• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAYA PENYEBARAN SYIAH DI NEGARA NEGARA (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAHAYA PENYEBARAN SYIAH DI NEGARA NEGARA (2)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAYA PENYEBARAN SYIAH DI NEGARA-NEGARA SUNNI

(Bagian Kedua: Perbedaan Rukun Islam)

Kamaluddin Nurdin Marjuni

https://www.dakwatuna.com/2013/06/10/34817/bahaya-penyebaran-syiah-di-negara-negara-sunni-bagian-kedua-perbedaan-rukun-islam/#axzz4t1e534pT

dakwatuna.com – Sebagai perbandingan pertama, kita memulai dengan

membahas masalah rukun Islam antara sunnah dan Syiah.

Sunnah dan Syiah berbeda tentang pilar agama Islam. Kalau menurut

pandangan Ahlu Sunnah, Islam memiliki beberapa pokok ajaran atau dasar agama yang biasa disebut sebagai rukun agama arkaan ad-din . Dan rukun ini memiliki konsekuensi yang fatal kalau ditinggal atau tidak dilaksanakan, yang

menyebabkan suatu perkara yang dilakukan menjadi tidak sah. Sebab makna

rukun itu sendiri adalah, sesuatu yang merupakan sebagian daripada suatu

perkara yang karena kewujudannya maka wujudlah perkara itu, manakala sekiranya ia tidak wujud, maka tidak wujudlah perkara itu . Contohnya perkara niat dalam shalat, niat merupakan rukun wujudnya shalat, jika seorang shalat

tanpa disertai dengan niat maka shalatnya tidak sah.

Dalam agama Islam ada dua rukun yang mesti dilaksanakan oleh setiap

orang yang mengaku dirinya beragama Islam, rukun tersebut adalah rukun Islam

dan rukun Iman. Rinciannya adalah sebagaimana berikut:

Golongan sunnah berpendapat bahwa rukun Islam setelah mengucapkan dua

kalimat syahadat ada 4 perkara, yaitu: (1) Shalat, (2) Puasa, (3) Zakat, (4) Haji.

(2)

ليهل ْو مس ل م ْعيَل:ل اقلا م ْْعلمهل يِ ل ي اّطخْلال ي ْبل مُل ي ْبليهلي ْبعل ي ّْْ لالي ْبعل يِأل ْ ع

ل

لهلىص

لإل ْ ألم اهشل:لسَْلىعلم ا ْس

إْال يِمبل:لم ْوم يلمس

ِ

لي ةّّلالم ااْي

ِ

ا لي ا ّّلالم اق

ِ

ا ليهلم ْو مس لرا ّ ممحلّ أ لمهلّإِالَِال

.)لمسح ل حرلال ا (ل. اضح لم ْوص ل ي ْيبْلال ّجح

Dari Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab r.a berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Islam dibangun di atas lima perkara;

bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Nabi

Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan . Riwayat Turmuzi dan Muslim).

Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa seseorang yang ingin memeluk

agama Islam diwajibkan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu,

sebab syahadah adalah asas ajaran Islam. Syahadat diibaratkan sebagai kunci dan

pilar utama untuk menjadi seorang muslim. Syahadat pertama menuntut orang

tersebut bertauhid atau meng-esa-kan Allah swt, dan syahadat yang kedua

merupakan pengakuan bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah swt.

Pilar yang kedua adalah, bagi seseorang yang mengaku beragama Islam

diwajibkan menunaikan shalat lima waktu dalam sehari semalam, yaitu: shalat

dzuhur, ashar , maghrib , isya, dan subuh. Pilar yang ketiga menuntut seseorang

muslim mengeluarkan zakat dalam jumlah yang telah ditentukan kadarnya. Pilar

yang keempat adalah, bagi seorang muslim diwajibkan melaksanakan ibadah

puasa di bulan ramadhan, dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan

puasa, dimulai dari sejak terbitnya fajar sehingga terbenamnya matahari. Dan

pilar terakhir adalah, kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji di Mekkah

al-Mukarramah sekali dalam seumur hidup.

Inilah tiang agama yang mesti dilakukan oleh setiap umat Islam menurut

(3)

Sedangkan masalah keimanan yang merupakan suatu keyakinan yang

dipercayai dengan sepenuh jiwa dan hati oleh pemeluk agama Islam, maka bagi

golongan sunni, seorang muslim diwajibkan mempercayai enam rukun iman,

yang terdiri dari: (1) Iman kepada Allah, (2) para malaikat, (3) kitab-kitab, (4)

para rasul, (5) hari kiamat, serta (6) qadha & qadar. Dalil yang diajukan oleh

sunni mengenai keenam rukun iman ini adalah sebagi berikut:

ل

لريش لي ي ْْخلي ْ ْل يِل يحْؤمت ل،ي يخآلالي ْويْلا ل،ي يِ مس م ل،يهيبمامك ل،يهيت يئاح ل،يه يِل يحْؤمتل ْ أ(

للمسحل ا (ل)ي

.) ا بلا

ل

Bahwa engkau beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, dan hari akhirat, dan engkau beriman mengenai Qadar (takdir), baik dan buruknya .

