ABSTRAK
SIKAP SISWA TERHADAP PERILAKU MENYONTEK
DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN JENIS KELAMIN SISWA
Studi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016
Maria Guido Mega Yoganingtyas Universitas Sanata Dharma
2016
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya perbedaan sikap siswa kelas VIII terhadap perilaku menyontek yang ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua dan jenis kelamin siswa. Jenis penelitian ini termasuk penelitian studi kasus.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April 2016. Sampel penelitian diambil 122 responden dengan purposive sampling yang terdiri dari siswa - siswi SMP Kelas VIII di SMP Negeri 8, SMP Negeri 12, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Setelah data diuji validitas dan reliabilitasnya dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Uji Mann-Whitney dan Uji Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua (nilai asymp sig 0,091 untuk tingkat pendidikan ayah dan nilai asymp sig 0,115 untuk tingkat pendidikan ibu). (2) tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek ditinjau dari jenis kelamin siswa (nilai asymp. Sig. (2-tailed) 0,073).
▸ Baca selengkapnya: menurut pendapat anda, bagaimana sebaiknya sikap orang tua dito ketika nilai ipa dito tertinggal dari teman-temannya? jelaskan.
(2)ABSTRACT
STUDENTS’ ATTITUDES TOWARD CHEATING BEHAVIOR PERCEIVED FROM PARENTS’ EDUCATIONAL LEVEL AND
STUDENTS GENDER
A Case Study on Junior High School Students in Yogyakarta 2015/2016 Academic Year
Maria Guido Mega Yoganingtyas Sanata Dharma University
2016
This study aims to see whether there is any difference of the eights grade students toward cheating behavior perceived from the level of parents' education and gender of students. This study is a case study
This study was conducted from February to April 2016. The samples were 122 respondents taken by purposive sampling from Junior High School of SMP Negeri 8, SMPN 12, SMPN 15 and SMPN 16. Data collection technique was a questionnaire. Data were tested for their validity and reliability and done by using Mann-Whitney and Kruskal-Wallis.
SIKAP SISWA TERHADAP PERILAKU MENYONTEK
DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN
JENIS KELAMIN SISWA
Studi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi
Oleh:
Maria Guido Mega Yoganingtyas NIM : 121334009
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
SIKAP SISWA TERHADAP PERILAKU MENYONTEK
DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN
JENIS KELAMIN SISWA
Studi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi
Oleh:
Maria Guido Mega Yoganingtyas NIM : 121334009
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
SITAT
SISWATERIIAI}AP PERILAI(U
MEI\IYOFTTEKDITINJAU DARI
TINGKAT
PEI\IDIDIKAI\I ORANG TUA DAhtJENIS
KELAMIN
SISWAStudi Kasus pqrda Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta
: ,
TahunAjaru20l5B0l6SKRIPSI
SIKAP SISWA
TERIIADAP PERILAKU
MEI\TYONTEKDITINJAU DARI
TINGKAT
PENDIDIKANT ORANG TUA DAhtJENIS
KELAMIN
SISWAStudi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yoryakarta Talrun Ajaran 201 5 l20l 6
Dipersiapkan dan ditulis oteh :
Maria Guido Mega Yoganingtyas
Kegrruan dan Ilmu Pendidikan SanataDharma
lll
Tanda Tangan
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya yang tersusun ini saya persembahkan kepada:
TUHAN YESUS KRISTUS dan BUNDA MARIA.
Kedua orang tuaku Bapak Albertus Sumaryono dan Ibu Veronika Sri Supartini.
Kakakku mbak Regina Rita Sri Maryati dan Adikku dek Gregorius Galih Bagus Saputra.
Keluarga Trah Gemawang dan Trah Karangmojo.
Teman-teman di Pendidikan Akuntansi 2012.
Rekan hidupku kelak.
PERI{YATAAITI KEASLIAN XARYA
Sryamydakan@nn
se$nsgirhnya bohwa slcipsi )ang sayatulis ini tidak mcrrlust*arya dal@ia
kyaormg
lairr, k6cuali )4axtgtela.h disebutkan dalamhrtiF
&n daftar puffika' senagaimna lqnknva lwya iltni&.YogyakuE, 28 Juti 2016
Pedis
A#
,d
idaria Guido l.{cga Yog&ingt}€s
l
I "j
i
l I lLEMBAR PERNTYATAANi PERSETUJUAIT
PUBLIKASI KARYA
ILMHII
T]NTUK KEPENTINGAN AKADEMISYang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama
: Maria Guido Mega YoganingtyasNomorMahasiswa :121334009
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, sY& memberikan kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
SIKAP SISWA
TERIIADAP PERILAKU
MEI\TYONTEKDITINJAU DARI
TINGKAT
PENDIDIKAIT ORANG TUADAN
JENIS
KELAMIN
SISWAStudi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta Tahun Ajaran 201512016
Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata
Dharma
hak
untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secala terbatas, dan
mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis
tanpa perlu meminta
ijin
dari saya maupun memberikan royalti kepada sayaselamatetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenamya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal : 28 Juli 2016
Yang menyatakan,
/4#
4-)-Maria Guido Mega Yoganingtyas
viii ABSTRAK
SIKAP SISWA TERHADAP PERILAKU MENYONTEK
DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN JENIS KELAMIN SISWA
Studi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016
Maria Guido Mega Yoganingtyas Universitas Sanata Dharma
2016
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya perbedaan sikap siswa kelas VIII terhadap perilaku menyontek yang ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua dan jenis kelamin siswa. Jenis penelitian ini termasuk penelitian studi kasus.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April 2016. Sampel penelitian diambil 122 responden dengan purposive sampling yang terdiri dari siswa - siswi SMP Kelas VIII di SMP Negeri 8, SMP Negeri 12, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Setelah data diuji validitas dan reliabilitasnya dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Uji Mann-Whitney dan Uji Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua (nilai asymp sig 0,091 untuk tingkat pendidikan ayah dan nilai asymp sig 0,115 untuk tingkat pendidikan ibu). (2) tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek ditinjau dari jenis kelamin siswa (nilai asymp. Sig. (2-tailed) 0,073).
ix
ABSTRACT
STUDENTS’ ATTITUDES TOWARD CHEATING BEHAVIOR PERCEIVED FROM PARENTS’ EDUCATIONAL LEVEL AND
STUDENTS GENDER
A Case Study on Junior High School Students in Yogyakarta 2015/2016 Academic Year
Maria Guido Mega Yoganingtyas Sanata Dharma University
2016
This study aims to see whether there is any difference of the eights grade students toward cheating behavior perceived from the level of parents' education and gender of students. This study is a case study
This study was conducted from February to April 2016. The samples were 122 respondents taken by purposive sampling from Junior High School of SMP Negeri 8, SMPN 12, SMPN 15 and SMPN 16. Data collection technique was a questionnaire. Data were tested for their validity and reliability and done by using Mann-Whitney and Kruskal-Wallis.
The results show that: (1) there is no difference in students' attitudes
toward cheating behavior perceived from the level of parents’ education.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkat-Nya, karena penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyusun skripsi dengan
judul: “Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Orang Tua dan Jenis Kelamin Siswa”. Studi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta. Tahun ajaran 2015/2016.
Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma;
2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma;
3. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma; 4. Bapak Drs. Bambang Purnomo, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing
yang telah banyak meluangkan waktu, sabar dalam mengarahkan, memberikan kritik, saran dan memberikan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
xi
Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan tambahan pengetahuan, dukungan dan bantuan selama proses perkuliahan; 6. Mbak Theresia Aris Sudarsilah selaku staf sekretariat Program Studi
Pendidikan Ekonomi, Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu dalam kelancaran proses belajar dan administrasi selama ini;
7. Pimpinan dan seluruh staf beserta karyawan perpustakaan Mrican, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah bersedia melayani peminjaman buku-buku serta menyediakan fasilitas selama belajar hingga penyusunan skripsi ini;
8. Pimpinan dan seluruh staf beserta karyawan BAA, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah bersedia melayani administrasi selama ini; 9. Orang tua saya Bapak Albertus Sumaryono dan Ibu Veronika Sri Supartini,
mbak Regina Rita Sri Maryati, dek Gregorius Galih Bagus Saputra, Mbak Ipung, keluarga Trah Gemawang dan Trah Karangmojo yang telah memberikan dukungan doa, dukungan material, semangat, motivasi, dan cinta kepada penulis selama ini;
10. Sahabatku Tika, Tere, dan Olive yang selalu menghibur, memberikan semangat dan doa selama ini.
11. Teman-teman seperjuangan kelompok skripsi Siwi, Tomo, Denny, Jalu, Yosep, Panji dan Umex, yang sudah memberikan masukan dan bantuan kepada penulis selama ini.
12. Rekan-rekan mahasiswa angkatan 2012 yang telah membantu dan memberi masukan, dukungan dan kerjasama yang baik selama ini.
xii
14. Segenap pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, terima kasih untuk bantuan dan dukungannya selama ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi penulis sendiri. Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, untuk itu saran dan kritik yang membangun senangtiasa penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Terima kasih.
Yogyakarta, 28 Juli 2016 Penulis
xiii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERTSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xix
DAFTAR LAMPIRAN ... xx
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah Penelitian ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan Karakter dan Nilai Pendidikan Karakter ... 8
B. Sikap ... 10
1. Pengertian Sikap ... 10
2. Komponen Sikap ... 11
xiv
C. Menyontek ... 12
1. Pengertian Menyontek ... 12
2. Faktor-faktor Penyebab Menyontek ... 14
3. Bentuk-bentuk Menyontek ... 15
D. Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 16
1. Pengertian Pendidikan ... 16
2. Tingkat Pendidikan ... 17
E. Gender ... 18
1. Pengertian Gender ... 18
2. Sejarah Perbedaan Gender ... 19
F. Jenis Kelamin Siswa ... 23
G.Kerangka Berpikir... 23
H. Penelitian yang Relevan... 26
I. Hipotesis ... 27
BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 29
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 29
C. Variabel Penelitian ... 30
D. Subjek dan Objek Penelitian ... 30
E. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel ... 31
F. Variabel Penelitian dan Pengukurannya ... 33
G. Teknik Pengumpulan Data... 38
H. Pengujian Instrumen Penelitian ... 41
1. Uji Validitas Instrumen... 41
2. Uji Reliabilitas Instrumen ... 47
I. Teknik Analisis Data ... 49
1. Teknik Deskriptif ... 49
2. Uji Prasyarat Analisis ... 51
xv BAB IV. GAMBARAN UMUM
A. SMP Negeri 8 Yogyakarta ... 53
B. SMP Negeri 12 Yogyakarta ... 53
C. SMP Negeri 15 Yogyakarta ... 54
D. SMP Negeri 16 Yogyakarta ... 55
BAB V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ... 56
B. Pengujian Prasyarat Analisis Data ... 69
1. Pengujian Normalitas... 69
2. Pengujian Homogenitas ... 72
C. Pengujian Hipotesis ... 74
D. Pembahasan ... 79
BAB VI. KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN A. Kesimpulan ... 82
B. Keterbatasan Penelitan ... 82
C. Saran... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 85
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Nilai-Nilai Karakter dan Deskripsi Karakter ... 9
Tabel 3.1 Tempat Penelitian SMP Negeri di Kota Yogyakarta ... 30
Tabel 3.2 Data Populasi Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta ... 31
Tabel 3.3 Jumlah Sampel Penelitian Siswa Kelas VIII SMP Negeri di Kota Yogyakarta ... 33
Tabel 3.4 Skor Skala Likert dalam Kuesioner ... 35
Tabel 3.5 Indikator Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 38
Tabel 3.6 Indikator Jenis Kelamin Siswa ... 38
Tabel 3.7 Kisi-kisi Variabel Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek ... 40
Tabel 3.8 Rincian Item Favourable dan Item Unfavourable ... 41
Tabel 3.9 Hasil Pengujian Validitas Variabel Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek ... 42
Tabel 3.10 Hasil Pengujian Ulang Validitas Variabel Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek ... 45
Tabel 3.11 Hasil Pengujian Reliabilitas ... 48
Tabel 3.12 Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe II ... 49
Tabel 3.13 Rentang Skor Variabel Sikap Siswa... 50
Tabel 4.1 Daftar Jumlah Siswa SMP Negeri 8 Yogyakarta ... 53
Tabel 4.2 Daftar Jumlah Siswa SMP Negeri 12 Yogyakarta ... 54
Tabel 4.3 Daftar Jumlah Siswa SMP Negeri 15 Yogyakarta ... 54
Tabel 4.4 Daftar Jumlah Siswa SMP Negeri 16 Yogyakarta ... 55
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Asal Sekolah ... 57
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek ... 57
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 58
Tabel 5.4 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ayah SD ... 59
xvii
Tabel 5.6 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ayah SMA ... 61 Tabel 5.7 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ayah PT ... 62 Tabel 5.8 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ibu SD ... 63 Tabel 5.9 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ibu SMP ... 64 Tabel 5.10 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ibu SMA... 65 Tabel 5.11 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ibu PT... 66 Tabel 5.12 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin ... 67 Tabel 5.13 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa Laki-laki ... 67 Tabel 5.14 Deskripsi Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa Perempuan... 68 Tabel 5.15 Hasil Uji Normalitas Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ayah ... 69 Tabel 5.16 Hasil Uji Normalitas Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ibu ... 70 Tabel 5.17 Hasil Uji Normalitas Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa ... 71 Tabel 5.18 Hasil Uji Homogenitas Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ayah ... 72 Tabel 5.19 Hasil Uji Homogenitas Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ibu ... 73 Tabel 5.20 Hasil Uji Homogenitas Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Jenis Kelamin ... 73 Tabel 5.21 Hasil Uji Kruskal Wallis Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
xviii
Tabel 5.22 Hasil Uji Kruskal Wallis Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kelompok Ibu ... 76 Tabel 5.23 Hasil Uji Kruskal Wallis Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 77 Tabel 5.24 Hasil Uji Mann Whitney Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
Menyontek Berdasarkan Jenis Kelamin ... 78 Tabel 5.25 Hasil Uji Mann Whitney Mengenai Sikap Siswa Terhadap Perilaku
xix
DAFTAR GAMBAR
xx
DAFTAR LAMPIRAN
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perilaku menyontek menjadi fenomena yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan. Kebanyakan siswa di SD, SMP, SMA/K maupun mahasiswa di perguruan tinggi pernah menyontek. Menyontek dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menulis di atas meja, menulis di kertas atau tissue, menulis di anggota tubuh, bertanya kepada teman, searching menggunakan ponsel, melihat dan menyalin jawaban teman,
menyontek dari buku yang diletakkan di laci atau di WC, dan lain-lain. Perilaku menyontek merupakan suatu upaya yang dilakukan pelajar dan mahasiswa untuk mendapatkan nilai yang baik. Beberapa alasan lainnya pelajar atau mahasiswa menyontek adalah agar mendapatkan pujian dari orang tua, guru, dan teman-temannya; tidak siap dalam ulangan atau ujian; tidak percaya diri; kesulitan dalam mata pelajaran tertentu; malas belajar; dan sebagai bentuk solidaritas antarteman. Bila hal ini terus-menerus dibiarkan dapat dipastikan pendidikan di Indonesia akan mengalami kemunduran.
penipuan, dan plagiatisme yang marak terjadi merupakan contoh dari kegagalan dunia pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.
