• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Bioteknologi dan Biolo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Bioteknologi dan Biolo"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

BI OT EK N OLOGI DAN BI OLOGI T ERAPAN

(TELUR ASIN)

Disusun oleh:

NAMA : LASINRANG ADITIA

NIM : 60300112034

KELAS : BIOLOGI A

KELOMPOK : II (Dua)

LABORATORIUM BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Bioteknologi dan Biologi Terapan dengan judul

“Telur Asin” yang disusun oleh:

Nama : Lasinrang Aditia

Nim : 60300112034

Kelas : Biologi A

Kelmpok : II (dua)

Telah diperiksa oleh Kordinator Asisten / Asisten dan dinyatakan diterima.

Samata-Gowa, November 2014

Kordinator Asisten Asisten

(Ariati A Ridha) (Ika Dian Rostika)

603001110 60300111021

Mengetahui,

Dosen Penanggung Jawab

(3)

A. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui cara

pembuatan telur asin rasa bawang putih dan serai.

B. Dasar Teori

Telur merupakan bahan makanan yang mudah mengalami kerusakan yaitu

kerusakan fisik, kimia, maupun kerusakan oleh mikroba. Salah satu cara untuk

memperkecil kerusakan dan memperbaiki gizi adalah dengan cara pengasinan

menggunakan medium pengasin bubuk batu bata/abu gosok. Sebagai bahan baku

untuk pernbuatan telur asin disini adalah gafirm beriodium, sebab menurut Kepres

no. 69 tahun 1994 tentang pengadaan garam beriodium bahwa garam yang dapat

diperdegangkan untuk keperluan konsumsi manusia/ternak, pengasinan ikan atau

bahan penolong industri pangan adalah garam beriodium yang telah memenuhi

Standar Nasional Indonesia ( SNI ) (Nurahman, 2010).

Telur asin adalah telur itik yang diolah dalam keadaan utuh, dimana

kandungan garam dapat menghambat perkembangan mikroorganisme dan

sekaligus dapat memberikan aroma yang khas, sehingga telur dapat disimpan

dalam waktu yang relatif lama. Pengasinan merupakan upaya untuk

memper-tahankan kualitas telur, yang dikenal dengan pembuatan telur asin. Telur yang

diasinkan akan lebih awet dalam penyimpanan di samping mempunyai cita rasa

yang lebih baik. Telur yang diasinkan dengan garam beriodium mengalami

peningkatan kandungan,5 sehingga dapat sebagai bahan makanan sumber iodium.

Disamping itu juga memiliki kandungan protein dan lemak cukup tinggi. Kadar

protein dan lemak pada telur itik masing-masing 13,6 % dan 13,3 %.6 (heru,

2012).

Pengasinan telur umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu perendaman

dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan campuran garam dengan abu

gosok. Prinsip kedua cara tersebut adalah dehidrasi osmosis, yaitu proses

pengurangan air dari bahan dengan cara membenamkan bahan dalam

(4)

tinggi. Dehidrasi osmosis (osmotic dehydration) merupakan proses perpindahan massa secara simultan (countercurrent flows) antara keluarnya air dari bahan dan zat terlarut berpindah dari larutan ke dalam bahan. Perpindahan massa osmosis

dinyatakan sebagai kehilangan air dan penambahan padatan. Aplikasi dehidrasi

osmosis dalam proses pengasinan, terlihat dengan keluarnya air dari dalam telur

bersamaan dengan masuknya larutan garam ke dalam telur (Pasaribu, 2013).

Masuknya garam dalam telur selama proses pemeraman melalui

mekanisme difusi. Difusi merupakan peristiwa dimana partikel akan bergerak dari

konsentrasi tinggi menuju rendah dan melewati membran semi permeable,

sehingga tercapai konsentrasi kedua zat seimbang. peristiwa difusi garam pada

telur dapat terjadi karena adanya sifat permeablitas dari cangkang dan membran

telur (Winarno, 1989).

Untuk mengurangi kerusakan telur itik selama penyimpanan dan sekaligus

meningkatkan nilai ekonominya dilakukan upaya pengasinan. Pengasinan telur

umumnyadilakukan dengan dua cara yaitu perendaman dalam larutan garam dan

pemeraman oleh adonan campuran garam dengan tanah liat, atau abu gosok atau

bubuk bata merah. Prinsip kedua cara tersebut adalah dehidrasi osmosis, yaitu

proses pengurangan air dari bahan dengan cara membenamkan bahan dalam suatu

larutan berkonsentrasi tinggi, larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis tinggi

(Saputra, 2000).

C. Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai

berikut:

Hari/tanggal : Rabu/22 Oktober 2014

Waktu : 10.00-12.00 WITA

Tempat : Laboratorium Basic Lantai I

Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

(5)

D. Alat dan Bahan

1. Alat

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu blender, baskom,

loyang segi empat, pisau, panci, kompor, alat penyaring, dan sendok.

2. Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu telur itik (Anas moscha), bawang putih (Allium sativum), serai (Cymbopogon citratus) abu gosok, tawas, air es, air biasa, air, kantong plastik, tali rapiah dan garam kasar.

E. Cara Kerja

Adapun cara kerja pada percobaan ini yaitu sebagai berikut ini:

No Gambar Keterangan

1.

Alat

Blender Baskom Loyang

Kompor Panci Sendok

Pisau

Bahan

(6)

2. Memilih telur yang baik dan Membersihkan telur dengan air bersih

3. Menghaluskan masing-masing bawang putih dan sereh dengan cara diblender

4.

Menghancurkan tawas hingga halus, lalu dicampurkan dengan air es. Yang selanjutnya air campuran tawas ini digunakan sebagai pencampur pada adonan kulit abu gosok

5.

(7)

6. Menambahkan bawang putih yang telah halus dan mengaduk sampai rata

7.

Menambahkan sedikit demi sedikit air tawas pada adonan pengasin, mengaduk sampai rata dan terbentuk pasta

8. Membungkus telur dengan adonan pengasin secara merata

9.

Menyimpan telur kedalam kuali atau ember plastik selama 2 minggu, mengusahakan agar telur tidak pecah dan meletakkan pada tempat yang aman. Kemudian menutupnya dengan kantong plastik dan mengikatnya menggunakan tali rafiah

(8)

11.

Setelah proses pembungkusan atau perendamannya selesai, kemudian merebus telur ± 60 menit.

12.

(9)

F. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

No Jenis Rasa Gambar

1. Telur asin rasa bawang putih

2 Telur asin rasa serai

G. Pembahasan

Telur asin adalah telur itik yang diolah dalam keadaan utuh, dimana

kandungan garam dapat menghambat perkembangan mikroorganisme dan

sekaligus dapat memberikan aroma yang khas, sehingga telur dapat disimpan

dalam waktu yang relatif lama.

Cara kerja dari pembuatan telur asin yaitu Menyiapkan alat dan bahan

yang akan digunakan. Memilih telur yang baik dan membersihkan telur dengan air

bersih. Menghaluskan masing-masing bawang putih dan sereh dengan cara

diblender. Menghancurkan tawas hingga halus, lalu dicampurkan dengan air es.

Yang selanjutnya air campuran tawas ini digunakan sebagai pencampur pada

adonan kulit abu gosok. Membuat adonan pengasin yaitu mencampurkan abu

gosok dan garam (dua jenis rasa, bawang putih dan serai) dengan perbandingan

(10)

sampai rata dan terbentuk pasta. Membungkus telur dengan adonan pengasin

secara merata. Menyimpan telur kedalam kuali atau ember plastik selama 2

minggu, mengusahakan agar telur tidak pecah dan meletakkan pada tempat yang

aman. Kemudian menutupnya dengan kantong plastik dan mengikatnya

menggunakan tali rafiah. Membersihkan telur dengan air setelah dua minggu.

Setelah proses pembungkusan atau perendamannya selesai, kemudian merebus

telur ± 60 menit. Telur siap untuk dinikmati.

Bahan untuk mengasin telur adalah abu gosok dan garam. Garam yang

digunakan tidak boleh garam dapur (garam bata maupun kristal halus=garam

meja). Sebab garam demikian sudah diberi yodium untuk mencegah penyakit

gondok (pembengkakan kelenjar gondok di bagian leher) akibat kekurangan zat

yodium dalam air minum. Yodium dalam garam ini akan membuat kuning telur

yang diasin bukan berwarna kuning, melainkan biru keabu-abuan. Hingga garam

untuk mengasin telur haruslah garam krosok, berupa kristal kasar yang langsung

berasal dari ladang garam hingga belum ditambah yodium oleh industri garam

dapur maupun garam meja. Fungsi dari masing-masing bahan, garam berfungsi

untuk meberikan rasa asin pada telur nantinya, abu gosok berfungsi sebagai media

untuk mengeram telur pada saat proses pengasinan, serai dan bawang putih

berfungsi untuk memberikan aroma pada telur asin, air tawas berfungsi untuk

menetralisir bau atau membersihkan telur.

Pengasinan telur umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu perendaman

dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan campuran garam dengan abu

gosok. Prinsip kedua cara tersebut adalah dehidrasi osmosis, yaitu proses

pengurangan air dari bahan dengan cara membenamkan bahan dalam suatu

larutan berkonsentrasi tinggi, larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis tinggi.

