STRESS LINGKUNGAN
DALAM PENUTUPAN TAMBANG
Oleh : Handoko SetiadjiAbstrak
Stress dapat terjadi pada siapa. Stress juga dapat dipacu oleh kondisi lingkungan di mana manusia berada. Kondisi ini lingkungan kerja, sekolah ataupun tempat tinggal yang buruk dapat menimbulkan stress. Selain itu ada beberapa daerah pertambangan yang telah terbiasa menggantungkan hidupnya dari pertambangan kemudian telah memasuki tahap penutupan tambang masyarakatnya ternyata belum siap. Jika dahulu seluruh kegiatan perekonomian bertumpu pada usaha pertambangan kemudian secara tiba-tiba kegiatan tersebut tidak ada tentunya akan dapat menimbulkan gejolak secara sosial-ekonomi. Kondisi ini secara psikologis sering menimbulkan berbagai macam dampak buruk, salah satunya adalah banyaknya pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh masyarakat. Tetapi hal ini hanya berlaku pada daerah yang belum siap dengan era pasca tambang. Salah satu contoh kota yang pernah mengalami kesulitan akibat memasuki tahap pasca tambang adalah Kota Sawahlunto. Saat ini Kota Sawahlunto sekarang sudah menemukan formula yang tepat dalam menyikapi dampak buruk akibat penutupan tambang dengan membuat visi sebagai kota wisata tambang.
Kata kunci : psikologi; stress; lingkungan; pasca tambang; penutupan tambang; wisata tambang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan. Yang dimaksud dengan asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang secara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya dalam
keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.
Salah satu bagian dari kegiatan pertambangan adalah tahap penutupan tambang sebagai wujud tanggung jawab dari industri pertambangan terhadap lingkungan. Perusahaan dalam melaksanakan Reklamasi dan Penutupan Tambang wajib memenuhi prinsip-prinsip Iingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, serta konservasi bahan galian. Pengelolaan dan pemanfaatan lahan bekas tambang merupakan suatu implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan dimana industri pertambangan, dalam kegiatannya, harus memperhatikan dan mempertimbangan dimensi lingkungan hidup, dalam artian bahwa pemanfaatan sumberdaya tambang haruslah dilakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan daya dukung lingkungan, sehingga terlaksananya pembangunan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh operasi pertambangan merupakan kerusakan yang bersifat tidak dapat berbalik (irreversible damages).
Pada akhir tahun 1990-an, Kota Sawahlunto menghadapi fenomena “Kota Hantu” (Ghost Town), yaitu kondisi di mana suatu kota mulai ditinggalkan karena usaha pertambangan sudah tidak produktif lagi. Roda perekonomian nyaris terhenti karena kota ini memang lahir dan hidup karena adanya tambang batubara. Di sisi lain penambangan liar terjadi di mana-mana, bahkan dilakukan dengan dengan menggali sisa-sisa batubara dari tambang-tambang yang telah ditutup.
Dampak paling buruk dari penambangan liar tersebut adalah bobolnya dinding (high wall) sebuah bekas tambang terbuka yang berbatasan dengan sungai sehingga seketika berubah menjadi danau hanya dalam waktu satu malam. Sekarang lokasi bekas tambang tersebut dikenal dengan nama Danau Kandi. Sedangkan untuk bekas tambang bawah tanah telah terjadi ambrukan dan ledakan gas methan yang banyak menimbulkan korban jiwa.
Permasalahan di atas diduga merupakan dampak dari Stress di Kota Sawahlunto. Peristiwa yang terjadi merupakan akibat dari akumulasi beberapa sumber Stres yang bisa berdampak buruk. Pemerintah Kota Sawahlunto perlu bekerja keras untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dan bila mungkin mengelola Stres sebagai stimulus yang positif. Pariwisata merupakan salah satu pilihan dalam pembangunan yang perlu dikembangkan, karena dari sektor ini dapat meningkatkan penerimaan devisa negara, menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasikan faktor-faktor produksi yang lainnya.
Gambar 1. Lubang Mbah Suro Bekas Tambang di Sawahlunto
Kota Sawahlunto memiliki tambang batubara peninggalan zaman Belanda yang terletak di bawah permukiman warga. Terowongan yang dibuat tahun 1898 itu merupakan lubang tambang pertama di Sumatera Barat. Tambang tersebut ditutup tahun 1932 dan dibuka kembali oleh Pemerintah Kota Sawahlunto tahun 2007 menjadi objek wisata. Bekas tambang batubara bawah tanah tersebut dikenal dengan nama “Lubang
Mbah Suro”. Lubang Mbah Suro sebagai sebuah bekas tambang bawah tanah peninggalan zaman penjajahan Belanda mempunyai nilai yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata. Bukan hanya sekedar objek wisata biasa, tetapi yang lebih penting lagi memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari sejarah pertambangan Indonesia.