Fakta tentang perilaku ketidakjujuran di dunia pendidikan biasanya banyak terjadi saat menjelang ujian. Hal ini di dukung oleh hasil penelitian oleh Hartanto dalam Pihatnaningtyas (2014 : 21) yang menunjukkan bahwa intensitas perilaku menyontek di SMP swasta di daerah Pondok Cabe Jakarta berada pada posisi sedang (53,3%), rendah (33,3%), dan tinggi (13,3%). Bentuk perilaku menyontek yang biasa dilakukan oleh peserta didik antara lain melihat, menyalin, dan meminta jawaban dari teman-temannya.
Di samping itu, perilaku menyontek juga disebutkan dalam website komunitas air mata guru (www.komunitasairmataguru.blogspot.co.id). Dalam website tersebut disebutkan banyak kecurangan dalam UN baik yang dilakukan oleh siswa maupun guru. Selain itu, hasil penelitian longitudinal Anderman dalam Mubiar (2011 : 4) menunjukkan bahwa menyontek sering dilakukan siswa SMP dikarenakan adanya perubahan keadaan lingkungan belajar yang dialami siswa. Hal ini disebabkan oleh siswa mengalami masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah, struktur kelas yang berbeda, dan lingkungan sekolah yang kompetitif.
SMP, siswa akan mulai memasuki dunia baru yang berbeda dengan pengalaman di sekolah dasar serta banyak hal baru yang menuntut individu untuk menyesuaikan diri, terutama pada siswa kelas VII.
Perubahan keadaan lingkungan belajar mengakibatkan siswa melakukan tindakan menyontek. Mereka menganggap tindakan itu sebagai bentuk solidaritas antarteman. Menyontek biasanya lebih banyak dilakukan pada pelajaran matematika dan ilmu alam atau ilmu pasti, dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Menyontek biasanya terjadi pada waktu ulangan atau ujian.
Faktor jenis kelamin siswa dapat dilihat dari perbedaan sikap antara siswa laki-laki dan siswi perempuan. Menurut Gunarsa (1991) terdapat perbedaan pada laki-laki dan perempuan, yaitu jika perempuan lebih mengandalkan aspek-aspek emosional, perasaan, dan suasana hati sedangkan untuk laki-laki lebih terlihat agresif, lebih aktif, dan tidak sabaran dalam menyelesaikan masalah. Di bidang prestasi, laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang besar karena laki-laki memiliki keinginan yang lebih besar untuk sukses daripada perempuan. Oleh karena itu laki-laki lebih agresif dalam menggapai cita-citanya daripada perempuan (Kumara, 1990). Cita-cita ini merupakan objek yang ingin dicapai, sehingga cita-cita dapat mempengaruhi siswa dalam bersikap karena menurut Seares (Adi, 1994) sikap sangat dipengaruhi oleh objek yang ada.
Prof. Djemari Mardapi, Ph.D. (wawancara dilakukan bulan Agustus 2015) menyatakan bahwa pada tahun 2015 wilayah DIY termasuk daerah putih (daerah yang bersih dari kecurangan dalam UN). Pernyataan ini bertentangan dengan hasil penelitian Anderman yang menyatakan bahwa perilaku menyontek sering dilakukan oleh siswa SMP.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah ada perbedaan sikap siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri di kota Yogyakarta terhadap perilaku menyontek yang ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua ?
2. Apakah ada perbedaan sikap siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri di kota Yogyakarta terhadap perilaku menyontek yang ditinjau dari jenis kelamin siswa?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui perbedaan sikap siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri di kota Yogyakarta terhadap perilaku menyontek yang ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua.
2. Untuk mengetahui perbedaan sikap siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri di kota Yogyakarta terhadap perilaku menyontek yang ditinjau dari jenis kelamin siswa.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru dalam mengetahui dan mencegah perilaku menyontek siswa-siswa SMP sehingga hasil ujian atau ulangan benar-benar merupakan hasil belajar siswa dan mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Dengan demikian, pengambilan keputusan terkait dengan nilai yang dihasilkan siswa tidak bias.
2. Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa yaitu siswa lebih menyadari tentang kemampuan yang dimiliki dan dapat mengoptimalkan kompetensi-kompetensi yang ada pada diri siswa. 3. Bagi Sekolah dan Bagi Perguruan Tinggi
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah dan perguruan tinggi dalam mengimplementasikan pendidikan karakter khususnya kejujuran dalam belajar. Implementasi pendidikan karakter dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, salah satunya adalah mendidik untuk jujur dalam ulangan atau ujian.
4. Bagi Penulis
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan Karakter dan Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter terbentuk dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter. Pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk menciptakan seseorang yang dapat berguna di masa yang akan datang, sedangkan karakter adalah suatu atribut yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas, mental satu orang dengan orang lainnya (Samani, 2013). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang sungguh-sungguh dilakukan dan mampu menciptakan ciri pribadi yang berbeda antara orang satu dengan lainnya. Pendidikan karakter memiliki makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak, yang mana tujuannya adalah untuk membentuk karakter pribadi anak supaya menjadi manusia dan warga negara yang baik.
Tabel 2.1 Nilai-Nilai Karakter dan Deskripsi Karakter No. Nilai Karakter Deskripsi
1 Kedamaian Sikap dan perilaku yang menyukai adanya harmoni dan bebas dari konflik dan gangguan, serta suka akan ketenangan.
2 Menghargai Menghargai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Bersikap beradab, sopan, tidak melecehkan, tidak menghina orang lain, dan tidak menilai orang lain sebelum mengenalnya dengan baik.
3 Kerjasama Saling membantu untuk mencapai sebuah tujuan.
4 Kebebasan Tidak adanya paksaan/tekanan yang sengaja mendesak seseorang untuk bertindak melawan kehendak diri sendiri.
5 Kebahagian Suatu keadaan di mana hadir kesenangan, ketentraman, dan kepuasan terhadap apa-apa yang telah dicapai.
6 Kejujuran Menjunjung tinggi kebenaran, ikhlas dan lurus hari, tidak suka berbohong, mencuri dan memfitnah, tidak pernah bermaksud menjerumuskan orang lain.
