• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Terdahulu

Penulis menemukan penelitian terdahulu mengenai kumpulan puisi Aku

Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul, sebagai berikut.

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh sarjana Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan UNS, Yohanes Wisnu Prabajatmika, dengan judul Analisis

Struktur dan Pesan Moral Kumpulan “Puisi Aku Ingin Jadi Peluru” Karya Wiji Thukul (Studi Literatur dengan Pendekatan Struktural Deskriptif). Penelitian

tersebut menyimpulkan bahwa (1) struktur eksternal kumpulan puisi Aku Ingin

Jadi Peluru tidak lepas dari pengalaman hidup pengarang; (2) struktur bangun

internal puisi adalah alat dialog yang penting untuk berkomunikasi; (3) pesan moral yang diangkat dalam puisi-puisi Wiji Thukul meliputi masalah kemanusiaan, hukum dan kesejahteraan hidup; (4) penyampaian pesan kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru tidak dapat serta merta diberikan kepada pembaca tanpa seni atau teknik tertentu.

Kedua, peneltian yang dilakukan oleh Narendra Dewadji K, sarjana

jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Judul penelitian tersebut adalah Perjuangan Kaum Proletar dalam Antologi Puisi “Aku Ingin Jadi Peluru”

(2)

commit to user

bahwa pendeskripsian kaum proletar dalam sajak-sajak Wiji Thukul tersebut merupakan refleksi dari realita sosial yang melingkupi terciptanya sajak–sajak dalam Aku Ingin Jadi Peluru. Realita sosial yang dimaksud adalah realita sosial pada masa Orde Baru.

Marxisme dalam penelitian ini digunakan karena marxisme adalah teori yang cukup komprehensif membahas kaum proletar. Selain itu, di dalam marxisme terdapat sebuah model yang disebut model refleksi yaitu sebuah metode yang dapat digunakan untuk menganalisis dan membuktikan bahwa sebuah karya sastra termasuk puisi adalah sebuah refleksi dari realita sosial. Kesimpulan akhir penelitian ini adalah ditemukannya penindasan terhadap kaum proletar dan ditemukannya perjuangan kaum proletar pada sajak-sajak dalam Aku Ingin Jadi

Peluru. Kondisi dan perjuangan kaum proletar dalam Aku Ingin Jadi Peluru

tersebut merupakan refleksi dari realita sosial Orde Baru.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh sarjana Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan UNS, Hantisa Oksinata, dengan judul Kritik Sosial dalam

Kumpulan Puisi “Aku Ingin Jadi Peluru” Karya Wiji Thukul (Kajian Resepsi Sastra). Penelitian tersebut menyimpulkan kritik sosial dan resepsi pembaca yang

termuat dalam antologi puisi Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul. Kritik sosial tersebut meliputi: a) kritik terhadap kesewenang-wenangan pemerintah, b) kritik terhadap penderitaan kaum miskin, c) kritik terhadap perlawanan kaum miskin, d) kritik terhadap perlindungan hak buruh, e) kritik terhadap fakta atau kenyataan sosial yang dialami masyarakat.

(3)

commit to user

Resepsi pembaca dalam antologi puisi Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul, meliputi: 1) pembaca biasa, 2) pembaca ideal, 3) pembaca eksplisit. Dari ketiga kategori pembaca tersebut, dapat disimpulkan a) penyair Wiji Thukul menulis puisi berdasar pada cerita kehidupan sehari-hari yang dialami sendiri, b) penyair Wiji Thukul berasal dari masyarakat kelas bawah, c) Wiji Thukul adalah sosok penyair yang pemberani, ia berani menyuarakan apa yang menjadi penderitaannya, selama penguasa bersikap sewenang-wenang terhadap kaum miskin, d) Kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru dipakai dalam aksi-aksi buruh dan demonstrasi mahasiswa,

Berbeda dengan tiga penelitian di atas, penelitian pada kumpulan puisi Aku

Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul ini ditelaah menggunakan pendekatan

sosiologi sastra. Hal tersebut dilakukan mengingat permasalahan yang ditemukan oleh peneliti adalah masalah sosiologis, yakni mengenai problem-problem sosial yang ada dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru, terutama masalah kemiskinan, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan masalah generasi muda dalam masyarakat modern. Penelitian ini juga meneliti mengenai respon pengarang terhadap problem-problem sosial tersebut.

