• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Pada zaman sekarang, transportasi merupakan hal yang penting bagi masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di kota besar seperti DKI Jakarta. Bagi masyarakat ibu kota, kemacetan menjadi hal yang sudah biasa, banyak pekerja yang terlambat masuk kerja hanya karena terkena macet di jalan, sehingga mereka ketika sampai di kantor langsung kelelahan dan tidak dapat fokus lagi dengan pekerjaan mereka. Kemacetan di kota Jakarta juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang padat yaitu sekitar 10.162.659 orang dengan Jakarta yang hanya memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan: 6.977,5 km²).

Jakarta merupakan ibu kota Republik Indonesia, dikenal juga sebagai kota metropolitan. Sebagai kota besar, Jakarta pasti memiliki banyak masalah, salah satu diantaranya adalah masalah kemacetan lalu lintas di jalan raya. Kemacetan ini timbul karena semakin banyaknya mobil-mobil pribadi dan kurangnya rasa kedisiplinan para pengendara dalam mengendalikan kendaraannya. Dampak ekonomi yang timbul akibat kemacetan ini sebenarnya sangatlah besar.

TransJakarta adalah sebuah sistem transportasi bus cepat atau Bus

Rapid Transit (BRT) di Jakarta, Indonesia. Sistem ini dibuat berdasarkan

sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Perencanaan TransJakarta telah dimulai sejak tahun 1997 oleh konsultan dari Inggris (http://id.wikipedia.org/wiki/TransJakarta). Pada waktu itu direncanakan bus berjalan berlawanan dengan arus lalu-lintas (contra flow) supaya jalur tidak diserobot kendaraan lain, namun dibatalkan dengan pertimbangan keselamatan lalu-lintas. Meskipun Busway di Jakarta meniru negara lain (Kolombia, Jepang, Australia), namun Jakarta memiliki jalur yang terpanjang dan terbanyak (TransJakarta, 2012)

Mayoritas masyarakat di kota Jakarta masih menggunakan kendaraan pribadi. Di kota ini, jumlah kendaraan pribadi mencapai 6,3 juta pada tahun 2008 dan tumbuh secepat 11% per tahun (Gunawan dan Koesnandar, 2012).

(2)

Jumlah dan pertumbuhan kendaraan yang tinggi ini belum bisa diimbangi oleh prasarana transportasi sehingga kemacetan sering terjadi dan menyebabkan sistem transportasi menjadi tidak efisien. Untuk kondisi demikian, angkutan umum seperti BRT menjadi alternatif yang menjanjikan, dan di awal abad ke-21, terlihat penggunaan sistem BRT di banyak kota di dunia. TransJakarta adalah sistem BRT yang diadopsi oleh kota Jakarta, dan telah beroperasi sejak 2004. Walaupun demikian, setelah tujuh tahun beroperasi, TransJakarta belum berhasil mengatasi kemacetan di lalu-lintas Jakarta. Data memperlihatkan bahwa TransJakarta memiliki tingkat penumpang yang relatif rendah, dan belum terlihat perpindahan moda transportasi secara signifikan di masyarakat.

Tabel 1.2 Perbandingan Beberapa BRT Besar

Parameter TransJakarta TransMilenio Guangzhou

Panjang sistem dalam km 172 84 22,5

Jumlah penumpang harian dalam juta 0,28 1,6 1

Jumlah koridor 10 9 1

Jumlah terminal 181 114 26

Harga tiket dalam dolar Amerika 0,40 0,85 0,31

Mulai operasi Jan 2004 Des 2000 Feb 2010

Lokasi Jakarta Bogota Guangzhou

Populasi 9.580.000 9.600.000 12.700.800

Sumber: Gunawan dan Koesnandar (2012)

Pada kenyataan yang ada, TransJakarta masih memerlukan banyak perbaikan di beberapa aspek untuk menarik penumpang baru. Yunita (2008) menyarankan empat bidang perbaikan yang harus dilakukan meliputi: panjangnya antrian, kurangnya informasi yang relevan, frekuensi bus yang tidak mencukupi, dan keadaan terminal-terminal bus.

