Struktur untuk Wawancara Mendalam dalam (2)

11 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Struktur Wawancara Mendalam Pada Konteks Kejadian

Kata wawancara mencakup aspek praktek yang luas. Wawancara ini memiliki sifat lebih terstruktur, survey wawancara dengan preset, terstandarisasi, dan biasanya menggunakan pertanyaan tertutup. Di sisi akhir rangkaian wawancara sifatnya terbuka-tertutup, biasanya tidak terstruktur, dan biasanya terlihat dengan menggunakan wawancara antropologi, seperti yang disampaikan Spradley (1979), sebagai sebuah percakapan yang menyenangkan. (untuk sebuah penjelasan pendekatan yang luas dalam melakukan wawancara, lihat Bertaux, 198; Briggs 1986, p.20; Ellen, 1984, p. 231; Kvale, 1996; Lincoln & Guba, 1985, pp. 268-269; Mishler, 1986, pp. 14-15; Richardson, Dohrenwend, & klein, 1965, pp.. 36-40; Rubin & Rubin, 1995; Spradley, 1979, pp. 57-58)

Buku ini, bagaimanapun juga, membahas mengenai apa yang telah saya dan kolega saya lakukan dengan sebuah istilah Wawancara Mendalam berdasarkan kejadian yang dialami. Metode-nya menggunakan kombinasi wawancara sejarah-kehidupan/masa lalu (lihat Bertaux, 1981) dan wawancara mendalam yang terfokus pada informasi yang diberikan oleh gambaran asumsi dari kejadian dan khusus, Alfred Schutz (1967). Struktur wawancara saya jelaskan pada bab ini dan mengenai pendekatan pada teknis wawancara dan data analisisnya akan saya jelaskan pada bab berikutnya mengikuti posisi teori-nya (Untuk pengembangan diskusi mengenai hubungan antara teknik wawancara dan teori utama dari pendekatan wawancara bisa di lihat pada buku Kvale, 1996, bab 3).

Pendekatan yang digunakan pada wawancara ini adalah dengan menggunakan pertanyaan terbuka-tertutup. Tugas utama nya adalah untuk membangun dan mengeksplorasi respon partisipan atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan menyusun/mengulang/membangun kembali pengalaman partisipan ke dalam topik studi.

Jangkauan topik yang bisa diadaptasi dalam pendekatan wawancara ini sangat luas, mencakup hampir semua isu/permasalahan yang melibatkan pengalaman hidup manusia. Di masa lalu, mahasiswa doktor yang bekerja dengan saya telah bekerja atau melakukan eksplorasi beberapa subjek berikut ini untuk disertasi atau publikasi lainnya:

Eleventh-grade students as writers (Cleary, 1985,1988, 1991) Student teaching in urban schools (Compagnone, 1995)

English teachers’ experiences in their first year of teaching (cook, 2004)

Relationship between theoretical otientation to reading and reading practicess (Elliot-Johns, 2004; received the Canadian Association for Teacher Education’s Outstranding Dissertation Award in 2005)

The Experience of Mainland Chiunesse woman in American graduate programs (Frank, 2000)

Black jazz musu=icians who become teachers in college and universities (Hardin, 1997) The experience of students whose first language is not English in mainstream English

classroom (Gabriel, 1997)

African American performing artists who teach at traditionally white colleages (Jenoure, 1995)

(2)

The literacy experience of vocanional high school students (Nagle, 1995, 2001) The impact of tracking student teachers (O’Donnel, 1990)

Woman returning to community colleges (Schatzkamer, 1986)

The work of physical education teachers educators (Williamson, 1988, 1990) Lesbian physiscal education teacher (Woods, 1990)

The experience of young Black fathers in a fatherhood program program (Whiting, 2004) ESL teachers (Young, 1990)

Tiga Seri Rangkaian Wawancara

Berangkat dari perbedaan yang mencolok dari semua ciri-ciri wawancara, model wawancara mendalam atas kejadian/pengalaman ini melibatkan tiga rangkaian wawancara yang berbeda pada setiap partisipan. Perilaku manusia menjadi lebih bermakna dan bisa dipahami ketika ditempatkan di dalam konteks kehidupannya dan kehidupan yang ada di sekitarnya. Tanpa sebuah konteks maka sedikit kemungkinan untuk bisa mengeksplorasi makna dari topik mereka dengan mengatur satu kali pertemuan dengan “partisipan” yang sebelumnya belum pernah melakukan tahapan ini. (lihat Locke, Silverman, & Spirduso, 2004, pp. 209-226), untuk mendapakan pengetahuan yang penting pada permasalahan ini dalam penelitian kualitatif dan khusus, pada umumnya berasal dari perspektif para pembaca penelitian sejenis. Lihat juga Mishler, 1986)

Dolbeare and Schuman (Schuman, 1982) mendesain tiga rangkaian wawancara yang mencirikan karater pendekatan ini dan membiarkan pewawancara dan partisipan untuk meluruskan pengalamannya dan menempatkannya ke dalam konteks yang diinginkan. Wawancara pertama mengembangkan konteks pada pengalaman partisipan. Wawancara kedua membiarkan partisipan untuk membangun kembali pengalaman detil mereka ke dalam konteks yang dimunculkan. Dan wawamcara ketiga mendorong partisipan untuk merefleksikan makna dari pengalamannya untuk diingat oleh diri mereka sendiri.

Wawancara Pertama: Fokus pada Sejarah Hidup

Pada wawancara pertama, tugas pewawancara adalah menempatkan partisipan untuk menceritakan pengalaman dirinya sendiri sebanyak mungkin mengenai topik yang muncul pada saat ini. Pada studi kami mengenai pengalaman guru dan mentor siswa dalam pengembangan sekolah Profesional di East Longmeadow, Massachusatte (O’Donnel dkk, 1989), kami bertanya kepada partisipan untuk menceritakan kehidupan masa lalu mereka sampai pada masa mereka menjadi guru atau mentor siswa selama 90 menit.

(3)

Di dalam melakukan pertanyaan ini, kami menghindari pertanyaan “mengapa Anda menjadi guru siswa (mentor)?” kami akan memberikan pertanyaan bagaimana mereka bisa berpartispasi dalam pengembangan program. Dengan menanyakan “bagaimana?” kami berharap mereka bisa membangun dan menarasikan jarak kejadian konstitutif pengalaman di keluarga, sekolah dan tempat bekerja nya yang menempatkan partisipan pada profesi pengembangan program sekolah di dalam konteks kehidupan mereka sendiri. (Lihat Gergen, 2001, untuk sebuah pengenalam pada kekuatan naratif-definisi diri).

Wawancara Kedua: Pengalaman Detil/Rinci

Fokus wawancara kedua adalah pada pengalaman rinci dari partisipan di dalam kehidupannya saat ini dalam topik area studi ini. Kami meminta mereka untuk membangun/menceritakanya kembali secara lengkap. Dalam studi kami mengenai guru atau mentor siswa pada sebuah klinik, contohnya, kami meminta mereka apa yang mereka lakukan pada pekerjaannya/apa tugas mereka dalam pekerjaannya. Kami tidak menanyakan untuk sebuah opini tapi lebih pada detil pengalaman mereka, meskipun opini mereka juga akan terbentuk. Berdasarkan Freeman Dyson (2004), seorang ahli matematika ternama Littlewood, yang merupakan dosen Dyson di University of Cambridge, memperkirakan bahwa setiap kita bangun dan secara nyata berhubungan dengan kehidupan ini, kita melihat dan mendengar banyak hal setiap rata-rata satu hal per detik. Maka dalam 8 jam sehari, kita telah memperoleh pengalaman hampir 30.000 kejadian. Pada wawancara kedua ini, kemudian, tugas kita adalah untuk berusaha/berjuang, bagaimanapun juga jika tidak lengkap, untuk membangun kembali pengalaman partisipan yang sangat banyak di dalam area studi yang kita kerjakan.

