• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT UMUM KON (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT UMUM KON (1)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1

RENCANA KERJA

DAN SYARAT-SYARAT UMUM KONTRAK

1. PERATURAN-PERATURAN UMUM

Apabila tidak ditentukan lain, dalam pelaksanaan pekerjaan ini berlaku dan mengikat ketentuan yang tersebut di bawah ini dan dianggap telah mengetahui dan memahami termasuk segala perubahan dan tambahanannya saat ini.

a. Syarat-syarat Umum atau Algemene Voorwaarden (AAV. 1941) b. Buku Analisa BOW ( Burgelijke Openbare Werken ).

c. UU No. 1/1997 tentang keselamatan kerja.

d. Peraturan Umum untuk Pemeriksaan Bahan Bangunan ( PUBB ). e. Peratutan Beton Indonesia ( PBI 1971 ).

f. Standar Nasional Indonesia ( SNI ). g. Keppres No. 54 Tahun 2010.

h. Semua Dokumen yang menjadi bagian dari surat perjanjian pemborongan atas kontrak. i. Petunjuk dan pertimbangan lisan maupun tulisan yang diberikan oleh Direksi /

Pengawas.

2. RENCANA KERJA

a. Sebelum pelaksanaan dimulai pemborongan harus menyusun suatu rencana yang menyangkut bahan, tenaga kerja dan peralatan serta harus disetujui oleh Pemberi Tugas dan Pengawas selambat-lambatnya 1 ( satu ) minggu setelah Surat Perintah Kerja ( SPK ) diterima.

b. Pemborongan harus mengikuti rencana kerja tersebut dan juga menjadi dasar bagi Pengawas untuk mengisi prestasi pemborong dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pelaksanaana pekerjaan.

c. Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah Surat Perintah Kerja (SPK) diterbitkan, pemborong harus sudah mulai melaksanakan pekerjaan tersebut.

3. MENGHUBUNGI APARAT DESA/KECAMATAN

Kontraktor sebelum memulai pekerjaan, bersama Direksi harus menghubungi lebih dahulu para Aparat Desa/ Kecamatan lainnya yang berwenang dari wilayah kerjanya untuk memberitahukan kehadiran dan menjelaskan semua kerjanya sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tersebut.

4. PEMBUATAN BARAK KERJA DAN GUDANG

Kontraktor harus menyediakan barak yang memadai dan layak sebagai tempat beristrahat untuk para pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan tersebut. Disamping itu, Kontraktor diwajibkan pula untuk membuat gudang yang baik bagi penyimpanan material sehingga tidak rusak karena hujan atau cuaca.

5. PENJAGAAN DAN PENERANGAN TEMPAT PEKERJAAN

a. Kontraktor harus mengusahakan adanya cukup penjagaan ditempat pekerjaan untuk menghindarkan terjadinya kehilangan/pencurian terutama pada waktu tidak ada orang- orang yang bekerja.

b. Kontraktor harus memelihara gudang, ruang-ruang untuk menyimpan bahan serta alat-alat.

c. Untuk keperntingan keamanan dan penjagaan maka dilokasi pekerjaan harus diadakan peneranganpada tempat tertentu, dengan biaaya kontraktor.

d. Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas bahan-bahan yang disimpan dalam halaman pekerjaan, baik terhadap bahaya pencurian maupun bahaya kerusakan akibat tempat penyimpanan barang yang kurang sempurna.

(2)

2

6. TENAGA KERJA DAN PERALATAN

a. Kontraktor diwajibkan menyediakan tenaga kerja yang bertangguangjawab dan terampil dalam bidang-bidang keahlian yang dibutuhkan oleh pekrjaan serta dalam jumlah yang memadai untuk menyeleaikan volume pekerjaan sesuai dengam jadwalnya.

b. Setiap penambahan, pengurangan, dan pergantian tenaga kerja inti harus dilaporkan kepada Direksi. Kontraktor juga diwajibkan untuk mengikut sertakan dan memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaaan pekerjaan ini.

c. Kontraktor diharuskan menyediakan alat-alat kerja/bantu dalam kondisi yang baik dalam jumlah yang secukupnya sesuai dengan kebutuhan agar dapat menyelesaikan pekerjaan pada waktunya. Alat-alat ini harus dibuat daftarnya dan diserahkan kepada Pengawas/Direksi untuk mendapat persetujuan sebelum memulai seluruh pekerjaan.

d. Bila dalam pelaksanann pekerjaan terjadi hambatan dan hambatan ini menurut Pengawas/Direksi dikarenakan oleh kurangnya jumlah tenaga kerja atau peralatan atau kurang memenuhi syarat beberapa pekerjaan dan peralatan, maka Direksi berhak memerintahkan Kontraktor untuk menambah atau mengganti tenaga kerja dan peralatan tersebut.

7. KESEJAHTERAAN DAN KESELAMATAN KERJA

a. Pemborong diwajibkan menyediakan obat-obatan sesuai syarat-syarat dalam P3K dilapangan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan.

b. Pemborong harus bertanggung jawab atas segala kecelakaan yang mungkin terjadi akibat pelaksanaan pekerjaan ini.

8. BESTEK, GAMBAR KERJA DAN RENCANA KERJA

a. Pemborong diwajibkan meneliti semua gambar-gambar dan bestek mengenai pekerjaan ini.

b. Sebelum mulai melaksanakan pekerjaan, kontraktor harus menyusun rencana kerja/schedule yang harus diajukan paling lambat 1 (satu) minggu setelah tanggal penerimaan surat perintah kerja.

c. Kontraktor harus mengikuti rencana kerja tersebut dan akan menjadi dasar bagi konsultan pengawas untuk menilai prestasi pemborong dan segaala sesuatu yang berhubungan dengan kelambatan kerja.

d. Pemborong bertanggungjawab akan ketelitian pelaksanaan pekerjaan menurut peraturan kerja syarat-syarat dan gambar-gambar kerja.

e. Pemborong diwajibkan memberitahukan kepada pihak pengawas apabila ada perubahan pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bestek yang ada untuk mendapatkan persetujuan diperkuat dengan berita acara.

9. PENGUKURAN ( UITZET ) DAN PEMATOKAN

a. Semua ukuran yang tercantum dalam gambar kerja dinyatakan dalam centimeter (cm), Inchi (Inc) dan meter (m), kecuali ukuran baja/besi dinyatakan dalam millimeter (mm).

b. Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor terlebih dahulu harus mengadakan pengukuran/uitzet dengan Pengawas/Direksi Lapangan. Alat yang dipakai dalam pengukuran ini minimal adalah alat waterpass. Pengikatan dalam pengukuran ini dilakukan terhadap patok-patok tertentu yang berfungsi sebagai titik tetap yang lokasinya akan ditunjukkan oleh Pengawas/Direksi lapangan. Sebelum memulai pengukuran, Kontrkator diharuskan untuk memeriksa semua titik-titik ini dan membuat titik tetap tambahan lainnya apabila diperlukan.

10. PEMASANGAN PROFIL (BOUWPLANK)

(3)

3

b. Bouwplank harus dibuat dari papan kayu Klas III yang lurus dan rata. Pemasangan Bouwpalnk harus didahului dengan pengukuran yang menggunakan alat ukur. Pemasangannya harus cukup kuat. Kebenaran dari pemasangan bouwplank akan diperiksa oleh Pengawas/Direksi. Setelah pemeriksaaan ini selesai dan hasilnya benar, barulah pekerjaan dapat dimulai.

11. PEMBERSIHAN BAHAN BANGUNAN

a. Semua bahan bangunan yang akan dipergunakan harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.

b. Bahan-bahan yang ditolak pengawas, harus segera dikeluarkan dari lokasi pekerjaan paling lambat 2 x 24 jam.

c. Bagian pekerjaan yang menggunakan bahan banguan yang telah ditolak, maka pengawas segera memberitahukan kepada Owner untuk dibongkar dan segera diganti dengan bahan yang memenuhi syarat.

d. Apabila terjadi perbedaan bahan-bahan mengenai kualitas, maka pengawas berhak mengirim bahan tersebut ke laboratorium untuk diteliti dan biaya penelitiannya ditanggung pemborong.

12. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN

a. Jangka waktu pelaksanaan adalah 90 ( sembilan puluh ) hari kalender terhitung sejak tanggal penandatanganan kontrak.

b. Pekerjaan harus dimulai paling lambat 7 ( tujuh ) hari setelah dikeluarkannya Surat Perintah Kerja.

13. PERPANJANGAN WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN

a. Bilamana kemajuan pekerjaan jelas-jelas mengalami hambatan, dan mengakibatkan terjadinya pengunduran waktu pelaksanaan, maka kontraktor dan pengawas memberikan laporan perihal penyebab keterlambatan kepada pemberi tugas (Owner).

b. Permohonan perpanjangan waktu secara tertulis sudah diterima pemberi tugas (Owner) paling lambat 7 (tujuh ) hari sebelum tanggal penyerahan pertama.

c. Pemberi tugas akan memberikan jawaban permohonan perpanjangan waktu tersebut secara tertulis selambat-lambatnya 5 (lima) hari kalender.

14. JANGKA WAKTU PEMELIHARAAN

a. Selama 180 ( seratus delapan puluh ) hari kalender terhitung 1 ( satu ) hari setelah tanggal penyerahan pertama pekerjaan, pemborong harus memperbaiki segala kekurangan atau kerusakan yang terjadi karena pelaksanaan atau bahan yang tidak sempurna, sehingga pekerjaan selesai sempurna dan memuaskan bagi pemberi tugas dan pengawas.

b. Pemberi tugas dan pengawas berhak melakukan penilaian terhadap perbaikan pekerjaan tersebut dan biaya ditanggung oleh pemborong ( Penyedia barang ).

c. Setelah jangka waktu pemeliharaan berakhir dan pekerjaan telah sempurna, maka pekerjaan dapat diserahterimakan untuk kedua kalinya.

