RISALAH RAPAT KERJA KOMISI VIII DPR RI
DENGAN
KEMENTERIAN SOSIAL Tahun Sidang : 2019/2020
Masa Persidangan : III
Jenis Rapat : Rapat Kerja
Hari, Tanggal : Selasa, 7 April 2020
Pukul : 15.00 WIB
Sifat Rapat : Terbuka
Ketua Rapat : H. Yandri Susanto, S.Pt
Sekretaris Rapat : Sigit Bawono Prasetyo, S.Sos., M.Si. (Kabag Sekretariat Komisi VIII DPR RI)
Tempat : Virtual/Ruang Rapat Komisi VIII DPR RI Gedung Nusantara II Lt. 1, Jl. Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta 10270
Acara : 1.Program dan Anggaran dalam menangani dampak sosial dari Covid 19
2.Realokasi Anggaran penanggulangan covid 19
Anggota yang Hadir : 48 dari 52 orang Anggota Komisi VIII DPR RI
PIMPINAN :
1. H. Yandri Susanto, S.Pt. (F-PAN)
2. M. R. Ihsan Yunus, BA., B.Comm., Me.Con (F-PDI Perjuangan)
3. Dr. H. Tb. Ace Hasan Syadzily, M.Si. (F-PG) 4. Laksdya. TNI (Purn) Moekhlas Sidik, MPA.
(F-Partai Gerindra)
5. H. Marwan Dasopang (F-PKB)
ANGGOTA :
FRAKSI PDI PERJUANGAN
6. I Komang Koheri, SE. 7. Diah Pitaloka, S. Sos. M.Si. 8. Selly Andriany Gantina, A.Md. 9. Umar Bashor
10. Ina Ammania
11. Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya 12. I. G. N. Kesuma Kelakan, ST., M.Si. 13. H. Rachmat Hidayat, SH.
14. Matindas J. Rumambi, S. Sos. 15. Drs. Samsu Niang, M.Pd. 16. H. Arwan M. Aras T., S. Kom.
- 2 -
FRAKSI PARTAI GOLKAR
17. H. John Kenedy Azis, SH. 18. Mohammad Saleh, SE.
19. Hj. Itje Siti Dewi Kuraesin, S.Sos., MM. 20. Hj. Endang Maria Astuti, S.Ag., SH., MH. 21. Muhammad Fauzi, SE.
22. Dra. Hj. Idah Syahidah Rusli Habibie, M.H. 23. Muhammad Ali Ridha
FRAKSI PARTAI GERINDRA
24. M.Husni, SE, MM
25. H. Jefri Romdonny, SE., S.Sos., M.Si., MM. 26. Abdul Wachid
27. Drs. H. Zainul Arifin 28. H. Iwan Kurniawan, SH. 29. Drs. H. Saiful Rasyid, MM.
FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT
30. Hj. Lisda Hendrajoni, SE., MM.Tr. 31. Dra. Delmeria
32. Murhadi, S.Pd.
33. Ach. Fadil Muzakki Syah, S.Pd.I. 34. Muhammad Rapsel Ali
FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA
35. H. Maman Imanul Haq 36. Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag. 37. H. An’im Falachuddin Mahrus
FRAKSI PARTAI DEMOKRAT
38. Drs. H. Achmad, M.Si. 39. Harmusa Oktaviani, SE. 40. Wastam, SE., SH.
41. H. Hasani Bin Zuber, S.IP. 42. Ir. Nanang Samodra, KA., M.Sc.
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
43. KH. Bukhori, LC., MA. 44. H. Iskan Qolba Lubis, MA.
45. Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, MA. 46. Hj. Nur Azizah Tamhid, BA., MA.
47. Nurhasan Zaidi, S.Sos.I.
FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL
48. H. Mhd. Asli Chaidir, SH. 49. H. Sungkono
50. M. Ali Taher, SH., M.Hum.
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN
51. KH. Muslich Zainal Abidin 52. H. Iip Miftahul Choiri, S.Pd.I.
Anggota yang Izin : 4 orang Anggota Komisi VIII DPR RI
- 3 - JALANNYA RAPAT :
(TIDAK ADA REKAMAN SEBELUMNYA DALAM REKAMAN LIVE) F- PARTAI GOLKAR (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI.):
… pertama tentu saya kira biaya pulsa, yang kedua tentu buat mereka sendiri kalau mahasiswanya berasal dari apa dari kampung ke kota tentu mereka harus kita perhatikan kebutuhan dasar mereka selama mereka berada di Jakarta atau di kota-kota besar selama mereka.
Nah oleh karena itu saya kira Pak Menteri tolong diperhatikan Pak Menteri para pelajar, kalau para pelajar yang masuk dalam PKA artinya akan mendapatkan bantuan dari masuk ke dalam mereka tetapi kalau mahasiswa perguruan tingga masuk di dalam komponen dari PKH. Oleh karena itu tolong dikoordinasikan dengan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Agama ya, mempehatikan terhadap mahasiswa perguruan tinggi.
Nah yang ketiga Pak Menteri, saya agak mempersoalkan soal pola distribusi BLT yang menggunakan apa namanya .. ya ini menurut saya masalah yang dulu pernah kita saksikan dulu waktu era sebelumnya pasti akan terjadi. Belum lagi kita bicara soal bagaimana apa namanya antara jarak PT.Pos yang kebanyakan di kota kecamatan dengan para penerimanya misalnya naik ojek bisa Rp. 100.000, entah Rp. 150.000 jadi percuma. Nah oleh karena itu saya kira kalau datanya sudah lengkap, kalau datanya sudah valid, kalau datanya sudah tepat sasaran saya kira apa yang dilakukan Kementerian Sosial dengan membuat apa ini … pembukaan rekening secara kolektif melalui .. itu bisa dilakukan dengan cash transfer. Tentu ini lebih, karena kita ingin menjaga supaya .. proses dari … PLT tersebut bisa menemukan masalah-masalah baru terutama soal phycycal distancing masyarakat juga jadi persebaran Covid-19 di daerah.
Yang keempat yang terakhir Pak Menteri saya kira penting saya kira tegaskan lagi soal kenapa harus di Jabodetabek saja. Masalah ini bukan hanya terjadi di Jabodetabek saja, oke bahwa sekarang perputaran ekonomi lebih banyak terjadi di Jabodetabek tetapi saya kira penting juga kita untuk memperhatikan daerah-daerah lain. Karena hampir semua persebaran Covid-19 ini bukan hanya di Jabodetabek tetapi juga hampir di seluruh Indonesia kecuali satu saya kira sekarang ini belum tersentuf Propinsi Gorontalo. Kalau yang lain sudah terkena. Oleh karena itu sekalipun beluk kena maka harus ada tindakan pencegahan dengan cara social distancing itu pada saat keluar rumah. Mereka tidak boleh keluar rumah. Pemerintah punya tanggung jawab untuk memberikan perlindungan sosial kepada mereka. Jadi oleh karena itu Pak Menteri tolong juga daerah-daerah dan kalau misalnya ini bisa menimbulkan kecemburuan sosial jadi jangan hanya di Jabodetabek tetapi juga di daerah-daerah yang lain. Dan kalau kita kalau misalnya Jabodetabek saya khawatir ini bisa menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Jadi Pak Menteri saya kiraitu yang penting saya sampaikan juga sebagai komitmen kita untuk menjaga agar program-program Negara itu betul-betul
- 4 -
hadir di tengah masyarakat dan memastikan bahwa mereka itu merasakan. Saya kira itu. Terima kasih assalamualaikum warahmatullah.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Ace. Kami lanjutkan dengan pimpinan lain Pak Ihsan, Pak Moekhlas atau Pak Marwan.
F- PDIP (M. R. IHSAN YUNUS, B.A., B.COMM., M.E.CON):
Oke baik siap. Saya sebentar saja Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Pak Ihsan silakan Pak Ihsan.
F- PDIP (M. R. IHSAN YUNUS, B.A., B.COMM., M.E.CON):
Terima kasih Pak Ketua. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ketua Komisi VIII yang saya hormati dan Para Wakil Ketua.
Anggota Komisi VIII yang saya sayangi dan juga Bapak Menteri senior saya Abang saya Pak Juliari Batubara beserta seluruh jajaran.
Pertama-tama tentu saya ingin sampaikan rasa bahagia kita bersama melihat paparan Pak Menteri yang sudah menimbulkan sebuah harapan di tengah ketidakpastian bagaikan secercah cahaya dalam kegelapan bagaikan telaha di tengah padang pasir dan juga seperti SMS banking di ujung bulan. Ya tapi tentunya yang sudah disampaikan oleh para Anggota Komisi VIII dan Kementerian Sosial bagaikan dua kepak sayap yang tidak bisa dipisahkan. Kalau kita berjalan bersama mengepakan sayap saya yakin dan percaya dia akan terbang tinggi menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Oleh karena itu sinergi antara Komisi VIII dan Kementerian Sosial harus segera direalisasikan Pak Menteri. Dan supaya juga teman-teman tidak SMS dan WhatsApp saya terus.
KETUA RAPAT:
Saya juga saya juga. Bukan ke Pak Ihsan saja banyak SMS.
F- PDIP (M. R. IHSAN YUNUS, B.A., B.COMM., M.E.CON):
Saya dan teman-teman wakil ketua dan ketua. Terus yang kedua Pak Menteri terkait dengan pengadaan barang dalam situasi yang sangat genting
- 5 -
ini saya rasa Kementerian Sosial harus segera melaksanakan apa yang harus dilaksanakan tanpa ragu-ragu agar kebutuhan ini sangat terkait dengan waktu. Dan seperti yang sudah diedarkan oleh pemerintah tentang pengadaan barang, maka sebisa mungkin setiap pengadaan barang dilibatkan LKPP dan juga BPKP Pak Menteri supaya semua nanti tidak menjadi masalah ke belakang.
Yang terakhir saya ingin mengusulkan agar distribusi sembako yang ada di Jabodetabek yang tadi diusulkan untuk juga memakai atau menghidupkan kembali transportasi daerah masing-masing yang sampai saat ini yang sangat meresahkan dan banyak sekali ojek, tukang taksi yang tidak punya kerjaan Pak Menteri. Sampai kita pernah dengar ada yang viral telepon dari seorang tukang taksi yang menangis karena tidak bisa dapet tarikan. Tentunya ini dikarenakan situasi ketaatan masyarakat yang tidak ingin keluar rumah. Jadi Pak Menteri itu yang ingin saya usulkan mudah-mudahan apa yang kita lakukan itu semua diberi kelancaran mendapatkan berkah dan rahmat Allah Yang Mahakuasa terima kasih wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Waalaikumsalam.
F- PARTAI GERINDRA/ WAKIL KETUA (LAKSDYA. TNI (PURN) MOEKHLAS SIDIK, M.P.A.)
Saya Pak.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Moekhas tapi saya perpanjang dulu waktunya. Sekarang sudah jam 5.59 kita perpanjang 18.30 aja ya? Cukup?.
(RAPAT DIPERPANJANG 18.30)
Saya ketok Pak.
F- PARTAI GERINDRA (LAKSDYA. TNI (PURN) MOEKHLAS SIDIK, M.P.A.)
Baik terima kasih Pak assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Yang terhormat Pimpinan Komisi VIII Pak Yandri beserta rekan-rekan sekalian. Bapak Menteri yang saya muliakan beserta seluruh staf dan jajarannya.
Ada empat hal yang kami sampaikan. Yang pertama Bapak tadi menyampaikan pertumbuhan ekonomi kita ekonomi nasional itu ada di angka 2,3. Tapi kalau pada kondisi yang tidak menguntungkan bisa sampai minus
- 6 -
0,2 Pak. Bagaimana langkah-langkah pemerintah ke depan Pak kalau sampai terjadi minus tadi Pak. Itu hal yang pertama. Yang kedua Pak Bapak tadi menyampaikan Dipa Bapak semula 62 triliun diturunkan menjadi 60 triliun dan kemudian ditambah lagi dengan menjadi 80 triliun untuk tiga hal kegiatan yang pertama untuk kesehatan pengamanan sosial yang ketiga insentif perekonomian. Pertanyaan saya Pak tentang anggaran 83 triliun hanya dipakai dalam 3 hal ini dengan urusan Covid 19 atau sampai akhir tahun Pak? Yang ketiga Pak, kami ada keluhan di Dapil saya Pak yaitu karena Dapil kami di sebuah kecamatan ada di kecamatan yang tempat-tempat rekreasi, misalnya banyak restoran, ada lapangan golf, ada lagi tempat-tempat hiburan lokal yang hampir semua pegawainya sudah diberhentikan Pak. Nah bagaimana orang-orang sudah diputus pekerja ini mendaftar lewat mana Pak? Karena struktur di bawah adalah mulai dari RT/RW, ada dusun, ada desa, ada di kecamatan, baru kota atau kabupaten. Dia melapor kemana Pak agar mendapat dana bantuan sosial dari Kemsos Pak?
Yang terakhir yang ke-4 Pak, tentang mudik dan tidak mudik Pak. Jangan sampai pemerintah dapat berubah-ubah keputusannya. Pernah ada keputusan tidak mudik terus pernah boleh terus ada lagi terserah ini kurang tegas pemerintah Pak. Tegas aja karena kalau kita pilih boleh mudik pemerintah mendapat dua persoalan. Persoalan yang pertama adalah Bapak menambah jumlah orang yang kemungkinan terpapar karena datang dari Jakarta. Persoalan tentang orang-orang yang mudik pasti orang sudah kehilangan pekerjaan di pusat kemudian di daerah tidak punya pekerjaan. Oleh karenanya harus menjadi pertimbangan yang tegas pemerintah kalau dilarang ya dilarang agar semua masyarakat kita punya persiapan secara mental. Bahkan tadi secara fisik kalau saya tidak pulang tetap di Jakarta, harus bagaimana, mendaftar kemana, minta bantuannya bagaimana? Dan kami sangat sependapat bahwa yang tadinya 3 bulan atau 2 bulan sekali sekarang menjadi bantuan tiap bulan yang memang terus membantu kepada masyarakat. Demikian Pak. Terima kasih wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Jenderal Moekhlas Sidik yang sudah memberikan pendapatnya terakhir dari meja pimpinan Pak Marwan Dasopang kami persilakan.
F- PKB (H. MARWAN DASOPANG):
Baik terima kasih. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Pak Ketua Yandri Susanto yang kami hormati para Pimpinan, para Anggota, Pak Menteri, Pak Sekjen, Para Dirjen -yang baru dilantik kami ucapkan selamat mengemban tugas-.
Kelihatannya sudah disampaikan oleh para anggota da nada bebberapa catatan yang mungkin kami sampaikan menambahi apa yang
- 7 -
disampaikan oleh para anggota. Pertama kami menyampaikan pujian kami terhadap Pak Menteri yang telah mengambil langkah-langkah penanganan sosial kita. Pak Menteri meminta usulan kepada presiden dalam hal ini persoalan terhadap hal ini. Tetapi menurut catatan kami yang Bapak sampaikan sampai kepada … empat maka rantai miskin ini kemungkinan .. hampir 30 juta. Bahkan dengan kasus ini bisa saja angka kemiskinan diatas 30 juta. Maka kalau sasaran program kita 20 juta BPNT dan 10 juta PPKH bagian dari titik yang sama maka sasaran itu masih jauh. Maka karena itu kami berharap ada evaluasi lagi terhadap data-data kemiskinan kita.
Yang kedua kami mendukung Pak Ace mengenai sasaran paket sembako terhadap masyarakat yang di luar penerima BPNT dan PKH yang berjumlah 7.461.000 lebih ini kalau dilakukan dengan pengiriman lewat pos, kami menganggap ini bertentangan dengan saran kita terhadap masyarakat menjaga jarak. Agak rumit Pak kalau orang berkumpul di kantor pos -penerima ini- sulit kita memberikan arahan untuk menjaga jarak karena itu menurut saya bahwa miskin baru di luar penerima PKH dan BPNT ini orang yang sudah terbiasa punya rekening. Karena itu lebik baik pelaksanaan penyaluran lewat pos ini kurang baik katakana lagi kepada presiden lebih baik disalurkan lewat virtual account.
Yang ketiga sasaran yang disebutkan oleh Pak Menteri yang di dalam program eksternal terhadap relawan-relawan kita sebetulnya di tengah-tengah masyarakat kita sudah ada semacam pelibatan komunitas. Komunitas di luar yang internal kita seperti apa yang selama ini menjadi mitra kita – Tagana, TKSK, guru dan yang lain-lain- boleh juga kita pikirkan seperti apa. Yang berikutnya seperti pertanyaan Pak Moekhlas tadi itu menurut kami miskin baru dalam kategori 7 juta …. kalau terkunci berada di DTKS agak rumit Pak. Maka menurut saya pertanyaan Pak Moekhlas tadi itu kalau ada orang miskin baru kemarin bekerja tidak bekerja mendaftar kemana? Mestinya mendaftarnya ke .. ini. Nah karena itu terbuka kemungkinan 7.461.000 ini bisa dikawal oleh anggota Komisi VIII yang bisa segera kita lakukan. Kami kira ini tambahan Pak, assalamu’alaikum.
KETUA RAPAT:
Baik terima kasih Pak Marwan Dasopang, wakil ketua yang sudah menyampaikan pendapatnya. Kini tibalah waktunya kita untuk mendengarkan menyimak respon ataupun jawaban dari Pak Menteri kepada Pak Menteri Sosial kami persilakan.
MENTERI SOSIAL:
- 8 - KETUA RAPAT:
Tapi sebelumnya kalau nggak di layar berarti saya sholat sebentar Pak Menteri ya.
MENTERI SOSIAL:
Siap Pak Ketua. Terima kasih Pimpinan, Anggota Komisi VIII yang saya hormati, terima kasih dan apresiasi kami atas beberapa tanggapan dan support yang disampaikan oleh para anggota Komisi yang terhormat terhadap Kementerian Sosial tentunya kita disaat-saat yang saat ini memang memerlukan kecepatan penanganan dari pemerintah dan tentunya dengan segala resiko juga. Kami sadar apapun yang kami lakukan sekarang tentunya tidak 100%, tidak ada resiko. Tapi prinsip kami di pemerintah kalau kita terlalu berpikir kepada resikonya dan tidak bisa mengambil 1 langkah keputusan yang cepat dengan segala keterbatasan yang ada, dampak dari pada pandemic global Covid-19 ini akan semakin parah. Ini yang menjadi dasar dari pada beberapa keputusan keputusan dan kebijakan-kebijakan yang kami ambil di mana saat ini hampir bisa dibilang hampir semua pemerintah di seluruh dunia yang terdampak Covid ini tidak ada yang siap menghadapi pandemic global Covid 19 ini.
Kita lihat di Amerika negara paling kaya, negara paling maju, tidak siap. Kita lihat di Itali, di Inggris, di Jerman, di Spanyol itu tingkat mortality nya bahkan semakin cepat. Ini adalah negara-negara yang belasan puluhan kali kemakmurannya di atas Indonesia yang ternyata juga tidak siap. Nah saya kira, saya ingin memberikan 0izin Pimpinan- memberikan jawaban tidak satu-persatu yang teknis-teknis nanti mohon izin kami akan sampaikan secara tertulis.
Mungkin yang saya ingin berikan sekali lagi gambaran adalah saat ini tentunya kalau kami Kementerian Sosial harus bertindak cepat dan relatif ketepatannya bisa dipertanggungjawabkan. Pertama mengenai data kita tidak bisa lari dari data terpadu kesejahteraan sosial. Saya berani jamin bahwa DTKS ini adalah data yang paling akurat yang menyangkut data 40% yang ada di Indonesia. Tidak akan ada data lagi yang saya berani jamin lebih akurat dari data terpadu kesejahteraan sosial. Kami terbuka terhadap semua pihak yang ingin -apa namanya- menyandingkan data yang mereka miliki dengan data yang kami miliki. Ini kami sampaikan karena dari DTKS ini pun seperti PBIJK, kemudian subsidi listrik ini diambil datanya. Bahkan kartu pra kerja nanti pun akan mesinkronkan datanya dengan DTKS.
Jadi itu pertama, yang kedua kami akan sekali lagi memberi penjelasan bahwa yang pertama begitu bencana Covid ini datang yang pertama saya pikirkan pertama yang Kementerian Sosial pikirkan adalah penjaga masyarakat yang daya atau atau penghasilannya yang terbawah dulu. Ini yang ada di PKH dengan program sembako, terlepas dari apa yang disampaikan oleh tadi beberapa anggota yang terhormat mengenai kurang tepat sasaran dan ada permasalahan di lapangan. Ini yang kami lakukan terlebih dahulu. Oleh karena itu pada bulan lalu kami sudah minta agar PKH
- 9 -
pencairan yang menjadi setiap bulan tidak tiap 3 bulan dan ini sudah disetujui dan sudah berjalan. Kemudian dinaikkan indeks untuk program sembako dari Rp150.000 menjadi Rp200.000. Ini kita sudah jalankan ternyata makin kesini dampak daripada Covid-19 ini semakin dahsyat. Oleh karena itu pemerintah kembali mengeluarkan stimulus yang tadi saya sampaikan di awal yang nilainya 405 dimana 110 itu adalah anggaran untuk perlindungan sosial. Namun kalau dilihat lagi 110 yang dianggarkan itu tidak semuanya ada di Kementerian Sosial. Ada juga yang di Kementerian Koordinator Perekonomian untuk kartu pra kerja ada juga untuk diskon listrik, ada juga untuk diskon bunga masyarakat berpenghasilan rendah, ada juga untuk beberapa hal yang lainnya. Yang di 110 itu yang sudah pasti di Kementerian Sosial adalah perluasan program sembako menjadi 20 juta dan juga PKH dari 3 bulan jadi tiap bulan. Kalau ingin mengikuti kemauan saya saya tentunya program sembako saya ingin luaskan apa namanya setinggi mungkin. Tapi tentunya ini tidak mungkin kami lakukan karena kami melihat kementerian lain juga memiliki keperluan-keperluan yang mereka miliki. Oleh karena itu di luar perluasan program sembako menjadi 20 juta artinya kalau dilihat di DTKS yang 40% itu ada 27 Juta sekian apabila kita naikkan menjadi 20 juta berarti 20 juta dari 20 juta yang pasti sudah mendapat program sembako sampai akhir tahun. Kemudian PKH 10 juta, berarti ada 20 juta dari 27 Juta yang mendapat PKH.
Saya belum berani terus terang dan bukannya tidak berani tapi saat ini memang harus berpatokan kepada DTKS karena tentunya ini menyangkut juga akuntabilitas, pertanggungjawaban kami pada saat nanti ada pemeriksaan- pemeriksaan. Tadi Pak Ahmad juga menyampaikan bahwa biasanya aparat penegak hukum itu memeriksa pada saat normal, sementara saat ini kami bekerja pada saat tidak normal. Nah ini semuanya yang kami lakukan tentunya harus pertimbangkan bukan hanya segera untuk saat ini tapi juga untuk nanti di belakang belakangnya. Namun tadi saya sudah menyampaikan di luar yang reguler program -sembako yang kita naikkan, PKH- ada tambahan-tambahan program. Contohnya satu bansos khusus untuk DKI dan Jabodetabek yang berbatasan langsung dengan DKI yang segera akan kita jalankan yang sudah disetujui oleh Presiden. Jumlahnya itu ada sekitar 1,7 eh 1,2 juta warga di DKI dan sekitarnya 600.000 keluarga di Bodetabek. Ini bentuknya adalah sembako. Kenapa? Karena kami juga ingin memberlakukan atau treat program tambahan ini semacam untuk insentif kepada para calon pemudik dari Jakarta dan sekitarnya agar mereka sedikit mengurungkan niatnya untuk tidak mudik. Jadi ini semakin insentif untuk tidak mudik begitu. Sehingga makanya kita berikan program khusus adalah program untuk sembako dan penerimanya ini adalah bukan yang menerima PKH dan bukan yang menerima sembako. Sehingga data-datanya adalah kombinasi antara DTKS dengan data yang diberikan oleh Pemda. Jadi untuk program yang Jabodetabek memang khusus dalam bentuk sembako dengan data kombinasi antara DTKS dengan dari daerah dari Pemda masing-masing.
Kemudian di luar itu, di luar program sembako, di luar PKH yang sudah diperluas, dan di luar bantuan sembako di Jabodetabek, kami tentunya berpikir kalau melihat dari DPTS yang 27, 28 juta keluarga ini masih ada sekian juta keluarga 7-9 juta keluarga -angkanya nanti bisa kita
- 10 -
konfirmasikan yang belum mendapat apaapa. Dari sisi Kementerian Sosial -Ibu Bapak Anggota Komisi yang terhormat- saya yakin mungkin mereka juga mendapatkan program-program yang sifatnya bansos dari kementerian lain tapi kami tidak punya datanya. Jadi karena kita lihat di Kementerian Pertanian, Kementerian KKP, Kementerian Koperasi UMKM, mereka juga sebenernya ada program-program yang sifatnya seperti bansos. Cuma karena kita di Komisi VIII dan saya di Kementerian Sosial mungkin kita tidak tahu detail mengetahui. Ini kalau dibuka semua program bansos ini pasti banyak. Cuma kita bicaranya terbatas yang ada di Komisi VIII. Belum lagi daerah Pemda juga mungkin ada bansos lagi. Jadi kita kembali lagi ke Kemensos tidak mungkin kita lari dari data yang kami miliki.
Kembali lagi di luar yang tadi saya sebutkan inilah yang saya sebut sebutkan di awal, tadi pagi saya memberanikan diri kepada presiden untuk menyetujui kami akan memberikan BLT -bantuan langsung tunai- setiap keluarga Rp600.000 selama 3 bulan, karena kita tahu sebentar lagi bulan puasa, sebentar lagi lebaran mereka minimal diberikan bantuan tunai untuk bisa membeli kebutuhan-kebutuhan mereka. Apalagi mereka sekarang tidak bisa leluasa bergerak ke mana-mana. Sehingga kalau kalau kita lihat, kita jumlah semua yang kita akan cover di luar program sembako PKH dan bansos di luar program-program PKH, ini akan ada 9,3 juta keluarga. Jadi nanti mungkin Pak Ketua ini sedikit lagi kalau kita tambahkan setiap tambahan-tambahan anggaran ini -tadi saya di awal menyampaikan bahwa anggaran kita dari 62,7 menjadi 60- tapi kita akan meminta tambahan anggaran sekitar 40,4 triliun.
KETUA RAPAT:
40 berapa Pak?
MENTERI SOSIAL:
40,43 kalau setuju semua. Sehingga nanti mungkin Dipa kita yang baru menjadi 100 100 Triliun lebih sedikit. Tentunya apakah ini cukup ya tentunya kita tidak tahu sampai sampai berapa lama Covid-19 ini berlangsung. Tapi minimal kita minimal sudah mendapatkan satu support dari Pemerintah, dari Kementerian Keuangan, dari Presiden dan program-program yang saya sampaikan tadi sudah mendapat persetujuan secara prinsip di rapat kabinet tinggal kita tentunya yang biasa kita nego nego biasa dengan Menteri Keuangan. Menyangkut apa namanya tambahan anggaran, Dipa baru. Nah jadi kami sangat meminta support tentunya agar Kementerian Keuangan juga nanti bisa menyentujui semua yang kita usulkan karena kalau presiden, presiden support 100%.
Nah tentunya Pimpinan Anggota yang terhormat kami juga berharap untuk program-program yang tambahan seperti Bansos sembako di Jabodetabek. Kenapa di Jabodetabek? Karena memang Jabodetabek ini dari data pun ini adalah episentrumnya Covid 19, tidak di daerah lain di sini. Bahkan kami lihat banyak yang positif ke daerah lain itu merkea datang dari
- 11 -
Jakarta. Membawa dari Jakarta ke daerahnya Jadi bukan dari daerahnya datang ke Jakarta. Jadi ini episentrumnya. Kalau kita bisa serbu di sini kita bisa contain di DKI, kami sangat yakin pemerintah sangat yakin penyebarannya juga akan semakin berkurang. Oleh karena itu kami berharap juga tentunya teman-teman silakan masukkan, mengenai misalnya nama-nama untuk BLT, nama-nama-nama-nama untuk bansos ini silakan. Ini semuanya juga kami akan koordinasikan dengan pemerintah Pemerintah Daerah. Oleh karena itu yang pertama kami harus bertindak cepat dengan segala keterbatasan yang ada. Anggaran kami yang sebelumnya tidak mungkin biar kita bisa berbuat apa-apa untuk yang tambahan-tambahan untuk yang khusus hanya yang regular. Kalau kami hanya melakukan itu tentunya sudah, sudah tidak akan relevan lagi. Oleh karena itu kami mengusulkan beberapa program tambahan bantuan khusus dan disetujui dan ini akan berproses untuk tambahan anggaran. Dan tentunya kami meminta support juga dari pimpinan dan anggota Komisi VIII. Sehingga tentunya dengan anggaran anggaran yang anggaran yang baru nanti program-program tambahan yang nanti kita berharap minimal yang semua yang ada di dalam DTKS kita yang 40%. Itu kita layani semua tidak ada yang tertinggal, tidak ada satu orang pun yang tertinggal. Tentunya di luar itu kami juga welcome tapi tentunya Pak Ketua kami tidak bisa terlalu fleksibel karena kami juga tidak ingin satu saat nanti. Jadi jadi masalah artinya nanti komunitas ini minta bantuan, nanti komunitas ini minta bantuan. Dan ini semua data yang mungkin publikasinya banyak.
Tapi Insya Allah Pak Ketua Pimpinan, Anggota di rumpun untuk BLT nanti kami akan berikan alokasi. Jadi misalnya begini misalnya kita hitung dengan cermat antara DTKS kita dengan pemda misalnya penerima BLT itu 7,5 juta mungkin kita akan alokasikan 1.000.000 misalnya untuk yang sifatnya apa namanya seperti komunitas, terdampak. Nah ini kita akan alokasikan. Ini sudah kami sampaikan tadi pagi di Ratas dan presiden setuju. Presiden bilang “Pak Mensos, tolong di BLT itu jangan benar-benar dipentokkan 100%-nya diberikan room karena suatu saat nanti. Misal100%-nya kita harus exercise eksekusi anggaran sudah ada.” Tapi kembali lagi tadi memang dengan kondisi yang ada sekarang yang paling utama itu yang menjadi pegangan kami adalah kami harus bergerak cepat. Kami tidak bisa lagi kami tidak mungkin berat soal data kemudian apa namanya mengenai skema penyaluran pastinya yang miss yang tidak tepat sasaran pastinya.
Kemudian masukan-masukan mengenai penggunaan PT. Pos ini pasti akan kita bicarakan dengan PT.Pos dan mungkin nanti kami juga bisa usul bahwa misalnya untuk di DKI kita menggunakan fintech misalnya, untuk di luar DKI menggunakan PT. Pos. Tapi harus diingat mungkin Pak Wakil Ketua Pak Ace DTKS kami ini memang kan belum ada nomor teleponnya. Baru by name, by address, by NIK. Sehingga sehingga nanti kembali lagi akan perlu waktu untuk menggunakan mekanisme transfer. Nah ini kami mohon dari Komisi VIII kita ingin cepat supaya juga nanti tidak kita yang kena lagi oleh rakyat dan … juga yang diprotes rakyat. Jadi kita ingin cepat tentunya ingin aman tapi juga kita paham akan ada rambu-rambu yang kita harus penuhi.
Kembali untuk data Pak Ketua, Pak Marwan, Pak Ace kami untuk yang program di luar program reguler itu pasti 100% kami akan berkoordinasi dengan Pemda setempat. Tidak mungkin kita mengeksekusi program di
- 12 -
daerah tersebut apakah BLT? Apakah sembako? Apakah yang lain-lainnya itu tidak berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Mungkin secara garis besar Pak Ketua izin seperti itu dulu. Kemudian tadi ada masalah pekerja migran itu sudah ditangani Kemlu. Awalnya kami menawarkan juga tapi ini untuk pekerja migran Indonesia itu rencananya akan diberikan sembako di sana. Tapi yang eksekusi adalah Kemlu dan apa namanya menggunakan anggaran yang ada di Kemlu.
Kemudian yang lain-lainnya saya kira mengenai RUU Penanggulangan Bencana Pak Ketua kami siap untuk membicarakan tapi mungkin setelah agak sedikit apa namanya agak sedikit apa reda sedikit karena memang –izin Pak Ketua- kita nih Kerjaannya sudah agak kacau balau karena ini nggak bisa nggak bisa nggak bisa ketemu dan tetap harus kerja dan apa seluruh Indonesia harus cepat dengan anggaran ratusan triliun. Jadi memang harus sedikit –mohon izin Pak Ketua- agak sedikit kacau balau untuk koordinasinya. Tadi mengenai panti-panti swasta dari Bu Selly kami jadi gini panti-panti sosial yang bawah pemda dan yang swasta itu kami akan alokasikan nanti dari tadi BLT. Di BLT kami akan bikin-bikin … ya ada ruangnya. Itu nanti kita bisa main di situ ngambil dari situ, ada yang perlu panti ngambil dari situ, komunitas misalnya komunitas pekerja seni kemarin Menteri Pariwisata juga meminta kita ambil dari situ. Komunitas wartawan kita ambil dari situ. Jadi kita akan akan bikin bantalannya di BLT sehingga tidak bisa jadi agak fleksibel. Dan tadi ada usulan apakah sebaiknya saat ini kita memperluas PKH harus diingat PKH ini ada kondisionalitasnya, Pak Ketua, Pimpinan dan Anggota. Harus perlu verifikasi, validasi dicek. Nah ini ideal tapi tidak ideal disaat emergency. Saat ini yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana kita memberikan bantuan yang cepat bansos, apakah BLT kurang lebih seperti itu.
Kemudian tadi ada beberapa usulan seperti nasib dari para mahasiswa nanti kami sampaikan ke Pak Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Prinsipnya kami akan usulkan di BLT itu diberikan ruangan. Sehingga nanti ada apabila ada misalnya.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Mohon maaf Pak tadi diulang Pak.
MENTERI SOSIAL:
Sehingga nanti bisa kita ambil dari dari … Yang lain mungkin kurang.
ANGGOTA KOMISI VIII:
- 13 - MENTERI SOSIAL:
Pak Ketua izin. Jadi kami sekarang memang off the record kami dan menteri pendidikan sedang mencoba untuk menggratiskan. Tapi memang kami harus tanya kepada Presiden, apakah beliau mau tetap mempertahankan nama program Indonesia Pintar. Artinya begini sebenarnya indeks pendidikan nilainya yang ada di PKH itu nilainya lebih besar daripada PIP. Cuma kalau kita integrasikan nanti bisa mendowngrade … secara politis. Artinya begini PIP itu bisa masuk ke PKH menjadi salah satu, hanya komponen. Jadi dia turun kelas dia, yang bukan program lagi tapi dia komponen. Nah pertanyaannya apakah presiden mau. Nah jadi di dalam PKH ada komponen PIP begitu misalnya … atau tetap kita jalankan di dua program. Karena Kementerian Pendidikan memang sudah minta kalau bisa tahun depan KIP SD, SMP, SMA Ini dibawa masuk ke Kemensos.
F- PARTAI GOLKAR (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI.):
Kuliah, kuliah.
MENTERI SOSIAL:
Kalau KIP, -kalau kuliah tetap di Kemendikbud Pak Ace- jadi dia tidak dia tidak tidak ambil tidak mau.
KETUA RAPAT:
Nah semua masalah enggak harus Kemensos banyak bagi-baginya.
MENTERI SOSIAL:
Saya juga apresiasi tadi antara lain dari Pak Ketua Pak Ihsan, tentunya kita juga tidak ingin berurusan dengan anggaran ratusan triliun ke depannya bisa jadi masalah. Oleh karena itu Pak Ketua, Pimpinan, Anggota yang terhormat saya juga sudah perintahkan kepada jajaran saya agar setiap pengadaan pengadaan BPKP dan LKPP. Contohnya misalnya mitranya apa namanya semua vendor diundang dengan BPKP dan LKPP sehingga harga-harganya bisa semua.. pendatangan tentunya ini.
KETUA RAPAT:
Pak Menteri sebentar Pak. Kalau kemarin BNPB itu juga menggandeng KPK Pak. Supervisi. Jadi itu karena yang Pak Menteri sebutkan BPKP itu agak nyantai itu kawan-kawan tapi yang satu ini mesti digandeng juga Pak KPK. Jadi Pak Menter satu dua orang ditaruhlah.
- 14 - MENTERI SOSIAL:
Saya sudah bilang, kata Pak Sekjen enggak perlu Pak Ketua. Tolong dinasehatkan lagi Pak Sekjennya Pak Ketua.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Kalau BNPB menggandeng KPK karena itu antisipasi biasa nanti banyak yang ya bermanuver di akhir Covid-19 ini saya kira penting lah Pak Sekjen. Dikonsultasikanlah dengan KPK Pak karena KPK saya yakin senang minta disupervisi.
SEKJEN KEMENSOS:
Laksanakan Pak Siap.
MENTERI SOSIAL:
Kemudian yang terakhir Pak Ketua –izin- nanti yang teknis-teknis kami minggu depan berikan tertulis. Sekali lagi tadi suasana kebatinan teman-teman anggota Komisi juga kami akan perhatikan. Tolong nanti jajaran saya tolong diperhatikan agar tentunya beberapa bantuan yang bisa melibatkan anggota Komisi VIII saya kira kami sangat senang Pak Ketua, Pimpinan dan Anggota. Tentunya kami tidak ada apa namanya tidak ada kerugian apa-apa sama sekali apabila melibatkan Komisi VIII dan tentunya bahkan mungkin kami bisa mendapatkan data-data tambahan untuk program-program yang khusus tadi, seperti apa bansos sembako untuk Jabodetabek, untuk BLT yang sebagian besar itu memang juga tentunya kita bekerjasama dengan pemda-pemda. Saya kira -izin Pak Ketua, Pimpinan, Anggota Komisi VIII yang saya hormati- mungkin secara secara garis besar seperti itu. Jadi intinya kami akan mencoba mengcover seluruh keluarga yang ada di DTKS kami tidak ada satupun yang kami tinggal bahkan di atas itu juga. Artinya yang tidak masuk ke DTKS pun contohnya dengan DKI Jakarta itu mungkin akan ada keluarga yang cukup banyak tercover DTKS tapi akan tetap kami berikan bansos sembako. Karena sekali lagi di Jakarta ini memang episentrumnya. Di daerah lain tentunya ada apa namanya korban atau pasien atau penderita Covid 19. Tapi di Jakarta ini yang paling apa namanya yang paling krusial, Jakarta dan sekitarnya. Jadi saya kira memang fokus Pemerintah adalah mengcontain penyebaran Covid-19 ini di Jakarta dan sekitarnya. Mungkin demikian dulu jawaban dari kami. Mohon arahan dan petunjuk.
KETUA RAPAT:
Baik Pak terima kasih respon ataupun jawabannya. Saya kira apa yang disampaikan Pak Menteri itu sudah bisa kita pahami dan yang paling penting
- 15 -
dari rapat kerja ini adalah kesimpulan. Karena kesimpulan itu mengikat kedua belah pihak.
F- PKS (K.H. BUCHORI YUSUF, LC., M.A.):
Halo sebelum kesimpulan. Pak Ketua halo. Tadi karena saya salat ya mudah-mudahan sudah disampaikan. Tapi saya ingin mendapat kepastian bahwa bagaimana kemudian agar semua bantuan-bantuan tadi mulai dari bantuan sosial, BLT, Bansos yang di luar daripada DTKS tadi itu memang tidak bersifat redundant. Artinya dengan tiap daerah … maupun kemudian dengan yang lain. Mohon itu kalau kemudian belum disampaikan mohon disampaikan untuk dipastikan kepada kami Terima kasih.
MENTERI SOSIAL:
Izin Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Ya Pak Menteri.
MENTERI SOSIAL:
Ya Pak Ketua, Pak Buchori saya paham tapi kembali lagi tadi saya sampaikan di sebelumnya bahwa setiap data untuk program yang non regular, untuk program khusus, program tambahan tentunya kami akan menyandingkan data DTKS kami dengan data dari Pemda. Jadi kalau bicara misalnya BLT, BLT misalnya dikurangi 3 propinsi dikurangi DKI, dikurangi di Banten, dikurangi Jawa Barat. Berarti yang akan menjadi sasaran BLT misalnya berarti 31. Nanti kami menyandingkan. Tentunya yang namanya tidak tepat sasaran pasti ada saja terjadi. Dan kalau menurut saya redundant mungkin saat ini bukan berarti saya setuju ya. Tapi memang menurut kami adalah yang terdampak adalah harus mendapat bantuan. Jadi kalau kalau kita mau terlalu terlalu perfect harus ini yang dapat itu ya tentunya kondisi abnormal seperti ini akan sangat sulit Pak Ketua. Izin Pak Ketua.
F- PKS (K.H. BUCHORI YUSUF, LC., M.A.):
Maksud saya adalah maksud saya adalah agar keluarga penerima manfaat itu semakin banyak semakin baik itu intinya.
KETUA RAPAT:
Baik Bapak Ibu yang berbahagia, Pak Menteri. Terima kasih atas jawabannya kita akan membacakan draf kesimpulan. Dari draf kesimpulan itu
- 16 -
bisa juga dipertajam atau di bisa diperdebatkan. Jadi nani kesimpulan itu benar-benar bisa kita jalankan secara baik dari Pak Menteri Sosial maupun dari Komisi VIII. Nah ini mohon sampaikan ya inilah draf kesimpulan. Draf kesimpulan dari perdebatan kita tadi atau paparan dari Pak Menteri kemudian direspon oleh kita. Kemudian … Pak Menteri saya akan bacakan draf kesimpulan satu persatu setelah ini kita akan meminta tanggapan dari para anggota termasuk dari meja pimpinan terakhir dari Pak Menteri.
Draf kesimpulan Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Sosial Republik Indonesia, Masa Persidangan III Tahun Sidang 2019-2020, Selasa 7 April 2020. Pada Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI secara virtual Menteri Sosial Republik Indonesia dengan agenda dampak sosial Covid-19 terhadap angka kemiskinan dan isu aktual. … beberapa hal sebagai berikut:
1. Komisi VIII DPR RI dapat memahami penjelasan Menteri Sosial RI atas realisasi anggaran tahun 2020 sebesar Rp. 24.800.400.312.754. atau 39,51% dari total pagu anggaran sebesar 62,7 triliun.
2. Komisi VIII DPR RI mendukung kebijakan Menteri Sosial Republik Indonesia melakukan refocusing kegiatan dan realokasi anggaran tahun 2020 guna dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan dalam mengatasi dampak sosial dan sekaligus mendukung percepatan penanganan Covid-19. Selanjutnya Komisi VIII DPR RI meminta kepada Menteri Sosial Republik Indonesia segera menyampaikan rincian anggaran hasil realokasi, anggaran tahun 2020 dan rencana tambahan bantuan sosial untuk penanganan Covid-19 untuk dibahas bersama Komisi VIII DPR RI dalam rangka penanganan Covid-19.
3. Komisi VIII DPR RI mendukung kebijakan penugasan khusus Kementerian Sosial Republik Indonesia dalam program social safety aid, bagi masyarakat yang terdampak Covid-19 antara lain pemberian sembako bagi keluarga rentan di DKI Jakarta, pemberian sembako di wilayah Jabodetabek dan bantuan langsung tunai atau BLT untuk keluarga miskin dan rentan dalam data terpadu kesejahateraan sosial maupun non DTKS yang belum mendapatkan PKH dan sembako.
4. Komisi VIII DPR RI mendesak Menteri Sosial Republik Indonesia untuk memutakhirkan data penerima data bantuan sosial dengan melibatkan pemerintah daerah, kepala desa atau lurah dan satgas Covid-19 di daerah dengan memperhatikan masukan Anggota Komisi VIII DPR RI sesuai dengan daerah pemilihan atau masing-masing sebagai bentuk pengawasan.
5. Komisi VIII DPR RI meminta Menteri Sosial Republik Indonesia untuk melaksanakan respon cepat dalam penanganan dampak sosial akibat Covid-19 dengan memperhatikan dan menindaklanjuti pendapat dan pandangan Pimpinan dan Anggota Komisi VIII sebagai berikut:
- 17 -
a. Mempercepat penyaluran bantuan sosial seperti program keluarga harapan (PKH), program sembako dan perluasan sembako, bansos khusus Kemensos, bansos khusus presiden serta bantuan langsung tunai (BLT) guna memperhatikan dan kebutuhan dasar masyarakat dan momentum menghadapi bulan Ramadan dan Idul Fitri Tahun 1441 Hijriyah atau 2020 Masehi.
b. Meningkatkan penyediaan dan penyaluran bantuan darurat bencana seperti masker, hand sanitizer, disinfektan, vitamin dan alat pelindung diri (APD) dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
c. Memperhatikan protokol penanganan, protocol WHO. Memperhatikan protokol WHO penanganan Covid-19 dalam penyaluran program-program bansos terutama dalam menerapkan social and physical distancing agar tidak menambah penyebaran Covid-19.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Interupsi Pimpinan. Bisa ditampilkan.
KETUA RAPAT:
Ini ditampilkan perasaan. Ditampilkan Pak .. dari sekretariat?
ANGGOTA KOMISI VIII:
Ya sudah. Tampil sudah ditampilkan sebetulnya. Sudah dibacakan.
KETUA RAPAT:
Di klik Pak. Mungkin tampil diri sendiri Pak. Iya. Di klik Pak.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Oh ya ya oke.
KETUA RAPAT:
d. Membangun sinergi dan sinkronisasi program perlindungan sosial antara Kementerian Sosial dengan program bantuan sosial yang dengan kementerian terkait terutama Kementerian Desa, pemerintah daerah termasuk tadi disebut Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan -menyebut biaya pendidikan tadi-
- 18 -
e. Memperluas sasaran penerima program bantuan sosial tidak hanya di wilayah DKI Jakarta dan Jabodetabek karena pandemik Covid-19 menyebar ke daerah dan ke daerah-daerah lain yang ada di Indonesia.
f. meningkatkan fungsi pembinaan dan pengawasan kepada masyarakat yang dilakukan, yang melakukan kegiatan pengumpulan uang atau barang sebagai wujud kepedulian sosial akibat Covid-19 sehingga yang dikelola masyarakat tersebut transparan dan akuntabel.
g. Memanfaatkan balai-balai di daerah yang dikelola oleh Kementerian Sosial untuk dijadikan tempat pelayanan atau isolasi bagi masyarakat penderita Covid-19 –saya enggak tahu dimana tadi yang balai-balai yang swasta tadi di atau dimana-
ANGGOTA KOMISI VIII:
Saya kira masukin saja disitu.
KETUA RAPAT:
Kita akan pertajam di G ini. Balai-balai.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Dan panti-panti.
KETUA RAPAT:
Pemerintah begitu. Ya.
ANGGOTA KOMISI VIII:
LKS.
KETUA RAPAT:
Lembaga kesejahteraan swasta, … diatur ya. Saya lanjutkan dulu. 7. Kopmisi VIII DPR RI meminta kepada Meneteri Sosial RI untukl …
jawaban secara tertulis terhadap pertanyaan dari Pimpinan … hal-hal penting lainnya yang dianggap perlu.
Saya kira itu Bapak Ibu silakan dari meja pimpinan maupun dari Anggota Komisi VIII coba mulai dari angka 1 sampai 7 boleh diperhatikan poin per poin redaksinya boleh diganti maknanya juga boleh kita perhatikan. Silakan Bapak Ibu.
- 19 - F- PARTAI GERINDRA (M. HUSNI, S.E):
Pak Ketua saya Husni. Saya nomor 2 Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Ya nomor 2 pause. Pak Husni Pak Husni.
F- PARTAI GERINDRA (M. HUSNI, S.E):
Tolong diturunkan.
KETUA RAPAT:
Angka dua angka dua oke.
F- PARTAI GERINDRA (M. HUSNI, S.E):
Komisi VIII DPR RI mendukung Kebijakan Menteri Sosial untuk melakukan … kegiatan dan relokasi anggaran tahun 2020. Itu itu kan untuk DKI tuh kan Pak Ketua? Yang itu untuk pemegang KTP DKI dan juga non DKI yang terdaftar sebagai … DKI melalui RT/RW masing-masing.
KETUA RAPAT:
Ini semuanya Pak Husni. Bukan hanya itu doang.
F- PARTAI GERINDRA (M. HUSNI, S.E):
Yang nomor 2 ini yang bukan DKI.
KETUA RAPAT:
Ini bukan hanya DKI saja.
F- PARTAI GERINDRA (M. HUSNI, S.E):
Pemegang KTP DKI dan non-KTP DKI itu.
KETUA RAPAT:
- 20 - F- PARTAI GERINDRA (M. HUSNI, S.E):
Oke, oke terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Ini nomor 2 saya bisa mengcover Pak. … Setahu saya 180 miliar tadi yang mungkin menjadi rutin bisa untuk apa Covid 19 ada juga usulan 40 triliun untuk tambahan anggaran ke Menteri Keuangan. Ini untuk mengcover yang diusulkan Pak Menteri tadi. Silakan yang lain.
MENTERI SOSIAL:
Izin Pak Ketua boleh?
KETUA RAPAT:
Lanjut Pak.
MENTERI SOSIAL:
Tadi saya bisa turun ke bawah Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Poin berapa Pak?
MENTERI SOSIAL:
Sebentar Pak Ketua. Nomor 4 itu satgas itu mungkin diganti gugus tugas Pak Ketua. Gugus Tugas Covid-19.
KETUA RAPAT:
Pak Menteri itukan yang poin empat ….. ya gugus tugas betul.
MENTERI SOSIAL:
Saya kira yang 6a itu perluasan program sembako. Kita sambung saja Pak Ketua. Perluasan program sembako.
- 21 - KETUA RAPAT:
Gimana Pak?
MENTERI SOSIAL:
Itukan perluasan program sembako.
KETUA RAPAT:
Jadi perluasan sembako saja? Program perluasan sembako.
MENTERI SOSIAL:
Kemudian untuk yang berikutnya Bansos khusus presiden, mungkin presidennya enggak perlu Pak Ketua izin.
KETUA RAPAT:
Ini ngeri kali Komisi VIII … presiden ini.
MENTERI SOSIAL:
Khusus, Pak Ketua izin. Kemudian kalau yang di atas Pak Ketua Bansos Khusus Kemensos itu mungkin Bansos Khusus Kemensos itu DKI Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
DKI ya? Bansos Khusus DKI.
MENTERI SOSIAL:
Tapi ini begini Ini kan anggarannya anggaran-anggaran yang sudah ada. Bansos.
KETUA RAPAT:
- 22 - MENTERI SOSIAL:
Ya yang ini nah kalau yang Bansos Khusus Jabodetabek itu yang anggarannya yang kita minta.
KETUA RAPAT:
Yang 40, yang masuk lebih dari 40 triliun itu?
MENTERI SOSIAL:
Ya bansos khusus Jabodetabek. Ya.
KETUA RAPAT:
Bansos untuk DKI Jakarta, Bansos khusus Jabodetabek serta bantuan langsung tunai (BLT) begitu Pak Menteri? Guna perhatikan kebutuhan dasar masyarakat dan momentum menghadapi bulan Ramadan gimana yang lain coba?
MENTERI SOSIAL:
Mungkin ditambahkan yang lain Pak Ketua izin. Ditambahkan guna memperhatikan masukkan mengenai apa mudik lebaran ini Pak Ketua.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Nah itu sebetulanya sudah ada di momen itu Pak Menteri.
KETUA RAPAT:
Itu dalam menghadapi memontum idul fitri Pak Menteri. Momentum menghadapi bulan Ramadan. Kalau puasa terus capek juga. Kalau Ramadan terus enggak ada Idhul Fitrinya waduh bahaya juga Pak.
MENTERI SOSIAL:
Yang lain oke Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
- 23 -
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
Ada yang mau dicermati Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Ya Pak Hidayat Nurwahid.
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
Tadi juga sudah juga dibahas kepedulian terhadap nasib WNI kita yang ada di luar negeri. Rekan-rekan dari .. Indonesia maupun juga Warga Indonesia yang terdampak dari Corona ini tapi sepertinya belum masuk di dalam simpulan kita Pak.
KETUA RAPAT:
Belum belum.
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
Jadi saya berharap itu dimasukkan karena mereka adalah bagian dari Warga Indonesia juga. Kita mendapatkan nasib yang sejenis.
KETUA RAPAT:
Memperluas sasaran penerima program bantuan sosial DKI Jakarta. Ini masukan disini saja. … Memperluas.
MENTERI SOSIAL:
Pak Ketua. Izin Pak Ketua. Pak Ketua izin sebenarnya yang ini sudah Pak Ketua dengan biaya itu tadi
KETUA RAPAT:
Ya ya ya ya.
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
- 24 - MENTERI SOSIAL:
Tadi saya sudah dilakukan Pak ketua izin karena memang itu sudah kesepakatannya dan sudah jalan. Yang memegang daulat Kemenlu. Kita … ada anggarannya suatu saat nanti Komisi VIII tanya saya sudah ada di Kemenlu Pak.
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
Kalau gitu … dan mendapatkan dampak yang sama. Karenanya poin menurut saya adalah agar Kementerian Sosial mengingatkan Kementerian Luar Negeri untuk melaksanakan.
KETUA RAPAT:
Bukan mengingatkan, berkoordinasi dengan kementerian termasuk dengan pemda Pak. Pak Hidayat Nurwahid. Bentar Pak Kemenlu masuk, Kementerian Desa, Kemenlu masukkan aja. Terutama Kementerian Luar Negeri, Kementerian Desa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Izin mungkin ditambahkan Kementerian Dalam Negeri Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Karena ada pemerintah daerah. Oke, Kementerian Luar Negeri dan ini ada masukan ini … dan pemerintah daerah. Oke.
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
Satu lagi Pak terakhir. Kalau tadi kan rekan-rekan menyampaikan bahwa anggaran sekalipun sudah besar tetapi bila dikaitkan dengan jumlah yang terdampak itu masih belum mencukupi. Karena, karena misalnya dari rekan-rekan dari pekerja kalangan nonm formal saja itu sudah tidak cukup untuk kemudian diakses dana yanga ada. Oleh karenanya apakah tidak dimungkinkan disini dimasukkan 1 poin agar Kementerian Sosial juga bisa mendapatkan dari sumber anggaran yang lain. Misalnya dari Perpu itu misalnya bisa diambilkan dari dana infrastruktur misalnya disana ada 400 triliun lebih Pak. Atau dana dari yang disampaikan oleh pak presiden terkait dengan efisiensi anggaran dari kementerian … digunakan untuk kunjungan dinas itu 64 triliun Pak. Itu bisa diusahakan oleh Kementerian Sosial melalui … saya kira memberikan anggaran yang lebih leluasa untuk mengatasi dampak sosial dari pada korona ini Pak. Terima kasih.
- 25 - KETUA RAPAT:
Ya Pak Hidayat Nurwahid memang dari 405 triliun itu memang tersebar Pak salah satu sumber 405 triliun itu ya dari perjalanan dinas, pembangunan termasuk dana pendidikan juga dipotong Pak. Termasuk kesehatan yang sifatnya penyediaand barang. Dari 405 triliun itu menjadi tapi untuk Kementerian Sosial tadi ada 117,1 triliun.
MENTERI SOSIAL:
Tidak semua Kementerian Sosial izin.
KETUA RAPAT:
Tidak ssemuanya ya?
MENTERI SOSIAL:
Tidak semua.
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT:
Yang lainnya silakan, dari meja pimpinan cukup?
F- PARTAI GOLKAR (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI.):
Cukup sudah cukup.
KETUA RAPAT:
Cukup ya. Pak Menteri ada poin-poin nya yang perlu direvisi?
MENTERI SOSIAL:
Cukup Pak Ketua terima kasih.
F- GOLKAR (H. JOHN KENEDY AZIS, S.H.):
- 26 - MENTERI SOSIAL:
Siap Pak Ketua Pak John.
F- PKS (DR. H.M. HIDAYAT NURWAHID, M.A):
Pak Ketua halo bicara.
MENTERI SOSIAL:
Masa kita lupa habitat kita sendiri Pak John.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Anak-anak di Riau menunggu titipan Pak Menteri.
MENTERI SOSIAL:
Pak Bupati siap.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Pak Ketua izin bicara.
F- PARTAI GERINDRA (H. JEFRI ROMDONNY, S.E., S.SOS., M.SI., M..M.):
Sumedang, Majalengka juga menunggu dari Pak Menteri itu.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Pak Ketua izin bicara.
MENTERI SOSIAL:
Pak Jefri Dirjen saya empat-empatnya dari Jawa Barat semua itu Pak Jefri.
F- PARTAI GERINDRA (H. JEFRI ROMDONNY, S.E., S.SOS., M.SI., M..M.):
- 27 - MENTERI SOSIAL:
Empat-empatnya Dirjen saya dari Jawa Barat semua itu.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Pak Menteri jangan lupa Sibolga Pak Menteri.
MENTERI SOSIAL:
Siap. Itu kampung ibu saya itu di Sibolga itu.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Pak Ketua izin bicara.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Iya sudah tahu orang Sibolga semuanya Pak Menteri. Orang Sibolga seneng Pak Menteri.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Oke Pak Ketua cukup sudah Pak Ketua.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Pak Ketua halo. Pak Ketua. Mana ketua ini.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Sholat sholat, ketuanya lagi nyari palu.
ANGGOTA KOMISI VIII:
Pak Ace tolong dong diambil alih Pak Ace.
F- PARTAI GOLKAR/ WAKIL KETUA (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI.):
Ha begitu. Jadi kita persilakan sebelum ditutup kepada untuk beliau untuk memberikan closing statement silakan Pak Menteri.
- 28 - MENTERI SOSIAL:
Terima kasih Assalamu’laikum warahmatullahi wabarakatuh.
ANGGOTA KOMISI VIII: Waalaikumsalam.
MENTERI SOSIAL:
ANggota Komisi VIII yang saya hormati saya yang saya banggakan. Sekali lagi kami atas nama Kementerian Sosial mengucapkan banyak terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas support yang tidak hentinya ditunjukkan oleh Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR RI terhadap Kementerian Sosial. Tentunya, khususnya di saat-saat yang sangat genting, saat abnormal seperti saat ini ditenga-tengah pandemi global Covid-19 dan juga Kementerian Sosial benar-benar menjadi pusaran daripada problem … atau kami tentunya juga sangat mengharapkan support yang lebih Pimpinan dan Anggota Komisi VIII yang terhormat dengan tidak henti-hentinya berdoa agar kiranya bencana wabah Covid-19 ini bisa. … berlalu. .. support didukung oleh Komisi VIII DPR RI kami pun juga mohon ditegur, dikritik, diberikan masukan apabila Pimpinan Anggota Komisi VIII yang terhormat melihat ada yang masih kurang pas, ada yang belum pas, … sangat vital. Kami ingin mengajak Komisi VIII berjalan bersama bergandengan tangan, menyampingkan semua kepentingan pribadi, kepentingan golongan untuk bersama-sama memerangi Covid-19 menolong sesama kita agar benar-benar bencana ini bisa cepat berlalu. Sekali lagi mohon maaf atas nama teman-teman Kementerian Sosial apabila ada tindakan kami ucapkan kami yang tidak berkenan mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya. Akhir kata, sekali lagi terima kasih atas dukungan Komisi VIII DPR RI sambil berharap juga Ibu Bapak yang terhormat selalu dalam keadaan yang sehat keluarga semua dalam keadaan yang sehat. Dan lingkungan sekitar juga sehat.. terbebas dari wabah Covid 19 yang sekarang sedang sekali lagi terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh selamat malam.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Menteri kepada semua Anggota Komisi VIII dan Para Pimpinan akhirnya kita sampai di penghujung rapat pada sore hari ini. Semoga kesimpulan rapat tadi bisa kita laksanakan dengan baik doa kami semua Pak Menteri dan seluruh jajaran. Tetaplah semanga untuk mengabdi pada merah putih dan kami doakan Pak Menteri dan Seluruh Jajaran tetap sehat tidak terpapar. Anggota Komisi VIII dan seluruh rakyat Indonesia yang sehat tetap sehat yang masih terbaring disembuhkan dan seluruh yang sudah meninggal kita doakan semoga diterima di sisi Allah Subhanahu Wataala. Dengan demikian akhirnya dengan mengucapkan alhamdulillahirobbilalamin rapat kerja pada hari ini ditutup.
- 29 -
(RAPAT DITUTUP)
Jakarta, 7 April 2020 a.n. KETUA RAPAT SEKRETARIS RAPAT,
Sigit Bawono Prasetyo, S.Sos., M.Si. NIP. 197309261997031001