Dalam rangka untuk menempatkan pengalaman partisipan di dalam konteks setting sosial, kami meminta guru siswa, contohnya, untuk menceritakan hubungan mereka dengan siswa, mentor mereka, fakultas lainnya di sekolah, para administrator, para orang tua, dan komunitas lainnya. Pada wawancara kedua ini, kita bisa meminta mereka untuk membangun kembali cara mengajar mereka dalam sehari dari saat mereka bangun tidur sampai tidur kembali. Kami meminta cerita pengalaman mereka di sekolah untuk memproleh informasi yang lengkap.

Wawancara Ketiga: Merefleksikan Makna

(4)

“seperti yang sudah anda ceritakan pada wawancara ini, kemana anda akan membawa diri anda melanngkah ke masa depan?”

Memberi arti atau membuat makna yang dilihat oleh partsipan adalah bagaimana faktor-faktor yang telah beriinteraksi dalam kehidupannya membawanya pada situasi ke masa kini. Hal ini juga memerlukan pengalaman yang lengkap dari kehidupan mereka saat ini dan di dalam konteks studi kita. Kombinasi eksplorasi masa lalu untuk mengklarifikasi kejadian yang membawa partisipan pada masa sekarang, dan menjelaskan pengalaman rinci yang konkrit, menciptakan kondisi untuk merefleksikan apa yang sudah mereka lakukan sekarang dalam kehidupannya. Wawancara ketiga ini bisa produktif hanya jika dasarnya sudah muncul di dua tahap wawancara sebelumnya.

Meskipun pada wawancara ketiga ini kita fokus pada pemahaman pengalaman kehidupan para partisipan, melalui ketiga tahapan wawancara ini, partisipan telah membuat sebuah makna. Proses menempatkan pengalaman dalam sebuah bahasa adalah sebuah proses-menciptakan makna (Vygotski, 1987). Ketika kita meminta para partisipan untuk membangun ulang pengalaman rinci mereka, mereka akan memilih kejadian dari masa lalu mereka yang ada di dalamnya, mereka melakukan penanaman makna bagi diri mereka sendiri. Ketika kita meminta mereka untuk menceritakan pengalaman mereka, mereka akan membentuk beberapa aspek di dalamnya dengan membuat makna di awal, di tengah dan di akhir, baik dalam wawancara pertama, kedua maupun ketiga. Namun di dalam wawancara ketiga, kami fokus pada pertanyaan di dalam konteks dari dua wawancara sebelumnya dan membuat makna nya menjadi pusat perhatian kami.

MEMATUHI STRUKTUR

Kami melihatnya sebagai sebuah yang penting untuk menempelkan stuktur ketiga tahap wawancara ini. Setiap wawancara menyajikan satu tujuan baik untuk satu tahap wawancara dan dua tahap wawancara lainnya. Kadang, pada tahap pertama wawancara, partisipan akan menceritakan mengenai cerita yang menarik di dalam situasi pekerjaanya; tapi itu merupakan fokus pada wawancara tahap kedua. Hal ini sangat menarik, karena informasinya mungkin akan sangat menarik, untuk mengejar tujuan partisipan dan mengabaikan struktur tahapan wawancara. Untuk melakukan hal itu, bagaimanapun juga, bisa mengikis fokus pada setiap tahapan wawancara dan tujuan dari si pewawancara. Setiap wawancara terdiri dari banyak keputusan yang harus dibuat oleh pewawancara. Pertanyaan terbuka-tertutup. Penyelidikan mendalam adalah solusi terbaik dalam struktur ini yang mengijinkan baik pewawancara dan partisipan untuk mempertahankan makna dari fokus setiap tahapan wawancara.

