• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL PENELITIAN TERAPAN TAHUN ANGGARAN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN HASIL PENELITIAN TERAPAN TAHUN ANGGARAN 2014"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL PENELITIAN TERAPAN TAHUN ANGGARAN 2014

Model pemberdayaan Perempuan Korban Erupsi Merapi Melalui Pendidikan

Keaksaraan Usaha Mandiri Di Hunian Tetap Glagaharjo Kecamatan

Cangkringan Kabupaten Sleman

Ketua Penelitian: Dr. Sujarwo M.Pd Anggota Penelitian: Widyaningsih, M.Pd

Tristanti,M.Pd

Dibiayaioleh DIPA BLU UniversitasNegeri Yogyakarta No: SP DIPA 023-04.2. 189946/2014 Tanggal 05 Desember 2013.Berdasarkansuratperjanjian (kontrak) PelaksanaanPenelitianNomor:

07e/UN34.11/Kontrak-PEP/KU/2014 tanggal 14 April 2014

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

1. Judul Penelitian : Model pemberdayaan Perempuan Korban Erupsi Merapi Melalui Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri Di Hunian Tetap Glagaharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman

2. Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Dr. Sujarwo M.Pd b. Jabatan : Lektor Kepala

c. Jurusan : Pendidikan Luar Sekolah d. Telpon rumah/kantor/HP : 085647096663

e. Alamat email : [email protected]

3. Tema Payung Penelitian : Pemberdayaan Masyarakat 4. Bidang Keilmuan/Penelitian : Pendidikan

5. Tim Peneliti

NO NAMA, GELAR NIP BIDANG KEAHLIAN

1 Widyaningsih, M.Si 195205281986012001 Anthropologi

2 Tristanti, M.Pd Pendidikan Keaksaraan

6. Mahasiswa yang terlibat

NO NAMA MAHASISWA NIM PRODI

1 Sobichatul Aminah 10102241007 PLS

2 Rokhmatun Khasanah 10102241014 PLS

3 Dwi Ardiaty Cahyani 09102241023 PLS

7. Lokasi Penelitian : Hunian Tetap (Huntap) Glagaharjo Cangkringan 8. Waktu Penelitian : 6 bulan

9. Dana Yang diusulkan : Rp. 20.000.000,00 (Dua Puluh Juta Rupiah)

Mengetahui, Yogyakarta, 14 Oktober 2014

Ketua Jurusan PLS FIP UNY, Ketua Peneliti,

Dr. Sujarwo, M.Pd Dr. Sujarwo, M.Pd

NIP 196910302003121001 NIP 19691030 200312 1 001

Mengetahui,

Dekan FIP Univ. Negeri Yogyakarta

Dr. Haryanto, M.Pd NIP 19600902 198702 1 001

(3)

Sujarwo, Widyaningsih, Tristanti [email protected]

Dosen PLS FIP UNY ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk; 1) menghasilkan panduan model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri di lingkungan tempat tinggal masyarakat korban erupsi merapi yang tinggal di hunian tetap Glagaharjo Cangkringan Sleman, 2) meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran perempuan korban erupsi merapi yang tinggal di hunian tetap Glagaharjo dalam mengelola lingkungan yang lestari dan produktif. Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D). untuk menghasilkan suatu produk dan menguji efektifitas produk tersebut sesuai dengan tujuan pengembangan. Dari hasil temuan masalah dan potensi dilapangan, 1) masyarakat korban merapi yang tinggal di Hunian Tetap (HUNTAP) memiliki permasalahan yang berkaitan dengan sampah, 2) banyak sampah rumah tangga yang belum diolah menjadi pupuk dalam mendukung kegiatan penghijauan dan pemanfaatan lahan pekarangan yang dtelah dilakukan pada program sebelumnya, maka perlu disusun model pemberdayaan perempuan melalui kegiatan pendidikan KUM. Pengembangan model ini dilakukan dengan langkah-langkah; 1) Persiapan (peserta didik, tenaga ahli, mitra, perangkat pembelajaran, sarana prasarana), 2) memberikan pendidikan dan pelatihan, serta pendampingan dalam bentuk; a). pemberian pengetahuan dan keterampilan pengelolaan lingkungan khususnya pengelolaan sampah, b) penyadaran masyarakat terhadap lingkungan, sebagai wujud pembinaan sikap dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan 3) Pengelolaan sampah yang produktif; dan pendampingan pengelolaan sampah. Pada tahap ini baru pada tahapan penyelesaian persiapan, dan pada tahap selanjutnya pada implementasi model. Dari model tersebut kemudian di susun panduan pembelajaran dalam bentuk cetak dan CD pembelajaran. Dari panduan yang telah di susun telah dilakukan validasi dan hasilnya sangat baik, sehingga layak digunakan. Kegiatan pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi yang dilakukan pada KUM pada tahap awal meliputi; identifikasi kebutuhan belajar, analisis potensi, dan menyusun panduan pembelajaran (panduan bahan cetak dan CD pembelajaran).. Tahap selanjutnya dilakukan pelatihan pengelolaan sampah, pembuatan pupuk, mengelola usaha dan pendampingan.

(4)

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alllah Swt yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga kegiatan dan penyusunan laporan penelitian pengembangan ini dapat kami selesaikan. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk memperoleh model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan keaksaraan mandiri dengan materi mengelola sampah organic dna anorganik yang dapat dimanfaatkan oleh fasilitator dan peserta didik dalam kegiatan keaksaraan usaha mandiri (KUM).

Panduan pembelajaran yang dihasilkan pada penelitian pengembangan ini berbentuk buku panduan dan CD pembelajaran mengenai pengelolaan sampah organik dan anorganik. Panduan pembelajaran yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh peserta didik program kegiatan KUM dan mahasiswa dalam kegiatan sejenis yang lebih baik. Atas terselesainya penelitian pengembangan ini kami ucapkan banyak terima kasih kepada 1. Dekan dan wakil dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang

telah memberikan kesempatan dalam melakukan penelitian ini

2. Pengelola PKBM Usaha Mulia kecamatan Cangkringan yang telah memberikan kesempatan dalam melakukan uji kelayakan lapangan, sehingga panduan yang dihasilkan mendapat masukan dan penyempurnaan yang lebih lengkap.

3. Bapak Sungkono, M.Pd dan Bapak Mulyadi, M.Pd sebagai ahli media dan ahl;i materi yang telah memberikan masukan dalam penyempurnaan bahan ajar yang dihasilkan 4. Ibu Sri Rahayu (Pengurus PKBM Usaha Mulia), dan Shobikhatul yang telah membantu

dalam pengembangan dan uji coba bahan ajar berbasis potensi lokal in yang telah membantu dalam pengembangan dan uji coba bahan ajar berbasis potensi lokal ini, 5. Pihak-pihak yang telah membantu terselesainya penelitian ini. :

Semoga amal kebaikannya mendapat imbalan dari Allah Swt dan model ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan baik .

Yogyakarta, Oktober 2014 Peneliti

(5)

HALAMAN JUDUL ……. ... i HALAMAN PENGESAHAN ……… ii ABSTRAK... iii KATA PENGANTAR ... iv DAFTAR ISI ... v DAFTAR TABEL ………. vi

DAFTAR GAMBAR ……… vii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang Masalah ... B. Roadmap Penelitian……….. C. Perumusan Masalah ... D. Tujuan ……… E. Manfaat ………. F. Spesifikasi Produk ………. 4 6 6 7 7 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Konsep Pemberdayaan Perempuan……… 2. Pendidikan Berbasis Masyarakat dalam Pemberdayaan

Perempuan ………. 3. Keaksaraan Usaha Mandiri……… 4. Pengelolaan Sampah ……….. 5. Pusat Kegiatan Pembelajaran Masyarakat……… B. Kerangka Berpikir……… 9 9 15 17 18 22 25 BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ……….. ... B. Lokasi dan Subjek Penelitian ………….,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, C. Prosedur Pengembangan...

27 27 28

(6)

F. Teknik Pengumpulan data ... G. Instrumen Pengumpulan data ……….. H. Teknik Analisis Data ………

35 36 36 BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian ……… B. Prosedur Pengembangan Model Pemberdayaan Perempuan Melalui

Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri……… C. Data Kelayakan Panduan Model Pemberdayaan Perempuan melalui

Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri ………... D. Kajian Produk (Pembahasan)……….