Kajian terdahulu ini menambah wawasan bagi penulis mengenai struktur puisi dan perjuangan kaum proletar di masa Orde Baru. Hal itu tentunya memberi kontribusi bagi penulis, yakni memberikan gambaran mengenai bentuk dan kondisi sosial yang termuat dalam puisi-puisi karya Wiji Thukul. Selain itu,

(4)

commit to user

adanya kajian terdahulu ini menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan penulis bukan merupakan duplikasi dari penelitian lain.

B. Landasan Teori 1. Pengertian dan Fungsi Puisi

Wellek & Warren (1989: 87), menerangkan puisi adalah pengalaman penyair pada waktu tertentu atau maksud pengarang yang akan diwujudkan dalam karyanya. Groce (dalam Wellek & Warren, 1989: 182), menambahkan bahwa puisi adalah suatu perwujudan dari persepsi hidup penyair.

Bahan penciptaan puisi sebagai kreasi suatu seni bertolak dari kompleksitas suatu masalah dalam kehidupan itu sendiri dari segala yang ada atau tidak ada. Oleh sebab itu, puisi mampu menggambarkan problem manusia yang bersifat universal, yakni yang berhubungan dengan hakikat manusia, kematian, juga ketuhanan (Aminuddin, 2010:191).

Shelley (dalam Rachmad Djoko Pradopo, 1990: 6), mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman dari detik-detik yang paling indah dalam hidup kita. Misalnya tentang peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan perlawanan yang kuat, suatu kebahagiaan, kegembiraan yang sangat atau memuncak, pencintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang dicintainya. Semua itu merupakan detik-detik yang paling indah dalam hidup kita dan perlu untuk direkam.

(5)

commit to user

Fungsi puisi adalah sebagai media untuk mengungkapkan isi jiwa, perasaan, dan pikiran yang dikeluarkan penyair atas dasar pengalamannya yang kompleks dan bersifat imajinatif, kemudian dituangkan dalam bentuk bahasa dengan pengkonsentrasian semua kekuatan bahasa. Puisi dihadirkan dalam suatu kemasan yang khas, serta dikemas secara artistik, tergantung kepada tujuan penulisan puisi itu sendiri.

2. Pendekatan Sosiologi Sastra

Sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan dan kata Yunani

logos yang berarti kata atau berbicara. Swingewood menyatakan bahwa sosiologi

merupakan studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial (dalam Faruk, 2010: 1).

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Sosiologi menelaah gejala-gejala yang wajar dalam masyarakat seperti norma-norma, kelompok sosial, lapisan masyarakat, lembaga-lembaga kemasyarakatan, proses sosial, perubahan sosial dan kebudayaan, serta perwujudannya. Selain itu, sosiologi juga mengupas gejala-gejala sosial yang tidak wajar dan gejala-gejala abnormal atau gejala-gejala patologis yang dapat menimbulkan masalah sosial (Soerjono Soekanto, 1994: 395).

Sosiologi meneliti gejala-gejala kemasyarakatan, tetapi sosiologi juga perlu untuk mempelajari problem-problem tersebut merupakan aspek-aspek dari tata kelakuan sosial. Dengan demikian, sosiologi berusaha mempelajari problem-problem

(6)

commit to user

sosial seperti kemiskinan, kejahatan, dan masalah generasi muda dalam masyarakat modern (Soerjono Soekanto, 2000: 397).

Sastra merupakan suatu bentuk dan pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Atar Semi, 1993: 8). Sama halnya dengan sosiologi, sastra berurusan dengan manusia dalam masyarakat. Usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan untuk mengubah masyarakat. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa sosiologi melakukan analisis ilmiah yang objektif, sedangkan sastra menyusup menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat. Maka tampak antara sosiologi dan karya sastra mempunyai hubungan yang erat, sosiologi dapat memberikan penjelasan yang bermanfaat tentang sastra.

