1
ANALISIS SIKAP NASABAH PERUM PEGADAIAN TERHADAP
PELAYANAN JASA DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN,
JENIS PEKERJAAN, DAN TINGKAT PENDAPATAN
Studi Kasus Pada Perum Pegadaian Cabang Pandangan – Rembang Jawa Tengah
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Akuntansi
Disusun Oleh: Yohanes Iman Santoso
011334124
PROGRAM PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2008
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
”Hidup: temukan yang baru dalam hidupmu, amati, berikan
apresiasi, pelajari, dan berikan evaluasi”
_By: Jisso
Skripsi ini dipersembahkan untuk: Yesus Kristus Dan Bunda Maria
Bapak dan Ibuku Kakak-kakakku
Adikku Egin
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tida memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 6 Agustus 2008
Penulis
Yohanes Iman Santoso
ABSTRAK
ANALISIS SIKAP NASABAH PERUM PEGADAIAN TERHADAP PELAYANAN JASA DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN, JENIS
PEKERJAAN, DAN TINGKAT PENDAPATAN
Studi Kasus Pada Perum Pegadaian Cabang Pandangan-Rembang Jawa Tengah
Yohanes Iman Santoso 011334124
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2008
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian ditinjau dari tingkat pendidikan; (2) Sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian ditinjau dari jenis pekerjaan; dan (3) Sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian ditinjau dari tingkat pendapatan.
Populasi dalam penelitian ini adalah nasabah perum pegadaian cabang Pandangan-Rembang yang berjumlah 425 orang, yang terdiri dari 111 nasabah yang menggunakan jasa makelar dan 110 yang tidak menggunakan jasa makelar. Sampel penelitian ini sebanyak 110 nasabah yang tidak menggunakan jasa makelar. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2007. Teknik pengumpulan data yang digunakan kuesioner dan wawancara. Untuk menjawab masalah pertama, kedua dan ketiga menggunakan Anova.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Tidak ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian ditinjau dari tingkat pendidikan (F hitung = 1,054 <
F tabel = 2,45); (2) Tidak ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa
pegadaian ditinjau dari jenis pekerjaan (F hitung = 1,246 < F tabel = 2,45); (3) Tidak ada
perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian ditinjau dari tingkat pendapatan (F hitung = 0,847 < F tabel = 2,45).
ABSTRACT
THE ANALYSIS OF THE BEHAVIOUR OF PAWSHOP’S CUSTOMERS TOWARDS SERVICES PERCEIVED FROM THE EDUCATION LEVEL,
KINDS OF JOB and INCOME LEVEL
A Case Study at Pawshop, Branch office in Pandangan-Rembang Central Java
Yohanes Iman Santoso 011334124
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2008
The purposes of the research are to know customers behaviour towards service of pawshop perceived from: (1) education level; (2) kinds of job; and (3) income level.
The populations of this research were 425 customers of the pawshop branch office in Pandangan-Rembang, consisted of 111 customers using broker’s services and 110 customers who were not willing to accept the broker’s service as the samples. This research was done in July, 2007. Techniques of data collecting were questionnaire and interview. To reply the first problem, second and third use Anova.
The result of the research indicates that: (1) there isn’t any different behaviour of the customers towards the services of the pawshop perceived from: education level (Fcount= 1,323 < Ftables= 2,45); (2) kinds of job (Fcount= 0,575 < Ftables = 2,45); (3)
income level (Fcount= 0,658 < Ftables= 2,45).
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis memanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai tugas akhir dalam rangka memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar sarjana tingkat satu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya suatu usaha yang maksimal, bimbingan serta bantuan berupa moril, materiil, maupun pemberian kesempatan dari semua pihak. Untuk itu penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph. D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak Y. Harsoyo S.Pd., M.Si., selaku ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma.
3. Bapak L.Saptono, S.Pd., M. Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma yang selalu memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
4. Bapak S. Widanarto Prijowuntanto, S.Pd., M.Si. selaku dosen pembimbing yang penuh sabar, perhatian, pemberi semangat dan rela memberikan ilmunya.
5. Ibu Rita Eny Purwanti, S.Pd., M.Si dan Ibu Cornelio Purwantini, S.Pd., M.SA, yang telah memberikan waktunya untuk menjadi dosen penguji dan mengkoreksi skripsi penulis.
6. Segenap dosen dan karyawan Universitas Sanata Dharma yang telah membimbing dan melayani penulis selama kuliah.
7. Mas Agus, Mas Antok, Mbak Agnes dan segenap karyawan Universitas Sanata Dharma yang selalu memberikan hal-hal baru selama perkuliahan, terutama bekerja di Lab. Micro Teaching.
8. Bapak dan Ibu, Mbak Hety, Mbak Naning, Mas Herry yang telah memberikan bantuan baik secara moril dan spiritual kepada penulis
9. Dik Egin yang selalu memberikan kasih sayang dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi.
10.Ibu Rishe yang selalu memberikan semangat dan dorongan moril dalam penulisan skripsi.
11.Mas Kotex yang telah memberikan dukungan moril kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.
12.Tri Isbudiyono, Koco Negoro, Simon Supada, Agustinus Degei, Iswan Santoso, Antonius Sunu, Siska dan semua teman-teman PAK C 2001 yang telah memberi semangat kepada penulis.
13.Banu Gutowo dan Vicentius Andry yang selalu memberi semangat dan dukungan dalam menulis skripsi, terimakasih atas kerjasamanya di Lab. Micro Teaching.
14.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu atas bantuan dan dorongannya.
Penulis juga menyadari banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu kritik dan saran-saran yang membangun akan penyusun terima dengan senang hati guna kesempurnaan penyususunan penelitian di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapapun.
Yogyakarta, Agustus 2008 Penulis
Yohanes Iman Santoso
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL---i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING---ii
HALAMAN PENGESAHAN---iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN---iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA---v
ABSTRAK---vi
ABSTRACT---vii
KATA PENGANTAR---viii
DAFTAR ISI---xi
DAFTAR LAMPIRAN---xvii
BAB I. PENDAHULUAN---1
A. Latar Belakang Masalah---1
B. Batasan Masalah---4
C. Rumusan Masalah ---5
D. Tujuan Penelitian---5
E. Manfaat Penelitian ---6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA---7
A. Sikap---7
1. Pengertian Sikap---7
2. Struktur Sikap---8
3. Fungsi Sikap---9
4. Ciri – ciri Sikap---11
5. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap---13
B. Pelayanan---15
1. Pengertian Pelayanan ---15
2. Kualitas Pelayanan jasa---15
3. Bentuk – bentuk Pelayanan---19
4. Jenis – jenis Pelayanan---20
5. Kelompok Pelayanan Publik--- 21
6. Dimensi Kualitas Pelayanan--- 22
C. Jasa---23
1. Pengertian Jasa---23
2. Karakteristik Jasa---24
3. Klasifikasi Jasa---24
D. Pegadaian---26
1. Pengertian Pegadaian---26
2. Tugas, Tujuan dan Fungsi Pegadaian--- 27
3. Kategori Barang Gadai---29
4. Penggolongan Uang Pinjaman ---31
6. Prosedur Pemberian Kredit Gadai---35
7. Hak – hak Pemegang Gadai---36
8. Kewajiban Pemegang Gadai---36
E. Status Sosial Ekonomi---36
1. Tingkat Pendidikan --- 37
2. Jenis Pekerjaan--- 40
3. Tingkat Pendapatan---40
F. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan--- 42