38

39

46 47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... B. Saran-saran ... 58 59 DAFTAR PUSTAKA ... 60 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 62

(7)

Tabel 1 Rangkuman Skor Rata-rata Hasil Validasi Ahli Media Pembelajaran 37 Tabel 2 Rangkuman Skor Rata-rata Hasil Validasi Ahli Materi Pembelajaran ... 43 Tabel 3 Rangkuman Data Skor Rata-rata Hasil Uji Terbatas... 44

(8)

Gambar 1 Alur Proses Pengembangan ……….. 30 Gambar 2 Sistematika Penyajian Materi ……… 31 Gambar 3

Gambar 4

Proses Produksi Panduan Pembelajaran... Desain Model Pemberdayaan Perempuan Korban Erupsi Gunung Merapi Melalui Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri ………

32

(9)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Peristiwa erupsi gunung merapi yang terjadi dan di susul dengan erupsi pada hari-hari berikutnya mengakibatkan berbagai permasalahan di kawasan ini. Wilayah Kecamatan Cangkringan dan kecamatan Pakembinangun sebelah utara merupakan kawasan yang paling parah diterjang awan panas dan guguran lava gunung merapi. Sejumlah sarana dan prasarana penunjang kehidupan masyarakat di daerah tersebut luluh lantah ditelan awan panas yang sangat ganas, Di samping itu, guguran abu vulkanik dan lahar dingin juga menyebabkan rusaknya beberapa sarana-prasarana, lingkungan di wilayah kecamatan Cangkringan Sleman. Kerusakan tidak hanya masalah pembangunan fisik saja yang dihadapi pasca bencana, akan tetapi menyangkut seluruh ekosistem yang ada, baik keadaan alam, lingkungan fisik maupun sosial masyarakat yang sangat memprihatinkan.

Data yang diperoleh dari Posko Bencana Kabupaten Sleman tahun 2011 bahwa akibat bencana erupisi gunung merapi ditaksir menimbulkan kerugian material masyarakat Kabupaten Sleman kurang lebih 1 trilyun belum termasuk kerugian material lainnya yang belum terdeteksi, termasuk kerugian immaterial yang jauh lebih sulit diperkirakan (Agus Harjito, Jaka Sriyana dan Hartini, 2011). Dari kejadian letusan gunung berapi yang disertai dengan awas panas dan dilanjutkan dengan banjir lahar dingin, mengakibatkan hancurnya sebagian besar potensi masyarakat di kabupaten Sleman termasuk Kecamatan

(10)

Cangkringan, seperti; perdagangan, peternakan, pariwisata, perikanan, penghijauan, perkebunan pertanian dan industri kecil, Melihat kondisi tersebut, ada sebagian warga masyarakat yang pasrah, kurang peduli pada lingkungan, memilih bekerja penjual pasir, buruh bangunan dan enggan mengelola tanah pekarangannya.

Di sisi lain, sebagian besar anggota masyarakat korban erupsi merapi di desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan menempati hunian baru, yang sering disebut Hunian Tetap (Huntap), misalnya di Hunian Tetap (Huntap) Banjarsari dan Huntap Jetis Sumur Glagaharjo. Kehidupan masyarakat di tempat yang baru memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi tempat tinggal yang baru.

Dalam penyesuaian ini ditemukan beberapa persoalan mendasar, antara lain; persoalan yang berkaitan sikap dan perilaku anggota masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan, pola interaksi anggota masyarakat yang dulu relatif longgar ditempat baru relatif lebih dekat dan intensitas ketemunya lebih sering, sehingga sering menimbulkan gesekan-gesekan (konflik) antar anggota masyarakat. Sebagian besar lahan pertanian dan lahan pekerangan belum dapat diolah karena masih tertimbun pasir dan bebatuan, akses dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sangat sedikit, Mengingat sebagian besar yang tinggal di tempat baru memiliki pekerjaan petani dan buruh tani. Di samping itu belum dimiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam pengelolaan lingkungan khususnya dalam mengelolaan sampah dan memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam sayuran dalam berbagai

(11)

cara yang layak di gunakan oleh anggota masyarakat (Sujarwo, Mulyadi dan Tohani, 2013).. Di samping itu masih banyak ditemukan ibu-ibu rumah tangga yang menggangur, sehingga aktivitasnya banyak ngrumpi di rumah tetangga, atau duduk-duduk di serambi rumah. Jika dilihat dari usianya, mereka tergolong usia produktif sehingga masih dapat diberdayakan.

Untuk itu perlu dilakukan upaya yang dapat membantu warga masyarakat korban bencana, khususnya kaum perempuan agar memiliki kesadaran dan kepedulian dalam mengelola lingkungan yang telah luluh lantah bisa produktif. Salah satu yang dilakukan adalah memberdayakan kaum perempuan melalui program pendidikan. Kesempatan pendidikan tidak hanya dibatasi pada jalur pendidikan formal semata, namun juga dapat dilaksanakan melalui jalur pendidikan informal dan jalur pendidikan nonformal. Jalur pendidikan informal dan nonformal memiliki kedudukan hukum yang sama dengan jalur pendidikan formal dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan untuk memberikan kemudahan masyarakat dalam mengenyam pendidikan adalah melalui pendidikan keaksaraan..

. Salah satu program pendidikan keaksaraan adalah program pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Keberaksaraan Usaha Mandiri (KUM) sebagai salah satu program pendidikan keaksaraan. Program ini diperuntukkan bagi peserta didik yang telah menyelesaikan Keaksaaraan Dasar (KD). Keaksaraan usaha mandiri ini merupakan upaya penguatan keberaksaraan melalui pembelajaran ketrampilan usaha yang dapat meningkatkan penghasilan dan

(12)

produktivitas perorangan dan atau kelompok pasca keaksaraan dasar (SKK-KUM).

B. Roadmap Penelitian

Pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga yang dilakukan melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri akan berhasil dengan baik apabila ditunjang adanya daya dukung dari potensi lingkungan dan tersedianya bahan yang tepat dan relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Potensi lingkungan tempat tinggal dan bahan ajar merupakan stimulus yang harapkan dapat membangkitkan motivasi peserta didik dalam mempraktekkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari Pemilihan dan penggunaan potensi lokal dan bahan ajar yang tepat memiliki arti penting untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan banyak dipengaruhi oleh pendidik dalam pemilihan materi yang berbasis potensi lokal dan pengelolaan pembelajaran yang pragmatis dan humanis. Salah satu daya dukung yang mendorong pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri akan berhasil dengan baik, apabila ditunjang tersedianya model pembelajaran yang tepat dan relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Model pendidikan yang dilengkapi dengan panduan kegiatan dan pembelajaran

Kendala yang dihadapi rendahnya akses perempuan terhadap sumber daya modal, transportasi dan informasi, belum dimilikinya pengetahuan dan

(13)

keterampilan dalam mengelola lingkungan yang lebih bersih dan produktif. Hunian tetap Pancaraejo Glagaharjo kecamatan cangkringan merupakan salah satu Hunian tetap yang sangat potensial untuk memberdayakan kaum perempuan dalam sektor pertanian atau wirausaha. Strategi yang dipilih perempuan untuk mempertahankan eksistensi dan posisinya dalam pertanian atau wirausaha adalah dengan membentuk kelompok belajar usaha

Dipilihnya pendidikan KUM berbasis potensi lokal dalam kompetensi pengelolaan sampah atas dasar pertimbangan: 1) masyarakat korban merapi yang tinggal di Hunian Tetap (HUNTAP) memiliki permasalahan yang berkaitan dengan sampah, 2) banyak sampah rumah tangga yang belum diolah menjadi pupuk dalam mendukung kegiatan penghijauan dan pemanfaatan lahan pekarangan, 3) untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja dalam mengelola sampah agar memiliki nilai tambah dalam membantu memperoleh pendapatan keluarga, 4) untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mewujudkan kebersihan lingkungan, dan 5) untuk menyediakan pupuk dalam meningkatkan produktivitas tanaman dalam lingkungan pekarangannya masing-masing. Permasalahan tersebut perlu segera dicarikan alternatif pemecahan karena dampaknya akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri.

. Terkait dengan hal ini maka diperlukan suatu proses pengembangan model pemberdayaan perermpuan yang relevan dengan kebutuhan dan potensi

(14)

peserta didik sehingga tersusun model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapai melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri yang efektif.

C. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pengembangan model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri di Hunian Tetap (HunTap) Glagaharjo Cangkringan Sleman?

2. Bagaimanakah kelayakan panduan model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri di Hunian Tetap (HunTap) Glagaharjo Cangkringan Sleman?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan panduan model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri di lingkungan tempat tinggal masyarakat korban erupsi merapi yang tinggal di hunian tetap Glagaharjo Cangkringan Sleman. Melalui pengembangan pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri dapat menghasilkan:

1. Model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri sebagai rintisan pengelolaan sampah di lingkungan rumah sebagai daya dukung pemanfaatan lahan pekarangan yang produktif.

(15)

2. Tersusun panduan yang berkualitas terkait kebutuhan pengembangan model yaitu: a) panduan model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri , b) VCD pembelajaran model pemberdayaan perempuan melalu pendidikan keaksaraan usaha mandiri.