Sebagai sebuah kota yang tidak bisa mengandalkan lagi sektor pertambangannya, Pemerintah Kota Sawahlunto membuat suatu kebijakan pembangunan dengan Visi : ” Sawahlunto Tahun 2020 Menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya”. Kebijakan ini diharapkan cukup efektif untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi.
B. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang yang telah diuraikan maka permasalahan yang akan menjadi perhatian adalah :
1. Apakah telah terjadi Stress pada kondisi tersebut? 2. Faktor apa sajakah yang menyebabkan Stress tersebut?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memahami munculnya Stress dari permasalahan pada suatu kota tambang yang telah memasuki era pasca tambang.
D. Manfaat Penulisan
Tulisan ini diharapkan dapat memberikan dapat memperkaya pengetahuan dan bermanfaat bagi pengembangan Ilmu Psikologi Lingkungan terutama untuk kasus yang terjadi pada suatu daerah pasca tambang.
E. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah studi literatur, yaitu penulis mengumpulkan berbagai literatur yang ada di internet, karya tulis, serta bahan ajar diklat atau perkuliahan yang relevan.
Bahan-bahan tersebut kemudian dipelajari dan dianalisa untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menjadi permasalah dalam tulisan ini. Beberapa bahan tulisan sengaja dikutip langsung dari sumbernya dan yang lain menjadi dasar pemikiran dalam penyusunan tulisan ini.
II. KAJIAN TEORI A. Pengertian Stres
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. (wikipedia).
Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap Stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap Stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat Stres; semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003; 158).
Stres menurut Hans Selye (dalam Hendro Prabowo, 2001) menyatakan bahwa Stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami Stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami diStres. Pada gejala Stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan-keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk Stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan euStres.
Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi Stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi Stres akut) adalah gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat Stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi Stres akut dan keparahannya.
Empat variabel psikologik yang dianggap mempengaruhi mekanisme respons Stres (Papero dalam Hendro Prabowo, 1997):
1) Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap Stresor yang mengurangi intensitas respons Stres.
2) Prediktabilitas: Stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons Stres yang tidak begitu berat dibandingkan Stresor yang tidak dapat diprediksi.
3) Persepsi: pandangan individu tentang dunia dan persepsi Stresor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respons Stres. 4) Respons koping: ketersediaan dan efektivitas mekanisme mengikat
ansietas dapat menambah atau mengurangi respons Stres.
B. Teori Psikologi Lingkungan
Beberapa pendekatan teori dalam psikologi lingkungan antara lain adalah: Teori Arousal, Teori Stimulus Berlebihan, Teori Kendala Perilaku, Teori Tingkat Adaptasi, Teori Stres Lingkungan, dan Teori Ekologi.
1. Teori Arousal (Arousal Theory)
Arousal (Pembangkit). Ketika kita emosional, kita sering merasa bergairah. Beberapa teori telah berpendapat bahwa semua emosi adalah hanya tingkat dimana seseorang atau binatang dihasut. Meski tidak semua orang setuju dengan gagasan ini, tingkat keterbangkitan adalah
bagian penting dari emosi. Contohnya, tingkat yang tinggi dalam keterbangkitan adalah dalam kemarahan, ketakutan dan kenikmatan, sedangkan tingkat keterbangkitan yang rendah adalah kesedihan dan depresi (Hendro Prabowo, 1997).
Mandler (dalam Hendro Prabowo, 1985) menjelaskan bahwa emosi terjadi pada saat sesuatu yang tidak diharapkan atau pada saat kita mendapat rintangan dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Mandler menamakan teorinya sebagai teori interupsi. Interupsi pada masalah seperti dikemukakan tadi yang menyebabkan kebangkitan (arousal) dan menimbulkan pengalaman emosional. Suatu hal yang dapat kita petik dari teori ini adalah bahwa orang dapat memperlihatkan perubahan emosi secara ekstrim, misalnya bergembira atau bergairah pada suatu saat, dan mengalami perasaan duka cita atau amarah pada saat yang lain.
