• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VI. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIK"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

VI. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIK

6.1. Analisis Faktor Eksternal

Untuk menemukan strategi pengembangan perusahaan yang tepat perlu dilakukan analisis terhadap lingkungan eksternal perusahaan. Lingkungan eksternal adalah lingkungan yang berada di luar perusahaan. Lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan eksternal makro dan lingkungan eksternal industri.

6.1.1. Lingkungan Eksternal Makro

Lingkungan eksternal makro terdiri dari aspek ekonomi, sosial budaya, kebijakan pemerintah dan politik, serta teknologi. Perubahan dalam lingkungan tersebut dapat menimbulkan perubahan dalam permintaan konsumen akan produk ataupun jasa, baik untuk industri maupun konsumen.

a. Aspek ekonomi

Krisis ekonomi yang telah dialami Indonesia untuk beberapa kali dapat memberikan gambaran bahwa sector pertanian dan peternakan merupakan sector yang tetap bertahan dalam keadaan krisis. Permintaan terhadap produk pertanian ataupun peternakan tetap tinggi. Telur ayam ras adalah salah satu contoh produk peternakan yang permintaannya masih cukup tinggi. Hal tersebut menjadi peluang bagi perusahaan AAPS untuk mengembangkan usaha menjadi lebih maju.

Permasalahan yang timbul saat ini adalah belum stabilnya nilai rupiah yang membuat harga menjadi tidak stabil, baik itu harga telur maupun harga pakan berupa jagung. Table 13 menunjukkan harga telur per hari di bulan Maret tahun 2009. Berdasarkan table tersebut dapat diketahui bahwa harga telur di

(2)

tingkat peternak lebih cepat berubah dibandingkan harga telur di tingkat konsumen yang diupayakan stabil.

Tabel 16. Daftar Harga Telur di Kabupaten Lima Puluh Kota Bulan Maret 2009

Tanggal Harga Tingkat

Peternak Harga Tingkat Grosir Harga Tingkat Konsumen 2 8,800 9,400 12,800 3 8,800 9,400 12,800 4 8,800 9,400 12,800 5 8,800 9,400 12,800 6 8,650 9,200 12,800 10 9,000 9,600 12,800 11 9,300 9,900 12,800 12 9,300 9,900 12,800 13 9,300 9,900 12,800 16 10,500 11,000 12,800 17 10,500 11,000 12,800 18 11,200 11,800 13,600 19 11,200 11,800 13,600 20 11,200 11,800 13,600 23 11,200 11,800 13,600 24 11,200 11,800 13,600 25 11,050 11,600 13,600 27 10,400 11,000 13,600 30 10,250 10,800 13,200 31 10,250 10,800 13,200

b. Aspek sosial budaya

Kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan yang bergizi semakin bertambah tinggi. Kesehatan menjadi sesuatu yang sangat berharga nilainya bagi masyarakat pada umumnya. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap produk telur ayam ras semakin bertambah banyak yang juga diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk di Indonesia. Peluang ini dapat mendorong perusahaan untuk menemukan strategi yang tepat dalam mengembangkan usahanya.

(3)

c. Aspek kebijakan pemerintah dan politik

Pemerintah Indonesia secara tegas mendukung usaha-usaha untuk mendorong investasi di bidang peternakan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kebijakan yang telah dilaksanakan seperti dikeluarkannya Surat Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian Nomor OT.310/40/B/VIII/2001 yang dikeluarkan pada tanggal 24 Agustus 2001 mengenai Daftar Kewenangan Kabupaten/Kota Per-Bidang dari Departemen/LPND. Dalam daftar tersebut memuat tentang pemberian izin usaha peternakan, pembinaan usaha, sarana usaha, kesehatan ternak, penyebaran dan pengembangan peternakan, pakan ternak, obat ternak serta pembibitan ternak.

Namun, banyaknya program-program pemerintah di bidang pembiayaan usaha kecil dan menengah memacu munculnya peternak-peternak baru. Hal ini menjadi salah satu ancaman bagi perusahaan karena semakin lama pesaing-pesaing bisnis semakin banyak.

d. Aspek teknologi

Era globalisasi saat ini sangat identik dengan teknologi yang sangat maju terutama teknologi informasi dan komunikasi. Informasi actual baik yang terkait langsung dengan produk ataupun diluar produk perusahaan yang tetap memberi pengaruh terhadap kemajuan perusahaan dapat langsung diperoleh melalui internet. Komunikasi sudah menjadi lebih mudah dengan penggunaan telepon seluler. Hal ini sangat mendukung perusahaan terutama dalam pemasaran produk.

