commit to user
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
1. Informasi kebijakan Quantitative Easing
Bapepam-LK (2011) menyatakan bahwa kebijakan moneter, dengan berbagai dampak langsung maupun tidak langsung yang ditimbulkannya, juga berpengaruh signifikan terhadap return saham. Bank sentral di banyak negara menetapkan tingkat suku bunga jangka pendek, yang perubahannya dapat berdampak terhadap yield curve. Hal ini merupakan contoh dampak langsung dari kebijakan moneter. Bank sentral juga dapat melakukan operasi pasar tertentu dengan tujuan mengendalikan jumlah uang yang beredar. Hal ini menimbulkan dampak tidak langsung dari kebijakan moneter, misalnya inflasi dan nilai tukar mata uang asing. Kebijakan moneter Amerika Serikat yang dikenal dengan nama quantitative easing mempengaruhi tingkat return saham secara positif, dikarenakan adanya kenaikan aliran dana yang masuk ke dalam setiap pasar modal di beberapa negara salah satunya Indonesia.
Quantitative Easing atau dalam bahasa Indonesia disebut pelonggaran kuantitatif (QE) pada dasarnya adalah kebijakan moneter pemerintah yang digunakan untuk meningkatkan jumlah uang beredar dengan membeli surat berharga pemerintah atau surat berharga lainnya dari pasar. Bank-bank sentral cenderung menggunakan pelonggaran kuantitatif ketika suku bunga sudah pernah
diturunkan mendekati level 0% dan telah gagal untuk menghasilkan efek yang diinginkan. QE meningkatkan uang beredar dengan membanjiri lembaga keuangan dengan modal, dalam upaya untuk mendorong peningkatan pinjaman dan likuiditas. Asumsi yang digunakan adalah bahwa dengan membuat masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan pinjaman, suku bunga akan turun, masyarakat akan meminjam, dan bisnis akan meningkat kembali. Secara teoritis, peningkatan belanja dari peningkatan konsumsi masyarakat tersebut, yangmeningkatkan permintaan untuk barang dan jasa, diharapkan mampu menumbuhkan penciptaan lapangan kerja dan, pada akhirnya menciptakan vitalitas ekonomi. Magavi (2012) menyatakan sebaliknya bahwa quantitative easing dianggap gagal dalam mengurangi tingkat pengangguran di Amerika Serikat.
Di Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve sebagai lembaga yang mengontrol supplai uang di Amerika Serikat, telah memulai QE yang pertama pada bulan Maret 2009 sampai dengan Maret 2010 kemudian pada November 2010 sampai pertengahan tahun 2011, kebijakan QE 2 dikeluarkan oleh Federal Reserve. Hingga tahun 2013, The Fed telah mengeluarkan kebijakan quantitative easing sebanyak 3 kali. Selama pelaksanaan QE 3, The Federal Reserve menggunakan QE untuk membeli Treasury Bonds dan Obligasi Korporasi AS untuk memulihkan ekonomi AS. QE di Amerika Serikat bisa mengurangi kepanikan pasar dan tetap menjaga tingkat bunga lebih rendah. Tujuan dari quantitative easingdiperkirakan akan memicu lebih banyak konsumsi masyarakat dan perusahaan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika
Serikat. Selain itu, dengan membeli obligasi treasuri Amerika Serikat dan obligasi korporasi, harga obligasi akan meningkat dan yield akan menurun, konsekuensi yang didapatkan yaitu mengurangi hutang dari sektor korporasi AS. Pelaksanaan QE 3 memiliki keuntungan dan memiliki efek samping, Efek samping yang ditimbulkan QE 3 berdampak global.
Kebijakan QE ini menciptakan kelebihan likuiditas yang tidak dapat sepenuhnya diserap oleh sektor riil AS. Hal ini dikarenakan pertumbuhan jumlah uang beredar yang lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi. QE mengakibatkan harga obligasi AS menjadi mahal dan tingkat bunga deposito rendah, investor dipaksa untuk mengalokasikan dananya dari pasar obligasi AS ke obligasi surat berharga di negara lain, di mana harga obligasi lebih murah, termasuk obligasi pemerintah di Indonesia. Investor juga mengalokasikan dana yang menganggur tersebut ke pasar saham Amerika Serikat dan negara-negara lain, yang suku bunga dan pertumbuhan ekonomi relatif lebih tinggi. Realokasi ini mendorong kinerja indeks saham. Pada saat indeks harga saham Amerika Serikat mengalami pertumbuhan, hal ini memicu adanya pengaruh bagi negara–negara lain terutama negara-negara emerging market termasuk Indonesia. Secara keseluruhan pelaksanaan QE Amerika Serikat memberikan pengaruh positif dan negatif bagi negara emerging market. QE memberikan pengaruh positif terhadap indeks harga saham. Di tengah tekanan krisis global yang menimpa negara di Eropa dan Amerika Serikat, maka emerging market (negara berkembang) termasuk Indonesia menjadi salah pilihan investasi global. Tiga tahap kebijakan quantitative easing sebagai berikut:
a. Quantitative easing tahap I
Pada 25 November 2008, Federal Reserve mengumumkan bahwa akan membeli mortgage-backed securities (MBS) dan hutang hingga $600 miliar. Pada tanggal 1 Desember, Bernanke menjelaskan mengenai rincian kebijakan tersebut dalam pidatonya. Bernanke menjelaskan bahwa kredit memainkan peran penting dalam melaksanakan kegiatan produksi hampir di semua kegiatan ekonomi. Rincian dari kredit pasar yang diikuti kejatuhan lehman brothers jika dibiarkan dapat mengakibatkan kontraksi sangat signifikan dalam kegiatan ekonomi.
Pembuat kebijakan di Kongres, Departemen Keuangan, Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) dan Federal Reserve menyadari adanya implikasi mengerikan bahwa kurangnya akses ke kredit akan berdampak pada perekonomian. FDIC dan The Fed sangat aktif dalam merumuskan kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi tekanan di pasar kredit untuk memastikan bahwa perekonomian terus berfungsi. Bernanke menggunakan data aliran dana Federal Reserve untuk empat jenis kredit utama, yaitu kredit perumahan hipotek, kredit konsumen, pinjaman real estate komersial, dan pinjaman komersial dan industri untuk membandingkan agregat kredit dalam siklus sebelum resesi dan periode krisis kredit saat ini. Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, serta kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan jaminan pemerintah dan jaring pengaman, seperti asuransi deposito, telah digunakan oleh The Fed untuk memperbaiki kondisi di sektor
keuangan. Selain kebijakan moneter tradisional, The Fed juga mengeluarkan kebijakan pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE). QE dapat dianggap sebagai perluasan neraca bank sentral dengan perubahan yang tidak disengaja dalam komposisi. Ketika pasar kredit cukup disfungsional, menjadi kurang memungkinan bahwa pinjaman baru dan pembelian efek tambahan akan menghasilkan meningkatnya saldo reserve bank. Sebaliknya, pengurangan kredit berfokus pada pinjaman jangka panjang dan menengah, serta efek yang dipegang oleh bank sentral sebagai aset pada neraca. Tujuan utamanya adalah peningkatan kondisi kredit yang dihadapi oleh rumah tangga dan bisnis. Dalam hal ini, Federal Reserve berfokus pada peningkatkan fungsi di pasar kredit yang sangat terganggu dan yang merupakan sumber utama pendanaan untuk perusahaan-perusahaan keuangan, nonfinancial perusahaan dan rumah tangga. Berdasarkan alasan dan tujuan yang diungkapkan The Fed tersebut maka pada tanggal 16 Desember 2008, program ini secara resmi diluncurkan oleh Federal Open Market Committee (FOMC) dan pada 18 Maret 2009, FOMC mengumumkan bahwa program akan diperluas dengan tambahan $750 miliar untuk pembelian MBS dan utang, serta $300 miliar dalam pembelian sekuritas.