Lebih jauh lagi, evaluasi yang lebih komprehensif dapat dilihat pada

Mid-term Evaluation of Bus Rapid Transit and Pedestrian Improvements in Jakarta oleh Antell dan Podget (2010). Secara umum, mereka menilai bahwa

performa TransJakarta tidak memuaskan secara moderat. Untuk dapat mengetahui seberapa besar performa dari TransJakarta, perlu dibuat model simulasi yang menjelaskan bagaimana TransJakarta tersebut beroperasi. Model simulasi ini bisa digunakan bila perbaikan ingin dilakukan pada sistem TransJakarta yang ada, sehingga tidak perlu diubah secara langsung di

(3)

lapangan, dapat digunakan model simulasi dahulu sehingga dapat diketahui bagaimana keadaan TransJakarta kalau sistemnya diubah.

Penelitian ini bertujuan untuk membuat model numerik sistem BRT. Model ini kemudian diverifikasi menggunakan data aktual BRT untuk menguji keakuratan prediksi model ini. Model simulasi ini dibuat dengan mensimulasikan keadaan TransJakarta berdasarkan data aktual yang di dapat di lapangan. Data pendukung model penelitian dikumpulkan pada koridor 9 (Pluit–Pinang Ranti) di 11 halte yaitu: Halte Pluit, Halte Penjaringan, Halte Jembatan Tiga, Halte Jembatan Dua, Halte Jembatan Besi, Halte Latumenten, Halte Grogol 2, Halte S. Parman Central Park, Halte Harapan Kita, Halte Slipi Kemanggisan, dan Halte Slipi Petamburan.

1.2 Identifikasi dan Perumuasan Masalah

Dalam melakukan penelitian, terdapat beberapa perumusan masalah yang muncul, diantaranya adalah:

1. Bagaimana membuat kerangka simulasi untuk memodelkan sistem BRT menggunakan pendekatan kejadian diskrit?

2. Bagaimana memverifikasi model simulasi yang dibuat menggunakan data aktual yang dikumpulkan dari pengamatan bus-bus TransJakarta pada 11 halte di koridor 9?

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

Agar penelitian ini dapat dilakukan dan diselesaikan dalam batasan waktu yang ada maka penelitian perlu dibatasi. Penelitian ini dibatasi dalam hal-hal berikut ini:

1. Pengambilan data untuk verifikasi model dilakukan pada pukul 10:00 sampai 13:00 WIB dan dilakukannya pengamilan data selama 2 setengah bulan yaitu pada bulan Maret, bulan April dan sampai pertengahan bulan Mei.

2. Pengambilan data dilakukan pada 11 halte di koridor 9 yaitu: Halte Pluit, Halte Penjaringan, Halte Jembatan Tiga, Halte Jembatan Dua, Halte Jembatan Besi, Halte Latumenten, Halte Grogol 2, Halte S. parman Central Park, Halte Harapan Kita, Halte Slipi Kemanggisan, dan Halte Slipi Petamburan.

(4)

3. Pengamatan dilakukan dengan cara merekam jumlah penumpang yang naik dan turun dari bus TransJakarta di 11 halte di koridor 9, serta masing-masing orang menaiki bus TransJakarta dan mencatat jumlah penumpang yang naik dan turun di bus tersebut sampai pada halte ke 11 di koridor 9.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membuat model simulasi dari sistem BRT berdasarkan pendekatan kejadian diskrit. Model simulasi ini akan digunakan untuk mempelajari dinamika bus-bus TransJakarta, sistem BRT yang beroperasi di Jakarta, Indonesia. Lebih jauh lagi, penelitian juga bertujuan untuk memverifikasi model numerik yang dibuat menggunakan data-data yang dikumpulkan pada koridor 9 TransJakarta. Data-data akan dibatasi hanya pada 11 halte.

Hasil-hasil penelitian memiliki beberapa manfaat, diantaranya adalah model simulasi ini dapat digunakan untuk mempelajari sistem TransJakarta tanpa mempengaruhi operasi sistem ini. Proses pembelajaran ini tentunya bisa dilakukan untuk berbagai jenis tujuan seperti optimisasi sistem TransJakarta.

Selain itu model simulasi ini memiliki beberapa potensi yaitu dapat digunakan untuk melihat dampak dari suatu strategi seperti menambah jumlah bus, memperbaiki kualitas busway, dan lain-lain. Kemudian model simulasi ini bisa ditambahkan dengan model lain, seperti model kualitas udara untuk mempelajari efek bus-bus BRT pada kualitas udara sepanjang busway.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika dalam penulisan laporan ini adalah: 1. BAB 1 Pendahuluan

Bab 1 berisi tentang:

a. Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah yang dibahas adalah mengenai kemacetan di kota Jakarta dan mengenai kinerja dari TransJakarta yang belum optimal.

b. Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang akan dibahas adalah bagaimana membuat model simulasi yang memodelkan TransJakarta secara aktual.

