PENGARUH PENGGUNAAN ABU TERBANG (FLY ASH) TERHADAP
KUAT TEKAN PADA MORTAR
1 2
Devi Oktarina , Rian Pebri 1
Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Malahayati
2
Alumni Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Malahayati Bandar Lampung
Email : [email protected]
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah abu terbang (Fly Ash) batu bara sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan mortar. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan abu terbang, semen Portland dan kapur terhadap kuat tekan pada mortar. Variasi bahan substitusi semen dari 0% hingga 40% dengan kenaikan setiap 10% dengan perbandingan abu terbang sebagai substitutif semen Portland 1 : 8. Dimensi sampel uji dibuat dalam bentuk balok 5 cm x 5 cm x 5 cm dengan nilai FAS = 1,5. Waktu perawatan mortar selama 28 hari di ruang laboratorium. Pengukuran dan pengujian sampel mortar meliputi kuat tekan dan serapan air. Dari hasil pengukuran seluruh sampel mortar terlihat bahwa nilai uji tekan optimum dicapai oleh sampel dengan kadar abu terbang 20% sebagai bahan subtitusi semen (semen : pasir : kapur : fly ash = 0,8 : 8 : 1 : 0,2) sebesar 7,5 MPa. Nilai uji serapan air minimum dicapai pada sampel dengan kadar abu terbang 40% sebagai bahan subtitusi semen (semen : pasir : kapur : fly ash = 0,6 : 8 : 1 : 0,4) yaitu 9,228%.
Kata Kunci : fly ash, semen, kapur, pasir, mortar
ABSTRACT
A research has been conducted on the utilization of waste fly ash coal as a substitute ingredient in the manufacture of cement mortar. Target of research is to know influence of usage of fly ash, Portland cement and lime to the mortar compressive strength. Cement substitution material variation from 0% to 40% with every 10% increase in the ratio of fly ash as Portland cement substitutif 1: 8. The dimensions of the test sample was made in cube of 5 cm x 5 cm x 5 cm with a value of FAS = 1.5. Time treatment of mortar during 28 days in the laboratory room. Measurement and testing of samples including mortar compressive strength and water absorbsion. From the results of measurements of the entire sample of mortar is seen that the optimum compressive test is achieved by the sample with 20% fly ash as a cement substitute materials (cement: sand: lime: fly ash = 0.8: 8: 1: 0.2) equal to 7,5 MPa. The minimum water absorption test values ??achieved on samples with 40% fly ash content as a cement substitute materials (cement: sand: lime: fly ash = 0.6: 8: 1: 0.4) that is 9.228%.
1. LATAR BELAKANG sampai 67% terdiri atas kapur atau CaO (Surya Sebayang, 2000), dengan demikian ada M a s y a r a k a t I n d o n e s i a m a s i h kemungkinan untuk mencoba penggunaan menggunakan semen Portland sebagai bahan kapur sebagai bahan ikat dan memadukannya pengikat utama dalam pembuatan mortar. dengan abu terbang. Hal tersebut sejalan Penggunaan bahan pengikat lain terkadang dengan pendapat (Fly ash Australia) yaitu abu ditambahkan di dalam pembuatan mortar. terbang memiliki sifat pozzolan, yang berarti Salah satunya adalah dengan penambahan bahwa abu terbang bereaksi dengan kapur kapur yang berfungsi sebagai bahan ikat untuk membentuk senyawa semen. Selain itu, mortar yang mengurangi jumlah semen dan Butiran abu terbang secara umum juga lebih menaikkan kuat tekan mortar. Oleh karena itu halus dari butiran semen sehingga dapat perlu dicoba bahan tambah lain yang fungsinya menjadi bahan pengisi (filler) di dalam mortar hampir sama dengan kapur dan semen Portland yang dampaknya adalah mortar menjadi lebih yang berfungsi sebagai bahan pengikat yang padat karena pori-pori yang ada dapat terisi mengurangi penggunaan semen Portland. oleh butiran abu terbang. Kepadatan mortar Perlu diupayakan agar ketergantungan akan mempengaruhi mutu baik itu ditinjau dari terhadap penggunaan semen Portland bisa kuat tekan, kuat tarik dan serapan airnya.
dikurangi. Pemakaian abu terbang sebagai bahan
Untuk meminimalkan penggunaan semen subtitusi didasarkan atas beberapa alasan. Abu Portland dalam konstruksi sederhana dan terbang merupakan limbah industri dari memaksimalkan penggunaan material alam Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan secara langsung maka pemakaian semen jenis limbah bahan bakar mesin-mesin pabrik. Pada lain perlu dicoba, antara lain adalah Semen tahun 2000 produksi abu batubara pembangkit Pozolan Kapur (SPK). Salah satu altenatif listrik di Indonesia mencapai 1,66 milyar ton pemecahan permasalah di atas adalah dengan dan diperkirakan mencapai 2 milyar ton pada penggunaan limbah abu terbang (fly ash) dan 2006 (Indonesia, 2006). Di Indonesia terdapat penggunaan kapur sebagai bahan tambah atau beberapa PLTU di beberapa provinsi, salah pengganti semen yang dapat mengurangi satunya terdapat di Lampung tepatnya di ketergantungan pemakaian semen Portland daerah Tarahan Lampung Selatan yaitu PT. dalam campuran mortar/spesi. PLN (PERSERO) PEMBANGKITA N
Mortar pada umumnya merupakan SUMATERA BAGIAN SELATAN SEKTOR campuran dari semen (bahan ikat), pasir dan air. P E M B A N G K I TA N TA R A H A N y a n g Pada dasarnya mortar tidak menahan beban menghasilkan limbah abu terbang dari sisa dari struktur suatu bangunan, namun beberapa pembakaran Batubara. Untuk mengurangi dan produk mortar seperti bata beton, kubus beton memanfaatkan limbah abu terbang (Fly Ash) d a n p e n g i s i d i n d i n g f e r o s e m e n agar tidak mencemari lingkungan maka perlu memerlukankan kuat tekan, terutama untuk dilakukan penelitian agar limbah tersebut bata beton dan kubus beton dimana mortar menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. harus keras serta tahan terhadap rembesan air. Atas dasar pertimbangan di atas, maka Sedangkan sebagai bahan pengisi dinding fero akan dilakukan penelitian mengenai mortar semen pada bangunan tahan gempa, mortar dengan bahan ikat semen Portland, kapur dan haruslah keras karena dinding tersebut akan abu terbang dengan komposisi yang bervariasi menahan goyangan bersama kolom-kolom dan dari penelitian tersebut diharapkan didapat bangunan yang kaku. Menurut (Kardiyono, campuran yang menghasilkan kuat tekan 2007) salah satu syarat dari mortar yaitu cepat optimum dengan bahan ikat yang berbeda. kering dan keras. Untuk mengetahui kekerasan
dari mortar maka harus dilakukan pengujian 2. TINJAUAN PUSTAKA
kuat tekan. 2.1. Mortar
Pemikiran tentang pengggunaan abu Mortar atau adukan adalah campuran pasta terbang dan juga kapur cukup beralasan karena semen (bahan ikat), pasir dan air yang terletak bahan penyusun semen Portland adalah 60% antara bata, balok dan batuan yang awalnya
dibuat dengan semen Portland dan kapur (Scott, dipasang dan diratakan)
1993). Mortar dapat dibedakan menjadi 4 c. Melekat dengan baik dengan bata, batako,
macam, yaitu: batu dan sebagainya
a. Mortar lumpur, dibuat dari campuran pasir, d. Cepat kering dan keras tanah liat/lumpur dan juga air. e. Tahan terhadap rembesan air
b. Mortar kapur, dibuat dari campuran pasir, f. Tidak timbul retak-retak setelah dipasang. kapur dan air.
c. Mortar semen, dibuat dari campuran pasir, 2.1. Kapur
s e m e n P o r t l a n d d a n a i r d a l a m Batu kapur (lime stone) rumus kimianya perbandingan yang tepat. CaCO3. Kapur kembang juga dinamakan batu d. M o r t a r k h u s u s , d i b u a t d e n g a n kapur tohor atau kapur hidup (quick lime)
menambahkan bahan khusus pada mortar mempunyai rumus CaO. Kapur padam atau b dan c di atas dengan tujuan tertentu kapur yang telah disiram juga disebut kapur misalnya dengan penambahan serat, mati atau kapur (slaked lime) rumus kimianya bubuk batu api dan sebagainya. Ca(OH)2 (Moerdwiyono, 1998).
Bahan dasar untuk pembuatan kapur Pada penelitian ini mortar yang dipakai adalah batu kapur, kulit kerang, batu pualam adalah jenis mortar khusus, yakni mortar dan napal. Batu kapur terbentuk dari kulit berbahan ikat semen Portland dan kapur kerang dan batu karang yang merupakan hasil dengan bahan tambah abu terbang. Maksud pengendapan kerangka binatang-binatang dari penelitian mortar adalah sebagai acuan lembek yang halus dan hidup di dasar laut. untuk melakukan penenelitian kekuatan Pengendapan ini berlangsung terus sampai mortar dengan abu terbang dalam pekerjaan beribu-ribu tahun dan oleh karena pergeseran Sipil (pembatan mortar atau spesi). dan pengangkatan dari dasar laut akhirnya Di dalam penggunaannya (Kardiyono, muncul ke permukaan laut (Sutopo dan Bhakti, 2007), mortar harus memenuhi standar untuk 1977).
digunakan sebagai bahan bangunan. Mortar Batu kapur pada umumnya bukan CaO yang baik harus memenuhi sifat-sifat sebagai murni, akan tetapi mengandung oksida-oksida
berikut: lain dalam jumlah tertentu yang merupakan
a. Murah dan tahan lama (awet) dan tidak pengotoran dari batuan kapur. Tabel 1 mudah rusak oleh pengaruh cuaca menunjukkan komposisi susunan kimia kapur. b. Mudah dikerjakan (diaduk, diangkut,
No Kandungan Prosentase
1 Karbonat (CO3) 97%
2 Kalsium oksida (CaO) 29,77% - 55,56%
3 Magnesium oksida (MgO) 21% - 31%
4 Silikat (SiO2) 0,14% - 2,14%
5 Alumunium oksida dan ferro (Al2O3 dan Fe2O3) 0,5% Tabel 1. Komposisi Kimia Kapur
Sumber: Soetopo dan Bhakti, 1977: 85
Berdasarkan penggunaannya kapur untuk kapur atau batu alam lain (CaCO3) bahan bangunan dibagi menjadi 2 macam, pada suhu sedemikian rupa sehingga yaitu kapur pemutih dan kapur aduk. Kedua jika diberi air dapat dipadamkan. macam kapur tersebut bisa terdapat dalam Komposisinya adalah sebagian besar bentuk kapur tohor maupun kapur padam kalsium karbonat pada suhu yang (Moerdwiyono, 1998): tinggi sehingga bila diberi air dapat a. Klasifikasi kapur terpadamkan membentuk hidrat, secara
- Kapur tohor kimia dapat dijelaskan sebagai berikut: Kapur tohor adalah hasil pembakaran batu CaCO3 CaO + Co2
- Kapur padam Menurut Moerdwiyono (1998: 7) Adalah hasil pemadaman kapur tohor pemakaian kapur untuk bahan bangunan
dengan air dan membentuk hidrat. dibagi dalam 2 macam, yaitu; kapur Reaksinya adalah: pemutih dan kapur aduk. Kapur aduk CaO + H2O Ca(OH)2 adalah kapur yang biasa digunakan - Kapur udara d a l a m c a m p u r a n m o r t a r, y a i t u Adalah hasil pemadaman kapur padam campuran semen, kapur dan pasir.
yang apabila diaduk dengan air setelah Sedangkan kapur pemutih adalah kapur beberapa saat hanya dapat mengeras di y a n g s e r i n g d i g u n a k a n u n t u k u d a r a k a r e n a p e n g i k a t a n pengecatan atau memutihkan pekerjaan karbondioksida (CO2). lainnya. Kedua macam kapur tersebut - Kapur hidrolis boleh dalam bentuk kapur tohor atau
Adalah kapur padam yang apabila juga kapur padam.