(4)

6.1.2. Lingkungan Eksternal Industri (Mikro)

Lingkungan eksternal mikro perusahaan meliputi kekuatan tawar menawar pemasok, kekuatan tawar menawar pembeli, ancaman produk pengganti, ancaman pendatang baru, serta persaingan diantara pesaing yang ada.

a. Ancaman masuknya pendatang baru

Saat ini, permintaan terhadap produk telur ayam ras semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang bergizi, telur ayam ras sebagai salah satu contohnya. Namun, tingginya permintaan tersebut belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh peternak ayam sebagai produsennya, padahal keuntungan yang diperoleh dalam usaha peternakan ayam petelur ini cukup besar. Hal ini menyebabkan munculnya peternak-peternak baru yang dapat menjadi ancaman bagi perusahaan terutama apabila mereka mampu memberikan produk dengan kualitas dan pelayanan yang lebih baik.

Hambatan yang paling dominan dalam menjalankan usaha ini adalah kurangnya pengetahuan dan kemampuan teknis dalam menjalankan usaha ini yang tidak dimiliki oleh setiap peternak, serta persiapan yang cukup komplek. Hanya saja khusus di daerah Kabupaten Lima Puluh Kota faktor-faktor diatas kurang ditanggapi oleh para pengusaha yang akan menanamkan modalnya untuk usaha ayam ras petelur ini, karena mengingat usaha ini dianggap sangat prospek. Kebanyakan para perantau dengan modal yang cukup memberanikan untuk berinfestasi. Salah satu alasannya adalah sudah banyak sekali contoh peternak-peternak baru yang kemudian sukses karena menjalani usaha ini.

(5)

b. Ancaman produk pengganti

Dalam industry peternakan ayam ras, produk pengganti merupakan sumber ancaman yang mampu membatasi keuntungan perusahaan. Produk pengganti adalah produk lain yang dapat menjalankan fungsi yang sama seperti produk telur ayam ras. Produk pengganti telur ayam ras dapat berupa telur ayam buras, telur bebek, dan telur puyuh. Jika dilihat dari segi kandungan gizi tidak jauh berbeda dengan yang telur ayam ras. Makin menarik harga yang ditawarkan produk pengganti maka makin ketat perolehan laba industry yang tersedia.

c. Kekuatan tawar menawar pemasok

Pemasok memiliki kekuatan tawar menawar yang tinggi terhadap produsen ketika jumlah pemasok yang ada sedikit dan mereka mampu memberikan produk dengan harga dengan kualitas yang baik. Dalam hal ini, terdapat beberapa alternatif pemasok, perusahaan AAPS belum menentukan pemasok input khususnya secara permanen dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemasok.

d. Kekuatan tawar menawar pembeli

Pembeli menjadi ancaman bagi industri telur ayam ras melalui tawar menawar harga dan kualitas produk. Pembeli selalu menginginkan untuk mendapatkan produk dengan kualitas dan pelayanan sebaik-baiknya tetapi dengan harga yang serendah-rendahnya. Perusahaan AAPS yang berada disentra industri peternakan ayam menghadapi kekuatan tawar menawar pembeli yang tinggi. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi perusahaan karena pembeli dapat berpindah ke produsen lain jika produk dan layanan yang diberikan kepada mereka tidak seperti yang mereka harapkan.

(6)

e. Persaingan diantara pesaing yang ada

Persaingan dengan para pesaing dapat menjadi ancaman bagi perusahaan AAPS jika perusahaan tidak mampu memberikan keunggulan kompetitif kepada pelanggan. Keunggulan kompetitif tersebut meliputi harga, servis, kualitas produk serta promosi.

Dengan manajemen produksi yang telah dijalankan telah terjadi pertumbuhan produksi,walaupun tidak terlalu tinggi, yang menyebabkan peningkatan kapasitas produksi. Besarnya biaya tetap yang harus dikeluarkan menyebabkan hambatan untuk mengembangkan usaha lebih besar,sehingga pesaing yang memiliki modal yang tinggi jauh lebih berkembang.

6.2. Analisis Lingkungan Internal

Lingkungan internal adalah lingkungan yang berada di dalam ruang lingkup perusahaan itu sendiri. Lingkungan internal perusahaan terdiri dari sumber daya manusia, permodalan dan keuangan, aspek produksi dan operasi, serta aspek pemasaran. Analisis lingkungan internal sangat penting dilakukan perusahaan untuk mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang dimiliki. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk menentukan strategi yang tepat dalam pengembangan perusahaan.

6.2.1. Sumber Daya Manusia

Tenaga kerja yang digunakan perusahaan sebagian besar tidak menuntut skill yang tinggi, melainkan hanya keterampilan teknis saja. Hal ini menyebabkan perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk menggaji para

(7)

pekerjanya. Perusahaan AAPS memiliki seorang mandor untuk mengawasi dan mengarahkan pekerjanya, tetapi tidak harus lulusan pendidikan tertentu. Mereka sudah memiliki pengalaman di lapangan mengenai gejala-gejala penyakit dan penanggulangannya serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan produksi.

Hanya saja yang dihadapi oleh AAPS adalah jumlah karyawan ahli yang terbatas. Dalam kegiatan produksi para anak kandang menjalankannya kurang mematuhi standar yang sudah ditetapkan oleh pemilik dan mandor. Hal ini biasanya terjadi apabila mandor atau pemilik tidak berada dilokasi.

