LANDASAN TEORI
2.1 Telepon Genggam
Telepon genggam atau handphone (HP), disebut pula sebagai telepon selular (ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. Namun ponsel dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access).
Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service, SMS). Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka.
2.2 Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai respon pelanggan terhadap ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja aktual yang dirasakannya setelah pemakaian (Rangkuti 2003). Menurut teori perilaku konsumen kepuasan didefinisikan sebagai perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk atau jasa. Produk atau jasa yang dapat memuaskan konsumen adalah produk atau jasa yang dapat memberikan sesuatu yang dicari konsumen sampai pada tingkat cukup (Irawan 2002).
Kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi pelanggan atas penampilan produk atau jasa dalam memenuhi harapan pelanggan. Jika kepuasan pelanggan terhadap suatu produk atau jasa diberi peringkat 1-5, dengan satu untuk sangat tidak puas dan lima untuk sangat puas, maka pelanggan yang sangat puas cenderung untuk membeli atau memakai lagi produk atau jasa tersebut.
Pengukuran kepuasan pelanggan sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam rangka mengevaluasi posisi tawar perusahaan saat ini dibandingkan dengan pesaing serta menemukan bagian mana yang membutuhkan peningkatan (Rangkuti 2003). Pada dasarnya ada lima indikator penentu untuk mengukur kepuasan pelanggan ini yaitu : kualitas produk, harga, kualitas pelayanan, faktor emosional, dan kemudahan mendapatkan produk (Irawan 2002).
2.3 Statistik secara umum
Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Statistika
merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data.
Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri). Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.
Dalam mengaplikasikan statistika terhadap permasalahan sains, industri, atau sosial, pertama-tama dimulai dari mempelajari populasi. Makna populasi dalam statistika dapat berarti populasi benda hidup, benda mati, ataupun benda abstrak. Populasi juga dapat berupa pengukuran sebuah proses dalam waktu yang berbeda-beda, yakni dikenal dengan istilah deret waktu.
Melakukan pendataan (pengumpulan data) seluruh populasi dinamakan sensus. Sebuah sensus tentu memerlukan waktu dan biaya yang tinggi. Untuk itu, dalam statistika seringkali dilakukan pengambilan sampel (sampling), yakni sebagian kecil dari populasi, yang dapat mewakili seluruh populasi. Analisis data dari sampel nantinya digunakan untuk mengumpulkan karakteristik populasi. Jika sampel yang diambil cukup representatif, inferensial (pengambilan keputusan) dan simpulan yang dibuat dari sampel dapat digunakan untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan. Metode
statistika tentang bagaimana cara mengambil sampel yang tepat dinamakan teknik sampling.
2.3.1 Metode Statistika
Tujuan umum bagi suatu penelitian berbasis statistika adalah menyelidiki hubungan sebab-akibat, dan lebih khusus menarik suatu simpulan akan perubahan yang timbul pada peubah (atau variabel) respon (peubah dependen) akibat berubahnya peubah penjelas (explanatory variables) (peubah independen).
Terdapat dua jenis utama penelitian : eksperimen dan survei. Keduanya sama-sama mendalami pengaruh perubahan pada peubah penjelas dan perilaku peubah respon akibat perubahan itu. Beda keduanya terletak pada bagaimana kajiannya dilakukan. Suatu eksperimen melibatkan pengukuran terhadap sistem yang dikaji, memberi perlakuan terhadap sistem, dan kemudian melakukan pengukuran (lagi) dengan cara yang sama terhadap sistem yang telah diperlakukan untuk mengetahui apakah perlakuan mengubah nilai pengukuran. Bisa juga perlakuan diberikan secara simultan dan pengaruhnya diukur dalam waktu yang bersamaan pula. Metode statistika yang berkaitan dengan pelaksanaan suatu eksperimen dipelajari dalam rancangan percobaan (desain eksperimen).
Dalam survei, di sisi lain, tidak dilakukan manipulasi terhadap sistem yang dikaji. Data dikumpulkan dan hubungan (korelasi) antara berbagai peubah diselidiki untuk memberi gambaran terhadap objek penelitian. Teknik-teknik survei dipelajari dalam metode survei. Penelitian tipe eksperimen banyak dilakukan pada ilmu-ilmu rekayasa, misalnya teknik, ilmu pangan, agronomi, farmasi, pemasaran (marketing), dan
psikologi eksperimen. Penelitian tipe observasi paling sering dilakukan di bidang ilmu-ilmu sosial atau berkaitan dengan perilaku sehari-hari, misalnya ekonomi, psikologi dan pedagogi, kedokteran masyarakat, dan industri.
2.4 Teknik Pengambilan Sampel 2.4.1 Populasi dan Sampel
Populasi merupakan kelompok yang menjadi pusat penelitian bagi peneliti yang dijadikan sebagai tempat untuk mengeneralisasi hasil penelitiannya (Gay, 1987 di dalam Indriyanto, 1997).
Sampel merupakan bagian dari populasi. Dalam pelaksanaan penelitian, ruang lingkup populasi merupakan area yang amat luas batasnya sehingga penggunaan populasi sebagai instrumen penelitian sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, untuk memenuhi kelayakan dalam pelaksanaan penelitian, ditentukan populasi sasaran (target population), yaitu populasi yang digunakan untuk mengeneralisasi hasil penelitian. Namun demikian, populasi sasaran ini masih relatif sulit untuk ditentukan, karena belum tentu semua populasi sasaran dapat dijangkau. Untuk menentukan pengambilan sampel digunakan accessible population, yaitu populasi yang dapat dijangkau. Pada tingkat ini peneliti menarik sampel untuk digunakan dalam penelitian.