diaduk dengan air setelah beberapa saat b. Syarat-syarat kapur sebagai bahan dapat mengeras baik diudara maupun di bangunan
dalam air. Sebagai bahan bangunan, kapur harus
- Kapur magnesia memiliki syarat-syarat yang ditentukan. Adalah kapur yang mengandung lebih Tabel 2 berikut ini merupakan syarat besar
dari 5% magnesium oksida (MgO), butiran kapur yang layak untuk digunakan dihitung dari contoh kapur yang sebagai bahan bangunan.
dipadamkan.
No Uraian Persyaratan (%)
I II
1. Kehalusan atau sisa maksimum di atas ayakan: maks % berat.
- 4.75 - 1.18 - 0.85 - 0 5 0 - 10 2. Kekalan bentuk Tidak retak Tidak retak 3. - CaO + MgO aktif setelah dikoreksi
dengan SO3 - SO2 maks. Berat
90 6
85 6
Tabel 2 Syarat-Syarat Mutu Kapur Tohor Dalam SK SNI S-04-1989-F (1989:17)
Sumber: SK SNI S-04-1989-F, 1989
2.3. Agregat Halus natrium sulfat bagian yang hancur
Agregat halus yang dipakai untuk maksimum 10% berat, sedangkan jika campuran adukan atau mortar harus memenuhi dipakai magnesium sulfat yang hancur persyaratan agregat halus secara umum maksimum 15% berat.
menurut SNI 03-6821-2002 (2002) adalah - Agregat halus tidak boleh mengandung sebagai berikut: lumpur lebih dari 5% (terhadap berat - Susunan butir agregat halus mempunyai kering). Jika kadar lumpur melebihi 5%
kehalusan antara 2,0 3,0 pasir harus dicuci.
- Agregat halus terdiri dari butir-butir tajam Agregat yang dipakai untuk campuran
dan keras adukan atau mortar harus memenuhi syarat
- Butir-butir halus bersifat kekal, artinya yang ditetapkan oleh SNI 03-6820-2002 tidak pecah atau hancur oleh pengaruh (2002) dengan batasan ukuran agregat halus cuaca. Sifat kekal agregat halus dapat diuji yang dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini. dengan larutan jenuh garam. Jika dipakai
2.4. Abu Terbang (Fly Ash) bebas yang dilepaskan semen ketika bereaksi Abu terbang adalah debu yang dihasilkan dengan air. Clarence (1966) menjelaskan dari sisa pembakaran Pembangkit Listrik dengan pemakaian abu terbang sebesar 20 Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara 30% terhadap berat semen maka jumlah semen (Sudjatmiko Nugroho, 2003). Sedangkan akan berkurang secara signifikan dan dapat NSPM KIMPRASWIL dalam SNI 03-6414- menambah kuat tekan beton. Pengurangan 2002 (2002) memberikan definisi berbeda, jumlah semen akan menurunkan biaya yaitu: Abu terbang adalah limbah hasil material sehingga efisiensi dapat ditingkatkan. pembakaran Batu Bara pada tungku Dalam SNI S-15-1990-F (Kardiyono, pembangkit listrik tenaga uap yang berbentuk 2007) spesifikasi abu terbang sebagai bahan halus, bundar dan bersifat pozolanik (SNI 03- tambah untuk campuran beton disebutkan ada 6414-2002 (2002)) 3 jenis abu terbang, yaitu:
Bahan bangunan abu terbang dapat a. Abu terbang jenis N, ialah abu terbang digunakan sebagai bahan baik untuk hasil kalsinasi dari pozolan alam, misalnya pembuatan agregat buatan dalam campuran tanah diatomite, shole, tuft dan batu apung. beton, bahan tambahan paving blok, mortar, b. Abu terbang jenis F, ialah abu terbang yang batako, bahan tambah beton aspal, beton dihasilkan dari pembakaran batubara jenis
o
ringan dan sebagainya. Sebagai bahan tambah antrasit pada suhu kurang lebih 1560 C. beton, abu terbang dinilai dapat meningkatkan c. Abu terbang jenis C, ialah abu terbang kualitas beton dalam hal kekuatan, kekedapan hasil pembakaran ligmit/batubara dengan air, ketahanan terhadap sulfat dan kemudahan kadar karbon sekitar 60%. Abu terbang dalam pengerjaan (workability) beton (Sofwan jenis ini mempunyai sifat seperti semen Hadi, 2000). Penggunaan abu terbang juga dengan kadar kapur di atas 10%.
dapat mengurangi penggunaan semen dan Abu terbang memiliki sifat pozolan yang sekaligus sebagai bentuk pemanfaatan limbah terdiri dari unsur-unsur silikat dan atau yang akan membantu menjaga kelestarian aluminat yang reaktif. Komposisi kimia
lingkungan. masing-masing jenis abu terbang sedikit
Abu terbang sepertinya cukup baik untuk berbeda dengan komposisi kimia semen. Tabel digunakan sebagai bahan ikat karena bahan 4 berikut ini menjelaskan komposisi kimia abu penyusun utamanya adalah silika (SiO ), 3 terbang dan semen menurut Ratmaya Urip
(2002). alumunium (Al O ) dan besi (Fe O ). Oksida-2 3 2 3
oksida tersebut dapat bereaksi dengan kapur
Tabel 3. Gradasi Agregat Halus Untuk Adukan/Mortar
Abu terbang merupakan limbah dari hidrasi semen.
pembakaran batubara yang banyak dihasilkan Menurut standar ASTM C618, abu oleh PLTU dan mesin-mesin di pabrik. Abu terbang terbang dibagi menjadi 3 kelas yang terbang termasuk bahan pozolan buatan yang tertera pada Tabel 5 dan menurut SNI 03-2460-memiliki sifat pozolanik. Sifat abu terbang 1991 (1991) penggunaan abu terbang sebagai tersebut membuat abu terbang dapat bahan tambah beton, baik untuk adukan digunakan sebagai bahan pengganti semen dan maupun campuran beton harus memenuhi bahan tambah untuk bangunan yang dapat syarat-syarat yaitu kelas F pada Tabel 5 meningkatkan ketahanan/keawetan beton berikut:
terhadap ion sulfat dan juga menurunkan panas
Tabel 4. Komposisi Kimia Berbagai Jenis Abu Terbang Dan Semen Portland
No Komposisi
Kimia
Jenis Abu Terbang
Semen Jenis F Jenis C Jenis N
1 SiO2 51.90 50.90 58.20 22.60 2 Al2O3 25.80 15.70 18.40 4.30 3 Fe2O3 6.98 5.80 9.30 2.40 4 CaO 8.70 24.30 3.30 64.40 5 MgO 1.80 4.60 3.90 2.10 6 SO2 0.60 3.30 1.10 2.30
7 Na2O dan K2O 0.60 1.30 1.10 0.60
Sumber: Ratmaya Urip, 2003
Tabel 5 Susunan Kimia Dan Sifat Fisik Abu Terbang
Uraian Kelas N (%) Kelas F (%) Kelas C (%) A. Susunan Kimia
1. Silikon dioksida + alumunium oksida + besi oksida, min
2. Sulfur trioksida, maks 3. Kadar air, maks 4. Hilang Pijar, maks 5. Na2O, maks 70.00 4.00 3.00 10.00 1.50 70.00 5.00 3.00 6.00 1.50 50.00 5.00 3.00 6.00 1.50 B. Sifat fisik
1. Kehalusan sisa di atas ayakan 4 um, maks 2. Indeks keaktifan pozolan dengan PC I,
pada umur minimal 28 hari 3. Air, maks 105.00
4. Pengembangan dengan autoclave, maks
34.00 75.00 115.00 0.80 34.00 75.00 105.00 0.80 34.00 75.00 105.00 0.80 Sumber: ASTM C618-92A
M e n u r u t F l y A s h A u s t r a l i a untuk semua komposisi, masing-masing
( h t t p : / / w w w. f l y a s h a u s t r a l i a . c o m ) , komposisi dibuat 3 buah benda uji untuk uji
penggunaan abu terbang pada beton dapat kuat tekan dan 3 buah benda uji untuk menguji
meningkatkan kinerja beton karena memeiliki serapan air. Pengujian dilaksanakan pada saat
beberapa manfaat utama, yaitu: benda uji berumur 28 hari (SNI 03-6468-2000,
1. Mengurangi kadar air 2002). Komposisi yang direncanakan dalam
2. Meningkatkan Workability penelitian ini yaitu:
3. Rendah panas hidrasi a. Mortar yang menggunakan dengan
4. Meningkatkan Kekuatan jangka panjang komposisi bahan 1PC : 1KP : 8PS
5. Peneurunan permeabilitasi b. Mortar yang menggunakan dengan
6. Peningkatan terhadap serangan sulfat komposisi bahan 0,9PC : 0,1AT : 1KP :
(korosi) 8PS.