G. Kerangka Teoritik---42
H. Hipotesisi--- 45
BAB III. METODOLOGO PENELITIAN---46
A. Jenis Penelitian ---46
B. Lokasi dan Waktu Penelitian---46
C. Subjek dan Objek Penelitian---46
D. Populasi, sampel dan Teknik Sampling---46
1. Populasi--- 46
2. Sampel---47
3. Teknik Sampling---47
E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya---48
1. Variabel Penelitian---48
2. Pengelompokan Variabel--- ---48
1. Kuesioner atau Angket--- 52
2. Wawancara ---53
3. Dokumentasi---53
G. Teknik Pengujian Instrumen Penelitian---53
1. Analisis Validitas---53
2. Hasil Uji Validitas---54
3. Analisis Reliabilita---55
4. Hasil Uji Validitas--- 56
H. Uji Prasyarat Analisis---57
1. Uji Normalitas---57
2. Uji Homogenitas---57
I. Pengujian Hipotesis---58
BAB IV. GAMBARAN UMUM PEGADAIAN PANDANGAN – REMBANG ---61
A. Sejarah Berdirinya Pegadaian Pandangan – Rembang ---61
B. Visi dan Misi Pegadaian ---64
C. Struktur Organisasi Pegadaian---66
D. Kategori Barang Gadai---66
E. Siklus Cara Menggadai Barang dan Siklus Cara Pengambilan Barang Gadai---69
F. Prosedur Umum Pegadaian---70
H. Berakhirnya Hak Gadai---74
BAB V. PEMBAHASAN---75
A. Deskripsi Data ---75
1. Variabel Sikap Nasabah terhadap Pelayanan Jasa Pegadaian---75
2. Variabel Tingkat Pendidikan---76
3. Variabel Jenis Pekerjaan---77
4. Varabel Tingkat Pendapatan---78
B. Pengujian Prasyarat Analisis---79
1. Pengujian Normalitas---79
2. Pengujian Homogenitas---82
C. Pengujian Hipotesis---83
1. Pengujian Hipotesis I ---83
2. Pengujian Hipotesis II---84
3. Pengujian Hipotesis III---84
D. Pembahasan--- 85
1. Sikap Nasabah Pegadaian Terhadap Pelayanan Jasa Ditinjau dari Tingkat Pendidikan ---85
2. Sikap Nasabah Pegadaian Terhadap Pelayanan Jasa89 Ditinjau dari Jenis Pekerjaan---87
3. Sikap Nasabah Pegadaian Terhadap Pelayanan Jasa Ditinjau dari Tingkat Pendapatan---89
BAB VI. KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN
DAN SARAN---94
A. Kesimpulan---94
B. Keterbatasan Penelitian---95
C. Saran ---95
DAFTAR PUSTAKA---97
LAMPIRAN---99
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Angket kuesioner---99
Lampiran 2 : Data mentah sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian---105
Lampiran 3 : Data mentah variabel tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat pendapatan.---109
Lampiran 4 : Tabel frekuensi sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian----112
Lampiran 5 : Tabel frekuensi tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat pendapatan nasabah pegadaian---114
Lampiran 6 : Tabel Reliabilitas dan Validitas---115
Lampiran 7 : Tabel Normalitas---116
Lampiran 8 : Tabel Homogenitas---118
Lampiran 9 : Tabel hasil uji ANOVA---119
Lampiran 10 : Daftar Distribusi Frekuensi---125
Lampiran 11 : Tabel r---135
Lampiran 12 : Surat ijin penelitian---136
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ekonomi dewasa ini mempengaruhi pola konsumsi masyarakat. Konsumsi semakin bervariasi dalam memperoleh dana atau uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini cukup relevan karena lingkungan masyarakat sekarang ini banyak lembaga atau perusahaan yang menawarkan jasa simpan pinjam. Berbagai faktor yang sering dipertimbangkan oleh konsumen di dalam mendapatkan pinjaman dana dengan barang jaminan.
Masyarakat mempunyai keinginan yang beraneka ragam dan selalu berusaha untuk memenuhinya. Pada saat seseorang kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhannya, konsumen tersebut dapat memperolehnya dengan cara meminjam kepada orang lain ataupun lembaga yang memberikan pinjaman dana. Kredit memang dapat dijadikan salah satu alternatif ketika seseorang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi atau medesak, tetapi tidak mempunyai dana. Dalam kehidupan sehari-hari kata kredit bukan merupakan hal yang asing bagi masyarakat kita. Kata kredit tidak saja dikenal oleh masyarakat kota saja, tetapi juga sudah dikenal di masyarakat pedesaan. Bahkan kredit sebagai jalan terakhir untuk memenuhi kebutuhan hidup.
riba, pegadaian gelap, dan bunga pinjaman yang tidak wajar. Perum pegadaian sudah banyak menjawab pertanyaan masyarakat luas, bahwa pegadaian menjadi tumpuan seseorang yang membutuhkan dana mendesak, karena prosedur dan syarat administrasi untuk memperoleh dana melalui pegadaian cenderung mudah dan tidak terlalu berbelit-belit. Dengan keadaan seperti ini orang - orang dapat menjadi nasabah perum pegadaian dengan mudah.
Ada anggapan yang tertanam di sebagian masyarakat bahwa menggadai barang merupakan hal yang memalukan. Di mata pejabat pemerintahan daerah terkesan bahwa semakin berkembangnya usaha pegadaian merupakan indikasi bertambahnya tingkat kemiskinan masyarakat.
Kenyataannya tidak semua masyarakat mempunyai uang tunai, tabungan, deposito yang siap dipakai, meskipun yang berpenghasilan cukup. Di samping itu sebagian masyarakat ada yang menginvestasikan dananya dalam bentuk barang berharga (emas, motor, elektronik dll) baik sebagai perhiasan maupun sebagai penyangga (bumper). Jika kebutuhan mendesak seperti : hajatan, keluarga sakit, uang kuliah, gagal panen, tagihan pembayaran terlambat, lonjakan order seketika, maka diperlukan dana yang jika datang ke bank belum tentu dipenuhi segera. Dengan barang berharga tersebut masyarakat mempunyai pilihan menjual atau menggadaikannya ke pegadaian pada saat uang tunai diperlukan.
ekstern ataupun faktor intern. Faktor-faktor ekstern meliputi kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi, dan keluarga. Sedang faktor-faktor intern antara lain motivasi, pengamatan atau persepsi, belajar, kepribadian, kepercayaan dan sikap. Dari faktor ini penulis menarik untuk mengamati faktor-faktor sikap. Sikap adalah pernyataan positif atau negatif tentang suatu objek yang mempengaruhi seseorang untuk berprilaku dalam cara tertentu terhadap objek itu, (Boyd and All, 2000:135). Sikap biasanya memainkan peran utama dalam membentuk perilaku nasabah.
ditawarkan oleh perum pegadaian. Dengan adanya perbedaan sikap nasabah ditinjau dari tinggat pendidikan, jenis pekerjaan dan tingkat dapat memberikan masukan kepada kepala menejer pemasaran untuk mempertahankan kepercayaan nasabah terhadap jasa yang ditawarkan dengan berbagai atribut pendukungnya sehingga dapat meningkatkan kepercayaan nasabah atau calon nasabah. Penelitian tentang perilaku nasabah merupakan usaha untuk mengantisipasi perubahan-perubah yang terjadi dalam lingkungan pemasaran.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ANALISIS SIKAP NASABAH PERUM PEGADAIAN TERHADAP PELAYANAN JASA DITINJAU DARI TINGKAT
PENDIDIKAN, JENIS PEKERJAAN, DAN TINGKAT PENDAPATAN”
Studi khasus pada Perum Pegadaian cabang Pandangan - Rembang
B. Batas Masalah
Mengingat luasnya ruang lingkup permasalahan yang ada maka penulis membatasi penelitian ini yaitu pada:
1. Nasabah yang diteliti adalah nasabah yang pernah menggadaikan barangnya di perum pegadaian tanpa melalui jasa makelar.
2. Status sosial yang diteliti adalah tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah ada perbedaan sikap nasabah Perum Pegadaian terhadap pelayanan jasa bila ditinjau dari tingkat pendidikan.
2. Apakah ada perbedaan sikap nasabah Perum Pegadian terhadap pelayanan jasa bila ditinjau dari jenis pekerjaan.
3. Apakah ada perbedaan sikap nassabah Perum Pegadaian terhadap pelayanan jasa bila ditinjau dari tingkat pendapatan.
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan sikap nasabah Perum Pagadaian terhadap pelayanan jasa bila ditinjau dari tingkat pendidikan .
2. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan sikap nasabah Perum Pegadaian terhadap pelayanan jasa bila ditinjau dari jenis pekerjaan.