b. Quantitative easing tahap II
Pada tanggal 3 November 2010, The Fed mengumumkan bahwa akan membeli MBS dan hutang sebesar $600 miliar lagi.Dengan rincian $75
miliar per bulan. Program ini dikenal sebagai "QE2". QE II berakhir pada bulan Juni 2011. Program QE tampaknya memiliki efek yang seperti yang diharapkan. Hasil hipotek relatif turun sejak November 2008. Treasury yield telah menurun sekitar 1 hingga 1,25 persen sejak program pembelian MBS pertama kali diumumkan.
c. Quantitative easing tahap III
Pada tanggal 21 September 2011, FOMC mengumumkan pelaksanaan QE III dengan rencana untuk membeli $400 miliar obligasi dengan jatuh tempo 6 sampai 30 tahun dan untuk menjual obligasi dengan jatuh tempo kurang dari 3 tahun, sehingga memperpanjang jatuh tempo rata-rata portofolio The Fed. Tindakan ini merupakan usaha untuk melakukan pelonggaran kuantitatif (QE), tanpa mencetak lebih banyak uang dan tanpa memperluas neraca The Fed. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menghindari tekanan inflasi yang terkait dengan QE. Pengumuman ini membawa penghindaran risiko di pasar ekuitas dan memperkuat dolar AS. Selanjutnya, pada 20 Juni 2012 Federal Open Market Committee mengumumkan perpanjangan program operation twist dengan menambahkan tambahan $267 miliar dan memperpanjang pelaksanaan sampai akhir tahun 2012. Pada tanggal 13 September 2012, Federal Reserve mengumumkan putaran pelonggaran kuantitatif ketiga (QE3). Putaran baru pelonggaran kuantitatif disediakan untuk membeli $40 miliar mortgage-backed securities per bulan sampai pasar tenaga kerja meningkat "secara
substansial". FOMC memutuskan untuk memperluas pelonggaran kuantitatif pada 12 Desember 2012. Program ini terus diotorisasi hingga $40 miliar senilai mortgage-backed securities per bulan dan ditambahkan $45 miliar senilai hutang jangka panjang. Pelaksanaan QE III tidak berjalan mulus sesuai dengan yang diharapkan pemerintah Amerika. Artikel Omer (2011) mengatakan bahwa sampai tahun 1970an, Amerika Serikat adalah kreditur terbesar di dunia. Sejak akhir tahun 1990an Amerika Serikat merupakan debitur terbesar di dunia.
Artinya, pemerintah AS berhutang lebih banyak uang daripada negara manapun di dunia. Penambahan hutang pemerintah tersebut pada akhirnya diselesaikan dengan menaikkan pajak dan mengendalikan pengeluaran namun, hanya dua pilihan yang dimiliki pemerintah AS yaitu, default (ketidaksanggupan memenuhi kewajiban) atau inflasi yang tinggi. Hampir mustahil Amerika Serikat melunasi hutangnya dengan pajak yang lebih tinggi karena dapat menyebabkan a second Great Depression atau depresi besar yang kedua. Satu-satunya cara untuk mengatasi kelebihan hutang ini adalah melalui suatu devaluasi dolar AS yang hebat. Menurut economists Joshua Aizenman dan Nancy Marion dalam artikel Nico Omer menyatakan bahwa inflasi membantu mengurangi hutang pemerintah AS. The Fed (bank sentral AS) memutuskan untuk melanjutkan pelonggaran moneternya agar pemerintah AS tetap dapat membiayai defisitnya. Quantitative easing adalah pemecahan yang terbaik pada saat itu.
2. Pengaruh Kepemilikan Asing
Kepemilikan asing merupakan proporsi saham biasa perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian-bagiannya yang berstatus luar negeri. Atau perorangan, badan hukum, pemerintah yang bukan berasal dari Indonesia. Kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap concern terhadap peningkatan good corporate governance berdasarkan Simerly dan Li (2000). Chibber & Majumdar (1999) menemukan kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan di India. Dengan semakin banyaknya pihak asing yang menanamkan sahamnya diperusahaan maka akan meningkatkan kinerja dari perusahaan yang di investasikan sahamnya, hal ini terjadi karena pihak asing yang menanamkan modal sahamnya memiliki sistem manajemen,teknologi dan inovasi, keahlian dan pemasaran yang cukup baik yang bisa membawa pengaruh positif bagi perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan asing, maka pihak asing sebagai pemegang saham mayoritas akan menunjuk orang asing untuk menjabat sebagai dewan komisaris atau dewan direksi, dengan demikian keselarasan antara tujuan ingin memaksimalkan kinerja perusahaan akan tercapai karena persamaan prinsip antara pemegang saham asing dengan manajemen yang juga ditempati pihak asing sebagai bagian dari manajemen perusahaan. Dengan meningkatnya kinerja perusahaan, maka akan memberikan dampak meningkatnya tingkat return yang diharapkan oleh investor.
3. Efisiensi Pasar
Perubahan harga di waktu yang lalu tidak dapat digunakan untuk memperkirakan perubahan harga di masa yang akan datang. Apabila perubahan harga saham mengikuti pola random walk, maka penaksiran harga saham tidak dapat dilakukan berdasarkan harga-harga historis, tetapi lebih berdasarkan pada semua informasi yang relevan terhadap penilaiannya. Jika suatu informasi yang relevan masuk ke pasar yang berhubungan dengan suatu aktiva, informasi ini akan digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan nilai dari aktiva bersangkutan. Akibatnya adalah kemungkinan pergeseran harga ekuilibrium yang baru. Harga ekuilibrium ini akan tetap bertahan sampai suatu informasi baru lainnya merubahnya kembali ke harga ekuilibrium yang baru. Menurut West (1975)membedakan atas pengertian internal efficiency dengan eksternal efficiency.
Eksternal efficiency menunjukkan bahwa pasar berada pada posisi keseimbangan sehingga pengambilan keputusan perdagangan saham atas dasar informasi yang tersedia di pasar tidak dapat memberikan tingkat keuntungan di atas tingkat keuntungan pasar ekuilibrium. Sebaliknya internal efficiency menunjukkan bahwa pasar modal tidak hanya memberikan harga yang benar tetapi juga memberikan jasa-jasa yang diperlukan dengan biaya serendah mungkin.
Ide dari pengujian efisiensi pasar yang efisien dituangkan dalam suatu hipotesis yang disebut dengan hipotesis pasar efisien (HPE) atau efficient market hipothesys (EMH). Untuk mengetahui kebenaran dari hipotesis ini, maka perlu dilakukan pengujian secara empiris untuk masing-masing bentuk efisiensi pasar.
Fama (1991) membagi efisiensi pasar menjadi tiga kategori, yaitu:
a. Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk lemah atau pengujian terhadap pendugaan Return (test for Return predictability). Pengujian ini melihat seberapa kuat informasi masa lalu dapat memprediksi Return masa depan. Sebelum tahun 1970, pengujian dari efisiensi pasar bentuk lemah difokuskan pada prediksi Return atau harga sekuritas berdasarkan Return atau harga masa lalu tidak berhubungan dengan harga sekuritas sekarang. Sehingga tidak dapat digunakan memprediksi harga atau Return sekuritas.
b. Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat atau studi peristiwa (event studies). Pengujian ini untuk melihat seberapa cepat harga sekuritas merefleksikan informasi yang dipublikasikan. Studi peristiwa (event studies) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman dapat juga dipergunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman, dan dapat juga dipergunakan untuk menguji efisiensipasar bentuk setengah kuat. Pengujian kandungan informasi dan pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat merupakan dua pengujian yang berbeda. Pengujian kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu pengumuman atau peristiwa. Jika pengumuman mengandung informasi (information content), maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya
perubahan harga dari sekuritas bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur dengan menggunakan Return sebagai nilai perubahan harga atau dengan menggunakan Abnormal Return. Jika digunakan Abnormal Return, maka dapat dikatakan bahwa suatu pengumuman yang mempunyai kandungan informasi akan memberikan Abnormal Return kepada pasar. Sebaliknya pengumuman peristiwa yang tidak mengandung informasi tidak memberikan Abnormal Return kepada pasar. Pengujian kandungan informasi hanya menguji reaksi dari pasar, tapi tidak menguji seberapa cepat pasar itubereaksi. Jika pengujian melibatkan kecepatan reaksi dari pasar untuk menyerap informasi yang diumumkan, maka pengujian ini merupakan pengujian efisiensi pasar secara informasi bentuk setengah kuat. Pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika tidak ada investor yang dapat memperoleh Abnormal Return dari informasi yang diumumkan, pasar harus bereaksi cepat (quickly) untuk menyerap Abnormal Return untuk menuju ke harga keseimbangan yang baru, dengan demikian pengujian efisiensi pasar secara informasi bentuk setengah kuat seharusnya dilakukan setelah pengujian kandungan informasi.
c. Pengujian-pengujian efisiensi pasar bentuk kuat atau pengujian terhadap informasi privat (test for private information). Pengujian ini untuk menjawab pertanyaan apakah investor mempunyai informasi privat yang tidak terefleksikan ke harga sekuritas. Terdapat permasalahan dalam pengujian efisiensi pasar bentuk kuat yaitu pada
informasi privat yang akan diuji merupakan informasi yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Oleh karena itu, pengujian ini harus dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan proksi. Proksi merupakan Return yang diperoleh oleh corporate insider dan Return yang diperoleh oleh portofolio reksadana. Alasanya ada corporate insider dan reksadana dianggap mempunyai informasi privat di dalam perdagangan sekuritas.
4. Expected Return
Expected Return adalah return yang diharapkan investor yang akan diperoleh di masa yang akan datang dimana sifatnya belum terjadi. Menurut Brown dan Warner (1985) terdapat tiga model dalam mengestimasi expected return, yaitu:
a. Mean-adjusted Model
Model disesuaikan rata-rata ( Mean-adjusted Model) menganggap bahwa return ekspektasi yang bernilai konstan sama dengan rata-rata return realisasi sebelumnya selama periode estimasi (estimation period). Periode estimasi (estimation period) umumnya merupakan periode sebelum periode peristiwa. Periode peristiwa (event period) disebut juga periode pengamatan atau jendela peristiwa (window period). Dalam penelitian ini, expected return dihitung dengan menggunakan Mean-adjusted model.
b. Market Model
Perhitungan Expected Return dengan model pasar (Market Model) dilakukan dengan dua tahap, yaitu pertama membentuk model ekspektasi
menggunakan model ekspektasi tersebut untuk mengestimasi Expected Return di periode jendela. Model ekspektasi dapat dibentuk dengan menggunakan teknik regresi OLS (Ordinary Least Square).
c. Market-adjusted model
Model disesuaikan pasar (Market-adjusted Model) menganggap bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk model estimasi karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama dengan return indeks pasar.
5. Event Study
Menurut Mackinlay (1997), event study adalah bagaimana mengukur pengaruh suatu peristiwa tertentu terhadap suatu nilai perusahaan. Kegunaan event study adalah memberikan rasionalitas di dalam pasar bahwa efek suatu peristiwa akan segera dengan cepat terefleksikan pada harga suatu surat berharga di pasar modal.
Menurut Peterson (1998), event study adalah suatu pengamatan mengenai harga saham di pasar modal untuk mengetahui apakah ada abnormal return yang diperoleh pemegang saham akibat dari suatu peristiwa tertentu. Abnormal return merupakan selisih antara return sesungguhnya dengan return ekspektasi (MacKinlay, 1997). Dengan adanya pengumuman yang mengandung informasi, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan harga dari
sehingga dapat dikatakan bahwa pengumuman yang memiliki kandungan informasi akan memberikan abnormal return kepada pasar dan sebaliknya (Sant dan Ferris, 1994). Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa studi peristiwa dikembangkan untuk menganalisis reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan. Peristiwa tersebut meliputi peristiwa ekonomi maupun non ekonomi untuk mengetahui ada tidaknya abnormal return yang diperoleh pemegang saham. Selain itu, juga dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi dari suatu peristiwa atau pengumuman. Indikasi makin banyaknya penelitian yang berbasis event study yang mengambil kaitan antara perubahan harga saham dengan berbagai peristiwa atau informasi yang terkait langsung dengan aktivitas ekonomi menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan pasar modal serta menunjukkan makin terintegrasinya peran pasar modal dalam kehidupan masyarakat.
B. Hasil Penelitian Sebelumnya
Penelitian-penelitian terdahulu yang ada tentang quantitative easing, abnormal return dan event study, adalah sebagai berikut:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Elnaby (1998) menguji dampak dari invansi Irak terhadap Kuwait dan perang teluk Persia. Hasil dalam penelitian ini memberi bukti empiris bahwa produksi OPEC mempengaruhi rata-rata indeks bulanan dari perusahaan minyak international. Rata-rata harga saham perusahaan minyak international berbeda secara signifikan pada bulan agustus 1991. Penelitian ini adalah termasuk penelitian event study sama seperti
penelitian yang sedang diteliti. Perbedaannya penelitian ini dengan penelitian yang diteliti terletak pada objek penelitiannya.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Beverley (2007) adalah penelitian yang memiliki format event study dengan metodologi cumulative Abnormal Return (CAR). Namun hasil dari penelitian ini tidak menemukan CAR yang signifikan pada periode peristiwa. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan merupakan sama-sama event study dan uji t signifikansi pada cumulative abnormal return (CAR). Sedangkan perbedaan terletak pada objek penelitian.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Karacaer dan Ozek (2009) menguji reaksi pasar terhadap pengumuman investasi perusahaan dan karakteristik perusahaan yang dapat menjelaskan dan arah reaksi tersebut. Data dibandingkan secara cross-border pengumuman investasi yang dibuat oleh perusahaan yang listing di Istambul Stock Exchange sepanjang 2003-2007.
Reaksi pasar diukur dengan Abnormal Return dalam periode pengamatan.
Abnormal Return setelah hari peristiwa adalah positif dan secara statistik signifikan yang mengindikasikan terdapat reaksi pasar pada peristiwa tersebut.
Metodologi yang digunakan adalah market adjusted model. Perbedaan terletak pada penelitian ini menggunakan mean adjusted model dan objek penelitian- nya.
d. Penelitian yang dilakukan oleh Hall dan Kenjegaliev dari University of Leicester, UK (2009) merupakan event study tentang pengaruh harga minyak terhadap harga saham di Negara China dan Russia. Hasil dari penelitian ini
adalah fluktuasi harga minyak mempengaruhi perubahan harga saham.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang dilakukan adalah merupakan sama-sama penelitian tentang event study yang menggunakan t- test. Perbedaannya terletak pada objek penelitian. Perbedaan yang lain terdapat pada metode penelitian dimana penelitian ini menggunakan Market Model sedangkan penelitian yang sedang dilakukan menggunakan Mean Adjusted Model. Penelitian ini memiliki waktu pengamatan sebanyak 41 hari sedangkan penelitian yang sedang dilakukan memiliki periode pengamatan sebanyak 7 hari dan 11hari.
e. Penelitian Khrisnamurthy (2011) menemukan terjadi penurunan yang besar dan signifikan dalam tingkat bunga nominal pada aset jangka menengah dan jangka panjang (saham treasuri, obligasi pemerintah, dan obligasi korporasi) akibat dari pembelian kembali saham treasuri dan obligasi jangka panjang.
Memiliki dua prediksi utama yaitu, QE menurunkan hasil pada semua aset nominal jangka panjang, termasuk obligasi, obligasi korporasi, dan hipotik dan efek sebanding dengan durasi obligasi, dengan efek yang lebih besar untuk durasi aset yang lebih lama. Peneliti juga mengungkapkan terjadi penurunan yang signifikan terhadap return obligasi jangka menengah. Metode yang dipakai dalam penelitian yaitu KVJ regression untuk meneliti pengaruh dari pembelian sekuritas jangka panjang. KVJ difokuskan untuk meneliti pengaruh dari perubahan total penawaran treasuries dan bonds yield.
Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti dampak QE Amerika Serikat.
Tetapi perbedaaan dengan penelitian ini bahwa penulis meneliti dampak QE
terhadap indeks LQ45, menggunakan metodologi event study yang menggunakan teknik analisa data uji t signifikansi cumulative abnormal return (CAR) dan analisa pengaruh faktor determinant terhadap CAR dengan mengunakan persamaan regresi pada tiga periode pengumuman kebijakan QE.
f. Penelitian Magavi (2012) adalah meneliti apakah langkah pemerintah Amerika Serikat sudah tepat atau belum dalam menerapkan quantitative easing (QE). Peneliti mengukur beberapa variabel diantaranya adalah tingkat pengangguran dan GDP dimana pada saat pelaksanaan quantitative easing, tingkat pengangguran tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, artinya tingkat pengangguran di AS masih tinggi. Data yang dipakai sebagai penelitian adalah data Januari 2007 sampai Juli 2012. Peneliti membandingkan tahun dimana krisis finansial terjadi dan masa pasca krisis.
Hasil yang dicapai dalam penelitian ini, yaitu quantitative easing dianggap gagal utamanya dalam hal pengurangan pengangguran di AS. Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti dampak QE Amerika Serikat. Tetapi perbedaaan dengan penelitian ini bahwa penulis meneliti dampak QE terhadap indeks LQ45, menggunakan metodologi event study yang menggunakan teknik analisa data uji t signifikansi cumulative abnormal return (CAR) dan analisa pengaruh faktor determinant terhadap CAR dengan mengunakan persamaan regresi pada tiga periode pengumuman kebijakan QE.
g. Penelitian Christensen dan Rudebusch (2012) menganalisa penurunan yield obligasi di Inggris dengan Amerika Serikat setelah pengumuman quantitative easing (QE). Dimana penurunan yield obligasi di Amerika Serikat utamanya
direfleksikan dengan kebijakan membeli aset-aset obligasi. Sedangkan di Inggris penurunan yield obligasi lebih direfleksikan dengan pengurangan premi. Penelitian ini menggunakan data yang dimulai pada 1 Desember 1987 sampai dengan 31 Desember 2010. Dengan menggunakan 8 kategori pengukuran yaitu 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun dan 10 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah AFNS model.
Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti dampak QE Amerika Serikat.
Tetapi perbedaaan dengan penelitian ini bahwa penulis meneliti dampak QE terhadap indeks LQ45, menggunakan metodologi event study yang menggunakan teknik analisa data uji t signifikansi cumulative abnormal return (CAR) dan analisa pengaruh faktor determinant terhadap CAR dengan mengunakan persamaan regresi pada tiga periode pengumuman kebijakan QE.
h. Penelitian Joyce, Miles, Scott dan Vayanos (2012) meneliti dampak dari quantitative easing (QE) dan kebijakan moneter yang tidak konvensional lainnya diikuti oleh bank-bank sentral di tengah krisis keuangan yang dimulai pada tahun 2007. Hasilnya adalah bahwa kebijakan moneter konvensional terbukti tidak efektif. QE tidak mempengaruhi tarif pasar sesuai dengan yang diharapkan. Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti dampak QE Amerika Serikat. Tetapi perbedaaan dengan penelitian ini bahwa penulis meneliti dampak QE terhadap indeks LQ45, menggunakan metodologi event study yang menggunakan teknik analisa data uji t signifikansi cumulative abnormal return (CAR) dan analisa pengaruh faktor determinant terhadap
CAR dengan mengunakan persamaan regresi pada tiga periode pengumuman kebijakan QE.
i. Penelitian menurut Manlagñit, M.C.V (2011) mengatakan bahwa masuknya bank asing, disini sebagai investor secara langsung pada negara berkembang berpengaruh positif terhadap tingkat keuntungan perusahaan, karena ada manajemen yang lebih baik secara teknologi dan efisien khususnya terhadap negara Filipina, sebagai emerging market. Perbedaan dalam penelitian ini adalah objek penelitian.
j. Penelitian Menurut Hryckiewicz dan Kowalewski (2010) menemukan bahwa kondisi ekonomi makro dan lembaga-lembaga yang berpengaruh di dalamnya, secara signifikan memberikan pengaruh terhadap keputusan bank asing untuk berinvestasi ke negara berkembang. Dalam penelitian tersebut membahas kondisi ekonomi makro yang sedang mengalami global crisis financial (GCF).
Perbedaan dalam penelitian ini adalah objek penelitian yang dilakukan.
k. Penelitian Angraheni dan Sukamulja (2014) yang menggunakan indeks LQ45 dan data time series harian 2009-2013 dengan uji GARCH, TARCH dan uji kausalitas granger, dibuktikan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara QE dengan return saham, artinya bahwa QE bukanlah satu- satunya faktor yang mendorong investor untuk berinvestasi di Indonesia, tetapi QE mempengaruhi return saham secara positif dan QE dianggap sebagai good news, dimana pada saat kebijakan tersebut diluncurkan maka pasar saham cenderung akan merespon positif kebijakan tersebut, namun pada saat kebijakan QE tersebut ditarik kembali, pasar cenderung merespon negatif.
Persamaan dengan penelitian ini adalah mencari dampak QE Amerika Serikat terhadap indeks LQ45. Perbedaaan dengan penelitian ini bahwa penulis menggunakan metodologi event study yang menggunakan teknik analisa data uji t signifikansi cumulative abnormal return (CAR) dan analisa pengaruh faktor determinant terhadap CAR dengan mengunakan persamaan regresi pada tiga periode pengumuman kebijakan QE.
C. Kerangka Pemikiran Teoritis
Berdasarkan penelitian Karacaer dan Ozek (2009), Hryckiewicz dan Kowalewski (2010), Manlagñit, M.C.V (2011), Angraheni dan Sukamulja (2014) yang berkaitan dengan abnormal return dan faktor determinant yang mempengaruhi abnormal return ditinjau dari event study pada indeks saham LQ45, maka dapat dikembangkan kerangka pemikiran teoritis seperti tampak pada gambar 2.1, sebagai berikut:
Sumber : dimodifikasi dari Karacaer dan Ozek (2009), Hryckiewicz dan Kowalewski (2010), Manlagñit, M.C.V (2011), Angraheni dan Sukamulja (2014)
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Teoritis Pengumuman Quantitative
Easing oleh The Fed
Pasar modal terjadi reaksi
D. Hipotesis Penelitian
Menurut penelitian Elnaby (1998) dan Beverley (2007) menggunakan abnormal return akan mendapatkan kandungan informasi dalam suatu peristiwa dan berdasarkan Penelitian Angraheni dan Sukamulja (2014) yang menggunakan indeks LQ45 dan data time series harian 2009-2013 dengan uji GARCH, TARCH dan uji kausalitas granger, dibuktikan bahwa quantitative easing mempengaruhi return saham secara positif dan quantitative easing dianggap sebagai good news, dimana pada saat kebijakan tersebut diluncurkan maka pasar saham cenderung akan merespon positif kebijakan tersebut, namun pada saat kebijakan QE tersebut ditarik kembali, pasar cenderung merespon negatif, oleh sebab itu muncul hipotesis untuk mencari kandungan informasi di sekitar periode peristiwa, sehingga mendapatkan sebagai berikut:
Hipotesis 1: Terdapat abnormal return yang signifikan yang diperoleh investor di sekitar peristiwa pengumuman kebijakan quantitative easing oleh The Fed tahun 2008, 2010 dan 2012 pada pergerakan indeks LQ45.
Menurut Hryckiewicz dan Kowalewski (2010) menemukan bahwa kondisi ekonomi makro dan lembaga-lembaga yang berpengaruh di dalamnya, secara signifikan memberikan pengaruh terhadap keputusan bank asing untuk berinvestasi ke negara berkembang. Dalam penelitian tersebut membahas kondisi ekonomi makro yang sedang mengalami global crisis financial (GCF). Jadi pada saat GCF akan memicu kehadiran perusahaan asing di Indonesia. Dengan begitu faktor determinant GCF dan kepemilikan asing sangat menarik untuk dilakukan
penelitian sebagai faktor yang bisa menentukan abnormal return dengan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 2: Terdapat dampak peristiwa pengumuman kebijakan quantitative easing yang lebih tinggi pada kondisi global crisis financial dalam indeks LQ45.
Hipotesis 3: Terdapat perusahaan dengan struktur kepemilikan asing lebih banyak (≥ 80%) terkena dampak yang lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan struktur kepemilikan asing lebih sedikit (<
80%) pada peristiwa pengumuman kebijakan quantitative easing.