6.2.2. Aspek Produksi dan Operasi

Proses produksi yang dijalankan perusahaan AAPS secara teori sama dengan perusahaan peternak ayam petelur lainnya. Hanya saja perusahaan AAPS memiliki teknik-teknik tertentu yang dapat menghemat biaya, misalnya pakan ayam yang digiling sendiri sehingga yang dibutuhkan hanya bahan bakuny saja. Selain itu, kandang ayam tidak terlalu jauh dengan toko tempat menjual hasil produksi sehingga tidak membutuhkan terlalu banyak ongkos transportasi. Efisiensi biaya yang dilakukan perusahaan dalam proses produksi dapat menjadi kekuatan bagi perusahaan dalam perolehan keuntungan.

6.2.3. Permodalan dan Keuangan

Dalam menjalankan usahanya, AAPS menggunakan modal sendiri serta modal dari pembiayaan lembaga keuangan. Hingga saat ini AAPS dapat membayar ansuran kredit setiap bulan dan tepat waktu. AAPS bisa dikatakan memiliki citra yang baik dimata lembaga keuangan tempat AAPS mendapatkan pinjaman. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai kekuatan perusahaan yang mana

(8)

AAPS tidak akan mendapatkan kesulitan AAPS melakukan tambahan pinjaman untuk mengembangkan usahanya.

6.2.4. Aspek Pemasaran

a. Harga

Perusahaan selalu mengikuti harga pasar yang berlaku. Payakumbuh merupakan sentra industri telur ayam ras sehingga apabila perusahaan tidak mengikuti harga yang berlaku di pasar maka konsumen atau pelanggan akan mudah untuk beralih ke produsen lain.

b. Produk

Perusahaan AAPS sudah menghasilkan telur ayam ras yang baik. Dalam menjual hasil telurnya perusahaan telah melakukan seleksi terhadap telur yang dihasilkan. Telur yang retak dipisahkan dan terkadang dapat dijual dengan harga yang lebih murah kepada pelanggan-pelanggan tertentu. Kemasan yang digunakan juga sudah standar terutama bagi pelanggan yang mengambil dalam jumlah besar. c. Lokasi

Lokasi perusahaan AAPS jauh dari Kota Payakumbuh dimana setiap hari adalah hari pasar. Namun, hal ini tidak terlalu menjadi kelemahan karena perusahaan sudah memiliki kendaraan khusus untuk mengantarkan telur ke pelanggan-pelanggan sampai tujuan yang diminta. Selain itu AAPS sudah memiliki sarana dalam memasarkan telurnya yakni sebuah bangunan yang dapat difungsikan sebagai toko. Disana biasanya dilakukan transaksi dengan pelanggan. d. Promosi

Perusahaan AAPS belum melakukan promosi yang cukup besar. Informasi hanya diperoleh dari mulut ke mulut melalui para pelanggan ke calon pelanggan

(9)

lainnya. Tidak ada promosi khusus yang dgunakan seperti melalui media massa atau radio. Hal ini juga disebabkan karena permintaan konsumen yang sudah melewati kapasitas produksi telur sehingga perusahaan AAPS merasa belum terlalu membutuhkan promosi yang berarti.

6.3 Identifikasi Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman

Berdasarkan hasil analisis faktor internal berupa kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), serta analisis faktor eksternal berupa peluang (oppprtunities) dan ancaman (threats), maka selanjutnya akan diidentifikasi untuk menentukan faktor-faktor kunci kekuatan,kelemahan,peluang,dan ancaman. Hasil identifikasi tersbut digunakan untuk menyusun matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation) dan matriks IFE (Internal Factor Evaluation)

6.3.1 Kekuatan

a. Penggillingan pakan sendiri mengefisiensikan biaya produksi.

Pada tahun 2005 pemilik perusahaan mengembangkan usahanya dengan menambah peralatan yaitu mesin penggiling jagung. Jagung merupakan pakan utama dari ayam ras petelur, dengan adanya mesin penggiling jagung ini maka akan mengefisiensikan biaya produksi, yang mana biaya penggilingan untuk satu kilo jagung adalah Rp 300.

b. Perusahaan memiliki lahan yang luas

Pemilik perusahaan adalah penduduk asli daerah kecamatan guguak tempat usahanya dijalankan. Pemilik perusahaan memiliki lahan yang luas, yakni lahan warisan dari orang tua pemilik. Hingga saat ini pemilik sudah menggunakan lahan seluas lebih kurang 1000 m2 masih memiliki tiga lahan

(10)

dengan luas yang relatif sama dengan lokasi yang berdekatan. Pemilik memang merencanakan lahan tersebut untuk digunakan dalam penambahan kandang untuk peningkatan kapasitas produksi

c. Kualitas telur yang dihasilkan sesuai dengan standar yang baik

Kualitas telur yang dihasilkan oleh AAPS memiliki standar yang baik, yang dilihat dari ukurannya. Selain itu selama ini juga tidak ada complain dari pelanggan yang menandakan bahwa telur yang dihasilkan baik, dan dapat

bersaing dengan para peternak lainnya.

