• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

RISALAH

RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI

Tahun Sidang

Masa Persidangan

Hari/Tanggal

Pukul

Tern pat

Acara

Ketua Rapat

Sekretaris Rapat

Hadir

: 2002-2003

: I

: Minggu, 15 September 2002

Pembahasan Ruu tentang Surat Utang Negara

Drs. SUDIRMAN, S.E, Msi.

USIJANA, S.H

(2)

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Terimakasih.

Bapak Ketua,

Bapak-bapak yang terhormat,

Assalamu' alaikum Warrahmaiallahi Wabarakhatuh.

Mengenai Surat Utang dan Obligasi Negara yang telah diterbitkan,

sebetulnya proseduralnya di Pemerintahan sendiri ada diterbitkan atau Keppres

atau Peraturan Pemerintah. Tetapi di dalam pelaksanaannya, misalnya

Peraturan Pemerintah tentang Program Rekapitalisasi Bank Umum untuk

rekapitalisasi Bank-bank BUMN misalnya, di sana itu disebutkan angka

maksimum. Bukan angka yang betul-betul keluar, dan memang tidak selalu

sama dengan angka maksimum, ada yang di bawahnya, ada yang sama. Di

dalam pelaksanaannya, pada waktu mau diterbitkan Surat Utang atau Obligasi

itu, Pemerintah selalu datang ke DPR, memang dalam hal ini bukan Panitia

Anggaran karena pengertiarmya dari dahulu selalu datangnya itu minta

persetujuan ke Komisi IX. Setiap kali Bank mau direkap, setiap kali pula

sebelum dilaksanakan, Pemerintah itu selalu datang ke Komisi IX menjelaskan

minta persetujuan rekapnya dulu, kemudian kalau disetujui barn disampaikan

angkanya, jumlahnya, kemudian komposisi dan struktur Obligasinya.

Maksudnya dengan komposisi adalahlbe

rate-nya berapa, variabel mte-nya

berapa,

fix rate hubungannya berapa saja, jatuh temponya berapa lama dan

seterusnya.

Jadi secara prosedural, apa yang sudah digariskan di Undang-undang

Bank Central bahwa Pemerintah kalau mau menerbitkan Obligasi, itu

berkonsultasi dulu dengan Bank Indonesia, itu juga dipenuhi, tidak pernah

Pemerintah mengeluarkan Surat Utang atau Obligasi Negara tanpa

berkonsultasi dengan Bank Indonesia, dan kemudian baru datang meminta

persetujuan dari DPR.

Besaran dari sebetulnya yang dicantumkan di "Penjelasan DIM 107'',

kalau dilihat dari urut-urutan waktu pelaksanaan, bukan urut-urutan waktu

keluarnya peraturan ini, itu yang lebih dulu dilakukan adalah yang butir c:

"Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1998 tentang Pinjaman Dalam Negeri

dalam bentuk Surat Utang". Ini adalah dasar hukum bagi Pemerintah sebelum

nanti berkonsultasi dengan Bank Indonesia dan minta persetujuan ke DPR

untuk mengeluarkan Surat Utang dalam rangka penyelesaian BLBI. Memang

(3)

saya belum di Pemerintah waktu itu, itu tahun 1998, saya tidak berani

mengatakannya kalau yang itu, tetapi tidak tahu, kita terpaksa

I

\hatfile

ini

kalau ini, saya bel urn di Departemen Keuangan waktu itu, tidak berani bicara

saya. Itu adalah SU 001 Rp 80 triliyun, SU 003 Rp 64,5 triliyun, SU 002 Rp 20

triliyun dalam rangka Bank Exim. Itu dia untuk yang c.

Kemudian perlu juga kami sampaikan ini adalah dalam rangka menutup

Neraca Bank Indonesia dalam rangka penyelesaian BLBI yang bel urn

tuntas-tuntas itujuga. Yang Rp 20 triliyun memang adalah penyelesaian bolongnya

Neraca Bank Exim. Bank Exim yang sekarang masuk ke Bank Mandiri.

Kemudian, mohon maaf, ada satu yang lebih dulu dari sini, yaitu yang

butir b: "Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 1978 tentang Pinjaman Luar

Negeri dalam bentuk Surat Utang atau Obligasi". Ini dalam US Dollar, Yankee

Bond Yankee Bond

dan ini ada di peredaran pasar sangat menarik harganya

karena bunganya tinggi dalam US Dollar.- Kami juga tidak bisa menjawab

banyak karena ini tahun 1978, 400 juta US Dollar. Dananya dipakai oleh Bank

Indonesia, dan ini dikeluarkan dahulu melalui Bank Indonesia. Waktu itu Bank

Indonesia adalah bagian dari Pemerintah. Itu yang b, yang kemudian yang c

mohon maaf tadi terbalik saya urutannya.

Kemudian a, walaupun tahun 1998 dikeluarkan PT-nya, pelaksanaannya

itu semua tahun 1999 dan tahun 2000. Malah terlebih dahulu dilaksanakan

butir b, yaitu SU 004. Surat Utang 004 itu besarnya adalah 53, 779 adalah

untuk penjaminan.

Yang butir d itu adalah yang 9,970 SU 005. Ada di bawah dia tempatnya,

SU 005 ini perlu diberikan beberapa catatan Pak. Ini dikeluarkan oleh

Pemerintah, karena Bank Indonesia di masa lalu mengeluarkan KLBI vKredit

Lekuiditas Bank Indonesia) untuk kredit-kredit program. Itu untuk PIR, untuk

KUT, untuk KKPA, untuk macam-macam. Sebetulnya Rp 9,97 triliyun itu

belum efektif semuanya menjadi utang. Karena aturan mainnya begini, ini

sebenarnya pemikirannya Bank Indonesia dulu telah mengeluarkan KLBI

ada resiko ini tidak kembali maka Pemerintah mengeluarkan semacam back

up menalangi yang selanjutnya aturannya begini. Kalau sudah kern bali dananya

dari PIR, dari KUT, kemudian kalau kern bali misalnya Rp 2 triliyun, Pemerintah

menggunakan Rp 2 triliyun itu, maka efektiflah Rp 2 triliyun Surat Utang

Kredit Program itu, b/\ikan semuanya diefektif.

Pertanyaannya sekarang, berapa yang sudah efektif? Sekarang yang

sudah efektif adalah Rp 850 milyar, dipakai untuk Rp 500 milyar pada tahun

1990. Waktu itu panen tiba-tibahujan agak panjang, harga gabah jatuh,

(4)

dipakailah untuk KUD yang namanya Kakop itu (Kredit kepada Koperasi)

untuk membeli padi petani, karena waktu itu jatuh harga padi menjadi Rp 700

sampai Rp 900. Kemudian Rp 350 milyar dipakai untuk KKPATR tebu rakyat.

ltulah yang efektif. Sisanya, Rp 9,97 dikurang Rp 850 itu bel urn efektif menjadi

utang Pemerintah ke Bl. Masih ada kelonggaran tarik sekarang di sana,

kira-kira 2 triliyunan yang bisa ditarik, tetapi tidak laku dijual karena bunganya

SBI, terlalu mahal, kecuali disubsidi lagi oleh Pemerintah bunganya. Kalau

untuk 850 itu disubsidi lagi itu oleh Pemerintah bunganya.

Yang bel urn saya jelaskan dan mungkin tadi ketinggalan adalah SU 004

Rp 53,779, itu dalam rangka penjaminan. Rekening 502 itu mengikuti butir c

dia sebetulnya dalam bentuk Surat Utang itu.

Itulah keseluruhan Surat Utang.

Kemudian yang a itu adalah basis untuk rekapitalisasi. Rekapitalisasi

yang telah dilaksanakan, itu bermula dari bulan Mei tahun 1999. Yang putaran

pertama waktu itu Bank Umum adalah Lippa, BCA, ada sejumlah Bank

Umum, Patriot, Danamon yang pertama. Danamon itu setelah dimerger,

direkap lagi itu, ini tahun 1999 sampai nanti pada akhir tahun 1999 Bank

Mandiri. Bank Mandiri itu direkap pada bulan September tahap pertama,

tahap kedua. Bank BUMN itu dua kali dutt tahap dia, tidak dikasih sekaligus

uangnya, September sampai Desember.

Kemudian pada tahun 2000, bulan-bulan April, Mei, Juni, Juli, itu adalah

BNI, BRI, BIN, Bank Danamon merger, Bank Bali, Bank Niaga. Keseluruhan

Obligasi inilah yang kami sebutkan dengan Obligasi Negara. Keseluruhan

Obligasi yang dikeluarkan, itu adalah mulai dari VR 001 sampai dengan VR

(Variabel Rate)

0017, kemudian juga ditambah dengan

heads bondOOll

sampai heads bond053, jumlahnya adalah 427,5 triliyun, untuk rekapitalisasi.

Yang bisa kami jelaskan pasti selalu kita datang ke DPR adalah pada

waktu kami sudah mulai ikut tentu saja, Januari 2000. Sebelumnyajuga saya

dengar pergi ke DPR, tetapi kan saya belum masuk ke Keuangan tidak berani

memberi kesaksian, tetapi kita mudah melihat/z/e-nya itu.

Saya kira demikian Bapak-bapak yang terhormat, seluruh Surat Utang

dan Obligasi. Mengenai

Yankee Bond juga kami tidak bisa banyak

menjelaskan, barangkali BI yang bisa menjelaskan lebih banyak karena

pemakai uangnya itu adalah BI.

(5)

Terima kasih banyak.

KETUA RAPAT:

Baik, nanti kita putar.

lya, sekalian Pak Kardjo kita buka putaran saja.

Jadi kita bahas karena ini satu paket "Pasal 20, DIM 107 sampai DIM

112".

Jadi sekalian kita bahas saja "DIM 107 sampai DIM 112". Dan kami

mengingatkan, apakah DIM 22 usul PDI yang tempo hari akan ditarik ke

Peralihan, to long diantisipasi sekalian nanti dalam hal PDI menanggapi. Kami

mengingatkan, sewaktu Rapat kita Panja 2 hari yang lalu, DIM 22, PDI tidak

keberatan itu dibawa ke Aturan 1\eralihan. Sebetulnya itu nuansanya hampir

sama, hanya kami ingin mengingatkan saja, karena ini adalah keputusan Panja.

Demikian. Jadi untuk itu,

INTERUPSI:

ANGGOTA FRAKSI ( ... ):

(rekaman tidakjelas)

KETUA RAPAT:

lya, makanya sekalian kesempatan ini kami mengingatkan, sekalian F

PDI menginikan sekalian merespon, sehingga kita tidak tergantung yang

demikian itu, langsung kita lihat

slide, Panja kan harus mengingatkan, itu

tugasnya kan begitu Pak. Ah, soal-soal nanti PDI ini-inilah, lain lagi begitu.

Baik,jadi "DIM 107 sampai DIM 112" kita tanggapi, setelah mendengar

uraian dari Pemerintah.

Kami beri kesempatan pertama keF PDI Perjuangan.

Silakan.

ANGGOTA

F.

PDIP (WILLEIM M. TUTUARIMA, S.H):

Terima kasih.

Memang pada waktu DIM 22 maksudnya, itu kita masukkan rencananya

di "Aturan Peralihan" ini,justru itu karena kondisinya di lapangan itu adalah

berbeda dengan konsep kami. Kami kemarin usulkan untuk kita akan

(6)

berkonsultasi dulu dengan Fraksi, sehingga harapan kami bahwa "DIM 107

sampai DIM 112" itu kita tunda dulu, nanti kita selesaikan setelah berkonsultasi

dengan Fraksi.

Itu saja dari kita sementara, Pak.

KETUA RAPAT:

Baik.

Silakan menambahkan Pak Kardjo.

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):

Begini.

Tadi apa yang dikemukakan oleh Pak Dirjen tadi itu apa yang ada di sini.

Barangkali apakah di luar ini utang luar negeri kita ada apa tidak data?

DJLK (DARMIN NASUTION):

Dengan Surat Utang tidak ada, kecuali yang debit bernomor (rekaman

tidak jelas ).

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):

Oh,jadi seluruh utang negara, itu 656 ini, seluruhnya.

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Utang dalam negerinya iya Pak, kemudian ada yang utang 400 juta dollar.

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):

Ditambah 400 juta dollar saja, itu saja.

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Iya Pak.

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):

(7)

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Yang pakai Surat Utang dan Obligasi. Surat Utang luar negeri yang tidak

pakai, yang antar negara.

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):

Nah yang antar negara itu dicatat oleh Departemen Keuangan atau tidak?

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Dicatat, itu tetapi Pak Pimpinan Anggaran yang mempunyai wilayah tetapi

itutidakdengan SuratUtang "(rekaman tidakjelas)", semua pinjaman langsung

bilateral antar-Pimpinan "(rekaman tidak jelas)" dengan lembaga-lembaga

itu. Itu tidak ada hubungannya dengan (rekaman tidakjelas).

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):

Oke.

Baik, jadi supaya tidak confuse. Saya menganggap bahwa hanya ini utang

kita, padahal tidak kan.

Kalau utang dalam negeri yang tidak memakai Surat Utang Negara atau

tidak memakai program ini, itu ada tidak utang dalam negerinya?

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Utang ke BI sudah tidak ada. Tidak ada setahu kami, Pak.

ANGGOTA

F.

REFORMASI

(H.

SYAMSUL BALD A, S.E., MBA,

M.M., MSc):

Begini Pak.

Maksud beliau itu, ada tidakjenis utang dalam negeri lain selain Surat

Utang Negara.

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Kalau pun ada, itu antara Pemerintah dengan BUMN-nya, itu saja Pak.

Misalnya ini Pak, tetapi itu kecil-kecil sekali, kalau yang sifatnya utang, ini

(8)

tidak ada Pak. Hubungan Keuangan dengan BUMN, ada kalanya memang

misalnya PAL. PAL itu rnengaku dia masih punya tagihan kepada Pemerintah

karena dahulu dia dibelikan kapal yang untuk dijual, dipakai Bea Cukai atau

Angkatan Laut, tidak tahulah, itu belum dibayar, dia bilang. Ya begitu saja

yang ada, di luar itu tidak ada, Pak.

KETUA RAPAT:

Sudah Pak Kardjo?

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO,

S.H):

Sementara sudah, Pak. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik,

Kami teruskan ke Golkar.

ANGGOTA

F.

PG (DRS. BAHARUDDIN ARITONANG):

Terima kasih Ketua.

Saya coba mungkin tanya ternan-ternan dari PDI untuk rnernbersihkan

persoalan di depan, barangkali tidak ada salahnya kalau DIM .... itu kernudian

kita alihkan ke "Aturan Peralihan", tetapi Aturan Peralihan j angan kita putukan

dulu.

Oke, kalau begitu berarti bersih DIM .... sudah.

Kemudian begini, kebetulan sebetulnya sarna Aturan Peralihan atau

"DIM 107 sampai DIM 112" ini, kami mohon kita serahkan saja ke Pansus,

karena kebetulanjuga ternan saya memberikan titipan kepada saya walaupun

sebenarnya Pak Darrnin kemarin sudah menjelaskan, saya menangkap

reasoning-nya

itu dan saya sepertinya sepaham, tetapi persoalannya ada

ternan diantara karni yang belum sepakat masih tetap meminta supaya

Peraturan Perundangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang

ini dan bel urn ditarik dan ditebus dan dibeli kern bali oleh Pemerintah artinya

masih ada catatan tersendiri paling tidak di "Penjelasan".

Karena itu karni sepakat, sepaham sekali untuk kemudian menurut

Aturan Peralihan secure DIM 107, 112 ini kita serahkan kembali ke Pans us,

tetapi ada catatan kami, supaya masing-masing diantara kita tentu perlu

(9)

mempelajarinya, memperdalamnya,jangan kemudian selesai di sini nanti masuk

ke sana muncullagi persoalan baru kan, apalagi ganti orang.

Maka itu, itu saja pesan kami supaya kita batasi kepada hal-hal yang kita

perdebatkan dan kemudian tidak terlupa. Hanya itu saja pesan kami dari Fraksi

Partai Golkar, dan catatan itu mohon sekaligus mengulang kembali yang

dikemukakan ternan saya tadi malam untuk mempertegas.

Sekian Pak Ketua. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik. Iya silakan.

INTER UPS I:

ANGGOTA F. PDIP (DRS. POLTAK SITORUS):

Kami berpendapat memang menyangkut masalah Utang N egara ini, bagi

kita yang sudah mengikuti dalam Panja ini yang kita bicarakan di sini adalah

yang menyangkut soal Surat-surat Utang Negara. Tetapi ada hal yang kita

lihat juga seperti apa yang dikemukakan oleh Pak Darmin tadi itu bahwa utang

negara ini tidak terbatas, hanya yang kita bicarakan dalam rangka RUU SUN

ini. Ada yang dikemukakan oleh Pak Darminjuga tagihan-tagihan Pemerintah

utang Pemerintah kepada BUMN. Nah ini memang kalau kita lihat ini

bagaimanapun kita diantara sesama fraksi, akan timbul pertanyaan-pertanyaan

serupa dikalangan anggota kita yang tidak menjadi Anggota Panja, walaupun

mungkin dia sesamaAnggota Komisi IX, apalagi di luar Anggota Komisi IX.

Persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana di dalam Rapat-fepat Fraksi

kita masing-masing untuk menyampaikan hal ini nanti dalam rangka

menyampaikan pendapat-pendapat fraksi untuk mengesahkan Rancangan

Undang-Undang ini.

Oleh karena itu Pimpinan, kamijuga melihat pada DIM 21 tadi memang

kami kemukakan tadinya dalam pembahasan kami bahwa utang-utang yang

kiatidiakui di dalam RUU SUN ini adalah utang-utang dalam rangka setelah

ditetapkannya SUN ini, artinya masa lalu masih menjadi perdebatan. Tetapi

kita memahami sekarang ini bahwa yang diatur dalam RUU SUN ini memang

devacto, Komisi IX juga sudah mengeluarkan keputusan persetujuan

(10)

bersama-sama dengan keputusan berbersama-sama dengan Menteri Keuangan dan Meneg

BUMN. Dan kemudian juga kita tahu di Panitia Anggaran juga itu sudah

di-cover

dalam hubungan dengan pembayaran bunga rekap Perbankan.

