• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Biofarmasi “Perkutan”

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Biofarmasi “Perkutan”"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

“PERKUTAN” “PERKUTAN”

Disusun oleh: Disusun oleh:

 Nama

 Nama : Anjar Nurhayan: Anjar Nurhayani Sari i Sari NPM: A 163 003NPM: A 163 003 Dewi

Dewi Nur Nur Luthfiana Luthfiana Sari Sari NPM: NPM: A A 163 163 008008 Alfin

Alfin Alfaisal Alfaisal NPM: NPM: A A 163 163 014014 Belly

Belly Sonia Sonia Marselani Marselani NPM: NPM: A A 163 163 037037 Kelas

Kelas : : Konversi Konversi 20162016 Kelompok : 5

Kelompok : 5

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA

YAYASAN HAZANAH YAYASAN HAZANAH BANDUNG BANDUNG 2017 2017

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Biofarmasetika tentang Perkutan.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah Biofarmasetika tentang Perkutan ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Bandung, 17 April 2017

(3)

iii

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...iii

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Rumusan Masalah ...2

1.3. Tujuan ...2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...3

2.1. Definisi Perkutan ...3

2.2. Anatomi Fisiologi Kulit ...3

2.3. Biofarmasetika Sediaan Perkutan ...4

2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Biofarmasetika pada Sediaan Perkutan ...6

2.5. Faktor fisiologik yang mempengaruhi Penyerapan Perkutan ...8

2.6. Optimasi Ketersediaanhayati dari sediaan perkutan Perkutan ....10

BAB III PENUTUP ...12

3.1. Kesimpulan ...12

(4)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konsep pemakaian sediaan obat pada kulit telah lama diyakini dapat dilakukan. Hal ini terbukti dari peninggalan zaman mesir kuno, berupa catatan  pada papyrus yang telah mencantumkan berbagai sediaan obat yang digunakan untuk pemakaian luar. Galen telah menjelaskan tentang pemakaian sediaan pada zaman romawi, yang saat ini dikenal sebagai vanishing cream. Sediaan obat yang digunakan pada kulit atau diselipkan ke dalam rongga tubuh umumnya berada dalam bentuk cairan, semi padat atau padat.

Kulit merupakan bagian terbesar dari organ tubuh, rata-rata kulit manusia dewasa mempunyai luas permukaan sebesar 2 m2 dan berperan sebagai lapisan  pelindung tubuh terhadap pengaruh dari luar, baik pengaruh fisik maupun  pengaruh kimia. Meskipun kulit relatif permeabel terhadap senyawa-senyawa kimia, namun dalam keadaan tertentu kulit dapat ditembus oleh senyawa obat atau  bahan berbahaya, yang dapat menimbulkan efek terapeutik atau efek toksik yang  bersifat setempat atau sistemik. Kulit juga merupakan sawar (barrier) fisiologik yang penting, karena mampu menahan penembusan bahan gas, cair maupun padat,  baik yang berasal dari lingkungan luar tubuh maupun dari komponen organisme.

Penilaian aktifitas farmakologik dari sediaan topikal menunjukkan bahwa,  peranan bahan pembawa sangat penting dalam proses pelepasan dan penyerapan zat aktif dan pemilihan bahan pembawa yang tepat dapat meningkatkan kerja zat aktif, baik lama kerja maupun intensitasnya. Penyerapan perkutan merupakan gabungan fenomena penemubusan suatu senyawa dari lingkungan luar ke bagian kulit sebelah dalam dan fenomena penyerapan dari struktur kulit ke dalam  peredaran darah atau getah bening. Istilah “perkutan” menunjukkan bahwa proses  penembusan terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan dapat terjadi pada

lapisan epidermis yang berbeda.

Saat ini telah diketahui bahwa, sediaan obat dapat menembus ke dalam atau melalui kulit dengan berbagai jalan (cara) yaitu diantara sel-sel dari stratum corneum, melalui saluran dari folikel rambut, melalui kelenjar keringat ( sweat

(5)

 glands), melalui kelenjar sebaseus ( sebaceous glands) dan melalui sel-sel dari stratum corneum. Untuk pengobatan setempat sering diperlukan penembusan zat aktif ke dalam struktur kulit yang lebih dalam. Hal tersebut penting dilakukan bila diperlukan konsentrasi dalam jaringan yang terletak di bawah daerah pemakaian yang cukup tinggi agar diperoleh efek yang dikehendaki dan sebaliknya  penyerapan oleh pembuluh darah diusahakan agar seminimal mungkin sehingga

terjadinya efek sistemik dapat dihindari.

Pada penelitian efek sistemik, zat aktif harus masuk ke dalam peredaran darah dan selanjutnya dibawa ke jaringan, yang kadang-kadang terletak jauh dari tempat pemakaian dan pada konsentrasi tertentu dapat menimbulkan efek dari farmakologik. Pemahaman tentang anatomi dan fisiologi kulit seperti faktor-faktor fisikokimia dan pato-fisiologik yang mempengaruhi permeabilitas kulit, sangat diperlukan untuk merancang formula dan bentuk sediaan yang sesuai dengan tujuan pemakaian yang dikehendaki.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan perkutan?

2. Bagaimana anatomi fisiologi untuk sediaan perkutan? 3. Bagaimana biofarmasetika untuk sediaan perkutan?

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetika dari sediaan perkutan?

1.3 Tujuan

Tujuan yang dapat diperoleh dari makalah ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui definisi dari sediaan perkutan

2. Untuk mengetahui anatomi fisiologi dari sediaan perkutan 3. Untuk mengetahui biofarmasetika dari sediaan perkutan

4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses  biofarmasetika dari sediaan perkutan.

(6)

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastic, menutupi seluruh permukaan tubuh dan terdiri dari 5% berat tubuh. Kulit juga  berperanan dalam pengaturan suhu tubuh, mendeteksi adanya rangsangan dari

luar serta untuk mengeluarkan (eskresi) kotoran atau sisa metabolisme. 2.2 Anatomi Fisiologi Kulit

Gambar 1. Stuktur Kulit

Susunan kulit manusia sangat komplek, dan untuk lebih mudah memahami efek proses absorpsi pada maka, dibatasi hanya menguraikan bagian kulit yang  berperanaan dalam hal tersebut. Kulit secara umum tersusun atas tiga lapisan yang berbeda dan secara berurutan dari luar kedalam adalah lapisan epidermis, lapisan dermis yang tersusun atas pembuluh darah dan pembuluh getah bening, ujung-ujung syaraf dan lapisan jaringan dibawah kulit yang berlemak atau yang disebut hypodermis.

Kulit mempunyai bagian lain yaitu, kelenjar keringat dan kelenjar sebum yang berasal dari lapisan hipodermis atau dermis dan bermuara pada  permukaan dan membentuk daerah yang tidak berkesinambungan pada

(7)

2.2.1 Epidermis

Epidermis adalah permukaan paling luar dari kulit, yang merupakan tempat sediaan obat digunakan. Epidermis dibedakan atas dua bagian yaitu lapisan malfigi berupa sel yang hidup, menempel pada dermis dan lapisan tanduk yang tersususn atas sekumuplan sel-sel mati yang mengalami keratinisasi.

Secara umum epidermis terdiri atas lima lapisan : 1. Stratum Korneum (Lapisan Tanduk)

2. Stratum Lucidum (Zone Barrier)

3. Stratum Granulosum ( Lapisan Granular) 4. Stratum Malpighii ( Lapisan Sel prickle) 5. Stratum Germinativum (Lapisan Sel Basal)

Seluruh lapisan ini dibentuk oleh sel yang tersusun dari lapisan  basal dan berkembang (proliferate) atau bergerak dari bawah

keatas. Pada bagian lebih bawah dari epidermis, sel lebih padat tersusun dalam stratum korneum.

