(Kasus TPI Cituis, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten)
Oleh: Wina Ekawati
I34070049
Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Anna Fatchiya, M.Si.
19681121 199702 2 001
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011
ABSTRACT
This research is focused on social representations about fish auction center in fisher community. Social representation is a psychosocial assessment that refers to the outcome and the process of a common sense. Conceptually, the fish auction center is provided by the government to assist the fishers in selling their fishes. The goals of fish auction center are to increase the fishers’ income, as the price controler, and as a place for fishers to selling their fishes. But the goals were not necessarily making the fishers utilize fish auction center optimally. In fact, many fishers prefer to utilize the broker instead of fish auction center. Thus interesting to examine about how the social representation that fishers had about the fish auction center, find out whether there is any relationship between the characteristics of the fishers, the characteristics of fish auction center and the presence of broker with the fishers’ social representations. This is an explanatory research that also looking for words that represent fish auction center in fishers’ way of thought. The words will elaborate the fishers’ common sense about fish auction center.
Key words: social representation, fishers community, fishers characteristic, coastal community, common sense
RINGKASAN
WINA EKAWATI. Representasi Sosial tentang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pada Nelayan (Kasus TPI Cituis, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten). Di bawah bimbingan ANNA FATCHIYA
Usaha nelayan sangat bergantung kepada keberadaan pasar atau konsumen. Keberadaan pasar yang tetap untuk menjual hasil tangkapan menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi oleh nelayan, sehingga banyak nelayan yang memilih untuk melakukan sistem patron-klien agar hasil tangkapan mereka dapat memiliki pasar yang tetap. Namun sistem ini dianggap merugikan nelayan karena penetapan harga cenderung bersifat sepihak, yaitu oleh pihak patron (tengkulak). Tidak jarang harga yang didapatkan nelayan lebih rendah dari harga pasar. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sekaligus memberikan pasar yang pasti bagi nelayan, pemerintah memberi bimbingan dan dorongan agar nelayan menjual hasil tangkapannya melalui proses pelelangan, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengkaji representasi sosial tentang TPI Cituis pada nelayan; (2) Mengkaji hubungan karakteristik nelayan dengan representasi sosial nelayan tentang TPI Cituis pada nelayan; (3) Mengkaji hubungan karakteristik TPI dan interaksi nelayan dengan tengkulak dengan representasi sosial tentang TPI Cituis pada nelayan.
Penelitian ini menggunakan metode analisis data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari kuesioner dan wawancara mendalam, sedangkan data sekunder didapatkan dari dokumentasi kantor pemerintahan, hasil studi dan penelitian ilmiah (skripsi dan tesis), laporan penelitian ilmiah, serta berbagai sumber dokumen lainnya baik cetak maupun elektronik. Representasi sosial nelayan tentang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan kajian utama dalam penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi sosial responden terhadap TPI cenderung netral. Representasi sosial tentang TPI pada responden dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor yang berasal dari internal responden adalah jenis alat tangkap yang dipakai, status nelayan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, pengalaman, dan umur. Faktor yang berasal dari
eksternal responden lebih kepada faktor yang berasal dari TPI, seperti fasilitas TPI, letak TPI, pegawai TPI, sistem retribusi dan sistem lelang yang berlaku.
Uji Chi-Square dan Korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak semua aspek karakteristik responden memiliki kaitan dengan representasi sosial tentang TPI. Jenis alat tangkap yang digunakan dan status responden terbukti memiliki kaitan dengan sikap dan keyakinan nelayan terhadap TPI. Terdapat perbedaan representasi sosial pada responden dengan status dan jenis alat tangkap yang berbeda, sedangkan tingkat pendidikan, pengalaman dan usia responden tidak memiliki hubungan dengan representasi sosial. Selain itu, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara tingkat interaksi responden-tengkulak dengan representasi sosialnya. Opini yang muncul pada responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa keberadaan TPI memiliki manfaat bagi nelayan yang ada di sekitar TPI Cituis, namun para responden juga mengakui bahwa keberadaan tengkulak masih mereka butuhkan.
Hasil asosiasi kata menunjukkan bahwa responden menganggap kata yang paling tepat untuk mewakili TPI Cituis adalah Tempat Lelang, yang berarti sesuai dengan fungsi pokok dari TPI. Kata berikutnya yang dianggap mewakili adalah kata pasar. Selain itu responden juga memaknai tengkulak sebagai tempat jual ikan dan tempat mendapat pinjaman. Hasil observasi menunjukkan bahwa banyak responden yang selain memanfaatkan TPI juga memanfaatkan tengkulak untuk menyalurkan hasil tangkapannya. Mereka akan menjual cumi, corak (sotong) dan udang kepada tengkulak, sedangkan hasil tangkapan lain akan dilelang di TPI Cituis. Sebagian besar dari mereka merasa nyaman dengan pola distribusi tersebut.
(Kasus TPI Cituis, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten)
Oleh
Wina Ekawati I34070049
SKRIPSI
Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor 2011
LEMBAR PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
“REPRESENTASI SOSIAL TENTANG TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) PADA NELAYAN (KASUS TPI CITUIS, DESA SURYA BAHARI, KECAMATAN PAKUHAJI, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN)” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI
LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, Oktober 2011
WINA EKAWATI NRP. I34070049
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh: Nama : Wina Ekawati
NRP : I34070049
Judul : Representasi Sosial tentang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pada
Nelayan (Kasus TPI Cituis, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten)
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Anna Fatchiya, M.Si. NIP. 19681121 199702 2 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Dr. Soeryo Adiwibowo, MS. NIP. 19550630 198103 1 003
RIWAYAT HIDUP
Wina Ekawati dilahirkan di Kota Hujan yang kini disebut juga sebagai Kota Sejuta Angkot, yaitu Kota Bogor, pada hari Senin tanggal 23 Januari 1989. Sulung dari dua bersaudara ini merupakan buah cinta dari pasangan suami istri Heri Kusaeri Lesmana dan Rohati, S.Pd. Penulis telah menempuh pendidikan formal dari tahun 1994 hingga saat ini. Langkah awal penulis dalam menempuh pendidikan formal dimulai dari TK Raudhatu-Nur selama satu tahun, lalu berlanjut di SDN Cijahe Curug IV selama enam tahun. Kemudian, penulis menempuh tiga tahun selanjutnya di SMPN 4 Bogor. Lulus dari jenjang SMP, penulis berkesempatan untuk menuntut ilmu di SMAN 1 Bogor selama tiga tahun. Kini penulis sedang menempuh pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor setelah mendapatkan Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI), yaitu di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia.
Penulis meraih prestasi sebagai Siswa Terbaik SDN Cijahe Curug IV tahun ajaran 2000/2001. Prestasi lain yang pernah diraih penulis lebih banyak berasal dari bidang luar akademis, salah satunya juara 2 lomba nasyid bersama kelompok nasyid Harmoni pada acara Ekspresi Muslimah 2010.
Penulis mulai aktif berorganisasi pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Organisasi yang diikuti oleh penulis di SMAN 1 Bogor adalah organisasi rohani islam, yaitu DKM Ar-Rahmah. Setelah memasuki perguruan tinggi penulis mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di kesenian Sunda yaitu Gentra Kaheman. Kutipan yang menjadi inspirasi Penulis adalah “be the change you want to see in the world” yang merupakan kutipan dari salah satu inspirator dunia, Mahatma Gandhi.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Representasi Sosial tentang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pada Nelayan (Kasus TPI Cituis, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten). Skripsi ini ditujukan sebagai pemenuhan syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian yang ditulis dalam skripsi ini bertujuan untuk mengkaji representasi sosial pada nelayan. Tujuan lainnya ialah mengkaji hubungan yang terjadi antara variabel-variabel, yaitu variabel karakteristik nelayan, karakteristik TPI, tingkat interaksi nelayan dengan tengkulak, dan representasi sosial nelayan tentang TPI Cituis.
Peneliti mengetahui bahwa penelitian ini belumlah sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Akhir kata semoga skripsi ini dapat menghasilkan manfaat bagi banyak pihak.
Bogor, Oktober 2011
Wina Ekawati NRP. I34070049
UCAPAN TERIMA KASIH
Segala puji bagi Allah SWT atas berkat nikmat iman, rahmat, dan ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari skripsi ini dapat diselesaikan karena adanya bantuan dari berbagai pihak, yaitu dengan menyumbangkan pemikiran, memberikan masukan, dan mendukung penulis baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Ir. Anna Fatchiya, M.Si. sebagai dosen pembimbing penulis atas saran, kritik, kepercayaan dan semangatnya.
2. Bapak Dr. Soeryo Adiwibowo, MS. sebagai dosen pembimbing akademik yang membantu penulis dalam mengarahkan rencana studi.
3. Bapak Heri Kusaeri Lesmana dan Mama Rohati, S.Pd. yang telah sabar membesarkan penulis, serta kepada kepada Adinda, Widya Agustina.
4. Bapak Suryadi, Bapak Al-Wani dan Ibu Ning yang telah membantu penulis dalam pencarian data di lokasi penelitian.
5. Anggi, Didi, Ira, Mabu, Mari, Vivi, Yos, Desy, Ima, Uty, Linda, Risma, Karin, Asih, Ami, Ayu, Pia, Mba Chalim dan seluruh KPM 44 atas semangat, tawa canda, saran, kritik dan “cambukan”nya kepada penulis.
6. Hadianti Nurfitri dan Dini Aprilia yang telah menjadi sahabat penulis sedari SMA, penulis beruntung bertemu kalian.
7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.
Bogor, Oktober 2011
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xv 1. BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Masalah Penelitian ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.4 Kegunaan Penelitian ... 4
2. BAB II PENDEKATAN TEORITIS... 5
2.1 Tinjauan Pustaka ... 5
2.1.1 Representasi Sosial ... 5
2.1.2 Nelayan ... 8
2.1.3 Tempat Pelelangan Ikan ... 9
2.1.4 Hubungan Patron Klien ... 12
2.2 Kerangka Pemikiran ... 13
2.3 Hipotesis Penelitian ... 15
2.4 Definisi Operasional dan Pengukuran... 16
3. BAB III PENDEKATAN LAPANGAN ... 20
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20
3.2 Teknik Pemilihan Responden ... 20
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 21
3.4 Teknik Analisis Data ... 22
4. BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 24
4.1 Keadaan Umum Desa Surya Bahari ... 24
4.1.1 Keadaan Geografis ... 24
4.1.2 Kependudukan ... 24
4.2 Keadaan Umum TPI Cituis ... 27
5. BAB V KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN KONTEKS SITUASIONAL TPI ... 31
5.1 Karakteristik Responden ... 31
5.1.1 Jenis Alat Tangkap ... 31
5.1.2 Status Responden ... 32
5.1.3 Tingkat Pendapatan ... 33
5.1.4 Tingkat Pendidikan ... 34
5.1.5 Tingkat Pengalaman ... 35
5.1.6 Tingkat Usia ... 35
5.2 Konteks Situasional TPI Cituis ... 36
5.2.1 Fasilitas TPI ... 36
5.2.3 Sistem Lelang ... 37
5.2.4 Sistem Retribusi ... 38
5.3 Hubungan Patron-Klien pada Responden ... 39
6. BAB VI REPRESENTASI SOSIAL TENTANG TPI CITUIS .... 41
6.1 Tipologi Representasi Sosial tentang TPI Cituis ... 41
6.1.1 Representasi Sosial pada Tipologi I: Lelang ... 45
6.1.2 Representasi Sosial pada Tipologi II: Pasar dan Lelang .... 49
6.2 Tipologi Representasi Sosial tentang Tengkulak ... 53
6.2.1 Represemtasi Sosial pada Tipologi I: Tempat Jual Ikan... 57
6.2.2 Representasi Sosial pada Tipologi II: Tempat Pinjam Uang ... 61
7. BAB VII HUBUNGAN KARAKTERISTIK RESPONDEN DENGAN REPRESENTASI SOSIAL... 66
7.1 Hubungan antara Alat Tangkap dengan Representasi Sosial... 66
7.2 Hubungan antara Status Responden dengan Representasi Sosial... 69
7.3 Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan Representasi Sosial ... 72
7.4 Hubungan antara Tingkat Pengalaman dengan Representasi Sosial... ... 72
7.5 Hubungan antara Tingkat Usia dengan Representasi Sosial ... 73
7.6 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Representasi Sosial ... 73
7.7 Ikhtisar ... 74
8. BAB VIII HUBUNGAN ANTARA FAKTOR EKSTERNAL DENGAN REPRESENTASI SOSIAL... 75
8.1 Hubungan Karakteristik TPI dengan Repsentasi Sosial ... 75
8.2 Hubungan Tingkat Interaksi Responden-Tengkulak dengan Representasi Sosial ... 77 9. BAB IX PENUTUP ... 79 9.1 Kesimpulan ... 79 9.2 Saran ... 79 DAFTAR PUSTAKA ... 81 LAMPIRAN... 83
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten
Tangerang Tahun 2011... Tabel 2. Komposisi Penduduk Desa Surya Bahari Menurut Mata
Pencaharian Tahun 2011... Tabel 3. Jumlah Produksi dan Raman TPI Cituis Selama Tahun
2010... Tabel 4. Jenis Ikan Dominan yang Mendarat di PPI Cituis selama
Tahun 2010... Tabel 5. Fasilitas-Fasilitas di Sekitar TPI Cituis... Tabel 6. Persentase Responden Berdasarkan Alat Tangkap... Tabel 7. Persentase Responden Berdasarkan Status... Tabel 8. Persentase Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Alat
Tangkap... Tabel 9. Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan... Tabel 10. Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan... Tabel 11. Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pengalaman... Tabel 12. Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Usia... Tabel 13. Persentase Responden Berdasarkan Penyaluran Hasil
Tangkap... Tabel 14. Perbandingan Karakteristik Responden pada Tipologi
Representasi Sosial terhadap TPI... Tabel 15. Perbandingan Karakteristik Responden pada Tipologi
Representasi Sosial terhadap Tengkulak... Tabel 16. Nilai Probabilitas antara Karakteristik Responden dengan
Sikap, Keyakinan dan Informasi tentang TPI... Tabel 17. Sikap Responden terhadap TPI Berdasarkan Alat Tangkap
yang Digunakan... Tabel 18. Keyakinan Responden terhadap TPI Berdasarkan Alat
Tangkap yang Digunakan... Tabel 19. Tingkat Pengetahuan Responden tentang TPI Berdasarkan
Alat Tangkap yang Digunakan... Tabel 20. Sikap Responden terhadap TPI Berdasarkan Status... Tabel 21. Keyakinan terhadap TPI Berdasarkan Status...
Halaman 25 26 28 28 29 31 32 33 33 34 35 35 39 43 56 66 67 68 68 70 70
Tabel 22. Tingkat Pengetahuan Responden tentang TPI Berdasarkan Tingkat Pendapatan... Tabel 23. Nilai Probabilitas dan Koefisien Korelasi antara Tingkat
Pengetahuan dengan Aspek Representasi Sosial (Sikap, Keyakinan, Informasi)... Tabel 24. Jumlah Ikan yang Dilelang Beserta Raman TPI Cituis Tahun
2007- 2010... Tabel 25. Nilai Probabilitas dan Koefisien Korelasi antara Tingkat
Interaksi Responden-Tengkulak dengan Aspek Representasi Sosial (Sikap, Keyakinan, Informasi)...