Oleh karena itu kami menginginkan Pimpinan ini, dalam rangka untuk

DIM yang ini yang selanjutnya kami mengusulkan, ini dibicarakan di dalam

Rapat Pleno Komisi IX. Dengan catatan, kita mengharapkan dari Pemerintah

dapat menyampaikan keterangan-keterangan lainnya walaupun nanti juga kita

akan 1nenyampaikan itu supaya secara jelas kita mengetahui utang dalam

rangka SUN, utang dalam rangka utang terhadap BUMN dan kemudian juga

menyangkut bagaimana pinjaman luar negeri. Data-data seperti ini perlu

melengkapi kita sehingga dengan demikian bisa memberikan kita gambaran

nantinya, dan itu di dalam Rapat Pleno Komisi yang akan datang supaya

dengan memudahkan kita pembahasan untuk Pleno Komisi.

Untuk DIM selanjutnya ini saya pikir barangkali nanti kita bawakan

menjadi ke dalam Pleno Komisi, begitu. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik.

Kami lanjutkan F PPP.

ANGGOTA F.

PPP (H. M. DANIAL TANDJUNG):

Saudara Pimpinan,

Saudara dari Departemen Keuangan,

Dan Rekan-rekan yang saya hormati.

Saya kembali kepada DIM

21.

Kalau kita baca keputusan kita pada

DIM

21

itu, untuk jelasnya saya baca: "Surat Utang Negara adalah surat

pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun val uta asing yang dijamin

pembayaran bulan dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai

dengan masa berlakunya". Ini suatu ... tersendiri, karena DIM 21.

Jadi kalau kita lihat Penjelasan DIM 107, dia hanya menjelaskan apa

saja utang negara yang dijamin pembayarannya oleh negara, dan artinya kita

setujui. Sekarang (tidakjelas) kalau DIM

22

dimasukkan, maka bertentangan

dengan DIM

21

yang sudah kita setujui.

(11)

ANGGOTA F. KB (DRS. H. ALY AS' AD):

(rekaman rusak) KB mengatakan 52 triliyun saja, tidak 84, tetapi 52

triliyun saja tidak patut menj adi be ban Pemerintah, dari 144 itu.

Kemudian dulu di Komisi IX yang kemudian berakhir dengan elite BI

mengundurkan diri itu, malam-malam itu, di sana kan ada semacam

kesepakatan an tara Pemerintah dengan BI, tetapi tidak kesepakatan bersama

DPR antara Pemerintah dan BI bahwa dari 144,5 itu, 24,5 menjadi tanggungan

BI, artinya tidak semua, tidak dipergunakan oleh Pemerintah.

Jadi angka 84, 52 ada 24,5 triliyun, ada peristiwa seperti itu.

Kan ada sudah berkembang tetapi ini belum formal di luaran, apa itu

namanya? RPN, itulah. Pokoknya yang itu nanti dari 144,5 itu tidak akan

dibayar bunganya, kemudianjuga tidak akan dibayar oleh Pemerintah karena

itu akan ditutup dengan surplus BI selama 20 tahun jadwalnya. Intinya ini

sudah ada perkembangan jauh, pembicaraannya sudah j auh.

Kemudian, pembiayaan kredit program yang 9,97, inijuga akhirnya penuh

masalah. Apalagi yang KUT itu tidak pada kembalikan uang, bahkan diantara

debitur yang makan kredit program ini, yang masuk UKM tentunya, itu

kemudian pemah disubsidi oleh APBN yang tahun ini 2,2 triliyun untuk

pemutihan KUT, yang tentu ada diantaranya yang uang dari sini. Artinya ini

pembicaraannya sudah sempurnalah keruwetan berada di sini.

Kemudian kalau kita masuk ke DIM ini, ini maunya disahkan. Yang

sempurna keruwetannya itu dinyatakan sah dan tetap berlaku di sini

masalahnya.

Oleh karena itu, meskipun kuat definis menurut Pak Danial yang dari

Fraksi PPP itu sudah masuk di sana, mungkin dalam arti pengertian Surat

Utang sudah masuk, mungkin ya, tetapi itupun masih akan kita kaj i. Tetapi

dalam arti "disahkan" saya pikir belum. Karena 4 hal ini sangat sempurna

keruwetannya Pak. Ini adalah bagian utang kita yang pakai Surat Utang

maupun Obligasi. Tentunya begini, kami punya pikiran, kita akan mengesahkan

ini, itu setelah kita secara bersama-sama menyadari betul posisi beban utang

kita, baik yang pakai Surat Utang Obligasi maupun yang utang langsung

dikonsumsi, proyek dan pinjaman mar negeri program itu, kredit ekspor

macam-macam itu, termasuk ini nanti semua berapa, kemudian kira-kira kita

itu termehe-mehenya? seberapa, kira-kira itu nanti baru kita akan sahkan:

"oh kalau begitu maksimal kita mungkin begini", itu maksud kami begitu Pak.

(12)

Karena itu pertanyaan tadi da_i Pak Poltak, untuk mencoba kita

memahami utang kita itu sesungguhnya berapa, luar negeri, dalam negeri

baik yang memakai Surat Utang Obb'gasi maupun yang langsung, itu

sesungguhnya berapa sehingga kemungkinan kita mengesahkan ini seperti

apa. Karena bagaimanapun seperti semangat di Pak Danial semalam, kalau

kita membuat aturan itu memang aturan yang masuk akal, aturan U

ndang-undang yang memaag nanti bisa dilaksanakan, jangan Undang-ndang-undang yang

diangkasa. Kita sahkan ternyata itu adalah pintu gerbang menuju jurang

kematian, kita kan susahjuga, itu artinya Undang-undang untuk bunuh diri.

Jadi artinya ini yang memang realistik, rasional mungkin dilaksanakan untuk

kepentingan masa depan Bangsa Indonesia. Tetapi susahnya itu tadi Pak

Darmin selaku Wakil Pemerintah belum bisa bercerita panjang Iebar dalam

hal-hal yang waktu itu Pak Darmin belum masuk dalam mekanisme

pembicaraan ini dari Departemen Keuangan.

Dan saya tidak mengerti bagaimana Pansus kita ini akan selesai, kemudian

Panja kita selesai, wong itu nanti kalau bicara ini akan menyangkut ada Pak

Menteri siapa yang dulu itu yang tanda-tangan Surat Utang itu, Pak Bam bang

Subiyanto, kemudian menyangkut BPPN yang pertama itu Pak Glenn Yusuf

macam-macam itu, saya tidak mengerti bagaimana mekanismenya Pak Dirman

untuk Rapat Panja atau Pansus nanti, apa kitajuga itu semua baru kita sahkan

sehingga ini kapan akan selesai saya tidak habis pikir. Sementara kita sadar

pentingnya Surat Utang ini menjadi Undang-undang karena untuk supaya

me-roll over nanti kalau kita sudah padajatuh tempo yangjadwalnya sudah

jelas, itu kan itu kepentingannya, ini kita sadar. Tetapi melihat permasalahannya

ini, rimba permasalahan yang seperti ini, sehingga saya sementara displaimer

dalam arti tidak bisa berpendapat bagaimana langkah yang harus kita lakukan

ini, sementara kita menyadari betapa banyaknya masalah yang harus kita

selesaikan. Tetapi tentu itu tidak menutup semangat kita untuk secara maksimal

menyelesaikan RUU tentang Surat Utang Negara ini. Misalnya, hal Ini nanti

kalau memang ruwetnya bukan main, pasal inijustru dikeluarkan dari Surat

Utang Negara, misalnya seperti itu. Artinya Surat Utang Negara ini tidak

harus melegitimasilah Surat Utang Negara yang sudah-sudah, itu tidak harus

dilegitimasi dengan ini. Di sini kita murni berbicara mengenai Surat Utang

Negara itu begini, begini, begini.

Mengenai yang sudah-sudah, kalau ingin

me-roll over-kan

bisa saja.

Saya roll over pakai Surat Utang Negara atau Obligasi yang malah sudah

berdasarkan Undang-undang ini, mereka akan mau. Mereka yang keluar tidak

hams dilegitimasi pada Surat Utang Negara ini, karena keperluan kita hanya

(13)

ingin mengeluarkan Surat Utang Negara yang lebih meyakinkan, lebih protektif

terhadap sipem egang itu. Sehingga legitim asioopertiinisaya p.ik.Jrbjsa saja nantim mJnya justru d.ikeill.arkan dariSuratU tang N egara ini.Toh nantiitu akan berakhrr, m alah dig anti dengan Surat U tang yang legitimate menurut

Undang-undang. Daripada ruwet, nanti kalau karni tanya Pak Dirman

mekanisme Rapatnya saja seperti apa? Wong itu Pansus BLBI saja saya

dengan Pak Danial Tandjungjuga pusing 7 keliling, dan sampai sekarangjuga

belum berjalan lagi kan repotjuga.

ltu saya kira saya punya solusi yang saya usulkan, kemungkinanjustru

ini dikeluarkan dari "Naskah Surat Utang Negara ini''.

Terima kasih.

Wassalarnu' alaikum Warrahmatullahi Wabarakhatuh.

KETUA RAPAT:

J adi Pak Aly sebentar.

Jadi ini kongkritnya ini di

pending atau bisa kita putar lagi.

ANGGOTA F. KB (DRS. H. ALY AS' AD):

Kalau saya rnalah usul ya, Pak.

Kalau di

''pending"

nanti kalau tidak selesai tidak enak kan, karena

keperluan APBN juga. Tetapi yang "pasal ini dikeluarkan" dari ini. Kalau

seandainya di pending,

ya usul kami yang sudah jelas di DIM ini, F KB.

KETUARAPAT:

Oke. Baik, artinya kita bicarakan kembalilah. Sebelum Pak Aritonang

saya habiskan dulu ya gil iran. Oh, interupsi ya. Silakan.

ANGGOTA

F.

PG (DRS. BAHARUDDIN ARITONANG):

Pak Aly As'ad bawa Perbendaharaan juga ini, dia bilang tidak bisa

berpendapat padahal banyak sekali pendapatnya. Hanya nanti saya usulkan,

Pak Aly ya, ini sesarna ternan ini, kalaupun ternan Bapak dulu Pak Danial,

sekarang mungkin berternan juga. Nab usul saya nanti, saya takut pendapat

yang banyak ini nanti ketika kita di Pansus, dianulir lagi sarna temannya. ltu

loh ide yang saya ingatkan tadi itu.

(14)

Jadi itu yang menjadi ini kan bagian dari interupsi, itu saja yang saya

ingatkan. Karena itu tadi saya ingatkan supaya mungkin tidak dalam konteks

Komisi, tetapi mungkin Pansus, karena Pansus itujuga sebenarnya Komisi

Pak Poltak, tetapi karena itu tidak pengertian saya Komisi Pansus, lagian dia

lebih terbatas di persoalannya.

Barangkali itu saja.

Terimakasih.

KETUA RAPAT:

Baik.

Tadi Pak Aly menyinggun<r bagaimana Pak Dirman menyelesaikan

Panja, saya sampaikan, hari ini kita coba selesaikan, tinggal beberapa DIM

lagi. Setelah itu, saya rencanakan Laporan Tim Kecil ke Panja. Setelah itu,

kalau ada w aktu, kita. bicarakan yang "pending" Panja. Setelah itu kita bentuk

Tim Perumus, Tim Singkronisasi. Setelah itu Pukull2.00 WIB mudah-mudahan

ditutup.

Saya dengan Sekretaris DPR, sama dengan Sekretaris Departemen

Keuangan tetap tinggal di sini untuk menyusun laporan dan

mengkoreksi-koreksi semua yang sudah disampaikan oleh Rekan-rekan dalam Panja ini.

Jadi sebetulnya Pak Aly, bagi saya, tugas saya, rencana saya hari ini

bisa selesai yang diberikan kepada saya. Jadi Bapakjangan khawatir. Saya

nanti berputar-putar, itu Pansus nanti, Pak.

Terimakasih.

Selanjutnya saya beri kesempatan Pak Munawar.

ANGGOTA

F.

REFORMASI (DRS. H. MUNAWAR SHOLEH):

Terima kasih, Pak. s

Assalamu' alaikum Warrahmatullahi Wabarakhatuh.

Begini Pak.

Kalau pikiran saya bahwa Forum kita kali ini, Panja RUU SUN kita kali

ini kan membicarakan regulasinya, aturan mainnya, dasar hukumnya. Kita

barangkali bukan pada Forum ini kita bicara tentang "substansi utangnya",

to long dipisahkan begituloh' atau dikemudiankanlah bicara itu.

(15)

Ketika lantas kita diberi sinyal oleh Pak Aly, jangan-jangan

Undang-undang kita kesinggian tahu-tahu tidak pas, kan begitu. Saya kira Pemerintah

kanjuga tahu sudah membuat gambaran-gambaran semacam gambaran makro

tadi belum detail, utang kita sekian dalam negeri, luar negeri sekian, sekian,

kita bisa baca. Bagi kami, sudah cukup, walaupun kesimpulan akhimya adalah

seperti yang disampaikan oleh Pak Kyai Aly, keruwetan yang sempuma,

umpama saja tadi kan, kesimpulannya kan begitu, setelah baca macam-macam

, kesimpulannya adalah utang kita temyata adalah "suatu kesimpulan yang

keruwetan yang sempurna" tadi istilahnya Pak Kyai Aly tadi, iya kan. Ituloh

macam-macamlah. Tetapi bagi saya, Panja ini jalan terus Pak, tanpa bicara

detail tentang substansi utang, bukan Forum kita. Kita bicara diguratsinya

saja, begitu. Kemudian ketika lantas bicara kok ketahui sepintas kok lantas

beg I .-.a ruwet sempurna keruwetannya tadi, saya setuju justru pendapatnya

PKB yang sudah dianulir, sebenarnya saya setuju, kok malah dianulir ituloh,

nah ini apa. Tinggal Tim kita ini, dari Panja ini memberikan rekomendasi atau

apa untuk Tim Verifikasi, Tim Audit Utang, kan begitu.

Maka tadi kan agak saya sayangkan. Saya sudah bisik-bisik kepada

beliau tadi pagi: "itu usulan panjenegan itu bagus", ada Tim Audit Utang

Negara, yang menilai ya tadi keruwetan itu dikoreksi betul ituloh. Mana yang

pakai warkat, non warkat, mana yang dipakai untuk 3 keperluan tadi yang

menurut seluruh Utang Negara, mana tidak, mana yang bisa diakui, mana

yang tidak, itu Tim Khusus, Pak. Kalau kita tidak bisa saya kira begituloh,

waktunya tidak cukup. Akhirnya kalau kita bicara itu, ya seperti yang

dibayangkan Pak Aly, kapan selesainya, kan begitu. Tetapi kalau Tim Audit,

Tim apa namanya lah, Tim Verifikasi, kemudian nanti dilaporkan hasilnya ke

DPR, kita juga nanti yang hadapi, Komisi IX, nah kita nanti bisa pilahkan,

barang itu sudah terkotak-kotak. Mana yang akan diakui ke SUN ini, mana

yang tidak, mana yang mesti di-cover oleh Pemerintah karena "Pasal20" itu

kan sudah dinyatakan Pak Danial tadi, surat pengakuan tentang Utang Negara

yang akan ditanggung baik bunga maupun pokoknya kan, yang mana saja,

kita tidak bisa teliti. Maka perlu ada khusus Tim Audit atau apa namanya kan,

siapa tahu dulu ada utang-utang ternyata betul utang negara tetapi tidak

digunakan untuk proyek yang efektif dan efisien, yang nil, masuk kantong

orang atau segala macam, ada Tim Audit. Dan kalau kita sampai ke sana,

tidak mampulah. Saya kira itu yang kedua.

Kemudian yang ketiga, menurut saya, kalau setelah melihat

perkembangan begitu melebar dan Kawan-kawan di Panja ini punya ide-ide

baru, punya masalah baru yang itu dipandang ternyata sangat penting,

(16)

substantif sekali, ya silakan saja dimasukkan, tetapi jangan di sini dong

Forumnya, melalui mekanisme yang ada kan. Buat Tim baru atau bagaimana,

masuknya di Pansus, bukan di Panja. Itu kan kita melakukan dan melakukan

pembahasan ini kan materinya sudah terpaket, paketnya itu, yaitu kita

bicarakan.

Saya kira demikian, sehingga saya dukung Ketuajalan terus, tetapi tidak

mengurangi "substansi" yang sedang kita bicarakan, masukan yang banyak,

saya sekali lagi mendukung buat Tim, apa Pak Kyai istilahnya? Verifikasi

atau Tim Audit, itu yang diusulkan PKB yang dicabut, saya minta dihidupkan

kembali. itu bukan zombie, karena itu penting.

Terima kasih.

Wassalamu' alaikum Warrahmatullahi Wabarakhatuh.

KETUA RAPAT:

Baik.

Terakhir Fraksi TNI/ POLRI.

Silakan.

ANGGOTA

F.

TNII POLRI (R. SULISTYADI, SIP., M.M.):

Baik.

Terima kasih.

Jadi Bapak-bapak dan Ibu sekalian.

Undang-Undang tentang Surat Utang Negara ini kan kita buat untuk

mengatur yang akan datang maupun yang sudah. Hal-hal yang akan kita atur

yang akan datang itu sudah kita bicarakan di depan, sekarang kita mau

melangkah ke finish ini, yang mengatur yang sudah lewat. Dan saya sepakat

dengan d?n Reformasi tadi bahwa kita berpijak kepada hal yang sudah ada di

depan kita ini.

Wilayah-wilayah lain mulai politik dan sebagainya, barangkali nanti di

Pans us.

Oleh karena itu, untuk hal-hal yang "Pasal Peralihan" ini kalau memang

belum selesai di sini, kami sepakat kalau memang di pending, tetapi seoptimal

mungkin kita selesaikan. Semangatnya harus demikian, mau tidak mau, suka

(17)

atau tidak suka hal yang telah lewat itu harus kita akomodasikan. Salah satu

tujuan yang tidak tercantumkan di depan kan ini, hal yang telah lewat juga kita

atur.

Oleh karena itu, mari kita semangatnya untuk menyelesaikan ini, kalau

bisa seoptimal mungkin di sinilah.

Itu usulan dari kami. Terima kasih, Pak.

KETUARAPAT:

Baik.

Dari tanggapan-tanggpan yang sudah disampaikan selurah fraksi, yang

dapat kami simpulkan pada dasarnya Rekan-rekan mengharapkan satu sisi/\

mau mengkonsultasikan dengan fraksi, karena ini hal yang sangat cukup krusial.

Di sisi lain, Rekan-rekan mengharapkan data-data yang lebih ban yak lagi dari

Pemerintah, data-data yang lebih kongkrit lagi dari Pemerintah untuk dapat

meyakinkan kita ini semua, sehingga nantinya pertanggung-jawaban kepada

rakyat melalui Fraksi-fraksi, itu dapat dipertanggung-jawabkan. Yang

nuansanya, semuanya kami tangkap sama-sama semuanya ini ingin

menyelesaikan, ingin ini adalah untuk bangsa dan negara. Sehingga kami

menanggapi bahwasanya ini kita

"pending" Pansus, mudah-mudahan nanti

di Pansus hal-hal yang tertinggal dan lain sebagainya dapat dituntaskan. Ini

yang kami tangkap dari floor.