2.4.2 Pengambilan Sampel
Ditinjau dari jenis data yang dikumpulkan, penelitian dapat dibagi menjadi dua, yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Dari segi pendekatannya, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Pengumpulan data pada penelitian kualitatif lebih intensif dengan mengambil daerah penelitian atau subjek penelitian yang relatif terbatas. Pada penelitian kualitatif, peneliti berfungsi sebagai instrumen penelitian, yaitu sebagai pengumpul data. Analisis data penelitian kualitatif cenderung tidak menggunakan statistik, karena data yang diperoleh umumnya berbentuk uraian.
Di lain pihak, penelitian kuantitatif cenderung menggunakan subjek yang relatif banyak dan daerah penelitian yang lebih luas. Instrumen yang digunakan cukup bervariasi, misalnya : tes, kuesioner, dan pedoman wawancara. Analisis data pada penelitian kuantitatif ini cenderung menggunakan statistik karena data yang diperoleh umumnya berbentuk bilangan numerik atau angka-angka.
Dikarenakan kecenderungan ruang lingkup daerah penelitian yang sangat luas, untuk menghemat dana, waktu, dan tenaga, penelitian kuantitatif umumnya menggunakan sampel. Dengan demikian, peneliti kuantitatif harus mempunyai pengetahuan tentang populasi dan kerangka sampel. Peranan peneliti dalam pelaksanaan penelitian kuantitatif tidak hanya berhenti sampai dengan penarikan sampel saja, tetapi dengan adanya sampel, peneliti mempunyai konsekuensi untuk menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis pada sampel tersebut. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penarikan kesimpulan tersebut adalah representasi hasil analisis terhadap populasi.
Agar hasil analisis data kuantitatif yang dilakukan berdasarkan sampel tersebut dapat direpresentasikan pada populasi di mana sampel tersebut diambil, berbagai ketentuan perlu diperhatikan.
Pada dasarnya, cara yang paling sederhana untuk memperoleh sampel yang dapat mewakili populasinya adalah pengambilan sampel yang bersifat acak. Namun
pada prakteknya, akan sangat sulit untuk menarik sampel yang acak. Konsep acak dalam pengambilan sampel berkaitan dengan konsep probabilitas (peluang). Hinkle, Wiersma, dan Jurs (1979) di dalam Indriyanto (1997) menyebutkan bahwa kriteria acak ada dua, yaitu :
a. Setiap anggota populasi mempunyai kesempatan (peluang) yang sama untuk diambil sebagai sampel (non-zero probability).
b. Semua anggota populasi yang terpilih sebagai sampel harus terpilih secara independen.
Pengambilan sampel harus representatif, artinya mencerminkan karakteristik populasi. Untuk menjadikan sampel representatif, maka cara pengambilannya adalah secara acak yaitu setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Namun demikian, cara pengambilan sampel secara acak tidak dapat menjamin bahwa sampel yang diambil betul-betul representatif (Fraenkel dan Wallen, 1990 di dalam Indriyanto, 1997). Hal ini dikarenakan adanya unsur subyektivitas peneliti yang tidak dapat dikontrol oleh peneliti pada saat menarik sampel tersebut.
Penetapan sampel agar dapat benar-benar mewakili populasi dilakukan dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebab populasi (Nawawi, 1995). Penetapan sampel yang ideal mempunyai sifat sebagai berikut (Tiken, 1965, Singarimbun, 1989) :
a. Dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti.
b. Sederhana dan mudah dilaksanakan.
d. Dapat menentukan ketepatan.
Besarnya sampel yang harus diambil tergantung pada karakteristik populasi. Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan jumlah sampel :
a. Derajat keseragaman populasi, makin seragam populasi makin kecil sampel yang diambil.
b. Ketepatan sampel, makin besar jumlah sampel makin tinggi tingkat ketepatannya.
c. Tingkat ketepatan analisis yang dilakukan.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam penetapan sampel, diantaranya simple random sampling. Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
Dua cara dapat dilakukan dalam menarik simple random sampling : a. Cara undian
Yang pertama-tama adalah cara undian. Misalnya ingin memilih sebuah sampel yang besarnya dua dari sebuah populasi yang terdiri dari 5 orang tenaga ahli. Kita tulis nama tenaga ahli tadi masing-masing pada secarik kertas, dan kertas tersebut kita gulung. Lalu kita masukkan dalam sebuah kotak dan kita kocok. Kemudian kita tarik satu gulungan kertas. Lalu kita tarik satu gulungan kertas lain, tanpa memasukkan kembali gulungan kertas pertama. Nama-nama pada kedua gulungan kertas tadi merupakan anggota dari sampel kita yang kita tarik secara undian.
b. Menggunakan tabel angka random
Cara kedua dengan angka random. Gunakan tabel dimana telah dikumpulkan angka-angka secara random, yang dinamakan tabel angka random (table random numbers). Dengan menggunakan angka random ini, dapat menarik n bilangan secara random dari kumpulan bilangan dari 1 sampai dengan N. Misalnya, dalam sebuah kampung terdapat 900 petani. Kita ingin menarik sebuah sampel yang besarnya 9 ( beranggotakan 9 orang petani ) untuk suatu keperluan. Jika kita menggunakan sistem undian, maka kita akan menyediakan 900 gulungan kertas dan masing-masing kertas kita tuliskan nama petani. Tentu saja kerja ini melelahkan. Tetapi jika kita gunakan Tabel Angka Random, maka kita dapat menghemat waktu.