72
75 76
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Kerangka Pemikiran Representasi Sosial tentang Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) pada Nelayan... Gambar 2. Denah Lokasi TPI Cituis... Gambar 3. Perbandingan Frekuensi Responden pada Tiap Tipe
Representasi Sosial terhadap TPI... Gambar 4. Perbandingan Sikap Responden terhadap TPI dengan Sikap
Responden terhadap Tengkulak (Tipologi I: Lelang)... Gambar 5. Perbandingan Keyakinan Responden terhadap TPI dengan
Keyakinan Responden terhadap Tengkulak (Tipologi I: Lelang)... Gambar 6. Tingkat Pengetahuan Responden (Tipologi I:
Lelang)... Gambar 7. Perbandingan Sikap Responden terhadap TPI dengan Sikap
Responden terhadap Tengkulak (Tipologi II: Pasar dan Lelang)... Gambar 8. Perbandingan Keyakinan Responden terhadap TPI dengan
Keyakinan Responden terhadap Tengkulak (Tipologi II: Pasar dan Lelang)... Gambar 9. Tingkat Pengetahuan Responden (Tipologi II: Pasar dan
Lelang)... Gambar 10. Perbandingan Frekuensi Responden pada Tiap Tipe
Representasi Sosial terhadap Tengkulak... Gambar 11. Perbandingan Sikap Responden terhadap TPI dengan Sikap
Responden terhadap Tengkulak (Tipologi I: Tempat Jual Ikan)... Gambar 12. Perbandingan Keyakinan Responden terhadap TPI dengan
Keyakinan Responden terhadap Tengkulak (Tipologi I: Tempat Jual Ikan)... Gambar 13. Tingkat Pengetahuan Responden (Tipologi I: Tempat Jual
Ikan)... Gambar 14. Perbandingan Sikap Responden Terhadap TPI dengan Sikap
Responden Terhadap Tengkulak (Tipologi II: Tempat Pinjam Uang)... 15 37 42 45 46 48 50 51 53 54 58 59 61 62
Gambar 15. Perbandingan Keyakinan Responden Terhadap TPI dengan Keyakinan Responden Terhadap Tengkulak (Tipologi II: Tempat Pinjam Uang)... Gambar 16. Tingkat Pengetahuan Responden (Tipologi II: Tempat
Pinjam Uang)...
63 64
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Daftar Istilah (Glossary)...
Lampiran 2. Peta Lokasi Penelitian... Lampiran 3. Daftar Responden... Lampiran 4. Contoh Output Uji Statistik... Lampiran 6. Foto Dokumentasi...
84 85 86 87 88
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, yang mencakup17.504 pulau, 6.000 diantaranya berpenduduk. Wilayah Indonesia yang terbentang dari 6°08' LU hingga 11°15' LS, dan dari 94°45' BT hingga 141°05' BT terletak di posisi geografis sangat strategis, karena menjadi penghubung dua samudera dan dua benua, Samudera India dengan Samudera Pasifik, dan Benua Asia dengan Benua Australia. Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (2009), luas total wilayah Indonesia adalah 7,7 juta km2 terdiri dari 1,9 juta km2 daratan, 2,3 juta km2 laut nusantara, 0,8 juta km2 laut teritorial dan 2,7 juta km2 perairan ZEE.
Jumlah penduduk Indonesia menurut data statistik pada tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa. Nyaris seluruhnya (95,9 persen) berdiam di kawasan yang berada dalam jarak 100 km dari garis pantai. Pantai Indonesia yang terentang sepanjang 95.180,8 km adalah terpanjang kelima di dunia. Di sepanjang garis pantai inilah terdapat daerah pesisir.
Daerah pesisir memiliki ciri khas sosial budaya dan ekonomi tersendiri. Kekhasan daerah pesisir adalah hasil dari interaksi penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Penduduk yang tinggal di daerah pesisir dapat kita sebut sebagai masyarakat pesisir. Salah satu komponen dari masyarakat pesisir adalah nelayan. Jumlah masyarakat pesisir di Indonesia pada tahun 2002 diperkirakan sekitar 16.420.000 jiwa, sekitar 4.015.320 jiwa diantaranya adalah nelayan. Data yang bersumber dari Kementrian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa persentase masyarakat pesisir yang hidup di bawah garis kemiskinan (berdasarkan Poverty Headcount Index) masih tinggi, yaitu sebesar 32,14 persen atau sekitar 5.254.400 jiwa.
Kemiskinan yang dialami nelayan di Indonesia adalah hasil dari permasalahan yang ada di berbagai bidang, seperti rendahnya pendidikan, pembangunan yang tidak merata, kurangnya kepemilikan modal usaha, masalah pada faktor geografis hingga kebijakan-kebijakan yang kurang memperhatikan
kesejahteraan nelayan (Satria, 2009). Salah satu hal yang menarik adalah nelayan justru banyak mengalami masalah dalam pengembangan usahanya. Pengembangan usaha nelayan salah satunya sangat bergantung kepada keberadaan pasar (konsumen), untuk memiliki pasar yang sudah tetap adalah salah satu kesulitan yang dihadapi nelayan. Kesulitan tersebut membuat nelayan yang telah bekerja keras menangkap ikan, kadang tetap saja memiliki pendapatan yang kecil. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa mereka akan mendapat pendapatan yang besar, walaupun hasil tangkapan mereka berlimpah. Jika ikan yang mereka tangkap tidak segera disalurkan kepada konsumen maka ikan tersebut dapat menjadi busuk dan malah menjadi sia-sia.
Sistem ijon adalah cara yang banyak dipilih nelayan untuk menjamin hasil tangkapan mereka terjual. Namun sistem ini lebih banyak merugikan nelayan karena penetapan harga lebih cenderung bersifat sepihak, sehingga harga yang berlaku lebih rendah dari harga pasar. Di lain pihak, harga ikan pada tingkat konsumen relatif tinggi karena panjangnya mata rantai pemasaran. Oleh karena itu untuk mewujudkan harga yang wajar dan menguntungkan bagi nelayan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus memberikan pasar yang pasti bagi nelayan dalam menjual hasil tangkapannya, pemerintah memberi bimbingan dan dorongan agar hasil tangkapan nelayan dijual melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Tempat Pelelangan Ikan pada dasarnya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah karena termasuk kepada kewenangan otonomi daerah, sehingga pada tiap daerah dapat ditemukan TPI dengan sistem yang agak berbeda satu sama lain. Berdasarkan UU No 31 tahun 2004, disebutkan bahwa pemerintah berkewajiban untuk membangun dan membina prasarana perikanan (pelabuhan perikanan dan saluran irigasi tambak) (Pramitasari, 2005).
Menurut sejarahnya Pelelangan Ikan telah dikenal sejak tahun 1922, didirikan dan diselenggarakan oleh Koperasi Perikanan terutama di Pulau Jawa, dengan tujuan untuk melindungi nelayan dari permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak/pengijon, membantu nelayan mendapatkan harga yang layak dan juga membantu nelayan dalam mengembangkan usahanya (Pramitasari, 2005). TPI di beberapa daerah bahkan tidak berfungsi sebagaimana konsep awalnya. Hasil penelitian Silalahi (2006) menunjukkan bahwa ketidakefektifan TPI
disebabkan oleh tidak dapat dicapainya tujuan dari TPI, yaitu dalam meningkatkan pendapatan nelayan, mengendalikan harga ikan, dan sebagai tempat nelayan untuk menjual ikan hasil tangkapannya.Tidak berjalannya fungsi TPI ini diduga karena banyak nelayan yang tetap mengandalkan keberadaan tengkulak, sehingga mengabaikan keberadaan TPI. Tengkulak dianggap sebagai jaminan sosial ekonomi yang sudah umum bagi nelayan. Keberadaan TPI harus bersaing dengan keberadaan tengkulak yang dapat dikatakan telah menjadi suatu tradisi dalam masyarakat nelayan.
Berdasarkan latar belakang di atas, menarik untuk dikaji lebih dalam mengenai bagaimana representasi sosial nelayan terhadap TPI, mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara karakteristik nelayan, karakteristik TPI dan keberadaan tengkulak dengan representasi sosial tentang TPI yang dimiliki oleh nelayan, dan mencari tahu tentang ada atau tidaknya hubungan antara representasi sosial yang dimiliki nelayan dengan tingkat pemanfaatan TPI pada nelayan. Pengkajian terhadap representasi sosial tentang TPI pada nelayan ini terkait dengan teori tentang representasi sosial yaitu representasi sosial dapat merubah perlaku seserang, atau dengan kata lain representasi sosial dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Representasi sosial yang berbeda akan menghasilkan perilaku yang berbeda pula. Hal ini disebabkan setiap individu memiliki representasi yang berbeda mengenai suatu obyek.
1.2 Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana representasi sosial tentang TPI Cituis pada nelayan?
2. Bagaimana hubungan karakteristik nelayan responden dengan representasi sosial nelayan tentang TPI Cituis?
3. Bagaimana hubungan faktor eksternal (karakteristik TPI dan interaksi nelayan-tengkulak) dengan representasi sosial tentang TPI Cituis?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis representasi sosial tentang TPI Cituis pada nelayan responden. 2. Menganalisis hubungan karakteristik nelayan responden dengan representasi
sosial tentang TPI Cituis.
3. Menganalisis hubungan faktor eksternal (karakteristik TPI dan interaksi nelayan-tengkulak) dengan representasi sosial tentang TPI Cituis.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Peneliti, penelitian ini diharapkan mampu menjadi pembelajaran dalam memahami kehidupan nelayan terutama dalam bidang representasi sosial mereka.
2. Masyarakat umum, penelitian ini diharapkan dapat menjadi penambah pengetahuan mengenai representasi sosial nelayan.
3. Civitas akademik, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literature dan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya terkait dengan representasi sosial.
4. Pemerintah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terkait kebijakan-kebijakan dan perancanaan program yang berhubungan dengan representasi sosial nelayan.
BAB II
PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Representasi Sosial
Representasi sosial merupakan suatu teori yang dirintis oleh pemikiran seorang peneliti Psikologi Sosial, Serge Moscovici, sehingga teori representasi sosial berada di bawah teori besar psikologi sosial. Menurut Hollander (1981) dalam Pidarta (2007), psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang di masyarakat, yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antarindividu.
Jodelet (2005) dalam Putera dkk (2009) menjelaskan istilah representasi sosial pada dasarnya mengacu kepada hasil dan proses yang menjelaskan mengenai pikiran umum (common sense). Pikiran umum adalah cara berpikir „rasional‟ yang praktis melalui hubungan sosial dengan menggunakan gaya dan logikanya sendiri, yang kemudian didistribusikan kepada anggota suatu kelompok yang sama melalui komunikasi sehari-hari (Putera dkk, 2009). Abric (1976) dikutip oleh Deaux dan Philogene (2001) menyatakan bahwa representasi sosial terdiri dari beberapa elemen yakni informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap tentang suatu obyek. Elemen-elemen ini terorganisasi dan terstruktur kemudian membentuk suatu sistem sosial-kognitif seseorang. Struktur representasi sosial terdiri dari central core peripheral core. Karakteristik (central core) unsur utama yaitu bersifat lebih stabil dan tidak mudah untuk berubah. Karakteristik (periphery) yaitu sebagai pelengkap dari unsur utama, paling mudah berubah. Jika kita ingin merubah representasi sosial maka harus merubah central core.
Representasi sosial ini membentuk suatu pengetahuan yang akan menentukan persepsi dan pikiran seseorang tentang suatu kenyataan dan akan mempengaruhi tindakan yang individu lakukan, yang mana representasi sosial ini dibentuk dari suatu proses komunikasi dan interaksi yang terjadi pada antara individu dan dibagikan secara kolektif (Johar, 2011). Selain itu, Gunawan (2003) menyebutkan bahwa representasi sosial akan mempengaruhi perilaku seseorang.
Sesuai dengan pernyataan Abric (1989) sebagaimana dikutip oleh Pandjaitan (2010):
“... Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkah laku adalah representasi sosial yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan. Berdasarkan sejumlah eksperimen yang dilakukannya dapat disimpulkan bahwa tingkah laku para subyek ataupun kelompok tidaklah didasari oleh karakteristik obyektif dari suatu situasi melainkan oleh representasi mereka atas situai tersebut. ...” (Abric, 1989, seperti dikutip Padjaitan 2010).
Kesimpulannya adalah representasi sosial akan membentuk pemahaman dan perilaku seseorang terhadap suatu objek. Jadi representasi sosial sebenarnya memperkenalkan adanya sintesis yang baru antara individu dengan lingkup sosialnya. Posisi individu dalam teori ini dinilai tidak menghasilkan pola pikir dalam situasi yang terisolasi, namun dari basis saling mempengaruhi satu sama lain. Hal tersebut menjadi dasar bagi munculnya pemaknaan bersama tentang suatu obyek dan mempengaruhi perilaku individu berdasarkan makna bersama tersebut.
a. Fungsi Representasi Sosial
Moscovici (1973) dalam Adriana (2009) menyebutkan bahwa representasi sosial memiliki dua fungsi sekaligus, antara lain:
1. Representasi sosial berfungsi sebagai tata aturan bagi individu untuk menyesuaikan diri dan memahami (serta menguasai keadaan pada lingkungan fisik ataupun lingkungan sosialnya.
2. Selain itu, representasi sosial juga dapat memungkinkan terjadinya aktivitas pertukaran sosial mereka, dan sebagai kode untuk menamai serta mengklasifikasikan dengan jelas berbagai macam aspek pada lingkungan, kesejahteraan individu dan kesejarahan kelompoknya.
Bergman (1998) dalam Wesman (2011) juga menyatakan bahwa teori sosial terlihat pada pemikiran subyektif seseorang individu yang menciptakan sebuah kenyataan dari kenyataan yang tidak diketahui sebelumnya. Oleh sebab itu, representasi sosial memiliki fungsi sebagai alat untuk memberikan arti bagi setiap istilah yang asing atau abstrak bagi mereka.
b. Pembentukan Representasi Sosial
Menurut Moscovici (1984) dalam Deaux dan Philogene (2001) representasi sosial tersebut dibentuk melalui dua buah proses, yaitu anchoring dan objectifying.
1. Anchoring mengacu kepada proses pengenalan atau pengaitan (to anchor) suatu obyek tertentu dalam pikiran individu. Pada proses anchoring, informasi baru diintegrasikan kedalam sistem pemikiran dan sistem makna yang telah dimiliki individu. Obyek diterjemahkan dalam kategori dan gambar yang lebih sederhana dalam konteks yang familiar bagi individu.
2. Objectifications, mengacu kepada penerjemahan ide yang abstrak dari suatu obyek ke dalam gambaran tertentu yang lebih konkrit atau dengan mengaitkan abstraksi tersebut dengan obyek-obyek yang konkrit. Proses ini dipengaruhi oleh kerangka sosial individu, misalnya norma, nilai, dan kode-kode yang merupakan bagian dari proses kognitif dan juga dipengaruhi oleh efek dari komunikasi dalam pemilihan dan penataan representasi mental atas obyek tersebut.
c. Pengukuran Representasi Sosial
Pengukuran suatu representasi sosial dapat dilakukan melalui beberapa metode, di antaranya: percobaan, kuesioner, asosiasi kata, dan metode diferensiasi semantik. Dalam Wagner dan Hayes (2005) sebagaimana dikutip oleh Johar (2011) dikatakan bahwa pada percobaan, variabel percobaan yang digunakan adalah variabel terikat dan bukan variabel bebas. Percobaan pada proses representasi sosial mengungkapkan struktur, organisasi, dan komponen tindakan individu, serta tidak bersifat universal tergantung pada populasi yang digunakan. Selain itu, Wagner dan Hayes (2005) dalam Johar (2011) juga mengatakan bahwa pada asosiasi kata, representasi dilihat dari penghitungan kata-kata stimulus mengenai suatu objek yang dinyatakan oleh para subjek.
Pada asosiasi kata, para subjek akan memberikan secara spontan jawaban atau pandangan nya dari suatu objek yang diberikan dan mereka diminta untuk menuliskan lima kata yang terlintas di benak mereka ketika mereka membaca kata mengenai objek tersebut. Selanjutnya, kata-kata yang didapatkan dari subjek diurutkan mulai dari kata yang paling menggambarkan objek sampai
kata-kata yang kurang menggambarkan objek yang akan diukur representasinya (Nadra, 2010). Pada penelitian ini, responden hanya diminta untuk menyebutkan minimal satu kata yang dianggap paling mewakili objek penelitian, yaitu TPI Cituis. Hal ini dilakukan karena responden menemukan kesulitan ketika diminta untuk menyebutkan lima kata untuk mewakili TPI Cituis. Skala Likert digunakan untuk mengukur elemen sikap dan keyakinan dalam representasi sosial.
2.1.2 Nelayan
Menurut Imron (2003) sebagaimana dikutip oleh Mulyadi (2007), nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan atau pun budidaya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya.
Menurut Mulyadi (2007), nelayan bukanlah suatu entitas tunggal, mereka terdiri dari beberapa kelompok. Dilihat dari segi kepemilikan alat tangkap, nelayan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu nelayan buruh, nelayan juragan dan nelayan perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat milik orang lain. Sebaliknya nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain. Adapun nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap sendiri, dan dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain.
Satria (2002) menggolongkan nelayan menjadi empat tingkatan yang dilihat dari kapasitas teknologi (alat tangkap dan armada), orientasi pasar, dan karakteristik hubungan produksi. Berikut adalah tingkatannya:
1. Peasant-fisher atau nelayan tradisional yang biasanya lebih berorientasi pada kebutuhan sendiri (subsisten), nelayan ini mengalokasikan hasil jual tangkapannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bukan diinvestasikan untuk pengembangan skala usaha.
2. Post-fisher yaitu nelayan yang telah menggunakan teknologi penangkap ikan yang lebih maju seperti motor tempel atau kapal motor. Penguasaan sarana perahu motor semakin membuka peluang nelayan untuk menangkap ikan di wilayah perairan yang lebih jauh dan memperoleh surplus dari hasil tangkapan
tersebut karena mempunyai daya tangkap yang lebih besar. Pada jenis ini, nelayan sudah berorientasi pasar.
3. Commercial-fisher yaitu nelayan yang telah berorientasi pada peningkatan keuntungan. Skala usahanya sudah besar dan dicirikan dengan banyaknya jumlah tenaga kerja dan dicirikan dengan status tenaga kerja yang beragam, dari buruh hingga manajer. Teknologi yang digunakan lebih modern sehingga diperlukan keahlian tersendiri dalam pengoperasiannya.
4. Industrial-fisher, ciri nelayan industri menurut Pollnac (1988) dalam Satria (2002) adalah:
a. Diorganisasi dengan cara-cara yang mirip dengan perusahaan argoindustri di negara-negara maju;
b. Secara relatif lebih padat modal;
c. Memberi pendapatan yang lebih tinggi daripada perikan serderhana, baik untuk pemilik maupun awak kapal; dan
d. Menghasilkan untuk ikan kaleng dan ikan beku yang berorientasi ekspor. Nelayan yang menjadi sasaran TPI sendiri sepertinya terbatas kepada nelayan tradisional (peasant-fisher) dan post-fisher. Kepemilikan alat tangkap dapat menunjukkan tingkat pendapatan seorang nelayan. Pendapatan yang berbeda akan menghasilkan pola pikir yang berbeda dalam memandang suatu kebutuhan. Hanson (1984) dalam Amanah dkk (2005) menyatakan bahwa masyarakat pesisir seringkali memiliki kesempatan yang lebih rendah dalam mengakses pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti pendidikan, kesehatan dan pemenuhan sarana produksi usahanya sehingga terkadang kondisi sosial ekonominya relatif masih rendah.
2.1.3 Tempat Pelelangan Ikan
Menurut Biro Pusat Statistik (Sensus Pertanian 1993), Tempat Pelelangan Ikan (TPI) adalah pasar yang biasanya terletak di dalam pelabuhan/pangkalan pendaratan ikan, dan di tempat tersebut terjadi transaksi penjualan ikan/hasil laut baik secara lelang maupun tidak (tidak termasuk TPI yang menjual/melelang ikan darat). Biasanya Tempat Pelelangan Ikan ini dikoordinasi oleh Dinas Perikanan atau Pemerintahan Daerah. Tempat Pelelangan Ikan tersebut harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) tempat tetap (tidak berpindah-pindah); (b) mempunyai
bangunan tempat transaksi penjualan ikan; (c) ada yang mengkoordinasi prosedur lelang/penjualan; (d) mendapat izin dari instansi yang berwenang (Dinas Perikanan/Pemerintah Daerah).
TPI merupakan pusat dari seluruh kegiatan perikanan, yang mengumpulkan semua hasil tangkapan untuk dijual melalui sistem lelang (Direktorat Jenderal Perikanan (1981) dalam Yunizar, 1989. Direktur Bina Prasarana Perikanan (1987) dalam Yunizar (1989) mengatakan bahwa secara umum pelelangan ikan diartikan sebagai suatu metode transaksi di pusat produksi yang diselenggarakan di TPI antara nelayan dan bakul dengan tujuan agar dapat diperoleh harga yang wajar serta pembayaran secara tunai kepada nelayan.
Berdasarkan Keputusan Bersama 3 Menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor 139 Tahun 1997; 902/Kpts/PL.420/9/97; 03/SKB/M/IX/1997 tertanggal 12 September 1997 tentang penyelengaraan tempat pelelangan ikan, bahwa yang disebut dengan Tempat Pelelangan Ikan adalah tempat para penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli ikan melalui pelelangan dimana proses penjualan ikan dilakukan di hadapan umum dengan cara penawaran bertingkat (Pramitasari, 2005).
a. Fungsi Tempat Pelelangan Ikan
Fungsi TPI menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1985) sebagaimana dikutip Yunizar (1989) adalah sebagai:
1. Tempat pelelangan;
2. Tempat menyortir, mencuci, dan menimbang sebelum ikan dilelang; 3. Tempat pengepakkan sebelum ikan dikirim ke daerah pemasaran.
TPI pada hakekatnya adalah pasar induk dari segi institusi. Manfaat dari pelelangan ikan menurut Direktur Bina Prasarana Perikanan (1987) dalam Adi (1995) adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan;
2. Sebagai sumber data statistik yang akurat baik untuk keperluan perencanaan pembangunan maupun pengelolaan kelestarian sumber daya perikanan;
3. Sebagai sarana melepaskan ketergantungan nelayan kepada pemilik modal dan penghapusan sistem ijon;
4. Sebagai sarana pembinaan mutu hasil perikanan sekaligus pengaturan harga yang layak bagi konsumen;
5. Sebagai sumber pendapatan bagi Pemerintah Daerah yang sekaligus dapat melakukan fungsi kontrol terhadap penghimpunan dan penggunaan dana retribusi.
Pada pelaksanaan pelelangan ikan juga terdapat hambatan-hambatan, berikut adalah hambatan pelelangan ikan menurut Direktur Bina Prasarana Perikanan (1987) dalam Yunizar (1989), antara lain:
1. Belum dilakukannya sistem lelang dengan penawaran terbuka dan bebas, sehingga banyak merugikan nelayan;
2. Administrasi pengelolaan dan pengawasan pelelangan belum berjalan sempurna;
3. Petugas-petugas TPI umumnya masih belum memiliki persyaratan (job qualification) untuk pelaksanaan tugasnya;
4. Pelelangan ikan banyak didominasi oleh pedagang-pedagang ikan yang juga adalah tengkulak-tengkulak atau pelepas uang;
5. Praktek-praktek penjualan ikan di tengah laut masih banyak terjadi;
6. Hasil tangkapan nelayan kecil, sering tidak dijual di TPI karena adanya pembatasan jumlah minimal ikan yang boleh dilelang;
7. Pembayaran harga ikan kepada nelayan tidak secara tunai;
8. KUD sebagai pelaksana pelelangan ikan kebanyakan belum mampu melaksanakan tugasnya terutama untuk menjamin berlangsungnya penawaran secara bebas dan terbuka;
9. Sarana-sarana pemasaran seperti: penyediaan es, cool box, cool room, dan sebagainya, khususnya di PPI banyak yang belum memadai;
10. Banyak Pemerintah Daerah Tingkat I lebih mengutamakan TPI sebagai sumber pendapatn, sehingga melupakan sebagai fungsi pokok TPI sebagai sarana untuk mengusahakan harga yang layak dan pembayaran secara tunai kepada nelayan.
b. Karakteristik Tempat Pelelangan Ikan
Tempat Pelelangan Ikan idealnya memiliki fasilitas yang baik agar dapat mendukung fungsinya secara optimal. Sarana seperti tempat penyediaan es, cool box, dan cool room seharusnya telah dapat terpenuhi mengingat fokus dari TPI adalah ikan yang merupakan komoditas yang cepat rusak. Kelengkapan fasilitas pada suatu TPI adalah karakter dari masing-masing TPI, karena ternyata tidak semua TPI telah memiliki fasilitas yang memadai. Karakter lain yang dapat dilihat pada suatu TPI adalah letaknya. TPI yang baik adalah TPI yang letaknya berdekatan dengan PPI (Pelabuhan Pendaratan Ikan) sehingga ketika nelayan pulang dari melaut dapat langsung membawa hasil tangkapannya ke TPI. Hal ini tentu saja akan sangat mengefisienkan waktu dan tenaga para nelayan.
TPI adalah tanggung jawab dari pemerintahan daerah sehingga dapat terjadi perbedaan kebijakan antara TPI yang satu dengan TPI yang lainnya atau bergantung kepada kebijakan pemerintahan daerah tempat TPI tersebut berdiri. Dengan demikian kebijakan yang berlaku pada suatu TPI dapat dikategorikan sebagai karakteristik TPI. Perbedaan kebijakan ini dapat terlihat misalnya pada pengimplementasian biaya retribusi dan sistem lelang yang belaku.
2.1.4 Hubungan Patron-Klien
Salah satu ciri dari masyarakat nelayan adalah adanya hubungan patron-klien. Ikatan patron-klien muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan nelayan akan jaminan atas kelancaran kegiatan pencarian nafkah mereka. Kebutuhan ini mereka penuhi dengan menjalin sebuah hubungan patron-klien dengan seorang tengkulak. Hal ini terjadi karena hingga saat ini nelayan belum menemukan alternatif institusi yang mampu menjamin kepentingan sosial ekonomi mereka (Satria, 2002).
“... Pekerjaan sebagai nelayan merupakan pekerjaan yang berat, mengandung resiko dimana penghasilannya tidak menentu. Kondisi alam (musim/cuaca) mempengaruhi kondisi perekonomian para nelayan. jika perbedaan musim dan cuaca yang tidak memungkinkan kegiatan penangkapan ikan maka akan berdampak pada putusnya sumber penghasilan nelayan. situasi yang demikian maka para nelayan terpaksa melakukan pinjaman atau kredit, berhutang barang kebutuhan pokok yang harganya jauh lebih tinggi dari biasanya. ...” (Layn, 2008).
Scot (1972) dalam Layn (2008) menyatakan hubungan patron-klien merupakan suatu kasus hubungan antara dua orang yang sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental, dimana seseorang dengan status sosial lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber daya untuk memberikan perlindungan dan/atau keuntungan kepada seseorang dengan status lebih rendah (klien) yang pada gilirannya membalas pemberian tersebut dengan dukungan dan bantuan, termasuk jasa pribadi kepada patron.
Ketidakseimbangan pertukaran pada hubungan patron-klien dapat dengan mudah ditemukan. Ketidakseimbangan yang dimaksudkan di sini adalah dalam arti barang dan jasa yang diterima lain dengan yang telah diberikan. Namun dalam pandangan individu yang terlibat dalam hubungan patron-klien pertukaran yang mereka lakukan dapat saja dianggap seimbang. Gouldner (1977) dalam Layn (2008) menyatakan bahwa equivalence dapat berarti bahwa, apa yang dipertukarkan sangat berlainan wujudnya namun sama nilainya menurut pandangan para pelakunya, dan besar kecilnya nilai sesuatu yang dipertukarkan ini ditentukan oleh berbagai macam faktor, misalnya kebutuhan penerima saat pemberian diberikan, semakin tinggi nilai pemberian baginya makin besar pula rasa wajib untuk membalas pemberian tersebut. Keseimbangan ini sering disebut denga heteromorphic reciprocity.
Menurut Mulyadi (2007), Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang secara konseptual disediakan pemerintah untuk membantu nelayan dalam memasarkan hasil, ternyata belum optimal. Kendala yang dihadapi TPI dalam mengundang nelayan untuk menggunakan fasilitas yang tersedia ternyata terjadi karena alasan sosiologis di mana nelayan telah menjalin hubungan dengan tengkulak dalam suatu hubungan patron-klien, yaitu tengkulak memberikan fasilitas kredit kepada nelayan. Sebaliknya nelayan memiliki kewajiban untuk menjual hasil tengkapannya kepada tengkulak.
2.2 Kerangka Pemikiran
Representasi sosial tentang TPI pada nelayan dipengaruhi oleh faktor internal (karakteristik individu nelayan) dan faktor eksternal. Karakteristik individu meliputi status nelayan, jenis alat tangkap yang digunakan, tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat usia dan tingkat pengalaman. Faktor eksternal yang dimaksud dalam penelitian ini berasal dari TPI sendiri yaiu karakteristik dari TPI Cituis dan faktor eksternal lain yang berasal dari kehidupan sosial ekonomi nelayan, yaitu hubungan patron-klien antara tengkulak dan nelayan. Karakteristik TPI yang diduga dapat mempengaruhi representasi sosial nelayan terhadap TPI, antara lain: kelengkapan fasilitas, letak, sistem lelang, sistem retribusi dan pegawai dari TPI tersebut. Tingkat pemanfaatan TPI oleh nelayan dapat dilihat dari frekuensi mengikuti kegiatan lelang, persentasi jumlah ikan yang dilelang dari hasil tangkapan, dan kegiatan yang diikuti nelayan di TPI selain dari kegiatan lelang.
Representasi sosial tentang TPI pada nelayan adalah sejumlah imej, opini, penilaian, dan keyakinan umum mengenai TPI yang ada pada nelayan. Representasi sosial berarti pemahaman bersama tentang suatu hal di kelompok tertentu yang di dalamnya terdiri dari informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap. Nelayan dapat berkomunikasi satu sama lain tentang TPI melalui informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap mereka. Komunikasi tersebut akan menghasilkan suatu pengetahuan sosial tentang TPI yang hampir sama di antara nelayan. Representasi sosial merupakan suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut. Maka representasi sosial individu mengenai suatu hal akan mempengaruhi perilaku individu terhadap hal tersebut. Jadi, representasi sosial tentang TPI pada nelayan akan mempengaruhi perilaku nelayan. Namun pada penelitian ini tidak akan mengkaji mengenai tingkat pemanfaatan TPI oleh nelayan karena berada di luar tujuan penelitian. Penjelasan di atas dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Representasi Sosial tentang Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pada Nelayan
2.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dirumuskan di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan representasi sosial tentang TPI pada nelayan yang menggunakan alat tangkap gardan dengan nelayan yang menggunakan alat tangkap jaring rampus.
2. Terdapat perbedaan representasi sosial tentang TPI pada nelayan yang berstatus nelayan buruh, nelayan perorangan dan nelayan juragan.
3. Terdapat hubungan positif nyata pada tingkat pendapatan nelayan terhadap representasi sosial nelayan tentang TPI.
Faktor Eksternal
Tingkat Pemanfaatan TPI oleh Nelayan Faktor Internal
Karakteristik Nelayan: 1. Jenis alat tangkap 2. Status nelayan 3. Tingkat pendapatan 4. Tingkat pendidikan 5. Tingkat pengalaman 6. Tingkat usia Karakteristik TPI: 1. Fasilitas TPI 2. Letak TPI 3. Sistem retribusi 4. Sistem lelang Representasi Sosial tentang TPI pada Nelayan
Elemen: 1. Informasi
2. Sikap 3. Opini 4. Keyakinan Tingkat interaksi dengan
tengkulak (hubungan patron-klien)
Keterangan Gambar:
4. Terdapat hubungan positif nyata pada tingkat pendidikan nelayan terhadap representasi sosial nelayan tentang TPI.
5. Terdapat hubungan positif nyata pada pengalaman nelayan terhadap representasi sosial nelayan tentang TPI.
6. Terdapat hubungan positif nyata pada usia nelayan terhadap representasi sosial nelayan tentang TPI.
7. Terdapat hubungan negatif nyata pada tingkat interaksi nelayan dengan tengkulak terhadap representasi sosial nelayan tentang TPI.
2.4 Definisi Operasional dan Pengukuran
Berdasarkan variabel-variabel yang terdapat pada kerangka pemikiran yang telah dirumuskan di atas, maka definisi operasionalnya adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik Nelayan adalah berbagai karakter yang terdapat pada responden dan bersifat personal.