15. PEKERJAAN TAMBAH KURANG

a. Pekerjaan tambah kuarang boleh dikerjakan atas perintah tertulis dari pemberi tugas atas usul pengawas.

b. Nilai pekerjaan tambah kurang ini tidak boleh lebih dari 10 % harga borongan.

c. Bila ada pekerjaan tambah kurang yang harga satuannya tidak tercantum dalam surat tertulis kepada pemberi tugas dan pengawas yang akan ditentukan secara bersama-sama.

16. LAPORAN

(4)

4

a) Laporan Harian Laporan yang berisi : - Jenis pekerjaan - Volume pekerjaan

- Tugas dan jumlah tenaga kerja - Pemasukan bahan bangunan - Peralatan yang digunakan - Catatan keadaan cuaca

- Catatan peringatan atau saran dari pengawas dengan mencantumkan nama dan tanda tangan.

b) Laporan Mingguan

Laporan yang berisi kesimpulan laporan harian yang disusun setiap minggu. c) Laporan Bulanan

Laporan yang berisi kesimpulan laporan mingguan yang disusun setiap bulan.

17. ANGSURAN PEMBAYARAN

a. Angsuran pembayaran akan diatur sesuai dengan tahap-tahap yang telah disetujui bersama berdasarkan hasil prestasi pekerjaan dilapangan.

b. Penilaian hasil pekerjaan untuk pembayaran angsuran adalah prestasi bahan bangunan yang sudah terpasang.

18. HARGA PEKERJAAN BORONGAN

harga pekerjaan borongan yang tercantum dalam Surat Perjanjian adalah harga pasti dan pemborong tidak ada alasan apapun untuk menunaikan biaya pekerjaan. Kenaikan harga tidak dapat menjadi alasan pemborong untuk mengurangi mutu atau kualitas pekerjaan.

19. KELALAIAN DAN DENDA

a. Jika kontraktor tidak dapat menyelesaikan pekerjaan pada tanggal penyelesaian seperti yang telah ditetapkan pada perpanjangan waktu, maka kontraktor akan dikenakan denda keterlambatan sebesar 1/1000 ( satu permil ) dari harga borongan dengan jumlah denda maksimum 5 % ( lima persen ) dari harga borongan.

b. Apabila jumlah denda tersebut telah melebihi 5 % ( lima persen ), maka Pemberi Tugas berhak memutuskan kontrak kerja secara sepihak dan menunjuk kontraktor lain untuk menyelesaikan pekerjaannya, dengan sisa biaya yang belum dicairkan.

c. Setelah diadakan pemutusan kontrak kerja oleh Pemberi Tugas, kontraktor tidak berhak menuntut kelebihan pekerjaan yang dikerjakannya.

d. Pemutusan kontrak kerja dan pengalihan pekerjaan ini kepada kontrktor lain, dapat dilaksanakan setelah kontrktor mendapat teguran/ peringatan tertulis 3 (tiga) kali berturut- turut dari Pemberi Tugas.

20. PENYELESAIAN PERSELISIHAN

a. Jika ada perselisihan atau ketidak sesuaian paham yang timbul antara pemberi tugas dan kontraktor selama pelaksanaan atau setelah penyelesaiaan atau setelah pekerjaan ditinggalkan, atau hal apa saja yang timbul mengenai pelaksanaan ini, atau ada hubungannya dengan hal ini, maka akan diselesaikan secara musyawarah. b. Jika dengan musyawarah yang dilakukan tidak dapat memutuskan penyelesaian,

maka perselisihan dan ketidak sesuaian faham akan dilanjutkan pada Pengadilan Negeri Bau-Bau.

21. MEMUTUSKAN HUBUNGAN KERJA

a. Pemutusan hubungan kerja dapat dilakukan berdasarkan atas permintaan Pengawas/Direksi dan mendapat persetujuan Pemberi Tugas.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa tidak terdapat pengaruh penggunaan LKS berbasis keterampilan berpikir kreatif pada

1) Unaware of Brand Unware of Brand (tidak menyadari brand) adalah tingkat paling rendah dalam piramida brand awareness, di mana konsumen tidak menyadari adanya

Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan Hakim dalam putusan pada perkara yang diadilinya, yang dalam pemeriksaannya dilakukan dengan objektif dapat dijadikan sebagai alat

Hal tersebut karena, setelah bergabung dengan SkyTeam, Garuda Indonesia akan memiliki akses layanan jaringan penerbangan yang sangat luas, yaitu ke sebanyak 1,064 kota

Hasil penelitian menunjukkan kekuatan karakter ketiga dari virtue humanity yaitu social intelligence memperoleh hasil terendah dibandingkan kedua kekuatan karakter

dijumpai pada liran deas yang kecil #ewoundland telah ditemukan "ahwa aktor-akto yang sangat "erpengaruh terhadap se"aran lar4a !imuliidae adalah kecepatan aliran,

Dengan adanya persaingan yang semakin gencar ini, maka salah satu keputusan penting yang harus diam- bil oleh manajer pemasaran adalah keputusan di bidang saluran

98 Bagi profesi fisioterapi hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi dan rencana intervensi bagi fisioterapis dalam kasus yang bersangkutan dengan