d. Citra perusahaan terhadap lembaga keuangan baik

Selama tujuh tahun ini pemilik konsisten mengembangkan usahan ayam ras petelurnya dengan menggunakan fasilitas kredit pada lembaga keuangan setempat. Selama ini kerjasama dengan pihak bank sangat baik, hal ini terlihat dari pembayaran ansuran yang selalu tepat waktu, dan berdampak kepada kepercayaan yang tinggi oleh pihak. Dengan adanya kepercayaan tersebut maka akan mudah sekali bagi AAPS untuk mengajukan pinjaman selanjutnya apabila dilakukan pengembangan usaha selanjutnya.

e. Hubungan perusahaan dengan konsumen atau pelanggan sangat baik.

Hal ini terlihat dari kerjasama yang tidak pernah putus antara perusahaan dengan pelanggannya. AAPS dalam melayani pelanggan dengan menerapkan konsep kekeluargaan. Selain itu terkadang AAPS juga memberikan keringanan kepada pelanggannya dalam hal pembayaran. Salah satu bentuk pelayanan yang lain kepada pelanggan yang dilakukan oleh AAPS adalah pemberian parcel atau bingkisan kepada pelanggannya pada hari-hari tertentu.

(11)

6.3.2 Kelemahan

a. Produksi belum memenuhi permintaan pelanggan

Kondisi yang terjadi pada industri ayam ras petelur pada daerah Kabupaten 50 Kota adalah permintaan telur yang tidak dapat dipenuhi oleh para peternaknya. Kebanyakan pelanggan adalah agen-agen dari luar daerah yang menjual produk telur ke Riau, Pulau Batam, dan luar daerah lainnya. Selama ini AAPS memiliki komitmen dengan beberapa pelanggan yaitu semua produksi yang dihasilkan akan dibeli. Namun jumlah yang diminta pelanggan sangat tidak sesuai dengan jumlah yang diberikan oleh AAPS, biasanya pelanggan mencari lagi kepada peternak-peternak lain disekitar daerah tersebut. Hal ini

sebetulnya kurang efisien bagi pelanggan, karena akan menambah biaya. Adapun jumlah permintaan telur oleh pelanggan serta realisasinya dapat dilihat pada Tabel 14

Tabel 17. Daftar Permintaan Telur Pelanggan Tetap AAPS dan Realisasi Permintaan, Bulan Maret 2009

Pelanggan Permintaan (kg) Realisasi Permintaan (kg)

Agen Riko 1,875.00 1,500.00 Agen Eki 1,125.00 843.75 Agen Dedi 312.50 281.25 Agen Buyung 625.00 562.50 Agen Ai 437.50 375.00 Agen Alex 125.00 62.50 Total 4,500.00 3,625.00

(12)

b. Sistim pencatatan laporan keuangan belum rapi.

Pembukuan sederhana telah dilakukan oleh AAPS, tetapi belum maksimal dalam hal pemasukan dan pengeluaran yang dikategorikan tunai maupun non tunai. Hal ini akan menyulitkan dalam menganalisis usahatani secara keseluruhan.

c. AAPS belum memaksimalkan teknologi yang ada

Teknologi merupakan suatu hal yang sangat identik dengan era globalisasi saat ini, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Dalam hal teknologi komunikasi pemilik AAPS sudah menggunakan telepon seluler sehingga memudahkan dalam berkomunikasi. AAPS juga telah memiliki satu set komputer hanya saja tidak digunakan, diakibatkan pemilik maupun karyawan yang belum terbiasa dalam penggunaan komputer.

d. Promosi belum maksimal

AAPS belum melakukan promosi. Informasi hanya diperoleh dari mulut ke mulut malalui para pelanggan ke calon pelanggan lainnya. Tidak ada promosi khusus yang digunakan seperti melalui media massa, radio ataupun internet. Hal ini merupakan kelemahan yang dimiliki, meskipun tidak begitu prioritas, tetapi mengingat akan dilakukannya perkembangan usaha kelemahan ini juga perlu dipertimbangkan oleh AAPS

e. Proses produksi belum efisien, diakibatkan karyawan yang belum professional Dalam kegiatan produksi para anak kandang menjalankannya kurang mematuhi standar yang sudah ditetapkan oleh pemilik dan mandor. Hal ini biasanya terjadi apabila mandor atau pemilik tidak berada dilokasi.

(13)

6.3.3 Peluang

a. Permintaan pasar akan telur ayam ras cukup tinggi tetapi belum seluruhnya terpenuhi.

Menurut data statistik tahun 2002 konsumsi telur masyarakat mencapai 833,9 ribu ton. Padahal total produksi telur sepanjang tahun tersebut hanya 741,6 ribu ton. Artinya permintaan telur ayam belum terpenuhi. Permintaan telur ayam ini diperkirakan akan terus meningkat karena masih dibawah angka kecukupan gizi masyarakat. Angka kecukupan gizi per kapita per tahun untukkonsumsi telur ayam sebesar 4 kg. Sedangkan angka konsumsi per kapita per tahun baru tercapai 3,54 kg (sekitar 88,5%). (Widjaja K dan Abdullah S, 2003). Hal ini menunjukan bahwa peluang pasar untuk telur, khususnya telur ayam ras masih sangat terbuka lebar.

b. Kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan gizi bertambah tinggi.

