• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL DIMENSI SEJARAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL DIMENSI SEJARAH"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 112

ISSN - 2086-133

J

URNAL

D

IMENSI

S

EJARAH

Journal homepage: www.jurnaldimensisejarahum.com

SEJARAH LOKAL: KEBUDAYAAN MANDI SAFAR DAN

KEBIASAAN MASYARAKAT ISLAM SUKU BUOL DI DESA

LAKEA 1

Fahmi, Arif Subekti

[email protected], [email protected]

Abstract

Safar bathing culture is an Islamic culture carried on for generations of the Buol tribe community. This culture is practiced by muslim communities. The safar bathing ritual is a spiritual effort towards a self-aproach to the creator carried out by Islamic community in Buol. This ritual is routinely performed once a year, every month of safar. Safar month is belived to be a month full of angry danger that occurred during the past year and keep angry language the next year. his safar bath, has its own uniqueness, and is a safar bathing culture that is different from the. Safar baths are believed to eliminate all angry danger, eliminate bad luck, outbreaks of infectious diseases, disasters (calamities), both past and future, especially the calamities in the safar month.

Keywords

Local Culture, suku Buol society, mandi safar culture.

Abstrak

Budaya mandi safar adalah budaya Islam yang dijalankan selama beberapa generasi dari komunitas suku Buol. Budaya ini dipraktikkan oleh komunitas muslim. Ritual mandi safar adalah upaya spiritual menuju pendekatan diri kepada pencipta yang dilakukan oleh komunitas Islam di Buol. Ritual ini rutin dilakukan setahun sekali, setiap bulan safar. Bulan safar diyakini sebagai bulan penuh dengan marah bahaya yang terjadi selama setahun terakhir dan mempertahankan marah bahaya tahun berikutnya. mandi safar ini, memiliki keunikannya tersendiri, dan merupakan kebudayaan mandi safar yang berbeda dengan daerah-daerah yang ada didaerah lain. Mandi safar sangat dipercaya akan menghilangkan segala marah bahaya, menghilangkan kesialan, wabah penyakit menular, bencana (musibah), baik yang telah berlalu maupun yang akan datang, khususnya musibah-musibah pada bulan safar.

Kata kunci

Kebudayaan lokal, masyarakat suku Buol, kebududayaan mandi safar.

*Received: 11 January 2020 *Revised: 28 March 2020

(2)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 113

Pendahuluan

Secara umum sejarah merupakan gambaran tentang sebuah peristiwa masa lampau yang diperankan oleh manusia. Disusun secara ilmiah agar mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh generasi. Sejarah memiliki banyak jenis topik pembahasan, mulai dari yang sederhana sampai ke yang lebih kompleks, dari yang ruang lingkupnya kecil sampai keruang lingkupnya besar. Sejarah lokal baik dalam tradisi ke-Islaman atupun bukan, menceritakan kisah pengalaman sekelompok masyarakat tertentu yang berada pada tertentu,dan dibatasi oleh letak geografisnya.

Indonesia merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari 17.000 pulau, dengan pulau utamanya yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Banyak budaya, ras suku, dan agama yang tercermin dari setiap pulau tersebut, dengan ciri khasnya masing-masing. Dalam artikel ini, penulis lebih fokus pada pulau Sulawesi, tepatnya Desa Lakea 1, Kecamatan Lakea, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Ragam budaya, tradisi, bahasa dan agama, serta rasa yang tergambar di Indonesia, Kabupaten Buol merupakan salah satunya. Kabupaten Buol merupakan wilayah yang berada di pesisir pantai dengan iklim yang cukup panas tentunya memiliki budaya yang berbeda dengan daerah-daerah pegunungan, bahkan memiliki perbedaan dengan daerah-daerah pesisir lainnya.