Akan tetapi penggunaan abu terbang pada c. Mortar yang menggunakan dengan
beton akan mengakibatkan kuat tekan beton komposisi bahan 0,8PC : 0,2AT : 1KP :
lebih rendah dibanding kuat tekan beton 8PS.
normal pada beton berumur muda, sehingga d. Mortar yang menggunakan dengan
u n t u k p e k e r j a a n p e m b e t o n a n y a n g komposisi bahan 0,7PC : 0,3AT : 1KP :
membutuhkan pekerjaan cepat dengan kuat 8PS.
tekan yang mendekati kuat tekan rencana e. Mortar yang menggunakan dengan
beton dengan campuran abu terbang tidak komposisi bahan 0,6PC : 0,4AT : 1KP :
dapat digunakan kecuali dengan perlakuan 8PS.
khusus. Keterangan:
PS : Pasir
3. METODELOGI PENELITIAN PC : Portland cement (Semen Portland) AT : Abu terbang
Penelitian ini memiliki 5 macam KP : Kapur
Gambar 1 Bagan alir penelitian Selesai
Mulai
Persiapan
Pengujian Bahan
Seme n Abu Terbang Kapur Pasir Air
Tidak
Ya
Pembuatan Benda Uji
Perawatan Benda Uji
Pengujian Benda Uji
Analisis Data : · Pembahasan · Kesimpulan · Saran · Pemeriksaan visual bahan
· Pengujian berat jenis abu terbang, kapur dan pasir
· Pemeriksaan gradasi dan kadar lumpur pasir
Sesuai Standar SNI/ASTM?
2,98 (Lampiran A-5). Jadi berat jenis kapur
4
. BAHAN PENYUSUNlebih besar dibanding berat jenis abu terbang. 4.1 Pasir
4.3 Abu Terbang Pada penelitian ini pasir yang digunakan
Dari hasil pemeriksaan, abu terbang yang mempunyai karakteristik seperti pada Tabel 6
tersisa diatas saringan 0,075 yaitu 0,9 %. Jika dibawah ini.
diperhatikan dan dipegang/dirasakan dengan tangan, abu terbang memeiliki butiran yang Tabel 6. Hasil pengujian karakteristik
lebih halus dari semen. Abu terbang pada pasir
penelitian ini mempunyai berat jenis rata-rata 2,66 (Lampiran A-4) dimana nilai tersebut lebih rendah dibanding berat jenis kapur.
Berdasarkan data yang diberikan oleh PT. PLN (PERSERO) PEMBANGKITAN SUMBAGSEL SEKTOR PEMBANGKITAN TARAHAN, abu terbang termasuk abu terbang kelas F (lihat lampiran abu terbang). Hal ini Sumber : Data Primer Hasil Penelitian (2011)
didasarkan pada kadar SiO (silika) mencapai 2
4.2 Kapur 58,13 %, kadar Al O (alumunium) sebesar 2 3
Pada penelitian ini kapur yang digunakan 20,29 % dan Fe O (besi) sebesar 4,80 % 2 3
merupakan jenis kapur tohor kelas I, maka dimana bila dijumlahkan mencapai lebih dari sesuai persyaratan berat kapur yang tertinggal 70 %.
di atas ayakan 0,85 yakni tidak lebih dari 5 %.
