• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PIDANA DENDA DALAM KASUS PELAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN PIDANA DENDA DALAM KASUS PELAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL ILMIAH

Disusun untuk melengkapi tugas akhir dan diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara

OLEH:

Ferdian Ade Cecar Tarigan

NIM: 080200162

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

JURNAL ILMIAH

Disusun untuk melengkapi tugas akhir dan diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara

OLEH:

FERDIAN ADE CECAR TARIGAN

NIM: 080200162

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

Disetujui Oleh:

Ketua Departemen Hukum Pidana

Dr. M. Hamdan, S.H.,M.H. NIP : 195703261986011001

Dosen Editorial

Dr.Mahmud Mulyadi, S.H.,M.Hum NIP : 1974040120021001

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Transportasi merupakan sarana yang digunakan masyarakat untuk melakukan aktifitasnya. Transpotasi harus digunakan sesuai dengan peruntukannya dan pengoperasiannya harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditentukan, namun dalam kenyataannya masih sering ditemui masyarakat yang menggunakan transportasi tidak berdasarkan pada peraturan yang berlaku. Mengatasi hal tersebut pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang ini menjadi dasar penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas. Ketentuan mengenai penerapan denda terhadap setiap pelanggar lalu lintas secara jelas telah diatur dalam undang-undang tersebut. Permasalahan yang diambil dari penulisan skripsi ini adalah bagaimana pandangan hukum pidana terhadap penerapan pidana denda pada pelanggaran lalu lintas, bagaimana penerapan pidana denda dalam pelanggaran pidana lalu lintas di Medan serta bagaimana analisa putusan tilang di Medan terhadap penerapan pidana denda dalam pelanggaran lalu lintas.

Metode yang digunakan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah metode yuridis normatif guna memperleh data primer dan data sekunder yang dimana data sekunder diperoleh melalui bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Selain metode yuridis normatif sebagai data penunjang juga dilakukan wawancara dengan informan dari Pengadilan Negeri Medan, Kejaksaan Negeri Medan, Kepolisian Resort Kota Medan dan beberapa pelanggar lalu lintas.

(4)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pidana denda merupakan salah satu bagian dari pidana pokok yang

ditentukan dalam pasal 10 KUHP yang digunakan sebagai pidana alternatif atau

pidana tunggal dalam Buku II dan Buku III KUHP, dalam perjalanannya

dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, antara lain menurunnya nilai mata

uang yang mengakibatkan keengganan penegak hukum untuk menerapkan pidana

denda. Selain itu, pidana penjara masih di nomor satukan dalam penetapan dan

penjatuhan pidana dalam kaitannya dengan tujuan pemidanaan, terutama

tercapainya efek jera bagi pelaku dan tercapainya pencegahan umum.1

Efektivitas pidana denda masih jauh dari tujuan pemidanaan karena pidana

denda belumlah mempunyai fungsi dan peran yang optimal. Fungsi dan peran

pidana denda belum optimal karena para penegak hukum masih cenderung untuk

memilih pidana penjara ataupun kurungan daripada pidana denda. Kondisi ini

dikarenakan juga peraturan perundang-undangan yang ada kurang memberikan

dorongan dilaksanakannya penjatuhan pidana denda sebagai pengganti atau

alternatif pidana penjara atau kurungan. Sebaliknya, faktor kemampuan

masyarakat juga menyebabkan belum berfungsinya pidana denda jika suatu

undang-undang memberikan ancaman pidana denda yang relatif tinggi. Pidana

denda yang ditentukan sebagai ancaman kumulatif akan mengakibatkan peran dan

fungsi pidana denda sebagai pidana alternatif ataupun pidana tunggal belum

mempunyai tempat yang wajar dan memadai dalam kerangka tujuan pemidanaan,

1

Suhariyono AR, Pembaruan Pidana Denda Indonesia (Jakarta, Papas Sinar

(5)

terutama untuk tindak pidana yang diancam pidana penjara jangka pendek dan

tindak pidana yang bermotifkan atau terkait dengan harta benda atau kekayaan.2

Pelaku dalam pidana denda seharusnya membayar sendiri pidana denda

yang dijatuhkan, walaupun dengan pemaksaan oleh pihak yang berwenang, dalam

hal ini jaksa penuntut umum melakukan penyitaan (sementara). Pidana denda

dapat dijadikan salah satu pemasukan negara sebagai penghasilan negara bukan

pajak (PNBP). Pola pidana denda harus ditetapkan dan dilaksanakan secara

konsisten dengan mendasarkan pada kepentingan hukum seseorang atau

masyarakat yang dilindungi. Penentuan pola pidana yang telah ditetapkan perlu

dijadikan dasar untuk melakukan pengharmonisasian peraturan

perundang-undangan, baik peraturan yang telah dibentuk maupun peraturan yang akan atau