7 Kerendahan Hati Mengakui adanya peranan dan jasa orang lain dan tidak pernah menonjolkan diri.
8 Kasih sayang Memiliki dan menunjukkan perasaan penuh kasih sayang, mencintai, dan bersikap penuh kelembutan
9 Tanggung Jawab Melakukan tugas sepenuh hati, bekerja dengan etos kerja yang tinggi, berusaha keras mencapai prestasi terbaik, mampu mengontrol diri, dan berdisiplin diri.
10 Kesederhanaan Suatu keadaan tentang bagaimana berlaku sederhana, tidak pamer, bermewah-mewah, tidak berpikiran melit, dan rumit.
11 Toleransi Menerima secara terbuka orang lain dengan tingkat kematangan dan latar belakang yang berbeda.
B. Sikap
1. Pengertian Sikap
Pengertian sikap didefinisikan berbeda-beda oleh para ahli. Azwar (2009) mendefinisikan sikap sebagai bentuk pernyataan seseorang terhadap hal-hal yang ditemuinya seperti benda, orang, ataupun fenomena. Sikap membutuhkan stimulus untuk menghasilkan respon. Sikap merupakan perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavorable) pada suatu objek. Istilah sikap atau attitude pada awalnya digunakan untuk menunjukkan status mental individu. Sikap dapat menuntun perilaku individu sehingga individu akan bertindak sesuai dengan sikap yang diekspresikan. Kesadaran individu untuk menentukan tingkah laku nyata dan perilaku yang mungkin terjadi itulah yang dimaksud dengan sikap.
berperanan sekali dalam mengambil tindakan, lebih-lebih jika terbuka dari berbagai kemungkinan untuk bertindak.
Dari pengertian-pengertian sikap di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan nilai yang dimiliki seseorang dalam merespon fenomena-fenomena yang ada.
2. Komponen Sikap
Azwar (2005) menggolongkan komponen-komponen sikap ke dalam tiga komponen yaitu:
a. Komponen Kognitif
Komponen kognitif yakni kepercayaan seseorang mengenai apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan yang dibentuk menjadi dasar pengetahuan seseorang terhadap objek yang diharapkan.
b. Komponen Afektif
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Reaksi emosional dari komponen afektif banyak dipengaruhi oleh kepercayaan yang dipercayai bagi objek tertentu.
c. Komponen Konatif
Komponen konatif menunjukkan perilaku yang ada dalam diri seseorang yang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.
3. Faktor Pembentuk Sikap
Faktor-faktor pembentuk sikap individu menurut Azwar (2005) yaitu:
a. Pengalaman Pribadi
b. Kebudayaan
Kebudayaan menanamkan pengaruh sikap terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat. c. Orang Lain yang Dianggap Penting
Pada umumnya individu cenderung memiliki sikap konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang dianggap penting.
d. Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Dalam penyampaian informasi, media massa memberikan pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Pesan sugesti tersebut apabila cukup kuat akan memberi dasar efektif dalam menilai suatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Pemahaman baik dan buruk, sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan keagamaan. Konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan, maka konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap suatu hal.
f. Emosional
Suatu bentuk sikap pernyataan yang didasari oleh emosi berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
C. Menyontek
1. Pengertian Menyontek
Sedangkan Anderman dan Murdock dalam Purnamasari (2013) menyatakan bahwa perilaku kecurangan akademik merupakan penggunaan segala kelengkapan dari materi ataupun bantuan yang tidak diperbolehkan digunakan dalam tugas-tugas akademik dan atau aktivitas yang mengganggu proses asesmen.
Bower dalam Purnamasari, (2013) mendefinisikan cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah dan terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademik untuk menghindari kegagalan akademik. Sedangkan menurut Pincus & Schemelkin (Mujahidah, 2009) perilaku menyontek merupakan suatu tindakan curang yang sengaja dilakukan ketika seseorang mencari dan membutuhkan adanya pengakuan atas hasil belajarnya dari orang lain meskipun dengan cara yang tidak sah seperti memalsukan informasi terutama ketika dilaksanakannya evaluasi akademik.
2. Faktor-faktor Penyebab Menyontek
Salah satu alasan yang mendorong individu untuk menyontek adalah untuk memuaskan harapan orang tua. Santrock (2003) mengatakan bahwa tidak jarang orang tua dalam mengasuh atau mendidik anak-anaknya dipengaruhi oleh keinginan atau ambisi dari orang tua tanpa melihat kemampuan anaknya. Orang tua bermaksud ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, namun keinginan tersebut muncul tanpa memperhatikan kemampuan anak.
Sikap orang tua yang mengharapkan terlalu berlebihan pada anak akan menghambat anak untuk menunjukkan prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki. Menurut Gunarsa & Gunarsa (1991), biasanya anak menyadari harapan orang tuanya. Oleh karena itu, sikap yang terlalu menuntut dapat menyebabkan anak merasa takut kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini menimbulkan rasa rendah diri, gangguan tingkah laku, berkurangnya motivasi untuk belajar serta ketegangan atau kecemasan dalam diri anak.
Agustin (2014) menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan siswa menyontek pada saat ujian. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berupa angka dan nilai yang diperoleh siswa dalam tes formatif atau sumatif.
b. Pendidikan moral, baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan dalam kehidupan siswa.
c. Sikap malas yang tertanam dalam diri siswa sehingga ketinggalan dalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab. d. Anak remaja lebih sering menyontek daripada anak SD karena masa
remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan teman-teman sekelasnya.
Disadari atau tidak, siswa yang menyontek pada saat ujian disebabkan oleh satu atau lebih faktor-faktor di atas.
Perilaku menyontek ini akan mengakibatkan perilaku atau watak tidak percaya diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak mau membaca buku pelajaran tetapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk bahan menyontek, menghalalkan segala macam cara, dan akhirnya menjadi koruptor (Buchari dalam Prihatnaningtyas 2014). Dengan demikian tampak bahwa perilaku menyontek secara tidak langsung membelajarkan pada siswa untuk menjadi seorang koruptor.
3. Bentuk-bentuk Menyontek
Bentuk-bentuk perilaku menyontek menurut Hetherington and Feldman dalam Veronikha (2013) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Social Active
1) Melihat jawaban teman yang lain ketika ujian berlangsung. 2) Meminta jawaban kepada teman yang lain ketika ujian sedang
berlangsung.
b. Individualistic-Opportunistic
1) Menggunakan HP atau alat elektronik lain yang dilarang ketika ujian sedang berlangsung.
2) Mempersiapkan catatan yang digunakan pada saat ujian akan berlangsung.
3) Melihat dan menyalin sebagian atau seluruh hasil kerja teman lain pada saat tes.
c. Individual Planned
1) Mengganti jawaban ketika guru ke luar kelas.
2) Membuka buku teks ketika ujian sedang berlangsung.
d. Social Passive
1) Mengizinkan orang lain melihat jawaban ketika ujian sedang berlangsung.
2) Membiarkan orang lain menyalin pekerjaannya.
3) Memberi jawaban tes kepada teman pada saat ujian sedang berlangsung.
D. Tingkat Pendidikan Orang Tua 1. Pengertian Pendidikan
Pada hakikatnya pendidikan itu merupakan usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengembangkan suatu keterampilan yang dimiliki, melalui usaha belajar dan ditanamkan juga nilai-nilai moral serta pandangan hidup yang nantinya akan membentuk kepribadian dan karakter dari seseorang.
Pendidikan merupakan keseluruhan dari proses, teknik, dan metode belajar mengajar dalam rangka mengalihkan suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan standar yang ditentukan. Unsur-unsur penting dalam pendidikan adalah proses pengembangan kemampuan, pengetahuan, sikap, tingkah laku, kompetensi sosial, dan pribadi yang optimal.
Menurut Fuad Ihsan (2003 :5), pendidikan dapat diartikan sebagai : a. Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan; b. Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan kepada anak dalam
pertumbuhannya;
c. Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu yang dikehendaki oleh masyarakat;
Menurut Ki Hajar Dewantoro (Suwarno, 1885) pendidikan adalah penentu segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab I ketentuan Umum Pasal 1, yang dimaksud pendidikan adalah :
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 2. Tingkat Pendidikan
Menurut Fuad Ihsan (2003) tingkat atau jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, dan tingkat kerumitan bahan pengajaran. Jenjang pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab VI jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian ketiga pasal 18 disebutkan pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar; pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan; pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab VI jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian keempat pasal 19 disebutkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi; pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.
E. Gender
1. Pengertian Gender
melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.
2. Sejarah Perbedaan Gender
Teori teorikus berspekulasi bahwa beberapa faktor berkontribusi terhadap perbedaan gender. Karakteristik dan kecenderungan yang diturunkan memiliki peran substansial dalam sebagian perbedaan, sedangkan faktor-faktor lingkungan lebih berkontribusi terhadap perbedaan yang lain. Dalam banyak kasus, faktor biologis (yaitu keturunan) dan pengalaman (yaitu lingkungan) berhubungan dan saling melengkapi sehingga memperkuat pengaruh masing-masing (Lippa, 2002, dalam Ormrod, 2009 :182)
Peran identitas jenis kelamin adalah salah satu pemahaman tentang kepribadian manusia yang berdasarkan jenis kelaminnya (laki-laki dan perempuan) dan mempengaruhi perilaku dan nilai yang dikembangkan oleh individu. Perkembangan peran identitas jenis kelamin pada diri seseorang tidak bisa lepas dari unsur biologis dan psikis. Sarwono (2005) mengatakan bahwa peran gender adalah bagian dari peran sosial, anak harus menyadari perannya masing-masing yaitu peran sebagai anak perempuan atau peran sebagai anak laki-laki sehingga mereka mempelajari perannya masing-masing.
memberi makna kehidupan dan kegairahan hidup. Perbedaan khusus tersebut dapat dilihat dari segi psikis dan biologis, yaitu (Gunarsa, 1991) :
a. Segi Psikis
Dari segi psikis dapat disimpulkan dari seluruh tindak tanduk, ucapan dan sikap yang tercangkup dalam istilah kepribadian. Kepribadian seorang perempuan merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi antara aspek-aspek emosional, rasio, dan suasana hati. Biasanya kesatuan dan aspek-aspek tersebut membuat perempuan kuat dan menyebabkan logika berpikirnya dikuasai oleh kesatuan tersebut, (Gunarsa: 1991).
Hal tersebut menunjukkan seolah-olah perempuan berpikir dengan mengikutsertakan perasaan dan suasana hatinya. Apabila kesedihan sedang meliputi dirinya, pikirannya terhambat oleh kegelapan suasana hati dan sulit memperoleh penyelesaian masalah. Pikiran, perasaan, dan kemampuan yang erat hubungan satu sama lain menyebabkan kaum perempuan cepat mengambil tindakan atas dasar emosinya (Gunarsa: 1991).
kecenderungan mementingkan keseluruhannya dan kurang memperhatikan hal-hal yang kecil (Gunarsa & Gunarsa: 1991).
Pria dalam beraktivitas lebih agresif, lebih aktif, dan tidak sabar karena itu sifat-sifat pria lebih cenderung untuk tidak mau menunggu, kurang tekun dan kurang tabah dalam menghadapi kesulitan hidup dan cepat putus asa. Pria cenderung untuk lebih banyak berinisiatif, keras, dan tegas. Segala hal yang masuk akal jauh lebih dipentingkan daripada yang tidak nyata. (Gunarsa & Gunarsa : 1991). Hal tersebut sesuai dengan karakteristik laki-laki yang maskulin, yaitu cenderung untuk bersifat mandiri, aktif, kompetitif, mudah membuat keputusan, cenderung berperan sebagai pemimpin, tidak mudah menyerah, percaya diri, merasa superior, ambisius dan mampu bertahan dalam kondisi yang memberikan stres. (Spence dan Helmrerch dalam Santrock: 2007). b. Segi Biologis
Santrock (2007), pengaruh biologis pada perilaku gender berhubungan dengan perubahan pubertas. Tubuh mereka dipenuhi oleh hormon, sehingga banyak anak perempuan berkeinginan menjadi perempuan sebaik mungkin (feminim) dan banyak anak laki-laki berusaha keras menjadi laki-laki sebaik mungkin (maskulin). Dengan demikian anak perempuan biasanya bertingkah laku penuh kasih sayang, sensitif, menarik dan bisa berbicara secara halus, sedangkan anak laki-laki biasanya bertingkah laku asertif, sombong dan sangat berkuasa karena anak laki-laki beranggapan bahwa dengan tingkah laku seperi ini akan menambah daya tariknya ke pada lawan jenisnya.
Selain itu ada faktor lain yang ikut mempengaruhi munculnya perbedaan gender. Gender berkaitan dengan stereotip sosial sebagai penentu bagaimana laki-laki atau perempuan bertindak. Lingkungan memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara berbeda-beda serta adanya tuntutan peran yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat (Rais, dalam Gunarsa & Gunarsa, 1991). Santrock (2007) juga berpendapat bahwa stereotip didasarkan pada gender, etnis, atau kelompok-kelompok lain yang menggambarkan anggota tipikal dari suatu kategori sosial tertentu.
mencapai prestasi yang tinggi dipandang tidak feminim lagi. Kebalikannya menurut Hudgson dan Fisher (Kumara :1990), laki-laki cenderung untuk menunjukkan identitasnya melalui kenaikan prestasi.
F. Jenis Kelamin Siswa
Jenis kelamin yang dimaksud adalah siswa laki-laki dan siswi perempuan. Peran identitas jenis kelamin ini adalah salah satu pemahaman tentang kepribadian manusia yang berdasarkan jenis kelaminnya (laki-laki dan perempuan) dan mempengaruhi perilaku dan nilai yang dikembangkan oleh individu. Perbedaan sifat antara laki-laki dan perempuan ini dapat menimbulkan perbedaan dalam hal perhatian, pandangan, cara berpikir, dan perasaan.
G. Kerangka Berpikir
1. Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Orang Tua
Tingkat pendidikan orang tua yang dimaksud adalah tingkat pendidikan formal yaitu SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi yang dicapai oleh orang tua siswa. Setiap siswa mempunyai orang tua yang tingkat pendidikannya berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Salah satu tugas dari orang tua adalah mendidik anaknya dalam menentukan masa depan anak.