2.5 Skala Pengukuran
Skala pengukuran digunakan untuk mengklasifikasikan variabel yang akan diukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah penelitian selanjutnya (Riduwan, 1997, p32). Ada empat tipe pengukuran atau skala pengukuran yang digunakan di dalam statistika, yakni : nominal, ordinal, interval, dan rasio. Keempat skala pengukuran tersebut memiliki tingkat penggunaan yang berbeda dalam riset statistik. Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif (misalnya : jenis kelamin, agama, warna kulit). Skala ordinal selain membedakan juga menunjukkan tingkatan (misalnya : pendidikan, tingkat kepuasan). Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak
(misalnya: tahun, suhu dalam Celcius). Sedangkan skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak.
2.6 Teknik Pengumpulan Data
Dilihat dari sumber datanya, data dibagi menjadi dua, data primer, yaitu data yang diambil langsung dari sumbernya, dan data sekunder, yaitu data yang diambil melalui tangan kedua. Metode pengumpulan data adalah teknik yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang akan digunakan pada penelitian melalui : angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi, dan lainnya (Riduwan, 1997, p51).
Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan mempermudah olehnya (Suharsimi Arikunto, 1997 di dalam Riduwan, 1997, p51). Selanjutnya instrumen yang diartikan sebagai alat bantu merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, contohnya : angket (quesionnaire), daftar cocok (checklist), skala (scale), pedoman wawancara (interview guide atau interview schedule), soal ujian (test inventory), dan sebagainya.
2.6.1 Angket (quesionnaire)
Angket (quesionnaire) adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon (responden) sesuai dengan permintaan pengguna (Riduwan, 1997, p52). Tujuan penyebaran angket adalah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar
pertanyaan. Disamping itu, responden mengetahui informasi tertentu yang diminta. Angket dibedakan menjadi dua jenis, yaitu angket terbuka dan tertutup.
a. Angket Terbuka (angket tidak berstruktur) adalah angkat yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya.
b. Angket Tertutup (angket berstruktur) adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara membarikan tanda silang (x) atau tanda check (√).
Sebelum menyebarkan kuesioner kepada sampel sebenarnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengadakan penelitian pendahuluan (pre test) untuk menguji apakah kuesioner sudah layak digunakan untuk pengumpulan data yang sebenarnya.
2.7 Model Persamaan Struktural
Structural Equation Modeling (SEM) atau disebut juga Model Persamaan Struktural (MPS) telah dipergunakan dihampir setiap bidang studi yang mudah dipahami / dimengerti, meliputi pendidikan, pemasaran, psikologi, sosiologi, manajemen, testing and measurement, kesehatan, demografi, organizational behaviour, biologi, dan bahkan genetics (Supranto, 2004, p220). Alasan ketertarikan penggunaan MPS atau SEM dalam berbagai bidang tersebut ada dua, yaitu :
a. Memberikan metode yang mudah dimengerti / dipahami berkenaan dengan hubungan berganda secara simultan (multiple relationships simultaneously) sementara memberikan efisiensi statistik.
b. Kemampuannya untuk mengakses hubungan secara komprehensif dan memberikan suatu transisi dari exploratory to confirmatory analysis. Transisi ini sesuai dengan semakin besarnya upaya dalam semua bidang studi menuju pengembangan ke suatu pandangan yang sistematis dan holistik terhadap pemecahan masalah (problem solving). Usaha / upaya demikian itu memerlukan kemampuan menguji suatu seri hubungan yang terdiri dari suatu model berskala besar, melibatkan puluhan bahkan ratusan variabel dengan puluhan persamaan, suatu set prinsip yang mendasar (a set of fundamental principles) atau teori secara keseluruhan (an entire theory). Inilah tugas-tugas untuk mana model persamaan struktural dengan singkatan MPS atau SEM tepat untuk dipergunakan.
Model persamaan struktural (MPS) atau structural equation modeling (SEM), meliputi seluruh model yang terkenal dengan banyak nama seperti : covariance structure analysis, latent variable analysis, confirmatory path analysis dan sering disebut lisrel analysis, merupakan salah satu nama program komputer : Linear Structural Relation = Lisrel (Supranto, 2004, p221).
Teknik SEM dibedakan oleh dua karakteristik, yaitu :
a. Estimasi atau perkiraan hubungan dependensi berganda dan saling terkait (estimation of multiple and interrelated dependence relationships).
b. Kemampuan untuk mempresentasikan konsep yang tidak terlihat (unobserved concepts) dalam hubungan-hubungan ini dan memperhitungkan pengukuran kesalahan di dalam proses estimasi.
2.7.1 Mengakomodasikan Hubungan Dependensi Berganda yang Saling Terkait Perbedaan yang paling menonjol antara SEM dengan teknik multivariat lainnya ialah penggunaan hubungan yang terpisah untuk setiap set variabel tak bebas. Secara sederhana, SEM mengestimasi suatu seri, akan tetapi saling terkait (interdependent), persamaan regresi berganda yang simultan dengan menspesifikasikan penggunaan model struktural, dengan program statistik. Pertama-tama peneliti, berdasarkan teori, pengalaman sebelumnya atau hasil penelitian yang lalu dan tujuan penelitian untuk membedakan mana variabel bebas yang memprediksi setiap variabel tak bebas.
Banyak variabel yang sama mempengaruhi setiap variabel tak bebas, akan tetapi dengan tingkatan pengaruh yang berbeda. Model struktural mengekspresikan hubungan-hubungan ini antara variabel bebas dan tak bebas, bahkan kalau suatu variabel tak bebas menjadi suatu variabel bebas dalam hubungan lainnya.
