RISALAH
RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI
Tahun Sidang
Masa Persidangan
Hari/Tanggal
Pukul
Tern pat
Acara
Ketua Rapat
Sekretaris Rapat
Hadir
: 2002-2003
: I
: Senin, 25 September 2002
Pembahasan Ruu tentang Surat Utang Negara
Drs. SUDIRMAN, S.E, Msi.
USIJANA, S.H
(Lihat Daftar Hadir)
KETUA RAPAT (DRS. SUDIRMAN,
SE,
MSi) :
Salam sej ahtera bagi kita semua,
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
skors Rapat Panja berkenaan dengan Rancangan Undang-Undang tentang
Surat Utang N egara dengan resmi saya buka kembali.
Pertama-tama sebelum kita masuk ke materi, marilah kira sejenak melihat
Rencana Jadwal Acara pada Rapat Lanjutan Panja. Dimana malam tadi kita
sudah cek in, pagi ini kita harapkan jam 11.3 0 kita dapat istirahat, sho lat jum' at,
makan siang. Nantijam 14.00 sampaijam 17.00 itu lanjutan Panja. Kemudian
malam kita harapkan sudah bisa Rapat Tim Perumus sampai dengan Sabtu
jam20.30 sampaijam24.00 dan sisa waktuyangadakitajadwalkan Menyusun
Laporan Tim Panja, Tim Perumus. Kalau misalnya sidang ini alot, Panitia
menyiapkan sebagai tentatifhari Minggu. Inijadwal yang kami acarakan.
Apakah ini ada komentar.
Kalau tidak kita sepakati bersama ?
(RAPAT SETUJU)
Baik, ini kita putuskan begitu,
Terima kasih.
Bapak-bapak dan lbu-ibu yang kami hormati,
Sekarang marilah kita masuk kepada naskah yang dibagikan kepada
kita yaitu yang dipending di Panja, itu ada beberapa dengan penjelasan.
Kemudian hanya satu yang dibawa ke Rapat Komisi, itu berkenaan dengan
tadinya "rekening perbendaharaan negara" menjadi "rekening kas negara".
Jadi berarti yang lain-lain itu kita upayakan diselesaikan di Panja ini.
Kemudian kami juga mendapat surat resmi dari Bank Indonesia,
memberikan masukan. Ini tadi kami dengan beberapa rekan-rekan danjajaran
Departemen Keuangan, masukan ini selama masukan itu yang bersifat
menyempumakan, mengapa tidak. Namun kami memberikan usulan, kita bahas
dulu ini yang tertinggal point Panja setelah itu usul dari BI atau usul dari mana
saja asal itu konstruktif itu kami menawarkan ya ini kan demi Rancangan
Undang-Undang ini untuk jangka panjang dan untuk kebersamaan demi bangsa
dan negara, mungkin kalau tidak keberatan itu ki> .«i bicarakan
setelah ini kita selesaikan.
Bisa kita sepakati, kira-kira begitu mekanismenya?
(RAPAT SETUJU)
Terima kasih.
Baiklah,jadi di depan Bapak-bapak kita mulai saja, yang pending pertama
itu adalah Pasal 7 ayat ( 4) itu ada 3 alternatif, yaitu : Alternatif pertama,
"Dalam hal tertentu Menteri dapat menerbitkan Surat Utang
Negara melebihi nilai bersih maksimal yang telah disetujui Dewan
Perwakilan
Rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan
dilaporkan sebagai perubahan Anggaran Pendapatan Belanja dan
Negara tahun yang bersangkutan ".
Ini naskah aslinya. Alternatif yang
kedua,
"Dalam hal tertentu yang sangat mendesak, Menteri dapat
menerbitkan Surat Utang Negara melebihi nilai bersih maksimal yang
telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) setelah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Dewan
Pewakilan Rakyat dan dilaporkan sebagai perubahan Anggaran
Pendapatan Belanja dan Negara tahun yang bersangkutan "
Alternatif yang ketiga,
"Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat surat utang
negara dapat diterbitkan terlebih dahulu nilai bersih maksimal yang
telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud ayat
(2) dan dibahas dalam pembicaraan perubahan Anggaran Pendapatan
Belanja dan Negara tahun yang bersangkutan ".
Mengingat ini sudah kiat bicarakan panjang Iebar dalam Panja yang lalu,
namun kita sebelum kita memilih 3 altenatif ini. Saya minta Pemerintah untuk
menyampaikan menurut Pemerintah 3 alternatif ini mana kira-kira yang cocok
karena yang melaksanakan ini yang lebih tahu, yang lebih mengerti adalah
Pemerintah. Setelah itu kami putar, minta pendapat dari ternan-ternan. Silakan
STAF AHLI MENKU BIDANG PPM (DR, ANGGITO
ABIMANYU):
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakhatuh, Bapak Ketua dan
Anggota Panja yang kami hormati,
Waktu kita membicarakan DIM 54 ini Pak Ketua, kalau tidak salah
wacana yang bekembang di dalam forum ini adalah membedakan dua yaitu :
1. Mengenai bunga.
2. Mengenaipokok
Kalau saya bisa menangkap, Pak Ketua, waktu itu ada semacam
pemahaman mengenai pembayaran bunga apabila melebih' rencana yang
disampaikan dalam RAPBN karena ada faktor-faktor eksternal. Barangkali
yang perlu dikristalkan adalah mengenai pokoknya, kalau
>
jumlahnya itu
melebihi apa yang direncanakan dalam RAPBN. Namun demikian Pak
Pimpinan dan Anggota sekalian, kami tetap ingin kalau boleh ini menggunakan
altematif pertama di dalam batang tubuhnya. Namun demikian kalau memang
diperlukan ada penjelasan-penjelasan yang lebih spesifik, yang itu termuat di
dalam penjelasan, mengingat perlu adanya kepastian bahwa bunga dan pokok
itu haras dibayar sesuai denganjatuh temponya dan itu akan mempengaruhi
persepsi dari insvestor dan khususnya para pemegang obligasi dan surat utang
terse but.
Demikian Pak Pimpinan untuk sementara, mungkin kita bisa melanjutkan
diskusi lebih lanjut.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Sebelum saya putar, saya ingin membacakan penjelasan ayat (4) ini.
"Yang dimaksud dalam hal tertentu adalah termasuk tetapi tidak terbatas
pada hal sebagai berikut: /. Penerbitan surat utang perbendcnaraan negara
dalam rangka menutup kekurangan kas jangka pendek menjelang akhir tahun
anggaran yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya sehingga j umlah nilai bersih
maksimal yang tidak disetujui terlapui.
2.
Penerbitan obligasi negara dalam rangka pengelolaan rorto folio
Surat Utang Negara ada kalanya dilakukan menjelang akhir tahun anggaran,
karena pertimbangan kondisi dan berkembang pasar surat utang. Sedangkan
realiasi pembelian kembali buy back bam dilakukan pada tahun berikutnya
Carry over, sehingga jumlah nilai bersih maksimal yang telah disetujui
dilampaui".
Ini penjelasan dari pada ayat (4) tersebut.
Untuk itu kita gilir setelah mendapat penjelasan dari Pemerintah.
ANGGOTA
F.
TNIIPOLRI (R. SULISTYADI, SIP., M.M) :
Interupsi,
Mohon Pemerintah di luar penjelasannya ini, kejadian-kejadian yang di
luar rencana itu apa ada lagi
? Yang barangkali lebih menjelaskan batang
tubuh ini. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Silakan.
STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM (DR, ANGGITO
ABIMANYU):
Terima kasih Pak Ketua,
Saya kira sebagian besar sudah termuat di situ Pak Sulis, memang pertama
sebetulnya yang mengakibatkan kemungkinan terjadinya kelebihan tersebut
adalah faktor eksternal seperti misalnya kurs, suku bunga, itu kan tentunya
akan tergantung pada kondisi ekonomi yang tidak bisa kita proyeksi
sebelumnya.
Yang kedua yang lebih esensial adalah kebijakan-kebijakan yang itu juga
akan tergantung pada perkembangan pasar, misalnya kita merencanakan untuk
melakukan "buy back" untuk menarik kern bali obiigasi yang ada sesuai dengan
rencana, tetapi pada kenyataannya, realisasinya mungkin lebih rendah buy
back-nya itu, karena kondisi pasar tidak mampu untuk menyerap. Itu lalu
konsekuesnsinya adalah bahwa realisasinya bisa jadi akan lebih rendah dari
pada rencana semula dan itu adalah hal-hal yang memang di luar kemampuan
Pemerintah atau kebijakan terse but untuk mengendalikan.
Demikian.