Kemampuan orang tua dalam mendidik anak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dicapai oleh orang tua siswa. Tingkat pendidikan orang tua akan berpengaruh terhadap cara pandang orang tua terhadap sesuatu, dalam hal ini adalah terhadap perilaku menyontek. Cara pandang orang tua seperti di atas akan berpengaruh juga kepada anak dalam hal menentukan sikapnya dalam menghadapi perilaku menyontek.
2. Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek Ditinjau dari Jenis Kelamin Siswa
Peran identitas jenis kelamin adalah salah satu pemahaman tentang kepribadian manusia yang berdasarkan jenis kelaminnya (laki-laki dan perempuan) dan mempengaruhi perilaku dan nilai yang dikembangkan oleh individu. Perkembangan peran identitas jenis kelamin pada diri seseorang tidak bisa lepas dari unsur biologis dan psikis.
Perbedaan sifat antara laki-laki dan perempuan dapat menimbulkan perbedaan dalam hal perhatian, pandangan, cara berpikir, dan perasaan. Di bidang prestasi, laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang besar karena laki-laki memiliki keinginan yang lebih besar untuk sukses daripada perempuan. Oleh karena itu, laki-laki lebih agresif dalam menggapai cita-citanya daripada perempuan (Kumara, 1990).
Laki-laki cenderung agresif, lebih aktif, dan tidak sabar karena sifat laki-laki lebih cenderung untuk tidak mau menunggu, kurang tekun, dan kurang tabah dalam menghadapi kesulitan hidup dan cepat putus asa. Siswa laki-laki cenderung untuk lebih banyak berinisiatif, keras, dan tegas.
Perilaku menyontek sangatlah negatif dalam pandangan moralitas. Adanya perbedaan kecenderungan menyontek antara siswa laki-laki dan siswi perempuan karena fakta menunjukkan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar daripada laki-laki (Thomas, dalam Newstead, dkk, 1996).
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Teoritis
H. Penelitian yang Relevan
1. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dengan Perilaku Menyontek
Penelitian ini dilakukan oleh Alvianto (2008) dari Universitas Sanata Dharma. Penelitian yang dilakukan pada siswa-siswi kelas XI di SMA Negeri 1 Dukun Kecamatan Muntilan yang berjumlah 70 orang, menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel motivasi berprestasi dengan perilaku menyontek (r=-0.577,
Tingkat Pendidikan Orang Tua
Jenis Kelamin Siswa
Sikap siswa terhadap perilaku
signifikansi 0.000). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat motivasi berprestasi pada siswa-siswi, maka akan semakin rendah tingkat perilaku menyonteknya. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah tingkat motivasi berprestasi pada siswa-siswi, maka semakin tinggi tingkat perilaku menyonteknya.
2. Perbedaan Sikap antara Mahasiswa Laki-Laki dan Perempuan terhadap Perilaku Menyontek dalam Ujian di Universitas Sanata Dharma.
Penelitian ini dilakukan oleh Meidiana (2005) dari Universitas Sanata Dharma. Penelitian pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang berjumlah 80 orang yang terdiri dari 40 orang laki-laki dan 40 orang perempuan, menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap antara mahasiswa laki-laki dan perempuan terhadap perilaku menyontek. Perbandingan nilai mean pada mahasiswa laki-laki sebesar 132.07 dan pada perempuan sebesar 110.90. Hal ini menunjukkan bahwa sikap mahasiswa laki-laki lebih permisif daripada perempuan terhadap perilaku menyontek dalam ujian di Universitas Sanata Dharma.
I. Hipotesis
Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Hipotesis I
Ho1 : tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek
Ha1 : ada perbedaan sikap siswa terhadap menyontek ditinjau dari
tingkat pendidikan orang tua. 2. Hipotesis II
Ho2 : tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek
ditinjau dari jenis kelamin siswa.
Ha2 : ada perbedaan sikap siswa terhadap menyontek ditinjau dari jenis
29
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Menurut Arikunto (2010:3) penelitian studi kasus adalah penelitian yang benar-benar hanya memaparkan apa yang terdapat atau terjadi dalam sebuah lapangan atau wilayah tertentu. Dalam penelitian ini, siswa akan berperan sebagai responden. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri Yogyakarta dan hasil atau kesimpulan ini tidak bisa direalisasikan pada SMP-SMP lainnya di Yogyakarta sebab penelitian studi kasus merupakan jenis penelitian dengan karakteristik serta masalah yang mempunyai kaitan antara latar belakang dan kondisi nyata saat ini dari subyek yang diteliti. Penelitian studi kasus ini menjelaskan tentang “Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek yang
ditinjau dari Tingkat Pendidikan Orang Tua dan Jenis Kelamin Siswa : Studi Kasus Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8, SMP Negeri 12, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16 di Kota Yogyakarta”.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Tempat Penelitian SMP Negeri di Kota Yogyakarta No Nama Sekolah Alamat Sekolah
1. SMP N 8 Jalan Prof. Dr. Kahar Muzakir No.2, Gondokusuman, Yogyakarta.
2. SMP N 12 Jalan Tentara Pelajar No. 9, Jetis, Yogyakarta.
3. SMP N 15 Jalan Tegal Lempuyangan 61, Danurejan, Yogyakarta.
4. SMP N 16 Jalan Nagan Lor No.8, Keraton, Yogyakarta.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2016 – April 2016.
C. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini variabel-variabel yang diteliti adalah :
1. Variabel bebas : tingkat pendidikan orang tua dan jenis kelamin. 2. Variabel terikat : sikap terhadap perilaku menyontek.
D. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian
[image:53.595.85.513.135.656.2]Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah sikap siswa terhadap menyontek.
E. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel 1. Populasi Penelitian
Menurut Sugiyono (2014: 61), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan menurut Margono (2010: 118), populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi adalah keseluruhan dari subjek yang memiliki karakteristik untuk diteliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang telah ditentukan.
[image:54.595.86.512.183.743.2]Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri Kota Yogyakarta.
Tabel 3.2
Data Populasi Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta No Nama Sekolah Jumlah Siswa
1. SMP N 8 320
2. SMP N 12 168
3. SMP N 15 336
4. SMP N 16 235
Yogyakarta adalah dengan pertimbangan akan ketersediaan waktu, tenaga, biaya peneliti sehingga tidak mungkin sampel diambil dari seluruh SMP se-Kota Yogyakarta.
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2014: 62) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan menurut Yusuf (2014: 150), sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Jadi sampel adalah sebagian besar dari populasi yang sesuai dengan karakter yang telah ditentukan.
Menurut Pamela L. Alreck dan Robert B. Seetle dalam bukunya The Survey Research Handbook untuk populasi yang besar, sampel
minimum kira-kira 100 responden dan sampel maksimumnya adalah 1000 responden atau 10% dengan kisaran angka minimum dan maksimum, secara lebih rinci Jack E. Fraenkel dan Norman E. Wallen menyatakan (meskipun bukan ketentuan mutlak) bahwa minimum sampel adalah 100 untuk studi deskriptif, 50 untuk studi korelasional, 30 per kelompok untuk studi kausal komparatif.
