6
LANDASAN TEORI
2.1. Definisi Data, Informasi Dan Knowledge Management
Organisasi harus memiliki sistem pengelolaan pengetahuan yang baik untuk menghasilkan knowledge yang berkualitas dan berguna bagi kepentingan organisasi karena tanpa data dan informasi tidak akan dihasilkan knowledge. Untuk memudahkan pemahaman dalamstrukturisasi data, informasi dan knowledge, perlu diketahui perbedaan diantara ketiganya.
Menurut Bergeron (2003), yang dimaksud dengan data adalah bilangan, terkait dengan angka-angka atau atribut-atribut yang bersifat kuantitas, yang berasal dari hasil observasi, eksperimen, atau kalkulasi. Informasi merupakan kumpulan data dan terkait dengan penjelasan, interpretasi, dan berhubungan dengan materi lainnya mengenai obyek, peristiwa-peristiwa atau proses tertentu. Sementara itu menurut Bergeron, pengetahuan adalah informasi yang telah diorganisasi, disintesiskan, diringkaskan untuk meningkatkan pengertian, kesadaran atau pemahaman (Sangkala, 2007, p74).
Menurut Davidson dan Voss (2002), untuk memahami perbedaan antara data, informasi dan pengetahuan, harus dapat digarisbawahi nilai hirarkinya. Informasi merupakan data yang disaring (distilled) dan dimaknai, demikian pula pengetahuan adalah informasi yang disaring dan dimaknai (Sangkala, 2007, p75).
.
Gambar 2.1 : Hirarki Data, Informasi dan Pengetahuan (Sumber : Davidson & Voss, 2002)
Knowledge management pada dasarnya muncul untuk menjawab
pertanyaan bagaimana seharusnya mengelola pengetahuan. Kesadaran untuk menerapkan pendekatan manajemen pengetahuan ke dalam strategi bisnis diperlukan karena terbukti perusahaan yang menjadikan sumber daya pengetahuan sebagai aset utamanya senantiasa mendorong perusahaan lebih inovatif yang bermuara kepada kepemilikan daya saing perusahaan terhadap para pesaingnya.
Menurut Santosu & Surmach (2001) yang menyatakan bahwa manajemen pengetahuan merupakan proses dimana perusahaan melahirkan nilai-nilai dari intellectual assets dan aset yang berbasiskan pengetahuan. Menurut Bergerson (2003), manajemen pengetahuan merupakan suatu pendekatan yang sistematik untuk mengelola aset intelektual dan informasi lain sehingga memberikan keunggulan bersaing bagi perusahaan (Sangkala, 2007, p8). Sementara itu menurut Shelda
Debowski (2006, p16), knowledge management is the process of
identifying, capturing, organizing and disseminating the intellectual assets that are critical to the organization’s long term performance.
2.2. Knowledge Management Pada Organisasi
2.2.1. Konversi
Knowledge
Menurut Shelda Debowski (2006, p17 – p18), knowledge dibagi menjadi dua jenis yaitu explicit knowledge dan tacit
knowledge, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Explicit Knowledge
Explicit knowledge adalah pengetahuan yang dapat dibagi
kepada orang lain, pengetahuan tersebut bisa didokumentasikan, dikategorikan, dijelaskan dan dalam bentuk-bentuk yang bisa di bagikan.
2. Tacit Knowledge
Tacit knowledge adalah pengetahuan yang bersumber dari
akumulasi pengalaman dan pembelajaran dari seseorang yang sulit untuk dibagikan kepada orang lain.
Pengetahuan diciptakan melalui konversi antara tacit
knowledge dan explicit knowledge. Model konversi knowledge
menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) adalah sebagai berikut (Sangkala, 2007, p84):
1. Sosialisasi
Sosialisasi yaitu pengubahan pengetahuan dari tacit
knowledge ke tacit knowledge. Proses sosialisasi bisa
dilakukan dengan cara tatap muka untuk berbagi pengetahuan, fitur-fitur Collaboration (email, diskusi elektronik, komunitas), dan training.
2. Eksternalisasi
Eksternalisasi yaitu pengubahan pengetahuan dari tacit
knowledge ke explicit knowledge. Proses eksternalisasi bisa
dilakukan dengan cara mendokumentasikan notulen rapat, mendatangkan ahli untuk menghasilkan konsep-konsep, sistem serta prosedur, manual, laporan pelaksanaan uraian pekerjaan dan sebagainya, dan diskusi secara elektronik yang didokumentasikan.
3. Internalisasi
Internalisasi yaitu pengubahan pengetahuan dari explicit
knowledge ke tacit knowledge. Proses internalisasi bisa
dilakukan dengan media intranet, surat edaran, papan pengumuman, internet, pelatihan dan media massa.
4. Kombinasi
Kombinasi yaitu pengubahan pengetahuan dari explicit
knowledge ke explicit knowledge. Proses kombinasi bisa
fitur-fitur Enterprise Portal seperti knowledge organization
system, dan bisnis intelegen.
Gambar 2.2 : Mode Konversi Pengetahuan (Sumber : Nonaka & Takeuchi, 1995)
2.2.2. Peta
Potensi
Kowledge Dalam Organisasi
Agar potensi knowledge setiap karyawan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan, perusahaan memerlukan informasi secara lengkap mengenai aset berharga ini. Sebagai sebuah langkah untuk mendeteksi adanya tacit knowledge, maka perlu dilakukan pendataan lewat kuesioner yang disebar kepada semua orang. Dengan langkah ini, organisasi akan mempunyai peta potensi knowledge yang dimiliki secara strategis (Bambang Setiarso dkk, 2009, p9).
Seluruh peta dan kategori knowledge ini juga menjadi dasar pertimbangan bagi kebijakan rotasi, promosi, mutasi sampai dengan berbagai pelatihan bagi karyawan. Pada gilirannya, organisasi dapat memperkuat setiap pos pekerjaan sesuai dengan
kompetensi yang dimiliki oleh karyawannya (Bambang Setiarso dkk, 2009, p9).
2.2.3. Penerapan Kowledge
Management
Pada
Organisasi
Penerapan knowledge management pada suatu organisasi merupakan suatu proses yang cukup panjang dimana mencakup perubahan perilaku semua karyawan. Birkinsaw menggarisbawahi tiga kenyataan yang mempengaruhi berhasil tidaknya knowledge
management, yaitu (Bambang Setiarso dkk, 2009, p23):
1. Penerapannya tidak hanya menghasilkan knowledge baru, tetapi juga mendaur ulang knowledge yang sudah ada.
2. Teknologi informasi belum sepenuhnya bisa menggantikan fungsi-fungsi jaringan sosial antar anggota organisasi.
3. Sebagian besar organisasi tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya mereka ketahui. Banyak knowledge penting yang harusnya dtemukan lewat upaya-upaya khusus. Padahal
knowledge sudah dimiliki sebuah organisasi sejak lama.
Organisasi yang mencoba menerapkan Organizational
Knowledge Management System (OKMS) merupakan organisasi
yang bertindak sebagai katalis dan pengelola knowledge yang akan mengidentifikasi, memahami dan menguasai knowledge di bidang tertentu. Dengan demikian, organisasi tersebut akan menjadi organisasi professional dalam perannya sebagai
pengelola knowledge bidang tertentu. Untuk itu diperlukan upaya untuk mendorong terjadi dan dihargainya suatu knowledge
sharing dan knowledge re-use (penggunaan kembali knowledge
bidang tertentu) melalui kontak pribadi atau jaringan yang dihasilkan dari dua hal, yaitu tacit knowledge para pakar suatu bidang dari knowledge individu atau kelompok mengenai pengalaman mereka, sedangkan explicit knowledge dapat berupa proses, metode, cara, pola dan pengalaman.
Bila penguasaan terhadap kedua knowledge tersebut dipahami dan dikuasai organisasi, knowledge akan menjadi aset dari organisasi tersebut. Dengan demikian, akan terjadi siklus
knowledge yaitu dari suatu pengalaman menjadi asset knowledge.
Apabila knowledge tertentu sudah menjadi asset organisasi, akan tersusun suatu struktur dan isi knowledge suatu bidang (knowledge content and structure) yang berupa peta knowledge. Dengan demikian dalam organisasi terdapat dua faktor, yaitu
knowledge process dan knowledge management. Kedua hal ini
merupakan pekerjaan semua orang dalam organisasi. Kegiatan tersebut dapat berupa knowledge transfer, knowledge generation
and harvesting, knowledge maping serta codification dan
coordination.
Aplikasi dari knowledge management dan knowledge
sharing harus diupayakan agar menjadi suatu budaya dalam
yang didasarkan kepercayaan. Dalam lingkungan pasar global,
knowledge menjadi senjata yang ampuh untuk bersaing. Kegiatan
mengelola knowledge secara efektif menjadi sangat penting sehingga akhirnya akan menjadi core competence (Bambang Setiarso dkk, 2009, p25 – p27).
2.2.4. Menentukan Kowledge yang Dibutuhkan
Perusahaan
Alat bantu yang bisa dipakai untuk mengetahui knowledge apa yang harus dimiliki dan sudah dimiliki oleh perusahaan bisa menggunakan kerangka berpikir Zack. Kerangka berpikir Zack digambarkan sebagai berikut (Tiwana, 2000, p153):
2.2.5. Strategi
Knowledge Management
Menurut Shelda Debowski (2005, p46 – p48), manajemen pengetahuan merupakan proses yang kompleks dalam perubahan sosial dan sistem yang sudah ada. Manajemen pengetahuan bergantung pada keselarasan terhadap lima faktor yang harus diintegrasikan secara penuh dalam organisasi. Faktor-faktor tersebut disebut sebagai The Five Ps, yaitu:
1. Planning
Strategi knowledge management harus dilakukan secara menyeluruh. Perencanaan harus menjelaskan tujuan dan menghasilkan nilai tambah bagi organisasi. Perencanaan infrastruktur teknologi harus mampu mendukung tujuan dari pengembangan knowledge management. Perencanaan
memerlukan waktu, kontrol dan review agar strategi
knowledge management berhasil diimplementasikan.
2. People
Dalam knowledge management, people adalah individu yang memiliki pengetahuan. Mereka juga yang melakukan pengaturan sistem dan proses. People perlu diyakinkan bahwa proses strategi knowledge management merupakan strategi yang sangat berharga.
3. Process
Prinsip knowledge management perlu diletakkan dalam suasana kerja yang mendukung pelaksanaan sharing
pengetahuan. Keselarasan dalam strategi, prinsip, proses, dan praktek harus diatur dengan hati-hati agar impelementasi
knowledge management tidak gagal.
4. Products
Setiap organisasi menghasilkan output atau produk dari pengetahuannya. Fokus pada core knowledge membantu dalam melakukan identifikasi jangkauan produk pengetahuan yang harus dibudidayakan, didorong dalam hal pengembangannya, ditangkap, diatur dan disebarkan.
5. Performance
Manajemen pengetahuan secara berkala perlu dilakukan
review untuk memastikan bahwa seberapa efektif sistem dan philosophy yang dibangun berdampak bagi organisasi.
Indikator dari kesuksesan implementasi knowledge
management perlu ditentukan dengan jelas.
Gambar 2.4 : The Five Ps of Strategic Knowledge Management (Sumber : Shelda, 2005)
2.3. Core Knowledge Management Pada Organisasi
Gambar 2.5: Developing Core Knowledge Framework (Sumber: Shelda, 2005)
Banyak perusahaan gagal untuk menentukan pengetahuan apa yang penting dalam bisnisnya. Hal ini menyebabkan organisasi tidak bisa memaksimalkan pengetahuan yang ada. Menurut Shelda Debowski (2005, p170)
Core knowledge is strategic or operational knowledge that contributes to essential organizational processes or outcomes. Dengan demikian penentuan core knowledge suatu organisasi sangat penting untuk membangun knowledge management system.
Menurut Shelda Debowski (2005, p171), terdapat tiga fase dalam menentukan core knowledge suatu organisasi yaitu:
1. Clarify core knowledge scope
Fase pertama adalah menentukan pengetahuan yang harus ada untuk mendukung bisnis utama. Core knowledge harus ditentukan agar bisa dicari
sumbernya dan bisa diatur agar KMS yang dibangun bisa memberikan nilai tambah bagi organisasi.
a. Identify core business and its knowledge requirements
Yaitu melakukan identifikasi mengenai aktivitas utama organisasi, menentukan pengetahuan yang unik jika ada dan menentukan pengetahuan yang perlu dilakukan sharing.
b. Define the knowledge domain
Yaitu menentukan area pengetahuan yang mendukung strategi bisnis utama organisasi.
c. Review knowledge capabilities
Yaitu identifikasi kemampuan yang diinginkan dan sumber-sumber pengetahuan yang berharga.
2. Define core knowledge parameter
Pada fase ini akan ditentukan policy yang berhubungan dengan knowledge
domain pada fase pertama dan menentukan batas-batas core knowledge yang
akan didukung dalam KMS. a. Define core knowledge
Yaitu menentukan core knowledge dalam organisasi. Terdapat 3 tipe
knowledge yang bisa diidentifikasi:
‐ Basic core knowledge, yaitu pengetahuan penting yang dapat dibuat, dibagi, diakses dan diatur oleh semua karyawan.
‐ Strategic core knowledge, yaitu pengetahuan penting yang berevolusi secara cepat dan tidak bisa diakses oleh semua karyawan.
‐ Developmential core knowledge, yaitu pengetahuan yang penting bagi organisasi namun masih dalam tahap eksplorasi dan pengujian.
b. Develop the core knowledge policy
Yaitu menentukan kebijakan dalam KMS yang dipakai, menentukan pentingnya KMS, dan menentukan aturan-aturan yang berlaku.
3. Develop the core knowledge structure
Pada fase ini akan dilakukan mapping yang akan menjelaskan mengenai kategori-kategori pengetahuan dan akan dibangun knowledge repository. a. Map core knowledge
Yaitu membuat knowledge map yang merupakan desain struktural dari
core knowledge dalam organisasi.
b. Build the knowledge repository
Yaitu membangun repository sebagai link antara sumber-sumber pengetahuan yang berbeda-beda.
2.4. Activity Based Knowledge Management
Activity Based Knowledge Management (ABKM) merupakan
kegiatan manajemen pengetahuan berdasarkan konsep dari kegiatan perencanaan dan kontrol proyek. Pengetahuan dan informasi yang terkait dengan kegiatan proyek terdahulu dapat digunakan kembali dan diterapkan dalam proyek-proyek yang akan datang.
Informasi dan manajemen domain pengetahuan dari semua proyek dibagi dan disimpan sebagai “kegiatan” dalam kategori unit yang terkait
dengan proyek. Keuntungan utama dari ABKM adalah kemudahan informasi pengetahuan yang dapat diterapkan kembali.
Hal-hal yang tercakup dalam penyimpanan pengetahuan dalam unit proyek mencakup pengetahuan tacit dan explicit. Dimana pengetahuan
explicit meliputi spesifikasi / kontrak, laporan, permintaan perubahan dan
data. Pengetahuan ini kebanyakan didapat melalui aktivitas. Adapun pengetahuan tacit meliputi proses perekaman, permasalahan yang ditimbulkan, penyelesaian permasalahan, saran dari para ahli, inovasi dan pengalaman yang terkait proyek.
Gambar 2.6: Activity Based Knowledge Management (Sumber: Murray E. Jennex, p698)
2.4.1. Bank Knowledge
Untuk memperkaya pengetahuan di bank, system ini dirancang untuk mendorong semua analis untuk menyerahkan domain pengetahuan dan pengalaman berharga ke bank pengetahuan.
Tujuan utama dari bank pengetahuan adalah menyediakan konten yang kaya sumber tentang semua proyek terkait baik informasi explicit maupun tacit yang melibatkan para analis dan
expert
.
2.5. Arsitektur
Sistem
Secara umum arsitektur ABKM memiliki empat lapisan yaitu
interface, access, application dan database dimana tiap lapisan memiliki
fungsi dan tanggung jawab yang berbeda-beda.
• Lapisan interface: digunakan untuk kegiatan akses informasi oleh user melalui web browser.
• Lapisan access: menyediakan sistem security dan fungsi administratif. • Lapisam application: menyediakan sarana untuk melakukan
pengumpulan serta pengaturan data dan informasi.
• Lapisan database: terdiri dari penyimpanan utama data serta bertanggungjawab untuk kegiatan backup dan restore.