Arousal dipengaruhi oleh tingkat umum dari rangsangan yang mengelilingi kita. Kita dapat saja menjadi bosan atau tertidur, jika yang kita hadapi adalah hal-hal yang "tidak ada apa-apanya". Suatu materi pelajaran yang tidak menarik dan sedikit sekali memberi manfaat pada yang mendengarkan, membuat hampir semua yang mendengarkannya tidak bertahan lama mengikutinya. Menurut Mandler, manusia memiliki motivasi untuk mencapai apa yang disebut sebagai "dorongan-keinginan otonomik". Fungsinya adalah untuk menarik munculnya arousal sehingga kita dapat berubah-ubah dari aktivitas satu ke aktivitas lainnya. Hampir semua orang yang memiliki motivasi ini dalain berinteraksi namun ada beberapa orang yang tidak responsif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya, sehingga hanya dapat dimunculkan arousal-nya jika benar-benar dalam keadaan yang amat membahayakan.
Dalam Psikologi Lingkungan, hubungan antara arousal dengan kinerja seseorang dapat dijelaskan sebagai berikut:
• tingkat arousal yang rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah makin tinggi
• tingkat arousalnya akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula (Sarwono, 1992).
Hubungan tersebut dinamakan Hukum Yerkes dan Dodson (Sarwono, 1992) yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3. Hukum Yerkes dan Dodson
Pembangkitan terhadap penginderaan melalui peningkatan rangsang, dapat meningkatkan hasil kerja pada tugas-tugas yang sederhana. Akan tetapi justru akan mengganggu dan menurunkan prestasi kerja dalam tugas-tugas yang rumit. Misalnya suara musik di dalam mobil dapat merangsang semangat pengemudi, tetapi suara suara musik yang sama dapat mengganggu konsentrasi orang yang sedang memecahkan persoalan yang rumit (Sarwono, 1992; Veitch & Arkkelin, 1995).
Sebagai gambaran lain Veitch & Arkkelin (1995) memberi contoh bahwa perubahan kinerja amat beragam pada peningkatan suhu pada pekerja wanita, pekerja tambang, dan para pekerja beragam jenis laboratorium.
2. Teori Beban Stimulus (Stimulus Load Theory)
Titik sentral dari teori beban stimulus adalah adanya dugaan bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam memproses informasi. Ketika input (masukan) melebihi kapasitas, maka orang cenderung untuk
mengabaikan beberapa masukan dan mencurahkan perhatian lebih banyak kepada hal yang lain (Cohen dalam Hendro Prabowo, 1995). Teori ini bertanggungjawab terhadap respon-respon stimulasi lingkungan dalam kaitannya dengan kapasitas individu dalam jangka pendek untuk memperhatikan dan bertransaksi dengan hal-hal yang menonjol dalam suatu lingkungan. Umumnya stimulus tertentu yang paling penting diperhatikan dengan alokasi waktu yang banyak dan stimulus yang kurang penting umumnya diabaikan (Sarwono, 1992; Veitch & Arkkelin, 1995).
Strategi yang dipilih seseorang untuk stimulus mana yang diprioritaskan atau diabaikan pada suatu waktu tertentu akan menentukan reaksi positif atau negatif terhadap lingkungan. Jika kelebihan kapasitas tersebut terlalu besar sehingga individu sama sekali tidak mampu lagi mengatasi dengan kognisinya, maka individu dapat mengalami gangguan kejiwaan seperti merasa tertekan, bosan, dan tidak berdaya. Contoh stimulus yang berlebihan adalah pemandangan sebuah kota besar yang sudah terlalu banyak manusia dan kendaraan, banyak terdapat kawasan-kawasan komersial dengan papan-papan dan lampu-lampu rekiame. Oleh karena itu, orang yang tinggal di kota besar sering mengeluh jenuh, bosan, alienasi, dan sebagainya (Sarwono, 1992).
Contoh lain dikemukakan oleh Veitch & Arkkelin (1995) adalah ketika kita mengemudikan mobil dalam keadaan macet, umumnya perhatian kita lebih tertuju pada mobil, truk, bis, atau tanda lalu-lintas di sekeliling. Sementara itu kita justru tidak memperhatikan anak-anak yang duduk di jok belakang, musik dari radio, atau kondisi udara yang berawan.
Menurut Veitch & Arkkelin (1995) teori Beban Stimulus juga mempelajari pengaruh stimulus lingkungan yang kurang menguntungkan, seperti perilaku-perilaku tertentu yang terjadi di kapal selam atau penjara. Pengkajian seperti ini menyimpulkan bahwa dalam keadaan yang understimulation tertentu ternyata dapat berbalik menjadi overstimulation. Sebagai contoh suatu demam yang dialami oleh pilot pesawat terbang
dapat juga dihasilkan dari kondisi yang monoton akan berakibat terjadinya understimulation.
3. Teori Kendala Perilaku (Behavioral Constrain Theory)
Teori kendala perilaku memfokuskan kepada kenyataan, atau perasaan, kesan yang terbatas dari individu oleh lingkungan. Menurut teori ini, lingkungan dapat mencegah, mencampuri, atau membatasi perilaku penghuni (Stokols dalam Hendro Prabowo,1995), misalnya: pada suatu hari kemacetan lalu-lintas akan mengganggu para penglaju, suara yang keras akan membuat bising yang mengganggu komunikasi, tata cara rumah sakit yang terlalu mengatur akan mengganggu proses penyembuhan, tingginya temperatur yang herlebihan akan mencegah kerja fisik yang berlebihan, dan rendahnya suhu yang berlebihan akan mengurangi kepekaan gerakan jari jari. Teori ini berkeyakinan bahwa dalam suatu situasi tertentu seseorang benar-benar kehilangan beberapa tingkatan kendali terhadap lingkungannya (Veitch & Arkkelin, 1995).
Brehm dan Brehm (dalam Hendro Prabowo, 1995) menekankan bahwa ketika kita merasakan bahwa kita sedang kehilangan kontrol atau kendali terhadap lingkungan, kita mula-mula akan merasa tidak nyaman dan kemudian mencobauntuk menekankan lagi fungsi kendali kita. Fenomena ini lalu disebut dengan istilah reaktansi psikologis (psychological reactance).
Sarwono (1992) memberikan contoh misalnya ketika kita sudah tahu bahwa jalanan terlalu macet pada jam-jam tertentu, maka kita cenderung berusaha mencari alternatif jalan lain. Jikalau pilihan alternatif tidak ada, atau tingkah laku alternatif lain yang dicoba untuk dilakukan ternyata juga gagal untuk mengatasinya dan apabila hal ini terjadi berulangkali, maka kita akan mengalami perasaan putus asa atau tidak berdaya. Ketidakberdayaan inilah yang lalu disebut dengan istilah learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari).
4. Teori Tingkat Adaptasi
Teori tingkat adaptasi mirip dengan teori stimulus berlebih, dimana pada. tingkat tertentu suatu stimulus dapat dirumuskan untuk mengoptimalkan perilaku. Stimulus yang berlebihan atau sama halnya yang terlalu kecil dianggap dapat mempengaruhi hilangnya emosi dan tingkah laku. Tatkala semua ahli psikologi lingkungan menekankan interaksi manusia dengan lingkungan, maka teori tingkat adaptasi lebih banyak membicarakannya secara lebih spesifik, yaitu dua proses yang terkait dalam hubungan tersebut: adaptasi dan adjustment. Adaptasiadalah mengubah tingkah laku atau respon-respon agar sesuai dengan lingkungannya, misalnya dalam dingin atau keadaan suhu yang menurun menyebabkan terjadinya otot kaku dan menurunnya aktivitas motorik. Sementara adjustment adalah mengubah lingkungan agar menjadi sesuai dengan lingkungannya, misalnya dalam keadaan dingin bisa saja orang membakar kayu untuk memanaskan tubuhnya (Sarwono, 1992; Veitch & Arldcelin, 1995). Salah satu cara tersebut dilakukan seseorang agar tercapai keseimbangan dengan lingkungannya (homeostatis).
Nilai lain dari pendekatan ini adalah adanya pengenalan tingkat adaptasi pada individu, misalnya tingkat adaptasi atau arousal dimana pada akhirnya individu terbiasa dengan lingkungannya atau tingkat pengharapan individu pada kondisi lingkungan tertentu. Bahkan dengan pendekatan ini dapat diterangkan perbedaan respon yang berbeda dari dua individu ketika menghadapi lingkungan yang sama. Sebagai contoh dalam suatu pesta, seseorang dapat mempersepsikannya sebagai sesuatu yang menyenangkan atau bagi orang lain justru merupakan sesuatu yang tidak nyaman. Perbedaan individu dalam hal tingkat adaptasi menyebabkan adanya perbedaan tingkah laku (Veitch & Arkkelin, 1995).
Menurut Sarwono (1992) terdapat tiga kategori stimulus yang dijadikan acuan dalam hubungan lingkungan dengan tingkah laku, yaitu:
• stimulus fisik yang merangsang indra (suara, cahaya, suhu udara), • stimulus sosial, dan
• gerakan
Dari ketiga stimulus tersebut, masing-masing mengandung tiga dirnensi lagi yaitu: intensitas, diversitas, dan pola, dimana dari ketiga dimensi ini yang paling menyenangkan adalah yang tidak terlalu kecil/sedikit/lemah dan juga tidak terlalu besar/banyak/kuat. Dalam hal intensitas misalnya suara yang tidak terlalu keras lebih menyenangkan daripada yang terlalu keras atau terlalu lemah. dalam hal diversitas (variasi rangsang), terlalu banyak atau sedikitnya rangsang temyata juga tidak menyenangkan. Dalam hal pola, barangkali rangsang dirancang untuk mengukur hubungan di antara kepadatan dan perilaku interpersonal tidak selalu membuahkan hasil yang sama jika data dikumpulkan dengan metode yang berbeda (Veitch dan Arkkelin, 1995).
5. Teori Stres Lingkungan
Teori Stres menekankan pada mediasi peran-peran fisiologi, emosi, dan kognisi dalam interaksi antara manusia dengan lingkungan. Pada dasarnya hal ini dapat dilihat berkaitan dengan pengindraan manusia dimana suatu respons Stres yang terjadi terhadap segi-segi lingkungan melebihi tingkat yang'optimal. Individu lalu meresponnya dengan berbagai cara untuk mengurangi Stres. Beberapa bagian dari respon terhadap Stres bersifat otomatis. Pada mulanya terdapat adanya reaksi waspada (alarm reaction) terhadap Stresor. Lalu diikuti dengan reaksi penolakan individu yang secara aktif mencoba melakukan coping terhadap Stresor. Akhirnya, jika sumber-sumber coping yang ada habis, maka suatu bentuk kelelahan
akan terjadi (Selye dalam Veitch& Arkkelin, 1995). Reaksi waspada dapat berupa peningkatan denyut jantung atau peningkatan produksi
adrenalin, sementara reaksi penolakan dapat berupa tubuh menggigil kedinginan atau berkeringat kepanasan (Sarwono, 1992).
Di lain pihak terdapat ahli lain yang lebih memperhatikan terutama pada masalah respon-respon terhadap Stres. Lazarus (dalam Hendro Prabowo, 1995) misalnya lebih memfokuskan kepada proses apraisal. Menurutnya, seseorang dalam menilai (apraisal) lingkungan seharusnyadilakukan secarakognitifsebagai suatu bentuk ancaman sebelumterjadinya Stres dan akhimya mempengaruhi perilaku. Sebagai suatu bentuk coping, ketika individu akan bereaksi terhadap Stresor, individu harus menentukan terlebih dahulu strategi berupa menghindar, menyerang secara fisik atau verbal, atau mencari kompromi (Sarwono, 1992).
6. Teori Ekologi
Pusat dari pemikiran para ahli teori ekologi adalah gagasan tentang kecocokan manusia dan lingkungannya. Lingkungan dirancang atau barangkali berkembang sehingga memungkinkan terjadinya perilaku tertentu. Seting perilaku menurut istilah Roger Barker (dalam Hendro Prabowo, 1995) adalah evaluasi terhadap kecocokan antara lingkungan dengan perilaku yang terjadi pada konteks lingkungan tersebut.
Menurut Roger Barker (dalam Sarwono, 1992) tingkah laku tidak hanyaditentukan oleh lingkungan atau sebaliknya, melainkan kedua hal tersebut saling menentukan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam istilah Barker, hubungan tingkah laku dengan lingkungan adalah seperti jalan dua arah (two way street) atau interdependensi ekologi. Selanjutnya Barker mempelajari hubungan timbal balik antara lingkungan dengan dan tingkah laku. Suatu hal yang unik pada teori Barker adalah adanya seting perilaku yang dipandang sebagai faktor tersendiri. Seting perilaku adalah pola tingkah laku kelompok (bukan individu) yang terjadi sebagai akibat kondisi lingkungan tertentu (physical milIeu). Misalnyajika suatu ruangan terdapat pintu, beberapa jendela, serta dilengkapi dengan papan tulis dan
meja tulis yang berhadapan dengan sejumlah bangku yang berderet, maka seting perilaku yang terjadi pada luang tersebut adalah rangkaian dari tingkah laku murid yang sedang belajar di ruang kelas. Jika ruang tersebut berisikan perabotan kantor, maka orang-orang yang berada di dalamnya akan berperilaku sebagaimana lazimnya karyawan kantor.
Pernikiran kritis terhadap pendapat Barker yang berkembang adalah pertanyaan mengenai berapa jumlah maksirrium atau minimum individu dalam suatu seting perilaku tertentu.
Sebagai contoh, apa yang terjadi pada ruang kelas kecil jika dibandingkan dengan ruang kelas yang besar? Apakah dapat diramalkan adanya perbedaan-perbedaan perilaku? Perilaku-perilaku apakah yang terjadi pada umat Kristiani yang menggunakan gereja besar dan sebaliknya pada gereja yang kecil? Kajian mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut dari perspektif ekologi sosial menjadikan adanya teori-teori mengenai overmanning dan undermanning (atau overstaffdan understafj) (Veitch & Arkkelin, 1995).
III. Pembahasan A. Penyebab Stres
Melihat permasalahan-permasalahan yang ada di Kota Sawahlunto, maka dapat telah terjadi beberapa permasalahan sebagai sebab akibat dari Stres adalah sebagai berikut :
1. Kehilangan Mata Pencaharian (Tekanan Ekonomi)
Penduduk Kota Sawahlunto sebagian besar mengandalkan hidupnya dari pertambangan batubara.
Pada saat tambang telah selesai berproduksi (pasca tambang) maka banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Hal ini terjadi bukan hanya terjadi pada pegawai tambang yang pensiun dini, tetapi juga pada sektor-sektor pendukung industri pertambangan lainnya.
Karena kondisi ekonomi yang terus menurun, maka banyak penduduk Kota sawahlunto yang mulai meninggalkan kota untuk mencari
penghidupan ke tempat lain. Akibatnya kota sawahlunto terancam menjadi Kota Hantu. Tetapi lebih daripada itu banyak yang kemudian menjadi penambang liar. Mereka menambang pada bekas-bekas lahan bekas tambang, bahkan ada yang menyerobot lahan milik perusahaan tambang yang resmi.
2. Euphoria Reformasi
Situasi politik yang berubah dengan cepat pada akhir tahun 90-an serta tekanan ekonomi yang terus menghimpit masyarakat telah mengakibatkan terjadinya gejolak di setiap daerah. Pada saat itu euphoria reformasi merupakan stimulus yang sangat mujarab untuk menyulut tindakan reaktif dari masyarakat. Di Kota Sawahlunto ditandai dengan terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum. Penambangan liar telah terjadi di mana-mana. Kekerasan, kejahatan, dan protes dari masyarakat merupakan kejadian yang sangat sering terjadi.
B. Dampak dan Penanggulangan
Dampak yang ditimbulkan dari berakhirnya era pertambangan di Kota sawahlunto memang luar biasa. Penambangan liar mengakibatkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Selain kerusakan lingkungan juga mengakibatkan kecelakaan yang telah merengut puluhan nyawa manusia.
Sebagai sebuah kota yang tidak bisa mengandalkan lagi sektor pertambangannya, Pemerintah Kota Sawahlunto membuat suatu kebijakan pembangunan dengan Visi : ” Sawahlunto Tahun 2020 Menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya”. Kebijakan ini diharapkan cukup efektif untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi.
Sedikit-demi sedikit roda perekonomian kembali berjalan, dan penduduk mulai kembali berdatangan ke Kota Sawahlunto. Tentu saja hal ini harus dibarengi dengan penegakan hukum bagi yang melanggar peraturan serta membuat kebijakan yang dapat mengakomodir para sekaligus pembinaan terhadap penambang liar.
IV. SIMPULAN
1. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di Kota Sawahlunto adalah akibat Stres yang terjadi pada era pasca tambang.
2. Faktor utama yang menyebabkan Stres dan mendorong timbulnya permasalahan di Kota Sawahlunto adalah kehilangan mata pencaharian (tekanan ekonomi) dan situasi politik yang mendukung (euphoria reformasi)
3. Pemerintah Kota Sawahlunto sedikit demi sedikit tealah telah berhasil mengatasi permasalahan dengan membuat suatu kebijakan pembangunan yaitu Visi : ” Sawahlunto Tahun 2020 Menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya”.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hendro Prabowo, 2012, “Psikologi Lingkungan”, E-Learning Universitas Gunadarma http://elearning.gunadarma.ac.id.
2. Sarwono, S.W., 1992, “Psikologi Lingkungan”, Penerbit Gramedia Jakarta.
3. Wikipedia.org