Dalam penelitian ini, pengambilan sampel sebesar 122 responden yang dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Noor (2011: 155) purposive sampling adalah teknik
yang termasuk dalam populasi mempunyai hak untuk dijadikan anggota sampel. Masing-masing subjek atau siswa langsung diberi lembar kuesioner satu per satu untuk diisi. Adapun pengambilan sampel adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3
Jumlah Sampel Penelitan Siswa Kelas VIII SMP Negeri di Kota Yogyakarta
No Nama Sekolah Jumlah Responden Jumlah Sampel
1. SMP N 8 29 29/122x122=29
2. SMP N 12 30 30/122x122=29
3. SMP N 15 33 33/122x122=29
4. SMP N 16 30 30/122x122=29
Jumlah 122 122
F. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
1. Variabel Penelitian
Menurut Nawawi (2005), variabel bebas adalah himpunan sejumlah gejala yang mewakili berbagai aspek atau unsur yang berfungsi memengaruhi atau menentukan munculnya variabel lain yang disebut variabel terikat. Sedangkan menurut Sugiyono (2014: 4), yang disebut variabel bebas adalah variabel yang memengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan orang tua dan jenis kelamin siswa.
b. Variabel terikat atau dependent variable
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2014: 4). Pada penelitian ini variabel terikatnya adalah sikap siswa terhadap perilaku menyontek (SMP).
2. Pengukuran Variabel
a. Sikap Siswa Remaja Terhadap Perilaku Menyontek
tindak kecurangan dalam tes, tidak jujur dan tidak legal yang biasanya dilakukan oleh siswa atau mahasiswa pada saat tes atau ujian dengan menggunakan berbagai macam cara baik secara material ataupun tidak.
Skala sikap perilaku menyontek disusun berdasarkan tiga aspek sikap yaitu kognitif, afektif, dan perilaku; sedangkan perilaku menyontek ditentukan oleh dua aspek yaitu aspek bekerja sama dengan orang lain dalam mengerjakan ujian dan menggunakan material yang tidak sah pada saat ujian.
[image:58.595.84.516.216.714.2]Menurut Sugiyono (2011: 93) skala likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Skala likert yang digunakan telah dimodifikasi yaitu disediakan dalam empat opsi jawaban untuk setiap pernyataan yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Adapun penentuan skor dalam opsi jawaban sebagai berikut:
Tabel 3.4
Skor Skala Likert dalam Kuesioner
Jawaban Skor
Pernyataan Positif
Pernyataan Negatif
Sangat Setuju (SS) 4 1
Setuju (S) 3 2
Tidak Setuju (TS) 2 3
yaitu SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Peneliti setuju dengan pendapat Meidiana (2005) untuk memutuskan untuk meniadakan pilihan alternatif jawaban tengah yaitu Ragu-ragu (R), sehingga hanya ada empat pilihan alternatif jawaban saja. Hadi (2004) ditiadakannya pilihan alternatif jawaban didasarkan pada tiga alasan pokok yaitu:
a. Pertama, kategori undecided itu mempunyai arti ganda, bisa diartikan belum dapat memutuskan atau memberi jawaban (menurut konsep aslinya), bisa juga diartikan netral atau bahkan ragu-ragu. Kategori jawaban yang ganda arti (multi interpretable) ini tentu saja tidak diharapkan dalam suatu
instrumen.
b. Kedua, tersedianya jawaban yang di tengah itu menimbulkan kecenderuungan menjawab ke tengah (central tendency effect), terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas kecenderungan jawabannya, ke arah setuju ataukah ke arah tidak setuju.
c. Ketiga, maksud kategorisasi jawaban SS-S-TS-STS adalah terutama melihat kecenderungan pendapat responden, ke arah setuju atau ke arah tidak setuju.
yang favourable dan item yang unfavourable. Item yang unfavourable adalah item-item yang menyatakan sikap positif atau
mendukung perilaku menyontek, sedangkan item yang unfavourable adalah item-item yang menyatakan sikap negatif atau
tidak mendukung adanya perilaku menyontek. Item-item pernyataan ini disusun secara acak.
Empat pilihan alternatif dalam item memiliki nilai tersendiri yaitu untuk pernyataan favourable, respon SS diberi skor 4, S diberi skor 3, TS diberi skor 2 dan STS diberi skor 1, sedangkan unfavourable, respon SS diberi skor 1, S diberi skor 2, TS diberi
skor 3 dan STS diberi skor 4.
Variabel tingkat pendidikan orang tua dan variabel jenis kelamin diukur berdasarkan hasil kuesioner yang telah diisi oleh siswa. Untuk dapat menganalisis variabel ini, penulis menentukan kriteria sebagai berikut:
Indikator Tingkat Pendidikan Orang Tua
Tingkat Pendidikan
Orang Tua Skor
SD 1
SMP 2
SMA 3
Perguruan Tinggi 4
2) Jenis Kelamin Siswa diberi skor sebagai berikut yaitu:
Tabel 3.6
Indikator Jenis Kelamin Siswa
Jenis Kelamin Siswa Skor
Laki-laki 1
Perempuan 2
G. Teknik Pengumpulan Data 1. Kuesioner
[image:61.595.91.509.139.612.2]dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011: 192). Penelitian ini menggunakan angket atau kuesioner
dengan pertimbangan: (1) dapat menghemat tenaga, biaya, dan waktu; (2) pengumpulan data lebih mudah; (3) tidak terlalu menggangu responden
karena dapat dijawab sesuai dengan waktu yang ada.
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam mengumpulkan data ialah dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Meidiana (2005) dengan tingkat reliabilitas sebesar 0,9682. Instrumen yang dikembangkan oleh Meidiana (2005) ini akan diuji kembali validitas dan reliabilitasnya sehingga instrumen yang dikembangkan benar-benar valid dan reliabel.
2. Penyusunan Kuesioner
Dalam penelitian ini, kuesioner yang digunakan terbagi dalam dua bagian yaitu:
Bagian I : Berisikan pertanyaan-pertanyaan mengenai identitas para responden.
1. Nama Siswa :
2. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 3. Kelas : VII
4. Sekolah :
5. Tingkat pendidikan orang tua :
a. Ayah b. Ibu
SD SD SMP SMP SMA SMA
[image:63.595.88.505.82.729.2]Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi
Tabel Kisi-kisi Variabel Sikap Siswa : Tabel 3.7
Kisi-kisi Variabel Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
No Dimensi Indikator
Item Favourable
(Positif)
Unfavourable (Negatif) 1. Bekerja sama
dengan orang lain dalam mengerjakan
ujian
Kognitif 1,2,3,35,48 9,21,28,39,50 Afektif 13,22,31,40,54 5,19,24,42,59 Konotif
atau Perilaku
6,26,37,44,57 8,15,33,46,53
2. Menggunakan material yang tidak sah pada
saat ujian
Kognitif 12,18,30,36,58 10,11,23,41,51 Afektif 14,25,32,43,60 4,17,29,45,56 Konotif
atau Perilaku
Tabel 3.8
Rincian item favourable dan unfavourable (sebelum diuji kesahihan item-itemnya)
Item favourable Item unfavourable
1, 2, 3, 6, 12, 13, 14, 18, 20, 22, 25, 26, 27,30, 31, 32, 34, 35, 36, 37, 40, 43, 44, 47, 48, 52, 54, 57, 58, 60
4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 15, 16, 17, 19, 21, 23, 24, 28, 29, 33, 38, 39, 41, 42, 45, 46, 49, 50, 51, 53, 55, 56, 59
H. Pengujian Instrumen Penelitian 1. Uji Validitas Instrumen
Menurut Jonathan Sarwono (2014:247) validitas adalah suatu skala pengukuran yang dikatakan valid apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dan inferensi yang dihasilkan mendekati kebenaran.