sedang dibentuk.3

Pidana denda adalah pemberian sejumlah uang tertentu sebagai ganti

kerugian atas pelanggaran yang dilakukan. Salah satu bentuk tindak pidana yang

dikenakan dengan pidana denda adalah tindak pidana terhadap pelanggaran lalu

lintas. Delik-delik yang terdapat dalam perkara pelanggaran lalu lintas hanya

bersifat ringan sehingga hakim lebih cederung menjatuhkan pidana denda kepada

setiap pelanggar lalu lintas.4

Di Indonesia pengaturan tentang lalu lintas dan angkutan jalan secara

nasional diatur di dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun

2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-undang ini menjadi dasar

2

Ibid, hal.10. 3

Ibid. 4

Niniek Suparni,Eksistensi Pidana Denda dalam Sistem Pidana Dan Pemidanaan

(6)

pedoman dalam penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas. Ketentuan mengenai

pidana denda terhadap setiap pelanggaran lalu-lintas secara jelas telah diatur

dalam undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tersebut..

Pelaksanaan penerapan pidana denda di masing-masing daerah

berpedoman kepada tabel denda tilang dari hasil koordinasi antara Ketua

Pengadilan Negeri, Kepala Kepolisian dan Kepala Kejaksaan Negeri setempat.

Penetapan tabel denda ini didasarkan dengan pertimbangan kondisi sosial dan

ekonomi masyarakat setempat, dengan demikian tabel pidana denda dari

masing-masing daerah akan bervariasi besar anggaran dananya. Dasar hukum berlakunya

penetapan tabel denda tilang tersebut adalah berdasarkan SEMA nomor 4 tahun

1993. Mahkamah Agung bersama dengan Menteri Kehakiman, Jaksa Agung dan

Kepala Kepolisian Republik Indonesia tertanggal 19 Juni 1993 telah

mengeluarkan kesepakatan tentang “Tata Cara Penyelesaian Perkara Pelanggaran

Lalu Lintas Jalan Tertentu” yang terutama dimaknai sebagai kesepakatan bersama

dalam menentukan besarnya pidana denda yang harus dibayar oleh pelanggar lalu

lintas dengan memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 1993

tentang Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara Penyelesaian Perkara Pelanggaran Lalu

Lintas Jalan Tertentu hingga saat ini SEMA tersebut masih menjadi acuan dalam

pembuatan kesepakatan di tingkat daerah untuk menentukan besarnya pidana

denda yang harus dibayarkan oleh para pelanggar lalu lintas.5

5

(7)

SEMA Nomor 4 Tahun 1993 kemudian diimplementasikan oleh Ketua

Pengadilan Negeri dengan melakukan kesepakatan bersama Kepala Kejaksaan

Negeri dan Kepala Kepolisian Resort/ Kota Besar untuk menentukan kisaran

besaranya pidana denda yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi

masyarakat setempat.

Kesepakatan Ketua Pengadilan Negeri, Kepala Kejaksaan Negeri dan

Kepala Kepolisian Resort/ Kota Besar pada umumnya dituangkan dalam bentuk

tertulis sebagai pedoman bagi polisi di jalan yang melakukan penindakan bagi

para pelanggar lalu lintas dan bagi Hakim dalam memutuskan besarnya pidana

denda yang harus dibayar oleh pelanggar untuk disetorkan kepada negara melalui

jaksa selaku eksekutor negara.

Pengadilan Negeri Medan telah menyikapi hal tersebut dan telah

melakukan kesepakatan secara lisan antara Ketua Pengadilan Negeri Medan,

Kepala Kejaksaan Negeri Medan dan Kepala Kepolisian Medan yang kemudian

oleh Ketua Pengadilan dituangkan dalam suatu tabel jenis pelanggaran dan

besarnya pidana denda yang kemudian menjadi acuan bagi Hakim dalam

memutuskan besarnya pidana denda yang harus dibayarkan kepada negara oleh

pelanggar.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, timbul rasa tertarik untuk menuangkan

tulisan ini dalam bentuk skripsi yang berjudul “PENERAPAN PIDANA

DENDA DALAM HUKUM PIDANA (STUDI PELANGGARAN LALU

(8)

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan diatas maka

perlu dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pandangan hukum pidana terhadap penerapan pidana denda

pada pelanggaran lalu-lintas ?

2. Bagaimana penerapan pidana denda dalam pelanggaran lalu-lintas di

Medan ?

3. Bagaimana analisa penerapan pidana denda dalam pelanggaran lalu-lintas

dalam putusan tilang di Medan ?

II. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Untuk menyelesaikan skripsi ini, menggunakan penelitian hukum adalah

yuridis normatif. Maka tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis

normatif, yakni penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan

kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif mengenai pengaturan penerapan

pidana denda dalam pelanggaran lalu lintas.

B. Sumber Data

Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

a. Bahan Hukum Primer, yaitu :

Berbagai dokumen peraturan perundang-undangan yang tertulis yang ada

dalam dan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam kerangka hukum

(9)

KUHAP, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu :

Bahan-bahan yang berkaitan erat dengan bahan hukum primer dan dapat

digunakan untuk menganalisis dan memahami bahan hukum primer yang ada.

Semua dokumen yang dapat menjadi sumber informasi mengenai pidana

denda dan pelanggaran lalu lintas, seperti hasil seminar atau makalah dari

pakar hukum, Koran, majalah, dan juga sumber-sumber lain yakni internet

yang memiliki kaitan erat dengan permasalahan yang dibahas.

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk dan

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder atau dengan kata lain

bahan hukum tambahan seperti kamus bahasa Indonesia

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Library Research,

yaitu penelitian kepustakaan seperti melakukan inventarisasi terhadap peraturan

perundang-undangan, dokumen serta literatur yang berkaitan dengan persoalan

yang dikaji dan Field Research, yaitu penelitian lapangan, yang dilakukan melalui

wawancara terhadap beberapa informan.

D. Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Metode

deskriptif yaitu mengambarkan secara menyeluruh tentang apa yang menjadi

pokok permasalahan. Kualitatif yaitu metode analisa data yang mengelompokkan

(10)

kebenarannya, kemudian dihubungkan dengan teori-teori, asas-asas, dan

kaidah-kaidah hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan sehingga diperoleh jawaban

atas permasalahan yang dirumuskan.

III. HASIL PENELITIAN

A. PANDANGAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENERAPAN PIDANA DENDA PADA PELANGGARAN LALU LINTAS

1. Kerangka Teoritik Pidana Denda dalam Hukum Pidana

Pidana denda merupakan salah satu jenis dari pidana pokok dalam hukum

pidana Indonesia yang merupakan bentuk pidana tertua dan lebih tua dari pidana

penjara dan setua pidana mati. Pidana denda adalah hukuman berupa kewajiban

bagi seorang yang telah melanggar larangan dalam rangka mengembalikan

keseimbangan hukum atau menebus kesalahan dengan pembayaran sejumlah uang

tertentu. Pidana denda tersebut diancam sebagai alternatif dengan pidana

kurungan terhadap hamper semua pelanggaran yang ditentukan dalam buku III

KUHP dan Undang-undang diluar KUHP. Ranah pidana denda hanya dapat

disejajarkan atau disamaratakan dengan ancaman pidana untuk kejahatan ringan,

kejahatan karena kealpaan, pelanggaran, atau pidana penjara jangka pendek

lainnya. Ukuran atau kesamarataan pidana denda sebagai alternatif atau sebagai

pengganti penjara atau kurungan, dalam perkembangannya, masih fluktuatif.

Dapat dilihat dari perkembangan pembentukan Undang-undang diluar KUHP.6

2. Pengaturan Pidana Denda dalam KUHP

Kedudukan dan pola pidana denda dalam hukum pidana positif indonesia

bertolak dari ketentuan pasal 10 KUHP, yang menyatakan bahwa:

6

(11)

1. Pidana pokok, terdiri dari:

a. pidana mati

b. pidana penjara

c. pidana kurungan

d. pidana denda

e. pidana tutupan (yang di tambahkan berdasarkan Undang-Undang No. 20

1946).

2. Pidana tambahan, terdiri atas:

a. pencabutan hak-hak tertentu

b. perampasan barang-barang tertentu

c. pengumuman keputusan hakim.

Berdasarkan urutan pidana pokok tersebut, terkesan bahwa pidana denda

adalah pidana pokok yang paling ringan. Walaupun tidak ada ketentuan yang

dengan tegas menyatakan demikian. Akan tetapi melihat urutan yang terdapat

pada Pasal 10 KUHP pidana denda menjadi pidana paling ringan.

Mulai Pasal 104 sampai Pasal 488 untuk kejahatan (buku II) perumusan

pidananya adalah pidana penjara tunggal, pidana penjara dengan alternatif denda,

pidana kurungan tunggal, pidana kurungan dengan alternatif denda, dan pidana

denda yang diancamkan secara tunggal. Pidana denda yang digunakan sebagai

pidana alternatif atau pidana tunggal dalam buku II dan buku III KUHP.

3. Pidana Denda Dalam Sistem Pemidanaan Pelanggaran Lalu Lintas

Pelanggaran lalu lintas adalah pelanggaraan terhadap Undang-undang

(12)

Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-undang lalu lintas terbaru tersebut

menerapkan sanksi pidana yang lebih berat bagi si pelanggar.

