PERILAKU SISWA TERHADAP MENYONTEK DITINJAU
DARI STATUS SEKOLAH DAN TINGKAT PENDIDIKAN
ORANG TUA PADA SISWA KELAS VIII KOTA
YOGYAKARTA
Survei pada Empat SMP di Kota Yogyakarta
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus
Pendiikan Akuntansi
Oleh:
A. Brahm Jalu Nugroho
NIM : 121334017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
PERILAKU SISWA TERHADAP MENYONTEK DITINJAU DARI
STATUS SEKOLAH DAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA
PADA SISWA KELAS VIII DI KOTA YOGYAKARTA
Survei pada empat SMP di Kota YogyakartaSKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi
Oleh:
A. Brahm Jalu Nugroho
NIM : 121334017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan untuk:
TUHAN YESUS KRISTUS
Terima kasih Tuhan Yesus telah membimbingku dan melancarkan dalam mengerjakan skripsi ini.
Orang tuaku Yohanes Boymin dan Theresia Sumarti yang selalu memberikan nasihat dan selalu memberi motivasi dalam hidupku..
Kakakku, Ch. Memi Handayani dan Rosaria Indriawati yang telah memberikan doa, dukungan moral dalam penyusunan skripsi ini.
Sahabat-sahabatku : Tomo (tombol), Deny (mamik), Panji (panjul), Umek, Bima, Tomi, Pater, Yosep, Chrismas (Gendut), Marsel, Galing, Henri, Leo,
Mas Priam, Mas Anang, Mas Anton, Mas Dwi, Bang Jim, Gembul, Yosep Yomeng, Guntur (gencik), Iwan (tik’eng), Febri (pebrus), Ardi Kuplek, Tigor Batak, Erik Bejo dan Qtut yang selalu mendukung, menghiburku dikala penat
mengerjakan skripsi dan doa atas penyusunan skripsi ini.
Sahabat-sahabatku mahasiswa Pendidikan Akuntansi, Terima kasih atas segala dukunganya selama 4,5 tahun ini.
Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku,
v
Motto
“nikmati saja prosesnya,karena sukses hanya masalah waktu.”
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan
bagimu.”
(Matius 7 : 7)
“Olo Tanpo Rupo Yen Tumandhang Amung Sedelok”
“setiap kesusahan, keburukan, dan masalah-masalah apabila dijalani dengan senang hati maka akan hanya terasa
viii
ABSTRAK
PERILAKU SISWA TERHADAP MENYONTEK DITINJAU DARI STATUS SEKOLAH DAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA PADA SISWA
KELAS VIII DI KOTA YOGYAKARTA
A. Brahm Jalu Nugroho
Universitas Sanata Dharma
2016
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) ada tidaknya perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari status sekolah; 2) ada tidaknya perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua.
Jenis penelitian ini termasuk penelitian studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Februari sampai April 2016. Subjek penelitian ini berjumlah 113 siswa kelas VIII dari sekolah negeri dan swasta. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah Mann-Whitney dan Kruskal Wallis dengan bantuan program SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari status sekolah dengan nilai asymp sig= 0,888; 2) tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua kelompok ayah dengan nilai asymp sig= 0,299 dan kelompok ibu dengan nilai asymp sig= 0,608.
ix
ABSTRACT
THE BEHAVIOR OF STUDENTS TOWARD CHEATING PERCEIVED
FROM STATUS OF THE SCHOOL AND PARENTS’ EDUCATION LEVEL
ON THE EIGHTH GRADE STUDENTS IN YOGYAKARTA
A. Brahm Jalu Nugroho
Sanata Dharma University
2016
This research aims to find out: 1) differences of students’ behavior toward cheating perceived from status of the school; 2) differences of students’ behavior toward cheating perceived from parents’ education level.
The type of research is a case study. This research was conducted from February to April 20016. The subjects of this research were 113 students of the eighth grade from public and private schools. The method of data collection was questionnaire. The data analysis technique was Mann Whitney and Kruskal Wallis which was operated by SPSS program.
The results show that: 1) there is no difference in the students’ behavior toward cheating perceived from status of the school with a value of asymp sig= 0, 888; 2) there is no difference in the students’ behavior of students toward cheating perceived from education level of a group of fathers with the value of asymp sig= 0, 299 and a group of mothers with the value of asymp sig= 0,608.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
karunia dan berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Siswa Terhadap Menyontek Ditinjau Dari Status Sekolah Dan Tingkat Pendidikan
Orang Tua Pada Siswa Kelas VIII Di Kota Yogyakarta” dengan lancar. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta. Selama penyusunan dan penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah
membantu terselesaikannya skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan
ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Rohandi, Ph. D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak Ignatius Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Sanata Dharma.
3. Bapak Ignatius Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi
Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi,
Universitas Sanata Dharma.
4. Bapak Drs. Bambang Purnomo S.E., M.Si.. selaku Dosen Pembimbing, bapak
xi
5. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Akuntansi yang
telah membagikan ilmu pengetahuan dan membimbing saya selama proses
perkuliahan.
6. Staf Kesekretariatan Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Akuntansi yang telah
membantu saya dalam urusan administrasi selama proses perkuliahan.
7. Kedua Orang tuaku Yohanes Boymin dan Theresia Sumarti yang selalu
memberikan nasihat dan selalu memberi motivasi dalam hidupku.
8. Kakakku, Ch. Memi Handayani dan Rosaria Indriawati yang telah memberikan
doa, dukungan moral dalam penyusunan skripsi ini.
9. Sahabat-sahabatku: Tomo (tombol), Deny (mamik), Panji (panjul), Umek, Bima,
Tomi, Pater, Yosep, Marsel, Galing, Henri, Leo, Bang Jim, Gembul, Guntur
(gencik), Iwan (tik’eng), febri (pebrus), Ardi Kuplek, Tigor Batak, Erik Bejo dan
Qtut yang selalu mendukung, menghiburku dikala penat mengerjakan skripsi dan
doa atas penyusunan skripsi ini.
10. Agata Aderita Vena Purdianti yang telah memberikan doa, dukungan moral,
kesabaran dalam penyusunan skripsi ini.
11. Teman-teman satu angkatan Pendidikan Akuntansi Angkatan 2012 yang tidak
dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas kebersamaan yang luar biasa
ini dan dinamika kita yang mendewasakan dimasa perkuliahan. Sukses untuk kita
semua.