Pada dasarnya kebudayaan merupakan hasil cipta atau karya manusia melalui interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Manusia dalam menciptakan kebudayaan secara bertahap, mulai dari bentuk yang sederhana menuju ke yang lebih kompleks lagi. Menurut Bakker (1984, p. 17) berpendapat bahwa kedudukan manusia adalah sentral, bukan manusia sebagai orang, melainkan sebagai pribadi. Kepadanya segala kegiatan diarahkan sebagai tujuan. Dari kegiatan budaya berasal sebagai pencipta. Dengan pemikiran manusia dalam menciptakan sebuah kebudayaan, mengaharuskan manusia selanjutnya untuk melestarikan kebudayaan tersebut (Aris Shofa, Kodir, Alfaqi, & Subekti, 2019). Indonesia, tanah beragam kepercayaan ini memiliki baknyak kebudayaan sehingga untuk membedakannya yaitu melalui agama, seperti yang dikatakan oleh Gaudium et Spes (dalam Bakker, 1984, p. 17) bahwa pesona humana ets simul auctor et finis culturae. Atau untuk menghindarkan kesalah pahaman, keudayaan harus dibedakan dengan agama. Kebudayaan antara agama satu dengan yang lainnya tentu berbeda, begitu pula dengan Islam. Kebudayaan ini terjadi dari akal budi manusia sendiri bukan meelalui sang pencipta. Singkatnya kebudayaan adalah penciptaan, penerbitan dan pengolahan nilai-nilai insani. Dalam setiap kebudayaan memiliki nilai-nilai kemanusian yang perlu ditanamkan pada diri setiap individu.

Kabupaten Buol memiliki banyak budaya, tradisi, dan adat istiadat yang berlaku pada mayarakat setempat, salah satunya adalah tradisi mandi safar. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu budaya tersebut mulai pudar bahkan generasi abad ke-20 sampai dengan sekarang kurang yang mengetahui bahwa Buol memiliki budaya mandi safar yang dilakukan masyarakat muslim pada bulan safar. Kurangnya pengetahuan tentang kearifan lokal ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor anatara lain yaitu, sekolah-sekolah di kabupaten Buol tidak mengajarkan budaya-budaya lokal yang ada. Mengingat bahwa kepudaran budaya ini merupakan bentuk kesenjangan yang berimbas pada pemahaman generasinya tentang budaya dan tradisinya sendiri.

(3)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 114 Artikel ini bertujuan untuk memberitahu kebudayaan lokal dari salah satu budaya yang terbilang hampir pudar pada masyarakat Buol. Dengan ini, berharap bahwa artikel ini mampu memberi informasi kepada masyarakat khususnya Masyarakat suku Buol bahwa Buol memiliki kebudayaan yang unik dan tidak dimiliki oleh daerah lainnya. Dan mampu menumbuhkan kesadaran setiap individu bahwa betapa pentingnya mempertahankan budaya sendiri dan menerapkannya sejak dini. Agar tidak menciptakan generasi yang buta akan sejarah daerahnya sendiri serta budaya asli yang khas pada daerahnya sendiri. Dari uraian diatas, melatarbelakangi penulis ingin meneliti “KEBUDAYAAN LOKAL: Budaya Mandi Safar dan Kebiasaan Masyarakat Islam Suku Buol di Desa Lakea 1”.

Metode Penelitian

Menurut Sugiyono (2008, p. 2) bahwa metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research). Menurut Suryasubrata (dalam Euis Sofi, 2016, p. 53) bahwa penelitian lapangan bertujuan mempelajari secara intensif latar belakang, keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga atau masyarakat.

Mendefenisikan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandasakan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi menurut Sugiyono (2008, p. 9)

Dalam penelitian ini bersifat kualitatif, sehingga peneliti menggunakan teknik wawancara. Penelitian kualitatif mengahasilkan data yang berupa deskriptif berupa kata-kata, kalimat yang tertulis atau didapatkan secara lisan dari orang-orang atau keadaan yang dapat diamati.

Penelitian ini dilakukan di Desa Lakea 1, Kecamatan Lakea, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Tempat penelitian tersebut merupakan desa asal peneliti. Dalam hal ini, peneliti ingin megabadikan dan memperkenalkan kebudayaan yang ada di daerah asalnya kepada masyarakat umum, melalui karya penelitian.

Teknik yang digunakan peneliti yaitu wawancara dilakukan untuk meggali informasi secara mendalam dari informasi mengenai kebudayaan mandi safar. Dalam penelitian ini juga peneliti menggunakan observasi partisipatif, yang dimana peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati. Peneliti juga mengikuti kegiatan kebudayaan mandi safar setiap tahunnya.