Wolff (dalam Faruk, 2010: 3), menjelaskan bahwa sosiologi sastra merupakam disiplin ilmu tanpa bentuk, tanpa terdefinisikan dengan baik, terdiri atas studi empiris, dan berbagai cobaan pada teori yang lebih general yang masing-masing hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dalam hubungan antara seni atau kesusastraan dengan masyarakat.

Pendekatan adalah cara kerja untuk memandang terhadap suatu objek kajian. Sosiologi dan sastra merupakan bentuk sosial yang mempunyai objek manusia. Pendekatan sosiologi sastra berdasarkan asumsi karya sastra (kesusastraan) merupakan refleksi masyarakat pada zaman karya sastra itu ditulis yaitu masyarakat yang melingkupi penulisnya, sebab sebagai anggotanya penulis tidak dapat lepas dari masyarakat (Rachmat Djoko Pradopo, 2002: 22).

(7)

commit to user

Pendekatan terhadap karya sastra yang mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatan biasa disebut pendekatan sosiologi sastra (Soediro Satoto, 1992: 146). Pendekatan sosiologi sastra merupakan pendekatan terhadap karya sastra yang memusatkan pada unsur-unsur luar karya sastra sebagai latar belakang kemasyarakatan pada diri pengarang dan karyanya. Suatu masyarakat tertentu yang menghidupi seorang pengarang, dengan sendirinya akan melahirkan suatu jenis karya sastra tertentu pula.

Sosiologi sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra merupakan refleksi/cerminan masyarakat pada zaman karya sastra itu ditulis. Penulis sebagai anggota masyarakat, tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan sosial budaya, politik, keamanan, ekonomi, dan alam yang melingkupinya. Selain merupakan suatu eksperimen moral yang dituangkan oleh pengarang melalui bahasa, sastra dalam kenyataannya menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri merupakan kenyataan sosial.

Sosiologi sastra dapat dipakai sebagai ilmu bantu dalam pendekatan karya sastra, karena baik sosiologi maupun sastra mempunyai bidang yang sama yaitu kehidupan manusia dalam masyarakat. Pendekatan yang umum terhadap hubungan karya sastra dengan masyarakat dalam mempelajari karya sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial. Ada semacam potret sosial yang bisa ditarik dalam karya sastra karena sedikit banyak dalam karya sastra tercermin kehidupan manusia dalam kehidupan masyarakat pada suatu zaman (Wellek & Warren, 1990: 122).

(8)

commit to user

Wellek & Warren (1990: 111) membagi telaah sosiologis menjadi tiga klasifikasi yaitu:

1) Sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang.

2) Sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tentang karya sastra. Dalam hal ini, yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan amanat yang hendak disampaikannya. 3) Sosiologi sastra, yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh

sosialnya terhadap masyarakat.

Pertama, sosiologi pengarang. Masalah yang berkaitan dalam sosiologi pengarang adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Keterlibatan sosial, sikap dan ideologi pengarang dapat dipelajari tidak hanya melalui karya-karya mereka tetapi juga dokumen biografi. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendekatan tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Wellek & Warren, 1990: 114).

Kedua, sosiologi karya sastra. Sosiologi karya sastra adalah pendekatan yang umum dilakukan terhadap hubungan sastra dan masyarakat adalah mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial. Sebagai dokumen sosial, sastra dipakai untuk menguraikan ikhtiar sejarah sosial. Setiap orang dapat meneliti sebagai “dunia” dalam sebuah karya sastra, dunia

(9)

commit to user

cinta dan perkawinan, dunia bisnis, dunia kerohaniwan, dunia profesi, dan lain-lain. Peneliti perlu menjawab secara konkret hubungan potret yang muncul dalam karya sastra dengan kenyataan sosial, apakah karya yang dimaksudkan sebagai gambaran yang realistis, ataukah merupakan satire, karikatur atau idealisme Romantik. Situasi sosial memang menentukan kemungkinan dinyatakannya nilai-nilai estetis, tapi tidak secara langsung menentukan nilai-nilai-nilai-nilai itu sendiri. Peneliti dapat mempelajari secara garis besar, bentuk seni yang mungkin timbul pada suatu masyarakat, dan yang tidak mungkin timbul (Wellek & Warren, 1990: 122-127).