2.2.2 Dermis dan Hypodermis

Dermis merupakan jaringan penyangga berserat dengan ketebalan rata-rata 3-5 mm, peranan utamanya adalah sebagai  pemberi nutrisi pada epidermis. Berdasarkan tinjauan kualitatif dan susunan ruang serabut kolagen dan elastin, dermis terdiri atas dua lapisan anatomik yaitu lapisan papiler jaringan kendor yang terletak tepat dibawah epidermis, dan lapisan retikuler pada bagian dalam yang merupakan jaringan penyangga yang padat. Hypodermis dan jaringan penyangga kendor, mengandung sejumlah kelenjar lemak dan juga menganduk glomerulus kelenjar keringat.

2.3 Biofarmasetika Perkutan

Masuknya obat atau zat aktif dari luar kulit ke dalam jaringan kulit dengan melewati membran sebagai pembatas. Membran pembatas ini adalah  stratum corneum yang bersifat tidak permeabel terutama terhadap zat larut air, dibandingkan terhadap zat yang larut dalam lemak. Penetrasi melintasi stratum

(8)

5

corneum dapat terjadi karena adanya proses difusi melalui dua mekanisme yaitu transepidermal dan transappendageal.

2.3.1 Mekanisme transepidermal

Mekanisme transepidermal merupakan penetrasi dengan cara difusi pasif. Difusi pasif melalui mekanisme ini dapat terjadi melalui dua jalur kemungkinan yaitu difusi intraseluler yang melalui sel korneosit yang berisi keratin dan difusi interseluler yang melalui ruang antar sel  stratum corneum.  Transepidermal merupakan jalur yang utama pada absorpsi perkutan karena luas  permukaan kulit 100-1000 kali lebih luas daripada luas permukaan kelenjar dalam kulit. Absorpsi melalui rute transepidermal sangat ditentukan oleh keadaan stratum corneum yang berfungsi sebagai membran semipermeabel. Jumlah zat aktif yang terpenetrasi tergantung pada gradien konsentrasi dan koefisien partisi senyawa aktif dalam minyak dan air.

2.3.2 Mekanisme Transappendageal

Mekanisme transappendageal adalah mekanisme penetrasi molekul zat aktif melalui pori-pori yang ada pada kelenjar keringat dan folikel rambut. Folikel rambut memiliki permeabilitas yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan stratum corneum sehingga absorpsi lebih cepat terjadi melewati pori folikel daripada melewati  stratum corneum. Mekanisme ini adalah mekanisme satu-satunya yang mungkin bagi senyawa-senyawa dengan molekul besar dengan kecepatan difusi rendah atau kelarutan yang buruk yang tidak dapat menembus stratum corneum.

Fenomena absorpsi perkutan terdiri dari dua tahap, yaitu pelepasan zat aktif dari pembawa untuk diabsorpsi di atas permukaan stratum corneum dan difusi molekul zat aktif ke dalam lapisan bawah kulit (Troy, 2006).

(9)

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses obat pada pemberian secara  perkutan

2.4.1 Penyerapan (Absorpsi)

Secara keseluruhan dari proses penyerapan secara perkutan obat, belum diketahui. Kajian yang telah dilakukan hanya terbatas  pada faktor-faktor yang dapat mengubah ketersediaan hayati zat aktif yang terdapat dalam sediaan yang dioleskan pada kulit, seperti :

1. Lokalisasi sawar (Barrier)

Kulit mengandung sejumlah tumpukan spesifik yang dapat mencegah masuknya bahan-bahan kimia dan hal ini terutama disebabkan oleh adanya lapisan tipis lipida pada permukaan, lapisan tanduk dan lapisan malfigi. Pada daerah ini,ditemukan  juga suatu celah yang berhubungan langsung dengan kulit  bagian dalam yang dibentuk oleh kelenjar sebasea yang membatasi bagian luar dan ekstraseluler, yang juga merupakan sawar tapi kurang efektif, yang terdiri dari sebum dan deretan sel-sel germinatif.

Lapisan malfigi dapat menghalangi penembusan senyawa tertentu, tetapi tidak spesifik. Lapisan ini menunjukkan selektifitas tertentu terhadap senyawa yang lipovil, misalnya  perhidroskualen atau hidrofil: Natrium dodesil sulfat yang tidak

atau sangat sedikit diserap.

