• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

RISALAH

RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI

Tahun Sidang

Masa Persidangan

Hari/Tanggal

Pukul

Tern pat

Acara

Ketua Rapat

Sekretaris Rapat

Hadir

: 2002-2003

: I

: Senin, 25 September 2002

Pembahasan Ruu tentang Surat Utang Negara

Drs. SUDIRMAN, S.E, Msi.

USIJANA, S.H

(Lihat Daftar Hadir)

(2)

KETUA RAPAT (DRS. SUDIRMAN,

SE,

MSi) :

Salam sej ahtera bagi kita semua,

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,

skors Rapat Panja berkenaan dengan Rancangan Undang-Undang tentang

Surat Utang N egara dengan resmi saya buka kembali.

Pertama-tama sebelum kita masuk ke materi, marilah kira sejenak melihat

Rencana Jadwal Acara pada Rapat Lanjutan Panja. Dimana malam tadi kita

sudah cek in, pagi ini kita harapkan jam 11.3 0 kita dapat istirahat, sho lat jum' at,

makan siang. Nantijam 14.00 sampaijam 17.00 itu lanjutan Panja. Kemudian

malam kita harapkan sudah bisa Rapat Tim Perumus sampai dengan Sabtu

jam20.30 sampaijam24.00 dan sisa waktuyangadakitajadwalkan Menyusun

Laporan Tim Panja, Tim Perumus. Kalau misalnya sidang ini alot, Panitia

menyiapkan sebagai tentatifhari Minggu. Inijadwal yang kami acarakan.

Apakah ini ada komentar.

Kalau tidak kita sepakati bersama ?

(RAPAT SETUJU)

Baik, ini kita putuskan begitu,

Terima kasih.

Bapak-bapak dan lbu-ibu yang kami hormati,

Sekarang marilah kita masuk kepada naskah yang dibagikan kepada

kita yaitu yang dipending di Panja, itu ada beberapa dengan penjelasan.

Kemudian hanya satu yang dibawa ke Rapat Komisi, itu berkenaan dengan

tadinya "rekening perbendaharaan negara" menjadi "rekening kas negara".

Jadi berarti yang lain-lain itu kita upayakan diselesaikan di Panja ini.

Kemudian kami juga mendapat surat resmi dari Bank Indonesia,

memberikan masukan. Ini tadi kami dengan beberapa rekan-rekan danjajaran

Departemen Keuangan, masukan ini selama masukan itu yang bersifat

menyempumakan, mengapa tidak. Namun kami memberikan usulan, kita bahas

dulu ini yang tertinggal point Panja setelah itu usul dari BI atau usul dari mana

saja asal itu konstruktif itu kami menawarkan ya ini kan demi Rancangan

Undang-Undang ini untuk jangka panjang dan untuk kebersamaan demi bangsa

dan negara, mungkin kalau tidak keberatan itu ki> .«i bicarakan

(3)

setelah ini kita selesaikan.

Bisa kita sepakati, kira-kira begitu mekanismenya?

(RAPAT SETUJU)

Terima kasih.

Baiklah,jadi di depan Bapak-bapak kita mulai saja, yang pending pertama

itu adalah Pasal 7 ayat ( 4) itu ada 3 alternatif, yaitu : Alternatif pertama,

"Dalam hal tertentu Menteri dapat menerbitkan Surat Utang

Negara melebihi nilai bersih maksimal yang telah disetujui Dewan

Perwakilan

Rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan

dilaporkan sebagai perubahan Anggaran Pendapatan Belanja dan

Negara tahun yang bersangkutan ".

Ini naskah aslinya. Alternatif yang

kedua,

"Dalam hal tertentu yang sangat mendesak, Menteri dapat

menerbitkan Surat Utang Negara melebihi nilai bersih maksimal yang

telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam

ayat (2) setelah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Dewan

Pewakilan Rakyat dan dilaporkan sebagai perubahan Anggaran

Pendapatan Belanja dan Negara tahun yang bersangkutan "

Alternatif yang ketiga,

"Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat surat utang

negara dapat diterbitkan terlebih dahulu nilai bersih maksimal yang

telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud ayat

(2) dan dibahas dalam pembicaraan perubahan Anggaran Pendapatan

Belanja dan Negara tahun yang bersangkutan ".

Mengingat ini sudah kiat bicarakan panjang Iebar dalam Panja yang lalu,

namun kita sebelum kita memilih 3 altenatif ini. Saya minta Pemerintah untuk

menyampaikan menurut Pemerintah 3 alternatif ini mana kira-kira yang cocok

karena yang melaksanakan ini yang lebih tahu, yang lebih mengerti adalah

Pemerintah. Setelah itu kami putar, minta pendapat dari ternan-ternan. Silakan

STAF AHLI MENKU BIDANG PPM (DR, ANGGITO

ABIMANYU):

(4)

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakhatuh, Bapak Ketua dan

Anggota Panja yang kami hormati,

Waktu kita membicarakan DIM 54 ini Pak Ketua, kalau tidak salah

wacana yang bekembang di dalam forum ini adalah membedakan dua yaitu :

1. Mengenai bunga.

2. Mengenaipokok

Kalau saya bisa menangkap, Pak Ketua, waktu itu ada semacam

pemahaman mengenai pembayaran bunga apabila melebih' rencana yang

disampaikan dalam RAPBN karena ada faktor-faktor eksternal. Barangkali

yang perlu dikristalkan adalah mengenai pokoknya, kalau

>

jumlahnya itu

melebihi apa yang direncanakan dalam RAPBN. Namun demikian Pak

Pimpinan dan Anggota sekalian, kami tetap ingin kalau boleh ini menggunakan

altematif pertama di dalam batang tubuhnya. Namun demikian kalau memang

diperlukan ada penjelasan-penjelasan yang lebih spesifik, yang itu termuat di

dalam penjelasan, mengingat perlu adanya kepastian bahwa bunga dan pokok

itu haras dibayar sesuai denganjatuh temponya dan itu akan mempengaruhi

persepsi dari insvestor dan khususnya para pemegang obligasi dan surat utang

terse but.

Demikian Pak Pimpinan untuk sementara, mungkin kita bisa melanjutkan

diskusi lebih lanjut.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Sebelum saya putar, saya ingin membacakan penjelasan ayat (4) ini.

"Yang dimaksud dalam hal tertentu adalah termasuk tetapi tidak terbatas

pada hal sebagai berikut: /. Penerbitan surat utang perbendcnaraan negara

dalam rangka menutup kekurangan kas jangka pendek menjelang akhir tahun

anggaran yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya sehingga j umlah nilai bersih

maksimal yang tidak disetujui terlapui.

2.

Penerbitan obligasi negara dalam rangka pengelolaan rorto folio

Surat Utang Negara ada kalanya dilakukan menjelang akhir tahun anggaran,

karena pertimbangan kondisi dan berkembang pasar surat utang. Sedangkan

realiasi pembelian kembali buy back bam dilakukan pada tahun berikutnya

Carry over, sehingga jumlah nilai bersih maksimal yang telah disetujui

dilampaui".

(5)

Ini penjelasan dari pada ayat (4) tersebut.

Untuk itu kita gilir setelah mendapat penjelasan dari Pemerintah.

ANGGOTA

F.

TNIIPOLRI (R. SULISTYADI, SIP., M.M) :

Interupsi,

Mohon Pemerintah di luar penjelasannya ini, kejadian-kejadian yang di

luar rencana itu apa ada lagi

? Yang barangkali lebih menjelaskan batang

tubuh ini. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan.

STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM (DR, ANGGITO

ABIMANYU):

Terima kasih Pak Ketua,

Saya kira sebagian besar sudah termuat di situ Pak Sulis, memang pertama

sebetulnya yang mengakibatkan kemungkinan terjadinya kelebihan tersebut

adalah faktor eksternal seperti misalnya kurs, suku bunga, itu kan tentunya

akan tergantung pada kondisi ekonomi yang tidak bisa kita proyeksi

sebelumnya.

Yang kedua yang lebih esensial adalah kebijakan-kebijakan yang itu juga

akan tergantung pada perkembangan pasar, misalnya kita merencanakan untuk

melakukan "buy back" untuk menarik kern bali obiigasi yang ada sesuai dengan

rencana, tetapi pada kenyataannya, realisasinya mungkin lebih rendah buy

back-nya itu, karena kondisi pasar tidak mampu untuk menyerap. Itu lalu

konsekuesnsinya adalah bahwa realisasinya bisa jadi akan lebih rendah dari

pada rencana semula dan itu adalah hal-hal yang memang di luar kemampuan

Pemerintah atau kebijakan terse but untuk mengendalikan.

Demikian.

KETUA RAPAT :

Baik,jadi saya gilir saja. Silakan dari

F.

PDI Perjuangan dulu. Silakan

F.

Partai Golkar.

ANGGOTA F. PG (DRS. H. AZHAR MUCHLIS) :

( ... tidak j elas ... )

(6)

... karena ini berarti perencanaan yang dilakukan oleh Pemerintah

dan Dewan

sejak awal itu tidak memenuhi satu keinginan dan tidak menjangkau apa

yang akan terjadi, ini permasalahannya. Tetapi kalau soal bunga, kami sejak

kemarin sepakat untuk dibayarkan setelah itu baru dibahas di Dewan, karena

berbeda memang. Kalau memberikan Surat Utang Negara baru atau melebihi

dari nilai bersih maksimal itu kan sejak awal sudah kita setujui di Pasal, tetapi

masih ada hal tertentu. Kami juga sepakat hal tersebut itu.

(Rekamana tidak jelas)

KETUA RAPAT :

Silakan F.

PPP.

ANGGOTA F. PPP (DRS. NU'MAN ABDUL HAKIM) :

Saudara Ketua,

Sejak awal memang

F.

PPP sependapat dengan Fraksi Golkar itu Pak

Azhar ya, karena usulan saya sebetulnya sejak awal itu Pak Anggito, itu

harus di hapus, karena ada pemahaman bagi Fraksi Partai Pembangunan

bahwa nilai bersih itu yaitu perencanaan penerbitan surat utang itu memang

secara dini sudah didefmitifkan secara pasti perangkaannya, baik bunga

maupun pokoknya. Maka prosesnya tentu saja angka ini disampaikan kepada

DPR untuk mendapat persetujuan, kemudian ma/\uk ke dalam APBN.

Kemudian ada klausul di belakang ini "dalam hal-hal tertentu", pengertian

"hal tertentu" itu yang bayangan saya tidakjelas tadinya. Walaupun tadi ada

penjelasan memang, yang dapat dipahami adalah penjelasan Pak Anggito.

Jadi memang kemungkinan-kemungkinan, tadi saya agak bisa menyerap,

memang di luar perencanaan itu akan terjadi misalnya fluktuasi suku bunga

dan kurs. Ini yang memungkinkan pasti perencanaan itu tidak akan fixed,

karena terjadi perubahan ini barangkali Pak Azhar yang harus bisa diserap

ya. Bahwa perencanaan itu akan bisa terpengaruh besarannya apabila memang

terjadi fluktuasi suku bunga dan kurs itu. ditambah lagi yang terakhir tadi buy

back-nya ini. Ini barangkali yang memungkinkan, saya bisa menyerap

pemahaman ini bahwa memang di luar perencanaan yang pasti itu bakal terjadi

hal-hal, ini diwadahinya dimana? Itu saja kira-kira. Kemungkinan-kemungkinan

terjadinya ini harus di wadahi, salah satunya adalah men .. rut pasal ini

dilaporkan dalam perubahan anggaran. Sedangkan kita mintanya

(7)

kan di awal persetujuannya. Ini yang sementara Pak Ketua, barangkali

saya baru bisa memahami. Tadi penjelan PakAnggito dulu untuk sementara.

Terimakasih.

KETUA RAPAT :

Baik, selanjutnya F. KB.

ANGGOTA

F.

KB

(H.

ARIS AZHARI SIAGIAN, S.H.):

Terima kasih.

Justru itu sejak awal kita berbeda dengan Fraksi Partai Golkar dan

F.

PDI, kenapa? Memang di samping penjelasan ini sebagaimana yang

disampaikan SaudaraAnggito tadi, perlunya penerbitan melampaui apa yang

sudah dipersetujui secara melebihi milai bersih maksimal itu tidak otomatik

atau menunjukkan lemahnya perencanaan. Inikan memang di samping tadi

fluktuasi pasar dan perubahan kurs juga ada hal-hal yang memang di luar apa

yang sudah diatur ayat (1) sampai ayat (3) itu. Kalau memang ada, mestijuga

mendapat persetujuan. Saya pikir lebih disederhanakan, tidak usah persetujuan

Dewan tetapi mungkin Pimpinan DPR atau dalam hal ini Komisi IX untuk

kemudian nanti berdasarkan surat persetujuan sementara itu ada

kompensasinya di sistimAPBD. Umpamanya Bupati atau Pemda memerlukan

sesuatu yang mendesak, dia bisa mengirim surat mendahului persetujuan

perubahan maka diberikan surat persetujuan oleh Pimpinan DPR. Jadi tetap

juga tidak terlambat, karena kalau melalui proses DPR kan mesti mengikuti

atau melampaui beberapa kali persidangan yang sudah barang tentu ini akan

terlambat dengan perkembangan pasar dan itu tentu sudah kehilangan

memontum kita dalam hal pengeluaran ini.

Jadi kami menyarankan seperti itujika memang hams juga memerlukan

persetujuan, ya Pimpinan DPR lah kita sederhanakan dan yang paling penting

sedikit mungkin kata-kata, supaya tidak sewenang-wenang bisa kita adopsi

alternatif yang kedua itu "tertentu dan dalam keadaan yang sangat mendesak".

Jadi lebih di primalisir peluang untuk sewenang-wenang mengeluarkan surat

utang baru.

Sekian sementara.

KETUA RAPAT :

Baik, terima kasih.

(8)

Selanjutnya silakan Fraksi TNI/POLPvl.

ANGGOTA F. TNI/POLRI (R. SULISTYADI, SIP., M.M ) :

Terima kasih,

Dari awal kami menangkap atau memahami mengenai ayat ini, ayat ini

adalah suatu solusi bahwa kalau ada suatu kondisi di luar perencanaan yang

sudah diputuskan di dalam APBN, ini bagaimana pemecahannya kan demikian.

Hal-hal tertentu yang disampaikan oleh Pemerintah, kami sudah memahami

dan itu memang harus di wadahi di dalam batang tubuhnya. Seandainya ada

hal-hal tertentu di luar perencanaan, ini kan mesti harus ada.

Sedangkan kalau setiap hal-hal tertentu itu harus minta persetujuan ke

DPR, kemarin sudah dijelaskan bahwa ini satu hari saja memerlukan waktu,

DPRjuga ada masa reses. Apalagi akhir-akhir dua kali sidang terakhir juga

kan panjang masa resesnya. Nah ini bagaimana kalau mengenai, mewadahi

kondisi DPR seperti itu. Oleh karena itu kami dari Fraksi TNIIPOLRI

sependapat dengan altematif satu bahwa hal-hal tertentu di 1 uar perencanaan

harus diwadahi.

Yang kedua, kami sudah memahami hal tertentu itu apa saja. Jadi kami

berpendapat altematif satu ini adalah suatu solusi barangkali yang bisa

diterima.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, selanjutnya

F.

PDI Perjuangan.

ANGGOTA

F.

PDI P (MATHEOS FORMES) :

Terima kasih Saudara Pimpinan.

Prinsipnya

F.

PDI Perjuangan awalnya tetap berpegang pada Pasal 7

ayat ( 1) bahwa sudah ada mekanisme persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

Namun setelah melihat perkembangan dalam pembahasan im memang ayat

( 1) itu hanya memberikan peluang bahwa pada tahun anggaran yang

bersangkutan itu tidak ada peluang lagi, kalau kita masih berpegang pada

ayat ( 1 ). Padahal bisa saja ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi yang

sangat mendesak, yang perlu jalan keluar dala satu tahun anggaran itu. Setelah

kita ikuti diskusi yang itu tetapi menurut kami, walaupun keadaan mendesak,

itu mesti tetap harus melalui Dewan Perwakilan Rakyat. Jadi tetap kita berikan

(9)

peluang bahwa dalam tahun anggaran itu ada pernerbitan baru tetapi harus

melalui Dewan.

Saya kira bicara obligasi kan tidak langsung otomatis, pasti ada tenggang

waktu semmggu, dua minggu, karena ini menyangkut peredaran surat utang

itu pasti ada tenggang waktu Pak. Ya mungkin, tidak mungkin 2 atau 3 bulan

tetapi pasti sudah terantisipasi seminggu-dua minggu. Waktu ini bisa

dimanfaatkan oleh Pemerintah untuk ke Dewan, sehingga kami lebih cenderung

yang alternatifkedua. Karena di situ tidak langsung menetapkan di situ bahwa

Panitia Anggaran yang menentukannya tetapi di sini di DPR. DPR bisa saja

Komisi IX kemudian dilaporkan ke proses perubahan atau diusulkan mengikuti

proses perubahan APBN.

J adi alternatif kedua ini saya kira masih memungkinkan kalau memang

harus kita berikan peluang kepada Pemerintah dalam satu tahun itu bisa

mengeluarkan kembali itu berarti kita lebih cenderung ke alternatifkedua. Jadi

itu bisa dilalui DPR saja kemudian PanitiaAnggaran itu hanya di laporkan, ya

mungkin Komisi IX. Proses 2,3 hari melalui Komisi IX saya kira bisa dilakukan

itu.

Demikian Pak Ketua.

Ada tambahan sedikit Pak.

ANGGOTA

F.

KB (H. ARIS AZHARI SIAGIAN, S.H) :

J adi saya hanya mohon bisa diberikan logikanya dulu bahwa kalau alternatif

satu atau dua, inikan kita rupanya sepakat harus ij in DPR dulu kan ya. Kemudian

apa arti pentingnya ayat ( 4) itu kalau itu sudah ayat ( 1 ), karena di sini ayat ( 1)

sudah menyebutkan harus persetujuan Dewan. Kalau itu prosesnya sama,

buat apa kita tam bah ayat ( 4) tetapi ada hal-hallain yang memang mungkin

tidak bisa, itu nanti lain lagi misalnya. Kalau menyangkut masalah pokok, kalau

saya, ini prosesnya tetap sama. Kalau kita ke DPRjuga nanti mekanismenya

harus seperti itu. Apakah tidak berlebihan kalau kita sebut dua kali, ini hanya

pandangan saya sementara ini.

ANGGOTA

F.

PDIP (MATHEOS FORMES) :

Boleh menambahkan Pak.

KETUA RAPAT :

Silakan Pak.

(10)

ANGGOTA F. PDIP (MATHEOS PORMES) :

Saya pikir sama sudah mengarah ke DPR, hanya tadi sudah disinggung

Pak Sulis juga, kalau kita sebut DPR, itukan artinya institusi, ya arus mekanisme

berjalan. Kita ada diatur reses, Komisi IX reses semuanya Bapak Pimpinan,

yang tidak reses itu kan Pimpinan DPR, kenapa tidak jelas di sebut secara

imp lis it. Kan dua hal yang substansial yaitu :

Pertama, saya pikir kita sepakat bahwa keadaan mendesak itu ada,

hal-hal tertentu memang harus Pemerintah mengeluarkan surat utang melebihi

apa yang sudah disepakati.