Analisis data peneliti menggunakan makna analisis yang dikemukakan oleh Sugiyono, 2010: 254 (dalam Euis Sofi, 2016, p. 53) bahwa model interaktif yang biasa digunakan pada proses analisis untuk penelitian kualitatif, yaitu melalui proses pengumpulan data, reduksi data, dan display data yang hasilnya adalah konklusi dari perolehan data selama proses pengumpulan data yang telah diverifikasi terlebih dahulu.

(4)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 115

Pembahasan

Kebudayaan Mandi Saffar

Islam di Indonesia merupakan agama yang paling mendominasi, atau biasa kita kenal dengan istilah mayoritas. Bersebar dari Sabang sampai Merauke Islam memiliki kebudayaan yang berbeda-beda disetiap tempat atau setiap daerah. Kebudayaan, dimana Islam mengalami proses pempribumian secara konseptual dan structural. Islam menjadi bagian intrinstik dari sistem kebudayaan secara keseluruhan. Islam dipandang sebagai landasan masyarakat budaya dan kehidupan pribadi (Yatim, 2014, p. 228). Sehingga, bagi masyarakat Islam suatu buadaya harus memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai pandangan hidup dan tentunya mencerminkan sikap-sikap positif dan moral yang religius. Begitupun dengan kebudayaan mandi safar yang ada di Sulawesi Tengah tersebut.

Pulau Sulawesi tepatnya di Sulawesi Tengah, Kabupaten Buol, Desa Lakea 1, Kecamatan Lakea terdapat satu tradisi yang merupakan warisan turun temurun masyarakat setempat. Kebudayaan tersebut sudah berlangsung turun temurun, sejak dahulu kala, dari nenek moyang sampai dengan sekarang. Kebudayaan ini dilakukan setiap tahun sekali, tradisi safar dilakukan pada hari rabu, minggu terakhir pada bulan safar, dilakukan setiap bulan safar tahun hijria. Kebudayaan mandi safar tersebut dilakukan oleh masyarakat muslim (Islam) yang ada didaerah tersebut, hal ini dimotivasi oleh adanya seuah kepercayaan bahwa pada bulan safar ini memiliki 12 jenis marah bahaya yag akan turun kebumi, khususnya pada hari rabu, minggu ketiga bulan safar. Kebudayaan mandi safar dilakukan oleh para kaum muslim. Mandi saffar ini dipandu langsung oleh para tetua atau kepala iman desa setemapat (biasa dikenal dengan kepala suku). Menurut hasil wawancara pada tanggal 22 April 2019 dengan Ibu Masda, bahwa bulan safar merupakan bulan yang membawa malapetaka yang dimana dahulu, bulan safar merupakan bulan kegembiraan umat Hindu untuk memperingati kematian Nabi Muhammad SAW. Melalui hal tersebut umat muslim di kabupaten Buol beranggapan bahwa mandi safar ini merupakan adat atau tradisi yang dilakukan untuk menghilangkan segala malapetaka tersebut dengan cara menghanyutkannya dialiran air sungai, baik segala bentuk sial yang sudah dilewati maupun yang akan datang.

Dimana setiap warga masyarakat bergotong-royong untuk melakukan berlangsungnya mandi safar tersebut. Mandi safar diwajibkan kepada setiap anak yang lahir pada bulan safar sedangkan yang lahir diluar bulan safar tetap mengikuti akan tetapi tidak diwajibkan untuk melakukan ritual-ritual yang dilakukan oleh para orang-orang yang lahir pada bulan safar. Tradisi mandi saffar ini, dilakukan di sungai, pantai, muara dan bisa juga dilakukan di kamar mandi rumah sendiri.

Ritual mandi safar merupakan suatu upaya spiritual kearah pendekatan diri pada sang pencipta yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang ada di Indonesia. Dan salah satunya yaitu di Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Buol, tepatnya di Kecamatan Lakea, Desa Lakea 1. Ritual ini rutin dilakukan pada bulan safar. Bulan safar dipercaya sebagai bulan yang membawa malapetaka. Bulan yang penuh dengan mara bahaya, sehingga masyarakat yang ada sangat berhati-hati saat beraktivitas pada bulan safar. Pada bulan ini juga banyak sekali tragedi mulai dari kecelakaan ringan samapai dengan kecelakaan yang besar. Baik dari teriris pisau sampai dengan kecelakaan saat berkendara.

(5)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 116 Bulan safar secara pelaksanaannya terdapat beberapa perbedaan dari segi kepercayaan dengan tradisinya. Antara yang di kabupaten Buol, desa Lakea 1 dengan yang ada didaerah-daerah lainnya. Mandi safar sangat dipercaya akan menghilangkan segala marah bahaya, menghilangkan kesialan, wabah penyakit menular, bencana (musibah), baik yang telah berlalu maupun yang akan datang, khususnya musibah-musibah pada bulan safar. Akan tetapi tradisi ini menimbulkan pro dan kontra bagi masyarakat yang ada, karena sebagian masyarakat ini merupakan syirik dan bertentangan dengan ajaran Islam. Akan tetapi sebagian masyarakat juga menggap bahwa ini hanyalah sebuah tradisi warisan dari leluhur yang perlu untuk dilestarikan, dan bagi masyarakat yang melaksanakan kebudayaan mandi safar ini, percaya bahwa kebudayaan ini mampu mengurangai musibah yang akan sampai pada mereka. Kebudayaan mandi safar ini tidak memaksakan orang harus ikut, hanya siapa yang percaya dan mau ikut silahkan ikut dan yang tidak, maka tidak dipaksakan untuk ikut.

Ritual mandi safar merupakan suatu aturan perayaan (selebration) yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama dengan ditandai oleh sifat khusus yang menimbulkan rasa hormat, yang luhur dalam arti merupakan suatu pengalaman yang suci. Maknanya untuk menyatakan hubungannya dengan yang tertinggi yang sifatnya biasa atau umum tetapi semua yang bersifat istimewah (Ashsubli, 2018) .

Ritual mandi safar dapat dikatakan istimewah karena setiap daerah tidak memiliki kebudayaan ini. Walaupun pada dasarnya, kebudayaan ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Buol, Lakea 1 saja, akan tetapi dilakukan oleh beberapa suku dipulau-pulau lain juga. Yang membedakan adalah tradisinya saja. Sebelumnya, kebudayaan mandi safar ini berasal dari suku melayu, menurut keterangan dari kepala adat bahwa tradisi mandi safar ini sudah ada pada suku melayu kira-kira sekitar tahun 1920-an, akan tetapi mandi safar ini dilakukan di rumah masing-masing. Syaukani al-karim dalam Ashsubli (2018) berpendapat bahwa pada dasarnya safar diartikan sebagai kosong. Pada masa lampau kaum-kaum awal dan masyarakat jahiliya di Jazirah Arab pra-Islam menjadikan bulan safar sebagai bulan peperangan, mereka meninggalkann rumah dalam keadaan kosong. Kemungkinan dari pendapat tersebut bahwa bulan safar dianggap bulan yang penuh dengan suka cita, bulan yang penuh dengan air mata. Kosongnya sebuah rumah kemungkinan dianggap sebuah kepergian dari sang pemilik rumah. Jadi, mungkin saja bulan ini dianggap bulan yang penuh dengan bencana. Dan tidak menutup kemungkinan juga bahwa bulan ini dianggap sebagai bulan untuk mengenang para kaum-kaum awal yang melakukan peperangan tersebut. Keunikan Tradisi Mandi Saffar Yang Ada di Buol, Lakea 1

Dalam tradisi mandi safar tentunya memiliki ritual-ritual serta keunikan-keunikannya tersendiri yang menggambarkan ciri khas dari daerah terebut. Adapun keunikan tradisi mandi safar yang ada di Buol Sulawesi tengah yaitu sebagai berikut.

Keunikan dari Segi Tradisi

Menurut Tahir Kamalo (2019) bahwa anak yang lahir bulan safar ditimbang diayunan berseblahan dengan jenis makanan selama tiga kali berturut-turut setiap tahun diadakan dengan beramai-ramai warga menyaksikan. Dari segi tradisi setiap anak yang lahir bulan

(6)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 117 safar diadakan penimbangan seperti balita di Pos Yandu secara tradisi selama tiga kali berturut-turut selama bulan safar. Dilakukan setiap tahun sekali, biasanya tradisi ini dilakukan sebelum minggu mandi safar dilakukan sampai dengan minggu mandi safar dilakukan. Balita ditimbang dalam sebuah ayunan dan ini dilakukan secara beramai-ramai oleh warga setempat.

Biasanya tradisi ini dilakukan secara beramai-ramai oleh warga setempat. Dalam tradisi tersebut bayi ditimbang dalam sebuah ayunan yang dahulunya ayunan tersebut menggunakan sarung yang diikat pada sebuah rotan yang melengkung. Akan tetapi seiring berjalannya waktu pengrajin ayunan rotan serta sulitnya mendapatkan rotan membuat masyarakat setempat harus menggunakan ayunan yang terbuat dari besi. Tidak berhenti sampai disitu, dalam menimbang anak dalam ayunan ini juga memiliki makanan khas kabupaten Buol yang mirip seperti tumpeng yang terbuat dari beras ketan yang diberi santan dan dihiasi dengan pisang goreng dan kue cucur (kue yang terbuat dari beras ketan dan gula aren) serta diatasnya terdapat telur rebus. Tidak hanya itu, ada juga beberapa makanan balita seperti pisang dan lain sebagainya.

Dilakukan di laut atau di sungai

Jika ditinjau dari letak geografis Sulawesi Tengah, Kabupaten Buol, Kecamatan Lakea, Desa Lakea 1. Merupakan daerah yang strategis. Mengapa demikian? Kabupaten Buol, Lakea 1 sebelah utara terdapat laut dan sebelah selatan terdapat gunung. Pada Desa Lakae 1 satu yang paling dijumpai iyalah laut dan sungai. Maka tidak heran jika mandi safar ini dilaksanakan dilaut ataupun disungai, melihat dari letak geografisnya.

Gambar 1: Upacara saat Mandi safar akan dimulai, foto diambil tahun 2014

Banyak orang bertanya kenapa mandi safar harus pada air yang mengalir? Pada dasarnya bahwa air merupakan sumber kehidupan setiap makhluk hidup. Sehingga manusia tanpa air itu merupakann sebuah hal yang mustahil. Air mengalir dipercaya bahwa akan menghanyutkan semua masalah, menjauhkan mara bahaya, dan semua jenis penyakit akan hayut terbawah oleh aliran air. Tradisi ini memiliki unsur tolak balak, menolak semua keburukukkan yang akan pada masyarakat setempat. Berharap semua yang buruk-buruk selama setahun lalu akan terbawah oleh aliran air sungai.

(7)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 118

Keunikan Pada Daun yang Digunakan

Upacara adat mandi safar menggunakan bebepara jenis daun-daun yang masyarakat kabupaten Buol menyebutnya yuri dan tabong (daun lajur atau puring). Daun utama yaitu daun tabong karna daun tersebut memiliki bentuk yang lebar. Disetiap helai daun diberi huruf Al-Qur’an, yang berisi Permohohon permintaan kepada yang maha kuasa. Menurut Tahir Kamalo (2019) bahwa Daun tersebut bermakna agar mampu mengikat tali persaudaraan, silaturahim dalam arti uhwatul dalam bermasyarakat membentuk iman dan takwa masyarakaat setempat yang adil dan merata.

Gambar 2 : Proses penulisan huruf Al-Quran pada daun lajur atau puring, foto

diambil tahun 2019

Tidak hanya itu saja, daun lajur atau puring tersebut juga dipakai dalam tradisi-tadisi yang lain, seperti tradisi masyarakat Buol, Lakea 1 anatara lain yaitu; tradisi mongoriktian atau biasa dikenal dengan tadisi tujuh bulanan bayi dalam kandungan seorang ibu, tradisi baeat atau biasa dikenal dengan tradisi mandi wajib terhadap anak perempuan yang baru saja baligh, tradisi dalam pernikahan, pendirian rumah baru, digunakan dalam acara-acara selamatan dan lain sebagainya. Daun tersebut bagi masyarakat Buol, Lakea 1 tidak dapat digunakan sebarangan karena daun tersebut memiliki nilai yang tinggi dalam sebuah tradisi. Biasanya daun ini tidak terlihat diperkampungan tempat tinggal masyarakat Buol, Lakea 1, akan tetapi berada di kebun milik warga.

Daun lajur aatau puring ini memiliki struktr yang lebar sehingga memungkinkan untuk diberi dengan huruf-huruf Al-Qur’an yang notabenenya merupakan sebuah do’a yang ditujukan kepada sang pencipta. Daun tersebut bagi orang muslim, dapat dikatakan daun yang memiliki nilai spiritual yang tinggi. Karena digunakan hanya pada acara-acara adat tertentu yang berbasis Islam. Daun ini juga dapat dikatakan sebagai tanda bahwa akan ada orang yang akan melakukan acara adat, kebudayaan dan tradisi. Kehidupan tradisi masyarakat setempat dapat dikatakan sebagian bergantung pada daun puring tersebut. Dalam ritual mandi safar tersebut daun puring ini diikat pada sebuah kayu yang ditancapkan di tengah sungai. Ada beberapa daun yang ditancapkan dan ada beberapa daun puring dipegang oleh kepala adat.

Pelaksanaan mandi safar yaitu pada pukul 12.00

Mandi safar dilaksanakan pada pukul 12.00 pada saat dimana semua masyarakat sudah berkumpul. Pada pukul 12.00 tersebut bersamaan dengan sholat Dzhur, kemudian

(8)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 119 disambung dengan sholat Sunnah 2 rakaat. Sholat Sunnah tersebut dilaksanakan di tepi sungai. Setelah sholat sudah dilakukan semua persiapan sudah (bekal/makanan) yang disiapkan setiap warga dikumpulkan dan dijadikan satu. Dalam hal ini ada ritual membakar dupa dan kemudian membacakan ayat suci Al-Qur’an. Tujuan dalam pembakaran dupa tersebut yaitu semata-mata untuk mencari ridho dari sang Ilahi.

Gambar 3: Sholat Sunnah sebagai adat sebelum mandi safar dilaksanakan, foto

diambil tahun 2014

Kemudian setelah pembakaran dupa tersebut, kemudian kepala adat akan membimbing masyarakat untuk berjanjak kesungai tempat dimana akan dilaksanakannya mandi safar. Kemudian kepala adat membawa daun puring yang dipegangnya dan berdiri tepat berada atas aliran sungai dengan posisi berdiri, sedangkan masyarakat lainnya berada dibawah aliran sungai dengan posisi jongkok dan sebagian pula berdiri. Dengan tujuan akan untuk menghilangkan kesialan, musibah, menggugurkan penyakit dan lain sebagainya lenyap terbawa oleh aliran air.

Gambar 4: Suasana saat pembakaran dupa selesai diambil pada tahun 2014

Pentingnya Tradisi Lokal

Suatu kearifan lokal yang ada disetiap daerah dalam mengingat bahwa Indonesia sedang dalam krisis budaya. Indonesia mempunyai banyak budaya, disetiap daerah tentu memiliki kebudayanya tersendiri, menyatukan budaya yang ada untuk menjadi benteng

(9)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 120 penghalang dari budaya asing agar budaya lokal tidak akan punah. Menambah wawasan masyarakat Indonesia dalam mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada diluar daerah masing-masing. Pentingnya sebuah pengetahuan akan warisan budaya yang dilakukan turun temurun antar generasi setiap tahunnya agar budaya lokal tetap hidup sampai kapanpun.

Dalam hal ini, maksud dari mandi safar tidak memilih siapa yang harus melakukan tradisi ini. Tradisi ini dilakukan oleh semua orang, bukan hanya orang yang lahir pada bulan safar. Dilakukan dengan hati yang ikhlas dan tulus. Makna yang paling mendasar mandi safar, yaitu berbondong-bondong untuk berkumpul untuk pergi ketempat yang sama membangkitkan semangat untuk membangun kebersamaan dan kerjasama serta berlomba-lomba dalam kebaikan. Berberlomba-lomba untuk perbaikan nasib buruk mereka kearah nasib yang lebih baik. Selain itu, mandi safar juga mengandung filosofi bahwa mereka lebih mudah untuk bersatu dalam mengerjakan kebaikan. Dalam sebuah tradisi ini juga dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan, mempererat tali silaturahim dengan baik, dan antusias masyarakat dalam hidup saling tolong-molong, memiliki unsur kerjasama dalam suatu kolompok masyarakat.

PENUTUP Simpulan

Ragam budaya, adat istiadat, baik lokal maupun budaya yang masuk ke Indonesia merupakan hasil kompleks yang diturunkan oleh nenek moyang kesetiap generasinya. Banyak budaya yang sampai saat ini masih melekat paddda setiap suku, dan adapula yang sudah punah. Di era sekarang, dengan kemerosotannya teknologi informasi seharusnya mampu menjaring dan mengakses informasi yang banyak termasuk tentang budaya. Budaya mandi safar ini sudah dilakukan sejak lama, budaya yang dibawah oleh orang-orang melayu ini merupakan benntuk penolakan dan penghilangan segala bentuk kesialan yang sudah dilalui maupun yang akan datang. Dalam pemaknaannya sendiri, bulan safar merupakan bulan yang penuh malapetaka, penuh kesialan, yang dimana orang-orang Hindu sedang memeriahkan kematian Nabi Allah, Rassulullah Muhammad SAW.

Daftar Rujukan Buku dan Jurnal

Kamalo, T. 13 Maret 2019. Komunikasi Personal Masda. 22 April 2019. Komunikasi Personal

Aris Shofa, A. M., Kodir, A., Alfaqi, M. Z., & Subekti, A. (2019). WANUA NUSANTARA: PRAKTIK PEMBUMIAN NILAI-NILAI PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA. Jurnal Praksis Dan Dedikasi Sosial. https://doi.org/10.17977/um032v0i0p1-5

Ashsubli, M. (2018). RITUAL BUDAYA MANDI SAFAR DI DESA TANJUNG PUNAK PULAU RUPAT KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU. Aqlam: Journal of Islam and Plurality, 3(1), 84–101. https://doi.org/10.30984/ajip.v3i1.634

Bakker, J. W. M. (1984). Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Kasinius.

Euis Sofi. (2016). Pembelajaran Berbasis e-learning Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas viii Madrasah Tsanawiyah Negeri. Jurnal Penelitian Manajemen Pendidikan,

(10)

ARTICLE IN PRESS

Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 112-121 DOI:10.17977/um020v1i12020p112

Fahmi & Arif Subekti | 121 1(1), 49–64.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuatintatif, Kualitatif dan R&D. https://doi.org/2008 Yatim, B. (2014). Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, ed. ke-1. Jakarta: Rajawali

Gambar

Gambar 1: Upacara saat Mandi safar akan dimulai, foto diambil tahun 2014
Gambar 2 : Proses penulisan huruf Al-Quran pada  daun  lajur atau puring, foto  diambil tahun 2019
Gambar 3: Sholat Sunnah sebagai adat sebelum mandi safar dilaksanakan,  foto  diambil tahun 2014

Referensi

Dokumen terkait

Sistem nilai tersebut pada dasarnya berasal dari tiga sumber kebenaran yang diper- cayai, yaitu agama, kepercayaan kepada Tuhan seperti yang dikatakan Ammatoa bahwa makan-

Perkembangannya terlihat dari jumlah karyawan, jumlah produksi dan semakin beragam dan cara penjualan melalui order, promosi di pameran dan menitipkan hasil kerajinan ke

Perlu juga diketahui bahwa manusia pada masa bercocok tanam ini telah mengenal sistem kepercayaan, sehingga beberapa benda seperti kapak dan pacul hanya dibuat sekali pakai

Jembatan tersebut dinamakan Civant (mungkin seperti Shirathal Mustaqim dalam kepercayaan agama Islam). Pada saat itu semua roh jahat dibinasakan oleh Ahura Mazda

Masuknya Islam melalui saluran ini dapat terlihat ketika Samudera Pasai menjadi kerajaan, banyak sekali penduduk yang memeluk agama Islam.Proses seperti ini

merupakan patogen tular tanah, sehingga epidemi penyakit dari patogen tular tanah sangat dipengaruhi oleh faktor tanah seperti sifat fisika dan kimia tanah seperti tekstur, kandungan

Agama Hindu lahir di India, berasal dari perpaduan kebudayaan bangsa Aria yang merupakan bangsa pendatang berasal dari ras Indo Jerman memiliki sistem kepercayaan Polytheisme

Dari hasil penelitian diketahui bahwa penguatan moral dan agama anak usia dini melalui pembiasaan Sholat Dhuha di TK Negeri Pembina Ponorogo berdampak pada pembentukan karakter anak