(5)

untuk bekerja sesuai tahapannya. (lihat McCraken, 1988, p-22, untuk diskusi lebih lanjut mengenai keseimbangan yang lembut ini)

DURASI WAKTU WAWANCARA

Untuk menyelesaikan tujuan dari setiap tahapan wawancara, Dolbare and Schuman (Schuman, 1982) menggunakan format 90 menit. Orang-orang mempelajari metode ini untuk pertama kali dan kadang bereaksi, “Oh, waktu nya sangat lama. Bagaimana kami bisa memenuhi waktu selama itu? Bagaimana kami bisa mendapatkan partisipan yang bisa meluangkan waktu nya selama itu?”

Waktu satu jam merupakan unit waktu yang standar di mana partisipan tidak akan “memperhatikan jam”. dua jam kelihatannya terlalu lama. Seiring dengan tujuan dari pendekatan ini adalah untuk memperoleh pembangunan/menceritakan ulang pengalaman dari partisipan, menempatkannya di dalam konteks kehidupan mereka, dan merefleksikan makna nya, semuanya bisa diperoleh lebih pendek dari 90 menit dari setiap wawancara. Bagaimanapun juga tidak ada yang ajaib atau absolut mengenai kerangka waktu. Bagi partisipan yang usianya muda, durasi waktu yang lebih pendek lebih tepat. Hal yang paling penting adalah durasi waktu diputuskan sebelum wawancara dimulai.

Melakukan hal seperti itu akan menyatukan setiap tahapan wawancara; wawancara memiliki setidaknya sebuah kronologis awal, tengah dan akhir. Pewawancara akan belajar untuk mengasah ketrampilannya jika mereka bekerja dalam sebuah kerangka waktu yang sudah ditentukan dan harus menyesuaikan dengan teknik wawancara nya. Lebih jauh lagi, jika pewawancara memiliki perjanjian dengan sejumlah partisipan, mereka harus menjadwal wawancara sehingga mereka bisa menyelesaikan satu partisipan dan lanjut ke partisipan selanjutnya. Jika mereka memulai bekerja dengan sejumlah materi yang banyak dan dimunculkan dari wawancara mendalam ini, mereka akan menghargai jika diberikan waktu yang lebih lama lagi.

Para partisipan juga mempertaruhkan waktu mereka juga. Mereka harus tahu berapa lama waktu yang diperlukan oleh pewawancara; mereka harus mengatur jadwal kehidupan mereka. Lebih jauh lagi, waktu terbuka-tertutup bisa menumbuhkan kegelisahan yang tidak pantas diperoleh oleh partisipan. Sebagian besar partisipan yang beekrja sama dengan kami sangat menghargai 90 menit waktu wawancara yang kami berikan. Daripada waktu yang lebih lama lagi, cukup lama bagi mereka untuk membuka mereka merasa mereka diperlukan sangat serius oleh pewawancara.

Durasi 90 menit waktu digunakan sampai akhir wawancara merupakan waktu yang sangat menarik dan harus dimanfaatkan, karena apa yang akan didiskusikan adalah poin-point yang dianggap penting. Meskipun satu pengetahuan baru diperoleh dengan melanjutkan wawancara diluar waktu yang ditentukan, pengalaman saya bahwa sebuah situasi yang mengurangi satuan keuntungan didalamnya. Menambah waktu wawancara mengakibatkan terbuka nya tujuan pewawancara dan kepercayaan partisipan bahwa pewawancara akan melakukan apa yang sudah dia janjikan.

(6)

partisipan kelihatannya tiba-tiba ingin melanjutkan diskusi sebelum ini dicegah. Masalahnya adalah setelah percakapan tidak lagi direkam/dicatat dan tidak secara normal ditulis dalam format studi. (lihat Bab 5). Meskipun bahan yang didiskusikan sangat menarik, namun hal ini sangat sulit untuk digunakan.

JARAK ANTAR WAWANCARA

Ketiga struktur wawancara ini akan berjalan dengan baik, berdasarkan pengalaman saya, adalah ketika para peneliti memberi jarak pada setiap wawancara mulai dari 3 hari sampai satu minggu. Hal ini untuk memberikan waktu kepada para partisipan untuk mempertimbangkan wawancara sebelumnya namun tidak cukup waktu kehilangan koneksi dengan wawancara tahap kedua. Sebagai tambahan, jarak waktu yang diperbolehkan bagi para pewawancara bekerja dengan partisipan lebih dari 2-3 minggu. Perjalanan waktu ini mengurangi pengaruh kemungkinan wawancara idiosyncratic. Yaitu, partisipan mungkin akan mengalami kesulitan/hambatan seperti sakit, atau mungkin bisa terjadi gangguan yang mempengaruhi kualitas wawancara

Fakta bahwa para pewawancara kembali berbicara 3 kali selama masing-masing 90 menit mempengaruhi perkembangan hubungan antara partisipan dan pewawancara secara positif. Para pewawancara akan bertanya banyak pada partisipan; namun pewawancara akan membalasnya dengan waktu dan usaha. Dengan kontak kunjungan, telpon dan surat untuk mengkonfirmasi jadwal pertemuan (lihat bab 4), dan 3 tahapan wawancara, pewawancara memiliki kesempatan untuk menciptakan hubungan yang substansial dengan partisipan sepanjang waktu.

ALTERNATIF PADA STRUKUR DAN PROSES

Para peneliti akan memperoleh alasan untuk mengeksplorasi berbagai alternatif pada struktur dan prosedur yang dijelaskan di atas. Selama struktur dijaga yang membiarkan partisipan untuk membangun ulang dan merefleksikan pengalamannya di dalam konteks kehidupan mereka, alterasi pada ketiga struktur wawancara dan durasi serta jangka waktu wawancara bisa secara pasti dieksplorasi. Tapi sangat ekstrim untuk membelokan pola yang bisa menghasilkan kerugian dalam struktur wawancara ini.

Tim penelitian kami telah mencoba berbagai ragam jarak, biasanya diharuskan/disesuaikan dengan jadwal partisipan. Tujuannya, jika partisipasn melewatkan wawancara karena ada hal yang tidak terduga, kami melakukan wawancara satu atau dua hari di waktu sore yang sama daripada memberi jarak beberapa hari atau minggu. Ada satu kejadian, satu orang partisipan mengatakan akan berangkat untuk liburan musim panas, sehari setelah kami menghubungi mereka. Kami melakukan wawancara satu, dua dan tiga dengan partisipan tersebut dalam waktu yang sama dengan hasil yang bisa pertimbamgkan.

(7)

prosedur terhadap prosedur lainnya.; banyak dokumen penelitian telah menyusun wawancara dengan respon stimulus-kerangka referensi, yang tidak cukup untuk prosedur wawancara mendalam (Brenner, Brown, & Canter, 1985; Hyman, Cobb, Fiedman, Hart & Stember, 1954; Kahn & Cannel, 1960; Mishler, 1986; Richardson dkk, 1965). Prinsip memerintah dalam merancang proyek wawancara harus di arahkan pada kerja keras dengan sebuah proses rasional yang kedua nya mampu diulang dan didokumentasikan. Ingatlah bahwa ini bukanlah dunia yang sempurna. Ini hampir selalu menjadi jalan yang lebih baik untuk melaksanakan sebuah wawancara yang dibawah rata-rata ideal daripada kondisi ideal dan tidak melaksanakan sama sekali.

BERMAKNA UNTUK SIAPA? VALIDITAS DAN REALIBILITAS

Bermakna untuk siapakah sebuah wawancara yang memberikan keyakinan dan bahwa sebuah laporan peneliti dalam sebuah presentasi, artikel atau buku? Ini bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah. Setiap aspek struktur, proses dan praktek wawancara bisa diarahkan pada tujuan meminimalisir pengaruh pewawancara dan situasi wawancara membawa partisipan membangun ulang pengalamannya. Tidak masalah bagaimana kami bekerja pada pengaruh itu, bagaimanapun juga, fakta nya adalah bahwa pewawancara merupakan sebuah bagian dari gambaran wawancara. Mereka menanyakan pertanyaan, merespon pada partisipan, dan pada satu waktu bahkan mereka berbagi pengalaman mereka sendiri. Lebih jauh lagi, pewawancara bekerja dengan berbagai bahan materi, memilahnya, menginterprestasikan, menjelaskan dan menganalilsanya. Meskipun mereka disiplin dan mendedikasikan untuk menjaga wawancara sebagai sebuah proses membuat-makna partisipan, pewawancara juga merupakan satu bagian dari proses (Ferraotti, 1981; Kvale, 1996; Mishler, 1986).

Interaksi antara data yang disatukan dan partisipan terlibat secara alami dalam proses wawancara. Sudah menjadi sifatnya, dalam pendekatan kualitatif seperti observasi partisipan. Dan saya percaya bahwa hal ini sudah menjadi sifat melekat dalam sebuah eksperimen dan metodologi kuasi-eksperimen yang diterapkan pada manusia, meskipun banyak sekali penilaian yang dikembangkan untuk mengontrol nya. (Campbell & Stanley, 1963).

Satu perbedaan besar, bagaimanapun juga, antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif adalah bahwa dalam wawancara mendalam, kami mengenali dan menegaskan peran dari instrumen, manusia sebagai pewawancara nya. Daripada menentang fakta bahwa intrumen digunakan untuk memperoleh data yang mempengaruhi proses ini, kami mengatakan bahwa manusia sebagai pewawancara bisa lebih pintar, mudah beradaptasi, intrumen fleksibel yang bisa merespon pada situasi dengan kemampuan, taktik dan pemahaman (Lincoln & Guba, 1985, p.107).

(8)

(lihat bab 6) untuk mengurangi distorsi (lihat Patton, 1989, p.187) yang bisa muncul karena peran mereka dalam wawancara.

Apakah ini bermakna bagi siapa saja?

Bagaimana kita tahu bahwa partisipan menceritakan pengalamannya dengan benar kepada kita? Dan jika ini benar bagi partisipan, apakah juga dibenarkan untuk orang lain? Dan jika orang lain yang melakukan wawancara di waktu yang berbeda, akankan partisipan membangun ulang pengalamannya secara berbeda? Atau jika kita mengambil partisipan yang berbeda dalam melakukan wawancara, akankah kita mendapatkan perbedaan sama sekali dan bahkan kontrakdiksi makna dalam permasalahan yang sama? Inilah beberapa pertanyaan yang mendasari permasalahan validitas, realibilitas dan generalisasi yang ada di hadapan para peneliti.

Banyak peneliti kualitatif tidak setuju dengan epistomologi asumsi yang mendasari catatan validitas. Mereka berargumen pada sebuah kosakata dan retorika baru yang mendiskusikan mengenai validitas dan realibilitas (Mishler, 1986, pp. 108-110). Lincoln dan Guba (1985), contohnya, menggantikan dugaan “layak dipercaya” untuk validitas. Dalam penjelasan yang seksama mereka berargumen bahwa peneliti kualitatif harus menginformasikan apa yang mereka lakukan dengan konsep “kredibilitas”, “transferability/kemampuan memindahkan”, “dapat dipertanggungjawabkan” dan “dapat dikonfirmasikan” (pp. 289-332)

Kritik lainnya adalah mengenai ide objektifitas yang mendasari dugaan realibilitas dan validitas. Kvale (1996) melihat bahwa issu validitas sebagai sebuah pertamyaan “kualitas ketrampilan tangan/quality craftmanship’ dari para peneliti yang membuat mereka menyusun hak mempertahakan pengetahuan (pp. 241-244) ferrarotti (1981) berargumen bahwa pengetahuan yang sangat dalam bisa diperoleh hanya dari intersubjektifitas diantara para peneliti dan apa yang mereka teliti. Seperti diskusi yang disarankan apakah kosa kata “validitas” ataupun “dapat dipertanggungjawabkan” adalah sama.

(9)

Sebuah Contoh Pendekatan Pada Validitas

Salah seorang partisipan kami di Secondary Teacher Educaton Program adalah seorang perempuan yang telah mengajar di sekolah agama selama beberapa tahun namun belum bersertifikasi. Dia telah mendaftar di dalam program kami untuk mendapatkan sertifikat untuk level SMA pada bidang studi sosial. Dia setuju untuk dilakukan wawancara mengenai pengalamannya di program pendidikan guru klinik.

Pewawancara memulai wawancara ketiga nya dengan pertanyaan dasar: “apa makna nya bagi anda untuk menjadi seorang guru?” dia kemudian merespon:

Hmm saya kira... (tersenyum) – ini seperti – makna sangat baik jika saya mencoba dan praktek langsung – saya kira itu makna nya – ini merupakan perjalanan terakhir dalam membuat komitmen ini, profesi ini, untuk mengajar sebagai sebuah profesi. Apa yang akan saya lakukan dalam hidup saya karena saya memiliki semuanya – selama ini, naik turun dan keluar masuk mengajar. Haruskah saya atau tidak? Saya sudah mentok dalam ruangan itu dimana orang berkata, kamu tahu, “ oh, mereka yang tidak bisa mengajar. Mereka yang tidak bisa mengerjakan apa-apa” hanya status negatif yang dimiliki dalam mengajar dan pendidikan. Maka, hal ini penuh dengan bahaya. Dan sangat menentang kenyataan bahwa saya telah mengajar banyak siswa. Maksud saya, saya bisa mengingat bahwa berpegang pada pendirian saya, apa, 10 tahun yang lalu, memikirkan, “ oh tidak, saya harus menjadi seorang guru suatu saat nanti”, dan mengingat apa yang guru siswa sukai di SMA, dan berpikir, “oh saya tidak akan mempermalukan diri saya sendiri dengan cara seperti itu” (tersenyum) dan saya kira ini adalah akhir tujuan ..membuat sebuah komitmen.

Apakah dia mengatakan valid? Pada wawancara pertama dia menceritakan kembali bagaimana dia keluar dari kampus dan mengajar di SD di sekolah agama karena dia membutuhkan biaya hidup. Dalam wawancara tersebut dia juga berbicara mengenai bagaimana dia keluar dari kurssus pendidikan karena dia merasa tidak memberikan apa-apa kepada tempat kursusnya; bagaimana dia bisa beralih pada bidang akademis, namun kemudian dia menyadari bahwa dia memang menyukai bidang mengajar.

Bahan materi di wawancara ketiga konsisten dengan bahan materi di wawancara pertama yang diberikan dua minggu sebelumnya. Konsistensi internal selama periode ini membuktikan bahwa dia memang tidak berbohong kepada pewawancara. Cukup dari sisi sintaksis, pengelompokkan kata, ekspresi diri, yang menbuat pembaca percaya bahwa dia memegang keseriusan untuk menjawab pertanyaan apa makna menjadi seorang guru dan apa yang dia katakan itu adalah benar bagi dirinya sendiri dan pada saat dia mengatakannya.

(10)

tingkat kebutuhan. Saya mulai bertanya kondisi apa yang mendorong seseorang untuk membuat sebuah komitmen.