Dehidrasi osmosis (osmotic dehydration) merupakan proses perpindahan massa secara simultan (countercurrent flows) antara keluarnya air dari bahan dan zat terlarut berpindah dari larutan ke dalam bahan. Perpindahan massa osmosis

(11)

(Solid Gain). Aplikasi dehidrasi osmosis dalam proses pengasinan, terlihat dengan keluarnya air dari dalam telur bersamaan dengan masuknya larutan garam ke

dalam telur.

Prinsip pengawetan dengan pengasinan adalah menutupi pori-pori kulit

telur agar tidak dimasuki mikroba, disamping mencegah air dan gas keluar dari

dalam telur. Tingkat rasa asin ditentukan oleh berapa lama telur dibalut dengan

media yang terdiri dari garam beryodium dan abu gosok. Semakin lama

prosesnya, rasa asin yang menyerappun semakin kuat.

Dari hasil percobaan yang dilakukan untuk pembuatan telur asin rasa

bawang dan rasa sereh dilakukan dengan dua cara, yaitu pemeraman oleh adonan

campuran garam dengan abu gosok dan tawas dimana telah memperoleh hasil

yaitu dari cita rasanya asin dan rasa bawangnya terasa, kemudian tekstur dari

kuning telur yang dihasilkan adalah kuning. Dan pengamatan tersebut dilakukan

dengan selang waktu 1-2 minggu sehingga telur asin memiliki cita rasa yang asin

dan tekstur telurnya bagus. Hasil pengamatannya yaitu dari cita rasanya asin dan

rasa bawangnya terasa, serta rasa serehnya terasa, tekstur warna yang diperoleh

pada kuning telur yaitu warna orange dan mengalami perubahan warna pada

cangkang telur.

H. Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada percobaan ini adalah pembuatan telur asin rasa

bawang dan rasa sereh dilakukan dengan cara pemeraman oleh adonan campuran

garam rasa bawang putih dan serei dengan abu gosok dan tawas dimana telah

memperoleh hasil yaitu dari cita rasanya asin dan rasa bawangnya terasa, serta

rasa serehnya terasa, tekstur warna yang diperoleh pada kuning telur yaitu warna

orange dan mengalami perubahan warna pada cangkang telur. Dan pengamatan

tersebut dilakukan dengan selang waktu 1-2 sehingga minggu telur asin memiliki

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Nurahman. Studi tentang perubahan kadar iodium dan sifat organoletik pada proses pembuatan dan waktu telur asin. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang, 2010.

Pasaribu, Devita A. 2013. Blog DevitaPasribu. Telur Asin. http://devitapasaribu.blog spot.com/2013/05/laporan-mikrobiologi-umum.html (09 november 2014).

Saputra. Kinetika pindah massa dehidarsi osmosis nanas. Surabaya: Penghimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia, 2000.

Winarno. Kimia pangan dan gizi. Jakarta: PT.Gramedia, 1989.

(13)

RINCIAN ANGGARAN PEMBUATAN TELUR ASIN

No. Nama Bahan Banyaknya Harga

1. Telur bebek 4 sisir Rp. 95. 000

2. Serai 1 bungkus Rp. 3. 000

3. Bawang putih 1 bungkus Rp. 10. 500

4. Garam 1 bungkus Rp. 30. 000

5. Tawas 1 bungkus Rp. 60. 000

6. Sunlight 6 butir Rp. 6. 000

7. Spons 1 bungkus Rp. 1. 000

8. Plastic/kantongan 1 butir Rp. 2. 000

Gambar

Gambar

Referensi

Dokumen terkait

AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI ETANOL-AIR DARI EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans DAN Pseudomonas.. aeruginosa

Telah dilakukan uji aktivitas antibakteri dari ekstrak air dan etanol Bawang Putih ( Allium sativum L.) terhadap Bakteri Gram negatif dan Gram positif yang

Aktivitas Antibakteri Fraksi Etanol-Air dari Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum Linn.) terhadap Bakteri Streptococcus mutans dan Pseudomonas aeruginosa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian air perasan bawang lanang (Allium sativum) terhadap kadar glukosa darah dan histologi pankreas

Sedangkan pada olahan kukus/ rebus atau makanan berkuah penambahan bawang merah (allium cepa) dan bawang putih goreng (allium sativum) dapat diberikan di akhir saat

Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak dan bubuk batang serai ( Cymbopogon citratus DC.) dapat digunakan sebagai insektisida alami karena menunjukan

Induksi Mutasi Kromosom dengan Kolkisin Pada Tanaman Kesuna Bali (Allium sativum Linn.) dan Analisis DNA Dengan Marka RAPD.. Tanaman bawang putih (Allium sativum Linn.)

Apakah kombinasi perlakuan dari ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantiifolia (Christm.) Swingle) dan ekstrak serai (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) dapat memberikan