1 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Mata kuliah kerja praktek ini bertujuan untuk melatih mahasiswa agar dapat menerapkan ilmu yang didapat dari perkuliahan ke dalam pekerjaan proyek nyata di lapangan. Hal ini menjadi penting karena sering kali kenyataan pekerjaan dan pelaksanaan proyek di lapangan berbeda dengan teori-teori yang diberikan di dalam kelas perkuiahan. Mahasiswa juga diharapkan mendapat pengalaman berharga dan mampu menambah wawasannya akan pekerjaan proyek yang diawasinya dengan terjun langsung ke lapangan.
1.1.1. Latar Belakang Pemilihan Kerja Praktik
Proyek yang dipilih adalah proyek pembangunan Gedung Graha Wiyata Tahap Kedua Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yang berlokasi di Sekip, Komplek Universitas Gajah Mada, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dimana jadwal proyek pembangunan dimulai dari tanggal 25 Mei 2009 dan akan selesai pada tanggal 12 september 2009 dengan total pelaksanaan proyek direncanakan 110 hari kalender. Graha Wiyata FK UGM ini berdiri di atas lahan seluas 2.851,50 m2 dengan luas bangunan 3628,8 m2 yang terdiri atas 3 lantai. Pemilihan Proyek Pembangunan Gedung Graha Wiyata Tahap kedua dan
2 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap pemilihan pekerjaan Pintu Jendela dan Dinding Partisi ini dipilih karena merupakan salah satu proyek yang kompleks dan memiliki persentase pekerjaan hingga 25 persen dari keseluruhan pekerjaan finishing pada Proyek ini, sehingga tujuan praktikan untuk mempelajari dan melihat lebih dalam dan detail mengenai tahap pelaksanaan pekerjaan pintu jendela dan dinding partisi dapat terpenuhi.
Dalam pelaksanaanya praktikan memilih Proyek Pembangunan Graha Wiyata FK UGM Tahap kedua sebagai obyek kerja praktik. Pemilihan ini didasarkan pada kompleksitas yang terdapat pada proyek ini, dimana proyek ini berdiri di atas lahan yang cukup luas 2852 m2 dengan elevasi bangunan yang mencapai 3 lantai sehingga pada pengerjaannya banyak diterapkan sistem manajemen, metode pengerjaan, peralatan yang digunakan, tenaga kerja dan bahan yang cukup mutakhir setidaknya untuk cakupan DIY. Proyek ini diadakan oleh pihak Swasta dan fungsi bangunannya yang diperuntukkan bagi orang banyak pada umumnya dan mahasiswa kedokteran UGM khususnya, semakin menambah nilai positif obyek sebagai lokasi yang cocok untuk Kerja Praktik.
1.1.2. Latar Belakang Pemilihan Materi dan Lokasi.
Dalam pemilihan pekerjaan di proyek ini, praktikan memilih topik bahasan pengawasan dan pelaksanaan pekerjaan rangka dan penutup atap, karna praktikan memiliki pengetahuan dan minat khusus dalam bidang
3 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap finishing serta detail arsitektural terlebih pada rangka dan penutup atp. Dalam kerja praktik ini praktikan juga ingin memahami latar belakang pemilihan bahan dan alasan penggunaan bahan khususnya pada pekerjaan rangka dan penutup atap. Praktikan juga igin mengetahui cara pemasangan, dan manajemen pekerja yang diatur dalam waktu tertentu dalam rangkaian proses pekerjaan rangka dan penutup atap pada bangunan bertingkat.
1.2. RUMUSAN PERMASALAHAN
Pengamatan teknis pelaksanaan pekerjaan rangka dan penutup atap pada Pembangunan Graha Wiyata Tahap II FK UGM khususnya pada pekerjaan atap mulai dari proses awal shop drawing hingga proses grouting pada bangunan. Permasalahan dalam pekerjaan yang dapat diamati diantaranya adalah:
1.Pemilihan bahan material rangka dan penutup atap.
2.Proses dan cara pemasangan rangka dan penutup atap.
3.Permasalahan yang muncul saat pelaksanaan pekerjaan rangka dan penutup atap.
1.3. TUJUAN DAN SASARAN
1.3.1. Tujuan
Tujuan pemilihan Kerja Praktik Pengawasan dan Pelaksanaan dengan bentuk pekerjaan Rangka dan Penutup Atap, yaitu karena dalam time schedule
4 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap proyek yang sedang diamati, pekerjaan ini memiliki bobot tinggi yaitu hingga 25 persen dari keseluruhan pekerjaan proyek.
1.3.2. Sasaran
Mahasiswa memahami secara detail tahap pelaksanaan pekerjaan Rangka dan Penutup Atap serta membandingkan antara teori dengan realitas yang ada di lapangan, dalam hal ini dapat berupa manajemen waktu, pemilihan bahan, cara cara yang dilakukan dalam pekerjaan tersebut.
1.4. BATASAN
Dalam pelaksanaannya masalah akan dibatasi pada pengamatan dan pembelajaran dalam lingkup pelaksanaan pekerjaan Rangka dan Penutup Atap, yang akan dilaksanakan dalam batasan waktu yang direncanakan pada time schedule, yaitu 6 minggu terhitung mulai pada minggu kelima bulan Juni. Pengamatan juga dilakukan hingga finishing atap yang diperkirakan menggunakan satu minggu setelah pekerjaan berjalan enam minggu.
1.5. METODA
Dalam kerja praktik ini praktikan menggunakan metode dalam setiap tahapan sebagai berikut:
(1) Mengenali Lokasi Proyek, dengan metode observasi lapangan.
5 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap (3) Melakukan Pengamatan di lapangan dengan tahap-tahap berdasarkan
masukan dan bimbingan dari pembimbing praktikan di lapangan disertai kepustakaan. Dengan metode wawancara
(4) Mencatat dan merekam tahap-tahap secara teknis Rangka dan Penutup Atap. Dengan metode dokumentasi dan wawancara.
(5) Melakukan pemeriksaan kembali pada pekerjaan disesuaikan dengan ketentuan dari pembimbing praktikan di lapangan dan shop drawing. Dengan metode analisis data.
(6) Mengkomunikasikan hasil rekaman dan catatan praktikan kepada pembimbing praktikan di lapangan untuk kemudian dilakukan evaluasi.
a) Aneka Alat (1) Meteran (2) Kamera b) Teknik (1) Pengamatan (2) Kepustakaan (3) Referensi (4) Evaluasi (5) Konklusi
6 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
1.6. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
BAB I. Pendahuluan
Menguraikan tentang latar belakang pemilihan topik tersebut, jenis kerja praktik, pekerjaan dan nama proyek yang dipilih, tujuan dan sasaran yang akan dicapai dari pemilihan macam kerja praktik serta materi yang diamati/direncanakan/distudi. Selain itu juga menguraikan metoda/cara yang digunakan serta hal-hal apa saja yang harus didapatkan selama proses di lapangan.
BAB II. Kajian Teori
Berisi tentang teori-teori yang ada mengenai tahap pekerjaan pintu jendela dan dinding partisi pedoman yang benar sehingga dapat dibandingkan dengan hasil studi yang didapatkan di lapangan
BAB III. Pelaksanaan Proyek.
Mencatat dan Memilih data yang ada di lapangan dengan dokumentasi,pencatatan lansung dari hasil tanya jawab di lapangan, untuk nantinya dianalisa.
BAB IV. Analisis.
Berisi tentang potensi dan pemasalahan yang timbul pada waktu pelaksanaan pekerjaan pintu jendela dan dinding partisi yang diamati dari segi waktu, tenaga kerja, bahan dan hasil yang diperoleh. Menguraikan
7 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap data-data yang didapatkan selama pelaksanaan Kerja Praktik baik data primer maupun data sekunder. Kemudian dilakukan pembahasan mendetail terhadap data-data yang didapatkan di lapangan. Menuliskan hal-hal baru yang ditemukan dalam proses analisis baik hal-hal yang sesuai maupun hal-hal yan tidak sesuai dengan teori dan aturan yang berlaku.
BAB V. Kesimpulan dan Saran.
Berisi kesimpulan dari keseluruhan proses pembahasan yang dilakukan pada bab sebelumnya, yang merupakan jawaban permasalahan yang dirumuskan dengan disertai saran yang membawa perbaikan dan perkembangan. Memberikan penemuan dan saran terhadap beberapa analisis yang dibuat, dan dicocokan dengan teori yang telah lebih dahulu ada.
8 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
BAB II
TINJAUAN UMUM PROYEK
2.1. SPESIFIKASI PROYEK
Nama Proyek Pembangunan Gedung Graha Wiyata Tahap II Fakultas Kedokteran UGM.
Lokasi Proyek Dusun Sekip, Komplek UGM, Kabupaten Sleman, DIY
Pemilik Fakultas Kedokteran UGM.
Penanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Pemukiman
Kontraktor PerseroPT. Bumi Mas Perdana
Perencana CV. Pola Data
Konsultan MK CV. Cahyo Seto
Fungsi Bangunan Gedung Program Internasional Fakultas Kedokteran UGM
9 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Jumlah Lantai 3 lantai
Tahun Anggaran 2009
Nilai Proyek Rp. 5.393.093.000,00
Luas Bangunan 3628,8 m2
Luas Lahan 2851,5 m2
Waktu Pelaksanaan 110 hari (Mei – September)
2.2. ORGANISASI PROYEK
Organisasi proyek pada Pembangunan Gedung Graha Wiyata Tahap II Fakultas Kedokteran UGM terdiri atas :
Pemberi Tugas
Perencana
Pengawas
Pelaksana
2.2.1. Pemberi Tugas
Pemberi tugas adalah seseorang atau lembaga badan usaha milik pemerintah ataupun milik swasta yang memberikan pekerjaan dan akan membayar hasil pekerjaan sesuai dengan perjanjian yang telah ditentukan.
10 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Dalam proyek ini yang bertindak sebagai pemberi tugas adalah Fakultas Kedokteran Univesitas Gadjah Mada Yogyakarta
Tugas dan Wewenang :
Menyediakan dana yang dibutuhkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan proyek.
Memberi tugas kepada perencana, pelaksana dan pengawas.
Memberi keputusan mengenai adanya perubahan pekejaan, tambah ataupun kurang.
Menerima laporan kemajuan proyek dari pelaksana.
Menerima pekerjaan yang telah diselesaikan oleh pelaksana.
2.2.2. Perencana
Perencana adalah seseorang atau lembaga badan usaha milik pemerintah ataupun milik swasta yang membuat perencanaan lengkap suatu pekerjaan pembangunan. Pada proyek ini yang bertindak sebagai perencana yaitu CV. POLA DATA CONSULTANT yang beralamat di Jl. Ponpes Sunan Ampel No 02, Banjeng, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.
11 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Membuat rencana lengkap, meliputi gambar bestek, rencana kerja dan
syarat-syarat, perhitungan struktur serta perencanaan anggaran dan biaya.
Melakukan perubahan perencanaan dalam kaitannya dengan permasalahan di lapangan, disetujui oleh pengawas dan pemilik proyek.
Memberikan saran, usulan dan pertimbangan kepada pengawas dan pelaksana apabila terjadi permasalahan di lapangan.
Menghadiri rapat evaluasi dan koordinasi pengelola proyek.
2.2.3. Pengawas
Pengawas adalah seseorang atau lembaga badan usaha milik pemerintah ataupun milik swasta yang ditunjuk oleh pemilik proyek untuk mengadakan pemeriksaan, pengawasan jalannya proyek dan pengawasan kualitas dan kuantitas hasil pekerjaan. Pada proyek ini, yang bertugas sebagai pengawas adalah CV. CAHYO SETO, yang bealamat di Jl. Nasaret No 12, Sengkan, Joho, Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta. 55283. Tlp/hp: (0274)888752 / 0816686029.
Tugas dan wewenang ;
Mengadakan pengujian terhadap bahan atau material yang digunakan unuk melaksanakn pekerjaan.
12 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Memberikan bimbingan kepada pelaksana agar pekerjaan dapat selesai
tepat pada waktunya dengan kualitas sesuai dengan ketentuan dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat.
Mengawasi pelaksanaan pekerjaan agar tidak menyimpang dari RKS.
Segera memberitahukan bila terjadi penyimpangan di lapangan dan menyarankan metode pelaksanaan untuk mencapai hasil sesuai dengan RKS.
Membantu laporan harian dan mingguan tentang kemajuan pekerjaan lengkap dengan kualitas yang tercapai.
2.2.4. Pelaksana
Pelaksana adalah seseorang atau lembaga badan usaha milik pemerintah ataupun milik swasta yang menerima dan menyelenggarakan pekerjaan sesuai biaya yang tersedia dan melaksanakan sesuai dengan peraturan dan gambar-gambar rencana yang ditetapkan. Pada proyek ini yang bertindak sebagai pelaksana atau kontraktor utama adalah PT. BUMI MAS PERDANA yang beralamat di Jl. Pahlawan No 1, Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. 56254. Telp (0293)596205, 596829 Fax. (0293)596575.
Tugas dan wewenang :
Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar-gambar rencana, peraturan dan syarat-syarat.
13 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Membuat gambar kerja sebelum memulai pekerjaan, untuk memudahkan
pelaksanaan maupun pengawasan.
Menghadiri rapat koordinasi pengelola proyek.
Membuat laporan kemajuan pekerjaan yang harus disetujui oleh pengawas.
Selalu berkonsultasi dan memberitahukan masalah yang timbul di lapangan kepada perencana dan pengawas.
Menyelesaikan dan menyerahkan hasil pekerjaan.
2.2.5. Sub Kontraktor
Sub kontraktor adalah perusahaan yang ditunjuk pelaksana utama untuk menjadi bagian dari kontraktor yang khusus menangani pengadaan material, tenaga kerja untuk pekerjaan tertentu dalam proyek yang telah diatur oleh pelaksana utama (Main Contractor).
2.3. HUBUNGAN KERJA ANTAR UNSUR PENGELOLA PROYEK
Hubungan antara unsur pengelola proyek yaitu berdasarkan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya, baik secara teknis maupun secara administrative yaitu sebagai berikut :
1. Antar Pemilik Proyek dan Perencana.
14 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Perencana ke Pemilik proyek : Menyerahkan Produksi berupa hasil
pekerjaan.
Pemilik poyek ke Perencana : Memberikan imbalan jasa atau biaya perencanaan.
2. Antara Pemilik dan Pelaksana.
Ikatan : Kontrak
Pelaksana ke Pemilik proyek : Menyerahkan produksi berupa hasil pekerjaan.
Pemilik proyek ke Pelaksana ; Memberikan biaya pelaksanaan pekerjaan.
3. Antara pengawas dan pelaksana
Ikatan : Kontrak
Pelaksana ke Pengawas : Memberikan realisai pelaksanaan proyek.
Pengawa ke Pelaksana : Memberikan Persyaratan pelaksanaan.
4. Antara pemilik Proyek dan Pengawas.
Ikatan : Kontrak
Pemilik proyek ke Pengawas : Memberikan imbalan Jasa pengawasan proyek.
15 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Pengawas ke Pemilik Proyek : Melakukan pengawasan terhadap
proyek.
2.4. HUBUNGAN KERJA PENGELOLA PROYEK
Keterangan:
1. Kontrak 6. Pelaksanaan
2. Hasil Perencanaan 7. Biaya Pelaksanaan.
3. Biaya perencanaan A. Konsultasi
4. Pengawasan B. Persyaratan
5. Biaya pengawasan. C. Pelaksanaan. PEMBERI TUGAS Fakultas Kedokteran UGM KONTRAKTOR PT. BUMI MAS PERDANA PERENCANA CV. POLA DATA PENGAWAS CV. CAHYO SETO
Bagan 1. Bagan Hubungan kerja pengelola proyek. Sumber : RKS dan file Proyek.
1 2 3 1 1 1 4 5 6 7 B A C
16 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
2.5. STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN LAPANGAN
Proyek Pembangunan Gedung Grha Wiyata Tahap II
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Sekip Yogyakarta
PT BUMI MAS PERDANA
I. SONY ANDI G. Site Manager IFA Administrasi Umum OKTHREE MAHALYA Administrasi Proyek ROY OSCAR . B Site Engineer IYUS RUSMANA Penanggung Jawab ME ANTON HANJOYO Drafter MUH. ASMADI Pelaksana Asitektur BAMBA NG Pelaksan a Sipil FX. SUMIYAR DI Pelaksana ZIART O Juru Ukur DANI ARIFIATO Logistik MANDOR
TENAGA KERJA TUKANG Bagan 2. Struktur organisasi pelaksana
lapangan
17 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
2.6. STRUKTUR ORGANISASI KONSULTAN PENGAWAS LAPANGAN
Proyek Pembangunan Gedung Grha Wiyata Tahap II
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Sekip Yogyakarta
CV. CAHYO SETO M. SUSENO Manager Proyek (Manajemen dan Sipil) MARDOKO K.S Pengawas Lapangan (Sipil) DANANG PAMUNGKAS Pengawas Lapangan (Arsitektur) LILIK KADARISMAN Koodinator (Koordinasi dan Arsitektur) SIHONO Administrasi Proyek NURAMINUDIN & RIYANTO Pengawas
Lapangan ( M & E ) Bagan 2. Struktur konsultan pengawas
lapangan.
18 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
BAB III
TINJAUAN TEORI RANGKA DAN PENUTUP ATAP
3.1. ATAP
3.1.1. Pengertian Atap
Atap adalah bagian bangunan yang merupakan ‘mahkota ‘ mempunyai fungsi untuk menambah keindahan dan sebagai pelindung bangunan dari panas dan hujan. Beberapa syrat yang harus yang harus dipenuhi untuk pekerjaan atap adalah :
Harus serasi dengan bentuk bangunannya sehingga dapat menambah keindahan dari bangunan
Dibuat dengan kemiringan sedemikian, sehinga air hujan dapat cepat meninggalakan atap bangunan
Harus dibuat dari bahan yang tahan dan tidak mudah rusak oleh pengaruh cuaca, panas dan hujan
19 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
3.1.2. Bentuk Atap
Macam-macam bentuk atap yang banyak dipakai pada bangunan adalah sebagai berikut :
Atap pelana
Gambar 1. Struktur Atap Sederhana Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
20 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Atap joglo
Atap gergaji
Gambar 2. Atap Pelana Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G.
Tamrin
Gambar 3. Atap Joglo Tanpa Soko Guru Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
21 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Atap limasan
Atap patah Atap jengki
Gambar 4. Atap Gegaji Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G.
Tamrin
Gambar 5. Atap Limasan
22 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Atap runcing Atap kerucut Atap peluru Atap ½ lingkaran Atap perisai Atap miring Atap datar Atap tenda 3.2. BAGIAN-BAGIAN ATAP
Bagian-bagian atap terdiri atas; kuda-kuda, ikatan angin, jurai, gording, sagrod, bubungan, usuk, reng, penutup atap, dan talang.
3.2.1. Kuda-Kuda
Konstruksi kuda-kuda ialah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya. Kuda-kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap. Struktur ini termasuk dalam klasifikasi struktur framework (truss). Umumnya kuda-kuda terbuatdari kayu, bambu, baja, dan beton bertulang. Kuda-kuda kayu digunakan sebagai pendukung atap dengan bentang maksimal sekitar 12 m. Kuda-kuda bambu pada umunya mampu mendukung beban atap sampai dengan 10 meter, Sedangkan kuda-kuda baja
23 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap sebagai pendukung atap, dengan sistem frame work atau lengkung dapat mendukung beban atap sampai dengan bentang 75 meter, seperti pada hanggar pesawat, stadion olah raga, bangunan pabrik, dll. Kudakuda dari beton bertulang dapat digunakan pada atap dengan bentang sekitar 10 hingga 12 meter. Pada kuda-kuda dari baja atau kayu diperlukan ikatan angin untuk memperkaku struktur kuda-kuda pada arah horisontal.
Pada dasarnya konstruksi kuda-kuda terdiri dari rangakaian batang yang selalu membentuk segitiga. Dengan mempertimbangkan berat atap serta bahan dan bentuk penutupnya, maka konstruksi kudakuda satu sama lain akan berbeda, tetapi setiap susunan rangka batang harus merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh yang nantinya mampu memikul beban yang bekerja tanpa mengalami perubahan. Kuda-kuda diletakkan diatas dua tembok selaku tumpuannya. Perlu diperhatikan bahwa tembok diusahakan tidak menerima gaya horisontal maupun momen, karena tembok hanya mampu menerima beban vertikal saja. Kuda-kuda diperhitungkan mampu mendukung beban-beban atap dalam satu luasan atap tertentu. Beban-beban yang dihitung adalah beban mati (yaitu berat penutup atap, reng, usuk, gording, kuda-kuda) dan beban hidup (angin, air hujan, orang pada saat memasang/memperbaiki atap).
Kuda-kuda adalah bagian yang memberikan bentuk kepada atapnya dan sekaligus berfungsi sebagai pendukung penutup atap. Konsturksi kuda-kuda dapat dibuat dari rangka baja, beton, atau kayu. Kuda-kuda di buat dengan
24 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap caramerangkaikan beberapa batang yang dibentuk menjadi suatu konsturksi rangka batang, dengan bentuk dasar segitiga.
A. Bagian Dari Kuda-Kuda Adalah Sebagai Berikut :
Keterangan: a. Balok tarik b. Balok kunci c. Kaki kuda-kuda d. Tiang gantung e. Batang Sokong f. Balok Gapit g. Balok Bubungan h. Balok Gording i. Balok Tembok
j. Balok bubungan miring
k. Balok tunjang
l. Tiang Pincang
m. Balok Pincang Gambar 6. Batang-Batang Konstruksi
Kuda-Kuda
25 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
1) Kaki kuda-kuda :
Yaitu batang miring yang membentuk sudut kemiringan atap, berfungsi sebagai tumpuan balok gording dan beban diatasnya. Pada kaki kuda-kuda bagian bawah akan timbul gaya horizontal dan gaya vertical yang harus ditahan oleh tembok pendukungnya.
2) Balok datar (Bim balk) :
Yaitu batang datar atau batang tarik yang menahan gaya horizontal yang timbul oleh adanya gaya yang bekerja pada kaki kuda-kuda, sehingga tembok hanya menahan gaya vertikal saja.
3) Balok penggantung (Hanger) :
Yaitu batang tegak untuk menahan lenturan yang akan terjadi pada batang datar, disebut juga sebagai tiang kuda-kuda atau tiang gantung atau makelar.
4) Balok penykong (Skoor) :
Yaitu batang yang berfungsi untuk menyokong kaki kuda-kuda agar tidak melentur oleh beban gording.
5) Balok gapit :
Yaitu dua batang kayu yang dipasang menggapit rangka kuda-kuda agar tidak melentur kesamping.
26 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Kuda-kuda dipasang setiap jarak 3 m atau kurang agar pemakaian ukuran kayu gordingnya tidak terlalu besar. Jarak 3 m ini juga untuk menyesuaikan dengan jarak kolom-kolmnya, sehingga kuda-kuda dapat diletakan di atas kolom ini.
B. Tipe Kuda-Kuda a) Tipe pratt
b) Tipe howe
c) Tipe fink
Gambar 7. Kuda-Kuda Tipe Pratt Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G.
Tamrin
Gambar 8. Kuda-Kuda Tipe Howe Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 9. Kuda-Kuda Tipe Fink Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
27 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap d) Tipe bowstring
e) Tipe sawtooth
f) Tipe waren
C. Bentuk-Bentuk Kuda-Kuda.
Berikut bentuk kuda-kuda berdasarkan bentang kuda-kuda dan jenis bahannya, yaitu:
a. Bentang 3-4 Meter
Gambar 10. Kuda-Kuda Tipe Bowstring Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 11. Kuda-Kuda TipeSawtooth Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G.
Tamrin
Gambar 12. Kuda-Kuda Tipe Waren Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
28 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Digunakan pada bangunan rumah bentang sekitar 3 s.d. 4 meter, bahannya dari kayu, atau beton bertulang.
b. Bentang 4-8 Mater
Untuk bentang sekitar 4 s.d. 8 meter, bahan dari kayu atau beton bertulang.
c. Bentang 9-16 Meter
Untuk bentang 9 s.d. 16 meter, bahan dari baja (double angle). Gambar 13. Kuda-Kuda Bentang 3-4 Meter
Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 14. Kuda-Kuda Bentang 4-8 Meter Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
29 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
d. Bentang 20 Meter
Bentang maksimal sekitar 20 m, Bahan dari baja (double angle) dan Kuda-kuda atap sebagai loteng, Bahan dari kayu
e. Kuda-Kuda Baja Profil Siku
f. Kuda-Kuda Gabel Profil WF
Gambar 15. Kuda-Kuda Bentang 9-16 Meter Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 16. Kuda-Kuda Bentang 20 Meter Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 17. Kuda-Kuda Baja Profil Siku-Siku Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
30 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
3.2.2. Gording
Gording membagi bentangan atap dalam jarak-jarak yang lebih kecil pada proyeksi horisontal. Gording meneruskan beban dari penutup atap, reng, usuk, orang, beban angin, beban air hujan pada titik-titik buhul kuda-kuda. Gording berada di atas kuda-kuda, biasanya tegak lurus dengan arah kuda-kuda. Gording menjadi tempat ikatan bagi usuk, dan posisi gording harus disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia. Gording harus berada di atas titik buhul kuda-kuda, sehingga bentuk kuda kuda sebaiknya disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia.
Bahan- bahan untuk Gording, terbuat dari kayu, baja profil canal atau profil WF. Pada gording dari baja, gording satu dengan lainnya akan dihubungkan dengan sagrod untuk memperkuat dan mencegah dari terjadinya pergerakan. Posisi sagrod diletakkan sedemikian rupa sehingga mengurangi momen maksimal yang terjadi pada gording.
Gording kayu biasanya memiliki dimensi; panjang maksimal 4 m, tinggi 12 cm dan lebar 10 cm. Jarak antar gording kayu sekitar 1,5 s.d. 2,5 m. Gording
Gambar 18. Kuda-Kuda Gabel Profil WF Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
31 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap dari baja profil canal (Iight lip channel) umumnya akan mempunyi dimensi; panjang satu batang sekitar 6 atau 12 meter, tinggi antara 10 s.d. 12 cm dan tebal sekitar 2,5 mm. Profil WF akan memiliki panjang 6 s.d. 12 meter, dengan tinggi sekitar 10 s.d. 12 cm dan tebal sekitar 0,5 cm.
3.2.3. Jurai
Pada pertemuan sudut atap terdapat batang baja atau kayu atau framework yang disebut jurai. Jurai dibedakan menjadi jurai dalam dan jurai luar.
3.2.4. Sagrod
Sagrod adalah batang besi bulat terbuat dari tulangan polos dengan kedua ujungnya memiliki ulir dan baut sehingga posisi bisa digeser (diperpanjang/diperpendek).
3.2.5. Usuk/kaso
Usuk berfungsi menerima beban dari penutup atap dan reng dan meneruskannya ke gording. Usuk terbuat dari kayu dengan ukuran 5/7 cm dan panjang maksimal 4 m. Usuk dipasang dengan jarak 40 s.d. 50 cm antara satu dengan lainnya pada arah tegak lurus gording. Usuk akan terhubung dengan gording dengan menggunakan paku. Pada kondisi tertentu usuk harus dibor dahulu sebelum dipaku untuk menghindari pecah pada ujung-ujung usuk.
32 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Reng berupa batang kayu berukuran 2/3 cm atau 3/5 cm dengan panjang sekitar 3 m. Reng menjadi tumpuan langsung penutup atap dan meneruskannya ke usuk/kaso. Pada atap dengan penutup dari asbes, seng atau sirap reng tidak digunakan. Reng akan digunakan pada atap dengan penutup dari genteng. Reng akan dipasang pada arah tegak lurus usuk dengan jarak menyesuaikan dengan panjang dari penutup atapnya (genteng).
3.2.7. Penutup atap
Penutup atap adalah elemen paling luar dari struktur atap. Penutup atap harus mempunyai sifat kedap air, bisa mencegah terjadinya rembesan air selama kejadian hujan. Sifat tidak rembes ini diuji dengan pengujian serapan air dan rembesan.
Struktur penutup atap merupakan struktur yang langsung berhubungan dengan beban-beban kerja (cuaca) sehingga harus dipilih dari bahan-bahan yang kedap air, tahan terhadap perubahan cuaca. Struktur penutup yang sering digunakan antara lain; genteng, asbes, kayu (sirap), seng, polycarbonat, plat beton, dan lain-lain.
a. Genteng
Menurut bahan material terdapat genteng beton dan genteng tanah liat (keramik). Sedangkan menurut bentuknya, genteng terdiri atas genteng biasa (genteng S), genteng kodok, genteng pres silang. Sedangkan untuk bentuk
33 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap genteng karpus terdiri atas genteng setengah lingkaran, genteng segitiga, dan genteng sudut patah.
½ Lingkaran Segitiga Sudut Patah
Gambar 19. Genteng Biasa (Genteng S) Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 20. Genteng Kodok Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 21. Genteng Pres Silang Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 22. Macam Bentuk Genteng Bubungan Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
34 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Gambar 23. Potongan Pemasangan Genteng S Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 24. Tampak Muka Pemasangan Genteng S Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
35 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
b. Sirap
Bahan sirap adalah akyu keras yang banyak terdapat di hutan-hutan Kalimantan, yang dibuat menjadi lembaran-lembaran tipis dengan ukuran 8 X 60 cm2.
c. Asbes gelombang
Gambar 25. Pemasangan Genteng Bubungan (Karpus) Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
Gambar 26. Penutup Atap Sirap Sumber. Teknik KBG Jilid 2, A.G. Tamrin
36 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Keuntungan asbes gelombang sebagai penutup atap adalah mudah dan cepat pemasngannya karena tidak memerlukan usuk dan reng, yaitu lagsung diletakan pad balok gording. Kejelekan asbes apabila terjadi keretakan atu kerusakan , maka harus menganti dengan lembaran baru, juga bukan isolasi panas yang baik, sehingga ruangan di bawah atap asbesakan menjadi panas.
Bahan penutup atap lain yang mempunyai ukuran besar adalah : seng logam, seng fibre glass, kaca, dan lain-lain.
3.3. BENTUK ATAP BANGUNAN BERTINGKAT
Bentuk atap untuk bangunan bertingkat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
Atap datar Atap sudut
3.3.1. Atap Datar
Atap datar umumnya dibuat dari beton bertulang kedap air, yaitu di buat dari campuran 1 semen : 1 ½ pasir : 2 ½ kerikil + air, diberi tulangan rangkap atas bawah. Tulangan atas berfungsi sebagai tulangan susut untuk mencegah retak-retak pada permukaan beton akibat terkena sinar matahari, sedang tulangan bawah berfungsi sebagai tulangan konstruksi untuk menahan lenturan. Tulangan atas bawah masing-masing dipasang bersilang, diametertulangan
37 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap susut minimum 6 mm dan diameter tulangan konstruksi minimum 8 mm. plat atap harus dibuat dengan tebal minimum 7 cm atau lebih.
Untuk mencegah retak-retak pada bidang permukaan dan juga mencegah korosi betonnya, dapat diberikan lapisan pelindung pada seluruh permukaan atap. Lapis pelindung ini dapat berupa :
Pelesteran kera 1 semen : 2 pasir, yang dibuat kasar agar tidak licin, agar indah dapat ditutup tegel galar atau jenis ubin lainnya.
Cairan pekat seperti aspal ‘water proofing’ dengan diberi tebaran pasir.
Keuntungan atap beton:
Di atasnya dapat dipakai unutk ruangan serba guna, seperti gudang, tempat jemuran, ruang mesin, bak air.
Konstruksi atap menjadi satu dengan rangka portalnya, menambah sifat kaku dari bangunan, sehingga tahan terhadap gaya horizontal, oleh angin atau gempa.
Karena tahan api, maka dapat mencegah menjalarnya api yang dating dari arah atas kedalam ruangan di bawahnya.
3.3.2. Atap Sudut
Atap sudut atau atap bersudut adalah atap yang mempunyai kemiringan, sehingga membentuk suatu sudut dengan rangka bangunannya.
38 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Ditinjau dari besarnya sudut kemiringan, atap sudut dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Atap landai
Atap landai dapat menggunakan penutup atap dengan lembaran-lembaran besar, seperti seng gelombang atau asbes. Untuk membentuk sudut kemiringan atap, dapat dibuat konstruksi rangka batang (kuda-kuda) dari kayu atau baja. Karena landai, maka tekanan angin yang diterima hanya kecil saja, hal ini akan menguntungkan terhadap kestabilan konstruksi. Atap landai dapat menggunakan penutup atap dengan lembaran-lembaran besar, seperti seng gelombang atau asbes. Untuk membentuk sudut kemiringan atap, dapat dibuat konstruksi rangka batang (kuda-kuda) dari kayu atau baja. Karena landai, maka tekanan angin yang diterima hanya kecil saja, hal ini akan menguntungkan terhadap kestabilan konstruksi.
2. Atap runcing
Atap runcing dapat memberih kesan megah dan anggun terhadap bagunannya. Pembuatan rangka atap membutuhkan lebih banyak dan luas, bidang atapnya juga lebih besar dibandingkan atap landai, jadi harga per satuan luas atap menjadi lebih mahal juga. Pengaruh tekanan angin pada bidang atap dan pengaruh gaya gempa tersa lebih besar, maka ukuran untuk konstruksi
39 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap pada rangka bangunannya harus juga diperhitungkan adanya momen oleh guling oleh angin dan tau gempa.
Makin tinggi tempat dari muka tanah, makin besar pula tekanan anginnya, maka untuk mencegah agar atap tidak terbang dihembus angin, dalam memasng kuda-kudanya tidak boleh hanya diletakan begitu saja, tapi harus diangker kuat atau dibegel pada klom pendukungnya.
Bahan penutup atap, terutama dari bahan yang ringan, sebaiknya dipaku atau diskrup pada batang tumpuannya, agar tidak mudah dihempas angin.
Kuda-kuda dari konstruksi rangka batang ‘vakwerk’ merupakan rangkaian batang-batang yang menjadi satu kesatuan yang kuat membentuk rangka atap. Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam membentuk konsruksi rangka batang adalah sebagai berikut ini :
1. Pada tiap titik buhul (titik simpul, titik sambung), garis sumbu batang dan garis kerja batang-batang harus bertemu pada suatu titik
Gambar 27. Perbedaan Tekanan Angin Pada Atap Sumber. KBG Bertingkat Rendah
40 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
2. Beban-beban pada rangka batang hanya boleh bekerja pada titik buhul. Beban yang bekerja pada batang antara dua titik buhul, harus dilimpahkan dulu ke titik-titik buhul yang terdekat. Berat sendiri rangka batang tidak diperhitungkan sebagai beban.
Gambar 28. Sambungan Titik Buhul Pada Kuda-Kuda Kayu Sumber. KBG Bertingkat Rendah
Ir. Ign. Benny Puspantoro, MSc
Gambar 29. Sambungan Titik Buhul Pada Kuda-Kuda Baja Sumber. KBG Bertingkat Rendah
41 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
3. Batang yang dipakai harus utuh dan lurus, agar garis sumbuhnya juga lurus. Batang yang cacat, rusak atau sudah rapuh, tidak boleh pakai, kareana ini dapat melemahkan kontruksi. Bila satu batang pada rangka patah, maka konstruksi batang tersebut akan runtuh.
4. Rangkaian batang harus selalu membentuk segitiga-segitiga supaya konstruksi stabil.
Gambar 30. Beban-Beban Pada Rangka Batang Sumber. KBG Bertingkat Rendah
Ir. Ign. Benny Puspantoro, MSc
Gambar 31. Rangka Batang Sumber. KBG Bertingkat Rendah
42 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
5. Titik buhul dianggap sendi tanpa mengalami deformasi (perubahan bentuk) dan perubahan panjang batang diabaikan, ketentuan ini hanya dipakai dalam hitungan saja.
3.3.3. Tinjauan Konstruksi
Ditinjau secarah utuh, pada konstruksi rangka batang tidak timbul momen dan gaya lintang pada batang tunggal. Pada rangka batang hanya perlu dihitung gaya-gaya normal (gaya tarik atau gaya desak) yang terjadi pada masing-masing batang.
Gambar 32. Bentuk Rangkaian Rangka Batang Sumber. KBG Bertingkat Rendah
Ir. Ign. Benny Puspantoro, MSc
Gambar 33. Deformasi Pada Rangka Batang Sumber. KBG Bertingkat Rendah
43 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Bahan untuk rangka atap dapat memakai : kayu, baja siku, baja profil I atau beton bertulang.
Keuntungan dan kerugian dari masing-masing bahan : 1. Kayu
Mudah didapat dari alam, sifat kenyal, elastis, kekuatan dan keawetannya tergantung dari umur kayu dan jenis kayu.
Mudah dikerjakan oleh tukang biasa dengan alat sederhana, dapat dibentuk berbagai model yang indah.
Harga relative murah, dank arena bahannya ringan dapat memperkecil ukuran konstruksi bangunan dan fondasinya.
Dapat terbakar dan mudah menjalarkan api dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Konstruksi harus terlindung dari panas dan hujan, agar tidak cepat lapuk.
Perlu diberi lapis pelindung agar tidak dimakan rayap, bubuk atau serangga kecil lain.
Sebaiknya untuk bentangan atap tidak lebih dari 12 m. 2. Baja :
Bahanya diperoleh dari hasil pabrik, mutu dan kekuatannya tergantung standar pabrik pembuatnya.
Sifat bahannya yang keras memerlukan alat khusus untuk pembuatannya, dibentuk di bengkel di poryek hanya tinggal pasang.
44 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Harga baja mahal, kekuatan baja besar, jadi hanya ekonomis unutk
bentangan besar dengan beban berat.
Oleh api dan panas yang tinggi, batang dapat terlentur, menggeliat dan leleh.
Oleh panas dan hujan, bahan dapat berkarat dan kropos, jadi perlu diberi lapis pengawat anti karat dan terlindung.
Gambar 34. Kuda-Kuda Baja Sumber. KBG Bertingkat Rendah
45 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Untuk bangunan bertingkat terutama yang mempunyai bentangan besar dengan beban atap yang berat, sebaiknya kuda-kuda mengunakan konstruksi rangka baja karena mempunyai kekuatan dan keandalan yang lebih tinggidari kayu.
Gambar 35. Bentuk Kuda-Kuda Rangka Sumber. KBG Bertingkat Rendah
46 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap 3. Beton Bertulang
Dibuat dari beton yang diberi tulangan, perlu waktu untuk pengerasn betonnya, mutunya tergantung cara pelaksanaannya.
Umumnya dibuat langsung di tempatdengan membuat cetakan-cetakan dari kayu, dapat dikerjakan dengan alat sederhana.
Harga relative masih murah disbanding umurnya yang tidak terbatas, setelah betonnya mengeras tidak perlu perawatan lagi.
Merupakan bahan yang tahan api, tidak dapat terbakar, tidak rusak oleh panas dan hujan, tahan zat kimia.
Dapat untuk landasan helicopter atau dipaki untuk keperluan lain ( ruang mesin, bak air, penthouse).
Gambar 36. Contoh Kuda-Kuda Rangka Beton Sumber. KBG Bertingkat Rendah
47 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
BAB IV
PELAKSANAAN PEKERJAAN RANGKA DAN PENUTUP ATAP
Setelah tahap-tahap pembuatan metode konstruksi, rencana kerja dan
rencana lapangan, maka tahap puncak dari tahap pelaksanaan adalah pelaksanaan di lapangan. Untuk setiap pekerjaan struktur, semua pekerjaan didasarkan atas gambar kerja ( shop drawing ). Pelaksanaan pekerjaan yang diamati selama di lokasi proyek adalah sebagai berikut :
4.1. Pekerjaan Rangka Atap
Pekerjaan rangka atap meliputi pekerjaan pemasangan: kuda-kuda, nok, Gording, ikatan angin vertikal, ikatan angin horisontal, sargod, konsol, plat jengger.
1. Pekerjaan Kuda-Kuda
Konstruksi kuda-kuda ialah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya. Kuda-kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap. Struktur ini termasuk dalam klasifikasi struktur framework (truss). Pada proyek pelaksanaan gedung Grha Wiyata FK UGM ini bahan kuda-kuda yang digunakan dari baja WF. Terdiri dari 7 bentuk kuda-kuda-kuda-kuda yaitu KK1, KK2, KK3, KK4, KK5, KK6, KK7.
48 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Gambar 37. KK1 Sumber. Gambar Penulis
Gambar 39. KK2 Sumber. Gambar Penulis POT 1
Gambar 38. DETAIL POT.1 KK1 Sumber. Gambar Penulis
49 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Gambar 41. KK3 Sumber. Gambar Penulis
Gambar 40. DETAIL POT.1 KK2 Sumber. Gambar Penulis
POT 1
Gambar 42. DETAIL POT.1 KK3 Sumber. Gambar Penulis
50 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Gambar 43. KK4 Sumber. Gambar Penulis
Gambar 44. KK5 Sumber. Gambar Penulis
Gambar 45. KK6 Sumber. Gambar Penulis
51 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap A. Alat dan Bahan
a) Alat
Alat-alat yang digunakan pada pekerjaan pemasangan kuda-kuda pada proyek ini, antara lain :
Alat las Kunci pas 28-25 Kunci shock 23-24 Meteran. Penggaris siku. Tali Palu Pensil. Water pas Gergaji Katrol Tabung gas
Alat pemotong baja b) Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada pekerjaan pemasangan kuda-kuda pada proyek ini, antara lain :
52 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Kuda-kuda K7, baja IWF profil 2C 200.75.20.3 Plat kopel baja 8 mm
Plat buhul baja 8 mm Plat baja untuk sambungan Baut 28 dan 23
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm) Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg
B. Tahapan pekerjaan
a) Pengangkutan kuda-kuda, bahan dan alat ke lokasi proyek
Pengangkutan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :
Dengan menggunakan lift barang, pada pekerjaan ini barang-barang yang diangkut hanya berupa bahan dan alat yang bobotnya ringan.
Dengan tenaga manusia, bahan-bahan yang diangkut sendiri oleh pekerja yaitu bahan baja yang bobotnya besar dengan dimensi yang besar.
b) Pekerjaan pengecatan rangka kuda.
Setelah bahan dan alat sudah berada di lokasi rangka kuda-kuda kemudian dilakukan pengecatan anti karat dengan Cat baja; Zinc Chormate Oktan 2 dan dicampur dengan Thinner.
53 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
c) Pekerjaan perangkaian kuda-kuda
Sebelum kuda-kuda dipasang terlebih dahulu kuda-kuda dirangkai dilantai bawah atap, rangka kuda-kuda sebelumnya sudah dirakit di bengkel kemudian dibawah ke lokasi proyek untuk dirangkai. Proses perangkaian kuda-kuda dimulai dari:
Rangka disusun sesuai dengan bentuk kuda-kuda yang akan dipasang. Pada setiap sambungan kuda-kuda dilakukan penyambungan dengan system baut.
KK 1, KK2 dan KK3
Untuk KK1, KK2 dan KK3 profile baja yang digunakan, kaki kuda-kuda baja profile 2L 80.80.8
skoor baja profile 2L 60.60.6 balok tarik baja profile 2L 70.70.7 Plat kopel tebal 8 mm tiap jarak 50 cm. Plat buhul tebal 10 mm.
Gambar 46. Pengecatan Sumber. Dokumentasi Penulis
54 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Diameter baut untuk profil L 80.80.8 dipakai Q 16 mm.
Diameter baut untuk profil L 70.70.7 dipakai Q 16 mm. Diameter baut untuk profil L 60.60.6 dipakai Q 12 mm. KK4, KK5 dan KK6
Untuk KK4, KK5 dan KK6 profile baja yang digunakan, kaki kuda-kuda baja profile 2L 60.60.6
skoor baja profile 2L 60.60.6 balok tarik baja profile 2L 60.60.6 Plat kopel tebal 8 mm tiap jarak 50 cm Plat buhul tebal 8 mm
Diameter baut untuk profil L 60.60.6 dipakai ø 12 mm
d) Pekerjaan menaikan kuda-kuda keatas atap
Setelah kuda-kuda dirangkai dibawah kuda-kuda kemudian dinaikan keatas atap pada alat yang digunakan untuk menaikan kuda-kuda keatap
Gambar 47. Perangkaian Kuda-Kuda Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 48. Pengancingan Baut Sumber. Dokumentasi Penulis
55 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap digunakan alat box trackel manual. Rangka kuda-kuda terlebih dahulu diikat pada rantai kemudian ditarik secarah manual dengan bantuan box trackel.
e) Pekerjaan pemasangan kuda-kuda
Pada pekerjaan pemasangan kuda-kuda, rangka kuda-kuda ditempatkan pada angkur yang terdedia, besi angkur merupakan tulangan dari kolom yang dilebihkan sebagai pengikat antara kuda-kuda dan dinding. Angkur kemudian ditempatkan pada plat dudukan kuda-kuda yang suda dilobangi, kemudian angkur dan plat dudukan kuda-kuda tersebut disambung dengan baut angkur 12mm. Jarak antara kuda-kuda 3,6 m.
Gambar 49. Box Trackel Sebagai Alat Bantu Pengangkut
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 50. Katrol Yang Dipasang Pada Boxtrackel
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 51. Pemasangan Kuda-Kuda Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 52. Detail Sambungan Antara Kuda-Kuda Dan Angkur
56 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
2. Pekerjaan pemasangan Ikatan Angin Vertikal (IAV)
Ikata Angin Vertikal berfungsi sebagai pengikat antar kuda-kuda. IAV dipasang setelah kuda-kuda telah terpasang.
A. Alat dan bahan a) Alat
Alat-alat yang digunakan untuk pemasangan IAV adalah sebagai berikut:
Alat las Kunci pas 28-25 Kunci shock 23-24 Meteran. Penggaris siku. Tali Palu Pensil. Water pas Gergaji Katrol Tabung gas
Alat pemotong baja Linggis
57 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Bahan-bahan yang digunakan pada pekerjaan pemasangan IAV antara lain :
IAV 1 baja WF profil 2L 60.60.6 IAV 2 baja WF profil 1L 60.60.6 Baut 12mm
Plat kopel T 8mm tiap jarak 50 cm Plat buhul T 8mm
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm) Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg
B. Tahapan pekerjaan a) Perangkaian IAV
Setelah semua bahan dan alat suda disiapkan dilantai atas maka dilakukan proses perangkaian IAV. IAV sudah dirakit terlebih dahulu di bengkel pada lokasi proyek tinggal dilakuakan perangkaian sesuai dengan gambar rencana.
b) Pekerjaan menaikan IAV ke atap.
Dilakukan secarah manual tanpa memakai box trackel. Kedua ujung IAV diikat dengan tali , pada ujung atas tali dililitkan pada rangka kuda-kuda kemudian tali tersebut ditarik untuk menaikan IAV.
58 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
c) Setelah IAV dinaikan pekerjaan selanjutnya yaitu pemasangan IAV . Pada masing-masing ujung IAV telah diberi plat penyambung yang berfungsi sebagai pengikat IAV dan kuda-kuda, setelah itu dilakukan pengelasan antara plat IAV dan rangka kuda-kuda.
3. Pekerjaan Pemasangan Balok Nok (Jurai Dan Balok Bubungan).
Pekerjaan pemasangan balok nok dipasang setelah pekerjaan pemasangan
kuda-kuda dan Ikatan Angin Vertikal telah selesai.
Gambar 53. IAV Dinaikan Untuk Dipasang Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 54. Pemasangan IAV Sumber. Dokumentasi Penulis
59 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
A. Alat dan Bahan
1. Alat.
Alat-alat yang digunakan pada pekerjaan pemasangan nok antara lain:
Alat las Meteran. Penggaris siku. Kunci pas 28-25 Kunci shock 23-24 Tali Palu Pensil. Water pas Katrol Tabung gas
Alat pemotong baja
Linggis
2. Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pekerjaan pemasangan balok nok antara
lain:
Nok baja WF profil 2C 200.75.20.3
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm)
Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg
Baut 12mm
60 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
a) Persiapan pemasangan.
Dua batang Baja profil C 200.75.20.3 dengan panjang 6m disatukan
dengan pengelasan setiap 30 cm. setiap jarak 50 cm dikasi baja tul sebagai penyambung antar kedua baja agar lebih kuat.
b) Pekerjaan menaikan balok nok ke atap.
Kedua ujung nok diikat dengan tali kemudian ujung atas tali dililitkan pada
rangka kuda-kuda kemudian ditarik.
Gambar 52. Pengelasan Penyatuan 2 Balok Baja Untuk Balok Nok
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 53. Detail Las Penyambungan Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 54. Tali Diikat Pada Kedua Ujung Konsol Untuk Ditarik Keatas Sumber. Dokumentasi Penulis
61 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
3. Pekerjaan pemasangan
Untuk pemasangan nok, pada ke empat sudut dinding sudah terpasang
angkur kemudian angkur tersebut di pasang plat baja sebagai sambungan/dudukan pada nok.
Kuda-kuda sebagai dudukan balok nok, pada pertemuan antara nok dan
kuda-kuda dilakukan pengelasan sebagai pengikat antara nok dan kuda-kuda.
Pada sambungan antar nok dilakukan dengan pengelasan.
Dudukan konsol pada angkur diberi plat baja yang berbentuk seperti
trapezium sebagai penyambung antar nok dan angkur. Gambar 55. Angkur Yang Dicor Dari Kolom
Sebagai Pengikat Nok Dan Dinding Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 56. Pertemuan Antara Titik Buhul Kuda-Kuda Dan Nok
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 57. Plat Baja Sebagai Sambungan Antar Kuda-Kuda Dan Konsol
62 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Pada angkur diberi plat baja segi empat sebagai dudukan plat penyambung,
diatas plat dipasang 2 plat penyambung baja L yang berlawanan, baut pada angkur dimasukan pada plat penymbung tersebut, untuk pengikatnya diberi plat baja trapezium pada sambungan plat dengan konsol dilakukan system pengelasan dan plat L dengan plat terapesium sambungan dilakukan dengan pengelasn dan baut.
4. Pekerjaan Pemasangan Gording
Gording membagi bentangan atap dalam jarak-jarak yang lebih kecil pada
proyeksi horisontal. Gording meneruskan beban dari penutup atap, reng, usuk, orang, beban angin, beban air hujan pada titik-titik buhul kuda-kuda. Gording berada di atas kuda-kuda, biasanya tegak lurus dengan arah kuda-kuda. Gording menjadi tempat ikatan bagi usuk, dan posisi gording harus disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia. Gording harus berada di atas titik buhul kuda-kuda, sehingga bentuk kuda-kuda sebaiknya disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia.
A. Alat dan bahan
a) Alat
Gambar 58.Peletakan Plat Penyambung Sebagai Pengikat Antara Angkur Dan Konsol
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 59.Pengelasan Antara Plat Trapezium Dan Konsol
63 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Alat-alat yang digunakan untuk pekerjaan gording antara lain:
Alat las Meteran. Penggaris siku. Kunci pas 28-25 Kunci shock 23-24 Tali Palu Pensil. Water pas Katrol Tabung gas
Alat pemotong baja
Linggis
b) Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan pada pekerjaan gording adalah
Gording baja C 200.75.20.3
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm)
Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg
Plat baja penyambung
B. Tahapan pemasangan
64 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Untuk memindahkan gording dari lantai bawah ke lantai atas dilakukan
dengan cara manual yaitu dengan tenaga manusia. Material gording sebelumnya
disiapkan dilantai atas untuk dilakukan pengecatan dan persiapan pemasangan.
b) Pengecatan
Sebelum gording dipasang terlebih dahulu dilakukan pengecatan anti karat. Cat
yang digunakan: cat baja zinkromat dicampur dengan thinner sebagai pengencer.
c) Pemasangan gording
Setelah gording sudah berada diatas atap dilakukan pemasangan gording.
Gording ditempatkan diatas kuda-kuda pada titik buhul kuda-kuda. Penyambungan Gambar 60.Material Gording Didatangkan Ke
Lokasi Proyek
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 61.Gording Dibawa Ke Lantai Atas Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 62. Cat Yang Sudah Dicampur Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 63. Tahap Pengeringan Gording Sumber. Dokumentasi Penulis
65 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap dilakukan dengan pengelasan. Pada titik buhul kuda-kuda diberi plat baja yang berfungsi sebagai pengikat dan dudukan gording, pertemuan antara gording dan jurai/nok pada ujung gording dilakukan pemotongan agar dapat dilakukan penyambungan. Sambungan antar gording dilakukan pengelasan dan diberi plat baja siku pada bagian dalam gording sebagai pengikat antar kedua gording. Penampang gording 20/8 dengan Panjang 6 M dan tebal 4mm.
5. Pekerjaan Pemasangan Ikatan Angin Horisontal (IAH)
IAH berfungsi sebagai pengikat antara kuda-kuda yang dipasang secara
horizontal. Panjang bentangan 6m.
Gambar 64. Pemasangan Gording Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 65.Detail Plat Dudukan Gording Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 66.Penyambungan Antara Gording Dan Jurai
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 67.Sambungan Pada Gording Dengan Plat Baja L
66 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
A. Alat dan bahan
a) Bahan
Bahan yang dibutuhkan dalam pekerjaan ikatan angin horizontal antara lain:
Baja tul 16mm
Panskrup
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm)
Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg
b) Alat
Alat-alat yang digunakan pada pekerjaan pemasangan IAH antara lain:
Alat las
Meteran.
Pensil.
Tabung gas
Alat pemotong baja
Alat pengancing panskrup
B. Cara pemasangan.
Masing-masing kuda-kuda pada kedua titik buhul bagian bawah terlebih
dahulu dipasang tul baja dengan panjang 65 cm pada ujungnya dibuat seperti kait yang berfungsi untuk mengaitkan panskrup,
setelah pengait panskrup dipasang selanjutnya yaitu pamasngan panskrup,
67 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Pada bagian atas masing-masing kuda-kuda dipasang baja tul dengan panjang
5,6 m dan pada ujungnya dibuat seperti kait sebagai pengait panskrup, kedua baja ini ditarik secara silang. Penyambungan dilakukan dengan pengelasan.
Tahap selanjutnya, baja tul yang telah dipasang ditarik secara menyilang ujung
baja pada kuda-kuda A dikatkan pada panskrup kuda-kuda B demikianpula sebaliknya.
Setelah itu dilakukan pengancingan pada panskrup.
6. Pekerjaan Pemasangan Sagrod.
Gambar 68.Pemasangan Panskrup Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 69.Pengancingan IAH Pada Panskrup Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 70.IAH Yang Telah Terpasang Sumber. Dokumentasi Penulis
68 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Sagrod berfungsi sebagai pengikat antar gording, Sagrod adalah batang besi
bulat terbuat dari tulangan polos dengan kedua ujungnya memiliki ulir dan baut sehingga posisi bisa digeser (diperpanjang/diperpendek). Panjang sagrod 1,6m, jarak masing sagrod 3m.
A. Alat dan bahan.
a) Alat
Alat yang digunakan dalam pekerjaan pemasangan sagrod adalah:
Alat las
Meteran.
Pensil.
Tabung gas
Alat pemotong baja
Kunci pas.
b) Bahan
Bahan yang dibutuhkan dalam pekerjaan pemasangan sagrod adalah:
Baja tul 12mm
Baut
Baja tul 16mm
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm)
Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg.
B. Cara pemasangan.
69 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Tulangan sagrod dimasukan kedalam lobang kedua gording.
Setelah itu dilakukan pengancingan dengan baut.
Ada dua cara penyambungan yaitu pengelasn dan baut
7. Pekerjaan Pemasangan Plat Jengger
Plat jengger merupakan plat baja profile L dengan tinggi 15cm, yang berfungsi
sebagai plat dudukan papan ruiter, plat ini ditempatkan diatas nok.
A. Alat dan bahan.
a) Alat
Alat-alat yang digunakan dam pekerjaan pemasangan plat jengger adalah:
Alat las
Meteran.
Pensil.
Tabung gas
Alat pemotong baja
b) Bahan
Gambar 71.Sargod Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 72.Penempatan Sargod Sumber. Dokumentasi Penulis
70 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap Bahan yang dibutuhkan dalam pekerjaan pemasangan plat jengger adalah
Plat baja porfil L
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm)
Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg.
B. Proses pemasangan
plat baja profil L dipotong dengan panjang 15cm
pada plat jengger dilobangi dengan dua titik lobang sebagai tempat
pemasangan paku.
plat jengger kemudian dipasang dengan jarak masing-masing 50 cm, plat
jengger ini dipasang secarah berlawanan dengan plat jengger lainnya. siku dalam plat dihadapkan kearah luar, setelah itu dilakukan pengelasan.
8. Pekerjaan Pemasangan Konsol
Konsol merupakan rangka yang berfungsi seperti kuda-kuda yang ditempatkan
pada atap tritisan.
A. Alat dan bahan.
a) Alat
Alat yang digunakan dalam pekerjaan konsol adalah:
Alat las
Tabung gas
Alat pemotong baja
71 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Linggis Meteran Pensil Waterpas Katrol Rantai besi b) Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pekerjaan pemasangan konsol adalah:
Konsol rangka baja WF profil 2L 60.60.6
Baut diameter 12mm
Timah las,(nikko steel welding elektroder, RD 260, 32x350mm)
Tabung gas; isi 30 kg dan 12 kg.
B. Proses pemasangan
Rangka konsol sebelunya sudah jadi dibengkel, pada lokasi proyek konsol
kemudian dipasang. Berikut ini proses pekerjaan pemasangan konsol:
Katrol sebagai pengangkat konsol disiapkan diatas atap
Gambar 73.Konsol
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 74.Alat Bantu Untuk Menaikan Konsol Sumber. Dokumentasi Penulis
72 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Konsol kemudian dililitkan pada rantai dari katrol
Setelah itu konsol kemudian ditarik keatas sampai pada tempat penempatan
konsol.
Konsol langsung ditempatkan pada angkur yang tersedia.
Setelah konsol sudah terpasang dengan baik dan lurus maka dlakukan
pengancingan antara angkur dan konsol dengan baut. Gambar 75. Konsol Dililitkan Pada Rantai
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 77. Pemasangan Konsol Sumber. Dokumentasi Penulis Gambar 76. Angkur
73 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
5.2. Pekerjaan Penutup Atap
Pekerjaan penutup atap terdiri dar pekerjaan; pemasangan papan ruiter,
pemasangan usuk, pemasangan alumunium foil, reng, genteng dan genteng bubungan.
1. Pekerjaan Pemasangan Papan Ruiter
Papan ruieter dipasang diatas nok yang berfungsi sebagai pertemuan antara
balok usuk.
A. Alat dan bahan
a) Alat
Alat yang digunakan dalam pekerjaan pemasangan papan jengger adalah
Palu
Gergaji
Pensil
Meteran
Gambar 79. Plat Baja L Sebagai Tambahan Pengikat
Sumber. Dokumentasi Penulis Gambar 78. Konsol Yang Telah Terpasang
74 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Golok/parang
b) Bahan
Bahan yang diguanakan dalam pekerjaan pemasangan plat jengger adalah:
papan jengger kayu jati 15/2 dengan panjang 3m
paku 5cm
B. Tahap pemasangan
papan ruiter ditempatkan digaris tengah konsol antara plat jengger, papan ruiter dipasang secarah berurutan dari bawah keatas.
Setelah itu dilakukan pemasangan, untuk lebih kuat dilakukan pemakuan
antar plat jengger dengan papan ruieter.
2. Pekerjaan Pemasangan Usuk.
A. Alat dan bahan.
a) Alat
Alat yang digunakan dalam pekerjaan pemasangan usuk antara lain:
Palu/hammar
Gambar 81. Detail Samb. Plat Jengger Dan Papan Ruiter
Sumber. Dokumentasi Penulis Gambar 80. Peletakan Papan Ruiter
75 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Gergaji
Meteran
Pensil
Linggis
b) Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pekerjaan pemasangan usuk.
Usuk 5/7 kayu panggire klas 1, panjang 4m
Bagel U baja
Paku 5cm dan 10cm
B. Tahapan pekerjaan
Bagel U dipaku pada usuk dengan jarak 1,4m dan 1,8 (mengikuti jarak
antargording)Bagel U dipasang pada penampang bawah usuk yang berfungsi sebagai pengait antara gording dan usuk.
Setelah bagel U terpasang pada usuk setelah itu usuk dipasang pada gording
dengan cara bagel U dikaitkan pada gording. Gambar 82. Bagel U
Sumber. Dokumentasi Penulis
Gambar 83. Bagel U Dipaku Pada Usuk Sumber. Dokumentasi Penulis
76 Laporan Kerja Praktek Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Rangka Dan Penutup Atap
Pada pertemuan antara usuk dan papan ruiter ujung pada usuk dipotong
miring agar dapa tersambung baik dengan papan ruiter, pada sambungan antar papan ruiter dan usuk dilakukan pemakuan.
3. Pekerjaan Pengecatan Anti Rayap Pada Usuk
Pengecatan anti rayap pada usuk dilakukan dua tahap, tahap pertama dilakukan
pada saat usuk belum terpasang. Dan pada tahap kedua pengecatan dilakukan setelah usuk terpasang.
A. Alat dan bahan
c) Alat
Alat-alat yang digunakan pada pekerjaan pengecatan anti rayap adalah
Kwas
Ember sebagai tempat campuran.
Gambar 85. Pertemuan Antara Usuk Dan Papan Ruiter
Sumber. Dokumentasi Penulis Gambar 84. Penempatan Bagel U Pada
Usuk