• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari status sekolah dan tingkat pendidikan orang tua pada siswa kelas VIII di kota Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari status sekolah dan tingkat pendidikan orang tua pada siswa kelas VIII di kota Yogyakarta"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

PERILAKU SISWA TERHADAP MENYONTEK DITINJAU

DARI STATUS SEKOLAH DAN TINGKAT PENDIDIKAN

ORANG TUA PADA SISWA KELAS VIII KOTA

YOGYAKARTA

Survei pada Empat SMP di Kota Yogyakarta

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus

Pendiikan Akuntansi

Oleh:

A. Brahm Jalu Nugroho

NIM : 121334017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PERILAKU SISWA TERHADAP MENYONTEK DITINJAU DARI

STATUS SEKOLAH DAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA

PADA SISWA KELAS VIII DI KOTA YOGYAKARTA

Survei pada empat SMP di Kota Yogyakarta

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi

Oleh:

A. Brahm Jalu Nugroho

NIM : 121334017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

TUHAN YESUS KRISTUS

Terima kasih Tuhan Yesus telah membimbingku dan melancarkan dalam mengerjakan skripsi ini.

Orang tuaku Yohanes Boymin dan Theresia Sumarti yang selalu memberikan nasihat dan selalu memberi motivasi dalam hidupku..

Kakakku, Ch. Memi Handayani dan Rosaria Indriawati yang telah memberikan doa, dukungan moral dalam penyusunan skripsi ini.

Sahabat-sahabatku : Tomo (tombol), Deny (mamik), Panji (panjul), Umek, Bima, Tomi, Pater, Yosep, Chrismas (Gendut), Marsel, Galing, Henri, Leo,

Mas Priam, Mas Anang, Mas Anton, Mas Dwi, Bang Jim, Gembul, Yosep Yomeng, Guntur (gencik), Iwan (tik’eng), Febri (pebrus), Ardi Kuplek, Tigor Batak, Erik Bejo dan Qtut yang selalu mendukung, menghiburku dikala penat

mengerjakan skripsi dan doa atas penyusunan skripsi ini.

Sahabat-sahabatku mahasiswa Pendidikan Akuntansi, Terima kasih atas segala dukunganya selama 4,5 tahun ini.

Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku,

(6)

v

Motto

“nikmati saja prosesnya,karena sukses hanya masalah waktu.”

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan

bagimu.”

(Matius 7 : 7)

“Olo Tanpo Rupo Yen Tumandhang Amung Sedelok”

“setiap kesusahan, keburukan, dan masalah-masalah apabila dijalani dengan senang hati maka akan hanya terasa

(7)
(8)
(9)

viii

ABSTRAK

PERILAKU SISWA TERHADAP MENYONTEK DITINJAU DARI STATUS SEKOLAH DAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA PADA SISWA

KELAS VIII DI KOTA YOGYAKARTA

A. Brahm Jalu Nugroho

Universitas Sanata Dharma

2016

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) ada tidaknya perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari status sekolah; 2) ada tidaknya perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua.

Jenis penelitian ini termasuk penelitian studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Februari sampai April 2016. Subjek penelitian ini berjumlah 113 siswa kelas VIII dari sekolah negeri dan swasta. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah Mann-Whitney dan Kruskal Wallis dengan bantuan program SPSS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari status sekolah dengan nilai asymp sig= 0,888; 2) tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua kelompok ayah dengan nilai asymp sig= 0,299 dan kelompok ibu dengan nilai asymp sig= 0,608.

(10)

ix

ABSTRACT

THE BEHAVIOR OF STUDENTS TOWARD CHEATING PERCEIVED

FROM STATUS OF THE SCHOOL AND PARENTS’ EDUCATION LEVEL

ON THE EIGHTH GRADE STUDENTS IN YOGYAKARTA

A. Brahm Jalu Nugroho

Sanata Dharma University

2016

This research aims to find out: 1) differences of students’ behavior toward cheating perceived from status of the school; 2) differences of students’ behavior toward cheating perceived from parents’ education level.

The type of research is a case study. This research was conducted from February to April 20016. The subjects of this research were 113 students of the eighth grade from public and private schools. The method of data collection was questionnaire. The data analysis technique was Mann Whitney and Kruskal Wallis which was operated by SPSS program.

The results show that: 1) there is no difference in the students’ behavior toward cheating perceived from status of the school with a value of asymp sig= 0, 888; 2) there is no difference in the students’ behavior of students toward cheating perceived from education level of a group of fathers with the value of asymp sig= 0, 299 and a group of mothers with the value of asymp sig= 0,608.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat

karunia dan berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Siswa Terhadap Menyontek Ditinjau Dari Status Sekolah Dan Tingkat Pendidikan

Orang Tua Pada Siswa Kelas VIII Di Kota Yogyakarta” dengan lancar. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma,

Yogyakarta. Selama penyusunan dan penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah

membantu terselesaikannya skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan

ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph. D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Ignatius Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan

Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak Ignatius Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi

Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi,

Universitas Sanata Dharma.

4. Bapak Drs. Bambang Purnomo S.E., M.Si.. selaku Dosen Pembimbing, bapak

(12)

xi

5. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Akuntansi yang

telah membagikan ilmu pengetahuan dan membimbing saya selama proses

perkuliahan.

6. Staf Kesekretariatan Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Akuntansi yang telah

membantu saya dalam urusan administrasi selama proses perkuliahan.

7. Kedua Orang tuaku Yohanes Boymin dan Theresia Sumarti yang selalu

memberikan nasihat dan selalu memberi motivasi dalam hidupku.

8. Kakakku, Ch. Memi Handayani dan Rosaria Indriawati yang telah memberikan

doa, dukungan moral dalam penyusunan skripsi ini.

9. Sahabat-sahabatku: Tomo (tombol), Deny (mamik), Panji (panjul), Umek, Bima,

Tomi, Pater, Yosep, Marsel, Galing, Henri, Leo, Bang Jim, Gembul, Guntur

(gencik), Iwan (tik’eng), febri (pebrus), Ardi Kuplek, Tigor Batak, Erik Bejo dan

Qtut yang selalu mendukung, menghiburku dikala penat mengerjakan skripsi dan

doa atas penyusunan skripsi ini.

10. Agata Aderita Vena Purdianti yang telah memberikan doa, dukungan moral,

kesabaran dalam penyusunan skripsi ini.

11. Teman-teman satu angkatan Pendidikan Akuntansi Angkatan 2012 yang tidak

dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas kebersamaan yang luar biasa

ini dan dinamika kita yang mendewasakan dimasa perkuliahan. Sukses untuk kita

semua.

12. Semua pihak yang mendukung membantu dalam penyusunan skripsi ini yang

(13)
(14)

xiii

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Halaman Persetujuan Pembimbing ... ii

Halaman Pengesahan ... iii

Halaman Persembahan ... iv

Halaman Motto... v

Pernyataan Keaslian Karya ... vi

Lembar Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis ... vii

Abstrak ... viii

Abstract ... viiii

Kata Pengantar ... x

Daftar Isi... xiii

Daftar Tabel ... xvi

(15)

xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Pendidikan Karakter dan Nilai Karakter ... 8

B. Perilaku ... 11

C. Menyontek ... 13

D. Pendidikan Orang Tua ... 17

E. Status Sekolah ... 20

F. Penelitian Yang Relevan ... 23

G. Kerangka Berpikir ... 24

H. Paradigma Penelitian ... 27

I. Hipotesis Penelitian ... 27

BAB III METODE PENELITIAN... 29

A. Jenis Penelitian ... 29

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 29

C. Subyek dan Obyek Penelitian... 29

(16)

xv

E. Teknik Pengumpulan Data ... 32

F. Pengujian Instrumen Penelitian ... 34

BAB IV GAMBARAN UMUM ... 52

A. SMP Tumbuh Yogyakarta... 52

B. SMP Kristen Kalam Kudus Yogyakarta ... 52

C. SMP Negeri 8 Yogyakarta ... 53

D. SMP Negeri ... 54

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 56

A. Deskripsi Data ... 56

B. Pengujian Hipotesis ... 69

C. Pembahasan ... 72

BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN ... 77

A. Kesimpulan ... 77

B. Keterbatasan ... 77

C. Saran ... 78

Daftar Pustaka ... 80

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai-nilai Karakter dan Deskripsi Karakter ... 8

Tabel 3.1 Operasional Variabel Perilaku Menyontek ... 33

Tabel 3.2 Sebagian r tabel ... 35

Tabel 3.3 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Perilaku Menyontek ... 36

Tabel 3.4 Hasil Pengujian Validitas Ulang I Instrumen Perilaku Menyontek .... 41

Tabel 3.5 Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 46

Tabel 3.6 Nilai Presentil PAP Tipe II ... 47

Tabel 3.7 Rentang Tingkat Perilaku Menyontek ... 49

Tabel 3.8 Pedoman Teknik Pengolahan Data ... 50

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Asal Sekolah ... 56

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Status Sekolah ... 57

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Jumlah Siswa Berdasarkan Pendidikan Orang Tua ... 58

(18)

xvii

Tabel 5.5 Perhitungan dan Interpretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Status Sekolah Negeri ... 60

Tabel 5.6 Perhitungan dan Interpretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Status Sekolah Swasta ... 61

Tabel 5.7 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Ayah PT ... 61

Tabel 5.8 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah SMA ... 62

Tabel 5.9 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap Menyontek

Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah SMP ... 63

Tabel 5.10 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah SD ... 64

Tabel 5.11 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ayah Lainnya ... 64

Tabel 5.12 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu PT ... 65

Tabel 5.13 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

(19)

xviii

Tabel 5.14 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu SMP. ... 66

Tabel 5.15 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu SD. ... 67

Tabel 5.16 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap

Menyontek Ditinjau Dari Pendidikan Orang Tua Ibu Lainnya. ... 68

Tabel 5.17 Hasil uji Mann Whitney Mengenai Perilaku Siswa Terhadap Menyontek

Berdasarkan Status Sekolah. ... 69

Tabel 5.18 Hasil uji Kruskal Wallis Mengenai Perilaku Siswa Terhadap Menyontek

Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua Kelompok Ayah... 70

Tabel 5.19 Hasil uji Kruskal Wallis Mengenai Perilaku Siswa Terhadap Menyontek

(20)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran ... 83

Lampiran I Koesioner ... 84

Lampiran II Data Induk ... 93

Lampiran III Validitas Dan Reliabilitas ... 104

Lampiran IV Mann Whitney dan Kruskal Wallis ... 108

Lampiran V Surat Ijin dan Data Dari Dinas... 111

Lampiran VI Tabel R ... 115

(21)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perilaku menyontek menjadi fenomena yang perlu diperhatikan dalam

dunia pendidikan. Kebanyakan siswa di SD, SMP, SMA/K maupun mahasiswa

di perguruan tinggi pernah menyontek. Menyontek dapat dilakukan dengan

berbagai cara seperti menulis di atas meja, menulis di kertas/tissue, menulis di

anggota tubuh, bertanya kepada teman, searching menggunakan ponsel, melihat

dan menyalin jawaban teman, menyontek dengan buku yang diletakkan di laci

atau di WC, dan lain-lain.

Perilaku menyontek merupakan suatu upaya yang dilakukan pelajar dan

mahasiswa untuk mendapatkan nilai yang baik. Beberapa alasan lainnya

pelajar/mahasiswa menyontek adalah agar mendapatkan pujian dari orang tua,

guru, dan teman-temannya; tidak siap dalam ulangan/ujian; tidak percaya diri;

kesulitan dalam mata pelajaran tertentu; malas belajar; dan sebagai bentuk

solidaritas antar teman. Bila hal ini terus-menerus dibiarkan maka dapat

dipastikan pendidikan di Indonesia akan mengalami kemunduran.

Dunia pendidikan perlu mengikis perilaku menyontek ini. Perilaku

menyontek merupakan bagian dari ketidakjujuran. Ketika dunia pendidikan

membiarkan ketidakjujuran ini berlanjut, maka akan memberikan dampak pada

(22)

plagiatisme yang marak terjadi merupakan contoh dari kegagalan dunia

pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.

Fakta tentang perilaku ketidakjujuran di dunia pendidikan biasanya

banyak terjadi saat menjelang ujian. Hal ini di dukung oleh hasil penelitian dari

Hartanto dalam Kharisma (2014 : 21) menunjukkan bahwa intensitas perilaku

menyontek di SMP Swasta di daerah Pondok Cabe Jakarta, berada pada posisi

sedang (53,3%), rendah (33,3%), dan tinggi (13,3%). Bentuk perilaku

menyontek yang biasa dilakukan oleh peserta didik antara lain melihat,

menyalin, dan meminta jawaban dari teman-temannya.

Selain itu, ada fakta lain mengenai perilaku menyontek di kota

Yogyakarta. kota yang dikenal dengan sebutan “Kota Pelajar” ini dinobatkan

sebagai daerah yang memiliki nilai Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN)

tertinggi di Indonesia pada tahun 2015 (Harian Republika, 2015 tanggal 19

Mei). Berdasarkan data laporan hasil UN dan IIUN per kabupaten/kota yang

masuk ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kota

Yogyakarta meraih nilai tertinggi, yakni sekitar 82,37 dengan rata-rata nasional

63,28.

Di samping itu, perilaku menyontek juga disebutkan dalam website

komunitas air mata guru (www.komunitasairmataguru.blogspot.co.id). Dalam

website tersebut disebutkan banyak kecurangan-kecurangan dalam UN baik

yang dilakukan oleh siswa dan guru. Selain itu, hasil penelitian longitudinal

(23)

dilakukan siswa SMP dikarenakan adanya perubahan keadaan lingkungan

belajar yang dialami siswa. Hal ini disebabkan karena siswa mengalami masa

transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah, struktur kelas, dan lingkungan

sekolah yang kompetitif.

Sekolah Menengah Pertama merupakan salah satu jenjang pendidikan

yang dilalui oleh peserta didik. Pada jenjang ini, peserta didik dihadapkan pada

perkembangan mental dan moral. Menurut Anderman dalam Mubiar (2011 : 4),

pada usia 12-15 tahun yang umumnya individu duduk di bangku SMP akan

mulai memasuki dunia baru yang berbeda dengan pengalaman di sekolah dasar

serta banyak hal baru yang menuntut individu untuk menyesuaikan diri,

terutama pada siswa kelas VII.

Perubahan keadaan lingkungan belajar mengakibatkan siswa melakukan

tindakan menyontek. Mereka menganggap tindakan itu sebagai bentuk

solidaritas antar teman. Menyontek biasanya dilakukan pada pelajaran

matematika dan ilmu alam atau ilmu pasti, dibandingkan dengan pelajaran

lainnya. Menyontek biasanya terjadi pada waktu ulangan atau ujian.

Sekolah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bangunan untuk

belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut

tingkatnya). Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal harus

berkewajiban mengembangkan potensi seorang siswa dalam berbagai aspek

kepribadian, sehingga nantinya dapat menjadi manusia yang mampu berdiri

(24)

proses kegiatan terencana dan terorganisir yang terdiri atas kegiatan belajar,

kegiatan ini bertujuan menghasilkan perubahan positif pada diri siswa. Menurut

status, di Indonesia lembaga pendidikan/ sekolah terbagi menjadi dua yaitu

sekolah swasta dan negeri.

Sekolah swasta maupun sekolah negeri memiliki karakteristiknya sendiri,

sehingga dengan karakteristik tersebut akan menimbulkan perbedaan antara

yang satu dengan yang lain. Pada hakikatnya, sekolah swasta maupun negeri

mempunyai tujuan yang sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa seperti

yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Sekolah swasta adalah sekolah

sekolah yang diselenggarakan oleh non-pemerintah atau swasta, penyelenggara

sekolah swasta biasanya berupa badan maupun yayasan pendidikan. Sedangkan

sekolah negeri adalah sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sekolah

swasta maupun negeri dalam menyelenggarakan pendidikan selalu berupaya

adar membentuk siswa yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan dapat

membuat keputusan untuk masa depannya.

Tingkat pendidikan orang tua menentukan juga cara orang tua dalam

membimbing dan mengarahkan anaknya dalam hal pendidikan. Tingkat

pendidikan yaitu jenjang pendidikan yang telah ditempuh, baik formal maupun

non formal. Peran yang terbentuk pada masing-masing individu pada setiap

jenjang pendidikan formal akan berbeda-beda antara lulusan sekolah dasar,

lulusan sekolah menengah pertama, lulusan sekolah menengah atas, lulusan

(25)

orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anaknya dalam hal pendidikan

yang akan ditempuh anaknya. Tingkat pendidikan orang tua yang rendah akan

cenderung sempit wawasan terhadap pendidikan, lulus sekolah menengah sudah

dirasa cukup. Sedangkan tingkat pendidikan orang tua yang tinggi akan lebih

luas wawasannya terhadap pendidikan. Mereka akan mengarahkan dan

membimbing anaknya untuk membentuk pribadi yang dewasa, beriman, madiri,

berilmu serta bertanggung jawab, dalam hal ini adalah untuk tidak mencontek.

Di pihak lain, Prof. Djemari Mardapi, Ph.D. (wawancara dilakukan bulan

Agustus 2015) menyatakan bahwa pada tahun 2015, wilayah DIY merupakan

termasuk daerah putih (daerah yang bersih dari kecurangan dalam UN).

Pernyataan ini bertentangan dengan hasil penelitian Anderman yang

menyatakan bahwa perilaku menyontek sering dilakukan oleh siswa SMP.

Berdasarkan ketidakkonsistenan antara pendapat Prof. Djemari dan

hasil-hasil penelitian sebelumnya maka perlu dilakukan penelitian yaitu “Perilaku

Siswa Terhadap Menyontek Yang Ditinjau Dari Status Sekolah dan Tingkat

Pendidikan Orang Tua Pada Siswa Kelas VIII di Kota Yogyakarta”.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau

(26)

2. Apakah ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau

dari tingkat pendidikan orang tua?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui perbedaan perilaku

antara siswa di smp yang negeri atau swasta dan perbedaan perilaku siswa

berdasarkan tingkat pendidikan orang tua terhadap menyontek di kota

Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa, dan

sekolah dan perguruan tinggi.

1. Guru

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru dalam mengetahui dan

mencegah perilaku menyontek siswa-siswa SMP. Sehingga, hasil

ujian/ulangan yang dihasilkan benar-benar merupakan hasil belajar siswa

dan mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Dengan

demikian, pengambilan keputusan terkait dengan nilai yang dihasilkan

siswa tidak bias

2. Siswa

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa. Siswa lebih

menyadari tentang kemampuan yang dimiliki dan dapat mengoptimalkan

kompetensi-kompetensi yang ada pada diri siswa.

(27)

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah dan perguruan

tinggi dalam mengimplementasikan pendidikan karakter khususnya

kejujuran dalam belajar. Implementasi pendidikan karakter dapat dimulai

dari hal-hal yang sederhana, salah satunya adalah mendidik untuk jujur

(28)

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pendidikan Karakter dan Nilai Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter.

Pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk menciptakan

seseorang yang dapat berguna di masa yang akan datang, sedangkan karakter

adalah suatu atribut yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan

kompleksitas, mental satu orang dengan orang lainnya. Oleh karena itu, dapat

disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang

sungguh-sungguh dilakukan dan mampu menciptakan ciri pribadi yang berbeda anat orang

satu dan lainnya. Pendidikan karakter memiliki makna yang sama dengan

pendidikan moral dan pendidikan akhlak, yang mana tujuannya adalah untuk

membentuk karakter pribadi anak supaya menjadi manusia dan warga negara

yang baik.

Secara universal, berbagai karakter dirumuskan sebagai nilai hidup

bersama berdasarkan beberapa pilar yaitu : kedamaian, menghargai, kerjasama,

kebebasan, kebahagian, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung

jawab, kesederhahaan, toleransi, dan persatuan (Samani, 2013 : 43). Nilai-nilai

(29)

Tabel 2.1

Nilai-Nilai Karaker dan Deskripsi Karakter

No. Nilai Karakter Deskripsi

1 Kedamaian Sikap dan perilaku yang menyukai adanya

harmoni dan bebas dari konflik dan

gangguan, serta suka akan ketenangan.

2 Menghargai Menghargai diri sendiri, orang lain, dan

lingkungan. Bersikap beradab, sopan, tidak

melecehkan, tidak menghina orang lain, dan

tidak menilai orang lain sebelum

mengenalnya dengan baik.

3 Kerjasama Saling membantu untuk mencapai sebuah

tujuan.

4 Kebebasan Tidak adanya paksaan/tekanan yang sengaja

mendesak seseorang untuk bertidak melawan

kehendak diri sendiri.

5 Kebahagian Suatu keadaan di mana hadir kesenangan,

ketentraman, dan kepuasan terhadapa apa-apa

yang telah dicapai.

6 Kejujuran Menjunjung tinggi kebenaran, ikhlas dan

(30)

memfitnah, tidak pernah bermaksud

menjerumuskan orang lain.

7 Kerendahan Hati Mengakui adanya peranan dan jasa orang lain

dan tidak pernah menonjolkan diri.

8 Kasih sayang Memiliki dan menunjukkan perasaan penuh

kasih sayang, mencintai, dan bersikap penuh

kelembutan

9 Tanggung Jawab Melakukan tugas sepenuh hati, bekerja

dengan etos kerja yang tinggi, berusaha keras

mencapai prestasi terbaik, mampu

mengontrol diri, dan berdisplin diri.

10 Kesederhanaan Suatu keadaan tentang bagaimana berlaku

sederhana, tidak pamer, bermewah-mewah,

tidak berpikiran melit, dan rumit.

11 Toleransi Menerima secara terbuka orang lain yang

tingkat kematangan dan latar belakang yang

berbeda.

12 Persatuan Menjalin rasa kebersamaan dan saling

melengkapi satu sama lain, serta menjalin

(31)

B. Perilaku

1. Pengertian Perilaku

Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman

serta interaksi manusia dengan lingkungannyayang terwujud dalam

pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan

respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun

dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif maupun aktif. Perilaku aktif

dapat dilihat sedangkan perilaku pasif tidak tampak, seperti pengetahuan,

persepsi, atau motivasi. Beberapa ahli membedakan bentuk-bentuk perilaku

menjadi tiga yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan atau sering kita dengar

dengan istilah knowlege, attitude, practice ( Sarwono, 2004).

Menurut Skinner, sebagaimana yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),

merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap

stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui

proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut

merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus –

Organisme – Respon

2. Proses Pebentukan Perilaku

Perilaku manusia terbentuk karena adanya kebutuhan. Menurut Abrahm

Harold Maslow, manusia memiliki lima kebutuhan dasar yakni :

a. Kebutuhan fisiologis/ biologis, yang merupakan kebutuhan poko

(32)

b. Kebutuhan rasa aman, misalnya:

a) Rasa aman terhindar dari pencurian, penodongan, dan

perampokan atau kejahatan lainnya.

b) Rasa aman terhindar dari konflik, tawuran, kerusuhan,

peperangan dan lain-lain.

c) Rasa aman yerhindar dari sakit dan penyakit.

d) Rasa aman memperoleh perlindungan hukum.

c. Kebutuhan mencintai dan dicintai, misalnya:

a) Mendambakan kesih sayang orang lain baik dari orang tua,

saudara, teman, kekasih, dan lain-lain.

b) Ingin dicintai/ mencintai orang lain.

c) Ingin diterima oleh kelompok tempat ia berada.

d. Kebutuhan harga diri, misalnya:

a) Ingin dihargai dan menghargai orang lain.

b) Adanya respek dan perhatian dari orang lain.

c) Toleransi atau saling menghargai dalam hidup

berdampingan.

e. Kebutuhan aktualisasi diri, misalnya :

a) Ingin dipuja atau disanjung orang lain.

b) Ingin sukses atau berhasil dalam mencapai cita-cita.

c) Iongin menonjol dan lebih dari orang lain, baik dalam karier,

(33)

3. Bentuk Perilaku

Perilaku dapat diberi batasan sebagai suatu tanggapan individu terhadap

rangsangan yang berasal dari dalam maupun luar diri individu tersebut. Secara

garis besar bentuk perilaku ada dua macam, yaitu:

a. Perilaku Pasif (respons internal)

Perilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam diri individu

dan tidak dapat diamati secara langsung.

b. Perilaku Aktif (respons eksternal)

Perlaku yang sifatnya terbuka, perilaku aktif adalah perilaku yang

dapat diamati langsung, berupa tindakan yang nyata.

C. Menyontek

1. Pengertian Menyontek

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008), menyontek

berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, mencontoh, menggocoh yang

artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak.

Sedangkan Anderman dan Murdock dalam Purnamasari (2013) menyatakan

bahwa perilaku kecurangan akademik merupakan penggunaan segala

kelengkapan dari materi ataupun bantuan yang tidak diperbolehkan digunakan

dalam tugas-tugas akademik dan atau aktivitas yang mengganggu proses

asesmen.

Bower dalam Purnamasari, (2013) mendefinisikan cheating adalah

(34)

dan terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademik untuk menghindari

kegagalan akademik. Sedangkan menurut Pincus & Schemelkin (Mujahidah,

2009) perilaku menyontek merupakan suatu tindakan curang yang sengaja

dilakukan ketika seseorang mencari dan membutuhkan adanya pengakuan atas

hasil belajarnya dari orang lain meskipun dengan cara yang tidak sah seperti

memalsukan informasi terutama ketika dilaksanakannya evaluasi akademik.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku

menyontek adalah kegiatan, tindakan atau perbuatan yang dilakukan secara

sengaja dengan menggunakan cara-cara yang tidak jujur atau curang untuk

memalsukan hasil belajar dengan menggunakan bantuan atau memanfaatkan

informasi dari luar secara tidak sah pada saat dilaksanakan tes atau evaluasi

akademik untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Faktor-faktor penyebab menyontek

Salah satu alasan yang mendorong individu untuk menyontek adalah

untuk memuaskan harapan orang tua. Santrock (2003) mengatakan bahwa tidak

jarang orang tua dalam mengasuh atau mendidik anak-anaknya dipengaruhi

oleh keinginan atau ambisi dari orang tua tanpa melihat kemampuan anaknya.

Orang tua bermaksud ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya,

namun keinginan tersebut tidak memperhatikan kemampuan anak.

Sikap orang tua yang mengharapkan terlalu berlebihan pada anak akan

menghambat anak untuk menunjukkan prestasi sesuai dengan potensi yang

(35)

orang tuanya. Oleh karena itu sikap yang terlalu menuntut dapat menyebabkan

anak merasa takut kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini

menimbulkan rasa rendah diri, gangguan tingkah laku, berkurangnya motivasi

untuk belajar serta ketegangan atau kecemasan dalam diri anak.

Agustin (2014) menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan siswa

menyontek pada saat ujian. Faktor-faktor tersebut adalah:

a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berupa

angka dan nilai yang diperoleh siswa dalam tes formatif atau sumatif.

b. Pendidikan moral, baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan

dalam kehidupan siswa.

c. Sikap malas yang tertanam dalam diri siswa sehingga ketinggalan dalam

menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab.

d. Anak remaja sering menyontek daripada anak SD, karena masa remaja bagi

mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan

teman-teman sekelasnya.

e. Kurang mengerti arti dari pendidikan.

Disadari atau tidak, siswa yang menyontek pada saat ujian disebabkan oleh satu

atau lebih faktor-faktor di atas.

Faktor menyontek juga bisa disebabkan dari status sekolah, status

sekolah yang dimaksud adalah sekolah negeri dan swasta. Sekolah negeri dan

swasta jelas berbeda cara mendidik siswanya. Ada beberapa faktor yang

(36)

a. Peraturan belajar mengajar di kelas yang ditetapkan oleh pihak sekolah.

b. Pendidik/guru.

c. Keadaan gedung dan tugas belajar

Selain itu, faktor menyontek juga bisa disebabkan oleh tingkat

pendidikan orang tua. Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah tingkat

pendidikan formal yaitu SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Ada beberapa

faktor yang mengakibatkan siswa menyontek. Faktor-faktor tersebut adalah :

a. Cara orang tua mendidik.

b. Suasana di rumah

c. Relasi antar anggota keluarga.

Perilaku menyontek ini akan mengakibatkan perilaku atau watak tidak

percaya diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak mau membaca buku

pelajaran tetapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk bahan menyontek,

menghalalkan segala macam cara, dan akhirnya menjadi koruptor (Buchari

dalam Prihatnaningtyas 2014). Dengan demikian tampak bahwa perilaku

menyontek secara tidak langsung membelajarkan pada siswa untuk menjadi

seorang koruptor.

3. Bentuk-Bentuk Menyontek

Bentuk-bentuk perilaku menyontek menurut Hetherington and Feldman

dalam Veronikha (2013) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Social Active

(37)

2) Meminta jawaban kepada teman yang lain ketika ujian sedang

berlangsung

b. Individualistic-Opportunistic

1) Menggunakan HP atau alat elektronik lain yang dilarang ketika ujian

sedang berlangsung.

2) Mempersiapkan catatan yang digunakan pada saat ujian akan

berlangsung.

3) Melihat dan menyalin sebagian atau seluruh hasil kerja teman lain pada

saat tes.

c. Individual Planned

1) Mengganti jawaban ketika guru keluar kelas.

2) Membuka buku teks ketika ujian sedang berlangsung.

3) Memanfaatkan kelengahan/kelemahan guru ketika menyontek.

d. Social Passive

1) Mengijinkan orang lain melihat jawaban ketika ujian sedang

berlangsung.

2) Membiarkan orang lain menyalin pekerjaannya.

3) Memberi jawaban tes kepada teman pada saat ujian sedang berlangsung.

D. Pendidikan Orang Tua

1. Pengertian pendidikan

Pada hakikatnya pendidikan itu merupakan usaha yang dilakukan secara

(38)

belajar dan ditanamkan juga nilai-nilai moral serta pandangan hidup yang

nantinya akan membentuk kepribadian dan karakter dari seseorang.

Pendidikan merupakan keseluruhan dari proses, teknik, dan metode

belajar mengajar dalam rangka mengalihkan suatu pengetahuan dari seseorang

kepada orang lain sesuai dengan standar yang ditentukan. Unsur-unsur penting

dalam pendidikan adalah proses pengembangan kemampuan, pengetahuan,

sikap, tingkah laku, kompetensi sosial, dan pribadi yang optimal.

Menurut Ki Hajar Dewantoro (Suwarno, 1885) pendidikan adalah

menentukan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka

sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai

keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

2. Tingkat Pendidikan

Menurut Fuad Ihsan (2003) Tingkat atau jenjang pendidikan adalah

tahap pendidikan yang berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat

perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran. Jenjang

pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan

pendidikan tinggi.

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 17 tentang pendidikan

dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan

menengah, pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah

(39)

Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang

sederajat.

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 18 tentang pendidikan

menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar; pendidikan menengah terdiri

atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan;

pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah

Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang

sederajat.

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 19 tentang pendidikan

tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang

mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan

doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi; pendidikan tinggi

diselenggarakan dengan sistem terbuka.

Setiap anak mempunyai orang tua yang tingkat pendidikannya

berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan akan berberbeda-beda juga dalam cara

mendidik anaknya. Orang tua dengan lulusan Perguruan Tinggi akan lebih

memperhatikan ananknya dalam proses belajar dibandingkan dengan dengan

orang tua yang lulusan SD. Hal ini disebabkan karena jenjang pendidikan yang

telah dicapai oleh orang tua. Semakin tinggi jenjang pendidikan orang tua akan

semakin memperhatikan anaknya dalam menempuh pendidikan di sekolah,

(40)

dengan orang tua dengan tingkat pendidikan rendah akan cenderung

membiarkan anaknya dikarenakan kurangnya wawasan dari pihak orang tua.

E. Status Sekolah

1. Pengertian Status Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang digunakan untuk

proses belajar mengajar. Sekolah adalah organisasi kerja sebagai wadah

kerjasama kelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai organisasi,

wadah tersebut merupakan alat dan bukan tujuan. Dengan kata lain sekolah

adalah suatu bentuk ikatan kerjasama sekelompok orang yang bermaksud

mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Sekolah merupakan wujud

relasi antar personal yang didasari berbagai motif, yang menjadi intensif ke

satu arah dan kurang intensif ke arah yang lain ( Nawawi, 1981:25).

2. Jenis-jenis jenjang sekolah

Peran sekolah sebagai lembaga pendidikan formal adalah

mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu

menjalankan tugas kehidupan sebagai manusia, baik secara individual maupun

sebagai anggota masyarakat.

Sekolah lanjutan sebagai lembaga pendidikan tingkat menengah,

merupakan kelanjutan dari sekolah dasar yang diselenggarakan untuk

anak-anak yang berumur 12-13 s/d 17-18 tahun. Sekolah dipisahkan menjadi 2

jenjang yaitu SMP dan SMA. Sekolah Menengah Atas diperuntukan bagi

(41)

demikian sekolah ini diselenggarakan dalam tiga jenjang atau kelas secara

vertikal, yang terdiri dari X s/d XII.

Berdasarkan Keputusan-Keputusan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 1993 sekolah dibagi menjadi dua

yaitu :

1) Sekolah Negeri

Sekolah negeri adalah sekolah yang diselenggarakan oleh

pemerintah. Tanggung jawab pengelola sekolah (kepala sekolah)

negeri ini sebagai berikut :

a. Penyelenggara kegiatan pendidikan yang meliputi:

1) Penyusun program kerja sekolah.

2) Peraturan kegiatan belajar mengajar, pelaksanaan penilaian

dan proses belajar serta bimbingan penyuluhan.

3) Penyusunan Rencana dan Anggran Belanja Sekolah

(RAPBS).

b. Pembinaan kesiswaan

1) Pelaksanaan bimbingan dan penilaian bagi guru dan tenaga

pendidik lainnya.

2) Penyelenggaraan administrasi sekolah.

3) Perencanaan pengembangan, penyalahgunaan dan

(42)

2) Sekolah Swasta

Sekolah swasta adalah sekolah yang diselenggarakan oleh

non-pemerintah atau masyarakat, penyelenggaraan sekolah swasta

biasanya berupa badan maupun yayasan pendidikan. Tanggung jawab

pengelola sekolah swasta diatur sebagai berikut:

a. Menteri bertanggung jawab atas pengelolaan yang berkenaan

dengan:

1) Pengembangan, pengadaan, dan pendayagunaan kurikulum.

2) Pembinaan dan pengembangan guru serta tenaga pendidik

lainnya.

3) Penetapan pedoman penyusun buku pelajaran.

4) Penyusun pedoman pengembangan.

5) Penyusun pedoman pengembangan, pengadaan dan

pemanfaatan peralatan pendidikan.

6) Pengawasan penyelengara pendidikan.

b. Yayasan atau badan yang menyelenggarakan sekolah

bertanggung jawab atas pengelolaan yang berkenan dengan:

1) Pengadaan, pemanfaatan, dan pengembangan guru serta

tenaga kependidikan lainnya.

2) Pengadaan, pemanfaatan tanah, gedung, dan ruang kelas.

3) Keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, keindahan,

(43)

4) Pembiayaan penyelenggaraan pendidikan.

5) Penambahan jam pelajaran berkenaan dengan ciri khas

sekolah tanpa mengurangi struktur program.

Sekolah negeri merupakan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Sedangkan sekolah swasta merupakan sekolah yang diselenggarakan oleh non

pemerintah. Sekolah negeri lebih memiliki kelebihan dalam hal fasilitas serta

guru/pendidik. Sekolah negeri memliki fasilitas yang lengkap, sehingga akan lebih

menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Jika dilihat dari guru/ pendidik

sekolah negeri memiliki banyak guru/pendidik dengan begitu akan lebih mudah

mengawasi siswanya di sekolah. Sedangkan sekolah swasta hanya memiliki sedikit

guru/pendidik, dengan begitu akan kesulitan dalam mengawasi siswanya di

sekolah, ditambah lagi guru-guru di sekolah swasta merupakan guru honorer.

Tidak seperti di sekolah negeri yang merupakan pegawai tetap. Selain itu

perbedaan peraturan yang ditetapkan antara sekolah negeri dan swasta juga

berbeda. Sekolah negeri cenderung lebih ketat dalam hal peraturan di sekolah,

sehingga siswa di sekolah negeri lebih disiplin dalam proses belajar mengajar di

sekolah.

F. Penelitian yang Relevan

1. Hubungan antara motivasi berprestasi dengan perilaku Menyontek

Penelitian ini dilakukan oleh Alvianto, (2008) Universitas sanata

Dharma. Penelitian yang dilakukan pada siswa-siswi kelas XI di SMA Negeri

(44)

terdapat hubugan negatif yang signifikan antara variabel motivasi berprestasi

dengan perilaku menyontek (r=-0.577, seigifikansi 0.000). Hal ini berarti

bahwa semakin tinggi tingkat motivasi berprestasi pada siswa-siswi, maka

akan semakin rendah tingkat perilaku menyonteknya. Demikian pula

sebalikya, semakin rendah tingkat motivasi berprestasi pada siswa-siswi, maka

semakin tinggi tingkat perilaku menyonteknya.

2. Perbedaan Sikap antara Mahasiswa Laki-Laki dan Perempuan Terhadap

Perilaku Menyontek dalam Ujian di Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini dilakukan oleh Meidiana (2005) Universitas Sanata

Dharma. Penelitian pada mahasiswa USD yang berjumlah 80 orang yang

terdiri dari 40 orang laki-laki dan 40 orang perempuan, menunjukkan bahwa

ada perbedaan sikap antara mahasiswa laki-laki dan perempuan terhadap

perilaku menyontek. Perbandingan nilai mean pada mahasiswa laki-laki

sebesar 132.07 dan pada perempuan sebesar 110.90. Hal ini menunjukkan

bahwa sikap mahasiswa laki-laki lebih permisif daripada perempuan terhadap

perilaku menyontek dalam ujian di USD.

G. Kerangka Berpikir.

1. Perilaku Siswa Terhadap Mencontek ditinjau dari Status Sekolah.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang digunakan untuk

proses belajar mengajar. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal

yang terbagi menjadi dua macam yaitu sekolah negeri dan sekolah swasta.

(45)

Sekolah swasta adalah sekolah yang diselenggarakan oleh non-pemerintah

atau masyarakat, penyelenggara sekolah swasta biasanya berupa badan

maupun yayasan pendidikan melalui suatu badan atau organisasi tertentu,

tanpa mendapat bantuan dari pemerintah.

Status sekolah yang baik adalah sekolah yang dianggap berpotensi

untuk memberikan masa depan yang baik bagi siswa. Ada dugaan bahwa

sekolah swasta memiliki intensitas menyontek yang lebih tinggi

dibandingkan dengan sekolah negeri, hal ini disebabkan karena sekolah

negeri lebih memiliki kelebihan dalam hal fasilitas serta guru/pendidik.

Sekolah negeri memliki fasilitas yang lengkap. Sehingga akan lebih

menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Jika dilihat dari guru/

pendidik sekolah negeri memiliki banyak guru dengan begitu akan lebih

mudah mengawasi siswa nya di sekolah. Sedangkan sekolah swasta hanya

memiliki sedikit guru, dengan begitu akan kesulitan dalam mengawasi

siswanya di sekolah, ditambah lagi guru-guru di sekolah swasta merupakan

guru honorer. Tidak seperti di negeri yang merupakan pegawai tetap.

Selain itu perbedaan peraturan yang ditetapkan antara sekolah negeri dan

swasta juga berbeda. Sekolah negeri cenderung lebih ketat dalam hal

peraturan di sekolah, sehingga siswa di sekolah negeri lebih disiplin dalam

proses belajar mengajar di sekolah dengan begitu siswa akan lebih tertib

(46)

Status sekolah akan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap

siswa setelah lulus dari bangku sekolah menengah pertama. Dengan kata

lain baik-buruknya status sekolah dan iklim sekolah akan mempengaruhi

kebiasaan siswa menjadi baik juga. Sehingga peneliti menduga bahwa ada

perbedaan perilaku mencontek berdasarkan tingkat pendidikan orang tua

dan status sekolah.

2. Perilaku Siswa Terhadap Menyontek Ditinjau dari Tingkat Pendidikan

Orang Tua

Tingkat pendidikan orang tua yang dimaksud adalah tingkat pendidikan

formal yaitu SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi yang dicapai oleh orang

tua siswa. Setiap siswa mempunyai orang tua yang tingkat pendidikannya

berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan akan berbeda juga dalam

cara mendidik anaknya. Orang tua dengan lulusan Perguruan Tinggi akan

lebih memperhatikan ananknya dalam proses belajar dibandingkan dengan

dengan orang tua yang lulusan SD. Hal ini disebabkan karena jenjang

pendidikan yang telah dicapai oleh orang tua. Semakin tinggi jenjang

pendidikan orang tua akan semakin memperhatikan anaknya dalam

menempuh pendidikan di sekolah, seperti cara belajar, berperilaku jujur

serta kedisiplinan. Namun sebaliknya dengan orang tua dengan tingkat

pendidikan rendah akan cenderung membiarkan anaknya dikarenakan

(47)

Seperti yang dikatakan Slameto (2003): “siswa yang belajar akan

menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi

antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga,

pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan”.

Oleh sebab itu peneliti menduga ada perbedaan perilaku siswa terhadap

menyontek yang ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua.

H. Paradiga Penelitian

Keterkaitan antara variabel-variabel penelitian dapat disusun dalam suatu

paradigma sebagai berikut:

I. Hipotesis Penelitian

1. Hipotesis 1

Ho= Tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau

dari status sekolah. Status Sekolah

(X1)

Tingkat Pendidikan Orang Tua

(X2)

Perilaku Siswa Terhadap Menyontek

(48)

Ha= Ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau dari

status sekolah .

2. Hipotesis 2

Ho= Tidak ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau

dari tingkat pendidikan orang tua.

Ha= Ada perbedaan perilaku siswa terhadap menyontek yang ditinjau dari

(49)

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Dalam penelitian ini siswa

akan berperan sebagai responden. Penelitian ini akan dilakukan di SMP dan hasil atau

kesimpulan ini tidak bisa direalisasikan pada SMP-SMP lainnya di Yogyakarta sebab

penelitian studi kasus merupakan jenis penelitian dengan karakteristik serta masalah

yang mempunyai kaitan antara latar belakang dan kondisi nyata saat ini dari subyek

yang diteliti.

B. Tempat dan waktu penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMP N 8 Yogyakarta, SMP Kristen Kalam

Kudus, SMP Tumbuh dan SMP N 2 Yogyakarta.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari 2016 – April 2016.

C. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah siswa-siswi SMP yang mempunyai orang

tua berstatus pendidikan serta terdaftar sebagai siswa di sekolah yang berstatus

negri dan swasta. Siswa yang dipilih oleh peneliti adalah siswa yang berada di

(50)

siswa yang berada pada masa usia anak-anak menuju remaja sehingga memiliki

emosi yang tidak stabil dan dapat mempengaruhi bagaimana mereka berperan.

Menurut Bichler (1972) dalam buku perkembangan peserta didik, remaja berusia

12-15 tahun cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan

pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya percaya diri. Kurangnya

kepercayaan diri inilah yang menyebabkan remaja pada usia tersebut dapat

melakukan hal-hal yang negative, misalnya menyontek untuk memperoleh nilai

yang tinggi.

Berdasarkan gambaran populasi yang diperoleh oleh peneliti, maka didapat

sampel penelitian. Menurut Sugiono (2012: 81) sampel adalah bagian dari jumlah

dan karateristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan menurut Yusuf (2014:

150), sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi

sesuai dengan karateristik yang dimilikinya. Jadi sampel adalah sebagian besar

dari populasi yang sesuai dengan karakter yang telah ditentukan. Oleh karena itu,

sampel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki karateristik di bawah ini,

yaitu:

1. Latar belakang pendidikan orang tua siswa yang dibagi menjadi SD, SMP, SMA

dan lainnya

2. Terdaftar sebagai siswa sekolah yang berstatus negri dan swasta.

Penelitian yang ideal mensyaratkan pengambilan sampel yang random untuk

mendapatkan sampel yang representative. Namun keterbatasan yang dimiliki

(51)

menggunkan teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Teknik ini

memilih sekelompok subjek yang berdasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat yang

dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat

populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2004).

2. Objek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah perilaku siswa terhadap

mencontek.

D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiono (2012: 80), populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas: objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Sedangkan menurut Margono (2010: 118), populasi adalah seluruh

data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita

tentukan. Jadi populasi adalah keseluruhan dari subjek yang memiliki karakteristik

untuk diteliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang telah ditentukan.

Oleh sebab itu dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah siswa Sekolah

Menengah Pertama (SMP).

2. Sampel

Menurut Sugiono (2012: 81) sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan menurut Yusuf (2014: 150),

(52)

dengan karakteristik yang dimilikinya. Jadi sampel adalah sebagian besar dari

populasi yang sesuai dengan karakter yang telah ditentukan.

Dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan rumus Slovin (Umar,

2007: 78) adalah:

Keterangan:

n = ukuran sampel

N = ukuran populasi

e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel

yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, misalnya 2%.

3. Teknik Penarikan Sampel

Pada penelitian ini akan menggunakan teknik penarikan sampel jenis

Proportional Random Sampling yang merupakan pengembangan stratified random

sampling dengan rumus sebagai berikut:

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

kuesioner. Menurut Sugiyono (2013:230) kuesioner merupakan teknik pengumpulan

(53)

setelah diisi dengan lengkap mengembalikan kepada peneliti. Dalam penelitian ini,

pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan

oleh Meidiana (2005) dengan tingkat reliabilitas sebesar 0,9682. Instrumen yang

dikembangkan oleh Meidiana (2015) ini akan diuji kembali validitas dan

reliabilitasnya sehingga instrument yang dikembangkan benar-benar valid reliable.

Berikut ini adalah dimensi dan indikator peran menyontek:

Tabel 3.1

Afektif 13,22,31,40,54 5,19,24,42,59

Perilaku 6,26,37,44,57 8,15,33,46,53

2

Kognitif 12,18,30,36,58 10,11,23,41,51

Afektif 14,25,32,43,60 4,17,29,45,56

(54)

Setiap butir pernyataan dalam 4 (empat) pilihan kategori, yaitu meliputi SS (Sangat

Setuju), S ( Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Keseluruhan

item pernyataan yang dibuat dari item yang favorable dan item unfavorable. Item

favorable adalah item-item yang menyatakan peran positif atau mendukung perilaku

menyontek, sedangkan item yang unfavorable adalah item-item yang menyatakan

peran negatif atau tidak mendukung adanya perilaku mencontek. Item-item disusun

secara acak.

Empat pilihan alternatif dalam item memiliki nilai tersendiri, yaitu untuk

pernyataan favorable, respon SS diberi nilai 4, S diberi nilai 3, TS diberi nilai 2 dan

STS diberi nilai 1, sedangkan unfavorable, respon SS diberi nilai 1, S diberi nilai 2,

TS diberi nilai 3, dan STS diberi nilai 4.

F. Pengujian Instrumen Penelitian

1. Uji Validitas Instrumen

Menurut Sugiyono (2013:203) instrumen yang valid berarti alat ukur yang

digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen

tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Pengujian validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi

product moment, sebagai berikut Sugiyono (2013:286):

∑ ∑ ∑

(55)

Keterangan:

r = koefisien korelasi antara variabel X dengan Variabel Y

Y= skor total dari seluruh item

X= skor total dari setiap item

N=jumlah responden

∑ =hasil kali X dan Y

Jika nilai koefisien r hitung lebih besar dari r tabel, maka butir soal tersebut

dikatakan valid. Jika r hitung lebih kecil dari r tabel, maka butir soal tersebut dapat

dikatakan tidak valid.

Nilai dapat di hitung dengan menggunakan sampel sebanyak 113

responden dengan taraf signifikansi 5%, dari responden sebanyak 113 siswa tersebut

dapat dilihat di tabel dengan cara menghitung:

Df= n-2

Keterangan:

Df = degree of freedom (derajat bebas)

n = jumlah responden

Perhitungan adalah sebagai berikut:

Df= 113-2 = 111

Tabel 3.2 Sebagian dari r table

Df= n-2

Taraf Signifikansi sebesar 0,05

(56)

Df= n-2

Taraf Signifikansi sebesar 0,05

(5%)

111 0,1867

Jika nilai-nilai corrected item-total correlation setiap item lebih besar dari

nilai 0,1867, maka item pertanyaan/pernyataan dapat dikatakan valid.

Sebaliknya, jika nilai-nilai corrected item-total correlation setiap item lebih kecil

0,1867, maka item pertanyaan/pernyataan dikatakan tidak valid.

Pengujian validitas dilakukan secara serentak dengan jumlah responden

sebanyak 113 siswa. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 8 Yogyakarta, SMP Kristen

Kalam Kudus, SMP Tumbuh Yogyakarta dan SMP Negeri 2 Yogyakarta. Berikut ini

disajikan hasil validitas item penelitian ini:

a. Variabel Perilaku Menyontek Siswa

Tabel 3.3

Hasil Pengujian Validitas Instrumen Perilaku Menyontek

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 1 .376 0,1867 Valid

Butir 2 .572 0,1867 Valid

(57)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 4 .313 0,1867 Valid

Butir 5 .430 0,1867 Valid

Butir 6 .424 0,1867 Valid

Butir 7 .356 0,1867 Valid

Butir 8 .322 0,1867 Valid

Butir 9 .476 0,1867 Valid

Butir 10 .339 0,1867 Valid

Butir 11 .313 0,1867 Valid

Butir 12 -.162 0,1867 Tidak Valid

Butir 13 .466 0,1867 Valid

Butir 14 .657 0,1867 Valid

Butir 15 .235 0,1867 Valid

Butir 16 .545 0,1867 Valid

(58)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 18 .389 0,1867 Valid

Butir 19 .377 0,1867 Valid

Butir 20 .523 0,1867 Valid

Butir 21 .426 0,1867 Valid

Butir 22 -.480 0,1867 Tidak Valid

Butir 23 .400 0,1867 Valid

Butir 24 .357 0,1867 Valid

Butir 25 .593 0,1867 Valid

Butir 26 .568 0,1867 Valid

Butir 27 .675 0,1867 Valid

Butir 28 .522 0,1867 Valid

Butir 29 .209 0,1867 Valid

Butir 30 .285 0,1867 Valid

(59)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 32 .651 0,1867 Valid

Butir 33 .681 0,1867 Valid

Butir 34 .680 0,1867 Valid

Butir 35 .568 0,1867 Valid

Butir 36 -.134 0,1867 Tidak Valid

Butir 37 .667 0,1867 Valid

Butir 38 .553 0,1867 Valid

Butir 39 .454 0,1867 Valid

Butir 40 .549 0,1867 Valid

Butir 41 .345 0,1867 Valid

Butir 42 .548 0,1867 Valid

Butir 43 .692 0,1867 Valid

Butir 44 .638 0,1867 Valid

(60)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 46 .519 0,1867 Valid

Butir 47 .666 0,1867 Valid

Butir 48 .652 0,1867 Valid

Butir 49 .485 0,1867 Valid

Butir 50 -.547 0,1867 Tidak Valid

Butir 51 .227 0,1867 Valid

Butir 52 .717 0,1867 Valid

Butir 53 .439 0,1867 Valid

Butir 54 .334 0,1867 Valid

Butir 55 .280 0,1867 Valid

Butir 56 .103 0,1867 Tidak Valid

Butir 57 .679 0,1867 Valid

Butir 58 .567 0,1867 Valid

(61)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 60 .703 0,1867 Valid

Table 3.3 menunjukan bahwa ada beberapa butir pertanyaan/ pernyataan

tentang perilaku menyontek adalah tidak valid karena nilai corrected item-total

correlation ( = 0,1867). Butir yang tidak valid antara lain 12, 22, 36, 45, 50, dan

56 karena ada beberapa butir pertanyaan/ pernyataan yang tidak valid maka

dilakukan pengujian validitas ulang.

Tabel 3.4

Hasil Pengujian Validitas Ulang 1 Instrumen Perilaku Menyontek

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 1 .389 0.1867 Valid

Butir 2 .578 0.1867 Valid

Butir 3 .454 0.1867 Valid

Butir 4 .313 0.1867 Valid

Butir 5 .441 0.1867 Valid

Butir 6 .448 0.1867 Valid

(62)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 8 .322 0.1867 Valid

Butir 9 .480 0.1867 Valid

Butir 10 .374 0.1867 Valid

Butir 11 .346 0.1867 Valid

Butir 13 .458 0.1867 Valid

Butir 14 .666 0.1867 Valid

Butir 15 .237 0.1867 Valid

Butir 16 .560 0.1867 Valid

Butir 17 .371 0.1867 Valid

Butir 18 .393 0.1867 Valid

Butir 19 .383 0.1867 Valid

Butir 20 .516 0.1867 Valid

Butir 21 .465 0.1867 Valid

(63)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 24 .355 0.1867 Valid

Butir 25 .582 0.1867 Valid

Butir 26 .573 0.1867 Valid

Butir 27 .666 0.1867 Valid

Butir 28 .525 0.1867 Valid

Butir 29 .188 0.1867 Valid

Butir 30 .281 0.1867 Valid

Butir 31 .567 0.1867 Valid

Butir 32 .655 0.1867 Valid

Butir 33 .677 0.1867 Valid

Butir 34 .684 0.1867 Valid

Butir 35 .573 0.1867 Valid

Butir 37 .674 0.1867 Valid

(64)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 39 .453 0.1867 Valid

Butir 40 .552 0.1867 Valid

Butir 41 .366 0.1867 Valid

Butir 42 .552 0.1867 Valid

Butir 43 .683 0.1867 Valid

Butir 44 .654 0.1867 Valid

Butir 46 .502 0.1867 Valid

Butir 47 .679 0.1867 Valid

Butir 48 .653 0.1867 Valid

Butir 49 .475 0.1867 Valid

Butir 51 .222 0.1867 Valid

Butir 52 .729 0.1867 Valid

Butir 53 .448 0.1867 Valid

(65)

No Item r hitung r tabel Keterangan

Butir 55 .289 0.1867 Valid

Butir 57 .688 0.1867 Valid

Butir 58 .565 0.1867 Valid

Butir 59 .298 0.1867 Valid

Butir 60 .702 0.1867 Valid

Tebel 3.5 setelah menghapus butir pertanyaan/ pernyataan yang tidak valid

dan melakukan pengujian validitas ulang maka semua butir pertanyaan/ pernyataan

tentang peran menyontek adalah valid karena nilai corrected item-total correlation

( = 0,1867).

2. Uji Reliabilitas Instrumen

Jonathan Sarwono (2014:248) reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan

stabilitas nilai hasil pengukuran tertentu di setiap kali pengukuran dilakukan pada hal

yang sama.

Pengujian reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini dilakukan dengan program

komputer SPSS dengan teknik koefisien Alpha Cronbach yaitu dengan membelah

(66)

kecil kesalahan pengukuran maka semakin reliabel alat ukur tersebut. Sebaliknya,

semakin kecil koefisien reliabilitas berarti semakin besar kesalahan pengukuran maka

semakin tidak reliabel.

Pengujian realibitas dalam penelitian ini menggunakan Cronbach’s Alpha, sebagai berikut Kountur (2003:158):

α=

Keterangan:

a = cronbach’s alpha N = banyaknya pertanyaan

= variance dari pertanyaan

= variance dari skor

Jika cronbach’s alpha lebih dari 0,6 maka kuesioner tersebut dikatakan reliabel. Hasil pengujian reliabilitas variabel tingkat keterlaksanaan pembelajaran kontekstual,

variabel keterampilan berkomunikasi, variabel integritas pribadi, dan variabel minat

belajar siswa tampak dalam tabel berikut:

Tabel 3.5

Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian

Variabel Nilai r hitung Nilai r tabel Status

Perilaku

Menyontek

0,923 0,6 Reliabel

Tebel 3.6 menunjukkan bahwa instrument penelitian untuk variabel peran menyontek

(67)

3. Teknik Analisis Data

1. Deskripsi Data

Deskripsi data digunakan peneliti untuk menggambarkan karakter suatu data

yang berasal dari populasi penelitian pada variabel peran. Menurut Kountor

(2003:104) penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran

atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek

yang diteliti.

Data yang diperoleh dari hasil kuesioner dianalisis dengan menggunakan

analisis deskriptif atau pemaparan. Data hasil kuesioner dideskripsikan dengan

Penilaian Acuan Patokan tipe II (PAP II), karena jika dibandingkan dengan PAP tipe

I, PAP tipe II memiliki passing score lebih rendah yaitu pada persentil 56. Tuntutan

pada persentil 56 sering disebut sebagai presentil minimal, karena passing score pada

presentil 56 dianggap merupakan batas penguasaan kompetensi minimal yang paling

rendah. Perlu kiranya diperhatikan bahwa passing score pada presentil kurang dari 56

dan lebih dari 65 biasanya tidak disarankan, mengingat kedua passing score tersebut

telah keluar dari presentil minimal dan maksimal. Namun, terbuka kesempatan untuk

menentukan passing score pada daerah presentil 56 dan 65, asalkan penentuan

passing score tertentu itu masih tetap memperhitungkan keadaan.

Nilai presentil PAP tipe II adalah sebagai berikut (Masidjo, 1995:157):

(68)

Nilai Presentil Kategori Kecenderungan Variabel

81%-100% Sangat Tinggi

66%-80% Tinggi

56%-65% Sedang

46%-55% Rendah

<46% Sangat Rendah

PAP tipe II ini pada umumnya merupakan cara untuk menghitung prestasi

siswa di kelas dengan skor minimal 0 dan skor maksimal 100. Dalam hal ini data

penelitian yang ditetapkan sebelumnya memiliki skor tertinggi 4 dan skor terendah 1,

maka dari itu untuk mendiskripsikan kategori kecenderungan variabel yang harus

dilakukan adalah menemukan skor interval dengan memodifikasi rumus PAP tipe II

dengan rumus:

Skor terendah yang mungkin dicapai + [nilai presentil x (skor tertinggi yang mungkin

dicapai item – skor terendah yang mungkin dicapai)] Perhitungan untuk setiap variabel adalah sebagai berikut:

a. Variabel Perilaku Menyontek Para Siswa

Skor tertinggi yang mungkin dicapai : 4 x 54 = 216

Skor terendah yang mungkin dicapai : 1 x 54= 54

Skor:

Gambar

Tabel   5.6 Perhitungan dan Interpretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Tabel 5.15 Perhitungan dan Intepretasi Penilaian Perilaku Siswa Terhadap
Tabel 2.1  Nilai-Nilai Karaker dan Deskripsi Karakter
Tabel 3.1 Operasional Variabel Perilaku Menyontek
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:(1) ada tidaknya perbedaan persepsi yang signifikan terhadap Ujian Nasional antara siswa yang bersekolah di SMA dengan status

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek berdasarkan status sekolah (nilai Asymp.. (2) ada perbedaan sikap

Djemari dan hasil-hasil penelitian sebelumnya, perlu dilakukan penelitian “Sikap Siswa Terhadap Perilaku Menyontek Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Orang Tua dan Jenis Kelamin

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan sikap mahasiswa terhadap perilaku menyontek ditinjau dari fakultas; (2) perbedaan sikap mahasiswa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) apakah ada perbedaan persepsi siswa terhadap profesi guru ditinjau dari prestasi belajar siswa; (2) apakah ada perbedaan persepsi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:(1) ada tidaknya perbedaan persepsi yang signifikan terhadap Ujian Nasional antara siswa yang bersekolah di SMA dengan status

SIKAP SISWA TERHADAP PERILAKU MENYONTEK DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN JENIS KELAMIN SISWA Studi Kasus pada Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta Tahun Ajaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1 tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap perilaku menyontek ditinjau dari jenis kelamin dengan nilai asymp sig =0,174 ; 2 tidak ada perbedaan