KETUA RAPAT :
Baik,jadi saya gilir saja. Silakan dari
F.
PDI Perjuangan dulu. Silakan
F.
Partai Golkar.
ANGGOTA F. PG (DRS. H. AZHAR MUCHLIS) :
( ... tidak j elas ... )
... karena ini berarti perencanaan yang dilakukan oleh Pemerintah
dan Dewan
sejak awal itu tidak memenuhi satu keinginan dan tidak menjangkau apa
yang akan terjadi, ini permasalahannya. Tetapi kalau soal bunga, kami sejak
kemarin sepakat untuk dibayarkan setelah itu baru dibahas di Dewan, karena
berbeda memang. Kalau memberikan Surat Utang Negara baru atau melebihi
dari nilai bersih maksimal itu kan sejak awal sudah kita setujui di Pasal, tetapi
masih ada hal tertentu. Kami juga sepakat hal tersebut itu.
(Rekamana tidak jelas)
KETUA RAPAT :
Silakan F.
PPP.
ANGGOTA F. PPP (DRS. NU'MAN ABDUL HAKIM) :
Saudara Ketua,
Sejak awal memang
F.PPP sependapat dengan Fraksi Golkar itu Pak
Azhar ya, karena usulan saya sebetulnya sejak awal itu Pak Anggito, itu
harus di hapus, karena ada pemahaman bagi Fraksi Partai Pembangunan
bahwa nilai bersih itu yaitu perencanaan penerbitan surat utang itu memang
secara dini sudah didefmitifkan secara pasti perangkaannya, baik bunga
maupun pokoknya. Maka prosesnya tentu saja angka ini disampaikan kepada
DPR untuk mendapat persetujuan, kemudian ma/\uk ke dalam APBN.
Kemudian ada klausul di belakang ini "dalam hal-hal tertentu", pengertian
"hal tertentu" itu yang bayangan saya tidakjelas tadinya. Walaupun tadi ada
penjelasan memang, yang dapat dipahami adalah penjelasan Pak Anggito.
Jadi memang kemungkinan-kemungkinan, tadi saya agak bisa menyerap,
memang di luar perencanaan itu akan terjadi misalnya fluktuasi suku bunga
dan kurs. Ini yang memungkinkan pasti perencanaan itu tidak akan fixed,
karena terjadi perubahan ini barangkali Pak Azhar yang harus bisa diserap
ya. Bahwa perencanaan itu akan bisa terpengaruh besarannya apabila memang
terjadi fluktuasi suku bunga dan kurs itu. ditambah lagi yang terakhir tadi buy
back-nya ini. Ini barangkali yang memungkinkan, saya bisa menyerap
pemahaman ini bahwa memang di luar perencanaan yang pasti itu bakal terjadi
hal-hal, ini diwadahinya dimana? Itu saja kira-kira. Kemungkinan-kemungkinan
terjadinya ini harus di wadahi, salah satunya adalah men .. rut pasal ini
dilaporkan dalam perubahan anggaran. Sedangkan kita mintanya
kan di awal persetujuannya. Ini yang sementara Pak Ketua, barangkali
saya baru bisa memahami. Tadi penjelan PakAnggito dulu untuk sementara.
Terimakasih.
KETUA RAPAT :
Baik, selanjutnya F. KB.
ANGGOTA
F.
KB
(H.
ARIS AZHARI SIAGIAN, S.H.):
Terima kasih.
Justru itu sejak awal kita berbeda dengan Fraksi Partai Golkar dan
F.
PDI, kenapa? Memang di samping penjelasan ini sebagaimana yang
disampaikan SaudaraAnggito tadi, perlunya penerbitan melampaui apa yang
sudah dipersetujui secara melebihi milai bersih maksimal itu tidak otomatik
atau menunjukkan lemahnya perencanaan. Inikan memang di samping tadi
fluktuasi pasar dan perubahan kurs juga ada hal-hal yang memang di luar apa
yang sudah diatur ayat (1) sampai ayat (3) itu. Kalau memang ada, mestijuga
mendapat persetujuan. Saya pikir lebih disederhanakan, tidak usah persetujuan
Dewan tetapi mungkin Pimpinan DPR atau dalam hal ini Komisi IX untuk
kemudian nanti berdasarkan surat persetujuan sementara itu ada
kompensasinya di sistimAPBD. Umpamanya Bupati atau Pemda memerlukan
sesuatu yang mendesak, dia bisa mengirim surat mendahului persetujuan
perubahan maka diberikan surat persetujuan oleh Pimpinan DPR. Jadi tetap
juga tidak terlambat, karena kalau melalui proses DPR kan mesti mengikuti
atau melampaui beberapa kali persidangan yang sudah barang tentu ini akan
terlambat dengan perkembangan pasar dan itu tentu sudah kehilangan
memontum kita dalam hal pengeluaran ini.
Jadi kami menyarankan seperti itujika memang hams juga memerlukan
persetujuan, ya Pimpinan DPR lah kita sederhanakan dan yang paling penting
sedikit mungkin kata-kata, supaya tidak sewenang-wenang bisa kita adopsi
alternatif yang kedua itu "tertentu dan dalam keadaan yang sangat mendesak".
Jadi lebih di primalisir peluang untuk sewenang-wenang mengeluarkan surat
utang baru.
Sekian sementara.
KETUA RAPAT :
Baik, terima kasih.
Selanjutnya silakan Fraksi TNI/POLPvl.
ANGGOTA F. TNI/POLRI (R. SULISTYADI, SIP., M.M ) :
Terima kasih,
Dari awal kami menangkap atau memahami mengenai ayat ini, ayat ini
adalah suatu solusi bahwa kalau ada suatu kondisi di luar perencanaan yang
sudah diputuskan di dalam APBN, ini bagaimana pemecahannya kan demikian.
Hal-hal tertentu yang disampaikan oleh Pemerintah, kami sudah memahami
dan itu memang harus di wadahi di dalam batang tubuhnya. Seandainya ada
hal-hal tertentu di luar perencanaan, ini kan mesti harus ada.
Sedangkan kalau setiap hal-hal tertentu itu harus minta persetujuan ke
DPR, kemarin sudah dijelaskan bahwa ini satu hari saja memerlukan waktu,
DPRjuga ada masa reses. Apalagi akhir-akhir dua kali sidang terakhir juga
kan panjang masa resesnya. Nah ini bagaimana kalau mengenai, mewadahi
kondisi DPR seperti itu. Oleh karena itu kami dari Fraksi TNIIPOLRI
sependapat dengan altematif satu bahwa hal-hal tertentu di 1 uar perencanaan
harus diwadahi.
Yang kedua, kami sudah memahami hal tertentu itu apa saja. Jadi kami
berpendapat altematif satu ini adalah suatu solusi barangkali yang bisa
diterima.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, selanjutnya
F.PDI Perjuangan.
ANGGOTA
F.
PDI P (MATHEOS FORMES) :
Terima kasih Saudara Pimpinan.
Prinsipnya
F.
PDI Perjuangan awalnya tetap berpegang pada Pasal 7
ayat ( 1) bahwa sudah ada mekanisme persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Namun setelah melihat perkembangan dalam pembahasan im memang ayat
( 1) itu hanya memberikan peluang bahwa pada tahun anggaran yang
bersangkutan itu tidak ada peluang lagi, kalau kita masih berpegang pada
ayat ( 1 ). Padahal bisa saja ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi yang
sangat mendesak, yang perlu jalan keluar dala satu tahun anggaran itu. Setelah
kita ikuti diskusi yang itu tetapi menurut kami, walaupun keadaan mendesak,
itu mesti tetap harus melalui Dewan Perwakilan Rakyat. Jadi tetap kita berikan
peluang bahwa dalam tahun anggaran itu ada pernerbitan baru tetapi harus
melalui Dewan.
Saya kira bicara obligasi kan tidak langsung otomatis, pasti ada tenggang
waktu semmggu, dua minggu, karena ini menyangkut peredaran surat utang
itu pasti ada tenggang waktu Pak. Ya mungkin, tidak mungkin 2 atau 3 bulan
tetapi pasti sudah terantisipasi seminggu-dua minggu. Waktu ini bisa
dimanfaatkan oleh Pemerintah untuk ke Dewan, sehingga kami lebih cenderung
yang alternatifkedua. Karena di situ tidak langsung menetapkan di situ bahwa
Panitia Anggaran yang menentukannya tetapi di sini di DPR. DPR bisa saja
Komisi IX kemudian dilaporkan ke proses perubahan atau diusulkan mengikuti
proses perubahan APBN.