لي رّ يِل حآألّ مُل وم يحْؤم ْلا ليهريبّ ل يحليهْيلِال يّنألا يبلم ومسّلال حآأ(

لّل ريحل حأل ْْبل م ري فمنلإلي يِ مس م ليهيبمامك ليهيت يئآلح

لي يِ مس

ل، بلا(ل) مْ يّ ْلال ْيل

ِ

ا لانّب ل نا ْفمغلانْعطأ لانْعيَلْاوملاق

.)

ل

ل

Rasul telah beriman kepada Al-Qur an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada

Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan : Kami tidak membeda antara seseorang pun dengan yang lain dari rasul-rasul-Nya , dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat . Mereka berdoa : Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali . Al-baqarah: 285)

Sedangkan golongan Syiah berbeda dengan sunnah mengenai pembagian

rukun Islam. Bahkan antara aliran-aliran Syiah sendiri saling berbeda pandangan

dalam hal ini. Syiah Imamiyah berpendapat bahwa rukun agama ada 5, yaitu: (1)

Shalat, (2) Zakat, (3) Hajji, (4) Puasa, (5) Wilayah. Sebagaimana beberapa riwayat yang disebutkan oleh al-Kulaini dalam kitabnya Ushul al-Kafi :

(4)

ل يِأل ْ ع

ل

ل: اقل فْعج

ل انميل ْمل ل،ي يإيوْلا ل ريجمْلا لي ْو ّّلا لي ةّّلا لي اّلالىعل:سَْلىعلم ا ْسِإال يِمب

لييإيوْل يِل ي ْومنلمل َْيب

.”

ل

Dari Abu Ja far, ia berkata: )slam dibangun di atas lima perkara; yaitu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, melaksanakan haji, dan

wilayah, dan tidak ada satu pun daripada rukun-rukun yang tersebut yang diseru keras sebagaimana seruan yang diberikan kepada wilayah [1].

ل

ل: اقل فْعجل يِأل ْ ع

لقل،ي يإيوْلا لي ْو ّّلا ل ريجمْلا لي ةّّلا لي ا ّّلالىعل، سَْلىعلم ا ْسِإال يِمب

لا ل ا

ل: م ْْم َل:

لعلم ْييلّدالومهلّ يِوْلا ل،ّ م مُاتْفيحلاّّ يلل ضَْألم يإيوْلال: ا َل، ضَْأل يِ لْ يحل َْلّ أ

لّ ي ْْْ

.”

ل

Dari Abu Ja far, ia berkata: Islam dibangun di atas lima perkara; mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, puasa Ramadhan, dan wilayah. Zararah bertanya kepada Abu Ja far: manakah rukun yang terbaik di antara rukun-rukun tersebut?. Abu Ja far menjawab: Wilayah adalah rukun yang terbaik, sebab wilayah merupakan kunci dari semua rukun agama, dan Wali

)mam adalah penunjuk atas kesemua rukun tersebut [2].

ل: ا ّسلاليهْيْعليهلي ْبعل يِ يإل م ْْمقل: اقل ْحيلاصل يِأل اْمُل ْ ع

لشل: ا َل، ي ا ْييإالي ْ م محلىعل يِْفيقْ أ

لم اه

لليهلم ْو مس لار ّ ممحلّ أ لهلّإِالَِالإلْ أ

لي ْهشلم ْوص لي ةّّلالم ا أ ل يسْ خْلالم اص ليهلي ْنيعل ْ يحليهيبل اجلا يبل م ا ْقإ يإا

ل ْْيقي ا ّّلالعحلم ْومخّدا لَري م علم ا ع لانريييل لم يإي ل ي ْيبْلال ّجح ل اضح

.”

ل

Dari Ujlan Abu Shalih, ia bekata: Saya meminta penjelasan dari Abu Abdillah tentang batasan-batasan iman, ia menjawab bahwa iman adalah Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan Beriqrar (mengakui) segala yang

datangnya dari Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan,

(5)

Bila diperhatikan riwayat terakhir di atas, Syiah Imamiyah menjadikan

ucapan dua kalimat syahadat sebagai bahagian dari rukun iman, sementara

sunnah menjadikannya sebagai rukun Islam.