3. Untuk mengatahui apakah ada perbedaan sikap nasabah Perum Pegadaian terhadap pelayanan jasa bila ditinjau dari tingkat pendapatan.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Universitas Sanata Dharma
2. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengalaman dan pengetahuan dalam penerapan teori yang telah didapat selama kuliah.
3. Bagi Perum Pegadaian
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sikap
1. Pengertian sikap
Sikap mempunyai peranan yang penting sehingga menjadi titik pusat strategi pemasaran dan merupakan faktor yang tepat untuk meramalkan perilaku yang akan datang apabila sikap terhadap produk yang dihasilkan perusahaan positif, maka perusahaan dapat mempertahankan serta berusaha agar konsumen memiliki sikap yang lebih baik. Sebaliknya bila mempunyai sikap negatif, maka perusahaan harus mempelajari sebab-sebabnya dan berusaha untuk melakukan sesuatu agar sikap negatif itu menjadi positif. Jadi dengan mempelajari sikap seseorang diharapkan dapat menentukan apa yang akan dan harus dilakukan.
2. Struktur sikap
Struktur sikap (Bimo Walgito, 1991:110) Terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (affective), dan komponen konatif (conative).
a. Komponen kognitif (komponen perceptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap. b. Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang
c. Komponen konatif (komponen perilaku atau action component), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecendurungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecendurungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap suatu objek sikap.
3. Fungsi Sikap
Menurut katz (dalam Bimo Walgito, 1991 : 110), sikap mempunyai emapat fungsi, yaitu:
a.. Fungsi Instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat.
Fungsi ini adalah berkaitan dengan sarana-tujuan. Fungsi manfaat juga dapat dijadikan sarana untuk mencapai tujuan. Orang memandang sejauh mana objek sikap dapat digunakan sebagai alat dalam rangka penyampaian tujuan. Bila objek dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka orang akan bersikap positif terhadap objek tersebut. Demikian sebaliknya, bila objek sikap menghambat dalam pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap objek sikap yang bersangkutan. Karena itu fungsi ini juga disebut fungsi manfaat (utility), yaitu sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam rangka pencapaian tujuan. Fungsi ini juga disebut sebagai fungsi penyesuaian, karena dengan sikap yang diambil oleh seseorang, orang akan dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap lingkungan sekitarnya.
b. Fungsi Pertahanan Ego.
Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya. Sikap ini diambil oleh seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan dirinya atau egonya. Demi untuk mempertahankan egonya orang yang bersangkutan mengambil sikap tertentu. Misal orang tua mengambil sikap tertentu untuk mepertahankan egonya dalam keadaan terdesak pada diskusi dengan anaknya.
c. Fungsi Ekspresi Nilai.
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada pada dirinya. Dengan mengekspresikan dirinya, seseorang akan mendapatkan kepuasan. Dengan individu mengambil sikap tertentu terhadap nilai tertentu, ini menggambarkan system nilai yang ada pada individu yang bersangkutan. Sistem nilai apa yang ada pada diri individu dapat dilihat dari sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan terhadap nilai tertentu.
d. Fungsi Pengetahuan.
sesuatu objek, menunjukkan tentang pengetahuan orang tersebut terhadap objek sikap yang bersangkutan.
4. Ciri-ciri Sikap
Menurut (Bimo walgito, 1991 : 113) yaitu: a. Sikap itu tidak dibawa sejak lahir.
Ini berarti bahwa manusia pada waktu dilahirkan belum membawa sikap-sikap tertentu terhadap suatu objek. Karena sikap tidak dibawa sejak individu-individu dilahirkan, ini berarti sikap itu terbentuk atau dibentuk, maka sikap itu dapat dipelajari dan karenanya sikap itu dapat berubah. Walaupun demikian sikap itu mempunyai kecenderungan adanya sifat yang agak tetap, seperti yang dikemukakan oleh Kimball young (dalam Bimo Walgito, 1991 : 113)sebagai berikut:
“an attitude is essentially a form of anticipatory response, a beginning of
action which is not necessary completed. This readinnesto react moreover,
implies some kind of stimulating situation, either specific or general Also,
attitudes tend to have stability and persistence.”
Karena sikap tidak dibawa sejak lahir, maka sikap sebagian daya dorong akan berbeda dengan motif biologis yang juga sebagai daya dorong, karena yang akhir ini sudah ada sejak individu dilahirkan sekalipun motif tersebut dalam manifestasinya mengalami perubahan-perubahan.
b. Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap
Oleh karena itu sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan objek-objek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Hubungan yang positif atau yang negatif antara individu dengan objek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut.
c. Sikap dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan objek-objek.
Bila seseorang mempunyai sikap yang negatif pada seseorang, orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif pula kepada kelompok dimana orang seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan objek sikap.
d. Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar.
bila sikap itu belum begitu mendalam ada dalam diri seseorang maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap tersebut akan mudah berubah.
e. Sikap itu akan mengandung faktor perasaan dan motivasi.
Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu objek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap objek tersebut. Di samping itu sikap juga mngandung motivasi, ini berarti bahwa sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap objek yang dihadapinya.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap.
Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Dalam interaksi sosial, terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara individu yang satu dengan individu yang lain, terjadi hubungan timbal balik yang terus mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Interaksi sosial itu meliputi hubungan antara individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis di sekelilingnya.
a. Pengalaman pribadi.
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus melalui kesan yang kuat. Karena sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dari faktor emosional akan terbentuk kesan positif dan negatif yang selanjutnya akan menjadi dasar pembentukan sikap.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting.
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang dapat mempengaruhi sikap seperti orang tua, teman dekat dan sebagainya.
c. Pengaruh kebudayaan.
Kebudayaan di mana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap misalnya apabila kita hidup dalam budaya sosial yang sangat mengutamakan kehidupan berkelompok maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme.
d. Media massa.
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama.
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai system yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan kuduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
f. Pengaruh faktor emosional.
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi. Kadang-kadang suatu sikap didasari oleh emosi seperti prasangka.
B. Pelayanan
1. Arti Pelayanan
Kegiatan pemasaran tidak terlepas dari kegiatan pelayanan terhadap konsumen. Definisi pelayanan oleh Kotler, yang dikutip oleh Endar Sugiarto (1999:36) bahwa:
“Pelayanan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan orang lain (konsumen, pelanggan, tamu, klien pasar, penumpang dan lain-lain) yang tingkat pemuasnya hanya dapat dirasakan oleh orang yang melayani maupun yang dilayani. Dalam hal ini terjadi interaksi pelayanan tersebut”.
sekedar harga. Untuk itu dibutuhkan strategi pelayanan yang baik sehingga telah ada sarana menciptakan sikap dan kesetiaan pelanggan.
Pelayanan jasa pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan sikap konsumen sebagai pengguna jasa. Guna menciptakan sikap positif pelanggan perusahaan bisa menggunakan service excellence atau pelayanan unggul. Menurut Eithammy yang dikutip Fandy Tjiptono (2000:51) pelayanan adalah “suatu sikap atau cara karyawan dalam melayani pelanggan secara memuaskan”
2. Kualitas Pelayanan Jasa
Dimensi kualitas jasa berpusat pada upaya pemenuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas jasa adalah keunggulan yang diharapkan atas tingkat pengendalian untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Dalam bisinis jasa yang paling esensial adalah pelayanan yang diberikan pihak produsen pada konsumennya, sikap dan pelayanan contact personel merupakan aspek yang sangat penting dan menentukan kualitas jasa yang dihasilkan. Bila aspek tersebut dilupakan atau bahkan sengaja dilupakan, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama perusahaan yang bersangkutan bisa kehilangan banyak pelanggan lama dan akan dijauhi calon pelanggan.
perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang berkesinambungan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai strategi untuk terus tumbuh. Keunggulan suatu produk jasa adalah dari keunikan serta kualitas yang diperhatikan oleh jasa tersebut apakah sudah sesuai dengan harapan dan keinginan pelanggan.
Kotler (1994) dalam (Supranto 1997:228) membagi macam-macam jasa yaitu:
1. Barang berwujud murni
Terdiri dari barang berwujud, seperti sabun, pasta gigi. Tidak ada jasa yang menyertai produk tersebut.
2. Barang berwujud yang disertai jasa
Barang berwujud dapat disertai dengan satu jasa atau labih jasa. Contohnya: produsen mobil tidak hanya menjual mobil saja, melainkan juga kualitas dan pelayanan kepada pelanggannya (reparasi, pelayanan purna jual)
3. Campuran
Campuran merupakan dua produk yang berupa jasa atau barang dengan proporsi yang sama. Contohnya: restoran yang harus didukung dengan makanan dan pelayanannya.
4. Jasa utama yang disertai barang dan jasa tambahan
berwujud yang memperlihatkan pengeluaran mereka. Namun perjalanan tersebut meliputi barang-barang berwujud seperti makanan dan minuman. Jasa tersebut membutuhkan barang padat modal agar terealisasi, tetapi komponen utama adalah jasa.
5. Jasa murni
Terdiri atas jasa murni . Contohnya adalah jasa dokter, psikoterapi.
(Fandy Tjiptono,1995:127) juga mengemukakan bahwa pada prinsipnya ada tiga kunci dalam pemberian pelayanan yaitu:
a) Kemampuan memahami kebutuhan dan keinginan konsumen.
b) Pengembangan database yang lebih akurat daripada pesaing (mencakup data kebutuhan dan keinginan setiap segmen konsumen dan perubahan kondisi pesaing)
c) Pemanfaatan informasi-informasi yang diperoleh dari riset pasar dalam suatu kerangka strategis. Kerangka ini diwujudkan dalam pengembangan relationship
3. Bentuk-Bentuk Pelayanan
a. Pelayanan dengan Lisan
Pelayanan ini berupa penjelasan atau keterangan kepada siapapun yang memerlukan.
Ada beberapa syarat yang diperhatikan agar berjalan dengan baik : 1) Memahami benar masalah yang termasuk dalam bidangnya.
2) Mampu memberikan penjelasan apa yang diperlukan dengan lancar, singkat tetapi jelas sehingga memuaskan bagi mereka yang ingin memperoleh penjelasan mengenai sesuatu.
3) Bertingkah laku sopan dan ramah tamah
Meskipun dalam keadaan sepi dari nasabah tidak boleh bercakap-cakap dan bercanda dengan rekan kerja, karena hal ini menimbulkan kesan tidak disiplin dan melalaikan tugas.
4) Tidak melayani orang-orang yang ingin sekedar berbincang-bincang. b. Pelayanan melalui Tulisan
Terdiri atas dua golongan:
1) Pelayanan berupa petunjuk, informasi dan yang sejenisnya ditujukan pada orang-orang yang berkepentingan, agar memudahkan mereka dalam berurusan dengan bagian yang terkait.
4. Jenis-jenis Pelayanan
Jenis-jenis Pelayanan menurut (Fandy Tjiptono,1995:127)
a. Informasi, misalnya jalan atau arah menuju lokasi produsen, jadwal atau skedul penyampaian produk, harga, instruksi mengenai cara penggunaan produk, peringatan, konfirmasi, reservasi rekapitulasi rekening, tanda terima dan tiket.
b. Konsultasi, seperti pemberian saran, auditing, konseling pribadi dan konseling menejemen atau teknik.
c. Perintah pengambilan suatu barang atau suatu hadiah meliputi: aplikasi/pendaftaran, tata tertib masuk dan reservasi.
d. Keramahtamahan, di antaranya sambutan, food and beverages, toilet, perlengkapan kamar mandi, fasilitas menunggu (majalah, hiburan, Koran, ruang tunggu) transportasi dan security.
e. Perhatian terdiri dari perhatian dan perlindungan atas barang yang dimiliki pembeli yang mereka bawa (parkir kendaraan, titipan barang dan lain-lain) serta perhatian dan perlindungan barang yang dibeli konsumen (pengemasan, transportasi, pengantaran, pemeliharaan preventif, instalasi, reparasi dan inovasi).
g. Rekening, meliputi rekening periodik, faktor untuk transaksi individual. h. Pembayaran, berupa swalayan oleh konsumen, konsumen berinteraksi
dengan personil perusahaan yang menerima pembayaran, pengurangan otomatis atas rekening nasabah control dan verifikasi.
5. Kelompok Pelayanan Publik
Keputusan MENPAN Nomor 63 Tahun 2004 membedakan jenis pelayanan menjadi tiga kelompok. Adapun tiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kelompok Pelayanan Administratif
Jenis pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status kewarganegaraan, sertifikat kompensasi, kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu barang dan sebagainya. Dokumen-dokumen ini antara lain Kartu Tanda Penduduk (KTP), Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Paspor, Sertifikat Kepemilikan/Penguasaan Tanah dan sebagainya.
b. Kelompok Pelayanan Barang
c. Kelompok Pelayanan Jasa
Pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang dibutuhkan oleh publik, misalnya pendidikan, pemeliharaan kesehatan, penyelenggara transportasi, pos dan sebagainya
6. Dimensi Kualitas Pelayanan
Secara keseluruhan uraian di atas adalah tentang pengukuran kinerja pemerintah secara umum. Sedangkan instrumen pengukuran kinerja pelayanan publik sampai saat ini belum ada, maka dapat dilakukan dengan menggunakan intrumen pengukuran kinerja pelayanan yang dikembangkan oleh Zeithaml, Parasuraman dan Berry dalam buku mereka yang berjudul
Delivering Quality Service (1990: 25-26), dimana indikator yang digunakan merupakan ukuran kinerja pelayanan untuk sektor swasta, yaitu diantaranya: a. Tangibles (bukti fisik), yaitu bentuk fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai,
dan sarana komunikasi.
b. Reliability (keandalan), yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.
c. Responsiveness (daya tanggap), yaitu kemampuan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap. d. Assurance (jaminan), yaitu mencakup pengetahuan, kesopanan, dan sifat
e. Empathy (empati), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan keinginan untuk memahami kebutuhan para pelanggan.
Komponen pelayanan dapat merupakan sebagian kecil atau sebagian besar dari keseluruhan yang ditawarkan. Tawaran tersebut dapat semata-mata barang sampai pada jasa seutuhnya. Perusahaan harus mengetahui tingkat pelayanan mana yang harus ditawarkan pada konsumen atau calon konsumen. Konsumen tidak hanya menginginkan pelayanan tertentu saja tetapi juga dalam tingkat dan kualitas yang memadai. Misalnya bila konsumen harus berdiri antri terlalu lama sekali atau harus menghadap karyawan-karyawan yang bermuka masam, maka kemungkinan mereka akan lari atau pergi untuk mencari produsen lain. Oleh karena itu konsumen akan cenderung bersikap positif apabila mereka mendapatkan pelayanan yang baik dari semua karyawan.
C.Jasa
1. Pengertian Jasa
Menurut Kotler (1997) dalam bukunya (Fandy Tjiptono,2000:6), memberitahukan batasan jasa sebagai berikut :
2. Karakteristik Jasa
Jasa memiliki empat karakteristik utama yang membedakan dari barang (Fandy Tjiptono,1996:15) yaitu:
a.Intangibility
Jasa bersifat intangibility artinya tidak dapat dilihat, diraba, dicium, atau didengar sebelum dibeli. Seseorang tidak dapat menilai hasil dari jasa sebelum ia menikmatinya sendiri.
b.Inseparability
Suatu bentuk jasa yang tidak dapat dipisahkan dari sumbernya. Sumber itu merupakan orang atau mesin dari produk fisik yang berwujud tetap ada.
c.Variability
Jasa bersifat sangat variable karena merupakan nonstandardized output artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada siapa, kapan dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
d.Perishability
Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Dengan demikian bila suatu jasa tidak digunakan maka jasa tersebut akan berlalu begitu saja.
3. Klasifikasi Jasa
a. Personalized service
Personalized service merupakan jasa yang tidak dapat dipisahkan dari orang yang menghasilkan atau pelayanannya langsung dihargai produsennya.
Personalized service ini dapat dikelompokkan menjadi tiga :
1) Personal service, jasa yang mengutamakan pelayanan orang dan perlengkapannya, seperti tukang cukur, salon kecantikan, laundry dan lain sebagainya.
2) Profesional service, pelayanan dari jasa professional dari produsen jasa tertentu kepada pelanggannya, sebagai contoh; dokter, jasa computer, pengacara dan lainnya.
3) Business service, pelayanan jasa yang bersifat bisnis, misalnya konsultan bisnis.
b. Financial Service
Financial service yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa keuangan, seperti: bank, pasar modal, asuransi dan sebagainya.
c. Public Utility and Transportation Service
Perusahaan yang bergerak dalam bidang pelayanan terhadap masyarakat banyak, sedangkan transportasi servis adalah pelayanan yang bergerak dalam bidang angkutan.
d. Entertainment
e. Hotel service
Dalam usaha ini hotel menjual barang dan jasa.
D. Pegadaian
1. Pengertian Pegadaian
Menurut (Y. Sri Susilo,2000:180) pengertian pegadaian adalah suatu hak yang diperoleh seorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang.
Gadai menurut Undang-Undang Hukum Perdata (Burgenlijk Wetbaek) Buku II Bab XX Pasal 1150 adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan memberikan kekuasaan kepada yang berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan dari pada orang-orang berpiutang lainnya; dengan pengecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang digadaikan, biaya-biaya mana yang harus didahulukan Usman,1995:357, dalam buku Pegadaian syariah karangan Muhammad Sholikul Hadi (2003;17)
penjualan barang tersebut dan memberi hak preferensi kepada debitur terhadap kreditur lainnya.
Sedang pengertian Perum Pegadaian adalah suatu badan usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai ijin untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana kemasyarakatan atas dasar hukum gadai.
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh orang yang berpiutang atas suatu barang bergerak yang diserahkan oleh orang yang berutang sebagai jaminan utangnya dan barang tersebut dapat dijual (dilelang) oleh yang berpiutang bila yang berutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada saat jatuh tempo.
Sedang Perum Pegadaian secara umum adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfungsi memberikan pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai.
2. Tugas, Tujuan dan Fungsi Pegadaian
Menurut (Y. Sri Susilo, dkk, 2000;180) sebagai lembaga keuangan non bank yang berfungsi majemuk, maka didalam menjelaskan kegiatan usahanya Perum Pegadaian mempunyai produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat adalah:
a. Pemberian pinjaman atas dasar hukum gadai
pinjaman yang diberikan kepada masing-masing peminjam. Besarnya pinjaman dipengaruhi oleh nilai barang yang bergerak yang akan digadaikan.
b. Penaksiran nilai barang
Selain memberikan pinjaman atas dasar hukum gadai, perum pegadaian memberikan jasa pelayanan penaksiran nilai barang bagi masyarakat. Barang yang dapat ditaksir nilainya pada dasarnya merupakan barang bergerak yaitu: emas, berlian dan intan. Masyarakat yang menggunakan atau memerlukan jasa ini biasanya hanya ingin tahu seberapa besar nilai barang yang dimiliki masyarakat tersebut, dengan jasa penaksiran ini perum pegadaian memperoleh penerimaan dari pemilik barang berupa ongkos penaksiran.
c. Penitipan Barang.
d. Jasa Lain.
Hampir di seluruh kantor cabang pegadaian di Indonesia mempunyai ketiga produk dan jasa di atas. Namun pada kantor cabang pegadaian tertentu, perum pegadaian menambah jasa dan produk lain di antaranya seperti: kredit kepada pegawai dengan penghasilan tetap, gold center atau tempat penjualan emas, koin emas ONH dan lain-lain.
3. Kategori Barang Gadai.
Macam-macam barang yang dapat digadaikan dan macam-macam yang tidak dapat digadaikan menurut (Y. Sri susilo, dkk 2000:183). Pada dasarnya hampir semua barang bergerak dapat digadaikan di pegadaian dengan pengecualian untuk barang-barang tertentu dengan memenuhi kriteria pegadaian. Sedangkan barang gadai menurut (Thomas Suyatno,1995;91) Barang gadai adalah hak kreditur atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh debitur atau orang lain atas namanya.
Barang-barang yang dapat digadaikan meliputi: a) Barang perhiasan.
Perhiasan yang dimaksud yaitu perhiasan yang terbuat dari emas, perak, platina, intan, mutiara, berlian dan batu mulia.
b) Kendaraan.
c) Barang Elektronik.
Barang elektronik yang dapat digadaikan yaitu: televisi, freezer, radio, tape recorder, video player, camera, handphone dan barang-barang elektronik lainnya.
d) Barang Rumah Tangga.
Barang rumah tangga yang dimaksud yaitu: perlengkapan dapur, perlengkapan makan dan lain-lain.
e) Mesin-mesin.
Alat-alat pertanian, mesin pompa air dan lain-lain. f) Tekstil.
Tekstil yang dapat digadaikan misalnya: batik, seprai, sarung dan lain-lain.
g) Barang-barang lain yang dianggap bernilai oleh perum pegadaian.
Namun mengingat keterbatasan tempat penyimpanan, keterbatasan sumber daya manusia dipegadaian, perlunya meminimalkan resiko yang ditanggung oleh perum pegadaian, serta memperhatikan peraturan yang berlaku, maka ada barang-barang tertentu yang tidak dapat digadaikan. Adapun macam-macam barang yang tidak dapat digadaikan yaitu:
a) Barang Ternak.
b) Hasil Bumi.
Hasil bumi tidak dapat digadaikan karena mudah busuk atau rusak. Misalkan: padi, jagung atau hasil pertanian lainnya.
c) Barang Dagangan dalam jumlah besar.
Karena memerlukan tempat penyimpanan atau gudang yang cukup luas yang tidak dimiliki oleh pegadaian. Misalkan: barang dagangan berupa elektronik yang jumlahnya cukup besar atau barang dangangan berupa sepeda motor dan darang-barang dagangan yang lainnya.
d) Barang yang cepat rusak, busuk dan susut. e) Barang yang amat kotor.
f) Kendaraan yang sangat berat.
g) Barang-barang seni yang sulit ditaksir. h) Barang yang mudah terbakar.
i) Senjata api, amunisi dan mesiu. j) Barang yang disewa belikan. k) Barang milik pemerintah. l) Barang ilegal.
m) Barang-barang yang tidak mempunyai nilai taksir.
4. Penggolongan Uang Pinjaman.
jumlah pinjaman yang akan diberikan oleh perum pegadaian disesuaikan dengan nilai taksir dari barang yang dijadikan sebagai jaminan tersebut. Sedangkan penggolongan uang pinjaman yang diberikan pada nasabah berdasarkan SK. Direksi No 020/OP.1.0021/2001. Tentang perubahan tarif sewa modal adalah sebagai berikut:
a) Golongan A.
Jumlah pinjaman antara Rp. 40.500,- sampai dengan Rp 40.000,- adalah masuk dalam kategori Surat Kredit golongan A. Sedangkan jangka waktunya adalah 120 hari (empat bulan).
b) Golongan B.
Jumlah pinjaman antara Rp. 40.500,- sampai dengan Rp.150.000,- adalah masuk dalam kategori Surat Bukti Kredit golongan B. Sedangkan jangka waktunya adalah 120 hari (empat bulan).
c) Golongan C.
Jumlah pinjaman antara Rp.151.000,- sampai dengan Rp.500.000,- adalah masuk dalam Kategori Surat Bukti Kredit golongan C. Sedangkan jangka waktunya adalah 120 hari (empat bulan).
d) Golongan D.
Tabel 2.1 Penggolongan Uang Pinjaman (Dalam Rupiah).
Gol Uang Pinjaman Jangka Waktu
Tabel 2.2 Prosentase Pinjaman Terhadap Penaksiran.
Gol Uang Pinjaman Prosentase Terhadap Taksiran
A 5000 – 40.000 91%
B 40.000 – 150.000 89%
C 151.000 – 500.000 88%
D 510.000 ke atas 88%
5. Prosedur Penaksiran Barang Gadai.
1. Barang Kantong. a. Emas.
1) Petugas penaksir melihat Harga Pasar Pusat (HPP) dan standart taksiran logam yang telah ditetapkan oleh kantor pusat. Harga pedoman untuk keperluan penaksiran ini selalu disesuaikan dengan perkembangan harga yang terjadi.