Hubungan yang diusulkan kemudian diterjemahkan kedalam suatu seri persamaan struktural (mirip dengan persamaan regresi) untuk setiap variabel tak bebas. Berbeda dengan multivariate analysis of variance dan canonical correlation yang hanya terdiri dari hubungan yang tunggal antara variabel bebas dan tak bebas, SEM mencakup banyak hubungan (terdiri dari banyak persamaan). Di dalam persamaan simultan (lebih dari satu persamaan), variabel dibedakan menjadi eksogen (exogeneous) yang nilainya ditentukan di luar model, sebagai variabel kebijaksanaan (policy variable), seperti harga, biaya promosi, mutu barang, ditentukan oleh pimpinan dan variabel endogen (endogeneous), nilainya ditentukan di dalam model, sebagai akibat dari perubahan nilai variabel eksogen.
2.7.2 Model Input
Model dikatakan fit merujuk seberapa jauh model yang dihipotesiskan menyerupai input matriks varian-kovarian. Misalnya sebagai contoh, bahwa model yang dihipotesiskan gagal mengenali bahwa technical support = X, benar – benar mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kepuasan menyeluruh (overall satisfaction) = Y. Tanpa menyebutkan hal ini, maka secara implicit peneliti membatasi hubungan X dan Y sebesar nol, padahal kenyataannya tidak demikian. Penghilangan ini mengarah kepada poor fit dan kesimpulan yang pantas disesalkan bahwa model yang dihipotesiskan harus ditolak sebagai tidak sahih (as invalid).
Berikut adalah gambar langkah – langkah perancangan model yang akan dibuat :
2.7.3 Koefisien Korelasi
Analisis korelasi mencoba mengukur kekuatan hubungan antara dua peubah melalui sebuah bilangan yang disebut koefisien korelasi. Koefisien korelasi linear didefinisikan sebagai hubungan linear antara dua peubah acak X dan Y, dan dilambangkan dengan r. Jadi, r mengukur sejauh mana titik-titik menggerombol sekitar sebuah garis lurus. Oleh karena itu, dengan membuat diagram pencar bagi n pengamatan {(xi,yi); i = 1,2,..,n} dalam contoh acak, dapat ditarik kesimpulan tertentu
mengenai r. Bila titik-titik menggerombol mengikuti sebuah garis lurus dengan kemiringan positif, maka ada korelasi positif yang tinggi antara kedua peubah. Akan tetapi, bila titik-titik menggerombol mengikuti sebuah garis lurus dengan kemiringan negatif, maka antara kedua peubah itu terdapat korelasi negatif yang tinggi. Korelasi antara kedua peubah semakin menurun secara numerik dengan semakin memencarnya atau menjauhnya titik-titik dari suatu garis lurus. Bila titik-titiknya mengikuti suatu pola yang acak, dengan kata lain tidak ada pola, maka mempunyai korelasi nol, dan dapat disimpulkan tidak ada hubungan linear antara X dan Y.
Perlu diingatkan bahwa koefisien korelasi antara dua peubah adalah suatu ukuran hubungan linear antara kedua peubah tersebut, sehingga nilai r = 0 berimplikasi tidak adanya hubungan linear, bukan bahwa antara kedua peubah itu pasti tidak terdapat hubungan. Jadi, bila antara X dan Y terdapat suatu hubungan kuadratik yang kuat, akan memperoleh korelasi nol meskipun jelas ada hubungan tak linear yang kuat antara kedua peubah itu.
Ukuran korelasi linear antara dua peubah yang paling banyak digunakan disebut koefisien korelasi momen-hasilkali Pearson atau ringkasnya koefisien korelasi contoh.
Ukuran hubungan linear antara dua peubah X dan Y diduga dengan koefisien korelasi contoh r, yaitu :
Koefisien korelasi contoh r merupakan sebuah nilai yang dihitung dari n pengamatan contoh. Contoh acak berukuran n yang lain tetapi diambil dari populasi yang sama biasanya akan menghasilkan nilai r yang berbeda pula. Dengan demikian r sebagai suatu nilai dugaan bagi koefisien korelasi linear yang sesungguhnya yang berlaku bagi seluruh anggota populasi.
2.7.4 Pengujian Hipotesis Korelasi dengan Statistik Z
Kriteria pengujian hipotesis korelasi diperlukan statistik uji.
Uji terhadap hipotesis nol H0 bahwa ρ = ρ0 didasarkan pada besaran dan
hipotesis H1 : ρ ≠ ρ0
yang merupakan nilai suatu peubah acak yang menyebar menghampiri sebaran normal dengan nilai tengah (0.5)ln[(1+ρ)/(1-ρ)] dan ragam 1/(n - 3). Jadi, prosedur ujinya berupa menghitung
dan membandingkannya dengan nilai kritik sebaran normal baku tabel z α = 0.05, dengan wilayah kritik z < -1.96 dan z > 1.96.
Analisis jalur (path analysis) merupakan suatu teknik analisis statistika kuantitatif yang dikembangkan dari analisis regresi berganda terstruktur berkenaan dengan variabel-variabel baku (standardized variables) dalam suatu system tertutup (closed system) yang secara formal bersifat lengkap (Gaspersz, 1992, p286). Dalam literatur berbahasa Indonesia, teknik ini dikenal juga sebagai analisis lintas atau analisis lintasan. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Sewall Wright pada tahun 1934 sebagai alat untuk mengkaji hubungan antarvariabel dalam produksi ternak, namun penerapannya sekarang meluas ke bidang-bidang lain, seperti genetika terapan dan ekonomi.