Kedua, perlu DPR, DPR yang mana kalau DPR disebut ansir di situ

artinya haras mekanisme itu berjalan. DPR berarti Komisi IX, Komisi IX itu

ada resesnya Pak, seandainya besok kan kita tanggal2 7, yang tidak reses kan

hanya Pimpinan DPR dan Fraksi bisa miniatumyz dulu dipanggil, nanti resminya

memang haras proses itu di Komisi IX. Saya pikir sudah bisa ketemu kita itu,

kalau mau tetapi kata Pak Willeim tadi kalau tidak dicabut, dihapus Pasal4 itu

sehingga tidak ada peluang di luar apa yang sudah disepakati.

Demikian untuk sementara.

KETUA RAPAT :

Jadi kalau dapat saya tangkap dari beberapa yang telah disampaikan,

jadi Fraksi Golkar minta penjelasan yang lebih bisa lagi ditangkap. Demikian

juga Fraksi PPP terutama masalah bunga dan pokok yang mungkin tidak hi sa

disamakan. Kalau Fraksi PKB, ini kalau pihak DPR akan terlambat kehilangan

momentum pasar sudah, sehingga ditambahkan pada alternatif satu itu kalau

bisa "dalam keadaan tertentu itu dalam keadaan mendesak". Kalau Fraksi

TNI/POLRI ini memang di luar kondisi yang di luar ayat (1 ), ayat (2), ayat

(3), jadi memang di luar dari perencanaan. Jadi tetap alternatif satu

menambahkan "dalam hal tertentu di luar perencanaan" atau apalah kalimatnya

yang nadanya seperti itu. Jadi kalau Fraksi PDI Perjuangan sebetulnya

mekanismenya, ya DPR itu sudah baku, baik anggaran maupun Komisi dan

lain sebagainya. Jadi kalau bisa di altematifkedua, ini yang saya tangkap. Jadi

pada dasamya ini kita inikan dulu yang ke 4 ini, apakah ini betul yang dikatakan

Fraksi Golkar ini termasuk dalam perencaaan atau ini di luar perencanaan

seperti Fraksi TNI/POLRI. Kalau kita menemukan itu mungkin bisajalan itu,

sehingga itu memang kalau di luar perencanaannya bagaimana, ada yang bilang

ke Pimpinan saja, ada yang ke Komisi IX, ada Panitia Anggaran, mungkin

tinggal di situ kita diskusinya, untung ruginya bagaimana supaya lebih cepat.

(11)

ANGGOTA F. PDIP (WILLEIM M. TUTUARIMA, S.H) :

Pak Ketua, saya ingin memperjelas kira-kira logika kita.

Pertama, di pasal ini kita akan mengatur bahwa setiap surat utang itu

kan mekanismenya haras melalui DPR. Jadi itu sudah disebut perencanaan

menurutPakAzhartadi, dimasukkan dalamAPBN. Sekarangtimbul persoalan,

kalau terjadi perbedaan angka terhadap fluktuasi tadi yang disebut itu, kan di

luar konteksnya pasti nilai bersihnya berbeda ini, itu mau ditampung di mana,

itu saja kira-kira. Apakah pasal ini kena untuk menampung itu atau kita

membuat pasal bara, katakanlah kalimatnya tidak seperti ini. Memang kalau

kita membaca pasal ini Pak Anggito ya, ini seolah-olah kalau dalam hukum

fiqih ini mungkin kan munasah mengasah ini. Jadi ketentuan yang sudah baku

itu dibatalkan oleh ini. Maka "tertentu" ini kan tidakjelas, "tertentu" ini kan

hanya penjelasan, seperti itu. Jadi kira-kira bagaimana kalau di batang tubuhnya

ini dijelaskan langsung begitu. "Dalam hal tertentu", akibat perubahan suku

bunga, kurs rupiah a tau pasar, kan begitu ya Pak Anggito. Itu mungkin lebih

jelas begitu. Selama pasal ini kontradiktif, persepsi kita di floor memang seperti

ini. Jadi ini Pasal yang bertempur yang satu mekanismenya ditempuh di awal,

yang ini boleh dibelakang. Ini persoalannya PakAnggito.

KETUA RAPAT :

Baik, saya persilakan Pemerintah.

Dari masukan-masukan ternan-ternan semua.

STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM (DR, ANGGITO

ABIMANYU):

Terima kasih Pak Ketua,

Saya kira ada baiknya kita mengidentifikasi faktor-faktor apa yang

mempengaruhi adanya selisih tadi deviasi. Apakah itu memang di luar

kemampuan Pemerintah untuk merencanakan ataukah itu memang karena

akibat dari sebuah kebijakan.

Pertama adalah kurs, minggu lalu terjadi 90 point deprvesiasi, itu kan

bukan Pemerintah, itu kan karena faktor global dan lain sebagainya. Kalau

pada waktu itu kita haras bayar yang jatuh tempo, bunga, dan sebagainya

dalam dollar misalnya di dominasinya, itu kantidak bisa dihindari bahwa

(12)

kita harus bayar denga kurs yang ada ataupun dengan suku bunga yang ada.

Nah apakah kami harus ke DPR untuk melaporkan Bapak-bapak sekalian,

kita minta ijin kalau ada deviasi ini.

Ada perubahan dalam suku bunga, lelang SBI menghasilkan angka yang

sekian karena keadaan tertentu atau, sisi lain misalnya dari sisi APBN

penerimaan pajak tidak masuk untuk membayar dengan kemampuan dalam

negeri karena banjir dan sebagainya, itu hal-hal yang mendesak. Nah apakah

hal seperti itu yang memang mendesak betul, memang di luar kontrol

Karena pertimbangan kondisi dan perkembangan pasar, sehingga absorsi

dari pasar untuk membeli kembali obligasi, itu tidak ada kemampuannya.

Makanya Pak Ketua, kalau boleh, memang kalau kita ingin menajamkan,

bagaimana kalau kita menajamkan penjelasannya Pak, supaya kita betul-betul

memahami apa yang kita sebut sebagai "hal-hal tertentu" itu. Yang di dalam

altematif kedua di sebut sebagai "hal-hal tertentu yang sangat mendesak,

yang di luar kemampuan Pemerintah, di luar kemampuan ekonomi untuk bisa

memperencanakan sebelumnya". Intensinyajelas, realisasinya itu bisa sesuai

dengan perencanaan tetapi kalau perencanaannya itu meleset atau realisasinya

meleset dari perencanaan dan itu di luar kemampuan Pemerintah, nah apakah

kami hams datang ke DPR untuk minta ij in menerbitkan sesuatu yang melebihi

? Kalau ada bagaimana mekanismenya Pak ? Alternatif dua itu memang

waktu itu Pak Darmin sudah mencoba ke sana tetapi bagaimana mekanisme

persetujuan terlebih dahulu itu kalau misalnya reses. Kalau pada hari-hari

terakhir hari Minggu, Senin harus di bayar dan hal-hal yang mendesak seperti

itu.

Demikian Pak Ketua.

KETUA RAPAT :

Kira-kira butuh penjelasannya bagaimana perubahannya itu, di mana

letaknya, terus dimana perubahannya atau klausulnya di itu kan dulu, ada

nuansa apa itu sangat mendesak dalam hal tertentu, sangat mendesak, di luar

perencanaan.

Bagaimana.

STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM (DR, ANGGITO

ABIMANYU):

(13)

Kalau kita kembali kepada batang tubuhnya dulu nanti kita tambahkan

dengan "hal-hal tertentu yang sangat mendesak" tetapi pada alternatif satu

kalau kita defmisikan apa yang di sebut sebagai hal-hal yang mendesak itu

yang itu di luar di luar kemampuan perencanaan. Kalau kita defmisikan. Seperti

misalnya begini Pak Ketua, gaj i pegawai luar negeri itu dalam dollar sedangkan

APBN dalam rupiah, kan tetap harus dibayar kalau misalnya kursnya itu

tiba-tiba merosot. Nah apakah kalau pembayaran gaji seperti itu harus ke DPR,

kan tidak ? Tetapi itu hal yang mendesak, betul-betul mendesak. Kalau saya

usulkan itu alternatif satu tambah dengan "hal yang mendesak" lalu kita

tajamkan di dalam penjelasannya itu seperti apa.

Demikian Pak Ketua, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik

ANGGOTA F. KKI (F.X. SOEMITRO) :

Maaf saya datang terlambat, mungkin tidak mengikuti masalah tetapi

saya akan masuk cun in kedalamnya ya. Sebetulnya kita ini membuat Surat

Utang Negara, pengertian surat utang itu pemahaman saya adalah termasuk

bunga, termasuk biaya apapun yang ada di dalamnya yang timbul karena

surat utang itu. Sehingga saya kaget waktu saya membaca persetujuan ada

yang diberikan nilai bersih namun disapu dulu baru bersih. Ya namanya surat

utang ada nilai bersih, nilai kotor, itu yang bersih itu yang bagaimana, yang

kotor bagaimana, karena surat utang itu ya pokok, bunga dan apapunnya ada

yang ada di situ akibat munculnya surat utang.

Sehingga muncul hal-hal tertentu ini ada persetujuan, sehingga ada muncul

hal-hal tertentu ini, akhimya apa? Saya tidak akan yakin bahwa itu bisa selesai.

Karena apa? Perdebatannya akan panjang, masing-masing tidak salah dan

masing-masingjuga tidak benar. Karena apa? Karena kita keluar dari ivoridor

ini, katakan saja saya sebagai pengamat mungkin atau mungkin sebagai kritisi

yang datang dari belakang.

Jadi menurut saya, saya tidak merubah apa yang ada ini tetap, karena ini

sudah disetujui, silakan. Hanya yang ayat (4) "Dalam hal tertentu Menteri

dapat menerbitkan Surat Utang Negara melebihi", ya ini "dalam hal tertentu"

ini apa ? Karena saya baca tidak ada kaitannya dengan Pasal 7, karena Pasal

7 itu "bahwa penerbitan Surat Utang Negara harus terlebih dahulu mendapat

persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Persetujuan diberikan dalam

(14)

rangka nilai bersih negara". Ya okelah nilai bersih negara, silakan yang akan

sudah-r. Menurut saya ini isltilahnya statement yang berkelebihan saja, menurut

saya. "Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud

diberikan dalam pengesahan Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara".

Sebetulnya butir 1 ayat

(1)

dan ayat (3) ini sudah mencakup seluruhnya.

Sekarang "dalam hal tertentu" supaya cepat, "Menteri Keuangan dapat

menerbitkan surat utang dalam hal tertentu'', ini apa? Ini tidak ada hubungannya

dengan ini, kecuali dalam hal tertentu itu tidak dibahas dalam pembahasan

APBN, karena di dalam pembahasanAPBN ayat (3) ini kan sudah di sahkan

Pak, ini tahun ini kita akan mengeluarkan surat utang begini. Ya sudah ketok

palu, selesai. Keluarkan saja, di luar itu ada misalnya, itu nanti bahasanya di

APBN Pak,. bahasanya di APBN, karena surat utang itu bagian dari pada

APBN. Mengapa bagian dariAPBN, itu buktinya disahkan diAPBN. Kan di

dalam deviasi di dalam APBN kan terjadi Pak itu, itu pembahasannya di

perubahan-perubahan itu nanti,jadi tidak di sini.

Jadi menurut saya ayat ( 4) itu tidak perlu, karena terjadi hal tertentu

karena kaitannya dengan APBN akan lapor kepada Panitia Anggaran bukan

di Komisi IX. Jadi kembali saya mengatakan bahwa ayat (4) menurut saya

tidak perlu Pak, malah nanti dalam pelaksanaannya akan rancu. Seperti

sekarang Komisi I meminta ini kepada Komisi IX, hancur Pak, yaitu antara

lainrancu.

Terima kasih Pak,

Kalau saya mungkin agak bagaimana, saya minta maafya, karena saya

datang belakang tetapi pemahaman sayajustru Pasal 7 ayat (1). (2), (3) ini

sudah lengkap. Sehingga kalau pun apa terjadi perubahan maka kita larinya di

PanitiaAnggaran sehingga Pemerintah tidak bingungjuga, karena surat utang

ini bagian dari APBN setiap tahun.

Terima kasih, saya kira itu Pak.

KETUA RAPAT :

Silakan.

ANGGOTA F.TNI/POLRI (R, SULISTYADI, SIP,. M.M ) :

Interupsi,

Pak Soemitro,jadi untuk pemahaman kami semuajuga, kalau misalnya

Bapak katanya sebagai pengamat, apakah "hal-hal tertentu" yang dijelaskan

(15)

di sini ini bisa memberikan penjelasan lebih lanjut apa yang Bapak tadi

sampaikan di sini. "Hal-hal tertentu" yang disampaikan Pemerintah di sini,

apakah ini bisa diterima dalam defmisi ayat (4) ini sesuai penjelasan Bapak

tadi.

KETUAA RAPAT :

Sialan Pak Mitro.

ANGGOTA F. KKI (F.X. SOEMITRO) :

Tadi begini Pak, sepintas tetapi saya sudah mendalam. Membaca Pasal

7, bahkan tadi saya katakan sebetulnya ayat (2) ini kelebihan tetapi tidak

apa-apa toh itu sudah disepakati, tidak menyentuhjuga masalah yang lain, tidak

menimbulkan kerancuan bagi saya tidak ada masalah.

Ayat ( 1 ), (2), (3 ), ini menurut saya sudah lengkap dan untuk apa ditambahi

ayat ( 4 ), masalahnya itu Pak. Menurut say a ayat ( 4) ini akan menimbulkan

suatu permasalahan tersendiri. Masalahnya apa? Kita bisa bicara "dalam

hal-hal tertentu". ltu kan nanti defmisinya macam-macam, hal-hal apa yang

dimaksud itu tetapi yang dimaksudkan tadi kan ada cost major, dan segala

macam itu. Padahal kalau kita tidak sebutkan itu, cost major itu ada ketentuan

Undang-undang tersendiri dalam hal apa terjadi cost major itu siapa

tanggungjawabnya, tidak perlu diatur di sini. Ini masalahnya, karena kalau kita

makin menjelimet dan melupakan ketentuan yang lain, Undang-undang atau

peraturan apapuH yang lain, yang terkait dengan ini, seakan-akan kita akan

membuat suatu istilahnya pager-pager yang ini malah kita agak susah.

Itu cara pemikiran saya itu.

Saya kira itu Pak, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, silakan Pak Azhar.

ANGGOTA F. PG ( DRS. H. AZHAR MUCHLIS) :

(Rekarnan tidak jelas)

KETUA RAPAT :

Silakan Pak Muchtar

(16)

ANGGOTA F. KB ( H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi) :

(Rekaman tidak jelas)

Kalau tidak salah alasan Pemerintah bahwa "hal tertentu" ini seandainya

satu proyek akan dilakukan tetapi sudah habis anggaran namun kalau proyek

dilakukan ini hams mungkin biaya tinggi, mungkin itu yang dimaksud tetapi ini

barngkali ada penjelasan. Apakah nanti di dalam Perubahan kita lakukan

perubahan, apakah memang proyek ini yang kita lakukan ini memang sudah

dilihat umpamanya dilihat time schedule waktunya, apa dengan biaya tetapi

kalau tidak salah -Pak Dani, saya tidak salah sangka memberikan penjelasan

bahwa hal ini kalau tidak dilakukan ini maka proyek akan terbekalai atau apa.

ltu mungkin tetapi saya minta Pemerintah memberikan penjelasan. Yang lain

saya kira itu sama dengan saya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, silakan Fraksi Reformasi.

ANGGOTA F. REFORMASI

(H.

SYAMSUL BALD A, S.E, MBA,

M.M., MSc) :

Terima kasih Pak Sudirman,

Jadi sebenamya dari apa yang disampaikan oleh Pak Sumitro dan tadi

Pak Nu'man, kita bisa mengambil alternatiftengah. Jadi kalau memang Pak

Sumitro tadi mengusulkan agar ayat ( 4) di Pasal 7 dihapus, nanti yang terkait

dengan "hal-hal tertentu" itu dibicarakan di Perubahan, itu juga bisa, tetapi

kalau mau lebih diperjelas bahwa di pasal ini ditambah ayat "dalam hal-hal

tertentu", itu nanti kita pertajam saja dalam Penjelasan Pak. Ini bukan dalam

hukum kaidah fi'qih bukan kata Pak Nu'man, dinasah tidak, ini istinai'iyah

artinya pengecualian bukan nasah.

Jadi ada di dalam kaidah-kaidah hukum seperti itu

pengecualian-pengecualian, yang itu nanti bisa diatur di Penjelaskan atau di Perubahan. Di

sini cukup dicantumkan "dalam hal-hal tertentu" ini ada pengecualian, itu

dibahas secara lebih detail di Penjelasan atau nanti di Perubahan. Kalau ini

kan draft dari Pemerintah awalnya, itu untuk memperjelas apabila ada

pertanyaan dari kalangan awam maka muncul hal yang seperti ini terjadi,

bagaimana? Itu terjawab pasti di ayat (4), nanti di Penjelasan akan dibuat

secara defmitif batasan-batasan "hal tertentu" itu seperti apa saja. Ini yang

tampaknya kita bisa mengakomodir dua pendapat tadi Pak. Terima kasih.

(17)

KETUA RAPAT :

Ada lagi?

Silakan Pak Nu'man.

ANGGOTA F. PPP (DRS. H.

NU'MAN

ABDUL HAKIM) :

Apa yang disampaikan Pak Mitro tadi sebetulnya, apa yang Fraksi PPP

dan Fraksi PDI P katakan, termasukjuga dukungan dari Fraksi Golkar, dihapus

begitu. Karena memang kalaua di tanya seperti Pak Muchar tadi. Sekarang

kita sudah maju sebetulnya, kita sudah mengakomodir adanya perkembangan

yang tadi disampaikan oleh Pemerintah, bahwa kita mengakomdasikan

kemungkinan terjadinya*perbedaan, deviasi karena akibat fluktuasi bunga

ataupunjuga dari kurs. Ini pernah terjadi dalam praktek ketika bunga obligasi

dalam RPBN itu melebihi pagu yang sudah direncanakan. Apa yang

disampaikan Pak Azhar itu memang betul, sejujurnya memang Perubahan.

Waktu itu ditetapkan angkanya 50 sekian, kemudian karena SBI-nya naik

kemudian kita bayar 60 sekian, artinya memang ini pagu kredit. lni ternyarta

disetuju di Perubahan Anggaran walaupun, sudah dilakukan. Apa itu yang

kira-kira modelnya bahwa bukan dilaporkan tetapi disetujui pada forum. Hanya

kalau kata "dilaporkan" istilahnya itu kurang bagus, yang satu prinsipnya mesti

"dengan persetujuan" tetapi ketika ada hal-hal yang katakanlah emergency,

"dilaporkan" begitu sehingga kurang bagus bahasanya. Jadi itulah kira-kira

kalimat pertama yang "dilaporkan" bagaimana bahasanya, yang kedua

penjelasan itu secara definitifharas lebih tegas.

Begitu saja kira-kira saya mengakomodir pikiran saya yang tadinya

dihapus kearah pembuatan pasal ini.

KETUA RAPAT :

Silakan Fraksi Partai Golkar Pak Ari Tonang.

ANGGOTA F. PG (ARI TONANG) :

(Rekaman tidak jelas)

... semua perkecualian atau yang bisa terjadi, jadi itu saja

persoalannya yang saya

melihat tetapi kemudian juga batasan itu sebatas mana, melebihi nilai

bersih maksimal itu sebatas apa yang bisa kita sepakati. Apa 20 kali lipat yang

sepkatan kita boleh, apa 100 kali atau kita bebaskan saja, itu hanya

(18)

persoalan kesepakatan saja tetapi harus ada batasan itu kalau tidak nampaknya

akan menjadi apa yang kita rumuskan di Pasal 1 menjadi buyes, itu saja Pak

Ketua, dan itu terserah kita di forum ini tetapi Pak Mitro itu memang Pemerintah

butuh itu. Karena tidak selalu nanti menunggu pembahasan Perubahan di Panitia

Anggaran tahu-tahu sudah terjadi perubahan sehingga mereka tidak bisa

mengambillangkah-langkah. ltu persoalannya memang pengecualian yang

disebut Pak Samsul Balda, barangkali itu Pak Mitro. Jangan bantah dulu Pak

Mitro, saya sudah takut sekali Bapak Sumitro beraksi.

Barangkali hanya itu saja Ketua dan terima kasih.

ANGGOTA FKKI (F.X. SOEMITRO) :

Interupsi Pak Ketua,

Saya bukan soal memaksa, saya justru kern bali dari apa kalau kemarin

saya ketemu ternan saya sebagai ilmuwan, saya di sini juga mencoba

bagaiamana pendapat atau pemikiran seorang ilmuwan. Saya melihat negara

jangan dianggap sebagai PT. (Perseroan Terbatas), jangan pula dianggap

sebagai bukan kekuasaan begitu, ya yayasan dan segala macam. Sehingga

setiap saat negara itu melakukan equip treatment,jangan seperti pedagang, itu

hancur itu. Seperti perhitungan obligasi utang menjadi sekian ribu trilyun, hancur

itu sampai anak cucu sampai turunan berapa itu membayar utang, utang pakai

apa membayanya. Ini karena bahwa pemikirannya ini memang pemikiran

pedagang, bukan kita ini sebagai negarawan atau kita tidak berpikir sebagai

seorang negarawan. Obligasi yang diterbitkan negara itu berbeda dengan

obligasi yang diterbitkan oleh Perseroan Terbatas. Karena negara itu hanya

menerbitkan obligasi dalam hal untuk keperluan umum, dalam arti

penyelenggaraan negara, bukan dalam arti dagang. Tetapi kalau perseroan

terbatas atau istilahnya PT, dia menerbitkan surat utang dalam arti untuk

pedagang sebagai transaksi dagang, bagaimana dia melihat keuntungan itu.

Oleh karena itu, kalau dikaitkan dengan misalnya, kita pemah terjadi kan obligasi

yang, ada dua obligasi yang diterima, kita lihat pertama dengan fixed rate

yang kedua kemudian dengan variabel rate lalu dirubah kasihan dong dia.

Kenapa rakyat tidak dikasihani, rakyat yang disuruh membayar utang tidak

ditanya dulu, setuju tidak kalau ini kita rubah supaya kamu tambah babak

belur. Coba ini kan rakyat tambah babak belur kalau utangnya niakin tinggi.

Padahal ini dalam penyelenggaraan negara, waktu itu mengamankan, iya kan.

Sekedar negara mengeluarkan penjaminan saja untuk mengamankan asset,

tetapi yang diamankan masih merasa kurang puas kalau tidak menginjak-injak

rakyat. Susah Pak. Oleh karena itu saya katakan dalam hal terjadi tertentu

(19)

"maka Pemerintah nanti akan merubah terus Pak., tanpa persetujuan DPR

ya kita sudah memberikan legitimate you ubah sesuai dengan apapun yang

kamu kehendaki, tidak bisa Pak, kita menyelenggarakan negara, APBN itu

bagian dari pada penyelenggaraan negara. Oleh karena itu saya terserah

disetujui apa tidak, saya tidak akan mengotot. Bagi saya ayat ( 4) ini memberikan

peluang banyak yang negatif, seperti contoh tadi yang sudah pernah terjadi.

Saya kira kita ubah variabel yang* teiak-teriak rakyat, utangnya makin

tinggi pembangunan malah makin kurang, karena dengan perubahan itu berapa

trilyun kita hams membayar, ini masalahnya. Jadi mereka korban, masih untung

dia diselamatkan dulu kalau tidak dia sudah han cur.

Itu pemikiran saya, kita harus menyikapi bahwa surat obligasi ini adalah

bukan barang dagangan

tetapi

m1

negara

menerbitkan

karena

keperluan

negara

dalam

rangka menyelenggarakan ketatanegaraan

kehidupan kita bemegara, berbangsa. Jadi beda, kita harus pisahkan dengan

seandaikannya PT, di dalam perjanjian saya biasa menyusun perjanjian di

perseroan terbatas. Kalau ada begini bisa dirubah, equip treatment Pak, terus

karena apa

?

Dagang, ini negara Pak bukan pedagang, ini penguasa dalam

hal terntentu terpaksa dia mengeluarkan surat utang untuk menyelamatkan

bangsanya, bukan surat utang untuk menghancurkannya bangsanya Pak.

Saya kira itu Pak. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan

F.

PBB

ANGGOTA F. PBB (H. M. KABAN, SE, Msi) :

Saya pikir pembicaraan tentang Pasal 7 ayat ( 4) dari beberapa tanggapan

tadi, ada beberapa hal memang kita perlu cari titik persamaan.

Pertama, bahwa kita perlu mencari sebuah kesepakatan, apakah

"hal-hal tertentu" itu kita sepakati karena titik krusialnya di sana. Apakah kita

dapat mengakui atau menyetujui bahwa ada situasi-situasi tertentu yang

memang dapat dijadikan sebagai terkecualian.

Yang kedua, kitajuga perlu mempertimbangkan bahwa dengan adanya

ayat ( 4) ini, j angan sampai Pemerintah itu menj adi membuat keputusan itu

sembarangan. Karena ada peluang lalu membuat keputusan-keputusan

sehingga timbul kesewenang-wenangan yang pada akhimya menimbulkan

beban berkepanjangan bagi rakyat. Jadi mesti ada batasan-batasan tertentu.

(20)

Kemudian yang ketiga, karena proses persetujuan ini harus ada

persetujuan dari DPR, maka saya kira "dalam hal-hal tertentu" itu pun tetap

di dalam kendali DPR juga. Saya melihat kalau memang kita bisa

mengakomodir pikiran tentang ayat ( 4) ini, di sini kan ada beberapa altematif

rumusan yang dapat kitajadikan sebagai rujukan. Kalau memang dalam rangka

menjaga Pemerintah jangan sampai Pemerintah terlalu sewenang-wenang

membuat keputusan itu ketika akan membuat surat utang, kenapa misalnya

dibuat rumusannya saja. Jadi tetap dia dibawah pengawasan yang ketat dari

DPR, misalnya dalam "hal tertentu dengan persetujuan DPR", maka itu baru

ada kesempatan. J adi tidak seperti yang altematif satu, kalau alternatif satu

itu kelihatannya Pemerintah lakukan bam dilaporkan kemudian minta disetujui.

Sementara tadi pemikiran berkembang adalah "Dengan persetujuan

Dewan hal-hal tertentu itu kemudian dapat dilakukan perubahan dalam

Anggaran Perubahan. Jadi ada mekanismenya.

Jadi saya kira kita lihat saja dari altematif-altematif ini mana yang kita

bisa bertemu pemikirannya begitu. Kami cenderung pada altematif yang ketiga

itu misalnya "Dalam hal tertentu dengan persetujuan Dewan" misalnya. Jadi

ada sedikit perbaikan, kalau ditangkap dari pemikiran-pemikiran yang

berkembaiig itu.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Ada lagi?

Silakan PakAbdullah.

ANGGOTA F. PDU ( DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI ) :

Terima kasih Saudara Ketua.

Saya mempunyai pendapat bahwa pertama kita juga memahami

terhadap jalan pikiran Pak Mitro adanya suatu kekhawatiran Pemerintah di

dalam mengeluarkan surat utang ini seenaknya karena di sini diberikan peluang

untuk berbuat seperti itu tetapi juga kita, saya, artinya memahami juga

Pemerintah ada hal-hal yang tentu tidak bisa diabaikan. Tentunya dalam hal

ini Pemerintah menjelaskan hal-hal tertentu seperti apa. Itu yang pertama.

(21)

Tentunya kita juga akan membuat suatu koridor yangjelas melalui persetujuan

Dewan sebagaimana tadi kawan saya Pak Kahan menyampaikan dengan

masalah koridor ini, di awal dengan persetujuan Dewan maka tentunya

Pemerintah tidak seenaknya untuk menjawab kekhawatiran tadi.

Kemudian mengenai masalah melebihi nilai bersih ini, batasan apa, seperti

apa itujuga oleh Pemerintah dijelaskan kepada kita di dalam penjelasan nanti

untuk mencarijalan keluar. Kita gabungkan pikiran ini kekhawatiran dengan

kesempatan yang diberikan kepada Pemerintah untuk melakukan hal-hal

tertentu mencari formulasi yang terbaik. Saya melihat kalau seandainya hal

ini kita buat di dalam formulasi ada alternatifyang ketiga memang ini benar,

saya menyetujui dengan persetujuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Surat

Utang Negara dapat diterbitkan melebihi nilai bersih maksimal yang telah

disetujui Dewan. Itulah koridor yang paling penting. Tentu kekawatiran ini

juga akan menghapus semua apa anggapan kekhawatiran kawan-kawan tadi

Pak. Jadi marilah kita persamakan persepsi kita mengenai hal-hal tertentu ini

sehingga kita bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Di satu pihak kekhawatiran

yang disampaikan pikiran oleh Pak Mitro tadi bisa terjawab dengan hal-hal

yang kita lakukan dengan koridor yang jelas bahwa persetujuan Dewan itu

dan juga dengan batasan-batasan apa yang seperti apa, hal-hal seperti apa

mari tuangkan di dalam batang tubuh ini. Nanti penjelasannya ini akan lebih

jelas di dalam penjelasan tadi.

