• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Penambahan Kitosan Nano Gel Terhadap Sifat Mekanis dan Stabilitas Warna Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Penambahan Kitosan Nano Gel Terhadap Sifat Mekanis dan Stabilitas Warna Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Chapter III VI"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian: eksperimental laboratories

Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah: Post test only

group desain.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Pada penelitian ini tempat pembuatan sampel dilakukan di tiga tempat yaitu:

a. Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara untuk kuring dan penghalusan sampel.

b. Unit UJI Laboratorium Dental Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Sumatera Utara untuk pembuatan dan pengisian mold.

c. Laboratorium Ilmu Dasar Kimia Universitas Sumatera Utara untuk

pembuatan kitosan nano gel.

Sedangkan tempat pengujian sampel juga dilakukan di tiga tempat yaitu:

a. Laboratorium Penelitian FMIPA Universitas Sumatera Utara untuk uji

kekuatan impak dan transversal.

b. Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara untuk

uji stabilitas warna.

c. Laboratorium Fisika Universitas Negeri Medan untuk melihat gambaran

morfologi permukaan bahan.

Waktu Penelitian dimulai dari bulan mei 2015 sampai dengan selesai.

3.3 Sampel dan Besar Sampel Penelitian 3.3.1 Sampel penelitian

Sampel pada penelitian ini adalah resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan

(2)

Dasar penelitian ini untuk penentuan persentase kitosan nano gel adalah dengan

didahului melakukan pra penelitian. Hasil penelitian sebelumnya (pra penelitian),

persentase kitosan nano gel yang bisa ditambahkan pada bahan basis gigi tiruan resin

akrilik polimerisasi panas adalah 0.25%, 0,50%, 0,75%, 1,0%, dan 1,5%.

Ukuran spesimen induk dari logam yang akan digunakan adalah:

1. Kekuatan impak ukuran 50 mm x 6 mm x 4 mm

(Sesuai dengan spesipikasi ADA No.12)

Gambar 3.1 Ukuran batang uji kekuatan impak 2. Kekuatan transversal ukuran 64 mm x 10 mm x 2,5 mm

(Sesuai dengan spesipikasi ADA no 12)

Gambar 3.2 Ukuran batang uji kekuatan transversal 3. Sampel untuk morfologi permukaan

Salah satu dari patahan sampel dari hasil uji kekuatan impak di kelompokan

untuk analisis SEM. Sampel dipotong dengan panjang 3-4 mm dari patahan terakhir,

sehingga ukuran sampel menjadi 3 mm x 6 mm x 4 mm (Mowade, 2012).

4. Perubahan Warna

Sampel berukuran 40 mm x 10 mm x 2 mm (Wieckiewicz, 2014).

50 mm

6 mm 4 mm

64 mm

(3)

3.3.2 Besar Sampel Penelitian

Pada penelitian ini digunakan perhitungan besar sampel mengikuti metode

Frederer dengan rumus sebagai berikut (Hanafiah, 2003):

Dimana: t = Jumlah perlakuan r = Jumlah ulangan

Dalam penelitian ini akan digunakan t = 6 karena menggunakan 6 kelompok

perlakuan, maka jumlah sampel (n) minimal tiap kelompok ditentukan sebagai

berikut:

( t – 1 ) ( r – 1 ) > 15

( 6 - 1 ) ( r – 1 ) > 15

5( r - 1) > 15

5r – 5 > 15

r >

Maka diperoleh besar sampel minimal 4. Pada penelitian ini diambil besar

sampel pada tiap kelompok pengujian sebanyak 5 Sampel. 4

3.3.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Pada penelitian ini ada kriteria sampel yang dimasukkan (inklusi) pada

penelitian ini dan ada pula kriteria sampel yang harus dikeluarkan (eksklusi) pada

penelitian ini yaitu sebagai berikut:

Kriteria Inklusi sampel:

1. Sampel sesuai bentuk

2. Sampel sesuai ukuran

Kriteria eksklusi sampel:

1. Sampel yang poreus

2. Sampel yang cacat

3. Sampel yang kotor

(4)

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah:

a. Perhitungan kekuatan impak bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi

panas tanpa ditambahkan kitosan nano gel.

b. Perhitungan kekuatan impak bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi

panas setelah penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

c. Perhitungan kekuatan transversal bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas tanpa ditambahkan kitosan nano gel.

d. Perhitungan kekuatan transversal bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas setelah penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%,

dan 1.5%.

e. Stabilitas warna bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa

ditambahkan kitosan nano gel.

f. Stabilitas warna bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas

setelah penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%..

g. Gambaran morfologi permukaan bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas setelah penambahan kitosan nano gel.

3.5 Variabel Penelitian

Pada penelitian ini ada beberapa variabel yang digunakan yaitu:

3.5.1 Variabel Bebas:

a. Resin akrilik polimerisasi panas

b. Resin akrilik polimerisasi panas + kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%,

1.0%, dan 1.5%.

3.5.2 Variabel Tergantung

a. Kekuatan impak bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.

b. Kekuatan transversal bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.

c. Stabilitas warna bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.

d. Gambaran morfologi permukaan bahan basis gigi tiruan resin akrilik

(5)

3.5.3 Variabel Terkendali a. Ukuran sampel

b. P/W ratio polimer dan monomer resin akrilik polimerisasi panas (23g:10ml)

c. Perbandingan adonan gips keras (300g:90ml)

d. Waktu pengadukan gips keras (60 detik)

e. Suhu dan waktu kuring (74oC, 60 menit dan 100OC, 120 menit)

f. Jenis resin akrilik polimerisasi panas

g. Jenis sinar spectrophotometer

h. Panjang gelombang cahaya 552 nm

i. Tekanan pengepresan 1000 Psi dan 1200 Psi

3.5.4. Variabel Tidak Terkendali

a. Pengadukan resin aklirik polimerisasi panas dan kitosan nano gel

b. Tempratur kitosan nano gel saat ditambahkan ke dalam resin akrilik

polimerisasi panas

3.6 Definisi Operasional

Definisi oprasional, cara ukur, hasil ukur, dan alat ukur dari masing-masing

variabel penelitian dapat dijelaskan pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Definisi Operasional, Cara Ukur, Skala Ukur, dan Alat Ukur Variabel Bebas dari Penelitian

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala

(6)

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala kitosan nano gel (nano gel yang terbuat dari bubuk kitosan horses crab yang dilarutkan dalam larutan

Nominal Timbangan digital dan pipet ukur

Tabel 3.2 Definisi Operasional, Cara Ukur, Skala Ukur, dan Alat Ukur Variabel Tergantung dari Penelitian

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala

Ukur Alat Ukur

Kekuatan bahan basis gigi tiruan hingga patah setelah diberikan gaya benturan.

Kekuatan bahan basis gigi tiruan yang diberi beban 50 KgF sehingga bahan yang diuji patah.

Kemampuan bahan basis gigi tiruan untuk

(7)

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala

Ukur Alat Ukur

4. Gambaran morfologi permukaan

Gambaran anatomis dari permukaan bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan dengan penambahan kitosan nano gel.

Sesuai SOP alat - SEM

3.7 Alat dan Bahan Penelitian 3.7.1 Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Lempengan dari logam dengan ukuran 50 mm x 6 mm x 4 mm (untuk uji

kekuatan impak).

2. Lempengan dari logam dengan ukuran 64 mm x 10 mm x 2,5 mm (untuk

uji kekuatan transversal)

3. Lempeng dari logam dengan ukuran 40 mm x 10 mm x 2 mm

Gambar 3.3. Lempeng dari logam untuk uji kekuatan transversal (A), uji kekuatan impak (B) dan uji stabilitas warna (C) (Dok).

4. Kuvet (Smic, Cina)

5. Rubber bowl dan spatula

6. Pot pengaduk yang terbuat dari porselen

(8)

8. Beaker glass 250 ml ( Pyrex®, USA)

9. Hot plate (Cimarec)

10. Lekron (Smic, Cina)

11. Pipet ukur ( Pyrex®, USA)

12. Magnetik stirrer

13. Batang pengaduk

14. Vibrator (Fili Manfredi Pulsar-2, Italy)

15. Press Hidrolik (OL 57 manfredi, Italy)

16. Timbangan Digital (CE, Cina)

17. Waterbath (Schutzart DIN 40050-IP, Germany)

18. Bur fraser

19. Selopan sheet

20. Mandril

21. Motor Bur (Strong, Korea)

22. Penggaris besi

23. Sampel Cup 30 ml dan 50 ml

24. Sarung tangan

25. Masker

26. Tabung Sentrifugasi

27. Ultrasononic Bath (Kerry Pulsatron, Sonic, USA)

(9)

28. Sentrifugasi (Fisher Scientific, USA)

Gambar 3.5 Sentrifugasi (Dok)

29. Sonicator (Branson 1510, Italy)

Gambar 3.6 Sonicator (Dok) 30. Aluminium foil

31. Tisu lensa

32. Vial 10 ml

33. Cuvet 10 ml

(10)

35. Charpy tester/Alat uji kekuatan impak (Amsleroto Walpret Werke GMBH,

Germany)

Gambar 3.7 Alat uji kekuatan impak dilihat dari depan (A) dan dilihat dari samping (B). (Dok)

36. Alat uji kekuatan transversal (Torsee’s electronic System Universal Testing

Machine, Japan)

Gambar 3.8 Alat uji kekuatan transversal (Dok)

(11)

37. Scanning Electron Microscope (Zeiszz, EVO/ MA 10, Jerman)

Gambar 3.9 Alat uji morfologi permukaan (SEM)(Dok)

38. Mesin Coating (Quorum, Q150R ES, England)

Gambar 3.10 Mesin coating (Dok)

39. UV-visible Spectrophotometer (Shimadzu, UV mini 1240)

(12)

40. Particle Size Analyzier (Vasco, Cordouan Technology, USA)

Gambar 3.12 Alat ukuran partikel (PSA)(Dok)

41. Fourier Transform Infra Red (IRPrestige-21, Shimadzu, Jepang)

Gambar 3.13 Alat uji gugus fungsi (Dok)

3.7.2 Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Resin akrilik polimerisasi panas (QC 20 UK)

2. Kitosan molekul tinggi yang diperoleh dari Horseshoe creab shell dengan

drajat deasetilasi 90,28%.

(13)

3. Cold Mould Seal (QC 20, UK)

4. Asam asetat 1 %

5. Natrium tripolipospat 1%

6. Vaselin

7. Gips keras (Moldano, China)

8. Xylen

9. Aquades

10. Kertas pasir waterproof (Atlas no 600, 1000)

3.8 Prosedur Penelitian

3.8.1 Pembuatan Master Cast (Model Induk)

a. Master cast (model induk) dibuat dari logam berbentuk lempengan dengan

ukuran 50 mm x 6 mm x 4 mm untuk uji kekuatan impak.

b. Master cast (model induk) dibuat dari logam berbentuk lempengan dengan

ukuran 64 mm x 10 mm x 2,5 mm untuk uji kekuatan transversal.

c. Master cast (model induk) dibuat dari logam berbentuk lempengan dengan

ukuran 40 mm x 10 mm x 2 mm untuk uji stabilitas warna.

3.8.2 Pembuatan Mold (Cetakan) Resin Akrilik Polimerisasi Panas

a. Gips keras dicampur air di dalam rubber bowl dengan perbandingan 300 g :

90 ml untuk mengisi kuvet bawah (Power, 2008).

b. Adonan gips kemudian diaduk dengan menggunakan spatula selama 60 detik

(Creig, 2007; Power, 2008).

c. Adonan gips tersebut di masukan ke dalam kuvet bagian bawah yang telah

diletakkan di atas vibrator selama 15 detik (Powers, 2008).

d. Lempeng berukuran 50 mm x 6 mm x 4 mm (untuk uji kekuatan impak),

lempeng berukuran 64 mm x 10 mm x 2,5 mm (untuk uji kekuatan transversal) dan

lempeng berukuran 40 mm x 10 mm x 2 mm (untuk uji perubahan warna), kemudian

(14)

keras, satu kuvet berisi 3 buah lempengan untuk uji kekuatan impak, 6 lempengan

untuk uji kekuatan transversal dan 6 lempengan untuk uji stabilitas warna.

Gambar 3.15 Penempatan lempengan ke dalam adonan gips untuk uji kekuatan impak (A), untuk uji kekuatan transversal (B), dan untuk uji stabilitas warna (C). (Dok)

e. Lalu adonan dirapikan dan dibiarkan hingga gips mengeras (45 menit).

f. Setelah gips mengeras kemudian permukaan gips diolesi oleh vaselin dan

kuvet atas disatukan dengan kuvet bawah lalu diisi oleh adonan gips keras dengan

perbandingan 300 g : 90 ml dan diletakkan di atas vibrator selama 15 detik.

g. Setelah 45 menit, kuvet dibuka dan lempengan dikeluarkan dari kuvet

(Powers, 2008).

h. Kemudian permukaan gips atas dan bawah dilakukan pengecoran dengan air

panas untuk menghilangkan sisa vaselin.

i. Setelah permukaan gips pada kuvet atas dan kuvet bawah bersih dari vaselin

dan kering, kemudian permukaan gips tersebut diolesi dengan cold mould seal.

3.8.3 Pembuatan Kitosan Nano Gel

Setiap gram bubuk kitosan yang akan diteliti (0.25g, 0.5g, 0.75g, 1.0g dan 1.5g)

ditimbang terlebih dahulu.

a. Setelah ditimbang bubuk kitosan dimasukkan ke dalam beker glass yang

telah berisi magnetic stirrer dan ditambahkan asam asetat 1% sebanyak 100 mL,

kemudian dilarutkan hingga homogen diatas hot plate dengan kecepatan 200 rpm

(15)

Gambar 3.16 Penambahan asam asetat 1% (Dok)

b. Ditambahkan natrium tripolipospat ke dalam larutan sebanyak 20 tetes dan

diaduk kembali hingga homogen selama 1 jam sehingga terbentuk emulsi, kemudian

dimasukkan ke dalam ultrasonic bath selama 20 menit untuk memecahkan partikel

kitosan tersebut menjadi lebih kecil.

Gambar 3.17 Penambahan natrium tripoliphospat (Dok)

(16)

c. Setelah diultrasonic bath lalu di sentrifugasi selama 30 menit dengan

kecepatan 3600 rpm untuk memecahkan partikel kitosannya menjadi lebih kecil lagi

sehingga terbentuk kitosan nano gel .

Gambar 3.19 Larutan di sentrifugasi selama 30 menit (Dok)

d. Larutan kitosan nano gel dibuktikan dengan PSA (Particle Size Analysis).

e. Kitosan nano gel kemudian disimpan di dalam kulkas dengan suhu 40C untuk

penyimpanan jangka panjang.

3.8.4 Pengisian Resin Akrilik Polimerisasi Panas Pada Mold (Cetakan) A. Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa Penambahan Bubuk Kitosan

1. Polimer dicampurkan monomer ke dalam pot akrilik dengan perbandingan 23

g polimer : 10 ml monomer, lalu diaduk perlahan-lahan dengan menggunakan lecron.

2. Setelah adonan mencapai dough-stage lalu adonan dimasukkan kedalam

mold.

3. Resin akrilik polimerisasi panas ditutup dengan selopan sheet lalu kuvet

bagian atas dipasangkan, kemudian kuvet ditekan dengan press hidrolik (1000 Psi),

lalu kuvet dibuka. Sisa akrilik yang berlebih kemudian dipotong dengan lekron.

4. Kuvet bagian atas ditutup kembali dan dilakukan pengepressan (1200 Psi)

(17)

Gambar 3.20 Pengepresan pres hidrolik (Dok)

B. Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan Kitosan Nano Gel

1. Polimer dicampurkan monomer ke dalam pot akrilik dengan perbandingan

23 g polimer : 10 ml monomer dan ditambahkan 2 ml kitosan nano gel yang telah di

keluarkan dari kulkas masing-masing dari 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%

kitosan nano gel dengan menggunakan pipet skala, lalu diaduk perlahan-lahan dengan

menggunakan lecron. Sisa larutan kitosan nano gel disimpan dalam kulkas dengan

suhu 4ºC.

2. Setelah adonan mencapai dough-stage lalu adonan dimasukkan ke dalam

mold.

3. Resin akrilik polimerisasi panas di tutup dengan selopan sheet lalu kuvet

bagian atas dipasangkan, kemudian kuvet ditekan dengan press hidrolik dengan

tekanan 1000 psi, lalu kuvet dibuka. Sisa akrilik yang berlebih kemudian dipotong

dengan lekron.

4. Kuvet bagian atas ditutup kembali, kemudian kuvet dipress dengan tekanan

1200 psi sampai kuvet bagian atas dan bawah tertutup rapat, lalu dilakukan

(18)

3.8.5 Proses Kuring (Penggodokan) Resin Akrilik Polimerisasi Panas Proses kuring kelompok dilakukan memakai waterbath. Pengontrolan waktu

dan suhu dilakukan selama kuring sebagai berikut (Anusavice, 2013):

a. Pada tahap pertama, kuvet dimasukkan ke dalam water bath kemudian suhu

water bath diatur mencapai 74oC lalu dibiarkan selama 120 menit.

Gambar 3.21 Proses kuring resin akrilik polimerisasi panas (Dok)

b. Pada tahap kedua, suhu dinaikkan menjadi 100oC dan dibiarkan selama 60

menit.

c. Setelah itu kuvet dikeluarkan dari waterbath dan dibiarkan selama 30 menit

untuk proses pendinginan.

3.8.6 Penghalusan Sampel Resin Akrilik Polimerisasi Panas

Sampel akrilik dirapikan dengan mengguakan bur fraser untuk menghilangkan

bagian yang tajam dan dihaluskan dengan kertas pasir waterproof nomor 1000 dan

600 sampai diperoleh ukuran yang diinginkan.

3.8.7 Pengukuran Kekuatan Impak

Pengukuran kekuatan impak dilakukan dengan alat penguji kekuatan impak

(charpy taster). Setiap sampel diberi nomor terlebih dahulu pada kedua ujungnya dan

diberi garis tengah.

a. Sampel di tempatkan secara horizontal bertumpu pada kedua ujung alat

(19)

Gambar 3.22 Penempatan sampelpada alat uji impak (Dok)

b. Lengan pemukul yang ada pada alat penguji dikunci. Kunci pada lengan

pemukul dilepaskan dan lengan pemukul membentur sampel hingga patah.

c. Energi yang tertera pada alat penguji kemudian dibaca dan hasilnya dicatat,

lalu dilakukan perhitungan kekuatan impak. Satuan yang digunakan pada alat ini

adalah J/mm2.

3.8.8 Pengukuran Kekuatan Transversal

Pengukuran kekuatan transversal dilakukan dengan menggunakan alat Torsee’s

Electronic System Universal Testing Machine (2tf’Senstar’,SC-2-DE Tokyo Japan).

Jarak antara kedua batang pendukung 50 mm. Setiap sampel diberi nomer dan dibuat

garis tengah.

a. Sampel diletakkan di tengah-tengah alat sehingga alat penekan tepat berada

di tengah-tengah sampel.

(20)

b. Mesin diatur dengan kelajuan 1/10 mm/detik dan beban awal yang diberikan

sebesar 50 Kgf.

c. Alat menekan sampel hingga fraktur dan nilai yang terlihat pada layar

monitor alat pengukur dicatat.

d. Kekuatan transversal yang diperoleh kemudian dikonversikan ke dalam

satuan MPa dengan mengalihkan nilai yang diperoleh dalam satuan kgf/mm2 dengan

9,8 N

3.8.9 Pengamatan Gambaran Morfologi Permukaan dengan SEM

Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi gambaran mikrostruktur dari bahan

basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan dengan penambahan

kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% dengan SEM.

a. Sampel yang digunakan pada uji ini adalah 6 buah sampel, satu sampel dari

resin akrilik polimerisasi panas yang tidak ditambahkan kitosan nano gel dan lima

buah sampel dari masing-masing kelompok yang telah ditambahkan kitosan nano

gel.

b. Sampel di-coating dengan emas (au) dengan kadar 95% yang dicampur

dengan tambahan paladium selama 2 menit di dalam mesin coating.

(21)

c. Sampel ditempatkan pada specimen chamber dengan menggunakan double

tip dan siap dimasukkan ke dalam chamber SEM.

Gambar 3.25 Sampel di tempatkan pada specimen chamber dengan menggunakan double tip (Dok)

d. Kemudian sampel dimasukkan ke dalam chamber dan di vakum.

Gambar 3.26 Sampel berada di dalam vakum (Dok)

(22)

Gambar 3.27 Penentuan daerah sampel yang akan di ambil (Dok)

f. Gambaran morfologi sampel diambil dengan pembesaran 2000 X.

3.8.10 Pengukuran Warna dengan Spectropotometer

Pengukuran warna dilakukan dengan menggunakan alat UV-Visible

Spectrophotometer.

a. Sampel yang berukuran 40 mm x 10 mm x 2 mm terlebih dahulu digerus

dengan bur fraser dengan kecepatan 500 rpm.

Gambar 3.28 Sampel di gerus dengan bur fraser

(Dok)

(23)

Gambar 3.29 Sampel dihaluskan dengan alu dan

lumpang (Dok)

c. Setelah itu, sampel dilarutkan ke dalam pelarut xylene dengan perbandingan

sampel dan pelarut yaitu 0,3 gr : 10 ml ke dalam vial 10 ml.

Gambar 3.30 Sampel yang telah dilarutkan dengan larutan xylen (Dok)

d. Selanjutnya sampel yang telah dilarutkan di masukkan pada cuvet dan di

letakkan pada alat pengukur untuk mengukur absorbansinya dengan menggunakan

panjang gelombang 552 nm.

e. Kemudian UV-Visible Spectrophotometer akan membaca nilai absorbansi

resin akrilik polimerisasi panas dan resin akrilik polimerisasi panas yang

ditambahkan kitosan nano gel.

3.8.11 Pengujian FTIR

a. Masing-masing sampel yang akan diuji (PMMA, Kitosan dan

PMMA+Kitosan) diletakkan di dalam lumpang kecil.

b. Kemudian ditambahkan kalium bromida, setelah itu sampel di gerus hingga

(24)

c. Setelah halus sampel dimasukkan ke dalam kuvet alat uji.

d. Hasil gugus fungsi akan terlihat pada layar monitor.

3.9 Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji ANOVA satu arah

untuk mengetahui pengaruh penambahan kitosan nano gel terhadap kekuatan impak,

kekuatan transversal dan stabilitas warna bahan basis gigi tiruan resin akrilik

(25)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian dan Analisa data Nilai Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

Hasil uji kekuatan impak bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas

tanpa dan dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan

1.5% dapat dilihat pada tabel-tabel dibawah ini.

Tabel 4.1. Rerata Kekuatan Impak Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel.

Sampel

Pada hasil penelitian terlihat bahwa rerata kekuatan impak bahan basis gigi

tiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%,

0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% kekuatan impaknya meningkat dibandingkan dengan

bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan kitosan

nano gel (kontrol).

Nilai rerata dan SD terendah pada kelompok kontrol yaitu 5.8333+0.294628,

dan yang tertinggi pada kelompok dengan penambahan kitosan 1.0% yaitu 7.91667+

0.416667. Grafik nilai kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan

dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% dapat

(26)

Gambar 4.1 Grafik Nilai Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0% dan 1.5%

Dari Gambar 4.1 dapat dilihat bahwa semua kelompok perlakuan resin akrilik

polimerisasi panas mengalami perubahan nilai kekuatan pada masing-masing

kelompok. Namun penambahan kitosan nano gel 1.0% mengalami kenaikan nilai

kekuatan impak yang cukup signifikan dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Uji normalitas pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa data terdistribusi

normal yang dapat dilihat pada lampiran 5 (P > 0,05). Pada penelitian ini pengaruh

penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% terhadap

kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas dianalisa dengan menggunakan uji

Anova Satu Arah, diperoleh nilai signifikasi p = 0. Hal ini menunjukan adanya

pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% pada

resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak. Untuk memastikan

perbedaan kekuatan impak dari kelompok kontrol (tanpa penambahan kitosan)

dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%

(27)

Tabel 4.2. Hasil Uji Least Significance Difference (LSD) Kekuatan Impak Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas

(I) Kelompok (J) Kelompok Mean Difference

(I-J) Sig.

Kontrol 0.25% -.083333 .764

0.5% -.583333* .044

0.75% -.750000* .012

1.0% -2.083333* .000

1.5% -.250000 .371

0.25% 0.5% -.500000 .081

0.75% -.666667* .023

1.0% -2.000000* .000

1.5% -.166667 .549

0.5% 0.75% -.166667 .549

1.0% -1.500000* .000

1.5% .333333 .236

0.75% 1.0% -1.333333* .000

1.5% .500000 .081

1% 1.5% 1.833333* .000

Hasil uji LSD pada Tabel 4.2 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan

antara kelompok kontrol dengan kelompok penambahan kitosan nano gel 1 %

dengan nilai p = 0,000 (p<0,05).

4.2 Hasil Penelitian dan Analisa Data Nilai Kekuatan Transversal Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

Pada penelitian ini nilai kekuatan transversal mengalami perubahan pada setiap

kelompok perlakuan. Nilai rata-rata dan standard deviasi uji kekuatan transversal

(28)

dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% dapat

dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Nilai Rata-Rata dan Standard Deviasi Uji Kekuatan Transversal Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel.

Hasil penelitian di atas terlihat bahwa rerata kekuatan transversal bahan basis

gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan penambahan kitosan nano gel

0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% kekuatan transversalnya meningkat

dibandingkan dengan bahan basis gigitituan resin akrilik polimerisasi panas tanpa

penambahan kitosan nano gel (kontrol).

Nilai rerata dan SD terendah pada kelompok kontrol yaitu 74.628 ±1.323181,

dan yang tertinggi pada kelompok dengan penambahan kitosan 1.0% yaitu 79.003

±3.252017. Grafik nilai kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas tanpa

dan dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%

(29)

Gambar 4.2 Grafik nilai kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0% dan 1.5%

Gambar 4.2 menunjukkan nilai kekuatan transversal yang berbeda pada setiap

kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakuan yang ditambahkan kitosan nano gel

bila dibandingkan dengan kelompok kontrol terlihat hasil bahwa nilai kekuatan

transversal pada kelompok dengan penambahan kitosan nano gel 1.0% lebih tinggi

daripada kelompok lainnya.

Uji normalitas pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa data terdistribusi

dengan normal yang dapat dilihat pada lampiran 6 (P > 0,05). Pada penelitian ini

pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%

terhadap kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas dianalisa dengan

menggunakan uji Anova Satu Arah, diperoleh nilai signifikasi p = 0. Hal ini

menunjukan adanya pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%,

1.0%, dan 1.5% pada resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan transversal.

Untuk memastikan perbedaan kekuatan transversal dari kelompok kontrol (tanpa

penambahan kitosan) dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%,

1.0%, dan 1.5% dilakukan uji Least Significance Difference (LSD) yang dapat dilihat

(30)

Tabel 4.4. Hasil uji Least Significance Difference (LSD) Kekuatan Transversal Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas.

(I) Kelompok (J) Kelompok Mean Difference

(I-J) Sig.

Kontrol 0.25% -12.743920* .000

0.5% -12.955600* .000

0.75% -16.695280* .000

1.0% -16.812880* .000

1.5% -16.389520* .000

0.25% 0.5% -.211680 .909

0.75% -3.951360* .041

1.0% -4.068960* .036

1.5% -3.645600 .058

0.5% 0.75% -3.739680 .052

1.0% -3.857280* .046

1.5% -3.433920 .073

0.75% 1.0% -.117600 .949

1.5% .305760 .869

1% 1.5% .423360 .819

Hasil uji LSD pada Tabel 4.4 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan

antara kelompok kontrol dengan kelompok penambahan kitosan nano gel 0.25%,

0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% dengan nilai p = 0,000 (p<0,05).

4.3 Hasil Penelitian dan Nilai Rata-rata Absorbansi Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

Pada penelitian ini nilai absorbansi warna mengalami perubahan pada setiap

kelompok perlakuan. Hasil rata- rata dan standard deviasi absorbansi warna pada

(31)

dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% dapat

dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Nilai Rata-Rata dan Standard Deviasi Nilai Absorbansi Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel.

Sampel

Stabilitas Warna (cm-1)

Kontrol Kitosan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata absorbansi warna bahan basis gigi

tiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%,

0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% meningkat dibandingkan dengan bahan basis

gigitituan resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan kitosan nano gel

(kontrol).

Nilai rerata dan SD terendah pada kelompok kontrol yaitu 0.07345+0.000533

cm-1, dan yang tertinggi pada kelompok dengan penambahan kitosan 1.0% yaitu

0.07589+0.000692 cm-1. Grafik nilai rata-rata absorbansi warna lempeng bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan dengan penambahan kitosan

(32)

Gambar 4.3 Grafik Nilai Rata-Rata Absorbansi Warna Sampel Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

Uji normalitas pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa data terdistribusi

dengan normal yang dapat dilihat pada lampiran 7 (P > 0,05). Pada penelitian ini

pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%

terhadap stabilitas warna bahan basis resin akrilik polimerisasi panas dianalisa

dengan menggunakan uji Anova Satu Arah, diperoleh nilai signifikasi p = 0. Hal ini

menunjukan adanya pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%,

1.0%, dan 1.5% pada resin akrilik polimerisasi panas terhadap stabilitas warna.

Untuk memastikan perbedaan stabilitas warna dari kelompok kontrol (tanpa

penambahan kitosan) dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%,

1.0%, dan 1.5% dilakukan uji Least Significance Difference (LSD) yang dapat dilihat

(33)

Tabel 4.6 Hasil Uji Least Significance Difference (LSD) Nilai Absorbansi Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas.

(I) Kelompok (J) Kelompok Mean Difference

(I-J) Sig.

Hasil uji LSD pada tabel 4.6 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan

antara kelompok kontrol dengan kelompok penambahan kitosan nano 0.75%, 1.0%

dan 1.5% dengan nilai p = 0,000 (p<0,05).

4.4 Gambaran SEM Morfologi Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%

Pada penelitian ini dilakukan juga pengambilan gambaran morfologi permukaan

resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan dengan penambahan kitosan nano gel

(34)

terlihat gambaran SEM morfologi permukaan resin akrilik polimerisasi panas tanpa

dan dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

Gambar 4.4 Gambaran SEM morfologi permukaan resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan kitosan (A) dan dengan penambahan kitosan nano gel 0,25%.,(B) 0,50%.,(C) 0,75%.,(D) 1%.,(E) dan 1,5%(F) dengan pembesaran 2000 X.

Gambaran SEM sebelum dilakukan penambahan kitosan nano gel (Gambar A)

memperlihatkan morfologi permukaan bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas yang tidak merata (seperti yang di tunjukkan pada tanda panah).

Pada gambaran SEM resin akrilik polimerisasi panas dengan penambahan kitosan

nano gel 0.25% (Gambar B), 0.50% (Gambar C), 0.75% (Gambar D), 1.0% (Gambar

E) dan 1.5% (Gambar F) terlihat bahwa kitosan nano gel menutupi permukaan sampel

secara merata (seperti yang di tunjukkan pada tanda panah).

D E F

(35)

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1 Kekuatan Impak Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

Hasil penelitian pada Tabel 4.1.1 terlihat adanya perbedaan nilai rerata kekuatan

impak resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan setelah ditambahkan kitosan nano

gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.. Penambahan kitosan nano gel dapat

dijadikan alternatif untuk menambah kekuatan impak bahan basis gigi tiruan resin

akrilik polimerisasi panas. Hal ini disebabkan karena ukuran partikel kitosan

mempengaruhi kualitas kitosan, dimana partikel kitosan yang lebih kecil akan

membentuk permukaan semakin luas (Li-Ming, 2011). Selain itu, penggunaan

tripolifosphat saat proses gelasi juga sangat mempengaruhi, dimana penambahan

tripolifosphat akan membentuk ikatan silang ionik sehingga kitosan dapat digunakan

sebagai bahan penguat. Hal ini disebabkan oleh peran tripolifosphat sebagai zat

pengikat silang yang akan memperkuat matriks nano kitosan (Wahyono cit Yuliani,

2015).

Setelah penambahan kitosan nano gel 1.5% nilai kekuatan impak menurun

dibandingkan dengan penambahan kitosan nano gel 1.0%, hal ini dikarenakan

besaran konsenterasi larutan kitosan nano gel memiliki nilai viskositas yang tinggi

dibandingkan dengan penambahan kitosan nano gel lainnya. Semakin tinggi

persentase larutan kitosan maka nilai viskositasnya akan semakin tinggi (Nugroho

et.al., 2011). Nilai viskositas yang tinggi pada resin akrilik polimerisasi panas dengan

penambahan kitosan nano gel 1.5% menyebabkan kitosan nano gel sulit berdifusi

mengisi ruang pada poly (methyl methacrylate). Hal ini akan mempengaruhi kekuatan

mekanisnya, dimana kekuatan mekanis gel ditentukan dengan mengukur

viskoelastisitasnya (Sugita, 2009). Menurut Agusnar et.al., (2013), semakin tinggi

berat molekul dan konsenterasi larutan kitosan, akan semakin tinggi nilai

(36)

sifat kitosan (Quasin, 2010). Viskositas kitosan dipengaruhi secara physical

(pemanasan, autoclave, ultrasonication) dan secara kimia.Viskositas menurun dengan

meningkatnya waktu penggunaan dan tempratur (No et.al., cit Fernandez-Kim, 2004).

Namun pada penelitian ini penambahan kitosan nano gel 1,0% merupakan

konsentrasi yang paling optium ditambahkan pada bahan basis gigi tiruan resin

akrilik polimerisasi panas.

Selama proses polimerisasi terjadi volumerik shringkage sebesar 0,2-0,5%

sehingga menyebabkan poreus pada resin akrilik polimerisasi panas dan retakan.

Poreus dan retakan yang terjadi menyebabkan kepadatan bahan basis gigi tiruan resin

akrilik polimerisasi panas berkurang dan hal ini berdampak pada menurunnya

kekuatan bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas (Noort, 2008).

Dengan ditambahkannya kitosan nano gel pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas maka akan menurunkan jumlah porositas yang terjadi. Porositas

membran kitosan akan menurun dengan meningkatnya konsentrasi dari kitosan (Gu

et.al., 2001)

Dari gambaran hasil uji FTIR Gambar 5.1 dapat dilihat bahwa setelah

pencampuran antara PMMA dan kitosan tidak ada gugus fungsi yang hilang dari

PMMA dan juga kitosan. Dimana dari hasil uji FTIR terlihat penyerapan karbonil

pada puncak muncul di 1728.22 cm-1 untuk PMMA. Pada penambahan PMMA

dengan kitosan, puncak penyerapan karbonil juga terlihat di 1728.22 cm-1 namun

puncaknya sedikit agak rendah. Hal ini disebabkan karena ikatan hidrogen antara

gugus amino dari kitosan dan kelompok karbonil pada PMMA. Begitu juga terlihat

pada –CH3 muncul dipuncak 3441.01 cm-1 untuk PMMA, dan pada penambahan

PMMA dengan kitosan, juga pada puncak 3441.01 cm-1 namun sedikit lebih rendah.

Kemungkinan hal ini juga disebabkan terjadinya ikatan hidrogen antara gugus -CH3

pada PMMA dengan -OH pada kitosan. Interaksi nya dapat digambarkan pada

(37)

Gambar. 5.1 Hasil uji FTIR pada PMMA, Kitosan danPMMA yang ditambahkan kitosan nano gel

Hasil penelitian yang didapat sesuai dengan penelitian Radhakumary dkk, 2005

bahwa absorbsi puncak karbonil muncul pada 1730.6 cm-1 pada PMMA homopolimer

dan puncak absorbsi karbonil graft co-polymer chitosan dengan MMA pada 1727.18

cm-1. Hal ini terjadi karena adanya ikatan hidrogen antara grup amino kitosan dan

grup karbonil. Amer, 2014, pada penelitianya menyatakan saat proses polimerisasi

terjadi ikatan-ikatan antara rantai polimer dimana –CH3 pada resin akrilik

polimerisasi panas akan menyatu (berikatan) dengan rantai polimer dari kitosan yaitu

–OH. Selain itu gugus carbonyl C=O pada rantai poly (methyl methacrylate) juga

akan berikatan dengan NH2 pada kitosan. Ikatan ini lah yang membuat kekuatan

impak dari bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas yang ditambahkan

kitosan nano gel akan meningkat. Semakin banyak ikatan silang pada rantai polimer

akan membentuk bangunan tiga dimensi yang sinambung sehingga terbentuk struktur

yang kaku dan tegar yang tahan terhadap gaya atau tekanan tertentu (Sugita, 2009).

Menurut Li Z et.al,. 2016 bahwa kekuatan mekanis composite nanofibrous membrane

meningkat dengan meningkatnya kadar kitosan/PMMA. Hal ini sesuai dengan hasil

(38)

tiruan resin akrilik polimerisasi panas dapat meningkatkan kekuatan mekanisnya

salah satunya adalah kekuatan impaknya.

Gambar 5.2 Interaksi dari kitosan/PMMA (Amer et.al, 2014)

5.2 Kekuatan Transversal Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%

Hasil penelitian pada Tabel 4.2.1 terlihat adanya perbedaan nilai rerata kekuatan

transversal resin akrilik polimerisasi panas tanpa dan setelah ditambahkan kitosan

nano gel. Pada penelitian ini didapatkan nilai kekuatan transversal yang berbeda pada

setiap penambahan persentase kitosan nano gel. Perbedaan besarnya nilai kekuatan

transversal yang berbeda pada setiap penambahan kitosan nano gel sama seperti pada

kekuatan impak, dimana semakin banyak kandungan kitosan/PMMA maka akan

(39)

Pada penelitian ini didapatkan nilai kekuatan transversal semakin bertambah

setelah ditambahkannya kitosan nano gel. Namun setelah ditambahkan kitosan nano

gel 1.5% nilai kekuatan transversalnya menurun dibandingkan dengan penambahan

kitosan nano gel 1,0%, hal ini dikarenakan larutan kitosan memiliki nilai viskositas

yang tinggi dan kepadatan yang berbeda, sama seperti yang terjadi pada kekuatan

impak. Dimana pencampuran antara bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi

panas dengan kitosan nano gel 1.5% yang memiliki viskositas yang tinggi

menyebabkan kitosan nano gel sulit untuk berdifusi masuk ke pori resin akrilik

polimerisasi panas untuk berikatan. Hal ini akan menyebabkan kepadatan bahan basis

gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas yang ditambahkan kitosan nano gel 1.5%

akan berkurang. Sehingga kekuatan transversalnya menurun bila dibandingkan

dengan penambahan kitosan nano gel 1%. Pada penelitian ini didapatkan bahwa

penambahan kitosan nano gel 1.0% pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas merupakan konsentrasi yang paling optium untuk menambah

kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas, yang menunjukkan nilai

kekuatan transversal tertinggi terdapat pada kelompok penambahan kitosan nano gel

1,0% yaitu 79.003 Mpa, dan yang terendah pada kelompok kontrol yaitu 74.628

Mpa.

Penambahan kitosan nano gel pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas pada penelitian ini memiliki nilai kekuatan transversal yang lebih

besar bila dibandingkan dengan bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi

panas saja. Penelitian ini sesuai dengan pernyataan Florez-ramirez et.al., (2008), yaitu

penambahan kitosan pada PMMA menunjukkan peningkatan kekerasan dan modulus

elastisitas sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas yang ditambahkan kitosan nano gel memiliki kekuatan transversal

yang lebih tinggi dibandingkan bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi

panas tanpa penambahan kitosan nano gel.

Amer et.al., (2014) menyatakan bahwa tensile strength dan young modulus

properties PMMA meningkat dengan meningkatnya persentase kitosan. Peningkatan

(40)

dan kelompok sisi yang efektif seperti (NH2-OH-COO,C=O) dengan meningkatnya

persentase kitosan.

5.3 Absorbansi Stabilitas Warna Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas tanpa dan dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0,25%., 0,50%., 0,75%., 1%., dan 1,5%.

Pada penelitian ini pengukuran intensitas warna bahan basis gigi tiruan resin

akrilik polimerisasi panas yang diperoleh menggunakan alat Spectrophotometer

UV-Visible dengan panjang gelombang 552 nm. Dari Tabel 4.3.1 menunjukkan

perbedaan nilai absorbansi pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi

panas kelompok tanpa dan dengan penambahan kitosan nano gel. Stabilitas warna

pada penambahan kitosan nano gel 1.0% menunjukkan nilai terbesar adalah 0.07589

cm-1 dan nilai terkecil pada kelompok tanpa penambahan kitosan nano gel adalah

0.07345 cm-1.

Perubahan warna bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya degradasi

kimia, oksidasi, kebersihan mulut, proses polimerisasi yang tidak sempurna dan

penyerapan air (Goiato MC, et al 2010). Penyerapan air pada bahan basis gigi tiruan

yang berlebihan akan menyebabkan diskolorasi (Saied, 2011). Cairan yang

terabsorbsi melalui proses difusi akan mengisi ruang-ruang di antara matriks sehingga

menyebabkan perubahan struktur resin dan fisiknya. Penyerapan air akan

menyebabkan beberapa komponen akan ikut terlarut, maka semakin banyak air yang

diserap maka akan semakin banyak komponen yang akan ikut terlarut. Hal ini akan

menyebabkan perubahan warna bahan suatu bahan basis gigi tiruan (Kortrakulkij,

2008).

Nilai stabilitas warna terendah pada kelompok tanpa penambahan kitosan nano

gel kemungkinan disebabkan selama proses pelarutan resin akrilik polimerisasi panas

dengan larutan xylen. Menurut Ariyani (2012) yang mengutip pendapat Muetia, salah

satu faktor yang mempengaruhi stabilitas warna adalah kemampuan penyerapan

(permeabilitas) cairan pada bahan. Proses absorpsi dan adsorpsi cairan tergantung

(41)

Pada kelompok dengan penambahan kitosan nano gel terlihat stabilitas warna

yang lebih baik, hal ini karena penyerapan cairan pada kelompok tersebut lebih

rendah. Kitosan nano gel yang ditambahkan pada bahan polimer berfungsi sebagai

filler yang dapat memperbaiki sifat bahan polimer. Pada saat proses pelarutan resin

akrilik polimerisasi panas yang ditambah kitosan nano gel dengan larutan xylen, resin

akrilik dengan penambahan kitosan nano gel tidak akan ikut terlarut karena sifat

kitosan yang tidak larut di dalam air. Pada saat ini reaksi hidrolisis tidak dapat terjadi

lagi dan kitosan akan mengikat zat warna bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas pada gugus –NH2. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan

oleh Singh, 2008 bahwa sifat kitosan yang bila dimodifikasi dengan beberapa

polimer lain seperti polimetil metakrilat akan mengikat zat warna pada gugus –NH2

(Sugita 2009). Penyerapan air yang rendah akan menghasilkan komponen yang

terlarut juga rendah sehingga warna menjadi lebih stabil.

Namun pada penelitian ini, menurunnya nilai absorbansi resin akrilik

polimerisasi panas yang ditambahkan kitosan nano gel 1.5% bila dibandingkan

dengan penambahan kitosan nano gel 1.0%. karena ikatan yang mengikat zat warna

pada gugus-NH2 antara kitosan dan resin akrilik polimerisasi panas berkurang. Hal ini

disebabkan karena zat warna yang terkandung pada bahan basis gigi tiruan resin

akrilik polimerisasi panas yang ditambahkan kitosan nano gel lebih sedikit bila

dibandingkan dengan penambahan kitosan nano gel 1.0%, karena sulitnya kitosan

nano gel 1.5% berdifusi mengisi ruang-ruang untuk berikatan dengan bahan basis

gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas. Pada penelitian ini penambahan kitosan

nano gel 1.0% merupakan konsistensi yang paling tepat untuk ditambahkan ke bahan

basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.

5.4 Gambaran Morfologi Permukaan Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Tanpa dan Dengan Penambahan Kitosan Nano Gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5%.

Pada penelitian ini, dari gambaran SEM terlihat permukaan bahan basis

(42)

ditambahkannya kitosan nano gel permukaan bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas menjadi lebih merata dapat dilihat pada Gambar 4.4 dengan

pembesaran 2000 X.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan gambaran

morfologi permukaan bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas pada

setiap sampel dengan penambahan kitosan nano gel. Perbedaan ini disebabkan karena

jumlah persentase kitosan yang ditambahkan, konsistensi (kekentalan) kitosan nano

gel, dan pada saat pencampuran dan pengadukkan kitosan nano gel dengan resin

akrilik polimerisasi panas yang tidak merata karena dilakukan secara manual. Hasil

ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Li Zhengyang et.al., (2016) yaitu

hasil gambaran SEM chitosan/PMMA composite nanofiber memiliki permukaan yang

(43)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa:

a. Ada pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%,

dan 1.5% pada resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak, dan ada

perbedaan nilai kekuatan impak yang signifikan antara kelompok kontrol dengan

kelompok penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% yang

menunjukkan terjadi peningkatan antara kelompok tanpa penambahan (nilai terendah)

dan dengan penambahan kitosan nano gel 1.0% (nilai tertinggi) sebesar 36,2 %

b. Ada pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%,

dan 1.5% pada resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan transversal, dan

ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok

penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.5% yang

menunjukkan terjadi peningkatan antara kelompok tanpa penambahan (nilai terendah)

dan dengan penambahan kitosan nano gel 1.0% (nilai tertinggi) sebesar 5.9 %

c. Ada pengaruh penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0%,

dan 1.5% pada resin akrilik polimerisasi panas terhadap stabilitas warna, dan ada

perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok penambahan

kitosan nano 0.75%, 1.0% dan 1.5% yang menunjukkan peningkatan terjadi antara

kelompok tanpa penambahan (nilai terendah) dan dengan penambahan kitosan nano

gel 1.0% (nilai tertinggi) sebesar 3.32%

d. Ada perbedaan gambaran morfologi mikrostruktur permukaan bahan basis

gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas setelah penambahan kitosan nano gel

0,25%., 0,50%., 0,75%., 1% dan 1,5% berupa perbaikan morfologi permukaan resin

akrilik sehingga permukaan bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas

menjadi lebih merata karena ditutupi oleh gugus amina dari kitosan.

e. Penambahan kitosan nano gel 1% pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik

(44)

bahan penguat untuk menambah kekuatan mekanis seperti kekuatan impak dan

transversal dan dalam mempertahankan stabilitas warna dari bahan basis gigi tiruan

resin akrilik polimerisasi panas.

6.2 Saran

a. Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai penambahan kitosan nano gel

untuk memperbaiki sifat-sifat lain dari bahan basis gigi tiruan resin akrilik

polimerisasi panas.

b. Perlunya penelitian lebih lanjut bagaimana mekanisme dari bahan kitosan

nano gel sehingga dapat meningkatkan kekuatan mekanis dan stabilitas warna bahan

basis gigi tiruan resin akrlik polimerisasi panas.

c. Perlunya jumlah sampel yang lebih banyak lagi untuk mendapatkan hasil

Gambar

Tabel 3.1 Definisi Operasional, Cara Ukur, Skala Ukur, dan Alat Ukur Variabel Bebas dari                 Penelitian
Tabel 3.2 Definisi Operasional, Cara Ukur, Skala Ukur, dan Alat Ukur Variabel Tergantung     dari Penelitian Skala
Gambar 3.5 Sentrifugasi (Dok)
Gambar 3.7 Alat uji kekuatan impak dilihat dari depan (A) dan      dilihat dari samping (B)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Telah dilakukan penelitian tentang sifat fisis dan mekanis basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas setelah perendaman ekstrak daun salam ( syzygium

Sampel dari bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas direndam dalam Aquadest dan minuman soda (coca cola) selama 1 hari, 2 hari, 3 hari pada suhu 37°C..

pertumbuhan candida albicans pada plat gigi tiruan resin akrilik.. Colour stability: an important physical property

6 Pengaruh perendamanbasis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sirsak 45% terhadap jumlahCandida.

Efek Penambahan Kitosan Molekul Tinggi Nanopartikel Pada Semen Ionomer Kaca Nanopartikel Terhadap Viabilitas Sel Pulpa ( In Vitro ).. Efek Penambahan Kitosan Blangkas

Implikasi klinis dari penelitian ini adalah, penambahan E-glass fiber 1% dan 1,5% pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dapat meningkatkan sifat

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas (RAPP) merupakan bahan basis gigi tiruan yang paling banyak digunakan, namun memiliki sifat kekuatan tarik dan tekan yang rendah,

PERUBAHAN WARNA PADA BASIS GIGI TIRUAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS SETELAH PERENDAMAN DALAM