2.1. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian sejenis terdahulu juga pernah meneliti mengenai beberapa topik yang turut menjadi kajian dalam penelitian ini, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dan referensi bagi peneliti.
1) Saiful Fadhli (2011)
Dalam penelitiannya Fadhli (2011) meneliti: Pengaruh Program
yang mereka dapatkan dari program CSR PT Arun NGL, respon masyarakat terhadap Program CSR PT Arun NGL menunjukkan bahwa program CSR yang dikategorikan berhasil adalah program dalam bidang pendidikan, pelayanan sosial dan kesehatan, dan keagamaan sementara program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan kesadaran lingkungan dikategorikan cukup. Sementara hasil dari analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa program CSR PT Arun NGL yang berpengaruh terhadap pengembangan wilayah berturut-turut adalah program pelayanan sosial dan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan, keagamaan dan kesadaran lingkungan.
2) Intan Aisyah Aisiqya, Choirul Saleh dan Minto Hadi (2013)
pelaksanaannya, program CSR pada PG. Kremboong melalui PKBL yang meliputi program kemitraan dengan petani sekitar, pemberdayaan usaha kecil dan menengah, pemberian keterampilan pengelasan kepada pemuda sekitar pabrik gula, dan program bakti sosial belum berjalan secara optimal karena program ini belum tersosialisasikan dengan baik. 3) Netty Dyah Kurniasari (2015)
Dalam penelitiannya Kurniasari (2015) meneliti: Program CSR Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Mikro, Kecil Menengah Di Madura). Tujuan penelitian ini adalah (1) menghasilkan data kebutuhan dan masalah UMKM di Madura. (2) menghasilkan model CSR berbasis pemberdayaan partisipatif. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah UMKM unggulan di Madura. Lokasi penelitiannya adalah UMKM di Madura. Populasi di lokasi ini adalah UMKM unggulan yang ada di wilayah ini dengan teknik pengampilan sampel purposive sampling. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa permasalahan UMKM di Madura antara lain desain, permodalan dan pemasaran. Model CSR yang sesuai adalah mengadakan pelatihan desain, pemberian permodalan dan promosi (pemasaran).
4) Miranda Agustien (2010)
(INALUM) terhadap Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana hubungan antara program corporate social responsibility bidang pemberdayaan masyarakat yang dilakasanakan PT Inalum dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Desa Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka.Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan yang cukup berarti antara peranan programCorporate Social Responsibility bidang pemberdayaan masyarakat PT Inalum terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka. Korelasi tersebut menunjukkan hasil yang signifikan. Artinya peranan program CSR bidang pemberdayaan manusia dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
5) Yuniarti Wahyuningrum, Irwan Noor, Abdul Wachid (2014)
menggunakan teknik Simple Random Sampling. Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh signifikan secara simultan dan parsial antara variabel sosial, ekonomi dan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Dari hasil keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemberdayaan masyarakat.
6) Subhan Afifi (2014)
Dalam penelitiannya Afifi (2014) meneliti: Identifikasi Program
Corporate Social Responsibility Di Pangkalan Brandan Terhadap Rencanan Pendirian PabrikSodium Ligno Sulfanot. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap rencana Pertamina mendirikan pabrik baru di Pangkalan Brandan untuk memproduksi
Sodium Ligno Sulfanat. Hasilnya menunjukkan bahwa pertama, pabrik itu dapat meningkatkan kesejahteraan.Kedua, dapat mengurangi angka pengangguran.Ketiga, tidak merusak lingkungan. Keeampat, pabrik ini dapat mendukung kegiatan sosial masyarakat. Program CSR akan dilakukan berdasarkan identifikasi yang telah diperoleh ini.
7) Leonard L.S. Parapat (2012)
pelatihan (training) dan seminar, serta pemberian pinjaman dari Telkom CDC Area Medan kepada UKM binaannya berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan UKM. Namun kegiatan pameran yang dilakukan atau disponsori Telkom CDC Area Medan kepada UKM binaannya serta jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan UKM berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap peningkatan pendapatan UKM, selain itu walaupun harga jual produksi UKM berpengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan UKM namun tidak signifikan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan UKM.
8) Arifin Saleh (2010)
bantuan itu dinilai belum memadai sehingga masyarakat juga masih ragu-ragu apakah bantuan tersebut bermanfaat kepada pemberdayaan mereka. Peran tanggung jawab sosial perusahaan dalam hal ini belum menyentuh kebutuhan langsung dari masyarakat dan masih layak dipertanyakan serta belum bisa meningkatan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
9) Muhammad Reza Maulana (2009)
Dalam penelitiannya, Maulana (2009) meneliti tentang : Peranan
(PKBL), sehingga bidang-bidang CSR yang diprioritaskan oleh CSR PT REKIND terdiri dari bidang pendidikan, kesehatan, sarana ibadah, bencana alam, kegiatan sosial, lingkungan hidup, pengembangan usaha kecil dan konversi. PT REKIND memiliki dua pandangan terhadap CSR, yaitu sebagai upaya memenuhi kewajiban (compliance) dan karena adanya dorongan tulus dari dalam (internal driven). PT REKIND memandang CSR tidak sekedar diimplementasikan karena menghormati peraturan yang ada, tetapi telah menempatkan CSR sebagai bagian dari Tata Nilai Budaya perusahaan danbusiness process
perusahaan.
10) Enjang Pera Irawan (2012)
Dalam penelitiannya, Irawan (2012) meneliti tentang : Program
disekitarnya.