12. Semua pihak yang mendukung membantu dalam penyusunan skripsi ini yang
xiii
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ... i
Halaman Persetujuan Pembimbing ... ii
Halaman Pengesahan ... iii
Halaman Persembahan ... iv
Halaman Motto... v
Pernyataan Keaslian Karya ... vi
Lembar Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis ... vii
Abstrak ... viii
Abstract ... viiii
Kata Pengantar ... x
Daftar Isi... xiii
Daftar Tabel ... xvi
xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Penelitian ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A. Pendidikan Karakter dan Nilai Karakter ... 8
B. Perilaku ... 11
C. Menyontek ... 13
D. Pendidikan Orang Tua ... 17
E. Status Sekolah ... 20
F. Penelitian Yang Relevan ... 23
G. Kerangka Berpikir ... 24
H. Paradigma Penelitian ... 27
I. Hipotesis Penelitian ... 27
BAB III METODE PENELITIAN... 29
A. Jenis Penelitian ... 29
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 29
C. Subyek dan Obyek Penelitian... 29
xv
E. Teknik Pengumpulan Data ... 32
F. Pengujian Instrumen Penelitian ... 34
BAB IV GAMBARAN UMUM ... 52
A. SMP Tumbuh Yogyakarta... 52
B. SMP Kristen Kalam Kudus Yogyakarta ... 52
C. SMP Negeri 8 Yogyakarta ... 53
D. SMP Negeri ... 54
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 56
A. Deskripsi Data ... 56
B. Pengujian Hipotesis ... 69
C. Pembahasan ... 72
BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN ... 77
A. Kesimpulan ... 77
B. Keterbatasan ... 77
C. Saran ... 78
Daftar Pustaka ... 80
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Nilai-nilai Karakter dan Deskripsi Karakter ... 8
Tabel 3.1 Operasional Variabel Perilaku Menyontek ... 33
Tabel 3.2 Sebagian r tabel ... 35
Tabel 3.3 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Perilaku Menyontek ... 36
Tabel 3.4 Hasil Pengujian Validitas Ulang I Instrumen Perilaku Menyontek .... 41
Tabel 3.5 Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 46
Tabel 3.6 Nilai Presentil PAP Tipe II ... 47
Tabel 3.7 Rentang Tingkat Perilaku Menyontek ... 49
Tabel 3.8 Pedoman Teknik Pengolahan Data ... 50
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Asal Sekolah ... 56
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Status Sekolah ... 57
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Pendidikan Orang Tua ... 58
xvii
Tabel 5.5 Perhitungan dan Interpretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Status Sekolah Negeri ... 60
Tabel 5.6 Perhitungan dan Interpretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Status Sekolah Swasta ... 61
Tabel 5.7 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Ayah PT ... 61
Tabel 5.8 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah SMA ... 62
Tabel 5.9 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap Menyontek
Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah SMP ... 63
Tabel 5.10 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah SD ... 64
Tabel 5.11 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah Lainnya ... 64
Tabel 5.12 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu PT ... 65
Tabel 5.13 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
xviii
Tabel 5.14 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu SMP. ... 66
Tabel 5.15 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu SD. ... 67
Tabel 5.16 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu Lainnya. ... 68
Tabel 5.17 Hasil uji Mann Whitney Mengenai Perilaku Siswa Terhadap Menyontek
Berdasarkan Status Sekolah. ... 69
Tabel 5.18 Hasil uji Kruskal Wallis Mengenai Perilaku Siswa Terhadap Menyontek
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua Kelompok Ayah... 70
Tabel 5.19 Hasil uji Kruskal Wallis Mengenai Perilaku Siswa Terhadap Menyontek
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran ... 83
Lampiran I Koesioner ... 84
Lampiran II Data Induk ... 93
Lampiran III Validitas Dan Reliabilitas ... 104
Lampiran IV Mann Whitney dan Kruskal Wallis ... 108
Lampiran V Surat Ijin dan Data Dari Dinas... 111
Lampiran VI Tabel R ... 115
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perilaku menyontek menjadi fenomena yang perlu diperhatikan dalam
dunia pendidikan. Kebanyakan siswa di SD, SMP, SMA/K maupun mahasiswa
di perguruan tinggi pernah menyontek. Menyontek dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti menulis di atas meja, menulis di kertas/tissue, menulis di
anggota tubuh, bertanya kepada teman, searching menggunakan ponsel, melihat
dan menyalin jawaban teman, menyontek dengan buku yang diletakkan di laci
atau di WC, dan lain-lain.
Perilaku menyontek merupakan suatu upaya yang dilakukan pelajar dan
mahasiswa untuk mendapatkan nilai yang baik. Beberapa alasan lainnya
pelajar/mahasiswa menyontek adalah agar mendapatkan pujian dari orang tua,
guru, dan teman-temannya; tidak siap dalam ulangan/ujian; tidak percaya diri;
kesulitan dalam mata pelajaran tertentu; malas belajar; dan sebagai bentuk
solidaritas antar teman. Bila hal ini terus-menerus dibiarkan maka dapat
dipastikan pendidikan di Indonesia akan mengalami kemunduran.
Dunia pendidikan perlu mengikis perilaku menyontek ini. Perilaku
menyontek merupakan bagian dari ketidakjujuran. Ketika dunia pendidikan
membiarkan ketidakjujuran ini berlanjut, maka akan memberikan dampak pada
plagiatisme yang marak terjadi merupakan contoh dari kegagalan dunia
pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.
Fakta tentang perilaku ketidakjujuran di dunia pendidikan biasanya
banyak terjadi saat menjelang ujian. Hal ini di dukung oleh hasil penelitian dari
Hartanto dalam Kharisma (2014 : 21) menunjukkan bahwa intensitas perilaku
menyontek di SMP Swasta di daerah Pondok Cabe Jakarta, berada pada posisi
sedang (53,3%), rendah (33,3%), dan tinggi (13,3%). Bentuk perilaku
menyontek yang biasa dilakukan oleh peserta didik antara lain melihat,
menyalin, dan meminta jawaban dari teman-temannya.
Selain itu, ada fakta lain mengenai perilaku menyontek di kota
Yogyakarta. kota yang dikenal dengan sebutan “Kota Pelajar” ini dinobatkan
sebagai daerah yang memiliki nilai Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN)
tertinggi di Indonesia pada tahun 2015 (Harian Republika, 2015 tanggal 19
Mei). Berdasarkan data laporan hasil UN dan IIUN per kabupaten/kota yang
masuk ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kota
Yogyakarta meraih nilai tertinggi, yakni sekitar 82,37 dengan rata-rata nasional
63,28.
Di samping itu, perilaku menyontek juga disebutkan dalam website
komunitas air mata guru (www.komunitasairmataguru.blogspot.co.id). Dalam
website tersebut disebutkan banyak kecurangan-kecurangan dalam UN baik
yang dilakukan oleh siswa dan guru. Selain itu, hasil penelitian longitudinal
dilakukan siswa SMP dikarenakan adanya perubahan keadaan lingkungan
belajar yang dialami siswa. Hal ini disebabkan karena siswa mengalami masa
transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah, struktur kelas, dan lingkungan
sekolah yang kompetitif.
Sekolah Menengah Pertama merupakan salah satu jenjang pendidikan
yang dilalui oleh peserta didik. Pada jenjang ini, peserta didik dihadapkan pada
perkembangan mental dan moral. Menurut Anderman dalam Mubiar (2011 : 4),
pada usia 12-15 tahun yang umumnya individu duduk di bangku SMP akan
mulai memasuki dunia baru yang berbeda dengan pengalaman di sekolah dasar
serta banyak hal baru yang menuntut individu untuk menyesuaikan diri,
terutama pada siswa kelas VII.
Perubahan keadaan lingkungan belajar mengakibatkan siswa melakukan
tindakan menyontek. Mereka menganggap tindakan itu sebagai bentuk
solidaritas antar teman. Menyontek biasanya dilakukan pada pelajaran
matematika dan ilmu alam atau ilmu pasti, dibandingkan dengan pelajaran
lainnya. Menyontek biasanya terjadi pada waktu ulangan atau ujian.
Sekolah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bangunan untuk
belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut
tingkatnya). Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal harus
berkewajiban mengembangkan potensi seorang siswa dalam berbagai aspek
kepribadian, sehingga nantinya dapat menjadi manusia yang mampu berdiri
proses kegiatan terencana dan terorganisir yang terdiri atas kegiatan belajar,
kegiatan ini bertujuan menghasilkan perubahan positif pada diri siswa. Menurut
status, di Indonesia lembaga pendidikan/ sekolah terbagi menjadi dua yaitu
sekolah swasta dan negeri.
Sekolah swasta maupun sekolah negeri memiliki karakteristiknya sendiri,
sehingga dengan karakteristik tersebut akan menimbulkan perbedaan antara
yang satu dengan yang lain. Pada hakikatnya, sekolah swasta maupun negeri
mempunyai tujuan yang sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa seperti
yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Sekolah swasta adalah sekolah
sekolah yang diselenggarakan oleh non-pemerintah atau swasta, penyelenggara
sekolah swasta biasanya berupa badan maupun yayasan pendidikan. Sedangkan
sekolah negeri adalah sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sekolah
swasta maupun negeri dalam menyelenggarakan pendidikan selalu berupaya
adar membentuk siswa yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan dapat
membuat keputusan untuk masa depannya.
Tingkat pendidikan orang tua menentukan juga cara orang tua dalam
membimbing dan mengarahkan anaknya dalam hal pendidikan. Tingkat
pendidikan yaitu jenjang pendidikan yang telah ditempuh, baik formal maupun
non formal. Peran yang terbentuk pada masing-masing individu pada setiap
jenjang pendidikan formal akan berbeda-beda antara lulusan sekolah dasar,
lulusan sekolah menengah pertama, lulusan sekolah menengah atas, lulusan
orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anaknya dalam hal pendidikan
yang akan ditempuh anaknya. Tingkat pendidikan orang tua yang rendah akan
cenderung sempit wawasan terhadap pendidikan, lulus sekolah menengah sudah
dirasa cukup. Sedangkan tingkat pendidikan orang tua yang tinggi akan lebih
luas wawasannya terhadap pendidikan. Mereka akan mengarahkan dan
membimbing anaknya untuk membentuk pribadi yang dewasa, beriman, madiri,
berilmu serta bertanggung jawab, dalam hal ini adalah untuk tidak mencontek.
Di pihak lain, Prof. Djemari Mardapi, Ph.D. (wawancara dilakukan bulan
Agustus 2015) menyatakan bahwa pada tahun 2015, wilayah DIY merupakan
termasuk daerah putih (daerah yang bersih dari kecurangan dalam UN).
Pernyataan ini bertentangan dengan hasil penelitian Anderman yang
menyatakan bahwa perilaku menyontek sering dilakukan oleh siswa SMP.
Berdasarkan ketidakkonsistenan antara pendapat Prof. Djemari dan
hasil-hasil penelitian sebelumnya maka perlu dilakukan penelitian yaitu “Perilaku
Siswa Terhadap Menyontek Yang Ditinjau Dari Status Sekolah dan Tingkat
Pendidikan Orang Tua Pada Siswa Kelas VIII di Kota Yogyakarta”.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau
2. Apakah ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau
dari tingkat pendidikan orang tua?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui perbedaan perilaku
antara siswa di smp yang negeri atau swasta dan perbedaan perilaku siswa
berdasarkan tingkat pendidikan orang tua terhadap menyontek di kota
Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa, dan
sekolah dan perguruan tinggi.
1. Guru
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru dalam mengetahui dan
mencegah perilaku menyontek siswa-siswa SMP. Sehingga, hasil
ujian/ulangan yang dihasilkan benar-benar merupakan hasil belajar siswa
dan mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Dengan
demikian, pengambilan keputusan terkait dengan nilai yang dihasilkan
siswa tidak bias
2. Siswa
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa. Siswa lebih
menyadari tentang kemampuan yang dimiliki dan dapat mengoptimalkan
kompetensi-kompetensi yang ada pada diri siswa.
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah dan perguruan
tinggi dalam mengimplementasikan pendidikan karakter khususnya
kejujuran dalam belajar. Implementasi pendidikan karakter dapat dimulai
dari hal-hal yang sederhana, salah satunya adalah mendidik untuk jujur
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan Karakter dan Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter.
Pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk menciptakan
seseorang yang dapat berguna di masa yang akan datang, sedangkan karakter
adalah suatu atribut yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan
kompleksitas, mental satu orang dengan orang lainnya. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang
sungguh-sungguh dilakukan dan mampu menciptakan ciri pribadi yang berbeda anat orang
satu dan lainnya. Pendidikan karakter memiliki makna yang sama dengan
pendidikan moral dan pendidikan akhlak, yang mana tujuannya adalah untuk
membentuk karakter pribadi anak supaya menjadi manusia dan warga negara
yang baik.
Secara universal, berbagai karakter dirumuskan sebagai nilai hidup
bersama berdasarkan beberapa pilar yaitu : kedamaian, menghargai, kerjasama,
kebebasan, kebahagian, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung
jawab, kesederhahaan, toleransi, dan persatuan (Samani, 2013 : 43). Nilai-nilai
Tabel 2.1
Nilai-Nilai Karaker dan Deskripsi Karakter
No. Nilai Karakter Deskripsi
1 Kedamaian Sikap dan perilaku yang menyukai adanya
harmoni dan bebas dari konflik dan
gangguan, serta suka akan ketenangan.
2 Menghargai Menghargai diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan. Bersikap beradab, sopan, tidak
melecehkan, tidak menghina orang lain, dan
tidak menilai orang lain sebelum
mengenalnya dengan baik.
3 Kerjasama Saling membantu untuk mencapai sebuah
tujuan.
4 Kebebasan Tidak adanya paksaan/tekanan yang sengaja
mendesak seseorang untuk bertidak melawan
kehendak diri sendiri.
5 Kebahagian Suatu keadaan di mana hadir kesenangan,
ketentraman, dan kepuasan terhadapa apa-apa
yang telah dicapai.
6 Kejujuran Menjunjung tinggi kebenaran, ikhlas dan
memfitnah, tidak pernah bermaksud
menjerumuskan orang lain.
7 Kerendahan Hati Mengakui adanya peranan dan jasa orang lain
dan tidak pernah menonjolkan diri.
8 Kasih sayang Memiliki dan menunjukkan perasaan penuh
kasih sayang, mencintai, dan bersikap penuh
kelembutan
9 Tanggung Jawab Melakukan tugas sepenuh hati, bekerja
dengan etos kerja yang tinggi, berusaha keras
mencapai prestasi terbaik, mampu
mengontrol diri, dan berdisplin diri.
10 Kesederhanaan Suatu keadaan tentang bagaimana berlaku
sederhana, tidak pamer, bermewah-mewah,
tidak berpikiran melit, dan rumit.
11 Toleransi Menerima secara terbuka orang lain yang
tingkat kematangan dan latar belakang yang
berbeda.
12 Persatuan Menjalin rasa kebersamaan dan saling
melengkapi satu sama lain, serta menjalin
B. Perilaku
1. Pengertian Perilaku
Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman
serta interaksi manusia dengan lingkungannyayang terwujud dalam
pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan
respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun
dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif maupun aktif. Perilaku aktif
dapat dilihat sedangkan perilaku pasif tidak tampak, seperti pengetahuan,
persepsi, atau motivasi. Beberapa ahli membedakan bentuk-bentuk perilaku
menjadi tiga yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan atau sering kita dengar
dengan istilah knowlege, attitude, practice ( Sarwono, 2004).
