• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Fantasy Proneness (Kerentanan Berfantasi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Fantasy Proneness (Kerentanan Berfantasi)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

7 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fantasy Proneness (Kerentanan Berfantasi) 2.1.1 Definisi Fantasy

Ahmadi (2009) mengatakan bahwa fantasy (fantasi/khayalan) adalah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan baru. Melalui fantasi, manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapi dan menjangkau kedepan, masuk kedalam keadaan yang akan mendatang. Ahmadi juga mengatakan bahwa kemampuan fantasi manusia dapat terjadi melalui dua cara, yaitu:

(1) Secara disadari, yaitu ketika individu benar-benar menyadari akan fantasinya. Contohnya ialah ketika seorang pemahat yang sedang memahat arca atas dasar daya fantasi yang dimilikinya.

(2) Secara tidak disadari, yaitu ketika individu tidak secara sadar telah dituntut oleh fantasinya. Fantasi seperti ini merupakan fantasi yang sering dijumpai pada anak-anak. Contohnya ialah ketika seorang anak memberikan berita yang tidak sesuai dengan keadaan senyatanya, sekalipun ia tidak memiliki maksud untuk berbohong. Dalam hal ini anak tersebut tanpa disadari tertuntut oleh fantasinya.

Menurut Ahmadi (2009), fantasi lebih bersifat subjektif apabila dibandingkan dengan kemampuan jiwa yang lainnya. Dalam orang berfantasi, bayangan-bayangan atau tanggapan-tanggapan yang telah ada dalam diri seseorang memegang peranan yang sangat penting. Bayangan yang ditimbulkan karena fantasi disebut sebagai bayangan fantasi. Bayangan fantasi berbeda dengan bayangan pengamatan, dimana bayangan pengamatan merupakan hasil dari pengamatan, sedangkan bayangan fantasi merupakan hasil dari fantasi.

(3)

2.1.2 Definisi Fantasy Proneness

Wilson dan Barber (dalam Fromm dan Nash, 1992) mengatakan bahwa fantasy proneness ialah kerentanan individu untuk berfantasi, dimana ia menghabiskan banyak waktunya dalam dunia yang ia buat sendiri, yaitu dunia dalam gambaran, khayalan, dan fantasi. Wilson dan Barber (dalam Krippner & Powers, 1997) mendeskripsikan penemuannya akan sekelompok individu yang memiliki istilah “fantasy addicts”, “fantasy-prone personalities” dan “fantasizers”. Individu dengan fantasy proneness memiliki keterlibatan yang sifatnya mendalam dan memakan waktu yang panjang didalam fantasi dan imajinasi. Wilson dan Barber (dalam Nash & Barnier, 2009) juga mengatakan bahwa individu yang dideskripsikan memiliki fantasy proneness yang tinggi terkadang bingung antara fantasi dan kenyataan.

2.1.3 Pengembangan Fantasy Proneness

Wilson dan Barber (dalam Regis, 2013) mengidentifikasikan dua hal yang memiliki kontribusi dalam mengembangkan fantasy proneness didalam diri seseorang, yaitu:

(1) Dorongan untuk berfantasi yang berasal dari orang dewasa terdekat. Hal ini memiliki makna bahwa pada umumnya orang dewasa terdekat dapat membacakan dongeng atau cerita yang bergaya dramatis terhadap anak-anak, memuji (praise) anak apabila ia memiliki keyakinan akan hal tersebut, atau memperlakukan mainan anak-anak selayaknya sebuah benda yang bernyawa.

(2) Fantasi dilakukan sebagai cara untuk melarikan diri dari permasalahan. Hal ini dapat dilihat ketika terdapat masalah-masalah dimana individu diasingkan dari lingkungan, perasaan kesendirian, dan keadaan lingkungan sekitar yang keras serta bersifat keras (abusive). Keadaan dalam tipe kedua ini termasuk didalamnya insiden penghukuman fisik, pengabaian dari orangtua, dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak stabil.

(4)

2.1.4 Karakteristik Fantasy Proneness

Berdasarkan Wilson dan Barber (1983), seseorang dapat dikatakan memiliki fantasy proneness apabila memiliki 6 dari 14 karakteristik yang ada, yaitu:

(1) Fantasi Yang Berlanjut Dan Bersifat Jelas

Ketika seorang anak sudah tumbuh menjadi dewasa, keberlanjutan dan kejelasan dari fantasinya belum tentu berkurang secara signifikan. Dari umur yang sangat muda sampai ke masa dewasa, individu pada umumnya akan menghabiskan banyak waktunya untuk berfantasi. Ia memiliki sudut pandang bahwa angan-angan dan fantasi adalah pusat dari kegiatan didalam hidupnya. Dan pada kenyataannya, beberapa individu dapat mengatakan bahwa ia hidup didalam fantasinya tersebut. Masing-masing individu memiliki kehidupan fantasi yang dirahasiakan, yang biasanya tidak diungkapkan kepada siapa-siapa. Dapat dikatakan bahwa disebuah tempat didalam masa transisi individu dari kanak-kanak ke masa dewasa, mereka telah menjadi “closet fantasizers”. Fantasi individu yang bersifat jelas dan berkelanjutan telah menjadi rahasianya yang dijaga dengan baik, dan pada umumnya pasangan, anak, atau teman dekat dari individu tersebut pun tidak sadar akan hal itu.

(2) Intensitas Halusinasi Dalam Fantasi

Individu dengan fantasy-prone menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berfantasi, dan mempertimbangkan bahwa fantasi merupakan hal yang sangat penting didalam hidupnya. Individu yang diberi label fantasizers ini biasanya mengalami fantasi yang terasa sangat nyata (bagaikan halusinasi). Individu seperti ini dapat membayangkan fantasinya baik dengan mata yang terbuka ataupun tertutup. Individu membayangkan aroma yang ia cium, suara yang ia dengar, apa yang ia sentuh, seperti stimulus itu benar-benar ada pada saat itu. Apabila yang ia rasakan itu merupakan hasil dari memorinya, hal ini juga berarti bahwa ia memiliki intensitas halusinasi, karena ketika ia mengingat akan sebuah kejadian, ia juga cenderung untuk melihat, mendengar, dan merasakan lagi seperti apa yang ia rasakan didalam memorinya. Karakteristik ini dapat dipahami dengan baik dengan membandingkan pengalaman seseorang yang mengalami vivid

(5)

dreams (mimpi yang jelas). Dimana orang tersebut akan terlibat sangat dalam didalam mimpinya, selayaknya seseorang benar-benar merasakan bahwa fantasinya itu seperti hal yang nyata.

Banyak dari individu dengan fantasy-prone menggunakan hal ini sebagai alat untuk mengatasi masalah. Misalnya, individu yang merasa bosan, menderita, atau terjebak dalam situasi hidupnya cenderung untuk ‘melarikan diri’ ke angan-angan atau fantasinya. Akan tetapi, sebuah fantasi dapat mengganggu apabila tingkatannya tinggi, contohnya ketika seseorang sedang menyetir, kemudian ia membayangkan ada sosok didepannya, dan sebagainya. Individu dengan fantasi seperti ini mengakui bahwa untuk mencegah fantasinya yang berlebihan, ia mengontrolnya dengan cara konsentrasi atau membuat dirinya sadar penuh akan lingkungan dan apa yang ia pikirkan.

(3) Berlaku Sebagai Sosok Tertentu/Orang Lain

Karakteristik yang juga sama-sama dimiliki oleh individu dengan fantasy-prone ialah bahwa dirinya memiliki kecenderungan untuk berlaku atau menganggap seakan diri mereka adalah sosok tertentu (seseorang yang bukan dirinya). Ketika ia menganggap dirinya seperti itu, ia akan sangat meresapi karakter yang ia mainkan dan terkadang cenderung lupa atau tidak sadar akan bagaimana identitas dirinya yang sebenarnya. Kebanyakan individu dengan karakteristik ini akan merahasiakan ‘permainan peran’ tersebut, seperti halnya karakteristik dari fantasy proneness yang lainnya. Tetapi, ada pula yang menceritakannya pada orang lain. Sebagai contohnya, seorang wanita yang memiliki karakteristik fantasy-prone menceritakan hal ini kepada suaminya, dimana ia mengatakan bahwa ia terkadang seakan seperti Lady Godiva, seorang gypsy, wanita karir yang professional, anak remaja, atau peran yang lainnya. Namun, terdapat pula individu yang lebih suka menceritakan hal ini justru dengan orang asing yang tidak dikenal.

(4) Daya Sensoris (Panca Indera) Yang Terasa Jelas Semenjak Kanak-kanak Karakteristik lain yang mengesankan dari individu yang memiliki fantasy-prone adalah intensitas dan kedalaman daya sensoris yang ada didalam dirinya semenjak masa kanak-kanak. Melalui penelitiannya, Wilson

(6)

dan Barber (1983) menemukan bahwa individu dengan karakteristik fantasy-prone sudah sangat sadar dengan apa yang ditangkap oleh panca inderanya dari sewaktu kecil. Hal tersebut karena individu merasa bahwa apa yang ditangkapnya itu terasa menyenangkan dan dapat dinikmati. Individu dapat merasakan kejadian-kejadian yang spesial yang terjadi dimasa lalunya yang dapat meningkatkan stimulus sensorisnya. Misalnya, ketika individu berada di taman kanak-kanak, ia merasakan hangatnya sinar matahari ketika ia bermain diluar, segarnya bau rerumputan dan bunga-bunga, dan keindahan akan hal-hal tersebut. Individu dengan karakteristik seperti ini menyadari betapa ia menikmati bagaimana merasakan, mencium, dan mendengar hal-hal tersebut, dimana hal ini adalah yang menyenangkan dan ia ingin sekali untuk selalu mengingat pengalaman tersebut. Contoh lain ialah seorang individu yang menceritakan pengalamannya ketika ia berumur 4 tahun, dimana ia mengingat betapa terkesannya kedua orangtuanya saat mereka melihat gambar seorang pemain sepatu luncur es (ice skater).

Namun, meskipun individu merasa sadar bahwa karakteristik ini ada didalam dirinya, tetapi ada kemungkinan ia tidak mengakui hal ini ketika ia dewasa, dimana hal ini disebabkan oleh dua hal, yaitu karena (1) individu akan tetap merasa fokus dan mengingat lebih jelas akan daya sensorisnya sebagai orang dewasa, dan (2) individu yang menolak atau tidak mengakui mengenai kejelasan daya sensorisnya pada masa kanak-kanak sudah tidak merasakannya lagi dimasa kini (masa dewasanya).

(5) Daya Ingat Personal Yang Jelas

Melalui penelitian yang dilakukan oleh Wilson dan Barber (1983), ia mendapati bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara kemampuan untuk berfantasi melalui intensitas halusinasi yang tinggi dengan kemampuan untuk mengingat kembali dengan jelas pengalaman yang terjadi didalam hidup individu. Hal ini dapat dikatakan sebagai recall in a hallucinatory way (mengingat dengan halusinasi). Daya ingat ini muncul seakan kembali ke pengalaman yang sebelumnya, dimana ketika individu ditanyakan mengenai pengalaman dimasa lalunya, ia bukan hanya sekedar mengingat, tapi juga kembali merasakan emosi yang ia rasakan didalam situasi yang terjadi saat itu, selayaknya ia membawa masa lalu nya ke ruang waktu dan tempat

(7)

dimasa kini. Tetapi ketika mengingat memori tersebut, individu menyadari bahwa ia tetap dimasa sekarang, dan hanya mengingat kembali pengalaman yang ada dimasa lalu. Selain itu, ketika individu berusaha mengingat masa kehidupan awalnya, ia seperti mengalami kembali pikiran-pikirannya, emosi, dan perasaannya diwaktu tersebut.

(6) Efek Fisik Yang Terkait Dengan Jelasnya Fantasi Dan Daya Ingat

Karakteristik lain yang ada dalam individu dengan fantasy-prone adalah bahwa fantasi serta memorinya yang bersifat jelas berhubungan dengan apa yang ia rasakan dalam fisiknya. Seperti dalam penelitiannya, Wilson dan Barber (1983) mendapati bahwa individu merasakan badannya kurang sehat ketika menonton televisi yang menayangkan kekerasan. Individu tersebut tidak membiarkan dirinya berfantasi tentang hal yang melibatkan kekerasan karena dampak yang dirasakan akan sama, yaitu dampak efek fisik yang menjadi kurang sehat. Pengalaman lain dengan karakteristik ini ialah bahwa individu cenderung untuk merasakan sensasi dingin ketika ia membayangkan suatu hal yang dingin, ataupun sebaliknya ia merasakan sensasi panas ketika ia membayangkan panas.

Dalam penelitiannya, Wilson dan Barber (1983) mengungkapkan bahwa beberapa individu dengan fantasy-prone melaporkan bahwa mereka menjadi sakit atau memiliki gejala dari suatu penyakit yang berhubungan dengan apa yang sedang ia pikirkan, dia fantasikan, atau berkaitan dengan ingatan yang ia miliki. Banyak dari individu seperti ini yang mengalami pengalaman seperti menjadi sakit ketika ia diberitahu (dengan informasi yang salah) bahwa ia telah memakan makanan yang diracuni, atau kejadian dimana individu merasa tidak nyaman atau gatal ketika mereka percaya (dengan informasi yang salah) bahwa ia telah terkontaminasi oleh kutu. Sebuah contoh lain dari karakteristik ini ialah suatu kejadian dimana seorang individu yang jatuh pingsan ketika ia dipaksa untuk memutuskan suatu hal yang ‘tidak memungkinkan’, dan diketahui bahwa hal ini berhubungan dengan pengalaman dimana ketika dulu keputusan apapun yang ia buat akan semakin membawa kedalam perceraian orangtuanya. Wilson dan Barber (1983) mengungkapkan contoh menarik lainnya mengenai false pregnancy (pseudocyesis), dimana ketika individu percaya bahwa ia hamil, ia akan

(8)

merasakan gejala-gejala yang dirasakan oleh orang yang hamil. Gejala-gejala tersebut termasuk didalamnya amenorrhea (berhentinya menstruasi), perubahan payudaranya, pembesaran abdominal, morning sickness, ngidam, dan perpindahan ‘fetal’ (janin). Ketika individu berniat untuk melakukan aborsi, diketahui bahwa tidak ada sama sekali fetus didalam dirinya. Dan pengecekan melalui tes kehamilan menunjukkan hasil yang negatif juga.

(7) Pengalaman Telepati, Prekognisi, atau Cenayang

Wilson dan Barber (1983) mengatakan bahwa beberapa individu dengan fantasy-prone cenderung untuk melihat dirinya sebagai cenayang atau seseorang yang memiliki sensitivitas. Hasil dari penelitiannya juga menunjukkan bahwa beberapa subjek melaporkan pengalaman-pengalaman telepati atau prekognisi. Individu juga dapat memiliki pengalaman dimana ia mengetahui apa yang akan terjadi disebuah momen spesifik pada kehidupan orang-orang tertentu. Disuatu kondisi, individu dapat mengakui bahwa ia seringkali dapat mengetahui apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh temannya ketika mereka sedang berjauhan. Individu pun juga dapat mengatakan bahwa ia seringkali merasakan bahwa temannya akan mengabarinya (meneleponnya), dan kemudian hal tersebut terjadi beberapa saat kemudian. Beberapa dari individu dengan fantasy-prone dapat mengatakan bahwa ini merupakan pengalaman kemampuan prekognisinya.

(8) Pengalaman Out-of-the-Body (Keluar Dari Tubuh)

Seorang individu dengan fantasy-prone mengungkapkan pengalamannya saat ia merasa keluar dari tubuh (out-of-the-body experiences). Melalui penelitiannya, Wilson dan Barber (1983) mendapatkan deskripsi bahwa pengalaman keluar dari tubuh adalah ketika diri individu merasa ringan (weightless) dengan adanya sensasi mengambang (floating sensation). Sensasi mengambang tersebut diikuti perasaan bahwa ada yang memegangnya keatas, seperti menyatu dengan udara. Disela-sela pengalaman tersebut, individu mendapati perasaan bahwa ia bisa terus mengambang dengan cepat karena tidak ada yang mencegahnya, seperti ia merupakan bagian dari ruang angkasa, bukan sekedar benda asing disana. Indvidu yang merasakan pengalaman keluar dari tubuh ini menjelaskan bahwa diawal

(9)

pengalaman keluar dari tubuh, ia dapat menengok kebelakang dan melihat tubuhnya apabila ia mau, tetapi biasanya ia tidak terlalu peduli terhadap hal tersebut. Individu ini biasanya akan tetap pada keadaannya dan merasakan bahwa dirinya ‘menjadi bagian dari ruang angkasa’. Menjelaskan lebih detail lagi, individu mengatakan bahwa ia tercengang ketika menyaksikan film mengenai perjalanan ke ruang angkasa, hal ini dikarenakan apa yang ia lihat selama pengalaman keluar dari tubuhnya atau perjalanan astral (astral travel) nya itu menyerupai dengan apa yang ada di film tersebut.

Walaupun terdapat individu yang mengalami pengalaman keluar dari tubuh ketika dirinya sedang berfantasi atau ‘meditasi’, individu yang lainnya menyatakan bahwa ia mengalami hal ini ketika ia sedang bermimpi. Misalnya, terdapat subjek fantasy proneness yang menyatakan bahwa ia yakin memiliki pengalaman keluar dari tubuh atau pengalaman astralnya ketika ia bermimpi, dimana ia berjalan ketempat-tempat lain atau ke sebuah waktu yang berbeda sedangkan tubuh fisiknya sedang terbaring tidur.

Beberapa subjek dalam penelitian Wilson dan Barber (1983) juga melaporkan pengalaman keluar dari tubuh ketika ia berada disituasi tertentu. Dilaporkan bahwa seorang individu dengan fantasy-prone memiliki pengalaman keluar dari tubuhnya ketika ia mengkonsumsi LSD (Lysergic Acid Diethylamide), individu lainnya mengalami hal itu ketika ia sedang berada di sensory isolation tank, terdapat pula individu yang melaporkan bahwa ia mengalami pengalaman keluar dari tubuh yang tidak terlupakan ketika ia sedang sakit parah sewaktu ia kecil, dan juga individu dengan pengalaman keluar dari tubuh yang merasakan hal tersebut ketika ia mengalami near death experiences.

(9) Dorongan Otomatis Untuk Menulis

Didalam penelitian yang dilakukan Wilson dan Barber (1983), ditemukan bahwa subjek yang fantasy-prone memiliki perasaan bahwa terdapat sosok atau subjek tertentu yang membuat mereka menulis sebuah puisi, lagu, atau pesan. Individu yang mengalami hal ini meyakini bahwa tulisannya itu datang dari sebuah roh atau sosok yang memiliki kemampuan melibihi diri dia untuk membimbingnya. Terkadang ‘pesan’ yang ditulis tersebut merupakan instruksi mengenai apa yang mereka harus lakukan

(10)

disekolah atau saat bekerja, atau pada waktu tertentu, ‘pesan’ tersebut berisi sebuah dorongan, pujian, atau ide filosofis.

(10) Penglihatan Keagamaan

Wilson dan Barber (1983) memberikan hasil penelitian bahwa enam subjek dari kelompok fantasy-prone dalam kelompok perbandingan memiliki daya penglihatan keagamaan yang sangat berpengaruh dan patut diingat dalam hidupnya. Apa yang dimaksud dalam daya penglihatan keagamaan adalah bahwa individu merasa bahwa pengalaman seperti ini adalah pengalaman yang terasa luar biasa, mengagumkan, sangat mengharukan, dan secara bersamaan terasa menakjubkan dan juga menakutkan. Wilson dan Barber (1983) juga menjelaskan bahwa hal ini termasuk didalamnya individu yang merasa bahwa ia memiliki wahyu dari Tuhan dalam agama yang ia percayainya. Mengambil contoh dari hasil penelitiannya, seorang subjek yang diwawancarai melaporkan bahwa ketika ia berumur 9 tahun, ketika ia duduk disebuah padang rumput dimana ia merasa terbawa dan merasa menyatu dengan alam, ia seketika merasa bahwa ia sangat kesepian dan terisolasi, dan kemudian ia juga mulai bertanya-tanya mengapa ia lahir ke dunia. Dari perasaannya tersebut, tiba-tiba ia pun seperti mendengar suara dari Tuhan yang meyakininya bahwa ia tidak sendiri, dan bahwa ada Tuhan yang melihatnya. Pada waktu bersamaan, ia pun merasa dirangkul, merasa bahwa terdapat perasaan aman yang mendalam karena ia adalah milik Tuhan. Dari kejadian tersebut, ia pun percaya bahwa ia memiliki takdir yang istimewa. Dan merahasiakan kejadian dan kepercayaan yang dimilikinya.

(11) Kemampuan Menyembuhkan

Salah satu dari karakteristik yang dimiliki oleh beberapa subjek fantasy-prone yang diteliti oleh Wilson dan Barber (1983) ialah bahwa individu cenderung untuk merasa bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menyembuhkan. Individu merasakan sebuah kecenderungan yang dikatakan bersifat alamiah untuk mendekati seseorang yang sedang sakit atau terluka dengan melibatkan perasaan empati dan sekaligus menyentuh orang tersebut. Melalui kedekatan interaksi ini, individu berpendapat bahwa ia dapat memindahkan energi atau kesegaran pada seseorang yang sedang sakit.

(11)

Pada dasarnya, kebanyakan individu merasakan perasaan kemampuan menyembuhkan yang tidak terlalu dramatis. Contohnya adalah ketika individu hanya merasa bahwa seorang anak yang sedang sakit dapat menjadi lebih baik apabila dipegang tangannya. Tetapi, ada juga individu dengan karaktertistik seperti ini yang merasakan kemampuan menyebuhkan yang mendalam, seperti contohnya ketika berada didalam kelas, workshop, atau seminar yang terdapat kelompok terapi didalamnya, ia akan cenderung untuk menunjukkan baik secara terbuka ataupun secara samar-samar kemampuan dirinya untuk membuat orang yang sedang sakit tersebut menjadi lebih baik.

(12) Pengalaman Dengan Hantu/Penampakan

Beberapa individu dengan fantasy-prone memiliki pengalaman yang mengesankan mengenai perjumpaannya dengan sebuah penampakan (roh atau hantu). Beberapa diantaranya melaporkan bahwa dirinya melihat sosok penampakan yang ia kenali. Sedangkan terdapat juga individu yang bertemu dengan sebuah penampakan yang dikatannya merupakan sosok yang menghantui tempat tinggal barunya. Wilson dan Barber (1983) mengungkapkan bahwa subjek fantasy-prone sering membayangkan atau bertanya-tanya apakah teman khayalannya semenjak kecil, yang ia rasakan sangat nyata keberadaannya (as real s real), memang benar-benar nyata.

(13) Penglihatan Hypnagogic

Beberapa individu mengalami gambaran visual yang jelas ketika mata mereka terbuka beberapa saat sebelum terlelap maupun beberapa saat ketika akan terbangun dari tidurnya. Gambaran seperti ini, merupakan gambaran yang berhubungan dengan situasi yang ada diantara keadaan ‘bangun’ dan ‘tidur’ (keadaan hypnagogic). Keadaan hypnagogic ini adalah sebuah frekuensi halusinasi yang bersifat jelas, dimana gambaran tersebut datang dari pikiran individu itu sendiri. Gambaran hypnagogic ini mungkin berjalan sekitar beberapa detik sampai beberapa menit. Gambaran ini juga mungkin bersifat statis (menyerupai proyeksi warna cerah di dinding) ataupun bergerak (menyerupai gambar bergerak pada tayangan televisi). Biasanya gambaran ini berupa wajah, pemandangan, objek yang familiar maupun tidak

(12)

familiar, manusia, suasana, dermaga, kepala burung, bangunan tua, atau kerang laut.

Wilson dan Barber (1983) menyatakan bahwa individu dengan fantasy-prone melaporkan bahwa ia seringkali mengalami gambaran yang jelas sebelum ia tertidur atau ketika ia akan terbangun. Terdapat juga individu yang melaporkan bahwa ia mengalami penglihatan gambaran yang jelas ini ketika waktu tidurnya kurang. Wilson dan Barber menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan hubungan antara fantasy proneness, kemampuan untuk berhalusinasi secara jelas dengan mata terbuka maupun tertutup, dan juga frekuensi pengalaman melihat gambaran hypnagogic dan melihat penampakan, roh, atau hantu.

(14) Kesadaran Sosial Dan Kehidupan Fantasi yang Dirahasiakan

Karakteristik yang lain yang sama-sama dimiliki oleh individu dengan fantasy-prone adalah bahwa mereka memiliki kesadaraan akan lingkungan sosialnya serta mereka bekerja atau berfungsi layaknya orang-orang yang tidak memiliki fantasy-prone. Wilson dan Barber menjelaskan bahwa individu akan cenderung untuk membangun hubungan sosial yang normal seperti menikah, memiliki pacar, atau bahkan mengencani lebih dari satu pria. Kestabilan emosi atau kesehatan mental individu dengan fantasy-prone masih termasuk kedalam kurva yang normal. Individu dengan fantasy-prone juga dapat dikategorisasikan sebagai individu dengan self-actualization (Maslow dalam Wilson & Barber, 1983), dimana ia akan merasakan kegembiraan, popular, kompeten, memiliki rasa cinta dan kasih sayang, dan memiliki self-esteem yang tinggi. Disisi lain, individu dengan fantasy-prone juga dapat memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri, dimana ia juga bisa merasakan depresi.

Wilson dan Barber (1983) menjelaskan bahwa dikarenakan individu dengan fantasy-prone memiliki rasa sensitif terhadap norma-norma sosial, mereka tidak secara virtual membicarakan mengenai dunia fantasinya yang berkelanjutan dan bersifat mendalam tersebut, ataupun mengenai kualitas halusinasi dalam fantasi dan memorinya. Misalnya, seorang pria yang telah menikah lebih dari 20 tahun, tidak mengetahui mengenai ‘dunia fantasi’ istrinya yang bersifat dirahasiakan, dimana sebagai suami, ia melihat istrinya

(13)

sebagai individu yang normal serta istri dan seorang ibu yang kompeten. Melalui penelitiannya, Wilson dan Barber (1983) menemukan bahwa individu yang memiliki fantasy-prone dapat bercerita mengenai dunia fantasi rahasianya dikarenakan beberapa alasan: (1) mereka merasa bahwa pembahasan mengenai fantasy proneness merupakan hal yang dianggap menarik bagi individu yang menanyakan, dimana tidak pernah ada orang yang ingin membahas itu dengan mereka (mengenai masa kecil, kenangan, angan-angan, fantasi, mimpi ketika tidur, pengalaman cenayang, dll), (2) pembahasan tersebut membuat mereka merasa diterima dan dimengerti mengenai apa yang mereka katakan, (3) pengungkapan keyakinan bahwa fantasi dapat merupakan suatu hal yang bernilai dan kreatif, (4) mereka merasa bahwa pembahasan ini sangat penting karena mereka merasa bahwa berfantasi itu berguna, menakjubkan, dan memiliki makna didalam kehidupannya.

2.1.5 Efek Fantasy Proneness

Rauschenberger dan Lynn (dalam Regis, 2013) menyatakan bahwa adanya fantasy proneness didalam diri individu dapat menyebabkan:

a. Meningkatnya kerentanan dalam hidup individu b. Sifat maladaptif didalam diri individu

2.2 Medical Student Syndrome (MSS)

2.2.1 Definisi Medical Student Syndrome (MSS)

Sue, Sue, & Sue (2010) menjelaskan bahwa medical student syndrome (MSS) adalah kecenderungan seseorang yang berpikir bahwa dirinya memiliki gangguan tertentu yang dijelaskan didalam teori, dimana hal ini dikarenakan sebuah pengalaman yang dimiliki dan juga kecenderungan untuk membandingkan fungsi diri dengan persepsi mengenai fungsi yang ada dalam diri orang lain. Sue, Sue, & Sue berpendapat bahwa menjadi makhluk hidup berkenaan dengan kesulitan dan masalah didalamnya. Dapat dimengerti bahwa MSS adalah keadaan ketika seseorang membaca mengenai sebuah gangguan, hal tersebut dapat membawanya untuk merasakan bahwa ia, teman, atau relatifnya memiliki gangguan yang sebenarnya tidak ada.

(14)

Mahasiswa yang melakukan pembelajaran menyangkut psikopatologi berkemungkinan untuk sama-sama rentan dalam mempercayai bahwa didalam dirinya terdapat sebuah gangguan yang dijelaskan oleh teori di pembelajaran tersebut. Mata kuliah Psikologi Abnormal membahas secara mendalam mengenai masalah-masalah manusia, dimana kebanyakan dari masalah itu sifatnya menjadi familiar. Dari pembelajaran yang dilakukan mengenai hal tersebut, seseorang dapat rentan untuk memiliki medical student syndrome (Sue, Sue, & Sue, 2010).

Menurut Oltmanns & Emery (2001), medical student syndrome ialah keadaan ketika mahasiswa kedokteran mempelajari mengenai penyakit yang baru, mereka akan cenderung untuk mengembangkan gejala dari penyakit yang sedang dipelajari. Namun, hal seperti ini dikatakan juga terjadi pada mahasiswa yang mempelajari pelajaran Psikologi Abnormal. Disebabkan oleh banyaknya gejala dalam gangguan emosional yang memiliki kesamaan dengan pengalaman sehari-hari, mahasiswa yang mempelajari Psikologi Abnormal akan cenderung untuk ‘menemukan’ gejala yang juga ada pada dirinya atau orang lain. Kring, Johnson, Davidson, & Neale (2009) juga memiliki teori bahwa medical student syndrome ialah keadaan dimana mahasiswa kedokteran ataupun mahasiswa psikologi yang memiliki kecenderungan untuk melihat diri mereka, teman, ataupun keluarganya memiliki kecocokan dengan apa yang dideskripsikan didalam gangguan yang mereka pelajari. Lebih jauh, Sparshott (2010) mengatakan bahwa medical student syndrome adalah suatu kategorisasi yang berasal dari kepercayaan mahasiswa bahwa dirinya menderita suatu penyakit. Sparshott juga mengatakan bahwa fenomena seperti ini telah terjadi diantara macam-macam mahasiswa yang memepelajari ilmu kesehatan, dari psikologi sampai kedokteran.

Jadi, kesimpulan dari definisi-definisi yang diungkap oleh para ahli ialah bahwa medical student syndrome adalah keadaan dimana mahasiswa yang melakukan pembelajaran di bidang medis atau kesehatan (contoh: kedokteran atau psikologi), akan cenderung merasakan bahwa ia memiliki suatu gangguan atau penyakit tertentu, dimana hal tersebut dibangun berdasarkan informasi yang diperoleh dari teori yang dipelajarinya dimasa perkuliahan.

(15)

2.2.2 Aspek Medical Student Syndrome

Berbicara mengenai aspek medical student syndrome, Scott (2010) mengatakan bahwa seseorang yang memperhatikan kesehatannya akan melalui hal-hal sebagai berikut:

(1) Mendeteksi gejala

(2) Menginterpretasikan gejala

(3) Memutuskan apakah ia butuh untuk menemui profesionalis dalam bidang kesehatan

2.2.3 Faktor-faktor Medical Student Syndrome

Mechanic (dalam Hewstone, Fincham, & Foster, 2005) menjelaskan bahwa bidang kesehatan memiliki kurikulum dimana pembelajaran mengenai gejala suatu penyakit merupakan komponen besar didalamnya. Fenomena ini dapat dijelaskan dalam aspek:

(1) Mood

Aspek mood termasuk didalamnya mahasiswa medis yang menjadi sangat gelisah ketika mendapatkan tugas yang banyak

(2) Kognisi

Aspek kognisi termasuk didalamnya mahasiswa yang berpikir mengenai gejala yang dipelari didalam perkuliahannya

(3) Konteks sosial

Konteks sosial berbicara mengenai kondisi dimana mahasiswa mulai untuk mempelajari suatu gejala, yang terjadi setelahnya adalah mereka dapat berperilaku seakan gejala tersebut ada didalam dirinya

2.3 Mahasiswa Psikologi

Dalam penelitian ini, penulis ingin melihat hubungan antara fantasy proneness dengan medical student syndrome (MSS) pada mahasiswa Psikologi yang berada di Perguruan Tinggi di Jakarta.

2.3.1 Definisi Mahasiswa

Menurut Siswoyo (2007), mahasiswa adalah individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi. Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas

(16)

yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir dan kerencanaan dalam bertindak. Berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa, yang merupakan prinsip yang saling melengkapi. Selain itu, mahasiswa adalah manusia yang tercipta untuk selalu berpikir yang saling melengkapi. Mengacu pada Kamisa (1997), mahasiswa merupakan individu yang belajar di perguruan tinggi. Sebuah perguruan tinggi atau universitas itu sendiri dapat menjadi sarana atau tempat bagi individu untuk mengembangkan kemampuan intelektual serta kepribadian, khususnya dalam melatih keterampilan verbal dan kuantitatif, berpikir kritis, dan moral reasoning (Montgomery dalam Papalia, dkk, 2007).

Lebih jauh, menurut Ganda (2004), mahasiswa adalah individu yang belajar dan menekuni disiplin ilmu yang ditempuhnya secara mantap, dimana didalam menjalani serangkaian kuliah itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa itu sendiri, karena pada kenyataannya diantara mahasiswa ada yang sudah bekerja atau disibukkan oleh kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa adalah individu yang menuntut ilmu di perguruan tinggi dimana ia akan menjalani berbagai kegiatan kemahasiswaan untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya.

2.3.2 Sifat Mahasiswa

Menurut Djojodibroto (2004), mahasiswa merupakan satu golongan dari masyarakat yang memiliki dua sifat, yaitu:

(1) Mahasiswa muda, yaitu mahasiswa yang seringkali tidak mengukur resiko yang akan menimpa dirinya

(2) Mahasiswa calon intelektual, yaitu mahasiswa yang berpikir kritis terhadap kenyataan sosial

2.3.3 Ciri-ciri Mahasiswa

Kartono (dalam Rahmawati, 2006)) mengatakan bahwa mahasiswa merupakan anggota masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu:

(1) Mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi (2) Diharapkan dapat bertindak sebagai pemimpin yang mampu dan terampil (3) Diharapkan dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses

(17)

(4) Diharapkan dapat memasuki dunia kerja sebagai tenaga yang berkualitas dan professional.

2.3.4 Mahasiswa Psikologi

Menurut Brewer (dalam Supratiknya, 2003), mahasiswa jenjang pra-sarjana pendidikan Psikologi adalah individu yang memiliki tujuan dasar yaitu mampu untuk berpikir sebagai ilmuan mengenai perilaku dan pengalaman hidup, yang dengan disertai tujuh tujuan umum, yaitu: (1) pengetahuan yang luas, (2) keterampilan berpikir, (3) keterampilan berbahasa, (4) keterampilan mengumpulkan informasi dan membuat sintesis, (5) kemampuan meneliti, (6) keterampilan interpersonal, sejarah Psikologi, serta etika, dan (7) nilai-nilai.

2.4 Kerangka Berpikir

Mahasiswa Psikologi memiliki kecenderungan untuk melakukan penghayatan terhadap pembelajaran Psikologi, dimana hal tersebut menyebabkan ia merasa bahwa terdapat gangguan tertentu didalam dirinya. Hal ini merupakan asumsi yang diramu berdasarkan pengataman akan fenomena yang ada. Sebuah wawancara dilakukan dengan 5 mahasiswa Psikologi Atma Jaya, 4 mahasiswa Psikologi Tarumanegara, dan 2 mahasiswa Psikologi YAI. Hasil yang didapat ialah bahwa 4 dari mahasiswa Psikologi Atma Jaya mengalami situasi dimana ia merasa bahwa dirinya memiliki gangguan psikologis, gangguan psikologis yang dirasakan tersebut beberapa diantaranya adalah Obessive Compulsive Disorder, Bipolar Disorder, dan Psychosomatic. Sedangkan 2 dari mahasiswa Psikologi Tarumanegara merasakan gangguan psikologis yaitu depresi. Dimana hal ini diakui dirasakan karena terdapat perasaan-perasaan bahwa dirinya tidak berharga, payah dalam berbagai hal, tidak berguna, dan bodoh. Tak jauh berbeda dengan 2 mahasiswa Psikologi YAI yang juga merasakan ada gangguan dalam dirinya, dimana salah satunya tidak keberatan untuk menyebutkan bahwa ia merasa bahwa ia memiliki gangguan halusinasi. Halusinasi tersebut ia rasakan karena dirinya merasa bahwa ketika sedang sendiri, terdapat sosok lain yang mengawasinya.

Melalui pengkajian literatur, terdapat sebuah jurnal yang membahas mengenai Medical Student Syndrome (MSS) yang menjadi acuan didalam penelitian ini. Woods, dkk (dalam Waterman, 2011) mengatakan bahwa MSS adalah sebuah

(18)

gejala atau kecemasan yang bersifat hipokondrikal yang berkembang sebagai hasil pembelajaran siswa mengenai sebuah penyakit. Hardy & Calhoun (1997) mengambil sampel dari mahasiswa psikologi yang mempelajari Psikologi Abnormal di University of North Carolina, Charlotte dan memberikan hasil laporan bahwa kekhawatiran akan kesehatan psikologis mereka meningkat setelah mereka mempelajari mata kuliah tersebut. Menurut Colman (2009), MSS sering terjadi ketika mahasiswa mulai untuk mempelajari gangguan mental dan mulai meyakini bahwa ia menderita gangguan yang ada dalam buku yang ia baca, dimana hal ini seringkali terjadi pada mahasiswa Psikologi. Osborne, LaFuze, dan Perkins (2013) menyadari bahwa beberapa mahasiswa yang sudah menyelesaikan mata kuliah Psikologi Abnormal menganggap bahwa mereka sudah dapat menegakkan diagnosa. Dimana terdapat pula kemungkinan dari mahasiswa tersebut meyakini bahwa mereka melihat gangguan-gangguan pada masing-masing orang yang mereka ketahui.

Berdasarkan penelitian Candel & Merckelbach (2003), diungkapkan bahwa terjadinya MSS berhubungan dengan tingginya tingkat fantasy proneness yang ada dalam diri individu. Penelitian mengenai fenomena yang terjadi pada mahasiswa tersebut mengungkapkan bahwa tingginya tingkat fantasy proneness dalam diri individu dapat membuat kerentanan dalam diri mereka ketika menghubungkan pengetahuan mengenai penyakit yang baru diperoleh dengan gejala yang samar-samar dialami mereka. Wilson & Barber (dalam Merckelbach, Campo, Hardy, & Giesbrecht, 2005) mengungkapkan bahwa istilah fantasy proneness merupakan kecenderungan individu yang sering terlibat dengan fantasi dan angan-angan yang dalam, besar, dan panjang.

Dari pengkajian literatur-literatur tersebut, diasumsikan bahwa Medical Student Syndrome (MSS) dan fantasy proneness serupa dengan fenomena yang diamati dan diteliti lebih lanjut di Universitas Bina Nusantara, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Universitas Tarumanagara, dan Universitas Persada Indonesia YAI. Oleh karena itu, penelitian ini pun dilakukan untuk mencaritahu apakah terdapat hubungan yang signifikan antara fantasy proneness dengan medical student syndrome pada mahasiswa Psikologi di Perguruan Tinggi Jakarta.

(19)
(20)

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Stipho (1998) pada penelitiannya yang menggunakan resin akrilik swapolimerisasi yang ditambah serat kaca potongan kecil ukuran 2 mm didapatkan nilai kekuatan transversalnya sebesar

Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah sebuah hasil pencapaian kerja yang telah dilakukan baik oleh individu maupun kelompok

1) Menyusui/memberi ASI kepada bayi sangat penting untuk mengatasi masalah kelaparan. Pada kebanyakan masyarakat, banyak keluarga dan individu tidak mempunyai makanan yang

Serangan siber adalah sebuah tindakan yang bersifat ofensif yang dilakukan oleh negara, individu, kelompok, atau organisasi yang menargetkan sebuah sistem informasi, infrastruktur,

Internalisasi dalam arti umum merupakan dasar bagi pemahaman mengenai “sesama saya” yaitu pemahaman individu dan orang lain serta pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu

konsep diri. Peran yang di ukur dalam kelompok sebaya sangat berpengaruh terhadap pandangan individu mengenai dirinya sendiri. Karena kawan sebaya memengaruhi pola kepribadian

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata

Tidur merupakan kondisi tidak sadar di mana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai (Guyton, 1986), atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak