26
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Nikel Laterit
Nikel laterit merupakan salah satu sumber nikel dan feronikel yang penting, dimana endapan ini merupakan hasil dari pelapukan intensif dari batuan ultrabasa pembawa Ni-silikat, dan pada umumnya terdapat pada daerah sekitar khatulistiwa (gambar 3.1)
Gambar 3.1 Lokasi keterdapatan nikel laterit utama (Glesson et al., 2003). Pada batuan ultrabasa misalnya peridotit sebagian besar terdiri dari mineral olivin dan piroksen, yang mengandung kurang dari 45 % berat silika dan mengandung magnesium yang tinggi dengan kadar besi yang cukup besar. Adapun pada batuan beku peridotit merupakan kelompok batuan yang paling banyak mengandung nikel jika dibandingkan dengan gabro, diorit, dan granit (tabel 3.1).
Tabel 3.1 Unsur yang terkandung dalam batuan beku (Joseph. R. Bold, 1979)
Batuan Persentase Kadar
Ni (%) Fe-O + Mg (%) Al + Si (%)
Peridotit 0.200 43.5 45.9
Gabro 0.016 16.6 66.1
Diorit 0.004 11.7 33.4
27 Adapun kelompok batuan yang termasuk dalam batuan peridotit adalah batuan Dunite, Harzbugite, Wehrlite, dan Lherzolite. Dari kelompok batuan ini dibedakan berdasarkan komposisi mineralnya. Batuan yang termasuk mineral-mineral minor pada peridotite adalah plagioclase, spinel (biasanya varietas chromite), garnet (khususnya varietas pyrope), amphibole, dan phlogopite.
3.1.1 Genesa
Proses terbentuknya nikel laterit dimulai dari adanya pelapukan yang intesif pada peridotit (batuan induk). Batuan induk ini akan berubah menjadi serpentin akibat pengaruh larutan hidrotermal atau larutan residual pada waktu proses pembekuan magma (proses serpentinisasi) dan akan merubah batuan peridotit menjadi batuan Serpentinit. Kemudian kembali terjadi pelapukan (fisika dan kimia) menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk. Adapun menurut Golightly (1981) sebagian unsur Ca, Mg, dan Si akan mengalami dekomposisi, dan bebrapa terkayakan secara supergen (Ni, Mn, Co, Zn), atau terkayakan secara relatif (Fe, Cr, Al, Ti, S, dan Cu).
Air resapan yang mengandung CO2 yang berasal dari udara meresap ke bawah sampai ke permukaan air tanah melindi mineral primer yang tidak stabil seperti olivin, serpentin, dan piroksen. Air meresap secara perlahan sampai batas antara zone limonit dan zone saprolit, kemudian mengalir secara lateral, kemudian lebih banyak didominasi oleh transportasi larutan secara horizontal (Valeton, 1967). Proses ini menghasilkan Ca dan Mg yang larut disusul dengan Si yang cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus sehingga memungkinkan terbentuknya mineral baru melalui pengendapan kembali unsur-unsur tersebut. Semua hasil pelarutan ini terbawa turun ke bagian bawah mengisi celah-celah dan pori-pori batuan.
Unsur-unsur Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa ke bawah sampai batas pelapukan dan diendapkan sebagai Dolomit dan Magnesit yang mengisi rekahan-rekahan pada batuan induk. Adapun urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering). Fluktuasi
28 muka air tanah yang berlangsung secara kontinu akan melarutkan unsur-unsur Mg dan Si yang terdapat pada bongkah-bongkah batuan asal di zone saprolit, sehingga memungkinkan penetrasi air tanah yang lebih dalam. Zone saprolit dalam hal ini semakin bertambah ke dalam demikian pula ikatan-ikatan yang mengandung oksida MgO sekitar 30-50 % berat dan SiO2 antara 35-40 %-berat yang masih terkandung pada bongkah-bongkah di zone saprolit akan terlindi dan ikut bersama-sama dengan aliran air tanah, sehingga sedikit demi sedikit zone saprolit atas akan berubah porositasnya dan akhirnya menjadi zone limonit (Friedrich et.al., 1984).
