Bab 1
Bab 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perda Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030 telah menetapkan Kawasan Pantura DKI Jakarta sebagai Kawasan Strategis Provinsi (KSP) DKI Jakarta. Kawasan perairan dan pantai sepanjang ± 32 km di Teluk Jakarta tersebut merupakan gerbang DKI Jakarta dalam lingkup regional dan internasional. Penetapan tersebut selaras dengan kebijakan pada skala lebih luas, yakni Peraturan Pemerintah (PP) No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional, dimana DKI Jakarta bersama daerah di sekitarnya yang mencirikan kawasan metropolitan ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). Pengaturan lanjut mengenai penataan ruangnya diatur melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabekpunjur). Sebagai Kawasan Strategis Nasional, Kawasan Jabodetabekpunjur memerlukan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara terpadu.
Perpres No. 54 Tahun 2008 mengatur pembangunan di kawasan perairan Pantura Kawasan Jabodetabekpunjur melalui reklamasi dilakukan secara terpisah dari daratan yang ada, yakni melalui pengembangan lahan dalam bentuk pulau yang dipisahkan oleh kanal lateral berjarak ± 200-300 meter dari garis pantai yang ada hingga batas kedalaman perairan laut -8 m di bagian Utara. Ketentuan tersebut diatur lebih lanjut oleh Perda Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 tentang RTRW Jakarta 2030 dan akan diakomodasikan secara lebih rinci dalam perencanaan tata ruang Kawasan Pantura DKI Jakarta. Rencana tata ruang Kawasan Pantura DKI Jakarta tersebut akan menjadi acuan bagi seluruh kegiatan pembangunan di kawasan reklamasi dan daratan pantai yang berbatasan. Pada saat ini di kawasan pesisir dan Teluk Jakarta berlokasi berbagai kegiatan, seperti PLTU/PLTGU Muara Karang, PLTU Tanjung Priok, jaringan pipa gas bawah laut, jaringan pipa BBM bawah laut, Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL), pelabuhan umum dan perikanan, perumahan skala besar, kawasan wisata dan rekreasi, dan kegiatan lainnya yang membutuhkan penataan ruang secara terpadu.
Rencana pengembangan lahan baru Kawasan Pantura DKI Jakarta direncanakan melalui pembangunan pulau-pulau hasil reklamasi di perairan Teluk Jakarta. Perencanaan
pengembangan lahan baru dalam bentuk pulau tersebut didasarkan pada kebijakan dan peraturan-perundangan yang berlaku, tingkat keamanan (safety factors) yang harus dipenuhi, dan berbagai implikasi terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana pengembangan lahan dalam bentuk pulau melalui kegiatan reklamasi dilaksanakan melalui pengembangan tujuh belas pulau yang masing-masing dipisahkan oleh kanal lateral dari pantai lama dan kanal vertikal antar pulau.
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 121 Tahun 2012 tentang Penataan Ruang Kawasan Reklamasi Pantai Utara Jakarta menjadi landasan pembangunan pulau-pulau tersebut melalui kegiatan reklamasi. Pulau yang terbangun meliputi Pulau A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, dan Q.
Pulau G merupakan salah satu pulau hasil reklamasi yang direncanakan di Kawasan Pantura Jakarta dengan luas ± 161 Ha (Gambar 1.1). Lokasi Pulau G berada di Utara Kelurahan Pluit; di bagian Selatan berbatasan dengan daratan pantai lama dimana berlokasi PLTU/PLTGU Muara Karang, kawasan perumahan dan bisnis terpadu Green Bay Pluit, dan kawasan kegiatan perikanan Muara Karang dan Muara Angke; di bagian Barat berbatasan dengan rencana Pulau F; di bagian Timur berbatasan dengan perairan laut yang memisahkan Pulau G dengan kawasan perumahan Pantai Mutiara dan rencana Pulau H di Utaranya; dan di bagian Utara berbatasan dengan perairan lepas pantai Teluk Jakarta.
Dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 121 Tahun 2012 dinyatakan Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta terdiri atas tiga Sub-Kawasan, yakni Sub-Kawasan Barat, Tengah, dan Timur, dimana Pulau G termasuk dalam Sub-Kawasan Barat. Dalam peraturan tersebut ditetapkan kanal vertikal antara Pulau G dengan Pulau H dialokasikan bagi jalur gas dan pipa BBM bawah laut.
Dalam rangka kegiatan reklamasi untuk membangun Pulau G, PT Muara Wisesa Samudra telah memperoleh Persetujuan Prinsip Reklamasi Pulau G oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 1291/-1.794.2 tertanggal 21 September 2012. Dalam rangka pelaksanaan persetujuan prinsip tersebut, maka PT Muara Wisesa Samudra memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan kegiatan reklamasi melalui pengurugan hingga kedalaman -8 meter di bagian Utara pada lokasi yang disetujui, yakni Pulau G sesuai dengan batas-batas yang ditetapkan pada Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 121 Tahun 2012.
Sesuai dengan ketentuan pada Peraturan Menteri Negara (PerMen) Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL, maka rencana reklamasi Pulau G perlu dilengkapi dengan studi AMDAL. Penyusunan studi AMDAL Rencana Reklamasi Pulau G di Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta dilakukan selaras dengan upaya Pemerintah untuk mempertahankan kelestarian lingkungan sebagaimana tertuang dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.
Gambar 1.1 Lokasi Rencana Pulau G
Studi AMDAL Rencana Reklamasi Pulau G di Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta dimaksudkan untuk memprakirakan dampak lingkungan oleh kegiatan pengurugan hingga terbangun lahan pada kawasan perairan di lokasi Pulau G. Studi ini berfungsi untuk memperoleh kejelasan tentang dampak lingkungan yang perlu dikelola dan dipantau serta perencanaan pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan terkait dengan rencana kegiatan reklamasi untuk pengembangan lahan baru dalam bentuk pulau, yaitu Pulau G. Pengkajian dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana reklamasi Pulau G pada hakekatnya ditujukan untuk mengurangi dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif melalui perencanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Pengkajian dampak lingkungan rencana reklamasi Pulau G dimaksudkan untuk membantu :
- Mengintegrasikan kriteria keamanan dalam kegiatan reklamasi agar pengembangan lahan Pulau G lebih berkelanjutan sebagaimana yang dituju.
- Mengupayakan inovasi dalam rangka mengendalikan dampak lingkungan yang tidak dikehendaki dan meningkatkan dampak positif.
- Mengembangkan komunikasi dengan pemangku kepentingan untuk mengembangkan peluang penanganan dampak lingkungan yang mungkin timbul.
Pengkajian ANDAL, RKL, dan RPL Rencana Reklamasi Pulau G di Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta merupakan kelanjutan dari Kerangka Acuan ANDAL Rencana Reklamasi Pulau G di Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta yang telah memperoleh rekomendasi KA ANDAL oleh Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 17/KA-ANDAL/-1.774.151 tertanggal 19 Maret 2013. Sesuai dengan landasan hukum yang berlaku, maka pengkajian ANDAL, RKL, dan RPL Rencana Reklamasi Pulau G di Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta akan merujuk kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 08 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dalam hal ini PT Muara Wisesa Samudra bertindak sebagai pemrakarsa.
1.2
Tujuan Rencana Pengelolaan Lingkungan
Pengkajian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bertujuan menyiapkan acuan bagi pelaksanaan pengendalian dan pencegahan dampak lingkungan yang bersifat negatif dan peningkatan manfaat dampak positif rencana reklamasi Pulau G oleh PT Muara Wisesa Samudra. Rencana pengelolaan lingkungan mencakup upaya :
1. Pengendalian terhadap kinerja penggelaran material reklamasi dan konstruksi
revetment untuk mencegah perubahan pola arus yang mengakibatkan kenaikan suhu
air laut, penurunan stabilitas dasar laut, peningkatan sedimentasi, dan penurunan kualitas air laut.
2. Pengendalian terhadap peningkatan kemacetan lalu lintas jalan raya oleh kegiatan mobilisasi peralatan reklamasi dan pengangkutan material reklamasi.
3. Perwujudan tatanan ruang sesuai yang ditetapkan oleh Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2008, Perda Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012, dan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 121 Tahun 2012.
4. Perwujudan kemitraan dengan masyarakat dan institusi lainnya untuk membangun komunikasi sosial dalam rangka penerimaan tenaga kerja kegiatan reklamasi Pulau G; membangun persepsi obyektif tentang rencana reklamasi Pulau G, potensi dampak yang timbul, dan tindakan pengendalian dan pencegahan yang perlu dilakukan; berkoordinasi dan bekerjasama dengan instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PT PLN (Persero), PT Nusantara Regas, PT Pertamina Hulu Energi (Persero), dan institusi lainnya dalam rangka pencegahan dan penanggulangan dampak terhadap keamanan jaringan pipa gas bawah laut, keamanan operasi PLTU/PLTGU Muara Karang, dan masalah teknis lainnya.
1.3
Kegunaan Rencana Pengelolaan Lingkungan
Kegunaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi PT Muara Wisesa Samudra : 1. Pedoman pengendalian dampak negatif dan peningkatan manfaat dampak positif
yang wajib dilaksanakan oleh PT Muara Wisesa Samudra terkait dengan rencana reklamasi Pulau G.
2. Pedoman untuk melakukan pengawasan internal terhadap pentaatan pelaksanaan pengelolaan lingkungan dalam kegiatan reklamasi Pulau G.
3. Pedoman untuk melakukan evaluasi terhadap upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dan melakukan perbaikan sesuai kondisi yang dihadapi.
Kegunaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta :
1. Acuan untuk melaksanakan pengawasan eksternal terhadap kinerja pengelolaan lingkungan PT Muara Wisesa Samudra terkait dengan rencana reklamasi Pulau G. 2. Acuan untuk perencanaan pemanfaatan ruang di kawasan reklamasi Pantura Jakarta
sesuai rencana tata ruang yang ada.
Kegunaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi PT PLN, PT Nusantara Regas, dan PT Pertamina Hulu Energi :
1. Acuan untuk melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan PT Muara Wisesa Samudra terkait rencana reklamasi Pulau G secara teknis.
2. Acuan untuk koordinasi penanggulangan permasalahan terkait kinerja teknis reklamasi Pulau G.
Kegunaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi masyarakat :
1. Acuan dalam membangun komunikasi dan kemitraan dengan PT Muara Wisesa Samudra terkait dengan rencana reklamasi Pulau G.
1.4
Kebijakan PT Muara Wisesa Samudra dalam Pengelolaan Lingkungan
Kegiatan reklamasi Pulau G merupakan salah satu wujud dukungan terhadap kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyiapkan lahan bagi pembangunan DKI Jakarta melalui kegiatan reklamasi.
Komitmen untuk mendukung kebijakan tersebut juga dilaksanakan melalui kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup dan yang terkait lainnya, diantaranya melalui pengkajian dampak lingkungan rencana reklamasi Pulau G. Pengkajian ANDAL, RKL, dan RPL Rencana Reklamasi Pulau G berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan secara praktis. Komitmen ini wajib diwujudkan melalui koordinasi, kerjasama, dan pengawasan oleh instansi yang berwenang, khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pengkajian ANDAL, RKL, dan RPL Rencana Reklamasi Pulau G di Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta oleh PT Muara Wisesa Samudra merupakan salah satu wujud komitmen PT Muara Wisesa Samudra untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara taat asas sesuai peraturan perundang-undangan.
Bab 2
PENDEKATAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Bab 2
PENDEKATAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Rencana Pengelolaan Lingkungan yang menjadi acuan PT Muara Wisesa Samudra untuk melaksanakan pengelolaan dampak kegiatan reklamasi Pulau G mencakup upaya pengendalian, pencegahan, penanggulangan, dan peningkatan manfaat berbagai dampak yang diperkirakan timbul oleh rencana reklamasi Pulau G.
Dalam melaksanakan tanggung jawab pengelolaan lingkungan tersebut, PT Muara Wisesa Samudra menerapkan pendekatan teknologi, pendekatan institusi, dan pendekatan sosial sesuai dengan obyek, lingkup, dan karakteristik dampak yang akan dikelola.
Pendekatan teknologi dilaksanakan melalui :
- Penerapan persyaratan dan spesifikasi teknis dalam penggelaran material reklamasi dan konstruksi revetment yang dilaksanakan secara simultan.
- Pembuatan sand key, sand trimming, pelapisan geotextile, dan perlapisan batuan pada konstruksi revetment.
- Pemasangan vertical drain dan silt screen pada penggelaran material reklamasi. - Pengaturan dan manajemen mobilisasi peralatan reklamasi dan pengangkutan
material reklamasi untuk kegiatan reklamasi Pulau G pada akses utama kawasan Pluit, terutama Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara.
Pendekatan institusi dilaksanakan melalui :
- Kerjasama dan koordinasi dengan Pemerintah dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pengawasan eksternal kegiatan reklamasi Pulau G.
- Kerjasama dan koordinasi dengan instansi di Kotamadya Jakarta Utara, Kecamatan Penjaringan, dan Kelurahan Pluit untuk pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan, pengelolaan mobilisasi peralatan reklamasi dan pengangkutan material reklamasi, sosialisasi rencana reklamasi Pulau G dan pulau-pulau lainnya di kawasan reklamasi Pantura Jakarta, dan pengelolaan kemitraan dengan masyarakat sekitar.
- Kerjasama dan koordinasi dengan instansi terkait sebagai pemangku kepentingan, yaitu PT PLN, PT Nusantara Regas, dan PT Pertamina Hulu Energi untuk menjaga keamanan instalasi, infrastruktur, dan operasi pembangkitan listrik, pipa gas, dan pipa BBM.
Pendekatan sosial dilaksanakan melalui :
- Sosialisasi tentang rencana reklamasi Pulau G.
- Pelembagaan komunikasi dengan masyarakat untuk meningkatkan persepsi obyektif tentang reklamasi Pulau G.
Berbagai pendekatan dalam pengelolaan lingkungan yang dilaksanakan PT Muara Wisesa Samudra pada dasarnya tidak diimplementasikan secara parsial melainkan perlu dilaksanakan secara simultan.
Bab 3
RENCANA
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Bab 3
RENCANA
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
3.1
TAHAP PRA KONSTRUKSI
3.1.1 Penerimaan Tenaga Kerja
A Perubahan Kesempatan Bekerjaa) Sumber Dampak :
Penerimaan tenaga kerja reklamasi Pulau G yang dilaksanakan oleh kontraktor PT Muara Wisesa Samudra. Tenaga kerja yang dapat terlibat dalam kegiatan reklamasi adalah terbatas dan membutuhkan kualifikasi keahlian teknis yang tertentu.
b) Tolok Ukur Dampak :
Jumlah penduduk sekitar yang terlibat langsung dalam aktifitas reklamasi Pulau G. c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Pelibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan reklamasi Pulau G sebagai tenaga kerja untuk peningkatan kesejahteraan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh aktifitas reklamasi serta memperluas peluang keterlibatan secara tidak langsung melalui penyediaan jasa.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Sosialisasi dan komunikasi dengan masyarakat sekitar tentang kebutuhan, kriteria, mekanisme, dan masa penerimaan tenaga kerja reklamasi.
- Persyaratan bagi kontraktor reklamasi PT Muara Wisesa Samudra untuk memprioritaskan tenaga kerja dari warga Muara Angke.
- Proses penerimaan tenaga kerja reklamasi dapat diakses oleh masyarakat. - Bagi pekerja reklamasi diberlakukan sistem pengupahan sesuai dengan
peraturan UMR yang berlaku dan jaminan asuransi ketenagakerjaan. - Penyediaan peralatan keselamatan kerja bagi tenaga kerja reklamasi.
- Melakukan identifikasi peluang kerja tidak langsung yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, seperti penyediaan angkutan kapal atau perahu ke lokasi reklamasi.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Kawasan Muara Angke.
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Pada awal masa reklamasi Pulau G, yaitu pada kwartal terakhir tahun 2013. g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra berkoordinasi dengan kontraktor yang ditunjuk sebagai pelaksana reklamasi.
Pengawas : Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kelurahan Pluit.
Wakil komunitas Muara Angke.
Pelaporan : Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kelurahan Pluit.
Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
3.1.2 Sosialisasi Rencana Reklamasi Pulau G
A Perubahan Persepsi dan Sikap Masyarakata) Sumber Dampak :
Informasi yang terbatas tentang rencana reklamasi Pulau G dan pulau-pulau lainnya di kawasan Pantura Jakarta, oleh karena belum dilakukan sosialisasi secara efektif. Informasi yang terbatas menyebabkan persepsi masyarakat dibangun berdasarkan anggapan pribadi atau pembicaraan di kalangan masyarakat secara internal.
b) Tolok Ukur Dampak :
Respon masyarakat terhadap rencana reklamasi Pulau G. c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Membangun persepsi obyektif tentang rencana reklamasi Pulau G dan pulau-pulau lainnya di kawasan Pantura Jakarta berdasarkan informasi yang valid dan memadai.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Melakukan komunikasi dengan Bappeda DKI Jakarta tentang kepentingan sosialisasi rencana reklamasi pada lingkup Provinsi DKI Jakarta bagi masyarakat di kawasan pesisir Jakarta Utara.
- Melanjutkan koordinasi dengan Kelurahan Pluit untuk perencanaan sosialisasi tentang reklamasi Pulau G, kelompok sasaran, cara sosialisasi, dan penyelenggaraan sosialisasi secara teknis.
- Memberi penugasan dan tanggung jawab kepada personil PT Muara Wisesa Samudra untuk melakukan koordinasi dengan para pihak yang berwenang dan yang berkepentingan.
- Melakukan koordinasi dengan perwakilan komunitas Muara Angke untuk membangun media komunikasi dua arah tentang rencana reklamasi Pulau G. - Menyelenggarakan sosialisasi melalui media elektronik, poster, selebaran
(flyer), dan yang sejenis, serta tatap muka.
- Menyelenggarakan komunikasi dengan warga Pluit dan warga Muara Angke secara reguler untuk pertukaran informasi dan penanganan masalah.
- Melakukan komunikasi informal dengan warga Pluit dan warga Muara Angke untuk pertukaran informasi.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
- Kelurahan Pluit diwakili oleh RW dan RT yang menjadi akses menuju Pulau G atau yang berbatasan.
- Kawasan Muara Angke. f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Sosialisasi secara terencana diselenggarakan hingga akhir tahun 2013 dan forum komunikasi dilakukan secara menerus hingga reklamasi berakhir.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra Pengawas : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kelurahan Pluit.
Wakil komunitas Muara Angke. Wakil masyarakat Kelurahan Pluit. Pelaporan : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
3.2
TAHAP KONSTRUKSI
3.2.1 Mobilisasi Peralatan Reklamasi
A Perubahan Kelancaran Lalu Lintas Jalan Raya
a) Sumber Dampak :
Mobilisasi peralatan berat untuk kegiatan reklamasi Pulau G yang didatangkan melalui jalan raya di kawasan Pluit.
b) Tolok Ukur Dampak :
Kecepatan kendaraan lalu lintas umum rata-rata pada ruas Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara selama mobilisasi peralatan reklamasi berlangsung pada jam sibukpagi dan sore hari kurang dari 15 Km/jam.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mencegah kemacetan dan hambatan kelancaran lalu lintas umum pada ruas Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara oleh mobilisasi peralatan reklamasi Pulau G.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Pengaturan jadwal mobilisasi peralatan reklamasi pada jalur Jalan Pluit Karang Raya, Jalan Pluit Karang Utara, dan Jalan Pluit Karang Ayu dan jaringan jalan yang terhubungkan dilakukan pada malam hari untuk menghindarkan kemacetan dan aktifitas perkantoran PLTU/PLTGU Muara Karang, yaitu antara pukul 22.00 wib - 05.00 wib.
- Penggunaan lampu sebagai sinyal hati-hati pada kendaraan dan peralatan reklamasi.
- Pemasangan lampu sebagai sinyal hati-hati pada lokasi peralatan reklamasi berbelok memasuki kawasan Green Bay Pluit.
- Perbaikan ruas jalan yang rusak oleh mobilisasi peralatan reklamasi.
- Penempatan petugas untuk mengatur lalu lintas peralatan reklamasi yang memasuki kawasan Green Bay Pluit.
- Bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk pengaturan mobilisasi peralatan reklamasi PT Muara Wisesa Samudra dan melakukan koordinasi jika kegiatan reklamasi pulau-pulau lainnya juga memanfaatkan ruas jalan yang sama.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Jalan Pluit Karang Raya, Jalan Pluit Karang Utara, dan Jalan Pluit Karang Ayu serta akses yang terhubungkan.
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa mobilisasi peralatan reklamasi pada kwartal ke-empat tahun 2013 selama 2 – 3 minggu.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra
Pengawas : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kecamatan Penjaringan.
Kelurahah Pluit.
Wakil masyarakat Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara.
Pelaporan : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
B Perubahan Persepsi dan Sikap Masyarakat
a) Sumber Dampak :
Mobilisasi peralatan berat untuk kegiatan reklamasi Pulau G yang didatangkan melalui jalan raya akan meningkatkan kemacetan lalu lintas di kawasan Pluit. Kemacetan lalu lintas menjadi salah satu masalah signifikan yang dipersepsikan negatif oleh warga Pluit.
b) Tolok Ukur Dampak :
Respon dan harapan masyarakat terhadap rencana reklamasi Pulau G dan pulau-pulau lainnya di kawasan Pantura Jakarta terkait kemacetan lalu lintas, terutama pada ruas Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Menghindarkan persepsi dan sikap negatif masyarakat terhadap reklamasi Pulau G dari sudut pandang sebagai sumber kemacetan lalu lintas.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Sosialisasi pengaturan jadwal mobilisasi peralatan reklamasi pada jalur Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara dan jaringan jalan yang terhubungkan dilakukan pada malam hari untuk menghindarkan kemacetan, yaitu antara pukul 22.00 wib – 05.00 wib.
- Komunikasi dengan wakil masyarakat penghuni di Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara tentang pengaturan jadwal mobilisasi peralatan reklamasi Pulau G.
- Menyiapkan sarana untuk menampung laporan dan keluhan masyarakat dan pengelola kegiatan di sekitar akses mobilisasi peralatan reklamasi, diantaranya melalui saluran telekomunikasi dan pengaduan langsung kepada PT Muara Wisesa Samudra.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Tempat tinggal masyarakat di sepanjang Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara dan jaringan jalan yang terhubungkan dengan akses tersebut.
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa mobilisasi peralatan reklamasi pada kwartal ke-empat tahun 2013 selama 2 – 3 minggu.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra.
Pengawas : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Kecamatan Penjaringan. Kelurahan Pluit.
Wakil masyarakat Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara.
Pelaporan : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
3.2.2 Pengangkutan Material Reklamasi
A Perubahan Kelancaran Lalu Lintas Jalan Raya
a) Sumber Dampak :
Pengangkutan material reklamasi Pulau G yang didatangkan melalui jalan raya di kawasan Pluit, diantaranya tanah penutup, PVD, geo-textile, dan lainnya.
b) Tolok Ukur Dampak :
Kecepatan kendaraan lalu lintas umum rata-rata pada ruas Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara selama pengangkutan material reklamasi berlangsung pada jam sibukpagi dan sore hari kurang dari 15 Km/jam.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mencegah kemacetan dan hambatan kelancaran lalu lintas umum pada ruas Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara oleh pengangkutan material reklamasi Pulau G.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Pengaturan jadwal pengangkutan material reklamasi pada jalur Jalan Pluit Karang Raya, Jalan Pluit Karang Utara, dan Jalan Pluit Karang Ayu dan jaringan jalan yang terhubungkan dilakukan pada malam hari untuk menghindarkan kemacetan, yaitu antara pukul 22.00 wib – 05.00 wib.
- Penggunaan lampu sebagai sinyal hati-hati pada kendaraan truk pengangkut material reklamasi.
- Pemasangan lampu sebagai sinyal hati-hati pada lokasi truk pengangkut material reklamasi berbelok memasuki kawasan Green Bay.
- Perbaikan ruas jalan yang rusak oleh beban kendaraan pengangkut material reklamasi yang melampaui kapasitas jalan.
- Penempatan petugas untuk mengatur lalu lintas truk pengangkut material reklamasi yang memasuki kawasan Green Bay Pluit.
- Berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk pengaturan pengangkutan material reklamasi PT Muara Wisesa Samudra dan melakukan koordinasi jika kegiatan reklamasi pulau-pulau lainnya juga memanfaatkan ruas jalan yang sama.
- Berkoordinasi dengan Kelurahan Pluit untuk pengaturan pengangkutan material reklamasi Pulau G.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Jalan Pluit Karang Raya, Jalan Pluit Karang Utara, dan Jalan Pluit Karang Ayu serta akses yang terhubungkan.
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa pengangkutan material reklamasi mulai kwartal ke-empat tahun 2013 hingga reklamasi berakhir.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra
Pengawas : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kecamatan Penjaringan.
Kelurahah Pluit.
Wakil masyarakat Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara.
Wakil pengelola kegiatan di Jalan Pluit Karang Raya, Jalan Pluit Karang Utara, dan Jalan Pluit Karang Ayu.
Pelaporan : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
B Perubahan Persepsi dan Sikap Masyarakat
a) Sumber Dampak :
Pengangkutan material untuk kegiatan reklamasi Pulau G yang didatangkan melalui jalan raya akan meningkatkan kemacetan lalu lintas di kawasan Pluit. Kemacetan lalu lintas menjadi salah satu masalah signifikan yang dipersepsikan negatif oleh warga Pluit.
b) Tolok Ukur Dampak :
Respon dan harapan masyarakat terhadap rencana reklamasi Pulau G dan pulau-pulau lainnya di kawasan Pantura Jakarta terkait kemacetan lalu lintas, terutama pada ruas Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Menghindarkan persepsi dan sikap negatif masyarakat terhadap reklamasi Pulau G dari sudut pandang sebagai sumber kemacetan lalu lintas.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Pengaturan jadwal pengangkutan material reklamasi pada jalur Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara dan jaringan jalan yang
terhubungkan dilakukan pada malam hari untuk menghindarkan kemacetan, yaitu antara pukul 22.00 wib – 05.00 wib.
- Komunikasi dengan wakil masyarakat penghuni di Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara tentang pengaturan jadwal pengangkutan material reklamasi Pulau G.
- Menyiapkan sarana untuk menampung laporan dan keluhan masyarakat di sekitar akses pengangkutan material reklamasi, diantaranya melalui saluran telekomunikasi dan pengaduan langsung kepada PT Muara Wisesa Samudra. - Berkoordinasi dengan Kelurahan Pluit dalam pengaturan pengangkutan material
reklamasi Pulau G.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Tempat tinggal masyarakat di sepanjang Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara dan jaringan jalan yang terhubungkan dengan akses tersebut.
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa pengangkutan material reklamasi sejak kwartal ke-empat tahun 2013 hingga reklamasi berakhir.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra.
Pengawas : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kecamatan Penjaringan.
Kelurahan Pluit.
Wakil masyarakat Jalan Pluit Karang Raya dan Jalan Pluit Karang Utara.
Wakil pengelola kegiatan di Jalan Pluit Karang Raya, Jalan Pluit Karang Utara, dan Jalan Pluit Karang Ayu.
Pelaporan : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
3.2.3 Penggelaran Material Reklamasi
A Perubahan Sedimentasia) Sumber Dampak :
Penggelaran material reklamasi Pulau G yang dilakukan secara simultan dengan konstruksi revetment menyebabkan penyebaran sedimen ke kolom perairan sekitar. Pada lokasi dengan fungsi tertentu, sedimentasi dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan besaran kenaikan dasar laut (bed change) yang mengganggu fungsi bersangkutan. Dalam hal reklamasi Pulau G menyebabkan
penurunan besaran kenaikan dasar laut pada water intake PLTU/PLTGU Muara Karang.
b) Tolok Ukur Dampak :
- KepMen LH No. Kep-51/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk parameter TSS.
- Kenaikan dasar laut (bed change).
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mencegah sedimentasi yang berakibat peningkatan besaran kenaikan dasar laut pada lokasi yang tertentu oleh kegiatan penggelaran material reklamasi.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Penggelaran material reklamasi Pulau G diawali di bagian Selatan dari arah Timur ke Barat dan dilanjutkan secara bertahap ke bagian Utara.
- Penggelaran material reklamasi dilakukan dengan kecepatan rendah menggunakan spraying pontoon secara berlapis hingga ketebalan 0,5 – 1 meter
dan di batas luar dibangun sejenis tanggul atau revetment.
- Penggelaran material reklamasi diikuti pembangunan tanggul atau revetment
hingga mencapai permukaan laut pada platform sekitar 1,5 m dari LWS dipasang vertical drain.
- Pemasangan silt screen sebagai tabir penghalang dispersi padatan tersuspensi dalam kolom air sekitar (Gambar 3.1).
- Melakukan koordinasi dengan PT PLN, PT Nusantara Regas, dan PT Pertamina Hulu Energi untuk :
Pengawasan dan evaluasi bersama kinerja penggelaran material reklamasi.
Perbaikan metode dan teknik reklamasi jika kinerja pelaksanaan penggelaran material reklamasi menimbulkan dispersi sedimen melampaui kondisi eksisting pada lokasi compliance points.
Perbaikan teknik penanggulangan dispersi sedimen oleh penggelaran material reklamasi.
- Melaksanakan rekomendasi hasil kajian hidrodinamika yang telah disetujui oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Lokasi Pulau G seluas ± 161 Ha. f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa reklamasi sekitar 26 bulan diawali pada kwartal ke-empat tahun 2013.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra.
Pengawas : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
PT PLN.
PT Nusantara Regas. PT Pertamina Hulu Energi.
Pelaporan : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
Gambar 3.1 Silt Screen
B Perubahan Kualitas Air Laut
a) Sumber Dampak :
Penggelaran material reklamasi Pulau G yang dilakukan secara simultan dengan konstruksi revetment menyebabkan penyebaran padatan tersuspensi dan parameter lainnya ke kolom perairan sekitar.
b) Tolok Ukur Dampak :
KepMen LH No. Kep-51/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut, terutama untuk parameter TSS, TDS, dan minyak dan lemak.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mencegah peningkatan konsentrasi padatan tersuspensi pada lokasi yang tertentu oleh kegiatan penggelaran material reklamasi.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Penggelaran material reklamasi dilakukan dengan kecepatan rendah menggunakan spraying pontoon secara berlapis hingga ketebalan 0,5 – 1 meter
dan di batas luar dibangun sejenis tanggul atau revetment.
- Penggelaran material reklamasi diikuti pembangunan tanggul atau revetment
hingga mencapai permukaan laut pada platform sekitar 1,5 m dari LWS dipasang vertical drain.
- Pemasangan silt screen sebagai tabir penghalang dispersi padatan tersuspensi dalam kolom air sekitar.
- Melakukan koordinasi dengan PT PLN, PT Nusantara Regas, dan PT Pertamina Hulu Energi untuk :
Pengawasan dan evaluasi bersama kinerja penggelaran material reklamasi.
Perbaikan metode dan teknik reklamasi jika kinerja pelaksanaan penggelaran material reklamasi menimbulkan dispersi sedimen melampaui kondisi eksisting pada lokasi compliance points, terutama untuk parameter TSS, TDS, dan minyak dan lemak.
Perbaikan teknik penanggulangan dispersi beban dan konsentrasi TSS, TDS, dan minyak dan lemak oleh penggelaran material reklamasi.
- Melaksanakan rekomendasi hasil kajian hidrodinamika yang telah disetujui oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Lokasi Pulau G seluas ± 161 Ha. f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa reklamasi sekitar 26 bulan diawali pada kwartal ke-empat tahun 2013.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra.
Pengawas : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. PT PLN.
PT Nusantara Regas. PT Pertamina Hulu Energi.
Pelaporan : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
3.2.4 Konstruksi Revetment
A Perubahan Pola Arus dan Elevasi Muka Air
a) Sumber Dampak :
Kontruksi revetment yang dilakukan simultan dengan penggelaran material reklamasi Pulau G menyebabkan perubahan arah dan kecepatan arus perairan sekitar. Bangunan revetment pada batas luar material reklamasi yang digelar akan mempengaruhi arah dan kecepatan aliran air.
b) Tolok Ukur Dampak :
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Perubahan arah dan kecepatan arus oleh bangunan revetment menjadi faktor penentu prakiraan perubahan sedimentasi, suhu air laut, dan kualitas air laut. d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Pembuatan sand key untuk soil improvement dasar laut yang memiliki lapisan lunak (Gambar 3.2).
- Inti revetment diletakkan di atas geo-mattress untuk mendistribusikan beban
tanggul atau revetment secara merata.
- Pemasangan geo-textile sheet antara pasir dengan lapisan batuan untuk mencegah pasir terlepas ke luar tapak reklamasi (Gambar 3.3).
- Peletakan batuan secara berlapis dimana batuan dengan ukuran lebih kecil yang berfungsi sebagai filter diletakkan di atas geo-textile, diikuti secondary
armour stone, dan selanjutnya diletakkan boulder dengan berat antara 30 –
3.000 kgyang berfungsi menahan energi gelombang (Gambar 3.3).
- Konstruksi revetment dilakukan secara simultan dengan penggelaran material reklamasi, dimana setiap lapisan mencapai ketinggian 0,5 – 1 meter di sisi luar dibuat sejenis tanggul atau revetment.
- Melakukan koordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan untuk pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan lapisan lunak
(silt dan clay) ke lokasi pembuangan dalam rangka pembuatan sand key.
- Melaksanakan rekomendasi Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa No. PP.201/1/9/KSOP-SKA/13 pembuangan lumpur pada dumping area dengan koordinat :
a) 05o56’00” LS 106o43’30” BT b) 05o56’00” LS 106o45’36” BT b) 05o57’30” LS 106o45’36” BT d) 05o57’30” LS 106o43’30” BT
- Selama kegiatan pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan lumpur harus
standby pada CH 16VHF Radio Telephony dan dalam pengawasan petugas
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa.
- Mengurus perijinan pelaksanaan pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan lumpur ke Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan. - Menyerahkan hasil akhir sounding kepada Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa.
- Melaksanakan rekomendasi hasil kajian hidrodinamika yang telah disetujui oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
- Melaksanakan rekomendasi hasil kajian penanggulangan banjir yang telah disetujui oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Gambar 3.2 Sand Key
Gambar 3.3
Geo-textile dan Peletakan Batuan
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Pada sisi luar mengelilingi areal yang diurug dengan arah sesuai arah pengurugan. f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa reklamasi sekitar 26 bulan diawali pada kwartal ke-empat tahun 2013.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra.
Pengawas : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa, Kementerian Perhubungan.
Pelaporan : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
B Perubahan Suhu Air Laut
a) Sumber Dampak :
Kontruksi revetment yang dilakukan simultan dengan penggelaran material reklamasi menyebabkan perubahan suhu air laut oleh aliran air laut yang mengalir pada jarak yang lebih panjang.
b) Tolok Ukur Dampak :
Suhu air laut sebelum dilakukan konstruksi revetment dan setelah konstruksi
revetment pada water intake PLTU/PLTGU Muara Karang.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mempertahankan atau menurunkan suhu air laut pada water intake yang berasal dari outlet PLTU/PLTGU Muara Karang.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Memastikan konstruksi revetment sesuai persyaratan teknis, yakni dilakukan pembuatan sand key untuk memperbaiki lapisan lunak di dasar laut, peletakan
geo-mattress, pemasangan geo-textile sheet antara pasir dengan lapisan
batuan, peletakan batuan secara berlapis dengan batuan berukuran lebih kecil di bagian bawah, diikuti secondary armour stone, dan selanjutnya diletakkan
boulder.
- Konstruksi revetment dilakukan secara simultan dengan penggelaran material reklamasi melalui pembuatan tanggul atau revetment setiap lapisan urugan mencapai 0,5 – 1 meter.
- Melaksanakan rekomendasi hasil kajian hidrodinamika yang telah disetujui oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
- Melakukan koordinasi dengan PT PLN, PT Nusantara Regas dan PT Pertamina Hulu Energi :
Penentuan metode pemisahan outlet PLTU/PLTGU Muara Karang dan
outlet Kali Karang dengan intake kanal air pendingin PLTU/PLTGU Muara
Karang.
Engineering assessment oleh pihak ketiga yang disepakati bersama untuk
aspek teknis keamanan pipa gas bawah laut oleh pelaksanaan sand key
dan konstruksi revetment.
Pengawasan bersama kinerja pelaksanaan konstruksi revetment dan reklamasi Pulau G.
- Bersama dengan PT PLN, PT Nusantara Regas, dan PT Pertamina Hulu Energi melakukan koordinasi dengan Pemda Provinsi DKI Jakarta cq Bappeda dan
Dinas Pekerjaan Umum tentang kesepakatan metode pemisahan antara aliran
outlet dengan intake kanal air pendingin PLTU/PLTGU Muara Karang.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Pada sisi luar mengelilingi areal yang diurug dengan arah sesuai arah pengurugan. f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa reklamasi sekitar 26 bulan diawali pada kwartal ke-empat tahun 2013.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra. Pengawas : Bappeda Provinsi DKI Jakarta
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. PT PLN.
Pelaporan : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
C Perubahan Stabilitas Dasar Laut
a) Sumber Dampak :
Kontruksi revetment yang dilakukan simultan dengan penggelaran material reklamasi.
b) Tolok Ukur Dampak :
Settlement pada lapisan dasar laut.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mencegah terjadinya deformasi pada lapisan dasar laut dan gerakan ke samping yang dapat menimbulkan kerusakan pada struktur revetment dan struktur lain yang berdekatan, seperti pipa gas PT Nusantara Regas.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Memastikan konstruksi revetment sesuai persyaratan teknis, yakni dilakukan pembuatan sand key untuk memperbaiki lapisan lunak di dasar laut, peletakan
sand bag di atas geo-mattress, pemasangan geo-textile sheet antara pasir
dengan lapisan batuan, peletakan batuan secara berlapis dengan batuan berukuran lebih kecil di bagian bawah, diikuti secondary armour stone, dan selanjutnya diletakkan boulder.
- Konstruksi revetment di sisi Timur memiliki jarak 25 m dari ujung terluar sand key ke pipa gas dengan prasyarat tidak diperkenankan melakukan aktifitas apapun terkait reklamasi Pulau G dalam jarak tersebut (Gambar 3.4).
Sand key Sea bed
25 m
Pipa gas
Gambar 3.4
Jarak Revetment terhadap Pipa Gas
- Pelaksanaan sand key menggunakan backhoe dredger dimana ekskavator dipasang pada salah satu ujung spud-rigged pontoon (Gambar 3.5), sedang
back hoe diletakkan di atas area yang akan digali. Spuds diturunkan ke seabed
untuk memperkuat posisi back hoe, artinya barge dan spuds akan terikat pada areal yang akan digali. Dengan posisi demikian, maka barge tidak perlu bergerak ke luar areal yang tidak digali.
- Alat penggali akan bergerak sendiri mengangkat dan menurunkan spuds
beserta bucket (Gambar 3.6). Back hoe dredger dilengkapi oleh electronic
display yang memberi informasi tentang seksi sand key yang digali, lokasi
dredger, kedalaman, dan posisi bucket kepada operator.
- Penggalian dalam pelaksanaan sand key dilakukan secara bertahap mengikuti alur dengan panjang sekitar 2 m dan kedalaman 1 – 2 m. Untuk menjaga penggalian tetap stabil pada seluruh sisi, pada tahap awal dredger akan mengupas slope yang bergelombang dan slope lainnya. Setelah menyelesaikan penggalian sekitar 20 – 40 m alur akan diisi oleh pasir dan penggalian dilanjutkan pada alur berikutnya dengan panjang yang sama dan selanjutnya diikuti oleh pengisian pasir hingga terbangun revetment di seluruh sisi luar lahan reklamasi (Gambar 3.7 dan Gambar 3.8). Material lunak yang digali dimuat dalam barge yang berada di bagian Barat alat gali.
Gambar 3.5 Back Hoe Dredger
Gambar 3.6
Gambar 3.7
Tampak Atas Sekuens Penggalian dan Pengisian Sand Key
Gambar 3.8
- Penggalian lapisan lunak dalam pelaksanaan sand key dilakukan secara pararel dengan pengisian material pasir untuk mencegah longsor pada seabed
yang menyangga pipa gas bawah laut.
- Konstruksi revetment dilakukan secara simultan dengan penggelaran material reklamasi melalui pembuatan sejenis tanggul setiap lapisan urugan mencapai 0,5 – 1 meter.
- Melakukan actual cross check posisi pipa gas bawah laut PT Nusantara Regas sebagai data navigation system bagi barge dan tug boat yang melakukan aktifitas sand key dan revetment di sisi Timur Pulau G guna menjamin keamanan pipa.
- Pemasangan marking buoy pada koordinat pipa di koridor Timur Pulau G untuk
visual navigation.
- Melakukan koordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan untuk pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan lapisan lunak
(silt dan clay) ke lokasi pembuangan dalam rangka pembuatan sand key.
- Mengurus perijinan pelaksanaan pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan lumpur ke Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan. - Melakukan koordinasi dengan PT PLN, PT Nusantara Regas dan PT Pertamina
Hulu Energi :
Penentuan metode pemisahan outlet PLTU/PLTGU Muara Karang dan
outlet Kali Karang dengan intake kanal air pendingin PLTU/PLTGU Muara
Karang.
Engineering assessment oleh pihak ketiga yang disepakati bersama untuk
aspek teknis keamanan pipa gas bawah laut oleh sand key dan revetment
untuk jarak aman batas ke arah Timur ke pipa gas bawah laut PT Nusantara Regas serta jarak untuk rektifikasi dan maintenance pipa gas bawah laut; dan aspek teknis lainnya.
Prosedur pelaksanaan sand key dan konstruksi revetment.
Pengawasan kinerja pelaksanaan sand key dan konstruksi revetment
reklamasi Pulau G dengan melibatkan liaison officer masing-masing
stakeholders.
- Bersama dengan PT PLN, PT Nusantara Regas, dan PT Pertamina Hulu Energi melakukan koordinasi dengan Pemda Provinsi DKI Jakarta cq Bappeda dan Dinas Pekerjaan Umum tentang kesepakatan metode pemisahan antara aliran
outlet dengan intake kanal air pendingin PLTU/PLTGU Muara Karang.
- Melaksanakan hasil rekomendasi kajian hidrodinamika yang telah disetujui oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa reklamasi sekitar 26 bulan diawali pada kwartal ke-empat tahun 2013.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra. Pengawas : Bappeda Provinsi DKI Jakarta
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta. Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. PT Nusantara Regas.
PT Pertamina Hulu Energi.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa, Kementerian Perhubungan.
Pelaporan : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
D Perubahan Kualitas Air Laut
a) Sumber Dampak :
Konstruksi revetment yang dilakukan secara simultan dengan penggelaran material reklamasi Pulau G menyebabkan penyebaran padatan tersuspensi dan parameter lainnya ke kolom perairan sekitar.
b) Tolok Ukur Dampak :
KepMen LH No. Kep-51/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut, terutama untuk parameter TSS, TDS, dan minyak dan lemak.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mencegah peningkatan konsentrasi padatan tersuspensi dan parameter lainnya pada lokasi perairan laut oleh kegiatan konstruksi revetment.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Memastikan konstruksi revetment sesuai persyaratan teknis, yakni dilakukan pembuatan sand key untuk memperbaiki lapisan lunak di dasar laut, peletakan
sand bag di atas geo-mattress, pemasangan geo-textile sheet antara pasir
dengan lapisan batuan, peletakan batuan secara berlapis dengan batuan berukuran lebih kecil di bagian bawah, diikuti secondary armour stone, dan selanjutnya diletakkan boulder.
- Konstruksi revetment dilakukan secara simultan dengan penggelaran material reklamasi melalui pembuatan sejenis tanggul atau revetment setiap lapisan urugan mencapai 0,5 – 1 meter.
- Melakukan koordinasi dengan PT PLN, PT Nusantara Regas, dan PT Pertamina Hulu Energi untuk :
Pengawasan dan evaluasi bersama kinerja penggelaran material reklamasi,
Perbaikan metode dan teknik reklamasi jika kinerja pelaksanaan sand key
dan konstruksi revetment menimbulkan dispersi sedimen melampaui kondisi eksisting pada lokasi compliance points, terutama untuk parameter TSS, TDS, dan minyak dan lemak.
Perbaikan teknik penanggulangan dispersi beban dan konsentrasi TSS, TDS, dan minyak dan lemak oleh pelaksanaan sand key dan konstruksi
revetment.
- Melakukan koordinasi Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta dalam pencegahan penurunan kualitas air laut.
- Melaksanakan rekomendasi hasil kajian hidrodinamika yang telah disetujui oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Pada sisi luar mengelilingi areal yang diurug dengan arah sesuai arah pengurugan. f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa reklamasi sekitar 26 bulan diawali pada kwartal ke-empat tahun 2013.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra.
