RISALAH
RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI
Tahun Sidang
Masa Persidangan
Hari/Tanggal
Pukul
Tern pat
Acara
Ketua Rapat
Sekretaris Rapat
Hadir
: 2002-2003
: I
: Minggu, 15 September 2002
Pembahasan Ruu tentang Surat Utang Negara
Drs. SUDIRMAN, S.E, Msi.
USIJANA, S.H
DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN
NASUTION):
Terimakasih.
Bapak Ketua,
Bapak-bapak yang terhormat,
Assalamu' alaikum Warrahmaiallahi Wabarakhatuh.
Mengenai Surat Utang dan Obligasi Negara yang telah diterbitkan,
sebetulnya proseduralnya di Pemerintahan sendiri ada diterbitkan atau Keppres
atau Peraturan Pemerintah. Tetapi di dalam pelaksanaannya, misalnya
Peraturan Pemerintah tentang Program Rekapitalisasi Bank Umum untuk
rekapitalisasi Bank-bank BUMN misalnya, di sana itu disebutkan angka
maksimum. Bukan angka yang betul-betul keluar, dan memang tidak selalu
sama dengan angka maksimum, ada yang di bawahnya, ada yang sama. Di
dalam pelaksanaannya, pada waktu mau diterbitkan Surat Utang atau Obligasi
itu, Pemerintah selalu datang ke DPR, memang dalam hal ini bukan Panitia
Anggaran karena pengertiarmya dari dahulu selalu datangnya itu minta
persetujuan ke Komisi IX. Setiap kali Bank mau direkap, setiap kali pula
sebelum dilaksanakan, Pemerintah itu selalu datang ke Komisi IX menjelaskan
minta persetujuan rekapnya dulu, kemudian kalau disetujui barn disampaikan
angkanya, jumlahnya, kemudian komposisi dan struktur Obligasinya.
Maksudnya dengan komposisi adalahlbe
rate-nya berapa, variabel mte-nya
berapa,
fix rate hubungannya berapa saja, jatuh temponya berapa lama dan
seterusnya.
Jadi secara prosedural, apa yang sudah digariskan di Undang-undang
Bank Central bahwa Pemerintah kalau mau menerbitkan Obligasi, itu
berkonsultasi dulu dengan Bank Indonesia, itu juga dipenuhi, tidak pernah
Pemerintah mengeluarkan Surat Utang atau Obligasi Negara tanpa
berkonsultasi dengan Bank Indonesia, dan kemudian baru datang meminta
persetujuan dari DPR.
Besaran dari sebetulnya yang dicantumkan di "Penjelasan DIM 107'',
kalau dilihat dari urut-urutan waktu pelaksanaan, bukan urut-urutan waktu
keluarnya peraturan ini, itu yang lebih dulu dilakukan adalah yang butir c:
"Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1998 tentang Pinjaman Dalam Negeri
dalam bentuk Surat Utang". Ini adalah dasar hukum bagi Pemerintah sebelum
nanti berkonsultasi dengan Bank Indonesia dan minta persetujuan ke DPR
untuk mengeluarkan Surat Utang dalam rangka penyelesaian BLBI. Memang
saya belum di Pemerintah waktu itu, itu tahun 1998, saya tidak berani
mengatakannya kalau yang itu, tetapi tidak tahu, kita terpaksa
I
\hatfile
ini
kalau ini, saya bel urn di Departemen Keuangan waktu itu, tidak berani bicara
saya. Itu adalah SU 001 Rp 80 triliyun, SU 003 Rp 64,5 triliyun, SU 002 Rp 20
triliyun dalam rangka Bank Exim. Itu dia untuk yang c.
Kemudian perlu juga kami sampaikan ini adalah dalam rangka menutup
Neraca Bank Indonesia dalam rangka penyelesaian BLBI yang bel urn
tuntas-tuntas itujuga. Yang Rp 20 triliyun memang adalah penyelesaian bolongnya
Neraca Bank Exim. Bank Exim yang sekarang masuk ke Bank Mandiri.
Kemudian, mohon maaf, ada satu yang lebih dulu dari sini, yaitu yang
butir b: "Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 1978 tentang Pinjaman Luar
Negeri dalam bentuk Surat Utang atau Obligasi". Ini dalam US Dollar, Yankee
Bond Yankee Bond
dan ini ada di peredaran pasar sangat menarik harganya
karena bunganya tinggi dalam US Dollar.- Kami juga tidak bisa menjawab
banyak karena ini tahun 1978, 400 juta US Dollar. Dananya dipakai oleh Bank
Indonesia, dan ini dikeluarkan dahulu melalui Bank Indonesia. Waktu itu Bank
Indonesia adalah bagian dari Pemerintah. Itu yang b, yang kemudian yang c
mohon maaf tadi terbalik saya urutannya.
Kemudian a, walaupun tahun 1998 dikeluarkan PT-nya, pelaksanaannya
itu semua tahun 1999 dan tahun 2000. Malah terlebih dahulu dilaksanakan
butir b, yaitu SU 004. Surat Utang 004 itu besarnya adalah 53, 779 adalah
untuk penjaminan.
Yang butir d itu adalah yang 9,970 SU 005. Ada di bawah dia tempatnya,
SU 005 ini perlu diberikan beberapa catatan Pak. Ini dikeluarkan oleh
Pemerintah, karena Bank Indonesia di masa lalu mengeluarkan KLBI vKredit
Lekuiditas Bank Indonesia) untuk kredit-kredit program. Itu untuk PIR, untuk
KUT, untuk KKPA, untuk macam-macam. Sebetulnya Rp 9,97 triliyun itu
belum efektif semuanya menjadi utang. Karena aturan mainnya begini, ini
sebenarnya pemikirannya Bank Indonesia dulu telah mengeluarkan KLBI
ada resiko ini tidak kembali maka Pemerintah mengeluarkan semacam back
up menalangi yang selanjutnya aturannya begini. Kalau sudah kern bali dananya
dari PIR, dari KUT, kemudian kalau kern bali misalnya Rp 2 triliyun, Pemerintah
menggunakan Rp 2 triliyun itu, maka efektiflah Rp 2 triliyun Surat Utang
Kredit Program itu, b/\ikan semuanya diefektif.
Pertanyaannya sekarang, berapa yang sudah efektif? Sekarang yang
sudah efektif adalah Rp 850 milyar, dipakai untuk Rp 500 milyar pada tahun
1990. Waktu itu panen tiba-tibahujan agak panjang, harga gabah jatuh,
dipakailah untuk KUD yang namanya Kakop itu (Kredit kepada Koperasi)
untuk membeli padi petani, karena waktu itu jatuh harga padi menjadi Rp 700
sampai Rp 900. Kemudian Rp 350 milyar dipakai untuk KKPATR tebu rakyat.
ltulah yang efektif. Sisanya, Rp 9,97 dikurang Rp 850 itu bel urn efektif menjadi
utang Pemerintah ke Bl. Masih ada kelonggaran tarik sekarang di sana,
kira-kira 2 triliyunan yang bisa ditarik, tetapi tidak laku dijual karena bunganya
SBI, terlalu mahal, kecuali disubsidi lagi oleh Pemerintah bunganya. Kalau
untuk 850 itu disubsidi lagi itu oleh Pemerintah bunganya.
Yang bel urn saya jelaskan dan mungkin tadi ketinggalan adalah SU 004
Rp 53,779, itu dalam rangka penjaminan. Rekening 502 itu mengikuti butir c
dia sebetulnya dalam bentuk Surat Utang itu.
Itulah keseluruhan Surat Utang.
Kemudian yang a itu adalah basis untuk rekapitalisasi. Rekapitalisasi
yang telah dilaksanakan, itu bermula dari bulan Mei tahun 1999. Yang putaran
pertama waktu itu Bank Umum adalah Lippa, BCA, ada sejumlah Bank
Umum, Patriot, Danamon yang pertama. Danamon itu setelah dimerger,
direkap lagi itu, ini tahun 1999 sampai nanti pada akhir tahun 1999 Bank
Mandiri. Bank Mandiri itu direkap pada bulan September tahap pertama,
tahap kedua. Bank BUMN itu dua kali dutt tahap dia, tidak dikasih sekaligus
uangnya, September sampai Desember.
Kemudian pada tahun 2000, bulan-bulan April, Mei, Juni, Juli, itu adalah
BNI, BRI, BIN, Bank Danamon merger, Bank Bali, Bank Niaga. Keseluruhan
Obligasi inilah yang kami sebutkan dengan Obligasi Negara. Keseluruhan
Obligasi yang dikeluarkan, itu adalah mulai dari VR 001 sampai dengan VR
(Variabel Rate)
0017, kemudian juga ditambah dengan
heads bondOOll
sampai heads bond053, jumlahnya adalah 427,5 triliyun, untuk rekapitalisasi.
Yang bisa kami jelaskan pasti selalu kita datang ke DPR adalah pada
waktu kami sudah mulai ikut tentu saja, Januari 2000. Sebelumnyajuga saya
dengar pergi ke DPR, tetapi kan saya belum masuk ke Keuangan tidak berani
memberi kesaksian, tetapi kita mudah melihat/z/e-nya itu.
Saya kira demikian Bapak-bapak yang terhormat, seluruh Surat Utang
dan Obligasi. Mengenai
Yankee Bond juga kami tidak bisa banyak
menjelaskan, barangkali BI yang bisa menjelaskan lebih banyak karena
pemakai uangnya itu adalah BI.
Terima kasih banyak.
KETUA RAPAT:
Baik, nanti kita putar.
lya, sekalian Pak Kardjo kita buka putaran saja.
Jadi kita bahas karena ini satu paket "Pasal 20, DIM 107 sampai DIM
112".
Jadi sekalian kita bahas saja "DIM 107 sampai DIM 112". Dan kami
mengingatkan, apakah DIM 22 usul PDI yang tempo hari akan ditarik ke
Peralihan, to long diantisipasi sekalian nanti dalam hal PDI menanggapi. Kami
mengingatkan, sewaktu Rapat kita Panja 2 hari yang lalu, DIM 22, PDI tidak
keberatan itu dibawa ke Aturan 1\eralihan. Sebetulnya itu nuansanya hampir
sama, hanya kami ingin mengingatkan saja, karena ini adalah keputusan Panja.
Demikian. Jadi untuk itu,
INTERUPSI:
ANGGOTA FRAKSI ( ... ):
(rekaman tidakjelas)
KETUA RAPAT:
lya, makanya sekalian kesempatan ini kami mengingatkan, sekalian F
PDI menginikan sekalian merespon, sehingga kita tidak tergantung yang
demikian itu, langsung kita lihat
slide, Panja kan harus mengingatkan, itu
tugasnya kan begitu Pak. Ah, soal-soal nanti PDI ini-inilah, lain lagi begitu.
Baik,jadi "DIM 107 sampai DIM 112" kita tanggapi, setelah mendengar
uraian dari Pemerintah.
Kami beri kesempatan pertama keF PDI Perjuangan.
Silakan.
ANGGOTA
F.
PDIP (WILLEIM M. TUTUARIMA, S.H):
Terima kasih.
Memang pada waktu DIM 22 maksudnya, itu kita masukkan rencananya
di "Aturan Peralihan" ini,justru itu karena kondisinya di lapangan itu adalah
berbeda dengan konsep kami. Kami kemarin usulkan untuk kita akan
berkonsultasi dulu dengan Fraksi, sehingga harapan kami bahwa "DIM 107
sampai DIM 112" itu kita tunda dulu, nanti kita selesaikan setelah berkonsultasi
dengan Fraksi.
Itu saja dari kita sementara, Pak.
KETUA RAPAT:
Baik.
Silakan menambahkan Pak Kardjo.
ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):
Begini.
Tadi apa yang dikemukakan oleh Pak Dirjen tadi itu apa yang ada di sini.
Barangkali apakah di luar ini utang luar negeri kita ada apa tidak data?
DJLK (DARMIN NASUTION):
Dengan Surat Utang tidak ada, kecuali yang debit bernomor (rekaman
tidak jelas ).
ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):
Oh,jadi seluruh utang negara, itu 656 ini, seluruhnya.
DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN
NASUTION):
Utang dalam negerinya iya Pak, kemudian ada yang utang 400 juta dollar.
ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):
Ditambah 400 juta dollar saja, itu saja.
DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN
NASUTION):
Iya Pak.
ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):
DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN
NASUTION):
Yang pakai Surat Utang dan Obligasi. Surat Utang luar negeri yang tidak
pakai, yang antar negara.
ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):
Nah yang antar negara itu dicatat oleh Departemen Keuangan atau tidak?
DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN
NASUTION):
Dicatat, itu tetapi Pak Pimpinan Anggaran yang mempunyai wilayah tetapi
itutidakdengan SuratUtang "(rekaman tidakjelas)", semua pinjaman langsung
bilateral antar-Pimpinan "(rekaman tidak jelas)" dengan lembaga-lembaga
itu. Itu tidak ada hubungannya dengan (rekaman tidakjelas).
ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H):
Oke.
Baik, jadi supaya tidak confuse. Saya menganggap bahwa hanya ini utang
kita, padahal tidak kan.
Kalau utang dalam negeri yang tidak memakai Surat Utang Negara atau
tidak memakai program ini, itu ada tidak utang dalam negerinya?
DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN
NASUTION):
Utang ke BI sudah tidak ada. Tidak ada setahu kami, Pak.
ANGGOTA
F.
REFORMASI
(H.
SYAMSUL BALD A, S.E., MBA,
M.M., MSc):
Begini Pak.
Maksud beliau itu, ada tidakjenis utang dalam negeri lain selain Surat
Utang Negara.
DIRJEN LEMBAGA KEUANGAN DEPKEU (DARMIN
NASUTION):
Kalau pun ada, itu antara Pemerintah dengan BUMN-nya, itu saja Pak.
Misalnya ini Pak, tetapi itu kecil-kecil sekali, kalau yang sifatnya utang, ini
tidak ada Pak. Hubungan Keuangan dengan BUMN, ada kalanya memang
misalnya PAL. PAL itu rnengaku dia masih punya tagihan kepada Pemerintah
karena dahulu dia dibelikan kapal yang untuk dijual, dipakai Bea Cukai atau
Angkatan Laut, tidak tahulah, itu belum dibayar, dia bilang. Ya begitu saja
yang ada, di luar itu tidak ada, Pak.
KETUA RAPAT:
Sudah Pak Kardjo?
ANGGOTA F. PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO,
S.H):
Sementara sudah, Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik,
Kami teruskan ke Golkar.
ANGGOTA
F.
PG (DRS. BAHARUDDIN ARITONANG):
Terima kasih Ketua.
Saya coba mungkin tanya ternan-ternan dari PDI untuk rnernbersihkan
persoalan di depan, barangkali tidak ada salahnya kalau DIM .... itu kernudian
kita alihkan ke "Aturan Peralihan", tetapi Aturan Peralihan j angan kita putukan
dulu.
Oke, kalau begitu berarti bersih DIM .... sudah.
Kemudian begini, kebetulan sebetulnya sarna Aturan Peralihan atau
"DIM 107 sampai DIM 112" ini, kami mohon kita serahkan saja ke Pansus,
karena kebetulanjuga ternan saya memberikan titipan kepada saya walaupun
sebenarnya Pak Darrnin kemarin sudah menjelaskan, saya menangkap
reasoning-nya
itu dan saya sepertinya sepaham, tetapi persoalannya ada
ternan diantara karni yang belum sepakat masih tetap meminta supaya
Peraturan Perundangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang
ini dan bel urn ditarik dan ditebus dan dibeli kern bali oleh Pemerintah artinya
masih ada catatan tersendiri paling tidak di "Penjelasan".
Karena itu karni sepakat, sepaham sekali untuk kemudian menurut
Aturan Peralihan secure DIM 107, 112 ini kita serahkan kembali ke Pans us,
tetapi ada catatan kami, supaya masing-masing diantara kita tentu perlu
mempelajarinya, memperdalamnya,jangan kemudian selesai di sini nanti masuk
ke sana muncullagi persoalan baru kan, apalagi ganti orang.
Maka itu, itu saja pesan kami supaya kita batasi kepada hal-hal yang kita
perdebatkan dan kemudian tidak terlupa. Hanya itu saja pesan kami dari Fraksi
Partai Golkar, dan catatan itu mohon sekaligus mengulang kembali yang
dikemukakan ternan saya tadi malam untuk mempertegas.
Sekian Pak Ketua. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik. Iya silakan.
INTER UPS I:
ANGGOTA F. PDIP (DRS. POLTAK SITORUS):
Kami berpendapat memang menyangkut masalah Utang N egara ini, bagi
kita yang sudah mengikuti dalam Panja ini yang kita bicarakan di sini adalah
yang menyangkut soal Surat-surat Utang Negara. Tetapi ada hal yang kita
lihat juga seperti apa yang dikemukakan oleh Pak Darmin tadi itu bahwa utang
negara ini tidak terbatas, hanya yang kita bicarakan dalam rangka RUU SUN
ini. Ada yang dikemukakan oleh Pak Darminjuga tagihan-tagihan Pemerintah
utang Pemerintah kepada BUMN. Nah ini memang kalau kita lihat ini
bagaimanapun kita diantara sesama fraksi, akan timbul pertanyaan-pertanyaan
serupa dikalangan anggota kita yang tidak menjadi Anggota Panja, walaupun
mungkin dia sesamaAnggota Komisi IX, apalagi di luar Anggota Komisi IX.
Persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana di dalam Rapat-fepat Fraksi
kita masing-masing untuk menyampaikan hal ini nanti dalam rangka
menyampaikan pendapat-pendapat fraksi untuk mengesahkan Rancangan
Undang-Undang ini.
Oleh karena itu Pimpinan, kamijuga melihat pada DIM 21 tadi memang
kami kemukakan tadinya dalam pembahasan kami bahwa utang-utang yang
kiatidiakui di dalam RUU SUN ini adalah utang-utang dalam rangka setelah
ditetapkannya SUN ini, artinya masa lalu masih menjadi perdebatan. Tetapi
kita memahami sekarang ini bahwa yang diatur dalam RUU SUN ini memang
devacto, Komisi IX juga sudah mengeluarkan keputusan persetujuan
bersama-sama dengan keputusan berbersama-sama dengan Menteri Keuangan dan Meneg
BUMN. Dan kemudian juga kita tahu di Panitia Anggaran juga itu sudah
di-cover
dalam hubungan dengan pembayaran bunga rekap Perbankan.
Oleh karena itu kami menginginkan Pimpinan ini, dalam rangka untuk
DIM yang ini yang selanjutnya kami mengusulkan, ini dibicarakan di dalam
Rapat Pleno Komisi IX. Dengan catatan, kita mengharapkan dari Pemerintah
dapat menyampaikan keterangan-keterangan lainnya walaupun nanti juga kita
akan 1nenyampaikan itu supaya secara jelas kita mengetahui utang dalam
rangka SUN, utang dalam rangka utang terhadap BUMN dan kemudian juga
menyangkut bagaimana pinjaman luar negeri. Data-data seperti ini perlu
melengkapi kita sehingga dengan demikian bisa memberikan kita gambaran
nantinya, dan itu di dalam Rapat Pleno Komisi yang akan datang supaya
dengan memudahkan kita pembahasan untuk Pleno Komisi.
Untuk DIM selanjutnya ini saya pikir barangkali nanti kita bawakan
menjadi ke dalam Pleno Komisi, begitu. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik.
Kami lanjutkan F PPP.
ANGGOTA F.
PPP (H. M. DANIAL TANDJUNG):
Saudara Pimpinan,
Saudara dari Departemen Keuangan,
Dan Rekan-rekan yang saya hormati.
Saya kembali kepada DIM
21.Kalau kita baca keputusan kita pada
DIM
21itu, untuk jelasnya saya baca: "Surat Utang Negara adalah surat
pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun val uta asing yang dijamin
pembayaran bulan dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai
dengan masa berlakunya". Ini suatu ... tersendiri, karena DIM 21.
Jadi kalau kita lihat Penjelasan DIM 107, dia hanya menjelaskan apa
saja utang negara yang dijamin pembayarannya oleh negara, dan artinya kita
setujui. Sekarang (tidakjelas) kalau DIM
22dimasukkan, maka bertentangan
dengan DIM
21yang sudah kita setujui.
ANGGOTA F. KB (DRS. H. ALY AS' AD):
(rekaman rusak) KB mengatakan 52 triliyun saja, tidak 84, tetapi 52
triliyun saja tidak patut menj adi be ban Pemerintah, dari 144 itu.
Kemudian dulu di Komisi IX yang kemudian berakhir dengan elite BI
mengundurkan diri itu, malam-malam itu, di sana kan ada semacam
kesepakatan an tara Pemerintah dengan BI, tetapi tidak kesepakatan bersama
DPR antara Pemerintah dan BI bahwa dari 144,5 itu, 24,5 menjadi tanggungan
BI, artinya tidak semua, tidak dipergunakan oleh Pemerintah.
Jadi angka 84, 52 ada 24,5 triliyun, ada peristiwa seperti itu.
Kan ada sudah berkembang tetapi ini belum formal di luaran, apa itu
namanya? RPN, itulah. Pokoknya yang itu nanti dari 144,5 itu tidak akan
dibayar bunganya, kemudianjuga tidak akan dibayar oleh Pemerintah karena
itu akan ditutup dengan surplus BI selama 20 tahun jadwalnya. Intinya ini
sudah ada perkembangan jauh, pembicaraannya sudah j auh.
Kemudian, pembiayaan kredit program yang 9,97, inijuga akhirnya penuh
masalah. Apalagi yang KUT itu tidak pada kembalikan uang, bahkan diantara
debitur yang makan kredit program ini, yang masuk UKM tentunya, itu
kemudian pemah disubsidi oleh APBN yang tahun ini 2,2 triliyun untuk
pemutihan KUT, yang tentu ada diantaranya yang uang dari sini. Artinya ini
pembicaraannya sudah sempurnalah keruwetan berada di sini.
Kemudian kalau kita masuk ke DIM ini, ini maunya disahkan. Yang
sempurna keruwetannya itu dinyatakan sah dan tetap berlaku di sini
masalahnya.
Oleh karena itu, meskipun kuat definis menurut Pak Danial yang dari
Fraksi PPP itu sudah masuk di sana, mungkin dalam arti pengertian Surat
Utang sudah masuk, mungkin ya, tetapi itupun masih akan kita kaj i. Tetapi
dalam arti "disahkan" saya pikir belum. Karena 4 hal ini sangat sempurna
keruwetannya Pak. Ini adalah bagian utang kita yang pakai Surat Utang
maupun Obligasi. Tentunya begini, kami punya pikiran, kita akan mengesahkan
ini, itu setelah kita secara bersama-sama menyadari betul posisi beban utang
kita, baik yang pakai Surat Utang Obligasi maupun yang utang langsung
dikonsumsi, proyek dan pinjaman mar negeri program itu, kredit ekspor
macam-macam itu, termasuk ini nanti semua berapa, kemudian kira-kira kita
itu termehe-mehenya? seberapa, kira-kira itu nanti baru kita akan sahkan:
"oh kalau begitu maksimal kita mungkin begini", itu maksud kami begitu Pak.
Karena itu pertanyaan tadi da_i Pak Poltak, untuk mencoba kita
memahami utang kita itu sesungguhnya berapa, luar negeri, dalam negeri
baik yang memakai Surat Utang Obb'gasi maupun yang langsung, itu
sesungguhnya berapa sehingga kemungkinan kita mengesahkan ini seperti
apa. Karena bagaimanapun seperti semangat di Pak Danial semalam, kalau
kita membuat aturan itu memang aturan yang masuk akal, aturan U
ndang-undang yang memaag nanti bisa dilaksanakan, jangan Undang-ndang-undang yang
diangkasa. Kita sahkan ternyata itu adalah pintu gerbang menuju jurang
kematian, kita kan susahjuga, itu artinya Undang-undang untuk bunuh diri.
Jadi artinya ini yang memang realistik, rasional mungkin dilaksanakan untuk
kepentingan masa depan Bangsa Indonesia. Tetapi susahnya itu tadi Pak
Darmin selaku Wakil Pemerintah belum bisa bercerita panjang Iebar dalam
hal-hal yang waktu itu Pak Darmin belum masuk dalam mekanisme
pembicaraan ini dari Departemen Keuangan.
Dan saya tidak mengerti bagaimana Pansus kita ini akan selesai, kemudian
Panja kita selesai, wong itu nanti kalau bicara ini akan menyangkut ada Pak
Menteri siapa yang dulu itu yang tanda-tangan Surat Utang itu, Pak Bam bang
Subiyanto, kemudian menyangkut BPPN yang pertama itu Pak Glenn Yusuf
macam-macam itu, saya tidak mengerti bagaimana mekanismenya Pak Dirman
untuk Rapat Panja atau Pansus nanti, apa kitajuga itu semua baru kita sahkan
sehingga ini kapan akan selesai saya tidak habis pikir. Sementara kita sadar
pentingnya Surat Utang ini menjadi Undang-undang karena untuk supaya
me-roll over nanti kalau kita sudah padajatuh tempo yangjadwalnya sudah
jelas, itu kan itu kepentingannya, ini kita sadar. Tetapi melihat permasalahannya
ini, rimba permasalahan yang seperti ini, sehingga saya sementara displaimer
dalam arti tidak bisa berpendapat bagaimana langkah yang harus kita lakukan
ini, sementara kita menyadari betapa banyaknya masalah yang harus kita
selesaikan. Tetapi tentu itu tidak menutup semangat kita untuk secara maksimal
menyelesaikan RUU tentang Surat Utang Negara ini. Misalnya, hal Ini nanti
kalau memang ruwetnya bukan main, pasal inijustru dikeluarkan dari Surat
Utang Negara, misalnya seperti itu. Artinya Surat Utang Negara ini tidak
harus melegitimasilah Surat Utang Negara yang sudah-sudah, itu tidak harus
dilegitimasi dengan ini. Di sini kita murni berbicara mengenai Surat Utang
Negara itu begini, begini, begini.
Mengenai yang sudah-sudah, kalau ingin
me-roll over-kan
bisa saja.
Saya roll over pakai Surat Utang Negara atau Obligasi yang malah sudah
berdasarkan Undang-undang ini, mereka akan mau. Mereka yang keluar tidak
hams dilegitimasi pada Surat Utang Negara ini, karena keperluan kita hanya
ingin mengeluarkan Surat Utang Negara yang lebih meyakinkan, lebih protektif
terhadap sipem egang itu. Sehingga legitim asioopertiinisaya p.ik.Jrbjsa saja nantim mJnya justru d.ikeill.arkan dariSuratU tang N egara ini.Toh nantiitu akan berakhrr, m alah dig anti dengan Surat U tang yang legitimate menurutUndang-undang. Daripada ruwet, nanti kalau karni tanya Pak Dirman
mekanisme Rapatnya saja seperti apa? Wong itu Pansus BLBI saja saya
dengan Pak Danial Tandjungjuga pusing 7 keliling, dan sampai sekarangjuga
belum berjalan lagi kan repotjuga.
ltu saya kira saya punya solusi yang saya usulkan, kemungkinanjustru
ini dikeluarkan dari "Naskah Surat Utang Negara ini''.
Terima kasih.
Wassalarnu' alaikum Warrahmatullahi Wabarakhatuh.
KETUA RAPAT:
J adi Pak Aly sebentar.
Jadi ini kongkritnya ini di
pending atau bisa kita putar lagi.
ANGGOTA F. KB (DRS. H. ALY AS' AD):
Kalau saya rnalah usul ya, Pak.
Kalau di
''pending"
nanti kalau tidak selesai tidak enak kan, karena
keperluan APBN juga. Tetapi yang "pasal ini dikeluarkan" dari ini. Kalau
seandainya di pending,
ya usul kami yang sudah jelas di DIM ini, F KB.
KETUARAPAT:
Oke. Baik, artinya kita bicarakan kembalilah. Sebelum Pak Aritonang
saya habiskan dulu ya gil iran. Oh, interupsi ya. Silakan.
ANGGOTA
F.
PG (DRS. BAHARUDDIN ARITONANG):
Pak Aly As'ad bawa Perbendaharaan juga ini, dia bilang tidak bisa
berpendapat padahal banyak sekali pendapatnya. Hanya nanti saya usulkan,
Pak Aly ya, ini sesarna ternan ini, kalaupun ternan Bapak dulu Pak Danial,
sekarang mungkin berternan juga. Nab usul saya nanti, saya takut pendapat
yang banyak ini nanti ketika kita di Pansus, dianulir lagi sarna temannya. ltu
loh ide yang saya ingatkan tadi itu.
Jadi itu yang menjadi ini kan bagian dari interupsi, itu saja yang saya
ingatkan. Karena itu tadi saya ingatkan supaya mungkin tidak dalam konteks
Komisi, tetapi mungkin Pansus, karena Pansus itujuga sebenarnya Komisi
Pak Poltak, tetapi karena itu tidak pengertian saya Komisi Pansus, lagian dia
lebih terbatas di persoalannya.
Barangkali itu saja.
Terimakasih.
KETUA RAPAT:
Baik.
Tadi Pak Aly menyinggun<r bagaimana Pak Dirman menyelesaikan
Panja, saya sampaikan, hari ini kita coba selesaikan, tinggal beberapa DIM
lagi. Setelah itu, saya rencanakan Laporan Tim Kecil ke Panja. Setelah itu,
kalau ada w aktu, kita. bicarakan yang "pending" Panja. Setelah itu kita bentuk