Untuk itu kami beri kesempatan kepada Pemerintah sebelum ini kami

putus.

Silakan.

DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN

NASUTION):

Pimpinan dan Bapak-b&pak yang terhormat.

Jadi ada beberapa hal yang Pemerintah ingin kemukakan, apapun nanti

langkah berikutnya yang akan diambil, apakan mau di Pansus atau mau

diteruskan di Panja ini.

Sebetulnyajika Undang-undang ini nanti disahkan dan tidak menyebut

sama sekali Surat Utang dan Obligasi Negara yang sudah dikeluarkan itu,

maka dia akan kehilangan legalitas sebagai

sovereign bond.

Padahal dia

yangjustru ada di pasar sekarang, yangjika kepercayaan pasar kepada Surat

(18)

Obligasi itu, khususnya Obligasi kalau Surat Utang itu ada di BI, tidak

diperdagangkan itu. Danjika pasar tidak percaya karena tidak punya landasan

Undang-undang bahwa itu akan dibayar bunganya dan pokcknya, maka

Pemerintah percaya akan menimbulkan kerugian-kerugian yang tidak sedikit.

Dengan pengesahan di Undang-undang inijika disahkan, sebetulnya tidak

dalam pengertian statis. Maksud kami begini, jika Surat Utang 001, 003

misalnya disahkan, tidak berarti 144,5 itu sudah statis jumlahnya. Jika ada

penyelesaian an tara Pemerintah dan Bank Indonesia yang disetujui nanti oleh

DPR, ditukar dia dengan Surat Utang lain apakah namanya

ready membawa

promisory notes

atau

capital maintenance notes

apapun namanya dan

jumlahnya berkurang, itu adalah bagian dari penyelesaian dari Surat Utang itu

sendiri. Maksud kami adalah, dengan pengesahan itu tidak berarti mutlak

jumlah itu akan statis, proses penyelesaian berjalan. Bahkan kalau ini tidak

masuk, statusnya dia secara hukum bisa-bisa dianggap sama dengan

Obligasinya Wanhankamnas yang sampai hari ini Pemerintah menghadapi

Pengadilan, di Am erika Serikat. Akan makin tidak ada dasar Pemerintah untuk

mengatakan: "itu tidak sah itu, itu bukan Pemerintah yang mengeluarkan".

Tetapi kalau dicantumkan di sini, bahwa nanti perlu ditambahkan "Penjelasan"

apa begitu, itu Pemerintah bisa menerima. Kalau dikhawatirkan, seolah-olah

sudah legitimasi mutlak tidak akan berubah lagi jumlahnya, begitu. ltu

Pemerintah bisa menerima kalau dicantumkan nanji Penjelasan-penjelasan

yang membuat arah apa yang haras dilakukan. Sebetulnya penyelesaian BLBI

pun adalah upaya mencari kompromi menghindari penyelesaian veriftkasi yang

tidak tuntas-tuntas. Seandainya tadinya semua pihak bisa meng-mvorce

veriftkasi, sudah selesai dari kapan-kapan, tetapi kan tidak berjalan. Inilah

fakta yang terjadi, sehingga dicoba mencari solusi lain yang tanpa veriftkasi,

dicoba, dicari bagaimana ini, berapajadinya ini, ada dicoba solusinya.

Jadi Bapak-bapak yang terhormat, mohon jangan diartikan, jika

dimasukkan di sini seolah-olah mutlak itulahjumlahnya, tidak. Tetapi Surat

Utang ini adalah bagian dari

sovereign bond yang di dalam proses

penyelesaiannya, proses penyelesaian tetap berjalan,

apakah itu nanti harus veriftkasi, apakah itu kompromi, apakah itu

negosiasi itu tetap berjalan dan Pemerintah bisa menerima j ika dicantumkan

di Penjelasan. Akan menghadapi masalah Pasar Obligasi kita j ika itu tinggalkan.

ltu dia Pak, mohon dipertimbangkan jika dianggap di Panja ini tidak

(19)

cukup, ya paling tidak kita bahas kern bali di Komisi, di Pans us.

Saya kira demikian Pak.

Terima kasih banyak.

KETUA RAPAT:

Yang dipending itu apakah masing-masing fraksi yang berpindah posisi?

Kalau tidak akan kita bicarakan di Pansus di Komisi. Sepakat begitu ya?

(RAPAT:SETUJU)

Terima kasih.

Bapak-bapak yang kami hormati,

Sekarang kita lanjut ke DIM 113, disetujui Pansus "Tetap".

(RAPAT : SETUJU)

DIM 114, disetujui untuk dibahas lebih Ian jut di Panja. Ini ada dari PDIP.

Silakan PDI Perjuangan.

ANGGOTA F. PDIP (WILLIEM):

Bapak Pimpinan, Saya kira kaitannya juga tidak bisa dilepaskan dengan

DIM 112, karena di sini dengan berlakunya suatu ketentuan peruaturan

perundang-undangan yang mengatur penerbitan Surat Utang N egara atau

Obligasi sebelum berlakunya ini, maka tidak berlaku. Saya kira ini nanti saja

Pak!

KETUA RAPAT:

Jadi Aturan Penutup semuanya nanti saja konkordan? Jadi DIM 16

Megawati Soekarnoputeri juga di ... juga. Jadi "Bah Penutup" Pak Willi em

semua ya? dari 113 sampai dengan 118.

Silakan Golkar.

ANGGOTA F.PG ( ... ):

Kalau DIM 115 kan sebenarnya bisa, karena tidak menyangkut substansi

kalau ini.

(20)

KETUA RAPAT:

Bagaimana Pak Williem, 115 boleh ya? Jadi 114 ini,jadi tadi yang 113

sudah oke, "Impending",

INTER UPS I:

ANGGOTA F.PG ( ... ):

115 oke kita setujui, 116 tergantung Pak Williem.

KETUA RAPAT:

Jadi DIM 115 sampai dengan 118 oke ya? Terima kasih.

(RAPAT SETUJU)

Baik sekarang gilirannya kita mendengarkan laporan dari Tim Kecil yang

ditugaskan Panja yang menyusun Konsiderans "Menimbang", "Mengingat"

dan "Ketentuan Umum". Nanti dilaporkan itu setelah kita komentari, kalau

semuanya kita setujui maka kita ketuk sebagai hasil Panja.

Kami persilakan Ketua Tim Kecil untuk melaporkan hasil kerja yang

ditugaskan Panja.

Silakan.,

Bapak-bapak yang lain sudah punya konsepnya, yang belum tolong

dibagikan!

ANGGOTAF .... ( ... ):

Bapak Ketua, minta to long itu tayangannya itu ditayangkan saja.

KETUA RAPAT:

Bapak Danial tolong ditayangkan saja.

Kalau saya sudah dapat.

Yang ini Rancangan Undang-undang "Menimbang", "Mengingat",

kemudian ada "Ketentuan Umum", tolong Sekretariat dikopi dan dibagikan

kepadaAnggota dan ini ada dalam tayangan. Silakan semua disimak di

(21)

tayangan, to long disusulkan dan dibagikan ke Anggota.

Silakan PakAnggito.

ANGGOTA TIM KECIL (ANGGITO ABIMANYU):

Terima kasih Bapak Pimpinan,

Bapak-Ibu sekalian,

Bapak-bapak Anggota Panja,

Saya ingin sampaikan terlebih dahulu Anggota Tim Kecil terdiri dari;

Bapak Williem dari F. PDIP, BapakAritonang dari F. PG dan Bapak Munawar

dari

F.

Reformasi. Dari Pemerintah ada; saya kemudian Bapak Hendri dan

beberapa rekan yang lain.

Tugas Tim Kecil adalah untukmerumuskan kembali dan sekaligus melihat

kembali kepada DIM-DIM yang telah disampaikan kepada Fraksi-fraksi

mengenai 2 hal, yaitu; Konsiderans "Menimbang" dan "Mengingat", berikut

Penjelasannya. Kami kalau diijinkan Pak Ketua untuk memulai dari

Konsiderans "Menimbang", dasarnya apa yang telah disampaikan oleh

Pemerintah dengan mengingat DIM yang disampaikan oleh Fraksi-fraksi. Di

dalam Konsiderans "Menimbang" ada; a, b, c, d, e. Kami kalau diijinkan dari

yang 'a' terlebih dahulu Pimpinan. Saya bacakan kemudian kita melihat DIM

yang ada.

Menimbang:

a. Bahwa guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan

cita-cita dan tujuan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

Dasar 1945, perlu ditingkatkan kemampuan dan kemandirian untuk

melaksanakan pembangunan ekonomi nasional secara berkesinambungan

dengan bertumpu pada kekuatan masyarakat.

Apakah mau dibahas satu demi satu atau bagaimana Pak?

KETUA RAPAT:

Terus saja, dimana ini ada berhenti distop saja. Satu bagian "Menimbang"

saja terlebih dahulu.

(22)

ANGGOTA TIM KECIL (ANGGITO ABIMANYU):

Menimbang:

a. Bahwa guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan

cita-cita dan tujuan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

Dasar 1945, perlu ditingkatkan kemampuan dan kemandirian untuk

melaksanakan pembangunan ekonomi nasional secara berkesinambungan

dengan bertumpu pada kekuatan masyarakat.

b. Bahwa mobilisasi dana melalui pasar keuangan merupakan upaya

meningkatkan partisipasi masyarakat seAara optimal dalam program

pembiayaan pembangunan nasional melalui mekanisme pengelolaan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

c. Bahwa Penerbitan Surat Utang Negara kepada publik merupakan

salah satu potensi pembiayaan untuk mengurangi be ban dan resiko keuangan

bagi negara di masa mendatang.

d. Bahwa guna memberikan kepastian hukum kepada investor dipandang

perlu adanya landasar hukum atas komitmen Pemerintah untuk memenuhi

kewajiban keuangan serta penyelenggaraan manajemen Surat Utang Negara

yang transparan, profesional dan bertanggungjawab.

e. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam

huruf 'a', 'b', 'c',

dan 'd', dipandang perlu menetapkan Undang-undang tentang Surat Utang

Negara.

KETUA RAPAT:

Baik sebelum kita beranjak dan melanjut ke Konsiderans "Mengingat",

silakan kalau ada tanggapan dari masing-masing Anggota.

INTERUPSI:

ANGGOTA TIM KECIL (ANGGITO ABIMANYU):

Mungkin Pimpinan kalau boleh ada tanggapan tambahan dari

rekan-rekan Tim Kecil yang lain.

KETUA RAPAT:

Diberi kesempatan kepada Tim Kecil terlebih dahulu, kalau tidak ada

baru Anggota. Tidak ada?

(23)

ANGGOTA TIM KECIL (ANGGITO ABIMANYU):

Silakan Bapak Aritonang menyampaikan falsafahnya, mungkin Bapak

Aritonang bisa menyampaikanjiwanya itu.

KETUA RAPAT:

Ya, silakan menanggapi.

Bapak Kardjo, Pak Danial atau siapa dahulu silakan?

ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, SH):

Mohon yang di 'b', mohon penegasan saj a "bahwa mobilisasi dana melalui

pasar keuangan" itu memang istilahnya itu "pasar keuangan" atau "pasar".

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan Bapak Danial.

ANGGOTA F. PPP (H.M. DANIAL TANDJUNG):

Pertama ya, 'a' terlebih dahulu, itu di situ dikatakan "berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945". Pertama saya katakan bahwa

dasar Pancasila itu sudah termasuk di dalam Undang-Undang Dasar 1945

Alinea ke-4.

Kedua, nama Undang-Undang Dasar 1945 itu resminya sekarang ini

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jadi lebih

lengkap supaya jelas, sebab kalau hanya Undang-Undang Dasar 1945 saja,

sedangkan Ketetapan MPR itu menyebut Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945.

Ketiga, di 'd' saya kira tadi Pak Andi itu tidak lengkap membaca, yang

dia tidak baca itu yang di dalam kurung itu "(sebagai)". Jadi apa sebab tidak

dibaca itu? Jadi ini mungkin alternatif, sebab ini ahli-ahli altematif. Coba

dijelaskan itu!

ltulah sementara Saudara Ketua.

Terima kasih.

(24)

KETUA RAPAT:

Baik ada lagi yang lain,

Bapak Aly, silakan.

ANGGOTA F. KB (DRS. H. ALY AS"AD):

Terima kasih Pak.

Hanya redaksi dan kecil saja.

Jadi yang pertama sama dengan dari PDIP namanya "pasar keuangan",

pasar uang ini yang benar money market. Misalnya pasar kerja apakah pasar

pekerjaan, tetapi saya tidak mengertilah terserah inikan istilah mana yang

berlaku saj a.

Kemudian yang kedua, ini misalnya di 'd' dan di 'e' juga ada kata

"dipandang". Kemarin itu kita kan mensahkan Rancangan Undang-undang

Perubahan APBN, itu di sana kemarin disepakati kalau begini ini tidak usah

dipakai kata "dipandang" . Kata Pak Alberson itu nanti tidak ada pandangan

pertama dan kedua begitu. Pokoknyajadi huruf 'a', 'b', 'c', dan 'd' perlu

menetapkan. Itu kemarin begitu di sana, kalau memang ada keseragaman

atau bagaimana tidak mengertilah. Tetapi sekali lagi bagi saya, yang saya

tanyakan ini tidak substansial. Seandainya tidak dirubah juga tidak apa-apa,

hanya saja sedikit mengganjal.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik ada yang lain, Silakan Bapak Sukono.

ANGGOTA F. PDIP (SUKONO):

Tentang kalimat "Pancasila" ini saya dari PDIP tetap ingin dicantumkan,

karena Pancasila ini menurut kami adalah sebagai landasan ideal, adapun

Undang-Undang Dasar landasan Konstitusionalnya. Kalau kita berbicara

Undang-Undang Dasar ini sudah termasuk di dalam Pancasila itu, "masyarakat

yang adil dan makmur" inijuga sudah masuk dalam Undang-Undang Dasar.

Oleh karena itu. kami harapkan tentang Pancasila ini "tetap", sehingga

Pancasila dan Undang-Undang Dasar ini tidak bisa Jipisahkan.

(25)

KETUA RAPAT:

Baik silakan ditanggapi oleh Tim Kecil.

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. BAHARUDIN ARITONANG):

Ini semuanya bukan filsafat,

Ini yang Pak Danial tanyakan, jadi sebenarnya pertentangan seperti ini

yang selalu muncul, tetapi untuk saling melengkapi kan kita itu harus ariflah.

Masa ada yang minta Pancasila, walaupun Pancasila itu tertuang di Alinea

Ke-4 Undang-Undang Dasar"45 di Pembukaan. Sebagaimana yang sering

dijabarkan ini pewarisnya Pak Alberson ini, kalau ada Pak Alberson, maka

Pak Alberson yang akan mencecar kita. Tetapi rupanya ilmu itu diganti sama

Pak Danial. Jadi itu sama saja sebenamya dengan "mewujudkan masyarakat

adil dan makmur" yang sebenarnya di "Pembukaan" juga bagian-bagian, akan

tetapi untuk mempertegas atau untuk melengkapi, apa salahnya sepanjang

tidak bertentangan saja. Jadi kalau dia saling melengkapi itu malah tidak

persoalan, apalagi dalam filosofis kan untuk kompromi dan semacamnya kan

boleh-boleh saja.

Tidak, kalau Undang-Undang Dasar 1945 ini juga sudah semacam,

sebenarnya kalah kita set back, hanya saja kalau saya katakan nanti TAP,

karena TAP itu sendiri sudah ingin kita hindari. Kalau tidak menjelaskan kern bali

juga sebenamya munculnya kalimat ""45"itu sebenarnya mulai dari Dekrit

Presiden, kembali lagi ke sana dibukakan. Jadi itu sudah semacam merek

dagang sebenarnya, Undang-Undang Dasar'45 itu ya Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tidak terlalu prinsipil sebenamya,

kalau bertentangan. Tetapi kalau memang mau lengkap seperti itu ya

boleh-boleh saja terhadap pemahaman itu, ya itu kan sebagaimana kebiasaan

menampung altematif-altematifkan, nanti juga kalimat seperti itu juga. Kenapa

kalimat di "atas", kemudian dalam kurung "sebagai" ini? ini menampung

alternatif kemarin, ada Anggota yang minta itu kalimatnya "atas", ada pula

yang minta itu kalimatnya "sebagai". Ya sudah kita tampung saja, nanti kita

lempar dan buat saja nanti perdebatannya di sana. Buktinya Pak Danial agree

kan?, ya sudah maka Pak Anggito yang pro. Kalimat "atas" diabaikannya

"sebagai".

Tetapi rupanya sekarang sudah agree, ya sudah sekarang maunya apa?

"atas" atau "sebagai", oh lebih bagus mungkin kalau ahli bahasa kita tanya

nanti apakah itu "atas" atau "sebagai". Sebenamya bagi kitajuga kan itu hanya

persoalan bias a, sama juga demikian dengan 'd'. "Bahwa guna

(26)

memberikan kepastian hukum kepada investor dipandang perlu", tidak mau

"dipandang" ya sudah "perlu" saja. Karena memang kalau "dipandang" ini

nanti memang, di "Konsiderans Menimbang" 'e' memang itu secara

keseluruhan ditampung, kemudian maka dipandang perlu, ini segitiga istilahnya

Pak Anggito. Pak Anggito ini dan semuanya kan ahli perumus juga, kalau

tidak, tidak akan bisa menjadi kolumnis di media-media. Ya

sudahlah,"dipandang"-nya huang saja. "perlu" ya menjadi persoalan atau

barangkali nanti ahli bahasa mungkin tidak mencoba ganti kalimatnya, tidak

terlalu prinsipil.

Yang namanya Konsideran./ ini, "Menimbang" ini adalah landasan

filosofis. Sebenarnya begitu prinsip dasamya, nanti yuridisnya di Konsiderans

'a', "Mengingat" prinsip-prinsip dasarnya untuk Konsiderans. Itu mungkin

ahli hukum atau legal drafter yang lebih bisa memperkuat teori itu. Barangkali

itu penjelasannya, mudah-mudahan ternan-ternan yang bertanya-tanya tadi

selesai sekalijalan dan kita masuk ke Konsiderans berikutnya, atau kita perlu

lagi ke ahli bahasa.

KETUA RAPAT:

Belum, yang Pak Kardjo to long dijelaskan

INTERUPSI:

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. BAHARUDIN ARITONANG):

Ini sebenarnya Pak Anggito yang ahli kalimat, karena itu diambil dari

financial market yang kemudian kita terjemahkan sebagai "pasar keuangan".

Ya kalau itu sudah umum, kata beliau. Jadi kalau soal itu ya saya ... , iya. Baik

Pak Ketua kalau ada yang bertanya, mudah-mudahan tidak ada perdebatan

supaya lancar, kecuali memang ...

KETUA RAPAT:

Ada lagi yang mau menambahkan, Bapak Williem. Silakan.

ANGGOTA TIM KECIL (WILLIEM M. TUTUARIMA, SH):

Memang ini dalam Konsiderans "Menimbang" ini, ini memang tadi saya

katakan bahwa ini sifatnya kan filosofisnya ya kita membuat Peraturan

Perundang-undangan, sehingga jadi kalau "atas" itu juga kita pakai dan landasan

filosofis kita itu adalah semata-mata itu saja. Walaupun sebenarnya kalau kita

bicara UUD' 45 juga sudah ada di sana. Jadi saya kira ini komitmen kita

bersama dan saya harapkan begitu saja untuk yang 'a'.

(27)

Kemudian yang 'd', "atas" dan "sebagai" ini memang dari saya sendiri

kemarin. Jadi "sebagai" memang ini masih ada 2 kemungkinan, sebetulnya

pengertiannya sama saja, hanya bahasanya yang tepat mau digunakan "atas"

atau "sebagai" itu nanti kita sepakati bersama. ltu saja mungkin tambahan

dari saya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ada lagi Tim Kecil yang ingin menambahkan?

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. H. MUNAWAR SHOLEH):

Jadi tetap "sebagai" atau "atas" kita sepakati sekarang saja mau dipakai

salah satu, maksud saya begitu, langsung saja pilih salah satu yang mana?

Yang "sebagai" dan "atas" itu loh Pak! yang tadi Bapak keberatan itu. Dalam

arti dari tim itu fleksibel, kenapa dimunculkan sebagai altematif, katanya begitu.

Kemudian yang ten tang "pasar keuangan" itu, kemarin Bapak Anggito

belum bicara saja. Kemarin kata PakAnggito; "pasar itu kan, dalam

Undang-undang ini dibicarakan 2, baik pasar primer maupun pasar sekunder", mungkin

begitu. Bentuknya di sana bukan wujud uang, tetapi istilah untuk mencakup

kedua pasar itu disebut dengan "pasar keuangan". ltu istilah ekonomi yang

tidak berlaku, yang baku? Ya. Ya sudah kita manut, ceritanya begitu Pak biar

lebih mencakup.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Saya minta ahli bahasa, antara "atas" dan "sebagai" itu mana yang lebih

tepat. Kemudian ada kata "dipandang" itu apa penggantinya atau salah satu

dihilangkan, nanti kita minta ahli bahasa. Sebelum ahli bahasa silakan Bapak

Dania!.

ANGGOTA F. PPP (H.M. DANIAL TANDJUNG):

Saya kira begini Pak ya,

Khusus mengenai dasar Pancasila dan tujuan ini, saya lebih condong

kepada mengutip Alinea Ke-4 daripada Pembukaan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Karena apa? Sebab ada kesepakatan

(28)

daripada MPR bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar itu tidak akan

dirubah. Jadi dia punya apa yang namanya itu dan itu lengkap sekali. Alinea

Ke-4 itu, ya artinya ada kesepakatan selurah bangsa ini walaupun "Batang

Tubuh" dirubah-rubah, tetapi "Pembukaan" Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 itu tidak akan dirubah. Di situlah ketepatan

bangsa ini dan kenapa mereka bersatu? Negara Republik Indonesia; apa

tugas Pemerintah? melindungi tumpah darah Indonesia. Jadi di Alinea Ke-4

itu adalah kesimpulan

J adi menurut say a lebih baik kita mengatakan a tau mengutip dari A linea

Ke-4 Undang-undang itu, jadi itu lebihjelas. Tidak usah panjang Pak, tidak

dikutip seluruhnya sebagaimana tercantum dalam "Pembukaan"

Undang-Undang Dasar' 45 Alinea Ke-4. Pancasila kita tidak akan berubah, sebab itu

dasar filosofis berdirinya negara ini.Tujuannya juga negara ini apa? Tugas

Pemerintah apa terhadap rakyatnya, di situ di Alinea Ke-4 itu jelas sekali dan

itu lah roh daripada republik ini.

INTERUPSI:

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. H. MUNAWAR SHOLEH):

Kalau saya beginilah,

Jadi Pancasila itu tadi kalau Bapak Aritonang trademark, ketika Bapak

Danial mengatakan "Pembukaan" itu tidak mungkin dirubah. Analogika saya

mengatakan ...

INTER UPS I:

ANGGOTA F. PPP (H.M. DANIAL TANDJUNG):

Bukan tidak mungkin dirubah, tetapi sudah ada kesepakatan.

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. H. MUNAWAR SHOLEH):

Jadi sudah ada kesepakatan tidak akan dirubah ...

INTERUPSI:

ANGGOTA F. PPP (H.M. DANIAL TANDJUNG):

Sebab kalau dirubah itu artinya mendirikan negara yang lain.

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. H. MUNAWAR SHOLEH):

Betul, sama juga Pancasila kan kesepakatan bersama yang tidak akan

dirubah.

(29)

Kedua, "Pembukaan" Undang-Undang Dasar'45 itu kan termasuk

kesatuan yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang Dasar'45. Jadi ketika

kita melandaskan ke Undang-Undang Dasar' 45 inclusive di situ "Pembukaan"

masuk, kan bukan hanya "Batang Tubuh"-nya toh, jadi semua saja lah. Kita

kemarin lebih simple bahasanya begitu, kira-kira begitu. Karena itu mana

filosofis saja, persoalan nanti setelah ditulis seperti itu ada deal yang akan

dijadikan rujukan, hanya "Pembukaan" Alinea Ke-4 boleh saja, kan begitu.

Yang lain-lain mengambil dari sisi mananya, silakan saja. Toh ini hanya sekedar

landasan "Menimbang".

INTER UPS I:

ANGGOTA F. PPP (H.M. DANIAL T AND JUNG):

ltu filsafatnya, saya keberatan you bilang ini hanya "sekedar".

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. H. MUNAWAR SHOLEH):

Bukan, tidak kita akan ambil sebagian dengan keseluruhan bagus mana?

ANGGOTA

F.

PPP (H.M. DANIAL T AND JUNG):

lni negara-negara setengah seperti yang dikatakan Ibu Mega kemarin,

kita ini bangsa setengah.

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. H. MUNAWAR SHOLEH):

Itukan hanya ambil setengah, kalau hanyaAlineanya itu. Makanya karena

kami tidak setengah-setengah kami ambil semua, Undang-Undang Dasar "45

kan komplit semua bukan hanya sekedar Alinea Ke-4. Begitu loh Pak. Saya

dukung istilah Pak Danial tidak mau jadi prang setengah, komplit saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Bapak Aritonang mau menambahkan. Silakan.

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. BAHARUDIN ARITONANG):

Pak Dirnian dan Bapak-Ibu s.kalian,

lni kan persoalan di lapangan teknis, tinggal itu sebenamya. Sudah tidak

ada PakAlberson, maka posisi itu diambil oleh Pak Danial. Ini saja persoalan

kecilnya itu. Jadi kalau menurut kerangka berpikir seperti itu Pak Danial, ini

(30)

Konsiderans "Menimbang" ini isinya hanya 1; ya "Pembukaan"

Undang-Undang Dasar' 45 dan sudah selesai itu Pak. Persoalannya adalah bagian

mana yang mau kita jadikan sebagai Konsiderans "Menimbang", itu kan

sebenarnya. Karena itu kemudian kita rumuskan kalimat pertama itu seperti

itu dan kemudian seperti yang saya ingatkan kepada salah satu ternan tadi,

Bapak Sukono sudah mempertanyakan. Pancasilai"'ok! Walaupun Pancasila

sendiri sebenarnya Alinea Ke-4 itu sudah tertuang.

Kemudian yang mengenai '"pasar keuangan" tadi sudah dijelaskan, dan

mungkin sebelum ke ahli bahasa, karena ada pertanyaan seperti itu,

sesungguhnya kalau dipandang perlu itu di Konsiderans 'e'. Kalau itu sudah

sepakat kami semua, kalau itu di ini memang minta kalau ada pertanyaan

yang memang "dipandang perlu", mungkin "perlu" saja kalau pendapat saya.

Walaupun begitu mungkin kuncinya nanti banyak ke ahli bahasa, itu hanya

persoalan bahasa saja. Barangkali Pak Dirman untuk menjawab itu.

KETUA RAPAT:

Baik, jadi sebelum saya berikan ke ahli bahasa, Uncfang-undang yang

ada di tangan saya itu memang ada yang bilang ini dan yang 10 "dipandang

perlu". Undang-undang yang bukan dan yang 10 itu "perlu". Namun demikian

kita serahkan kepada ahli bahasa, mengenai;

1.

Mana yang tepat antara "atas" dan "sebagai", sehingga salah satu

kita hilangkan?

2. "dipandang" ini 2, apakah ini dihilangkan atau diganti atau dihapus?

Saya serahkan ke ahli bahasa.

Silakan.

INTERUPSI:

ANGGOTA F. PPP (H.M. DANIAL TANDJUNG):

Saudara Ketua,

Say a kira itu sudah his a 'a' itu, paling tidak kita lengkapi nama U

ndang-Undang Dasar kita itu. Jadi "ndang-Undang-ndang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945".

(31)

KETUA RAPAT:

Ok, lengkapi ini. "Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945". Tidak pakai "Tahun" ya?

Bagaimana Pak Aritonang, ini Anggota PAH?

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. BAHARUDIN ARITONANG):

Ini Pak Danial ini mau lengkap '"45" memang apa yang kita rumuskan

kemarin itu tanpa "Tahun".

KETUA RAPAT:

Sekarang kita naikkan ke atas, nah ini yang "dipandang" dan antara

"sebagai" dengan "atas".

Silakan ahli bahasa.

AHLI BAHASA:

Terima kasih Pak Ketua,

Yang pertama sebetulnya saya ingin mengkomentari penulisan

"Undang-Undang", 'U' yang kedua menggunakan hurufbesar, tetapi sudah dibetulkan

tadi. Jadi untuk Undang-Undang DasarTahun 1945 tadi masih kecil, sekarang

sudah dibesarkanjadi sudah betul.

Kemudian sebelum "dipandang", penggunaan kata "dipandang" ini

penggunaan kata "atas" dan "sebagai", keduanya ini sebagai kata depan. "atas"

itu mempunyai makna sehubungan dengan, sedangkan "sebagai" itu mempunyai

makna menjadi. Jadi kalau dalam konsteks kalimat ini yang tepat itu "sebagai".

KETUA RAPAT:

"sebagai" ya, kitajadi pakai kata "sebagai". Ok hilangkan "atas".

AHLI BAHASA:

Kemudian penggunaan kata "dipandang" pada huruf 'd', pada kalimat ini

sebetulnya penghalus. Jadi penghalus bahasa, tanpa kata "dipandang" pun,

kata "dipandang" itu sudah benar, hanya ini untuk memperhalus saja. Jadi

"dipandang" boleh digunakan, boleh tidak.

Kalau saya tidak perlu digunakan kata "dipandang", jadi langsung saja.

Karena ini tidak ada maknanya.

(32)

Demikian juga pad a huruf 'e' ini tidak perlu, tidak ada maknanya, hanya

penghalus saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Dihapus.

Baik apakah masih ada komentar sebelum saya putus di Konsiderans

"Menimbang" ini, tidak ada? cukup ya.

Terima kasih kita terima Konsiderans "Menimbang". Silakan lanjutkan

ke Konsiderans "Mengingat".

ANGGOTA TIM KECIL (ANGGITO ABIMANYU):

Bapak Ketua,

Apakah tidak sebaiknya kita ke "Penjelasan" terlebih dahulu?

KETUA RAPAT:

Ini beruntun saja Pak biar sekalian.

ANGGOTA TIM KECIL (ANGGITO ABIMANYU):

Ini sebetulnya ahlinya Pak Aritonang, kalau perlu saya mendelegasikan

ke Bapak Aritonang karena mengenai Pasal-pasal.

KETUA RAPAT:

Silakan.

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. BAHARUDIN ARITONANG):

Jadi Ketua,

Konsiderans "Mengingat" landasan yuridisnya apa? Sehingga

Konsiderans "Mengingat" muncul, pertama ya tentu Undang-Undang Dasar

terlebih dahulu, Pasal 5 ayat

(1),

kemudian Pasal 20 ayat

(1)

dan (2). Ini

memperkukuh posisi DPR untuk menyiapkan rUndang-undang, hak legislasi.

Dan kemudian Pasal20 'A', ini nanti 'A' ini hurufbesar ini. Kemudian Pasal

23 'A', 'B', 'C', 'D' huruf besar dan Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi

kalau tadi sebenamya usulannya apa, Undang-Undang Dasar Negara Republik

Tahun 1945 ya terserah. Jangan dilihat kalau tidak diprotes, dibiarkan saja

begitu.

(33)

KETUA RAPAT:

Langsung diseragamkan saja, karena sudah diputus tadi. Langsung

dilengkapi! "Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945".

ANGGOTA TIM KECIL (DRS. BAHARUDIN ARITONANG):

Kedua; Undang-Undang No.7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, ini dengan

Lembaran

Negara lengkap ini kita tuangkan di sini dan kebetulan ada dari legal

drafter yang

menguasm.

Ketiga; adalah Undang-Undang No.8 Tahun 1995 Tentang Pasar

Modal sama.

Keemapat; Undang-Undang No.23 Tentang Bank Indonesia.

Ini kita tuangkan walaupun sekarang begini, bahkan solusi Pak Danial,

kita anggap materi-materi yang apa mungkin kita sesuaikan, yang tidak dari

perdebatan. Kebetulan memang yang menyangkut materi yang diperdebatkan

itu tidak tercakup di Undang-undang problem negara ini, ini kan mungki". Pak

Willi em melirik saya, karena perubahan itu lebih banyak di Gubernur. Jadi kita

anggap sebenamya '25' itu tetap apa adanya.

Kemudian No.5 ini ICW, karena kebetulan sampai sekarang masih kita

gunakan sesuai dengan juga catatan yang dari Pansus kemarin. Inilah yang

kita anggap dan pakai sebagai landasar yuridis, adalah lagi kita sebenamya

yang dipersiapkan, tetapi karena bel urn final ya kita tidak berani atau memang

tidak pantas dituangkan karena belum diundangkan kan. Seperti Keuangan

Negara, Perbendaharaan N egara dan semacamnya kan, itu kita huang semua.

Barangkali mungkin kalau materi-materi itu kita persiapkan mau tidak may

memang harus kita sinkronkan dengan Undang-undang ini, ketika ini sudah

kita sahkan. J adi itu yang mengikuti nanti a tau yang menyesuaikan dengan

Undang-undang ini atau banyak. Bukan menyesuaikan! Artinya

mempertemukan atau menyambungkan hal-hal yang barangkali yang perlu

diatur di situ. Barangkali itulah sekedar untuk mengantar Konsiderans

"Mengingat", barangkali ada ternan-ternan yang memandang perlu lagi ada

landasan yuridis yang perlu dituangkan, kami tidak tahu. Ya kami memandang

perlu, kalau ada yang memandang perlu dicantumkan boleh dikemukakan.

Kami barangkali juga terbatas, kan terus terang apa lagi sekarang.

(34)

Barangkali itu saja Ketua.

Sekian dan terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik ada komentar. Silakan Pak Sulis.

ANGGOTA F. TNII POLRI (R. SULISTYADI, SIP, MM):

Terima kasih.

Mohon tanya saja,

Yang pertama mengenai heirarchi, heirarchi penulisan ini memang sudah

paradigmanya ya; mulai Undang-Undang Dasar, Undang-undang dan

seterusnya. Hanya saja 'tahun' -nya apakah ada heirarchinya? Mulai 'tahun'

ada heirarchinya tidak?

Kedua, kita akan mencantumkan Pasal-pasal mengenai sanksi hukum

yang kemarin masih dipending itu. Jadi referensinya termasuk di sini atau

tidak? Itu saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Pak Danial dulu. Silakan.

ANGGOTA F. PPP (H.M. DANIAL TANDJUNG):

Saudara Ketua, s \ Ini ada perdebatan yang mungkin belum selesai.

Apakah Undang-undang yang sederajat itu bisa dijadikan dasar daripada

Undang-undang? Sebab tidak ada yang pangkatnya Undang-undang itu melebihi

Undang-undang yang lain, lebih tepat kalau pertanyaan saya ini diajukan kepada

Kumdang. Sebab di Undang-Undang Tentang Keuangan hari ini bel urn selesai,

sebab semua yang menyang/\ut masalah tidak boleh dijadikan dasar

Undang-undang itu, hanya Undang-Undang Dasar yang boleh dijadikan dasar.

KETUA RAPAT:

Sebelum ke Tim Kecil, Pak Aly dulu biar sekalian.

ANGGOTA F. PKB (DRS. H. ALY ASAAD):

Referensi

Dokumen terkait

Terima kasih. Saudara Ketua dan Pimpinan Komisi I yang saya hormati. Wakil dari Pemerintah, Menkumhan serta seluruh jajaran dan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan

Wa'alaikum Salam. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semua. Pimpinan beserta Anggota Komisi IV DPR RI, Pak Sekjen beserta

Selalu saja dalam fit and proper test calon Anggota Komisi Yudisial ada kalimat-kalimat yang mengharubirukan kita bahwa nanti kelak ketika menjadi Anggota Komisi Yudisial akan

Hendrik Sitompul. Jadi terima kasih Pak Hendrik Sitompul dengan berbagai catatan- catatan bagi PLN. Saya minta kesepakatan. Ini sudah masuk jam 7, saya kira kita

Kami masukkan juga masalah karhutla ini karena memang ke depan kita akan menghadapi musim kering yang panjang sehingga tentunya masalah karhutla ini betul-betul

Pada hari ini kita dapat hadir dalam rapat kerja antara Komisi I DPR RI dengan pemerintah dalam rangka keterangan presiden atas Rancangan Undang-undang perubahan atas

Karena memang banyak sekali misalnya di jalan tol asset jasa konsosing...(rekaman suara kurang jelas) ini Rp320 triliun yang datanya belum lengkap ya belum sesuai

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Pimpinan dan Rekan-rekan Anggota Komisi I yang kami banggakan. Pak Menhan, Pak