J adi alternatif kedua ini saya kira masih memungkinkan kalau memang
harus kita berikan peluang kepada Pemerintah dalam satu tahun itu bisa
mengeluarkan kembali itu berarti kita lebih cenderung ke alternatifkedua. Jadi
itu bisa dilalui DPR saja kemudian PanitiaAnggaran itu hanya di laporkan, ya
mungkin Komisi IX. Proses 2,3 hari melalui Komisi IX saya kira bisa dilakukan
itu.
Demikian Pak Ketua.
Ada tambahan sedikit Pak.
ANGGOTA
F.
KB (H. ARIS AZHARI SIAGIAN, S.H) :
J adi saya hanya mohon bisa diberikan logikanya dulu bahwa kalau alternatif
satu atau dua, inikan kita rupanya sepakat harus ij in DPR dulu kan ya. Kemudian
apa arti pentingnya ayat ( 4) itu kalau itu sudah ayat ( 1 ), karena di sini ayat ( 1)
sudah menyebutkan harus persetujuan Dewan. Kalau itu prosesnya sama,
buat apa kita tam bah ayat ( 4) tetapi ada hal-hallain yang memang mungkin
tidak bisa, itu nanti lain lagi misalnya. Kalau menyangkut masalah pokok, kalau
saya, ini prosesnya tetap sama. Kalau kita ke DPRjuga nanti mekanismenya
harus seperti itu. Apakah tidak berlebihan kalau kita sebut dua kali, ini hanya
pandangan saya sementara ini.
ANGGOTA
F.
PDIP (MATHEOS FORMES) :
Boleh menambahkan Pak.
KETUA RAPAT :
Silakan Pak.
ANGGOTA F. PDIP (MATHEOS PORMES) :
Saya pikir sama sudah mengarah ke DPR, hanya tadi sudah disinggung
Pak Sulis juga, kalau kita sebut DPR, itukan artinya institusi, ya arus mekanisme
berjalan. Kita ada diatur reses, Komisi IX reses semuanya Bapak Pimpinan,
yang tidak reses itu kan Pimpinan DPR, kenapa tidak jelas di sebut secara
imp lis it. Kan dua hal yang substansial yaitu :
Pertama, saya pikir kita sepakat bahwa keadaan mendesak itu ada,
hal-hal tertentu memang harus Pemerintah mengeluarkan surat utang melebihi
apa yang sudah disepakati.
Kedua, perlu DPR, DPR yang mana kalau DPR disebut ansir di situ
artinya haras mekanisme itu berjalan. DPR berarti Komisi IX, Komisi IX itu
ada resesnya Pak, seandainya besok kan kita tanggal2 7, yang tidak reses kan
hanya Pimpinan DPR dan Fraksi bisa miniatumyz dulu dipanggil, nanti resminya
memang haras proses itu di Komisi IX. Saya pikir sudah bisa ketemu kita itu,
kalau mau tetapi kata Pak Willeim tadi kalau tidak dicabut, dihapus Pasal4 itu
sehingga tidak ada peluang di luar apa yang sudah disepakati.
Demikian untuk sementara.
KETUA RAPAT :
Jadi kalau dapat saya tangkap dari beberapa yang telah disampaikan,
jadi Fraksi Golkar minta penjelasan yang lebih bisa lagi ditangkap. Demikian
juga Fraksi PPP terutama masalah bunga dan pokok yang mungkin tidak hi sa
disamakan. Kalau Fraksi PKB, ini kalau pihak DPR akan terlambat kehilangan
momentum pasar sudah, sehingga ditambahkan pada alternatif satu itu kalau
bisa "dalam keadaan tertentu itu dalam keadaan mendesak". Kalau Fraksi
TNI/POLRI ini memang di luar kondisi yang di luar ayat (1 ), ayat (2), ayat
(3), jadi memang di luar dari perencanaan. Jadi tetap alternatif satu
menambahkan "dalam hal tertentu di luar perencanaan" atau apalah kalimatnya
yang nadanya seperti itu. Jadi kalau Fraksi PDI Perjuangan sebetulnya
mekanismenya, ya DPR itu sudah baku, baik anggaran maupun Komisi dan
lain sebagainya. Jadi kalau bisa di altematifkedua, ini yang saya tangkap. Jadi
pada dasamya ini kita inikan dulu yang ke 4 ini, apakah ini betul yang dikatakan
Fraksi Golkar ini termasuk dalam perencaaan atau ini di luar perencanaan
seperti Fraksi TNI/POLRI. Kalau kita menemukan itu mungkin bisajalan itu,
sehingga itu memang kalau di luar perencanaannya bagaimana, ada yang bilang
ke Pimpinan saja, ada yang ke Komisi IX, ada Panitia Anggaran, mungkin
tinggal di situ kita diskusinya, untung ruginya bagaimana supaya lebih cepat.
ANGGOTA F. PDIP (WILLEIM M. TUTUARIMA, S.H) :
Pak Ketua, saya ingin memperjelas kira-kira logika kita.
Pertama, di pasal ini kita akan mengatur bahwa setiap surat utang itu
kan mekanismenya haras melalui DPR. Jadi itu sudah disebut perencanaan
menurutPakAzhartadi, dimasukkan dalamAPBN. Sekarangtimbul persoalan,
kalau terjadi perbedaan angka terhadap fluktuasi tadi yang disebut itu, kan di
luar konteksnya pasti nilai bersihnya berbeda ini, itu mau ditampung di mana,
itu saja kira-kira. Apakah pasal ini kena untuk menampung itu atau kita
membuat pasal bara, katakanlah kalimatnya tidak seperti ini. Memang kalau
kita membaca pasal ini Pak Anggito ya, ini seolah-olah kalau dalam hukum
fiqih ini mungkin kan munasah mengasah ini. Jadi ketentuan yang sudah baku
itu dibatalkan oleh ini. Maka "tertentu" ini kan tidakjelas, "tertentu" ini kan
hanya penjelasan, seperti itu. Jadi kira-kira bagaimana kalau di batang tubuhnya
ini dijelaskan langsung begitu. "Dalam hal tertentu", akibat perubahan suku
bunga, kurs rupiah a tau pasar, kan begitu ya Pak Anggito. Itu mungkin lebih
jelas begitu. Selama pasal ini kontradiktif, persepsi kita di floor memang seperti
ini. Jadi ini Pasal yang bertempur yang satu mekanismenya ditempuh di awal,
yang ini boleh dibelakang. Ini persoalannya PakAnggito.
KETUA RAPAT :
Baik, saya persilakan Pemerintah.
Dari masukan-masukan ternan-ternan semua.
STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM (DR, ANGGITO
ABIMANYU):
Terima kasih Pak Ketua,
Saya kira ada baiknya kita mengidentifikasi faktor-faktor apa yang
mempengaruhi adanya selisih tadi deviasi. Apakah itu memang di luar
kemampuan Pemerintah untuk merencanakan ataukah itu memang karena
akibat dari sebuah kebijakan.
Pertama adalah kurs, minggu lalu terjadi 90 point deprvesiasi, itu kan
bukan Pemerintah, itu kan karena faktor global dan lain sebagainya. Kalau
pada waktu itu kita haras bayar yang jatuh tempo, bunga, dan sebagainya
dalam dollar misalnya di dominasinya, itu kantidak bisa dihindari bahwa
kita harus bayar denga kurs yang ada ataupun dengan suku bunga yang ada.
Nah apakah kami harus ke DPR untuk melaporkan Bapak-bapak sekalian,
kita minta ijin kalau ada deviasi ini.
Ada perubahan dalam suku bunga, lelang SBI menghasilkan angka yang
sekian karena keadaan tertentu atau, sisi lain misalnya dari sisi APBN
penerimaan pajak tidak masuk untuk membayar dengan kemampuan dalam
negeri karena banjir dan sebagainya, itu hal-hal yang mendesak. Nah apakah
hal seperti itu yang memang mendesak betul, memang di luar kontrol
Karena pertimbangan kondisi dan perkembangan pasar, sehingga absorsi
dari pasar untuk membeli kembali obligasi, itu tidak ada kemampuannya.