Pada setiap daerah mempunyai ukuran sendiri mengenai jumlah

maksimum dan minimum denda yang akan diterapkan. Hal ini sesuai dengan

Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 1993 yang menyebutkan:

“Dalam hal menentukan maksimum uang titipan untuk pelanggaran yang bersifat ringan, sedang, dan berat, Ketua Pengadilan Negeri agar memperharikan secara teliti keadan sosial dan ekonomi di wilayah hukumnya masing-masing.”

Sesuai dengan Surat Edaran diatas, dapat dipahami bahwa penjatuhan atau

pemberian pidana denda bagi pelanggar digantungkan pada keadaaan dan

kemampuan pada masyarakat setempat. Surat edaran tersebut tidak mengikat,

namun ketentuan yang ada didalamnya secara umum dipatuhi oleh Pengadilan

Negeri, dengan alasan untuk mengurangi keanekaragaman (disparitas)

pemidanaan denda.7

B. PENERAPAN PIDANA DENDA DALAM PELANGGARAN LALU LINTAS DI MEDAN

1. Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Medan

Transportasi harus digunakan sesuai dengan peruntukannya dan

pengoperasiannya harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditentukan,

namun dalam kenyataannya masih sering ditemui masyarakat yang menggunakan

transportasi tidak berdasarkan pada aturan perundang- undangan yang berlaku.

Para pengguna transportasi khususnya remaja masih banyak melalaikan

pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan baik yang

7

(13)

terdapat dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) maupun yang ada

pada UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pelanggaran-pelanggaran itu dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja dan oleh

orang dewasa maupun oleh para remaja.

Pakar Sosiolog Kota Medan,Muhammad Iqbal, berpendapat bahwa gejala itu terjadi

diakibatkan tiga faktor yakni, perilaku manusia (personal) itu sendiri, situasi sosial (lingkungan)

dan sikap adaptif terhadap penyimpangan/pelanggaran atas perilaku tersebut. Pelanggaran bisa

dilakukan oleh siapa saja (masyarakat), karena di dalam diri seseorang memiliki perilaku untuk

melakukan penyimpangan.8

Menurut Benny, SH., Polantas Medan, menyatakan bahwa hal yang harus

diperhatikan oleh pengguna jalan raya adalah keselamatan diri dan keselamatan

sekitarnya. Tindakan kepolisian untuk melakukan razia bukan semata-mata agar

masyarakat menggunakan helm, menyalakan lampu untuk kepentingan polisi,

akan tetapi untuk menjamin keselamatan masyarakat dalam berkendara. Apabila

sipelanggar tidak mematuhi peraturan lalu lintas bukan hanya merugikan dirinya

sendiri tetapi juga merugikan orang yang disekitarnya.9

Perlu diketahui mengapa di Medan tingkat kesadaran akan mamatuhi

peraturan lalu lintas masih tergolong rendah. Berikut beberapa hal penyebab

rendahnya kesadaran akan mematuhi peraturan lalu lintas dari penelitian yang

dilakukan yakni:

1. Minimnya pengetahuan mengenai peraturan dan rambu lalu lintas

8

http://www.scribd.com/doc/97889873/Pelanggaran-Lalu-Lintas-Di-Kota-Medan .

Diakses tanggal 7 November 2012. 9

(14)

2. Dari kecil sudah terbiasa melihat orang melanggar lalu lintas atau bahkan

orang tuanya sendiri

3. Hanya patuh ketika ada polisi yang patroli atau melewati pos polisi

4. Memutar balikkan ungkapan

5. Tidak memikirkan keselamatan diri atau orang lain

6. Melanggar dengan berbagai alasan

7. Bisa "damai di tempat" dengan petugas agar tidak terjadi tilang.

Melihat hal tersebut diatas, Kapoldasu meminta kepada seluruh aparat Satlantas

Polresta Medan untuk tidak lagi melakukan pembiaran terhadap warga yang melanggar

peraturan lalu lintas.Disamping itu juga, Kapoldasu menghimbau masyarakat untuk

tuidak menitipkan uang tilang kepada petugas. Seluruh pelaku pelanggaran lalu

lintas akan disidang. Untuk itu pihaknya akan berkoordinasi dengan Pengadilan

Negeri menjatuhkan denda maksimal guna memberikan efek jera terhadap

pelanggar lalu-lintas.10

2. Keberadaan dan Pelaksanaan Pidana Denda dalam Penerapan Sanksi terhadap Pelanggaran Lalu Lintas di Medan

Pelanggaran lalu lintas dan angkutan jalan tertentu sebagaimana diatur

dalam Pasal 212 KUHAP, khusus untuk wilayah kota Medan, Pengadilan tinggi

Medan telah menetapkan besarnya denda tilang yang harus dibayar oleh pengguna

jalan yang melanggar ketentuan sesuai dengan Kordinasi antara Pengadilan,

Kejaksaan dan kepolisian. Setelah berlakunya Undang-undang Republik

Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu dan Angkutan Jalan diberikan

alternatif pemberian sanksi pidana terhadap pelanggar lalu lintas yaitu pidana

10

(15)

kurungan atau pidana denda, namun dalam penerapannya besarnya jumlah denda

yang dijatuhkan terhadap setiap pelanggaran lalu lintas di kota Medan belum

berpedoman kepada besarnya jumlah denda yang termuat dalam Undang-Undang

Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan tersebut

melainkan masih berpedoman pada tabel denda tilang yang dibuat oleh Ketua

Pengadilan Negeri Medan, Kepala Kejaksaan Negeri Medan serta Kepala

Kepolisian Resort Medan pada tangaal 4 Februari 200911

Berdasarkan hasil wawancara dengan hakim Pengadilan Negeri Medan

yang menyatakan bahwa tabel denda tilang tersebut menjadi acuan atau pedoman

bagi hakim dalam menerapkan pidana denda bagi pelanggar lalu lintas. Penerapan

pidana denda ini tidak boleh melebihi dari besarnya jumlah denda yang terdapat

dalam tabel denda tilang yang ada di kota Medan ini dan sanksi yang lebih sering

digunakan adalah sanksi denda karena sanksi denda merupakan alternatif dari

sanksi kurungan. Penerapan pidana denda ini merupakan suatu sistem imbalan dan

penderitaan, yang akibatnya adalah suatu dukungan efektif untuk mematuhi

kaedah-kaedah.

Penerapan peraturan pidana dalam situasi konkrit, hakim harus

mempunyai kebebasan:12

1. Memilih beratnya pidana yang bergerak dari minimum ke maksimum dalam perumusan delik yang bersangkutan.

2. Memilih pidana pokok yang mana yang patut dijatuhkan apakah pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan ataukah pidana denda, sesuai dengan

11

Wawancara dengan Amrizal Fahmy, jaksa tilang Kejaksaan Negeri Medan pada tanggal 7 November 2012.

12

Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita

(16)

pertimbangan berat ringannya perbuatan yang dilakukan. Tentu ada ketentuan yang tidak memberi alternatif kepada hakim mengenai macam pidana ini.

Sebenarnya sebelum hakim tiba pada pemilihan seperti tersebut pada butir

1 dan butir 2, ia dapat memilih apakah yang menjatuhkan pidana pokok dan

tambahan ataukah ia menjatuhkan pidana bersyarat saja, manakala ia memandang

lebih bermanfaat bagi masyarakat dan terpidana jika ia menjatuhkan pidana

bersyarat saja. Hal ini akan leibih nyata jika Rancangan KUHP Nasional telah

menjelma dengan pidana pengawasan sebagai alternatif pidana penjara.

Ada tiga cara pembayaran denda dalam pelanggaran lalu lintas di kota Medan,

yaitu:13

a. Denda titipan, pelanggar dapat menitipkan dendanya kepada yang mempunyai kuasa untuk itu (kepolisian) dengan alasan si pelanggar ingin melanjutkan perjalanan dan tidak dapat mengikuti persidangan maka pelanggar menitipkan denda tersebut kepada petugas yang mempunyai kuasa supaya tidak ada jaminan yang disita petugas. Kemudian petugas itu yang menyampaikan atau menyetorkan denda itu ke Pengadilan Negeri dengan menunjukkan berkas tilang titipan tersebut.

b. Setoran langsung, pelanggar dapat membayar dan menyetornya langsung ke bank BRI di jalan putri hijau dengan menunjukkan surat tilangnya dan menyimpan bukti pembayarannya untuk mengambil jaminan atau barang yang disita oleh petugas.

c. Hadir dalam persidangan, pelanggar mengikuti persidangan yang telah ditentukan waktunya oleh petugas kepolisian di dalam surat tilangnya dan membayar langsung dendanya di Pengadilan sesuai dengan putusan yang telah ditentukan hakim.

Sejak berlakunya tabel denda tilang yang dibuat oleh Ketua Pengadilan

Negeri Medan, Kepala Kejaksaan Negeri Medan serta Kepala Kepolisian Resort

Medan pada tanggal 4 Februari 2009 telah dilakukan sosialisasi baik yang

dilakukan oleh pihak pengadilan, pihak kejaksaan dan kepolisian.

13

(17)

3. Efektifitas Penerapan Pidana Denda dalam Pelanggaran Lalu Lintas di Medan

Suatu pemidanaan dikatakan efektif apabila tujuan yang ingin dicapai

dengan adanya pemidanaan itu tercapai.14Adapun tujuan pemidanaan adalah:15

1. Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat

2. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadikannya orang yang baik dan berguna

3. Menyelesai konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbanagn, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat.

