JURNAL PENELITIAN
KEBIDANAN
https://ojs.stikesawalbrosbatam.ac.id/index.php/JP Kebidanan
e-ISSN: 2721-6667
Kata kunci: Ekstrak Daun Kelor, Ibu Hamil, BBLR
Korespondensi Penulis: [email protected]
PENERBIT
Program Studi D 3 Kebidanan STIKes Awal Bros Batam
Alamat: Jl. Abulyatama Kelurahan Belian Kecamatan Batam Kota, Kota Batam
HUBUNGAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF NY “N” DENGAN ANEMIA DI PUSKESMAS
LEMBANG KECEMATAN LEMBANG KABUPATEN MAJENE
Supyanti1
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin
ABSTRAK
Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dan lebih sering terjadi di negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek pemberian ekstrak daun kelor pada ibu hamil anemia terhadap berat badan lahir bayi. Desain penelitian ini Randomized Double
Blind, Pretest- Postest Controlled. Penarikan sampel
menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 72 ibu hamil dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok intervensi menerima 1 kapsul ekstrak daun kelor 800 mg/hari dan besi+folat 60 mg/hari, sedangkan kontrol menerima besi+folat 60 mg/hari diberikan selama 90 hari. Data yang dikumpulkan meliputi pola konsumsi dan berat badan lahir bayi. T-test digunakan untuk melihat perbedaan peningkatan asupan dan berat badan lahir bayi pada kelompok intervensi dan kontrol. Hasil penelitian menunjukan asupan energi, vitamin A, tiamin, riboflavin, zink dan serat meningkat pada ke dua kelompok dengan peningkatan lebih besar dan bermakna pada kelompok intervensi (p<0,05), namun peningkatannya tidak bermakna (p>0,05). Asupan protein, kalsium, vitamin C, piridoksin dan besi juga meningkat pada ke dua kelompok dengan peningkatan lebih besar dan bermakna pada kelompok kontrol (p<0,05), namun peningkatannya tidak bermakna (p>0,05). Perbedaan berat badan lahir kedua kelompok perlakuan (3,06±0,36 kg vs 3,01±0,46 kg) akan tetapi perbedaannya tidak bermakna (p<0,05). Disimpulkan bahwa rerata berat lahir bayi lebih tinggi pada kelompok ibu hamil yang menerima ekstrak daun kelor. Pemberian ekstrak daun kelor meningkatkan beberapa asupan zat gizi.
Ibu hamil di negara berkembang diketahui sangat berisiko mengalami
defisiensi multiple micronutrien seperti zat
besi, asam folat, iodium, zink, vitamin A, D, B2, B6 dan B12, yang akan memberikan dampak buruk pada ibu dan bayinya (Haider et al., 2011). Tingginya prevalensi defisiensi micronutrien di Malawi dianggap sebagai salah satu penyebab Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) disebabkan karena konsumsi buah dan sayuran menurun sebagai akibat pendapatan meningkat, sementara konsumsi daging dan sumber karbohidrat tinggi. Defisiensi micronutrien ditemukan pada populasi umum di Malawi, B12 (84% dari populasi yang disurvei), vitamin A (65%), Zn (53%), Fe (46%), asam folat (37%), vitamin C (33%) dan B2 (32%) (IFPRI, 2009). Makanan dengan kwalitas rendah, ditambah lagi dengan peningkatan kebutuhan gizi untuk pertumbuhan plasenta dan janin dapat mengakibatkan
defisiensi multiple micronutrien pada
kehamilan dan berkontribusi terhadap kejadian BBLR (Zeng et al., 2008).
Data Unicef 2000-2007 diperoleh angka kejadian BBLR tertinggi di Yaman 32%, Sudan 31%, dan India 28% sedangkan terendah di China 2%, Indonesia 9% (Unicef, 2009). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 diperoleh angka kejadian BBLR sebesar 11,1% tertinggi di Nusa Tenggara Timur 19,2% dan terendah di Sumatra Barat 6,0% sedangkan Sulawesi Selatan 16,2%. Hasil ini sedikit lebih rendah dari data Riskesdas tahun 2007 sebesar 11,5%, tetapi masih jauh dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%, untuk Kabupaten Gowa pada tahun 2009 kejadian BBLR sebanyak 70 bayi (0,49%), tahun 2010 sebanyak 157 bayi (1,22%), dan tahun 2011
sebanyak 203 atau 0,78% bayi (Dinkes Prov Sul-Sel, 2012).
Hasil penelitian yang dilakukan Bhutta ZA et al (2009), pada 2,378 ibu hamil. Mereka diberikan Fe+asam folat vs MMN. Ibu hamil dalam kedua kelompok mengkonsumsi 75% dari suplemen yang diberikan. Signifikan pada berat lahir bayi dari ibu yang mengkonsumsi MMN dibandingkan dengan bayi dari ibu yang mengkonsumsi Fe+asam folat (2,95+/-0,6 vs 2,88+/- 0,5 kg, p =0 .01). Hasil ini menunjukan terjadi pengurangan sebesar 10% (p< 0,17) dari proporsi BBLR antara bayi dari ibu yang mengkonsumsi MMN.
Eksplorasi pemanfaatan makanan sebagai pilar ketahanan pangan dengan menganalisis potensi yang ada pada daun kelor, dapat membantu mengurangi kekurangan gizi pada anak-anak dan perempuan (Oyekale, 2012). Kandungan vitamin dan mineral yang terdapat dalam tepung daun kelor per 100 gr mengandung ß carotene 16,3 mg, B1 2,6 mg, B2 8,2 mg, vitamin C 17,3 mg, Ca 2003,0 mg, Fe 28,2 mg, Mg 368,0 mg dan fosfor 204,0 mg (gopalan et al., 2010). Hasil analisis proksimat menemukan kandungan protein, karbohidrat, serat, lemak, dan asam lemak esensial pada daun kelor (Ogbe & Affiku, 2012).
Selanjutnya hasil analisis fitokimia dan anti-nutrisi melaporkan, tanin, phytates, tripsin, saponin, oksalat dan sianida dalam konsentrasi rendah (Ijeomah et al., 2012). Untuk mengetahui dampak pemberian daun kelor pada ibu hamil dilakukan dengan mengukur kadar gizimikro dalam plasma darah ibu, serta kerusakan DNA yang menjadi marker sensitif untuk defisiensi gizimikro (Fenech et al., 2005).
Hasil uji efek laktagogum pada tikus putih galur Wistar, diperoleh peningkatan berat badan yang signifikan. Induk tikus yang diberi tepung daun kelor melahirkan anak dengan rerata berat badan 5,6 g pada dosis
42 mg/g berat badan induk tikus, 6,05 g pada dosis 84 mg/g berat badan induk tikus dan 6,5 g pada dosis 168 mg/g berat badan induk tikus. Sedangkan rerata peningkatan berat badan anak tikus setelah umur 14 hari tertinggi pada anak tikus dari induk yang diberi tepung daun kelor adalah 380,74% pada dosis 42; 500,9% pada dosis 84 dan 871,9% pada dosis 164 mg (Titi dkk., 2013).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian ekstrak daun kelor pada ibu hamil anemia terhadap berat badan lahir bayi
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah intervensi dengan desain randomized double blind,
pretest- postest controlled. Subjek
penelitian ini dibagi dalam dua kelompok yakni; kelompok intervensi menerima 1 kapsul ekstrak daun kelor 800 mg/hari dan besi+folat 60 mg/hari, sedangkan kontrol menerima besi+folat 60 mg/hari diberikan selama 90 hari dengan variabel yang dinilai adalah asupan zat gizi dari makanan yang dikonsumsi dan berat lahir bayi.
Penelitian ini dilaksanakan di kecamatan Bontonompo yang terdiri dari tiga kelurahan dan sebelas desa dan Bontonompo Selatan dengan sembilan desa
a. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang terdata oleh petugas kesehatan dan tenaga lapangan yang telah dilatih untuk memeriksa status kehamilan dan pengantin baru yang tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) menikah sejak januari 2012. Penentuan sampel dengan cara purposive
sampling yaitu sebanyak 72 ibu hamil
yang memenuhi kriteria inklusi yakni ibu
hamil trimester dua dengan anemia dan tidak KEK, bersedia menerima kapsul ekstrak daun kelor, dan Fe+asam folat selama sembilan puluh hari, paritas 0-2, umur ibu hamil 18–35 tahun, janin tunggal, tidak mengonsumsi multivitamin dan mineral lain dan bersedia menandatangani
informed consent.
b. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data karakteristik ibu hamil mengenai umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan riwayat kehamilan, Food
Recall 24 jam untuk melihat asupan, Food
Frekuensi untuk melihat pola makan. Pengukuran kadar Hb menggunakan blood
hemoglobin photometer merek Hemocue,
berat badan menggunakan timbangan digital dengan tingkat ketelitian 0,1 kg, LiLA dengan pita meter LiLA dengan tingkat ketelitian 0,1 cm dan tinggi badan menggunakan microtoise dengan tingkat ketelitian 0,1 cm. Pengumpulan data dilakukan dua kali yaitu sebelum dan setelah intervensi.
Daun kelor yang digunakan diambil dari pohon kelor yang tumbuh di Kabupaten Soppeng dan di olah di laboratorium mikronutrien Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasanuddin. Analisis kandungan gizi baik tepung maupun ekstrak daun kelor dilakukan di dua tempat yaitu: Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar (BBLKM) dan Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan dan Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada Yokyakarta
c. Analisis Data
program Nutrisurvey untuk melihat jumlah zat gizi, analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi karakteristik responden mengenai data umur, riwayat obstetrik, pendidikan terakhir, pola makan dan jumlah konsumsi kapsul Fe dan ekstrak daun kelor. Analisis bivariat digunakan untuk menilai perbedaan rerata sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok perlakuan menggunakan paired t-test jika distribusi data normal dan uji wilcoxon jika distribusi data tidak normal. Independent t-test digunakan untuk melihat perbedaan rerata perubahan kedua kelompok perlakuan jika distribusi data normal dan uji mann u-whitney bila distribusi data tidak normal. Analisis univariat dan bivariat menggunakan program SPSS.
3. PEMBAHASAN
Penelitian ini menemukan bahwa pemberian ekstrak daun kelor meningkatkan asupan energi, vitamin A, tiamin, riboflavin, zink dan serat lebih besar dan signifikan (p<0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol, namun perbedaan peningkatannya tidak signifikan (p>0,05). Rerata berat lahir bayi pada ibu yang menerima ekstrak daun kelor sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (3,06±0,36 kg vs 3,01±0,46 kg)
Hasil recall asupan ibu hamil kelompok intervensi maupun kontrol diawal penelitian menunjukkan angka kecukupan energi, protein, vitamin A, dan vitamin C proporsinya tidak mencapai 50% dari RDA, sedangkan B1 proporsi yang sesuai RDA hanya mencapai 16,7%. Asupan B2, Ca, Fe dan Zn hanya mencapai 10% yang sesuai RDA . Asupan B6, yang sesuai RDA mencapai 50%. Adapun variasi (kelengkapan) makanan hanya 43,1% ibu hamil dengan pola makan lengkap. Seiring bertambahnya usia kehamilan, kebutuhan
juga gizi mengalami peningkatan. Pertumbuhan dan perkembangan janin semakin cepat pada kehamilan trimester ketiga sehingga diperlukan nutrien yang cukup (Arkkola T, 2009).
Asupan ibu hamil trimester tiga (post intervensi) masing-masing kelompok perlakuan khususnya gizi makro (energi mencapai 72,2% dan protein lebih dari 50% sesuai RDA), sedangkan gizi mikro untuk vitamin A, vitamin C dan B6 lebih dari 50% sesuai RDA. Asupan kalsium dan B2 yang sesuai dengan RDA kurang dari 30%, sedangkan vitamin B1, pada kelompok intervensi mencapai 33,3% dan hanya 5,6% pada kelompok kontrol. Tidak satupun asupan besi dan seng yang memenuhi RDA.
Variasi pola makan responden dengan menu makanan yang terdiri dari nasi, roti, umbi-umbian atau jagung, sayur-sayuran dan buah-buahan serta sering ada daging, ikan, atau ayam walaupun jumlahnya sedikit (13-30%) pada masing-masing kelompok perlakuan di dalam menu sehari-hari mempunyai penyerapan zat besi sedang (10%). Perubahan pola makan ibu dan kadar progesterone plasma dapat mengubah ekspresi gen dalam embrio praimplantasi sehingga terjadi perubahan pada lintasan pertumbuhan janin, selanjutnya proses pertumbuhan janin meningkat seiring perbaikan gizi disekitar pembuahan dan berjalan lebih cepat pada janin laki-laki. Pola konsumsi dan tingkat kecukupan beberapa zat gizi yang ditunjukkan pada tabel 4 bervariasi dan terjadi ketimpangan. Ketidakcukupan terlihat pada beberapa gizi mikro diantaranya Fe, Zn, Ca, B2 dan B1 pada kedua kelompok perlakuan dengan tingkat ketidakcukupan 60%-100%.
Ekstrak daun kelor mengandung sembilan asam amino esensial meliputi Histidine,
Isoleucine, Leucine, Lysine, Methionine, Cysteine, Phinilalanine, Tyrosine, Threonine, Tryptophan dan Valine. Protein ini diperlukan
mendukung pertumbuhan jaringan pada janin serta plasenta untuk membawa makanan ke janin, membentuk hormon dan enzim ibu dan janin. Kekurangan energi dan protein menyebabkan terbentuknya organ yang lebih kecil dengan jumlah sel yang cukup dan ukuran sel yang kecil sehingga ukuran plasenta menjadi kecil. Volume darah ibu menurun dan cardiac output tidak adekuat. Hal ini mengakibatkan menurunnya aliran darah ke plasenta diikuti transfer nutrisi berkurang sehingga pertumbuhan janin terganggu dan berdampak pada berat badan lahirnya (Nelms et al., 2007).
Penelitian observasional pada 57 ibu hamil menunjukkan korelasi yang kuat pada berat plasenta dengan kejadian BBLR. Berat plasenta kurang dari 400 g, ditemukan 86,0% mengalami BBLR, sementara plasenta di atas 400 g terdapat 87,7% lahir dengan berat normal. Dan 14 % BBLR. Hasil analisis OR ditemukan nilai OR sebesar 43,75 yang berarti bahwa plasenta dengan berat kurang dari 400 g berisiko melahirkan BBLR sebesar 43.75 kali lebih besar dibanding dengan plasenta yang beratnya lebih dari 400 g (Amiruddin, 2006).
Dengan mengukur kemampuan plasenta mengirim nutrien pada janin, memberikan gambaran bahwa besar plasenta berkorelasi dengan berat lahir. Eksperimen pada sejumlah domba betina menunjukkan ukuran plasenta yang lebih besar pada domba yang diberika pakan dengan asupan nutrien yang lebih tinggi di awal kehamilannya pada domba dengan asupan pakan yang buruk saat pembuahan. Sebaliknya pemberian pakan dengan asupan nutrien yang tinggi pada domba betina di awal kehamilannya dengan asupan pakan yang baik pada saat pembuahan akan menghasilkan ukuran plasenta yang lebih kecil. Eksperimen ini menunjukan bahwa
keadaan gizi kurang pada janin di awal kehamilan menghasilkan anak yang tubuhnya kecil tetapi proporsinya normal, sementara keadaan gizi kurang pada kehamilan lanjut menimbulkan dampak yang serius pada proporsi tubuh, tetapi efeknya pada berat lahir hanya sedikit. Beragamnya periode kritis yang dilalui berbagai organ dan sistem tubuh untuk mencapai maturasi menunjukkan bahwa lingungan intrauteri yang merugikan pada berbagai tahap perkembangan cendrung memberikan efek jangka pendek dan jangka panjang yang spesifik (Gibney et al., 2008).
Pada penelitian ini ditemukan satu neonatal dengan berat lahir 2,2 kg dengan masa gestasi 37 minggu pada kelompok kontrol dengan jumlah Fe yang dikonsumsi 54 kapsul. Dari hasil recall %AKG yang dilakukan diketahui tingkat kecukupan asupan protein diawal kehamilan 74,91%, Ca 63,33%, vitamin C 57,65, B6 45,59%, Zn 32,38%,energi hanya 31,05%, vitamin A, B2, B1 dan Fe (berturut-turut 28,69%, 20,94%, 19,64%, dan 11,52%) sementara diakhir kehamilan asupan protein, B6, dan vitamin C melebihi RDA, energi (74,91%), vitamin A (62,7%), vitamin B1, B2 (40,63%), Ca, Fe dan Zn semuanya berada di bawah RDA (27,06%, 20,9% dan 27%). Masih ditemukan dua neonatal dengan berat lahir 2,3 kg pada kelompok kontrol dengan masa gestasi 30 minggu diawal kehamilan tingkat kecukupan konsumsi sedang untuk asupan protein, vitamin A,dan B6, sementara energi, B1 dan Zn hanya mencapai 40%, vitamin C (75%), Ca dan Fe (17% dan 14%). Konsumsi tingkat kecukupan semua zat gizi mengalami penurunan yang berpariasi antara 5,9%-47% pada kehamilan lanjut dengan jumlah kapsul Fe yang dikonsumsi 52 kapsul. Masih pada ibu dengan berat neonatal 2,3 kg dengan masa gestasi 35 minggu dan jumlah Fe yang dikonsumsi 30 kapsul dengan asupan nutrien sebagian besar tidak mengalami peningkatan (kecuali vitamin A dan Ca) rendah diawal kehamilan dan pada kehamilan lanjut.
Keadaan gizi kurang pada janin yang terjadi dalam kehamilan lanjut lebih sering merupakan konsekuensi dari ketidakadekuatan kemampuan maternoplasental dalam memasok nutrien pada kehamilan yang lebih dini. Kegagalan maternoplasenta memasok kebutuhan nutrien janin mengakibatkan berbagai adaptasi fetal dan perubahan perkembangan yang dapat menimbulkan perubahan permanen pada struktur serta metabolisme tubuh. Pertumbuhan janin untuk masa gestasi dikatakan baik bila berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi. Penelitian ini memberikan laporan masa gestasi ibu hamil yang menerima ekstrak daun kelor berada pada kisaran 37-39 minggu dengan berat badan bayi baru lahir terendah 2,5 kg sebanyak 11,1% neonatal dan berat lahir terbanyak 3,0 kg sebanyak 27,8% neonatal. Pada kelompok kontrol ditemukan 4,17% neonatal dengan berat lahir < 2,5 kg dengan masa gestasi 37, 30 dan 35 minggu. Berat lahir terbanyak 2,6 kg sebanyak 13,9% neonatal.
Suplementasi ekstrak daun kelor dan Fe+asam folat selama 90 hari diperlukan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi ibu hamil. Adanya kandungan zat besi sebesar 0,08 mg, B2 (20,5 mg), vitamin C (12,12 mg), vitamin A (2,51 mcg), vitamin E (12,40 mg). Ketersediaan Cu, B1, B2 dan B3 berperan dalam membentuk sel darah merah yang kaya oksigen untuk memperlancar aliran darah ke plasenta diikuti transfer nutrisi untuk pertumbuhan janin. Hasil temuan Iskandar (2014), melaporkan bahwa ekstrak daun kelor secara signifikan (p<0,05) dapat mencegah penurunan kadar Hb akibat hemodilusi sebesar 30,3% dengan peningkatan kadar Hb 0,73 gr/dL±1,29 gr/dL dengan penurunan laju kadar serum feritin 45,7±26,6 µg/ml atau 1,7 kali lebih lambat daripada kelompok kontrol. Hasil temuan ini
memberikan gambaran bahwa pemberian suplemen zat besi yang dikombinasikan unsur vitamin dapat meningkatkan biovailabilitas zat besi dalam meningkatkan kadar Hb ibu. Selain membentuk sel darah merah vitamin A juga dibutuhkan untuk sintesis protein Rendahnya kemampuan tubuh menyerap karoten yang berasal dari sayuran hanya 33 – 58% sehingga dibutuhkan suplementasi. Kecukupan vitamin A dalam penelitian ini hanya 24 (66,7%). Vitamin B1, B2, B3, dan asam pantotenat juga dibutuhkan untuk membantu proses metabolisme energi. B2 sebagai koenzim berperan dalam metabolisme energi memecah senyawa karbohidrat menjadi gula sehingga mudah dicerna. B2 juga mengkonversi protein dan lemak menjadi energi. Energi inilah yang digunakan untuk pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, pembuluh darah, dan jaringan baru. Zat gizi lain yang dibutuhkan oleh janin adalah Ca. Janin memenuhi kebutuhan Ca dengan cara mengumpulkan Ca dari ibunya ±25-30 mg/hari. Sumber Ca dari ekstrak daun kelor hanya 0,08 mg.
Berat lahir bayi dipengaruhi oleh pertambahan berat ibu selama kehamilan (Cunningham & Garry, 2006). Trimester pertama dan kedua kenaikan berat badan ibu sebagian besar disebabkan oleh kenaikan organ pendukung kehamilan sedangkan pada trimester ketiga kenaikan berat badan disebabkan karena pertumbuhan janin. Hasil penelitian Iskandar (2014), memperlihatkan peningkatan rata-rata berat badan ibu hamil yang menerima ekstrak daun kelor 1,3 kali lebih besar dari pada kontrol. Perbedaan peningkatan berat badan kedua kelompok perlakuan (6,73±0,56 kg vs 5,24±0,63 kg) (p<0,05), pertambahan berat badan ini menunjukkan berkolerasi yang kuat dengan berat badan lahir bayi (r = 0,99).
4. KESIMPULAN DAN SARAN
sedikit lebih tinggi pada kelompok ibu hamil yang menerima ekstrak daun kelor namun perbedaan berat lahir pada kedua kelompok perlakuan tidak signifikan (p=0,602) sehingga diperlukan penambahan dosis ekstrak daun kelor untuk meningkatkan status gizi ibu hamil agar kejadian BBLR dapat dicegah.
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin R. (2006). Analisis Risiko Asap
Rokok Dan Variasi Gen
Cyp2a6terhadap Berat Plasenta Dan Dampaknya Pada Kejadian Bayi
Berat Lahir Rendah (Disertasi).
Makassar Universitas Hasanuddin. Arkkola T. (2009). Diet during
pregnancy:dietary pattern and weight gain rate among finnish pregnant women. Universitasis Ouluensis : D
medika 1037.
Bhutta Z.A., Rizvi A., Raza F., et al. (2009). A comparative evaluation of multiple mocronutrient and iron-folic acid supplementation during pregnancy in Pakistan: impact on pregnancy outcomes. Food Nutr Bull, 30 suppl 4: 496-505.
Cunningham. & Garry F. (2006). Obstetric
Williams. Edisi 21 Vol 2, Alih bahasa
Hartono dkk. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Dinas Kesehatan R.I. (2012). Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.
Fenech, et al. (2005). Low Intake of Calsium, Folate, Nicotinic Acid, Vitamin E, Retinol, ß- Carotene and High Intake of Pantothenic Acid, Biotin and Riboflavin are Significantly Associated With Increased Genome Instability.
Results From a Dietary Intake and MicronucleusI ndex Survey in South Australia. Vol. 26 no. 5 pp. S991-999
Gopalan W, et al. (2010). Nutional Institute of Nutrition: All Things Moringa,
Bey H. Gibney M.J., Margetts B.M., Kearney J.M & Arab.L. (2008). Public
Health Nutrition. Dalam Barker DJP &
Godfrey KM editor. Gizi ibu, programming janin, dan penyakit kronis dewasa. Jakarta. EGC. h. 372-389. Haider B.A., Yakoob M.Y. & Butta Z.A.
(2011). Effect of multiple micronutrient supplementation during pregnancy on maternal and birth outcomes. BMC
Public Health, 11 (Suppl 3):S19.
IFPRI. (2009). Analyzing the Nutritional Impact
of Policies in Malawi. International Food
Policy Research Institute, Washington DC.
Ijeomah A. U., Ugwuona F. U. & Abdullahi H. (2012). Phytochemical Composition And Antioxidant Properties Of Hibiscus Sabdariffa And Moringa Oleifera.
Nigerian Journal of Agriculture, Food and Environment. 8(1):10-16.
Iskandar M. I. (2014). Efek Pemberian Ekstrak
Daun Kelor Terhadap Peningkatan Berat Badan dan Kejadian Anemia pada
Ibu Hamil di Kabupaten Gowa
(Disertasi). Makassar Universitas Hasanuddin.
Nelms M., Sucher K.P., Lacey K. & Roth S.L. (2007). Nutrition therapy and pathophysiology. 2nd edition. USA: Wadsworth. p 38-50.
Ogbe A.O. & Affiku J.P. (2012). Proximate study, mineral and anti-nutrient composition of Moringa oleifera leaves harvested from Lafia, Nigeria: potential benefits in poultry nutrition and health. J
Micro Biotech Food Sci; 1: 296–308.
Oyekale A.S. (2012). Nutritional Outlooks of Moringa Oleifera and African Malnutrition Challenges: A Case Study of Nigeria. Life Sci J; 9(4):3867-3872. Diakses 23April 2013. Available from: http://www.lifesciencesite.com.
Titi M.K., Harijono., Estiasih., & Sri E.W. (2013) Effect Lactagogue Moringa
oleifera Lam Powder in Rats White
Female Wistar. J. Basic. Appl. Sci.
Res, 3(4)430-434. Diakses 17 Pebruari
2014. Available
from.http://www.textroad.com.
Unicef. (2009). The state of the world’s children. Maternal and Newborn Health.
Zeng L, et al. (2008). Impact of micronutrient supplementation during pregnancy birth weight, duration of gestation, and perinatal mortality in rural western China: double blind cluster randomized controlled trial. BMJ, 337: A2001.