Era globalisasi telah melahirkan masyarakat-masyarakat yang lebih peduli dengan kesehatan dan gizi. Salah satu produk dengan nilai gizi tinggi adalah telur. Selain bernilai gizi tinggi, telur juga merupakan sumber protein yang memiliki harga yang relatif murah dibandingkan dengan sumber protein lainnya.

c. Kebijakan pemerintah yang mendukung industri perunggasan sangat kondusif. Melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 404/Kpts/OT.210/6/2002 tentang Pedoman Perizinan dan Pendaftaran Usaha Peternakan. Peraturan ini dimaksudkan untuk memberikan pedoman bagi aparatur yang bertugas di bidang pelayanan perizinan, pembinaan,dan pengawasan usaha peternakan di

(14)

kabupaten/kota dengan tujuan untuk mempermudah dan memberikan kepastian usaha di sunsektor peternakan.

d. Kemudahan komunikasi dan informasi

Dalam pengembangan usaha peternakan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus mengalami inovasi dan kemajuan dalam waktu yang relatif singkat, baik secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada semakin cepatnya informasi yang diperoleh perusahaan. Penggunaan jaringan computer dan internet yang telah banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis akan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi usaha, baik dalam hal waktu maupun biaya. Melalui internet, para pelaku bisnis bisa melakukan negosiasi, interaksi, dn pemasaran produknya kepada setiap relasinya. Saat ini AAPS masih menggunakan telepon dalam kegiatan operasionalnya dan belum mengguakan fasilitas internet.

e. Sektor peternakan/perunggasan merupakan sektor yang tetap bertahan dalam keadaan krisis.

Peternakan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan pertanian, terutama pada saat terjadinya krisis ekonomi dan moneter (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2003)

6.3.4. Ancaman

a. Fluktuasi harga, baik harga pakan maupun harga telur itu sendiri

Produk peternakan tak bisa terlepas dari masalah flukuasi harga, tidak terkecuali harga telur. Harga telur berfluktuasi sesuai dengan kondisi pasar, banyak dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Banyak factor penyebab terjadinya fluktuasi harga diantaranya adalah sifat penawaran

(15)

yang selalu berubah, produksi yang tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu, serta permintaan yang bersifat musiman.

b. Kemudahan pelanggan untuk pindah ke peternak lain cukup tinggi.

Di daerah kabupaten 50 Kota usaha peternakan ayam ras petelur sangat banyak, ini akan memudahkan pelanggan untuk berpindah ke peternak lainnya. Maka dari itu kualitas telur dan pelayanan harus dipertahankan dengan sebaik-baiknya.

c. Pendatang baru mudah masuk ke usaha peternakan ayam ras petelur

Saat ini, permintaan terhadap produk telur ayam ras semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang bergizi, telur ayam ras sebagai salah satu contohnya. Namun, tingginya permintaan tersebut belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh peternak ayam sebagai produsennya, padahal keuntungan yang diperoleh dalam usaha peternakan ayam petelur ini cukup besar. Hal ini menyebabkan munculnya peternak-peternak baru yang dapat menjadi ancaman bagi perusahaan terutama apabila mereka mampu memberikan produk dengan kualitas dan pelayanan yang lebih baik.

Hambatan yang paling dominan dalam menjalankan usaha ini adalah kurangnya pengetahuan dan kemampuan teknis dalam menjalankan usaha ini yang tidak dimiliki oleh setiap peternak, serta persiapan yang cukup komplek. Hanya saja khusus di daerah Kabupaten Lima Puluh Kota factor-faktor diatas kurang ditanggapi oleh para pengusaha yang akan menanamkan modalnya untuk usaha ayam ras petelur ini, karena

(16)

mengingat usaha ini dianggap sangat prospek. Kebanyakan para perantau dengan modal yang cukup memberanikan untuk berinfestasi. Salah satu alasannya adalah sudah banyak sekali contoh peternak-peternak baru yang kemudian sukses karena menjalani usaha ini.

d. Kenaikan harga BBM

Kenaikan harga BBM sedikit banyaknya akan menambah biaya produksi, karena dalam kegiatan operasionalnya AAPS menggunakan satu kendaraan, selain itu kenaikan BBM juga akan mempengaruhi daya beli konsumen

6.4 Tahap Masukan

Tahap ini merupakan tahap lanjutan pertama setelah identifikasi factor-faktor internal dan eksternal tersebut,maka disusunlah matriks IFE (Internal Factor Evaluation ) dan matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation ) yang akan dibahas sebagai berikut:

6.4.1. Analisa matriks IFE

Analisa internal perusahaan mengidentifikasikan Faktor-faktor kunci kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness). Untuk lebih lanjut factor-faktor strategis internal tersebut dimasukkan kedalam matriks IFE untuk mendapatkan total nilai yang dibobot. Dimana nilai total yang dibobot merupakan hasil penjumlahan total dari perkalian bobot dengan rating masing-masing factor strategis internal.