2) Petugas penaksiran melakukan karaktase dan berat. 3) Petugas penaksiran menentukan nilai taksiran. b. Permata.
1) Petugas penaksiran melihat standart taksiran permata yang telah ditetapkan oleh kantor pusat. Standart ini selalu disesuaikan dengan perkembangan pasar permata yang ada.
2) Petugas penaksiran melakukan pengujian kualitas dan berat permata. 3) Petugas penaksiran menentukan nilai taksiran.
2. Gudang.
Barang-barang gudang yang dimaksud di sini yaitu meliputi: mobil, motor, mesin, barang elektronik, tekstil dan lain-lain.
1) Petugas penaksiran melihat Harga Pasar Setempat (HPS) dari barang. Harga pedoman untuk keperluan penaksiran ini selalu disesuaikan dengan perkembangan harga yang terjadi.
6. Prosedur Pemberian Kredit Gadai.
Prosedur untuk memperoleh dana pinjaman di Perum Pegadaian tidak sesulit memperoleh dana pinjaman di bank. Dalam Perum Pegadaian, prosedur untuk memperoleh dana pinjaman bagi masyarakat yang membutuhkan akan sangat sederhana dan cepat. Karena pada prinsipnya Perum Pegadaian tidak membutuhkan berbagai jenis persyaratan sebagaimana halnya dalam perbankan. Sedangkan prosedur mendapatkan dana pinjaman dari perum pegadaian adalah sebagai berikut:
a. Calon nasabah datang langsung ke loket penaksiran dan menyerahkan barang yang akan dijadikan jaminan dengan menunjukkan surat bukti diri seperti KTP atau surat kuasa apabila pemilik barang tidak bisa datang sendiri.
b.Barang jaminan tersebut diteliti kualitasnya untuk menaksir dan menetapkan harganya. Berdasarkan taksiran yang dibuat penaksir, ditetapkan besarnya uang pinjaman yang dapat diterima oleh nasabah. Besarnya uang pinjaman yang diberikan lebih kecil dari pada nilai pasar dari barang yang digadaikan. Perum pegadaian secara sengaja mengambil kebijakan ini guna mencegah munculnya kerugian.
7. Hak-Hak Pemegang Gadai
a. Menahan barang yang dijaminkan sampai waktu utang dilunasi, baik yang mengenai jumlah pokok maupun bunga.
b. Mengambil pelunasan dari hasil penjualan barang tersebut apabila orang yang berhutang tidak menepati kewajibannya. Penjualan barang itu dapat dilakukan sendiri atau minta perantara hakim.
c. Berhak meminta ganti biaya yang telah ia keluarkan untuk menyelamatkan barang tanggungan itu.
d. Berhak menggadaikan lagi barang jaminan itu.
8. Kewajiban Pemegang Gadai
a. Bertanggung jawab atas hilangnya atau kemunduran barang-barang jaminan, jika hal itu disebabkan karena kelalaian.
b. Harus memberitahu kepada orang yang berhutang bila ia hendak menjual barang jaminannya.
c. Harus memberikan perhitungan tentang pendapatan penjualan barang itu dan setelah ia mengambil pelunasan utangnya, maka ia menyerahkan kelebihannya kepada si berhutang.
E. Status Sosial Ekonomi
adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestasinya, dan hak-hak kewajibannya.
Dalam penelitian yang akan disusun ini, penulis membatasi ruang lingkup status sosial ekonomi pada golongan pekerjaan, tingkat pendapatan atau penghasilan dan tingkat pendidikan nasabah perum pegadaian yang sudah pernah dalam mencari kredit untuk memudahkan pengumpulan data.
1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dalam bahasa Inggris adalah education. Education berasal dari bahasa Yunani educare artinya membawa ke luar yang tersimpan dalam jiwa anak yang dituntun agar berkembang. Secara entimologi pengertian di atas menunjukkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan jiwa seseorang ke arah dewasa. Dengan demikian inti dari pendidikan adalah pengembangan jiwa dan perubahan tingkah laku seseorang ke arah dewasa. Pendidikan dilaksanakan melalui usaha sadar, sengaja dan bertanggung jawab dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pelaksanaan pendidikan, baik formal, non formal maupun pendidikan informal.
negara yang bersangkutan. Adapun jenjang pendidikan yang ada di negara ini terdiri atas tingkat pendidikan dasar, tingkat pendidikan menengah (lanjutan) dan tingkat pendidikan tinggi. Masing-masing tingkatan mempunyai tipe tersendiri.
Tingkat pendidikan dasar meliputi: Taman Kanak-Kanak, biasanya tingkatan ini di usia anak yang berumur 5-6 tahun. Tingkatan kedua adalah Sekolah Dasar (dalam hal ini SD 6 tahun) yang merupakan lanjutan dari tingkatan taman kanak-kanak, tetapi menurut prakteknya sampai saat ini taman kanak-kanak bukanlah merupakan syarat yang mutlak untuk memasuki sekolah dasar.
Tingkat pendidikan menengah meliputi tingkat pendidikan menengah pertama dengan lama pendidikan selama 3 tahun. Contoh: SLTP, MTs dan sekolah menengah sederajad lainnya. Tingkat pendidikan menengah atas, dengan lama pendidikan 3 tahun. Contoh: SLTA, MAN, SMK dan sekolah yang sederajad lainnya.
pendidikannya melalui dua program yaitu jalur atau program gelar dan non gelar. Contoh pendidikan gelar adalah program sarjana (S1), program pasca sarjana (S2) dan Doktor (S3). Contoh pendidikan non gelar adalah diploma I (So.I), diploma II (So.II) dan diploma III (So.III).
Telah disebutkan bahwa tingkat pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang telah dicapai oleh seseorang, maksudnya adalah jenjang pendidikan formal yang telah dicapai adalah taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, akademi atau perguruan tinggi. Seorang lulusan sekolah dasar akan cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang tidak lulus sekolah dasar, seorang tamatan sekolah menengah atas akan mempunyai pengetahuan lebih baik dari pada luluisan sekolah menengah pertama, dan seterusnya.
2. Pengertian Pekerjaan
Pekerjaan menurut penulis adalah bidang pekerjaan pokok yang ditekuni oleh masyarakat setiap harinya. Pekerjaan adalah segala usaha manusia, baik usaha jasmani maupun rohani yang dicurahkan dalam proses peningkatan kegunaan ekonomi (Gilarso, 1986; 77). Dari definisi ini terlihat bahwa tidak setiap kegiatan manusia dipandang sebagai kerja.kegiatan yang hanya dilakukan demi kesenangan atau hobi tidak termasuk faktor produksi kerja.
Pekerjaan, dalam hal ini sebagai karyawan pegadaian membutuhkan kecakapan dan bakat tertentu. Pekerjaan ini menuntut penggunaan alat – alat kantor. Suatu pekerjaan yang memberikan otonomi yang besar kepada para pekerja akan memberikan kebebasan dalam melakukan seluruh aktivitasnya di ruang kerja.
3. Tingkat Pendapatan
Pendapatan adalah sejumlah pendapatan yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu. Mulyanto (1982; 93) mengemukakan penghasilan dan penerimaan dapat berbentuk
b. Penghasilan berupa barang, adalah segala penghasilan yang sifatnya regular akan tetapi tidak selalu berbentuk balas jasa, tetapi dapat diterima dalam bentuk barang dan jasa. Misalnya: tunjangan beras, tunjangan kesehatan.
c. Penerimaan barang dan jasa lain-lain adalah segala penerimaan berupa transfer redistributif dan biasanya membawa perubahan dalam keuangan rumah tangga. Misal: penjualan barang yang dipakai, pinjaman uang, hasil undian dan penagihan piutang.
Penghasilan adalah segala bentuk balas karya yang diperoleh sebagai imbalan atau balas jasa atas sumbangan seseorang terhadap proses produksi. Penghasilan keluarga dapat bersumber pada usaha sendiri, bekerja pada orang lain, hasil dari milik (Gilarso, 1991; 63).