Menurut Skinner, sebagaimana yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui
proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut
merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus –
Organisme – Respon
2. Proses Pebentukan Perilaku
Perilaku manusia terbentuk karena adanya kebutuhan. Menurut Abrahm
Harold Maslow, manusia memiliki lima kebutuhan dasar yakni :
a. Kebutuhan fisiologis/ biologis, yang merupakan kebutuhan poko
b. Kebutuhan rasa aman, misalnya:
a) Rasa aman terhindar dari pencurian, penodongan, dan
perampokan atau kejahatan lainnya.
b) Rasa aman terhindar dari konflik, tawuran, kerusuhan,
peperangan dan lain-lain.
c) Rasa aman yerhindar dari sakit dan penyakit.
d) Rasa aman memperoleh perlindungan hukum.
c. Kebutuhan mencintai dan dicintai, misalnya:
a) Mendambakan kesih sayang orang lain baik dari orang tua,
saudara, teman, kekasih, dan lain-lain.
b) Ingin dicintai/ mencintai orang lain.
c) Ingin diterima oleh kelompok tempat ia berada.
d. Kebutuhan harga diri, misalnya:
a) Ingin dihargai dan menghargai orang lain.
b) Adanya respek dan perhatian dari orang lain.
c) Toleransi atau saling menghargai dalam hidup
berdampingan.
e. Kebutuhan aktualisasi diri, misalnya :
a) Ingin dipuja atau disanjung orang lain.
b) Ingin sukses atau berhasil dalam mencapai cita-cita.
c) Iongin menonjol dan lebih dari orang lain, baik dalam karier,
3. Bentuk Perilaku
Perilaku dapat diberi batasan sebagai suatu tanggapan individu terhadap
rangsangan yang berasal dari dalam maupun luar diri individu tersebut. Secara
garis besar bentuk perilaku ada dua macam, yaitu:
a. Perilaku Pasif (respons internal)
Perilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam diri individu
dan tidak dapat diamati secara langsung.
b. Perilaku Aktif (respons eksternal)
Perlaku yang sifatnya terbuka, perilaku aktif adalah perilaku yang
dapat diamati langsung, berupa tindakan yang nyata.
C. Menyontek
1. Pengertian Menyontek
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008), menyontek
berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, mencontoh, menggocoh yang
artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak.
Sedangkan Anderman dan Murdock dalam Purnamasari (2013) menyatakan
bahwa perilaku kecurangan akademik merupakan penggunaan segala
kelengkapan dari materi ataupun bantuan yang tidak diperbolehkan digunakan
dalam tugas-tugas akademik dan atau aktivitas yang mengganggu proses
asesmen.
Bower dalam Purnamasari, (2013) mendefinisikan cheating adalah
dan terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademik untuk menghindari
kegagalan akademik. Sedangkan menurut Pincus & Schemelkin (Mujahidah,
2009) perilaku menyontek merupakan suatu tindakan curang yang sengaja
dilakukan ketika seseorang mencari dan membutuhkan adanya pengakuan atas
hasil belajarnya dari orang lain meskipun dengan cara yang tidak sah seperti
memalsukan informasi terutama ketika dilaksanakannya evaluasi akademik.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku
menyontek adalah kegiatan, tindakan atau perbuatan yang dilakukan secara
sengaja dengan menggunakan cara-cara yang tidak jujur atau curang untuk
memalsukan hasil belajar dengan menggunakan bantuan atau memanfaatkan
informasi dari luar secara tidak sah pada saat dilaksanakan tes atau evaluasi
akademik untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Faktor-faktor penyebab menyontek
Salah satu alasan yang mendorong individu untuk menyontek adalah
untuk memuaskan harapan orang tua. Santrock (2003) mengatakan bahwa tidak
jarang orang tua dalam mengasuh atau mendidik anak-anaknya dipengaruhi
oleh keinginan atau ambisi dari orang tua tanpa melihat kemampuan anaknya.
Orang tua bermaksud ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya,
namun keinginan tersebut tidak memperhatikan kemampuan anak.
Sikap orang tua yang mengharapkan terlalu berlebihan pada anak akan
menghambat anak untuk menunjukkan prestasi sesuai dengan potensi yang
orang tuanya. Oleh karena itu sikap yang terlalu menuntut dapat menyebabkan
anak merasa takut kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini
menimbulkan rasa rendah diri, gangguan tingkah laku, berkurangnya motivasi
untuk belajar serta ketegangan atau kecemasan dalam diri anak.
Agustin (2014) menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan siswa
menyontek pada saat ujian. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berupa
angka dan nilai yang diperoleh siswa dalam tes formatif atau sumatif.
b. Pendidikan moral, baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan
dalam kehidupan siswa.
c. Sikap malas yang tertanam dalam diri siswa sehingga ketinggalan dalam
menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab.
d. Anak remaja sering menyontek daripada anak SD, karena masa remaja bagi
mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan
teman-teman sekelasnya.
e. Kurang mengerti arti dari pendidikan.
Disadari atau tidak, siswa yang menyontek pada saat ujian disebabkan oleh satu
atau lebih faktor-faktor di atas.
Faktor menyontek juga bisa disebabkan dari status sekolah, status
sekolah yang dimaksud adalah sekolah negeri dan swasta. Sekolah negeri dan
swasta jelas berbeda cara mendidik siswanya. Ada beberapa faktor yang
a. Peraturan belajar mengajar di kelas yang ditetapkan oleh pihak sekolah.
b. Pendidik/guru.
c. Keadaan gedung dan tugas belajar
Selain itu, faktor menyontek juga bisa disebabkan oleh tingkat
pendidikan orang tua. Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah tingkat
pendidikan formal yaitu SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Ada beberapa
faktor yang mengakibatkan siswa menyontek. Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Cara orang tua mendidik.
b. Suasana di rumah
c. Relasi antar anggota keluarga.
Perilaku menyontek ini akan mengakibatkan perilaku atau watak tidak
percaya diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak mau membaca buku
pelajaran tetapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk bahan menyontek,
menghalalkan segala macam cara, dan akhirnya menjadi koruptor (Buchari
dalam Prihatnaningtyas 2014). Dengan demikian tampak bahwa perilaku
menyontek secara tidak langsung membelajarkan pada siswa untuk menjadi
seorang koruptor.
3. Bentuk-Bentuk Menyontek
Bentuk-bentuk perilaku menyontek menurut Hetherington and Feldman
dalam Veronikha (2013) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Social Active
2) Meminta jawaban kepada teman yang lain ketika ujian sedang
berlangsung
b. Individualistic-Opportunistic
1) Menggunakan HP atau alat elektronik lain yang dilarang ketika ujian
sedang berlangsung.
2) Mempersiapkan catatan yang digunakan pada saat ujian akan
berlangsung.
3) Melihat dan menyalin sebagian atau seluruh hasil kerja teman lain pada
saat tes.
c. Individual Planned
1) Mengganti jawaban ketika guru keluar kelas.
2) Membuka buku teks ketika ujian sedang berlangsung.
3) Memanfaatkan kelengahan/kelemahan guru ketika menyontek.
d. Social Passive
1) Mengijinkan orang lain melihat jawaban ketika ujian sedang
berlangsung.
2) Membiarkan orang lain menyalin pekerjaannya.
3) Memberi jawaban tes kepada teman pada saat ujian sedang berlangsung.
D. Pendidikan Orang Tua
1. Pengertian pendidikan
Pada hakikatnya pendidikan itu merupakan usaha yang dilakukan secara
belajar dan ditanamkan juga nilai-nilai moral serta pandangan hidup yang
nantinya akan membentuk kepribadian dan karakter dari seseorang.
Pendidikan merupakan keseluruhan dari proses, teknik, dan metode
belajar mengajar dalam rangka mengalihkan suatu pengetahuan dari seseorang
kepada orang lain sesuai dengan standar yang ditentukan. Unsur-unsur penting
dalam pendidikan adalah proses pengembangan kemampuan, pengetahuan,
sikap, tingkah laku, kompetensi sosial, dan pribadi yang optimal.
Menurut Ki Hajar Dewantoro (Suwarno, 1885) pendidikan adalah
menentukan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka
sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai
keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
2. Tingkat Pendidikan
Menurut Fuad Ihsan (2003) Tingkat atau jenjang pendidikan adalah
tahap pendidikan yang berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat
perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran. Jenjang
pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi.
Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 17 tentang pendidikan
dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan
menengah, pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah
Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang
sederajat.
Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 18 tentang pendidikan
menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar; pendidikan menengah terdiri
atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan;
pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah
Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang
sederajat.
Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 19 tentang pendidikan
tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang
mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan
doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi; pendidikan tinggi
diselenggarakan dengan sistem terbuka.
Setiap anak mempunyai orang tua yang tingkat pendidikannya
berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan akan berberbeda-beda juga dalam cara
mendidik anaknya. Orang tua dengan lulusan Perguruan Tinggi akan lebih
memperhatikan ananknya dalam proses belajar dibandingkan dengan dengan
orang tua yang lulusan SD. Hal ini disebabkan karena jenjang pendidikan yang
telah dicapai oleh orang tua. Semakin tinggi jenjang pendidikan orang tua akan
semakin memperhatikan anaknya dalam menempuh pendidikan di sekolah,
dengan orang tua dengan tingkat pendidikan rendah akan cenderung
membiarkan anaknya dikarenakan kurangnya wawasan dari pihak orang tua.
E. Status Sekolah
1. Pengertian Status Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang digunakan untuk
proses belajar mengajar. Sekolah adalah organisasi kerja sebagai wadah
kerjasama kelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai organisasi,
wadah tersebut merupakan alat dan bukan tujuan. Dengan kata lain sekolah
adalah suatu bentuk ikatan kerjasama sekelompok orang yang bermaksud
mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Sekolah merupakan wujud
relasi antar personal yang didasari berbagai motif, yang menjadi intensif ke
satu arah dan kurang intensif ke arah yang lain ( Nawawi, 1981:25).
2. Jenis-jenis jenjang sekolah
Peran sekolah sebagai lembaga pendidikan formal adalah
mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu
menjalankan tugas kehidupan sebagai manusia, baik secara individual maupun
sebagai anggota masyarakat.
Sekolah lanjutan sebagai lembaga pendidikan tingkat menengah,
merupakan kelanjutan dari sekolah dasar yang diselenggarakan untuk
anak-anak yang berumur 12-13 s/d 17-18 tahun. Sekolah dipisahkan menjadi 2
jenjang yaitu SMP dan SMA. Sekolah Menengah Atas diperuntukan bagi
demikian sekolah ini diselenggarakan dalam tiga jenjang atau kelas secara
vertikal, yang terdiri dari X s/d XII.
Berdasarkan Keputusan-Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 1993 sekolah dibagi menjadi dua
yaitu :
1) Sekolah Negeri
Sekolah negeri adalah sekolah yang diselenggarakan oleh
pemerintah. Tanggung jawab pengelola sekolah (kepala sekolah)
negeri ini sebagai berikut :
a. Penyelenggara kegiatan pendidikan yang meliputi:
1) Penyusun program kerja sekolah.
2) Peraturan kegiatan belajar mengajar, pelaksanaan penilaian
dan proses belajar serta bimbingan penyuluhan.
3) Penyusunan Rencana dan Anggran Belanja Sekolah
(RAPBS).
b. Pembinaan kesiswaan
1) Pelaksanaan bimbingan dan penilaian bagi guru dan tenaga
pendidik lainnya.
2) Penyelenggaraan administrasi sekolah.
3) Perencanaan pengembangan, penyalahgunaan dan
2) Sekolah Swasta
Sekolah swasta adalah sekolah yang diselenggarakan oleh
non-pemerintah atau masyarakat, penyelenggaraan sekolah swasta
biasanya berupa badan maupun yayasan pendidikan. Tanggung jawab
pengelola sekolah swasta diatur sebagai berikut:
a. Menteri bertanggung jawab atas pengelolaan yang berkenaan
dengan:
1) Pengembangan, pengadaan, dan pendayagunaan kurikulum.
2) Pembinaan dan pengembangan guru serta tenaga pendidik
lainnya.
3) Penetapan pedoman penyusun buku pelajaran.
4) Penyusun pedoman pengembangan.
5) Penyusun pedoman pengembangan, pengadaan dan
pemanfaatan peralatan pendidikan.
6) Pengawasan penyelengara pendidikan.
b. Yayasan atau badan yang menyelenggarakan sekolah
bertanggung jawab atas pengelolaan yang berkenan dengan:
1) Pengadaan, pemanfaatan, dan pengembangan guru serta
tenaga kependidikan lainnya.
2) Pengadaan, pemanfaatan tanah, gedung, dan ruang kelas.
3) Keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, keindahan,
4) Pembiayaan penyelenggaraan pendidikan.
5) Penambahan jam pelajaran berkenaan dengan ciri khas
sekolah tanpa mengurangi struktur program.
Sekolah negeri merupakan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Sedangkan sekolah swasta merupakan sekolah yang diselenggarakan oleh non
pemerintah. Sekolah negeri lebih memiliki kelebihan dalam hal fasilitas serta
guru/pendidik. Sekolah negeri memliki fasilitas yang lengkap, sehingga akan lebih
menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Jika dilihat dari guru/ pendidik
sekolah negeri memiliki banyak guru/pendidik dengan begitu akan lebih mudah
mengawasi siswanya di sekolah. Sedangkan sekolah swasta hanya memiliki sedikit
guru/pendidik, dengan begitu akan kesulitan dalam mengawasi siswanya di
sekolah, ditambah lagi guru-guru di sekolah swasta merupakan guru honorer.
Tidak seperti di sekolah negeri yang merupakan pegawai tetap. Selain itu
perbedaan peraturan yang ditetapkan antara sekolah negeri dan swasta juga
berbeda. Sekolah negeri cenderung lebih ketat dalam hal peraturan di sekolah,
sehingga siswa di sekolah negeri lebih disiplin dalam proses belajar mengajar di
sekolah.
F. Penelitian yang Relevan
1. Hubungan antara motivasi berprestasi dengan perilaku Menyontek
Penelitian ini dilakukan oleh Alvianto, (2008) Universitas sanata
Dharma. Penelitian yang dilakukan pada siswa-siswi kelas XI di SMA Negeri
terdapat hubugan negatif yang signifikan antara variabel motivasi berprestasi
dengan perilaku menyontek (r=-0.577, seigifikansi 0.000). Hal ini berarti
bahwa semakin tinggi tingkat motivasi berprestasi pada siswa-siswi, maka
akan semakin rendah tingkat perilaku menyonteknya. Demikian pula
sebalikya, semakin rendah tingkat motivasi berprestasi pada siswa-siswi, maka
semakin tinggi tingkat perilaku menyonteknya.
2. Perbedaan Sikap antara Mahasiswa Laki-Laki dan Perempuan Terhadap
Perilaku Menyontek dalam Ujian di Universitas Sanata Dharma.
Penelitian ini dilakukan oleh Meidiana (2005) Universitas Sanata
Dharma. Penelitian pada mahasiswa USD yang berjumlah 80 orang yang
terdiri dari 40 orang laki-laki dan 40 orang perempuan, menunjukkan bahwa
ada perbedaan sikap antara mahasiswa laki-laki dan perempuan terhadap
perilaku menyontek. Perbandingan nilai mean pada mahasiswa laki-laki
sebesar 132.07 dan pada perempuan sebesar 110.90. Hal ini menunjukkan
bahwa sikap mahasiswa laki-laki lebih permisif daripada perempuan terhadap
perilaku menyontek dalam ujian di USD.
G. Kerangka Berpikir.
1. Perilaku Siswa Terhadap Mencontek ditinjau dari Status Sekolah.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang digunakan untuk
proses belajar mengajar. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal
yang terbagi menjadi dua macam yaitu sekolah negeri dan sekolah swasta.
Sekolah swasta adalah sekolah yang diselenggarakan oleh non-pemerintah
atau masyarakat, penyelenggara sekolah swasta biasanya berupa badan
maupun yayasan pendidikan melalui suatu badan atau organisasi tertentu,
tanpa mendapat bantuan dari pemerintah.
Status sekolah yang baik adalah sekolah yang dianggap berpotensi
untuk memberikan masa depan yang baik bagi siswa. Ada dugaan bahwa
sekolah swasta memiliki intensitas menyontek yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sekolah negeri, hal ini disebabkan karena sekolah
negeri lebih memiliki kelebihan dalam hal fasilitas serta guru/pendidik.
Sekolah negeri memliki fasilitas yang lengkap. Sehingga akan lebih
menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Jika dilihat dari guru/
pendidik sekolah negeri memiliki banyak guru dengan begitu akan lebih
mudah mengawasi siswa nya di sekolah. Sedangkan sekolah swasta hanya
memiliki sedikit guru, dengan begitu akan kesulitan dalam mengawasi
siswanya di sekolah, ditambah lagi guru-guru di sekolah swasta merupakan
guru honorer. Tidak seperti di negeri yang merupakan pegawai tetap.
Selain itu perbedaan peraturan yang ditetapkan antara sekolah negeri dan
swasta juga berbeda. Sekolah negeri cenderung lebih ketat dalam hal
peraturan di sekolah, sehingga siswa di sekolah negeri lebih disiplin dalam
proses belajar mengajar di sekolah dengan begitu siswa akan lebih tertib
Status sekolah akan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap
siswa setelah lulus dari bangku sekolah menengah pertama. Dengan kata
lain baik-buruknya status sekolah dan iklim sekolah akan mempengaruhi
kebiasaan siswa menjadi baik juga. Sehingga peneliti menduga bahwa ada
perbedaan perilaku mencontek berdasarkan tingkat pendidikan orang tua
dan status sekolah.
2. Perilaku Siswa Terhadap Menyontek Ditinjau dari Tingkat Pendidikan
Orang Tua
Tingkat pendidikan orang tua yang dimaksud adalah tingkat pendidikan
formal yaitu SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi yang dicapai oleh orang
tua siswa. Setiap siswa mempunyai orang tua yang tingkat pendidikannya
berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan akan berbeda juga dalam
cara mendidik anaknya. Orang tua dengan lulusan Perguruan Tinggi akan
lebih memperhatikan ananknya dalam proses belajar dibandingkan dengan
dengan orang tua yang lulusan SD. Hal ini disebabkan karena jenjang
pendidikan yang telah dicapai oleh orang tua. Semakin tinggi jenjang
pendidikan orang tua akan semakin memperhatikan anaknya dalam
menempuh pendidikan di sekolah, seperti cara belajar, berperilaku jujur
serta kedisiplinan. Namun sebaliknya dengan orang tua dengan tingkat
pendidikan rendah akan cenderung membiarkan anaknya dikarenakan
Seperti yang dikatakan Slameto (2003): “siswa yang belajar akan
menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi
antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga,
pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan”.
Oleh sebab itu peneliti menduga ada perbedaan perilaku siswa terhadap
menyontek yang ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua.
H. Paradiga Penelitian
Keterkaitan antara variabel-variabel penelitian dapat disusun dalam suatu
paradigma sebagai berikut:
I. Hipotesis Penelitian
1. Hipotesis 1
Ho= Tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau
dari status sekolah. Status Sekolah
(X1)
Tingkat Pendidikan Orang Tua
(X2)
Perilaku Siswa Terhadap Menyontek
Ha= Ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau dari
status sekolah .
2. Hipotesis 2
Ho= Tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau
dari tingkat pendidikan orang tua.
Ha= Ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau dari
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Dalam penelitian ini siswa
akan berperan sebagai responden. Penelitian ini akan dilakukan di SMP dan hasil atau
kesimpulan ini tidak bisa direalisasikan pada SMP-SMP lainnya di Yogyakarta sebab
penelitian studi kasus merupakan jenis penelitian dengan karakteristik serta masalah
yang mempunyai kaitan antara latar belakang dan kondisi nyata saat ini dari subyek
yang diteliti.
B. Tempat dan waktu penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di SMP N 8 Yogyakarta, SMP Kristen Kalam
Kudus, SMP Tumbuh dan SMP N 2 Yogyakarta.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari 2016 – April 2016.
C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah siswa-siswi SMP yang mempunyai orang
tua berstatus pendidikan serta terdaftar sebagai siswa di sekolah yang berstatus
negri dan swasta. Siswa yang dipilih oleh peneliti adalah siswa yang berada di
siswa yang berada pada masa usia anak-anak menuju remaja sehingga memiliki
emosi yang tidak stabil dan dapat mempengaruhi bagaimana mereka berperan.
Menurut Bichler (1972) dalam buku perkembangan peserta didik, remaja berusia
12-15 tahun cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan
pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya percaya diri. Kurangnya
kepercayaan diri inilah yang menyebabkan remaja pada usia tersebut dapat
melakukan hal-hal yang negative, misalnya menyontek untuk memperoleh nilai
yang tinggi.
Berdasarkan gambaran populasi yang diperoleh oleh peneliti, maka didapat
sampel penelitian. Menurut Sugiono (2012: 81) sampel adalah bagian dari jumlah
dan karateristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan menurut Yusuf (2014:
150), sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi
sesuai dengan karateristik yang dimilikinya. Jadi sampel adalah sebagian besar
dari populasi yang sesuai dengan karakter yang telah ditentukan. Oleh karena itu,
sampel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki karateristik di bawah ini,
yaitu:
1. Latar belakang pendidikan orang tua siswa yang dibagi menjadi SD, SMP, SMA
dan lainnya
2. Terdaftar sebagai siswa sekolah yang berstatus negri dan swasta.
Penelitian yang ideal mensyaratkan pengambilan sampel yang random untuk
mendapatkan sampel yang representative. Namun keterbatasan yang dimiliki
menggunkan teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Teknik ini
memilih sekelompok subjek yang berdasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat yang
dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat
populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2004).
2. Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah perilaku siswa terhadap
mencontek.
D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiono (2012: 80), populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas: objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Sedangkan menurut Margono (2010: 118), populasi adalah seluruh
data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita
tentukan. Jadi populasi adalah keseluruhan dari subjek yang memiliki karakteristik
untuk diteliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang telah ditentukan.
Oleh sebab itu dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah siswa Sekolah
Menengah Pertama (SMP).
2. Sampel
Menurut Sugiono (2012: 81) sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan menurut Yusuf (2014: 150),
dengan karakteristik yang dimilikinya. Jadi sampel adalah sebagian besar dari
populasi yang sesuai dengan karakter yang telah ditentukan.
Dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan rumus Slovin (Umar,
2007: 78) adalah:
Keterangan:
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel
yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, misalnya 2%.
3. Teknik Penarikan Sampel
Pada penelitian ini akan menggunakan teknik penarikan sampel jenis
Proportional Random Sampling yang merupakan pengembangan stratified random
sampling dengan rumus sebagai berikut:
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
kuesioner. Menurut Sugiyono (2013:230) kuesioner merupakan teknik pengumpulan
setelah diisi dengan lengkap mengembalikan kepada peneliti. Dalam penelitian ini,
pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan
oleh Meidiana (2005) dengan tingkat reliabilitas sebesar 0,9682. Instrumen yang
dikembangkan oleh Meidiana (2015) ini akan diuji kembali validitas dan
reliabilitasnya sehingga instrument yang dikembangkan benar-benar valid reliable.
Berikut ini adalah dimensi dan indikator peran menyontek:
Tabel 3.1
Afektif 13,22,31,40,54 5,19,24,42,59
Perilaku 6,26,37,44,57 8,15,33,46,53
2
Kognitif 12,18,30,36,58 10,11,23,41,51
Afektif 14,25,32,43,60 4,17,29,45,56
Setiap butir pernyataan dalam 4 (empat) pilihan kategori, yaitu meliputi SS (Sangat
Setuju), S ( Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Keseluruhan
item pernyataan yang dibuat dari item yang favorable dan item unfavorable. Item
favorable adalah item-item yang menyatakan peran positif atau mendukung perilaku
menyontek, sedangkan item yang unfavorable adalah item-item yang menyatakan
peran negatif atau tidak mendukung adanya perilaku mencontek. Item-item disusun
secara acak.
Empat pilihan alternatif dalam item memiliki nilai tersendiri, yaitu untuk
pernyataan favorable, respon SS diberi nilai 4, S diberi nilai 3, TS diberi nilai 2 dan
STS diberi nilai 1, sedangkan unfavorable, respon SS diberi nilai 1, S diberi nilai 2,
TS diberi nilai 3, dan STS diberi nilai 4.
F. Pengujian Instrumen Penelitian
1. Uji Validitas Instrumen
Menurut Sugiyono (2013:203) instrumen yang valid berarti alat ukur yang
digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen
tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.
Pengujian validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi
product moment, sebagai berikut Sugiyono (2013:286):
∑ ∑ ∑
Keterangan:
r = koefisien korelasi antara variabel X dengan Variabel Y
Y= skor total dari seluruh item
X= skor total dari setiap item
N=jumlah responden
∑ =hasil kali X dan Y
Jika nilai koefisien r hitung lebih besar dari r tabel, maka butir soal tersebut
dikatakan valid. Jika r hitung lebih kecil dari r tabel, maka butir soal tersebut dapat
dikatakan tidak valid.
Nilai dapat di hitung dengan menggunakan sampel sebanyak 113
responden dengan taraf signifikansi 5%, dari responden sebanyak 113 siswa tersebut
dapat dilihat di tabel dengan cara menghitung:
Df= n-2
Keterangan:
Df = degree of freedom (derajat bebas)
n = jumlah responden
Perhitungan adalah sebagai berikut:
Df= 113-2 = 111
Tabel 3.2 Sebagian dari r table
Df= n-2
Taraf Signifikansi sebesar 0,05
Df= n-2
Taraf Signifikansi sebesar 0,05
(5%)
111 0,1867
Jika nilai-nilai corrected item-total correlation setiap item lebih besar dari
nilai 0,1867, maka item pertanyaan/pernyataan dapat dikatakan valid.
Sebaliknya, jika nilai-nilai corrected item-total correlation setiap item lebih kecil
0,1867, maka item pertanyaan/pernyataan dikatakan tidak valid.
Pengujian validitas dilakukan secara serentak dengan jumlah responden
sebanyak 113 siswa. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 8 Yogyakarta, SMP Kristen
Kalam Kudus, SMP Tumbuh Yogyakarta dan SMP Negeri 2 Yogyakarta. Berikut ini
disajikan hasil validitas item penelitian ini:
a. Variabel Perilaku Menyontek Siswa
Tabel 3.3
Hasil Pengujian Validitas Instrumen Perilaku Menyontek
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 1 .376 0,1867 Valid
Butir 2 .572 0,1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 4 .313 0,1867 Valid
Butir 5 .430 0,1867 Valid
Butir 6 .424 0,1867 Valid
Butir 7 .356 0,1867 Valid
Butir 8 .322 0,1867 Valid
Butir 9 .476 0,1867 Valid
Butir 10 .339 0,1867 Valid
Butir 11 .313 0,1867 Valid
Butir 12 -.162 0,1867 Tidak Valid
Butir 13 .466 0,1867 Valid
Butir 14 .657 0,1867 Valid
Butir 15 .235 0,1867 Valid
Butir 16 .545 0,1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 18 .389 0,1867 Valid
Butir 19 .377 0,1867 Valid
Butir 20 .523 0,1867 Valid
Butir 21 .426 0,1867 Valid
Butir 22 -.480 0,1867 Tidak Valid
Butir 23 .400 0,1867 Valid
Butir 24 .357 0,1867 Valid
Butir 25 .593 0,1867 Valid
Butir 26 .568 0,1867 Valid
Butir 27 .675 0,1867 Valid
Butir 28 .522 0,1867 Valid
Butir 29 .209 0,1867 Valid
Butir 30 .285 0,1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 32 .651 0,1867 Valid
Butir 33 .681 0,1867 Valid
Butir 34 .680 0,1867 Valid
Butir 35 .568 0,1867 Valid
Butir 36 -.134 0,1867 Tidak Valid
Butir 37 .667 0,1867 Valid
Butir 38 .553 0,1867 Valid
Butir 39 .454 0,1867 Valid
Butir 40 .549 0,1867 Valid
Butir 41 .345 0,1867 Valid
Butir 42 .548 0,1867 Valid
Butir 43 .692 0,1867 Valid
Butir 44 .638 0,1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 46 .519 0,1867 Valid
Butir 47 .666 0,1867 Valid
Butir 48 .652 0,1867 Valid
Butir 49 .485 0,1867 Valid
Butir 50 -.547 0,1867 Tidak Valid
Butir 51 .227 0,1867 Valid
Butir 52 .717 0,1867 Valid
Butir 53 .439 0,1867 Valid
Butir 54 .334 0,1867 Valid
Butir 55 .280 0,1867 Valid
Butir 56 .103 0,1867 Tidak Valid
Butir 57 .679 0,1867 Valid
Butir 58 .567 0,1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 60 .703 0,1867 Valid
Table 3.3 menunjukan bahwa ada beberapa butir pertanyaan/ pernyataan
tentang perilaku menyontek adalah tidak valid karena nilai corrected item-total
correlation ( = 0,1867). Butir yang tidak valid antara lain 12, 22, 36, 45, 50, dan
56 karena ada beberapa butir pertanyaan/ pernyataan yang tidak valid maka
dilakukan pengujian validitas ulang.
Tabel 3.4
Hasil Pengujian Validitas Ulang 1 Instrumen Perilaku Menyontek
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 1 .389 0.1867 Valid
Butir 2 .578 0.1867 Valid
Butir 3 .454 0.1867 Valid
Butir 4 .313 0.1867 Valid
Butir 5 .441 0.1867 Valid
Butir 6 .448 0.1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 8 .322 0.1867 Valid
Butir 9 .480 0.1867 Valid
Butir 10 .374 0.1867 Valid
Butir 11 .346 0.1867 Valid
Butir 13 .458 0.1867 Valid
Butir 14 .666 0.1867 Valid
Butir 15 .237 0.1867 Valid
Butir 16 .560 0.1867 Valid
Butir 17 .371 0.1867 Valid
Butir 18 .393 0.1867 Valid
Butir 19 .383 0.1867 Valid
Butir 20 .516 0.1867 Valid
Butir 21 .465 0.1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 24 .355 0.1867 Valid
Butir 25 .582 0.1867 Valid
Butir 26 .573 0.1867 Valid
Butir 27 .666 0.1867 Valid
Butir 28 .525 0.1867 Valid
Butir 29 .188 0.1867 Valid
Butir 30 .281 0.1867 Valid
Butir 31 .567 0.1867 Valid
Butir 32 .655 0.1867 Valid
Butir 33 .677 0.1867 Valid
Butir 34 .684 0.1867 Valid
Butir 35 .573 0.1867 Valid
Butir 37 .674 0.1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 39 .453 0.1867 Valid
Butir 40 .552 0.1867 Valid
Butir 41 .366 0.1867 Valid
Butir 42 .552 0.1867 Valid
Butir 43 .683 0.1867 Valid
Butir 44 .654 0.1867 Valid
Butir 46 .502 0.1867 Valid
Butir 47 .679 0.1867 Valid
Butir 48 .653 0.1867 Valid
Butir 49 .475 0.1867 Valid
Butir 51 .222 0.1867 Valid
Butir 52 .729 0.1867 Valid
Butir 53 .448 0.1867 Valid
No Item r hitung r tabel Keterangan
Butir 55 .289 0.1867 Valid
Butir 57 .688 0.1867 Valid
Butir 58 .565 0.1867 Valid
Butir 59 .298 0.1867 Valid
Butir 60 .702 0.1867 Valid
Tebel 3.5 setelah menghapus butir pertanyaan/ pernyataan yang tidak valid
dan melakukan pengujian validitas ulang maka semua butir pertanyaan/ pernyataan
tentang peran menyontek adalah valid karena nilai corrected item-total correlation
( = 0,1867).
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Jonathan Sarwono (2014:248) reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan
stabilitas nilai hasil pengukuran tertentu di setiap kali pengukuran dilakukan pada hal
yang sama.
Pengujian reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini dilakukan dengan program
komputer SPSS dengan teknik koefisien Alpha Cronbach yaitu dengan membelah
kecil kesalahan pengukuran maka semakin reliabel alat ukur tersebut. Sebaliknya,
semakin kecil koefisien reliabilitas berarti semakin besar kesalahan pengukuran maka
semakin tidak reliabel.
Pengujian realibitas dalam penelitian ini menggunakan Cronbach’s Alpha, sebagai berikut Kountur (2003:158):
α= ∑
Keterangan:
a = cronbach’s alpha N = banyaknya pertanyaan
= variance dari pertanyaan
= variance dari skor
Jika cronbach’s alpha lebih dari 0,6 maka kuesioner tersebut dikatakan reliabel. Hasil pengujian reliabilitas variabel tingkat keterlaksanaan pembelajaran kontekstual,
variabel keterampilan berkomunikasi, variabel integritas pribadi, dan variabel minat
belajar siswa tampak dalam tabel berikut:
Tabel 3.5
Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian
Variabel Nilai r hitung Nilai r tabel Status
Perilaku
Menyontek
0,923 0,6 Reliabel
Tebel 3.6 menunjukkan bahwa instrument penelitian untuk variabel peran menyontek
3. Teknik Analisis Data
1. Deskripsi Data
Deskripsi data digunakan peneliti untuk menggambarkan karakter suatu data
yang berasal dari populasi penelitian pada variabel peran. Menurut Kountor
(2003:104) penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran
atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek
yang diteliti.
Data yang diperoleh dari hasil kuesioner dianalisis dengan menggunakan
analisis deskriptif atau pemaparan. Data hasil kuesioner dideskripsikan dengan
Penilaian Acuan Patokan tipe II (PAP II), karena jika dibandingkan dengan PAP tipe
I, PAP tipe II memiliki passing score lebih rendah yaitu pada persentil 56. Tuntutan
pada persentil 56 sering disebut sebagai presentil minimal, karena passing score pada
presentil 56 dianggap merupakan batas penguasaan kompetensi minimal yang paling
rendah. Perlu kiranya diperhatikan bahwa passing score pada presentil kurang dari 56
dan lebih dari 65 biasanya tidak disarankan, mengingat kedua passing score tersebut
telah keluar dari presentil minimal dan maksimal. Namun, terbuka kesempatan untuk
menentukan passing score pada daerah presentil 56 dan 65, asalkan penentuan
passing score tertentu itu masih tetap memperhitungkan keadaan.
Nilai presentil PAP tipe II adalah sebagai berikut (Masidjo, 1995:157):
Nilai Presentil Kategori Kecenderungan Variabel
81%-100% Sangat Tinggi
66%-80% Tinggi
56%-65% Sedang
46%-55% Rendah
<46% Sangat Rendah
PAP tipe II ini pada umumnya merupakan cara untuk menghitung prestasi
siswa di kelas dengan skor minimal 0 dan skor maksimal 100. Dalam hal ini data
penelitian yang ditetapkan sebelumnya memiliki skor tertinggi 4 dan skor terendah 1,
maka dari itu untuk mendiskripsikan kategori kecenderungan variabel yang harus
dilakukan adalah menemukan skor interval dengan memodifikasi rumus PAP tipe II
dengan rumus:
Skor terendah yang mungkin dicapai + [nilai presentil x (skor tertinggi yang mungkin
dicapai item – skor terendah yang mungkin dicapai)] Perhitungan untuk setiap variabel adalah sebagai berikut:
a. Variabel Perilaku Menyontek Para Siswa
Skor tertinggi yang mungkin dicapai : 4 x 54 = 216
Skor terendah yang mungkin dicapai : 1 x 54= 54
Skor: