• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi PGSD - Pengaruh Media Pembelajaran Dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Skripsi PGSD - Pengaruh Media Pembelajaran Dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV

Se-KECAMATAN PEJAGOAN TAHUN AJARAN 2011/2012 Dosen Pengampu : Dr. H. Y. Padmono. M.Pd

Disusun Oleh :

NAMA : SRININGSIH

NIM : X7211112

KELAS : VC

PROGAM SI TRANSFER PGSD KAMPUS VI KEBUMEN FAKULTA KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam suatu kehidupan bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa yang bersangkutan. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan output yang berdaya pikir tinggi dan kreatif. Pendidikan itu merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan, manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga negara masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa. Berbagai upaya telah ditempuh untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, seperti :

pembaharuan dalam kurikulum, pengembangan model pembelajaran,

pengembangan media pembelajaran, perubahan system penilain, dan sebagainya. Salah satu unsur yang sering dikaji dalam hubungannya dengan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran di sekolah. Selama ini kegiatan pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas berpusat pada guru dan cenderung siswa kurang aktif serta

penggunaan media pembelajaran masih jarang dilakukan oleh guru dalam menunjang pemahaman konsep tentang materi pelajaran yang akan diajarkan. Banyak cara yang dilakukan agar siswa menjadi aktif, salah satunya yaitu mengubah paradigma pembelajaran. Guru bukan sebagai pusat pembelajaran, melainkan sebagai pembimbing, falisilitator, dan motivator. Selama kegiatan pembelajaran, siswalah yang dituntut untuk aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu media pembelajaran yang mampu

meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan penggunaan media

(3)

pembelajaran ini, pembelajaran matematika tidaklah membosankan akan tetapi proses pembelajaran yang berlangsung akan menyenangkan sehingga anak akan dapat menyimpan memori dalam jangka panjang(long time). Pemilihan media pembelajaran harus mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, logis, dan kreatif.

Dalam pembelajaran matematika di SD diperlukan suatu media pembelajaran yang konkret untuk membantu pemahaman konsep dalam

mengembangkan suatu materi yang diimplementasikan dalam bentuk pengalaman siswa. Pembelajaran matematika di sekolah dasar bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pola dan sifat, melakukan menipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Namun dalam kenyataannya pencapaian tujuan itu terkadang masih mengalami beberapa kendala, sehingga pencapaian prestasi belajar siswa masih kurang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya bisa datang dalam diri siswa yang masih menganggap pembelajaran matematika itu membosankan dan sulit serta media pembelajaran yang kurang menarik.

Oleh sebab itu, dalam pembelajaran matematika harus diwujudkan melalui kegiatan yang menimbulkan interaksi dua arah. Dalam upaya meraih keberhasilan dalam pembelajaran matematika, guru senantiasa berupaya mengembangkan strategi pembelajaran, misalnya dengan pengguanaan media konkret yang sesuai.

(4)

Dengan penggunaan media konkret, diharapkan pembelajaran matematika tidak membosankan dan meningkatkan minat belajar siswa.

Seperti kita ketahui bahwa, prestasi belajar bukan saja dipengaruhi oleh kemampuan intelektual yang bersifat kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh oleh faktor-faktor nonkognitif, seperti : motivasi. Motivasi ini bersumber dari

keyakinan kemampuannya untuk memperoleh sukses dalam upaya mencapai sasaran yang dicanangkan. Hal ini berdampak pada upaya mewujudkan prestasi belajar, mengaktualisasikan potensi seoptimal mungkin.

Motivasi belajar yang menjadikan keajegan belajar di sekolah tidak terjadi dengan sendirinya, walau berbagai upaya tersebut membantu mewujudkan

kemudahan dalam arti fisik, untuk tidak lari ke jalanan. Yang perlu diperhatikan adalah pengalaman belajar yang bermakna.

Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat besar peranannya terhadap prestasi hasil belajar. Karena dengan adanya motivasi dapat menumbuhkan minat dorongan belajar siswa. Bagi siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga boleh jadi siswa yang memiliki intelegensi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kekurangan motivasi, sebab hasil belajar itu akan optimal bila terdapat motivasi yang tepat. Karenanya, bila siswa mengalami kegagalan dalam belajar, hal ini bukanlah semata-mata kesalahan siswa, tetapi mungkin saja guru tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi siswa.

Perhatian siswa terhadap stimulus belajar dapat diwujudkan melalui beberapa cara seperti penggunaan media pengajaran atau alat-alat peraga, memberikan pertanyaan kepada siswa, membuat variasi belajar pada siswa, melakukan pengulangan informasi yang berbeda dengan cara sebelumnya, memberikan stimulus belajar dalam bentuk lain sehingga siswa tidak bosan. Dan ada beberapa motivasi yang digunakan guru terhadap bahan pelajaran agar siswa tidak merasa bosan, seperti : memberikan hadiah, pujian, gerakan tubuh,

memberikan angka atau penilaian, memberikan tugas dan hukuman. Motivasi yang kuat dalam diri siswa akan meningkatkan minat, kemauan dan semangat yang tinggi dalam belajar, karena antara motivasi dan semangat belajar

(5)

motivasi inilah siswa menjadi tekun dalam proses belajar mengajar, dan dengan motivasi itu pula kualitas hasil belajar siswa dapat diwujudkan dengan baik.

Kegiatan penelitian ini untuk melihat adanya pengaruh atau tidak

penggunaan media pembelajaran dan pemberian motivasi dalam merespon materi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa sehingga dapat memberikan alternatif solusi bagi guru yang kesulitan untuk membangkitkan siswa untuk belajar.

Tingkat keaktifan siswa ada bermacam-macam sesuai dengan motivasi dari guru, orang tua, dan lingkungannya sehingga penulis mencoba meneliti fenomena tersebut melalui proposal skripsi yang berjudul “PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD Se KECAMATAN

PEJAGOAN TAHUN AJARAN 2011/2012” yang akan lebih menekankan pada penggunaan media pembelajaran dan pemberian motivasi oleh guru yang menunjang pada hasil belajarnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah ada pengaruh media pembelajaran terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012?

2. Apakah ada pengaruh motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012?

3. Apakah ada pengaruh media pembelajaran dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012?

C. Tujuan Penelitian

(6)

1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh media pembelajaran terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012.

2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012.

3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh media pembelajaran dan motivasi belajar siswa secara bersama-sama terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaruh media pembelajaran dalam merespon materi

pembelajaran dan motivasi belajar dari guru terhadap hasil belajar siswa.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca atau pihak-pihak yang berkepentingan. Sedangkan manfaat secara praktisnya yaitu:

1. Bagi Siswa

Siswa diharapkan mendapatkan pengalaman baru dalam proses belajar dan dapat meningkatkan motivasi untuk aktif dalam kegiatan belajar sehingga terpacu untuk terus berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam prestasi. 2. Bagi Guru atau Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Penelitian ini erat kaitannya dengan prospek penilaian guru terhadap siswa serta penelitian ini berkaitan dengan mata kuliah, strategi belajar mengajar (SBM) evaluasi pembelajaran, telaah kurikulum, metodologi penelitiannya pendidikan, manajemen pendidikan dan lain sebagainya. Sehingga dengan adanya penelitian ini, diharapkan penulis dan semua pihak yang

berkepentingan dapat lebih memahaminya. 3. Bagi Sekolah

(7)

Penelitian ini difokuskan kepada siswa kelas IV SD dengan mata pelajaran yang diamati adalah mata pelajaran Matematika sebagai objek dan materinya. Sehingga para pembaca, guru, atau pihak-pihak lain yang

berkepentingan diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan dalam aplikasi dalam proses pembelajarannya. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan untuk meningkatkan komitmen sekolah dalam meningkatkan meningkatkan kualitas peserta didik menjadi semakin baik lagi.

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori 1.

Hasil Belajar Siswa Kelas IV Sekolah Dasar a.

Karakteristik Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

Anak kelas IV SD berusia antara 9-11 tahun. Pada usia ini anak berada pada fase operasional konkrit. Anak aktif bergerak dan mempunyai perhatian yang besar pada lingkungan . Piaget (dalam Sri Esti Wuryani 2006: 72) mengemukakan fase perkembangan kognitif anak sebagai berikut:

(8)

Umur Fase 0-2 tahun Sensorimotor

2-7 tahun Intuitif Praoperasional 7-11 tahun Operasional Konkrit 11-16 tahun Operasional Formal

Piaget (dalam Sri Esti Wuryani 2006: 72) menyatakan bahwa pada fase operasional konkret anak memperoleh kecakapan untuk menunjukan logika operasional dasar, tetapi hanya melalui pengertian konkrit. Anak telah mampu berpikir secara logis, fleksibel mengorganisasi dalam aplikasi

terhadap benda konkrit. Anak belum mampu berpikir secara abstrak. Dengan demikian sia-sia belaka memberikan pengalaman abstrak pada anak usia operasional konkrit. Dalam tahapan ini anak-anak sudah mampu berfikir logis. Mampu konkrit memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat menghubungkan dimensi ini satu sama lain. Kurang egosentris, belum bisa berfikir abstrak.

Di dalam periode operasional konkrit ini anak akan masih bergantung pada rupa benda, namun dia telah mampu mempelajari mengenai lingkungan dan kaidah mengenai konversi serta dapat menggunakan logika sederhana (Noehi Nasution, dkk, 1992:56).

Banyak ahli psikolog yang menggambarkan perkembangan anak sebagai serangkaian tahapan dan beberapa diantaranya memiliki kesamaan sengan lainnya, termasuk pandangan piaget. Sebagian anak memasuki tahapan tertentu lebih dini dibandingkan anak lainnya dan sebagian anak akan melalui tahapan tertentu sengan lebih cepat dibandingjan anak lainnya. Berikut urutan tahapan perkembangan kognitif anak bersasarkan pandangan dari Piaget (Winfred F. Hill, 2010: 160-163): (1) tahapan sensori-motorik (sensory-motor), (2) tahapan praoperasional, (3) tahapan operasional konkret, (4) tahapan operasional formal.

Berdasarkan pandangan Piaget di atas dapat diketahui bahwa siswa kelas IV SD berada dalam tahapan operasional konkret. Jadi, siswa kelas IV sudah mampu melakuakan kegiatan mengklasifikasi, mengkombinasi, dan membandingkan.

(9)

Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri, (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.

Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.

Menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan

keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan. (http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/karakteristik-siswa-sekolah-dasar/)

Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD karakteristik pada masa kelas tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6) antara lain: (1) perhatiannya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari, (2) ingin tahu, ingin belajar, dan realistis, (3) timbul minat pada

(10)

pelajaran-pelajaran khusus, dan (4) anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.

Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.

Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa.

2.

Matematika a. Pengertian Matematika

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. Matematika mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat dibidang teknologi informasi dan kkomunikasi dewasa ini didasari oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, teori peluang, analisis dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yanr yang kuat sejak dini. (http://www.ladang ilmu.blogspot.com).

Dalam kurikulum 2004(Depdiknas, 2003:2) dituliskan bahwa matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

(11)

Soedjadi (2000:1) mengemukakan bahwa ada beberapa definisi atau pengertian matematika berdasarkan sudut pandang pembuatnya, yaitu sebagai berikut:

1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.

2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.

3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.

4) Matematika adalah pengetahuan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.

5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik. 6) Matematika adalah pengetuan tentang aturan-aturan yang ketat.

Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa matematika adalah suatu ilmu universal yang mendasari cabang ilmu pengetahuan eksak yang terorganisir secara sistematis dan dibangun melalui kebenaran suatu konsep yang membutuhkan penalaran logik dan berhubungan dengan fakta-fakta kuantitatif serta masalah ruang dan waktu.

b.

Fungsi

Menurut kurikulum 2004 matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar malalui kegiatan bernalar,

penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik diagram.

c. Teori Belajar Matematika

Teori belajar yang dapat diterapkan untuk pengembangan dan atau perbaikan pemberlajaran matematika dapat digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran matematika. Di bawah ini akan dijelaskan tentang teori belajar Bruner dan Ausebel.

1) Menurut Bruner

Jeorema Bruner berpendapat bahwa belajar matematika ialah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Bruner melukiskan bahwa anak-anak berkembang melalui 3 tahap perkembangan mental yaitu:

(12)

Tahap pertama anak belajar konsep adalah berhubungan dengan benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya. Pada tahap ini anak masih dalam gerak reflek dan coba-coba belum harmonis. Ia memanipulasikan, menyusun, menjejerkan, mengutak-ngatik, dan bentuk-bentuk gerak lainnya(berupa dengan tahap sensori motor dari piaget). Setiap melakukan pembelajaran tentang konsep, fakta atau prosedur dalam matematika yang bersifat abstrak biasanya diawali dari persoalan sehari – hari yang sederhana. (b) Tahap ikonik atau tahap gambar bayangan.

Pada tahap ini anak telah mengubah, menandai, dan menyimpan peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental. Dengan kata lain anak dapat membayangkan kembali atau memberikan gambaran dalam pikirannya tentang benda atau peristiwa yang dialami. Setelah memanipulasikan benda secara nyata malalui persoalan

keseharian dari dunia sekitarnya, dilanjutkan dengan membentuk modelnya sebagai bayangan mental dari benda atau peristiwa keseharan tersebut. Model ini bersifat semi konkret.

(c) Tahap simbolik

Pada tahap ini anak dapat mengutarakan bayangan mental dalam bentuk simbol dan bahasa. Pada tahap ini anak sudah mampu memahami simbol-simbol dan menjelaskan dengan bahasanya. Serupa dengan tahap operasi konkret dan formal.

2) Ausebel (Brownel dan Chazal)

Mengemukakan pentingnya pembelajaran bermakna dalam mengajar matematika. Kebernaknaan pembelajaran akan membuat kegiatan belajar lebih menarik, lebih bermanfaat, dan lebih menantang, sehingga konsep matematika akan lebih mudah dipahami dan lebih tahan lama diingat peserta didik. Kebermakanaan yang dimaksud untuk

memudahkan pemahaman siswa tentang konsep matematika. d. Hasil Belajar

(13)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian hasil yaitu sesuatu yang didapat dari jerih payah panen, pendapatan, perolehan, buah dari,akibat, kesudahan (setelah pertandingan, ujian, dsb).

2) Pengertian Belajar

Belajar dapat diartikan sebagai segala daya dan upaya manusia secara sadar untuk mendapatkan suatu kemampuan atau keterampilan yang bermanfaat. Sedangkan pendidikan merupakan suatu proses yang

membantu manusia dalam belajar, sehingga hasil dari proses tersebut dapat digunakan dalam menghadapi permasalahan tertentu.

(http:///www.ajipriyanto.co.cc)

Belajar menurut Klien (Conny R. Semiawan, 2007:4), adalah proses eksperiensia ( pengalaman ) yang menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanen dan yang tidak dapat dijelaskan dengan keadaan sementara kedewasaan atau tendensi alamiah. Artinya belajar tidak terjadi karena proses kematangan dari dalam saja ( yang merupakan faktor genetis) melainkan juga karena pengalaman yang perolehannya bersifat eksistensial.

Dari pengertian yang sangat luas, (Anita, E. Woolfolk, 1993) mengemukakan bahwa belajar terjadi ketika pengalaman menyebabkan suatu perubahan pengetahuan dan perilaku yang relatif permanen pada individu tersebut.

Ernes Hilgrad(1948) menyatakan bahwa learning is the process by which an activity orginates through training procedures (whether in the laboaratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not atrisutable to training. Jadi, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan dan perubahan itu disebabkan karena ada dukungan dari lingkungan yang positif yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif. Perubahan belajar itu meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan belajar itu tidak

berdasarkan naluri tetapi melalui proses latihan. (Sri Anitah, dkk, 2008:2.4).

Menurut Rochmat Wahab dalam bukunya Perkembangan Peserta Didik mengemukakan bahwa belajar merupakan aktivitas atau

(14)

pengalaman yang menghasilkan perubahan pengetahuan, perilaku, dan pribadi yang bersifat permanen. Kingslei (dalam Abu Ahmadi 2004: 126) mengemukakan belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek. Whitaker (dalam Abu Ahmadi 2004: 126) mendefinisikan bahwa belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Menurut Slameto (2003: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi di lingkungannya.

Dari beberapa pengertian atau definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan segala aktivitas atau upaya manusia secara sadar untuk mendapatkan suatu kemampuan dan keterampilan yang bermanfaat melalui proses pengalaman yang dialami oleh individu tersebut yang menghasilkan perubahan perilaku, pengetahuan, dan keterampilan dengan berinteraksi dengan lingkungannya yang bersifat permanen.

Prinsip umum belajar belajar menurut Wingo (1970:194) didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:

a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi.

Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagia hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan, dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan

menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respons yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, dan diperoleh kecakapan melakukan kegiatan. b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman.

Pemahaman dan struktur kognitif dapat diperoleh seseorang melalui pengaman melakukan suatu kegiatan. Dalam khazanah peristilahan pendidikan, hal ini dikenal dengan “learning by doing” yaitu belajar dengan jalan melakukan suatu tindakan. Pemahaman itu sendiri bersifat abstrak. Sesuatu yang abstrak akan mudah diperoleh dengan jalan melakukan kegiatan-kegiatan yang nyata atau konkret, sehingga

(15)

orang yang bersangkutan memperoleh pengalaman yang menuntun pada pemahaman yang bersifat abstrak.

c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sep dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakantujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan atau diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh siswa.

Faktor yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi dua macam yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, faktor ekstern yaitu faktor yang ada di luar individu. Faktor intern meliputi :

a) Faktor Kesehatan

Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, ibadah, dan sebagainya. b) Cacat Tubuh

Keadaan cacat tubuh mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu. Oleh karena itu jika hal ini terjadi,

hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh

kecacatannya itu. c) Intelegensi

Intelegensi itu adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yan gbaru dengan cepat dan efektif, mengetahui menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan

(16)

Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalalm situasi yang sama, siswa yang mempunyai intelegensi tinggi akan berhasil daripada yang mempunyai intelegensi rendah. Siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi merupakan salah satu faktor yang diantara faktor yang lain. Jika faktor lain bisa menghambat/berpengaruh negatif terhadap belajarnya, maka siswa akan gagal dalam belajarnya. Siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia belajar dengan baik. Jika siswa memiliki

intelegensi yang rendah, maka siswa perlu memperoleh bimbingan di lembaga pendidikan khusus.

d) Perhatian

Untuk memperoleh hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika

pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, diusahakan bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran sesuai dengan hobi atau bakatnya. e) Minat

Minat memiliki pengaruh terhadap belajar, karena bila bahan belajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.

f) Bakat

Jika bahan pelajaran yang akan dipelajar sesuai dengan

bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena siswa merasa senang dalam belajar dan itu berdampak pada waktu yang akan datang

pastinya siswa akan lebih giat lagi dalam belajarnya. g) Motif

Motif yang kuat sangatlah perlu di dalam belajar, di dalam membentuk motif yang kuat itu dapat dilaksanakan dengan adanya

(17)

latihan-latihan/kebiasaan-kebiasaan dan pengaruh lingkungan yang memperkuat.

h) Kematangan

Kematangan belum berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus, untuk itu diperlukan latihan-latihan dan

pelajaran. Dengan kata lain, anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jka anak sudah siap. Jadi kematangan baru untuk memilih kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar. i) Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari diri seseorang dan juga

berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.

Sedangkan faktor ekstern meliputi : cara orang tua mendidik, pengertian orangtua, metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran, standar pengajaran di atas ukuran, bentuk kehidupan masyarakat, mass media, teman bergaul.

3) Pengertian Hasil Belajar

Sudjana (1992:22) dalam Y. Padmono (2002:27) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dengan demikian hasil belajar menunjukan perubahan dari sebelum pengalaman belajar dengan setelah menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar menunjukkan perubahan yang berupa penambahan, peningkatan, dan penyempurnaan perilaku.

Menurut Y. Padmono dalam bukunya Perkembangan Peserta Didik, perubahan sebagai hasil belajar dicirikan sebagai berikut:

a) Perubahan terjadi di dalam situasi sadar, individu menyadari bahwa aktivitas belajar memperoleh perubahan atau paling tidak individu merasakan terjadi perubahan dalam dirinya.

(18)

hasil belajar dalam individu berlangsung secara terus menerus dan dinamis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya.

c) Perubahan belajar bersifat positif dan aktif. Perubahan senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya.

d) Perubahan belajar bertujuan dan terarah, perubahan belajar terjadi karena ada tujuan.

e) Perubahan belajar bukan perubahan yang bersifat kontemporer atau sementara.

f) Perubahan belajar mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Pendapat lain tentang pengertian hasil belajar yaitu merupakan kulminasi dari suatu proses yang telah dilakukan dalam belajar. Kulminasi akan diiringi dengan kegiatan tindak lanjut. Hasil belajar harus

menunjukkan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif, dan disadari. Bentuk perubahan tingkah laku harus menyeluruh secara komprehensif sehingga menunjukkan perubahan tingkah laku. Romizoswki (dalam Sri Anitah, dkk.2008:2.9) menyebutkan dalam skema kemampuan yang dapat menunjukkan hasil belajar yaitu :

a) Ketrampilan kognitif berkaitan dengan kemampuan membuat keputusan memecahkan masalah dan berpikir logis.

b) Keterampilan psikomotor berkaitan dengan kemampuan tindakan fisik dan kegiatan perseptual.

c) Ketrampilan reaktif berkaitan dengan sikap, perasaan.