Sawar kulit terutama disusun oleh lapisan tanduk, namun demikian pada cuplikan lapisan tanduk terpisah, juga mempunyai permeabilitas yang sangat rendah dan kepakaan yang sama seperti kulit utuh, lapisan tanduk berperan melindungi kulit.

2. Jalur penembusan

Penembusan = penetrasi = absorbsi perkutan, terdiri dari  pemindahan obat dari permukaan kulit ke stratum korneum dibawah pengaruh gradien konsentrasi, dan berikutnya difusi

(10)

7 obat melalui stratum korneum yang terletak dibawah epidermis melewati dermis dan masuk kedalam mikrosirkulasi.

Kulit, karena sifat impermeabilitasnya maka hanya dapat dilalui oleh sejumlah senyawa kimia dalam jumlah yang sedikit. Penembusan molekul dari luar ke bagian dalam kulit secara nyata dapat terjadi, baik secara difusi melalui lapisan tanduk  pilosebasea. Bagian lain yang terdapat pada kulit, sesungguhnya mempunyai struktur yang kurang efektif bila dibandingkan dengan lapisan tanduk (stratum korneum). Kelenjar sebasea  berisi sebum, mengandung banyak lipida yang teremulsi, dihasilakn oleh sel-sel yang dibentuk oleh lapisan germinativ kelenjar. Kelenjar sudoripori merupaakn suatu saluran  pengeluaran sederhana, yang dibentuk oleh sel hidup mulai dari  bagian dalam dermis sampai stratum korneum dan berakhir sebagai suatu saluran (kanal) yang menyelinap diantara deretan sel-sel tanduk.

Kelenjar sudoripori secara nyata tidak berperan dalam  proses penembusan. Kulit telapak tangan atau telapak kaki mempunyai kelenjar sudoripori yang berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak. Penembusan senyawa kimia pilosebasea leboh tergantung pada permukaannya dibandingkan dengan  penembusan melalui epidermis.

3. Penahanan dalam struktur permukaan kulit dan penyerapan  perkutan.

Penumpukan senyawa yang digunakan setempat pada struktur kulit, terutama pada lapisan tanduk telah lama diketahui. Malkinson dan Fergusson membuktikan bahwa setelah pemakaian setempat hidrokortisol berlabel, pengeluaran senyawa radioaktif tersebut diperpanjang beberapa hari. Percobaan ini menyimpulkan bahwa dalam struktur kulit terdapat suatu daerah depo dan dari tempat itulah zat aktif dilepaskan perlahan. Akantetapi bila selama percobaan sediaan

(11)

dibiarkan ditempat pengolesan tanpa pembersihan sisa sediaan, maka akan terjadi hambatan penyerapan, hal ini disebabkan oleh  penyerapan yang terjadi perlahan.

Penelitian pendahuluan tentang adanya penumpukan obat didalam kulit sesudah pemakaian setempat telah disampaikan oleh Vickers, 1963 yang melakukan penelitian terhadap  penembusan perkutan dari senyawa fluosinolon asetonida. Penelitian ini telah membuktikan bahwa aksi penyempitan  pembuluh darah yang disebabkan oleh pembalut dapat diamati selam tiga minggu pada kondisi tanpa pemolesan ulang obat tersebut dan sesudah peniadaan kelebihan sediaan pada  permukaan kulit. Vickers, juga telah membuktikan adanya “Efek Depo” pada bagian tertentu kulit dan pada penelitian lanjutan menunjukkan bahwa penimbunan kortikosteroid akan terjadi  pada lapisan tanduk.

2.5 Faktor fisiologik yang mempengaruhi penyerapan perkutan : 1. Keadaan dan umur kulit

kulit utuh mrupakan suatu sawar (barrier) difusi yang efektf dan efektivitasnya berkurang bila terjadi terjadi perubahan dan kerusakan  pada sel-sel lapisan tanduk. Pada keadaan patologis yang ditunjukan oleh perubahan sifat lapisan tanduk; dermatosis dengan eksim,  psoriasis, dermatosis seborheik, maka permeabilitas kulit akan meningkat. Scott, tahun 1959 telah membuktikan bahwa kadar hidrokortison yang melintasi kulit akan berkurang bila lapisan tanduk  berjamur dan akan meningkat, pada kulit dengan eritematosis. Hal yang sama juga telah dibuktikan bila kulit terbakar atau luka. Bila stratum korneum rusak sebagai akibat pengikisan oleh plester, maka kecepatan difusi air, hidrokortison, dan sejumlah senyawa lain akan meningkat secara nyata.

(12)

9 2. Aliran darah

Perubahan debit darah kedalam kulit secara nyata akan mengubah kecepatan penembusan molekul. Pada sebagian besar obat-obatan, lapisan tanduk merupakan faktor penentu pada proses  penyerapan dan debit darah selalu cukup untuk menyebabkan senyawa menyetaraka diri dalam perjalannya. Namun, bila kulit luka atau bila dipakai cara iontoforesis untuk zat aktif, maka jumlah zat aktif yang menembus akan lebih banyak dan peranan debit darah merupakan faktor yang menentukan.

3. Tempat pengolesan

Jumlah yang diserap untuk suatu molekul yang sama, akan  berbeda akan tergantung pada susunan anatomi dari tempat pengolesan : kulit dada, punggung, tangan atau lengan. Perbedaan ketebalan terutama disebabkan oleh ketebalan lapisan tanduk yang berbeda pada setiap bagian tubuh, tebalnya bervariasi.

4. Kelembaban dan temperature

Pada keadaan normal, kandungan air dalam lapisan tanduk rendah, yaitu 5-15%, namun dapat ditingkatkan sampai 50% dengan cara pengolesan pada permukaan kulit suatu bahan pembawa yang dapat menyumbat: vaselin, minyak atau suatu pembalut impermeable. Peranan kelembaban terhadap penyerapan perkutan telah dibuktikan oleh scheulein, R,J, dkk, tahun 1971; stratum korneum yang lembab mempunyai afinitas yang sama trehadap senyawa-senyawa yang larut dalam air atau dalam lipida. Sifat ini disebabkan oleh struktur histology sel tanduk dan benang-benang keratin yang dapat mengembang dalam air dan pada media lipida amorf yang meresap di sekitarnya.

Kelembaban dapat mengembangkan lapisan tanduk dengan cara  pengurangan bobot jenisnya atau tahanan difusi. Air mula- mula

meresap diantara jaringan-jaringan, kemudian menenbus kedalan  benang keratin, membentuk suatu anyaman rangkap yang stabil pada

(13)

Faktor-farktor tersebut dapat juga meingkatkan retensi kulit dan  penyerapan pekutann terhadap sejumlah obat. secara invivo, suhu kulit yang diukur pada keadaan normal, relatif tetap dan tidak berpenaruh  pada peristiwa penyerapan. Sebaliknya in vitro, pengaruh suhu dengan

mudah dapat diatur.

2.6 Optimasi Ketersediaanhayati dari sediaan perkutan

Kemampuan penembusan dan penyerapan obat dengan pemberian secara  perkutan terutama tergantung pada sifat-sifat fisikokimianya. Peranan bahan  pembawa pada perisitiwa ini sangat kompleks; pada keadaan dimana senyawa tidak mengganggu fungsi fisiologik kulit, maka dapat dipastikan kulit tidak dapat melewatkan senyawa-senyawa yang tidak dapat diserap.

Faktor fisikokimia : 1. Tetapan difusi

Suatu membran erat hubungannya dengan tahanan yang menunjukan keadaan perpindahan. Bila dihubungkan dengan gerakan  brown, maka tetapan difusi merupakan fungsi dari bobot molekul senyawa dan interaksi kimia dan konstituen membran; selain itu juga tergantung pada kekentalan media serta suhu. Bila molekul dari zat akfif dianggap bulat dan molekul disektarnya berukuran yang sama, maka dengan menggunakan hukum stoke-einstein dapat ditentukan nilai tetapan difusi.

2. Konsentrasu zat aktif

Jumlah zat aktif yang diserap pada setiap satuan luas permukaan san satuan waktu adalah sebanding dengan konssentrasi senyawa dalam media pembawa. Hal ini telah dibuktikan pada larutan encer butanol dalam air yang melintasi epidermis kulit manusia terpisah dan pada sejumlah obat seperti, steroida: flukloronida, betametason, kortison, hidrokortison dan androstenedion, asam salisilat dan asam benzoate 3. Koefesien partisi

Pengaruh koefisian partisi antara lapisan tanduk dan pembawa dari suatu senyawa yang diserap, telah dibuktikan oleh treheme (treheme J, E, thn 1953) dengan meneliti hubungan antara penyerapan perkutan

(14)

11  berbagai senyawa organik dalam larutan berair terhadap koefisien  partisi eter, air dan terbukti bahwa keterserapan bahan aktif yang lebih

(15)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa anatomi dan fisiologi kulit adalah terdiri dari epidermis, dermis dan hipodermis. Penyerapan  perkutan merupakan gabungan fenomena penembusan suatu senyawa dari lingkungan luar ke bagian kullit sebelah dalam dan fenomena penyerapan dari struktur kulit ke dalam perredaran darah atau getah bening. Perkutan menunjukkan penembusan terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan dapat terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda

Faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetika oleh pemberian secara  perkutan:

1. Penyerapan

- Lokalisasi Sawar (Barrier) - Jalur Penembusan (Absorbsi)

- Penahanan Dalam Struktur Permukaan Kulit dan Penyerapan Perkutan 2. Faktor fisiologik yang mempengaruhi penyerapan perkutan

- Keadaan dan Umur Kulit - Aliran Darah

- Tempat pengolesan

- Kelembaban dan Temperatur

3. Mekanisme lintas membran, yang mana sebagian besar molekul kimia diserap melalui kulit secara difusi pasif

(16)

13

DAFTAR PUSTAKA

M.T Simanjuntak : Biofarmasi Sediaan Yang Diberikan Melalui Kulit, 2005, [USU Repository©2006].

Soeratri,Widji. 1993.  Farmasetika 2 Biofarmasi Edisi II . Surabaya: Airlangga University Press.

Troy, D., dan Beringer P. 2006.  Remington: The Science and Practice of  Pharmacy.Lippincot Williams and Wilkins, Baltimore.

Gambar

Gambar 1. Stuktur Kulit

Referensi

Dokumen terkait

Pembuluh darah terdiri atas arteri dan vena. Arteri berhubungan langsung dengan vena pada bagian kapiler dan venula yang dihubungkan oleh bagian endothelium nya. Arteri dan

Oleh karena itu, seyogyanya Daerah dilarang melakukan peminjaman luar negeri secara langsung dan dilarang pula menjamin pinjaman luar negeri yang dilakukan oleh swasta untuk proyek

Flora normal biasanya ditemukan di bagian-bagian tubuh manusia yang kontak langsung dengan lingkungan misalnya kulit, hidung, mulut, usus + saluran urogenital

Sel berpindah terus ke lateral sampai mereka berhubungan dengan bagian kartilago telinga luar dan akhirnya dilepaskan, ketiadaan rete pegs dan kelenjar sub epitelial serta keberadaan

Kulit bangunan dalam hal ini dinding merupakan elemen yang sangat berpengaruh pada kenyamanan termal, karena merupakan bagian yang secara langsung berhubungan dengan iklim

Disekitar kita sering ditemukan penyakit yang disebabkan oleh jamur, termasuk tanah, tanaman, pohon, dan bahkan pada kulit kita dan bagian lain dari tubuh.Gejala infeksi

Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan dibaah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah luar atau $#* bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada,

Indeks Putih Telur Putih telur terdiri dari empat lapisan, yaitu lapisan luar yang encer Outer Thin 23% merupakan bagian putih telur yang langsung dibawah selaput kulit, lapisan luar