4. Mebebaskan rasa bersalah pada terpidana.

Selanjutnya diutarakan bahwa pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan tidak diperkenankan martabat manusia.

Menurut hasil riset yang telah dilakukan, efektifitas pidana denda masih

jauh dari tujuan pemidanaan. Pidana denda juga bisa dipandang sebagai alternatif

pidana pencabutan kemerdekaan. Sebagai sarana dalam politik kriminal, pidana

ini tidak kalah efektifnya dari pidana pencabutan kemerdekaan. Berdasarkan

pemikiran ini maka pada dasarnya sedapat mungkin denda itu harus dibayar oleh

terpidana dan untuk pembayaran itu ditetapkan tenggang waktu. Kalau keadaan

mengizinkan, denda yang tidak dibayar itu dapat dikembalikan dari kekayaan atau

pendapatan terpidana sebagai gantinya. Pengganti itu tidak mungkin, maka pidana

penjara pengganti dikerjakan kepadanya. Ketentuan agar terpidana sedapat

mungkin membayar dendanya harus diartikan bahwa kepadanya diberi

kesempatan oleh hakim untuk mengangsur dendanya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak kepolisian resort kota Medan,

(18)

memberikan efek jera bagi pelanggar lalu lintas karena rendahnya jumlah denda

tilang yang berlaku di kota Medan. Menurut beliau, jumlah denda menurut tabel

denda tilang yang sudah ada tersebut sebenarnya bisa memberikan efek jera bagi

pelanggar apabila denda dalam tabel tersebut diterapkan sebagai denda minimum

yang artinya jumlah yang terdapat dalam tabel tersebut menjadi denda minimum

yang harus dibayarkan, namun hakim disini cenderung menjatuhkan denda

dibawah dari ketentuan yang ada pada tabel tersebut.

Menurut ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Pasal 30 KUHP, tidak

ada ketentuan batas waktu yang pasti kapan denda itu harus dibayar. Disamping

itu tidak ada pula ketentuan mengenai tindakan-tindakan lain yang dapat

menjamin agar terpidana dapat dipaksa untuk membayar dendanya misalnya

dengan jalan merampas atau menyita harta benda atau kekayaan terpidana.

C. ANALISA PENERAPAN PIDANA DENDA DALAM PELANGGARAN LALU LINTAS DALAM PUTUSAN TILANG DI MEDAN

1. Putusan Register Nomor 63457 Pengadilan Negeri Medan

Kasus Pelanggaran Lalu Lintas Putusan Register Nomor 63457 Pengadilan

Negeri Medan mungkin hanya sebagian kecil dari kasus-kasus Pelanggaran Lalu

Lintas yang terjadi di lingkungan masyarakat dengan melihat banyaknya

Pelanggaran Lalu Lintas yang terjadi. Pelanggaran lalu lintas oleh terdakwa

Ratiman yaitu melanggar pasal 288 (2) UULAJ Yo 211, 212 PP 44 tahun 1993.

Dalam kasus pelanggaran lalu lintas yang terjadi yang dilakukan terdakwa

Ratiman. Pelaku pelanggaran lalu lintas ini merupakan manusia sebagai subjek

hukum pidana yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pelanggaran

(19)

dengan tertangkap tangan dengan artian penyidikan pelanggaran lalu lintas

dimulai dengan pemeriksaan kendaraan bermotor dijalan dalam hal adanya

pelanggaran yang dilakukan oleh Ratiman. Dalam pemeriksaan terdakwa secara

tertangkap tangan tidak dapat menunjukan Surat Izin Mengemudi yang sah

kepada petugas, sehingga petugas menahan atau menyita Surat Tanda Nomor

Kendaraan (STNK) truk tersebut. Pengendara truk diwajibkan memiliki Surat Izin

Mengemudi yang termasuk kedalam golongan SIM BII (Pasal 211 ayat 2 PP

nomor 44 tahun 1993). Terdakwa sebagai pelaku harus mempertanggungjawabkan

perbuatannya dengan membayar denda sebesar Rp 200.000 sesuai dengan

ketentuan Pasal 288 (2) UULAJ.

Melihat dari tabel denda tilang yang ada di Kota Medan untuk jenis

kendaraan truk yang tidak dapat menunjukkan SIM sesuai dengan ketentuan

dikenakan denda sebesar Rp 350.000,-. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi

perbedaan ketentuan denda yang terdapat antara UULAJ dengan tabel denda

tilang yang ada di kota Medan. Putusan hakim dalam pelanggaran ini tidak

mengacu pada tabel denda tilang tersebut melainkan mengacu pada UULAJ.