Hasil belajar dipengaruhi oleh kemampuan intelektual yang

bersifat kognitif, selain itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor nonkognitif seperti : emosi, motivasi, kepribadian, serta berbagai pengaruh lingkungan. Pengembangan potensi anak mencapai aktualisasi optimal bukan saja dipengaruhi faktor bakat, melainkan juga faktor lingkungan yang

membimbing dan membentuk perkembangan anak. Perkembangan seluruh kepribadiannnya selain dilatarbelakangi kedua faktor tersebut juga terkait

(19)

dengan kemampuan intelektual, motivasi, pengetahuan, dan konsep dirinya. (Conny R. Semiawan,2007:13)

Gagne (dalam Sri Esti Wuryani 2006: 21) meninjau hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa dan juga meninjau proses ke hasil belajar dan langkah-langkah intruksional yang dapat diambil oleh guru dalam membantu siswa belajar.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil belajar kelas IV SD adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan aktivitas atau kegiatan belajar mengajar setelah pengalaman belajarnya dalam bentuk perubahan tingkah laku dan pelatihan berupa pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.

4. Pengertian Hasil Belajar Matematika

Suatu kemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan aktivitas atau kegiatan belajar mengajar dalam bentuk perubahan tingkah laku, pengetahuan serta mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan eksplorasi, pemecahan masalah dan model matematika yang terorganisir secara sistematis dan dibangun melalui kebenaran suatu konsep yang membutuhkan penalaran logik yang berhubungan dengan fakta-fakta kuantitatif serta masalah ruang dan waktu.

3. Media Pembelajaran a.

Pengertian

Media berasal dari Bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat

komunikasi. Secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. ( Dalam Mulyani Sumantri dan Johar Pemana, 2001: 152).

Menurut Romiszowki, media pembelajaran adalah pembawa pesan yng berasal dari suatu sumber pesan( yang dapat berupa orang atau benda) kepada

(20)

penerima informasi. Dalam suatu prose belajar mengajar, pesan yang disalurkan oleh media dari sumber pesan ke penerima pesan itu ialah isi pelajaran yang berasal dari kurikulum yang disampaikan oleh guru kepada siswa. (Samino Sangadji dan Dwiji Astuti, 2004:10).

Gatot Muhsetyo,dkk(2007:1.13) mengemukakan pengertian media pembelajaran adalah alat bantu pembelajaran yang secara sengaja dan terencana disiapkan atau disediakan guru untuk mempresentasikan dan atau menjelaskan bahan pelajaran, serta digunakan siswa untuk dapat terlibat langsung dengan pembelajaran matematika.

Menurut Brings(1970:17) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta perangsang peserta didik untuk belajar. Dinje Dorman Rumumpuk (1988:6) mendefinisikan media pembelajaran adalah sebagai alat, baik hardware maupun software yang dipergunakan sebagai media

komunikasi dan yang tujuannya untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar. (Mulyana Sumantri : 2001:152).

Dari pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat bantu/komponen pengajaran yang sengaja dibuat oleh guru sebagai perantara dalam menyampaikan bahan pelajaran dalam proses belajar mengajar dengan tujuan dapat meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar.

b.

Manfaat

Dalam Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001:152) tentang manfaat media adalah :

1) Membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara

mudah kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan secara cepat dan akurat.

2) Peserta didik yang terlibat dalam kegiatan belajar itu terhindar dari gejala verbalisme, yakni mengetahui kata-kata yang disampaikan guru tetapi tidak memahami arti atau maknanya.

3) Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk dapat lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu

(21)

dengan menggunakan media yang paling tepat.

4) Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar. 5) Memudahkan sikap dan keterampilan tertentu dalam

teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu.

6) Menciptakan situasi belajar yang tidak dilupakan peserta didik.

Pendapat lain tentang manfaat media pembelajaran yaitu menurut Derek Rowntrie (dalam Mulyani Sumantri,2001:154) adalah:

1) Membangkitkan motivasi belajar. 2) Menyediakan stimulus belajar. 3) Mengaktifkan respons peserta didik. 4) Memberikan balikan dengan cepat/segera. c. Fungsi Media Pembelajaran

1) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan

kekayaan pengaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

2) Media pembelajaran dapat melampaui batasan

ruang kelas.

3) Media pembelajaran memungkinkan adanya

interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.

4) Dapat menghasilkan pengamatan.

5) Membangkitkan keinginan dan minat baru.

6) Membangkitkan motivasi dan merangsang anak

untuk belajar.

7) Memberikan pengalaman yang integral dari yang konkrit sampai dengan abstrak.

(22)

d. Prinsip-prinsip Pemilihan Media Pembelajaran

Dalam Mulyani Sumantri (2001:156) mengemukakan prinsip-prinsip dalam pemilihan suatu media, diantaranya :

1) Memilih media harus berdasarkan pada tujuan pengajaran dan bahan pengajaran yang akan disampaikan.

2) Memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.

3) Memilih media harus disesuaikan dengan

kemampuan guru, baik dalam pengadaannya dan pengguanaannya. 4) Memilih media harus disesuaikan dengan situasi

dan kondisi.

5) Memilih media harus memahami karakteristik dari media itu sendiri.

Menurut Gagne dan Briggs(1979:195) dalam buku metode pembelajaran(Sumiati dan Asra) menyarankan suatu cara dalam langkah-langkah memilih media pembelajaran untuk pembelajaran, yaitu :

1) Merumuskan tujuan pembelajaran.

2) Mengklasifikasi tujuan berdasarkan domein atau tipe belajar. 3) Memilih peristiwa-peristiwa pembelajaran yang akan berlangsung. 4) Menentukan tipe perangsang untuk tiap peristiwa.

5) Mendaftar media pembelajaranyang dapat digunakan pada setiap peristiwa dalam pembelajaran.

6) Mempertimbangkan (berdasarkan nilai kegunaan) media pembelajaran yang dipakai.

7) Menentukan media pembelajaran yang terpilih akan digunakan.

8) Menulis rasional ( penalaran) memilih media pembelajaran media tersebut. 9) Menuliskan tata cara pemakaiannya pada setiap event(peristiwa).

10) Menuliskan script(naskah) pembicaraan dalam penggunaan media pembelajaran.

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran adalah:

1) Jenis kemampuan yang akan dicapai sesuai dengan tujuan.

Tujuan pembelajaran itu menjangkau domain kognitif, afektif, dan psikomotor.

2) Kegunaan dari berbagai jenis media pembelajaran itu sendiri.

Setiap jenis media pembelajaran memiliki nilai kegunaan sendiri-sendiri. 3) Kemampuan guru menggunakan suatu jenis media pembelajaran.

(23)

4) Fleksibilitas (lentur) tahan lama dan kenyamanan media pembelajaran. Dalam artian dapat digunakan dalam berbagai situasi, juga harus tahan lama( tidak sekali pakai langsung dibuang), untuk menghemat biaya, dan digunakannya pun tak berbahaya.

5) Keefektifan suatu media pembelajaran dibandingkan dengan jenis media pembelajaran lain untuk digunakan dalam pembelajaran suatu materi pembelajaran tertentu.

e. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Pembelajaran. Membuat media pembelajaran tidak bisa sembarangan asal jadi, namun harus direncanakan dan memperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut:

1) Mudah mendapatkan bahan bakunya, diutamakan yang ada disekitar lingkungan tempat tinggal siswa atau sekitar sekolah.

2) Murah bahan bakunya sehingga terjangkau oleh siswa, guru, atau sekolah untuk menyediakannya dan membuatnya.

3) Multi guna atau manfaatnya banyak. 4) Menimbulkan kreativitas siswa.

5) Menarik perhatian, sehingga siswa berminat untuk menggunakannya dan mendapatkan pemahaman dari materi pembelajaran yang disampaikan melalui media pembelajaran tersebut.

6) Menggunakan bahan-bahan yang tidak membahayakan siswa atau guru. 7) Menggunakan media pembelajaran tersebut bisa secara individual,

kelompok atau klasikal.

8) Menyesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, baik fisik, mental, atau pikirannya.

f. Jenis Media Pembelajaran

Menurut Sri Anitah Wiryawan dan Noorhadi( dalam Mulyani Sumantri, 2001: 158) mengklasifikasikan media pembelajaran menjadi : 1) Media Visual yaitu media yang dapat ditangkap

dengan indera penglihatan, meliputi: (a) Media gambar diam

(b) Media papan

(c) Media dengan proyeksi

(24)

Media ini memiliki karakterisitik pemanipulasian pesan hanya dilakukan melalui bunyi atau suara-suara, contohnya: tape recorder, radio.

3) Media Audio-Visual yaitu media yang tidak hanya dapat dipandang atau diamati tetapi juga dapat didengar, contohnya : televisi, video cassette.

4) Media Asli merupakan benda yang sebenarnya, media yang membantu pengalaman nyata peserta didik, contohnya : model, speciment(makhluk hidup, benda mati), diaroma.

Aneka ragam media pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri tertentu, dalam buku Metode Pembelajaran ( Sumiati dan Asra : 160), yaitu : 1) Berdasarkan daya atau kemampuan liputannya, jenis media pembelajaran,

terdiri atas :

(a) Media pembelajaran dengan daya atau kemampuan liputannya luas, yaitu dapat menjangkau tempat yang luas dengan jumlah orang atau siswa yang banyak. Contoh : televisi, radio.

(b) Media pembelajaran dengan daya atau kemampuan liputannya terbatas, yaitu hanya dapat menjangkau tempat atau ruangan dan terbatas dengan jumlah orang atau siswa yang tidak banyak. Contoh : papan tulis, slide, OHP.

2) Berdasarkan kerumitan (kekomplekan) dan biayanya, jenis media pembelajaran, terdiri atas:

(a) Big media, yaitu media pembelajaran yang rumit (kompleks) dan biayanya mahal, serta penggunaannya relatif susah membutuhkan tenaga yang berlatih. Contoh : film, video, komputer.

(b) Little media, yaitu media pembelajaran yang sederhana atau tidak rumit dan biayanya tidak mahal relatif murah, serta penggunaanya relatif mudah tidak perlu tenaga terlatih. Contoh : papan tulis, gambar. 3) Berdasarkan pembuatan dan pemanfaatannya, terdiri atas :

(a) Media by design, yaitu media pembelajaran yang dirancang,

dipersiapkan, dan dibuat sendiri oelh guru lalu digunakan untuk proses pembelajaran.

(b) Media by utilization atau media pembelajaran yang dimanfaatkan, yaitu media pembelajaran yang dibuat oleh orang lain atau suatu lembaga/institusi, sedangkan guru tinggal menggunakan atau memanfaatkannya.

(25)

4) Berdasarkan dimensinya, jenis media pembelajaran terdiri atas : (a) Media dua dimensi, yaitu jenis media pembelajaran yang hanya

mempunyai dua ukuran yaitu panjang dan lebar. Contoh : poster, bagan, gambar.

(b) Media tiga dimensi, yaitu jenis media pembelajaran yang mempunyai minimal tiga ukuran, yaitu panjang, lebar, dan tinggi/isi. Contoh : model (benda yang menyerupai aslinya), realia (benda aslinya). Dengan beragamnya jenis dan mutu media pembelajaran, guru perlu selektif dalam menentukan media pembelajaran dan harus disesuaikan dengan materi pelajaran, kebutuhan, dan perkembangan peserta didik.

4. Motivasi Belajar a. Pengertian

Pada dasarnya motivasi merupakan sesuatu kekuatan yang dapat mendorong seseorang melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. Anak-anak sebenarnya mempunyai kebutuhan dasar yaitu fisik dan pesikis. Dalam proses pertumbuhan dan perkembanagan seorang anak menuju dewasa terjadi perubahan-perubahan kebutuhan. Kebutuhan sosial psikologis seseorang akan semakin lebih besar dari pada fisiknya sejalan dengan usianya. Pertama-tama perlu dijelaskan beberapa penggunaan istilah, istilah tersebut berupa

dorongan, dan motif. Mulyani Sumantri(2008: 3.24) mendefinisikan istilah dorongan atau motif adalah keadaan di dalam pribadi seseorang yang merupakan pemicu dalam melakukan perbuatan untuk mencapai suatu kebutuhan. Sedangkan kebutuhan mengacu pada keadaan fisiologis seseorang yang tidak mempunyai jaringan tertentu. Dorongan atau motif merupakan akibat psikologis dari suatu kebutuhan(Lefton dalam Sumantri 2008: 3.24). Sedangkan Thompson (dalam Mulyani Sumantri 2008: 3.24) mendefinisikan istilah need atau kebutuhan sebagai istilah yang digunakan untuk menunjuk ke suatu dorongan atau drive. Maslow (dalam Frank. G. Gobel: 70) menyatakan bahwa manusia dimotivasikan yang bersifat sama untuk seluruh sepesies , tidak berubah, dan berasal dari sumber genetis atau naluriah.

(26)

Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam kekuatan diri individu yang menyebabakan tersebut bertindak atau berbuat. Menurut M. Ngalim Purwanto (2000: 60), motif ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak

melakukan sesuatu. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Motif merupakan penjelmaan dari dorongan dan kebutuhan yang menyebabkan seseorang mulai berbuat ke arah suatu tujuan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Pengertian motif tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan atau need.

Motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga dapat mencapai tujuan.

Menurut Oemar Hamalik (2005:158) ada dua prinsip yang digunakan untuk meninjau motivasi, yaitu a) motivasi dipandang sebagai suatu proses. Pengetahuan tentang proses akan membantu menjelaskan kelakuan yang diamati dan untuk memperkirakan kelakuan. Kelakuan lain pada seseorang. 2) menentukan karakter dri proses dengan melihat petunjuk-petunjuk dari tingkah laku.

Menurut Mc. Donald (dalam Oemar Hamalik (2005:158), motivation is energi change within the person charakterized by affectice arousal and anticipatory goal reaction. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya reaksi untuk mencapai tujuan. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Mc. Donald motivasi mengandung tiga unsur penting yaitu: (1) Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia yang disebabkan oleh perubahan energi di dalam sistem psikologis manusia, misalnya terjadi perubahan dalam sistem pencernaan maka timbul motif lapar; (2) Motivasi ditandai dengan munculnya perasaan seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia, misalnya mahasiswa terlibat dalam diskusi karena

(27)

tertarik pada masalah yang dibicarakan kemudian mahasiswa mengungkapkan pendapat dengan kata-kata yang lancar dan cepat; (3) Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang termotivasi memberikan respon untuk megurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya keinginan mendapatkan hadiah maka seseorang belajar dengan giat. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi yaitu tujuan.

Motivasi muncul dalam diri manusia, tetapi munculnya motivasi disebabkan rangsangan atau terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan yang menyangkut masalah kebutuhan. Berdasarkan ketiga elemen di atas, motivasi merupakan suatu usaha yang didasari untuk meng-gerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Sehingga motivasi mempunyai tujuan untuk menggerakkan atau memacu para peserta didik agar timbul keinginan dan kemauan dalam hal ini untuk meningkatkan prestasi belajar. Motivasi sebagai sesuatu yang kompleks menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada peserta didik sehingga berkaitan dengan persolaan gejala kejiwaan, perasaan dan emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.

Motivasi belajar adalah sesuatu yang mendorong siswa untuk

berperilaku yang langsung menyebabkan munculnya perilaku dalam belajar. Tanpa motivasi belajar siswa tidak dapat belajar. Oleh karena itu, bagi seorang siswa motivasi untuk belajar pada umumnya timbul karena adanya

rangsangan, baik yang datang dari dalam dirinya sendiri maupun dari luarnya sendiri. ( dalam Sumiati dan Asra)

Komponen utama motivasi ada tiga yaitu kebutuhan, dorongan, dan tujuan. Kebutuhan muncul apabila terjadi tidak seimbangnya antara yang dimiliki dengan yang diharapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan. Tujuan dalam hal ini adalah sebagai pemberi arahan pada perilaku manusia termasuk

(28)

didalamnya perilaku membaca pemahaman.

Motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan yang lebih baik. Fungsi motivasi meliputi :

a) Mendorong timbulnya suatu kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan yaitu belajar. b) Mengarahkan tujuan pencapaian yang diinginkan.

c) Sebagai penggerak, besar kecilnya suatu pekerjaan.

Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut :

a) Motivasi menentukan tingkat keberhasilan perbuatan belajar anak. Tanpa adanya motivasi untuk belajar tingkat keberhasilannya kurang maksimal. b) Pembelajaran yang bermotivasi pada hakekat adalah pembelajaran yang

disesuaikan dengan dorongan, minat, kebutuhan, motif yang ada pada anak.

c) Pembelajaran yang bermotivasi menurut kreativitas dan imajinasi guru untuk berusaha bersungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan sesuai guna membangkitkan serta memelihara motivasi belajar siswa. d) Berhasil atau gagalnya dalam menggunakan motivasi dalam

pembelajaran erat hubungannya dengan disiplin kelas.

Menurut sifatnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik ( J. Gini. dkk, 1996 :113). Motivasi intrinsik adalah tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang datang dari dalam individu yang menjadi aktif karena dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan sesuatu. Motivasi ekstrinsik dapat dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dari dan diteruskan berdasarkan dorongan dan dalam diri siswa dan secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu sendiri.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu proses psikologis yang mencerminkan sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang, kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya (intrinsik) ataupun yang datang dari luar (ekstrinsik). Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai tujuan.

(29)

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Menurut Brophy (2004), terdapat lima faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siwa, yaitu:

1) Harapan guru

2) Instruksi langsung

3) Umpanbalik (feedback) yang tepat

4) Penguatan dan hadiah

5) Hukuman

Sebagai pendukung kelima faktor di atas, Sardiman (2000) menyatakan bahwa bentuk dan cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar adalah:

1) Pemberian angka, hal ini disebabkan karena banyak siswa belajar dengan tujuan utama yaitu untuk mencapai

angka/nilai yang baik. 2) Persaingan/kompetisi.

3) Ego-involvement, yaitu menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan

mempertaruhkan harga diri.

4) Memberi ulangan, hal ini disebabkan karena para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan.

5) Memberitahukan hasil, hal ini akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar terutama kalau terjadi kemajuan.

6) Pujian, jika ada siswa yang berhasil

menyelesaikan tugas dengan baik, hal ini merupakan bentuk penguatan positif.

c. Prinsip Motivasi dalam Belajar

Prinsip motivasi dalam belajar (Depdiknas, 2004:3) dalam Metode Pembelajaran (Sumiati dan Asra : 237), yaitu :

(30)

1) Jika materi pembelajaran yang dipelajarinya bermakna karena sesuai dengan bakat, minat, dan pengetahuan dirinya, maka motivasi belajar siswa akan meningkat.

2) Pengetahuan, sikap, danketrampilan yang telah dikuasai siswa dijadikan landasan untuk menguasai pengetahuan, sikap, dan ketrampilan

selanjutnya.

3) Motivasi belajar siswa akan meningkat jika guru mampu menjadi model bagi siswa untuk dillihat dan ditirunya.

4) Materi atau kegiatan pembelajaran yang disajikan guru hendaknya selalu baru dan berbeda dari yang pernah dipelajari sebelumnya, sehingga mendorong siswa untuk mengikutinya.

5) Pelajaran yangdikerjakan siswa tepat dan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan yang dimilikinya.

6) Memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk melakukan tugas. 7) Suasana proses pembelajaran yang menyenangkan dan nyaman bagi siswa. 8) Guru memberikan kesempatan yang luas kepada sisiwa untuk belajar

sesuai dengan strategi, metode, dan teknik belajarnya sendiri.

9) Dapat mengembangkan kemampuan belajar siswa seperti berpikir logis, sistematis, induktif, atau deduktif.

10) Siswa lebih menguasai hasil belajar jika melibatkan banyak indera. 11) Antara guru dan siswa terjadi komunikasi yang akrab dan menyenangkan

sehingga siswa mampu dan berani mengungkapkan pendapatnya sesuai dengan tingkat berpikirnya.

B. Penelitian yang Relevan Beberapa hasil penelitian yang relavan adalah :

1. Hasil penelitian Jelawir Debutor (2008) yang mengemukakan bahwa media pembelajaran mempunyai pengaruh dalam proses kegiatan belajar. Hal ini dapat dilihat bahwa adanya interaksi antara media pembelajaran dengan materi yang dipelajari sesuai dengan sub kompetensi tentang pengelasan dengan hasil belajar yang meningkat. Sebelum penggunaan media pembelajaran nilai rata-rata kelas mencapai 7,28 sedangkan setelah

penggunaan media pembelajaran hasil belajarnya meningkat yaitu nilai rata-rata 8,37.

Hal ini membuktikan bahwa teori pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa sukses tidaknya transfer knowledge atau transfer ilmu pengetahuan

(31)

antara guru dengan siswa tergantung dengan media pembelajaran yang digunakan dan cara penyampaian guru. Dalam hal ini pembelajaran tidak monoton, sehingga siswa tidak merasa jenuh dengan materi pelajaran yang diberikan atau dengan guru yang bersangkutan. Dengan penggunaan media pembelajaran ini, yang ditekankan pada penggunaan media visual secara tidak langsung dapat membangun minat belajar siswa dan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Hasil Penelitian Muhamad Rahmatulloh (2011) mengemukakan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar dapat

meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Dalam hal ini ditekankan dengan penggunaan media film animasi. Pemanfaatan film animasi terutama ketika hal ini merupakan sesuatu yang belum pernah diterima siswa, tentu saja memberikan sebuah pengalaman belajar baru yang lebih

menyenangkan dan mampu menarik minat siswa untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran IPS yang berlangsung selama empat kali pertemuan tersebut. Pengamatan yang dilakukan selama kegiatan penelitian menunjukkan peningkatan minat dan motivasi belajar siswa untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dari hasil pengamatan, siswa menjadi lebih mudah dalam memahami konsep-konsep IPS yang diajarkan. Konsep-konsep abstrak IPS yang selama ini hanya ditampilkan melalui buku-buku teks selama kegiatan.

Pembelajaran dengan film animasi dapat disajikan secara langsung dan kontekstual melalui film animasi yang ditayangkan selama kegiatan

pembelajaran. Siswa bisa mengamati langsung berbagai proses yang terjadi yang merupakan gambaran riil dari materi yang akan dipelajari. Penyajian film animasi dalam durasi-durasi pendek dan menggabungkan antara animasi tokoh dan berbagai kegiatannya dengan sejumlah kejadian-kejadian nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, membuat siswa menjadi tidak lekas bosan dan bisa mengulang kembali ketika mereka memerlukan pendalaman materi pada pokok bahasan tertentu secara lebih mudah.

Dalam penelitian ini, siswa mengaku lebih memahami dan mengerti konsep-konsep pembelajaran IPS. Adanya sinyalemen positif yang terlihat

(32)

dari peningkatan hasil belajar dan juga meningkatnya motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa film animasi memang memiliki kelebihan-kelebihan yang terkait dengan optimalisasi peranan dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang pertama dan kedua yaitu sama-sama menggunakan media pembelajaran dalam kegiatan belajar. Perbedaannya pada penelitian pertama dan kedua terletak pada variabel terikatnya yaitu prestasi belajar dengan jenjang sekolah tingkat SLTA dan SLTP dengan mata pelajaran yang berbeda pula. Penggunaan media pembelajaran untuk kegiatan belajar dalam penelitian pertama dengan kedua berbeda. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan penggunaan media pembelajaran itu tergantung dari materi ajar yang akan disampaikan dengan memperhatikan karakteristik anak.

C. Kerangka Berpikir

Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentiifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka berfikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

D.

E.

F. me

1. Pengaruh Media Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012 Dalam kegiatan belajar mengajar, pemilihan media pembelajaran yang

Media Pembelajaran Siswa Kelas IV SD

Hasil belajar

Matematika siswa kelas IV SD

Pemberian Motivasi Belajar Oleh Guru

(33)

tepat pada saat proses pembelajaran berlangsung sangatlah diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran tercapai maksimal maka dalam proses pembelajaran seharusnya siswa bukan sebagai obyek pembelajaran melainkan siswa sebagai subyek pembelajaran. Untuk mewujudkan tujuan matematika yang salah satunya melatih cara berpikir logis adalah dengan menggunakan perantara pembelajaran atau media pembelajaran. Penggunaan media yang sesuai yang dibangun melalui konsep dapat melatih peserta didik berpikir logis. Pembelajaran yang bersifat konkret untuk siswa kelas IV mudah dipahami karena siswa kelas iv masih berpikir konkret, sehingga melalui media konkret ini akan lebih lama tersimpan dalam ingatannya. Belajar dengan

memahami konsep-konsep matematika akan memperkuat daya ingat, melatih keterampilan dan pemahaman sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2.

Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Matematika di Kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012 Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan memberikan dorongan pada siswa melalui pemberian motivasi belajar oleh guru. Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada

kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek (siswa) belajar itu dapat tercapai dalam rangka peningkatan prestasi belajar terutama hasil belajar Matematika. Motivasi belajar menunjukkan suatu kondisi pribadi siswa yang mendorong atau menggerakkan siswa, baik yang bersumber dari dalam dan luar pribadi siswa mempengaruhi kekuatan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dalam hasil belajar. Semakin tinggi keinginan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika, maka semakin besar motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa dan semakin kuat aktivitas belajar yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika. Dapat diperkirakan bahwa semakin tinggi motivasi belajar pada siswa maka hasil belajar Matematika pun juga meningkat, karena dengan motivasi belajar yang tinggi dapat berpengaruh terhadap belajarnya.

(34)

3. Pengaruh Media Pembelajaran dan Motivasi Belajar secara bersama-sama terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD se-Kecamatan

Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012.

Penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar yang dibangun oleh guru melalui konsep-konsep dapat melatih peserta didik untuk dapat berpikir logis dalam memahami materi matematika. Dengan belajar dibantu dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat akan memperkuat daya ingat (long time), melatih keterampilan dan pemahaman. Di samping dengan

penggunaan media, guru juga memberikan motivasi belajar terhadap anak, agar anak termotivasi untuk belajar dengan lebih baik dan bersaing secara baik dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik siswa kelas IV dan materi pelajaran serta pemberian motivasi belajar oleh guru terhadap peserta didik akan secara bersama-sama mempengaruhi hasil belajarnya.

D.

Hipotesis

Menurut Moh. Nazir (2005: 182), “hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris sehingga hipotesis merupakan pernyataan yang diterima sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja”.

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dituliskan hipotesis sebagai berikut:

1) Ada pengaruh media pembelajaran terhadap hasil

belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012.

(35)

2) Ada pengaruh motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012.

3) Ada pengaruh media pembelajaran dan motivasi

belajar secara bersama-sama terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan Tahun Ajaran 2011/2012.

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

A. Setting Penelitian 1.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan SD yang digunakan untuk melaksanakan penelitian yang telah dirancang. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa SD di Kecamatan Pejagoan yang ditentukan sebagai sampel penelitian.

(36)

Waktu penelitian merupakan kapan penelitian tersebut dilaksanakan dari mulai mengajukan proposal sampai pelaksanaan ujian. Penelitian ini dilaksanakan selama beberapa bulan. Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam jangka waktu mulai bulan Januari – Maret 2013. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: (a) Persiapan penelitian. Kegiatan ini meliputi pengajuan judul, penyusunan proposal, persetujuan proposal, permohonan perijinan penelitian, membuat instrument. (b) Pelaksanaan penelitian di lapangan. Kegiatan ini meliputi memperbanyak instrumen, mengadakan try-out atau uji coba, memperbaiki instrumen, menetapkan subyek penelitian dan pengisian instrumen lalu menganalisis data, membuktikan hipotesis serta mengambil kesimpulan; (c) Penyelesaian penulisan laporan penelitian, dalam kegitan ini peneliti melakukan penyelesaian penyusunan laporan hasil penelitian dari Bab I sampai Bab V.

B.

Metode Penelitian

Dalam Sugiyono, 2009: 2 dijelaskan bahwa metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian korelasional-regresi.

C. Populasi, Sampel, dan Sampling 1.

Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari makhluk hidup atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian. Dalam Sugiyono, 2009:80 dijelaskan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang digunakan oleh peneliti sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah siswa-siswa Kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan.

(37)

2.

Sampel

Sampel adalah sebagian objek atau wakil dari populasi yang diselidiki. Dalam Sugiyono, 2009:81 dijelaskan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi. Seluruh SD di Kecamatan Pejagoan terlalu banyak untuk diteliti setiap SD. Oleh karena perlu diambil sampel sebagai sumber data. Sampel yang digunakan sebagai sumber data harus representatif (mewakili dan mengandung) dari populasi yang ada. Jumlah sampel yang digunakan direncanakan sebanyak lima Sekolah Dasar.