Untuk menguji kesahihan setiap butir pernyataan dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara skor tiap butir dengan skor total. Rumus yang digunakan untuk nilai r tabel adalah korelasi Product Moment dari Pearson
(Arikunto, 2006:170) sebagai berikut:
r
xy=
Keterangan:
rxy = koefisien validitas butir
XY = Hasil perkalian antara X dan Y
Pengujian validitas alat ukur dalam penelitian ini dilakukan dengan program komputer SPSS versi 16.0 for Windows dengan cara melihat nilai korelasi (pearson correlation) adalah positif, dan nilai probabilitas korelasi [sig. (2-tailed)] ≤ taraf signifikan (α) sebesar 0,05.
Kriteria setiap butir pernyataan pada kuesioner dikatakan valid jika pada α = 5%, rhitung bersifat positif dan nilainya lebih besar dari r tabel.
[image:65.595.82.513.233.735.2]Pelaksanaan analisis uji validitas ini dilakukan kepada siswa-siswi kelas VIII di SMP N 8, SMP N 12, SMP N 15, dan SMP N 16 dengan jumlah responden 122 dengan dk= n-2. Dari hasil pengujian diketahui bahwa derajat kebebasan sebesar 120 (dk= 122-2) dengan taraf signifikan 5% menunjukkan rtabel= 0,1779.
Tabel 3.9
Hasil Pengujian Validitas Variabel Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
No Butir rhitung rtabel Keterangan
1. 1 .689 0.178 Valid
2. 2 .687 0.178 Valid
3. 3 .507 0.178 Valid
4. 4 .223 0.178 Valid
5. 5 .442 0.178 Valid
6. 6 .736 0.178 Valid
9. 9 .674 0.178 Valid
10. 10 .605 0.178 Valid
11. 11 .505 0.178 Valid
12. 12 -.179 0.178 Tidak Valid
13. 13 .341 0.178 Valid
14. 14 .654 0.178 Valid
15. 15 .330 0.178 Valid
16. 16 .621 0.178 Valid
17. 17 .451 0.178 Valid
18. 18 .236 0.178 Valid
19. 19 .382 0.178 Valid
20. 20 .677 0.178 Valid
21. 21 .495 0.178 Valid
22. 22 -.424 0.178 Tidak Valid
23. 23 .476 0.178 Valid
24. 24 .427 0.178 Valid
25. 25 .575 0.178 Valid
26. 26 .634 0.178 Valid
27. 27 .742 0.178 Valid
28. 28 .601 0.178 Valid
29. 29 .265 0.178 Valid
30. 30 .057 0.178 Tidak Valid
31. 31 .597 0.178 Valid
34. 34 .694 0.178 Valid
35. 35 .708 0.178 Valid
36. 36 -.169 0.178 Tidak Valid
37. 37 .688 0.178 Valid
38. 38 .504 0.178 Valid
39. 39 .471 0.178 Valid
40. 40 .645 0.178 Valid
41. 41 .295 0.178 Valid
42. 42 .457 0.178 Valid
43. 43 .652 0.178 Valid
44. 44 .768 0.178 Valid
45. 45 .163 0.178 Tidak Valid
46. 46 .593 0.178 Valid
47. 47 .692 0.178 Valid
48. 48 .653 0.178 Valid
49. 49 .575 0.178 Valid
50. 50 -.276 0.178 Tidak Valid
51. 51 .413 0.178 Valid
52. 52 .776 0.178 Valid
53. 53 .340 0.178 Valid
54. 54 .348 0.178 Valid
55. 55 .484 0.178 Valid
56. 56 .109 0.178 Tidak Valid
59. 59 .406 0.178 Valid
[image:68.595.86.508.152.739.2]60. 60 .637 0.178 Valid
Tabel 3.10
Hasil Pengujian Ulang Validitas Variabel Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek
No Butir rhitung rtabel Keterangan
1. 1 .704 0.178 Valid
2. 2 .696 0.178 Valid
3. 3 .522 0.178 Valid
4. 4 .197 0.178 Valid
5. 5 .447 0.178 Valid
6. 6 .751 0.178 Valid
7. 7 .184 0.178 Valid
8. 8 .587 0.178 Valid
9. 9 .688 0.178 Valid
10. 10 .628 0.178 Valid
11. 11 .523 0.178 Valid
12. 13 .361 0.178 Valid
13. 14 .668 0.178 Valid
14. 15 .333 0.178 Valid
15. 16 .629 0.178 Valid
16. 17 .455 0.178 Valid
19. 20 .678 0.178 Valid
20. 21 .513 0.178 Valid
21. 23 .473 0.178 Valid
22. 24 .407 0.178 Valid
23. 25 .584 0.178 Valid
24. 26 .654 0.178 Valid
25. 27 .739 0.178 Valid
26. 28 .588 0.178 Valid
27. 29 .220 0.178 Valid
28. 31 .616 0.178 Valid
29. 32 .687 0.178 Valid
30. 33 .613 0.178 Valid
31. 34 .712 0.178 Valid
32. 35 .718 0.178 Valid
33. 37 .693 0.178 Valid
34. 38 .500 0.178 Valid
35. 39 .470 0.178 Valid
36. 40 .646 0.178 Valid
37. 41 .321 0.178 Valid
38. 42 .455 0.178 Valid
39. 43 .654 0.178 Valid
40. 44 .786 0.178 Valid
41. 46 .594 0.178 Valid
44. 49 .579 0.178 Valid
45. 51 .413 0.178 Valid
46. 52 .785 0.178 Valid
47. 53 .341 0.178 Valid
48. 54 .365 0.178 Valid
49. 55 .478 0.178 Valid
50. 57 .739 0.178 Valid
51. 58 .315 0.178 Valid
52. 59 .390 0.178 Valid
53. 60 .637 0.178 Valid
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Menurut Jonathan Sarwono (2014: 248) reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan stabilitas nilai hasil pengukuran tertentu di setiap kali pengukuran dilakukan pada hal yang sama.
Menurut Siregar (2013: 55) reliabilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan Alpha Cronbach (Siregar, 2013:58):
r11 = koefisien reliabilitas instrumen k = jumlah butir pertanyaan
= jumlah varians butir = varians total
Pengujian reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini dilakukan dengan program komputer SPSS dengan teknik koefisien Alpha Cronbach yaitu dengan membelah item sebanyak jumlah itemnya.
Semakin besar koefisien reliabilitas berarti semakin kecil kesalahan pengukuran maka semakin reliabel alat ukur tersebut. Sebaliknya, semakin kecil koefisien reliabilitas berarti semakin besar kesalahan pengukuran maka semakin tidak reliabel.
Untuk melakukan uji reliabilitas digunakan bantuan program SPSS versi 16.0 for Windows. Kriteria kuesioner dikatakan reliabel jika pada α
= 5% nilai alpha cronbach lebih dari 0,6. Tabel 3.11 <