BAHAYA PENYEBARAN SYIAH DI NEGARA-NEGARA SUNNI (Bagian Ketiga: Rukun Iman)
Kamaluddin Nurdin Marjuni
https://www.dakwatuna.com/2013/06/10/34819/bahaya-penyebaran-syiah-di-negara-negara-sunni-bagian-ketiga-rukun-iman/#axzz4t1e534pT
dakwatuna.com – Kemudian untuk rukun iman yang lainnnya, seperti beriman
kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kiamat, serta qadha dan qadar, akan penulis jelaskan satu persatu secara singkat di bawah ini.
1) Malaikat-Malaikat-Nya.
Termasuk bagian dari rukun iman yang disepakati oleh sunnah dan syi ah adalah beriman kepada malaikat-malaikat Allah Taala, sebagaimana firman-Nya:
ل
لس لهبتك لهت ئام ل ِّّل م آلُّل نمْؤ ْلا لهّب ل ْ ملهْيلِال زْنُآلا بل سّلال م آ(
لَُل لِ
ل َحآل ْْبلُّ
لُا َْغلانْعطحآ لانْعَلا لاق لِس ل ْ م
.)رص ْلال ْيل
ِ
ا لانّب ل
ل
ل
Rasul telah beriman kepada Al-Qur an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya , dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat . Mereka berdoa : Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali Al-Baqarah: 285)
sunnah, malaikat diciptakan dari cahaya (semata), sebagaimana sabda Rasulullah saw:
ل: ّّس لهْيلعل ّّال ّّصل ّّال س ل اقل ْ لاقل شئاعلْ ع
“
ل املْ ملّ اجْلالقلخ ل ُلْ مل ئا ْلال ْ لخ
لْكللفص لاّ مل آلقلخ ل َل ْ م
.”
Dari Aisyah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya untuk kalian [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2996].
Namun syi ah berpendapat lain, dan menegaskan bahwa penciptaan malaikat berasal daripada cahaya imam Ali[1]. Di samping itu syi ah mengatakan
bahwa ada di antara malaikat yang kerja dan tugasnya hanya untuk menangisi kuburan imam Husain dan berbolak balik menziarahi kuburannya sehingga hari kiamat. Dan menurut mereka jumlah para malaikat adalah sebanyak 4000[2]. Sementara dalam aqidah sunnah, tidak ditemukan pemahaman bahwa terdapat segerombolan malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menangis di atas kuburan imam Husain.
Bagi syi ah, malaikat Jibril di samping bertugas sebagai pembawa wahyu Ilahi, Allah juga menugaskannya sebagai pelayan bagi para imam-imam syi ah, sebagaimana riwayat yang disebutkan dalam kitab Biharul Anwar :
ل
.)انم اخل ْي ْْجفل:ا لاقل، ّ ئح ْْللام اخل ْ يل ْ حآلاع ل ْيئا ْْجلّ ِا(
ل
Sesungguhnya malaikat Jibril meminta untuk menjadi pelayan para imam, maka para imam menjawab: Jibril adalah pelayan kami [3].
ل) ي ْن ْلال مل تلل بْلقلّعلْمألال ّ لالهبل زن(
–
ل: شلا
ل،
-.
ل
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruuh Al-Amin (Jibriil), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan . Asy-Syu raa : 3-194)
Di dalam ayat lain disebutkan:
ل
ل) ْمحآلُّل ْ ملْمِّ ل ْ ِِلاهفل ّلا ل ئا ْلال َّت(
–
ل: لا
-.
ل
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar-Ruuh (Jibriil) dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan Al-Qadar: 4)
2) Kitab-kitab-Nya.
Kepercayaan kepada kitab-kitab merupakan rukun iman yang ketiga. Kesemua ajaran-ajaran agama disampaikan oleh malaikat dan dicatatkan di dalam kitab-kitab dan suhuf. Dan jumlah kitab-kitab suci tidak diketahui secara pasti berapa jumlahnya. Namun sekalipun tidak diketahui secara pasti jumlah kitab-kitab tersebut, yang jelas setiap rasul dibekalkan dengan kitab suci masing-masing.
berkata: Sesungguhnya Al-Qur an yang dibawa oleh Jibril kepada Muhammad memiliki . ayat [4].
Pada tempat lain, disebutkan juga teks berikut:
ل
لهل ْبعلِحآلّعل ْلخ ل: اقل، ْرصبلِحآل ْ ع
“ل:…
ل ْلقل، ا ّسلالا ْهلعل طافلفح ْص للَ ْنعل ّ
ِ
ا
ل ْ قل ْ حآ(
امل اّ مل اثلا هلْكن آْ قل ْثملهْيفلفح ْصمل: اقل؟ْ ا ّسلالا ْهلعل طافلفح ْصملام ل:) اّ لا
للف
ل ْ ملهْي
ل َا لفْ حلْكن آْ ق
.”
ل
Dari Abi Bashir, ia berkata, Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah, Abu Bashir bertanya: apakah Mushaf Fathimah itu? )a Abu Abdillah berkata: yaitu Mushaf yang 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al- Qur an kalian [5]. Oleh karena itu, Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi menegaskan bahwa Al-Qur an yang dimiliki oleh ahlu sunnah telah mengalami perubahan besar dan mengalami banyak penyimpangan dan penyelewengan[6].
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan dalam kitab Biharul Anwar :
ا ْهلعل ْلُآلء َْل هلا ُّ
ِ
ا ل،هلباتكل ْ ملء َْلهْيفلامل ا ّسلالا ْهلعل طافلفح ْصم
”
ل
Sesungguhnya isi kandungan Mushaf Fathimah adalah wahyu dari Allah yang langsung disampaikan kepadanya Fathimah [7].
Dalam kitab Dalaai`l an-)mamah terdapat riwayat yang menggambarkan isi dan kandungan daripada mushaf Fathimah, di antaranya adalah hal-hal ghaib. Seperti pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa apa yang sudah terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat kelak, bilangan jumlah malaikat, siapa saja utusan Allah, nama-nama para )mam syi ah dua belas imam), sifat-sifat penghuni surga dan neraka, jumlah orang yang akan berjaya masuk di dalam surga dan neraka, serta banyak lagi hal-hal lain[8].
Riwayat seperti ini sangat banyak ditemui dalam kitab-kitab syi ah yang masuk dalam katagori autentik al-Mu tabarah , seperti: Bashaa`ir ad-Darajaat karangan Ibnu al-Farruukh as-Shaffar, Amaali as-Sudduuq , karangan )bnu Babwaih al-Qummi dll.
Tentunya ilustrasi-ilustrasi ghaib yang tersebut dalam kitab-kitab di atas adalah sesuatu yang tidak masuk logika. Sebab Nabi Muhammad sendiri tidak mampu bercerita kepada ummatnya tentang hal-hal demikian, sebagaimana yang diungkapkan dalam firman Allah swt;
ل
لخل نعلْكلل قحآلّ ل ق(
لْ قل َِّالَ يلاملّ ِالعبّتحآلْ ِالَمل ِِّالْكلل قحآل لبْيغْلالّْعحآل ل ّّال ئ آز
ل) ّ َتتلافحآلرصبْلا ل ْْحلال ت ْ سيلْ ه
–
: اعُألا
-ل
Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah: Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat . Maka apakah kamu tidak memikirkan nya . (Al-An aam: 5 .
ل:ِ آ لهْيلعلهل ّّصلهل ْ س ل ْ ع
“
لّعل زْنحآلَاعت ل ابتلهل ّ
ا
ِ
لَْثا ل،ا تاخلَعلَْثا
لَعل
لهتَْيَلِلهتَص ل،ه تاخلّعل امِالُّل ْْال، َْيَ
”
Sesungguhnya Allah swt menurunkan membagikan cincin kepada dua belas imam, dan bagi tiap-tiap imam dua belas diberikan lembaran masing-masing, dan pada setiap cincin tersebut tertulis nama imam, sedangkan sifatnya tersebut dalam lembaran [10].
Dengan demikian, pada dasarnya syi ah mengakui adanya kitab suci selain al-Qur an yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yang dikenal sebagai Mushaf Fatimah . Dan Allah membagikan shuhuf lembaran-lembaran) kepada setiap imam yang dua belas.
Bagi Ahli Sunnah keotentikan mushaf dan shuhuf ini merupakan sebuah tanda tanya besar. Sebab bagi sunnah al-Qur an dan (adits sudah cukup untuk dijadikan pedoman hidup bagi ummat, sesuai dengan firman Allah swt:
ل ء َْلّكّللَايْبتلبات ْلال ْيلعلانْلّزن (
ل)ْ ل ْس ْللل َْب ل ْْ ل ه
-، حنلا
-Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur an untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri . (An-Nahl: 89)
لَْل ملبات لالِلان ْطّ فلاّم(
ل) َْْلْمِّ لَِالّّل ء
-ل، اعُألا
-Tiadalah Kami alpakan lalaikan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan . (Al-An aam: 3
Rasulullah saw juga bersabda:
ل ْ لل ْي ْمحآلْكْيفل ْك ت(
)هّيبُل ّن س ل،هلباتكل:ا ِلُْْ ّس تلاملاّْلضت
Saya meninggalkan kepadamu sekalian dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepadanya, yaitu: kitab Allah (al-Qur an dan Sunnah Nabi-Nya (adits . Muwatta Imam Malik, no: 2618).
Sebagai catatan, perlu diperhatikan bahwa sebagian ulama syi ah minoritas baik klasik ataupun kontemporer[11] ada yang menyanggah keyakinan bahwa al-Qur an yang di tangan sunnah tidak orisinil. Dalam artian lain, mereka mengakui bahwa Mushaf Utsmani tidak ada penyimpangan atau penyelewangan dalam isi kandungannya. Ulama tersebut adalah, imam at-Thuusi, imam at-Tabrisi, as-Syarif al-Murtadha, Adnan al-Bahraani, Syekh al-Qummi, syekh Muhammad Ridha al-Muzaffar dan syekh Kasyif al-Ghita[12]. Sedangkan mayoritas ulama syi ah tetap tidak mengakui Mushaf Utsmani[13].
Ahli Sunnah menilai bahwa pengakuan sebahagian ulama syi ah terhadap mushaf Ustmani bermotifkan Taqiyyah , alias bukan sikap hakiki mereka. Sikap ini mereka ambil hanya untuk meredakan pertikaian antara sunnah dan syi ah. Namun menurut hemat penulis, sebaiknya usaha demikian dari pihak syi ah kita tanggapi secara positif, atau dengan kata lain bersifat baik sangka (usnuzhan terhadap mereka. Yang artinya kita merespon baik pandangan golongan minoritas ulama syi ah )mamiyah di atas. Alangkah baiknya kalau kita mencari persamaan dan memperkecil ruang perbedaan?.
Bahkan DR. Musa al-Musawi intelektual syi ah menegaskan, bahwa yang berpendapat adanya Tahrif atau penyelewengan dalam mushaf utsmani adalah golongan minoritas syi ah dan bukannya mayoritas. Dan beliau sendiri meyakinkan kita bahwa imam al-Khu i dalam kitab tafsirnya al-Bayan telah menafikan sendiri unsur Tahrif yang ditujukan pada mushaf Utsmani oleh ulama-ulama syi ah lain, dan yang berpendapat demikian sebenarnya hanyalah orang-orang yang lemah akal pikirannya[14].
Tapi walau bagaimanapun, pihak sunnah menilai bahwa masalah Tahrif adalah pandangan mayoritas golongan syi ah. Seperti yang ditegaskan oleh syekh adz-Dzahabi dalam bukunya al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur an [15].
[1] As-Sayyid Hasyim al-Bahrani, Ma alim az-Zulfa fi Ma arif an-Nasy at al-Ula,
[2] Lihat. Wasaail as-Syi ah, /3 . [3] Al-Majlisi, Biharul Anwar, 26/345.
[4] Al-Kulaini, Kitab Al-Kaafi, 2/634. (kitab ini sama kedudukannya dengan kitab shahih Bukhari disisi Ahlu Sunnah).
[5] Al-Kulaini, Kitab al-Kaafi, 1/239-240.
[6] Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi, kitab Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, dinukil dari Asy-Syi ah Wal Qur an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir.
[7] Biharul Anwar, 26/42.
[8] Muhammad Ibnu Jarir bin Rustum at-Thabari, Dalaail al-Imamah, hal: 27-28.
[9] Suhuf bentuk jama dari Shahiifah, artinya lembaran, memiliki beberapa
sinonim dalam bahasa Arab, yaitu: Waraqah, Ruq ah, Tirsun dan Qirthaasun. Lihat: DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni, kamus Syawarifiyyah , Sinonim Arab-Indonesia, hal: 368.
[10] Riwayat ini disebutkan di berbagai kitab-kitab Syi ah, lihat: Kulayni,
al-Kaafi, 1/527-528. Ikmaal ad-Din, Ibnu Babwaih al-Qummi, hal: 301-304.
[11] al-Allamah As-Sayyid Ali al-Husaini al-Milani intelektual syi ah kontemporer mengarang sebuah buku yang berjudul نآرقلا فيرحت مدع yang artinya: Tidak ada penyelewengan Qur an. Buku ini dicetak oleh Markaz al-Abhats al-Aqadiyyah. Sebuah pusat kajian syi ah di )ran.
[12] Lihat: al-Wihdah al-Islamiah, hal: 33-34.
[13] Lihat ketegasan ulama-ulama syi ah tentang Tahrif dalam tafsir as-Shaafi ,
imam al-Faidh al-Kaasyaani, tafsir al-)yasyi imam al-)yasyi.