RENSTRA
(RENCANA STRATEGIS)
TAHUN 2014 - 2018
BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Jalan Dewi Sartika Nomor 13 Telp. (0541) 747481 Fax. (0541) 741405 E-Mail : [email protected]
Website : www.bppkb.kaltimprov.co.id SAMARINDA 75117
KATA PENGANTAR
Perencanaan stratejik merupakan suatu metode untuk mengelola perubahan-perubahan yang tidak dapat dihindari sehingga dapat juga disebut sebagai metode untuk berurusan dengan kompleksitas lingkungan yang berkaitan erat dengan eksistensi sebuah organisasi. Secara internal juga merupakan sebuah metode untuk menangani kompleksitas lingkungan internal yang ditimbulkan bermacam-macam kebutuhan dari tiap unit kerja dalam organisasi. Karena itu perencanaan strategik harus mengacu pada suatu kerangka berfikir logis yang menetapkan di mana sebuah organisasi berada, kemana akan pergi dan bagaimana bisa sampai di sana.
Perencanaan stratejik merupakan proses berkelanjutan dan sistematis dari pembuatan keputusan yang berisiko, dengan memanfaatkan sebanyak-banyaknya pengetahuan antisipasif dan mengorganisasikannya secara sistematis usaha-usaha melaksanakan keputusan tersebut dan mengukur hasilnya sebagai umpan balik untuk pengembangan yang berkelanjutan.
Konsekuensi logis dari pengukuran hasil realisasi perencanaan stratejik ini adalah diterapkannya sistem akuntabilitas yang berbasis kinerja. Ini sejalan dengan tuntutan masyarakat akan perlunya transparansi, akuntabilitas dan pada akhirnya partisipasi masyarakat dalam proses-proses pembuatan dan pengambilan kebijakan publik. Inpres No. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah merupakan satu jawaban nyata dari pemerintah untuk mengatasi tantangan perubahan yang semakin kompleks dan beragam ini.
Bagi manajemen yang berorientasi kepada hasil, perencanaan strategis merupakan hal yang penting. Perencanan merupakan starting point bagi proses-proses manjemen secara keseluruhan untuk mencapai hasil yang diinginkan organisasi. Dalam perencanaan ini, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana berupaya untuk mendefinisikan apa yang akan dicapai, mengidentifikasi strategi, memperjelas prioritas organisasi dan bagaimana mencapai hasil tersebut. Dengan kata lain perencanaan strategis
disusun dalam rangka pemenuhan tugas pokok Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dalam hal perumusan kebijakan dan koordinasi bagi seluruh perangkat daerah.
Akhirnya diharapkan Perencanaan Strategis di lingkungan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Timur ini diharapkan dapat dijadikan bahan acuan dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (Performance plan / RKT);
2. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (workplan and budget / RKA); 3. Penyusunan Penetapan Kinerja (Performance Agreement);
4. Pelaksanaan tugas, pelaporan dan pengendalian kegiatan di lingkungan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Timur; dan
5. Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP) Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Timur.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang RI Nomor 25 tahun 2004 dan Permendagri No. 54 Tahun 2010, Rencana Strategis (RENSTRA) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) berisi tentang visi, misi, tujuan, strategi, arah kebijakan, program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD selama 5 (lima) tahun kedepan. Penyusunan rencana program dan kegiatan tersebut dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan isu-isu strategis yang diacu oleh SKPD. Untuk mewujudkan dokumen perencanaan tersebut, perlu dilakukan proses penyusunan rancangan secara baik, terstruktur dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait.
RENSTRA adalah bagian dari suatu sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) yang merupakan perpaduan antara sistem akuntabilitas kinerja dan sistem manajemen kinerja. Sistem menajemen Strategis Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Badan PP dan KB) Provinsi Kalimantan Timur merujuk pada sistem pengendalian manajemen untuk memastikan bahwa tujuan organisasi dalam kerangka pemenuhan visi dan misi organisasi dapat dicapai melalui
penyelenggaraan kegiatan organisasi yang direncanakan dan
dikendalikan dengan baik.
Sistem AKIP membentuk siklus tak terputus dari tahapan utama manajemen strategis mulai dari perencanaan strategis (strategic
planning), perencanaan kinerja (performance planning), pengukuran
kinerja (performance measuring) sampai dengan pelaporan kinerja (performance reporting).
Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur adalah badan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kalimantan Timur No. 09 Tahun 2008 Tentang Organisasi & Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencana
Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Kalimantan Timur dan Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 46 tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencana Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Kalimantan Timur. Memperhatikan Peraturan Pemerintah no 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota, Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur mendapat kewenangan
untuk menyelenggarakan bidang dalam urusan Pembangunan
Pemberdayaan Perempuan dan bidang Keluarga Berencana. Sehingga rancangan RENSTRA yang disusun terkait pada upaya pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.
RENSTRA SKPD juga melaksanakan amanah Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 67 Tahun 2011 tentang perubahan atas peraturan Menteri Dalam Negeri No 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum
Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah, dimana
penyelenggaraan tata pemerintah melakukan pengintegrasian gender melalui kelembagaan, perencanaan, dan penganggaran.
Dokumen ini berisi langkah-langkah strategis yang dilakukan SKPD dalam mewujudkan visi dan misi yang telah dirumuskan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sekaligus menjabarkan isi Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Jo. PP 54 Tahun 2010 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Kabupaten/Kota, dimana Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana merupakan urusan Wajib Pemerintah Daerah.
RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur merupakan bagian integral, relevan dan memiiki keterkaitan dengan dokumen perencanaan provinsi Kalimantan Timur lainnya. Dokumen RENSTRA ini memiliki nilai yang sangat strategis, karena dokumen ini menjadi acuan dalam penyusunan perencanaan tahunan / Rencana
Kerja (Renja) Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur selama periode 2013-2018.
1. Proses Penyusunan RENSTRA
a. Persiapan Penyusunan RENSTRA SKPD
Pembentukan Tim Penyusun RENSTRA dengan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur nomor 050.14/K.831/2013 tentang Pembentukan Tim Penyusunan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2013 – 2018. Kegiatan ini dibutuhkan guna mendapatkan gambaran awal dari jabaran visi, misi dan program Gubernur Kalimantan Timur terpilih periode 2014–2018, sesuai dengan tugas dan fungsi Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timuragar selaras dengan program prioritas Gubernur
b. Penyusunan Rancangan RENSTRA SKPD
Penyusunan rancangan awal RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur merupakan upaya mengintegrasikan dalam rancangan awal RPJMD Provinsi Kalimantan Timur
kemudian dilakukan penyempurnaan dengan memberikan
masukan terhadap isu-isu strategis sehingga menjadi rancangan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur. Tahapan penyusunan RENSTRA dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pengolahan data dan informasi;
Analisa gambaran pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur;
Perumusan isu-isu strategis berdasarkan tupoksi dengan memperhatikan SPM, RENSTRA K/L dan RENSTRA SKPD Kabupaten/Kota;
- Perumusan visi dan misi BADAN PP DAN KBProvinsi Kalimantan Timur
- Perumusan tujuan - Perumusan sasaran
Perumusan strategi dan kebijakan;
Perumusan rencana kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD;
Perumusan indikator kinerja Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD Provinsi Kalimantan Timur; dan
Dokumen rancangan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur.
c. Penyampaian rancangan RENSTRA
Kemudian tim penyusun RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur menyampaikan Rancangan RENSTRA kepada Tim Evaluasi RENSTRA yang dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalimantan Timur
d. Verifikasi Rancangan RENSTRA
Tim evaluasi RENSTRA melakukan verifikasi terhadap sistematika rancangan RENSTRA, periodesasi RENSTRA, konsistensi tujuan sasaran pelayanan jangka menengah sesuai RPJMD, program prioritas Gubernur, indikator kinerja utama dan pagu indikatif Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur
e. Finalisasi RENSTRA
Menindaklanjuti hasil verifikasi rancangan RENSTRA Badan PP
dan KB Provinsi Kalimantan Timur dengan melakukan
penyempurnaan
2. Keterkaitan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur dengan RPJMD Provinsi Kalimantan Timur, RENSTRA K/L dan RENSTRA SKPD Kabupaten/Kota, dan dengan Renja Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur
Ditujukan untuk menilai keserasian, keterpaduan, sinkronisasi, dan sinergitas pencapaian sasaran pelaksanaan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timurterhadap sasaran RENSTRA K/L dan RENSTRA SKPD kabupaten/kota sesuai dengan urusan pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana. Analisis RENSTRA K/L dan SKPD kabupaten/kota (yang masih berlaku) dilakukan untuk mengidentifikasi:
1. Apakah capaian sasaran pelaksanaan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timurtelah berkontribusi terhadap pencapaian sasaran RENSTRA K/L dan RENSTRA SKPD kabupaten/kota; dan
2. Apakah tingkat capaian kinerja RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timurmelebihi/sama/kurang dari sasaran RENSTRA K/L atau rata-rata kabupaten/kota.
Analisis RENSTRA kabupaten/kota tidak dilakukan karena keterbatasan data dan informasi yang diperoleh. Sinergitas program dan kegiatan Kabupaten/Kota dan Provinsi Kalimantan Timur dilakukan melalui penetapan program dan kegiatan prioritas.
Keterkaitan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur dengan RENSTRA Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) Republik Indonesia dapat digambarkan melalui analisis capaian RENSTRA Badan PP dan KB pada akhir periode RENSTRA sebelumnya 2009 – 2013 sebagai berikut :
1. Capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur tahun 2013 adalah 62,65 sedangkan capaian IPG RENSTRA KPP-PA 2013 sebesar 67,80 hal ini menunjukkan capaian kinerja sudah mendekati pada angka IPG Nasional. Namun diperlukan penyelenggaraan perencanaan program, kegiatan dan pendanaan untuk mencapai angka IPG nasional;
2. Capaian Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur tahun 2013 adalah 63,39 sedangkan capaian IDG RENSTRA KPP-PA 2013 sebesar 69,14 hal ini menunjukkan capaian kinerja sudah mendekati pada angka IDG nasional. Namun diperlukan penyelenggaraan perencanaan program, kegiatan dan pendanaan untuk mencapai angka IDG nasional;
3. Capaian kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur tahun 2013 adalah sebanyak 6 kebijakan sedangkan capaian kebijakan PUG RENSTRA KPP-PA 2013 sebesar 93 kebijakan. Meskipun capaian kinerja ini belum mendekati namun secara umum capaian kebijakan PUG Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur sudah cukup mengakomodir kebijakan PUG nasional;
4. Capaian kebijakan tentang perlindungan perempuan dari tindak kekerasan sebesar 10 kebijakan, sedangkan capaian kebijakan perlindungan perempuan dan tindak kekerasan nasional sebanyak 26 kebijakan. Diperlukan upaya yang lebih intensif untuk mencapai jumlah kebijakan nasional melalui perencanaan program kegiatan yang lebih focus pada capaian kebijakan tersebut diatas;
5. Capaian kebijakan tentang tumbuh kembang anak sebesar 10 kebijakan, sedangkan capaian kebijakan perlindungan perempuan dan tindak kekerasan Nasional sebanyak 60 kebijakan. Diperlukan upaya yang lebih intensif untuk mencapai jumlah kebijakan nasional melalui perencanaan program kegiatan yang lebih focus pada capaian kebijakan tersebut diatas;
6. Capaian usaha ekonomi perempuan produktif sebesar 9%, sedangkan capaian nasional belum terukur mengingat kegiatan tersebut tidak menjadi sasaran nasional. Kegiatan usaha ekonomi perempuan produktif merupakan kegiatan best practice yang menjadi pilot project di KPP-PA; dan
7. Capaian sasaran bidang KB-KS berupa fasilitasi program dan kegiatan Kementerian Agama dan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur.
1.2 LANDASAN HUKUM
Landasan hukum yang digunakan dalam penyusunan RENSTRA Tahun 2013-2018 yaitu sebagai berikut:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang; dan diubah terahir kalinya dengan Undang-Undang No.12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah; 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 200 -2025; 5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007
tentang Pedoman Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada DPRD, dan Informasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Jo. PP 54 Tahun 2010 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Kabupaten/Kota;
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah;
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah;
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan;
10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2005-2009;
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 21 Tahun 2011 pengganti Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor No. 59 Tahun 2007; dan diubah terahir kalinya dengan Peraturan Menteri Nomor 62 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
13. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 05 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur;
14. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 09 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 09);
15. Peraturan Daerah Kalimantan Timur No. 15 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2009-2014;
16. Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 46 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Kalimantan Timur; dan
17. Peraturan Gubernur Kalimantan Timur No. 34 Tahun 2009 Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2009-2014.
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan RENSTRA ini adalah agar tersedianya
dokumen perencanaan di bidang pemberdayaan perempuan,
perlindungan anak dan keluarga berencana. Sedangkan tujuan penyusunan RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timurini adalah tersedianya suatu dokumen yang stratejik dan konferhensif yang menjamin adanya konsistensi perumusan kondisi atau masalah daerah, perencanaan arah kebijakan, pembuatan strategi hingga pemilihan program strategis yang sesuai dengan kebutuhan daerah di bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan keluarga berencana.
RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur tahun 2013-2018 digunakan sebagai bahan:
1. Penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (Performance plan / RKT); 2. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (workplan and budget /
RKA);
3. Penyusunan Penetapan Kinerja (Performance Agreement);
4. Pelaksanaan tugas, pelaporan dan pengendalian kegiatan di lingkungan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur; dan
5. Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP) Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur.
Dokumen RENSTRA Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur ini juga dapat digunakan sebagai bahan penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) dan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Gubernur Provinsi Kalimantan Timur.
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Menguraikan penjelasan masing-masing penyajian rencana stratejik Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur, terdiri dari 7 bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
1. Bab I pendahuluan
Menguraikan tentang latar belakang penyusunan RENSTRA Badan PP dan KB, landasan hukum, maksud dan tujuan dan sistematika penulisan
2. Bab II gambaran pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur
Menguraikan tugas, fungsi dan struktur organisasi, sumber daya, kinerja pelayanan dan tantangan dan peluang pengembangan pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur
3. Bab III isu- isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi
Menjelaskan identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan, telaahan visi, misi, dan program Gubernur dan Wakil
Gubernur terpilih, telaahan RENSTRA K/L dan RENSTRA
kabupaten/kota dan penentuan isu-isu strategis
4. Bab IV visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan
Menguraikan Visi dan misi, Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah, Strategi dan Kebijakan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur
5. Bab V rencana program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif
Menjelaskan rencana program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur
6. Bab VI indikator kinerja yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD
Menjelaskan indikator kinerja Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD
7. Bab VII penutup
Menjelaskan ringkasan RENSTRA serta langkah-langkah yang akan dilaksanakan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur dalam mengimplementasikan RENSTRA
BAB II
GAMBARAN PELAYANAN
BADAN PP DAN KB PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Memperhatikan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur sebagai badan koordinatif mendapat kewenangan untuk menyelenggarakan pembangunan bidang pembangunan pemberdayaan perempuan dan bidang keluarga berencana.
Bentuk Pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayan Perempuan no 1 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Diamanahkan bahwa perempuan dan anak korban kekerasan mendapat perlindungan dan jaminan layanan terpadu meliputi:
1. Pelayanan Peneriman Pengaduan, penangungjawab Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayan Perempuan dan Anak (P2TP2A)
2. Pelayanan kesehatan, penangungjawab Dinas Kesehatan
3. Pelayanan rehabilitasi sosial, penangungjawab Dinas Sosial dan Kementerian
4. Pelayanan bantuan dan penegakan hukum, penangungjawab Kepolisian, Pengadilan dan Kejaksaan
5. Pelayanan Reintegrasi dan Pemulangan, penangungjawab Dinas Sosial. Gambaran diperlukannya pelayanan bagi Perempuan dan anak korban kekerasan mengingat korban kekerasan dari tahun ketahun semakin meningkat dan semakin kompleks, dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut:
Grafik data korban kekerasan di Kaltim 0 200 400 600 800 L P L 27 46 50 89 P 257 713 657 711 2010 2011 2012 2013
Sumber : BPPKB Prov. Kaltim
Pelayanan tersebut bersifat multi program dan lintas sektor, dengan adanya peraturan diatas, instansi pemerintah terkait wajib melaksanakan tugas pokoknya sesuai bidang tanggungjawab yaitu mmberikan perlindungan dan pelayanan kepada perempuan dan anak korban kekerasan secara terpadu berdasarkan awal rujukan dari P2TP2A. Pelayanan Penerimaan Pengaduan dilakukan P2TP2A yang secara fungsi dan adminitrasi berada dibawah Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur. Capaian pelayanan bagi Perempuan dan Anak Korban kekerasan berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayan Perempuan No. 1 tahun 2010, Kegiatan pelayanan tersebut terdapat dalam Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender anak dengan kegiatan Fasilitasi P2TP2A. Adapun target capaian penerimaan pengaduan tertera dalam tabel berikut:
Tabel 2.1
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Layanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan
No Jenis Pelayanan SPM Keterangan Indikator Nilai 2014 2015 2016 2017 2018 1. fasilitasi pengembangan pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan (P2TP2A) Prosentase pengaduan yang terlayani di P2TP2A % 70 75 80 85 90
Untuk mendukung capaian layananan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan melalui P2TP2A didukung juga dengan program sebagai berikut:
1. Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan dalam kegiatan pelatihan bagi pelatih TOT SDM pelayanan dan pendampingan korban KDRT dan sosialisasi sistem pencatatan dan pelaporan.
2. Program pengarusutamaan gender dalam kegiatan FGD percepatan standar layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan, pelatihan pendamping dan anak korban kekerasan, gugus tugas traficking, pelatihan pembuatan pencatatan dan pelaporan pembiayaan (e-costing) dan penerapan sistem prosedure PPPA.
3. Program penyusunan sistem perlindungan perempuan dalam kegiatan
sosialisasi dan fasilitasi pembentukan forum koordinasi
penyelenggaraan kerjasama dan pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga.
2.1 TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI
1. Dasar Pembentukan
Dasar pembentukan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur adalah Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 09 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 09) dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur Nomor 46 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok & Fungsi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Tehnis Daerah Provinsi Kalimantan Timur.
Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur merupakan pengembangan dari Biro Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, Bagian Pemberdayaan Perempuan pada Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur, berdasarkan Peraturan Daerah Kalimantan Timur Nomor 04 Tahun 2003 tentang Organisasi Perangkat Daerah Provinsi
Kalimantan Timur dan Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 06 Tahun 2004. Bagian Pemberdayaan Perempuan pada Biro Sosial & PP Setda Provinsi Kalimantan Timur yang terdiri dari 2 Sub Bagian yaitu Sub Bagian Peningkatan Peranan Perempuan dan dan Sub Bag Partisipasi Masyarakat.
2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur terdiri dari:
a. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana b. Sekretaris Badan Pemberdayaan Perempuan & Keluarga
Berencana
Kepala Subbag Perencanaan Program Kepala Subbag Umum
Kepala Subbag Keuangan
c. Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan Kepala Subbid Politik, Sosial, Budaya Kepala Subbid Ekonomi
d. Kepala Bidang PerlindunganPerempuan & Anak Kepala Subbid Perlindungan Perempuan Kepala Subbid Perlindungan Anak
e. Kepala Bidang Keluarga Berencana & Keluarga Sejahtera Kepala Subbid Keluarga Berencana
Kepala Subbid Keluarga Sejahtera
Selain struktur organisasi diatas, Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan dibantu oleh “lembaga pendukung” yang dibentuk berdasarkan keputusan Gubernur terdiri dari:
1) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A);
2) Forum Anak Kalimantan Timur (FAKT); dan
3) Forum Peduli Anak Berkebutuhan Khusus (FPABK).
3. Tugas Pokok Dan Fungsi
melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Daerah yang bersifat spesifik yaitu badan koordinatif di bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan keluarga berencana / keluarga sejahtera Provinsi Kalimantan Timur.
Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud, Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur mempunyai fungsi: a. Perumus kebijakan bidang pemberdayaan perempuan dan
keluarga berencana sesuai rencana strategis yang telah ditetapkan oleh Pemerintah;
b. Pemberian dukungan dan memfasilitasi atas perencanaan, pembinaan dan pengendalian kebijakan bidang peningkatan kualitas hidup perempuan;
c. Perumusan, perencanaan, pembinaan, koordinasi dan
pengendalian bidang perlindungan perempuan dan anak;
d. Penguatan koordinasi dan jaringan kerja dan pemberdayaan perempuan dan bidang keluarga berencana & keluarga sejahtera; e. Penyelenggaraan urusan kesekretariatan;
f. Pembinaan kelompok jabatan fungsional; dan
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur dibantu oleh “lembaga pendukung” sebagaimana tersebut diatas.
2.2 SUMBER DAYA
Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur adalah Lembaga yang dibentuk Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Keterbatasan sarana/prasarana, SDM serta ketersediaan dana sifatnya tentulah sangat sementara dan diterapkan secara bertahap
sehingga keterbatasan itu akan terpenuhi. Jumlah Pegawai Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur saat ini sebanyak 33 pegawai dengan rincian sebagai berikut:
1) PNS dengan Jabatan Eselon II sebanyak 1 (satu) orang; 2) PNS dengan Jabatan Eselon III sebanyak 4 (empat) orang;
3) PNS dengan Jabatan Eselon IV sebanyak 9 (sembilan) orang; dan 4) PNS Non Struktural sebanyak 19 (sembilan belas) orang.
5) Non PNS sebanyak 25 (dua puluh lima ) orang.
Ringkasan sumber daya aparatur PNS Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur menurut golongan dan jenis kelamin adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2
Jumlah sumber daya aparatur PNS BPPKB Prov. Kaltim berdasarkan golongan Golongan Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan IV 4 3 7 III 7 15 22 II 2 2 4 I 0 0 0 JUMLAH 13 20 33
Ringkasan sumber daya aparatur PNS Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur menurut eselon dan jenis kelamin sebagai berikut:
Tabel 2.3
berdasarkan esellon Esselon Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan I - - - II - 1 1 III 2 2 4 IV 4 5 9 NON ESELON 7 12 19 JUMLAH 13 20 33
Ringkasan sumber daya aparatur PNS Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur menurut usia dan jenis kelamin adalah sebagai berikut:
Tabel 2.4
Jumlah sumber daya aparatur PNS BPPKB Prov. Kaltim Berdasarkan usia Usia Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan > 55 0 0 0 51 – 55 4 4 8 46 – 50 2 8 10 41 – 45 4 3 7 36 – 40 3 2 5 31 – 35 0 2 2 26 – 30 0 0 0 21 – 25 0 1 1 < 20 0 0 0
Jumlah 13 20 33
Sedangkan ringkasan sumber daya aparatur PNS Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur menurut pendidikan dan jenis kelamin adalah sebagai berikut:
Tabel 2.5
Jumlah sumber daya aparatur PNS BPPKB Prov. Kaltim Berdasarkan pendidikan Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan S.3 0 0 0 S.2 4 4 8 S.1 7 10 17 D.IV 0 0 0 SM 1 0 1 D.III 0 2 2 D.II 0 0 0 D.I 0 0 0 SLTA 2 3 5 SLTP 0 0 0 SD 0 0 0 JUMLAH 14 19 33
Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur bertempat di gedung perkantoran di Jalan Dewi Sartika No. 13 Samarinda, Gedung perkantor sebelumnya dipergunakan oleh Badan Pendidikan dan Latihan Provinsi Kalimantan Timur. Selain sarana gedung kantor, terdapat prasarana lainnya untuk memenuhi kegiatan dan kebutuhan operasional perkantoran secara bertahap dilakukan melalui pengadaan peralatan kantor dan rehabilitasi kantor. Realisasi anggaran belanja sarana dan
prasarana dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 2.6
Realisasi anggaran belanja sarana dan prasarana
Tahun Realisasi Belanja Sarpras (Rp)
2009 46.400.945 2010 858.583.000 2011 1.192.951.420 2012 1.323.171.545 2013 1.330.926.334 Jumlah 4.752.033.244
2.3 KINERJA PELAYANAN BADAN PP DAN KB PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Kinerja pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur merupakan capaian kinerja yang telah dilaksanakan melalui implementasi RENSTRA tahun 2009-2013, tercermin dari indikator kinerja sebagai berikut:
1) Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Merupakan alat ukur keberhasilan atau kinerja dalam bidang pembangunan manusia. Adapun indikatornya meliputi angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata sekolah, dan daya beli.
Kondisi kualitas pembangunan manusia di Kalimantan Timur pada awal periode RENSTRA yaitu tahun 2009 berdasarkan angka IPM adalah 74,84. Target capaian indikator kinerja IPM pada akhir tahun 2012 adalah sebesar 76,46 sebagaimana tertuang pada Rencana Kinerja (Renja). Target IPM pada akhir tahun 2012 tersebut berhasil dicapai provinsi Kalimantan Timur dengan realisasi IPM
mencapai angka 76,71 atau sebesar 100,33% dari target yang ditetapkan. Capaian indikator kinerja IPM selama tahun 2009 – 2012 meningkat stabil dengan rata-rata capaian indikator kinerja IPM sebesar 100,33%. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan kualitas pembangunan manusia di provinsi Kalimantan Timur.
2) Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)
Menggambarkan tingkat pemberdayaan perempuan dalam forum-forum politik dan ekonomi. Angka ini menunjukan sejauh mana perempuan dan laki-laki dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan ekonomi dan politik dan mengambil bagian dalam mengambil keputusan. Adapun indikator IDG jumlah perempuan anggota parlemen, jumlah perempuan sebagai manajer dan administrator, angkatan kerja dan rata-rata upah di sektor non pertanian.
Pada awal periode RENSTRA tahun 2009 Provinsi Kalimantan Timur menduduki peringkat 28 nasional pada bidang pemberdayaan gender. Berdasarkan rencana kerja tahun 2012, Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur menargetkan perbaikan peringkat menjadi peringkat 25. Berdasarkan peringkat capaian IDG tahun 2012, Provinsi Kalimantan Timur menduduki peringkat 23 dari 33 provinsi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbaikan pemberdayaan gender di provinsi Kalimantan Timur.
Atas keberhasilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam pembangunan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tersebut, selama tiga tahun berturut-turut mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2013, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mendapatkan penghargaan Anugrah Parahita Ekapraya (APE) dari Pemerintah Republik Indonesia. Tahun 2011 provinsi Kalimantan Timur mendapatkan penghargaan APE tingkat pratama kemudian meningkat capaiannya pada tahun 2012 dan 2013 yaitu mendapat penghargaan APE tingkat madya.
Menggambarkan perbandingan tingkat kemampuan dasar antara perempuan dan laki-laki. Dengan semakin seimbangnya kemampuan dasar perempuan dan laki-laki maka dapat meningkatkan kualitas hidup kaum perempuan dengan indikator angka harapan hidup (laki-laki dan perempuan), angka melek huruf (laki-laki dan perempuan), rata-rata sekolah (laki-laki dan perempuan), dan daya beli (laki-laki dan perempuan).
Pada awal periode RENSTRA tahun 2009 provinsi Kalimantan Timur menduduki peringkat 29 nasional pada bidang pembangunan gender. Berdasarkan rencana kerja tahun 2012, ditargetkan pada akhir tahun 2012 provinsi Kalimantan Timur diharapkan dapat menduduki peringkat 26. Namun realisasi capaian IPG tahun 2012, pemerintah Provinsi Kalimantan Timur hanya berhasil memperoleh peringkat 29 secara nasional dari 33 provinsi di Indonesia. Pencapaian IPG selama tahun 2009 – 2012 belum mencapai target yang diharapkan. Belum tercapainya target indikator kinerja terutama disebabkan oleh rendahnya sumbangan pendapatan perempuan terhadap pendapatan daerah dan tidak tersedianya data terpilah pada SKPD pendukung.
4) Terwujudnya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Provinsi dan Kabupaten / Kota
Menggambarkan terbentuknya P2TP2A di kabupaten/kota yang berfungsi untuk memberika layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Layanan terpadu terdiri dari pelayanan penerimaan pengaduan, kesehatan, bantuan dan layanan hukum, rehabilitasi sosial, reintegrasi dan pemulangan. Fungsi layanan tersebut menjadi tanggung jawab SKPD dan instansi vertikal terkait.
Target pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) selama periode RENSTRA 2009 sampai dengan 2013 adalah terbentuknya 15 P2TP2A di seluruh kabupaten/ kota dan provinsi Kalimantan Timur. Target tersebut telah dapat dipenuhi seluruhnya pada tahun 2012. Pencapian ini terutama disebabkan oleh peningkatan intensitas dan efektifitas advokasi yang
dilakukan oleh Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur ke SKPD Pemberdayaan Perempuan di masing-masing kabupaten/kota se-Kalimantan Timur serta adanya dukungan pendanaan dari pemerintah kabupaten/kota.
5) Terwujudnya Model Desa Prima (Perempuan Indonesia Maju Mandiri)
Menggambarkan sebuah desa percontohan untuk
menanggulangi kemiskinan melalui upaya ekonomi disertai
pengurangan beban biaya kesehatan dan pendidikan bagi keluarga
miskin dengan memanfaatkan seluruh potensi, serta
mengkoordinasikan berbagai program pemberdayaan perempuan dari
instansi terkait, LSM, organisasi perempuan, organisasi
kemasyarakatan.
Target pembentukan model Desa Prima (Perempuan Indonesia Maju Mandiri) selama periode RENSTRA 2009 sampai dengan 2013 adalah terbentuknya 14 model Desa Prima di seluruh kabupaten/ kota pada provinsi Kalimantan Timur. sampai dengan tahun 2013 telah terealisasi sebanyak 27 model desa prima. Untuk mencapai target ini, BADAN PP DAN KB Provinsi Kalimantan Timur secara aktif melaksanakan advokasi dan fasilitasi tentang pembentukan desa prima di wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Terlampauinya capaian ini terutama disebabkan kuatnya komitmen kepala daerah dan tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya pembentukan desa prima untuk menanggulangi masalah kemiskinan di suatu wilayah.
Rincian mengenai pencapaian kinerja pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur selama periode RENSTRA 2009-2013 terdapat pada Tabel Lampiran 2.7.
Jumlah anggaran dan realisasi anggaran untuk pelaksanaan program dan kegiatan untuk pencapaian kinerja pelayanan BADAN PP DAN KB Provinsi Kalimantan Timur pada umumnya mengalami pertumbuhan setiap tahun, kecuali hanya pada program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan di tahun 2012 dan 2013 yang mengalami pertumbuhan negatif. Sedangkan pertumbuhan
paling tinggi terdapat pada program Program Peningkatan Peran serta dan Kesetaraan gender dalam Pembangunan.
Rasio antara realisasi dan anggaran (prosentase penyerapan anggaran) selama lima tahun pada umumnya berkisar antara 64,39% s.d. 100%. Penyerapan anggaran paling rendah terdapat pada program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan. Rendahnya penyerapan terutama terdapat pada kegiatan pelaksanaan kebijakan perlindungan perempuan di daerah, penyusunan sistem perlindungan bagi perempuan dan fasilitasi upaya perlindungan perempuan terhadap tindak kekerasan dikarenakan adanya perubahan lokasi kegiatan yang lebih dekat sehingga beban akomodasi dan transportasi menjadi lebih rendah. Sedangkan penyerapan anggaran paling tinggi terdapat pada program Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Program KRR direalisasikan dalam bentuk advokasi/ konseling calon pengantin menuju keluarga bahagia dan sejahtera, advokasi dan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) tentang kesehatan reproduksi remaja. Keberhasilan penyerapan anggaran didukung faktor koordinasi yang baik antara BADAN PP DAN KB Provinsi Kalimantan Timur dengan mitra kerja SKPD Provinsi Kalimantan Timur, instansi vertikal dan lembaga masyarakat pemerhati perempuan dan anak.
Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak penyerapan anggarannya dari tahun ke tahun dibawah 82%. Rendahnya penyerapan anggaran terutama dikarenakan rendahnya penyerapan kegiatan Advokasi dan Fasilitasi PUG bagi Perempuan dan Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak. Adapun faktor yang mempengaruhi rendahnya penyerapan kegiatan diatas adanya ketidaksesuai jadwal kegiatan antara BADAN PP DAN KB Provinsi Kalimantan Timur dengan BADAN PP DAN KB kabupaten/kota.
Program Pengembangan Model Operasional BKB Posyandu-Padu merupakan program baru yang dimulai pada tahun 2013 karena adanya transisi perubahan struktur organisasi sesuai Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 2008.
Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan penyerapan anggarannya selama lima tahun dibawah 90%. Tidak tercapainya target pada kegiatan Perumusan kebijakan peningkatan kualitas hidup perempuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan Perumusan kebijakan peningkatan peran dan posisi perempuan di bidang politik dan jabatan publik dikarenakan belum adanya pedoman teknis tentang program peningkatan kualitas hidup perempuan dibidang ilmu pengetahun adan teknologi.
Rincian mengenai anggaran dan realisasi pendanaan pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur selama periode RENSTRA 2009-2013 terdapat pada Tabel Lampiran 2.8.
2.4 TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PELAYANAN SKPD
Dalam upaya pencapian target pelayanan Badan PP dan KB Provinsi Kalimantan Timur, tentunya masih terdapat dan akan selalu menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang menghambat pencapaian tujuan. Oleh karenanya perlu dirancang suatu strategi dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada agar tujuan dapat tercapai dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat terlaksana dengan baik. Dalam mengidentifikasi tantangan, ancaman,
kekuatan dan peluang perlu dilakukan suatu metode untuk
menganalisanya. Salah satunya yaitu dengan menggunakan metode
SWOT Analysis (strength, Weakness, Oportunity and Threat analysis).
Identifikasi tantangan, ancaman, kekuatan dan peluang BADAN PP DAN KB Provinsi Kalimantan Timur menurut SWOT Analysis adalah sebagai berikut:
Tabel 2.9
Identifikasi tantangan, ancaman, kekuatan dan peluang (SWOT Analisys)
S1 Komitmen Pemerintah Pusat dan
Daerah dalam Pemberdayaan
Perempuan dan Keluarga
Berencana
W1 a. Pelaksanaan PUG yang
belum optimal
b. Kualitas dan kuantitas SDM yang masih kurang memadai
S2 Peraturan Daerah tentang
pembentukan Gugus Tugas
Pencegahan Tindak Pindana
Perdagangan Orang (PTPPO) dan Eksploitasi Seksual Anak (Eksa)
W2 Rendahnya kepedulian
masyarakat terhadap
perlindungan perempuan dan anak
S3 Pembentukan Pusat Pelayanan
Terpadu Pemberdayaan
Perempuan dan Anak
W3 Masih rendahnya akses
perempuan dalam
pembangunan daerah
S4 Penunjukan dan penetapan
provinsi yang mengembangkan kabupaten/kota layak anak dari Pemerintah Pusat
W4 Kualitas LSM/LM, ORMAS
Pemerhati Anak yang masih rendah
No. PELUANG/ OPPORTUNITY (O) No. ANCAMAN/ THREAT (T)
O1 Kuantitas LSM/LM, ORMAS
Pemerhati Anak yang cukup
memadai
T1 Ketersediaan anggaran yang
belum memadai
O2 Adanya jejaring dengan lembaga yang mendukung program
T2 Ketersediaan data terpilah laki-laki dan perempuan
O3 Pengembangan Model Desa Prima
(Perempuan Maju dan Mandiri)
T3 Keengganan korban kekerasan (perempuan dan anak) untuk melapor karena faktor budaya
T4 Kurang dukungan dari para
pengambil keputusan dalam
pelaksanaan program
T5 Duplikasi program dengan pelaksana program baik di Pusat dan Daerah
T6 Migrasi penduduk yang kurang terkendali
Berdasarkan SWOT analysis tersebut diatas, maka dapat ditentukan faktor-faktor kunci keberhasilannya sebagai berikut:
1) Strategi SO (Memaksimalkan Strength / Kekuatan untuk
Memanfaatkan Opportunity / Peluang).
a) Meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait dengan memaksimalkan peran Pemerintah Kabupaten/ Kota, dan pembinaan yang efektif terhadap LSM/LM, ORMAS Pemerhati Anak;
b) Secara berkala melakukan sosialisasi/ kampanye yang efektif atas Perda/Peraturan terbaru dan pemberian penghargaan pada masyarakat yang mendukung pemberdayaan perempuan dan anak sehingga menambah motivasi dukungan masyarakat; dan c) Secara periodik melakukan capacity building POKJA PUG dalam
mendorong implementasi PPRG pada SKPD untuk menuju kesetaraan gender.
2) Strategi ST (Memaksimalkan Strength/ kekuatan untuk mengurangi
Threat/ ancaman).
a) Memaksimalkan dana operasional untuk membiayai kegiatan operasional;
b) Pendekatan yang efektif bagi pengambil keputusan dalam pengambilan kebijakan penganggaran, dan akses pembangunan yang berpihak kepada perempuan;
c) Memanfaatkan tokoh non formal semaksimal mungkin dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap korban kekerasan perempuan dan anak; dan
d) Memaksimalkan koordinasi dengan mitra kerja lain/stakeholder dalam program pemberdayaan perempuan dan anak serta keluarga berencana.
3) Strategi WO (Meminimalkan Weakness/ kelemahan untuk
menangkap Opportunity/ peluang)
a) Pelaksanaan pelatihan teknis/fungsional, kursus secara berkala dan terencana untuk meningkatkan kualitas SDM; dan
b) Mengevaluasi kembali sistem pembinaan LSM/LM, ORMAS Pemerhati Anak untuk efektifitas peningkatan kualitas.
4) Strategi WT (Meminimalkan Weakness/ kelemahan untuk
menghindari Threat/ancaman)
a) Intensifikasi dan ekstensifikasi informasi dari pihak terkait tentang data terpilah laki-laki dan perempuan dalam segala bidang;
b) Mengefektifkan kerjasama dengan pihak yang terkait dalam rangka pengendalian penduduk; dan
c) Memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada untuk kegiatan operasional.
BAB III
ISU-ISU STRATEGIS
BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
3.1 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN
Penetapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah provinsi Kalimantan Timur (RPJMD) 2013-2018 menjadi acuan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah, dan menjadi prioritas karena menyangkut Pembangunan Sumberdaya Manusia. Masalah Utama dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana adalah rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan terutama di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan politik.
1. Permasalahan terkait peningkatan indeks pembangunan manusia a. Angka kemiskinan yang masih tinggi
Di bidang ekonomi, kemampuan perempuan untuk memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. Demikian pula halnya akses terhadap sumber daya ekonomi, seperti teknologi, informasi pasar, kredit, dan modal kerja. Tingkat pengangguran pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Besaran upah/gaji yang diterima penduduk perempuan di sektor non-pertanian lebih kecil dibanding laki-laki.
Selain itu banyak perempuan yang bekerja pada pekerjaan marginal sebagai buruh lepas, atau pekerja keluarga tanpa memperoleh upah, atau dengan upah rendah. Mereka tidak memperoleh perlindungan hukum dan kesejahteraan. Dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak.
Di dalam kegiatan agrobisnis umumnya perempuan mempunyai peran relatif besar pada bidang pemasaran dibanding laki-laki. Namun akses dan kontrol perempuan dalam kelembagaan yang mendukung agrobisnis relatif masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan kentalnya budaya yang membatasinya. Kemampuan
perempuan untuk memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. Demikian pula halnya akses terhadap sumber daya ekonomi, seperti teknologi, informasi pasar, kredit, dan modal kerja.
Secara statistik angka kemiskinan di Kalimantan Timur cukup tinggi. Ternyata salah satu penyumbang tingginya angka tersebut adalah kecilnya penghasilan perempuan sebagai tenaga kerja dan kepala keluarga.
b. Angka buta aksara yang masih tinggi;
Penduduk Kalimantan Timur yang buta aksara, ternyata didominasi oleh perempuan. Angka melek huruf perempuan masih terus tinggi dibanding laki-laki. Tingkat pendidikan dan kesempatan memperoleh pendidikan masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain kurangnya kesempatan memperoleh pendidikan dan budaya patriarchi (peran perempuan lebih pada peran domestik).
c. Minimnya dukungan bagi partisipasi perempuan keluarga miskin dalam pembangunan.
Pemberdayaan Perempuan merupakan upaya untuk mencapai kesetaraan dalam mencapai manfaat pembangunan, tidak terkecuali untuk perempuan di desa tertinggal.
Sebagai alternatif pilihan upaya pemberdayaan perempuan dalam pengurangan beban biaya hidup, beban biaya kesehatan dan pendidikan pada perempuan keluarga miskin yaitu dengan
mengoptimalkan seluruh potensi yang ada, serta
mengkoordinasikan berbagai Program Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana baik oleh masyarakat maupun oleh Pemerintah setempat yang secara bersama-sama bersinergi, memfokuskan kegiatan dalam rangka peningkatan produktivitas ekonomi perempuan. Upaya tersebut dilaksanakan di desa tertinggal dan merupakan sebuah model desa percontohan yang dikenal dengan Model Desa Perempuan Indonesia Mandiri (Desa Prima):
Melalui upaya ekonomi, pengurangan beban biaya kesehatan dan pendidikan bagi keluarga miskin;
Memanfaatkan seluruh potensi/sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia;
Meningkatkan produktivitas ekonomi perempuan kelompok miskin di berbagai kegiatan usaha, untuk meningkatkan pendapatan keluarga;
Meningkatkan akses kelompok perempuan terhadap informasi, teknologi tepat guna, dan berbagai sumber pembiayaan; dan
Mewujudkan Keadilan dan Kesetaraan Gender melalui
Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP).
Sasaran umum Desa Prima adalah perempuan dari keluarga miskin agar terjadi penurunan tingkat kemiskinan di wilayah tersebut. Target sasaran adalah desa/kelurahan yang memenuhi jumlah Keluarga Pra KS dan KS I cukup tinggi (diatas 10%).
Kriteria lokasi desa prima secara geografis: terisolir, tidak memiliki atau belum dapat memanfaatkan sumber daya alam, sedangkan secara ekonomis adalah pendapatan perkapita per tahun dibawah standar minimum, tidak memiliki akses terhadap pekerjaan. Kriteria secara sosiologi antara lain daerah tertinggal (belum terjamah pembangunan), termasuk dari aspek pendidikan, kesehatan, kebudayaan, informasi dan sarana prasarana fisik.
Desa/kelurahan yang akan dijadikan model Desa Prima adalah desa/ kelurahan yang mempunyai penduduk miskin (Pra KS dan KS I) relatif seimbang dengan penduduk yang mampu. Desa/ kelurahan tersebut mempunyai sumber daya alam yang memadai dan berpotensi untuk dikembangkan dan telah disepakati bersama untuk ditunjuk oleh pemerintah provinsi/kabupaten sebagai lokasi Desa Prima, dengan Surat Keputusan Gubernur/Bupati.
d. Pengembangan menuju Kabupaten/Kota Layak Anak yang belum menyeluruh
10 (sepuluh) Provinsi di Indonesia untuk mengembangkan Kabupaten/Kota Layak Anak. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak RI Nomor 56 Tahun 2010 tanggal 26 Juli 2010 tentang Penunjukan & Penetapan Provinsi Yang Mengembangkan Kabupaten/Kota Layak Anak ditindak lanjuti dengan Surat Gubernur Ke Bupati /Walikota Se-Kalimantan Timur Surat Nomor: 463/11189/ Badan PP dan KB/XII/2010, Tanggal 20 Desember 2010 Perihal Fasilitasi Pengembangan Kabupaten & Kota Layak Anak.
Kabupaten/kota layak anak adalah sistem pembangunan Kabupaten/Kota yang mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam program dan kegiatan pemenuhan hak & Perlindungan anak. Alasan mengapa kabupaten/kota Layak Anak perlu dilaksanakan karena:
Anak adalah amanah Tuhan yang perlu dipertanggungjawabkan secara pribadi dan sosial;
Jumlah anak 30 - 36% dari total penduduk , Tidak bisa diabaikan; Perubahan global mengancam tata nilai agama, sosial, dan
budaya lokal;
Embrio SDM yang handal dan tangguh menentukan masa depan bangsa dan negara; dan
Anak terancam & menjadi korban kekerasan, pelecehan, dikriminasi, perlakuan salah.
e. Tingginya angka keluarga Pra Sejahtera
Kualitas Manusia Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan penilaian Indeks Pembangunan manusia (IPM) Kalimantan Timur tahun 2011 berada pada peringkat 5 dengan nilai 76,22. Kesulitan untuk meningkatkan kualitas penduduk indonesia dikarenakan komposisi penduduk yang mengalami tripele burden, yang ditandai dengan besarnya usia balita dan anak, remaja dan lansia bila dibandingkan dengan penduduk usia produktif.
Dengan komposisi penduduk diatas, merupakan keharusan bagi Pemerintah untuk melakukan peningkatan kualitas manusia Indonesia guna kepentingan pembangunan berkelanjutan (Undang-Undang No. 52 Tahun 2009).
Dalam rangka pembangunan keluarga berdasarkan siklus hidup, pelaksanaan pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui peningkatan kualitas anak dengan pemberian akses informasi, pendidikan, penyuluhan dan pelayanan tentang perawatan, pengasuhan dan perkembangan anak: peningkatan kualitas remaja dengan pemberian akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga, peningkatan kualitas lansia agar tetap produktif dan berguna bagi keluarga dan masyarakat dengan pemberian kesempatan untuk berperan dalam kehidupan keluarga, serta peningkatan akses dan peluang terhadap penerimaan informasi dan sumber daya ekonomi melaui usaha mikro keluarga, mutlak perlu diberhasilkan.
Berkaitan dengan kesejahteraan keluarga adalah masih tingginya angka keluarga Pra Sejahtera tahun 2012 yaitu sebanyak 50.794 dan Keluarga Sejahtera I sebanyak 101.177 keluarga, sehingga perlu upaya peningkatan pendapatan keluarga untuk mengurangi jumlah penduduk miskin.
Selama kurun waktu 10 tahun sejak diberlakukan otonomi daerah tahun 2000, proporsi penduduk terpadat masih berada di kota-kota besar mengingat berbagai fasilitas kesehatan, pendidikan serta lapangan pekerjaan masih terkonsentrasi di kota-kota tersebut. Prosentase migrant risen di daerah perkotaan tiga kali lipat lebih besar daripada migrant risen di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 3,8% dan 1,2% (SP 2010).
Namun, dalam 10 tahun terakhir juga terjadi perubahan pola migrasi dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa akibat adanya pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru. Saat ini terdapat beberapa provinsi di luar Jawa yang menjadi daerah tujuan migrant antara lain
Papua, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Riau, dan Kepulauan Bangka Belitung (SP 2010).
Selain itu, terjadi migrasi dari central urban ke sub-urban sehingga area perkotaan semakin melebar. Pada 1990, urbanisasi atau daerah yang dikategorikan daerah urban masih berjumlah sekitar 30%, meningkat terus menjadi 42% tahun 2000, dan meningkat lagi menjadi 54% (SP 2010).
Data dan informasi penduduk (registrasi vital) seperti kelahiran, kematian, dan perpindahan perlu mendapatkan perhatian khusus. System data dan informasi kependudukan belum berjalan seperti yang diharapkan. Kurangnya tenaga pendataan dan
kesadaran masyarakat dalam melaporkan kejadian vital
menyebabkan kualitas data yang tersedia kurang akurat. Selain itu, data belum di jadikan sebagai dasar pengambilan kebijakan. Hal ini salah satunya disebabkan belum adanya bank data kependudukan namun belum diolah sehingga belum bisa dijadikan informasi.
2. Permasalahan terkait Pembangunan Gender
a. Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender yang belum optimal
Kegiatan-kegiatan pembangunan di dalam pelaksanaaanya di tingkat desa, dan mungkin juga dalam konsepsinya di tingkat nasional maupun provinsi, dan kabupaten/kota, secara eksplisit maupun implisit, membuat asumsi yang menguatkan pemisahan peran laki-laki dan perempuan, antara lain penyuluhan pertanian, program kredit, perkumpulan-perkumpulan formal dan peran pemimpin di dalamnya ditetapkan sebagai urusan laki-laki. Sedang urusan perempuan ditetapkan terbatas pada kegiatan-kegiatan yang menjurus ke bidang reproduksi, seperti keluarga berencana, pendidikan gizi dan kesehatan, PKK, dan lainnya. Hal ini menggambarkan, kebijakan pemerintah belum peka gender.
Secara umum akses dan kontrol perempuan pada kelembagaan dan organisasi, baik yang bersifat formal maupun tradisional, baru sebatas pada kelembagaan yang erat hubungan
dengan peran gender perempuan, misalnya organisasi PKK, arisan, pengajian, dan sebagainya.
Pelaksanaan Sosialisasi tentang pemahaman
Pengarusutamaan Gender (PUG) pada semua Instansi terkait guna
segera membentuk Pokja-Pokja PUG sebagai upaya
pembangunan Pemberdayaan Permpuan dan Penyediaan
Anggaran yang teralokasi benar-benar dapat mewujudkan Keadilan dan Kesetaraan Gender /Responsif Gender sebagaimana pada Inpres RI no. 09 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional dan Peraturan menteri dalam negeri nomor 67 tahun 2011 tentang perubahan peraturan menteri dalam negeri No. 15 tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah.
Penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan
pelayanan masyarakat di daerah masih diperlukan peningkatan
pengintegrasian gender melaui penguatan kelembagaan,
perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, penganggaran,
pemantauan dan evaluasi atas kebijakan program dan kegiatan yang responsive gender.
Melalui Strategi Nasional (STRANAS) Percepatan PUG melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif gender (PPRG), berdasarkan permasalahan, sasaran, serta arah kebijakan nasional, maka strategi PPRG meliputi strategi umum dan strategi khusus, Strategi umum mengacu pada dua permasalahan yang dihadapi adalah penerapan PPRG di tingkat nasional dan daerah yaitu a). penguatan dasar hukum dan b). penguatan koordinasi baik antar sesama instansi penggerak maupun antar penggerak dengan instansi pelaksana.
Strategi khusus berupa penjabaran dari strategi umum penguatan koordinasi melalui serangkaian strategi khusus yang diklasifikasikan menurut tahapan manajemen pembangunan, dari perencanaan hingga evaluasi.
b. Kurangnya koordinasi dan sinergitas kegiatan LSM/LM, ORMAS Pemerhati Perempuan dan Anak.
Sejalan era desentralisasi, timbul masalah kelembagaan dan jaringan di daerah (provinsi dan kabupaten/kota), terutama yang menangani masalah-masalah pemberdayaan perempuan dan anak. Karena program-program pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak merupakan program lintas-bidang, maka diperlukan koordinasi di tingkat nasional dan daerah, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi.
Keberadaan LSM/LM, ORMAS Pemerhati Perempuan dan Anak di Kalimantan Timur secara kuantitas sangat banyak. Namun secara kualitas sangat terbatas. Hal ini perlu dilakukan pensinergian, evaluasi, dan kordinasi seluruh LSM, ORMAS yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Badan PP dan KB).
Masalah lainnya adalah belum tersedianya data terpilah sehingga sulit dalam menemu-kenali masalah-masalah gender yang ada. Partisipasi masyarakat juga belum maksimal dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan dan meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak.
c. Kesenjangan Gender Dalam Hal Akses, Manfaat Dan Partisipasi Dalam Pembangunan.
Lambatnya peningkatan nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) setiap tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan kesetaraan gender di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan, politik serta pengambilan keputusan yang signifikan yang antara lain disebabkan oleh (1) masih terdapatnya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat dan partisipasi dalam pembangunan serta penguasaan terhadap sumber daya pada tataran antar provinsi dan antar Kabupaten/kota, (2) rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan publik dan di bidang ekonomi, (3) Rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi
dampak perubahan iklim, krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam dan konflik socsal serta terjadinya penyakit.
Daerah yang memiliki gap antara IPG dan IPM yang paling besar selama 2 tahun terakhir (2011 dan 2012) adalah Provinsi Kalimantan Timur . Salah satu penyebab dari kesenjangan gender yang terjadi di Kalimantan Timur adalah terjadinya kesenjangan dalam sumbangan pendapatan laki-laki dan perempuan. (Sumber dari Buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2012, terbitan Kerjasama Kementerian PP-PA RI dengan BPS).
Lambatnya peningkatan Nilai IPG setiap tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan kesetaraan gender di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan, politik serta pengambilan keputusan yang signifikan yang antara lain disebabkan oleh:
Masih terdapatnya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat dan partisipasi dalam pembangunan serta penguasaan terhadap sumber daya pada tataran antar provinsi dan antar Kabupaten/kota;
Rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan2 publik dan di bidang ekonomi; dan
Rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam dan konflik sosial serta terjadinya penyakit.
Daerah yang memiliki gap antara IPG dan IPM yang paling besar selama 2 tahun terakhir (2011 dan 2012) adalah prov Kaltim. Salah satu penyebab dari kesenjangan gender yang terjadi di
Kalimantan Timur adalah terjadinya kesenjangan dalam
sumbangan pendapatan laki-laki dan perempuan. (Sumber dari Buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2012, terbitan Kerjasama Kementerian PP-PA RI dengan BPS)
Masalah lainnya adalah belum tersedianya data
pembangunan yang terpilah menurut jenis kelamin sehingga sulit dalam menemukenali masalah-masalah gender yang ada. Partisipasi masyarakat juga belum maksimal dalam meningkatkan
kualitas hidup perempuan dan meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak.
d. Penyusunan Data Terpilah belum dilakukan oleh semua sektor / SKPD
Belum tersedianya data pembangunan yang terpilah menurut jenis kelamin sehingga sulit dalam menemukenali masalah-masalah gender yang ada. Partisipasi masyarakat juga belum maksimal dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan dan meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak. Pentingnya data terpilah:
Mengidentifikasi masalah dan dapat dirinci menurut jenis kelamin, wilayah, status sosial, ekonomi, waktu, yang dalam analisisnya menggunakan analisa jender;
Bentuk data terpilah, bisa kuantitatif atau kualitatif;
Dari data terpilah dapat diketahui posisi dan kondisi kebutuhan masyarakat laki-laki dan perempuan dalam pembangunan dan permasalahannya dengan mengurangi kesenjangaan jender. Pemetaan kebutuhan laki-laki dan perempuan:
Dalam perumusan perencanaan program dan kegiatan;
Dapat lebih mudah menentukan intervensi yang tepat pada masing-masing kebutuhan sekaligus mengalokasikan anggaran yang tepat sasaran sesuai kebutuhan dalam Gender Budget
Statement (GBS);
Akan mempermudah dalam proses monitoring dan evaluasi, karena data terpilah dan perencanaan serta analisa gendernya jika sudah tersedia, akan mudah membandingkannya dengan kondisi setelah diintervensi.
3. Permasalahan Terkait Pemberdayaan Gender
Permasalahan yang masih dihadapi terkait pemberdayaan gender yaitu masih minimnya peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan. Meski Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu mengamanatkan keterwakilan 30% perempuan di lembaga
legislatif, namun hasil Pemilu 2004 masih menunjukkan rendahnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Prosentase perempuan di Provinsi Kalimantan Timur yang berada di parlemen tidak sampai 15%. Prosentase perempuan yang duduk sebagai anggota DPRD kabupaten/kota hanya berkisar antara 3,7%-15%. Demikian pula di tingkat provinsi prosentase perempuan sebagai anggota DPRD juga lebih sedikit dibandingkan laki-laki yaitu sebesar 15,6% (7 orang) dan laki-laki sebesar 84,4% (38 orang). Jika dilihat secara keseluruhan jumlah perempuan yang menduduki jabatan di DPRD di provinsi maupun kabupaten/kota di Kalimantan Timur hanya sebanyak 32 orang atau 10,4% dan laki-laki 313 orang 89,6%.
Dalam artian Partisipasi dan keterwakilan perempuan di bidang Politik, bidang pemerintahan baik yang menduduki posisi Kepala Daerah maupun Wakil Kepala Daerah dan jabatan pemerintahan eselon tertinggi di Kalimantan Timur masih rendah dibandingkan laki-laki.
Peraturan perundang-undangan masih banyak yang bias gender dan/atau diskriminatif terhadap perempuan. Perangkat hukum pidana yang ada belum cukup lengkap dalam melindungi setiap individu, terutama dari tindak kekerasan dalam rumah tangga. Di samping itu, peraturan perundang-undangan yang ada juga belum dilaksanakan secara konsekuen untuk menjamin dan melindungi hak-hak perempuan dan anak, termasuk memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak dari tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi.
Dari 3 lembaga penyelengaraan pemerintahan di Indonesia seperti lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di Kalimantan Timur khususnya, peran dan partisipasi Perempuan dalam turut mengambil keputusan sangat terbatas. Hal ini harus diimbangi dengan meningkatkan koordinasi yang efektif karena jika tidak akan mengakibatkan pembangunan di Kalimantan Timur selalu tidak responsif gender (bias gender).
perempuan dan anak korban kekerasan.
Perlindungan anak dan perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan trafficking dan peningkatan layanan terpadu bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Meski telah ada Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang PKDRT, pembangunan pusat-pusat krisis terpadu di rumah sakit, pembangunan Ruang Pelayanan Khusus (RPK) di Polda dan Polres, serta pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan Anak (P2TP2A) di daerah, dan penyebaran informasi dan kampanye anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun upaya tersebut belum cukup untuk menekan tingginya tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak. Pada tahun 2005 berjumlah 149 kasus, tahun 2006 sebanyak 329 kasus dan tahun 2008 (s.d Juni) , tercatat sebanyak 115 kasus kekerasan dalam rumah tangga.
Untuk penanganan Korban Tindak Perdagangan Orang dan Korban Tindak Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak secara terpadu maka perlu dibentuk Gugus Tugas Pencegahan dan penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang, serta penyediaan wadah Advokasi, Sosialisasi dan Koordinasi dalam penanggulangan dan perlindungan Perempuan dan Anak yaitu P2TP2A Tingkat Provinsi Kalimantan Timur dan mendorong pembentukannya pada masing-masing Kabupaten/Kota sesegera mungkin.
3.2 TELAAHAN VISI, MISI, DAN PROGRAM GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR PERIODE TAHUN 2014-2018
Badan PP dan KB Prov. Kaltim berusaha memberikan pelayanan dibidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan keluarga berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan visi, misi dan program Gubernur dan Wakil Gubernur. Dalam upaya pemberian layanan pada masyarakat masih terdapat permasalahan yang disebabkan adanya
faktor penghambat. Namun demikian terdapat faktor pendorong yang berkontribusi positif dalam perbaikan layanan. Permasalahan, faktor penghambat dan pendorong dapat dilihat pada table berikut:
Tabel. 3.1
Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan SKPD
Terhadap Pencapaian Visi, Misi dan Program Gubernur dan Wakil Gubernur
Visi : Mewujudkan Kalimantan Timur Sejahtera yang Merata dan Berkeadilan Berbasis Agroindustri Dan Energi Ramah Lingkungan
No Misi dan Program
Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Permasalahan Pelayanan SKPD Faktor Penghambat Pendorong (1) (2) (3) (4) (5)
1 Misi 1 : Mewujudkan kualitas sumberdaya manusia yang mandiri dan berdaya saing tinggi
1. Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan Angka kemiskinan perempuan yang masih tinggi 1. Masih adanya diskriminasi dari pemberi pekerjaan 2. Tingkat kompetitif yang rendah Kesempatan kerja yang masih luas
2. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak
Pengarusutamaan Gender yang belum optimal Kurangnya pemahaman stakeholder mengenai PUG Adanya komitmen kepala daerah mengenai PUG 3. Program Keluarga Berencana Tingginya angka keluarga Pra Sejahtera Rendahnya tingkat pendidikan Adanya program pengentasan kemiskinan 4. Program Kesehatan Reproduksi Remaja ( KRR) 1. Tingginya angka pernikahan dini 2. Gangguan Kesehatan reproduksi remaja 1. Tingginya tingkat kenakalan remaja 2. Kurangnya pemahaman tentang Adanya beberapa regulasi terkait perlindungan perempuan dan