Mengingat kekuasaan kehakiman yang mandiri dan tidak ada kewajiban bagi

hakim untuk harus menjatuhi jumlah dendanya sesuai dengan tabel denda tilang

tersebut. Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan

rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.16

2. Putusan Register Nomor 68225 Pengadilan Negeri Medan

16

(20)

Pelanggaran yang dilakukan terdakwa adalah pelanggaran lalu lintas Pasal

288 (2) UULAJ Yo.211, 212 PP 44 Tahun 1993 dan melanggar Pasal 290 dan 291

(1) (2) UULAJ Yo.70 PP 43 tahun 1993 yang dirumuskan dalam Undang-undang

22 tahun 2009. Dalam kasus pelanggaran lalu lintas yang terjadi yang dilakukan

terdakwa Faisal. Pelaku pelanggaran lalu lintas ini merupakan manusia sebagai

subjek hukum pidana yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh terdakwa adalah tindak pidana yang

dilakukan dengan tertangkap tangan dengan artian penyidikan pelanggaran lalu

lintas dimulai dengan pemeriksaan kendaraan bermotor dijalan dalam hal adanya

pelanggaran yang dilakukan oleh Faisal. Dalam pemeriksaan terdakwa secara

tertangkap tangan tidak dapat menunjukan Surat Izin Mengemudi yang sah

kepada petugas dan tidak mengenakan helm yang berstandar Nasional. sehingga

petugas menahan atau menyita Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) sepeda

motor tersebut. Pengendara sepeda motor diwajibkan memiliki Surat Izin

Mengemudi yang termasuk kedalam golongan SIM C (Pasal 211 ayat 2 PP nomor

44 tahun 1993)

Terdakwa sebagai pelaku harus mempertanggung jawabkan perbuatannya

dengan membayar denda sebesar Rp 100.000 sesuai dengan ketentuan Pasal 288

(2) UULAJ. Melihat dari tabel denda tilang yang ada di Kota Medan untuk jenis

kendaraan roda dua atau sepeda motor yang tidak dapat menunjukkan SIM sesuai

dengan ketentuan dikenakan denda sebesar Rp 100.000,-. Hal tersebut

(21)

denda tilang tersebut karena jumlah denda yang dijatuhkan hakim sesuai dengan

jumlah denda yang ada pada tabel denda tilang yang ada di kota Medan.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini, dapat diambil kesimpulan

yaitu sebagai berikut:

1. Menurut pandangan hukum pidana, penerapan pidana denda dalam

pelanggaran lalu lintas diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009.

Pidana denda masuk dalam kategori pidana pokok (sesuai Pasal 10 KUHP)

sebagai urutan terakhir atau keempat, sesudah pidana mati, pidana penjara dan

pidana kurungan. Pidana denda diatur dalam Pasal 30-31 KUHP dan bukan

dimaksudkan sekedar untuk tujuan-tujuan ekonomis misalnya untuk sekedar

menambah pemasukan keuangan negara, melainkan harus dikaitkan dengan

tujuan-tujuan pemidanaan. Pidana denda dalam pelanggaran lalu lintas diatur

dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan. Undang-undang ini menggantikan Undang-undang Nomor 14

Tahun 1992 karena sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi, perubahan

linkungan strategis, dan kebutuhan penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan saat ini, sehingga perlu diganti dengan dengan undang-undang yang baru.

Ketentuan pidananya diatur dalam Pasal 273 sampai Pasal 315 memuat denda

yang lebih tinggi dari undang-undang yang sebelumnya.

2. Penerapan pidana denda dalam pelanggaran lalu lintas di kota Medan seperti

(22)

besarnya denda tilang yang harus dibayar oleh pengguna jalan yang melanggar

ketentuan sesuai dengan Kordinasi antara Pengadilan, Kejaksaan dan

kepolisian. Besarnya denda tersebut ditentukan oleh kategori jenis pelanggaran

(ringan, sedang dan berat) dan jenis kendaraan yang melanggar yaitu bermotor

roda dua, roda empat, mobil penumpang umum, pick up, bus/truk dan truk

gandeng. Hal ini dibuat atas keluarnya SEMA Nomor 4 Tahun 1993 yang

berisi agar masing-masing daerah membuat standar besarnya jumlah denda atas

pelanggaran lalu lintas dengan melihat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat

daerah tersebut. Berdasarkan hasil penelitian juga menyatakan bahwa besarnya

jumlah denda tilang yang ada di kota Medan masih dikategorikan rendah. Hal

ini yang menyebabkan tidak efektifnya penerapan pidana denda serta penerpan

pidana denda tersebut tidak mengakibatkan efek jera. Ini ditunjukkan dari

angka pelanggaran lalu lintas yang tinggi setiap bulannya. Terdapat tiga cara

pembayaran denda dalam pelanggaran lalu lintas di kota Medan, yaitu: denda

titipan yang merupakan denda yang dapat dititipkan kepada petugas yang

mempunyai kuasa, denda setoran langsung yang merupakan denda yang

dibayar langsung oleh pelanggar ke bank BRI jalan putri hijau yang ditunjuk

sebagai bank yang resmi tempat pembayaran denda tilang di kota Medan serta

menghadiri persidangan yang merupakan cara yang seharusnya diikuti oleh

pelanggar.