1) Usia adalah jawaban responden tentang lama hidup responden sampai ketika diwawancarai. Usia dikategorikan menjadi tiga kategori yang mengurutkan tingkat usia responden dari yang paling muda hingga yang paling tua. Berikut batasan pada tiap kategori:
a. Muda = -½ standar deviasi (x < 32 tahun) Skor = 0 b. Sedang = - ½ standar deviasi ≤ x ≤ + ½ standar deviasi
(32 ≤ x ≤ 40 tahun) Skor = 1
c. Tua = +½ standar deviasi (x > 40 tahun) Skor = 2 2) Tingkat pendidikan adalah jawaban responden tentang pendidikan terakhir
yang telah mereka capai. Kategorinya adalah sebagai berikut: a. tidak sekolah
b. SD / sederajat c. SMP / sederajat d. SMA / sederajat e. PT / sederajat
Namun pada saat penelitian, tingkat pendidikan responden tidak terlalu heterogen dehingga pengkategoriannya diubah sesuai data yang terkumpul saat penelitian, yaitu:
a. Tidak sekolah Skor = 0
b. SD Skor = 1
c. > SD Skor = 2
3) Tingkat pendapatan adalah jawaban responden tentang jumlah uang yang mereka dapatkan dari hasil menangkap ikan setiap bulannya. Kategorinya adalah:
a. Rendah (x < Rp 755.000,00) Skor = 0
b. Sedang (Rp 755.000,00 ≤ x ≤ Rp 1.111.000,00) Skor = 1
c. Tinggi (x > Rp 1.111.000,00) Skor = 2
4) Status nelayan adalah jawaban responden tentang kedudukan mereka sebagai seorang nelayan. Kategori yang digunakan adalah:
a. Anak Buah Kapal (ABK) b. Nakhoda
c. Juragan
5) Jenis alat tangkap adalah jawaban responden tentang alat yang mereka gunakan ketika menangkap ikan. Jenis alat tangkap dikategorikan sesuai dengan hasil dari pengumpulan data, yaitu:
a. Pancing b. Gardan c. Jaring rampus d. Jaring apollo e. Payang
6) Pengalaman adalah jawaban responden tentang lamanya mereka berkecimpung sebagai nelayan. Kategorinya adalah:
a. Rendah (x < 16 tahun) Skor: 0
b. Sedang (16 ≤ x ≤ 24 tahun) Skor: 1
2. Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu nelayan, yang terdiri dari karakteristik TPI dan tingkat interaksi dengan tengkulak.
Karakteristik TPI adalah jawaban responden tentang berbagai informasi tentang TPI Cituis yang mereka ketahui, meliputi:
1) Fasilitas TPI adalah kelengkapan sarana yang ada pada TPI Cituis.
2) Letak TPI adalah jarak yang harus ditempuh nelayan untuk mencapai TPI dari pendaratan ikan.
3) Sistem retribusi adalah sistem penarikan uang yang wajib dilakukan TPI kepada nelayan anggota lelang.
4) Sistem lelang adalah aturan main yang berlaku dalam kegiatan lelang.
Tingkat interaksi dengan tengkulak adalah jawaban responden tentang seberapa sering mereka melakukan perjanjian dengan tengkulak. Kategorinya adalah:
a. Selalu Skor: 0
b. Kadang-kadang Skor: 1
c. Tidak pernah Skor: 2
Variabel faktor eksternal juga diukur melalui pendekatan kualitatif.
3.Representasi sosial tentang TPI pada nelayan adalah sejumlah opini, penilaian, dan pemahaman nelayan tentang TPI. Dalam representasi sosial ini terdapat empat elemen yang terdiri dari informasi, sikap, keyakinan, dan pendapat. Elemen-elemen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Informasi adalah segala pengetahuan mengenai TPI yang dimiliki responden, diukur dengan melihat tingkat pengetahuan tentang variabel karakteristik TPI, kategorinya adalah:
a. Rendah (x < 4) b. Sedang (4 ≤ x ≤ 7) c. Tinggi (x > 7)
2) Sikap adalah perasaan suka atau tidak suka dari responden terhadap kegiatan yang berlangsung di dalam TPI, kategorinya adalah:
a. Negatif (x < 9) b. Netral (9 ≤ x ≤ 10)
c. Positif (x > 10)
3) Keyakinan adalah suatu kepercayaan tertentu yang dimiliki oleh responden mengenai TPI Cituis, kategorinya adalah:
a. Negatif (x < 8) b. Netral (8 ≤ x ≤ 9) c. Positif (x > 9)
4) Opini adalah suatu hasil dari pemikiran responden mengenai TPI, yang berdasarkan pada informasi-informasi yang mereka dapatkan (diukur secara kualitatif).
BAB III
PENDEKATAN LAPANGAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pemilihan lokasi penelitian melalui pendekatan purposive. Desa Surya Bahari dipilih karena pada lokasi ini terdapat TPI Cituis. TPI Cituis adalah objek dari representasi sosial nelayan yang dikaji pada penelitian ini. Berikut adalah batas-batas Desa Surya Bahari, yaitu: (1) Sebelah Utara: Perairan Kepulauan Seribu; (2) Sebelah Selatan: Desa Buaran Wangah; (3) Sebelah Timur: Desa Kramat; (4) Sebelah Barat: Desa Karang Serang.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (unpublished), TPI Cituis adalah salah satu TPI yang masih aktif dalam kegiatan pelelangan ikan di daerah Kabupaten Tangerang. TPI Cituis ini merupakan milik pemerintah Kabupaten Tangerang yang pengelolaannya oleh koperasi, yaitu KUD Mina Samudera. Pengumpulan data dilakukan pada periode Maret-April 2011. Pengolahan data dan hasil penelitian dilakukan pada periode Mei-September 2011.
3.2 Teknik Pemilihan Responden
Populasi dari penelitian ini adalah nelayan Desa Surya Bahari yang pernah atau sedang memanfaatkan TPI Cituis maupun yang belum memanfaatkan TPI Cituis, Desa Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pemilihan responden dilakukan dengan pendekatan purposive. Unit penelitiannya adalah individu nelayan yang dipilih secara accidental, yaitu nelayan yang pernah atau sedang dan nelayan yang belum memanfaatkan TPI Cituis. Terdapat 40 responden yang terbagi atas 20 responden nelayan yang pernah dan sedang memanfaatkan TPI dan 20 responden lainnya yang belum pernah memanfaatkan TPI. Informan dari pihak TPI diambil untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai TPI Cituis, sedangkan informan yang berasal dari pihak tengkulak diambil untuk mengetahui hubungan patron-klien dan interaksi antara tengkulak dan nelayan.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian survai dengan bentuk penelitian eksplanatory (penelitian penjelasan). Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), pada penelitian eksplanatory dilakukan penjelasan mengenai hubungan-hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian terhadap hipotesa. Penelitian ini menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial yang diteliti. Proses penyusunan instrumen penelitian mengenai representasi sosial tentang TPI pada nelayan dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:
1. Kuesioner: menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup untuk mengetahui karakteristik, pengetahuan dan pendapat responden dalam representasi sosial dan tingkat pemanfaatan TPI oleh responden. Selain itu, pada kuesioner jugadigunakan beberapa teknik berikut:
a. Teknik asosiasi kata: instruksi disampaikan secara lisan dan dituliskan juga dalam kuesioner. Partisipan diminta untuk menyebutkan kata yang terlintas di benak mereka ketika mendengar kata TPI Cituis. Partisipan juga diminta untuk menjelaskan arti dan maksud asosiasi kata yang telah mereka tuliskan dalam kuesioner. Teknik pengukuran ini dapat menjelaskan representasi mental yang ada dalam sebuah masyarakat mengenai sebuah obyek tertentu, dalam hal ini adalah makna dari TPI Cituis. Dalam wawancara responden juga diminta untuk menyebutkan kata yang dianggap dapat mewakili tengkulak, sehingga didapatkan hasil asosiasi kata berupa tipologi-tipologi representasi sosial tentang TPI dan tengkulak.
b. Skala Likert: digunakan untuk mengukur elemen sikap dan keyakinan dalam representasi sosial, alat ukur ini terdiri dari pernyataan-pernyataan yang memiliki empat alternatif jawaban atau tanggapan atas suatu pernyataan. Responden diminta untuk memilih salah satu dari empat alternatif jawaban yang disediakan, yaitu: sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Pada penelitian ini hanya digunakan empat alternatif jawaban dari lima alternatif jawaban pada ketentuan umum Skala Likert. Hal ini dilakukan untuk menghindari data yang tidak valid.
2. Wawancara mendalam: untuk mengetahui informasi-informasi yang berkaitan dengan TPI, hubungan patron-klien yang terjadi, dan informasi lain yang berkaitan dengan penelitian.