Makanya Pak Ketua, kalau boleh, memang kalau kita ingin menajamkan,
bagaimana kalau kita menajamkan penjelasannya Pak, supaya kita betul-betul
memahami apa yang kita sebut sebagai "hal-hal tertentu" itu. Yang di dalam
altematif kedua di sebut sebagai "hal-hal tertentu yang sangat mendesak,
yang di luar kemampuan Pemerintah, di luar kemampuan ekonomi untuk bisa
memperencanakan sebelumnya". Intensinyajelas, realisasinya itu bisa sesuai
dengan perencanaan tetapi kalau perencanaannya itu meleset atau realisasinya
meleset dari perencanaan dan itu di luar kemampuan Pemerintah, nah apakah
kami hams datang ke DPR untuk minta ij in menerbitkan sesuatu yang melebihi
? Kalau ada bagaimana mekanismenya Pak ? Alternatif dua itu memang
waktu itu Pak Darmin sudah mencoba ke sana tetapi bagaimana mekanisme
persetujuan terlebih dahulu itu kalau misalnya reses. Kalau pada hari-hari
terakhir hari Minggu, Senin harus di bayar dan hal-hal yang mendesak seperti
itu.
Demikian Pak Ketua.
KETUA RAPAT :
Kira-kira butuh penjelasannya bagaimana perubahannya itu, di mana
letaknya, terus dimana perubahannya atau klausulnya di itu kan dulu, ada
nuansa apa itu sangat mendesak dalam hal tertentu, sangat mendesak, di luar
perencanaan.
Bagaimana.
STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM (DR, ANGGITO
ABIMANYU):
Kalau kita kembali kepada batang tubuhnya dulu nanti kita tambahkan
dengan "hal-hal tertentu yang sangat mendesak" tetapi pada alternatif satu
kalau kita defmisikan apa yang di sebut sebagai hal-hal yang mendesak itu
yang itu di luar di luar kemampuan perencanaan. Kalau kita defmisikan. Seperti
misalnya begini Pak Ketua, gaj i pegawai luar negeri itu dalam dollar sedangkan
APBN dalam rupiah, kan tetap harus dibayar kalau misalnya kursnya itu
tiba-tiba merosot. Nah apakah kalau pembayaran gaji seperti itu harus ke DPR,
kan tidak ? Tetapi itu hal yang mendesak, betul-betul mendesak. Kalau saya
usulkan itu alternatif satu tambah dengan "hal yang mendesak" lalu kita
tajamkan di dalam penjelasannya itu seperti apa.
Demikian Pak Ketua, terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik
ANGGOTA F. KKI (F.X. SOEMITRO) :
Maaf saya datang terlambat, mungkin tidak mengikuti masalah tetapi
saya akan masuk cun in kedalamnya ya. Sebetulnya kita ini membuat Surat
Utang Negara, pengertian surat utang itu pemahaman saya adalah termasuk
bunga, termasuk biaya apapun yang ada di dalamnya yang timbul karena
surat utang itu. Sehingga saya kaget waktu saya membaca persetujuan ada
yang diberikan nilai bersih namun disapu dulu baru bersih. Ya namanya surat
utang ada nilai bersih, nilai kotor, itu yang bersih itu yang bagaimana, yang
kotor bagaimana, karena surat utang itu ya pokok, bunga dan apapunnya ada
yang ada di situ akibat munculnya surat utang.
Sehingga muncul hal-hal tertentu ini ada persetujuan, sehingga ada muncul
hal-hal tertentu ini, akhimya apa? Saya tidak akan yakin bahwa itu bisa selesai.
Karena apa? Perdebatannya akan panjang, masing-masing tidak salah dan
masing-masingjuga tidak benar. Karena apa? Karena kita keluar dari ivoridor
ini, katakan saja saya sebagai pengamat mungkin atau mungkin sebagai kritisi
yang datang dari belakang.
Jadi menurut saya, saya tidak merubah apa yang ada ini tetap, karena ini
sudah disetujui, silakan. Hanya yang ayat (4) "Dalam hal tertentu Menteri
dapat menerbitkan Surat Utang Negara melebihi", ya ini "dalam hal tertentu"
ini apa ? Karena saya baca tidak ada kaitannya dengan Pasal 7, karena Pasal
7 itu "bahwa penerbitan Surat Utang Negara harus terlebih dahulu mendapat
persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Persetujuan diberikan dalam
rangka nilai bersih negara". Ya okelah nilai bersih negara, silakan yang akan
sudah-r. Menurut saya ini isltilahnya statement yang berkelebihan saja, menurut
saya. "Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud
diberikan dalam pengesahan Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara".
Sebetulnya butir 1 ayat
(1)
dan ayat (3) ini sudah mencakup seluruhnya.
Sekarang "dalam hal tertentu" supaya cepat, "Menteri Keuangan dapat
menerbitkan surat utang dalam hal tertentu'', ini apa? Ini tidak ada hubungannya
dengan ini, kecuali dalam hal tertentu itu tidak dibahas dalam pembahasan
APBN, karena di dalam pembahasanAPBN ayat (3) ini kan sudah di sahkan
Pak, ini tahun ini kita akan mengeluarkan surat utang begini. Ya sudah ketok
palu, selesai. Keluarkan saja, di luar itu ada misalnya, itu nanti bahasanya di
APBN Pak,. bahasanya di APBN, karena surat utang itu bagian dari pada
APBN. Mengapa bagian dariAPBN, itu buktinya disahkan diAPBN. Kan di
dalam deviasi di dalam APBN kan terjadi Pak itu, itu pembahasannya di
perubahan-perubahan itu nanti,jadi tidak di sini.
Jadi menurut saya ayat ( 4) itu tidak perlu, karena terjadi hal tertentu
karena kaitannya dengan APBN akan lapor kepada Panitia Anggaran bukan
di Komisi IX. Jadi kembali saya mengatakan bahwa ayat (4) menurut saya
tidak perlu Pak, malah nanti dalam pelaksanaannya akan rancu. Seperti
sekarang Komisi I meminta ini kepada Komisi IX, hancur Pak, yaitu antara
lainrancu.
Terima kasih Pak,
Kalau saya mungkin agak bagaimana, saya minta maafya, karena saya
datang belakang tetapi pemahaman sayajustru Pasal 7 ayat (1). (2), (3) ini
sudah lengkap. Sehingga kalau pun apa terjadi perubahan maka kita larinya di
PanitiaAnggaran sehingga Pemerintah tidak bingungjuga, karena surat utang
ini bagian dari APBN setiap tahun.
Terima kasih, saya kira itu Pak.
KETUA RAPAT :
Silakan.
ANGGOTA F.TNI/POLRI (R, SULISTYADI, SIP,. M.M ) :
Interupsi,
Pak Soemitro,jadi untuk pemahaman kami semuajuga, kalau misalnya
Bapak katanya sebagai pengamat, apakah "hal-hal tertentu" yang dijelaskan
di sini ini bisa memberikan penjelasan lebih lanjut apa yang Bapak tadi
sampaikan di sini. "Hal-hal tertentu" yang disampaikan Pemerintah di sini,
apakah ini bisa diterima dalam defmisi ayat (4) ini sesuai penjelasan Bapak
tadi.
KETUAA RAPAT :
Sialan Pak Mitro.
ANGGOTA F. KKI (F.X. SOEMITRO) :
Tadi begini Pak, sepintas tetapi saya sudah mendalam. Membaca Pasal
7, bahkan tadi saya katakan sebetulnya ayat (2) ini kelebihan tetapi tidak
apa-apa toh itu sudah disepakati, tidak menyentuhjuga masalah yang lain, tidak
menimbulkan kerancuan bagi saya tidak ada masalah.
Ayat ( 1 ), (2), (3 ), ini menurut saya sudah lengkap dan untuk apa ditambahi
ayat ( 4 ), masalahnya itu Pak. Menurut say a ayat ( 4) ini akan menimbulkan
suatu permasalahan tersendiri. Masalahnya apa? Kita bisa bicara "dalam
hal-hal tertentu". ltu kan nanti defmisinya macam-macam, hal-hal apa yang
dimaksud itu tetapi yang dimaksudkan tadi kan ada cost major, dan segala
macam itu. Padahal kalau kita tidak sebutkan itu, cost major itu ada ketentuan
Undang-undang tersendiri dalam hal apa terjadi cost major itu siapa
tanggungjawabnya, tidak perlu diatur di sini. Ini masalahnya, karena kalau kita
makin menjelimet dan melupakan ketentuan yang lain, Undang-undang atau
peraturan apapuH yang lain, yang terkait dengan ini, seakan-akan kita akan
membuat suatu istilahnya pager-pager yang ini malah kita agak susah.
Itu cara pemikiran saya itu.
Saya kira itu Pak, terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, silakan Pak Azhar.
ANGGOTA F. PG ( DRS. H. AZHAR MUCHLIS) :
(Rekarnan tidak jelas)
KETUA RAPAT :
Silakan Pak Muchtar
ANGGOTA F. KB ( H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi) :
(Rekaman tidak jelas)
Kalau tidak salah alasan Pemerintah bahwa "hal tertentu" ini seandainya
satu proyek akan dilakukan tetapi sudah habis anggaran namun kalau proyek
dilakukan ini hams mungkin biaya tinggi, mungkin itu yang dimaksud tetapi ini
barngkali ada penjelasan. Apakah nanti di dalam Perubahan kita lakukan
perubahan, apakah memang proyek ini yang kita lakukan ini memang sudah
dilihat umpamanya dilihat time schedule waktunya, apa dengan biaya tetapi
kalau tidak salah -Pak Dani, saya tidak salah sangka memberikan penjelasan
bahwa hal ini kalau tidak dilakukan ini maka proyek akan terbekalai atau apa.
ltu mungkin tetapi saya minta Pemerintah memberikan penjelasan. Yang lain
saya kira itu sama dengan saya.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, silakan Fraksi Reformasi.
ANGGOTA F. REFORMASI
(H.
SYAMSUL BALD A, S.E, MBA,
M.M., MSc) :
Terima kasih Pak Sudirman,
Jadi sebenamya dari apa yang disampaikan oleh Pak Sumitro dan tadi
Pak Nu'man, kita bisa mengambil alternatiftengah. Jadi kalau memang Pak
Sumitro tadi mengusulkan agar ayat ( 4) di Pasal 7 dihapus, nanti yang terkait
dengan "hal-hal tertentu" itu dibicarakan di Perubahan, itu juga bisa, tetapi
kalau mau lebih diperjelas bahwa di pasal ini ditambah ayat "dalam hal-hal
tertentu", itu nanti kita pertajam saja dalam Penjelasan Pak. Ini bukan dalam
hukum kaidah fi'qih bukan kata Pak Nu'man, dinasah tidak, ini istinai'iyah
artinya pengecualian bukan nasah.
Jadi ada di dalam kaidah-kaidah hukum seperti itu
pengecualian-pengecualian, yang itu nanti bisa diatur di Penjelaskan atau di Perubahan. Di
sini cukup dicantumkan "dalam hal-hal tertentu" ini ada pengecualian, itu
dibahas secara lebih detail di Penjelasan atau nanti di Perubahan. Kalau ini
kan draft dari Pemerintah awalnya, itu untuk memperjelas apabila ada
pertanyaan dari kalangan awam maka muncul hal yang seperti ini terjadi,
bagaimana? Itu terjawab pasti di ayat (4), nanti di Penjelasan akan dibuat
secara defmitif batasan-batasan "hal tertentu" itu seperti apa saja. Ini yang
tampaknya kita bisa mengakomodir dua pendapat tadi Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Ada lagi?
Silakan Pak Nu'man.
ANGGOTA F. PPP (DRS. H.
NU'MAN
ABDUL HAKIM) :
Apa yang disampaikan Pak Mitro tadi sebetulnya, apa yang Fraksi PPP
dan Fraksi PDI P katakan, termasukjuga dukungan dari Fraksi Golkar, dihapus
begitu. Karena memang kalaua di tanya seperti Pak Muchar tadi. Sekarang
kita sudah maju sebetulnya, kita sudah mengakomodir adanya perkembangan
yang tadi disampaikan oleh Pemerintah, bahwa kita mengakomdasikan
kemungkinan terjadinya*perbedaan, deviasi karena akibat fluktuasi bunga
ataupunjuga dari kurs. Ini pernah terjadi dalam praktek ketika bunga obligasi
dalam RPBN itu melebihi pagu yang sudah direncanakan. Apa yang
disampaikan Pak Azhar itu memang betul, sejujurnya memang Perubahan.
Waktu itu ditetapkan angkanya 50 sekian, kemudian karena SBI-nya naik
kemudian kita bayar 60 sekian, artinya memang ini pagu kredit. lni ternyarta
disetuju di Perubahan Anggaran walaupun, sudah dilakukan. Apa itu yang
kira-kira modelnya bahwa bukan dilaporkan tetapi disetujui pada forum. Hanya
kalau kata "dilaporkan" istilahnya itu kurang bagus, yang satu prinsipnya mesti
"dengan persetujuan" tetapi ketika ada hal-hal yang katakanlah emergency,
"dilaporkan" begitu sehingga kurang bagus bahasanya. Jadi itulah kira-kira
kalimat pertama yang "dilaporkan" bagaimana bahasanya, yang kedua
penjelasan itu secara definitifharas lebih tegas.
Begitu saja kira-kira saya mengakomodir pikiran saya yang tadinya
dihapus kearah pembuatan pasal ini.
KETUA RAPAT :
Silakan Fraksi Partai Golkar Pak Ari Tonang.
ANGGOTA F. PG (ARI TONANG) :
(Rekaman tidak jelas)
... semua perkecualian atau yang bisa terjadi, jadi itu saja
persoalannya yang saya
melihat tetapi kemudian juga batasan itu sebatas mana, melebihi nilai
bersih maksimal itu sebatas apa yang bisa kita sepakati. Apa 20 kali lipat yang
sepkatan kita boleh, apa 100 kali atau kita bebaskan saja, itu hanya
persoalan kesepakatan saja tetapi harus ada batasan itu kalau tidak nampaknya
akan menjadi apa yang kita rumuskan di Pasal 1 menjadi buyes, itu saja Pak
Ketua, dan itu terserah kita di forum ini tetapi Pak Mitro itu memang Pemerintah
butuh itu. Karena tidak selalu nanti menunggu pembahasan Perubahan di Panitia
Anggaran tahu-tahu sudah terjadi perubahan sehingga mereka tidak bisa
mengambillangkah-langkah. ltu persoalannya memang pengecualian yang
disebut Pak Samsul Balda, barangkali itu Pak Mitro. Jangan bantah dulu Pak
Mitro, saya sudah takut sekali Bapak Sumitro beraksi.
Barangkali hanya itu saja Ketua dan terima kasih.
ANGGOTA FKKI (F.X. SOEMITRO) :
Interupsi Pak Ketua,
Saya bukan soal memaksa, saya justru kern bali dari apa kalau kemarin
saya ketemu ternan saya sebagai ilmuwan, saya di sini juga mencoba
bagaiamana pendapat atau pemikiran seorang ilmuwan. Saya melihat negara
jangan dianggap sebagai PT. (Perseroan Terbatas), jangan pula dianggap
sebagai bukan kekuasaan begitu, ya yayasan dan segala macam. Sehingga
setiap saat negara itu melakukan equip treatment,jangan seperti pedagang, itu
hancur itu. Seperti perhitungan obligasi utang menjadi sekian ribu trilyun, hancur
itu sampai anak cucu sampai turunan berapa itu membayar utang, utang pakai
apa membayanya. Ini karena bahwa pemikirannya ini memang pemikiran
pedagang, bukan kita ini sebagai negarawan atau kita tidak berpikir sebagai
seorang negarawan. Obligasi yang diterbitkan negara itu berbeda dengan
obligasi yang diterbitkan oleh Perseroan Terbatas. Karena negara itu hanya
menerbitkan obligasi dalam hal untuk keperluan umum, dalam arti
penyelenggaraan negara, bukan dalam arti dagang. Tetapi kalau perseroan
terbatas atau istilahnya PT, dia menerbitkan surat utang dalam arti untuk
pedagang sebagai transaksi dagang, bagaimana dia melihat keuntungan itu.
Oleh karena itu, kalau dikaitkan dengan misalnya, kita pemah terjadi kan obligasi
yang, ada dua obligasi yang diterima, kita lihat pertama dengan fixed rate
yang kedua kemudian dengan variabel rate lalu dirubah kasihan dong dia.
Kenapa rakyat tidak dikasihani, rakyat yang disuruh membayar utang tidak
ditanya dulu, setuju tidak kalau ini kita rubah supaya kamu tambah babak
belur. Coba ini kan rakyat tambah babak belur kalau utangnya niakin tinggi.
Padahal ini dalam penyelenggaraan negara, waktu itu mengamankan, iya kan.
Sekedar negara mengeluarkan penjaminan saja untuk mengamankan asset,
tetapi yang diamankan masih merasa kurang puas kalau tidak menginjak-injak
rakyat. Susah Pak. Oleh karena itu saya katakan dalam hal terjadi tertentu
"maka Pemerintah nanti akan merubah terus Pak., tanpa persetujuan DPR
ya kita sudah memberikan legitimate you ubah sesuai dengan apapun yang
kamu kehendaki, tidak bisa Pak, kita menyelenggarakan negara, APBN itu
bagian dari pada penyelenggaraan negara. Oleh karena itu saya terserah
disetujui apa tidak, saya tidak akan mengotot. Bagi saya ayat ( 4) ini memberikan
peluang banyak yang negatif, seperti contoh tadi yang sudah pernah terjadi.
Saya kira kita ubah variabel yang* teiak-teriak rakyat, utangnya makin
tinggi pembangunan malah makin kurang, karena dengan perubahan itu berapa
trilyun kita hams membayar, ini masalahnya. Jadi mereka korban, masih untung
dia diselamatkan dulu kalau tidak dia sudah han cur.
Itu pemikiran saya, kita harus menyikapi bahwa surat obligasi ini adalah
bukan barang dagangan
tetapi
m1
negara
menerbitkan
karena
keperluan
negara
dalam
rangka menyelenggarakan ketatanegaraan
kehidupan kita bemegara, berbangsa. Jadi beda, kita harus pisahkan dengan
seandaikannya PT, di dalam perjanjian saya biasa menyusun perjanjian di
perseroan terbatas. Kalau ada begini bisa dirubah, equip treatment Pak, terus
karena apa
?
Dagang, ini negara Pak bukan pedagang, ini penguasa dalam
hal terntentu terpaksa dia mengeluarkan surat utang untuk menyelamatkan
bangsanya, bukan surat utang untuk menghancurkannya bangsanya Pak.
Saya kira itu Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Silakan
F.
PBB
ANGGOTA F. PBB (H. M. KABAN, SE, Msi) :
Saya pikir pembicaraan tentang Pasal 7 ayat ( 4) dari beberapa tanggapan
tadi, ada beberapa hal memang kita perlu cari titik persamaan.
Pertama, bahwa kita perlu mencari sebuah kesepakatan, apakah
"hal-hal tertentu" itu kita sepakati karena titik krusialnya di sana. Apakah kita
dapat mengakui atau menyetujui bahwa ada situasi-situasi tertentu yang
memang dapat dijadikan sebagai terkecualian.
Yang kedua, kitajuga perlu mempertimbangkan bahwa dengan adanya
ayat ( 4) ini, j angan sampai Pemerintah itu menj adi membuat keputusan itu
sembarangan. Karena ada peluang lalu membuat keputusan-keputusan
sehingga timbul kesewenang-wenangan yang pada akhimya menimbulkan
beban berkepanjangan bagi rakyat. Jadi mesti ada batasan-batasan tertentu.
Kemudian yang ketiga, karena proses persetujuan ini harus ada
persetujuan dari DPR, maka saya kira "dalam hal-hal tertentu" itu pun tetap
di dalam kendali DPR juga. Saya melihat kalau memang kita bisa
mengakomodir pikiran tentang ayat ( 4) ini, di sini kan ada beberapa altematif
rumusan yang dapat kitajadikan sebagai rujukan. Kalau memang dalam rangka
menjaga Pemerintah jangan sampai Pemerintah terlalu sewenang-wenang
membuat keputusan itu ketika akan membuat surat utang, kenapa misalnya
dibuat rumusannya saja. Jadi tetap dia dibawah pengawasan yang ketat dari
DPR, misalnya dalam "hal tertentu dengan persetujuan DPR", maka itu baru
ada kesempatan. J adi tidak seperti yang altematif satu, kalau alternatif satu
itu kelihatannya Pemerintah lakukan bam dilaporkan kemudian minta disetujui.
Sementara tadi pemikiran berkembang adalah "Dengan persetujuan
Dewan hal-hal tertentu itu kemudian dapat dilakukan perubahan dalam
Anggaran Perubahan. Jadi ada mekanismenya.
Jadi saya kira kita lihat saja dari altematif-altematif ini mana yang kita
bisa bertemu pemikirannya begitu. Kami cenderung pada altematif yang ketiga
itu misalnya "Dalam hal tertentu dengan persetujuan Dewan" misalnya. Jadi
ada sedikit perbaikan, kalau ditangkap dari pemikiran-pemikiran yang
berkembaiig itu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Ada lagi?
Silakan PakAbdullah.
ANGGOTA F. PDU ( DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI ) :
Terima kasih Saudara Ketua.
Saya mempunyai pendapat bahwa pertama kita juga memahami
terhadap jalan pikiran Pak Mitro adanya suatu kekhawatiran Pemerintah di
dalam mengeluarkan surat utang ini seenaknya karena di sini diberikan peluang
untuk berbuat seperti itu tetapi juga kita, saya, artinya memahami juga
Pemerintah ada hal-hal yang tentu tidak bisa diabaikan. Tentunya dalam hal
ini Pemerintah menjelaskan hal-hal tertentu seperti apa. Itu yang pertama.
Tentunya kita juga akan membuat suatu koridor yangjelas melalui persetujuan
Dewan sebagaimana tadi kawan saya Pak Kahan menyampaikan dengan
masalah koridor ini, di awal dengan persetujuan Dewan maka tentunya
Pemerintah tidak seenaknya untuk menjawab kekhawatiran tadi.
Kemudian mengenai masalah melebihi nilai bersih ini, batasan apa, seperti
apa itujuga oleh Pemerintah dijelaskan kepada kita di dalam penjelasan nanti
untuk mencarijalan keluar. Kita gabungkan pikiran ini kekhawatiran dengan
kesempatan yang diberikan kepada Pemerintah untuk melakukan hal-hal
tertentu mencari formulasi yang terbaik. Saya melihat kalau seandainya hal
ini kita buat di dalam formulasi ada alternatifyang ketiga memang ini benar,
saya menyetujui dengan persetujuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Surat
Utang Negara dapat diterbitkan melebihi nilai bersih maksimal yang telah
disetujui Dewan. Itulah koridor yang paling penting. Tentu kekawatiran ini
juga akan menghapus semua apa anggapan kekhawatiran kawan-kawan tadi
Pak. Jadi marilah kita persamakan persepsi kita mengenai hal-hal tertentu ini
sehingga kita bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Di satu pihak kekhawatiran
yang disampaikan pikiran oleh Pak Mitro tadi bisa terjawab dengan hal-hal
yang kita lakukan dengan koridor yang jelas bahwa persetujuan Dewan itu
dan juga dengan batasan-batasan apa yang seperti apa, hal-hal seperti apa
mari tuangkan di dalam batang tubuh ini. Nanti penjelasannya ini akan lebih
jelas di dalam penjelasan tadi.
Terima kasih Saudara Ketua, tetapi saya tetap mengharapkan bahwa itu
adanya Pasal ini.
Terima kasih.
ANGGOTA F. KKI ( F.X. SOEMITRO ) :
Sorry ya, saya agak sedikit saja.
Pertama, sebetulnya saya tidak khawatir kepada Pemerintah justru
Pemerintah harus bijak dan arif, karena apa? Kita lihat pro filling terhadap
obligasi yang sekarang terjadi karena apa, Pemerintah tidak serius menangani
masalah obligasi. Assetnya dijual murah karena dia pikir obligasinya bisa diatur
nanti, tanggal disparitasnya a tau tanggal judge-nya majority-nya hi sa diatur,
asetnya dilelang murah-murahan saja semuanya, ya hancur-hancuran lah. Ya
kan? Andaikata obligasi itu dipaksakan, istilahnya pada saat majority harus
dibayar Pemerintah tidak akan melakukan seperti sekarang Pak. Yang rugi
siapa? Rakyat lagi Pak, rakyat yang lebih merugi Pak. Tadi pagi saya
membaca koran jangan-jangan PPN untuk penjualan lelang yang di BPPN
lolosjuga, berapa trilyun pajaknya itu, 10% Iho, banyakjangan-jangan lolos
lagi, Inikan kacau Pak karena apa? Obligasi ini diatur tanggaljudge-nya lagi,
kok bingung. Ya kan? Pemerintah justru sekarang ini sempat saatnya untuk
bagaimana dia sebagai Pemerintah yang arif dan bijak yang bisa
menyelamatkan kepentingan rakyat termasuk menyelamatkan aset-aset yang
milik dari negara pemilik rakyat itu. Jadi tidak gampang Pak karena apa? Di
dalam bisnis, saya menggeluti bisnis selama 30 tahun sepanjang itu masih bisa
diatur "ah gampang, itu nanti kita atur sekarang begini dulu" tetapi pada saat
itu dikunci, tidak bisa baru akan jungkir balik Pak. Bagaimana mengatasi
masalah itu. Kembali kepada ini negara Pak, ini negara Pak. Kita
menyelenggarakan negara Pak. Ini masalahnya. Jadi saya melihat Pemerintah
jangan tuduhkan bahwa saya tidak memberi peluang kepada Pemerintah.
Pemerintah tidak dimasukkan ini. Tiap perubahanAPBN juga bisa cerita kok
tetapi kalau ini sudah dimasukkan disitu, itu akan memberikan moral-moral
obligation atau katakan memberikan psikologis bahwa "ah gampang itu kita
boleh kok terjadi sesuatu bisa kita rubah kok, ya udah kita rubah saja. ini
jangan-jangan." Kalau kita mengatur negara dengan begitu kan kapan kita
bisa menikmati negara ini negara yang bagus. Sulit Pak.
Saya kira itu Pak.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, saya ingatkan di tata cara
> pembahasan kita diberi kesempatan 2
putaran maksimal 3 putaran. Sekarang sudah melebihi 3 putaran. Namun
demikian karena ini untuk kebaikan bersama, silakan Pak Poltak masih ada?
ANGGOTA F. PDIP ( DRS. POLTAK SITORUS ) :
Terima kasih Pimpinan,
Saya pikir kita memasuki pembahasan tentang Rancangan
Undang-Undang tentang Surat Utang Negara ini adalah di dalam rangka kita memahami
bahwa pengelolaan utang • negara sekarang itu memang sangat diperlukan
ada satu payung dari Pemerintah. Akan tetapi adalah satu hal yang masih
menjadi pertanyaan kita mengapa di dalam rangka pengelolaan utang negara
ini Pemerintah masih tidak melihat sesuatu kebutuhan kita bahwa kita memang
tidak mengharapkan atau memikirkan satu kemudahan-kemudahan
dalam rangka menyelesaikan suatu masalah. Memang kondisi kita
memerlukan kerja keras sebenarnya antara lain kita kemukakan adalah bahwa
memang persoalan-persoalan ini kan kita tidak bisa menyelesaikan tanpa
memborong perekonomian kita lebih membaik. Saya juga masih melihat bahwa
pasal-pasal yang kita sepakati sebenamya sudah menampung kebutuhan yang
diberikan oleh Pemerintah. Akan tetapi satu hal memang kita pertanyakan
mengapa Pemerintah cenderung meminta hal-hal yang lebih longgar
sementara kita tabu bahwa persoalan pengelolaan utang negara ini dalam
konteks persetujuan kita dalam APBN itu berbeda dengan pengelolaan
penerimaan negara yang kita bicarakan dalam APBN Perubahan. Ini sangat
berbeda. Ini memerlukan pengelolaan yang betul-betul sangat direncanakan
oleh Pemerintah di dalam penerbitan Surat Utang Negara itu. Oleh karena itu
sebenamya Pasal 7 ayat (1 ), (2), dan (3) itu cukup memberikan payung. Nah
persoalaannya dalam hal tertentu mengapa kita harus masukkan lagi. Pasal 7
ayat (3; sudah memberikan koridor bahwa itu bisa dibicarakan di dalam APBN
Perubahan sehingga tidak diperlukan ada ayat ( 4) ini seperti yang dikemukakan
oleh Pak Mitro tadi itu sebagai satu kebutuhan sementara itu kan kita
memberikan begitu mudahnya nanti kita mengelola Surat Utang Negara ini
kalau untuk mengatasi persoalan-persoalan APBN kita.
Oleh karena itu Pimpinan, kami dari Fraksi PDIP masih melihat di dalam
Pasal 7 ayat ( 4) ini kami mengusulkan dalam konteks ya Pak karena kami tadi
menganggap Surat Utang Negara itu diterbitkan hanya hal-hal yang mendesak
tetapikan inikan persolannya bahkan kami tadinya melihat ini tidak usah kita
persoalkan yang lalu, yang setelah RUU SUN ini tetapi inikan tidak mungkin
karena kita sudah menerbitkan obligasi dalam rangka pengelolaan utang negara
kita.
Oleh karena itu begitulah Pimpinan yang kami harapkan tolonglah di sini.
Ini kita minta Pemerintah. Apa yang dikemukakan oleh Pak Joni itu betul ariflah
sehingga dengan demikian, ini juga dalam rangka fungsi pengawasan kita Pak
sebenarnya. Kalau ini begitu longgar ya berarti fungsi pengawasan dari DPR
inijuga karena memang segala sesuatunyajuga kalau kinerja kita Pemerintah
misalnya dituntut j adi bisa diatasi dengan soal ini begitukan. ltu begitu
persoalannya. Memang kita jalan apa adanya kalau ada masalah negara ini
bisa diatasi dengan Pasal 7 ayat ( 4) ini tetapi marilah kita Pemerintah kita
mengajak persoalan-persoalan dalam penyelenggaraan negara kita ini memang
memerlukan penanganan dalam konteks bahwa peningkatan perekonomian
itulah yang paling bisa menyelesaikan persolan-persoalan utang kita bukan
hanya sekedar persoalan menyelesaikan obligasi.
Terima kasih Pimpinan.
ANGGOTA F. PDU (DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI ) :
Saya setuju dengan keterangan Pemerintah tetapi pembatasan itu
mengenai hal-hal tertentu itu seperti apa, kemudian niiai bersih itu bagaimana
sehingga kita memberikan suatu wawasan untuk menentukan sikap kita tetapi
saya tetap mengharapkan bahwa pasal ini tetap ada.
Terima kasih.
ANGGOTA F. TNIIPOLRI ( R. SULISTYADI, SIP., M.M. ) :
Jadi pemahaman kami okelah Surat Utang Negara ini bagian dariAPBN.
Yang sudah diputuskan oleh DPR dan disetujui DPR. Kemudian dalam
perkembangannya yang dimaksud di sini perubahan ini adalah bukan surat
utang itu lebih dari pokoknya. Jadi yang dimaksud di sini hal-hal tertentu
kalau dia melebihi pokoknya berarti ini penyimpangan, kena Pasal
Penyimpangan. Yang dimaksud di sini pemahaman kami tadi adalah bahwa
fluktuasi karena situasi tertentu tadi yang dijelaskan di sini itulah yang akan
dimasukkan di Pasal ini. Apakah ini harus minta persetujuan DPR. Menurut
pendapat saya karena ini sepanjang tahun terjadinya dan kitajuga mempunyai
kendala masa sidang dan sebagainya. Kami bisa memahami bahasa ini, ini
adalah suatu pasal untuk mengakomodasikan situasi di luar perencanaannya
yang harus diputuskan. Itu pemahaman kami. Oleh karena itu kami
berpendapat alternatif satu ini adalah mengakomodasikan hal-hal yang itu
tadi.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Jadi yang saya tangkap Pemerintah tolong diyakinkan ternan-ternan
karena ada di antara Anggota Panja yang masih mempertanyakan urgensi
dari ayat ( 4) ini. ltu yang pertama.
Yang kedua, temyata penjelasan yang sudah ada itu tidak jelas yang
ditangkap. Jadi belumjelas. Jadi mungkin yang dimaksud dalam hal tertentu
yaitu hal-hal yang mendesak diluar perencanaan seperti akhir tahun ini. Itu
mungkin lebih klop tetapi kalau begini tidak menyambung. N amun yang lebih
penting itu Pemerintah sudah mendengar seluruh pendapat daripadaAnggota
Panja. Silakan ditanggapi.
STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM ( DR. ANGGITO
ABIMANYU):
Terima kasih Pak Ketua.
Angggota yang saya hormati, saya ingin kembali apa yang telah
disampaikan oleh Ketua dan Pak Aritonang dari Fraksi Golkar, apakah ada
kebutuhan Pemerintah untuk mencantumkan ayat (4). Jawabannya ada Pak.
Jadi kami membutuhkan ayat (4) ini. Itu alasan kenapa kami membutuhkan?
Kami ingin mengangkap sebuah dinamika Pak. Dinamika itu ditangkap di ayat
( 4) itu. Kalau kita kembali ke tujuan penerbitan surat utang ini yang sudah kita
sepakati antara lain tujuannya adalah untuk membiayai defisit APBN dan itu
kan dinamis dandefisit APBN itu kan bergerak terus. Tahun ini saja lebih
rendah dari yang direncanakan. Bisajadi lebih tinggi dari yang direncanakan.
Itu tujuan penerbitan surat utang. Jadi ayat (4) ini ingin menangkap sebuah
dinamika yang ada.
Kami sepakat kalau mekanismenya apa untuk menangkap dinamika ini
dengan dinamika AP,BN. Begitu Pak. Nah apakah itu APBN-nya P dibahas
dalam APBN P itulah mekanisme APBN yang ada. Jadi apakah ayat ( 4) ini
didrop saya kira tetap harus ada suatu pencerminan dari bagaimana kita
menggambarkan bahwa kedepan ini dinamis. Itu Pak yang panting sehingga
pasar atau publik itu menangkap itu sebagai soal dinamika dan Pemerintah itu
dan undang-undang ini menjelaskan bahwa ada dinamika yang akan terjadi.
Kalau ada dinamaika itu ditampung di dalam mekanisme APBN Pak. Saya
kira demikian Pak Ketua. Jadi ada kebutuhan dan kami setuju kalau ini
menggunakan mekanisme APBN. Nah bagaimana bentuk penulisannya itu
kita rumuskan bersama sekaligus untuk menangkap usulan Pak Abdullah tadi
tentang menjelaskan hal-hal tertentu tadi itu. Saya megusulkan itu untuk
mempertajam di dalam Penjelasan supaya lebihjelas apayang dimaksud dengan
hal-hal itu, seperti usulan Pak Syamsul tadi supaya ini tertampung di dalam
penjelasan ini supaya lebih pas.
Demikian Pak Ketua. Terima kasih.
ANGGOTA F. KB ( H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi ) :
Jadi bagaimana untuk menjawab kekhawatiran Pak Mitro tadi apabilaada
ayat ( 4) ini.
ANGGOTA F. REFORMAT! (H. SYAMSUL BALD A, S.E, MBA,
MM, MSc):
Bapak Ketua saya kira kekhawatiran Pak Mitro, Pak Mitro itu tidak
mengikuti rapat. Inikan baru ini, kali ini. lnikan wajar karena saya kirajangan
sampai kita mentah lagi.
ANGGOTA F. KB ( H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi ) :
Mungkin pertanyaan Pak Mitro tadi bisa muncul dari kalangan lain juga.
Apakah tidak memungkinkan dengan adanya ayat ini memunculkan secara
tidak sadar Pemerintah kan sudah ada ayat ini. Jadi kurang berhati-hati dalam
mengolah ini. Itu bagaimana menjawab apa yang tadi disampaikan oleh Pak
Mitro.
ANGGOTA F. REFORMASI
(H.
SYAMSUL BALD A, S.E, MBA,
MM, MSc):
Saya kira kita jangan terlalu suudzhon supaya husnudzon. Jadi saya
sebenarnya berpikir mungkin alternatif 3 "Dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Surat Utang Negara dapat dapat diterbitkan lebih nilai maksimal
dan dibahas di dalam pembicaraan APBN."
Saya kira itu Pak.
STAF AHLI MENKEU BlbANG PPM ( DR. ANGGITO
ABIMANYU):
Saya kira semangat kita kan sama Pak Syamsul, kita kan menggunakan
mekanisme APBN. Saya to long dirumuskan bagaimana supaya ayat ini tidak
menimbulkan moral hazard, Pemerintah sewenang-wenang. Tolong
dirumuskan sama-sama untuk semangat kita sama kan Pemerintah tidak akan
menggunakan Pasal ini untuk sewenang-wenang, tetapi bagaimana menangkap
2 hal Pak Samsul, yang pertama mengenai dinamika itu, yang kedua mekanisme
APBN. Kami sepakat-sepakat sekali.
ANGGOTA F. PG ( H. AZHAR MUCHLIS ) :
Ketua, karena ini sudah 3 kali putaran sebaiknya walaupun kita sudah
agak mendekati begitu kita pending dulu apa bisa diselesaikan di sini dengan
rumusan lebih tenang begitu atau nanti kita bawa ke Pansus tetapi pada
hakekatnya memang tadi perbedaannya cukup tajam sejak awal. Waktu itu
FPDIP dengan FPPP ingin hapus, kami mencoba untukadajalan keluartidak
keluar dari rnekanisrne APBN. Ada ternan-ternan dari FPKB-nya Pak
Haris yang agak rnundur, dan rnundur lagi sekarang. Karni kira sesuai dengan
tatanan yang kita anut, kita pending dulu Ketua, tetapi pada hakekatnya sangat
diperlukan ayat itu. Kita rnungkin sudah bisa rnernaharni itu tetapi rurnusannya
ini yang tidak garnpang begitu.
Dernikian Ketua.
ANGGOTA F. PDU (DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI ) :
Saudara Ketua, saya setuju dengan Pendapat Saudara Azhar Muchlis,
rnundur artinya rnundur tidak usah kita bawa ke Pans us hanya internal kita,
kita rurnuskan kernudian kita renungkan bagairnana cara yang terbaik baru
kita putuskan kernbali dalarn Panja ini.
Terirna kasih.
KETUA RAPAT :
Jadi yang saya tangkap dengan pernbicaraan yang tadi itu, sebagian
besar kita dapat rnernaharni yang disarnpaikan Pernerintah dalarn rangka
dinamika, ayat ( 4) ini rnasih diperlukan tetapi rurnusannya perlu dirurnuskan
kernbali. Jadi urgensi ayat ini masih diperlukan.
Yang kedua, di Penjelasan disesuaikan sesuai harapan dari ternan-ternan.
Jadi ini nanti karni persilakan Pemerintah rnerurnuskan, kita lewat saja ini.
ANGGOTA F. PG ( H. AZIL4R MUCHLIS ) :
Pak Ketua, Pemerintah tadi rneminta kita karena sudah menemui
kesulitan Pernerintah tadi, tidak apa-apa karena kita harus bertanggungjawab.
KETUA RAPAT :
Sudahlah, siapa saja yang merurnuskan habis Jurn'at nanti sudah ada
rurnusan apakah dari kita atau dari Pernerintah terserahlah. Saya rasa begitu
ya?
ANGGOTA F. PDIP ( WILLEIM M. TUTUARIMA, S.H ) :
Saya sedikit Pak.
Jadi begini, saya hanya ingin bertanya sebenarnya, karni kembali pada
sikap karni yang bahwa ini sebenarnya keadaan daruratpun sudah diakornodasi
oleh APBN. Sekarang kita juga bisa menyadari ada keadaan-keadaan yang
di luar kemampuan kita itu bisa terjadi. Kalau ayat ini dimasukkan, itu
sebetulnya sudah tercantum, kalau kita sepakat kalau toh masih ke mekanisme
Dewan, itu Pasal 7, ayat ( 1 ), (2 ), dan (3) itu sudah menampung. Apakah kita
mau buat di sini sendiri keadaan darurat itu kita rumuskan, lalu nanti kita bisa
memutuskan. Padahal kita sepakat Surat Utang Negara itu bagian dariAPBN.
ltukan persoalan di situ. Jadi nanti kita akan membuat keuntungan di sini
sendiri kalau itu menyimpang dari APBN juga menjadi persoalan, ada
mekanisme sendiri karena di APBN tadi dikatakan bahwa ada mekanismenya
untuk penyimpangan-penyimpangan seperti itu. Marilah kita carijalan keluar,
saya sepakat. Nanti kita duduk dan bicara lagi.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Jadi nanti ini kita lewati dulu, nanti setelah jum'at kita kembali lagi
pembahasan mengenai Pasal 7 ayat ( 4 ).
Baik, kita sekarang masuk pada Pasal 8 ayat ( 4 ). Di sini "Dalam hal
pembayaran kewajiban bunga dan pokok dimaksud melebihi perkiraan dana
sebagaimana dimaksud ayat (3 ), Menteri melakukan pembayaran dan pelaporan
realisasi pembayaran tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam
pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara."
Alternatif kedua, "Dalam pembayaran kewajiban bunga dan pokok
dimaksud tnelebihi perkiraan dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
Menteri melakukan pembayaran setelah mendapat persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat dalam pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara."
Untuk itu saya minta karena kita sudah mendiskusikan panjang Iebar
pada Rapat Panja yang lalu dan didapatkan 2 alternatif, untuk itu saya
persilakan Pemerintah menyampaikan alternatif mana yang dipilih.
Silakan.
STAF AHLI MENKEU BIDANG PPM ( DR. ANGGITO
ABIMANYU):
Pak Ketua dan Anggota sekalian, kami kalau boleh diij inkan tetap kern bali
kepada usulan Pemerintah yaitu alternatif satu. Yang ini sebetulnya sesuai
dengan semangat yang ada dalam Pasal 7 tadi yaitu "Dalam hal pembayaran
kewaj iban bunga dan pokok melebihi perkiraan Menteri melakukan
pembayaran dan melaporkan realisasinya dalam pembahasan APBN
Perubahan." Jadi prinsipnya kami menggunakan mekanisme APBN seperti
yang sekarang terjadi. Jadi mekanisme APBN-lah yang kita Pakai. Sekali lagi
kalau rumusannya ini memang perlu disempurnakan sesuai dengan pasal yang
tadi kita bahas intinya adalah kami ingin menggunakan mekanisme APBN
dalam perencanaan realisasi maupun pembayarannya.
D em j]zjan P .:im p:inan.