma

am yang jaraknya lebar 17 meter d

dalam 1 ha terd Jalur bers

3 meter

3 meter

K PT. Sari agai jalur ta aik kualitas s kelompok

memudah an. Pola sist

a Gambar 8

vikultur TPT

a dalam satu jalu an jalur bersih le dapat 200 pohon

J ih

Bumi Kusu anam seleb maupun k k meranti ya

kan pelaks tem silvikult .

I-Intensif di

ur adalah 2,5 me ebar 3 meter

dan dijarangi 2 k Jalur Antara

17 meter

uma adalah bar tiga me

uantitas de ang diharap sanaan pen tur di areal

Areal Kerja

eter dan jarak ant kali selama daur Jalur b

3 me

3 m

dengan m ter untuk m engan pena

pkan dapat nanaman, p kerja IUPH

a IUPHHK P

tara jalur 20 mete r (umur 5 tahun d

Ja 1 bersih

eter

meter

embuat jalu meningkatka

naman jeni memberika pemeriksaan HHK PT. Sa

PT. Sari Bum

er

dan 15 tahun) lur Antara 17 meter

ur an is an n, ri

mi

Gambar

Tabel 4.  Rekapitulasi Data Iklim Selama 10 Tahun (1994-2005)  terakhir di Areal IUPHHK PT

Referensi

Dokumen terkait

Tanaman Shorea leprosula Miq dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) (Studi Kasus di Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat) adalah

Kabupaten Subang merupakan kabupaten yang memiliki areal lahan sawah terluas ketiga di Jawa Barat setelah Indramayu dan Karawang, sekaligus merupakan penyumbang /

Jenis lapangan usaha pertanian merupakan pekerjaan paling kecil karena areal usahatani yang tidak cukup luas untuk dikembangkan akibat banyaknya alih fungsi lahan dan

Areal SM Balai Raja merupakan habitus berbagai jenis vegetasi terutama vegetasi hutan dataran rendah pada saat ditetapkan menjadi kawasan suaka margasatwa.. Kawasan

Areal persawahan pada grup vulkanik secara luas terdapat di Kecamatan Pasaman dan Kinali dengan tingkat kesesuaiannya mulai dari cukup sesuai sampai sangat sesuai. Sebagian

Merupakan titik yang paling jauh batas tepi hutan terdekat (Gambar 2) namun tidak terlalu jauh dari lahan huma yang terbuka lebar yaitu pada jarak sekitar 14 meter dari pinggir

Proses geomorfologi di wilayah Kapuas bagian Hulu Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di areal kerja IUPHHK PT Gunung Meranti merupakan kegiatan tektonik dan berasal dari

Tebang Pilih Indonesia (TPI) dan Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) adalah sistem silvikultur yang diterapkan pada areal HPH, khususnya pada areal hutan hujan