Pembobotan dilakukan dengan menggunakan metode Paired Comparison (Lampian 2 dan Lampiran 8), sehingga diperoleh bobot masing-masing variable.

(17)

Pembobotan dan pemberian rating dilakukan oleh pemilik serta satu orang karyawan AAPS. Demikian pula dengan pemberian rating (peringkat), penentuan peringkat dilakukan oleh dua orang tersebut yang hasilnya merupakan rata-rata, sehingga didapatkan nilai terboboti dari faktor-faktor tersebut.

Tabel 18. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)

Faktor-Faktor Internal Kunci Rata-rata

(Bobot x rating) Kekuatan :

1. Penggillingan pakan sendiri mengefisiensikan biaya

produksi. 0.444

2.Perusahaan memiliki lahan yang luas. 0.511

3.Kualitas telur yang dihasilkan sesuai dengan standar yang

baik. 0.250

4.Hubungan perusahaan dengan konsumen/ pelanggan sangat

baik. 0.308

5. Citra perusahaan terhadap lembaga keuangan baik 0.425

Kelemahan : -

1.Produksi belum memenuhi permintaan pelanggan. 0.136 2.Sistim pencatatan laporan keuangan belum rapi 0.153 3.Proses produksi belum efisien, diakibatkan karyawan yang

belum profesional 0.133

4. Promosi belum maksimal 0.119

5.Perusahaan belum memaksimalkan teknologi yang ada. 0.128

TOTAL 2.608

Dengan memasukkan hasil identifikasi kekuatan dan kelemahan sebagai faktor strategis internal, kemudian memberikan bobot dan rating kepada setiap factor maka diperoleh hasil seperti pada tabel 18. Berdasarkan hasil analisis pada matriks IFE dapat dilihat bahwa penggilingan pakan sendiri dapat mengefisiensikan biaya produksi. Secara umum , dari total nilai yang dibobot 2.608 menunjukan bahwa AAPS memiliki faktor internal yang tergolong rata-rata, kemampuan perusahaan memanfaatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan adalah sedang (rata-rata).

(18)

6.4.2. Analisa Matrik EFE

Langkah-langkah unutuk menyusun matriks EFE hampir sama dengan langkah pada penyusunan matriks IFE, hanya berbeda pada faktor strategis yang dimasukkan pada matriks EFE merupakan peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang dihadapi oleh Usaha Peternakan Ayam AAPS. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang penulis lakukan dengan pemilik AAPS maka didapatkan total nilai yang diboboti. Dimana total nilai yang dibobot merupakan hasil penjumlahan total dari perkalian bobot dengan rating masing-masing factor strategis eksternal. Pembobotan dilakukan dengan menggunakan metode Paired Comparison sehingga diperoleh bobot masing-masing faktor. Demikian pula dengan pemberian rating (peringkat) yang dilakukan oleh pemilik perusahaan, sehingga didapatkan nilai terboboti dari factor-faktor tersebut.

Dengan memasukkan hasil identifikasi peluang dan ancaman sebagai factor strategis eksternal, kemudian memberikan bobot dan rating kepada setiap factor maka diperoleh hasil seperti Gambar 11. Hasil analisa matriks EFE dengan skor 3.150 hal ini berarti bahwa kondisi lingkungan eksternal perusahaan AAPS dalam merespon peluang dan ancaman berada dalam posisi tinggi.

(19)

Tabel 19 . Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE)

Faktor-Faktor Eksternal Kunci Rata-rata

(Bobot x rating) Peluang :

A. Permintaan pasar akan telur ayam ras cukup

tinggi tetapi belum seluruhnya terpenuhi. 0.542

B. Kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan gizi

bertambah tinggi. 0.361

C. Kebijakan pemerintah yang mendukung industri

perunggasan sangat kondusif. 0.163 D. Kemudahan komunikasi dan informasi 0.299 E. Sektor peternakan/perunggasan merupakan sector

yang tetap bertahan dalam keadaan krisis. 0.403

Ancaman : -

F. Fluktuasi harga, baik harga pakan maupun harga

telur itu sendiri 0.542

G. Pendatang baru mudah masuk ke usaha

peternakan ayam ras petelur 0.458 H. Kemudahan pelanggan untuk pindah ke peternak

lain cukup tinggi. 0.396

I. Kenaikan harga BBM 0.233

TOTAL 3.396

6.4.3. Matriks I-E

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya, total nilai yang dibobot pada matriks IFE adalah 2,528 yang artinya AAPS memiliki faktor internal yang berada di atas rata-rata sedangkan total nilai yang dibobot pada matriks EFE 3,396 yang artinya respon perusahaan terhadap faktor-faktor eksternal yang dihadapinya tergolong tinggi. Total nilai yang dibobot pada matriks IFE dan EFE tersebut kemudian ditetapkan pada matrik I-E, sehingga dapat diketahui posisi usaha saat ini, kemudian baru dirumuskan alternatif strategi yang sesuai dengan posisi usaha di matriks IE.