Adapun bagi Syiah )sma iliyah Bathiniyah, rukun )slam ada . (al ini dinyatakan dengan tegas oleh salah seorang ulama Syiah )sma iliyah, yaitu al-Qadhi an-Nu man dalam kitabnya Da aa`im al-)slam . Kitab tersebut mensinyalir bahwa rukun Islam ada 7 perkara, yaitu: (1) Wilayah, (2) Kesucian,

(3) Shalat, (4) Zakat, (5) Puasa, (6) Hajji, (7) Jihad. Adapun teksnya adalah

sebagai berikut:

ل: اقلمهّنأل فْعجل يِأل ْ ع

لإيوْلال:ل يِاع ليعْب سلىعلم ا ْس

إال يِمب

ِ

ليصْوميل ري يِوْل يِ لا يِ ل،اهمْضَْأل يِ ل،م ي

لَ

ِ

الم

لماهيجْلا ل، ّجمْلا ل،م ْو ّّلا ل،م ةّّلا ل،م ا ّّلا ل،م اهّطلا ل،ا يَِي ْعح

.”

Dari Abu Ja far, ia berkata: )slam dibangun di atas tujuh perkara; Wilayah, dan wilayah adalah rukun terbaik dari rukun lainnya, sebab dengan

wali (imam) seseorang dapat mengenal rukun-rukun Islam, kemudian Thahara

(kesucian), mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan, melaksanakan haji, dan berjihad [4].

Dengan demikian, Syiah )mamiyah dan Syiah )sma iliyah sepakat bahwa wilayah (imamah) adalah rukun yang paling utama dari rukun yang lainnya.

Dari beberapa riwayat yang diketengahkan oleh Syiah Imamiyah dan Syiah )sma iliyah dapat dilihat bahwa dua kalimat syahadat tidak dimasukkan dalam rukun Islam mereka. Sedangkan sunnah menjadikannya sebagai rukun Islam

pertama dan yang paling utama. Sementara bagi Syiah wilayah (imamah) adalah

salah satu rukun agama dan rukun Iman yang paling mendasar dan paling utama

dibanding rukun-rukun lainnya. Sehingga salah seorang ulama Syiah Imamiyah

(6)

dengan tegas bahwa: barang siapa yang mengingkari kepemimpinan imam Ali, maka sungguh telah gugur keimanannya [5].

Di samping itu berkaitan dengan kalimat syahadat, terkadang Syiah

menambahkan sebutan imam Ali sebagai wali Allah, sehingga teks syahadat versi

mereka berbunyi:

ل ه ْشأ

ل

لْ أ

للإ

ل

لَ

ِ

ا

ل

لّإ

ِ

ا

ل

لّا

ل

لم ه ْشأ

ل

لّ أ

ل

ار ّ ممح

ل

لم ْو مس

ل

ليه

ل

لّ أ

ل

اّييْع

ل

لّ يِ

ل

ليّا

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, dan Ali adalah wali Allah .

Namun perlu disebutkan, bahwa as-Sayyid al-Murtadha, yang merupakan

salah seorang ulama terkemuka Syiah pada abad ke lima Hijriah mengharamkan penyebutan azan yang ditambahkan dengan kalimat Ali adalah wali Allah , yaitu yang berbunyi ه ّيل اّي ع ّنأ د ْشأ .Seorang cendikiawan Syiah Imamiyah

yang netral dan moderat bernama DR. Musa al-Musawi menilai bahwa

sebenarnya penambahan ini tidak mendasar dan keliru. Ia muncul setelah

Ghibah al-Kubrah pada tahun 329 Hijriah. Bahkan menurutnya, seandainya

imam Ali masih hidup saat ini, dan mendengarkan penambahan nama beliau dalam azan, maka niscaya beliau akan memberikan hukuman (ad kepada pelantun azan tersebut[6]. Tentunya pernyataan ini merupakan suatu usaha untuk menuju penetralan dan penjernihan aqidah yang dilakukan oleh sebagian

intelektual modern dari kalangan Syiah.

Bahkan terkadang lafadz Nabi Muhammad-pun dihilangkan dari kalimat

syahadat. Seperti riwayat di bawah ini:

(7)

Ketika Talqin, bacakanlah kepada mayat-mayat kalimat syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan wilayah Ali wali Allah [7].

Di tempat lain, Syiah menafsirkan ayat dalam surah al-Baqarah ayat 132,

137, yang berbunyi:

ل

لل وم ْعي ل ا ْْ

ِ

ا ل ييعا َْ

ِ

ا لميها ْبِالَِال يّنألاح لانْيلِال يّنألاح لي رّ يِلاّحآألْاوملومق(

لح ل ي اب ْ س لا

لَومحل يِ ألا

ل وّييبّنلال يِ ألاح لَييع

ل

لَليهيبل مُ حآألاحلي ْثي يبلْاوم حآأل ْ

اَل. وم يْ ْسمحلمَلم َْ لْمم ْْريحل حأل ْْبل م ري فمنلإلْميريِّ ل يح

ِ

لْا اْهالي

ل)مميْعْلالمعيي ّسلالومه لم رّالمممه ييفْ ي سَل ا يشل يِلْ مُلا ّنِاَلْاْوّلوتل ِاّ

ل: بلا

،ل

-.

Katakanlah hai orang-orang mu min : Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, )sma il, )shaq, Ya kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan )sa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk

patuh kepada-Nya. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah

beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka

berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).

Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui . Bagi Syiah, lafadz ْا نمآ ْنإف), bermaksud, mereka umat manusia, sedangkan lafadz ( هب تنمآ ام لْثمب), adalah imam Ali,

Fatimah, Hasan, Husain, dan para imam-imam lainnya. Jadi maksud ayat ini

adalah keimanan seorang mukmin harus melalui dan mengikuti serta sesuai

dengan keimanan para imam-imam Syiah[8].

Inilah gambaran tentang konsep keimanan kepada Allah swt yang

diyakini oleh golongan Syiah.

Tentang Nama-nama Allah dan Nya yang pada asalnya

(8)

nama-nama serta sifat-sifat tersebut dilabelkan juga untuk para imam-imam

Syiah. Hal ini dapat dilihat ketika al-Kulaini meriwayatkan sebuah pentafsiran daripada ayat al-Qur an:

ل)ا يِلم ْومعْ اَلَ ْ سممْلالم ا َْلالي ّ يّ (

-ل، ا عآلا

-.

ل

(anya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu . Al-A raaf: . Dari Abu Abdillah, ia mengatakan: Kami dan asma al-husna tidak akan menerima amalan seorang hamba kecuali dengan pengetahuan kami izin kami [9].

Dalam kitab-kitab Syiah yang lain disebutkan:

هي ْْخل يِليهل م ْْعل م َْ ل،ْ مُي ه ْظأل ْْبل ي ْ لال يِل مبّْ انليهلمهْج ل م َْ

ل

ل

Kami para imam adalah wajah Allah, kami beredar di muka bumi di antara kamu, dan kami (para imam) adalah mata Allah untuk hamba-Nya [10].

Ibnu Babwaih menafsirkan firman Allah swt:

ل)مه ْْ لّإ

ِ

ال يِاهل َْلّ مُ(

ل،صّ لا

-.

ل

ل

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah . Al-Qashash: 88).

)a mengatakan: ك ْ ي ا يذّلا ه هْج نْحن . Kamilah wajah Allah yang tidak akan binasa [11]. Keyakinan seperti ini dapat ditemukan juga dalam Syiah )sma iliyah[12].

Dengan demikian, dari uraian di atas dapat dilihat dengan jelas bahwa

Syiah menambahkan rukun Islam dengan Imamah (politik). Dan hal ini

ditegaskan kembali oleh syekh Muhammad Husein al-Ghitah yang merupakan

(9)

Sesungguhnya mazhab Syiah imamiyah menambahkan rukun )slam Ahlu Sunnah , yaitu )mamah [13].

Teks ucapan ini merupakan pengakuan bahwa Syiah memang sengaja

menambahkan rukun Islam supaya berbeda dengan rukun Islam yang diyakini

oleh kalangan sunnah.

[1] Al-Kulaini, Ushul al-Kaafi, 2/42.

[2] Al-Kulaini, Ushul al-Kaafi, 2/42.

[3] Al-Kulaini, Ushul al-Kaafi, 2/42.

[4] Al-Qadhi an-Nu man, kitab Da aaim, /

[5] Amir Muhammad al-Qazawayni, as-Syiah fi Aqaidihim wa Ahkamihim, hal:

24.

[6] Lihat usaha-usaha beliau dalam menetralisir hubungan Sunnah dan Syiah pada bukunya yang berjudul as-Syiah wa at-Tasyayyu .

[7] Al-Hurru al-Aamili, Wasaail as-Syiah, 2/665. Tahziib al-Ahkam, 1/8.

[8] Lihat beberapa tafsir mu tabar Syiah: al-)yasyi, / . Al-Burhan, 1/157.

As-Shafi, 1/92.

[9] Al-Kulaini, Ushul al-Kaafi, 1/143-144.

[10] Tafsir al-)yaashi, / . al-Majlisi, Bihaar al-Anwaar, 94/22. an-Nuuri at-Thabrisi, Mustadrak al-Wasaail, 1/371.

[11] Ibnu Babwaih, at-Taudih, hal 149.

[12] Lihat rinciannya pada buku penulis, Mauqif az-Zaydiah wa Ahli as-Sunnah min al-Aqidah al-)sma iliyah wa Falsafatuha, hal: 185-190, Darul Kutub al-Ilmiah,

Beirut-Lebanon, 2009.

Referensi

Dokumen terkait