3. Studi literatur: untuk mendapatkan data yang bersifat data sekunder seperti gambaran umum lokasi penelitian, data kependudukan, dan data lain yang terkait dengan penelitian.
3.4 Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data digunakan beberapa teknik analisis data, yaitu: 1. Tabel frekuensi digunakan untuk analisis data primer, yaitu deskripsi
karakteristik nelayan dan tingkat pemanfaatan TPI oleh nelayan.
2. Pengolahan data menggunakan Microsoft Office Excel 2007 dan SPSS 16.0. Program SPSS 16.0 digunakan untuk melakukan uji Korelasi Spearman dan uji Chi-Square. Uji Korelasi Spearman digunakan untuk mengukur hubungan antara tingkat pendapatan, tingkat pengalaman, tingkat usia, tingkat pendidikan dan tingkat interaksi nelayan-tengkulak dengan representasi sosial pada responden. Uji Chi-Square digunakan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan representasi sosial pada nelayan yang berbeda status dan jenis alat tangkap.
Apabila hasil uji menunjukkan nilai probabilitas < 0,05 maka terdapat perbedaan representasi sosial antara responden yang memiliki karakteristik berbeda. Jika nilai probabilitas > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan representasi sosial antara responden yang memiliki karakteristik berbeda.
Ada atau tidak adanya korelasi pada hasil uji korelasi Spearman dapat dilihat melalui nilai probabilitasnya. Jika hasil uji menunjukkan nilai probabilitas < 0,05, maka terdapat korelasi antara variabel yang diuji, sedangkan jika nilai probabilitasnya > 0,05 maka tidak terdapat korelasi. Nilai koefisien korelasi pada uji korelasi Spearman menunjukkan arah hubungan. Jika nilai probabilitas yang muncul kurang dari 0,05 dan koefisien korelasinya bernilai positif, maka terdapat hubungan positif nyata antara kedua variabel.
3. Tabulasi silang digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel yang memiliki hubungan.
4. Teknik kualitatif untuk analisis data tentang karakteristik TPI dan aspek pendapat pada representasi sosial. Untuk menganalis data mengenai tingkat pengetahuan maka digunakan data TPI yang berasal dari informan sebagai acuan.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Keadaan Umum Desa Surya Bahari 4.1.1 Keadaan Geografis
Desa Surya Bahari terletak di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Menurut data monografi dari Pemerintahan Desa, Luas wilayah Desa Surya Bahari adalah 272 Ha. Secara geografis, Desa Surya Bahari berada pada koordinat 03o46‟51” N Latitude dan 98o42‟44” E Longitude. Desa Surya Bahari berbatasan dengan beberapa wilayah, berikut wilayah perbatasannya: (1) Sebelah utara Desa Surya Bahari berbatasan dengan Laut Jawa,
(2) Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Buaran Mangga, (3) Sebelah timur berbatasan dengan Desa Sukawali, dan (4) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Karang Serang.
Orbitasi atau jarak dari pusat pemerintahan desa/kelurahan dengan Ibukota Provinsi Banten sejauh 110 km, dengan Ibukota Kabupaten Tangerang sejauh 25 km dan berjarak 14 km dari Ibukota Kecamatan Pakuhaji.
4.1.2 Kependudukan
a. Jumlah Penduduk Desa Surya Bahari
Desa Surya Bahari terdiri dari enam dusun, yaitu: Dusun Cituis I, Dusun Cituis II, Dusun Rawasaban III, Dusun Rawasaban IV, Dusun Rawasaban BTN, dan Dusun Encle-Sugri. Keenam dusun tersebut terdiri dari 6 Rukun Warga dan 18 Rukun Tetangga. Pemukiman Desa Surya Bahari tersebar sepanjang jalan raya yang menghubungkan beberapa desa.
Jumlah seluruh penduduk Desa Surya Bahari sebanyak 7.350 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 3.745 orang dan jumlah perempuan sebanyak 3.605 orang. Jumlah kepala keluarga Desa Surya Bahari sebanyak 1.796 kepala keluarga. Desa Surya Bahari mempunyai 18 unit RT dan 6 unit RW. Masyarakat terdiri dari penduduk asli dan pendatang yang berasal dari berbagai daerah. Masyarakat di Desa Surya Bahari juga terdiri dari berbagai etnis, seperti Etnis Sunda, Betawi, Jawa, China dan lain-lain. Agama mayoritas penduduk Desa Surya Bahari adalah Islam. Agama lain yang juga dianut oleh beberapa penduduk di Desa Surya Bahari adalah agama Kristen dan Budha.
b. Tingkat Pendidikan
Menurut tingkat pendidikannya, mayoritas penduduk Desa Surya Bahari berpendidikan minimal hingga pada tingkat Sekolah Dasar. Berdasarkan data yang berasal dari Pemerintahan Desa Surya Bahari tahun 2011, dapat diketahui bahwa hanya 2.081 jiwa dari keseluruhan jumlah penduduk yang tercatat telah mengecap pendidikan, 912 orang diantaranya adalah lulusan SD, selanjutnya 567 orang merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara itu terdapat sebanyak 345 orang penduduk yang telah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Untuk kategori pendidikan tinggi, hanya terdapat 2 orang diantaranya yang merupakan lulusan akademi (D3) dan 5 orang yang merupakan lulusan S1. Tabel 1 menunjukkan jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan masyarakat Desa Surya Bahari.
Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang Tahun 2011.
No Jenis Pendidikan Jumlah
(Jiwa)
Persentase (%) 1. Tidak tamat SD/MI Sederajat 250 12,0
2. Tamat SD/MI Sederajat 912 43,8
3. Tamat SMP/MTs Sederajat 567 27,3
4. Tamat SMA/MA Sederajat 345 16,6
5. Tamat Akademi/Sederajat 2 0,1
6. Tamat Sarjana/Sederajat 5 0,2
Jumlah 2081 100,0
Sumber: Data Monografi Desa Surya Bahari, 2011
Data di atas menunjukkan bahwa penduduk di Desa Surya Bahari masih banyak yang belum mengecap pendidikan, karena dari jumlah keseluruhan penduduk, yaitu 7.350 orang, masih banyak yang belum tercatat tingkat pendidikannya. Penduduk yang tidak tercatat tingkat pendidikannya dapat dikarenakan memang belum atau tidak mengecap pendidikan. Selain dari itu, dari data yang dimiliki Pemerintah Desa Surya Bahari juga dapat diketahui bahwa terdapat 490 orang penduduk yang tidak memiliki kemampuan baca tulis atau buta huruf.
c. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk Desa Surya Bahari sebagian besar adalah sebagai nelayan dengan jumlah 2.750 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Surya Bahari memiliki ketergantungan yang besar terhadap sektor perikanan. Selain itu, penduduk Desa Surya Bahari juga bekerja pada sektor-sektor lainnya secara rinci akan dijelaskan pada tabel berikut.
Tabel 2. Komposisi Penduduk Desa Surya Bahari Menurut Mata Pencaharian Tahun 2011.
Sumber: Data Monografi Desa Surya Bahari, 2011
Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa mata pencaharian terbesar ada di sektor perikanan atau lebih spesifik lagi terdapat pada sektor perikanan tangkap yaitu sebagai nelayan. Mata pencaharian dominan selanjutnya adalah pekerjaan di sektor perdagangan dan pertanian. Banyaknya penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan masih banyaknya areal persawahan di daerah ini. Berdasarkan sumber monografi Desa Surya Bahari, penduduk yang masuk ke dalam golongan angkatan kerja adalah sebanyak 3.683 orang, namun yang tercatat sebagai penduduk yang memiliki mata pencaharian adalah sebanyak 3.458 orang, sedangkan 150 orang penduduk tercatat sebagai pengangguran kentara dan 75 orang lainnya sebagai pengangguran tidak kentara.
d. Kondisi Sosial-Ekonomi
Masyarakat di Desa Surya Bahari rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk bekerja
No Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. Petani 45 1,30 2. Penggarap 100 2,90 3. Buruh Tani 75 2,17 4. Nelayan 2750 79,50 5. Pedagang 300 8,68 6. Industri Kecil 100 2,90 7. Buruh Industri 45 1,30 8. Pertukangan 16 0,47
9. Pegawai Negeri Sipil 8 0,23
10. Pensiunan PNS 1 0,03
11. Perangkat Desa 18 0,52