Terima kasih Saudara Ketua, tetapi saya tetap mengharapkan bahwa itu

adanya Pasal ini.

Terima kasih.

ANGGOTA F. KKI ( F.X. SOEMITRO ) :

Sorry ya, saya agak sedikit saja.

Pertama, sebetulnya saya tidak khawatir kepada Pemerintah justru

Pemerintah harus bijak dan arif, karena apa? Kita lihat pro filling terhadap

obligasi yang sekarang terjadi karena apa, Pemerintah tidak serius menangani

masalah obligasi. Assetnya dijual murah karena dia pikir obligasinya bisa diatur

nanti, tanggal disparitasnya a tau tanggal judge-nya majority-nya hi sa diatur,

asetnya dilelang murah-murahan saja semuanya, ya hancur-hancuran lah. Ya

kan? Andaikata obligasi itu dipaksakan, istilahnya pada saat majority harus

dibayar Pemerintah tidak akan melakukan seperti sekarang Pak. Yang rugi

siapa? Rakyat lagi Pak, rakyat yang lebih merugi Pak. Tadi pagi saya

(22)

membaca koran jangan-jangan PPN untuk penjualan lelang yang di BPPN

lolosjuga, berapa trilyun pajaknya itu, 10% Iho, banyakjangan-jangan lolos

lagi, Inikan kacau Pak karena apa? Obligasi ini diatur tanggaljudge-nya lagi,

kok bingung. Ya kan? Pemerintah justru sekarang ini sempat saatnya untuk

bagaimana dia sebagai Pemerintah yang arif dan bijak yang bisa

menyelamatkan kepentingan rakyat termasuk menyelamatkan aset-aset yang

milik dari negara pemilik rakyat itu. Jadi tidak gampang Pak karena apa? Di

dalam bisnis, saya menggeluti bisnis selama 30 tahun sepanjang itu masih bisa

diatur "ah gampang, itu nanti kita atur sekarang begini dulu" tetapi pada saat

itu dikunci, tidak bisa baru akan jungkir balik Pak. Bagaimana mengatasi

masalah itu. Kembali kepada ini negara Pak, ini negara Pak. Kita

menyelenggarakan negara Pak. Ini masalahnya. Jadi saya melihat Pemerintah

jangan tuduhkan bahwa saya tidak memberi peluang kepada Pemerintah.

Pemerintah tidak dimasukkan ini. Tiap perubahanAPBN juga bisa cerita kok

tetapi kalau ini sudah dimasukkan disitu, itu akan memberikan moral-moral

obligation atau katakan memberikan psikologis bahwa "ah gampang itu kita

boleh kok terjadi sesuatu bisa kita rubah kok, ya udah kita rubah saja. ini

jangan-jangan." Kalau kita mengatur negara dengan begitu kan kapan kita

bisa menikmati negara ini negara yang bagus. Sulit Pak.

Saya kira itu Pak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, saya ingatkan di tata cara

> pembahasan kita diberi kesempatan 2

putaran maksimal 3 putaran. Sekarang sudah melebihi 3 putaran. Namun

demikian karena ini untuk kebaikan bersama, silakan Pak Poltak masih ada?

ANGGOTA F. PDIP ( DRS. POLTAK SITORUS ) :

Terima kasih Pimpinan,

Saya pikir kita memasuki pembahasan tentang Rancangan

Undang-Undang tentang Surat Utang Negara ini adalah di dalam rangka kita memahami

bahwa pengelolaan utang • negara sekarang itu memang sangat diperlukan

ada satu payung dari Pemerintah. Akan tetapi adalah satu hal yang masih

menjadi pertanyaan kita mengapa di dalam rangka pengelolaan utang negara

ini Pemerintah masih tidak melihat sesuatu kebutuhan kita bahwa kita memang

tidak mengharapkan atau memikirkan satu kemudahan-kemudahan

dalam rangka menyelesaikan suatu masalah. Memang kondisi kita

(23)

memerlukan kerja keras sebenarnya antara lain kita kemukakan adalah bahwa

memang persoalan-persoalan ini kan kita tidak bisa menyelesaikan tanpa

memborong perekonomian kita lebih membaik. Saya juga masih melihat bahwa

pasal-pasal yang kita sepakati sebenamya sudah menampung kebutuhan yang

diberikan oleh Pemerintah. Akan tetapi satu hal memang kita pertanyakan

mengapa Pemerintah cenderung meminta hal-hal yang lebih longgar

sementara kita tabu bahwa persoalan pengelolaan utang negara ini dalam

konteks persetujuan kita dalam APBN itu berbeda dengan pengelolaan

penerimaan negara yang kita bicarakan dalam APBN Perubahan. Ini sangat

berbeda. Ini memerlukan pengelolaan yang betul-betul sangat direncanakan

oleh Pemerintah di dalam penerbitan Surat Utang Negara itu. Oleh karena itu

sebenamya Pasal 7 ayat (1 ), (2), dan (3) itu cukup memberikan payung. Nah

persoalaannya dalam hal tertentu mengapa kita harus masukkan lagi. Pasal 7

ayat (3; sudah memberikan koridor bahwa itu bisa dibicarakan di dalam APBN

Perubahan sehingga tidak diperlukan ada ayat ( 4) ini seperti yang dikemukakan

oleh Pak Mitro tadi itu sebagai satu kebutuhan sementara itu kan kita

memberikan begitu mudahnya nanti kita mengelola Surat Utang Negara ini

kalau untuk mengatasi persoalan-persoalan APBN kita.

Oleh karena itu Pimpinan, kami dari Fraksi PDIP masih melihat di dalam

Pasal 7 ayat ( 4) ini kami mengusulkan dalam konteks ya Pak karena kami tadi

menganggap Surat Utang Negara itu diterbitkan hanya hal-hal yang mendesak

tetapikan inikan persolannya bahkan kami tadinya melihat ini tidak usah kita

persoalkan yang lalu, yang setelah RUU SUN ini tetapi inikan tidak mungkin

karena kita sudah menerbitkan obligasi dalam rangka pengelolaan utang negara

kita.

Oleh karena itu begitulah Pimpinan yang kami harapkan tolonglah di sini.

Ini kita minta Pemerintah. Apa yang dikemukakan oleh Pak Joni itu betul ariflah

sehingga dengan demikian, ini juga dalam rangka fungsi pengawasan kita Pak

sebenarnya. Kalau ini begitu longgar ya berarti fungsi pengawasan dari DPR

inijuga karena memang segala sesuatunyajuga kalau kinerja kita Pemerintah

misalnya dituntut j adi bisa diatasi dengan soal ini begitukan. ltu begitu

persoalannya. Memang kita jalan apa adanya kalau ada masalah negara ini

bisa diatasi dengan Pasal 7 ayat ( 4) ini tetapi marilah kita Pemerintah kita

mengajak persoalan-persoalan dalam penyelenggaraan negara kita ini memang

memerlukan penanganan dalam konteks bahwa peningkatan perekonomian

itulah yang paling bisa menyelesaikan persolan-persoalan utang kita bukan

hanya sekedar persoalan menyelesaikan obligasi.

(24)

Terima kasih Pimpinan.

ANGGOTA F. PDU (DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI ) :

Saya setuju dengan keterangan Pemerintah tetapi pembatasan itu

mengenai hal-hal tertentu itu seperti apa, kemudian niiai bersih itu bagaimana

sehingga kita memberikan suatu wawasan untuk menentukan sikap kita tetapi

saya tetap mengharapkan bahwa pasal ini tetap ada.

Terima kasih.

ANGGOTA F. TNIIPOLRI ( R. SULISTYADI, SIP., M.M. ) :

Jadi pemahaman kami okelah Surat Utang Negara ini bagian dariAPBN.

Yang sudah diputuskan oleh DPR dan disetujui DPR. Kemudian dalam

perkembangannya yang dimaksud di sini perubahan ini adalah bukan surat

utang itu lebih dari pokoknya. Jadi yang dimaksud di sini hal-hal tertentu

kalau dia melebihi pokoknya berarti ini penyimpangan, kena Pasal

Penyimpangan. Yang dimaksud di sini pemahaman kami tadi adalah bahwa

fluktuasi karena situasi tertentu tadi yang dijelaskan di sini itulah yang akan

dimasukkan di Pasal ini. Apakah ini harus minta persetujuan DPR. Menurut

pendapat saya karena ini sepanjang tahun terjadinya dan kitajuga mempunyai

kendala masa sidang dan sebagainya. Kami bisa memahami bahasa ini, ini

adalah suatu pasal untuk mengakomodasikan situasi di luar perencanaannya

yang harus diputuskan. Itu pemahaman kami. Oleh karena itu kami

berpendapat alternatif satu ini adalah mengakomodasikan hal-hal yang itu

tadi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi yang saya tangkap Pemerintah tolong diyakinkan ternan-ternan

karena ada di antara Anggota Panja yang masih mempertanyakan urgensi

dari ayat ( 4) ini. ltu yang pertama.

Yang kedua, temyata penjelasan yang sudah ada itu tidak jelas yang

ditangkap. Jadi belumjelas. Jadi mungkin yang dimaksud dalam hal tertentu

yaitu hal-hal yang mendesak diluar perencanaan seperti akhir tahun ini. Itu

mungkin lebih klop tetapi kalau begini tidak menyambung. N amun yang lebih

penting itu Pemerintah sudah mendengar seluruh pendapat daripadaAnggota

Panja. Silakan ditanggapi.

(25)

STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM ( DR. ANGGITO

ABIMANYU):

Terima kasih Pak Ketua.

Angggota yang saya hormati, saya ingin kembali apa yang telah

disampaikan oleh Ketua dan Pak Aritonang dari Fraksi Golkar, apakah ada

kebutuhan Pemerintah untuk mencantumkan ayat (4). Jawabannya ada Pak.

Jadi kami membutuhkan ayat (4) ini. Itu alasan kenapa kami membutuhkan?

Kami ingin mengangkap sebuah dinamika Pak. Dinamika itu ditangkap di ayat

( 4) itu. Kalau kita kembali ke tujuan penerbitan surat utang ini yang sudah kita

sepakati antara lain tujuannya adalah untuk membiayai defisit APBN dan itu

kan dinamis dandefisit APBN itu kan bergerak terus. Tahun ini saja lebih

rendah dari yang direncanakan. Bisajadi lebih tinggi dari yang direncanakan.

Itu tujuan penerbitan surat utang. Jadi ayat (4) ini ingin menangkap sebuah

dinamika yang ada.

Kami sepakat kalau mekanismenya apa untuk menangkap dinamika ini

dengan dinamika AP,BN. Begitu Pak. Nah apakah itu APBN-nya P dibahas

dalam APBN P itulah mekanisme APBN yang ada. Jadi apakah ayat ( 4) ini

didrop saya kira tetap harus ada suatu pencerminan dari bagaimana kita

menggambarkan bahwa kedepan ini dinamis. Itu Pak yang panting sehingga

pasar atau publik itu menangkap itu sebagai soal dinamika dan Pemerintah itu

dan undang-undang ini menjelaskan bahwa ada dinamika yang akan terjadi.

Kalau ada dinamaika itu ditampung di dalam mekanisme APBN Pak. Saya

kira demikian Pak Ketua. Jadi ada kebutuhan dan kami setuju kalau ini

menggunakan mekanisme APBN. Nah bagaimana bentuk penulisannya itu

kita rumuskan bersama sekaligus untuk menangkap usulan Pak Abdullah tadi

tentang menjelaskan hal-hal tertentu tadi itu. Saya megusulkan itu untuk

mempertajam di dalam Penjelasan supaya lebihjelas apayang dimaksud dengan

hal-hal itu, seperti usulan Pak Syamsul tadi supaya ini tertampung di dalam

penjelasan ini supaya lebih pas.

Demikian Pak Ketua. Terima kasih.

ANGGOTA F. KB ( H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi ) :

Jadi bagaimana untuk menjawab kekhawatiran Pak Mitro tadi apabilaada

ayat ( 4) ini.

(26)

ANGGOTA F. REFORMAT! (H. SYAMSUL BALD A, S.E, MBA,

MM, MSc):

Bapak Ketua saya kira kekhawatiran Pak Mitro, Pak Mitro itu tidak

mengikuti rapat. Inikan baru ini, kali ini. lnikan wajar karena saya kirajangan

sampai kita mentah lagi.

ANGGOTA F. KB ( H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi ) :

Mungkin pertanyaan Pak Mitro tadi bisa muncul dari kalangan lain juga.

Apakah tidak memungkinkan dengan adanya ayat ini memunculkan secara

tidak sadar Pemerintah kan sudah ada ayat ini. Jadi kurang berhati-hati dalam

mengolah ini. Itu bagaimana menjawab apa yang tadi disampaikan oleh Pak

Mitro.

ANGGOTA F. REFORMASI

(H.

SYAMSUL BALD A, S.E, MBA,

MM, MSc):

Saya kira kita jangan terlalu suudzhon supaya husnudzon. Jadi saya

sebenarnya berpikir mungkin alternatif 3 "Dengan persetujuan Dewan

Perwakilan Surat Utang Negara dapat dapat diterbitkan lebih nilai maksimal

dan dibahas di dalam pembicaraan APBN."

Saya kira itu Pak.

STAF AHLI MENKEU BlbANG PPM ( DR. ANGGITO

ABIMANYU):

Saya kira semangat kita kan sama Pak Syamsul, kita kan menggunakan

mekanisme APBN. Saya to long dirumuskan bagaimana supaya ayat ini tidak

menimbulkan moral hazard, Pemerintah sewenang-wenang. Tolong

dirumuskan sama-sama untuk semangat kita sama kan Pemerintah tidak akan

menggunakan Pasal ini untuk sewenang-wenang, tetapi bagaimana menangkap

2 hal Pak Samsul, yang pertama mengenai dinamika itu, yang kedua mekanisme

APBN. Kami sepakat-sepakat sekali.

ANGGOTA F. PG ( H. AZHAR MUCHLIS ) :

Ketua, karena ini sudah 3 kali putaran sebaiknya walaupun kita sudah

agak mendekati begitu kita pending dulu apa bisa diselesaikan di sini dengan

rumusan lebih tenang begitu atau nanti kita bawa ke Pansus tetapi pada

hakekatnya memang tadi perbedaannya cukup tajam sejak awal. Waktu itu

FPDIP dengan FPPP ingin hapus, kami mencoba untukadajalan keluartidak

(27)

keluar dari rnekanisrne APBN. Ada ternan-ternan dari FPKB-nya Pak

Haris yang agak rnundur, dan rnundur lagi sekarang. Karni kira sesuai dengan

tatanan yang kita anut, kita pending dulu Ketua, tetapi pada hakekatnya sangat

diperlukan ayat itu. Kita rnungkin sudah bisa rnernaharni itu tetapi rurnusannya

ini yang tidak garnpang begitu.

Dernikian Ketua.

ANGGOTA F. PDU (DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI ) :

Saudara Ketua, saya setuju dengan Pendapat Saudara Azhar Muchlis,

rnundur artinya rnundur tidak usah kita bawa ke Pans us hanya internal kita,

kita rurnuskan kernudian kita renungkan bagairnana cara yang terbaik baru

kita putuskan kernbali dalarn Panja ini.

Terirna kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi yang saya tangkap dengan pernbicaraan yang tadi itu, sebagian

besar kita dapat rnernaharni yang disarnpaikan Pernerintah dalarn rangka

dinamika, ayat ( 4) ini rnasih diperlukan tetapi rurnusannya perlu dirurnuskan

kernbali. Jadi urgensi ayat ini masih diperlukan.

Yang kedua, di Penjelasan disesuaikan sesuai harapan dari ternan-ternan.

Jadi ini nanti karni persilakan Pemerintah rnerurnuskan, kita lewat saja ini.

ANGGOTA F. PG ( H. AZIL4R MUCHLIS ) :

Pak Ketua, Pemerintah tadi rneminta kita karena sudah menemui

kesulitan Pernerintah tadi, tidak apa-apa karena kita harus bertanggungjawab.

KETUA RAPAT :

Sudahlah, siapa saja yang merurnuskan habis Jurn'at nanti sudah ada

rurnusan apakah dari kita atau dari Pernerintah terserahlah. Saya rasa begitu

ya?

ANGGOTA F. PDIP ( WILLEIM M. TUTUARIMA, S.H ) :

Saya sedikit Pak.

Jadi begini, saya hanya ingin bertanya sebenarnya, karni kembali pada

sikap karni yang bahwa ini sebenarnya keadaan daruratpun sudah diakornodasi

oleh APBN. Sekarang kita juga bisa menyadari ada keadaan-keadaan yang

(28)

di luar kemampuan kita itu bisa terjadi. Kalau ayat ini dimasukkan, itu

sebetulnya sudah tercantum, kalau kita sepakat kalau toh masih ke mekanisme

Dewan, itu Pasal 7, ayat ( 1 ), (2 ), dan (3) itu sudah menampung. Apakah kita

mau buat di sini sendiri keadaan darurat itu kita rumuskan, lalu nanti kita bisa

memutuskan. Padahal kita sepakat Surat Utang Negara itu bagian dariAPBN.

ltukan persoalan di situ. Jadi nanti kita akan membuat keuntungan di sini

sendiri kalau itu menyimpang dari APBN juga menjadi persoalan, ada

mekanisme sendiri karena di APBN tadi dikatakan bahwa ada mekanismenya

untuk penyimpangan-penyimpangan seperti itu. Marilah kita carijalan keluar,

saya sepakat. Nanti kita duduk dan bicara lagi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi nanti ini kita lewati dulu, nanti setelah jum'at kita kembali lagi

pembahasan mengenai Pasal 7 ayat ( 4 ).

Baik, kita sekarang masuk pada Pasal 8 ayat ( 4 ). Di sini "Dalam hal

pembayaran kewajiban bunga dan pokok dimaksud melebihi perkiraan dana

sebagaimana dimaksud ayat (3 ), Menteri melakukan pembayaran dan pelaporan

realisasi pembayaran tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam

pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara."

Alternatif kedua, "Dalam pembayaran kewajiban bunga dan pokok

dimaksud tnelebihi perkiraan dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)

Menteri melakukan pembayaran setelah mendapat persetujuan Dewan

Perwakilan Rakyat dalam pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara."

Untuk itu saya minta karena kita sudah mendiskusikan panjang Iebar

pada Rapat Panja yang lalu dan didapatkan 2 alternatif, untuk itu saya

persilakan Pemerintah menyampaikan alternatif mana yang dipilih.

Silakan.

STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM ( DR. ANGGITO

ABIMANYU):

Pak Ketua dan Anggota sekalian, kami kalau boleh diij inkan tetap kern bali

kepada usulan Pemerintah yaitu alternatif satu. Yang ini sebetulnya sesuai

dengan semangat yang ada dalam Pasal 7 tadi yaitu "Dalam hal pembayaran

kewaj iban bunga dan pokok melebihi perkiraan Menteri melakukan

(29)

pembayaran dan melaporkan realisasinya dalam pembahasan APBN

Perubahan." Jadi prinsipnya kami menggunakan mekanisme APBN seperti

yang sekarang terjadi. Jadi mekanisme APBN-lah yang kita Pakai. Sekali lagi

kalau rumusannya ini memang perlu disempurnakan sesuai dengan pasal yang

tadi kita bahas intinya adalah kami ingin menggunakan mekanisme APBN

dalam perencanaan realisasi maupun pembayarannya.

D em j]zjan P .:im p:inan.

KETUA RAPAT :

Baik sekarang kita gilir dari kecil dulu Bapak Mitro dulu.

ANGGOTA F. KKI ( F.X. SOEMITRO ) :

Terima kasih Saudara.

Kita ini sayang sama Pemerintah ya, sebab di dalam Undang-Undang

Dasar itu kemungkinan Pemerintah itu bisa jatuh kalau tidak berhasil dalam

melaksanakan APBN, kemungkinan itu terbuka begitu, tetapi kalau dengan

adanya Pasal 8 ayat ( 4) baik alternatif satu maupun alternatif dua, ini yang

penting "gua tidak mampu minta persetujuan dengan DPR deh." Kan itu sudah

hams mampu Pak. Apa sebabnya? Sebabnya utang itu hams sudah dimasukkan

dalamAPBN, dananya dari mana? Itu menjadi tanggungjawab dari Pemerintah

bagaimana mengupayakan dana itu sebab di ayat (2) itu dikatakan "Pemerintah

wajib membayar bunga dan pokok setiap saat utang negara pada saatjatuh

tempo." Wajib itu Pak. Jadi hukumnya ini wajib.

Jadijangan bicara "wah kalau nanti tidak bisa yang penting Menteri bayar

dulu nanti tetapi dengan ... " ini tidak bisa. Ini sama saja kita ini mengajari

Pemerintah ini "tidak apa-apa deh nanti DPR setuju tidak apa-apa." Kalau

begini terus-terusan ya rusak. Kalau saya bilang ayat ( 4) ini "no comment"

Pak artinya tidak perlu lagi Pak, Menteri harus bisa. Kalau tidak bisa nanti

kita bicara di Panitia Anggaran, ribut di Panitia Anggaran kenapa tidak bisa

membayar. Jangan diatur di sini. Toh di undang-undang sudah diatur. Kalau

saya tidak bisa kan bisa ini. Panitia Anggaran bagaimana? Paling "wah iya

juga." Justru nanti kita berkelahi di PanitiaAnggaran antara Pemerintah dan

DPR. Marilah kita berdemokrasi yang benar dalam menyelenggarakan negara

ini. Kalau menurut sayajangan Pak, ini memperlunak itu Pak.

Bagaimana Pemerintah kita ini mau menjadi seperti Pemerintah yang

kuat dulu, kalau kita selalu ninak bobokan dengan cara-cara ini, aduh susah

(30)

Pak, gawat. Ini prinsip Pak. Menurut saya prinsip. Menurut saya, saya

tidak setuju dengan adanya ayat (4) ini. Mungkin Pemerintah butuh ya,

Pemerintah yang tidak bijak kalau yang butuh itu. Kalau Pemerintah tidak

berhasil ya mundur. Justru ini kita harus memberikan dorongan-dorongan

kepada Pemerintah supaya sebagai pemerintahan yang benar-benar perkasa

dalam menghadapi setiap program yang sudah menjadi terget sesuai yang

ditetapkan dalam undang-undang. APBN itu juga undang-undang. Jangan lupa

APBN itu undang-undang dan itu kemauan rakyat Pak kalau kita mengakui

bahwa DPR itu banar-benar wakil rakyat. Itu kemauan rakyat. Aspirasi kita

salurkan melalui situ Pak.

J adi mau-mau tidak mau harus dilakukan, harus dipenuhi dan ini nanti

bobotnya obligasi kita akan menjadi bobot yang luar biasa, karena apa? Tidak

akan diundur. Kredibilitas dari pada Pemerintah juga akan tinggi. Sekarang

memang di luar negeri mengatakan yang penting minta kepastian bahwa itu

diperpanjang, karena apa? Mereka tahu bahwa kita sudah tidak mampu. Justm

kita hams bangkit dari ketidakmampuan dan kita hams menciptakan kredibilitas

bangsa dan negara yang tinggi Pak, Pemerintahjuga yang tinggi. Iya kan? Ya

upayakanlah.

Oleh karena itu membatasijugajangan gampang membuat surat obligasi

karena saudara hams membayar pad a saat j atuh tempo, hams diperhitungkan

ini. APBN itu cash flow Pak jangan lupa. Suatu cash flow bagi Pimpinan

suatu perusahaan tidak bisa memenuhi cash flow Pak itu gugur. Saya sering

Pak menghadapi yang seperti begitu itu.

Terima kasih.

ANGGOTA F. PDU (DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI ) :

Terima kasih Saudara Ketua.

Ini masalahnya hampir sama dengan Pasal 7 yang tadi kita bicarakan.

Kalau dulu menyangkut masalah penerbitan surat utang yang melebihi nilai

bersih maksimal sekarang masalahnya yang mendekati dengan pembayaran

kewajiban bunga dan pokok. Hampir sama. Memang benar di dalam Pasal8

ayat (2) ini "Pemerintah wajib membayar bunga dan pokok setiap Surat Utang

Negara pada saat jatuh tempo." Kaitannya dalam hal ini kalau pembayaran

kewajiban melebihi ketentuan yang dimaksudkan melebihi perkiraan dana yang

sebagaimana disediakan ataupun dalam ayat (3)" untuk membayar bunga

dan pokok sebagaimana dimaksud ayat ( 1) yang disediakan di dalam Anggaran

Pendapatan Belanja Negara sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut

(31)

maka dalam hal kewaj iban bunga dan pokok melebihi perkiraan dana yang

dimaksud dalam pasal ini maka" saya apabila disuruh memilih untuk hal ini

adalah memilih alternatif yang kedua karena itu harus tetap dalam kaitannya

dengan APBN tetapi tentunya harus dituangkan di dalam aturan-aturan ini.

Oleh karena itu/\maka saya menyetujui dan tetap ini ada di dalam ayat

(4) ini untuk mengantisipasi hal-hal yang seperti itu. Oleh karena itu maka

dalam Pasal8 ayat (4) ini maka saya lebih condong terhadap alternatifyang

kedua "Dalam hal pembayaran kewajiban bunga dan pokok dimaksud melebihi

perkiraan dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Menteri melakukan

pembayaran setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam

pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara"

Terima kasih Saudara Ketua.

ANGGOTA F. PBB ( H.M.S. KABAN, S.E., MSi ) :

Terima kasih Pimpinan.

Baik saya kira begini, kalau kami melihat tentang Pasal 8 tetap pada

pemikiran begini bahwa kita sudah membahas dan mendiskusikan tentang

apa-apa yang disampaikan tadi. Menurut pendapat kami hal-hal yang sudah

sampai pada rumusan alternatif ini kan sampai pada tingkat kita mau pilih

yang mana. Mau pilih yang mana yang terbaik menurut kita, kita di sini

terbaiknya untuk kepentingan bangsa.

J

adi kami melihat bahwa diantara

rumusan-rumusan ini kelihatannya ya kita diskusikan. Kami cenderung

memang supaya konsisten, dalam hal aspirasi masyarakat, aspirasi masyarakat,

aspirasi rakyat memang cenderung yang kedua. Saya rasa kita begitu saja

kita ini. Jadi kalau ada rumusan altematifkarena sebelumnya kita sudah kupas,

sudah diskusikan. Jadi maksud saya jangan lagi dikorek-korek karena yang

kita korek itu kemarin sudah kita lakukan. Jadi sekarang tinggal mana yang

terbaik dari alternatif-alternatifyang ada ini. Marilah kita pilih. Kalau kami

melihat bahwa bagaimana kalau alternatif dua. Itulah yang kita diskusikan.

Terima kasih.

ANGGOTA F.

TNIIPOLRI ( R. SULISTYADI, SIP., M.M. ) :

Terima kasih.

Pasal 8 ayat ( 4) ini dengan yang di atas. J adi "kewaj iban bunga dan

pokok yang dimaksud melebihi" ini adalah dalam hal seperti yang di atas

Referensi

Dokumen terkait

F-PDIP (MINDO SIANIPAR): Terima kasih Bapak Ketua. Pak Sekjen serta para Dirjen yang saya hormati. Mungkin gak ya kita dalam membuat rancangan itu ada pemilahan yang jelas

Terima kasih ya Pak Gamari. Ada 5 pertanyaan, juga masukan Pak Kus dan ada juga antara pertanyaan itu yang mungkin imbang-imbang, apa manfaatnya, gunanya dari Pak

Hendrik Sitompul. Jadi terima kasih Pak Hendrik Sitompul dengan berbagai catatan- catatan bagi PLN. Saya minta kesepakatan. Ini sudah masuk jam 7, saya kira kita

Baik terima kasih Pak izinkan saya menjawab. Yang pertama tadi memang mengapa saya akdemisi ingin menjadi Hakim padahal, eh bukan yang pertama tentang omnibuslaw ya Pak.

Terima kasih. Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Setelah kita mendengar 3 masukan paling tidak ya Pak ya Pak Ketua, satu dari Kementerian Dalam Negeri, lalu yang

Pertama-tama mohon j angan dilihat bahwa ini suatu keinginan yang apa namanya, ini bukan pintu baru, ini tetap melalui nanti salah satu dari tiga pintu yang sudah kita bicarakan

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. Terima kasih pak. Demikianlah kira-kira apa yang kita dengarkan atas penjelasan dari BMKG, Basarnas maupun BPWS. Oleh karena tidak

Pak Ketua, Izin, saya boleh ya Pak Ketua ya. Ini perlu ngobrol ini Pak Ketua. Ini saya Bambang Pacul dari fraksi moncong putih ini Pak, mestinya fraksi pendukung pemerintah ini