11) Dessy Dwi Mulyani (2011)
Dalam penelitiannya, Mulyani (2011) meneliti tentang : Implementasi Program Corporate Social Responsibility (Csr) Dalam Pemberdayaan UKM Pada Bank Mandiri. Hasil penelitian Mulyani (2011) menyimpulkan bahwa Program CSR Bank Mandiri telah dilaksanakan dan dijalankan dengan baik sesuai dengan Peraturan Menteri dan dokumen-dokumen terkait yang ada. Adapun kelemahan Bank Mandiri dalam menjalankan Program CSR yaitu kurangnya SDM yang ada dalam hal jumlah staf PKBL, dan adanya tingkat kemacetan pengembalian pinjaman yang masih sangat tinggi.
12) Wenny Setiawati (2010)
juga merasa senang dengan bunga ringan yang dibebankan dan hampir semua pengrajin batik di Jetis yang menjadi Mitra Binaan Telkom CDC Surabaya Timur ini mengalami peningkatan usaha dan juga peningkatan penjualan setelah mengikuti Program Kemitraan. Kendala-kendala dalam penerapan Program Kemitraan yaitu lamanya proses atau alur yang harus dilakukan menyebabkan tidak adanya kepastian waktu kapan mitra binaan menerima pinjaman dana, jumlah pegawai Telkom CDC yang hanya 3 (tiga) orang sedikit menggangu survey kelayakan Calon Mitra Binaan yang ada di luar Surabaya dan juga kewajiban mitra binaan dalam pengembalian pinjaman dana kemitraan sering mengalami keterlambatan.
13) Anaesthasia Suzanna Magdalena Bessie (2009)
Dalam penelitiannya, Bassie (2009) mengangkat topik penelitian : Peranan CSR PT Pertamina Dalam Membantu Pengembangan UKM. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan Bassie (2009) bahwa :
a) Peran CSR PT Pertamina adalah tidak hanya sebagai pihak perusahaan yang melakukan pembiayaan atau permodalan terhadap usaha kecil dan menengah tetapi sebagai suatu pemberdayaan potensi guna menunjang peningkatan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi.
usaha dan meningkatkan produktivitas, mendukung segala kegiatan usaha dengan melakukan pelatihan dan pengembangan skill yang sangat penting bagi pengusaha.
2.2. Komunikasi Organisasi
2.1.1. Pengertian Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi menurut De Vito (1997) merupakan pengiriman dan penerimaan berbagai pesan di dalam organisasi atau di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang telah mendapatkan persetujuan dari organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepada kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang wajib dilakukan dalam organisasi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang di setujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual (De Vito, 1997:340).
Komunikasi organisasi juga dapat didefinisikan sebagai proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling bergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. (Muhammad, 2009: 67).
maka komunikasi organisasi akan berpusat pada simbol–simbol yang akan memungkinkan kehidupan suatu organisasi, baik berupa kata–kata atau gagasan–gagasan yang mendorong, mengesahkan mengkoordinasikan dan mewujudkan aktivitas yang terorganisir dalam situasi–situasi tertentu.
Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia–manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang di pergunakan, media apa yang di pakai, bagaimana prosesnya, faktor– faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya.
2.1.2. Fungsi dan Tujuan Komunikasi Organisasi
Gambar 2.1
Hubungan Antara Proses Manajemen dengan Tujuan dan Fungsi Komunikasi
2.1.3. Strategi Komunikasi Organisasi
Melalui diagram tersebut Harold Koontz menjelaskan bahwa komunikasi bukan saja memudahkan fungsi managerial, tetapi juga menghubungkan perusahaan dengan lingkungan eksternalnya. Melalui pertukaran informasi, pimpinan dalam sebuah perusahaan menjadi sadar akan kegunaan pelanggan, ketersediaan penyalur, klaim-klaim dari pemegang saham, peraturan-peraturan dari pemerintah dan masyarakat sekitarnya. Melalui pertukaran informasi, menyebabkan setiap organisasi menjadi satu sistem terbuka yang saling berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Danandjaja, 2011:86).
Planning Organizing Staffing Leading Controling
Communication
External Environment • Customers
• Suppliers • Stockholders • Goverments • Community • Others
The Management Process
Semua masalah yang timbul dalam organisasi akan segera dapat diatasi apabila komunikasi yang berlangsung dalam organisasi dapat berjalan dengan baik dalam mewujudkan visi dan misi organisasi tersebut, sesuai denganTheoritical Perspectives for Organizational communication dengan
fuctional Approach yaitu adanya Communication Input, Communication Throughputdancommunication Output(Shockley-Zalabak, P, 2006:30).
Communication Input yaitu informasi atau pesan yang didapatkan dari luar organisasi yang masuk ke dalam organisasi yang kemudian mempengaruhi keputusan yang akan dibuat oleh organisasi itu. (Shockley-Zalabak, P, 2006:31). Contohnya yaitu ketika sebuah organisasi hendak melakukan kegiatan sosial berupa Corporate Social Responsibility (CSR), sebelumnya mendapatkan informasi dari luar mengenai hal-hal yang memang diperlukan oleh masyarakat. Kemudian informasi tersebut diterima oleh internal organisasi dan selanjutnya internal organisasi melakukan aksi kegiatan sosial dengan memberikan hal-hal yang memang diperlukan oleh masyarakat itu dari informasi sebelumnya yang didapat. Kasus tersebut terbukti bahwa komunikasi yang terjadi sangat bermanfaat bagi seorang
Public relations pada organisasi agar visi dan misi serta tujuan untuk kegiatan sosial tidak sia-sia dilakukan dan memang bermanfaat bagi masyarakat karena sebelumnya mendapatkan pesan dari masyarakat tersebut.