Secara matematis, analisis ini tidak lain adalah analisis regresi berganda terhadap data yang dibakukan. Dengan demikian, perangkat lunak statistika yang mampu melakukan analisis regresi berganda dapat pula dipakai untuk analisis jalur. Subjek utama analisis ini adalah variabel-variabel yang saling berkorelasi. Analisis ini mendasarkan diri pada model hubungan antarvariabel yang ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Teknik ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan regresi linear karena model analisis jalur dapat menemukan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dalam hubungan antarvariabel melalui variabel perantara. Penentuan model didasarkan pada hipotesis mengenai berbagai variabel yang diamati. Dalam perkembangan saat ini teknik analisis jalur dapat dilakukan dalam kerangka pemodelan persamaan struktur (Structural Equation Modeling atau SEM), suatu teknik analisis yang menggabungkan analisis faktor dan analisis regresi, selain analisis jalur. Dengan menggunakan analisis ini, peneliti akan memperoleh hasil analisis secara lebih akurat, tajam dan detail.
dimana :
RX = matriks korelasi antarvariabel bebas dalam model regresi berganda yang
memiliki p buah variabel bebas, jadi merupakan matriks dengan elemen-elemen (i, j = 1, 2, . . , p)
C = vektor koefisien lintasan yang menunjukkan pengaruh langsung dari setiap variabel bebas yang telah dibakukan, Zi terhadap variabel tak bebas (nilai
koefisien lintasan sama dengan koefisien beta atau koefisien regresi baku)
RY = vektor koefisien korelasi antara variabel bebas Xi (i = 1, 2, . . , p) dan
variabel tak bebas Y
Dari persamaan matriks diatas, secara mudah dapat ditentukan vektor koefisien lintasan C :
dimana :
= invers matriks RX
RY = vektor koefisien korelasi antara variabel bebas Xi dan variabel tak bebas
Y
Setelah koefisien lintasan Ci diperoleh, maka beberapa informasi penting akan
a. Pengaruh langsung variabel bebas yang dibakukan, Zi terhadap variabel tak
bebas Y, diukur oleh koefisien lintasan Ci.
b. Pengaruh tidak langsung variabel bebas Zi terhadap variabel tak bebas Y,
melalui variabel bebas Zj (melalui kehadiran variabel bebas Zj dalam model),
diukur oleh besaran (Cj rij)
c. Pengaruh galat (error) atau sisaan (residual), yang tidak dapat dijelaskan oleh model analisis lintasan (pengaruh-pengaruh yang tidak dapat dijelaskan oleh suatu model dimasukkan sebagai pengaruh galat atau sisaan), diukur oleh besaran :
Besaran dalam analisis lintasan adalah serupa dengan besaran (1 – R2) dalam analisis regresi berganda, di mana keduanya memiliki nilai yang sama besar.
2.8 Definisi Sistem
Menurut O’Brien (2003, p.8), sistem adalah sekumpulan komponen yang saling berhubungan dan bekerja bersama menuju sebuah tujuan umum dengan menerima input dan memproduksi output dalam sebuah proses perubahan yang terorganisir.
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari elemen-elemen yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan tertentu.
Suatu sistem mempunyai karakterisktik atau sifat-sifat tertentu, yaitu mempunyai komponen-komponen, batas sistem, lingkungan luar sistem, penghubung, masukan, keluaran, pengolah, sasaran, dan tujuan.
Pengertian perancangan sistem adalah proses mengidentifikasi proses-proses dan data-data yang diperlukan oleh sistem baru. Jika sistem yang akan dirancang adalah sistem berbasis komputer, perancangan dapat menyertakan spesifikasi jenis peralatan yang digunakan.
Perancangan sistem dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu : a. Sistem konseptual
Perancangan dibuat berdasarkan kebutuhan pemakai dan dibuat kerangka kerja untuk penerapannya.
b. Sistem fisik
Perancangan dibuat berdasarkan rancangan konseptual kemudian dibuat spesifikasi sistem detailnya, yang nantinya dapat dipergunakan untuk pembuatan dan pengetesan program.
2.8.1 Definisi Sistem Informasi
Berdasarkan pendapat O’Brien (2003, p.7), sistem informasi adalah gabungan antara manusia, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber-sumber data yang terorganisir dengan tujuan mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.
Komponen sistem informasi terdiri dari :
b. Hardware (mesin - mesin dan media) c. Software (program dan prosedur/aturan) d. Data (basis data dan pengetahuan)
e. Jaringan (media komunikasi dan pendukung jaringan)
Kegunaan sistem informasi adalah untuk menjalankan aktivitas input, proses, output, penyimpanan dan kontrol yang mengubah sumber-sumber data menjadi sebuah informasi.
Tipe - tipe sistem informasi : a. Operation Support System
1. Mendukung kebutuhan dalam pembuatan keputusan strategi manajemen (atas), taktik manajemen (menengah) dan operasi manajemen (supervisor).
2. Menghasilkan sistem informasi untuk internal dan eksternal user. b. Management Support System
1. Mendukung kebutuhan dalam memproses informasi operasi bisnis harian, termasuk beberapa fungsi-fungsi manajemen operasi tingkat yang lebih rendah.