Ketiga adalah sosiologi sastra dan masyarakat. Masalah sastra dan masyarakat dapat diletakkan pada suatu hubungan yang lebih simbolik dan bermakna. Peneliti dapat memakai istilah-istilah yang mengacu pada integrasi sistem budaya dan keterkaitan antara berbagai aktivitas manusia. Istilah-istilah tersebut misalnya keteraturan, keselarasan, koherensi, harmoni, identitas struktur, dan analogi stilistika (Wellek & Warren, 1990: 131).

Berkaitan dengan pendekatan tersebut, penulis mengacu pada pendekatan sosiologi karya sastra berdasarkan pemikiran Wellek & Warren, bahwa yang menjadi pokok telaah adalah tentang yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri. Penulis lebih mengacu pada pemikiran tersebut karena dalam pemikiran Wellek & Warren ini menyatakan bahwa hubungan karya sastra dengan masyarakat adalah mempelajari karya sastra sebagai dokumen sosial dan sebagai potret kenyataan sosial. Sebagai dokumen sosial, sastra dipakai untuk menguraikan ikhtiar sejarah

(10)

commit to user

sosial. Hal ini sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini, yakni problem-problem sosial yang digambarkan dalam kumpulan puisi Aku Ingin

Jadi Peluru karya Wiji Thukul yang merupakan sebuah dokumen sosial dan juga

potret kenyataan sosial. Problem-problem sosial dalam kumpulan puisi Aku Ingin

Jadi Peluru merupakan sebuah potret kenyataan sosial yang terjadi pada zaman

Orde Baru. Permasalahan sosial tersebut dapat diteliti dengan menggunakan teori sosiologi sastra.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sosiologi sastra adalah suatu telaah sosiologi terhadap suatu karya sastra (puisi). Telaah puisi yang menggunakan pendekatan sosiologi adalah kajian terhadap puisi dengan menggunakan pendekatan yang bertolak dari pandangan bahwa puisi merupakan pencerminan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kajian yang dilakukan terhadap puisi berfokus pada segi-segi yang menunjang pembinaan dan pengembangan tata kehidupan (Atar Semi, 1989: 46).

3. Problem-problem Sosial

Problem sosial yaitu suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok sosial, atau menghambat terpenuhinya keinginan pokok warga masyarakat kelompok sosial tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial (Soerjono Soekanto, 1994: 399).

Soerjono Soekanto (1994: 406), mengemukakan beberapa problem sosial penting yang biasa terjadi dalam masyarakat, yaitu kemiskinan, kejahatan,

(11)

commit to user

masalah generasi muda dalam masyarakat modern, pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, masalah kependudukan, masalah lingkungan hidup, dan birokrasi. Dalam penelitian ini, akan membahas mengenai tiga masalah yang paling menonjol yang ditemukan dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul, yaitu sebagai berikut.

1) Kemiskinan

Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut (Soerjono Soekanto, 1994: 406).

Arti kemiskinan menurut Emil Salim (dalam Abdulsyani, 2002: 190) sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Orang akan dikatakan di bawah garis kemiskinan bila pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan hidup yang pokok (makan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain). Soetrisno (2001: 20) mendefinisikan kemiskinan menyangkut kemungkinan atau probabilitas orang atau keluarga miskin untuk melangsungkan dan mengembangkan kegiatan perekonomian dalam upaya meningkatkan taraf kehidupannya.

David C. Karten (dalam Abdulsyani, 2002: 191) berpendapat, ada kebutuhan pokok yang sulit untuk dipenuhi kaum miskin, yaitu:

a. Banyak orang miskin yang tidak mempunyai kekayaan produktif selain kekuatan jasmani mereka. Berkembang dan terpeliharanya

(12)

commit to user

kekayaan tergantung pada semakin baiknya kesempatan untuk memperoleh pelayanan umum, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, dan penyediaan air yang pada umumnya tidak tersedia bagi mereka yang justru paling membutuhkan.

b. Peningkatan pendapatan kaum miskin kemungkinan tidak akan memperbaiki taraf hidup mereka apabila barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pendapatan mereka tidak tersedia.

