BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

26 

Teks penuh

(1)

9 BAB 2

TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Teoretis

2.1.1 Teori Sinyal (Signalling Theory)

Informasi merupakan unsur penting bagi investor karena informasi menyajikan keterangan, catatan, gambaran mengenai keadaan masa lalu, saat ini, dan masa depan bagi kelangsungan perusahaan. Informasi yang lengkap, relevan, dan reliable sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai analisis untuk mengambil keputusan investasi. Informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan sinyal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi (Jogiyanto, 2016). Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai sinyal baik (good news) atau sinyal buruk (bad news). Hasil dari interpretasi informasi inilah nantinya akan mempengaruhi permintaan dan penawaran dari investor. Jika banyak investor berpandangan pesimis akibat bad news dari informasi yang diterima, maka ia akan mengurangi jumlah pembelian yang terjadi dan akan menambah penawaran di pasar sehingga harga akan terdorong turun. Sebaliknya jika investor memandang optimis akibat good news dari informasi yang diterima, maka ia akan menambah jumlah

(2)

pembelian yang terjadi dan akan menurunkan penawaran di pasar sehingga harga akan terdorong naik.

2.1.2 Event Study

Menurut Kritzman (1994) mengemukakan bahwa event study bertujuan untuk mengukur hubungan antara suatu peristiwa yang mempengaruhi surat berharga dan return dari surat berharga tersebut. Sedangkan menurut Jogiyanto (2016), event study merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman.

Berdasarkan pengertian diatas tampak bahwa event study merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan untuk menguji efesiensi pasar bentuk setengah kuat (Wismar’ein, 2004). Apabila pengumuman dari suatu informasi peristiwa maka diharapkan pasar akan bereaksi pada periode waktu pengumuman diterima oleh pasar. Reaksi pasar dapat ditunjukkan dengan adanya perubahan return dari saham atau sekuritas yang bersangkutan, dalam hal ini bisa diukur dengan menggunakan abnormal return untuk mengetahui seberapa besar perubahan harga pada saat pengumuman.

Apabila peristiwa mengandung informasi yang berpengaruh maka diharapkan pasar akan bereaksi terhadap peristiwa di sekitar waktu peristiwa terjadi. Reaksi pasar bisa dilihat dengan adanya perubahan harga atau return dari sekuritas yang bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau bisa menggunakan abnormal return. Selain dengan abnormal return untuk melihat reaksi pasar dapat juga diindikasi dengan adanya perubahan volume perdagangan saham atau trading volume activity. Perubahan volume

(3)

perdagangan saham di pasar modal menunjukkan aktivitas perdagangan saham di bursa dan mencerminkan keputusan investasi para investor di pasar modal (Wismar’ein, 2004).

2.1.3 Isu Politik

Perombakan kabinet (cabinet reshuffle) adalah suatu peristiwa dimana kepala pemerintahan memutar atau mengganti komposisi menteri dalam kabinetnya. Biasanya perombakan kabinet dilakukan dengan memindahkan seorang menteri dari satu posisi ke posisi yang lain. Perombakan kadang diperlukan untuk mengganti menteri yang mengundurkan diri baik karena suatu skandal ataupun pensiun.

Pada tanggal 27 Juli 2016 Presiden Joko Widodo kembali melakukan Kabinet Kerja ditengah masa pemerintahannya yang belum genap dua tahun. Presiden Jokowi menyebutkan alasan utama ia melakukan reshuffle adalah ekonomi. Beliau mengatakan bahwa harus memperkuat ekonomi nasional untuk menghadapi tantangan ekonomi global. Karena alasan itulah Jokowi merasa perlu mengganti sejumlah posisi menteri dan kepala lembaga di pemerintahannya. Tujuannya agar pemerintah lebih solid sehingga bisa bekerja lebih cepat untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut.

Berikut nama-nama Menteri baru Presiden Jokowi hasil Reshuffle Kabinet yang pertama adalah Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menko Kemaritiman, yang kedua Bambang S. Brodjonegoro sebagai Kepala Bappenas, yang ketiga Sofyan Djalil sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang yang keempat, Thomas Lembong sebagai Kepala BKPM, yang kelima Wiranto sebagai Menko Polhukam, yang keenam Sri

(4)

Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, yang ketujuh Eko Putro Sanjoyo sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, yang kedelapan Budi Karya sebagai Menteri Perhubungan, yang kesembilan Muhadjir Effendy sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang kesepuluh Enggartyasto Lukita sebagai Menteri Perdagangan, yang kesebelas Airlangga Hartarto sebagai Menteri Perindustrian, yang kedua belas Arcandra Tahar sebagai Menteri ESDM dan yang terakhir Asman Abnur sebagai menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

2.1.4 Pasar Modal

2.1.4.1 Definisi Pasar Modal

Menurut Jogiyanto (2016), pasar modal merupakan tempat bertemu antara pembeli dan penjual dengan resiko untung dan rugi. Pasar modal juga merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi. Pasar modal berfungsi sebagai sarana alokasi yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman ke peminjam. Alokasi dana yang produktif terjadi jika individu yang mempunyai kelebihan dana dapat meminjamkannya ke individu lain yang lebih produktif yang membutuhkan dana.

Menurut Tandelilin (2001), pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjual belikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal juga dapat diartikan sebagai pasar untuk memperjual belikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun seperti saham dan obligasi.

(5)

Menurut Husnan (2005), secara formal pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar untuk instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta.

Undang-undang No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal mendefinisikan pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Menurut Keppres No. 60/1988, pasar modal adalah bursa yang mempunyai sarana untuk mempertemukan penawaran dan permintaan dana jangka panjang dalam bentuk efek.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pasar modal merupakan instrumen keuangan yang memperjual belikan surat-surat berharga berupa obligasi dan saham untuk jangka panjang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. Pasar modal merupakan sarana yang dipakai para individu atau perusahaan yang mempunyai kelebihan dana untuk melakukan investasi dalam surat berharga dengan cara mendaftarkan terlebih dahulu pada bursa efek di pasar modal. Dengan berkembangnya pasar modal, perusahaan dapat menata kembali struktur modal agar menjadi lebih baik.

2.1.4.2 Fungsi Pasar Modal

Fungsi pasar modal sebagai sarana menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari pihak lender ke borrower dengan menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki, lender mengharapkan akan memperoleh imbalan dari penyerahan

(6)

dana tersebut, dari pihak borrower tersedianya dana dari pihak luar memungkinkan mereka melakukan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan (Husnan, 2005).

Ada beberapa daya tarik pasar modal. Pertama, diharapkan pasar modal ini akan bisa menjadi alternatif penghimpunan dana selain system perbankan. Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa surat tanda hutang (obligasi) ataupun surat tanda kepemilikan (saham). Dengan demikian, perusahaan bisa menghindarkan diri dari kondisi debt of equity ratio yang terlalu tinggi sehingga justru membuat cost of capital of the firm tidak lagi minimal.

Kedua, pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi risiko mereka. Dengan adanya pasar modal, pasar pemodal memungkinkan untuk melakukan diversifikasi investasai, membentuk portofolio (yaitu gabungan dari investasi) sesuai dengan risiko yang mereka bersedia tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Disamping itu investasi pada sekuritas mempunyai daya tarik lain, yaitu pada liquiditasanya. Sehubungan dengan itu maka pasar modal memungkinkan terjadinya alokasi dana yang efisien (Husnan, 2005).

2.1.4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pasar Modal

Menururut Husnan (2005) secara rinci ada lima faktor yang mempengaruhi keberhasilan pasar modal. Faktor yang pertama adalah supply sekuritas, faktor ini berarti harus banyak perusahaan yang bersedia menerbitkan sekuritas di pasar modal sehingga jumlah perusahaan yang ada pada suatu negara sangat berpengaruh. Kedua adalah demand sekuritas, faktor ini berarti bahwa harus terdapat anggota

(7)

masyarakat yang memiliki jumlah dana yang cukup besar untuk dipergunakan membeli sekuritas-sekuritas yang ditawarkan. Sehubungan dengan faktor ini, maka pendapatan perkapita negara dan distribusi pendapatan mempengaruhi besar kecilnya demand sekuritas. Ketiga adalah kondisi politik dan ekonomi, faktor ini akhirnya akan mempengaruhi supply dan demand akan sekuritas. Kondisi politik yang stabil akan ikut membantu pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya mempengaruhi supply dan demand. Keempat adalah masalah hukum dan peraturan, pembelian sekuritas pada dasarnya mengandalkan diri pada informasi yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan yang menerbitkan sekuritas. Peraturan yang melindungi pemodal dari informasi yang tidak benar menjadi mutlak diperlukan. Sedangkan faktor yang kelima adalah keberadaan lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal dan berbagai lembaga yang memungkinkan dilakukan transaksi secara efisien.

2.1.5 Pasar Efisien

Pasar yang efisien adalah pasar dimana harga semua sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia (Tandelilin, 2001). Menurut Husnan (2005), pasar modal yang efisien merupakan pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relevan. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, maka semakin efisien pasar tersebut. Dengan demikian akan sangat sulit bagi para pemodal untuk mendapatkan tingkat keuntungan diatas normal secara konsisten dengan melakukan transaksi perdagangan di Bursa Efek.

(8)

Menurut Jogiyanto (2016), bentuk efisiensi pasar dapat ditinjau dari segi ketersediaan informasi, tetapi juga dilihat dari kecanggihan pelaku pasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan analisis dari informasi yang tersedia. Pasar efisien yang ditinjau dari sudut informasi saja disebut dengan efisiensi pasar secara informasi (informationally efficient market). Sedangkan pasar efisien yang ditinjau dari sudut kecanggihan pelaku pasar dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia disebut dengan efisiensi pasar secara keputusan (descisionally efficient market). Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan antara harga sekuritas dengan informasi. Dimana informasi yang dapat untuk menilai pasar efisien adalah informasi yang lama, informasi yang sedang dipublikasikan atau, semua informasi termasuk informasi privat. Fama (1970) dalam Jogiyanto (2016) menyajikan tiga macam bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam bentuk dari informasi, yaitu informasi masa lalu, informasi sekarang sedang dipublikasikan, dan informasi privat.

Efisiensi Pasar Bentuk Lemah (Weak Form). Pasar efisien dalam bentuk lemah berarti pasar yang harga-harga dari sekuritasnya secara penuh mencerminkan informasi masa lalu. Oleh karena itu, informasi historis tersebut (seperti harga dan volume perdagangan, serta peristiwa dimasa lain) tidak bisa lagi digunakan untuk memprediksi perubahan harga dimasa yang akan datang, karena sudah tercermin pada harga saat ini. Ini berarti bahwa untuk pasar yang efisiensi bentuk lemah, investor tidak dapat menggunakan informasi masa lalu untuk mendapatkan keuntungan yang tidak normal.

(9)

Efisiensi Pasar Bentuk Setengah Kuat (Semistrong). Pasar efisien dalam bentuk setengah kuat berarti pasar yang harga-harga dari sekuritasnya secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan (seperti earning, deviden, pengumuman stock split, penerbitan saham baru, kesulitan keuangan yang dialami perusahaan, dan peristiwa-peristiwa terpublikasi lainnya yang berdampak pada aliran kas perusahaan di masa datang). Pada pasar efisien bentuk setengah kuat, abnormal return hanya terjadi diseputar pengumuman (publikasi) suatu peristiwa sebagai representasi dari respon pasar terhadap pengumuman tersebut. Suatu pasar dinyatakan efisien dalam bentuk setengah kuat bila informasi terserap atau direspon dengan cepat oleh pasar (dalam waktu satu hingga dua spot waktu atau hari di seputar pengumuman). Abnormalreturn yang terjadi berkepanjangan lebih dari tiga spot waktu) mencerminkan sebagian respon pasar terlambat dalam menyerap atau menginterpretasi informasi, dan dengan demikian dianggap pasar tidak efisien dalam bentuk setengah kuat.

Efisiensi Pasar Bentuk Kuat (Strong Form). Pasar efisien dalam bentuk kuat berarti pasar yang harga-harga dari sekuritasnya secara penuh mencerminkan semua informasi termasuk informasi privat (informasi yang tidak dipublikasikan). Pada pasar efisien kuat tidak akan ada seorang investorpun yang dapat memperoleh abnormal return karena mempunyai informasi privat. Salah satu jenis informasi privat adalah jenis informasi yang berasal dari orang dalam (insider information) yang mempunyai akses atas informasi berharga mengenai keputusan penting yang telah direncanakan oleh perusahaan. Sehingga dengan modal informasi tersebut mereka melakukan analisa dan mengambil posisi transaksi yang sesuai.

(10)

Jogiyanto (2016) menjelaskan terdapat beberapa alasan yang menyebabkan pasar menjadi efisien dan tidak efisien. Agar pasar efisien ada dalam kehidupan nyata, terdapat beberapa kondisi yang idealnya harus terpenuhi atau didekati oleh kenyataan yang ada di pasar, yaitu; (1) Investor adalah penerima harga, yang berarti bahwa sebagai pelaku pasar, investor seorang diri tidak mempengaruhi harga dari sekuritas. Hal seperti ini dapat terjadi jika pelaku-pelaku pasar terdiri dari sejumlah besar institusi-institusi dan individual-individual rasional yang mampu mengartikan dan menginterprestasikan informasi dengan baik untuk menganalisis, menilai, dan melakukan transaksi penjualan atau pembelian sekuritas bersangkutan; (2) Informasi tersedia secara luas kepada semua pelaku pasar pada saat bersamaan dan harga untuk memperoleh informasi tersebut murah. Umumnya pelaku pasar dapat memperoleh informasi tersebut melalui surat kabar atau majalah bisnis, bahkan informasi tersebut dapat diperoleh secara cuma-cuma dengan hanya mendengarkan lewat radio atau televisi; (3) Informasi dihasilkan secara acak dan tiap-tiap pengumuman informasi sifatnya random satu dengan yang lainnya. Informasi dihasilkan secara random mempunyai arti bahwa investor tidak dapat memprediksi kapan emiten akan mengumumkan informasi yang baru; (4) Investor bereaksi dengan menggunakan informasi secara penuh dan cepat, sehingga harga dari sekuritas berubah dengan semestinya mencerminkan informasi tersebut untuk mencapai keseimbangan yang baru.

Sebaliknya jika kondisi-kondisi di atas tidak terpenuhi, kemungkinan pasar tidak efisien dapat terjadi. Pasar dapat menjadi tidak efisien jika kondisi-kondisi seperti berikut; (1) Terdapat sejumlah kecil pelaku pasar yang dapat mempengaruhi

(11)

harga dari sekuritas; (2) Harga dari informasi adalah mahal dan terdapat akses yang tidak seragam antara pelaku pasar yang satu dengan yang lainnya terhadap suatu informasi yang sama; (3) Informasi yang disebarkan dapat diprediksi dengan baik oleh sebagian pelaku-pelaku pasar; (4) Untuk pasar yang tidak efisien, masih banyak investor yang bereaksi terhadap informasi secara lugas dan tidak canggih, karena mereka mempunyai kemampuan yang terbatas di dalam mengartikan dan menginterprestasikan informasi yang diterima.

2.1.6 Investasi

2.1.6.1 Pengertian Investasi

Investasi menurut Jogiyanto (2016) adalah penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu.

Menurut Tandelilin (2010), investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan dalam produksi yang efisien selama periode waktu yang tertentu. Investasi merupakan penanaman untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya memiliki jangka waktu dengan harapan akan mendapat keuntungan di masa yang akan datang (Sunariyah, 2006).

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa investasi merupakan penenaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dalam bentuk aktiva keuangan atau aktiva riil baik secara langsung yang di masa akan datang akan mempunyai nilai tambah atas nilai yang telah dikorbankan dengan mengharapkan mendapat keuntungan.

(12)

2.1.6.2 Tujuan Investasi

Menurut Tandelilin (2010) pada dasarnya setiap investor yang melakukan investasi saham memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapat keuntungan. Tetapi tidak sederhana itu dalam arti lebih luas tujuan investasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Sumber dana untuk investasi bisa berasal dari aset-aset yang dimiliki saat pinjaman dari pihak lain, ataupun dari tabungan. Secara lebih khusus lagi, ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi yaitu pertama, untuk mendapatkan kehidupan yang layak dimasa depan. Seseorang yang bijaksana akan berfikir bagaimana meningkatkan tarif hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang dimasa akan datang. Kedua, mengurangi tingkat inflasi, dengan melakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau obyek lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari resiko penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi.

2.1.6.3 Jenis Investasi

Menurut Jogiyanto (2016) jenis investasi berupa ada dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. Investasi ke dalam aktiva keuangan dapat dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara lain. Sedangkan aktiva tidak langsung dapat dilakukan dengan membeli surat-surat berharga dari perusahaan investasi yang berfungsi sebagai lembaga perantara.

(13)

2.1.7 Saham

2.1.7.1 Definisi Saham

Menurut Husnan (2005), saham merupakan surat bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas. Menurut Undang-Undang No. 8 tahun 1995 saham/efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersil, obligasi, tanda bukti hutang, dan unit penyertaan kontrak investasi kolektif.

Sementara menurut Darmadji (2011), saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan diperusahaan tersebut.

Saham dapat diartikan sebagai surat berharga yang memberikan penghasilan berupa dividen, yaitu pembagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham apabila perusahaan penerbit mampu menghasilkan laba yang besar, maka ada kemungkinan para pemegang sahamnya akan menikmati keuntungan yang besar untuk dibagikan sebagai dividen.

Seperti yang telah diketahui bahwa tujuan pemodal membeli saham untuk memperoleh penghasilan dari saham tersebut. Masyarakat pemodal itu dikategorikan sebagai investor atau spekulator. Investor adalah masyarakat yang telah membeli saham untuk memiliki sebuah perusahaan dengan harapan mendapatkan dividen dan capital gain dalam jangka panjang, sedangkan spekulator

(14)

adalah masyarakat yang membeli saham untuk segera dijual kembali bila situasi kurs dianggap paling menguntungkan seperti yang telah diketahui bahwa saham memberikan dua macam penghasilan yaitu deviden dan capital gain.

2.1.7.2 Jenis Saham

Berdasarkan manfaat yang diterima pemilikanya saham digolongkan menjadi saham biasa dan saham preferen. Menurut Jogiyanto (2016) saham preferen adalah saham yang mempunyai kombinasi karakteristik gabungan dari obligasi maupun saham biasa, karena saham preferen memberikan pendapatan yang tetap seperti hanya obligasi dan juga mendapatkan hak kepemilikan seperti pada saham biasa. Adapun karakteristik saham preferen 1) tidak memiliki hak suara; 2) dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus; 3) memperoleh hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah kreditor apabila perusahaan dilikuidasi. Sedangkan saham biasa adalah sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa tersebut mempunyai hak kepemilikan atas aset-aset perusahaan. Berikut karakteristik saham biasa 1) memiliki hak suara; 2) deviden dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba; 3) adanya hak memperoleh pembagian kekayaan apabila perusahaan bangkrut yang dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi; 4) memiliki hak paling dahulu memperoleh deviden.

2.1.7.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Harga saham selalu mengalami perubahan setiap harinya, bahkan setiap detikpun harga saham dapat berubah. Oleh karena itu, investor harus mampu

(15)

memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga saham dapat berasal dari internal maupun eksternal.

Faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham menurut Weston dan Copeland (2007) adalah proyeksi laba per lembar saham, saat diperoleh laba, tingkat resiko dari proyeksi laba, proporsi utang perusahaan terhadap ekuitas, serta kebijakan pembagian deviden. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham adalah kendala eksternal seperti kegiatan perekonomian pada umumnya, pajak dan keadaan bursa saham.

Menurut Alwi (2003), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham atau indeks harga saham. Yang pertama faktor eksternal (lingkungan makro) yang terdiri dari a) pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah; b) Pengumuman hukum (legal announcement), seperti tuntutan karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya; c) Pengumuman industri saham (securities announcement), seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham perdagangan, pembatasan/penundaan trading; d) Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara; e) Berbagai isu baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Yang kedua adalah faktor internal (lingkungan mikro) yang terdiri dari, a) Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti pengiklanan, rincian

(16)

kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan penjualan; b) Pengumuman pendanaan (financing announcement), seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang; c) Pengumuman badan direksi manajemen (management-board of director announcement), seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen, dan struktur organisasi; d) Pengumuman pengambil alihan diversifikasi, seperti laporan merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya; e) Pengumuman investasi (investment announcement), seperti melakukan ekspansi pabrik, pengembangan riset dan penutupan usaha lainnya; f) Pengumuman ketenagakerjaan (labor announcement), seperti negoisasi baru, kontrak baru, pemogokan dan lainnya; g) Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal yang terdiri dari Dividen Per Share (DPS), Price Earning Ratio (PER), Net Profit Margin (NPM), Return On Assets (ROA), dan Earning Per Share (EPS).

2.1.8 Return

Para pemodal tentunya termotivasi untuk melakukan investasi pada suatu instrumen yang diinginkan dengan harapan uuntuk mendapatkan kembalian investasi yang sesuai (Wismar’ein, 2004). Fahmi dan Yovi (2009) mengatakan return adalah keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan, individu dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukannya. Semakin tinggi return saham maka semakin baik investasi yang dilakukan karena dapat menghasilkan

(17)

keuntungan, sebaliknya semakin rendah return saham atau bahkan negatif maka semakin buruk hasil investasi yang dilakukan.

Menurut Jogiyanto (2016) return merupakan satu aspek penting dalam analisis investasi. Ketika investor menanamkan modalnya, mereka mengharapkan suatu tingkat keuntungan tertentu. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Jenis return saham ada dua yaitu return realisasi dan return ekpektasi. Return realisasi merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Pentingnya return ini karena digunakan indikator kinerja atau keberhasilan perusahaan. Return realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi. Salah satu yang banyak digunakan untuk mengukur return realisasi adalah dengan rumus return total, yaitu:

𝑅𝑖 =𝑃𝑡 − 𝑃𝑡−1 𝑃𝑡−1 (Jogiyanto, 2016)

Keterangan:

Ri = Return saham

Pt = Harga saham pada periode ke-t 𝑃𝑡−1 = Harga saham pada periode ke t-i

Sedangkan return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor dimasa mendatang. Return ini juga digunakan untuk pengambilan keputusan. Dengan kata lain, expected return adalah return yang diharapkan investor yang akan diperoleh dimasa yang akan datang dimana sifatnya belum terjadi. Menurut Brown dan Warner (1985) dalam Jogiyanto (2016) terdapat tiga

(18)

model dalam mengestimasi expected return, yaitu: (1) Model disesuaikan rata-rata (mean adjusted-model); (2) Model pasar (market model); dan (3) Model sesuaian pasar (market-adjusted model).

Model Disesuaikan Rata-rata (Mean Adjusted-Model). Model ini beranggapan bahwa return ekspektasi bernilai konstan yang sama dengan rata-rata return realisasi sebelumnya selama periode estimasi.

E[Rit]

=

∑𝑡2𝑗=𝑡1𝑅𝑖,𝑗 𝑇

Dimana:

E[Ri,t] = Expected return sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t Ri,j = Return realisasi sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j T = Lamanya periode estimasi, yaitu dari t1 sampai dengan t2

Periode estimasi (estimation period) umumnya merupakan periode sebelum peristiwa. Periode peristiwa (event period) disebut juga periode pengamatan atau jendela peristiwa (event period).

Model Pasar (Market Model). Perhitungan return ekspektasi dengan model ini dilakukan melalui dua tahapan yaitu ; (1) membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama periode estimasi dan (2) menggunakan model ekspektasi ini untuk mengestimasi return ekspektasi di periode jendela. Model ekspektasi dapat dibentuk menggunakan teknik regresi OLS (Ordinary Least Square) dengan persamaan:

(19)

Dimana:

Ri,j = Return realisasi sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j αi = Intercept untuk sekuritas ke-i

βi = Koefisien slope yang merupakan Beta dari sekuritas ke-i RMj = Return indeks pasar pada periode estimasi ke-j

εi,j = Kesalahan residu sekuritas ke-I pada periode estimasi ke-j

Model Disesuaikan Pasar (Market Adjusted Model). Model ini beranggapan bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk model estimasi, karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama dengan return indeks pasar.

E [Ri,t] = RM,i,t Dimana:

E [Ri,t] = Expected return sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t RM,i,t = Return pasar dari sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-t 2.1.9 Abnormal Return

Abnormal return adalah return yang didapat investor yang tidak sesuai dengan pengharapan. Abnormal return adalah selisih antara return yang diharapkan dengan return yang didapatkan. Selisih return akan positif jika return yang didapatkan lebih besar dari return yang di harapakan atau return yang dihitung. Sedangkan return akan negatif jika return yang didapat lebih kecil dari return yang diharapkan atau return yang dihitung. Abnormal return dapat terjadi karena adanya kejadian-kejadian tertentu, misalnya hari libur nasional, awal bulan, suasana politik yang

(20)

tidak menentu, kejadian-kejadian yang luar biasa, stock split, penawaran perdana saham, dan lainlain. Studi peristiwa menganalisis return tidak normal (abnormal return) dari sekuritas yang mungkin terjadi di sekitar pengumuman dari suatu peristiwa. Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi, sebagai berikut (Jogiyanto, 2016):

RTNI,t = Ri,t - E [Ri,t] Dimana:

RTNI,t = Abnormal return sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t

Ri,t = Return sesungguhnya yang terjadi untuk sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t

E [Ri,t] = Return ekspektasi sekuritas ke-i untuk periode peristiwa ke-t

Return sesungguhnya merupakan return yang terjadi pada waktu ke-t yang merupakan selisih harga sekarang relatif terhadap harga sebelumnya, sedangkan return ekspektasi merupakan return yang diharapkan (diestimasi) dengan menggunakan persamaan return ekspektasi.

2.1.10 Aktivitas Volume Perdagangan

Aktivitas volume perdagangan atau trading volume activity (TVA) merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar modal. Sedangkan Husanan et al, (1996) mengukur kegiatan perdagangan saham yang dilihat melalui indikator TVA digunakan untuk melihat apakah investor

(21)

individual menilai laporan keuangan informatif, dalam arti apakah informasi tersebut membuat keputusan perdagangan diatas keputusan perdagangan yang normal.

Jumlah saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ini merupakan salah satu faktor yang bisa mempengaruhi likuiditas perdagangan saham tersebut di bursa. Likuiditas saham merupakan suatu indikator dan reaksi pasar terhadap suatu pengumuman yang diukur dengan aktivitas volume perdagangan (TVA). Aktivitas volume perdagangan bisa dipakai instrumen untuk melihat seberapa besar reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar modal.

Total dari aktivitas volume perdagangan merupakan suatu penjumlahan dari setiap transaksi perdagangan yang dilakukan oleh pelaku pasar. Menurut Beaver (1968) dalam Budiarto dan Baridwan (1999), proses penjumlahan ini mencerminkan adanya perbedaan pandangan (asimetri) antara investor mengenai nilai suatu saham. Volume perdagangan terjadi karena terdapat perbedaan pendapat diantara investor mengenai berapa nilai saham sesungguhnya.

(22)

2.2 Rerangka Pemikiran

Gambar 1 Rerangka Pemikiran

2.3 Perumusan Hipotesis

Dalam penelitian ini hipotesis yang diajukan adalah diduga bahwa reshuffle kabinet Jilid II 27 Juli 2016 mempengaruhi return saham dan trading volume activity perusahaan yang termasuk dalam indeks LQ45. Return merupakan hasil yang diperoleh ketika seorang investor telah melakukan kegiatan investasi. Return dapat berupa actual return yang sudah terjadi atau expected return yang belum

Signalling Theory Sebelum Event Study Isu Politik Abnormal Return Sesudah Sebelum Sesudah Uji Beda Aktivitas volume perdagangan

(23)

terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang (Jogiyanto, 2016). Return saham berupa capital again dapat berubah ketika terjadi perubahan harga saham, perubahan harga saham dapat terjadi ketika pasar bereaksi terhadap suatu informasi. Salah satu informasi tersebut adalah pengumuman reshuffle kabinet jilid II pada 27 Juli 2016. Pengujian peristiwa ini dilakukan dengan event study yaitu studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa.