Akhirnya, apa yang dikatakan oleh partisipan mengenai status pendidikan sebagai sebuah karir dan bagaimana hal tersebut berkaitan dengan keputusan pribadinya adalah sangat konsisten dengan apa yang kita tahu mengenai literatur yang mengatakan profesi guru dan dengan apa yang dikatakan oleh partisipan kami dalam studi ini. Saya bisa menghubungkan perjalanan individu ini dengan sebuah sumber permasalahan.

Wawancara ini membawa saya untuk menjadi lebih dekat lagi pada pemahaman bahwa pengalaman mengajar dengan apa yang sudah saya lakukan melalui metode lainnya seperti questionnaire dan observasi. Saya tidak bisa mengatakan bahwa pemahaman dia mengenai mengajar sebagai sebuah komitmen adalah valid untuk yang lainnya, meskipun perjalanan dengan wawancara lainnya berkaitan dengan apa yang dia katakan. Saya bisa mengatakan bahwa hal ini valid bagi diri dia sendiri dalam hal ini.

Struktur 3 tahapan wawancara, perjalanan waktu yang muncul melebihi proses wawancara, konsistensi internal dan kemungkinan konsistensi eksternal, sintaksis dan pemilihan kata, dan bahkan aspek nonverbal, dan penemuan dan makna pembelajaran yang saya peroleh dari membaca perjalan ini membawa saya pada kepercayaan diri atas keasliannya. Karena kami peduli pada partisipan yang memahami pengalamannya, keasliannya atas apa yang dia katakan membuatnya menjadi sebuah alasan bagi saya untuk mempercayainya sebagai sebuah validitas bagi dirinya sendiri.

Menghindari Respon Mekanistik

Ada sebuah ruangan di dunia ini pada berbagai pendekatan untuk validitas. Masalahanya bukan pada keberagamannya. Namun lebih pada cara doktrinasi beberapa penyokong dari beragama pendekatan yang mempolarisasi permasalahan. (lihat Gage, 1989). Mereka yang menyokong pendekatan kualitatif berada dalam bahaya menjadi seorang doktrinasi kepada mereka yang menerapkan penelitian pendidikan monoploi dan menyokong pendekatan kualitatif.

(11)

PROSES PENGALAMAN DIRI ANDA SENDIRI

Sebelum para pembaca membahas lebih banyak mengenai pendekatan pada wawancara, saya merekomendasikan mereka menguji terlebih dahulu minatnya dan mengeksplorasi beberapa permasalahan dengan melakukan sebuah proyek praktis. Buat tim dalam kelompok, lalu lakukan wawancara satu sama lain mengenai pengalaman pekerjaan di masa sekarang atau sebagai seorang siswa yang baru lulus.

Gunakan struktur 3 tahapan wawancara. Karena praktek ini akan diperkenalkan dengan sebuah teknik, lebih pendek, jika anda memilih untuk melakukannya, waktu biasanya dialokasikan untuk setiap tahapan wawancara adalah 90 menit sampai 30 menit. Pada wawancara pertama, tanyakan kepada teman anda bagaimana dia bisa masuk ke dalam pekerjaan ini atau dia bisa lulus dari sekolah ini. Cari tahu sebanyak mungkin mengenai konteks kehidupan dia sampai membawa nya pada posisi sekarang ini atau pada status kelulusannya.

Pada wawancara kedua, tanya partisipan anda untuk menceritakan kepada anda sebanyak mungkin mengenai detil pengalaman pekerjaannya atau pekerjaan setelah tamat sekolah. Tanyakan, “Apa tugas pekerjaan anda? Apa yang anda sukai dari pekerjaan anda?

Pada wawancara ketiga, tanyakan kepada partisipan anda apa makna penglaman bekerja atau makna setelah lulus sekolah. Anda bisa mengatakan, “sekarang apa yang harus anda ceritakan adalah mengenai bagaimana anda bisa dapat pekerjaan disini (atau menjadi siswa yang lulus dari sekolah), dan apa yang anda sukai dalam pekerjaan, apa makna nya bagi anda?”

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...