E. Manfaat Penelitian.

Panduan model pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri khususnya dalam pengelolaan sampah ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan arah bagi anggota masyarakat dalam mengelola lingkungan agar lebih harmonis, nyaman dan produktif. Hasil ini diharapkan juga dapat digunakan untuk pembelajaran dalam pemberdayaan perempuan oleh masyarakat korban erupsi merapi dan materi pengayaan perkuliahan mahasiswa PLS FIP Universitas Negeri Yogyakarta khususnya mata kuliah pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan perempuan dan praktek Jurusan PLS

Di samping itu dapat memberikan pelayanan pemberdayaan perempuan korban erupsi merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri agar:

1. Memiliki pengetahuan dan keterampilan sikap dalam mengelola sampah dan lingkungannya sesuai dengan potensi yang dimiliki agar dapat menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya.

2. Memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola sampah dan lingkungan yang lebih produktif khususnya dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan pekarangan

(16)

3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan sebagai upaya pelestarian lingkungan

4. Dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan bidang pendidikan, khususnya teknologi pembelajaran luar sekolah.

F. Spesifikasi Produk

Spesifikasi produk dapat digambarkan sebagai berikut :

1. Model pemberdayaan perempuan dalam bentuk panduan kegiatan dan panduan pembelajaran yang dibuat dengan memasukkan ilustrator dan materi yang digali dari potensi lokal khususnya pengelolaan sampah rumah tangga.. 2. Produk panduan disajikan dalam bentuk cetak dan CD pembelajaran”.

3. Panduan pembelajaran dalam bentuk CD pembelajaran ini dapat dipelajari sebagai bahan ajar yang berdiri sendiri maupun sebagai pendamping materi yang disajikan dalam format cetak.

(17)

9 A. Kajian Pustaka

1. Konsep Pemberdayaan Perempuan

Pemberdayaan dan memberdayakan merupakan terjemahan dari kata “empowerment” dan “empower” menurut Webster dan Oxford English Dictionary,

kata empower mengandung pengertian pertama adalah to give power or authority to yang artinya sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, sedangkan arti yang kedua adalah to giveability to or enable yaitu sebagai upayamemberikan kemampuan atau keberdayaan (Pranarka dan Prijono, 1996). Pemberdayaan juga telah dipandang sebagai suatu strategi khusus untuk memberdayakan perempuan (Browne, 1995).

Pemberdayaan perempuan tidak dapat dilepaskan dari konsep umum pemberdayaan masyarakat. Untuk dapat memahami konsep pemberdayaan masyarakat perlu memahami coraknya. Menurut Taruna (2001) beberapa corak pemberdayaan adalah (1) human dignity, mengembangkan martabat, potensi, dan energi manusia; (2) empowerment, memberdayakan baik perseorangan maupun kelompok; (3) partisipatoris, dan (4) adil. Secara filosofi pemberdayaan masyarakat mencakup; (1) menolong diri sendiri (mandiri), (2) senantiasa mencari dan menemukan solusi bersama, (3) ada pendampingan (secara teknis maupun praktis), (4) demokratis, dan (5) menyuburkan munculnya kepemimpinan lokal

Aspek-aspek pemberdayaan (empowerment) meliputi fisik, intelektual, ekonomi, politik, dan kultural, dengan demikian pemberdayaan itu mencakup pengembangan kemanusiaan secara total (total human development). Sementara itu

(18)

menurut Dwi Sudarmanto (2010) aspek-aspek partisipatory dan adil meliputi; (1) punya kesamaan hak memperoleh akses atas sumberdaya dan pelayanan sosial, (2) menyangkut hak-hak dasar, (3) berkembang dalam kesamaan, (4) menguntungkan, (5) berkenaan dengan hasrat atau pun kebutuhan individual untuk ikut andil bagi kepentingan bersama, (6) memanfaatkan secara optimal namun wajar apa yang telah tercipta di dunia ini, (7) lebih bercorak moral daripada hukum, dan (8) berkaitan erat dengan kebutuhan manusiawi khususnya

Pemberdayaan perempuan adalah usaha sistematis dan terencana untuk mencapai kesetaraan dan keadilan meliputi aspek kondisi (kualitas & kemampuan) atau posisi (kedudukan & peran) laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat berbangsa, dan bernegara. Tujuan pemberdayaan perempuan adalah untuk meningkatkan status, posisi dan kondisi perempuan agar dapat mencapai kemajuan yang setara dengan laki-laki (Sujarwo dan Lutfi, 2012).

Permasalahan kehidupan perempuan dalam masyarakat tidak lepas dari kondisi kultural dan struktural masyarakatnya. Masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial dan peranan antara laki-laki dan perempuan, pada dasarnya mencerminkan struktur sosial masyarakat tersebut. Teori gender mengungkapkan bahwa kedudukan perempuan yang tersubordinasi dan termarginalisasi baik di dalam rumah tangga (domestik) maupun di masyarakat berkaitan dengan sistem sosial yang ada di masyarakat (Davis, 1991). Masalah pokok adanya ketimpangan hubungan laki-laki dan perempuan menurut teori gender disebabkan adanya alokasi pekerjaan-pekerjaan domestik pada perempuan, seperti mengasuh anak, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Peran utama perempuan ada di sekitar rumah tangga dan tugas-tugas domestik. Aktivitas perempuan dalam sektor lain, seperti sektor produksi (bekerja

(19)

mencari penghasilan) dianggap tugas sekunder. "kewanitaan" atau "feminitas" perempuan ditentukan oleh perannya di sektor-sektor domestik sebagai ibu dan istri (Sujarwo dan Lutfi, 2012).

Lebih lanjut Sujarwo dan Lutfi (2012), menyatakan bahwa selain itu masalah pokok adanya ketimpangan laki-laki dan perempuan menurut teori gender disebabkan adanya alokasi pekerjaan-pekerjaan domestik pada perempuan, seperti mengasuh anak, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Pekerjaan perempuan ini dipandang tidak merupakan bagian dati sistem pasar, karena itu tidak mempunyai nilai tukar, tidak dapat diukur menurut harga pasamya. Pekerjaan perempuan di dalam rumah tangga cenderung dilihat sebagai pekerjaan yang kurang berharga dibandingkan dengan pekerjaan laki-laki yang dapat menghasiIkan uang, karena pekerjaan perempuan tidak mempunyai nilai pasar, membuat perempuan dianggap kurang berharga dibanding laki-laki yang dapat mencari uang di pasar dengan bekerja. Perempuan dianggap menjadi tergantung pada laki-laki, bukan saja secara ekonomis tetapi juga secara psikologis, hal ini menyebabkan istri (perempuan) tunduk dan patuh pada kekuasaan suami (laki-laki).

Teori human capital menjelaskan bahwa investasi human capital (modal dasar seperti pendidikan, penghasilan) memberi investasi bagi seseorang untuk dapat lebih berkuasa. Hasil penelitian Buur, dkk (1977") mengungkapkan sumber daya perempuan besar peranannya pada relasi kekuasaan suami istri dalam keluarga. Istri yang bekerja dan berpenghasilan cenderung mempunyai peluang yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di keluarganya dibanding dengan istri yang tidak bekerja atau tidak berpenghasilan. Perbedaan human capital perempuan akan berpengaruh pada perbedaan besamya kekuasaannya di dalam keluarga.

(20)

Namun dengan adanya perubahan di berbagai sektor kehidupan, khususnya yang menyangkut kemajuan yang diraih perempuan, sebagai konsekuensi dari dibukanya akses informasi dan pendidikan bagi perempuan, maka wacana kesetaraan cukup kuat diperjuangkan dan mempengaruhi nilai-nilai masyarakat khususnya masyarakat Jawa. Sekokoh apapun nilai-nilai tradisional suatu masyarakat bila dihadapkan dengan tuntutan perubahan dan dinamika kehidupan yang relatif terbuka dengan nilai-nilai lain, seperti nilai-nilai modem, lambat laun tentu akan terpengaruh dan akan terjadi perubahan. Selain itu tidak semua perempuan sebagai makhluk yang pasif, yang begitu saja menyerah pada ketentuan struktur dan kultumya. Sejalan dengan perkembangan yang ada di masyarakat, muncul banyak gerakan-gerakan yang menuntut persamaan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan..

Salah satu penyebab ketidakberdayaan perempuan adalah ketidakadilan gender yang mendorong terpuruknya peran dan posisi perempuan di masyarakat. Perbedaan gender seharusnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak menghadirkan ketidakadilan gender, namun perbedaan gender tersebut justru melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Manifestasi ketidakadilan itu antara lain; (1) marginalisasi karena diskriminasi terhadap pembagian pekerjaan menurut gender, (2) subordinasi pekerjaan (3) stereotiping terhadap pekerjaan perempuan, (4) kekerasan terhadap perempuan, dan (5) beban kerja yang berlebihan (Sujarwo dan Lutfi, 2012).

Oleh karena itu, ada beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan dalam upaya memberdayakan perempuan, yaitu (1) organisasi dan kepemimpinan yang kuat, (2) pengetahuan masalah hak asasi perempuan, (3) menentukan strategi, (4) kelompok peserta atau pendukung yang besar, dan (5) komunikasi dan pendidikan.

(21)

Sementara itu, salah satu upaya dalam memberdayakan sumber daya manusia, khususnya perempuan, adalah melalui penanaman dan penguatan jiwa dan praktek kewirausahaan.

Dalam pengembangan sumber daya perempuan sebaiknya diarahkan untuk membentuk manusia yang (1) memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi, (2) menguasai banyak ilmu dan keterampilan, (3) memiliki sikap mental yang konsisten yang diwujudkan dalam komitmennya pada bidang pekerjaan tertentu (profesional), (4) memiliki semangat dan kemampuan bersaing (kompetitif), dan (5) memiliki budaya yang didasari pada nilai-nilai agama dan humanism (Dwi Sudarmanto, 2010).

Pendekatan pemberdayaan ini mendorong pentingnya meningkatkan kekuasaan perempuan, namun pendekatan ini lebih berupaya untuk mengidentifikasi kekuasaan bukan sekedar dalam kerangka dominasi yang satu terhadap yang lain, melainkan lebih dalam kerangka kapasitas perempuan untuk meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal. Selanjutnya dalam rangka menganalisis konsep pemberdayaan tersebut, menurut Sukesi dalam Sujarwo dan Lutfi (2012) dapat dirujuk pada lima dimensi, yaitu : (1) kesejahteraan, (2) akses atas sumberdaya; (3) kesadaran kritis; (4) partisipasi; dan (5) kontrol.

Faktor pendukung peningkatan peranan perempuan adalah kemampuan kerjanya tinggi, dorongan keluarga cukup kuat, dan lokasi kegiatan merupakan obyek wisata potensial yang membutuhkan aktivitas perempuan dalam perdagangan. Kendala yang dihadapi rendahnya akses perempuan terhadap sumber daya modal, transportasi dan informasi. Tantangan terhadap kemajuan dan keberadaan perempuan dalam perdagangan di daerah tersebut masuknya bakul laki-laki dengan modal yang lebih kuat yang mampu mem- berikan penawaran yang lebih tinggi. Strategi yang

(22)

dipilih perempuan untuk mempertahankan eksistensi dan posisinya dalam perdagangan adalah dengan membentuk kelompok usaha. Hal ini untuk meminimalkan persaingan diantara perempuan dan memperkuat modal dalam kelompok. Strategi perempuan untuk meningkatkan pendapatannya adalah dengan memperluas jangkauan pemasaran, memasuki desa-desa dan membawa dagangan. Kemungkinan masih adanya praktek dalam masyarakat yang berakibat timbulnya ketimpangan gender belum dapat diungkap secara tuntas karena data gender masih sangat terbatas.

2. Pendidikan Berbasis Masyarakat Dalam Pemberdayaan Perempuan

Dalam Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dikenal adanya jalur penyelenggaraan pendidikan, yakni pendidikan formal dan pendidikan nonformal dan informal. Kedua jalur atau sistem ini memperoleh legitimasi yang sama dalam sistem pendidikan yang oleh, untuk dan dari masyarakat. Saat ini paradigma pendidikan berbasis masyarakat harus menjadi paradigma baru dalam sistem pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu paradigma ini sangat sesuai dengan asa kemanusiaan dan mempertimbangkan hak asasi manusia pada umumnya.

Community Based Education / pendidikan berbasis masyarakat (PBM) adalah

konsep pendididkan yang menekankan pada paradigma pendidikan dalam upaya peningkatan partisipasi dan keterlibatan masyarakat, serta pengelolaan pendididkan yang sesuai dengan tuntutan global dan nasional. Untuk berperan sebagai kekuatan pendidikan nasional, sekaligus untuk memberikan sumbangan sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Undang-undang Republik Indonesia no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan yang tertuang

(23)

pada pasal 54 ayat (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputu peran serta peroorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha dan organisasi kemasyarakatan dalam meyelenggrakan dan pengendalian mutu pada satuan pendidikan. Ayat (2) masyarakat dapat beroeran serta sebagai sumber pelaksanaan dan pengguna hasil pendidikan. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana dan sumber daya lain seacara adil dan merata dari pemerintah dan atau pemerintah daerah. Dewasa ini masalh life skills melalui pendidikan luar sekolah menjadi aktual, dan dibahas dengan berbagai macam latar belakang yang sangat rasional.

Pendidikan berbasis masyarakat merupakan pendidikan yang sebagian besar program dan keputusannya di dasarkan pada kepentingan masyarakat. Implementasi model pendidikan yang diterapkan di masyarakat didasarkan pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Menurut Sihombing (2001:185) ada lima acuan untuk mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis masyarakat, yaitu: 1) teknologi yang digunakan hendaknya sesuai dengan dituasi dan kondisi nyata yang ada pada masyarakat, 2) kelembagaan, harus ada wadah yang startusnya jelas dimiliki, dipinjam atau dikelola oleh masyarakat untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat, 3) sosial, program, belajar harus bernilai sosial atau bermakna bagi kehidupan peserta didik atau peserta didik, 4) kelembagaan pendidikan hendaknya milik masyarakat bukan pemerintah, dan 5) pengelolaan program pendidikan hendaknya dilaksanakan bersama dengan mitra organisasi-organisasi masyarakat atau pemerintah.

Pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga yang tidak bekerja diperlukan sebagai upaya meningkatkan kemampuannya, sehingga dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik. Sampai saat ini, perempuan diperlakukan tak lebih dari

(24)

pengurus rumah yang selalu menjadi nomor dua. Perempuan tidak berhak menjadi penentu dalam memutuskan hal-hal yang menyangkut rumah tangganya. Mereka seringkali tidak memiliki kemauan dan keberanian untuk mengambil keputusan secara mandiri tanpa pertimbangan suami. Perempuan harusnya memiliki kepekaan dalam menangkap perubahan dan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Dalam pandangan Kartini (2001), perempuan harus mampu menggerakkan dan membuat perubahan-perubahan sosial ke arah yang lebih baik atau sebagai agent of social change. Pentingnya pendidikan bagi perempuan tidak hanya sekedar sebagai upaya mensejajarkan perempuan dengan lelaki, namun lebih dari itu yaitu:

a. Perempuan (ibu) yang terdidik akan mampu membesarkan keluarga yang lebih sehat

b. Perempuan yang terdidik cenderung mempunyai anak yang lebih sedikit, sehingga dapat menahan laju pertumbuhan jumlah penduduk

c. Perempuan terdidik lebih produktif, baik di rumah maupun di tempat kerja

d. Perempuan terdidik cenderung membuat keputusan lebih independen dan bertindak untuk dirinya sendiri

e. Perempuan terdidik cenderung menolong anak-anaknya untuk menjadi terdidik (Kartini, 2001)

Perempuan sebagai bagian dari masyarakat merupakan sentra pendidikan berbasis masyarakat yang bergandengan dengan lingkungan kehidupannya. Implemntasi pendidikan diarahkan dengan menggali potensi dan sumbet daya yang tersedia dilingkungannya guna memberdayakan perempuan. Menurut Sudjana (2000: 34) lingkungan merupakan salah satu komponen yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat, karena lingkungan memberikan

(25)

sumbangan yang cukup besar keberlangsungan pendidikan. Sumber daya yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan adalah sumber daya dan potensi lokal, karena potensi lokal dapat menunjang keberhasilan program pemberdayaan perumpuan khususnya ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan tetap melalui pendidikan berbasis masyarakat.

3. Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM)

a. Pengertian Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM)

Dalam petunjuk teknis pengajuan dan pengelolaan penyelenggaran Keaksaraan Tahun 2012, Keaksaraan usaha mandiri merupakan kemampuan atau keterampilan dasar usaha yang dilatihkan melalui pembelajaran produktif dan keterampilan bermatapencaharian yang dapat meningkatkan keaksaraan dan penghasilan peserta didik baik secara perseorangan maupun kelompok sebagai salah satu upaya pengetahuan keaksaraan sekaligus pengentasan kemiskinan. Peneriman manfaat layanan keaksaraan usaha mandiri adalah penduduk usia 15 tahun ke atas, dengan prioritas usia 15-59 tahun yang sudah melek aksara atau memiliki SUKMA (Depdikbud, 2012).

b. Tujuan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), yaitu:

1) Meningkatkan partisipasi penduduk usia 15 tahun keatas, dengan prioritas usia 15-59 tahun yang berkeaksaraan rendah dalam mengikuti kegiatan Keaksaraan usaha Mandiri.

2) Meningkatkan keberdayaan penduduk usia 15 tahun keatas yang berkeaksaraan rendah melalui peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta berusaha secara mandiri.

(26)

3) Memelihara dan melestarikan tingkat keberaksaraan penduduk melalui kegiatan ragam keaksaraan.(Depdikbud, 2012).

c. Hasil yang diharapkan dari kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), yaitu: 1) Meningkatkan partisipasi penduduk dewasa usia 15 tahun ke atas yang

berkeaksaraan rendah dalam mengikuti kegiataan kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri.

2) Meningkatkan keberdayaan penduduk usia 15 tahun keatas yang berkeaksaraan rendah melalui peningkatan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan serta berusaha secara mandiri.

3) Terpelihara dan lestarinya keberaksaraan penduduk melalui kegiatan multi keaksaraan.(Depdikbud, 2012)

Dari pendapat di atas data dirumuskan bahwa keaksaraan usaha mandiri merupakan kemampuan atau keterampilan dasar usaha yang dilatihkan melalui pembelajaran produktif dan keterampilan bermatapencaharian yang dapat meningkatkan keaksaraan dan penghasilan peserta didik baik secara perseorangan maupun kelompok sebagai salah satu upaya pengentasan keaksaraan sekaligus pengentasan kemiskinan. Kegiatan pendidikan keaksaraan usaha mandiri perlu adanya bahan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk mendukung dalam pelaksanaan KUM adalah pengelolaan sampah di Hunian Tetap (Huntap) Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan .

4. Pengelolaan Sampah

SAMPAH merupakan barang sisa atau buangan yang memang sudah tak bisa dipakai lagi. Tentunya, sampah sangat merugikan apabila tidak dikelola secara

(27)

saniter (baik dan sehat) karena akan mengakibatkan pengotoran lingkungan, pencemaran terhadap sumber air, tanah, tempat berkembangbiaknya bibit penyakit, dan bisa sebagai penyumbat air yang bisa menimbulkan banjir. Tak hanya itu, sampah pun bisa merusak keindahan kota dan dapat menimbukan bau yang tidak sedap. (polusi sampah (Budi Imansyah, 2014).

Sampah menjadi obyek kajian yang sangat menarik yang harus diupayakan pemecahannya. Berkembangnya tuntutan kebutuhan material manusia, membawa konsekuensi yang sangat kompleks berkaitan dengan sampah. Sampah sangat berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Dengan semakin mendesak isu – isu lingkungan yang bersih dan sehat pada saat ini juga terkait dengan program PHBS maka salah satu cara untuk menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah. Paradigma yang berkembang saat ini terkait dengan pengelolaan sampah yaitu kumpul– angkut–buang di TPA tanpa melalui rangkaian proses pengolahan. Agar pengelolaan sampah sesuai dengan tujuan maka diperlukan konsep baru pengelolaan sampah. Perubahan pengelolaan tersebut mengacu pada pola tranformasi Waste to

Source dan perlu dikembangkan sehingga sampah yang saat ini kita anggap sebagai

sesuatu yang tidak berguna akan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna yang tinggi serta dapat menambah pendapatan masyarakat. Pengelolaan sampah hendaknya dilakukan secara terintegrasi antara masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain.

Penanganan sampah yang terintegrasi bertujuan untuk meminimalkan atau mengurangi sampah yang terangkut menuju pemrosesan akhir. Pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul-angkut-buang dan proses Kumpul – Olah

– Angkut – Olah – Buang akan menyisakan permasalahan dan kendala, antara lain

(28)

konsep pengelolaan sampah melalui reduksi volume sampah dan penyediaan sarana fasilitas sampah untuk menghasilkan sumber daya yang bermanfaat seerti kompos dan metan sebagai bahan baku sumber energi. Melalui pengelolaan sampah selain hasil akhir dari pengelolaan yang diharapkan akan menghasilkan zero waste juga akan menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

Pengelolaan sampah dengan paradigma baru dilakukan dengan kegiatan pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan, penggunaan kembali, dan pendaur ulangan, sedangkan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir (Budi Imansyah, 2014). Pada dasarnya masalah sampah tidak bisa menjadi masalah bersama dalam masyarakat tidak hanya dibebankan kepada pemerintah saja. Sudah saatnya masyarakat diberdayakan ikut bertanggung jawab dengan mengurus sampahnya sendiri.

Dalam konteks ini, memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga cukup penting. Sebab, hakikatnya sampah dihasilkan oleh masyarakat itu sendiri. Salah satu yang dapat dilakukan masyarakat untuk berperan serta mengelola sampah dan melestarikan lingkungan adalah meninggalkan pola lama dalam mengelola sampah domestik (rumah tangga) seperti membuang sampah di sungai dan pembakaran sampah, dengan menerapkan prinsip 4R yakni, reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (daur ulang) dan replace (mengganti) serta melakukan pemisahan sampah organik dan sampah an-organik (Budi Imansyah, 2014).

Setiap hunian di masyarakat mengalami beberapa masalah, salah satu permasalahan yang menonjol adalah pengelolaan lingkungan kaitannya dengan sampah. Oleh karena itu perlu dilakukannya sosialisasi atau pendidikan yang berkaitan

(29)

dengan pengelolaan sampah agar masyarakat memiliki kesadaran tentang lingkungan. Sebagian besar komposisi sampah adalah sisa – sisa makanan khususnya sampah dapur yang cepat membusuk atau terdegradasi oleh mikro organism, sehingga sangat berpotensi sebagai sumber daya penghasil kompos, metan dan energi yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Potensi ini dapat dimanfaatkan sebagai asset dalam memberdayakan anggota masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang lebih produktif secara integratif. Penanganan sampah yang terintergrasi dengan baik akan meminimalkan sampah yang diangkut menuju pembuangan akhir.

Lebih lanjut Budi Imansyah (2014) menyatakan bahwa pengelolaan sampah melalui prinsip reduce mempunyai arti bahwa masyarakat bisa berusaha lebih sedikit dalam memproduksi sampah, setiap berbelanja membawa plastik sendiri dari rumah, sehingga mengurangi penggunaan plastik. Sedangkan reuse (menggunakan kembali suatu produk untuk tujuan yang sama), yaitu memanfaatkan wadah-wadah bekas yang dapat dipakai seperti gallon, botol-botol bekas atau kaleng-kaleng bekas, dan recycle untuk menerapkan prinsip mendaur ulang, diantaranya bisa dengan membuat kompos dari sampah organik, pot-pot dari barang bekas plastik-plastik, ataupun kreatifitas yang lain sehingga sampah-sampah bisa didaur ulang dan bisa dimanfaatkan kembali. Sementara replace mempunyai arti mengganti bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, tas kresek diganti dengan keranjang dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan (tas kresek dan styrofoam) tidak terdegradasi secara alami.

5. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Dalam penyelenggaraan program kesetaraan, dilakukan dengan mengedepankan dan memberdayakan peranserta masyarakat sesuai prinsip belajar:

(30)

oleh, dari, dan untuk masyarakat melalui wadah pendidikan nonformal yang berbasis masyarakat seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga swadaya masyarakat (LSM), pondok pesantren, dan organisasi sosial masyarakat (orsosmas) lainnya, yang menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan bagi warga pondok pesantren, petani, anak jalanan, anak pantai, nelayan, PSK/pelacur, para napi di lembaga pemasyarakatan, dan sejenisnya. Di samping lembaga pemerintah yang memang bergerak dibidang pendidikan luar sekolah dan pemuda, seperti di Kota Yogyakarta terdapat UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Yogyakarta, dan Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB, untuk wilayah DIY).

a. Pengertian PKBM

PKBM adalah tempat pembelajaran bagi masyarakat yang diserahkan pada pemberdayaan potensi desa untuk mengerakkan pembangunan dibidang pendidikan. Keberadaan PKBM sebagai agen perubahan (agent of change) dalam penyelenggaraan program pendidikan ditingkat Desa. Hal ini dimaksudkan karena selama ini program pendidikan masyarakat dilaksanakan diberbagai tempat dan berpindah-pindah, maka diupayakan unntuk dipusatkan di suatu tempat yaitu PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), dengan harapan agar berbagai layanan pendidikan masyarakat Desa/ Kelurahan mudah dilakukan kontrol, hasil pembelajaran masyarakat terencana dan terprogram, mudah ditelusuri keberadaannya, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, serta kemandirian masyarakat dapat tumbuh dan berkembang, tidak selalu bergantung pada pemerintah.

b. Tujuan PKBM

Menurut Umberto Sihombing (1999) hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan tujuan PKBM yaitu:

(31)

1) Mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah yang diarahkan pada keswadayaan masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan menggali keterampilan untuk mengembangkan perekonomian keluarga masyarakat.

2) PKBM mengembangkan program serta melibatkan dan memanfaatkan Potensi masyarakat.

3) Potensi yang ada dimasyarakat selama ini yang tergali akan dapat digali, ditumbuhkan, dan dimanfaatkan melalui pendekatan persuasif.

4) Memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi lansung dari operencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

5) Program yang dilakukan diarahkan pengembangan pengetahuan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan sehingga mampu meningkatkan ekonomi keluarga. c. Fungsi PKBM

Menurut Umberto Sihombing (1999: 110) PKBM sebagai lembaga yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat, secara kelembagaan pada hakikatnya ada beberapa fungsi, yaitu:

1) Sebagai tempat kegiatan belajar bagi peserta didik.

2) Sebagai pusat berbagai potensi yang berkembang dimasyarakat.

3) Sebagai sumber informasi bagi masyarakat, PKBM menjembatani masyarakat dengan sumber informasi diluar.

4) Sebagai ajang untuk tukar-menukar berbagai pengetahuan dan keterampilan fungsional diantara peserta didik.

5) Sebagai tempat berkumpul bagi masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

(32)

Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa PKBM merupakan pusat kegiatan belajar masyarakat, dikelola oleh masyarakat untuk kepentingan masyarakat bukan milik pemerintah, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan taraf hidup masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam lingkungan masyarakat.

B. Kerangka Berpikir

Keberaksaraan Usaha Mandiri (KUM) sebagai salah satu program pendidikan keaksaraan. Program ini diperuntukkan bagi peserta didik yang telah menyelesaikan Keaksaaraan Dasar (KD). Keaksaraan usaha mandiri ini merupakan upaya penguatan keberaksaraan melalui pembelajaran ketrampilan usaha yang dapat meningkatkan penghasilan dan produktivitas perorangan dan atau kelompok pasca keaksaraan dasar (SKK-KUM). Kegiatan pendidikan keaksaraan usaha mandiri sebagian besar diikuti oleh perempuan yang sudah berumah tangga. Ibu-ibu perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam mengelola lingkungan agar lebih bersih dan produktif.

Kendala yang dihadapi rendahnya akses perempuan terhadap sumber daya modal, transportasi dan informasi, belum dimilikinya pentehuan dan keterampilan dalam mengelola lingkungan yang lebih bersih dan produktif. Hunian tetap Pancaraejo Glagaharjo kecamatan cangkringan merupakan salah satu Hunian tetap yang sangat potensial untuk memberdayakan kaum perempuan dalam sektor pertanian atau wirausaha. Strategi yang dipilih perempuan untuk mempertahankan eksistensi dan posisinya dalam pertanian atau wirausaha adalah dengan membentuk kelompok belajar usaha

Pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga yang tidak bekerja yang dilakukan melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri akan berhasil dengan

(33)

baik apabila ditunjang adanya daya dukung dari potensi lingkungan dan tersedianya bahan yang tepat dan relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Potensi lingkungan tempat tinggal dan bahan ajar merupakan stimulus yang harapkan dapat membangkitkan motivasi peserta didik dalam mempraktekkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari Pemilihan dan penggunaan potensi lokal dan bahan ajar yang tepat memiliki arti penting untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan banyak dipengaruhi oleh pendidik dalam pemilihan materi yang berbasis potensi lokal dan bahan ajar. Penggunaan buku panduan kegiatan dan pembelajaran akan memberikan banyak manfaat antara lain memperjelas pesan yang disampaikan, mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu, mengatasi sikap pasif dari peserta didik dan memberikan pengalaman yang menarik dan beragam.

Dipilihnya pendidikan KUM berbasis potensi lokal dalam kompetensi pengelolaan sampah atas dasar pertimbangan: 1) masyarakat korban merapi yang tinggal di Hunian Tetap (HUNTAP) memiliki permasalahan yang berkaitan dengan sampah, 2) banyak sampah rumah tangga yang belum diolah menjadi pupuk dalam mendukung kegiatan penghijauan dan pemanfaatan lahan pekarangan, 3) untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja dalam mengelola sampah agar memiliki nilai tambah dalam membantu memperoleh pendapatan keluarga, 4) untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mewujudkan kebersihan lingkungan, dan 5) untuk menyediakan pupuk dalam meningkatkan produktivitas tanaman dalam lingkungan pekarangannya masing-masing.,

(34)
(35)

27 A. Model Pengembangan

Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian dan pengembangan atau Research & Development (R&D). Metode penelitian dan pengembangan merupakan metode yang dipergunakan untuk menghasilkan suatu produk dan menguji efektifitas produk tersebut sesuai dengan tujuan pengembangan

Produk yang dihasilkan dari penelitian dan pengembangan ini adalah prototype model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan keaksaran usaha mandiri. Metode yang dipergunakan meliputi metode deskriptif dan evaluatif. Metode deskriptif dipergunakan untuk menghimpun kondisi yang ada di lapangan. Metode evaluatif dipergunakan untuk mengevaluasi kelayakan model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri yang wujudkan dalam bentuk panduan kegiatan dan pembelajaran. Melalui evaluasi produk dan proses uji coba tersebut diharapkan dapat diperoleh masukan tentang kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan dari produk yang dik menggunakan model desain yang dikembangkan oleh Depdiknas (2008). Dalam pengembangan model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri dalam bentuk pengelolaan sampah rumah tangga dilakukan dengan prosedur pengembangan model Borg and Gall yang dimodifikasi.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian dilaksanakan di hunian tetap Pancarejo Glagahrajo di kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan studi

(36)

pendahuluan diperkuat dengan informasi dari tokoh masyarakat Glagaharjo bahwa masyarakat korban erupasi gunung merapi yang tinggal di Hunian Tetap (Huntap) Glagaharjo kecamatan Cangkringan termasuk salah satu hunian yang seluruh masyarakatnya terkena dampak erupsi gunung merapi.

Masyarakat ini memiliki beberapa permasalahan mendasar yang terkait dengan pengelolaan lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah, pemanfaatan lahan pekarangan yang golong sempit, dan masih banyak ditemukan ibu-ibu yang menganggur. Sebelum terkena erupasi gunung merapi, anggota masyarakat sudah terbiasa hidup dengan lahan pekarangan yang tergolong cukup luas, sehingga masih dapat digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya; menanam sayuran, tanaman polowijo, ketela pohon, tanaman kayu, tempat membuang sampah dan sebagainya. Pada tempat tinggal yang baru, masing-masing keluarga menempati lahan seluas 90 m2, dengan luas bangunan rumah type 3/6, sehingga memerlukan perubahan sikap, pola pikir dan perilakunya. Untuk itu diperlukan model pemberdayaan perempuan kurban erupsi merapi melalui kegiatan pendidikan keaksaraan usaha mandiri dengan materi pengelolaan sampah yang dapat mendukung pemanfaatan lahan pekarangan. Subjek penelitian ini adalah ibu-ibu rumah tangga korban erupsi merapi yang tinggal di hunian tetap di Glagaharjo kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman yang masih berusia produktif, dan memiliki lahan pekarangan yang dapat dikembangkan.

C. Prosedur Pengembangan

Prosedur penelitian dan pengembangan menurut Borg & Gall (2003: 772) pada dasarnya terdiri atas dua tujuan utama, yaitu : (1) mengembangkan produk,

(37)

dan (2) menguji keefektifan produk dalam mencapai tujuan. Prosedur atau langkah kerja dalam penelitian ini meliputi; 1) penelitian pendahuluan, 2) membuat disain, 3) produksi panduan kegiatan dan pembelajaran, serta 4) uji coba produk. Langkah-langkah prosedur pengembangan yang dilakukan tergambar pada bagan dibawah ini:

Gambar. 1

Prosedur Pengembangan, diadaptasi dan dimodifikasi dari Borg & Gall Panduan dan CD

Pembelajaran

Menyusun rancangan pembelajaran

Menyusun materi dalam sajian panduan kegiatan dan

pembelajaran

Mereview Produk Secara Internal

Validasi Ahli Materi dan

Ahli Media Revisi I

Uji Coba terbatas Revisi II Analisis Analisis Membuat draf Panduan kegiatan dan pembelajaran Membuat Disain Revisi Ulang Belum Layak VALIDASI / EVALUASI PRODUK

PROSES PRODUKSI MODUL Penelitian Pendahuluan

(pengamatan lapangan, kajian pustaka, persiapan laporan tentang pokok persoalan)

Mengumpulkan materi sesuai kompetensi dan

strategi pemb.

(38)

Prosedur pengembangan model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri selengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut

1. Penelitian Pendahuluan

Langkah pertama adalah penelitian dan pengumpulan data awal. Langkah ini dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang kondisi-kondisi yang ada di lapangan terkait dengan pembelajaran keaksaraan usaha mandiri. Dari penelitian awal ini akan dapat diketahui berbagai potensi dan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran KUM. Data yang dikumpulkan meliputi :

a. Pengetahuan dan keterampilan masyarakat. khususnya perempuan b. Potensi lokal yang siap dikembangkan khususnya pengelolaan sampah c. Ketersediaan kegiatan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan d. Studi literatur untuk memperkuat analisis masalah dan solusinya 2. Menyusun Desain Pengembangan

Langkah kedua, planning adalah menyusun rencana produk yang akan dikembangkan. Perencanaan meliputi alur proses pengembangan, cakupan model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan KUM, sistematika penyajian materi, proses produksi, uji coba, evaluasi, dan penyempurnaan produk.

a. Alur proses pengembangan

Gambar 1 : Alur Proses Pengembangan

Analisis Materi Penyusunan Rancangan model

Membuat prototype panduan keg. Dan PBM Menguji

prototype

Perbaikan prototype

Panduan kegiatan. dan pembelajaran

(39)

b. Cakupan materi

c. Sistematika panduan Pembelajaran

Sistematika penyajian materi tergambar pada bagan dibawah ini.

Gambar 2 : Sistematika Penyajian Materi 3. Proses produksi

Proses produksi panduan kegiatan dan pembelajaran tergambar sebagai berikut :

O

Gambar 3: Proses Produksi Panduan Pembelajaran 4. Uji Coba dan Evaluasi Produk

Untuk memperoleh kelayakan model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan KUM, perlu dilakukan uji coba dan evaluasi. Uji coba dan evaluasi produk dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu;

Pendahuluan Petunjuk Belajar Tujuan Indikator Kompetensi Rancangan Naskah Penyusunan Naskah Panduan dan CD Evaluasi (Validasi) Praktek mandiri /pengembangan Evaluasi teori

Dan Praktek Materi Ajar Indikator Evaluasi teori

(40)

a. Validasi ahli Materi dan Ahli Media/panduan kegiatan dan pembelajaran Sebelum diujicobakan kepada peserta didik produk yang dikembangkan diuji coba oleh satu ahli isi/ materi dan salah satu ahli media. Uji coba ini penting dilakukan untuk mendapatkan jaminan bahwa produk awal yang dikembangkan layak di uji cobakan kepada peserta didik. Selain itu juga mengantisipasi kesalahan materi, ketepatan media dan antisipasi saat uji coba lapangan. Uji coba produk oleh ahli materi dan media dilanjutkan dengan analisis dan merevisi produk berdasarkan saran ahli tersebut sehingga dinyatakan layak oleh ahli tersebut. Penetapan untuk ahli materi didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut: 1) Memiliki latar belakang pendidikan non formal, 2) menguasai materi yang berkaitan dengan keilmuan Pendidikan Keaksaraan, 3) Praktisi dan berprofesi di bidang Pendidikan Non Formal. Penetapan untuk ahli materi didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut: 1) memiliki latar belakang teknolodi Pendidikan dan pendidikan non formal, 2) menguasai materi yang berkaitan dengan keilmuan pengembangan panduan kegiatan dan pembelajaran,

b. Uji coba lapangan (field evaluation)

Tujuan uji coba ini adalah untuk menentukan apakah produk yang dihasilkan memiliki kelayakan dan kemenarikan untuk digunakan dalam pembelajaran.. Produk diujicobakan kembali secara klasikal pada 10 peserta didik. Melalui uji coba secara klasikal akan dapat diperoleh tanggapan secara lebih luas dan kompleks terkait dengan kemanfaatan produk dalam mempermudah proses pembelajaran. Uji coba Produk dilakukan pada peserta

(41)

didik KUM di PKBM Usaha Mulia yang tidak menjadi subyek pengembangan selanjutnya. Selesai uji coba peserta didik mengisi quisioner yang berisi tanggapan mereka terhadap Panduan kegiatan dan pembelajaran yang dicoba dalam melakukan pembelajaran dilanjutkan dengan analisis dan revisi produk berdasarkan hasil uji coba lapangan sehingga menghasilkan produk akhir.

5. Penyempurnaan Produk

Penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan berdasarkan informasi-informasi yang diperoleh dari hasil uji coba pada tahap dua. Produk diperbaiki dan disempurnakan lebih lanjut, sehingga akan diperoleh prototype panduan kegiatan dan pembelajaran yang lebih sempurna untuk dipergunakan dalam pembelajaran.

Berdasarkan hasil uji coba lapangan (field evaluation), produk panduan kegiatan dan pembelajaran diperbaiki kembali sehingga semakin sempurna untuk menjadi produk akhir yang siap disebarluaskan kepada para pengguna.

D. Model Pemberdayaan Perempuan

Pengembangan model pemberdayaan perempuan korban erupsi gunung merapi yang merujuk pada metode penelitian tindakan. Dari informasi yang diperoleh pada tahap pengumpulan data, selanjutnya peneliti mendesain produk yang berupa desain model pemberdayaan perempuan korban erupsi gunung merapi melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri berbasis pengelolaan sampah rumah tangga. Adapun desain dari model tersebut sebagai berikut:

(42)

E. F. G.

Gambar 4. Desain Model Pemberdayaan Perempuan Korban Erupsi Gunung Merapi Melalui Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri

E. Jenis Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian pengembangan ini terdiri dari dua jenis, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Masing-masing adalah sebagai berikut :

PENDIDIKAN KEAKSARAAN USAHA MANDIRI (KUM) 1. Tujuan 2. Materi 3. Strategi 4. Media 5. Bahan Ajar 6. Evaluasi Perempuan Mandiri CALON PESERTA Pemilihan Peserta Pengenalan Program Pemberdayaan perempuan kurban erupsi gunung merapi

Pengelolaan Sampah BANTUAN Tenaga ahli Dan daya dukung biaya (mitra) Praktek PENDAMPINGAN

panduan kegiatan dan cd pembelajaran

(43)

1. Data kualitatif

Data kualitatif diperoleh dari penelitian awal tentang keberadaan panduan kegiatan dan pembelajaran kompetensi menggunakan ubi jalar dalam aneka olahan makanan ringan yang menjadi pegangan peserta didik di lapangan. Data ini dipergunakan untuk kepentingan pengembangan panduan kegiatan dan pembelajaran yang dilakukan.

2. Data kuantitatif

Data kuantitatif diperoleh dari pengelola KUM, ahli media pembelajaran, serta peserta didik. Data kuantitatif dipergunakan untuk menilai kelayakan panduan kegiatan dan pembelajaran yang dikembangkan.

F. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian pengembangan ini meliputi data kondisi awal, data penilaian ahli materi, penilaian ahli media, penilaian peserta didik, serta uji coba pemakaian terbatas. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi/wawancara, dan angket. Masing-masing teknik diaplikasikan sebagai berikut :

1. Teknik observasi dan wawancara dipergunakan untuk mengumpulkan data kondisi awal tentang proses pembelajaran dan keberadaan panduan kegiatan dan pembelajaran pegangan peserta didik yang dipergunakan di lapangan, sebagai dasar dalam mengembangkan panduan kegiatan dan pembelajaran. 2. Teknik kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data penilaian kelayakan

(44)

dunia kerja (ahli materi), pendapat pakar (ahli media), serta pendapat peserta didik (pengguna).

3. Teknik unjuk kerja dan tes dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang efektifitas panduan kegiatan dan pembelajaran

G. Instrumen Pengumpulan data

Instrumen yang dipergunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini meliputi lembar observasi, dan lembar kuesioner. Lembar observasi dipergunakan untuk mencatat informasi-informasi dari lapangan (tutor) dalam penelitian awal, serta mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada saat uji coba terbatas. Kuesioner dipergunakan untuk mengukur kelayakan produk panduan kegiatan dan pembelajaran yang dikembangkan. Masing-masing meliputi aspek materi, aspek media, serta aspek pembelajaran.

.

H. Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian awal, penilaian ahli materi dan ahli media, uji coba terbatas, serta uji efektifitas kemudian dianalisis dan dideskripsikan. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif. Dengan demikian ada dua teknik analisis data yang dipergunakan. Teknik analisis data yang dilakukan meliputi sebagai berikut :

1. Analisis data kondisi awal

Data kondisi awal yang berupa keberadaan panduan kegiatan dan pembelajaran berbasis potensi lokal yang dipergunakan di lembaga disajikan dalam tabel dan dianalisis serta dideskripsikan secara naratif.

(45)

2. Analisis data kelayakan produk

Data kelayakan produk panduan kegiatan dan pembelajaran yang dikembangkan menurut pendapat ahli materi, ahli media pembelajaran, serta menurut penilaian peserta didik dianalisis dan dideskripsikan secara kualitatif. Data tersebut disajikan dalam bentuk table, gambar, serta paparan secara deskriptif.

Jumlah skor secara keseluruhan merupakan gabungan dan 40 + 60 = 100. Produk dikatakan layak jika 75% peserta didik memperoleh skor lebih dari atau sama dengan 3 dalam kategori Baik..

(46)

38 A. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian pendahuluan dilakukan dengan menggunakan metode observasi wawancara dan dokumentasi. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi/ keadaan dan potensi masyarakat yang tinggal hunian tetap Banjarsari Desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan kabupaten Sleman. Wawancara dilakukan kepada tokoh, anggota masyarakat dan pengurus PKBM usaha mulia, sedangkan dokumentasi diambil dari data yang telah dimiliki oleh desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman meliputi:

Desa Glagaharjo terletak di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Glagaharjo memiliki luas 795 Ha. Batas-batas Desa Glagaharjo adalah:

1) Sebelah Utara : Kehutanan

2) Sebelah Timur : Kabupaten Klaten Jawa Tengah 3) Sebelah Selatan : Desa Argomulyo

4) Sebelah Barat : Kaligendol Desa Kepuharjo

Akses menuju Desa Glagaharjo terjangkau walaupun banyak jalan yang berlubang. Desa Glagaharjo dapat dijangkau dengan roda dua maupun roda empat. Adapun jarak antara Desa Glagaharjo dengan:

1) Jarak ke Ibukota Kecamatan : 1 km 2) Waktu tempuh ke Ibukota Kecamatan : 15 menit 3) Jarak ke Ibukota Kabupaten : 21 km

(47)

4) Waktu tempuh ke Ibukota Kabupaten : 60 menit

Desa Glagaharjo terdiri dari 10 dusun, 41 RT dan 20 RW. Data monografi Desa Glagaharjo tahun 2013 menyebutkan jumlah penduduk Desa Glagaharjo adalah 3.557, terdiri dari laki-laki 1.714 dan perempuan 1.843 yang semuanya merupakan WNI. Jumlah kepala keluarga 1.225 KK, sedangkan penduduk berdasarkan agama menyebutkan bahwa penduduk Desa Glagaharjo yang beragama Islam berjumlah 3.547 orang dan Katolik berjumlah 14 orang. Adapun struktur perekonomian Desa Glagaharjo sebagai berikut: 1) pertanian, meliputi; buah-buahan, palawijo, sayuran, padi, dan tanaman kayu tahunan, 2) peternakan, meliputi; ternak sapi, kambing, ayam, dan kelinci, 3) perdagangan, meliputi; penjualan material bangunan (pasir, batu, batako), pasar Desa, 4) Industri rumah tangga, meliputi: gula kelapa, kerajianan tempe, makanan traisional, membuat batako, dan 5) Pertambangan Golongan “C”

Mata pencaharian masyarakat Desa Glagaharjo semenjak pasca erupsi merapi tahun 2010 sekitar 70% menjadi penambang pasir. Bagi kaum perempuan, sebagian membantu suaminya menambang pasir, sebagian menjadi pemerah susu sapi, mengolah lahan dan menganggur.

B. Prosedur Pengembangan Model Pemberdayaan Perempuan

Secara rinci dari prosedur pengembangan model pemberdayaan perempuan melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri dengan pengelolaan sampah dijelaskan sebagai berikut:

(48)

1. Penelitian Pendahuluan

Penelitian pendahuluan dilakukan dengan menggunakan metode observasi wawancara dan dokumentasi. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi/ keadaan dan potensi masyarakat yang tinggal hunian tetap Banjarsari Desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan kabupaten Sleman. Wawancara dilakukan kepada tokoh, anggota masyarakat dan pengurus PKBM usaha mulia, sedangkan dokumentasi diambil dari data yang telah dimiliki oleh desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman.

Penelitian ini merupakan tindak lanjut penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh: Sujarwo (2012) yang berjudul; “Pengembangan Bahan Ajar

Berbasis Potensi Lokal Pada Program Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri di PKBM USAHA MULIA Sleman. Dari penelitian ini dapat dilatih 10 warga belajar yang memiliki keterampilan membuat aneka olahan makanan ringan dari bahan ketela pohon, yang dilengkapi bahan ajar aneka olahan ketela pohon. Penelitian Sujarwo, Mulyadi, Entoh Tohani (2013) yang berjudul; Model Pendidikan Sadar Lingkungan Masyarakat Korban Erupsi Merapi Melalui Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Potensi Lokal Di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman dihasilkan panduan pembelajaran pendidikan sadar lingkungan melalui pendidikan kecakapan hidup bermuatan potensi lokal yang layak untuk diimplementasikan dalam bentuk (Buku dan VCD). Dari uji coba lapangan panduan tersebut ditemukan perubahan sikap dan perilaku peserta didik, antara lain; adanya kerjasama antar anggota kelompok dan masyarakat lain dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan menanam sayuran, mulai

(49)

adanya tanaman sayuran dalam pot-pot dan model vertikultur bambu sekitar rumah, mulai adanya tempat penyemaian bibit tanaman sayuran.

Dalam penelitian sebelumnya masih ditemukan beberapa kekurangan antara lain; belum optimalnya keterlibatan ibu-ibu rumah tangga (perempuan) dalam kegiatan KUM dan pendidikan sadar lingkungan, dalam memanfaatkan lahan pekarangan belum memanfaatkan sampah rumah tangga sebagai pupuk dan pendukung usaha yang lain, belum adanya usaha mandiri yang dapat meningkatkan peluang usaha bagi ibu-ibu yang tinggal di hunian tetap. Berangkat dari kondisi tersebut maka perlu adanya kegiatan yang mampu memberdayakan perempuan.

Pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga yang dilakukan melalui pendidikan keaksaraan usaha mandiri akan berhasil dengan baik apabila ditunjang adanya daya dukung adanya kesadaran masyarakat, potensi lingkungan dan tersedianya bahan/materi yang tepat dan relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Materi pembelajaran yang berbasis potensi lingkungan tempat tinggal merupakan stimulus yang diharapkan dapat membangkitkan motivasi peserta didik dalam mempraktekkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari

Pemilihan dan penggunaan potensi lokal sebagai materi yang tepat memiliki arti penting untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan banyak dipengaruhi oleh pendidik dalam pemilihan materi yang berbasis potensi lokal dalam hal ini masalah sampah dan pengelolaan pembelajaran yang pragmatis dan humanis. Salah satu daya dukung yang

(50)

mendorong pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri akan berhasil dengan baik, apabila ditunjang tersedianya model pembelajaran yang tepat dan relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Salah satu model pembelajaran yang diterapkan adalah tersedianya panduan pembelajaran yang berisi tentang permasalahan yang berkaitan langsung dengan kehidupannya. Salah satu permasalahan yang menonjol di temapat tinggal huniab tetap (Huntap) Glagaharjo adalah masalah pengelolaan sampah dan pemberdayaan perempuan.

Kendala yang dihadapi rendahnya akses perempuan terhadap sumber daya modal, transportasi dan informasi, belum dimilikinya pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola lingkungan yang lebih bersih dan produktif. Hunian Tetap Glagaharjo kecamatan Cangkringan merupakan salah satu lingkungan tempat tinggal kurban erupsi merapi yang sangat potensial untuk memberdayakan kaum perempuan dalam meningkatkan kesadaran, kepedulian mengelola lingkungan yang lebih lestari, asri dan produktif. Salah satu faktor penyangga kegiatan sebelumnya dalam mengelola lingkungan yang produktif dan nyaman adalah pengelolaan sampah. Kegiatan sebelumnya telah dilakukan kegiatan pengembangan pendidikan sadar lingkungan (Sujarwo, Mulyadi, Tohani, 2013), pemanfaatan bahan tematik (Sri Rahayu, 2013), Hasil penelitian Sujarwo, Mulyadi, Tohani (2013) menemukan adanya permasalahan sampah di lingkungan tempat tinggal masyarakat yang belum dikelola secara optimal untuk mendukung pemanfaatan lahan pekarangan yang lebih produktif. Sebagian besar ibu rumah tangga masih menganggur dan kumpul-kumpul di serambi rumah, padahal biaya

Gambar

Gambar 1 : Alur Proses Pengembangan
Gambar 2 : Sistematika Penyajian Materi 3. Proses produksi
Gambar 4.  Desain  Model  Pemberdayaan  Perempuan  Korban  Erupsi  Gunung Merapi Melalui Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri
Tabel 2. Rangkuman Data Uji Coba Setiap Aspek Panduan dari Ahli Materi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun R&D sendiri memiliki arti penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu serta menguji keefektifan suatu produk (Sugiyono,

Penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono,

Metode penelitian dan pengembangan juga didesain sebagai suatu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan Research and Development (R&D) (Sugiyono, 2008). Pada penelitian ini menghasilkan produk berupa

Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan (Research and Development / R& D) yang bertujuan untuk menghasilkan produk dalam bentuk Blended Learning

6 Berdasarkan berbagai alasan yang telah dikemukakan kami tertarik untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai ”Efektifitas Obat Kumurberbahan dasar ekstrak daun

Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan R&D, dengan menggunakan empat pendekatan ilmiah dipilih yaitu; 1 observasi, bertujuan untuk

Pengertian Metode Penelitian dan Pengembangan R&D • R&D adalah metode penelitian untuk menghasilkan produk atau model inovatif.. • Proses dimulai dari analisis masalah, pengembangan,