Apabila masing-masing total nilai yang dibobot dari faktor internal dan eksternal dipetakan dalam matriks IE, maka posisi perusahaan saat ini berada pada kotak dikuadran II, yang menggambarkan perusahaan saat ini berada dalam

(20)

kondisi internal rata-rata dan respon usaha terhadap faktor-faktor eksternal yang dihadapinya tergolong tinggi. Inti strategi yang dapat diterapkan AAPS adalah strategi tumbuh dan kembangkan . Strategi yang cocok untuk daerah ini adalah strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk) atau strategi integratif (integrasi kebelakang, kedepan, horizontal)

Secara lengkap matriks dan posisi AAPS dapat dilihat pada Gambar 12

TOTAL SKOR IFE

I II III

IV V VI

VII VIII IX

Gambar 7. Matriks Internal – Eksternal Perusahaan AAPS

6.4.4. Analisis Matriks SWOT

Berdasarkan analisis Matriks IE, dikatakan bahwa AAPS berada pada kuadran II yang cenderung melakukan konsentrasi melalui strategi intensif, yakni penetrasi pasar. Selain penetrasi pasar, strategi yang dapat dijalankan yaitu strategi integrasi vertikal dengan cara backward integration (mengambil alih fungsi supplier).

Dari empat strategi yang dihasilkan maka yang dapat mendukung strategi intensif (penetrasi pasar) adalah strategi produksi dengan peningkatan kapasitas

1,0 Tinggi 3,0 Sedang 2,0 Rendah TOTAL SKOR EFE

(21)

produksi, strategi sumber daya manusia dengan peningkatan jumlah karyawan, dan strategi pemasaran dengan pemanfaatan teknologi untuk melakukan promosi. Sedangkan yang dapat digolongkan ke strategi integratif adalah melakukan diverensiasi usaha dengan menjual pakan serta sarana produksi ternak lainnya ( backward strategy integrative).

Dalam mengembangkan usaha AAPS, faktor-faktor internal dan eksternal tersebut ditabulasikan pada matriks analisa SWOT. Matriks analisa SWOT dalam merumuskan strategi pengembangkan usaha AAPS tersebut dapat dilihat pada Gambar 8. Adapun strategi-strateginya adalah:

1. Strategi S-O

Strategi ini adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengambil peluang yang ada. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan peningkatan kapasitas produksi yaitu dengan menambah kandang, karena AAPS masih memiliki lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Strategi ini dilakukan untuk mengambil peluang yang ada yakni masih banyaknya permintaan pasar akan telur ayam ras cukup tinggi tetapi belum seluruhnya terpenuhi. Apabila strategi ini benar dilaksanakan, maka perlu diperhatikan oleh perusahaan AAPS mengenai SDM yang belum memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas pekerjaan.

2. Strategi WO

Strategi ini bertujuan untuk mengatasi kelemahan internal perusahaan dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi yang dihasilkan adalah Peningkatan Jumlah Karyawan, pada kondisi saat ini AAPS memiliki karyawan yang bisa

(22)

dikatakan masih sangat kurang. Hal ini akan berdampak terhadap kegiatan operasional perusahaan, baik produksi maupun pemasaran.

3. Strategi ST

Strategi ini bertujuan untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman dengan menggunakan kekuatan yang ada. Strategi yang dilakukan adalah melakukan diversifikasi usaha. Ketergantungan terhadap satu produk akan berpengaruh terhadap keberhasilan perusahaan karena mengingat semakin banyaknya pesaing yang ada dalam industri ini, dengan diferensiasi maka akan mengurangi resiko kerugian dan kebergantungan terhadap satu produk. Jenis produk lain yang dapat diusahakan adalah pakan ayam dan obat-obatan. Hal ini mungkin dilaksanakan karena AAPS sudah memiliki bangunan yang dapat difungsikan sebagai toko.

4. Strategi WT

Strategi ini bertujuan untuk meminimalkan kelemahan serta menghindari Pemanfaatan teknologi untuk melakukan promosi. Selama ini promosi bisa dikatakan tidak dilakukan, namun promosi dianggap penting mengingat akan ditambahnya kapasitas produksi dan diversikasi produk. Dengan adanya promosi misalnya dengan menggunakan internet produk yang dihasilkan oleh AAPS akan dikenal oleh pelanggan-pelanggan yang berada diluar daerah.

(23)

Faktor Internal

Strength – S

1. Penggillingan pakan sendiri mengefisiensikan biaya produksi. 2. Perusahaan memiliki lahan dan

bangunan yang luas.