Kapur yang digunakan pada penelitian ini 5. HASIL DAN PEMBAHASAN yaitu kapur tohor yang hanya lolos ayakan 0,85
sehingga sudah memenuhi syarat kehalusan 5.1. Hasil Uji Kuat Tekan Mortar
kapur tohor kelas I. Dari hasil pemeriksaan Data hasil pengujian kuat tekan mortar yang tercantum dalam lampiran B, kapur yang yang disubtitusi dengan abu terbang tertera digunakan mempunyai berat jenis rata-rata pada Tabel 7 di bawah ini.
No Pengujian pasir Hasil 1.
2. 3.
Berat jenis pasir Modulus kehalusan Kadar lumpur
2,60 2,74 1,6 %
No Kadar abu terbang (%)
Kuat tekan (fc’) (kg/cm2)
Kuat tekan rata-rata (fc’)
(kg/cm2)
Kuat tekan rata-rata (fc’) (MPa) 1 0 63,52 63,52 63,52 63,520 6,4 2 10 71,75 66,26 71,75 69,919 7,0 3 20 71,75 74,49 79,97 75,402 7,5 4 30 69,00 71,75 71,75 70,833 7,1 5 40 63,52 60,78 60,78 61,694 6,2
Tabel 7. Hasil Uji Kuat Tekan Mortar
Dari Gambar diatas dapat diketahui diperkirakan disebabkan oleh ikatan antar bahwa kekuatan mortar meningkat jika variasi agregat (bahan campuran yang kurang kuat campuran abu terbang adalah sebesar 10 % - 30 pada penggunaan abu terbang diatas 30 %. % dari jumlah semen. Sedangkan pada
campuran abu terbang sebesar 40 % akan 5.2. Hasil Uji Serapan Air
mengurangi kuat tekan mortar. Dengan Pengujian dilakukan pada saat benda uji demikian pencampuran abu terbang dengan mendapat perawatan 28 hari, pengujian ini kadar 20 % merupakan kadar campuran dimaksudkan untuk mengetahui banyaknya optimum sedangkan maksimum pencampuran kadar air yang diserap oleh mortar setelah yaitu pada kadar abu terbang 30 %. Jika direndam pada periode tertentu. Hasil digunakan campuran abu terbang melebihi penelitian yang telah dilakukan, tertera pada kadar maksimum tersebut maka akan Tabel 8.
menurunkan kuat tekan mortar. Penurunan ini 6,4 7 7,5 7,1 6,2 6 6,5 7 7,5 8
0
10
20
30
40
50
Kadar Abu Terbang (%)
K u at T e ka n R at a-ra ta ( M P a)
2. Grafik Kuat Tekan Rata-rata - vs - Kadar Abu Terbang
No Kadar abu terbang (%) Penyerapan (%) Penyerapan rata-rata (%)
1 0 12,573 11,637 10,777 11,662 2 10 11,628 11,534 11,617 11,593 3 20 9,204 10,255 10,255 10,046 4 30 9,279 9,671 9,709 9,553 5 40 11,714 8,888 7,082 9,228
Tabel 8. Hasil Uji Serapan Air Mortar
Dapat dilihat bahwa nilai penyerapan air alternatif yang dapat meningkatkan nilai semakin menurun seiring bertambahnya ekonomis limbah tersebut sehingga lebih variasi campuran abu terbang, hal ini dikenal dan dapat diaplikasikan oleh disebabkan karena penambahan jumlah abu masyarakat pada pekerjaan bangunan. terbang dapat mengurangi penyerapan air.
8. DAFTAR PUSTAKA 6. KESIMPULAN
Adi, Rudi Yuniarto. 2009. Kuat Tekan Dari hasil pengujian mortar dengan Mortar Dengan Berbagai Campuran variasi campuran abu terbang dapat Penyusun dan Umur. Semarang: Media disimpulkan bahwa : Komunikasi Teknik Sipil
1. Penambahan abu terbang dengan Anonim. 1982. Persyaratan Umum Bahan prosentasi tertentu dari berat semen dapat Bangunan di Indonesia (PUBI-1982). meningkatkan kuat tekan mortar. Kuat Bandung
tekan meningkat pada variasi campuran Badan Penelitian dan Pengembangan berkisar 10 % - 30 % dari jumlah semen. NSPM KIMPRASWIL. 2002. Metode, Sedangkan pencampuran dengan subtitusi Spesifikasi dan Tata Cara (SNI dan SK SNI abu terbang lebih dari 30 % akan Edisi 2002). Jakarta: Departemen Permukiman mengurangi kuat tekan mortar. Dengan dan Prasarana Wilayah
demikian penggunaan abu terbang dengan Clarence W Dunham. 1966. The Theory kadar 20 % yaitu 7,5 MPa merupakan and Practice of Reinforced Concrete. New kadar campuran optimum pada penelitian York, United States of America: McGraw-Hill
ini. Book Company
2. Penambahan abu terbang pada bahan ikat Departemen ESDM dan Badan Litbang semen Portland dan kapur juga membuat ESDM Pusat Penelitian dan Pengembangan mortar menjadi lebih kedap air karena nilai Teknologi Mineral dan Batubara. 2005. Pabrik serapan air mortar menjadi semakin rendah Percontohan Semen Pozolan Kapur, Lampung. seiring dengan bertambahnya prosentase
abu terbang.
Hidayat, S. Y. 1986. Penelitian
7. SARAN Pendahuluan Pemanfaatan Abu Terbang (Fly
Ash) untuk Campuran Beton di Indonesia. 1. Diharapkan dapat dilakukan penelitian Jakarta: Jurnal Litbang Vol. III No. 4-5 April
lebih lanjut dengan campuran abu terbang dan Mei 1986
dengan variasi lama rendaman. Husin, A. A. 1998. Semen Abu Terbang 2. Diharapkan abu terbang agar dapat untuk Genteng Beton. Jakarta: Jurnal Litbang
dipublikasikan sebagai bahan ikat Vol. 14 No. 1 Tahun 1998.
http://www.tekmira.esdm.go.id/aset/pozolan/i ndex/asp 11,662 11,593 10,046 9,553 9,228 9 9,5 10 10,5 11 11,5 12 0 10 20 30 40 50
Kadar Abu Terbang (%)
P e n ye ra p an A ir R at a-ra ta (% )
Kardiyono Tjokrodimulyo. 2007. pada Beton. Gresik: PT. Semen Gresik
Teknologi Beton. Yogyakarta: Penerbit Indonesia dan PT. Varia Usaha Beton
NAFIRI M. S. J. Gani. Cement and Conrete. Scott, John. S. 1993. Kamus Lengkap
Victoria Australia: Faculty of Engineering Teknik Sipil Edisi Ke-4. Jakarta: Erlangga
Monas University Clayton Sudjatmiko Nugroho. 2003. Penggunaan Abu
Moerdwiyono. 1998. Diktat Teknologi Terbang Sebagai Campuran Beton Aspal
Bahan. Semarang Surya Sebayang. 2000. Diktat Bahan
Nadhiroh. M dan Lasino. 1986. Bangunan. Bandar Lampung
Pembuatan Semen Pozolan Kapur. Bandung: : Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah
Jurnal Litbang Vol. III No. 4-5 April dan Mei Bangunan 1989. Spesifikasi Bahan Bangunan
1986. Bagian A (Bahan Bangunan Bukan Logam)
Nazir, Moh. 1998. Metodologi Penelitian. (SK SNI S-04-1989-F). Bandung
Jakarta: Galia Indonesia W u r y a t i C a n d r a d a n S a m e k t o
Perpusatakaan Negara Malaysia. 2006. Kapur Rahmadiyanto. 2001. Teknologi Beton.
Sirih. http://www.pnm.my/siripinang/sp- Yogyakarta: Penerbit Kanisius
kapur.htm. http://www.flyashaustralia.com
Ratmaya Urip. 2003. Teknologi Semen dan Beton: Fly Ash, Mengapa Seharusnya Dipakai