• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Obyek Penelitian

Obyek peneltian adalah komunikasi antarbudaya yang menekankan pada

kompetensi komunikasi antarbudaya Dewan Paroki Gereja Katolik Servatius Jl. Kampung Sawah RT 006/04, No. 75, Kelurahan Jati Melati , Kecamatan Pondok

Melati , Kota Bekasi dalam menjalin relasi antara jemaat gereja dengan mayarakat lokal Betawi Kampung Sawah..

Obyek penelitian dilakukan pada Dewan Paroki Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah Bekasi karena Dewan Paroki Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah Kota Bekasi memiliki warna tersendiri yaitu adanya kegiatan-kegiatan inkulturasi budaya Betawi.

Kegiatan-kegiatan inkulturasi budaya Betawi antara lain kegiatan misa hari minggu pagi jam 06.00 dan pukul 08.30 WIB. terdapat “pengawal misa” yang disebut “Krida Wibawa” . “Krida Wibawa” tersebut mengenakan bajau khas ala jawara Betawi dengan berpakaian hitam-hitam lengkap dengan kopiah, sarung dan golok .

Kecuali kegiatan misa inkulturasi pada hari minggu juga ada kegaiatan misa inkulurasi yang pada saat peringatan “sedekah bumi” yang diperingati 1 tahun sekali, dimana Pastur dan para jemaat gereja memakai pakaian khas Betawi (baju koko) dan berkopiah . Kecuali itu juga disekitar banggunan gereja dihiasi dengan simbol-simbol Betawi seperti terdapat ogok-ogok, tumpeng, buah-buahan, dan lain-lain . Disamping itu juga di halaman Gereja terdapat hidangan khas Betawi seperti nasi uduk, ubi rebus, pisang rebus, dodol betawi dan juga ditampilkannya kesenian-kesenian khas Betawi seperti gambang kromong, tari topeng , tari sirih dan lain-lain

(2)

Penelitian ini dimulai pada tanggal 24 Maret 2013 bersamaan dengan acara peringatan minggu palma, menurut agama Katolik minggu palma merupakan peringatan

kisah Yesus Kristus ( Nabi Isa Almasih ) akan dihukum oleh Pontius Pilatus ( Pemerintah Romawi ).

3.2. Paradigma Penelitian

Harmon (Moleong, 2005:49) mengatakan bahwa paradigma adalah cara mendasar untuk mempersepsikan, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang realitas . Baker ( Moleong, 2005: 49) mengatakan bahwa paradigma adalah seperangkat aturan yang membangun atau mendefinisikan batas-batas dan menjelaskan bagaimana sesuatu harus dilakukan dalam batas-batas agar berhasil . Bogdan dan Biklen (1982) menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan tentang asumsi yang secara logis dianut bersama, konsep atau proporsi yang mencagu pada cara berpikir dalam suatu penelitian .

Berdasarkan pendapat tersebut diatas paradigma dalam penelitian ini adalah paradigma interpretif . Pendekatan intepretif (Newman, 1997 :68) berangkat dari upaya mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang diteliti. Pendekatan interpretif diadopsi dari orientasi praktis . Secara umum pendekatan interpretif merupakan sebuah sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail langsung mengobservasi.

Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks dan makna yang khusus sebagai esensi dalam memahami makna sosial . Interpretif memandang fakta sebagai hal yang cair (tidak kaku) yang melekat pada sistem makna

(3)

dalam pendekatan interpretif. Fakta-fakta tidaklah imparsial , obyektif dan netral. Fakta merupakan tindakan yang spesifik dan kontektual yang bergantung pada pemaknaan sebagian orang dalam situasi sosial. Interpretif menyatakan situasi sosial mengandung ambigu yang besar. Perilaku dan pernyataan dapat memiliki makna yang banyak dan dapat diinterpretasikan dengan berbagai cara. (Newman, 1997 :72).