(5)

c. Ruang Lingkup Pembahasan

Penelitian ini dilakukan pada 11 halte di koridor 9, yaitu: Halte Pluit, Halte Penjaringan, Halte Jembatan Tiga, Halte Jembatan Dua, Halte Jembatan Besi, Halte Latumenten, Halte Grogol 2, Halte S. Parman Central Park, Halte Harapan Kita, Halte Slipi Kemanggisan, dan Halte Slipi Petamburan.

d. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah membuat model simulasi yang nantinya dapat digunakan untuk mengoptimalkan kinerja dari TransJakarta.

2. BAB 2 Landasan Teori

Bab 2 berisi tentang studi pustaka atau literatur-literatur yang digunakan dalam pengamatan dan penyusunan laporan ini. Jurnal yang digunakan dalam laporan ini adalah jurnal mengenai simulasi kejadian diskrit.

3. Bab 3 Metode Penelitian

Bab 3 berisi tentang metode-metode yang digunakan dalam pengamatan, menganalisa hasil pengamatan, penyusunan laporan sampai selesai. Setiap langkah yang dilakukan selama pembuatan laporan ini ditulis secara sistematis dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Pengambilan data dilakukan dengan merekam jumlah penumpang yang naik dan turun pada 11 halte di koridor 9 dan masing-masing orang menaiki bus TransJakarta untuk mencatat penumpang yang naik dan turun pada 11 halte tersebut.

4. Bab 4 Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data

Berisi tentang data-data yang diambil untuk dapat diolah dan dianalisis sesuai dengan data yang telah diambil dari lapangan. Dilakukan pengumpulan data berkali-kali untuk mendukung hasil pengolahan data yang diharapkan dan dilakukannya analisis data. Data yang dikumpulkan adalah jumlah penumpang yang naik dan turun di setiap halte, inter-arrival

time dari setiap penumpang, dan jam kedatangan dari bus TransJakarta.

Data diolah untuk mendapatkan nilai rata-rata dari penumpang yang naik dan turun pada setiap halte dan rata-rata inter-arrival time dari setiap penumpang. Analisis data yang dilakukan adalah menganalisis data model

(6)

simulasi yang dibuat dibandingkan dengan hasil aktual yang didapatkan selama penelitian.

5. Bab 5 Simpulan dan Saran

Berisi tentang kesimpulan yang dihasilkan dari analisis yang didapatkan dan menjawab perumusan masalah yang ada. Adanya saran yang diberikan untuk memberikan masukan pada laporan yang telah dibuat. Kesimpulan dan saran dari penulisan laporan ini adalah perlu adanya perbaikan sistem dari TransJakarta pada 11 halte di koridor 9 agar masyarakat dapat beralih dari kendaraan pribadi ke penggunaan TransJakarta.

Gambar

Tabel 1.2 Perbandingan Beberapa BRT Besar

Referensi

Dokumen terkait

Pada 2012, skalar Kretchmann juga digunakan Jihad untuk mencari daerah singularitas nyata untuk tiga jenis metrik, yaitu metrik Schwarzschild, Reissner- Nordstorm,

Hambatan samping yang terjadi pada koridor Jl.Dr.Setiabudhi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kemacetan lalu lintas, dan hambatan samping yang terjadi

11 Febryan Sandy, Zainul Arifin,Fransisca Yaningwati, Pengaruh Bauran Promosi Terhadap keputusan Pembelian.Studi kasus Pada Mahasiswa jurusan Bisnis Angkatan 2010-2012.. merupakan

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (disingkat UU ITE) atau Undang-undang nomor 11 tahun 2008 adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik,

Peningkatan jumlah sarana prasarana pendukung kegiatan pariwisata tersebut dapat menjadi salah satu faktor pendukung tingginya jumlah wisatawan yang datang ke Kota

Karena manusia hidup sebagai makhluk sosial, maka proses pengenalan itu baik langsung atau tidak langsung terjadi dalam kehidupan bersama dengan orang lain.. Hal yang langsung

- Sumber kebisingan eksternal yaitu bunyi aktivitas keluarga pasien menginap di ruang tunggu, lalu-lalang koridor luar yang menyatu antara pengunjung dan pekerja,

Bab ini berisi uraian konsep berteologi tiga tokoh yang tergolong sebagai teolog agama-agama trinitarian dan merupakan acuan Joas Adiprasetya dalam membangun model