2. Menyediakan informasi dalam bentuk laporan dan tampilan bagi manajer.
2.8.2 Definisi Sistem Informasi Manajemen (SIM)
Sistem Informasi Manajemen menurut McLeod (2001, p.5) adalah sebuah sistem yang mengatur aktivitas manajer di perusahaan dalam proses memperoleh
informasi, memastikan data yang terkumpul menjadi informasi yang berguna, menggunakannya seefektif mungkin (manajer memastikan bahwa informasi jatuh ke orang yang tepat dan dimanfaatkan sebaik mungkin serta membuang informasi di saat yang tepat dan menggantinya dengan informasi yang akurat dan terkini). Hal yang mendasari SIM antara lain yaitu :
a. Meningkatnya kerumitan kegiatan bisnis. b. Pengaruh ekonomi internasional.
c. Persaingan dunia.
d. Meningkatnya kerumitan teknologi. e. Batas waktu yang semakin singkat. f. Kendala-kendala sosial.
2.9 Interaksi Manusia dan Komputer (IMK)
IMK adalah disiplin ilmu yang berhubungan dengan perancangan, evaluasi, dan implementasi sistem komputer interaktif untuk digunakan oleh manusia, serta studi fenomena-fenomena besar yang berhubungan dengannya. Perancangan multimedia haruslah user-friendly.
Tujuan rekayasa sistem interaksi manusia dan komputer (Shneiderman, 2003, pp9-14) adalah :
a. Fungsionalitas yang sesuai
Sistem dengan fungsionalitas yang kurang memadai mengecewakan pemakai dan sering ditolak atau tidak digunakan. Sedangkan sistem dengan
fungsionalitas yang berlebihan berbahaya dalam implementasi, pemeliharaan, proses belajar dan penggunaan yang sulit.
b. Kehandalan, Ketersediaan, Keamanan dan Integritas data
Kehandalan berfungsi seperti yang diinginkan, tampilan akurat. Ketersediaan berarti siap ketika hendak digunakan dan jarang mengalami masalah. Keamanan berarti terlindung dari dari akses yang tidak diinginkan dan kerusakan yang disengaja. Integritas data adalah keutuhan data yang terjamin, tidak mudah dirusak atau diubah oleh orang tidak berhak.
c. Standarisasi, Integrasi, Konsistensi dan Portabilitas
Standarisasi adalah keseragaman sifat-sifat antar muka pemakai pada aplikasi yang berebeda. Integrasi adalah kesatuan dari berbagai paket aplikasi dan peralatan perangkat lunak. Konsistensi adalah keseragaman dalam satu program aplikasi, seperti urutan perintah, istilah, satuan, warna, tipografi. Portabilitas berarti dimungkinkannya data dikonversi dan dipindahkan, dan dimungkinkannya antar muka pemakai dipakai di berbagai lingkungan perangkat lunak dan perangkat keras.
d. Penjadwalan dan anggaran
Perencanaan yang hati-hati dan manajemen yang berani diperlukan karena adanya persaingan dengan vendor lain sehingga proyek harus sesuai jadwal dan anggaran, sistem yang perlu tepat pada waktunya (real time), serta murah agar dapat diterima.
Terdapat 5 faktor manusia yang harus dapat dipenuhi oleh suatu sistem yang user-friendly (Shneiderman, pp15-19), yaitu :
a. Waktu untuk belajar tidak lama (Time to learn)
Berapa lama waktu yang dibutuhkan user untuk mempelajari penggunaan perintah (command) yang relevan untuk rangkaian tugas (tasks).
b. Kecepatan penyajian informasi yang cepat (Speed of performance) Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas. c. Tingkat kesalahan pengguna yang rendah (Rate of errors by users)
Berapa banyak kesalahan (error) dan kesalahan apa saja yang dilakukan oleh orang dalam menyelesaikan tugas? Walaupun waktu untuk membuat dan memperbaiki kesalahan tidak sesuai dengan Speed of performance, error handling adalah salah satu komponen yang penting (critical) dari penggunaan sistem.
d. Pengingatan melewati jangka waktu (Retention over time)
Perancangan yang dibuat dalam suatu sistem yang bisa diingat penggunaannya, fungsi, dan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama.
e. Kepuasan pribadi (Subjective satisfaction)
Ketertarikan dari pengguna (user) untuk menggunakan aspek yang bervariasi atau beragam dari sistem. Jawabannya dapat dipastikan dengan melakukan wawancara (interview) atau dengan survey tertulis yang berisikan tingkat kepuasan dan ruang untuk komentar.
Dalam perancangan sebuah interface seorang web designer harus memperhatikan aturan-aturan yang telah dikenal dengan Eight Golden Rules of Interface Design, yaitu :
a. Berusaha keras untuk konsisten. (strive for consistency)
Hal ini berhubungan dengan urutan tindakan yang harus dilakukan dalam situasi yang serupa, istilah yang serupa juga harus digunakan dalam prompts, menu, help screen, pemilihan warna, layout, ukuran dan bentuk huruf.
b. Memungkinkan frequent users menggunakan shortcut. (enable frequent users to use shortcuts)
Bersamaan dengan meningkatnya pengguna (user), special keys, hidden command, dan fasilitas lainnya juga sangat diperlukan oleh para pengguna. Penggunaan waktu untuk merespon dari pengguna (user) yang relatif cepat dan tepat dalam menampilkan tampilan juga merupakan salah satu daya tarik bagi para pengguna.
c. Memberikan umpan balik yang informatif. (offer informative feedback)
Untuk setiap tindakan yang dilakukan oleh user, harus diberikan umpan balik (feed back). Presentasi visual dari objek yang menarik akan menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk menunjukkan adanya perubahan yang menyeluruh.
d. Merancang dialog untuk menghasilkan keadaan akhir (sukses, selesai). (design dialogs to yield closure)
Urutan dari tindakan harus diatur ke dalam suatu kelompok yang memiliki bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Umpan balik yang informative
dari penyelesaian suatu kelompok akan memberikan kepuasan bagi operator, dan akan menandakan bahwa jalannya sudah jelas untuk menyiapkan kelompok lainnya.
e. Memberikan penanganan kesalahan yang sederhana. (offer error prevention and simple error handling)
Dalam mendesain, sebisa mungkin diberikan error prevention, contohnya, pada menu untuk memasukkan nama, user tidak diperbolehkan untuk memasukkan angka. Jika user melakukan kesalahan, sistem harus dapat mendeteksi kesalahan tersebut dan menampilkan kesalahan si pengguna dan memberikan contoh penggunaan yang benar secara sederhana.
f. Mengizinkan pembalikan aksi (undo) dengan mudah. (permit easy reversal of actions)
Dalam melakukan desain, sebisa mungkin diberikan undo. Hal ini akan memudahkan user jika melakukan kesalahan yang tidak disengaja ketika sedang mengerjakan sesuatu.
g. Menyediakan kendali internal bagi user (support internal locus of control) Sistem harus dirancang supaya user merasa menguasai sistem dan system akan memberi respon atas aksi yang diberikan.
h. Mengurangi beban ingatan jangka pendek. (reduce short-term memory load) Keterbatasan manusia dalam memproses informasi dalam waktu yang singkat membutuhkan akses online yang sesuai untuk memerintahkan format sintaksis, singkatan, kode, dan lain informasi harus disediakan.
2.10 Rekayasa Piranti Lunak 2.10.1 Pengertian Piranti Lunak
Menurut Pressman (2001, p6), piranti lunak dapat diartikan sebagai berikut : a. Perintah-perintah dalam suatu program komputer yang jika dijalankan akan
memberikan fungsi dan hasil yang diinginkan.
b. Struktur-struktur data yang membuat program dapat memanipulasi data. c. Dokumen yang menggambarkan operasi dan penggunaan program.
Piranti lunak memiliki karakteristik yang berbeda dengan piranti keras. Menurut Pressman (2001, pp6-9), piranti lunak merupakan elemen sistem yang bersifat logik, bukan bersifat fisik. Beberapa karateristiknya adalah:
a. Piranti lunak dapat dikembangkan dan direkayasa, bukan dirakit seperti piranti keras. Meskipun ada persamaan pengertian antara kedua istilah tersebut, pada dasarnya mempunyai aktivitas yang berbeda di mana kualitas yang baik dapat dicapai jika desainnya juga baik.
b. Piranti lunak tidak mudah rusak. Hal ini berbeda dengan piranti keras yang mempunyai tingkat kerusakan yang tinggi. Pada piranti keras apabila terjadi kerusakan maka harus diganti, tetapi pada piranti lunak jika terjadi kerusakan dapat diperbaiki melalui software maintenance (pemeliharaan piranti lunak). Kesalahan yang terjadi pada piranti lunak, biasanya terpusat pada saat proses menterjemahkan program ke bahasa mesin dan pada saat merancang.
c. Pada dasarnya perancangan piranti lunak dibuat sebagai komponen yang dapat dirakit ulang.
2.10.2 Pengertian Rekayasa Piranti Lunak
Menurut Pressman (2001, p20) rekayasa piranti lunak adalah penerapan dan pemakaian prinsip rekayasa dalam rangka mendapatkan piranti lunak ekonomis yang terpercaya dan bekerja secara efisien pada mesin komputer.
Rekayasa piranti lunak mencakup tiga elemen yang mampu mengontrol proses perkembangan piranti lunak, yaitu :
a. Metode
Metode merupakan cara-cara teknis membangun piranti lunak yang terdiri dari perancangan proyek dan estimasi, analisis kebutuhan sistem dan piranti lunak, perancangan struktur data, arsitektur program, prosedur algoritma, pengkodean, pengujian dan pemrograman.
b. Alat-alat bantu
Alat-alat bantu menyediakan dukungan otomatis atau semi otomatis untuk metode-metode seperti Computer Aided Software Engineering (CASE) yang mengkombinasikan piranti lunak dan piranti keras dan software engineering database (tempat penyimpanan yang mengandung informasi yang penting tentang analisis, perancangan, pembuatan program, dan pengujian) untuk pengembangan piranti lunak yang sejalan dengan Computer Aided Design/Engineering (CAD/E) untuk piranti keras.
c. Prosedur-prosedur
Prosedur-prosedur untuk menghubungkan alat-alat bantu dengan metode. Tujuan dari prosedur yaitu untuk mendapatkan piranti lunak yang efisien, berguna dan ekonomis.
2.10.3 Daur Hidup Pengembangan Piranti Lunak
Penulis menggunakan metode The Classic Life Cycle atau metode yang biasanya disebut Waterfall Model (Model Air Terjun) dalam perancangan aplikasi ini. Menurut Pressman (2001, pp28-29), tahapan-tahapan yang terdapat dalam metode ini adalah, yaitu :
a. Analisis dan rekayasa sistem (system engineering and modeling)
Dalam tahap ini, pekerjaan dimulai dengan menetapkan kebutuhankebutuhan piranti lunak untuk semua elemen sistem, karena piranti lunak adalah bagian dari yang penting dari sebuah sistem. Peninjauan dalam tahap ini penting karena piranti lunak harus dapat berinteraksi dengan elemenelemen lainnya seperti piranti keras, manusia, dan basis data.
b. Analisis kebutuhan piranti lunak (software requirements analysis)
Dalam tahap ini, seorang analis piranti lunak harus menganalisis kebutuhan agar dapat mengetahui seluruh informasi, fungsi, performa dan antarmuka yang dibutuhkan agar dapat digunakan sebagai dasar sistem yang akan dibangun.
c. Perancangan (design)
Dalam tahap ini, perancangan terhadap piranti lunak dilakukan. Perancangan piranti lunak merupakan sebuah proses yang terdiri atas beberapa langkah yang difokuskan pada empat perlengkapan program yang berbeda yaitu struktur data, arsitektur piranti lunak, representasi antar muka, dan prosedur yang detail.
Dalam tahap ini, hasil perancangan diterjemahkan ke dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh mesin/komputer.
e. Pengujian (testing)
Dalam tahap ini, pengujian terhadap program yang telah selesai dilakukan. Proses pengujian difokuskan pada logika dalam program dari piranti lunak untuk memastikan bahwa semua kode program telah diuji. Tujuan dilaksanakannya pengujian ini untuk menemukan kesalahan dan juga untuk memastikan bahwa piranti lunak yang telah dibuat telah sesuai dengan yang diinginkan.
f. Pemeliharaan (maintenance)
Dalam tahap ini dilakukan pemeliharaan terhadap piranti lunak yang telah dibuat. Pemeliharaan dilakukan dengan mengecek apakah ada kesalahankesalahan setelah sistem dijalankan, dan setiap kesalahan harus diperbaiki. Selain itu juga dilakukan pengecekan apakah piranti lunak ini dapat beradaptasi dengan segala perubahan yang ada, baik dari segi kebutuhan sistem maupun pengaruh dari luar sistem.
Gambar 2.2 Diagram Classic Life Cycle
2.11 STD (State Transition Diagram)
Menurut Pressman (2001, p302), STD mengindikasikan bagaimana sebuah sistem berperilaku sebagai sebuah konsekuensi dari kejadian (event) eksternal. Untuk itu, STD mewakili sejumlah mode dari behavior yang disebut sebagai kondisi (state) dari sistem dan cara dalam perubahan yang dihasilkan dari satu kondisi ke kondisi lainnya.
Menurut Pressman (2001, p317), State Transition Diagram adalah model behavior yang mendasarkan pada pengertian dari kumpulan kondisi sistem. Model behavior adalah sebuah prinsip operasional untuk seluruh metode analisis kebutuhan. STD mewakili behavior dari sebuah sistem dengan menggambarkan kondisinya dan kejadian yang menyebabkan perubahan kondisi suatu sistem.
State Transition Diagram (STD) banyak digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang memiliki sifat yang real time. Hal tersebut terjadi pada kontrol
proses, military command and control system, telephone switching system, dan high speed data aquistion.
STD merupakan suatu modelling tool yang menggambarkan suatu sifat ketergantungan akan waktu yang terdapat di sistem. Pada STD terdapat dua macam cara kerja, yaitu :
a. Pasif
Disini sifatnya lebih kepada menerima data saja dalam melakukan control terhadap lingkungan.
Contoh : sistem yang bertugas untuk menerima data melalui sinyal yang dikirimkan oleh satelit.
b. Aktif
Untuk sistem ini, kontrol terhadap lingkungan dilaksanakan secara aktif sehingga selain menerima data, sistem ini juga memberikan suatu respon terhadap lingkungannya.
Contoh : sistem yang digunakan pada proses kontrol.
Simbol-simbol atau properti dari STD yang sering digunakan : a. State, disimbolkan dengan segi empat.
State adalah kumpulan keadaan atau atribut yang memberi perincian seseorang atau benda pada waktu dan kondisi tertentu. Contohnya seperti proses user mengisi password, menentukan instruksi berikutnya.
b. Transition State atau perubahan state disimbolkan dengan panah berarah. Merupakan simbol yang menyatakan suatu perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.
Simbol transition state : c. Condition
Condition adalah suatu kejadian pada lingkungan eksternal yang dapat dideteksi oleh sistem. Contohnya adalah sebuah sinyal, interrupt atau data. Hal ini akan menyebabkan perubahan terhadap state dari state menunggu X ke state menunggu Y atau memindahkan aktivitas X ke aktivitas Y.
Contoh : sinyal input, interrupt atau data. d. Action
Action adalah yang dilakukan sistem bila terjadi perubahan state atau merupakan reaksi terhadap kondisi. Aksi akan menghasilkan keluaran atau tampilan.
2.12 Diagram Alir (Flowchart)
Diagram alir (flowchart) adalah representasi grafis dari serangkaian aktivitas operasi, pergerakan, inspeksi, delay, keputusan dan penyimpanan dari sebuah proses. Diagram alir menggunakan simbol-simbol yang telah digunakan selama bertahun-tahun untuk merepresentasikan jenis proses atau proses yang sedang dilakukan. Bentuk yang sudah distandarisasi menyediakan sebuah metode yang umum dipakai oleh banyak orang untuk memvisualisasikan masalah-masalah bersama-sama dengan cara yang sama.
Simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan diagram alir : Tabel 2.1 Tabel Simbol Flowchart
(http://www.edrawsoft.com/flowchart-symbols.php)
Notasi Arti Notasi
Proses / pengolahan
Predefined proses
Operasi input / output
Decision, berupa pertanyaan atau penentuan suatu keputusan
Terminal, untuk menandai awal dan akhir program
Panah, sebagai penghubung antar komponen dan penunjuk arah
Manual input, input dari pengguna
On-page connector, sebagai penghubung dalam satu halaman
Off-page connector, sebagai penghubung antar halaman yang berbeda