3. Kualitas telur yang dihasilkan sesuai dengan standar yang baik.

4. Hubungan perusahaan dengan konsumen/ pelanggan sangat baik. 5. Citra perusahaan terhadap lembaga

keuangan baik

Weakness – W

1. Produksi belum memenuhi permintaan pelanggan

2. Sistim pencatatan laporan keuangan belum rapi

3. Proses produksi belum efisien, diakibatkan karyawan yang belum profesional

4. Promosi belum maksimal 5. Perusahaan belum

memaksimalkan teknologi yang ada

Opportunities – O 1. Permintaan pasar akan telur

ayam ras cukup tinggi tetapi belum seluruhnya terpenuhi. 2. Kesadaran masyarakat

terhadap kebutuhan gizi bertambah tinggi

3. Kebijakan pemerintah yang mendukung industri perunggasan sangat kondusif 4. Kemudahan komunikasi dan

informasi 5. Sektor

peternakan/perunggasan merupakan sektor yang tetap bertahan dalam keadaan krisis

Strategi SO

Peningkatan kapasitas Produksi (S1,S2 ,S3, S4, S5,O1,O2 ,O3,O4, O5)

Strategi WO

Peningkatan jumlah karyawan (W1,W2, W3, O1,O2,O3,O4)

Threats – T

1. Fluktuasi harga,baik harga pakan maupu harga telur itu sendiri

2. Pendatang baru mudah masuk ke usaha peternakan ayam ras petelur

3. Kenaikan harga BBM 4. Kemudahan pelanggan untuk

pindah ke peternak lain cukup tinggi.

Strategi ST

Melakukan diferensiasi usaha dengan menjual pakan serta sarana produksi ternak lainnya

(S1,S2,S4,S5,T1,T2,T3,T4)

Strategi WT

Pemanfaatan teknologi untuk melakukan promosi. (W4,W5,T2,T3,T5)

Gambar 8. Matriks SWOT pada Perusahaan AAPS

6.4.5. PRIORITAS STRATEGI USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR AAPS

Setelah memperoleh beberapa alternative strategegi melalui analisis SWOT dan matriks I-E, tahap selanjutnya adalah tahap pemilihan strategi dengan menggunakan QSPM ( Quantitative Strategy Planing Matrix). Teknik ini secara objektif menunjukan strategi alternative yang paling baik.

(24)

Pemilihan strategi prioritas ini dilakukan oleh pemilik dari usaha peternakan ayam ras petelur AAPS melalui wawancara yang mendalam sehingga dihasilkan urutan prioritas strategi yang harus diterapkan. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan kapasitas Produksi dengan skor 6,194. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan penambahan kandang,karena pemilik masih memiliki lahan kosong yang dapat dimanfaatkan.

2. Peningkatan Jumlah Karyawan dengan skor 5,453.

3. Melakukan diversifikasi usaha dengan skor 5,308. Contoh diversifikasi usaha yang mungkin dilakukan adalah dengan menjual sarana dan prasarana berupa pakan atau obat-obatan, hal ini ditunjang dengan adanya bangunan yang dapat dijadikan gudang serta toko,disini pemilik cukup menambahkan lemari es untuk penyimpanan obat-obatan.

4. Pemanfaatan teknologi untuk melakukan promosi dengan skor 4,089

Untuk lebih jelasnya mengenai perhitungan prioritas strategi dapat dilihat pada Lampiran 18

(25)

Gambar

Tabel 16. Daftar Harga Telur di Kabupaten Lima Puluh Kota Bulan Maret     2009
Tabel 18. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)
Tabel 19 . Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE)
Gambar 7. Matriks Internal – Eksternal Perusahaan AAPS
+2

Referensi

Dokumen terkait

Skor setiap faktor kunci pada matriks IFE dihasilkan dari perkalian antara bobot dan ratingnya. Dari hasil analisa terhadap semua faktor kunci internal, yang

Matriks IE digunakan untuk menentukan posisi perusahaan saat ini yang didasarkan pada analisis total skor faktor internal dan eksternal yang didapat dari Matriks IFE

Berdasarkan matriks IE, posisi dari usaha cokelat Kampung Coklat berada pada sel V yaitu hold and maintain (menjaga dan mempertahan-.. kan) dengan nilai total IFE 2,64 dan

Matriks IFE adalah alat analisa strategi yang dapat digunakan untuk faktor internal dengan meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan internal perusahaan. Factor –

Matriks IFE dan EFE adalah matriks faktor-faktor internal dan eksternal jagung hibrida hasil invensi yang disusun berdasarkan pada kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman

Berdasarkan pengamatan terhadap skor rating pada matriks IFE, hampir seluruh faktor lingkungan internal kekuatan menjadi kekuatan utama dalam upaya penurunan stunting di

Setelah faktor-faktor internal dan eksternal tersebut teridentifikasi, dilakukan analisis menggunakan matriks IFE dan EFE untuk mengetahui total skor yang didapatkan dari hasil

Peta Stakeholder 40 Analisis Internal 44 Analisis Eksternal 48 Hasil Analisis Faktor Internal dan Eksternal ke dalam Matriks IE 52 Analisis setiap SBU dengan Matriks BCG 54