yaitu ketika sebuah organisasi hendak melakukan pemilihan Ketua organisasi, maka yang harus dilakukan adalah menyebarkan informasi tersebut kesemua anggota agar semua anggota dapat memilih ketua yang memang pantas dan mereka inginkan dalam memimpin oganisasi itu. Bentuk pendekatanCommunication Throughput ini dilakukan oleh seorang
Public relations agar tidak terjadinya kesalahpahaman dari anggota organisasi, karena tugas seorang Public relationsbukan hanya memberikan pengertian dan pendekatan terhadap lingkungan luar organisasi namun juga internal organisasi agar selalu berjalan secara harmonis dalam mewujudkan tujuan organisasi secara bersama. (Shockley-Zalabak, P, 2006:31)
Ketiga yaitu Communication Output adalah informasi atau pesan yang dihasilkan dari dalam organisasi kemudian pesan tersebut dibagikan ke lingkungan luar organisasi. Contohnya yaitu ketika sebuah organisasi dalam hal ini perusahaan hendak mempromosikan produk terbarunya, yang harus dilakukan adalah bagaimana seorang Public relations dalam organisasi itu dapat memberikan informasi dan memberikan pesan yang jelas tentang produk itu pada lingkungan luar, dalam hal ini masyarakat agar dapat memakai produk perusahaan tersebut. (Shockley-Zalabak, P, 2006:32)
Menurut Effendy (2007) bahwa terdapat dua dimensi komunikasi dalam kehidupan organisasi antara lain:
1) Komunikasi Internal
dan mengawasi pelaksanaan tujuan dari organisasi, pimpinan menyusun peraturan sedemikian rupa sehingga tidak perlu berkomunikasi langsung dengan seluruh anggotanya. Anggota membuat kelompok– kelompok menurut jenis pekerjaannya dan mengangkat seseorang sebagai penanggung jawab atas kelompoknya. Dengan demikian, pimpinan cukup berkomunikasi dengan para penanggungjawab kelompok. Jumlah kelompok serta besarnya kelompok bergantung pada besar kecilnya organisasi.
Dimensi komunikasi internal terdiri dari komunikasi vertikal dan horisontal.
(1) Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertikal yakni komunikasi dari atas ke bawah (downward communication) dan komunikasi dari bawah ke atas (upward communication) yang merupakan komunikasi antara seseorang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi (pimpinan) dengan orang yang berada pada tingkatan yang lebih rendah (staf) secara timbal balik (two-way traffic communication). Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, informasi dan penjelasan kepada bawahannya. Dalam komunikasi dari bawahan ke pimpinan, bawahan memberikan laporan, saran serta pengaduan kepada pimpinan (Danandjaja, 2011:89).
Pimpinan perlu mengetahui laporan, tanggapan atau saran anggota sehingga suatu keputusan atau kebijaksanaan dapat di ambil dalam rangka mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
(2) Komunikasi Horizontal
Komunikasi horizontal adalah arus informasi yang mengalir secara mendatar (horizontally), antara anggota staf dengan anggota staf, karyawan dengan karyawan dan sebagainya (Danandjaja, 2011:89). Berbeda dengan komunikasi vertikal yang sifatnya lebih formal, komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal. Mereka berkomunikasi satu sama lain bukan pada waktu mereka sedang bekerja, melainkan pada saat waktu–waktu luang. Dalam situasi komunikasi seperti ini, desas–desus cepat sekali menyebar dan menjalar, dan yang menjadi pokok pembicaraan sering kali mengenai hal–hal yang menyangkut pekerjaan atau tindakan pimpinan yang merugikan mereka.
2) Komunikasi Eksternal
Komunikasi eksternal adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak diluar organisasi. Komunikasi eksternal terdiri atas dua jalur secara timbal balik yaitu komunikasi dari organisasi kepada khalayak dan komunikasi dari khalayak kepada organisasi.
(1) Komunikasi dari Organisasi Kepada Khalayak
Komunikasi dari organisasi kepada khalayak pada umumnya bersifat informatif, yang di lakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan. Kegiatan ini sangat penting dalam usaha memecahkan suatu masalah jika terjadi tanpa diduga. (2) Komunikasi dari Khalayak Kepada Organisasi
Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan komunikasi yang di lakukan oleh organisasi. Jika informasi yang di sebarkan kepada khalayak itu menimbulkan efek yang sifatnya kontroversial (menyebabkan adanya pro dan kontra di kalangan khalayak), maka itu disebut opini publik. Opini publik ini seringkali merugikan organisasi. Karenanya harus di usahakan agar segera dapat diatasi dalam arti kata tidak menimbulkan permasalahan.
2.3. Public Relations
2.1.4. Pengertian Public Relations
hubungan-hubungan. Jadi, public relations berarti hubungan-hubungan dengan publiknya. Istilah publik sukar di-Indonesiakan, dan sampai sekarang belum ada khusus serta baku. Adapun pengertian publik mengacu kepada sekelompok orang yang menaruh perhatian pada sesuatu hal yang sama, mempunyai minat dan kepentingan yang sama pula.
Banyak pakar telah mengemukakan pendapatnya tentang definisi dan pengertian public retions, dalam definisi kerja (working definition) oleh
International Public Relations Association (IPRA) terbitan Gold Paper
Pengertian diatas hampir sama dengan pengertian berikut ini, Public relations adalah usaha yang direncanakan secara terus-menerus dengan sengaja, guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dan masyarakatnya. Pendapat ini menunjukkan bahwa
Public relationsdianggap sebuah proses atau aktivitas yang bertujuan untuk menjalin komunikasi antara organisasi dan pihak luar organisasi (Coulson-Thomas, 2002).
Selain itu ada juga pengertianPublic Relationsmenurut Rex F. Harlow yaitu fungsi manajemen tertentu yang membantu membangun dan menjaga lini komunikasi, pemahaman bersama, penerimaan mutual dan kerja sama antara organisasi dan publiknya; Public Relations melibatkan manajemen problem atau manajemen isu; Public Relations membantu manajemen agar tetap responsif dan mendapat informasi terkini tentang opini publik;
Public Relations mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan publik;Public Relationsmembantu manajemen tetap mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan secara efektif,Public Relationsdalam hal ini adalah sebagai sistem peringatan dini untuk mengantisipasi arah perubahan (trends); dan Public Relations
menggunakan riset dan komunikasi yang sehat dan etis sebagai alat utamanya (Cutlip, 2006 :5).
yang sifatnya 2 arah (two way communication), yang bertujuan untuk menciptakan kerjasama yang positif dalam rangka mendukung tujuan-tujuan perusahaan.
Public relations (PR) diumpamakan sebagai wakil perusahaan, organisasi, lembaga atau instansi yang diperlukan guna menyampaikan informasi yang ingin disampaikan kepada khalayak sekitarnya sebagai wujud sikap kepedulian, respek terhadap lingkungan sekitarnya sehingga tercipta hubungan baik. Sebagai salah satu langkah guna mempertahankan eksistensi perusahaan ini perlu menerapkan program Corporate Social Responsibility(CSR) sebagai salah satu penentu kebijakan organisasinya. 2.1.5. Fungsi Dan TujuanPublic Relations
Public relations merupakan fungsi manajemen dan dalam struktur organisasi public relations merupakan salah atau bagian atau divisi dari organisasi. Karena itu,tujuan public relations sebagai bagian struktual organisasi tentu saja tidak dapat lepas dari tujuan organisasinya sendiri (Iriantara 2004:56-57).
Dalam konsepnya, fungsi public relations officer ketika menjalankan tugas dan operasionalnya, baik sebagai komunikator dan mediator,maupun organisiator, menurut Effendy (2002) dalam bukunya “Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunikologis”(2002:100) adalah sebagai berikut: (1) Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan
organisasi,
(2) Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik internal dan eksternal;
(4) Melayani publik dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan umum;
(5) Operasionalisasi dan organisasi public relations adalah bagaimana membina hubungan yang baik dengan publiknya, untuk mancegah terjadinya rintangan psikologis, baik yang ditimbulkan dari pihak publiknya.
Menurut Cutlip dan Center (Ruslan 2005: 83), dalam peranan public relations ketika berkomunikasi di kenal dengan “The 7 C’s of
Communication”yaitu:
(1) Credibility
Komunikasi di mulai dengan membangun suatu kepercayaan. Oleh karena itu, untuk membangun iklim kepercayaan itu di mulai dari kinerja, baik pihak komunikator dan pihak komunikan akan menerima pesanan itu berdasarkan keyakinan yang dapat dipercaya, begitu juga tujuannya.
(2) Contex
Suatu program komunikasi mestinya berkaitan langsung dengan lingkungan hidup atau keadaan sosial yang tidak bertentangan dan seiring dengan keadaan tertentu dan memperlihatkan sikap partisipatif.
(3) Content
Pesanan yang akan disampaikan itu mempunyai arti bagi audiensnya dan memiliki kecocokan dengan sistem nilai-nilai yang berlaku bagi banyak orang dan bermanfaat.
(4) Clarity
Pesan dalam berkomunikasi itu disusun dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh komunikasi atau mempunyai arti antara komunikator dengan komunikannya.
(5) Contunuity and consistency
Komunikasi tersebut merupakan suatu proses yang tidak ada akhirnya yang memerlukan pengulangan-pengulangan untuk mencapai tujuan dan bervariasi, yang merupakan kontribusi bagi fakta yang ada dengan sikap penyesuaian melalui proses belajar. (6) Channel
Menggunakan media sebagai saluran pesan yang setepat mungkin dan efektif dalam menyampaikan pesan yang di maksud.
(7) Capability of audience
Menurut H. Fayol (Ruslan, 2005: 23-24 ) beberapa kegiatan dan sasaranpublic relationsadalah:
(1) Membangun identitas dan citra perusahaan (building corporate identity and image).
a. Menciptakan identitas dan citra perusahaan yang positif
b. Mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai pihak.
(2) Menghadapi krisis (facing crisis)
a. Menangani keluhan (complain) dan menghadapi krisis yang terjadi dengan membentuk menejemen krisis.
(3) Mempromosikan aspek kemasyarakatan (promotion public causes)
a. Mempromosikan kepentingan publik
b. Mendukung kegiatan kampanye sosial misalnya: anti merokok, menghindari obat-obat terlarang, dan sebagainya.
2.1.6. PeranPublic RelationsdalamCorporate Social Responsibility
Seringkali praktisi hubungan masyarakat memainkan peran kunci dalam fungsi filantropi perusahaan, adakalanya menjadi pejabat yang bertanggung jawab atas fungsi itu (Cutlip, 2006: 375-376 ). Lazimnya peran hubungan masyarakat mencakup hal- hal berikut ini:
(1) Menggelar peristiwa-peristiwa yang sesuai untuk membantu kontribusi yang menentukan, seperti kampanye dana kesejahteraan atau penciptaan beasiswa.
(2) Membantu kampanye atau usaha keras amal dengan nasehat strategi komunikasi, menyiapkan materi cetak atau audiovisual dan mengiklankan dukungan atau meningkatkan publisitas.
(3) Memimpin proyek atau kampanye atau betindak sebagai wakil pejabat senior perusahaan.
(4) Memeriksa perkara-perkara komunitas yang bermacam-macam untuk menentukan bagaimana dan dimana perusahaan dapat memberi bantuan terbaik.
2.1.7. EksternalPublic Relations
Salah satu tugas eksternal Public Relations adalah untuk mengeratkan hubungan dengan orang-orang di luar badan / instansi hingga terbentuklah opini publik yangfavorableterhadap badan itu.
Bagi suatu perusahaan hubungan-hubungan untuk dengan publik di luar perusahaan itu merupakan suatu keharusan di dalam usaha (Abdurrachman, 1995:38) untuk:
(1) memperluas langganan, (2) memperkenalkan produksi, (3) mencari modal dan hubungan,
(4) memperbaiki hubungan dengan serikat-serikat buruh, mencegah pemogokan-pemogokan dan mempertahankan karyawan-karyawan yang cakep,efektif dan produktif kerjanya.
Berdasarkan itu, tugas penting external public relations adalah mengadakan komunikasi yang efektif, yang sifatnya informatif dan persuasif, yang ditujukan kepada publik di luar badan itu.
Komunikasi yang di selenggarakan oleh external public relation harus timbal balik juga. Sebab publik mempunyai hak untuk mengetahui keadaan sebenarnya tentang sesuatu yang menyangkut kepentingannya. Publik kadang–kadang sangat kritis atau hypercritical. Oleh karena itu sikap yang
correct dan ramah merupakan salah satu syarat dalam berkomunikasi dengan publik. Tanpaterpengaruh oleh “apearance“ , “personality “, kata– kata mereka dan sebagainya (Abdurrachman,1995:39).
2.1.8. Jenis–JenisExternal Public Relations
Menurut Effendy (2002: 152) terdapat beberapa khalayak yang sama– sama menjadi sasaran kegiatan semua perusahaan sehingga harus senantiasa menjalin hubungan yang tetap, yakni:
(1) Hubungan dengan komunitas (community relations).
Membina hubungan dengan komunitas merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap lingkungan di sekitar perusahaan. Ini juga dapat diartikan sebagai tanda terima kasih perusahaan kepada komunitas. Dengan begitu menunjukan bahwa perusahaan tidak hanya sekedar mengambil keuntungan dari mereka, melainkan ikut peduli dan mau berbagi apa yang diperoleh perusahaan dari lingkungan yang merupakan milik bersama. Hubungan dengan komunitas ini seringkali diwujudkan dalam programCorporate Social Responsibility.
(2) Hubungan dengan pelanggan (costumer relations).
Membina hubungan baik dengan pelanggan, dilakukan agar dapat meningkatkan loyalitas dan kepercayaan pelanggan terhadap produk dan perusahaan itu sendiri. Menurut Seitel (2001:455) tujuan hubungan konsumen antara lain (a) mempertahankan pelanggan lama, (b) menarik pelanggan baru, (c) memasarkan/ memperkenalkan produk atau jasa baru, (e) memudahkan penanganan keluhan pelanggan dan (f) mengurangi biaya.
costumer relations dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain plant tour, iklan, film, pameran, publisitas, brosur, dan
special events.
(3) Hubungan dengan media massa dan pers (media & press relations).
untuk kelancaran aktivitas komunikasi humas dengan pihak publik. Dengan hubungan baik dengan media dan pers, perusahaan bisa mengontrol, mencegah, dan meminimalisir pemberitaan-pemberitaan negatif atau salah tentang perusahaan di media massa. Hubungan dengan pers dapat dilakukan melalui kontak formal dan kontak informal. Bentuk hubungan melalui kontak formal antara lain konfrensi pers, wisata pers (press tour), taklimat pers (press briefing), dan resepsi pers. Sedangkan bentuk hubungan melalui kontak informal antara lain keterangan pers, wawancara pers, dan jumpa pers (press gathering).
(4) Hubungan dengan pemerintah (government relations)
Hubungan yang baik dengan pemerintah bisa memudahkan perusahaan dalam menyesuaikan kebijakan yang akan diambil dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga kebijakan tersebut terwujud sesuai dengan aturan pemerintah dan tidak melanggar hukum.
2.2. Corporate Social Responsibility(CSR) 2.2.1. PengertianCorporate Social Responsilibity
CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) yang baru. Dengan adanya Undang-Undang ini, industri atau korporasi-korporasi wajib untuk melaksanakannya, tetapi kewajiban ini bukan merupakan suatu beban yang memberatkan. Pembangunan suatu Negara bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan industri saja, tetapi setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan pegelolaan kualitas hidup masyarakat. Industri dan korporasi berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangkan pula faktor lingkungan hidup. (Irwandar,2014:27)
berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat, lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan (Corporate Social Responsibility), CSR tidak hanya merupakan kegiatan kreatif perusahaan dan tidak terbatas hanya pada pemenuhan aturan hukum semata.
Secara teoritis, CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para strategic-stakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat di sekitar wilayah kerja dan operasinya. Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam pandangan CSR adalah pengedepanan prinsip moral dan etis, yakni menggapai suatu hasil terbaik, dengan paling sedikit merugikan kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalahgolden rules, yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan. Dengan begitu, perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat. Karena itu, CSR dapat diartikan sebagai komitmen perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasinya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta terus-menerus menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya (Dewi,2012:24).
fungsi-fungsi sosial dan pemeliharaan lingkungan hidup demi terwujudnya pembangunan yang suistainable (keberlanjutan). Sebagaimana dinyatakan Porter dan Kramer dalam Suharto (2006) perusahaan tidak berfungsi secara terpisah dari masyarakat sekitarnya. Faktanya, kemampuan perusahaan untuk bersaing sangat tergantung pada keadaan lokasi dimana perusahaan itu beroperasi. Oleh karena itu, piramida CSR yang dikembangkan Archie B. Carrol (Suharto, 2006) harus dipahami sebagai satu kesatuan. Sebab CSR merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah triple bottom lines, yaitu profit, people dan plannet
(3P):
1) Profit
Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.
2) People
Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan ada perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi warga setempat.
3) Plannet
Perusahaan peduli terhadap lingkungan hayati. Beberapa program CSR yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa penghijauan hidup lingkungan hidup, penyediaan sarana.
Dengan kata lain bantuan tidak memiliki perencanaan dengan baik. Karitas juga tidak mengevaluasi bantuan yang telah diberikan. Berbeda dengan filantropi yang memiliki tahapan-tahapan dalam pemberian bantuan kepada masyarakat sekitar. Filantropi biasanya dimulai dengan melihat dan menilai kebutuhan, rencana aksi dan monitoring serta evaluasi (Ambadar, 2008:27). Praktek karitas pada umumnya berbentuk pemberian dari perusahaan kepada masyarakat sekitar dengan kategori miskin untuk memenuhi kebutuhan makanan, tempat tinggal, pakaian dan lain-lain. Dilihat dari orientasinya, karitas lebih bersifat individual. Sedangkan filantropi merupakan bentuk kedermawanan sosial yang dimaksudkan untuk menjembatani jurang antara si kaya dan si miskin.
Sedyono (2002) menyatakan bahwa pada kenyataannnya, CSR memiliki makna yang berbeda bagi orang yang berbeda pula. Bagi sebagian orang, CSR merupakan prakarsa-prakarsa untuk menaikkan reputasi. CSR juga merupakan tindakan kedermawanan yang mulia. Bagi sebagian yang lain CSR merupakan filosofi yang menjadi gerak dasar operasional perusahaan. CSR menunjukkan suatu komponen penting dari komitmen yang lebih luas terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan pengelolaan
triple bottom lines (people, profit, planet) dari kinerja sosial, ekonomi dan lingkungan (Hendrastuti,2010:26-27).
Menurut Rahman (2009: 13) dalam prakteknya di lapangan, suatu kegiatan disebut CSR ketika memiliki sejumlah unsur berikut:
bukan instant, happening, ataupun booming. CSR adalah suatu mekanisme kegiatan yang terencanakan, sistematis, dan dapat dievaluasi.
(2) Community empowerment atau pemberdayaan komunitas. Membedakan CSR dengan kegiatan yang bersifat charity
ataupun philantrophy semata. Tindakan- tindakan kedermawanan meskipun membantu komunitas, tetapi tidak menjadikannya mandiri. Salah satu indikasi dari suksesnya sebuah program CSR adalah adanya kemandirian yang lebih pada komunitas, dibandingkan dengan sebelum program CSR hadir.
(3) Two Ways artinya program CSR bersifat dua arah. Korporat bukan lagi berperan sebagai komunikator semata, tetapi juga harus mampu mendengarkan aspirasi dari komunitas. Ini dapat dilakukan dengan need assessment, yaitu sebuah survey untuk mengetahuineeds, desires, interest, danwantsdari komunitas.
2.2.2. CSR Menurut Perundang-undangan Di Indonesia
Dalam Pasal 33 ayat (1) dan (4) sebenarnya telah menjadi dasar bagi Perusahaan untuk terlibat dalam pemeliharaan lingkungan sekitar. Ayat (1) disebutkan ”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”, dalam Ayat (4) disebutkan, ”Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”.
Dalam untung-undang ini diatur mengenai tanggungjawab sosial dan lingkungan bertujuan mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi perseroan itu sendiri, komunitas setempat, dan masyarakat umumnya. Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendukung terjadinya hubungan perseroan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya masyarakat setempat maka ditentukan bahwa perseroan yang kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan dengan sumbersaya alam wajib melaksanakan tanggungjawab sosial dan lingkungan. Untuk melaksanakan tanggungjawab sosial dan lingkungan tersebut, kegiatan tanggungjawab sosial dan lingkungan harus dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang dilaksanakan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Kegitan tersebut dimuat dalam laporan tahunan perseroan (Tambunan, 2009).
2.2.3. ManfaatCSR
Masih banyak kalangan yang memandang Corporate Social Responsibility(CSR) sebagai program yang tidak menguntungkan sehingga
Corporate Social Responsibility (CSR) akan menjadi beban dan tuntutan semata. CSR harusnya merupakan komitmen yang dilakukan pemerintah dan perusahaan untuk peduli dan berupaya aktif memberi solusi konkrit atas kompleksnya permasalahan sosial di tengah masyarakat Indonesia. Fokus
Corporate Social Responsibility (CSR) adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat hingga akhirnya muncul kemapanan masyarakat untuk mengatasi permasalahan sosial (Irwandar, 2014:20-24).
Ada empat manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan mengimplementasikan CSR. Pertama, keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan perusahaan mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas. Kedua, perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal). Ketiga, perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (humanresources) yang berkualitas. Keempat, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan manajemen risiko (risk management) (Efendi, 1993).
Selain itu menurut Untung (2009) manfaat aplikasi CSR bagi perusahaan (Simamora, 2015:6) antara lain:
1) Mempertahankan serta mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan.
2) Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara sosial, 3) Mereduksi resiko bisnis perusahaan,
6) Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuangan limbah, 7) Memperbaiki hubungan denganstakeholder,
8) Memperbaiki hubungan dengan regulator,
9) Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan, 10) Peluang mendapatkan penghargaan.
2.2.4. CSR Sebagai AktivitasPublic Relations
Dalam implementasi CSR ini public relations (PR) mempunyai peran penting, baik secara internal maupun eksternal. Dalam konteks pembentukan citra perusahaan, disemua bidang pembahasan diatas boleh dikatakan PR terlibat di dalamnya, sejak fact finding, planning, communicating, hingga evaluation. Jadi ketika kita membicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah perusahaan, dimana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR pada dasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah CSR (Imran, 2008: 9).
Iriantara (2004) memandang community relations berdasarkan dua pendekatan. Pertama, dalam konsep PR lama yang memposisikan organisasi sebagai pemberi donasi, maka program community relations hanyalah bagian dari aksi dan komunikasi dalam proses PR. Bila berdasarkan pengumpulan fakta dan perumusan masalah ditemukan bahwa permasalahan yang mendesak adalah menangani komunitas, maka dalam perencanaan akan disusun program community relations. Kedua, yang memposisikan komunitas sebagai mitra, dan konsep komunitasnya bukan sekedar kumpulan orang yang berdiam di sekitar wilayah operasi organisasi,
2.2.5. Sistematika Tahapan CSR
Menurut Ambadar (2008) dalam bukunya “CSR dalam Praktik di Indonesia” menguraikan tentang tahapan CSR yang sistematis dan kompleks, maka langkah yang dapat ditempuh adalah:
(1) Dimulai dengan melihat dan menilai kebutuhan (needs Assessment) masyarakat sekitar. Caranya dengan mengidentifikasi masalah atau problem yang terjadi di masyarakat dan lingkungannya, setelah itu dicarikan solusinya yang terbaik menurut kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, perusahaan tidak perlu melakukannya sendiri, melainkan dapat menggunakan sumber daya di luar perusahaan, misalnya menunjuk perusahaan atau lembaga lain melakukan riset dasar atau
base line study.
(2) Membuat rencana aksi, lengkap dengan anggaran, jadwal waktu, indikator untuk mengealuasi dan sumber daya manusia yang ditunjuk untuk melakukannya. Dalam hal ini, perusahaan dapat membagi program dalam bentuk kegiatan jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang. Hingga masyarakat menjadi mandiri dalam arti yang sesungguhnya.
objektif terhadap pelaksanaan program, untuk melihat apakah program tersebut telah tepat sasaran, serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sesuai tujuan pelaksanaannya.
Imran (2008:135) juga menguraikan tahapan-tahapan dalam program dan kegiatan CSR yang menurutnya mengikuti alur dari proses PR, seperti berikut ini:
(1) Pengumpulan Fakta
Permasalahan lingkungan seperti polusi, sanitasi lingkungan, pencemaran sumberdaya air, pengundulan hutan sampai dengan permasalahan ekonomi seperti tingkat pengangguran yang tinggi, sumber daya manusia dalam keterampilan yang rendah merupakan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat sekitar perusahaan daerah operasional perusahaan.
PR dapat mengumpulkan fakta-fakta mengenai persoalan sosial yang dihadapi oleh komunitas melalui berbagai macam sumber seperti berita media massa, data statistik, opini masyarakat sekitar, atau keluhan langsung masyarakat. PR juga bisa menelusuri laporan-laporan hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi atau LSM mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat.
(2) Perumusan Masalah
tepat. PR berusahan menetapkan perumusan masalah dari hasil pengumpulan fakta yang yang dilakukan sebelumnya.
(3) Perencanaan dan Pemograman
Perencanaan merupakan sebuah prakiraan yang didasarkan pada fakta dan informasi tentang sesuatu yang akan terwujud atau terjadi nanti. Untuk mewujudkan apa yang diperkirakan itu dibuatlah suatu program. Setiap program biasanya diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan sebagai bagian dari program merupakan langkah-langkah yang ditempuh untuk mewujudkan program guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Seorang PR menyusun rencana untuk mencapai tujuan dalam menyelesaikan masalah yang ditemukan sebelumnya. (4) Aksi dan Komunikasi
Aspek dari aksi dan komunikasi inilah yang membedakan kegiatan
community relationsdalam konteks PR. Di mana watak PR ditampilkan lewat kegiatan komunikasi. PR pada dasarnya merupakan proses komunikasi dua arah yang bertujuan untuk membangun dan menjaga reputasi dan citra organisasi dimata publiknya. Karena itu, dalam program CSR selalu ada aspek bagaimana menyusun pesan yang ingin disampaikan kepada komunitas, serta melalui media apa dan cara bagaimana.
(5) Evaluasi
atau dilanjutkan dengan melakukan beberapa perbaikan dan penyempurnaan. Namun dalam konteks community relations perlu diingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelenggaraan program atau kegiatan belaka. Melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap komunitas terhadap organisasi. Evaluasi atas sikap publik ini diperlukan karena pada dasarnya community relations ini meski merupakan wujud tanggungjawab sosial organisasi, tetap merupakan kegiatan PR.
2.3. Pemberdayaan Masyarakat
Tujuan utama dalam program pembangunan adalah masyarakat dapat berdaya, memiliki kekuatan ataupun kemampuan. Keberdayaan dimaksud dapat dilihat dari fisik, ekonomi, kelembagaan, kerja sama, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan komitmen bersama dalam menerapkan prinsip-prinsip pemberdayaan. Keberdayaan memilki arti yang sama dengan kemandirian masyarakat. Jadi ketika kaitkan kembali dengan tujuan pembangunan, yaitu membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. (Widjajanti, 2011: 15-27).
inisiatif, mampu mempengaruhi lingkungan, mempunyai rasa percaya diri dan memperoleh kepuasan dari usahanya (Pancariatno, 2009: 2).
Istilah pemberdayaan semakin populer dalam konteks pembangunan dan pengentasan kemisikinan. Konsep pemberdayaan ini berkembang dari realistis individu atau masyarakat yang tidak berdaya atau pihak yang lemah (powerless). Ketidakberdayaan atau memiliki kelemahan dalam aspek: pengetahuan, pengalaman, sikap, keterampilan, modal usaha, networking, semangat, kerja keras, ketekunan, dan aspek lainnya. Aspek tadi mengakibatkan ketergantungan, ketidakberdayaan dan kemiskinan (Anwas, 2014: 48).
2.3.1. Definisi Pemberdayaan Masyarakat
Shardlow (1998) menerangkan bahwa pemberdayaan masyarakat intinya adalah bagaimana individu, kelompok atau komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai keinginan mereka (Ambadar, 2008: 36). Dalam kesimpulannya, Shardlow menggambarkan bahwa pemberdayaan sebagai suatau gagasan tidaklah jauh berbeda dengan gagasan Biestek (1961) yang dikenal di bidang pendidikan Ilmu Kesejahteraan Sosial dengan nama ‘ Self-Determination’. Prinsip ini pada intinya mendorong klien menentukan sendiri apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Sehingga klien mempunyai kesadaran dan kekuasaan penuh dalam membentuk masa depannya (Adi, 2008: 78).
dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Keberdayaan masyarakat dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif masyarakat yang difasilitasi dengan adanya pelaku pemberdayaan. Sasaran utamanya adalah orang-orang yang lemah dan tidak memiliki daya, kekuatan dan kemampuan mengakses sumber daya produktif atau masyarakat yang terpinggirkan dalam pembangunan (Widjajanti, 2011: 16).
Prasodjo (Wahyunigrum, Noor, Wachid: 2014) mengemukakan beberapa hal mengenai pemberdayaan masyarakat, antara lain:
1) Pemberdayaan pada dasarnya adalah memberi kekuatan kepada pihak yang kurang atau tidak berdaya (powerless) agar dapat memiliki kekuatan yang menjadi modal dasar aktualisasi diri. 2) Pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyangkut aspek
ekonomi.
3) Pemberdayaan masyarakat agar dapat dilihat sebagai program maupun proses.
4) Pemberdayaan yang sepenuhnya melibatkan partisipasi masyarakat.
5) Konsep pemberdayaan masyarakat mencakup pengertian pembangunan yang bertumpu pada masyarakat dan pembangunan yang bertumpu pada manusia.
2.3.2. Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Suatu Program dan Proses
perubahan dan perbaikan, dan tidak hanya terpaku pada suatu program saja (Adi, 2008:83-84).
Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, menurut Kartasasmita (1996:159-160), harus dilakukan melalui beberapa kegiatan: pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering). Ketiga, memberdayakan mengandung pula arti melindungi.
2.3.3. Indikator Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat
Untuk mengetahui fokus dan tujuan pemberdayaan secara operasional, maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang dapat menunjukkan seseorang itu berdaya atau tidak. Sehingga ketika sebuah program pemberdayaan diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek-aspek apa saja dari sasaran perubahan (misalnya keluarga miskin) yang perlu dioptimalkan. UNICEF (1994) menawarkan 5 aspek sebagai tolak ukur keberhasilan pemberdayaan masyarakat, terdiri dari kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi dan kontrol (Demartoto dan Utami: 2005). Lima aspek tersebut adalah kategori analisis yang bersifat dinamis, satu sama lain berhubungan secara sinergis, saling menguatkan dan melengkapi. Berikut adalah uraian lebih rinci dari masing-masing aspek tersebut:
1) Kesejahteraan
Dimensi ini merupakan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dari tercukupinya kebutuhan dasar seperti sandang, papan, pangan, pendapatan, pendidikan dan kesehatan.
2) Akses
dan dikuasai, pusat dan pinggiran. Sumber daya dapat berupa waktu, tenaga, lahan, kredit, informasi, keterampilan, dan sebagainya.
3) Kesadaran kritis
Kesenjangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat bukanlah tatanan alamiah yang berlangsung demikian sejak kapanpun atau semata-mata memang kehendak Tuhan, melainkan bersifat struktural sebagai akibat dari adanya diskriminasi yang melembaga. Keberdayaan masyarakat pada tingkat ini berarti berupa kesadaran masyarakat bahwa kesenjangan tersebut adalah bentukan sosial yang dapat dan harus diubah.
4) Partisipasi
Keberdayaan dalam tingkat ini adalah masyarakat terlibat dalam berbagai lembaga yang ada di dalamnya. Artinya, masyarakat ikut andil dalam proses pengambilan keputusan dan dengan demikian maka kepentingan mereka tidak terabaikan.
5) Kontrol
Sumodingiggrat juga menyatakan bahwa indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur keberhasilan program pemberdayaan masyarakat (Sumodininggrat, 1999: 138-139) mencakup hal-hal sebagai berikut:
1) Berkurangnya jumlah penduduk miskin.
2) Berkembangnya usaha peningkatan pendapatan yang dilakukan oleh penduduk miskin dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
3) Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya. 4) Meningkatnya kemandirian kelompok yang ditandai dengan
makin berkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, makin kuatnya permodalan kelompok, makin rapinya sistem administrasi kelompok, serta makin luasnya interaksi kelompok dengan kelompok lain di dalam masyarakat.
5) Meningkatnya kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan yang ditandai oleh peningkatan pendapatan keluarga miskin yang mampu memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sosial dasarnya.
2.4. Model Teoritis
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Lebih sederhananya dapat dilihat seperti gambar di bawah ini:
Gambar 2.3 Model Teori Program CSR (X)
Sosial, ekonomi dan lingkungan
Pemberdayaan Masyarakat (Y) Kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, Partisipasi
dan Kontrol Program
CSR PT PIM
Sosial Ekonomi Lingkungan
masyarakat
Pemberdayaan Masyarakat: Kesejahteraan, Akses,
2.5. Hipotesis
Penulis memperoleh dugaan sementara yang masih harus di uji kebenarannya, dan dengan memahami latar belakang dan rumusan masalah dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ho : Tidak terdapatnya hubungan antara Program Corporate Social Responsibility PT PIM di bidang sosial, ekonomi dan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat sekitarnya.