Penghasilan keluarga dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan. Besarnya jumlah pengeluaran keluarga menurut Gilarso (1991; 65) tergantung pada berbagai hal, antara lain.
a. Besarnya jumlah penghasilan yang masuk. b. Besarnya keluarga.
c. Tingkat harga kebutuhan keluarga. d. Tingkat pendidikan keluarga.
e. Lingkungan sosial ekonomi keluarga.
F. Kajian Hasil Penelitian Yang Relevan
1. Anastasia Mina Helmi “Analisis Sikap Nasabah Penabung Terhadap Atribut Produk Bank”, penelitian diadakan pada tahun 2004, studi kasus pada Bank Lippo cabang Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan sikap para nasabah secara keseluruhan terhadap atribut produk Bank Lippo cabang Yogyakarta adalah sangat puas atau positif.
2. Denny Kania Atikasari “Analisis Kepuasan Nasabah Terhadap Pelayanan Jasa Kredit”, penelitian diadakan pada tahun 2004, studi kasus pada PT.BPR Mlati Pundi Arta Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasabah secara keseluruhan terhadap atribut pelayanan jasa yang di peroleh dari PT. BPR Mlati Pundi Arta Yogyakarta adalah sangat puas.
3. Kumala Candaningrum “Analisis Sikap Konsumen Terhadap Atribut Pelayanan”, penelitian diadakan pada tahun 2004, studi kasus pada Departemen Store Klaten. Menurut hasil penelitian yang diadakan di Departemen Store Klaten menunjukkan bahwa sikap konsumen terhadap atribut pelayanan adalah positif.
G. Kerangka Teoritik
1. Hubungan Antara Sikap Dengan Pelayanan jasa.
yang dimaksud disini adalah pelayanan pegadaian yang meliputi, kegiatan selama proses menggadai barang sampai mengambil barang jaminannya kembali (kasir, penaksir, penjaga gudang, dan security).
Apabila suatu pelayanan yang sesuai dengan apa yang diharapkan nasabah maka produk jasa tersebut akan dianggap cocok oleh nasabah. Oleh karena itu perusahaan haruslah mengetahui apa yang paling menentukan nasabah dalam memilih suatu produk tertentu. Sikap yang positif akan berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen yang positif, begitu juga sebaliknya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sikap nasabah yang positif memberikan arti bahwa nasabah menerima pelayanan yang ditawarkan oleh pegadaiaan, jika sikap nasabah yang negatif maka nasabah tidak menerima atau menolak pelayanan yang ditawarkan oleh pegadaian.
rasionya dari pada emosinya, misalnya memandang kualitas pelayanan yang didapat harus sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan.
3. Hubungan Antara Jenis Pekerjaan dan Sikap terhadap Pelayanan
Kondisi ekonomi akan mempengaruhi sikap seseorang dalam menilai suatu produk layanan. Penilaian hasil kerja orang lain dapat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan. Jika jenis pekerjaan mempunyai tingkat penghasilan yang lebih tinggi, maka mereka akan menuntut pelayanan yang lebih bagus, dan mereka akan lebih teliti jika ada yang kurang dalam pelayanan. Lain halnya dengan jenis pekerjaan yang mempunyai tingkat penghasilan rendah, diduga nasabah akan bersikap positif atau merasa puas dan tidak akan menuntut kebutuhan pelayanan yang diberikan olah pegadaian. Hal ini disebabkan karena pada umumnya nasabah terlibat dengan banyak orang yang mengutamakan kualitas.
H. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini merupakan hasil jawaban sementara yang digunakan penulis sebagai dasar untuk pengujian data yang diperoleh. Hipotesis yang diajukan penulis adalah
Ha 1 : Ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan Perum Pegadaian berdasarkan tingkat pendidikan.
Ha 2 : Ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan Perum Pegadaian berdasarkan jenis pekerjaan.
46
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah tentang sikap nasabah terhadap pelayanan Perum Pegadaian. Peneliti menggunakan metode studi kasus untuk memperoleh gambaran dan menjabarkan permasalahan yang diangkat khususnya adalah sikap nasabah terhadap pelayanan Perum Pegadaian .
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi penelitian adalah Kantor Perum Pegadaian Cabang Pandangan – Rembang
2. Waktu penelitian 16 Juli 2007 - 19 Juli 2007
C. Subyek dan Obyek Penelitian
1. Subyek adalah Orang-orang yang menggadaikan barang atau mengambil barang jaminannya di pegadaian cabang Pandangan – Rembang
2. Obyek penelitiannya yaitu tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat pendapatan nasabah pegadaian cabang Pandangan - Rembang
D. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
1. Populasi
Perum Pegadaian cabang Pandangan – Rembang, dengan jumlah populasi yang tidak dapat dipastikan, maka langkah yang diambil oleh penulis adalah menentukan jumlah populasi pada minggu ke tiga pada bulan Juli 2007. Jumlah data terdapat dua kemungkinan kegiatan nasabah yaitu nasabah penggadai barang dan nasabah yang pengambil barang jaminan. Data di atas menunjukkan bahwa populasi nasabah sudah dapat dijadikan syarat sebagai populasi penelitian.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, (Sugiyono,1999:73). Jumlah populasi yang diperoleh peneliti selama 4 hari penelitian sebanyak 425 responden, dari 425 nasabah peneliti mengambil 110 nasabah yang akan dijadikan sampel, dengan syarat 110 nasabah ini tidak menggunakan jasa makelar dalam memperoleh pinjaman maupun dalam pengambilan barang jaminan.
3. Teknik sampling.
Penelitian ini menggunakan teknik Nonprobability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiono, 1999 :77).
Dengan persyaratan nasabah yang akan dijadikan sampel tidak pernah menggunakan jasa makelar dalam memperoleh kredit atau mengambil barang jaminan. Adapun kriteria nasabah menjadi anggota sampel adalah nasabah yang pernah menggadaikan barang jaminannya di Perum Pegadaian minimal empat kali dengan tidak menggunakan jasa makelar, karena dianggap sudah dapat merasakan pelayanan dari kantor Pegadaian cabang Pandangan.
E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
1. Variabel adalah obyek penelitian yang bervariasi atau apa yang menjadi titik perhatian penelitian. Dalam hal ini variabel yang akan diteliti adalah sikap nasabah pegadaian Pandangan.
2. Pengelompokan variabel
a. Variabel terikat (dependend variable) atau variabel tak bebas adalah sikap nasabah pegadaian terhadap pelayanan jasa..
Sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian adalah suatu perasaan positif atau negatif tentang suatu objek yang dipengaruhi, baik pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media masa, lembaga pendidikan dan lembaga agama serta pengaruh faktor emosional.
Pelayanan jasa mencakup 5 dimensi yaitu tangible atau bentuk fisik, reliability atau keandalan, responsiveness atau daya tanggap, assurance atau jaminan dan empathy atau empati (Parasuraman dan Barry, 1990: 25-26)
Tabel III. 1
Operasional Variabel Sikap Nasabah Terhadap Pelayanan Jasa
Variabel Indikator No. Item
1. Ketampakan Fisik (tangibles) 1, 2, 3, 4, 2. Keandalan (Reliability) 5, 6, 7, 8, 3. Daya Tanggap (Responsiveness) 9, 10, 11, 12, 4. Jaminan/ keamanan (Assurance) 13, 14, 15, 16 Sikap nasabah
terhadap pelayanan Jasa
Pagadaian 5. Perhatian Pribadi (Empaty) 17, 18, 19, 20.
Dengan berdasar pada struktur sikap, pertanyaan untuk analisis kuantitatif terdiri dari 20 item dengan perincian sebagai berikut:
Tabel III. 2
Perincian item pertanyaan
Aspek Dimensi
Kognitif Afektif Konatif
∑
Tabel III.3
Perincian jawaban positif – negatif
Tangible Reliability Responsiv Assuran Empaty
Positif 1, 2,3,4 5, 6,7,8 9 13, 14,15,16
17, 19
Negatif - - 10,11, 12 - 18,20
Pengukuran sikap nasabah terhadap pelayanan jasa didasarkan pada indikator-indikatornya. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial, skala Likert yang digunakn sudah dimodivikasi. Jawaban setiap item instrumen tersaji dalam tabel berikut ini :
Tabel III.4
Alternatif jawaban responden
Alternatif Jawaban Responden Skor Alternatif
Pertanyaan Positif Pertanyaan Negatif Sangat Setuju (SS) 4 1
Setuju (S) 3 2 Tidak Setuju (TS) 2 3 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4
b. Varibel Bebas (independent).
1) Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh masyarakat yang meliputi :
Tabel III.5
2) Jenis Pekerjaan
Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan penghasilan. Jenis pekerjaan berdasarkan pekerjaan pokok
Pekerjaan pokok adalah suatu jenis pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang sebagai sumber utama dari penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
3) Tingkat Pendapatan
Tingkat penghasilan adalah jumlah seluruh penghasilan rata-rata setiap bulan yang diperoleh dari kegiatan usaha tertentu yang dinyatakan dalam nilai nominal rupiah. Dalam penelitian ini yang dimaksud adalah tingkat penghasilan keluarga tiap bulannya. Adapun pedoman untuk memberikan skor pada alternatif jawaban adalah sebagai berikut
Tabel III.7 Tingkat Pendapatan
No Keterangan
(Dalam Rupiah)
F. Teknik Pengumpulan Data.
1. Kuesioner atau angket.
Kuesioner adalah data dengan menggunakan sejumlah pertanyaan tertulis yang kemudian dibagikan kepada responden yang sesuai dengan karakteristik penelitian. Kuesioner yang dipakai adalah kuesioner tertutup dimana peneliti telah menyediakan alternatif jawaban. Isi kuesioner terbagi dalam dua bagian yaitu:
2. Wawancara.
Wawancara digunakan untuk mencari informasi tentang gambaran umum perusahaan yang diperoleh dari kepala bagian Perum Pegadaian dengan jalan Tanya jawab sepihak dengan subjek penelitian yang dikerjakan secara sistematis berlandaskan berdasarkan tujuan penelitian.
3. Dokumentasi.
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara memperoleh data dari sumber catatan atau arsip perusahaan dan media massa untuk mengetahui gambaran umum Perum Pegadaian.
G. Pengujian Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitain ini adalah kuesioner, maka untuk mengukur kevalidan dan keandalannya, dilakukan pengujian terlebih dahulu.
Adapun alat pengujian tersebut meliputi : 1. Analisis Validitas
Analisis validitas untuk mengukur kevalidan kuesioner yang dibagikan kepada responden di gunakan teknik Korelasi Product Moment dari Karl Pearson (Hadi, 1991; 14).
Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi setiap item. x = Nilai setiap item.
y = Nilai total setiap item. N= Banyak sampel.
Besarnya rxy dapat dihitung dengan menggunakan korelasi dengan taraf signifikansi (α) = 5 %. Jika rxy lebih besar dari r tabel maka item kuesioner yang digunakan dengan alat ukur dapat dikatakan valid. Sebaliknya apabila rxy lebih kecil dari r tabel, maka pengukuran tersebut tidak valid. 2. Hasil Uji Validitas
Pengujian validitas dilakukan dilakukan dengan mengambil sampel 30 responden di kantor pegadaian cabang Pandangan. Pada sampel sejumlah itu nilai df = N-2 (dk =30-2=28), sehingga didapatkan nilai koefisien r tabel = 0,239. Pengujian validitas dilakukan dengan bantuan Statistical Package Social Sciences (SPSS) versi 13.0. (lihat lampiran Reliabilitas dan Validitas hal 115)
Tabel III.8
Hasil Pengujian Validitas Sikap Nasabah terhadap Pelayanan jasa
6 0.332 0,239 Valid
3. Analisis Reliabilitas
Reliabilitas adalah tingkat kestabilan dan keandalan alat ukur dalam mengukur gejala. Reliabilitas menunujuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengukuran data dapat memberikan hasil relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali pada subyek yang sama atau dengan kata lain untuk menunjukkan adanya kesesuaian antara sesuatu yang diukur dan jenis alat ukur yang dipakai. Pengukuran ini menggunakan Alpha Cronbach (Arikunto, 1997; 171).
Keterangan :
4. Hasil Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas dilakukan dengan mengambil sampel 30 responden di kantor pegadaian cabang Pandangan. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 13.0 (Lihat lampiran Reliabilitas dan Validitas hal 115).
Tabel III.9
Hasil Pengujian Reliabilitas
Variabel Penelitian Koef.r11 Koef.
r tabel
Kesimpulan
Sikap nasabah terhadap
pelayanan jasa pegadaian 0.817 0,239 Reliabel
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa koefisien alpha (r11) untuk
H. Uji Prasyarat Analisis
1. Uji Normalitas
Untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang tepat, diperlukan analisis data yang benar, sebelum dilakukan analisis terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis yaitu uji normalitas.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak. Untuk mengetahui hal tersebut digunakan rumus Kolmogorav-Smirnov (Sugiyono 1999; 225) dinyatakan dalam rumus.
( )
( )
Sn = distribusi kumulatif yang ditentukan
( )
X2Sn = distribusi kumulatif yang diobservasi 2. Uji Homogenitas
I. Pengujian Hipotesis
Setelah dilakukan pengujian normalitas dengan menggunkan SPSS ternyata didapatkan hasil bahwa variabel yang diteliti berdistribusi normal. Sedangkan hasil pengujian homogenitas menunjukkan bahwa varians populasi untuk variabel tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan adalah homogen. Mengingat prasyarat pengujian hipotesis demikian, maka pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan One Way Anova.
kuantitatif yaitu data yang harganya berubah-ubah dan bersifat variabel, dari nilai yang diperoleh disebut data (Sudjana, 1996; 4).
a. Perumusan hipotesis
1) Perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian cabang Pandangan- Rembang berdasarkan tingkat pendidikan Ho : Tidak ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa
pegadaian cabang Pandangan – Rembang ditinjau dari Tingkat pendidikan .
H1 : Ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian cabang Pandangan – Rembang ditinjau dari Tingkat pendidikan .
2) Perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian cabang Pandanagn –Rembang berdasarkan jenis pekerjaan.
Ho : Tidak ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian cabang Pandangan – Rembang ditinjau dari jenis pekerjaan.
H1 : Ada perbedaan sikap nasabah terhadap pelayanan jasa pegadaian cabang Pandangan – Rembang ditinjau dari jenis pekerjaan.
Ho : Tidak ada perbedaan sikap nasabah tehadap pelayanan jasa pegadaian cabang Pandangan- Rembang ditinjau dari tingkat pendapatan.
H1 : Ada perbedaan sikap nasabah tehadap pelayanan jasa pegadaian cabang Pandangan- Rembang ditinjau dari tingkat pendapatan.
b. Menetapkan tingkat signifikansi yang digunakan.
Nilai signifikansi pengujian dilambangkan dengan α. Nilai α ditetapkan sebesar 5 %.
c. Menentukan daerah penerimaan dan penolakan Ho diterima jika F hitung < F tabel.
61
BAB IV
GAMBARAN UMUM PEGADAIAN PANDANGAN REMBANG
A. Sejarah Berdirinya Pegadaian Cabang Pandangan
Menurut sejarah pegadaian Pandangan berdiri sejak pemerintahan Belanda tepatnya pada tahu 1932. Berdirinya pegadaian Pandangan bertepatan dengan ditetapkanya Pegadaian sebagai suatu jawatan yaitu suatu lembaga resmi yang merupakan bagian dari birokrasi pemerintahan. Ketetapan pegadaian lembaga resmi jawatan ini tertuang dalam Stbl tahun No. 266. jawatan pegadaian pada saat itu dipimpin oleh seorang kepala jawatan (Hoofd van den Dienst) yang dibantu oleh seorang kepala muda (Onderhoofd) dan dibantu olh tujuh staf bagian. Perlu diketahui bahwa pegawai cabang pegadaian umumnya pada saat itu adalah orang Indonesia (pribumi) bahkan pimpinan cabangpun (disebut beheerder) dipegang oleh orang Belanda. Peralihan pimpinan secara bertahap kepada orang Indonesia barulah terjadi pada masa kemerdekaan. Pegadaian Pandangan saat itu juga sudah menggunakan taksiran dalam memberikan pinjaman dengan ditempatkannya seorang ahli taksir yang tugasnya terutama mengawasi nilai atau taksiran barang jaminan.