ZONE PELINDIAN
silikat yang mengandung nikel terurai Mg, Si, dan Ni larut
Pengu-rangan larutan pem-bawa Ni, Mg, Si
ZO
NE
L
IMO
NI
T
ZO
NE
SA
PR
OL
IT
BA
TU
AN
A
SA
L
Penam-bahan larutan pem-bawa Ni, Mg, SiPengendapan kembali sebagian Ni, Mg, Si, pada rekahan mis. sebagai : - garnierit - krisopras
Sebagian Mg mengendap kembali pada rekahan di batuan asal mis. : - gel magnesit - serpentin
PERIDOTIT-SERPENTINIT
BATUAN ULTRAMAFIK Serpentinisasi
Air hujan kaya CO2 dari atmosfir
Penguapan, pengen-dapan Si, Al selama musim kering
naiknya air tanah akibat gaya kapiler Konsentrasi residu
dari Fe dan khromit Fe-hidroksida (+Ni,Al) Al-hidroksida
mineral lempung Mn-hidroksida (+Co) Cr-spinel
Sedikit pelindian zone limonit di musim hujan
29 Untuk bahan-bahan yang sukar atau tidak mudah larut akan tinggal pada tempatnya dan sebagian turun ke bawah bersama larutan sebagai larutan koloid. Bahan-bahan seperti Fe, Ni, dan Co akan membentuk konsentrasi residu dan konsentrasi celah pada zona yang disebut dengan zona saprolit, berwarna coklat kuning kemerahan. Batuan asal ultramafik pada zone ini selanjutnya diimpregnasi oleh Ni melalui larutan yang mengandung Ni, sehingga kadar Ni dapat naik hingga mencapai 7 %-berat. Dalam hal ini, Ni dapat mensubstitusi Mg dalam Serpentin atau juga mengendap pada rekahan bersama dengan larutan yang mengandung Mg dan Si sebagai Garnierit dan Krisopras.
Dan untuk Fe yang berada di dalam larutan akan teroksidasi dan mengendap sebagai Ferri-Hidroksida, membentuk mineral-mineral seperti Goethit, Limonit, dan Hematit yang dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur Co dalam jumlah kecil. Semakin ke bawah, menuju bed rock maka Fe dan Co akan mengalami penurunan kadar. Pada zona saprolit Ni akan terakumulasi di dalam mineral Garnierit. Akumulasi Ni ini terjadi akibat sifat Ni yang berupa larutan pada kondisi oksidasi dan berupa padatan pada kondisi silika.
3.1.2 Klasifikasi Endapan
Berdasarkan fase mineralogi pembawa bijih dan proses pembentukannya, nikel laterit dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu:
a) Hydrous silicate deposit
Pada endapan tipe hydrous silicate bagian bawah zona saprolit (horizon bijih) didominasi oleh mineral-mineral hidrous Mg-Ni silikat (gambar 3.3). Setempat pada zona saprolit, urat -urat halus dan box-works dapat terbentuk. Rekahan dan batas-batas antarbutir dapat terisi oleh mineral silikat dan mineral-mineral yang kaya dengan nikel. Sebagai contoh garnierit dapat memiliki kandungan nikel sampai dengan 40 %. Nikel akan mengalami pelindian dan limonit pada fase Fe-oxyhidroxide akan bergerak turun ke bawah
30 Gambar 3.3: Profil nikel tipe hydrous silicate, (Freyssnet et al, 2005) sebelum terendapkan kembali sebagai hydrous silicate mineral atau menggantikan Mg dalam ubahan serpentinit. Pengkayaan Ni melalui proses supergen ini sangat penting untuk pembentukan endapan hydroussilicate pada kadar yang ekonomis.
Pada endapan tipe hydrous silikat, posisi muka airtanah relatif dalam, kondisi ini menyebabkan infiltrasi air yang dalam sehingga nikel lebih banyak terakumulasi pada zone saprolit bagian bawah.
b) Clay silicate deposit
Silikon (Si) dari profil laterit, hanya sebagian yang terlindikan oleh air tanah. Silikon yang tersisa bersama-sama dengan Fe, Ni, dan Al membentuk mineral lempung seperti Ni-rich nontronite pada bagian tengah sampai dengan bagian atas zone saprolit. Serpentin yang kaya dengan nikel juga bisa digantikan (teralterasi) oleh smectite pada bagian yang kontak dengan air tanah sehingga larutan-larutan yang terbentuk menjadi jenuh dengan mineral-mineral lempung ini (gambar 3.4). Secara umum, kadar nikel rata-rata pada tipe endapan ini lebih rendah dibandingkan dengan tipe hydrous silikat.
31 Gambar 3.4 Profil nikel laterit tipe Clay silicate deposit, (Freyssnet et al, 2005)
Pada endapan tipe hydrous silikat, posisi muka airtanah awal relatif dangkal dan drainase terhambat, kondisi ini menyebabkan lapisan zone limonit lebih sering terendam air sehingga terbentuk lapisan lempung dan akumulasi Ni pada lapisan lempung tersebut.
c) Oxidesdeposite
Oxide deposite dikenal juga dengan nama endapan limonit, dimana nikel berasosiasi dengan Fe-oxyhidroxide, dengan mineral utama goethite. Kadang-kadang juga kaya dengan oksida Mn yang kaya dengan Co. Kadar Ni rata-rata pada tipe endapan ini lebih rendah 1.2%, sehingga memiliki nilai ekonomis yang kurang baik dibandingkan dengan dua tipe endapan nikel laterit sebelumnya.
32 Gambar 3.5 Profil nikel laterit tipe oxide deposit, (Freyssnet et al, 2005) Padaendapan tipe oxide deposite posisi muka airtanah awal relatif dangkal dan drainasenya tidak terhambat (infiltasi air lancar) sehingga Ni lebih banyak terakumulasi pada zone limonit sampai saprolit bagian atas.
3.1.3 Profil Nikel Laterit
Secara umum, jika suatu endapan nikel laterit dilihat secara vertikal maka akan terdapat beberapa komponen utama (gambar 3.6), sebagai berikut:
1. Iron cap atau tudung besi (cuirasse)
material lapisan berukuran lempung, berwarna coklat kemerahan, dan biasanya terdapat juga sisa-sisa tumbuhan. lapisan dengan konsentrasi besi yang cukup tinggi (ferriginous duricrust) dan kandungan nikel yang rendah, atau merupakan laterit residu yang dapat terbentuk pada bagian atas dari profil dan melindungi lapisan endapan nikel laterit dibawahnya. 2. Zone limonit
merupakan lapisan berwarna coklat muda, berukuran butir lempung sampai pasir. Pada zone limonit hampir seluruh unsur yang mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari 2 % berat dan kadar SiO2 berkisar 2-5 % berat. Sebaliknya kadar Fe2O3 menjadi sekitar 60-80
33 % berat dan kadar Al2O3 maksimum 7 % berat. Zone yang mengandung oksida besi dominan.
Gambar 3.6 Profil Endapan Nikel Laterit 3. Zone Saprolit
merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkah-bongkah lunak berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat, tetapi mineral-mineralnya pada umumnya sudah terubah. Pada beberapa endapan nikel laterit, zona ini dicirikan dengan keberadaan pelapukan mengulit bawang yang terjadi sepanjang joint dan fracture yang memperlihatkan bagian batuan yang masih segar dikelilingi oleh material teralterasi (boulder saprolite). Perubahan geokimia zone saprolit yang terletak di atas batuan asal ini tidak banyak, H2O dan Nikel bertambah, dengan kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2 - 4 %, sedangkan Magnesium dan Silikon hanya sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari vein-vein Garnierite, Mangan, Serpentin, Kuarsa sekunder bertekstur boxwork, Ni-Kalsedon, dan di
34 beberapa tempat sudah terbentuk limonit yang mengandung Fe-hidroksida.
Berdasarkan kandungan fragmen batuan, zona ini dibagi menjadi dua yaitu:
a. Sub Soft-Saprolit
Mengandung fragmen - fragmen berukuran boulder kurang dari 25%. b. Sub Hard-Saprolit
Mengandung fragmen - fragmen berukuran boulder lebih dari 50%. 4. Zone Protolith atau Bedrock
Pada bagian terbawah dari penampang vertikal endapan nikel laterit ini disebut dengan protolith, berwarna hitam kehijauan, terdiri dari bongkah - bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75 cm, dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis. Protolith merupakan batuan asal yang berupa batuan ultramafik. Pada umumnya berupa harzburgite, peridotit, ataupun dunit. Kadar unsur mendekati atau sama dengan batuan asal, yaitu dengan kadar Fe ± 5% serta Ni dan Co antara 0.01 - 0.30 %.
3.1.4 Kontrol Pembentukan Nikel Laterit
Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi dan tingkat pelapukan kimia yang dialami tiap batuan sangat beragam dan akan mempengaruhi pembentukan endapan serta profil laterit dari tiap tempat, misalnya: iklim, curah hujan, topografi, vegetasi, batuan asal, struktur dan waktu terjadi pelapukan.
1. Iklim, curah hujan, dan vegetasi
Iklim yang sesuai dalam pembentukan endapan laterit adalah iklim tropis dan sub tropis, di mana curah hujan dan sinar matahari memegang peranan penting dalam proses pelapukan dan pelarutan unsur-unsur yang terdapat pada batuan asal. Sinar matahari yang intensif dan curah hujan yang tinggi menimbulkan perubahan besar yang menyebabkan batuan menjadi lapuk, terutama dialami oleh batuan yang dekat permukaan bumi.
35 curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang melewati tanah, yang mempengaruhi intensitas pelarutan dan perpindahan komponen yang dapat dilarutkan. Sebagai tambahan, keefektifan curah hujan juga penting. Suhu tanah (suhu permukaan udara) yang lebih tinggi menambah energi kinetik proses pelapukan (Butt and Zeegers, 1992).
Dengan iklim dan curah hujan yang yang mendukung maka vegetasi yang tumbuh pada kawasan ini sangat beragam dan lebat. Dimana vegetasi ini akan membantu proses penetrasi sebagian air menuju lebih dalam dengan mengikuti jalur akar pepohonan, selain membantu proses pelapukan vegetasi juga menjaga suatu batuan dari erosi (pelapukan mekanis).
2. Topografi
Kondisi relief dan lereng akan mempengaruhi proses penetrasi dan sirkulasi air serta reagen-reagen lain. Secara teoritis, relief yang baik untuk pengendapan bijih nikel adalah punggung-punggung bukit yang landai dengan kemiringan antara 10°-30°. Adapun pada daerah yang curam, air hujan yang jatuh ke permukaan lebih banyak yang mengalir sebagai run-off dibandingkankan air yang meresap kedalam tanah, sehingga pelindian dan transportasi unsur-unsur oleh air tanah tidak banyak terjadi. Pada daerah ini sedikit terjadi pelapukan kimia sehingga menghasilkan endapan nikel yang tipis. Sedangkan pada daerah yang landai, air mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan dan mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara intensif. Akumulasi endapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
3. Batuan asal
Komposisi dan stuktur dari batuan asal, akan mempengaruhi kandungan yang terendapkan serta tingkat pelapukan yang terjadi pada batuan.
36 adalah batuan dengan elemen Ni yang paling banyak di antara batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral dan komponen-komponen yang paling mudah lapuk atau tidak stabil (seperti Olivin dan Piroksen), mudah larut, serta memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel. Struktur pada batuan akan menentukan tingkat kerapuhan batuan terhadap pelapukan karena akan mempengaruhi tingkat penetrasi yang terjadi pada batuan. Menurut Golightly (1981), ada 3 tipe batuan asal pembentuk endapan nikel laterit yaitu:
- batuan peridotit yang tidak terserpentinsasi. - batuan peridotit yang terserpentinsasi sebagian. - batuan peridotit yang terserpentinsasi sempurna.
4. Kontrol Struktur
Adanya kontrol struktur dalam pembentukan endapan nikel laterit memungkinkan terjadinya pelapukan lebih lanjut akibat adanya pelarutan oleh air dan unsur unsur hasil pelindian. Akibatnya untuk suatu lokasi dimana terdapat rekahan ataupun kekar pada batuan asalnya akan menghasilkan endapat nikel laterit yang lebih tebal pada kondisi topografi yang sama atau akan terjadi pengkayaan kandungan Ni didalam rekahan. 5. Waktu
Pelapukan yang berlangsung dalam waktu lama pada umumnya akan menghasilkan endapan yang relatif lebih tebal, sedangkan pelapukan yang berlangsung dalam waktu singkat akan membentuk endapan yang tipis. Adapun waktu yang diperlukan dalam pembentukan nikel laterit dipengaruhi oleh kontrol pembentukan lainnya misalnya adanya struktur akan membantu dalam proses pelindian dan pelapukan, adanya vegetasi yang lebat juga akan mempercepat proses penetrasi air hujan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan juga asam humus yang membantu pelapukan dalam proses kimia.
37 Pada dasarnya seluruh komponen kontrol pembentuk nikel laterit akan saling berkaitan, dalam suatu pembentukan nikel laterit.
3.2 Sampling
Merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan suatu nilai kadar yang dapat mewakili atau mempresentasikan kadar suatu blok yang diwakilinya.
Tipe-tipe sampel dapat berupa:
1. Point (titik)
Berupa specimen yang diambil untuk mengetahui karakteristik geologi atau mineralogi, disebut juga dengan grab sampel (kecil dan bersifat lokal), digunakan untuk mempelajari kontinuitas secara geologi. Pada umumnya (0,1 s/d 0,2 kg).
Secara umum, metode grab sampling ini merupakan teknik sampling dengan cara mengambil bagian (fragmen) yang berukuran besar dari suatu material (baik di alam maupun dari suatu tumpukan) yang mengandung mineralisasi secara acak (tanpa seleksi yang khusus). Tingkat ketelitian sampling pada metode ini relatif mempunyai bias yang cukup besar.
Beberapa kondisi pengambilan conto dengan teknik grab sampling ini antara lain :
Pada tumpukan material hasil pembongkaran untuk mendapatkan gambaran umum kadar.
Pada material di atas dump truck atau belt conveyor pada transportasi material, dengan tujuan pengecekan kualitas.
Pada fragmen material hasil peledakan pada suatu muka kerja untuk memperoleh kualitas umum dari material yang diledakkan, dll.
38
2. Linear (garis)
Termasuk di dalamanya drill core dan channel sampling, dapat berupa suatu deretan chip sampling lintasan tertentu yang memotong suatu endapan. Individual sampel dapat berukuran 0,5 s/d beberapa kilogram. Channel sampling adalah suatu metode (cara) pengambilan conto dengan membuat alur (channel) sepanjang permukaan yang memperlihatkan jejak bijih (mineralisasi). Alur tersebut dibuat secara teratur dan seragam (lebar 3-10 cm, kedalaman 3-5 cm) secara horizontal, vertikal, atau tegak lurus kemiringan lapisan. Gambaran secara umum mengenai kegiatan channel sampling dapat digambarkan pada gambar 3.7 di bawah ini:
Gambar 3.7 Pembuatan channel sampling pada endapan yang berlapis (Chaussier et al., 1987)
3. Panel (bidang)
Umumnya berupa susunan chip sampling pada suatu bidang bukaan bijih atau face atau wall pada underground. Ukuran sampel umumnya berkisar 1-5 kg.
Chip sampling (conto tatahan) adalah salah satu metode sampling dengan cara mengumpulkan pecahan batuan (rock chip) yang dipecahkan melalui suatu jalur (dengan lebar 15 cm) yang memotong zona mineralisasi dengan menggunakan palu atau pahat. Jalur sampling tersebut biasanya bidang horizontal dan pecahan-pecahan batuan tersebut dikumpulkan dalam suatu kantong conto. Kadang-kadang pengambilan ukuran conto yang seragam (baik ukuran butir, jumlah, maupun interval) cukup sulit,
39 terutama pada urat-urat yang keras dan brittle (seperti urat kuarsa), sehingga dapat menimbulkan kesalahan seperti oversampling (salting) jika ukuran fragmen dengan kadar tinggi relatif lebih banyak daripada fragmen yang low grade.
4. Broken Ground
Sampel dalam jumlah yang besar, dapat bersal dari trenching (paritan uji) atau pada bukaan underground, sampling ini dapat berasal dari beberapa tempat untuk uji mixing dan optimalisasi metode processing.
5. Bulk
Bulk sampling (conto ruah) ini merupakan metode sampling dengan cara mengambil material dalam jumlah (volume) yang besar, dan umum dilakukan pada semua fase kegiatan (eksplorasi sampai dengan pengolahan). Pada fase sebelum operasi penambangan, bulk sampling ini dilakukan untuk mengetahui kadar pada suatu blok atau bidang kerja. Metode bulk sampling ini juga umum dilakukan untuk uji metalurgi dengan tujuan mengetahui recovery (perolehan) suatu proses pengolahan. Sedangkan pada kegiatan eksplorasi, salah satu penerapan metode bulk sampling ini adalah dalam pengambilan conto dengan sumur uji. Dalam hal khusus, jumlah sampel dapat mencapai 100-an ton.
3.2.1 Metode Sampling Tebal Lapuk
Data Penelitian didapat dari penelitian langsung ke site penambangan, adapun lokasi pengambilan data dilakukan pada salah satu front tambang yang aktif yaitu pada blok BIII/C1, dengan kode 27/28. Tinggi bench pada lokasi pengambilan data adalah 4 meter dengan kemiringan front 60o. Dalam penelitian ini dilakukan pengambilan boulder dengan ukuran fraksi yang berbeda-beda yaitu ada 7 fraksi dengan ukuran masing-masing (1-2.5 cm, 2.5-5 cm, 5-10 cm, 10-15 cm, 15-20 cm, 20-25 cm, dan 25-30 cm).
40 Dari front tambang akan ditemukan berbagai macam boulder baik dari ukuran maupun jenisnya (dunit dan peridotit). Adapun boulder merupakan suatu material hard yang terdapat diantara material soft, dalam hal ini material soft dapat berupa limonit maupun hasil lapukan dari boulder. Pelapukan yang terjadi pada boulder berupa spheroidal wethering, sehingga kenampakan boulder – boulder yang terdapat pada front dilapisi oleh bagian lapuknya. Dalam kegiatan penelitian ini tebal lapuk yang diukur bukan merupakan tebal pelapukan yang masih terdapat pada front tambang, melainkan tebal lapuk yang masih menempel setelah dilakukan pengambilan boulder dari front. Karena bagian yang dianggap sebagai waste pada kegiatan produksi penambangan adalah boulder yang memiliki ukuran lebih besar daripada 20 cm, dimana untuk lapukan yang terdapat disekitar boulder pada front akan terkikis dan dikategorikan sebagai ore. Maka dari itu dilakukan pengukuran terhadap tebal lapuk yang masih menempel pada boulder setelah diambil dari front.
Gambar 3.8: Metode pengambilan data boulder front tambang
BIII/C1 27/28
Boulder diambil dari front dengan fraksi berbeda – beda (tiap fraksi 30 sampel)
Tiap fraksi dicari kadarnya (analisa x-ray)
Tiap boulder dipisahkan menurut fraksinya, dan diukur tebal pelapukannya (lapukan yang masih menempel setelah diambil dari front) dari 4 sisi boulder (bagian atas, bawah, kiri, dan kanan)
a b c d Keterangan: : bagian fresh : bagian lapuk a,b,c, d : ukuran lapuk (cm)
p a n ja n g lebar Pengolahan Data
41 Dari tiap fraksi ini akan didapat hasil pengukuran berupa tebal lapuk (lapukan yang masih menempel pada boulder setelah diambil dari front), dimensi (panjang dan lebar) boulder. Untuk kriteria lapuk ditunjukkan dengan warna cokelat kemerahan, dan saat dipegang agak lunak, adapun sebelumnya boulder tersebut dibersihkan agar dapat diklasifikasikan apakah lunak ataupun segar. Setelah dilakukan perhitungan tebal pelapukan sampel dipisahkan kurang lebih 3 kg untuk tiap fraksi boulder tersebut dan kemudian dilakukan perhitungan kadar, dimana untuk tiap fraksi didapatkan satu nilai kadar. Sehingga dalam penelitian ini didapatkan 7 hasil analisis kadar.
3.3 Cut Off Grade (COG) dan Kadar Batas Pencampur
COG merupakan kadar batas minimum rata-rata suatu logam atau mineral dalam batuan yang masih memenuhi syarat-syarat keekonomian untuk ditambang. Adapun fungsi dari COG ini yaitu untuk membedakan blok - blok bijih dengan blok-blok waste dalam suatu perhitungan cadangan (sebagai garis delineasi yang memisahkan antara waste dan ore). Adapun besarnya nilai dari COG ini dipengaruhi oleh biaya operasi penambangan dan harga bijih di pasaran. Apabila nilai COG naik maka tonase bijih akan turun dan sebaliknya jika nilai COG turun maka jumlah tonase akan naik, sebab makin banyak bijih yang layak secara ekonomis untuk ditambang.
Selain COG pada perusahaan ditentukan juga kadar batas pencampur, dimana kadar batas ini merupakan kadar batas minimum yang masih dapat ditambang untuk dicampur dengan kadar yang lebih tinggi guna memenuhi permintaan akan bijih. Banyaknya tonase yang dibutuhkan sebagai bahan pencampur tergantung dri kebijakan quality control yang dilakukan.