3. Analisis penerapan pidana denda dalam pelanggaran lalu lintas dapat dilihat

dari berbagai vonis hakim yang dijatuhkan kepada pelaku pelanggaran lalu

(23)

dalam menentukan jumlah denda. Mulai dari jumlah denda yang diputus

jumlahnya dibawah tabel denda tilang, jumlah dendanya sama dengan tabel

denda tilang bahkan jumlah dendanya lebih dari yang ditentukan dalam tabel

denda tilang. Tampak jelas hakim dalam menjatuhkan putusan mandiri dan

tidak ada kewajiban bagi hakim untuk harus mematuhi jumlah denda sesuai

dengan tabel denda tilan tersebut. Tabel denda tilang tersebut digunakan untuk

menghindari terjadinya perbedaan (disparitas) yang beraneka ragam dalam

menentukan jumlah denda tilang tersebut. Hukum itu harus memberikab rasa

keadilan, kepastian, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

B. Saran

1. Agar kedepannya, pemerintah melalukan sosialisasi yang cukup terhadap

Undang-Undang ini serta perlu pengawasan dan pemberian sanksi yang tegas

kepada oknum petugas yang selalu memanfaatkan peluang melakukan damai

dengan pelanggar lalu lintas untuk kepentingan pribadinya.

2. Saat ini jaksa selaku eksekutor hanya menunggu apabila ada pelanggar yang

tidak mau membayar denda. Ini dikarenakan tingginya pelanggar di kota

Medan, namun kedepan perlu diadakannya koordinasi dengan pihak kepolisian

dalam hal pelanggar dalam batas waktu yang ditentukan tidak memenuhi

kewajibannya menyetorkan uang denda maka SIM yang bersangkutan akan

diblokir (dibatalkan) dan begitu juga dengan STNK dapat tidak diterbitkan

untuk tahun berikutnya.

3. Agar kedepannya hakim perlu adanya memberikan sanksi pidana tehadap

(24)

pidana denda maksimal serta tabel denda tilang yang sudah ada tersebut perlu

ditinjau kembali oleh pihak Pengadilan, Kejaksaan dan Kepolisian karena

jumlah denda dalam tabel tersebut terlalu rendah jika dibandingkan dengan

denda yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 agar

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Hamzah, Andi, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita 1993.

Suhariyono AR, Pembaruan Pidana Denda Indonesia Jakarta: Papas Sinar Sinanti, 2012

Suparni, Niniek, Eksistensi Pidana Denda dalam Sistem Pidana Dan Pemidanaan Jakarta:Sinar Grafik, 2007

Homepage Internet

http://www.scribd.com/doc/97889873/Pelanggaran-Lalu-Lintas-Di-Kota-Medan

Wawancara

Wawancara dengan Baslin Sinaga, Hakim Pengadilan Negeri Medan pada tanggal 24 Oktober 2012.

Wawancara dengan Amrizal Fahmy, jaksa tilang Kejaksaan Negeri Medan pada tanggal 7 November 2012.

Wawancara dengan Agustinus P, di Kejaksaan Negeri Medan pada tanggal 3 Oktober 2012.

Referensi

Dokumen terkait

Proses rekredensial (re-credentialing ) adalah proses evaluasi ulang oleh suatu rumah sakit terhadap tenaga tenaga kesehatan lainnya yang telah bekerja dan memiliki kewenangan

Peran Pancasila itu sendiri, dengan mengamalkan Pancasila, semua orang tidak akan melakukan tindakan yang merugikan seperti korupsi,pembunuhan,pemerkosaan,minum

Kesan-kesan buruk lain : Tiada kesan yang penting atau bahaya kritikal yang diketahui.

Hubungan antara Citra Tubuh (Body Image) dengan Perilaku Konsumtif Remaja (Studi Korelasional pada Siswa-Siswi Kelas XI di SMAN 24 Bandung Tahun Ajaran

Pada Halaman Evaluasi dimaksudkan agar siswa dan guru dapat menilai sejauh mana kemampuan siswa dalam mengingat dan memahami pelajaran dimensi tiga yang

Hasil penelitian ini menunjukan pasta gigi yang mengandung minyak atsiri kulit batang kayu manis mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans dan

Peneliti juga menemukan beberapa pengaruh tindak tutur ilokusi yang dituturkan pedagang pakaian jadi dewasa di Pasar Baru Dharmasraya terhadap calon pembeli yaitu

Berkat limpahan dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penempatan Aspek Makna dan Makna Emotif dalam Tuturan (Tuduhan, Dakwaan,