Reaksi pasar modal terhadap kandungan informasi dalam suatu peristiwa dapat diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau dengan menggunakan abnormal return yang merupakan selisih antara return aktual dengan return yang diekspektasikan oleh investor. Jika suatu peristiwa mengandung informasi baik maka akan berdampak terhadap kenaikan abnormal return dan akan berdampak penurunan jika informasi tersebut dianggap buruk. Jadi abnormal return dapat terjadi ketika adanya peristiwa-peristiwa tertentu, seperti halnya yang diteliti oleh peneliti sebelumnya diantaranya seperti:

Penelitian menggunakan pendekatan event study dilakukan oleh Yuniarthi dan Sujana (2016) dengan judul “Reaksi Pasar Modal terhadap Pencalonan Jokowi Menjadi Presiden Republik Indonesia”. Berdasarkan hasil penelitiannya tidak terdapat reaksi terhadap peristiwa pencalonan Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia yang diukur dari abnormal return dan juga tidak terdapat perbedaan reaksi pasar modal sebelum dan sesudah peristiwa pencalonan Jokowi menjadi presiden yang diukur dari abnormal return. Dari hasil tersebut mencerminkan bahwa ketika informasi Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden harga saham tidak mencerminkan peningkatan yang signifikan.

(24)

Femianita dan Asandimitra (2014), menggunakan event study dalam penelitiannya yang berjudul “Reaksi Pasar Sebelum dan Sesudah Kenaikan Harga BBM Pada Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia”. Dari hasil penelitian ini menunjukkan terdapat rata-rata abnormal return yang bernilai positif signifikan di sekitar tanggal pengumuman kenaikan harga BBM. Pasar mulai bereaksi pada t-1 dimana hari sebelum pengumuman kenaikan harga BBM. Pasar juga bereaksi pada hari dimana kenaikan harga BBM resmi diumumkan oleh pemerintah. Terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan mengindikasikan bahwa informasi kenaikan harga BBM memiliki kandungan informasi. Pada trading volume activity terdapat pebedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM menunjukkan bahwa pasar bereaksi terhadap pengumuman kenaikan harga BBM.

Sirait et al, (2012) menyatakan dalam penelitiannya yang berjudul “Dampak Pergantian Menteri Keuangan RI Tahun 2010 terhadap Abnormal Return Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI”, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pergantian Menteri Keuangan tahun 2010 memiliki kandungan informasi yang baik bagi pasar karena dampak yang ditimbulkan adalah pengaruh positif bagi saham perbankan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan Average Abnormal Return yang signifikan pada saat pergantian, sebelum, dan setelah terjadinya pergantian. Selain itu pada hasil penelitian juga terlihat ada peningkatan Abnormal Return (AR) setelah terjadinya pergantian dibandingkan dengan sebelum pergantian.

(25)

H1 : Terdapat perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah isu politik (reshuffle kabinet Jilid II pada 27 Juli 2016).

Malindasari et al, (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Depresiasi Nilai Tukar Rupiah pada Return Saham dan Volume Perdagangan Saham Perusahaan Multinasional di BEI” menunjukkan bahwa terdapat perbedaan return saham sebelum dan sesudah depresiasi nilai rupiah, karena pasar modal merespon informasi dari peristiwa depresiasi nilai rupiah sebagai cerminan/refleksi ketertarikan investor yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan return saham sebelum dan sesudah depresiasi nilai rupiah. Namun penelitian tersebut tidak berhasil membuktikan bahwa terdapat perbedaan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah depresisi nilai rupiah.

Pamungkas et al, (2015) dalam penelitiannya dengan judul “Pengaruh Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2014 Terhadap Abnormal Return dan Trading Volume Activity (Studi Pada Perusahaan yang Tercatat Sebagai Anggota Indeks Kompas 100)”. Hasil penelitian dengan event period selama 11 hari menunjukkan adanya abnormal return negatif signifikan sebelum pemilu dan abnormal return positif setelah pemilu. Sementara untuk trading volume activity menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan dengan adanya pemilu presiden. Artinya pemilu presiden menjadi faktor terjadinya perubahan harga saham.

Sitohang dan Mekel (2015), menggunakan event study dalam penelitiannya yang berjudul “Reaksi Pasar Modal terhadap Pemilihan Umum Presiden Tanggal 9 Juli 2014 di Indonesia”. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan abnormal return periode sebelum dan sesudah Pemilu Presiden 2014,

(26)

akan tetapi hasil penelitiannya terhadap trading volume activity berbanding terbalik dengan hasil abnormal return, hasil penelitiannya menyatakan bahwa terdapat perbedaan trading volume activity periode sebelum dan sesudah Pemilu Presiden 2014.

H2 : Terdapat perbedaan aktivitas volume perdagangan (trading volume activity) sebelum dan sesudah isu politik (reshuffle kabinet Jilid II pada 27 Juli 2016).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :