PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR,
MEDIA PEMBELAJARAN DAN LINGKUNGAN BELAJAR
TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Akuntansi
Oleh :
THERESIA KISTIK MARYONO NIM : 011334022
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
MOTTO
Semakin mendalam penderitaan dan semakin tersembunyi
Bagi mata ciptaan semakin menggembirakan di D ikau
Allahku
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
Bapa, Yesus dan Bunda Maria disurga
Bapak, Ibu, Kakakku Patricia and My Honey Agung
Penulis sendiri Theresia Kistik
Sahabat – sahabatku & Teman-teman PAK angkatan 2001
vi ABSTRAK
PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR,
MEDIA PEMBELAJARAN, DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI
Studi Kasus di SMU Pangudi Luhur Sedayu Jl. Wates km.12, Argosari, Sedayu, Bantul
Theresia Kistik Maryono Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2007
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang ada tidaknya
(1) pengaruh interaksi belajar mengajar terhadap prestasi belajar akuntansi (2) pengaruh media pembelajaran terhadap prestasi belajar akuntansi (3) pengaruh
lingkungan belajar terhadap prestasi belajar akuntansi (4) pengaruh interaksi belajar mengajar, media pembelajaran dan lingkungan belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar akuntansi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa siswi kelas III IPS SMU Pangudi Luhur Sedayu yang berjumlah 76 siswa. Dari jumlah populasi tersebut, jumlah siswa yang menjadi sampel penelitian adalah 76 siswa. Mengingat jumlah populasi yang tidak banyak maka seluruh populasi diambil semua menjadi sampel, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi.
Teknik pengambilan data yang digunakan adalah kuisioner dan dokumentasi. Untuk instrumen yang berbentuk kuisioner diuji menggunakan uji validitas dengan korelasi Product Moment dan uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach. Hipotesis penelitian yang pertama, kedua dan ketiga diuji menggunakan teknik analisis Regresi Linier sederhana dan hipotesis penelitian keempat menggunakan teknik analisis regresi ganda tiga prediktor dengan taraf signifikansi 0,05 atau 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh positif dan
signifikan Interaksi Belajar Mengajar terhadap prestasi belajar akuntansi (r = 0,470, p = 0,000 ). (2) ada pengaruh positif dan signifikan media
vii ABSTRACT
THE INFLUENCE OF TEACHING LEARNING INTERACTION, EDUCATIONAL MEDIA, and EDUCATION ENVIRONMENT WITH
THE ACHIEVEMENT OF STUDYING ACCOUNTING
A case study in
Pangudi Luhur Sedayu Senior High School Jl. Wates Km. 12, Argosari, Sedayu, BantulTheresia Kistik Maryono Sanata Dharma University
Yogyakarta 2007
This research was aimed to obtain information about the existence or not of (1) the influence of teaching learning interaction with the achievement of studying accounting (2) the influence of educational media with the achievement of studying accounting (3) the influence of the atmosphere of education with the achievement of studying accounting (4) the influence of teaching learning interaction, educational media and education atmosphere as one with the achievement of studying accounting.
The population in this research was the 76 of the third class students of Pangudi Luhur Sedayu Senior High School. There were 76 students as the sample in this research. Considering with the quantity of the sample which is not in a large number so all population was taken as the sample, so that the research is a population research.
Data collection technique was using a questionnaire and documentation. The questionnaire technique was examined using validity test with Product Moment Correlation and Alpha Cronbach reliability test. The first, the second, and the third research hypothesis was examined using simple linier regression analysis technique and the fourth was using double regression three predictor with the standard of significance 0,05 or 5% analysis technique.
viii
KATA PENGANTAR
Segala sembah, syukur dan pujian penulis ungkapkan kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa Bapa, Putera dan Roh Kudus, atas berkat dan kasih-Nya yang
melimpah sehinggapenulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:
“PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR, MEDIA
PEMBELAJARAN DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP
PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI ”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengantar Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa tanpa
adanya suatu usaha yang maksimal, bimbingan serta bantuan berupa moril,
materiil, maupun pemberian kesempatan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis
menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak Drs. Sutarjo Adisusilo J.R., selaku ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma.
3. Bapak S. Widanarto P. S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Akuntansi Universitas Sanata Dharma.
4. Bapak Drs. F. X. Muhadi, M.Pd. selaku dosen pembimbing I yang senantiasa
dengan penuh kerelaan, kesabaran dan ketekunan membimbing serta
ix
5. Ibu Catur Rismiati, S.Pd., M.A. selaku Dosen pembimbing II yang senantiasa
dengan penuh kerelaan, kesabaran, dan ketekunan membimbing serta
mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Ibu Natalia Premastuti Brataningrum, S.Pd. selaku dosen tamu yang telah
bersedia meluangkan waktu untuk menguji, membimbing, memberikan
masukan dan saran kepada penulis.
7. Bapak Markoes Padmonegoro selaku kepala sekolah yang telah membantu
dan mengizinkan penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah SMU
Pangudi Luhur Sedayu.
8. Bapak AL. Candra Widyantara selaku guru akuntansi SMU Pangudi Luhur
Sedayu yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian serta
membantu menyediakan data – data yang diperlukan oleh penulis.
9. Bapak dan Ibu guru SMU PL Sedayu yang telah membantu terlaksananya
penelitian di sekolah.
10.Siswa – siswi SMU PL Sedayu yang dengan rela menjadi subyek penelitian
ini.
11.Bapakku terkasih F.X Maryono, terima kasih atas segala kasih, doa dan
semangat yang telah diberikan selama ini.
12.Ibuku tersayang Yacinta, terima kasih atas segala kasih, perhatian, tawa
kebahagiaan, dekapan penenang hati dan usapan air mata ( makasih bu udah
jadi sahabat dan teman curhatku).
13.Kakakku tersayang Mbak alien, yang selalu bersama – sama berjuang
x
14.Kakak Iparku Mas Eko terima kasih untuk segala doa dan dukungannya
selama ini.
15.Keponakkanku tercinta sikembar (vercellio Aviel Eleanore & Vercelio
Ellyson Darren) kehadiran kalian telah membuat hari – hariku jadi indah.
16.Kekasihku Mas Agung yang selalu memotivasi dan selalu membantu aku
dalam menyelesaikan skripsi ini, terima kasih atas kesabaran, perhatian, cinta
dan ketulusan hati dalam menemaniku saat suka maupun duka.
17.Keluarga Gentan (Bapak, Ibuk dan dek Tari) terima kasih banyak untuk
perhatian dan segala doanya.
18.Andre & Yentri yang telah memberikan dorongan buat penulis selama ini,
tank’s ya!
19.Suster Yoanna, Suster Hendrika, Bulek Andri, Bulek Bertha, Pakdhe & Bud he
Ponco, Budhe Mari, Simbah Atemo terima kasih sebesar – besarnya untuk
segala dukungan materiil maupun spiritual yang sudah diberikan.
20.Sahabat – sahabatku Nick & Eka (ayo dong skripsinya dikerjain jangan kerja
melulu OK………), Tatik (sorry ak ngak bias dating saat kamu married),
Yudha & Pipit (sing akur ya,jadi nikah bareng gak…..) Koco (ayo co
semangat 45 jangan putus asa buat ngerjain skripsinya).Lisa (selamat ya
bentar lagi dah jadi Mama…) Suradi & Intan (jagain Putri yach), Wanti (U
sahabat sejatiku), Ari, Joko, Budi, Cipy, Andre, Raymond, Arum, Retno,
Heru, Anri, kalian sahabat sejatiku, ma kasih atas kebersamannya…………
xi
21.Temen – temen PAK angkatan 2001 ma kasih ya atas kebersamaan kita
selama ini.
22.Semua pihak yang tidak tercantum namanya disini, namun telah banyak
berjasa bagi penulis.
Semoga Bapa Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih senantiasa membalas
segala kebaikan saudara-saudari dengan berkatnya yang melimpah.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya,
sehingga kritik dan saran demi penyempurnaan skripsi ini sangat kami harapkan.
Ahirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan
semua pihak yang memerlukan.
Yogyakarta, 6 Juni 2007
Penulis
xii DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL . ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING . ... ii
HALAMAN PENGESAHAN . ... iii
PERSEMBAHAN... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. ... v
ABSTRAK. ... vi
ABSTRACT . ... vii
KATA PENGANTAR. ... viii
DAFTAR ISI. ... xii
DAFTAR LAMPIRAN... xv
DAFTAR GAMBAR... xvi
DAFTAR TABEL... xvii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. ... 1
B. Batasan Masalah. ... 3
C. Rumusan Masalah. ... 3
D. Tujuan Penelitian. ... 4
E. Manfaat Penelitian. ... .. 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kerangka Teori... 6
1. Prestasi Belajar Akuntansi. ... 6
a. Pengertian Belajar. ... 6
b. Pengertian Prestasi Belajar. ... 7
c. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.... 8
xiii
2. Interaksi Belajar Mengajar. ... 10
a. Pengertian Interaksi Belajar Mengajar. ... 10
b. Ciri-ciri Interaksi Belajar Mengajar. ... 19
c. Bentuk-bentuk Interaksi Belajar Mengajar. ... 19
3. Media Pembelajaran . ... 21
a. Pengertian Media Pembelajaran. ... 21
b. Fungsi Media Pembelajaran. ... 23
c. Manfaat Media Pembelajaran. ... 23
d. Jenis-jenis Media Pembelajaran. ... 26
e. Sistem penyajian. ... 27
4. Lingkungan Belajar. ... 34
a. Lingk ungan Keluarga. ... 34
b. Lingkungan Sekolah. ... 37
c. Lingkungan Masyarakat. ... 41
B. Kajian hasil penelitian yang relevan. ... 43
C. Kerangka Berfikir ... 44
D. Paradigma Penelitian. ... 47
E. Hipotesis Penelitian . ... 48
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian . ... 49
B. Tempat dan Waktu Penelitian . ... 49
C. Subyek dan Obyek Penelitian . ... 50
D. Populasi dan Sampel . ... 51
E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya . ... 52
F. Teknik Pengumpulan Data . ... 54
G. Pengujian Instrumen Penelitian ... 63
H. Teknik Analisis Data… ... 73
BAB IV GAMBARAN UMUM SEKOLAH A. Gambaran Umum Sekolah... 81
B. Tujuan Pendidikan SMA ... 81
xiv
D. Sejarah Sekolah... 84
E. Visi dan Misi SMA Pangudi Luhur Sedayu... 88
F. Sumber Daya SMA Pangudi Luhur Sedayu... 89
G. Siswa SMA Pangudi Luhur Sedayu... 90
H. Kondisi Fisik dan Lingkungan Sekolah SMA Pangudi Luhur Sedayu... 91
I. Fasilitas Pendidikan dan Latihan... 93
J. Dewan Sekolah... 95
K. Hubungan SMA Pangudi Luhur Sedayu dan Instansi Lain .. 96
L. Usaha – usaha Peningkatan Kualitas Lulusan... 97
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Diskripsi Responden ... 98
B. Diskripsi Data penelitian... 98
C. Pengujian persyaratan Analisis Data ... 105
D. Pengujian Hipotesis... 106
E. Pembahasan Hasil Penelitian ... 111
BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 121
B. Keterbatasan penelitian... 124
C. Saran... 124
xv
DAFTAR LAMPIRAN
A. Kuesioner Penelitian... 133
1.Surat Permohonan ... 134
2. Identitas Responden ... 135
3. Interaksi Belajar Mengajar ... 136
4. Media Pembelajaran ... 140
5. Lingkungan Belajar ... 143
B. Data Hasil Penelitian ... 147
C. Data Induk Penelitian ... 157
D. Validitas dan Reliabilitas ... 164
E. Uji Normalitas ... 171
F. Uji Linieritas ... 173
G. Uji Regresi ... 180
H. Surat Keterangan ... 186
I. Tabel ... 189
1. Tabel r ... 190
2. Tabel t ... 191
3. Tabel F... 192
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Paradigma Penelitian... 47
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Penelitian... 55
Tabel 2. Hasil Uji Validitas Interaksi Belajar Mengajar ... 66
Tabel 3. Hasil Uji Validitas Media Pembelajaran... 68
Tabel 4. Hasil Uji Validitas Lingkungan Belajar ... 70
Tabel 5. Interprestasi Koefisien Secara Konservatif ... 72
Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas... 72
Tabel 7. Data Guru dan Karyawan SMU Pangudi Luhur Sedayu ... 89
Tabel 8. Data Siswa SMU Pangudi Luhur Sedayu ... 91
Tabel 9. Karakteristik Responden ... 98
Tabel 10. Deskripsi Prestasi Belajar Akuntansi... 99
Tabel 11. Deskripsi Interaksi Belajar Mengajar ... 101
Tabel 12. Deskripsi Media Pembelajaran ... 102
Tabel 13. Deskripsi Lingkungan Belajar ... 104
Tabel 14. Hasil Uji Normalitas ... 105
Tabel 15. Hasil Uji Linieritas ... 106
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk induvidu dan makhluk sosial. Dalam
hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial terkandung suatu
maksud bahwa manusia tidak dapat terlepas dari manusia yang lain. Secara
kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia
berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan dalam berbagai jenis
situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Proses interaksi itu
terjadi karena manusia pada hakekatnya memiliki sifat sosial yang besar.
Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu disertai dengan proses
interaksi, baik interaksi dengan lingkungan, interaksi dengan sesama maupun
interaksi dengan Tuhannya.
Setiap proses interaksi terjadi ikatan suatu situasi, diantaranya situasi
pendidikan. Interaksi yang terjadi dalam situasi pendidikan disebut interaksi
edukatif. Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu
ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran (Sardiman, 1986:1). Dalam arti
yang lebih spesifik dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar. Dalam
interaksi belajar mengajar ini terjadi siswa belajar dan guru melaksanakan
tugas mengajar, keduanya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Didalam interaksi belajar mengajar harus dipertimbangkan juga alat,
dalam interaksi belajar mengajar memegang peranan penting. Media apa yang
digunakan dalam interaksi belajar mengajar tersebut, untuk menciptakan
situasi kondisi interaksi belajar mengajar yang tepat, kita harus melihat media
apa yang ada dan dapat digunakan, serta tepat dalam menunjang tercapainya
tujuan secara efektif dan efesien.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa media pendidikan adalah alat
dan tehnik yang dipergunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas
komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan
Dalam interaksi belajar mengajar selain membutuhkan media, siswa
juga membutuhkan lingkungan belajar yang kondusif serta menunjang
berkembangnya potensi dalam diri siswa. Untuk kepentingan tersebut peranan
guru sangat diperlukan Tugas seorang guru ialah menyediakan situasi kondisi
yang tepat, dengan suasana yang menyenangkan dan intim.
Guru yang kurang berinteraksi dengan para murid secara intim
menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar dan siswa juga merasa
jauh dari guru, maka segan berpartisipasi secara aktif dalam belajar.Sementara
itu guru yang suka berinteraksi dengan para siswa secara intim akan
menyebabkan siswa menjadi dekat/akrab dengan guru. Dengan adanya
hubungan yang dekat tersebut membuat siswa menjadi lebih bersemangat
dalam belajar dan tidak merasa canggung untuk bertanya bila mengalami
kesulitan dalam belajar.
Dengan demikian maka diharapkan kegiatan dalam interaksi belajar
bahkan dapat mencapai tujuan dari pengembangan potensinya secara optimal
serta meningkatkan prestasi belajarnya
Oleh sebab itu pada penelitian ini peneliti mencoba untuk melihat
sejauh mana interaksi belajar mengajar, media pembelajaran dan lingkungan
belajar dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Berdasarkan latar belakang
inilah maka pene liti mengambil judul “Pengaruh Interaksi Belajar Mengajar,
Media Pembelajaran dan Lingkungan Belajar terhadap Prestasi Belajar
Akuntansi”.
B. Batasan masalah
Dalam mencapai keberhasilan pendidikan yang dapat dilihat dari
prestasi belajar siswa banyak faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri
siswa itu sendiri maupun dari luar individu khususnya interaksi belajar
mengajar,media pembelajaran dan lingkungan belajar disekolah, lingkungan
belajar dalam keluarga, dan lingkungan belajar di masyarakat.
C. Rumusan Masalah
Dari Latar belakang tersebut maka yang menjadi masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah interaksi belajar mengajar mempengaruhi prestasi belajar
akuntansi?
2. Apakah media pembelajaran mempengaruhi prestasi belajar akuntansi?
3. Apakah lingkungan belajar mempengaruhi prestasi belajar akuntansi?
4. Apakah interaksi belajar mengajar, media pembelajaran dan
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Mendapatkan informasi tentang ada tidaknya pengaruh interaksi
belajar mengajar terhadap prestasi belajar akuntansi
2. Mendapatkan informasi tentang ada tidaknya pengaruh media
pembelajaran terhadap prestasi belajar akuntansi
3. Mendapatkan informasi tentang ada tidaknya pengaruh lingkungan
belajar terhadap prestasi belajar akuntansi
4. Mendapatkan informasi tentang ada tidaknya pengaruh interaksi
belajar mengajar, media pembelajaran, dan lingkungan belajar secara
bersama-sama terhadap prestasi belajar akuntansi
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru dan siswa
Untuk memberikan gambaran yang konkrit mengenai pengaruh
interaksi belajar mengajar, media pembelajaran dan lingkungan belajar
terhadap prestasi belajar akuntansi. Sehingga penelitian ini dapat
digunakan sebagai masukan.
2. Bagi Universitas Sanata Dharma
Hasil penelitian ini diharapkan akan menambah referensi tentang
3. Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan dan sarana berlatih untuk
menerapkan teori yang didapat dari bangku kuliah dengan kenyataan yang
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Prestasi Belajar Akuntansi
a. Belajar
Dalam kehidupan sehari- hari banyak kegiatan yang dilakukan
yang sebenarnya merupakan gejala dari belajar. Belajar merupakan
kebutuhan pokok manusia sebab dengan belajar manusia dapat
melakukan kegiatan yang sebelumnya tidak mampu dilakukan.
Menurut W.S Winkel ( 1986 : 35 ) belajar merupakan suatu aktivitas
mental dan psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. Perubahan itu
bersifat secara relatif konstan dan berbekas. Sedangkan menurut
Muhibbin (1995:88) definisi dari belajar adalah kegiatan berproses dan
merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap
penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Hal ini berarti berhasil
atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan tersebut sangat tergantung
pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada disekolah
maupun dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri
Hilgard ( 1984 : 74 ) dalam bukunya yang berjudul Theories of
learning menyatakan bahwa “ learning is the process by which an
proviade the changes can not be attributed to growth or temporary of
the organisme “. Belajar diartikan sebagai suatu proses kegiatan, reaksi
terhadap lingkungan, namun perubahan tersebut tidak dapat dikatakan
belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau kegiatan sementara
orang. Dalam pengertian ini diketahui bahwa belajar merupakan suatu
proses kegiatan sebagai hasil reaksi terhadap lingkungan.
Dari beberapa definisi belajar diatas maka bisa dikatakan
bahwa belajar itu merupakan suatu perubahan tingkah laku yang dapat
diamati secara langsung.
b. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), prestasi adalah
hasil yang dicapai (dan yang telah dilakukan). Dari definisi tersebut
prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan
belajar dan sebagai akibat belajar. Hadori Nawawi (1981:100)
mengartikan prestasi belajar (achievement) sebagai tingkat
keterbatasan dalam mempelajari mata pelajaran disekolah yang
dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai
sejumlah mata pelajaran tertentu. Untuk dapat melihat prestasi belajar
siswa dapat diketahui dari evaluasi prestasi belajar sebagai alat ukur.
Evaluasi artinya penilaian terhadap keberhasilan siswa untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program (Muhibbin Syah,
1997:141). Evaluasi terhadap hasil belajar yang dicapai oleh siswa dan
belajar atau proses belajar itu sampai berapa jauh keduanya dapat
dinilai baik.
Maka dari itu prestasi belajar adalah merupakan hasil yang
telah dicapai individu atau siswa dalam melakukan suatu kegiatan
belajar pada sejumlah mata pelajaran disekolah yang pada umumnya
diwuj udkan dalam bentuk angka atau simbol – simbol.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Pendapat Shahahudin yang dikut ip oleh Suyata (1993:5)
menyatakan bahwa “ Prestasi belajar dalam hal ini output dapat dicapai
melalui proses belajar mengajar dimana proses tersebut bisa berjalan
apabila mendapat dukungan atau sumbangan dari berbagai faktor
diantaranya siswa (raw input), proses belajar mengajar (teaching
learning process), sarana dan prasarana pendidikan (intrumental input)
serta faktor lingkungan (environmental input ).
Menurut W. S. Winkel ( 1986 : 43 ) ada berbagai faktor yang
bisa mempengaruhi proses belajar pada diri seseorang khususnya
siswa.
Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Faktor-faktor pada pihak siswa Faktor-faktor psikis :
intelektual : taraf intelegensi, kemampuan belajar, cara belajar.
non intelektual : motivasi belajar, sikap, perasaan, minat, kondisi akibat keadaan sosio-kultural / ekonomis
1) Faktor-faktor pengatur proses belajar disekolah, kurikulum pengajaran, disiplin sekolah,teacher effectiveness, fasilitas belajar, pengelompokan siswa.
2) Faktor-faktor sosial disekolah : sistem sosial, status sosial siswa, interaksi guru-siswa.
3) Faktor-faktor situasional : keadaan politik-ekonomi; sosial-ekonomi; sosial-budaya; keadaan waktu dan tempat, keadaan musim- iklim.
d. Prestasi Belajar Akuntansi
Prestasi belajar akuntansi adalah suatu hasil yang diperoleh
akibat adanya belajar akuntansi. Dalam memperoleh hasil ditentukan
adanya evaluasi terhadap hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
Evaluasi ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana proses belajar
yang diberikan dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Mata pelajaran akuntansi merupakan mata pelajaran yang
menuntut seorang siswa untuk lebih berpartisipasi aktif dalam proses
pendidikan karena dalam proses pembelajaran tidak hanya guru saja
yang aktif. Agar proses belajar mengajar dapat tercapai perlu adanya
interaksi yang positif antara guru dan siswa.
Dalam proses belajar mengajar akuntansi diharapkan dapat
menghasilkan perubahan pada siswa yang berupa
kemampuan-kemampuan yang diperoleh sesuai dengan klasifikasi tujuan
pengajaran. Kemampuan yang diperoleh siswa tersebut karena adanya
hasil usaha belajar. Dalam kemampuan ini nantinya harus dinyatakan
2. Interaksi Belajar – Mengajar
a. Pengertian Interaksi Belajar - Mengajar
Interaksi adalah proses komunikasi dua arah yang
mengandung tindakan atau perbuatan komunikator maup un
komunikan. Interaksi belajar-mengajar mengandung arti adanya
kegiatan interaksi dari tenaga pengajar (guru) dengan warga belajar
(siswa) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar.
Dalam interaksi belajar memandang bahwa siswa adalah
subyek belajar dan bukan obyek, sedangkan guru hanyalah sebagai
pembina dan pembimbing tidak diperkenankan untuk mendominasi
kegiatan belajar- mengajar. Namun guru diharapkan mampu membant u
menciptakan kondisi yang baik serta memberikan bimbingan agar siwa
dapat mengembangkan potensi dan kreativitasnya, melalui kegiatan
belajar
Dalam interaksi belajar- mengajar terkandung unsur-unsur yang
harus dipenuhi, yaitu( Sardiman A.M, 1986:13):
a. Tujuan yang ingin dicapai;
b. Bahan ( materi ) yang menjadi isi interaksi; c. Siswa yang aktif mengalami;
d. Guru yang melaksanakan; e. Metode untuk mencapai tujuan;
f. Situasi yang memungkinkan PBM berlangsung dengan baik; g. Penilaian terhadap hasil interaksi;
Selanjutnya akan kita bahas satu persatu unsur- unsur yang harus
dipenuhi dalam interaksi belajar mengajar
Interaksi edukatif berlangsung dalam rangka untuk
mencapai tujuan pendidikan. Menurut Roestiyah (1986:37)
Interaksi bertujuan membantu pribadi anak mengembangkan
potensi sepenuhnya. sesuai dengan cita-citanya serta hidupnya
dapat bermanfaat bagi dirinya, masyarakat dan negara. Dalam
Interaksi harus ada perubahan tingkah laku dari siswa sebagai hasil
belajar, dimana siswa sebagai subyek belajar, siswalah yang
terutama menentukan berhasil tidaknya kegiatan belajar mengajar
dalam interaksi tersebut.
b. Bahan (Materi) yang menjadi isi interaksi
Materi pelajaran adalah bahan yang digunakan untuk
belajar dan yang membantu untuk mencapai tujuan instruksional,
dimana siswa harus melakukan sesuatu terhadap sesuatu menurut
jenis perilaku tertentu (W.S.Winkel, 1987:193). Guru dalam
tugasnya sehari- hari selalu memilih dan memutuskan bahan-bahan
yang akan diajarkan dan pilihan serta putusan ini bergantung pada
pandangan guru mengenai apa yang baik dan penting untuk
diajarkan. Untuk mengadakan pilihan yang tepat dibutuhkan
sejumlah kriteria; berdasarkan kriteria itu dapat dipilih materi
pelajaran yang sesuai. Adapun kriteria itu adalah sebagai berikut
W.S. Winkel (1987:195)
2) Materi/bahan pelajaran harus sesuai dalam taraf kesulitannya dengan kemampuan siswa untuk menerima dan mengolah bahan itu (keadaan awal siswa yang aktual)
3) Materi/bahan pelajaran harus dapat menunjang motivasi siswa, antara lain karena relevan dengan pengalaman hidup sehari- hari siswa.
4) Materi/bahan pelajaran harus membantu untuk melibatkan diri secara aktif, baik dengan berpikir sendiri maupun dengan melakukan berbagai kegiatan.
5) Materi/bahan pelajaran harus sesuai dengan prosedur didaktik yang diikuti, misalnya materi pelajaran akan lain bila guru menggunakan bentuk ceramah, dibanding dengan menggunakan bentuk disksi kelompok.
6) Materi/bahan pelajaran harus sesuai dengan media pengajaran tersedia.
c. Siswa yang aktif mengalami
Aktivitas siswa merupakan syarat yang sangat penting bagi
berlangsungnya interaksi belajar mengajar. Aktivitas siswa dalam
hal ini, baik secara fisik/jasmani maupun secara mental/rohani
aktif. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa
disekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan
mencatat seperti yang biasa terdapat disekolah-sekolah. Menurut
Paul B.Diendrich (Sardiman,1986:99) kegiatan siswa dapat
digolongkan sebagai berikut:
1) Visual activities yang termasuk didalamkanya misalnya,
membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan
2) Oral activities seperti: bertanya, mengeluarkan pendapat,
menyatakan, merumuskan, memberi saran,mengadakan
3) Listening activities; sebagai contoh, mendengarkan: uraian,
percakapan, diskusi, musik, pidato.
4) Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan,
laporan, angket, menyalin.
5) Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik,
peta, diagram
6) Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain :
melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi,
bermain, berkebun, beternak.
7) Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi,
mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan,
mengambil keputusan.
8) Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa
bosan, gembira bersemangat, bergairah, berani, tenang gugup.
Jadi dengan klasifikasi activitas siswa seperti diuraikan
diatas, menunjukkan bahwa aktivitas siswa itu cukup komplek dan
bervariasi. Apabila berbagai macam kegiatan tersebut dapat
diciptakan disekolah maka kegiatan tersebut benar-benar akan
menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal serta dapat
memperlancar jalannya proses interaksi belajar mengajar.
d. Guru yang melaksanakan
Peranan dan kedudukan guru yang tepat dalam proses
interaksi belajar mengajar. Adapun peranan guru dalam interaksi
belajar mengajar antara lain sebagai berikut (Roestiyah (1986:37)
1) Sebagai fasilitator, ialah menyediakan situasi-kondisi yang
dibutuhkan oleh individu yang belajar;
2) Sebagai pembimbing, ialah memberikan bimbingan siswa
dalam interaksi belajar,agar siswa mampu belajar dengan
lancar dan berhasil secara efektif dan efesien;
3) Sebagai motivator, ialah memberi dorongan semangat agar
siswa mau dan giat belajar;
4) Sebagai Organisator, ialah mengorganisasikan kegiatan belajar
mengajar siswa maupun guru;
5) Sebagai manusia sumber, dimana guru dapat memberikan
informasi apa yang dibutuhkan oleh siswa, baik pengetahuan,
ketrampilan maupun sikap
Adapun kedudukan guru dalam interaksi belajar mengajar antara
lain ialah:
1) Berfungsi sebagai pengajar
Sebagai pengajar seorang guru diharapkan menyediakan
situasi dan kondisi belajar untuk siswa didalam interaksi belajar
mengajar. Maksudnya menyediakan segala sesuatu yang
dibutuhkan siswa dalam belajar, berupa: pengetahuan, sikap,
ketrampilan, sarana maupun prasarana serta fasilitas material
Seorang guru berfungsi sebagai pemimpin, ialah sebagai
pemimpin yang demokratis. Sifat itu sangat diharapkan bagi
seorang guru, hal mana ia akan bersifat terbuka, mau
mendengarkan pendapat orang lain, keluhan, pikiran, perasaan,
ide muridnya, serta bersedia bekerja sama, saling mengerti dan
toleransi. Bukan sebagai orang yang berkuasa penuh, bertindak
atas pertimbangan yang menguntungkan dirinya saja, tanpa
memikirkan kepentingan siswanya, serta bukan seseorang yang
bersifat masa bodoh, melainkan mau bekerja sama, dalam
mencapai tujuan bersama terutama untuk kesejahteraan siswanya.
3) Berfungsi sebagai pengganti orang tua
Seorang guru berfungsi sebagai wakil dari orangtua siswa,
maksudnya didalam interaksi belajar mengajar,guru bersikap
sebagai orang tua terhadap anaknya, sehingga interaksi akan
berjalan dengan suasana yang menyenangkan dan intim. Suasana
tersebut sangat mendorong berhasilnya siswa waktu belajar.
e. Metode belajar mengajar
Metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat
untuk mencapai suatu tujuan (Winarno Surakmad,1982:96). Makin
baik metode yang digunakan , makin efektif pula pencapaian
tujuan. Untuk menetapkan apakah sebuah metode dapat disebut
Menurut Winarno Surakhmad (1982:97) Metode Interaksi belajar
mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor,misalnya:
1) Murid, pelajar atau petatar (yang berbagai tingkat kematangannya)
2) Tujuan (yang berbagai jenis dan fungsinya) 3) Situasi (yang berbagai keadaannya)
4) Fasilitas(yang berbagai kualitas dan kuantitasnya)
5) Pengajar, penatar atau guru (yang pribadi serta kemampuan profesionalnya berbeda-beda).
Perpaduan pengaruh faktor- faktor itulah yang menjadi
pertimbangan utama untuk menentukan metode mana yang paling
baik untuk secara optimal berpengaruh atas dan terhadap
faktor-faktor tersebut
f. Situasi yang memungkinkan PBM berlangsung dengan baik
Dalam interaksi belajar mengajar, sangat dibutuhkan situasi
dan kondisi yang mendukung berjalannya interaksi belajar
mengajar. Menurut Winarno Surakhmad (1982:76) setiap situasi
edukatif memiliki unsur-unsur pokok sebagai berikut:
1) Murid itu sendiri harus menjadi unsur dari situasi dalam arti bahwa unsur (murid) tersebut menerima rangsangan dari lingkungannya, yang dapat menimbulkan suatu tingkat kesadaran kebutuhan.
2) Tujuan yang apabila tercapai akan menimbulkan rasa keberhasilan dari murid
3) Motif yang merupakan daya penggerak untuk berhasil; murid yang mempunyai motivasi adalah murid yang telah memiliki satu keadaan dan kesiapan mental seperlunya untuk menggerakkan dirinya kedalam kegiatan yang bertujuan.
Perhubungan dinamik antara seluruh unsur itu menciptakan
satu keadaan tertentu yang disebut situasi edukatif. Dalam situasi
untuk mencapai tujuan dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan
yang diimbasi oleh pengaruh motivasi dan pengaruh tingkat
kesadaran kebutuhan
g. Penilaian terhadap hasil interaksi
Penilaian merupakan unsur yang sangat penting karena
kegiatan penilaian digunakan untuk mengetahui apakah tujuan
pendidikan itu sudah tercapai lewat interaksi belajar- mengajar atau
belum. Menurut Muhibbin Syah (1995:142) tujuan evaluasi adalah
sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu. Hal ini berarti dengan evaluasi guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil proses belajar mengajar yang melibatkan dirinya selaku pembimbing dan pembantu kegiatan belajar siswanya itu.
2) Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya. Dengan demikian, hasil evaluasi itu dapat dijadikan guru sebagai alat penetap apakah siswa tersebut kategori cepat, sedang atau lambat.
3) Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Hal ini berarti dengan evaluasi guru akan dapat mengetahui gambaran tingkat usaha siswa, hasil yang baik pada umumnya menunjukkan tingkat usaha yang efisien. Sedangkan hasil yang buruk adalah cermin usaha yang tidak efisien.
4) Untuk mengetahui hingga sejauh mana siswa telah mendaya gunakan kapasitas kognitifnya (kemampuan kecerdasan yang dimilikinya) untuk keperluan belajar, jadi hasil evaluasi itu dapat dijadikan guru sebagai gambaran realisasi pemanfaatan kecerdasan siswa.
Menurut Winarno Surakhmad (1982 : 81) alat interaksi dapat
digolongkan menjadi tiga hal, yaitu:
a) Pengalaman riil, yakni segenap media yang ada dalam kehidupan
sehari- hari.
b) Pengalaman buatan, yakni segenap media yang sengaja diciptakan
untuk mendekatkan pengertian pada pengalaman riil.
c) Pengalaman verbal, dimana bahasa adalah alat utama, baik secara
lisan maupun tulisan.
Dalam interaksi belajar- mengajar, guru berkewajiban untuk
menjadi pembibing dan penyuluh yang baik, serta me melihara dan
mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental
murid-muridnya. Guru menjadi orangtua didalam mempelajari sistem nilai
yang ada dalam masyarakat.
Siswa didalam interaksi belajar mengajar harus menjadi situasi
dari interaksi tersebut, yang dalam arti bahwa siswa menerima
rangsang dari lingkungannya yang dapat menimbulkan suatu tingkat
kesadaran kebutuhan .
Penilaian terhadap reaksi, sebenarnya adalah menilai usaha
seorang guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Penilaian terhadap
reaksi, dapat dilakukan oleh tiga pihak yang berbeda, yaitu penilaian
b. Ciri -ciri Interaksi Belajar Mengajar
Menurut Edi Suardi (Sardiman:15-18) ciri–ciri interaksi
belajar-mengajar dapat dirinci sebagai berikut:
a) interaksi belajar- mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu
anak dalam suatu perkembangan tertentu;
b) ada suatu prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan ;
c) interaksi belajar- mengajar ditandai dengan satu penggarapan yang
khusus;
d) ditandai dengan adanya aktivitas siswa;
e) dalam interaksi belajar- mengajar, guru berperan sebagai
pembimbing;
f) dalam interaksi belajar- mengajar membutuhkan kedisiplinan;
g) ada batas waktunya;
h) adanya unsur penilaian, yaitu unsur yang sangat penting dalam
kaitannya dengan tujuan yang ditetapkan, maka penilaian
digunakan untuk mengetahui apakah tujuan itu sudah tercapai
lewat interaksi belajar mengajar.
c. Bentuk-bentuk Interaksi Belajar Mengajar
Dalam pelaksanaan belajar mengajar guru mendisain interaksi
belajar mengajar dengan memilih bentuk yang tepat sesuai dengan
tujuan pengajaran dengan materi pelajaran yang akan diberikan. Serta
Adapun bentuk-bentuk interaksi belajar mengajar yang dapat
digunakan adalah sebagai berikut Roestiyah(1986:41-45):
1) Pengajaran adalah transfer pengetahuan kepada siswa.
Dalam bentuk ini guru mengajar disekolah hanya menyuapi materi kepada siswa. Siswa selalu menerima suapan itu tanpa komentar, tanpa aktif berfikir. Dalam pelaksanaan bentuk interaksi belajar mengajar ini guru berperan penting, gurulah yang aktif murid pasif, semua kegiatan berpusat pada guru (teacher-centered). Hubungan guru dan siswa disini hanya berlangsung sepihak yaitu dari pihak guru. Bentuk interaksi belajar mengajar semacam ini guru sebagai sumber segala pengetahuan, sumber segala kebenaran. Semua yang dikatakan guru dipegang murid sebagai sesuatu kebenaran yang mutlak.
2) Pengajaran adalah mengajar siswa bagaimana caranya belajar Dalam bentuk ini guru hanya merupakan salah satu sumber belajar, bukan sekedar menyuapi materi saja kepada siswa, guru tugasnya sekedar sebagai fasilitator, menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa agar giat belajar, guru melontarkan masalah-masalah, agar siswa mampu dan timbul inisiatif untuk memecahkan masalah tersebut . Guru memberikan aksi-aksi yang merangsang siswa untuk mengadakan reaksi. Dengan demikian terjadilah interaksi antara guru dan murid, ada hubungan timbal balik antara guru dan murid.
3) Pengajaran adalah hubunga n interaktif antara guru dan siswa
Dalam bentuk ini ada hubungan interaktif antara guru dan murid, serta antara murid dengan murid. Tiap individu ikut aktif dan berperanan. Dalam hal ini guru hanya menciptakan situasi dan kondisi, agar tiap individu dapat aktif belajar. Dengan demikian maka akan timbul proses belajar mengajar yang aktif. Dalam proses belajar semacam ini siswa dapat menerima dari guru, tetapi dapat juga menerima pengalaman dari siswa yang lain. Keadaan ini memungkinkan adanya interaktif ant ara guru dan siswa, serta antara siswa dengan siswa.
3. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Dalam kehidupan bermasyarakat selalu terdapat suatu ciri
utama yaitu adanya hubungan antara anggota masyarakat, hubungan
tersebut dinamakan sebagai komunikasi interaksi. Melalui komunikasi
interaksi teersebut maka kelompok-kelompok masyarakat melakukan
banyak kegiatan sehingga akan tercapainya tujuan-tujuan bersama
Bentuk-bentuk komunikasi itu berlaku didalam semua bentuk
hubungan sosial, baik disekolah maupun didalam pergaulan
masyarakat yang lebih luas. Disekolah berlangsung hubungan
komunikasi interaksi pendidikan antara para siswa dan para guru.
Interaksi ini disebut sebagai interaksi belajar mengajar.
Untuk mencapai maksud dan tujuan interaksi belajar mengajar
perlu ditingkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Peningkatan
efisiensi dan efektivitas tersebut sebagian besar bergantung pada faktor
penunjang yaitu sarana dan prasarana. Dengan kata lain, interaksi
belajar mengajar ini akan berjalan dengan lancar dan tercapainya hasil
yang maksimal apabila dalam proses belajar mengajar digunakan alat
bantu yang disebut media pendidikan. Selain digunakan dalam
pendidikan formal media pembelajaran ini juga digunakan dalam
Dalam dunia pendidikan / pengajaran hal tersebut dinamakan
media pendidikan / pembelajaran. Adapula yang menyebut Audio
Visual Aid
( AVA = alat bantu pandang dengar ). Sesuai dengan namanya maka
fungsinya membantu proses belajar mengajar melalui penglihatan dan
pendengaran. Jadi dengan alat ini tujuan pembelajaran harus lebih
berhasil. Jangan sampai AVA ini justru mengganggu tercapainya
tujuan pembelajaran (Roestiyah (1982: 67).
Pengertian media pembelajaran menurut John D. Latuheru (1988 : 14)
ialah :
Media pembelajaran adalah bahan, alat maupun metode/teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukatif ( proses belajar mengajar ) antara guru dan anak didik/warga belajar dapat berlangsung secara tepatguna dan berdayaguna.
Keberhasilan proses belajar sangat tergantung dari semua
indera yang dimiliki manusia itu sendiri. Oleh karena itu media
pembelajaran hendaknya mencakup semua obyek yang menarik semua
alat indera. Karena media dapat membantu guru memperjelas semua
pembahasan yang terkait dalam proses belajar–mengajar, maka media
pembelajaran tersebut diacu sebagai bagian dari konteks pengajaran.
Melalui penggunaan media, murid dapat mengajar dirinya sendiri
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media pembelajaran dapat
membantu merangsang murid dan guru untuk menciptakan situasi
b. Fungsi Media Pembelajaran
Ada beberapa fungsi media pembelajaran (Roestiyah(1982:69)yaitu:
- Fungsi edukatif, artinya dengan media pembelajaran ini dapat memberikan pengaruh baik yang mengandung nilai- nilai pendidikan. Pengaruh ini berguna bagi diri sendiri maupun masyarakat.
- Fungsi sosial artinya dengan alat media ini hubungan antara pribadi anak dapat lebih baik lagi, sebab mereka secara gotong royong dapat bersama-sama mempergunakan alat media ini.
- Fungsi ekonomis, artinya dengan satu macam alat media pembelajaran sudah dapat dinikmati oleh sejumlah anak didik dan bisa dipergunakan sepanjang waktu. Dapat mengurangi tena ga manusia, sebab pada pelajaran-pelajaran tertentu tidak perlu disajikan/diberikan oleh guru/manusia tetapi cukup dengan Audio Visual Aid.
- Fungsi Politis, artinya dengan media pembelajaran ini berarti sumber pendidikan atau yang lain yang berasal dari pusat akan sama sampai daerah-daerah bahkan sama ditiap-tiap sekolah. Sehingga tidak terdapat penyimpangan-penyimpangan yang berarti antara pelaksanaan di daerah sama dengan di pusat.
- Fungsi seni (budaya), artinya dengan adanya media pembelajaran ini berarti kita bisa mengenal macam- macam hasil budaya manusia sehingga pengetahuan anak tentang nilai- nilai budaya manusia makin lama makin bertambah. Sebab Audio Visual Aid inipun hasil budaya manusia.
c. Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Encyclopedia of Educational Research (Oemar
Hamalik (1982:27) manfaat media pembelajaran adalah sebagai
berikut:
1) Meletakkan dasar-dasar yang kongkrit untuk berpikir dan oleh
karena itu mengurangi ” verbalisme”
2) Memperbesar perhatian siswa
3) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar
4) Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan
kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa
5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu, hal ini
terutama terdapat dalam gambar hidup.
6) Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu
perkembangan kemampuan berbahasa
7) Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh
dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang
lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
8) Media pembelajaran melampaui batas pengalaman pribadi siswa.
Dengan menggunakan media pembelajaran maka guru dapat
mengatasi jurang perbedaan pengalaman belajar berdasarkan latar
belakang sosial ekonomi dari anak didik
9) Media pembelajaran melampaui batas-batas ruangan kelas. Hal- hal
yang tidak mungkin dialami dalam kelas disebabkan berbagai
faktor:
a. Benda yang terlalu besar. Misalnya: kota Jakarta
Hal tersebut akan dapat dipelajari dalam ruangan kelas
dengan menggunakan peta
b. Beberapa obyek organisme atau benda yang terlampau
kecil. Misalnya: bakteri, tidak mungkin diamati tanpa
menggunakan media tertentu. Hal tersebut akan dapat
c. Gejala-gejala yang terlampau lambat gerakannya tidak
mungkin dilihat. Misalnya: mekarnya sekuntum bunga dan
pertumbuhan sebuah biji. Kejadian tersebut akan dapat
dipelajari dengan menggunakan photographi.
d. Hal-hal yang proses terjadinya terlalu cepat dan sukar
diamati. Misalnya: pertandingan sepak bola, dengan
menggunakan media pembelajaran maka akan dapat
diperlambat.
e. Hal-hal yang terlalu komplek dapat disederhanakan.
Misalnya. Sistem listrik dalam pesawat terbang, bagian
tertentu dalam tubuh binatang, disederhanakan dalam
bentuk diagram
f. Bunyi suara yang terlalu halus yang tak mungkin didengar,
dengan media pendidikan dapat didengar.
g. Hal-hal lain, seperti: Iklim, terbentuknya sebuah ngarai,
tiupan angin, pergantian musim, dapat dilihat proses
terjadinya dengan menggunakan media pendidikan tertentu.
10)Media pemb elajaran memungkinkan terjadinya interaksi langsung
antara siswa dan lingkungannya. Dengan menggunakan media
pembelajaran, para siswa dibawa kedalam kontak langsung dengan
gejala kehidupan sesungguhnya misalnya dengan menggunakan
11)Media pembelajaran memberikan uniformitas/kesamaan dalam
pengamatan. Pengamatan para siswa terhadap sesuatu biasanya
berbeda-beda tergantung pada pengalamannya masing- masing.
Melalui media pembelajaran guru dapat memberikan persepsi yang
sama terhadap sesuatu benda, atau peristiwa tertentu kepada para
siswa dalam kelas, persepsi yang sama akan menimbulkan
pengertian dan pengalaman yang sama.
12)Media pembelajaran akan memberikan pengertian /konsep yang
sebenarnya secara realistis dan teliti
13)Media pembelajaran membangkitkan keinginan dan minat- minat
yang baru. Melalui media para siswa akan memperoleh
pengalaman lebih luas dan lebih kaya. Dengan demikian
persepsinya akan menjadi lebih tajam dan
pengertian-pengertiannya menjadi lebih tepat dan akan menimbulkan
keinginan-keinginan serta minat belajar yang baru
14)media pendidikan membangkitkan motivasi dan perangsang
kegiatan belajar. Media pendidikan memberikan
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap para siswa
15)Media pendidikan akan memberikan pengalaman yang menyeluruh
d. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Media pembelajaran bisa disebut juga “perangkat keras” dan
“perangkat lunak”. Menurut AECT (Oemar Hamalik,1982:19)
pesan yang terkandung pada perangkat lunak, misalnya : tape recorder,
televisi, video, OHP dan proyektorslide. Sedangkan perangkat lunak
(soft ware) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya
disajikan dengan menggunakan perangkat keras ,misalnya: Modul,
transparansi, pita kaset dan isi pesan yang tersimpan didalam pita-pita
rekaman
Media pembelajaran yang digunakan dalam suatu kegiatan
belajar mengajar tidak hanya terbatas pada yang disiapkan oleh guru
kelas sendiri, bahkan boleh disiapkan oleh suatu tim yang terdiri para
ahli dalam bidang bersangkutan (ahli bidang studi, ahli sistem
instruksional (pembelajaran), ahli media dan lainnya).
Dilihat dari segi penggunaannya, ada tiga kecenderungan
umum untuk penggunaan media, yaitu Latuheru (1988 :15) :
a. Yang dapat dipakai secara massa, misalnya radio, televisi.
b. Yang dapat dipakai dalam kelompok kecil maupun besar, misalnya
film, slide, OHP, video, tape recorder.
c. Yang dapat dipakai secara individual, misalnya komputer, kaset
recorder untuk pelajaran bahasa,modul.
e. Sistem Penyajian
Dalam interaksi belajar mengajar terdapat beberapa cara
penyajian agar proses itu dapat berjalan dengan baik dan berhasil
secara maksimal. Beberapa cara itu adalah Roestiyah (1982:72-78)
Metode diskusi adalah sala h satu metode belajar mengajar
yang dilakukan oleh seorang guru disekolah. Didalam diskusi ini
proses interaksi antara dua atau lebih individu, saling tukar
menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah dapat
terjadi. yang semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai
pendengar saja. Mengajar dengan metode diskusi memiliki
beberapa kebaikan, antara lain sebagai berikut:
a. Dapat mempertinggi partisipasi siswa secara individual
b. Dapat mempertinggi kegiatan kelas sebagai keseluruhan.
Disamping memiliki kelebihan, mengajar dengan menggunakan
metode diskusi juga ada kelemahannya, yaitu:
a. Sulit bagi guru untuk meramalkan arah penyelesaian
diskusi
b. Sulit bagi siswa untuk mengatur berfikir secara ilmiah
2. Kerja kelompok
Robert L. Cilstrap dan William R. Martin seperti dikutip
oleh Roestiyah (1982:74) memberikan pengertian kerja kelompok
sebagai kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil
yang diorganisisr untuk kepentingan belajar.
Keuntungan-keuntungan kerja kelompok antara lain :
a. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
menggunakan ketrampilan bertanya dan membahas sesuatu
b. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenal sesuatu
kasus atau masalah.
c. Dapat mengembangkan kepemimpinan dan mengajarkan
ketrampilan diskusi.
d. Dapat memungkinkan guru untuk memperhatikan individu
siswa akan kebutuhan belajarnya
e. Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka
dan mereka lebih berpartisipasi dalam diskusi
f. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
mengembangkan rasa menghargai kepada temannya yang
telah menolong kelompok dalam mencapai tujuannya
Disamping keuntungan-keuntungan diatas ada pula kelemahannya,
yaitu:
a. Metode ini tidak ditunjang oleh penelitian yang yang
khusus
b. Kerja kelompok sering-sering hanya melibatkan kepada
siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan
mengarahkan mereka yang kurang.
c. Metode ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat
duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda
d. Keberhasilan metode kerja kelompok ini tergantung
kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk
bekerja sendiri
3. Penemuan
Menurut Sund discovery (Roestiyah, 1982:75) metode
penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan
sesuatu konsep atau prinsip. Maksud dari proses mental tersebut
adalah mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.
Kebaikan dari metode penemuan:
a. Dianggap membantu siswa mengembangkan atau
memperbanyak persedian dan penguasaan ketrampilan
dalam proses kognitif siswa.
b. Pengetahuan yang diperoleh bersifat sangat pribadi,
sehingga dapat kukuh/mendalam
c. Membangkitkan kegairahan belajar para siswa
d. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
maju sesuai dengan kemampuan sendiri.
e. Metode ini mengarahkan siswa dalam cara belajarnya
sehingga ia lebih bermotivasi untuk belajar.
f. Metode ini membantu para siswa memperkuat siswa
dengan menambah kepercayaan pada diri sendiri melalui
g. Metode ini berpusat pada siswa, guru menjadi teman
belajar
Kelemahan dari metode penemuan:
a. Diperlukan keharusan adanya kesiapan mental untuk cara
belajar ini
b. Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas yang
besar.
c. Mungkin dapat mengecewakan kepada guru dan siswa yang
sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional
d. Dapat dipandang terlalu mementingkan pengertian dari
sikap dan ketrampilan
e. Mungkin tidak memberikan kemungkinan berfikir secara
kreatif
4. Simulasi
Simulasi adalah tingkah laku seseorang untuk berlaku
seperti orang yang dimaksud, dengan tujuan agar orang itu dapat
mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa
dan berbuat.
Kebaikan dari simulasi adalah:
a. Menyenangkan siswa
b. Menggalakkan guru untuk mengembangkan kreativitas
c. Memungkinkan experiment berlangsung tanpa memerlukan
lingkungan yang sebenarnya
d. Mengurangi hal- hal yang terlalu abstrak.
e. Tidak memerlukan pengarahan yang pelik dan mendalam
f. Memerlukan macam interaksi antar siswa yang
memungkinkan timbulnya keutuhan yang sehat
g. Menimbulkan respon yang positif bagi siswa yang lamban,
kurang cakap.
h. Mendatangkan cara berfikir secara kritis.
i. Memungkinkan guru bekerja dengan tingkat abilitas yang
berbeda-beda.
Kelemahan dari simulasi adalah:
a. Efektivitas dalam memajukan belajar belum bisa dilaporkan
oleh riset.
b. Terlalu mahal.
c. Banyak orang meragukan karena sering tidak diikut
sertakan elemen-elemen yang penting
d. Menghendaki pengelompokan yang fleksibel, ruang dan
gedung
e. Menghendaki banyak imaginasi dari guru dan siswa
f. Menghendaki hubungan informal antara guru dan siswa.
g. Sering mendapat kritik dari orang tua karena dianggapnya
5. Unit teaching
Unit teaching atau pengajaran disebut juga pengajaran
proyek. Unit teaching ini memberi kesempatan siswa belajar secara
aktif dan guru dapat mengenal dan menguasai cara belajar secara
unit.
Keuntungan pengajaran unit teaching:
a. Murid belajar secara keseluruhan
b. Pelajaran menjadi lebih berarti
c. Situasi kelas lebih demokratis
d. Penggunaan asas-asas mengajar secara wajar.
e. Penggunaan sumber yang luas.
f. Penggunaan prinsip-prinsip psikologi belajar modern
Kelemahan dari unit teaching adalah:
a. Pokok masalah dalam perencanaan unit tidak mudah sebab
semua masalah belum tentu dapat dijadikan unit
b. Melaksanakan unit memerlukan kecakapan, ketekunan,
perhatian guru yang lebih banyak
c. Ada kemungkinan pelajaran yang disajikan tidak
mendalam.
Bagi setiap guru dituntut untuk memahami masing- masing
metode secara baik, sehingga memilih dan melaksanakan untuk
setiap pelajaran yang akan disajikan. Dengan pemilihan dan
yang diberikan kepada siswa, maka akan meningkatkan proses
interaksi belajar mengajar. Siswa juga akan memperoleh hasil
belajar yang efektif dan mendapatkan kesempatan belajar yang
seluas- luasnya.
4. Lingkungan Belajar
a. Lingkungan Keluarga
Siswa yang mengalami proses belajar, supaya berhasil sesuai
dengan tujuan yang harus dicapainya perlu memperhatikan beberapa
factor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Patterson dan
Loeber (1984) seperti dikutip oleh Muhibbin Syah (1995 : 135)
mengatakan bahwa lingkungan sosial yang lebih banyak
mempengaruhi kegiatan belajar siswa ialah orang tua dan keluarga itu
sendiri.Sifat-sifat orangtua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan
keluarga dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat
memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan
hasil yang dicapai oleh siswa
Menurut Roestiyah (1982:159) faktor- faktor yang datang dari
keluarga yang mempengaruhi belajar siswa, yaitu:
a. Cara mendidik
Orang tua yang memanjakan anaknya, maka setelah anak sekolah akan menjadi siswa yang kurang bertanggung jawab,dan takut menghadapi tantangan kesulitan. Juga orang tua yang mendidik anak secara keras itu akan menjadi penakut.
b. Suasana keluarga
menyenangkan, akrab dan penuh kasih sayang. Memberi motivasi yang mendalam pada anak.
c. Pengertian orang tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas dirumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya. Membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah. Kalau perlu menghubungi guru anaknya, untuk mengetahui perkembangannya. d. Keadaan sosial ekonomi keluarga
Anak belajar memerlukan sarana-sarana yang kadang-kadang mahal. Bila keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan, kadang kala menjadi penghambat anak belajar. Namun bila keadaan memungkinkan cukupkanlah sarana yang diperlukan anak, sehingga mereka dapat belajar dengan senang.
e. Latar Belakang Kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk belajar.
Menurut Winkel (1989:108-109) keadaan sosial-ekonomis
menunjukan pada taraf kemampuan finansial keluarga yang dapat
bertaraf baik, cukup atau kurang. Keadaan inilah tergantung sampai
seberapa jauh keluarga dapat membekali siswa dengan perlengkapan
material untuk belajar. Keadaan sosial-kultural menunjuk pada taraf
kebudayaan yang dimiliki keluarga. Dari keadaan ini tergantung corak
bergaul antara orang tua dan anak, serta pandangan keluarga mengenai
pendidikan sekolah. Semua ini akan berpengaruh terhadap siswa,
selama belajar disekolah. Sebenarnya yang penting disini bukanlah
keadaan itu sendiri, melainkan kondisi intern pada siswa yang timbul
sebagai akib at dari keadaan itu. Sikap siswa sendiri terhadap keadaan
itu, kerap ikut menentukan apakah kondisi intern akan
umumnya taraf kemampuan ekonomi keluarga yang tinggi akan
menguntungkan bagi belajar anak, karena kebutuhan anak dalam
menjaga kesehatan jasmani dan perlengkapan alat-alat belajar, dapat
terpenuhi. Tetapi mungkin juga, anak yang dibesarkan dalam
lingkungan demikian menjadi malas belajar karena merasa
kebutuhannya sudah terpenuhi serta merasa sudah memiliki jaminan
ekonomis untuk masa depan. Sebaliknya siswa yang berasal dari
keluarga berstatus ekonomi rendah dan mengalami kekurangan dalam
perlengkapan alat-alat belajar kerap lebih rajin dalam belajar disekolah
karena keinginannya untuk maju.
Selain keadaan sosial keluarga, keadaan-keadaan tertentu juga
cenderung menciptakan kondisi pada siswa yang menguntungkan atau
menghambat untuk belajar. Misalnya, keadaan sosio-kultural yang
bertaraf tinggi, cenderung menguntungkan bagi anak yang masih
belajar di sekolah, karena orang tua mempunyai pengalaman pribadi
dalam hal ini dan dapat melayani anak yang membutuhkan bantuan.
Sebaliknya, siswa yang hidup ditengah-tengah keluarga yang bertaraf
kebudayaan rendah, biasanya akan menemukan banyak pertentangan
antara kebiasaan-kebiasaan dirumah dengan tuntutan-tuntutan belajar
disekolah, biarpun sebenarnya orang tua menganggap perlu agar anak
bersekolah setinggi mungkin. Kehidupan didalam keluarga yang di
satu pihak berstatus ekonomi baik dan dilain pihak berstatus
menunjang dan sekaligus menghambat. Semua kebutuhan fisik dan
material terpenuhi, tetapi orang tua kurang mampu mengikuti
perkembangan anak selama belajar di sekolah.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dari
keluarga dan bagaimana sikap anak menanggapi lingkungannya dapat
menentukan berhasil atau tidaknya pendidikan yang di tempuh. Agar
anak dapat berhasil dalam pendidikannya, maka harus diperhatikan
segala sesuatu yang dapat me nunjang keberhasilan belajarnya
b. Lingkungan Sekolah
Kemampuan belajar yang dimiliki manusia merupakan bekal
yang membuka kesempatan luas untuk memperkaya diri dalam hal
pengetahuan dan kebudayan. Karena manusia mampu untuk belajar
maka dia berkembang, mulai dari saat lahir sampai mencapai umur tua.
Berdasarkan kesadaran tentang peranan proses belajar mengajar dalam
kehidupan anak didik, masyarakat telah mendirikan suatu institut yang
mendampingi anak dalam belajarnya dan menyalurkan pengalama
n-pengalaman belajar sedemikian rupa, sehingga menghasilkan corak
perkembangan yang diharapkan. Institut ini disebut sekolah (W.S.
Winkel,1989:ix).
Pendidikan disekolah sebagai akibat dari pemenuhan akan
pentingnya pendidikan, sekolah tidak hanya terdiri dari gedung saja
melainkan juga sarana dan prasarana lain yang menunjang pendidikan.
materi pelajaran. Oleh karena itu harus diciptakan lingkungan sekolah
yang benar-benar dapat mendukung anak untuk belajar.
Menurut Roestiyah (1982:159-161) faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar siswa yang datang dari sekolah yaitu:
a. Interaksi guru dan murid. Guru yang kurang berinteraksi dengan para murid secara intim, menyebabkan proses belajar mengajar itu kurang lancar. Juga siswa merasa jauh dari guru, maka segan berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
b. Cara penyajian. Guru yang lama biasa mengajar dengan metode ceramah saja. Siswa menjadi bosan,mengantuk, pasif, dan hanya mencatat saja. Guru yang progresif berani mencoba metode- metode yang baru, yang dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar
c. Hubungan antar murid Guru yang kurang mendekati siswa dan kurang bijaksana, maka tidak akan melihat bahwa didalam kelas ada group yang saling bersaing secara tidak sehat. Jiwa kelas tidak terbina, bahkan hubungan masing- masing individu tidak tampak. Hal mana suasana kelas semacam itu tidak diharapkan, guru harus mampu membina jiwa kelas, supaya dapat hidup bergotong royong dalam belajar bersama.
d. Standar pembelajaran diatas ukuran. Guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran diatas ukuran standart. Akibatnya anak merasa kurang mampu dan takut kepada guru. Bila banyak siswa yang tidak berhasil dalam mempelajari mata pelajarannya, guru semacam itu merasa senang. Tetapi berdasarkan teori belajar, yang mengingat perkembangan psikis dan kepribadian anak yang berbeda-beda, hal tersebut tidak boleh terjadi. Guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa masing- masing. Yang penting tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai
e. Media pendidikan. Kenyataan saat ini dengan banyaknya jumlah anak yang masuk sekolah, maka memerlukan alat-alat yang membantu lancarnya belajar anak dalam jumlah yang besar pula, seperti buku-buku diperpustakaan, laboratorium atau media- media lain. Kebanyakan sekolah masih kurang dalam memiliki media jumlah maupun kualitetnya.
secara individual. Kurikulum sekarang belum dapat memberikan pedoman perencanaan yang demikian.
g. Keadaan gedung. Dengan jumlah siswa yang luar biasa jumlahnya, keadaan gedung dewasa ini terpaksa kurang, mereka duduk berjejal-jejal di dalam setiap kelas. Bagaimana mungkin mereka dapat belajar dengan enak kalau kelas itu terpaksa berisi 50 orang siswa.
h. Waktu sekolah. Akibat meledaknya jumlah anak yang masuk sekolah dan penambahan gedung sekolah belum seimbang dengan jumlah siswa. Akibat selanjutnya banyak siswa yang terpaksa masuk sekolah disore hari. Hal mana sebenarnya kurang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana anak harus beristirahat, tetapi terpaksa masuk sekolah. Mereka mendengarkan pelajaran sambil mengantuk dan sebagainya. Sebaiknya anak belajar dipagi hari, dimana pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik.
i. Pelaksanaan disiplin. Banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang, sehingga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Kurang bertanggung jawab, karena bila tidak melaksanakan tugas, toh tidak ada sangsi . Hal mana dalam proses belajar siswa perlu disiplin, untuk menge mbangkan motivasi yang kuat
j. Metode Belajar. Banyak siswa melaksanakan cara belajar yang salah. Dalam hal ini perlu pembinaan dari guru. Dengan cara belajar yang tepat akan efektif pula hasil belajar siswa itu. Juga dalam pembagian waktu untuk belajar. Kadang-kadang siswa belajar tidak teratur, atau terus menerus, karena besok akan ujian. Dengan belajar demikian siswa akan kurang beristirahat, bahkan mungkin dapat jatuh sakit. Maka perlu belajar secara teratur setiap hari, dengan pembagian waktu yang baik, memilih cara belajar yang tepat dan cukup istirahat akan meningkatkan hasil belajar.
k. Tugas rumah. Waktu belajar adalah disekolah. Waktu dirumah biarlah digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain. Maka diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi tugas yang harus dikerjakan dirumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi untuk kegiatan lain
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf
administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat
belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan
rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan
berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan
belajar siswa (Muhibbin Syah, 1995:137).
Dalam belajar disekolah faktor guru dan cara mengajarnya
merupakan factor yang penting pula. Bagaimana sikap dan kepribadian
guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan
bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan kepada anak-anak
didiknya, turut menentukan bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai
anak. Faktor guru dan mengajarnya ini tidak dapat kita lepaskan dari
ada tidaknya dan cukup tidaknya alat-alat pelajaran yang tersedia di
sekolah. Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang
diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik
dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu
akan mempermudah dan mempercepat belajar anak (Ngalim Purwanto,
1984:104).
Hal lain yang harus diperhatikan oleh pihak sekolah yaitu
masalah kebersihan. Kebersihan lingkungan sekolah pada umumnya
dan kebersihan kelas pada khususnya turut mempengaruhi proses
belajar siswa. Lingkungan sekolah yang bersih dapat menimbulkan
rasa nyaman bagi siswa untuk belajar dan mendukung proses belajar
c. Lingkungan Masyarakat.
Siswa hidup dimasyarakat. Hal demikian berarti siswa adalah
bagian dari warga masyarakat. Oleh karena itu siswa menjalin
hubungan dengan anggota masyarakat yang lainnya. Hubungan
tersebut terjadi dengan teman sebaya, dengan orang yang lebih tua
maupun dengan yang lebih muda. Menurut Roestiyah (1982:162), anak
perlu bergaul dengan anak lain untuk mengembangkan sosialisasinya.
Tetapi perlu dijaga jangan sampai mendapatkan teman bergaul yang
buruk perangainya. Perbuatan yang tidak baik mudah menular pada
orang lain. Maka perlu dikontrol dengan siapa mereka bergaul.
Siswa banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga.
Lingkungan keluarga itu sendiri merupakan bagian dari masyarakat.
Komunik asi dengan anggota masyarakat lainnya, dapat memberi
pengaruh yang baik atau pengaruh yang buruk bagi siswa. Pergaulan
yang salah dapat mengakibatkan siswa lupa atas tanggung jawabnya