Bentuk atau jenis kemiskinan berdasarkan akar penyebabnya ada dua (Soetrisno, 2001: 21), yaitu:

a. Kemiskinan natural/alamiah, yaitu kemiskinan yang timbul akibat terbatasnya jumlah sumber daya dan karena tingkat perkembangan teknologi yang sangat rendah. Sehingga dalam masyarakat ini tidak akan ada kelompok atau individu yang lebih miskin dari yang lain. Jika ada perbedaan kekayaan dalam masyarakat, dampak perbedaan tersebut akan diperlunak atau dieliminasi oleh adanya pranata-pranata tradisional. Misalnya hubungan patron-klien, jiwa gotong royong, dan sejenisnya berfungsi untuk meredam timbulnya kecemburuan sosial.

b. Kemiskinan struktural atau buatan, merupakan kemiskinan yang terjadi karena struktur sosial yang ada membuat anggota atau kelompok masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan

(13)

commit to user

fasilitas-fasilitas secara merata. Bahkan Selo Soemardjan (dalam Soetrisno, 2001: 22) mendefinisikan kemiskinan struktural sebagai kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan struktural biasanya terjadi dalam masyarakat yang ada perbedaan tajam antara kaya dan miskin. Ciri utama kemiskinan struktural adalah:

 Sangat lamban atau tidak adanya mobilitas sosial vertikal.  Adanya ketergantungan yang kuat pihak miskin terhadap kelas

sosial ekonomi di atasnya.

Adanya pemahaman kemiskinan muncul bukan sebagai sebab, tetapi lebih sebagai akibat adanya situasi ketidakadilan, ketimpangan serta ketergantungan dalam struktur masyarakat. Kondisi ini diistilahkan sebagai perangkap kemiskinan yang terdiri dari lima unsur, yaitu kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisik, keterasingan, kerentanan, dan ketidakberdayaan. Kelima unsur ini saling berkaitan dan merupakan jalinan interaksi yang timbal balik, sehingga merupakan kondisi yang berbahaya dan mematikan peluang hidup masyarakat miskin.

Dalam penelitian ini, kemiskinan yang terjadi merupakan bentuk kemiskinan struktural atau buatan karena kemiskinan yang terjadi merupakan akibat dari struktur sosial yang ada membuat anggota atau kelompok

(14)

commit to user

masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas-fasilitas secara merata, sebagai akibat dari kesewenag-wenangan dan ketidakpedulian pemerintah terhadap rakyat kecil.

2) Kejahatan terhadap kemanusiaan

Kejahatan terhadap kemanusiaan yaitu salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian serangan yang meluas atau sistematik ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, misalnya suatu rangkaian perbuatan yang dilakukan sebagai kelanjutan kebijakan berhubungan dengan organisasi. Kejahatan kemanusiaan dalam penelitian ini mencakup pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa dan perampasan kemerdekaan (Darwan Prinst, 2001: 71).

a. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa

Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa yaitu pemindahan orang secara paksa, dengan cara pengusiran atau tindakan pemaksaan yang lain dari daerah di mana mereka bertempat tinggal secara sah, tanpa didasari alasan yang diingizinkan oleh hukum (Darwan Prinst, 2001: 72). Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa merupakan tindakan yang melanggar Hak Asasi Manusia, yang mencakup:

 Pelanggaran hak milik

Setiap orang berhak mempunyai hak milik, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain demi pengembangan

(15)

commit to user

dirinya, keluarga, bangsa, dan masyarakat dengan cara yang tidak melanggar hukum. Tidak seorang pun boleh dirampas miliknya dangan sewenang-wenang dan secara melawan hukum. Dalam pasal 36 dijelaskan bahwa hak milik mempunyai fungsi sosial, artinya penggunaan hak milik harus memperhatikan kepentingan umum. Apabila kepentingan umum menghendaki atau membutuhkan benar-benar, maka hak milik dapat dicabut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Masalah pencabutan hak atas tanah diatur dalam pasal 18 Undang-undang Nomor 5 tahun 1960, yang menyatakan bahwa untuk kepentingan umum termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut dengan memberi ganti kerugian yang layak.  Pelanggaran hak atas kehidupan yang layak

Dalam pasal 40 Undang-undang No. 39 tentang Hak Asasi Manusia, menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta bekehidupan yang layak. Kehidupan yang layak, minimal terpenuhinya kebutuhan primer seperti pangan, sandang, dan rumah (Darwan Prinst, 2001: 31).

(16)

commit to user

Hal ini berkaitan dengan perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang yang melanggar ketentuan atau asas-asas pokok hukum internasional (Darwan Prinst, 2001: 32). Dalam penelitian ini, perampasan kemerdekaan yang dimaksud adalah perampasan kemerdekaan bersuara dan menyatakan pendapat. Hal tersebut merupakan pelanggaran dalam hak mengajukan pendapat, sesuai pasal 44 Undang-undang Nomor 39, yang menyatakan bahwa setiap orang, baik sendiri maupun bersama-sama berhak menyatakan pendapat, permohonan, pengaduan, dan atau usulan kepada pemerintah dalam rangka pelaksanaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan efisien, baik dengan lisan maupun dengan tulisan.

3) Masalah generasi muda dalam masyarakat modern

Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh keinginan untuk melawan. Sikap melawan mungkin disertai dengan rasa takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan-perbuatan menyimpang (Soerjono Soekanto, 1994: 413). Dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul, ditemukan problem sosial mengenai sikap melawan terhadap penguasa pada era Orde Baru.

Sikap melawan tersebut didasari karena adanya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan penguasa terhadap rakyat kecil, yaitu pengusiran penduduk dengan cara penggusuruan rumah serta perampasan tanah. Selain itu,

(17)

commit to user

perlawanan muncul akibat perampasan kemerdekaan bersuara yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat, sehingga rakyat tidak bebas mengutarakan pendapat serta aspirasinya kepada pemerintah.

C. Kerangka Pikir

Bagan Kerangka Pikir

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada tahap awal, penulis menentukan objek penelitian, yaitu tujuh puisi dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul, antara lain Nyanyian

Kumpulan Puisi Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul

Sosiologi Sastra – Sosiologi Karya Sastra Problem-problem sosial

dalam kumpulan puisi Aku

Ingin Jadi Peluru karya Wiji

Thukul

Respon pengarang terhadap problem-problem sosial dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi

Peluru

(18)

commit to user

Abang Becak, Apa yang Berharga dari Puisiku, Kuburan Purwoloyo, Peringatan, Bunga dan Tembok, Nyanyian Akar Rumput, dan Sajak Suara. Setelah itu,

dilakukan pemahaman sungguh-sungguh terhadap ketujuh puisi tersebut, sehingga menemukan maksud yang terdapat di dalamnya. Penulis menganalisis ketujuh puisi tersebut dengan teori sosiologi sastra khususnya sosiologi karya sastra. Dari hasil analisis, penulis menemukan problem-problem sosial serta respon pengarang terhadap problem-problem sosial dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru. Pada tahap akhir, penulis menyimpulkan hasil penelitian dengan menunjukkan jawaban dari kedua pokoh bahasan dalam penelitian ini.

Referensi

Dokumen terkait

Livelihood Category Coastal Fishermen Coastal Labourers Labourers on Fish farms Landless Labourers Livestock rearers Petty Traders Riverine fishermen Te nant farmers

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa

Pada beberapa kondisi, seperti Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOK) dan penyakit tuberkulosis, dapat menyebabkan karsinogenesis dengan membentuk daerah

Pada makalah ini akan dijelaskan penggunaan algoritma eliminasi Gauss di dalam menyelesaikan masalah klasik di dalam ilmu kimia, yaitu masalah penyetaraan persamaan

Dari analisis sidik ragam dapat dilihat suhu penyimpanan berbeda sangat nyata, sedangkan waktu penyimpanan dan interaksi antara suhu dengan lama waktu penyimpanan

15 tiap kali perternuan, dan (6) mengumpulkan kembali buku jurnal yang telah ditulis untuk diberi respon. Pada siklus II langkah-langkah pembalajaran tersebut tetap

Penghapustagihan aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), Lembaga Penjamin Simpanan menyelesaikan aset berupa Tagihan yang masih tersisa.. dari

Berdasarkan hasil penelitian persepsi penumpang, ada 3 faktor pelayanan yang perlu diperhatikan pihak menejemen Bus Lintas USU, yakni : Faktor muat penumpang, waktu