Pengawas : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. PT PLN.
PT Nusantara Regas. PT Pertamina Hulu Energi.
Pelaporan : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
3.3 TAHAP PASCA KONSTRUKSI
3.3.1 Demobilisasi Peralatan Reklamasi
A Perubahan Kelancaran Lalu Lintas Jalan Raya
a) Sumber Dampak :.
Demobilisasi peralatan reklamasi untuk kegiatan reklamasi Pulau G yang didatangkan melalui jalan raya di kawasan Pluit.
b) Tolok Ukur Dampak :
Kecepatan kendaraan lalu lintas umum rata-rata pada ruas Jalan Utara selama demobilisasi peralatan reklamasi berlangsung pada jam sibuk pagi dan sore hari kurang dari 15 Km/jam.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mencegah kemacetan dan hambatan kelancaran lalu lintas umum pada ruas Jalan Pluit Karang Utara oleh demobilisasi peralatan reklamasi Pulau G.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Pengaturan jadwal demobilisasi peralatan reklamasi pada jalur Jalan Karang Utara dan jaringan jalan yang terhubungkan dilakukan pada malam hari, yaitu antara pukul 22.00 wib – 05.00 wib untuk menghindarkan kemacetan lalu lintas dan gangguan terhadap aktifitas perkantoran PLTU/PLTGU Muara Angke. - Penggunaan lampu sebagai sinyal hati-hati pada kendaraan dan peralatan
reklamasi.
- Pemasangan lampu sebagai sinyal hati-hati pada lokasi peralatan reklamasi berbelok keluar dari kawasan Green Bay Pluit.
- Penempatan petugas untuk mengatur lalu lintas peralatan reklamasi yang keluar dari kawasan Green Bay Pluit.
- Perbaikan ruas jalan yang rusak oleh demobilisasi peralatan reklamasi.
- Bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk pengaturan demobilisasi peralatan reklamasi PT Muara Wisesa Samudra. e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Jalan Pluit Karang Utara dan Jalan Pluit Karang Ayu serta akses yang terhubungkan.
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Selama masa demobilisasi peralatan reklamasi pada tahun 2015 selama 2 – 3 minggu.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra.
Pengawas : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Kecamatan Penjaringan. Kelurahan Pluit.
Wakil masyarakat Jalan Pluit Karang Raya, Jalan Pluit Karang Utara, dan Jalan Pluit Karang Ayu.
Pelaporan : Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
3.3.2 Keberadaan Pulau G
A Perubahan Suhu Air Lauta) Sumber Dampak :
Keberadaan Pulau G hasil kegiatan reklamasi menyebabkan perubahan suhu air laut oleh aliran air laut yang mengalir pada jarak yang lebih panjang.
b) Tolok Ukur Dampak :
Suhu air laut sebelum dan setelah terbangun Pulau G dan pulau-pulau lainnya di bagian Baratpada water intake PLTU/PLTGU Muara Karang.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Mempertahankan suhu air laut pada water intake yang berasal dari outlet
PLTU/PLTGU Muara Karang. d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Memastikan kinerja lahan terbangun Pulau G yang dilindungi struktur revetment
sesuai pesyaratan teknis, sehingga tidak mengalami kerusakan secara fisik. - Melakukan koordinasi dengan PT PLN dalam pengawasan kinerja hasil
reklamasi berupa Pulau G dan suhu air laut pada intake air pendingin PLTU/PLTGU Muara Karang.
- Melakukan koordinasi dengan PT PLN untuk upaya pengendalian dan penanggulangan jika terjadi permasalahan dengan suhu air laut pada intake air pendingin PLTU/PLTGU Muara Karang terkait keberadaan Pulau G.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Lahan terbangun di Pulau G yang dikelilingi oleh struktur revetment. f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Akhir tahun 2015.
g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra Pengawas : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. PT PLN.
Pelaporan : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
B Perwujudan Tatanan Ruang
a) Sumber Dampak :
Keberadaan Pulau G hasil kegiatan reklamasi sebagai perwujudan tatanan ruang. b) Tolok Ukur Dampak :
- Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur.
- Perda Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 tentang RTRW Provinsi DKI Jakarta 2030.
- Peraturan Gubernur Provinsi Jakarta No. 121 Tahun 2012 tentang Penataan Ruang Kawasan Reklamasi Pantai Utara Jakarta.
c) Tujuan Pengelolaan Lingkungan :
Perwujudan pemanfaatan ruang kawasan Pantura DKI Jakarta melalui pengembangan lahan baru dalam bentuk pulau hasil kegiatan reklamasi.
d) Rencana Pengelolaan Lingkungan :
- Memastikan kinerja lahan terbangun Pulau G mampu mendukung pembangunan di atasnya.
- Menyiapkan perijinan dan pemenuhan persyaratan administratif sesuai peraturan yang berlaku untuk pembangunan Pulau G.
- Melakukan koordinasi pemanfaatan ruang dengan Bappeda Provinsi DKI Jakarta dan Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta.
e) Lokasi Pengelolaan Lingkungan :
Lahan terbangun di Pulau G yang siap dimanfaatkan untuk perkembangan Provinsi DKI Jakarta.
f) Periode Pengelolaan Lingkungan :
Kontinyu hingga dilanjutkan dengan pembangunan di atas lahan Pulau G. g) Institusi Pengelolaan Lingkungan :
Pelaksana : PT Muara Wisesa Samudra Pengawas : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan : Bappeda Provinsi DKI Jakarta.
Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. Pelaporan dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan.
DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR ISI ... i DAFTAR GAMBAR ... ii BAB I PENDAHULUAN ... I – 1 1.1 Latar Belakang ... I – 1 1.2 Tujuan Rencana Pengelolaan Lingkungan ... I – 4 1.3 Kegunaan Rencana Pengelolaan Lingkungan ... I – 5 1.4 Kebijakan PT Muara Wisesa Samudra dalam PengelolaanLingkungan ………. I – 6
BAB II PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN ... II – 1 BAB III RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP ... III – 1
3.1 Tahap Pra Konstruksi ... III – 1 3.1.1 Penerimaan Tenaga Kerja ……….……… III – 1 3.1.2 Sosialisasi Rencana Reklamasi Pulau G ………...…….. III – 2 3.2 Tahap Konstruksi ……….……….……..….….. III – 3 3.2.1 Mobilisasi Peralatan Reklamasi ……….… III – 3 3.2.2 Pengangkutan Material Reklamasi ………….…….…….. III – 6 3.2.3 Penggelaran Material Reklamasi ………..……..……….. III – 8 3.2.4 Konstruksi Revetment ……….….……… III – 10 3.3 Tahap Pasca Konstruksi ………..…….… III – 23 3.3.1 Demobilisasi Peralatan Reklamasi ………….……… III – 23 3.3.2 Keberadaan Pulau G ……….……….………. III – 24
LAMPIRAN RKL DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 Silt Screen ... III – 10 Gambar 3.2 Sand Key ... III – 13 Gambar 3.3 Geo-Textile dan Peletakan Batuan ... III – 13 Gambar 3.4 Jarak Revetment Terhadap Pipa Gas ... III – 16 Gambar 3.5 Back Hoe Dredger ... III – 17 Gambar 3.6 Contoh Aktifitas Penggalian oleh Back Hoe Dredger …….. III – 18 Gambar 3.7 Tampak Atas Sekuens Penggalian dan Pengisian Sand Key III – 19 Gambar 3.8 Penampang Melintang Sekuens Penggalian Sand Key …… III – 19
Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
1. Albert Cheng Ting Ning, JP, et al, 2010, Towards a Sustainable Reclamation for
Hong Kong, Environmental Paper Award, HKIE Enviromental Division, Hong Kong
2. Analisis Dampak Lingkungan Hidup Pembangunan Hunian dan Bisnis Terpadu Green Bay Pluit, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, PT Kencana Unggul Sukses, 2012
3. APHA, AWWA, WPCF, 1992, Standar Method for the Examination of Water and
Wastewater, 18th Ed., APHA, Washington
4. Badan Pelaksana Reklamasi Pantura Jakarta, Draft AMDAL Regional Reklamasi dan Revitalisasi Pantura Jakarta, 2003
5. Baumo, WJ and Oates, WE, 1979, Economics : Enviromental Policy and Quality of Life, Prentice Hall
6. Canter, LW, 1986, Air Pollution, University of Oklahoma, USA
7. Canter, LW, 1996, Environmental Impact Assessment, McGraw-Hill International Editions, Second Edition, New York
8. Djajadiningrat, Surna T., Harry Harsono Amir, Penilaian Secara Cepat
Sumber-sumber Pencemaran Air, Tanah, dan Udara, Gadjah Mada Universirty Press,
Yogyakarta, 1990
9. Environmental Protection Agency, 1997, Compilation of Air Pollutant Emission
Factors, Research Triangle Park, USA
10. Fardiaz, S, 1992, PolusiAir dan Udara, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
11. Halloway JD, Stork NE, 1991, The Dimensions of Biodiversity : the Use of
Invertebrates as Indicators of Human Impact, Hawksworth DL (Ed.), The Biodiversity
of Microorganism and Invertebrates : Its Role in Sustainable Agriculture, United
Kingdom : CAB International, Wallingford, pp 37 – 61
12. Hutasoit, Lambok, Evaluasi Kondisi Air Bawah Tanah Propinsi DKI Jakarta, Dinas Pertambangan DKI Jakarta, 2004
13. Hutasoit, Lambok, Studi Dampak Resiko Dewatering (Penirisan) di Wilayah DKI
Jakarta, Dinas Pertambangan Propinsi DKI Jakarta, 2006
14. Hutasoit, Lambok; Pindratno, M.H., Amblesan Tanah di DKI Jakarta, Buku Longsor, P3TPSLK, BPPT, 2004.
15. IHD-WHO, Water Quality Surveys : A Guide for the Collection and Interpretation of
Water Quality Data, Unesco/WHO, UK 1978
16. Keller, E, 1982, Enviromental Geology, 3rd Ed., CE Cerril Publishing Co., Columbus, Ohio
Daftar Pustaka
Introduction with Sample Programs in Basics, Vol. 25, Elsevier, Amsterdam
18. Krenkel PA and Novotny V, 1980, Water Quality Management, Academic Press, New York
19. Krentel, Peter A.,et at., Water Quality Management, Academic Press, New York,1980 20. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi, 1980, Buku Pegangan Bidang
Kependudukan, Universitas Indonesia, Jakarta
21. Lloyd Acoustics Pty Ltd., 2002, Noise and Vibration Management Plan, A Report for
Perth Urban Rail Development, Australia
22. McLaughlin A, Mineau P, 1995, The Impact of Agricultural Practices on Biodiversity, Agricult Ecosys Environ 55 : 201 – 212
23. Odum, HT, 1992, Ekologi Sistem : Suatu Pengantar, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
24. Ongkosongo, O.S.R, Keadaan Lingkungan Fisik Pantai Jakarta, PPLH dan LON LIPI, Jakarta,1981
25. Peavy, HE et al,1988, Enviromental Engineering, McGraw Hill, New York 26. Prawirowardoyo, Susilo, 1996, Meteorologi, Penerbit ITB, Bandung
27. Puri Fadjar Mandiri, Jakarta Waterfront : Rebirth of Jayakarta (Rencana Induk
Pantura Jakarta), Bagian II, Studi Lingkungan dan Rencana Lingkungan, Planning
Workshop International, 1995
28. Purwadhi, S.H., O.S.R. Ongkosongo, I. Bangun, dan I. Pranoto, Penggunaan Data Teledeteksi untuk Penelitian Perubahan dan Tataguna Tanah Pantai Jakarta, TELSA-LAPAN Jakarta, 1983
29. Sengara, Wayan, Settlement and Liquefaction Potentials for the Proposed Jakarta
Bay Reclamation Project, 2011
30. Splitz, K and Moreno, J, 1996, A Practical Guide to Groundwater and Solute
Transport Modelling, John Wiley and Sons, New York
31. Stern, Arthur C, Boubel, Richards W, Turner D, Bruce, Fox, Donald L, 1984,
Fundamentals of Air Pollution, Second Ed., Academic Press Inc., London
32. Studi Pengaruh Perubahan Erosi dan Sedimentasi Akibat Reklamasi Wilayah DKI
Jakarta, Dinas Pertambangan DKI Jakarta – Lembaga Pengabdian pada
Masyarakat, Institut Teknologi Bandung, 1998
33. Sulistijo, Coastal and Marine Quality of Jakarta Bay, Institute of Ecology, Research Institute of university of Padjadjaran
34. Summary Report from the 1996 NCEER and 1998 NCEER/NSF Workshops on
Evaluation of Liquefaction Resistance of Soils, Journal Of Geotechnical and
Geo-environmental Engineering, October 2001
35. Tjasjono, Bayong, 1999, Klimatologi Umum, Penerbit ITB, Bandung
36. UNEP, WHO, 1996, Water Quality Monitoring, First Ed., E and FN Spon, London 37. Wark, Kenneth and Warner, Cecil F, 1981, Air Pollution : Its Origin and Control,
Tabel 3.1
Matriks Rencana Pengelolaan Lingkungan Reklamasi Pulau G PT Muara Wisesa Samudra
No. Jenis Dampak
Lingkungan Dampak Sumber Tolok Ukur Pengelolaan Tujuan Pengelolaan Dampak Pengelolaan Lokasi Pengelolaan Periode
Institusi Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana Pengawas Pelaporan
A TAHAP PRA KONSTRUKSI
1. PENERIMAAN TENAGA KERJA 1. Perubahan kesempatan bekerja pada aktifitas reklamasi Pulau G. Penerimaan tenaga kerja reklamasi Pulau G yang dilaksanakan oleh kontraktor PT Muara Wisesa Samudra. Tenaga kerja yang dapat terlibat dalam kegiatan reklamasi terbatas dan membutuhkan kualifikasi keahlian teknis yang tertentu. Jumlah penduduk sekitar yang terlibat langsung dalam aktifitas reklamasi Pulau G. Pelibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan reklamasi Pulau G sebagai tenaga kerja untuk peningkatan kesejahteraan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh aktifitas reklamasi serta memperluas peluang terlibat secara tidak langsung melalui penyediaan jasa. - Sosialisasi dan komunikasi dengan masyarakat sekitar tentang kebutuhan, kriteria, mekanisme, dan masa penerimaan tenaga kerja reklamasi.
- Persyaratan bagi
kontraktor reklamasi PT Muara Wisesa Samudra untuk memprioritaskan tenaga kerja dari warga Muara Angke.
- Proses penerimaan
tenaga kerja reklamasi dapat diakses oleh masyarakat.
- Bagi pekerja reklamasi
diberlakukan sistem pengupahan sesuai dengan peraturan UMR yang berlaku dan jaminan asuransi ketenagakerjaa. - Penyediaan peralatan Kawasan Muara Angke. Pada awal masa reklamasi Pulau G, yaitu pada kwartal terakhir tahun 2013. PT Muara Wisesa Samudra berkoordi nasi dengan kontraktor. - Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. - Kelurahan Pluit - Wakil komunitas Muara Angke. - Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. - Kelurahan Pluit. - Pelaporan setiap 3 (tiga) bulan.