3.

Sampling

Sampling merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2009:81) Terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan untuk menentukan sampel dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak (random) tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Sehingga hasil penelitian atau kesimpulan data sampel dapat diberlakukan untuk seluruh anggota populasi. Sutrisno Hadi (2004: 93) menyebutnya area propability sample, yaitu pengambilan sampel dengan cara membagi daerah-daerah, populasi ke dalam sub-sub daerah, dan dari sub-sub daerah ini dibagi-dibagi lagi ke dalam daerah-daerah yang lebih kecil.

D. Variabel dan Rancangan Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian atau titik perhatian suatu penelitian. Dalam Sugiyono, 2009: 38 dijelaskan bahwa variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut dan kemudian ditarik kesimpulannya.

(38)

(X1)

X2)

(Y)

Karlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari yang diambil dari suatu nilai yang berbeda sehingga merupakan sesuatu yang ber variasi

Dalam penelitian ini, peneliti telah menentukan bahwa judul yang diambil mengandung dua variabel bebas (variabel dependen = X1 dan X2) dan satu

variabel terikat (variabel independen = Y). a. Variabel bebas (variabel independen)

Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini, variabel bebas pertama (X1) yaitu media pembelajaran dan variabel bebas kedua (X2) yaitu motivasi belajar. Indikator dari variabel ini adalah nilai afektif dan psikomotor siswa serta keefektifan penggunaan media pembelajaran dan motivasi belajar.

b. Variabel terikat (variabel dependen)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini, variabel terikatnya (Y) adalah hasil belajar matematika siswa kelas IV se-Kecamaatan Pejagoan. Indikator dari variabel ini adalah nilai tes dari hasil belajar matematika siswa kelas IV se-Kecamaatan Pejagoan.

2. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti telah merancang peneltian yang akan diamati dengan menggunakan dua variable bebas dan satu variabel terikat. Dengan

demikian terdapat tiga rumusan masalah deskriptif dan empat rumusan masalah asosiatif dengan pola sebagai berikut:

(39)

Keterangan:

X1 : variabel bebas 1 (predictor 1) X2 : variabel bebas 2 (predictor 2) Y : variabel terikat (kriterium) Rancangan

Penelitian Keterangan

X1 → Y

Penggunaan media pembelajaran mempengaruhi hasil belajar matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan.

X2 → Y

Pemberian motivasi belajar dari guru mempengaruhi hasil belajar matematika siswa kelas IV SD se-Kecamatan Pejagoan.

X1 dan X 2 → Y

Penggunaan media pembelajaran dan pemberian motivasi belajar dari guru secara bersama-sama mempengaruhi hasil belajar matematika siswa kelas IV SD se-

Kecamatan Pejagoan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitiaan adalah mendapatkan data.

Sehingga peneliti harus menentukan teknik pengumpulan data yang tepat untuk mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (valid dan reliabel). Penggunaan berbagai teknik memang sangat diperlukan untuk

(40)

mendapatkan data yang lengkap dan obyektif, tetapi bila satu teknik dipandang mencukupi maka teknik yang lain bila digunakan akan menjadi tidak efisien.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik tes dan non tes sebagai berikut:

1.

Teknik Non Tes Teknik non tes yaitu dilakukan dengan:

a. Pengamatan (observasi) oleh observer dan peneliti yaitu untuk mengetahui keefektifan dalam penggunaan media pembelajaran yang mempengaruhi hasil belajar Matematika. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis, dengan prosedur yang standar. Cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Dari penelitian yang berpengalaman, diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat.

b. Angket, diisi oleh siswa untuk mengetahui keefektifan pemberian motivasi belajar dari guru yang mempengaruhi hasil belajar Matematika.

Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 151), “kuesioner/angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia

ketahui”. Responden merupakan orang yang mampu dan bersedia memberikan informasi sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya sebagai data yang obyektif. Angket sebagai alat pengumpul data berisi daftar pertanyaan secara tertulis yang ditujukan kepada subyek atau responden penelitian. Daftar pertanyaan yang disampaikan adalah untuk memperoleh informasi dari responden tentang dirinya sendiri yang berkaitan dengan obyek penelitian.

Teknik angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang Motivasi belajar dengan memberikan daftar pernyataan yang diberikan kepada subyek penelitian atau responden secara individu guna memperoleh informasi yang

(41)

dibutuhkan peneliti, kemudian menyebarkan angket dan menghimpunnya kembali setelah diisi oleh responden. Daftar pertanyaan dalam angket bukan dimaksudkan untuk menguji kemampuan responden melainkan hanya untuk merekam dan menggali informasi ataupun keterangan sesuai dengan

kenyataan dari diri responden. Pertanyaan angket adalah merupakan kalimat pernyataan diiringi dengan sejumlah alternatif jawaban yang dapat dipilih oleh responden mencerminkan keadaan diri responden.

2. Teknik Tes

Djaali (2007: 6) mengemukakan tes adalah ”Alat yang digunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan obyek ukur terhadap seperangkat konten dan materi tertentu.” Untuk mengumpulkan data kuantitatif (nilai) dari hasil belajar Matematika se-Kecamatan Pejagoan menggunakan instrumen yang digunakan adalah Tes hasil belajar Matematika. Sedangkan uji analisis yang di gunakan dalam penyusunan instrumen tes adalah :

a.

Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Agar perangkat tes valid,maka dilakukan uji validitas sebagai berikut:

1) Validitas Butir

Validitas butir merupakan konsekuensi logis tercapainya validitas keseluruhan tes. Sehubungan dengan itu yang dimaksudkan dengan validitas butir adalah jka butir soal tersebut memberi kontribusi sumbangan terpenuhinya validitas soal secara keseluruhan. Skor butir menyebabkan skor keseluruhan tinggi atau rendah. Butir memiliki validitas yang tinggi jika skor pada butir memiliki kesejajaran/ korelasi dengan skor totalnya, sehingga perhitungan validitas butir menggunakan rumus korelasi. Rumus ini digunakan untuk skala pengukuran variabel. Dalam penelitian ini validitas butir soal ditentukan dengan rumus Korelasi Biserial sebagai berikut:

Gambar

Tabel Uji Normalitas

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini berarti ketiga variabel diatas secara bersama-sama memberikan kontribusi yang nyata terhadap hasil belajar IPS yang positif, maka dalam proses pembelajaran

Posttest yang dilakukan pada kelompok eksperimen dilakukan dengan tujuan untuk melihat perubahan hasil belajar pada siswa setelah mendapat pengajaran dengan

Proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mempunyai tujuan, yaitu diperolehnya hasil belajar pada diri siswa. Hasil belajar

19 Muhibin Syah, Psikologi Belajar.. kecakapan baru.” 21 Seseorang dikatakan sudah mempunyai kematangan fisik itu berarti mereka sudah mampu melakukan kegiatan yang

Ini berarti terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar dalam

Untuk menguji ada tidaknya pengaruh ketiga variabel X, pengaruh motivasi belajar, cara belajar, dan pemanfaatan media pembelajaran berbasis ICT terhadap hasil belajar ekonomi

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu tujuan dari pembelajaran, karakteristik siswa, modalitas belajar yang dimiliki siswa auditif, visua, dan kinestetik, lingkungan