3.3. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Metode kualitatif adalah suatau penelitian kontekstual yang menjadikan manusia sebagai instrumen, dan disesuaikan dengan situasi yang wajar dalam kaitannya dengan pengumpulan data yang pada umumnya bersifat kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 2000:3) Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat meneliti dan mengamati lebih dalam mengenai Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Dewan Paroki Gereja Katolik Servatius dalam membangun relasi antar jemaat gereja dengan masyarakat lokal non Katolik . Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Metode kualitatif mempunyai beberapa cara yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan data yang diperlukan. Menurut Mulyana (2001: 148) menyebutkan bahwa, metode penelitian kualitatif dilakukan dengan cara deskriptif (wawancara tak berstruktur, wawancara mendalam, pengamatan berperan serta) analisis dokumen, studi historis kritis; penafsiran sangat ditekankan alih-alih pengamatan obyektif. Penelitian kualitatif menurut Basrowi dan Suwandi (2008: 20) merupakan penelitian yang dilakukan berdasarkan paradigma, strategi, dan implementasi model secara kualitatif.

(4)

Meode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Metode studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data ( sebanyak mungkin data ) yang bisa digunakan untuk meneliti , menguraikan dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi atau peristiwa yang sitematis (Rachmat Kriyantono, 2010:65)

Menurut Rachmat Kriyantono dalam Robert K. Yin. (2000 : 18 ) memberikan batasan mengenai studi kasus sebagai riset yang menyelidiki fenomena di alam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan jelas, dan di mana multi sumber bukti dimanfaatkan .

Sedangkan menurut Rachmat Kriyantono dalam Mulyana (2001: 201) studi kasus periset berupaya secara seksama dan dengan berbagai cara mengkaji sejumlah variabel mengenai suatu kasus khusus. Dengan mempelajari semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok atau suatu kejadian, periset bertujuan memberikan uraian lengkap dan mendalam mengenai subyek yang diteliti.

Jadi yang akan dilakukan oleh peneliti terhadap penelitian ini berdasarkan metode studi kasus adalah peneliti akan mengikuti dan mengamati kegiatan-kegitan yang dilakukan Dewan Paroki Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah Seperti kegiatan misa inkulturasi budaya betawi , kegiatan peringatan “sedekah bumi” dan kegiatan “ngeriung bareng” atau kegiatan pertemuan lintas agama dan etnis yang

dilaksanakan di ruang paroki gereja serta kegiatan pentas kesenian budaya Betawi di pelataran parkir gereja.

(5)

3.4. Key Informan

Data diperoleh melaui observasi dengan melakukan wawancara mendalam kepada para informan. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan pangkal dan informan pokok (key informant) ( Koentjaraningrat, 1991:130 ). Koenjaraningrat memaparkan bahwa informan pangkal adalah orang yang dipandang mampu memberikan infromasi secara umum dan mampu menunjuk orang lain sebagai informan pokok yang dapat memberikan informasi yang lebih mendalam. Informan pangkal dalam penelitian ini adalah 2 orang yaitu Pastur Kepala dan Sekretaris Dewan Paroki Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah . Sedangkan informan pokok adalah 3 orang yaitu warga Betawi Kampung Sawah baik yang beragama Katolik maupun Non Katolik yang mengetahui situasi di Kampung Sawah . Pendapat lainnya diutarakan oleh Marshall ( 1996 :1 ) “Key Informant is an expert source of information, Key Informan was used together with an indept interview in qualitativve research”.

Narasumber kunci (key informan) pangkal yang diambil dalam penelitian ini

adalah beberapa orang yang memahami permasalahan yang sedang diteliti yaitu Rm Yakobus Rudiyanto, SJ , Pastur Kepala Gereja Katolik Santo Servatius Kampung

Sawah Bapak Aloysius Eko Praptanto , Sekretaris II dan Seksi Komunikasi Sosial Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah .Sedangkan informan pokok yang diambil dalam penelitian ini antara lain , Bapak Yacob Napiun (Pengurus Paguyuban Umat Beragama Melati Mandiri seksi Ekonomi), Matheus Nalih ( Koordinator Kridawabawa dan asli Betawi Kampung Sawah ) dan Bapak H. Sudirman (Ketua Paguyuban Umat Beragama Melati Mandiri (Agama Islam- Asli Kampung Sawah).

(6)

Subyek penelitian sebagaimana yang dikemukakan oleh Spardley (1979) merupakan sumber informasi dan Moleong (1989) mengemukakan bahwa subjek penelitian merupakan orang dalam pada latar belakang penelitian atau orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang

penelitian (Basrowi dan Suwandi, 2008:188). Subjek pada penelitian ini adalah 5 orang yang dipandang peneliti bisa memberikan informasi yang terkait dengan latar

belakang penelitian adalah beberapa orang yang memahami permasalahan yang sedang diteliti yaitu Rm Yakobus Rudiyanto, SJ , Pastur Kepala Gereja Katolik Santo Servatius Kampung Sawah Bapak Aloysius Eko Praptanto , Sekretaris II dan Seksi Komunikasi Sosial lain Bapak Yacob Napiun (Pengurus Paguyupan Umat Beragama Melati Mandiri Seksi Ekonomi) Melati Mandiri) , Matheus Nalih ( Koordinator Krida Wibawa dan asli Betawi Kampung Sawah ) dan Bapak H. Sudirman (Ketua Paguyuban Umat Berama Melati Mandiri (Agama Islam- Asli Kampung Sawah).

Teknik sampling dalam penelitian ini adalah snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit , lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit tersebut belum mampu memberikan data yang memuaskan , maka mencari orang lain lagi yang dapt digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar ( Sugiyono, 2011:219). Jadi Peneliti akan mengawali penelitian dengan melakukan wawancara pendahuluan dengan Pastur Kepala Gereja Katolik Santo Servatius dan selanjutnya akan dibantu di arahkan untuk menemui Pengurus Dewan Paroki Gereja dan selanjuntnya direkomendasi ke informan yang lain agar proses penelitian berjalan lancar.

(7)

3.5. Tehnik Pengumpulan Data

Menurut Ardianto (2010:178) teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif terdiri dari wawancara mendalam (depth interview), observasi, wawancara kelompok dan studi kasus, namun semua itu tergantung pada penelitian masing-masing. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling stategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapatkan data. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif menurut Lofland (Moleong, 2000:112) adalah kata-kata dan tindakan. Data pokok yang dikumpulkan untuk mencapai tujuan penelitian difokuskan pada unsur-unsur yang berkaitan dengan komunikasi antarbudaya. Keseluruhan data yang diperlukan terdiri dari dua bagian, yaitu data primer yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam dan data sekunder dari hasil penelitian atau dokumentasi dari berbagai sumber tertulis seperti buku-buku, jurnal ilmiah dan lain-lain.

3.5.1. Teknik Pengumpulan Data Primer

1) Wawancara

Wawancara adalah percakapan antara periset seseorang yang berharap mendapatkan inforamasi dan informan seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi penting tentang suatu objek (Berger, 2000: 111 dalam Rachmat Kriyantoro , 2006:100 ) . Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh infomasi langsung dari sumbernya.

Teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara pendahuluan dan wawancara mendalam (dept interview ) atau wawancara intensif (intensive-

(8)

interview) dan kebanyakan tak berstruktur. Wawancara pendahuluan adalah wawancara yang tidak ada sistematika tertentu, tidak terkontrol, informal, terjadi begitu saja, tidak diorganisasi atau terarah. Wawancara ini biasanya digunakan untuk mengenalkan periset kepada orang yang akan diriset. Wawancara ini bertujuan untuk membangun konfidensi periset pada informannya (respondennya). Wawancara ini menjadi pembuka yang bisa membuat terbujuk menyampaikan informasi kepada periset. Sedangkan Wawancara mendalam (dept interview) adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam.(Rachmat Kriyantoro,2006:100-102). Disamping itu Peneliti juga melakukan wawancara tak terstruktur yaitu wawancara dimana Peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun rapi dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara hanya berupa garis-garis besar yang akan ditanyakan, merupakan metode pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mencatat suatu peristiwa dengan menyaksikan langsung ataupun tidak langsung .

3) Observasi

Obervasi adalah sebagai kegiatan mengamati secara langsung tanpa mediator sesuatu objek untuk melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan objek tersebut. Suatu kegiatan observasi baru bisa dimasukkan sebagai kegiatan pengumpulan data penelitian bila memenuhi syarat sebagai berikut: (Nazir, 1985:234 dalam Rachmat Kriyantoro, 2006:110).

(9)

a) Obervasi digunakan dalam periset dan telah direncanakan secara sitematik.

b) Obervasi harus berkaitan dengan tujuan riset yang telah ditetapkan.

c) Obeservasi yang dilakukan harus dicatat secara sistematis dan dihubungkan dengan proposisi umum dab bukan dipaparkan sebagai suatu yang hanya menarik perhatian.

d) Obersvasi dapat dicek dan dikontrol mengenai validitas dan realiabilitasnya.

Peneliti menggunakan observasi partisan dan non partisan. Observasi partisan dilakukan oleh peneliti ketika peneliti ikut mengadiri kegiatan-kegiatan misa inkulturasi misa budaya Betawi pada peringatan”sedekah bumi” tanggal 12 Mei tahun 2013 yaitu pada misa pukul 08.30 – 10.30 WIB di Gereja Katolik Santo Servatius Kampung Sawah . Kecuali itu juga Peneliti mengikuti kegiatan”ngeriung bareng” yang dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2013 poukul 08.00 – 23.00 WIB.

Sedangkan observasi non partisan yaitu dengan kata lain peneliti tidak terlibat dalam kegiatan dan aktifitas yang dilakukan Gereja Katolik Santo Servatius Kampung Sawah tersebut, namun Peneliti hanya melakukan pengamatan pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan Dewan Paroki Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah .

3.5.2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder

1) Analisis Dokumen

Schatzman dan Strauss ( dalam Mulyana, 2003:195) menegaskan bahwa dokumen merupakan bahan penting dalam penelitian kualitatif. Dalam hal ini

(10)

biografi, catatan harian, surat-surat pribadi, foto, rekaman wawancara adalah yang terpenting.

Data sekunder juga banyak diperoleh dari buku-buku bacaan, kajian-kajian dan penelitian yang terkait dengan Komptensi Komunikasi Antarbudaya Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah , Bekasi yang diperoleh dari beberapa perpustakaan di Universitas di Jakarta, internet dan lain-lainnya.

3.6. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang temuan-temuan yang bersadarkan permasalahan yang diteliti.

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1992) dalam (Ardianto, 2010:216), dimana data yang diperoleh dilapangan harus segera dituangkan dalam bentuk tulisan dan dianalsis . Salah satu cara yang dianjurkan adalah dengan mengikuti langkah-langkah berikut yang mencakup tiga kegiatan yang bersamaan yaitu:

A. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan, perhatian dan pengabstrakan dan pentransformasian kasar dari lapangan. Fungsinya untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga interpretasi bisa ditarik. Reduksi data terjadi secara berkelanjutan hingga laporan akhir. Terdapat tigas proses reduksi menurut Basrowi dan Suwandi (2008:228-229) yaitu reduksi fenomenologi, karena reduksi

(11)

fenomenologi merupakan proses menyeleleksi kenyataan-kenyataan yang penting-penting saja dan sikap-sikap subyektif yang wajar dan alamiah seperti yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

B. Metode Data / Penyajian Data / Data Display

Metode data /Penyajian data/Data Display adalah sekumpulan informasi tersusunyang memberi kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk penyajian berupa teks, naratif, matriks, grafik, jaringan dan bagan. Tujuannya untuk memudahkan membaca dan menarik kesimpulan atau dideskripsikan sebagai kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian kesimpulan dan pengambilan tindakan.

C. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Dalam tahapan ini akan dibuat rumusan proposisi yang terkait dengan prinsip logika, mengangkatnya sebagai temuan penelitian, kemudian dilanjutkan dengan mengkaji selama berulang-ulang terhadap data yang ada, pengelompokan data yang telah terbentuk dan proposisi yang telah dirumuskan.

Gambar 3.1. Analisis Data model Interaktifi Miles dan Huberman Sumber : Basrowi & Suwandi (2008:210)

Koleksi Data

Reduksi Data

Pemaparan Kesimpulan Display Data

(12)

3.7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.Kebenaran realitas bersifat jamak/ganda, dinamis/berubah sehingga tidak ada yang konsisten dan berulang seperti semula. (Sugiyono, hal 269 ).

Mengingat dalam penelitian kualitatif alat dalam penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan obeservasi mengandung banyak kelemahan, maka diperlukan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan melalui (Kuswarno, 2008 : 64-65) :

a. Instropeksi, yaitu kegiatan menganalisis nilai-nilai dan perilakunya sendiri dan orang-orang yang berada dalam masyarakat , sehingga perilaku teramati dan informasi yang diperoleh dari wawancara dengan semua anggota masyarakat tutur konsisten dengan pemahaman yang mereka miliki.

b. Triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu dengan melakukan pengecekan data dengan sumber lain.

c. Respondent Validation, yaitu teknik memeriksa informan dari responden yang dipilih adalah benar-benar mewakili masyarakat yang ditelitinya dan memiliki pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Teknik Triangulasi ada tigas jenis yaitu Triangulasi sumber, triangulasi waktu dan triangulasi teori, (Kriyantoro, 2006:34). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan Triangualsi teori . Triangulasi

(13)

sumber adalah cara membandingkan dan mengecek ulang derajad kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Sedangkan Triangulasi teori, peneliti juga membandingkan hasil penelitian ini dikaitkan dengan teroi yang terkait yang digunakan sebagai referensi oleh peneliti.

Kecuali peneliti menggunakan Triangulasi dalam memeriksa kebasahan data , dalam penelitian ini juga peneliti menggunakan Respondent Validation, yaitu teknik memeriksa informan dari responden yang dipilih adalah benar-benar mewakili masyarakat yang ditelitinya dan memiliki pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Peneliti memilih infoman dari pengurus dewan paroki yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan gereja, dan juga warga masyarakat Betawi Kampung Sawah asli Kampung Sawah.

Gambar

Gambar 3.1. Analisis Data model Interaktifi Miles dan Huberman  Sumber : Basrowi & Suwandi (2008:210)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam merawat Tn S, masih memberikan makanan yang sama dengan anggota keluarga yang lainnya, pola tidur juga masih belum sesuai dan waktunya kurang lama, namun selalu

Hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian pada tahun 2012 bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ukuran tempat perindukan dengan keberadaan vektor

Judul yang diambil dalam penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini adalah “Pelaksanaan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas Belanja Barang pada PT PLN

Tetanus dapat terjadi pada orang yang belum diimunisasi, orang yang diimunisasi sebagian, atau telah diimunisasi lengkap tetapi tidak memperoleh imunitas yang cukup

Teknik irigasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, berat kering jerami, jumlah malai per rumpun, rata-rata panjang malai, berat 100 gabah berisi, hasil gabah kering

Pada saat terjadi serangan maka saat terdeteksi oleh sensor yang ada maka akan di cek apakah sesuai dengan policy yang diatur dan action apa yang akan

Aktivitas mineralkortikoid tidak mempunyai efek dalam inflamasi alergi dan dapat menyebabkan efek samping, antara lain retensi air dan natrium yang menyebabkan edema dan

Pajak penghasilan bagi Wajib Pajak dihitung dengan cara mengalikan Penghasilan Kena Pajak dengan tarif pajak sesuai dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan Pasal 17